• Tidak ada hasil yang ditemukan

MBADAK NYADEK SEBAGAI UPAYA PEMEROLEHAN (1)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "MBADAK NYADEK SEBAGAI UPAYA PEMEROLEHAN (1)"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

MBADAK- NYADEK : SEBAGAI UPAYA PEMEROLEHAN, PELESTARIAN BAHASA DAN BUDAYA SASAK

Ismail Marzuki

[email protected]

Prodi Magister Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Muhammadiyah Malang

Abstrak

Mbadak - nyadek is a language acquisition and technical efforts that emphasize cultural understanding , mastery of the language and culture society of the west Sasak south island. Sasak community generally use the term " mbadak - nyadek " in the acquisition, preservation of language and local culture . This technique is generally used in the family or in society . This article will explain the concept , design , function and meaning ' mbadak - nyadek ' on the island of Lombok Sasak community in South West. The implication of this study is to establish conservation efforts back technique 'mbadak-nyadek' for empowering the local language , cultural preservation and strengthening of local cultural identity .

Keywords : mbadak - nyadek , preservation , local language and culture .

A. Pendahuluan

Seiring perkembangan arus globalisasi, bahasa daerah khususnya bahasa Sasak mengalami dekadensi pelestarian. Hal ini kita saksikan baik di jalan, di sekolah, di tempat bermain, atau lingkungan lainnya. hal iini dialami bukan hanya anak tingkat TK akan tetapi pelajar tingkat SD, SMP, SMA bahkan tingkat perguruan tinggi tidak lagi menggunakan bahasa Sasak. Dalam berkomunikasi kesehariannya, mayoritas dari mereka menggunakan bahasa Indonesia dan bahasa asing seperti bahasa inggris. Mereka lebih bangga menggunakan bahasa

Indonesia dari pada bahasa Sasak atau bahasa Indonesia. Sehingga bisa dikatakan bahasa Sasak mengalami pergeseran yang signifikan terhadap pemakaiannya.

(2)

dengan bahasa daerah lain di Nusantara ini akan mengalami hal yang sama jika tidak diberdayakan sejak dini.

Bahasa sebagai identitas ke-wargaannegaran memiliki peran yang sangat penting dalam kehidupan. Bahasa bukan hanya dijadikan sebagai alat komunikasi untuk berintraksi satu sama lain dalam kehidupan sehari-hari, disamping itu juga bahasa memiliki kapasitas sebagai identitas pemakainya. Hal ini juga berlaku pada bahasa daerah menunjukkan identitas kedaerahan pemakainya. Bahasa daerah menunjukkan jati diri atau ciri khas suatu daerah seperti bahasa Sasak menunjukkan jati diri masyarakat Lombok. Demikian juga dialek bahasa Sasak menunjukkan asal daerah tempat tinggal di suatu daerah di pulau Lombok.

Walaupun ada yang meng-gunakan bahasa Sasak hanya sedikit yaitu terbatas pada masyarakat pinggiran atau perdusunan yang masih kental dengan nuansa budaya Sasak saja. Hal ini dipengaruhi oleh orang tua yang selalu mengajak dan mengajarkan anaknya untuk berbahasa Indonesia. Jika orang yang tinggal di

daerah pinggiran atau pedesaan maka bahasa Sasak tidaklah asing di-karenakan masih kental digunakan sebagai bahasa keseharinnya.

(3)

sejak kecil sehingga menjadi kebiasaan sampai dewasa.

Orang tua yang berasal dari masyarakat kelas menengah ke atas tersebut, mengajarkan anaknya ter-biasa menggunakan bahasa Indonesia dari sejak kecil dan menjadi suatu kebanggaan tersendiri bagi mereka jika anaknya bisa menggunakan bahasa Indonesia ketika masih kecil. Sehingga keturunan selanjutnya adalah anak yang akan menjadi generasi penerus dan menjadi orang tua bagi anak-anaknya kelak tidak dapat mengenali bahasa Sasak itu sendiri apalagi mengajarkan anaknya bahasa Sasak. Hal ini lambat laun akan mendarah daging, sadar atau tidak sadar akan menjadi suatu konvensi dalam pergaulan sehari-hari sebagi lingua prance diantara strata sosial mereka bahkan sebagai pembeda antara tau desa dengan tau kote. Karena orang tua memegang peran penting terhadap anak sebagai generasi penerus.

Berdasarkan permasalahan ter-sebut, yang menjadi pertanyakan besar kita adalah upaya apakah yang dilakukan orang tua maupun masyarakat dalam mempertahankan

bahasa dan budaya Sasak supaya tidak terjadi pergeseran bahasa dan budaya?. Dalam hal ini sebagi bentuk solusi agar bahasa dan budaya daerah khususnya bahasa dan budaya Sasak memerlukan teknik pemberdayaan yang baik. Salah satu teknik pelestarian bahasa dan budaya Sasak yang sering digunakan oleh masyarakat Sasak dalam mengajarkan bahasa dan budaya adalah teknik mbadak-nyadek.

Mbadak-nyadek merupakan se-buah upaya teknis pemerolehan bahasa dan budaya yang menitik-beratkan pemahaman, penguasaan bahasa dan budaya masyarakat Sasak Nusa Tenggara Barat. Mbadak-nyadek ini juga merupakan teknik pengajaran bahasa dan budaya Sasak baik dilingkungan keluarga maupun di lingkungan masyarakat. Dalam bahasa Indonesia mbadak berarti men-jelaskan, mengajarkan, memaparkan dan mendeskripsikan. Sedangkan nyadek dalam bahasa indonesianya

berarti memberikan, mengupayakan, dan menghadiahkan.

(4)

kepunahan. Terlihat dari penggunaan bahasa Indonesia yang digunakan pada kalangan anak-anak amaupun orang dewasa bahkan pada kalangan orang tua terutama masyarakat yang mayoritas strata sosial menengah ke atas. Hal ini membutuhkan revitalisasi atau pelestarian kembali terhadap teknik mbadak-nyadek di masyarakat Sasak.

Melihat kenyataan mbadak-nyadek sebagi pengajaran bahasa dan budaya yang sangat mendasar di masyarakat Sasak, mengalami kepunahan. Melihat kenyataan itu, merupakan hal yang menarik untuk diteliti. Dengan mengadakan kajian kembali mengenai teknik mbadak-nyadek sebagi upaya pelestarian bahasa dan budaya yang mendasar, akan memberikan implikasi kembali dalam pelestarian bahasa dan budaya di masyarakat Sasak. Melihat realitas di masyarakat Sasak, teknik ini memiliki kapasitas yang sangat penting dalam pelestarian bahasa dan budaya di masyarakat Sasak. Hal inilah yang melatar belakangi penulis untuk mengkaji teknik mbadak-nyadek ini. Disamping menjadi metode pelestarian bahasa dan budaya,

mbadak-nyadek bagi masyarakat Sasak memiliki filosofi tersendiri

Kajian ini akan menjelaskan atau mendeskripsikan konsep, bentuk, fungsi dan makna mbadak-nyadek pada masyarakat Sasak di pulau Lombok. Dengan meilihat konsep, bentuk, fungsi dan maknanya akan memberikan Implikasi terwujudnya upaya pelestarikan kembali teknik mbadak-nyadek demi pemberdayaan bahasa lokal, pelestarian budaya bangsa dan upaya penguatan jati diri budaya lokal di masyarakat Sasak Nusa Tenggara Barat.

B. B. Pembahasan

Konsep Mbadak-Nyadek dalam Pemerolehan, Pelestarian Bahasa dan Budaya Sasak

(5)

dinamis. Artinya bahasa daerah akan mengalami dekonstruksi dan rekontruksi bahasa. Mustahil jika bahasa itu tidak menerima sebuah konsep atau kosakata dari bahasa lain. Bahasa akan mengalami per-kembangan baik dari segi kosakata yang dimilikinya atau konsep dan penggunaanya. Sedangkan di sisi lain, pemakai bahasa seringkali mem-posisikan bahasa sebatas alat ber-komunikasi dan berintraksi saja. Bukan memposisikan bahasa sebagai hasil kebudayaan yang harus dipertahankan dan dilestarikan. Hal ini memicu terjadinya ketidak pedualian terhadap keberadaan dan penggunaan bahasa daerah yang digunakannya. Menurut Koentjaningrat (1983) memasukkan bahasa sebagai salah satu dari tujuh unsur kebudayaan. Bahasa sebagai bagian dari kebudayaan masyarakat yang dinamis bisa mengalami perubahan-perubahan yang tentunya juga bisa mengarah pada pergeseran bahasa jika tidak diperhatikan. Mengantisipasi hal demikian, perlu adanya konsep teknik pelestarian.

Realitas dan keadaan yang dialami oleh bahasa sasak mengalami

pergeseran yang signifikan. Terlihat dari jarangnya orang memakai bahasa sasak, baik di jalan, lingkungan sekolah dan di lingkungan masyarakat. Hal ini disebabkan oleh punahnya teknik pelestarian bahasa Sasak. Salah satu pemicu untama yang menye-babkan punahannya teknis pelestarian adalah lebih dominannya mempelajari dan menggunakan bahasa Indonesia. Untuk menumbuh kembangkan bahasa dan kebudayaan daerah sebagai local wisdom yang harus dilestarikan membutuhkan teknis yang baik. Salah satu teknik pelestarian bahasa dan budaya di masyarakat Sasak yang sejak dulu digunakan adalah teknik mbadak-nyadek.

(6)

Untuk lebih mengarahnya pada spesifikasi konsep mbadak-nyadek dalam pemerolehan dan pelestarian bahasa dan budaya Sasak, perlu dibedakan mana konsep mbadak-nyadek yang mengarah pada

peme-rolehan dan pelestarian bahasa dan mana konsep mbadak-nyadek yang mengarah pada pemerolehan dan pelestarian budaya. Berdasarkan hal tersebut dapat dijelas sebagai berikut.

1. Konsep pemerolehan dan pe-lestarian bahasa Sasak

Bahasa Sasak sebagai warisan budaya leluhur dalam hal konsep mbadak-nyadek memiliki ciri tindakan yakni:

a. Orang tua mengajarkan anaknya bahasa dengan memberikan stimulus, se-lanjutnya dengan stimulus itu secara alami anaknya memberikan respon. Misanya dalam penamaan benda, orang tua memegang piring dengan

mengatakan “ape aran na

ne?”. Langkah pertama ini orang tua bertanya dan menjawabnya sendiri dengan

mengatakan “pinggen” dan

anak mengikuti apa jawaban

orang tuanya. Jika Anak tidak mengikuti jawaban orang tuanya, orang tua selalu bertanya samapai anaknya menjawab sesuai dengan bunyi jawaban yang dikeluarkan orang tua.

b. Pengajaran bahasa dimulai dari benda-benda yang nyata dan sifatnya konkret sehingga mudah untuk diingat oleh anak. Setelah semua dikenal nama-nama benda dan sifat-sifat benda seperti merah, putih, , hitam, kuning, ungu dan lain sebgainya. Orang tua meng-ajarkan bahasa yang sifatnya abstrak seperti kata yang menunjukkan pekerjaan. Memberikan stimulus pada anak dengan menunjukkan pekerjaan itu. Misalanya, pada waktu makan bersama ke-luarga, seorang ayah atau ibu bertanya pada anaknya dengan bertanya “ta ngumbe ine?” yang dalam bahasa indonesianya “apa yang kita

kerjakan?”. Anak pertama

(7)

dilihat kebingungan orang tua memeberikan jawaban yakni “mangan” samapi anak tersebut benar-benar paham tentang konsep bahasa yg diujarkan.

c. Pengajaran bahasa Sasak pada lingkungan keluarga dilakukan dengan pembiasaan pem-biasaan orang tua bertanya pada anaknya dari apa yang dilakukan secara bersama. orang menanamkan konsep bahasa dari lingkungan yang mengitarinya dan memberikan proteksi terutama pada usia 1 samapi 5 tahun. Karena orang tua semua sadar bahwa seorang anak diibaratkan kertas kosong. Apa yang didengar langsung melekat, karena pada usia tersebut, seorang anak tidak bisa membedakan baik dan buruk tentang sesuatu hal. 2. Konsep pemerolehan dan

pelestarian budaya

Penanaman konsep kebudayaan pada anak menggunakan teknik mbadak-nyadek memeiliki tingkatan bergantung dari mana dia mendapatkan. Konsep

mbadak-nyadek sebagai teknis pemerolehan dan pelestarian kebudayaan dimasyarakat Sasak bersumber dari tiga tingkatan yakni:

a. Keluarga

Keluarga sebagai pondasi pertama dalam pemerolehan kebudayaan menitik beratkan pada sikap pengajarnya yakni orang tua sebagai pengajar dan pemberi kebudayaan. Orang tua menanamkan konsep ke-budayaan pada anaknya melalui baju kebudayaan, seperti mengenakan dodot. Ikat kepala pada anak laki-laki dan memekaikan baju kebayak dan kain songket pada anak perempuan. Para orang tua, biasanya mengikut sertakan anak-anaknya untuk ber-partisipasi pada memen-momen kebudayaan, seperti nyongkolan, perajaya dll. b. Masyarakat

(8)

lingkungan masyarakat, anak-anak diajarkan bagaimana tutur sapa antara saudara. Mayarakat sasak sangat menekankan pada bagaimana seorang anak di-ajarkan berbudaya. Terutama pada kehidupan sehari-hari, seperti tolong menolong, bergontong royong, saling membantu satu sama lain dalam bekerja sama.

c. Sekolah

Pemerolehan kebudayaan di masyarakat bukan hanya diperkenalkan di lingkungan kelurga dan dimasyarakat saja, akan tetapi juga diperkenalkan dilingkungan sekolah. Para guru muatan lokal mem-perkenalkan kebuadayaan setempat yang mengitarinya. Hal-hal yang berkaitan dengan kebudayaan diperkenalkan pada peserta didik samapi pada akar-akarnya dan diakhir pembelajaran peserta didik di-suruh mengahayati ke-budayaan tersebut agar dilestarikan dan diwariskan terus menerus pada anak-anaknya.

Bentuk Mbadak-Nyadek dalam Pemerolehan Dan Pelestarian Bahasa dan Kebudayaan

(9)

dan pelestarian bahasa dan budaya. Bentuk mabdak-nyadek dapat terlihat pada apalikasi pemerolehan bahasa dan budaya. Bentuk ini berupa pengajaran, pengayaan dan pemer-hatian budaya. Mengingat konsep bahasa tidak lepas dengan konsep budaya. Maka teknik ini bisa diaplikasikan dalam pemerolehan budaya juga.

Fungsi Mbadak-Nyadek dalam Pemerolehan dan Pelestarian Bahasa dan Budaya Sasak

Manusia hidup pada dasarnya adalah untuk melakukan aktivitas dalam memenuhi kebutuhan hidup. Kebutuhan akan suatu hal tidak lepas dari bagaimana dalam penggunaan dan pengordiniran bahasa dengan baik di lingkungan masyarakat. Pengunaan bahasa yang baik sesuai dengan adat istiadat mayarakat tidak lepas dari bagaimana cara memperoleh bahasa tersebut. Adat istiadat erat sekali hubungannya denga sebuah konsep kebudayaan. Bahasa dan kebudayaan yang ada harus sejalan. Artinya pemahaman atas budaya akan membawa bagai pengaturan bahasa yang akan digunakan dalam

ber-interaksi di masyarakat. Masyarakat Sasak yang dikenal dengan masyrakat yang terkenal dengan sopan santuk dalam berbicara. Pembicara harus melihat dengan siapa, dalam rangka apa dan situasi apa, tempat terjadinya pembicaraan. Dalam pemerolehan bahasa dan budaya, mbadak-nyadek berfungsi sebagai usaha teknis untuk mengajarkan bahasa dan budaya Sasak untuk mencapai pemahaman budaya dan bahasa.

Makna Mbadak-Nyadek Dalam Pemerolehan dan Pelestarian Bahasa dan Budaya Sasak

(10)

(tetua). Pengupayaan yang dilakukan dalam pengajaran tersebut, di-laksanakan secara konsisten pada setiap tindakan pemerolehan bahasa dan budaya, dalam hal ini adalah bentuk-bentuk tindakan anak harus disesuaikan dengan norma yang berlaku. Teknik nyadek sebagai usaha memberi, mengupayakan dan menghadiahkan bahasa dan budaya kepada penerima (Anak), harus disesuaikan dengan tingkatan umur

yang dimiliki Anak. Hal ini bertujuaan untuk pemahaman yang mendalam terhadap bahasa dan budaya yang dipelajari. Di lain sisi, makna nyadek adalah menghadiahkan, artinya adalah peroses integrasi secara natural terhadap pemahaman bahasa dan budaya.

C. Simpulan

Mbadak-nyadek merupakan sebuah upaya teknis pemerolehan bahasa dan budaya yang menitikberatkan pemahaman, peng-uasaan bahasa dan budaya masyarakat Sasak Nusa Tenggara Barat. Masyarakat Sasak pada umumnya

menggunakan istilah “mbadak-nyadek”

dalam pemerolehan, pelestarian bahasa dan budaya lokalnya. Teknik ini secara umum digunakan di lingkungan keluarga maupun di masyarakat. Berdasarkan hasil kajian mengenai konsep, bentuk, fungsi dan makna

‘mbadak-nyadek’ pada masyarakat

Sasak di pulau Lombok Nusa Tenggara Barat. Konsep mbadak-nyadek dalam pelestarian bahasa dan budaya Sasak memiliki tingkatan pengajaran yakni keluarga dan masyarakat.

Bentuk mbadak-nyadek pada dasarnya merupakan konsepsi. Artinya bahwa mbadak-nyadek tidak

(11)

masyarakat Sasak Lombok Nusa Tenggara Barat.

Daftar Pustaka

Setyawan, Aan. 2011. Bahasa Daerah dalam Perspektif

Kebudayaan dan

Sosiolinguistik: Peran dan Pengaruhnya dalam Pergeseran dan Pemertahanan Bahsa. International Seminar “ Language Maintenace and Shift. July 2, 2001: Diponegoro University.

Dewa, I Putu Wijana dan Rohmadi, Muhammad. 2012. Sosiolinguistik. Yokyakarta: Pustaka Pelajar.

Rasyidi, M. 2008. “Studi Nilai Budaya Pada Lembaga Adat Suku Sasak Sebagai Kekuatan dalam Mambangun Nilai Luhur

Budaya Bangsa”. Jurnal

Referensi

Dokumen terkait

Struktur pembangun makna ditinjau dari struktur fisik (kebahasaan) dan unsur batin. Struktur fisik berupa diksi, pengimajian, dan persajakan sedangkan struktur batinnya

(2) BPJS Kesehatan mengirimkan tautan aktivasi secara realtime kepada Badan Usaha Lama sebagaimana dimaksud pada ayat (1) melalui surat elektronik Badan Usaha Lama yang telah

Surakarta adalah sebuah keniscayaan dalam era teknologi informasi dan komunikasi seperti sekarang ini. Suatu fenomena di mana teknologi telah menisbikan ruang dan

Saya adalah mahasiswa Manajemen Fakultas Ekonomi, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta yang sedang melakukan penelitian dengan judul Analisis Atribut Asosiasi yang Membentuk

(6) Pengecer dan Penjual Langsung yang menjual Minuman Beralkohol golongan A tidak memiliki SKP-A atau SKPL-A sebagaimana dimaksud dalam Pasal 20 dikenai sanksi

Berdasarkan dari hasil pengujian hipotesis yang telah dilakukan sebelumnya menyatakan bahwa ada hubungan yang signifikan antara rentang lengan terhadap keterampilan

Faktor-faktor yang mempengaruhi nilai pasar produksi hasil tangkapan di PPS Nizam Zachman dan PPI Muara Angke adalah (1) spesies ikan dominan (76,8%), sedangkan