‘ALAM MANUSIA’ EDANE: PEMIKIRAN MANUSIA
BERORIENTASI HARTA
Oleh: Ghofiruddin Alfian
Edane adalah salah satu grup band bergenre Hard Rock asal Jakarta. Grup band yang digawangi oleh Eet Syahranie yang dikenal sebagai salah satu maestro gitaris di Indonesia ini memperoleh puncak kejayaan di era ‘90an. Sejak berdiri pada tahun 1991 hingga sekarang grup band ini telah menelurkan banyak lagu di blantika musik Indonesia. Salah satu lagu mereka adalah ‘Alam Manusia’ yang merupakan salah satu hits dalam album kedua ‘Jabrik’. Puisi yang ditampilkan dalam lirik lagu ini akan dikritik menggunakan metode penerapan impresionistik dan melalui pendekatan estetik serta sosial.
Estetika atau keindahan ‘Alam Manusia’ ini dapat ditemukan dari diksi atau pilihan kata yang disajikan. Banyak sekali kata-kata atau frase yang bermakna kias dan juga penggunaan gaya bahasa dalam bentuk majas perbandingan personifikasi. Ada juga penggunaan simbol yang menggunakan alam untuk merujuk kepada suatu sifat yang ada pada diri manusia. Dari balik estetikanya, ‘Alam Manusia’ memuat begitu banyak kritik sosial yang disarikan ke dalam dua hal, yaitu kemunafikan dan keserakahan manusia. Dua hal ini sering muncul ketika manusia di kehidupan sosialnya berhadapan dengan godaan harta benda. Untuk lebih jelasnya, estetika dan kritik sosial dalam ‘Alam Manusia’ akan dipaparkan bait per bait.
Langit yang jingga Merengkuh laut utara Lirih jeritan camar
Mengantar pulang mentari
perbuatan khas yang dilakukan oleh manusia. Namun dalam kalimat tersebut ‘merengkuh’ juga dapat diartikan sebagai melingkupi atau menyelubungi.
Baris dua dan tiga juga rangkaian satu kalimat. Majas personifikasi dapat ditemukan dalam ‘lirih jeritan camar’. Jeritan adalah teriakan melengking yang biasa dilakukan manusia dalam keadaan takut. Namun jeritan camar itu lirih seolah menyiratkan sebuah kedamaian. Kedamaian yang mengantarkan pulang mentari kembali ke peraduan.
Bait satu ini secara umum menampilkan sebuah setting atau latar waktu dan tempat. Latar waktu yang dimaksud pada ‘Alam Manusia’ ini adalah di sore hari menjelang matahari terbenam. Suasana sore hari yang menenangkan sekaligus menakutkan. Menenangkan karena keindahan pancaran cahaya matahari yang tidak menyilaukan, juga karena saat ini adalah waktu manusia secara umum untuk mulai mengistirahatkan diri dari segala kepenatan aktifitas seharian penuh. Menakutkan karena setelahnya kegelapan pasti akan datang. Terang akan segera direngkuh oleh malam. Sedangkan latar tempat yang dimaksud adalah Jakarta. Hal ini dapat dideteksi dari ‘laut utara’. Dengan memerhatikan posisi Jakarta pada peta, dapat diketahui bahwa kota ini terletak di bagian pantai utara Jawa atau yang lebih dikenal pantura. Selain itu, band Edane yang berasal dan bermarkas di Jakarta sangat mendukung penentuan Jakarta sebagai latar tempat dalam lirik ‘Alam Manusia’. Namun pesan yang disampaikan adalah universal, tidak hanya tertuju untuk orang-orang Jakarta saja, namun juga untuk seluruh manusia di dunia.
Bumipun kian menghitam
Dalam gelegak buih pijaran masa Larut di jiwa kembara
Di tengah rona haru biru kefanaan
Secara tersirat, bait ini memiliki makna yang dalam. Bumi di bait ini dapat diibaratkan sebagai penghuni bumi itu sendiri yaitu manusia yang sangat tidak sempurna. Manusia yang selalu bergantung kepada alam semesta. Manusia yang juga selalu bergantung kepada selainnya sehingga dia ‘larut di jiwa kembara’, larut dalam pengembaraan pencarian jati diri untuk memperoleh kesempurnaan hidup. ‘Di tengah rona haru biru kefanaan’ adalah dunia ini dan sifatnya. Dunia ini dan segala yang ada di dalamnya adalah sesuatu yang fana, sesuatu yang tidak kekal, sesuatu yang akan rusak dan menghilang. Kendati demikian dunia ini bisa membuat ‘rona’ atau kebahagiaan bagi manusia, sekaligus ‘haru biru’ atau kesedihan. Keduanya datang silih berganti. Manusia di dunia tidak ada yang setiap saat selalu merasakan bahagia, atau sebaliknya setiap waktu dalam kesedihan. Mengetahui hal yang demikian sudah selayaknya manusia untuk mempersiapkan diri, yaitu bersabar ketika dalam ‘haru biru’ dan bersyukur ketika dalam ‘rona’.
Dalam bait ini juga terkandung estetika dalam bunyi akhir setiap baris atau rima. Rima dalam bait ini dapat dikodekan dengan abba. Menghitam-kefanaan sama-sama memiliki bunyi nasal, sedangkan masa-kembara sama-sama berakhir dengan vokal /a/.
Setiap detik
Perubahan pasti terjadi Dari tanah ke tanah
Kodrat sang waktu berjalan
jika kepercayaan tersebut membabi buta sampai menihilkan usaha, maka akibatnya adalah pembodohan yang berlanjut kepada suatu penindasan yang direlakan.
Dan tatapan mata hati
Mudah berbalik pandang di kehidupan Kadang bagai malaikat
kadang khianat, umbar nafsu serakahnya
Bait IV ini menceritakan tentang hati manusia. Hati manusia ini diibaratkan memiliki mata sehingga mampu menatap. Maksudnya adalah hati itu mampu menunjukkan atau membedakan antara yang baik dan buruk, antara yang salah dengan yang benar. Tetapi di dalam kehidupan, hati manusia seringkali mudah berbalik pandang. Hati manusia seringkali goyah, kadang ia cenderung kepada kebaikan dan kebenaran, kadang juga ia terjebak atau bahkan sengaja menyesatkan diri sendiri ke dalam keburukan dan kesalahan. Ketika dalam kebaikan dan kebenaran, hati itu bagaikan malaikat yang dikatakan sebagai makhluk yang sangat taat kepada Tuhan. Malaikat selain simbol ketaatan juga merupakan simbol hati nurani yang mengarahkan diri manusia kepada kebenaran dan kebaikan. Namun manusia dan hatinya bukan malaikat sehingga terkadang berkhianat. Terlebih lagi pada saat dihadapkan pada kepentingan dunia yang bertumpu pada dua hal, yaitu harta dan tahta. Nafsu seringkali mengumbar keserakahan tanpa kendali. Jika sudah begitu segala cara akan digunakan untuk meraih tujuan. Bahkan, jika cara tersebut adalah cara yang buruk dan kejam seperti menipu, merampas, dan membunuh.
Tata krama sirna Rasa manusianya harta Fakta berbicara ! Rasa manusianya harta Rasa manusianya sirna
Kedua bait ini juga menampakkan keindahan dalam rima yaitu bunyi /a/ di setiap akhir baris. Setiap baris dari kedua bait ini juga menampakkan asonansi atau ulangan bunyi vokal yang berurutan di setiap kata, yaitu a-a-a.
Kesimpulan
Puisi di dalam lirik lagu ‘Alam Manusia’ karya Edane telah memenuhi syarat estetika. Estetika atau keindahan puisi di dalamnya tidak hanya berasal dari rima, gaya bahasa dan simbol-simbol yang digunakan. Ketiga hal tersebut hanya merupakan estetika sekunder untuk menuntun pembaca atau pendengar menggali estetika primer dalam puisi yaitu pesan-pesan kemanusiaan yang disampaikan. Sudah seharusnya penyair ataupun musisi mengangkat kembali tema-tema kemanusiaan yang lebih universal seperti ditampilkan di dalam ‘Alam Manusia’. Mereka tidak boleh terpaku hanya kepada tema-tema seputar asmara yang justru menumpulkan ketajaman berpikir dan rasa kemanusiaan penikmat sastra bahkan senimannya sendiri. Rasa manusianya janganlah hanya berkutat pada harta, hanya untuk memenuhi kebutuhan pasar semata. Karena jika itu yang terjadi, maka rasa manusianya telah sirna.