• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH KAPITALISME TERHADAP PENGGOLONG docx

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PENGARUH KAPITALISME TERHADAP PENGGOLONG docx"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

KARL MARX: PENGARUH KAPITALISME TERHADAP PENGGOLONGAN DAN

PERJUANGAN KELAS SOSIAL BURUH INDONESIA.

Oleh: Rivaldo Kurniawan, Amelia Munifa

Ilmu Ekonomi, Prodi Ekonomi Pembangunan. Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Universitas Brawijaya Malang

ABSTRACT

Artikel ini membahas tentang sejauh mana pemikiran Karl Marx dapat memberikan jalan keluar terhadap keterasingan yang terjadi pada kaum proletar. Dari adanya kelas sosial yang terjadi dalam sistem kapitalis, Karl Marx berusaha membebaskan diri mereka sendiri dari rantai kekejaman, kekerasan dan keterasingan di dalam sistem kapitalis. Penulis ingin meneliti hubungan antara konsep perjuangan kelas sosial dan revolusi kebutuhan sosial sebagai katalisator untuk pembentukan masyarakat tanpa kelas. penulis menemukan bahwa konsep pertentangan kelas dapat digunakan untuk melawan ancaman kelas kapitalis. Teori Karl Marx dianggap sebagai teori ideal yang menekankan pada pemerataan ekonomi, keadilan sosial pada semua lapisan masyarakat dan tidak adanya kelas sosial dalam masyarakat. Titik fokus utama dalam penelitian ini adalah adanya penggolongan kelas sosial yang terjadi pada buruh di Indonesia. Dari beberapa ulasan jurnal yang penulis dapatkan, dapat diketahui bahwa pemikiran Karl Marx memiliki relevansi tehadap keadaan buruh di Indonesia. Dimana adanya kelas sosial itu terjadi semenjak era VOC milik Belanda sampai sekarang, yang memberikan kontribusi pada keuangan pemerintah namun menyiksa kaum buruh.

PENDAHULUAN

Karl Heirinch Marx merupakan tokoh yang lahir di Trier, Prusia, Jerman pada 5 Mei 1818 yang menolak terhadap pemikiran kapitalis dan berusaha menggantikan dengan sistem sosialis. Menurut Karl Marx sistem kapitalis mengancam kondisi sosial materil sesungguhnya dan tingkat kesadaran kelas sosial pada kaum buruh. Dari pemikiran tersebut memunculkan lahirnya perlawanan Marx terhadap sistem kapitalis yang dituangkan dalam tulisan yang berjudul Economic and Philosophical. Pada 1857 ia menulis suatu pernyataan berjudul manifesto komunis dan karyanya yang paling menonjol adalah Das Kapital yang menjelaskan tentang kontradiksi dalam sistem kapitalis. Selain itu, salah satu sumbangan besarnya adalah konsep perjuangan kelas

yang menjadi pembawa perubahan kepada kaum buruh untuk bangkit mempertahankan hak dan kebebasan mereka dari terus menjadi ‘kuda

(2)

bangkit, bersatu, melawan ketidakadilan pada dirinya.

Jejak marxisme di Indonesia dapat ditelusuri sejak kemunculan kolonialisme di Indonesia pada 1870-an yang tak lepas dari peran Henk Sneevlit yang masuk ke Indonesia pada tahun 1913, ia adalah pendiri ISDV (Indische

Sociaal-Democtasche Vereeniging) yang

bermetamorfosis menjadi partai komunis pertama di Asia yaitu Partai Komunis Indonesia (PKI). Revolusi Bolshevick di Rusia pada tahun 1917 menjadi api yang membakar semangat penyebaran marxisme secara mengglobal. Pada wilayah Hindia Belanda (Indonesia), Tan Malaka menjadi pelopor penyebaran marxisme yang lebih luas di Indonesia. Konsep Madilog hadir dari keprihatinan Malaka terhadap kaum proletarian yang tersandera oleh takhayul dan mistis, yang menciutkan nyali melakukanperlawanan terhadap imperealis sebagai upaya pembebasan terhadap penindakan kaum buruh.

Banyaknya pergerakan dan kesadaran buruh pada saat ini tentunya tidak lepas dari masuknya system kapitalis pada masa VOC. Pada masa VOC penguasa atas faktor produksi (tanah) diambil alih oleh VOC begitupun dalam hal perdagangan komoditas yang dihasilkan, yang ditandai dengan kebijakan ekonomi politik dengan orientasi terhadap penguasa dan pemodal dengan mengorbankan kepentingan produsen lokal penduduk pribumi. Disatu sisi, para petani juga mengalami penurunan status social yang dianggap sebagai tenaga penggarap upahan. Oleh karena itu, artikel ini akan mengkaji mengenai:

1. Bagaimana sistem kapitalisme masih digunakan sampai saat ini. 2. Pemaparan pemikiran Karl Marx. 3. Relevansi pemikiran Karl Marx

terhadap adanya kaum proletar pada buruh Indonesia, dalam

memperjuangkan kesetaraan kelas sosiial.

KAJIAN PUSTAKA

Beberapa penelitian sebelumnya yang berkenaan dengan pemikiran Karl Marx antara lain yaitu, artikel yang berjudul Marxisme dan Buruh Indonesia Kontemporer: Studi Dimensi Relevansi dan Inrelevansi Pemikiran Sosial-Ekonomi Karl Marx Pada Buruh di Surabaya. Oleh Yoseph Fredi Wijaya, Wahyu Budi Nugroho, I Nengah Punia, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Udayana. Yang menganalisis hubungan antara pemikiran Karl Marx terhadap adanya kelas sosial yang terjadi pada buruh di Rungkut, Surabaya.

Salah satu jurnal, yaitu International Journal Of Islamic Though (Vol 1, June, 2012) yang berjudul Karl Marx dan Konsep Perjuangan Kelas Sosial. Oleh Indriati Ismail dan Mohd Zuhaili Kamal Basir. Yang menganalisis tentang revolusi perjuangan kelas pada kaum tertindas (buruh) pada analisa pembagian kelas Karl Marx yakni kaum Bourgeois dan Proletariat yang memunculkan pertentangan adanya jurang pemisah yang memunculkan adanya sistem baru oleh kaum proletariat pada penghapusan kelas yang memicu munculnya gagasan komunisme.

Selanjutnya yaitu Jurnal Pendidikan Sosiologi dan Humaniora Vol 1, pada 1 april 2010. Oleh Yohanes Bahari, yang berjudul Karl Marx: Sekelumit Tentang Hidup dan Pemikirannya. Yang membahas pemikiran Karl Marx mengenai munculnya gagasan sosialis dan pertentangan kelas dimana buruh dianggap sebagai faktor produksi yang dieksploitasi dengan upah kecil. Selain itu, konsep matrealisme historis Marx yang menolak sejarah Hegel.

(3)

Rembang, Jawa Tengah. Yang berisi tentang perampasan hak kepemilikan atas tanah yang dimiliki oleh penduduk pribumi oleh pihak kolonial dan beroperasinya sistem kapitalisme oleh VOC yang semakin memperburuk keadaan petani garam hingga saat ini. Hal ini ditunjukkan dari penguasaan terhadap gudang-gudang garam yang merupakan titik pengumpulan garam di tepi pinggir jalan yang dijangkau truk pengangkut milik kaum kapitalis yang menguasai jalur pemasaran garam.

Dari beberapa perbandingan jurnal dan artikel diatas, ditemukan bahwa artikel dan jurnal pertama, kedua, dan ketiga memiliki keterkaitan dimana dalam tulisan tersebut membahas mengenai pemikiran Karl Marx tentang adanya penggolongan kelas yakni kaum Bourgeois dan Proletariat sebagai akibat dari adanya sistem kapitalis yang menjadikan buruh/pekerja sebagai faktor produksi dimana dapat dieksploitasi dan dibayar dengan gaji yang rendah. Hal ini memunculkan perlawanan dari kaum Proletariat akibat adanya jurang pembeda tersebut. Selain itu, pada artikel pertama diperoleh fakta aktual tentang kondisi Buruh pada saat ini terutama di kota Surabaya. Dimana terdapat perbedaan antara apa yang diterima oleh pemilik modal dan yang diterima oleh buruh yang tercermin dalam besaran upah. Hal ini dikarenakan laba yang diperoleh oleh pengusaha tidak sepenuhnya buruh. Walaupun buruh telah mengerahkan seluruh usaha dan tenaganya bagi perusahaan pemilik modal (kaum bourgeois)

METODE PENELITIAN

Penelitian ini menggunakan meotode penelitian kualitatif dengan fokus penelitian bersifat deskriptif-eksplanatif. Penggunaan metode kualitatif dilandasi dengan penelitian yang mengedepankan interpretasi serta pemaknaan data secara

komprehensif. Metode deskriptif digunakan untuk mendeskripsikan berbagai objek, subjek, dan situasi yang sedang diteliti. Hal ini digunakan untuk merangkai kenyataan kedalam narasi yang menguraikan keadaan masalah dengan apa adanya.

DISKUSI

Pemikiran Karl Max Tentang Sosialisme Pemikiran Karl Marx tentang sosialisme lahir dari situasi politik represif di jerman,masa itu yang telah menghapus kebebasan manusia .berangkat dari situasi politik represif itu Marx membangun konsep pemikiranya tentang sosialisme yang menurutnya merupakan jalan melawan kapitalisme sekaligus mengembalikan kebebasan manusia.

Dasar pemikiranya sebagai berikut :pertama,bagaimana membebaskan manusia dari penindasan politik reaksioner. Kedua,bagaimana menghilangkan keterasingan manusia atas dirinya sendiri. Marx menyimpulkan keterasingan paling dasar adalah proses pekerjaan manusia. Ketiga,akibat penguasaan diri manusia yang membentuk kelas penguasa (pemilik) dan kelas yang tereksploitasi (pekerja), maka manusia hanya dapat bebas apabila milik pribadi atas alat-alat produksi. Keempat, pemusatan pada hak-hak pribadi harus dihapuskan.penghapusan hanya dapat dilakukan dengan menerapkan sistem sosialisme.

(4)

masyarakat yang tertindas oleh sistem kapitalisme otoriter.

Konsep Perjuangan Kelas dan Tuntutan Revolusi Terhadap Kelas Tertindas

Pandangan Karl Marx dianggap penting oleh pendukung aliran marxisme adalah teori perjuangan kelas (struggle of classes).dalam karyanya The Communist Manifesto (1972:241), Marx

mengungkapkan “sejarah masyarakat

manapun dimuka bumi ini adalah pertentangan kelas. Si merdeka dengan si budak, kaum bangsawan dengan rakyat jelata, tuan dengan pesuruhnya. Posisi yang berhadap-hadapan ini akan selalu ada dan tidak dapat dibantah.

Pesan yang ingin Marx sampaikan adalah eksistensi manusia bukan ditentukan oleh sejarh kelahiranya,ide dan gagasan nya tetapi lebih banyak dikendalikan oleh faktor ekonomi yang dapat membuat manusia survive dalam hidupnya. Jika kebutuhan hidupnya terpenuhi manusia akan berpikir untuk memenuhi kebutuhan lainya misalnya berkeluarga. Dengan berkeluarga dan memiliki anak kebutuhan akan meningkat. Hal ini akan mendorong manusia pada pemenuhan kebutuhan secara lebih komplek.menurut Karl Marx pemunuhan kebutuhan hanya bisa dibangun dan dikembangkan dengan apa yang disebut produksi (mode of production).

Guna memenuhi kebutuhan hidupnya manusia akan menjalani kehidupan dengan mencari peluang kerja. Manusia akan terlibat hubungan kerja dengan masyarakat lainya dan saling berhubungan dalam hubungan tersebut. Hal ini yang disebut Karl Marx dengan relation of production. Misalnya hubungan petani dan pedagang,nelayan dengan pembuat jala,dan hubungan lainya. Bagi Karl Max hubungan masyarakat yang seperti inilah yang lebih alami, dimana mereka dapat menikmati kehidupanya

tanpa ada berbenturan dengan kepentingan diantara mereka.

Namun masyarakat mengalami perubahan ketika sudah mengenal privasi (hak milik pribadi). Hubungan produksi diantara mereka mengalami perubahan sangat mencolok dengan klaim hasil produksinya. maka yang akan terjadi apabila ada proses ekonomi di dalamnya yakni tukar menukar, maupun jual-beli.

Marx dan Engels dalam karyanya The Communist Manifesto (1970: 74) telah mengemukakan Political Rule of Proletariat yang menyarankan agar golongan proletariat menakluki pertadbiran negara agar mereka boleh memanfaatkan kuasa politiknya untuk merampas semua modal dari cengkaman golongan bourgeois dan memusatkan semua alatan produksi di bawah kekuasaan negara yang ditadbir oleh golongan Proletariat sendiri. Menurut Marx, kelas-kelas tersebut merupakan kumpulan asas sosial yang menyeret konflik masyarakat di dalamnya dan memberi kesan kepada perubahan subskruktur ekonomi mereka. Lantaran itu, satu kelas mampu mengenal pasti kepentingannya di dalam masyarakat secara menyeluruh melalui revolusi-revolusi yang telah berlaku sebelum ini.

Kenyataan Marx tersebut

menggambarkan sejarah umat manusia diwarnai oleh perjuangan atau pertarungan antara kelompok-kelompok manusia. Marx sendiri mengakui perjuangan kelas atau revolusi yang tercetus bukan bermula sebagai satu kelas masyarakat, tetapi ia berfungsi sebagai wakil kepada masyarakat bagi mengemukakan tuntutan dan manfaat bersama semua ahli dalam masyarakat (McLellan 1977: 169).

(5)

proletariat, mana kala kelas kapitalis dan pemilik tanah pula mewakili kelas bourgeois. Namun kedua-kedua kelas bourgeois tersebut terpaksa berhadapan dengan persaingan sengit dalam mengaut keuntungan dan kekayaan, lantas mereka yang tewas akan diletakkan di posisi kelas proletariat

Berdasarkan kenyataan di atas, kedua-dua kelas tersebut iaitu kelas poletariat dan bourgeois memiliki fungsi sosial yang berbeda-beda di mana kelas bourgeois memiliki alatalat produksi dan menguasai proses pengeluaran secara keseluruhannya, sedangkan kelas

proletariat pula dianggap sebagai ‘objek’

dalam proses pengeluaran dengan

menjual ‘tenaga kerja’ mereka dan

mengenakan gaji atau upah yang rendah (McLellan 1977: 176). Jurang perbedaan antara dua kelas inilah yang menjadi puncak untuk perjuangan dan pertentangan antara kelas-kelas sosial yang ada di dalam masyarakat. Tidak dinafikkan, perkembangan masyarakat seringkali dikaitkan dengan polarisasi kelas yaitu satu kelas sentiasa berada di posisi bertentangan dengan kelas-kelas yang lain dan mengalami perpecahan, lantas kemudiannya akan membentuk dua blok yang saling bertarung (McLellan 1977: 222). Justru itu, Marx menyiratkan sejarah manusia adalah sebuah sejarah yang menyajikan pertentangan antara kelas yang menindas dan kelas tertindas. Kadang-kadang pertentangan tersebut dapat dilihat secara tersembunyi, tetapi adakalanya berlaku secara terbuka.

Penggolongan dan Perjuangan Kelas Buruh di Indonesia

Kapitalisme menurut Weber, sebagai sistem ekonomi yang tumbuh dan berkembang karena orientasi yang lebih menekankan untuk pengejaran keuntungan ekonomi secara rasional. Dalam pandangan Marx, orientasi kaum kapitalis dalam mengejar keuntungan itu

pada dasarnya yang mendorong terjadinya penyerobotan nilai lebih yang mestinya menjadi hak para pekerja yang berproduksi. Melalui penyerobotan nilai lebih oleh kekuatan kapitalis ini terjadi akumulasi kapital yang berlanjut pada terbangunnya jaringan sistem kapitalisme yang semakin meluas menembus batas ruang dan waktu.

Konsep kapitalisme yang monopolistik adalah sebuah sistem ekonomi yang terdiri dari korporasi perusahaan raksasa yang mendunia. Korporasi perusahaan raksasa dewasa ini dipandang sebagai mesin untuk memaksimalkan keuntungan dan mengakumulasikan modal minimal. Tampaknya perbedaan besar antara kompetitif dan kapitalisme monopoli adalah bahwa korporasi raksasa yang telah menempuh ruang waktu yang panjang melalui kapitalisme individual dan penghitungan yang lebih rasional, keduanya berkaitan dengan skala yang lebih luas dari bekerjanya korporasi. Kedua kunci ini menciptakan karak-teristik sikap dan model perilaku budaya tertentu, yang merupakan sesuatu yang penting dari penghindaran sistemik dari resiko dan suatu sikap hidup dan tantangan hidup.

(6)

Fenomena itu pada satu sisi menunjukkan bahwa posisi dan status sosial ekonomi petani garam semakin termarjinalkan dan pada sisi yang lain juga dapat dimaknai telah terjadi polarisasi dalam penguasaan lahan garam dan dominasi moda produksi kapitalis. Modal produksi kapitalis dalam pemikiran Marx yang lebih didasarkan pada pemilikan individual (private ownership) masing-masing orang terhadap alat-alat produksi dan dalam hal ini kapitalis sebagai pemilik alat produksi dan buruh proletar memiliki kepentingan yang bertentangan. Dari hal ini terjadi proses pemiskinan kaum buruh oleh kaum kapitalis melalui aliran dan akumulasi surplus yang pada hakekatnya merupakan bentuk eksploitasi terhadap kaum buruh dalam proses produksi.

Dari hal ini secara sosial ekonomi petani garam yang menguasai lahan terlebih lahan luas relatif lebih maju/kaya dibandingkan dengan petani lahan sempit apalagi petani penggarap/buruh pada umumnya lebih terbelakang/miskin. Sebagai indikatornya tercermin dari beberapa hal antara lain: pola kerja/usaha, pendapatan/hasil yang diperoleh, relasi sosial yang dikembangkan, kondisi perumahan, jenis dan pola konsumsi makanan, pendidikan. Dengan demikian polarisasi penguasaan lahan garam oleh kapitalis secara signifikan ikut memberi kontribusi bagi marjinalisasi petani garam terutama petani kecil dan petani penggarap/buruh.

Buruh Pada Masa Sekarang?

Indonesia merupakan negara agraris dengan berbagai jenis macam tanaman holtikultura,akan tetapi itu dulu. Dengan pertumbuhan jumlah penduduk yang meningkat tajam,mengakibatkan permintaan lahan menjadi besar pula,sehingga menyebabkan lahan pertanian berkurang. Selain itu sejak revolusi industri menyebabkan banyak perusahaan baru yang juga membutuhkan lahan sehinngga terjadi pergesaran mata

pencaharian masyarakat indonesia yang dahulunya petani bergeser bekerja pada industri. Hal ini diperkuat data bps yang menyebutkan jumlah penduduk yang bekerja pada sektor pertanian terus menurun dari 39,22 juta pada tahun 2013 menjadi 38,97 juta pada tahun 2014. Selain itu data pekerja formal meningkat cukup tajam,hal ini dipengaruhi oleh mereka yang memilika tingkat pendidikan yang tinggi lebih memilih bekerja di sektor formal,ketimbang di sektor pertanian.

Bekerja di sektor industri menyebabkan para buruh tidak memiliki kekuasaan atas alat-alat produksi dan harus memenuhi apa yang diminta oleh atasanya. Upah yang diterima para buruh di indonesia berdasarkan UMR. UMR ini memiliki 2 makna yakni melindungi para pekerja di indonesia yang sebagian besar memiliki skill rendah,tetapi membatasi para pekerja yang memiliki skill lebih untuk mendapatkan penghasilan yang lebih besar. Penulis mengambil contoh UMR di kota malang yang hanya 2.272.000.

Karl max mempunyai pandangan bahwa dalam bekerja para pekerja harus mendapatkan nilai lebih (surplus value). Nilai lebih merupakan akumulasi nilai produksi dalam jangka waktu tertentu dengan biaya atau upah yang dinikmati buruh serta biaya pemulihan tenaga kerja yang telah diberikannya. Dalam konteks nilai upahan ini Marx menyetujui bawasannya upah harus diberikan kepada buruh dengan asas kesesuaian. Artinya, upah diberikan kepada buruh sesuai dengan waktu dan tenaga yang dikeluarkan buruh dalam proses produksi. Namun dalam kondisi praksis dipraktekkan di dalam industri justru melahirkan kontradiksi dan resistensi dari

asas “kesesuaian” tersebut

(7)

2.272.000. penulis mencoba memformulasikan :

UMR : HARI KERJA : JAM KERJA 2.272.000 : 26 = 87.384.

Upah : hari kerja 87.384 : 8 = 10.923 Upah harian : jam kerja

Dengan perhitungan seperti itu upah yang didapat oleh pekerja di kota malang tergolong rendah,bayangkan saja 1 jam bekerja dihargai Rp 10.923, .satu jam kerja pekerja tersebut padahal bisa menghasilkan barang produksi yang banyak yang harganya ratusan ribu bahkan jutaan rupiah bagi pemilik usaha. Hal tersebut akan menyebabkan jurang kesenjangan antara pekerja (prolektar) dengan pemilik modal (bourjuis) yang ditentang oleh kaum buruh sesuai dengan pandangan karl max.

Relevansi dan Inrelevansi Teori Karl Marx pada Buruh di Indonesia Saat Ini.

Dari adanya kesenjangan yang terjadi antara pengusaha dengan buruh yang ada di Indonesia. Buruh mulai sadar bahwa ia harus memperjuangkan nasibnya demi pemenuhan kebutuhan dan agar apa yang ia kerjakan sesuai dengan upah yang didapatkan. Oleh karena itu, buruh di Indonsia sering melakukan demontrasi terutama pada tanggal 1 Mei (May Day) yang terkenal sebagai hari buruh. Hal ini tidak lepas dari pemikiran Karl Marx akibat adanya jurang pemisah antara kaum Bourgeois dan kaum Proletariat. Biasanya kaum buruh memperjuangkan hak mereka dalam besaran upah yang tidak sesuai dengan apa yang telah dikerjakan. Hal ini tentu tidak lepas dari sifat pengusaha yang ingin memperoleh keuntugan sebesar-besarnya dengan biaya yang serendah-rendahnya.

Selain itu, dalam menyampaikan suatu pendapat maupun aspirasi para buruh, buruh juga membentuk suatu organisasi massa yang didalamnya beranggotakan para buruh yang dinamai

Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI). Tugas SPSI yaitu untuk menyampaikan tuntutan para buruh yang menjadi prioritas kepada pihak yang berwenang (DPR) yang nantinya akan disampaikan kepada pihak pengusaha dalam hal pemberian upah, tunjangan, jaminan sosial (kematian, kecelakaan kerja, kesehatan, dan pansiun), maupun lain sebagainya. Biasanya aturan yang diambil oleh DPR tersebut akan dituangkan dalam bentuk UMR yang telah disepakati oleh kedua belah pihak.

Jika dilihat dari sudut pandang teori perjuangan kelas Karl Marx tentu sangat relevan terhadap keadaan buruh di Indonesia pada saat ini. Hal ini dikarenakan dari adanya pembeda dari segi apa yang diperoleh pengusaha dan apa yang diterima oleh buruh tentu tidaklah sama besarannya. Oleh karena itu, perjuangan yang dilakukan oleh kaum proletariat sampai saat ini masih dilakukan.

PENUTUP

(8)

ada di Indonesia. Sehingga relevansi teori Karl Marx masih digunakan sampai saat ini.

Daftar Pustaka

Rochwulaningsih,yetty. Petani garam dalam jeratan kapitalisme : studi kasus

petani garam di Rembang,Jawa Tengah.

Semarang :Universitas Diponegoro

Yoseph fredy wijaya dan wahyu budi nugroho. Marxisme dan buruh indonesia kontemporer : stusy dimensi relevansi dan irrelevansi pemikiran sosial-ekonomi karl

max pada buruh pabrik di surabaya. Bali :

Universitas Udayana

Bahari Yohanes. Karl Max .sekelumit

hidup dan pemikiranya. Pontianak.

Universitas TanjungPura

Ismail Indriaty dan Mohd Zuhaili Kamal Basir. Karl Max dan Perjuangan Kelas

Sosial.

Ramli, M Andy. 2006. PetaPemikiran Karl

Marx(Materialism Dialektis dan

MaterialismeHistoris). Yogyakarta: PT.

Lkis.

Wolf, Robert Paul. 1982. The Analytics of The Labour Theory of Value in David

Ricardo & Karl Marx. Midwest studi in

Referensi

Dokumen terkait

Untuk menambahkan daftar penyakit dan gejala pada penyakit kelinci, agar diagnosis pada penyakit kelinci dapat lebih maksimal. Dalam penelitian selanjutnya system

Kitab kuning lebih akrab diucapkan oleh ulama Indonesia bahkan ada yang menyebutnya kitab gundul (tanpa harakat), namun dalam kalangan akademisi baik di Indonesia maupun luar

bahwa Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.01.07/MENKES/022/2018 tentang Daftar Alat Kesehatan, Alat Kesehatan Diagnostik In Vitro, dan Perbekalan Kesehatan Rumah Tangga

It is crucially show that non-verbal is more effective to be used together with verbal communication so that the message that have been send can persuade and influence the receiver

Sehingga berdasarkan hal tersebut, maka dalam pembangunan penyedian air minum dan sanitasi berbasis di masyarakat Desa Sinampang Kabupaten Dairi sangat di

Pemantauan lingkungan kerja dan ergonomi yang berkaitan dengan kesehatan kerja belum terlaksana karena tidak ada SDM yang berkompeten di bidang ergonomi, tapi

Dalam rangka mencapai tujuan penulisan, pembahasan dalam tulisan ini dibagi dalam empat bagian yaitu (i) mengidentifikasi kriteria siapa yang disebut sebagai ahli; (ii)

Dari sisi Pengeluaran, pertumbuhan tertinggi adalah komponen Pengeluaran Konsumsi Lembaga Nonprofit Rumah Tangga yang tumbuh 13,28 persen..  Perekonomian DIY triwulan