• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERBEDAAN FONOLOGI BAHASA INDONESIA DAN (8)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PERBEDAAN FONOLOGI BAHASA INDONESIA DAN (8)"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

MAKALAH BAHASA

INGGRIS

Di

S

U

S

U

N

Oleh :

Nama

:

Nur Hasbi

Kelas : BSI.IB

No.absen : 18

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

BAHASA DAN SASTRA INDONESIA

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR

(2)

PERBEDAAN FONOLOGI BAHASA INDONESIA DAN

BAHASA INGGRIS

KATA PENGANTAR

Dengan mengucapkan puji dan syukur, penulis persembahkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya.Oleh karena itu, penulis berhasil menyusun sebuah Makalah Kajian Bahasa Indonesia tentang perbedaan fonologi bahasa Inggris dan fonologi Bahasa Indonesia.Maksud dan tujuan dari penyusunan

makalah ini adalah untuk memenuhi Tugas Mata Kuliah Bahasa inggris. Pada kesempatan kali ini, penulis mengucapkan terima kasih kepada bapak Arief Muchsin,S.pd,M.Pd selaku Dosen Pengampu mata kuliah Bahasa inggris. Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna.Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi perbaikan makalah ini.Harapan penulis semoga makalah ini bermanfaat bagi pembaca.

(3)

PENDAHULUAN

Dasar psikologi Analisis Kontrastif adalah teori transfer yang diuraikan dan di formulasikan di dalam suatu teori psikologi Stimulus-Responsi Behavioris (James,

1968:20). Menurut paham teori belajar psikologi behaviorisme yang mendominasi Anakon, kesalahan berbahasa terjadi karena transfer negatife (penggunaan sistem B1 dalam ber-B2). Dalam kehidupan sehari-hari masih banyak masyarakat yang memakai bahasa Indonesia tetapi tuturan atau ucapan daerahnya terbawa ke dalam tuturan bahasa

Indonesia. Tidak sedikit seseorang yang berbicara dalam bahasa Indonesia, tetapi dengan lafal atau intonasi Jawa, Batak, Bugis, Sunda dan Lainnya. Hal ini dimungkinkan karena sebagian besar bangsa Indonesia memposisikan bahasa Indonesia sebagai bahasa kedua. Sedangkan bahasa pertamanya adalah bahasa daerah masing-masing.Bahasa Indonesia hanya digunakan dalam komunikasi tertentu, seperti dalam kegiatan- kegiatan resmi. Selain itu, dalam pembelajaran bahasa Indonesia khususnya di Sekolah Dasar, istilah yang dikenal dan lazim digunakan guru adalah istilah “huruf” walaupun yang dimaksud adalah “fonem”. Mengingat keduanya merupakan istilah yang berbeda, untuk efektifnya

pembelajaran, tentu perlu diadakan penyesuaian dalam segi penerapannya. Oleh karena itu, untuk mencapai suatu ukuran lafal/fonem baku dalam bahasa Indonesia, sudah seharusnya lafal-lafal atau intonasi khas daerah itu dikurangi jika mungkin diusahakan dihilangkan. Sebagai seorang guru, pemahaman struktur fonologi bahasa Indonesia selain dapat menjadi bekal dalam pemakaian bahasa Indonesia yang baik dan benar dalam kehidupan sehari-hari juga dapat bermanfaat dalam pembinaan kemampuan berbahasa siswa.Setiap lambang bunyi bahasa mempunyai lafal atau ucapan tertentu yang tidak boleh dilafalkan menurut kemauan masing-masing pemakai bahasa.Pemakai bahasa Indonesia yang ingin pengucapannya baik, harus berusaha mematuhi kaidah yang berlaku di dalam bahasa tersebut.

RUMUSAN MASALAH

1. 1 . Apa yang dimaksud dengan fonologi?

2. 2 . Menjelaskan fonologi bahasa inggris!

3. Perbeaan fonologi bahasa Indonesia dan bahasa Osing!

TUJUAN

(4)

2. Untuk menjelaskan fonologi bahasa inggris

3. Menjelaskan perbedaan fonologi bahasa Indonesia dan bahasa Osing

PEMBAHASAN

Pengertian Fonologi

Sebelum diuraikan mengenai fonologi, terlebih dahulu dibahas mengenai

struktur.Struktur adalah penyusunan atau penggabungan unsur-unsur bahasa menjadi suatu bahasa yang berpola.

Secara etimologi kata fonologi berasal dari gabungan kata fon yang berarti ‘bunyi‘

dan logi yang berarti ‘ilmu’. Sebagai sebuah ilmu, fonologi lazim diartikan sebagai bagian dari kajian linguistik yang mempelajari, membahas, membicarakan, dan menganalisis bunyi-bunyi bahasa yang diproduksi oleh alat-alat ucap manusia.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1997) dinyatakan bahwa fonologi adalah bidang dalam linguistik yang menyelidiki bunyi–bunyi bahasa menurut fungsinya.Menurut Kridalaksana (2002) dalam kamus linguistik, fonologi adalah bidang dalam linguistik yang menyelidiki bunyi-bunyi bahasa menurut fungsinya. Dengan demikian, fonologi adalah sistem bunyi dalam bahasa Indonesia atau dapat juga dikatakan bahwa fonologi adalah ilmu tentang bunyi bahasa.

Ilmu-Ilmu yang Tercakup dalam Fonologi

Fonetik

Fonetik yaitu ilmu bahasa yang membahas tentang bunyi-bunyi ujaran yang dipakai dalam tutur dan bagaimana bunyi itu dihasilkan oleh alat ucap. Menurut Samsuri (1994), fonetik adalah studi tentang bunyi-bunyi ujar. Sedangkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1997), fonetik diartikan bidang linguistik tentang pengucapan (penghasilan) bunyi ujar atau fonetik adalah sistem bunyi suatu bahasa.Dengan demikian dapat

disimpulkan bahwa fonetik adalah ilmu bahasa yang membahas bunyi-bunyi bahasa yang dihasilkan alat ucap manusia, serta bagaimana bunyi itu dihasilkan. Chaer (2007)

membagi urutan proses terjadinya bunyi bahasa itu menjadi tiga jenis fonetik yaitu:

Fonetik artikulatoris

(5)

mekanisme arus udara yang digunakan dalam memproduksi bunyi bahasa, bagaimana bunyi bahasa itu dibuat, mengenai klasifikasi bahasa yang dihasilkan serta apa kriteria yang digunakan, mengenai silabel, dan juga mengenai unsur-unsur atau ciri-ciri

supresegmental, seperti tekanan, jeda, durasi dan nada.

Fonetik akustik

Fonetik akustik mempelajari bunyi bahasa sebagai peristiwa fisis atau fenomena alam. Objeknya adalah bunyi bahasa ketika merambat di udara, antara lain membicarakan: gelombang bunyi beserta frekuensi dan kecepatannya ketika merambat di udara,

spektrum, tekanan, dan intensitas bunyi. Juga mengenai skala desibel, resonansi, akustik produksi bunyi, serta pengukuran akustik itu.Kajian fonetik akustik lebih mengarah kepada kajian fisika daripada kajian linguistik, meskipun linguistik memiliki kepentingan didalamnya.

Fonetik auditoris

Fonetik auditoris mempelajari bagaimana bunyi-bunyi bahasa itu diterima oleh telinga, sehingga bunyi-bunyi itu didengar dan dapat dipahami.Dalam hal ini tentunya

pambahasan mengenai struktur dan fungsi alat dengar, yang disebut telinga itu

bekerja.Bagaimana mekanisme penerimaan bunyi bahasa itu, sehingga bisa dipahami.Oleh karena itu, kajian fonetik auditoris lebih berkenaan dengan ilmu kedokteran, termasuk kajian neurologi.

Dari ketiga jenis fonetik tersebut yang paling berurusan dengan dunia lingusitik adalah fonetik artikulatoris, sebab fonetik inilah yang berkenaan dengan masalah bagaimana bunyi-bunyi bahasa itu dihasilkan atau diucapkan manusia.Sedangkan fonetik akustik lebih berkenaan dengan bidang fisika yang dilakukan setelah bunyi-bunyi itu dihasilkan dan sedang merambat di udara.Kajian mengenai frekuensi dan kecepatan gelombang bunyi adalah kajian bidang fisika bukan bidang linguistik.Fonetik auditoris berkenaan dengan bidang kedokteran daripada linguistik.Kajian mengenai struktur dan fungsi telinga jelas merupakan bidang kedokteran.

Fonemik

Fonemik adalah ilmu bahasa yang membahas bunyi-bunyi bahasa yang berfungsi sebagai pembeda makna. Terkait dengan pengertian tersebut, fonemik dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1997) diartikan: (1) Bidang linguistik tentang sistem fonem. (2) Sistem fonem suatu bahasa. (3) Prosedur untuk menentukan fonem suatu bahasa.

(6)

Chaer (2007) mengatakan bahwa fonemik mengkaji bunyi bahasa yang dapat atau

berfungsi membedakan makna kata.Misalnya bunyi [l], [a], [b] dan [u] dan [r], [a], [b] dan [u].Jika dibandingkan perbedaannya hanya pada bunyi yang pertama, yaitu bunyi [l] dan bunyi [r].Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kedua bunyi tersebut adalah fonem yang berbeda dalam bahasa Indonesia, yaitu fonem /l/ dan fonem /r/.

Fonologi Bahasa Inggris

Inggris fonologi mengacu pada sistem suara (fonologi) dari bahasa Inggris, atau untuk mempelajari sistem itu.Seperti banyak bahasa, bahasa Inggris memiliki variasi dalam pengucapan, baik historis dan dari dialek ke dialek. Secara umum, bagaimanapun, dialek regional saham Inggris yang sangat mirip (meskipun tidak identik) system

fonem

Sebuah fonem dari bahasa atau dialek adalah sebuah abstraksi dari bunyi ujaran atau kelompok suara yang berbeda yang semuanya dianggap memiliki fungsi yang sama dengan penutur bahwa bahasa atau dialek. Misalnya, kata Inggris "melalui" terdiri dari tiga fonem: awal "th" suara, "r" suara, dan "oo" suara vokal. Perhatikan bahwa fonem dalam hal ini dan banyak kata-kata bahasa Inggris lainnya tidak selalu berhubungan langsung dengan surat-surat yang digunakan untuk mengeja mereka (ortografi bahasa Inggris tidak sekuat seperti yang phonemik bahasa tertentu lainnya).

Fonem dari bahasa Inggris dan jumlah mereka bervariasi dari dialek ke dialek, dan juga tergantung pada interpretasi peneliti individu.Jumlah fonem konsonan umumnya

diletakkan di 24 (atau sedikit lebih).Jumlah vokal tunduk pada variasi yang lebih besar, dalam sistem disajikan pada halaman ini terdapat 20 fonem vokal di Pengucapan Diterima, 14-16 di General Amerika dan 20-21 dalam Bahasa Inggris Australia.Kunci pengucapan yang digunakan dalam kamus pada umumnya mengandung sejumlah sedikit lebih besar dari simbol dari ini, untuk mempertimbangkan suara-suara tertentu yang digunakan dalam kata-kata asing dan perbedaan terlihat tertentu yang mungkin tidak fonemik ketat berbicara.

Konsonan

Varietas yang paling dari bahasa Inggris memiliki konsonan suku kata, misalnya pada akhir botol dan tombol.Dalam kasus tersebut, tidak ada vokal yang diucapkan antara dua konsonan terakhir. Adalah umum bagi konsonan suku kata yang akan ditranskripsi

(7)

fonemis sebagai / C / [2] [3]. Jadi tombol adalah fonemis / bə ʌt n / dan 'botol' adalah ə fonemis / bɒt l /.ə

The frikatif velar tak bersuara / x / terutama dibatasi ke Scottish bahasa Inggris, kata-kata dengan / x / dalam aksen Skotlandia cenderung diucapkan dengan / k / dalam dialek lain. The frikatif velar mungkin muncul dalam kata-kata baru-meminjam seperti chutzpah. Suara pada awal kata-kata dieja ⟨wh⟩ (misalnya yang, mengapa) dalam beberapa aksen (misalnya banyak Amerika Selatan, Skotlandia, dan Irlandia) yang "bersuara w" suara, sedangkan aksen lain memiliki afroksiman bersuara [w ]. Status fonemik dari suara tak bersuara, yang simbol fonetik adalah [ʍ], sulit untuk menentukan. Ini akan menjadi mungkin untuk mempertimbangkan suara ini menjadi fonem yang terpisah, namun phonologists memilih untuk memperlakukannya sebagai kombinasi / h / dan / w /. Jadi yang (seperti yang diucapkan oleh penutur yang memiliki "w bersuara") ditranskripsi fonemis sebagai / hwɪtʃ /. Ini tidak harus, bagaimanapun, harus ditafsirkan bahwa pembicara tersebut benar-benar mengucapkan [h] diikuti dengan [w]: transkripsi fonemik / hw / hanyalah sebuah cara yang nyaman untuk mewakili suara tunggal [ʍ] tanpa menganalisis dialek seperti memiliki extra fonem [4].

Kasus serupa di atas adalah bahwa dari suara pada awal besar, dalam aksen di mana / h / diucapkan dalam konteks tersebut, frikatif palatal bersuara [ç] terjadi, tetapi analisis fonemik biasa adalah untuk memperlakukan ini sebagai / h / plus / j / sehingga besar ditranskripsi / hju d /. Transkripsi ini sering menimbulkan keyakinan yang salah bahwa ː ʒ speaker mengucapkan [h] diikuti dengan [j] dalam konteks tersebut, tetapi simbol

sebenarnya merupakan suara tunggal [ç] [5].The yod-menjatuhkan ditemukan dalam dialek Norfolk berarti bahwa pengucapan Norfolk tradisional besar adalah [hʊud ] dan ʒ tidak [CU d ].ː ʒ

Kendala phonotactic mengenai fonem / r / berbeda antara aksen.Dalam non-rhotic aksen, seperti Pengucapan Diterima dan Australia Bahasa Inggris, [r] hanya muncul sebelum vokal, sedangkan pada aksen rhotic [r] terjadi di semua posisi.

Perbedaan fonologi bahasa inggis dan bahasa osing

Bahasa Indonesia adalah alat komunikasi yang digunakan oleh bangsa

Indonesia.Bahasa Indonesia digunakan dalam acara resmi maupun tidak resmi.Sedangkan Bahasa daerah adalah bahasa sehari-hari yang digunakan oleh daerah tertentu, misalnya masyarakat Banyuwangi menggunakan bahasa daerah yaitu bahasa osing.

Bahasa Indonesia dan bahasa osing memiliki perbedaan dalam sistem fonologi yaitu Bahasa osing dalam sistem pelafalannya mempunyai diftong [ai] untuk vocal [i] pada bahasa osing, khususnya Banyuwangi selalu terlafal ai, contohnya “Bengi” terbaca

(8)

Bukan hanya diftong [ai] untuk vocal [i], ada juga diftong [au] untuk vocal [u], dalam bahasa osing leksikon berakhiran [u] hampir selalu terbaca [au]. Contohnya

“gedigu” terbaca “gedigau” yang dalam bahasa Indonesia berarti “begitu”. Dalam bahasa Indonesia hanya terdapat diftong [ai], tidak seperti bahasa osing yang diftong [ai] untuk vocal [i], begitu juga dengan diftong [au] pada bahasa Indonesia tidak seperti diftong [au] untuk vocal [u] pada bahasa osing. Dalam bahasa Indonesia, sistem penulisan diftong biasa di lambangkan oleh dua huruf vocal. Kedua huruf vocal itu tidak dapat di

pisahkan.Misalnya diftong [ai], bunyi [ai] pada [Selesai] adalah diftong, sehingga [ai] pada suku kata [sai] tidak dapat di pisahkan menjadi “Sa-i” seperti kata “Selesai” sehingga terbaca [Selesay]. Sedangkan diftong untuk vocal au pada bahasa Indonesia hampir sama dengan diftong [ai]. Misalnya kata [Pulau], bunyi [au] pada [pulau] juga tidak dapat di pisahkan menjadi “La-u”, sehingga kata “Pulau” terbaca “Pulaw”.

Adanya diftong [ai] untuk vocal [i] pada bahasa osing dan diftong pada bahasa Indonesia, hal tersebut merupakan wujud perbedaan bahasa Indonesia dan bahasa daerah (osing). Bahwasannya terdapat perbedaan dalam sistem fonologi dari kedua bahasa tersebut yang menjadikan hal tersebut sebagai prediksi kesalahan dan menyebabkan siswa kesulitan dalam belajar.

Selain terdapat perbedaan diftong pada bahasa osing dan bahasa Indonesia, palatalisasi dalam bahasa osing juga terdapat adanya perbedaan dengan bahasa Indonesia. Palatalisasi [y], dalam bahasa osing kerap muncul pada leksikon yang mengandung [ba], [ga], [da], [wa]. Seperti “Baen” dibaca “Byaen”, yang artinya dalam bahasa Indonesia “Saja”. Sedangkan dalam bahasa Indonesia palatalisasi kerap muncul pada leksikon yang mengandung [pi], [su], [bi]. Palatalisasi adalah proses pengangkatan daun lidah kearah langit-langit keras (palatum) sewaktu articulator primer berlangsung. Misalnya bunyi [p] dipalatalisasikan sehingga terdengar sebagai bunyi [P ], kata “Piara” bunyi [p] ˠ

dipalatalisasikan sehingga terdengar sebagai bunyi [p ], maka kata “Piara” menjadi ˠ “P ara”.ˠ

1. Prediksi Kesalahan

Fonologi adalah bidang Linguistik atau ilmu bahasa yang menyelidiki, mempelajari dan menganalisis dan membicarakan reruntuhan bunyi-bunyi bahasa yang dihasilkan oleh alat ucap manusia beserta fungsinya.Fonologi mempunyai dua cabang pembahasan yaitu Fonetik dan Fonemik.

Bahasa Osing, dalam bidang fonologi sangat berpengaruh karena dalam berbahasa Indonesia siswa sering mencampurkan bahasa ibu dengan bahasa Indonesia (B1 dan B2). B1 sangat berperan dalam berbahasa karena aksen bahasa ibu lebih menonjol jika dibandingkan dengan berbahasa Indonesia. Dalam tataran fonologi kesalahan berbahasa meliputi:

1. Kesalahan pelafalan fonem karena Perubahan fonem

(9)

3. Kesalahan pelafalan fonem karena Penambahan fonem

4. Pembentukan gabungan atau gugus konsonan dari fonem konsonan tunggal

5. Perubahan pelafalan kata atau singkatan

Sebelumnya telah diketahui bahwa fonetik merupakan salah satu bidang ilmu yang membahas pengucapan bunyi-bunyi bahasa atau fonem suatu bahasa.Kesalahan fonetis membuka kemungkinan terjadinya penafsiran pendengar terhadap makna ucapan itu. Fonem yang ada di dalam bahasa Osing yang diucapkan atau dilafalkan menurut sistem yang berlaku sebagai berikut:

a) Kesalahan pelafalan fonem karena penambahan fonem

Kesalahan penambahan fonem di karenakan pemakai bahasa tersebut menambahkan fonem tertentu pada kata-kata yang di lafalkan.Contoh kesalahan penambahan fonem.

Bahasa Osing:

“Myakne weh, isun weh kesel ambai lare ikau”.

Bahasa Indonesia:

“Biarkan saja, saya sudah jengkel dengan anak itu”.

Contoh tersebut merupakan prediksi kesalahan pada penambahan fonem yaitu “Makne” yang dalam bahasa osing di lafalkan menjadi “Myakne”. Pada kalimat tersebut kata “Makne” terjadi karena penambahan fonem konsonan yaitu kata “Makne” menjadi “Myakne”, terjadi penambahan konsonan “y” pada kata “Makne” dalam bahasa osing sehingga menyebabkan pelafalan tidak baku jika dilafalkan dalam Bahasa Indonesia. Kata “Myakne dalam bahasa Indonesia berarti “Biarkan”.

b) Perubahan fonem konsonan

Terdapat banyak kesalahan pelafalan karena fonem-fonem tertentu berubah atau tidak di ucapkan sesuai kaidah. Di antara contoh kesalahan tersebut adalah sebagai berikut:

Bahasa Indonesia

Bahasa Osing

Februari

Rafi

(10)

Pebruari

Rapi

Nopember

Bahasa Osing:

“Isun ulyan pebruari arepe’ kawin, tekoo ya”.

Bahasa Indonesia:

“Saya bulan februari mau nikah, datang ya”

Contoh tersebut merupakan prediksi kesalahan berbahasa pada perubahan fonem

konsonan.Masyarakat osing sering kali melafalkan huruf “F” dengan huruf “P” sehingga menyebabkan terjadinya perubahan fonem konsonan dari F ke P, yang seharusnya

“Februari” di lafalkan “Pebruari” oleh masyarakat osing.

Masyarakat osing melafalkan huruf “F” menjadi “P”, begitu juga huruf “V” di lafalkan menjadi “P”. Jadi, masyarakat osing susah untuk melafalkan huruf “F dan V”, sehingga hal tersebut menjadi kebiasaan masyarakat osing melafalkan huruf “F dan V” menjadi “P”.

c) Perubahan pelafalan kata atau singkatan

Dalam melafalkan singkatan seharusnya tetap dibaca menurut tulisan tersebut, banyak orang yang ragu-ragu dalam melafalkan singkatan, keragu-raguan tersebut di sebabkan oleh pengaruh lafal bahasa daerah atau lafal bahasa asing. Padahal, semua kata atau singkatan yang terdapat dalam bahasa Indonesia harus di lafalkan secara lafal Indonesia. Misalnya:

Bahasa Indonesia

Bahasa Osing

NG (No Good)

Na gud

Bahasa Osing:

“Na gud oro weh lare iku, sampe’ kaget isun”

(11)

“NG (No Good-Tidak Bagus) anak itu, saya sampai terkejut”.

Bukan hanya Bahasa Indonesia yang terpengaruh oleh bahasa daerah tetapi bahasa asing juga ikut berperan dalam kesalahan pelafalan.Contoh diatas merupakan kesalahan pelafalan dalam singkatan yang seharusnya tetap di baca “En Ge” tetapi orang Osing membacanya “Na Gud”.NG (No Good) diartikan dalam Bahasa Indonesia bearti tidak bagus tetapi dikarenakan aksen bahasa ibu perubahan pelafalan kata atau singkatan terjadi dalam orang osing sehingga melafalkan NG tersebut menjadi “Na Gud”. Prediksi kesalahan pelafalan kata atau singkatan seperti contoh diatas disebut dengan kesalahan adaptasi yakni terjadi karena pemakai bahasa menyesuaikan kata-kata bahasa Indonesia menurut kemampuan fisiologis atau kebiasaan berbahasa dalam bahasa daerahnya.

Kata “Na gud” dalam bahasa osing merupakan kata makian yang digunakan seseorang untuk seseorang yang membuat orang tersebut jengkel.Seperti contoh diatas, kata “Na gud” di gunakan pada seseorang yang telah membuat orang tersebut terkejut sehingga orang tersebut menggunakan kata “Nagud” untuk memaki orang tersebut.

Kata “Na gud” jika diartikan ke dalam bahasa Indonesia menjadi “Busyet dah”. Namun kata “Na gud” tersebut berasal dari kata bahasa inggris yaitu “No Good” yang diartikan ke dalam bahasa Indonesia berarti “Tidak Bagus”. Namun kata “Busyet dah” dalam bahasa Indonesia merupakan kata yang tidak baku atau biasa disebut dengan bahasa gaul yang sehingga menyebabkan kesalahan berbahasa Indonesia dan bahasa daerah.

d) Kesalahan pelafalan karena penghilangan fonem vocal

Kesalahan pelafalan karena penghilangan fonem juga sering terjadi di dalam bahasa osing. Misalnya

Bahasa Indonesia

Bahasa Osing

Sekolah

Sepuluh

Skolah

Spoloh

Bahasa osing:

“Apuwo iro’ heng skolah mau?”.

(12)

“Kenapa kamu tadi tidak sekolah?”.

Prediksi kesalahan pada kalimat diatas merupakan kesalahan pelafalan penghilangan fonem.Fonem sekolah menjadi skolah yang seharusnya “Sekolah” terbaca “skolah” oleh masyarakat osing.

e) Pembentukan gabungan atau gugus konsonan dari fonem konsonan tunggal

Diftong adalah dua vokal berurutan yang diucapkan dalam satu kesatuan waktu. Dua deret vokal yang diucapkan dengan serentak itu menyebabkan terjadinya perubahan pada kualitas bunyinya. Misalnya au menjadi o, ai menjadi e, oi menjadi oe.Dalam sebuah percakapan atau tuturan, proses perubahan bunyi juga dapat terjadi sebaliknya.Artinya, selain dua bunyi vokal dapat berubah menjadi satu bunyi vokal, satu bunyi vokal juga dapat berubah menjadi dua bunyi vokal. Misalnya dalam bahasa Indonesia bunyi o menjadi au pada kata topan menjadi taufan. Apabila dua vokal tidak berada pada suku kata yang sama, maka deret vokal tersebut tidak termasuk dalam kategori diftong. Misalnya au pada kata ma-u, ai pada kata ma-in, dan lainnya.

Sedangkan dalam bahasa osing, terapat diftong ai untuk vokal i. misalnya

Bahasa Indonesia

Bahasa Osing

Begini

Gedigai

Bahasa Osing:

“Ceritone iku sing gedigau tapi ceritone ikau gedigai”

Bahasa Indonesia:

“Ceritanya itu tidak seperti itu tapi begini ceritanya”.

Contoh diatas merupakan salah satu prediksi kesalahan pembentukan gabungan atau gugus vocal [ai] untuk vocal [i] pada bahasa osing.Pada kalimat diatas, kata “Gedigi” menjadi “Gedigai”, hal tersebut merupakan pembentukan gabungan atau gugus vocal [ai] untuk vocal [i].

(13)

Bahasa Indonesia

Bahasa Osing

Abu

Awau

Bahasa Osing

“Pas gunung kelud meledos, umyahe riko seng keneng awau ne’?”

Bahasa Indonesia:

“Ketika gunung kelud meletus, rumah anda ridak terkena abunya?”.

Contoh diatas merupakan contoh prediksi kesalahan pembentukan gabungan atau gugus vocal [au] untuk vocal [u] pada bahasa osing.Contoh tersebut merupakan pelafalan pembentukan gabungan yaitu fonem “awu” terbaca “awau” dalam bahasa osing.

1. Penekanan Belajar

Dalam pemerolehan dan pembelajaran bahasa kedua, siswa sering menghadapi kesulitan dan kesalahan dalam belajar.Hal itu terjadi akibat siswa menggunakan pengetahuan dan pengalaman dalam B1.Dalam hal ini, siswa menggunakan sejumlah unsur kebahasaan dalam B1 untuk kegiatan dalam B2.Solusi terhadap kesulitan dan kesalahan berbahasa dalam pemerolehan dan pembelajaran B2 selalu di upayakan. Cara untuk menangani masalah tersebut cukup banyak, sehingga dapat memilih salah satu cara yang di pandang paling tepat. Salah satu solusi untuk mengatasi kesulitan dan kesalahan siswa akibat pengaruh unsur-unsur kebahasaan itu adalah analisis kontrastif.Oleh karena itu, analisis kontrastif dapat dijadikan solusi alternative dalam pengajaran bahasa kedua.Dengan melakukan analisis kontrastif, dapat mengetahui kesulitan dan kesalahan dalam

berbahasa. Dalam hal ini di perlukan untuk mengetahui analisis kontrastif sebagai salah satu cara untuk mengatasi kesulitan dan kesalahan dalam berbahasa, dengan memprediksi atau memperkirakan kesulitan belajar dan kesalahan berbahasa. hasil perbandingan struktur bahasa berupa identifikasi perbedaan antara B1 dan B2. Berdasarkan identifikasi tersebut disusunlah perkiraan kesulitan belajar yang akan di hadapi dalam belajar B2.

Kesimpulan

Bunyi bahasa dipelajari dan dikaji oleh ilmu bunyi atau sering disebut Fonologi.Fonologi

(14)

perbedaan pada diftong dan palatalisasi, perbedaan tersebut mempengaruhi dalam pelafalan bahasa Indonesia, terutama pengaruh B1 sangat menonjol terhadap B2. Sesuai dengan sistem bahasa Indonesia , ketidaktepatan pengucapan atau melafalkan fonem-fonem merupakan adanya gejala penyimpangan atau kesalahan berbahasa Indonesia. Pada umumnya kesalahan itu terjadi pada pengucapan fonem:

Perubahan fonemPenghilangan fonemPenambahan fonem

Perubahan pelafalan kata atau singkatan

Pembentukan gabungan atau gugus konsonan dari fonem konsonan tunggal.

Daftar Pustaka

http://dasrius.blogspot.co.id/2013/04/english-fonologi.html

http://www.sekolahanbaru.com/2016/06/101-pengertian-fonologi-menurut-para.html

https://id.wikipedia.org/wiki/Fonologi

Djago Tarigan, Guntur Henry Tarigan (1988). Pengajaran Analisis Kesalahan Berbahasa.; Bandung :

Diperoleh 15 Maret 2014, dari http://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_Osing

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan hasil pelaksanaan tinda- kan dengan menerapkan pendekatan saintifik pada pembelajaran IPA khususnya kegiatan bereksperimen selama tiga siklus, dapat

Pada hari ini Jumat Tanggal Empat Belas Bulan Juni Tahun Dua Ribu Tiga Belas, dimulai pukul 12.01 Wita dengan mengambil tempat Pada Portal LPSE Kabupaten Bone Bolango,

Portal LPSE Universitas Negeri Makassar http://lpse.unm.ac.id , Panitia Pengadaan Barang dan Jasa Peralatan Pendidikan Akademi Pariwisata Makassar Tahun Anggaran 2011

Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran Team Asissted Individualization dapat meningkatkan kemampuan menghitung bilangan bulat pada

PADA DINAS CIPTA KARYA DAN TATA RUANG KAB..

Umum Kabupaten Klaten Tahun 2013, untuk Peker jaan : Perbaikan Jalan

Demikian atas kehadir an dan ker jasamanya disampaikan ter ima kasih. Panitia Pengadaan Bar ang /

Peker jaan Umum Kabupaten Klaten Tahun 2013, untuk Peker jaan : Perbaikan. Jalan Kalitengah,