• Tidak ada hasil yang ditemukan

Psikologi Pendidikan Dalam pendidikan PerspektifAl

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Psikologi Pendidikan Dalam pendidikan PerspektifAl "

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

PSIKOLOGI PENDIDIKAN

DALAM PERSPEKTIF AL-QUR’AN DAN HADITS

Oleh Kelompok 1 (Nurul Aziz, Nurdianti, Siti Nurul Janah, Siti Yuliani, Maya Nartia Ningsih)

A. Pendahuluan

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat. Pendidikan biasanya berawal saat seorang bayi itu dilahirkan dan berlangsung seumur hidup. Pendidikan bisa saja berawal dari sebelum bayi lahir seperti yang dilakukan oleh banyak orang dengan memainkan musik dan membaca kepada bayi dalam kandungan dengan harapan ia bisa mengajar bayi mereka sebelum kelahiran.

Menurut Whiterington, pendidikan adalah proses pertumbuhan yang berlangsung melalui tindakan-tindakan belajar. Itu artinya bahwa tindakan-tindakan belajar yang berlangsung secara terus menerus akan menghasilkan pertumbuhan pengetahuan dan perilaku sesuai dengan tingkatan pembelajaran yang dilalui oleh individu sendiri melalui proses belajar-mengajar. Karena itu untuk mencapai hasil yang diharapkan, metode dan pendekatan yang benar dalam proses pendidikan sangat diperlukan.Kalau kita berbicara tentang individu yaitu manusia, maka kita akan bertemu dengan beberapa keunikan perilaku/jiwa (psyche), dan faktor ini akan berhubungan erat bahkan menentukan dalam keberhasilan proses belajar. Didasari pada begitu eratnya antara tugas psikologi (jiwa) dan ilmu pendidikan, kemudian lahirlah suatu subdisiplin yaitu psikologi pendidikan (educational psychology). (Syaiful Bahri Djamarah; 2011).

Psikologi pendidikan berperan penting dalam peningkatan mutu siswa dengan menerapkan prinsip-prinsip psikologi kedalam dunia pendidikan. Psikologi dengan objek manusia (tingkah laku), sedangkan pendidikan berorientasi pada perubahan perilaku siswa, cocok untuk dipadukan dengan harapan mendapatkan perilaku siswa yang diinginkan.

Manusia merupakan makhluk ciptaan Allah yang dibekali dengan berbagai potensi fitrah yang tidak dimiliki makhluk lainnya. Potensi istimewa ini dimaksudkan agar manusia dapat mengemban dua tugas utama, yaitu sebagai khalifatullah di muka bumi dan juga abdi Allah untuk beribadah kepada-Nya. Manusia dengan berbagai potensi tersebut membutuhkan suatu proses pendidikan, sehingga apa yang akan diembannya dapat terwujud. H. M. Arifin, dalam bukunya Ilmu Pendidikan Islam, mengatakan bahwa pendidikan Islam bertujuan untuk mewujudkan manusia yang berkepribadian muslim baik secara lahir maupun batin, mampu mengabdikan

segala amal perbuatannya untuk mencari keridhaan Allah SWT. Dengan demikian, hakikat cita-cita pendidikan Islam adalah melahirkan manusia-manusia yang beriman dan berilmu pengetahuan, satu sama lain saling menunjang.

Pendidikan memiliki hubungan yang sangat erat dengan psikologi. Pendidikan merupakan suatu proses panjang untuk mengaktualkan seluruh potensi diri manusia sehingga potensi kemanusiaannya menjadi aktual. Dalam proses mengaktualisasi diri tersebut diperlukan pengetahuan tentang keberadaan potensi, situasi dan kondisi lingkungan yang tepat untuk mengaktualisasikannya. Pengetahuan tentang diri manusia dengan segenap permasalahannya akan dibicarakan dalam psikologi umum. Dalam hal pendidikan Islam yang dibutuhkan psikologi Islami, karena manusia memiliki potensi luhur, landasan psikologis yang berwawasan kepada Islam, dalam hal ini dengan berpandu kepada al-Quran dan hadits sebagai sumbernya, sehingga akhir dari tujuan pendidikan Islam dapat terwujud dan menciptakan insan kamil bahagia di dunia dan akhirat. Sebenarnya, banyak sekali istilah untuk menyebutkan psikologi yang berwawasan kepada Islam. Diantara para psikolog ada yang menyebut dengan istilah psikologi Islam, psikologi al-Qur’an, psikologi Qur’ani, psikologi sufi dan nafsiologi. Namun pada dasarnya semua istilah tersebut memiliki makna yang sama.

(2)

setiap individu yang terdidik akan bermanfaat bagi beradab yang kemudian melahirkan masyarakat yang bermartabat. Untuk mencapai tujuan tersebut, maka diperlukan sistem pendidikan Islam. Makalah ini akan membahas sistem pendidikan Islam perspektif hadits.

Tardif (Alam Syah, 1997:13) juga mengatakan bahwa Pengertian Psikologi Pendidikan adalah sebuah bidang studi yang berhubungan dengan penerapan pengetahuan tentang perilaku manusia untuk usaha-usaha kependidikan. Dalam Dictonary of psychology (1972) pendidikan diartikan sebagai the institutional procedures wichare employed in accomplishing the development of knowledge, habits, atidudes, etc. ussualy the terms is applied to formal institution, jadi pendidikan berate tahapan kegiatan yang bersifat kelembagaan (seperti sekolah dan madrasah) yang dipergunakan untuk menyempurnakan perkembangan individu dalam menguasai pengetahuan,kebiasaan,sikap,dan sebagai nya. Pendidikan dapat berlangsung secara formal seperti di sekolah,madrasah,dan institusi institusi lain nya. Bahkan menurut definisi diatas, pendidikan juga dapat berlangsung dengan cara meajar diri sendiri.

Psikologi pendidikan menurut sebagian ahli adalah subdisiplin psikologi, bukan psikologi itu sendiri. Mereka menganggap psikologi pendidikan tidak memiliki teori, konsep, dan metode sendiri. Hal ini konon terbukti dengan banyaknya hasil-hasil riset psikologi lain yang diangkat menjadi teori,konsep, dan metode psikologi pendidikan. Jadi, psikologi pendidikan adalah sebuah subdisiplin ilmu psikologi yang berkaitan dengan teori dan masalah kependidikan yang berguna dalam hal-hal sebagai berikut :

1. Penerapan prinsip-prinsip belajar dalam kelas 2. Pengembagan dan pembaruan kurikulum

3. Ujian dan evaluasi bakat dan kemmapuan. (Muhibbin Syah, 2011;12)

Dari beberapa pendapat tentang psikologi pendidikan, kami mengambil kesimpulan bahwa Pengertian Psikologi Pendidikan adalah ilmu yang mempelajari tentang perilaku manusia di dalam dunia pendidikan yang meliputi studi sistematis tentang proses-proses dan faktor-faktor yang berhubungan dengan pendidikan manusia yang tujuannya untuk mengembangkan dan meningkatkan keefisien di dalam pendidikan.

B. Ayat Al-Qur’an Mengenai Psikologi Pendidikan Al-Qur’an Surat Al-Mujadalah : 11 dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majelis”, maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

Sedangkan menurut

Witherington, Pengertian Psikologi pendidikan adalah studi sistematis tentang proses-proses dan faktor-faktor yang berhubungan dengan pendidikan manusia.

Tardif (Alam Syah, 1997: 13) juga mengatakan bahwa Pengertian Psikologi Pendidikan adalah sebuah bidang studi yang berhubungan dengan penerapan pengetahuan tentang perilaku manusia untuk usaha-usaha kependidikan.

(3)

banyak menyebut Allah.” (QS. Al-Ahzab Sakhr radhiallahuanhu dia berkata :Saya mendengar Rasulullah e bersabda : Apa yang aku larang hendaklah kalian menghindarinya dan apa yang aku perintahkan maka hendaklah kalian laksanakan semampu kalian. Sesungguhnya kehancuran orang-orang sebelum kalian adalah karena banyaknya pertanyaan mereka (yang tidak berguna dan penentangan mereka terhadap nabi-nabi mereka.” (Bukhori dan Muslim).

Kandungan Hadits diatas:

1. Wajibnya menghindari semua apa yang dilarang oleh Rasulullah SAW.

2. Siapa yang tidak mampu melakukan perbuatan yang diperintahkan secara keseluruhan dan dia hanya mampu sebagiannya saja maka dia hendaknya melaksanakan apa yang dia mampu laksanakan.

3. Allah tidak akan membebankan kepada seseorang kecuali sesuai dengan kadar kemampuannya.

4. Perkara yang mudah tidak gugur karena perkara yang sulit.

isyarat untuk menyibukkan diri dengan perkara yang lebih penting yang dibutuhkan saat itu “Dari Abu Dzar, Jundub bin Junadah dan Abu Abdurrahman, Mu’az bin Jabal radhiallahuanhuma dari Rasulullah saw beliau bersabda : Bertakwalah kepada Allah dimana saja kamu berada, iringilah keburukan dengan kebaikan niscaya menghapusnya dan pergauilah manusia dengan akhlak yang baik “ (Riwayat Tirmidzi,

dia berkata haditsnya hasan, pada sebagian cetakan dikatakan hasan shahih).

Pelajaran yang terdapat dalam hadits / دئاوفلا ثيدحلا نم :

1. Takwa kepada Allah merupakan kewajiban setiap muslim dan dia merupakan asas diterimanya amal shaleh.

2. Bersegera melakukan ketaatan setelah keburukan secara langsung, karena kebaikan akan menghapus keburukan.

3. Bersungguh-sungguh menghias diri dengan akhlak mulia.

4. Menjaga pergaulan yang baik merupakan kunci kesuksesan, kebahagiaan dan ketenangan di dunia dan akhirat. Hal tersebut dapat menghilangkan dampak negatif pergaulan.

Tema-tema hadits / ثيدحلا تاعوضوم : 1. Takwa, bekal disetiap tempat dan waktu 2. Akhlak mulia sebagai hal yang positip bagi orang kafir. Hadis ini dulu pada zaman penjajahan Belanda bahkan digunakan oleh Vanderplass untuk mempengaruhi ulama agar mereka tidak usah memikirkan urusan dunia, karena dunia adalah domain orang klafir, termasuk tidak usah memikirkan kehidupan bernegara.

C. Kandungan Q.S. Al-Mujadalah Ayat 11

Surat Al-Mujadalah ayat 11 menjelaskan keutamaan orang orang beriman dan berilmu pengetahuan.mengapa orang yang beriman dan berilmu pengetahuan akan diterima derajatnya? Sudah tentu,orang yang beriman dan memilki ilmu pngetahuan luas akan dihormati oleh orang lain diberi keprcyaan untuk mengendalikan atau mengelola yang terjadi dalam khidupan ini. Ini artinya tingkatan orang yang berilmu lebih tinggi disbanding orang yang tidak berilmu.

Akan tetapi, perlu di ingat bahwa orang yang beriman, tetapi tidak berilmu, dia akan lemah, oleh karena itu kemimanan seseorang yang tidak didasari atas ilmu pengetahuan tidak akan kuat. Begitu juga sblikanya orang yang berilmu tapi tidak beriman ia akan tersesat.karna ilmu yang dimiliki bias jadi untuk kbaikan sesame.

Sikap yang dapat diterapkan dalam pengalaman dari surat al-Mujadalah ayat 11 adalah:

1. Memiliki rasa ingin tau yang tinggi dan berusah untuk mendapatkn pngthuan tsbt.

(4)

3. Senang mendatangi guru untuk meminta penjelasan tentang ilmu pengetahuan

4. Selalu menyeimbangkan ilmu pengethuan yang dimilikinya dengan keyakinan kkuasaan Allah SWT.

Kandungan Q.S Al- Ahzab ayat 21

Kandungan yang terdapat dalam ayat ini, dalam bidang pendidikan prilaku dan sifat-sifat kepribadian (ahlakul karimah). Agar dicontoh dan diiikuti iserta dipraktikan oleh umat manusi sebagai

pendidik ( figure teladan) yang memiliki amanat mendidik dan menanamkan (Internalisasikan) dalam diri peserta didik, Qudwah Shalihah dalam hal : Istiqamah fil Ibadah, Dakwah, Syukur, Zuhud, Tawakal dan Sabar. (www.perpustakaan IAIN:2015, 06-3).

Pendidikan Islam berkenaan dengan 3 prinsip yaitu:

1. Prinsip Al-Tawassua fil makqosid la fil ala. 2. Prinsip Muaratul Istiadat tabiai

3. Prinsip Minal Mahsus ila maakul

Sedangkan penerapannya dapat mengunakan cara atau langkah-langkah dengan cara menunjukan arahan,bimbingan ,dorongan dengan memberi motivasi .Ini adalah salah satu arti penting psikologi pendidikan dalam pendidikan Islam.

D. Definisi Psikologi Pendidikan

Psikologi pendidikan menurut sebagian ahli adalah subdisiplin psikologi, bukan psikologi itu sendiri. Mereka menganggap psikologi pendidikan tidak memiliki teori, konsep, dan metode sendiri. Hal ini konon terbukti dengan banyaknya hasil-hasil riset psikologi lain yang diangkat menjadi teori,konsep, dan metode psikologi pendidikan. Jadi, psikologi pendidikan adalah sebuah subdisiplin ilmu psikologi yang berkaitan dengan teori dan masalah kependidikan yang berguna dalam hal-hal sebagai berikut :

1. Penerapan prinsip-prinsip belajar dalam kelas 2. Pengembagan dan pembaruan kurikulum 3. Ujian dan evaluasi bakat dan kemmapuan 4. Sosialisasi proses dan interaksi

proses-proses tersebut dengan pendayagunaan ranah kognitif. (Muhibbinsyah,2011;12).

Secara harfiah memang psikologi dapat diartikan sebagai ilmu tentang jiwa atau ilmu jiwa,sebab kata psikologi berasal dari bhasa yunani,psych brartin jiwa,roh,atau sukma,sedang logi atau logos berarti ilmu atau pengetahuan. Jadi psikologi berarti ilmu tentang jiwa atau ilmu yang mempelajari jiwa.dalam definisi bahwa yang diplajari bukan jiwanya tetapi hanya gejala gejalanya (gejala jiwa) hal itu dapat difahami mengingat, bahwa mempelajari jiwa merupakan hal yang sukar sekali ,sebab sesuatu yang tidak kelihatan atau tersembunyi.jadi psikologi sbagai ilmu yang mempelajari prilaku atau kegiatan individu. (Nanasaodih,2011;18)

Psikologi pendidikan psikologi kpribadian membantu mengembangkan kpribadian guru , mengenali kpribadian anak didik dan memanfaatkannya untuk mengoftimalkan prestasi pendidikan melakukan pnyesuaian pnyesuaian kebutuhan skolah dan tuntutan skolah. (Alwisol, 2014;10).

E. Ruang Lingkup Dan Kajian Psikologi

Ruang lingkup bidang psikologi cukup luas, sebab individu manusia berada dalam berbagai posisi,kondisi dan tahap perkembangan,dapat memperlihatkian karakteristik kegiatan atau prilaku tertentu yang berbeda pada kondisi , posisi serta tahap perkembangan lain nya .

Secara garis besar di bedakan 3 kategori bidang psikologi,yaitu psikologi umum,psikologi khusus,psikologi terapan. (Nanasaodih,2011 ;23).

1. Psikologi umum

Psikologi umum sering juga disebut sebagai pengantar psikologi merupakan studi tentang prilaku atau kegiatan individu cara umum. Studi ini memberikan pengantar kepada studi tentang prilaku individu yang lebih lanjut lebih husus mendalam. Dalam psikologi umum dapat diplajari konsep umum kegiatan atau prilaku indivdu apa, mengapa, dan bgaimana indivdu melakukan kegiatan.mngenai msalah apa , mencakup jenis jenis kegiatan atau prilaku yang dilakukan individu, yang menjadi sasaran dan tujuan dari kegiatan tersebut.

2. Psikologi khusus

Kelompok psikologi ini mempelajari prilaku atau kegiatan individu secara husus, baik secara khususan karena tahap perkembangan nya,posisi nya , aspek yang mendapatkan sorotan utmanya atau karena kondisinya.dalam kategori ini kita mengenal psikologi perkembangan yang terbagi atas psikologi anak remaja dewsa, dan usia lanjut, psikologi wanita dan pria, psikologi abnormal , psikologi kpribadian, psikologi difrensial, dan psikologi binatang. (Nana Saodi Sukmadinata 2011;24)

F. Landasan Psikologi Pendidikan

(5)

Sekolah merupakan lingkungan pendidikan utama, karena di sekolah berlangsung yang paling formal.

Para pendidik,terutama guru dosen widia iswara, instruktur, pelatih, penatar, dll. Sebagai individu membutuhkan pengetahuan tentang psikologi tetapi sebagai pendidik mereka membutuhkan pengetahuan tentang psikologi dalam interaksi pendidikan. Interaksi pendidikan merupakan suatu interaksi yang sangat kompleks dan unik,berinteraksi antara individu, tetapi brlangsung dalam konteks yang bersifat pedagogis.banyak segi aspek , unsur dan hubungan yang membutuhkan pemahaman secara psikologis, juga banyak perlakuan, tindakan layanan yang memrlukan dasar dasar atau psikologis dan bnyak msalah yang perlu di analisis dan pendekatan psikologis.walaupun yang akan menjadi kajian utama dalam buku ini adalah interaksi pendidikan , yaitu bagaimana guru mengajar dan factor yang melatarbelakangi siswa dan guru serta faktor2 lingkungan juga akan diuraikan secukupnya. Dengan urai tsbt diharapkan dapat membantu para pendidik, baik pendapat pormal (guru) maupun pendidik informal (orang tua,pemimpin, pejabat dan masyrakat) dalam memahami tindakan dan perlakuan yang lebih tepat.(Nana Saodi 2011;28-29)

G. Metode Psikologi Pendidikan

Pada umumnya, para akhli psikologi pendidikan melakukan riset psikologi di bidang kependiidikan dengan memanfaatkan beberapa metode tertentu yaitu sebagai berikut :

1. Metode Eksperimen

Pada asasnya, metode eksperimen merupkan serangkaian percobaan yang dilakukan eksperimenter (penelitian yang bereksperimen)di dalam sebuah labolatorium atau ruangan tertentu lainnya.Metode eksperimen yang digunakan dalam penelitian psikologi pendidikan untuk menguji keabashan dan kecermatan simpulan-simpulan yang ditarik dari hasil temuan penelitian dengan metode lain.

2. Metode Kuesioner

Metode kuesioner (qustionaire) lazim juga disebut metode surat-menyurat (mail survey).Namun, sebelum kuesioner disebarkan atau dikirimkan kepada responden yang sesungguhnya seorang peneliti psikologi pendidikan biasanya melakukan uji coba (try out), caranya, sejumlah kuesioner dibagi-bagikan kepada sejumlah orang tertentu yang memiliki karakteristrik sama dengan calon responden yang sesungguhnya.Tujuannya,untuk memastikan pertanyaan-pertanyaan dalam kuesioner itu cukup jelas dan relevan untuk dijawab,dan untuk memperoleh masukan yang mungkin bermanfaat bagi penyempurnaan kuesioner tersebut.

Penggunaan metode kuesioner dalam riset-riset social termasuk bidang psikologi pendidikan

relative lebih menonjol apabila dibandingkan dengan penggunaan metode lainnya. Contoh data yang dapat dihimpun dengan cara penyebaran adalah sebagai

4. Faktor-faktor pendorong dan penghambat siswa dalam mengikuti pelajaran tertentu.

5. Aplikasi (penerapan),mata pelajaran tertentu dalam kehidupan sehari-hari siswa (seperti sahalat dalam pelajaran agama)

6. Pengaruh aplikasi pelajaran tertentu terhadap prikehidupan siswa.

3. Metode Studi Khusus

Studi kasus (case study)sebuah metode penelitian yang di gunakan untuk memperoleh gambaran yang rinci mengenai aspek-aspek psikologi seorang siswa atau sekelompok siswa tertentu.Metode ini,selain dipakai oleh para peneliti psikologi pendidikan,juga dipakai oleh para peneliti ilmu-ilmu social lainnya,karena lebih memungkinkan atau sebut saja metode klinis (clinical method)hanya digunakan oleh para ahli psikologi klinis atau psikiater.dalam metode ini terdapat posedur diagonosis dan penggolongan penyakit kelainan jiwa serta cara-cara member prlakuan pemulihan (psychological treatment) terhadap kelainan juwa tersebut.

Jean Piaget adalah yang mula-mula memanfaatkan metode penyelidikan klinis tersebut untuk kepentingan pendidikan.Piaget telah sering menggynakan metode ini untuk menggumpulkan data dengan cara yang unik yakni interaks semua aliamiah (quas-natural)antara peneliti dengan anak yang diteliti (Reber,1988).

Sasaran yang akan dicapai oleh penelitian dengan menggunakan metode klinis terutama untuk memeastikan sebab-sebab timbulnya ketidak normalan perilaku seorang siswa atau sekelompok kecil siswa.Kemudian berdasarkan kepastian factor penyebab itu penelitian berupaya memilih dan menentukan cara-cara yang tepat untuk mengatasi penyimpangan tersebut.

5. Metode Obsevasi

Metode observasi

(6)

yang dilakukan secara alamiah. Dalam hal ini, peneliti berada di luar objek yang diteliti atau tidak menampakan diri sebagai orang yang sedang melakukan penelitian. Pada mulanya,observasi naturalistik lebih banyak digunakan oleh para ahli ilmuan hewan (ethologist) untuk mempelajari prilaku hewan tertentu. Selanjutnya metode ini juga digunakan oleh para psikolog- psikolog pendidikan. Dalam hal penggunaannya bagi kepentingan penelitian psikolog pendidikan, seorang peneliti atau guru yang menjadi asistennya agar dapat mengaplikasikan metode observasi ilmiah itu lewat kegiatan pengajaran.

6. Metode Diferensial

Digunakan untuk meneliti perbedaan-perbedaan individual yang terdapat di antara anak diri nya sendiri, maupun orang lain. Kedua dengan hasil pemahaman tsbut seseorang dapat bertindak atau pun memberikan perlakuan yang lebih bijaksana. Tindakan yang bijaksana menyangkut penggunaan cara atau metode yang tepat, pada saat dan dalam situasi yang tepat. Seorang yang telah memplajari psikologi diharapkan menjadi orang yang dpat menjadi dirinya dan mengerti orang lain serta dapat memberikan prlakuan yang bijaksana. Dengan perkataan lain seorang yang telah mempelajari psikologi di harapkan menjadi orang yang adil dan bijaksana.

Sesungguhnya setiap orang membutuhkan pengetahuan tentang psikologi , sebab khidupan stiap orang selalu menghdapi,bergaul bkerjasma dengan orang lain orang orang yang dalam pekrjaan nya memberikan pelayanan pada orang, atau mnghadapi dan mmbutuh kan pengetahuan psikologi yang lebih banyak dan mendalam dibandingkan dengan orang orang yang mnghdapi orang hanya dalam pergaulan dan kehidupan keluarga, guru kehidupan disekolah tiap hari brgaul; dan menghadapi orang baik siswa , sesame guru, kepla skolah, staff tata usaha , orang tua dan lain lain. Lebih dari itu tugas guru adalah membantu perkembangan anak, membimbing dalam kpribadiannya. Agar seorang guru dapat memprsiapakan plajaran yang sesuai dengan bakat,minta,kemampuan,dan kebutuhan siswa dan menyampaikan bahan pelajaran dngan baik maka dibtuhkan pngetahuan dan kemampuan memahami sgala sifat, kemampuan dan para siswa nya. Pengetahuan diperoleh dari studi tentang psikologi bukn hnya pkerjaan sbgai guru yang membutuhkan pngetahuan tentang psikologi, tetapi pekerjaan

pekerjaan yang bersifat lain nya. Juga membutuhkan nya. Pekerjaan-pekerjaan itu di antara nya hakim, jaksa, adfokat, polsi, perawat, sutadara, biro iklan, biro perjalanan, pramugari, dan sbagai pemimpin.

Pekerjaan pekerjaan diatas pada dasar nya memberikan pelayanan dan perlakuanj individu.agar pelayanan dan perlakuannya ketat , perlu didasarkan atas hasil pemahaman terhadap para klien, atau individu-individu yang dilayaninya. (Nana Saodih Sukmadinata 2011).

I. Penutup

Kepribadian atau watak, ciri khas atau karakter seseorang yang secara eksis dan terus menerus dipertahankan, meskipun demikian kepribadian bisa berubah ubah sesuai dengan faktor yang mempengaruhi.Dalam Islam kepribadian Muslim identik dengan akhlak Islam, ia merupakan perpaduan harmonis antara sistem kalbu, akal dan nafsu yang menimbulkan tingkah laku dan merupakan ciri khas umat Islam. Karena itu ciri khas kepribadian Muslim ialah yang selalu menjaga hatinya untuk taat kepada Allah sehingga senantiasa mendapat sinarnya dan menjauhi segala larangannya yang merupakan kotoran-kotoran manusia.

Struktur kepribadian Muslim meliputi tiga substansi, yaitu jasad atau jasmani, ruh atau ruhani dan nafsani atau jiwa, jiwa itu sendiri terdiri dari kalbu, akal dan nafsu. Sedangkan nafsu terdiri dari nafsu amarah, lawamah dan muthmainah. Semuanya ini merupakan struktur kepribadian Islam, yang jika system kerjanya bagus semua akan membentuk kepribadian kamil atau manusia paripurna yang tenang, selalu berbuat kebaikan, tawakal dan terhindar dari sifat sifat tercela.

Dan ciri – ciri kepribadian muslim ada 10: Aqidah yang bersih, Ibadah yang benar, Akhlak yang kokoh, Kekuatan jasmani, Intelek dalam berpikir, Berjuang melawan hawa nafsu, Pandai menjaga waktu, Teratur dalam suatu urusan, Memiliki kemampuan usaha sendiri atau yang juga disebut dengan mandiri dan Bermanfaat bagi orang lain.Tetapi kenyataanya sering ada gangguan-gangguan kejiwaan yang dapat menurunkan derajat kepribadianya atau kesehatan mentalnya. Untuk menyembuhkannya harus melalui latihan latihan mental secara terus menerus seperti sabar ,taubat, tawakal, ridha dan sebagainya. (Desmita, 2012:5).

DAFTAR PUSTAKA

Abdul Mujib Dan Yusuf Mudzakir, Nuansa Nuansa Psikologi Islam, Jakarta, Rajawali Pers, 2001 Al Gazali, Imam, Ihya Ulumuddin, Bab Keajaiban

Hati, Terj. H. Ismail Yakub, Jakarta, Faisan. T,Th.,

(7)

Alwisol. 2011. Psikoklogi Kepribadian. Malang : Ummpress

Departemen Agama RI. Al-Qur’an Dan Tafsirnya. Jakarta : Percetakan Ikrar Mandiri Abadi. 2010.

Desmita. Psikologi Perkembangan Peserta Didik. Bandung : Remaja Rosda Karya. 2012. Jahja,Yudrik..Psikologi Perkembangan. Jakarta.

Kencana Prenada Meda Group, 2011.

Muhibbinsyah, Psikologi Pendidikan, Bandung, Remaja Rosda Karya. T.Th.,

Sarwono, Sarlito Wirawan. 2012. Jakarta. Rajawali Pers. 2012.

Shibab. Quraish. Tafsir Juz ’Amma. Jakarta.Mizan. 2001.

Shihab, Quraish. Tafsir Al-Mishbah. Jakarta. Lentera Hati. 2006.

(8)

Referensi

Dokumen terkait

Adapun pengertian lain dari kepribadian adalah suatu totalitas pshikophisis yang kompleks dari individu, sehingga Nampak didalam tingkah lakunya yang unik. Benar,

Menyadari bahwa situasi didaktis dan pedagogis yang terjadi dalam suatu pembelajaran merupakan peristiwa yang sangat kompleks, maka guru perlu mengembangkan kemampuan untuk

Bahasa lahir karena perlunya interaksi dan komunikasi, baik antara individu dengan individu lain, antara individu dengan kelompok, antara individu dengan yang bukan manusia,

Menyadari bahwa situasi didaktis dan pedagogis yang terjadi dalam suatu pembelajaran merupakan peristiwa yang sangat kompleks, maka guru perlu mengembangkan kemampuan untuk

Dalam konteks interaksi antara individu atau masyarakat yang berbeda etnik dalam suatu komunitas wilayah tertentu yang merupakan ciri masyarakat majemuk,

Riset yang bersifat action oriented yang berusaha Percaya bahwa kausalitas tidak dapat dipelajari sebab memfasilitasi perubahan pada individu maupun kehidupan sangat kompleks

Menyadari bahwa situasi didaktis dan pedagogis yang terjadi dalam suatu pembelajaran merupakan peristiwa yang sangat kompleks, maka guru perlu mengembangkan kemampuan untuk

• Suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh perubahan perilaku baru secara keseluruhan sebagai hasil pengalaman individu dalam interaksinya dengan.