• Tidak ada hasil yang ditemukan

KUASA MEDIA DI BALIK GLOBALISASI DAN PEN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "KUASA MEDIA DI BALIK GLOBALISASI DAN PEN"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

KUASA MEDIA DI BALIK GLOBALISASI DAN PENYEBARAN

BUDAYA POPULER SEBAGAI ANCAMAN BAGI BUDAYA LOKAL

Rahmi Surya Dewi1; Agus Rino2 1

Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Andalas 2

STKIP PGRI Sumatera Barat 1

[email protected]; [email protected]

Abstrak

Media mempunyai peran yang cukup besar dalam arus globalisasi dan arus budaya popular bagi kalangan masyarakat (terutama anak muda) di Indonesia. Sebagai sebuah proses, globalisasi bertujuan untuk menghomogenisasi segala bidang, termasuk budaya. Proses ini disebarluaskan melalui berbagai media termasuk new media, yang dikuasai dan dikontrol oleh negara- negara maju sehingga negara- negara berkembang seperti Indonesia berada pada posisi resesif, mudah terpengaruh daripada memengaruhi. Konsekuensinya, identitas negara-negara maju, berkembang secara cepat di Indonesia. Hal ini mengindikasikan bahwa globalisasi dan budaya popular sesungguhnya mengancam identitas budaya Indonesia dan gaya hidup masyarakatnya. Budaya popular yang pernah berkembang di Indonesia seperti Hollywood, Jepang, Taiwan dan dalam satu dekade ini budaya popular Korea juga telah sukses di Indonesia. Penelitian ini bertujuan; 1) satu adalah untuk mengetahui kuasa media dalam penyebaran budaya popular Korea. 2) dua adalah untuk mengetahui memudarnya budaya lokal bagi mahasiswa di kota Padang. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan metode penelitian wawancara mendalam dan observasi untuk memperoleh data di lapangan. Hasil penelitian menunjukkan sejumlah mahasiswa di kota Padang aktif menggunakan media dengan konten Korea dan mengkonsumsi sejumlah produk Korea berupa fashion, kuliner, kosmetik sampai pada aksesoris Korea yang mereka gunakan sehari-hari.

Kata Kunci: Media, Globalisasi dan Budaya Populer Korea.

Pendahuluan

Begitu kuatnya penetrasi budaya yang terglobalkan telah menyebabkan sebagian

orang merasa identitas aslinya telah usang (tidak mengikuti tren atau kolot) karena tidak

sejalan dengan globalisasi. Mereka mengalami krisis identitas dan akibatnya meninggalkan

the self untuk bergabung dalam dunia virtual atau the net. Fenomena ini begitu masif di tengah masyarakat saat ini, hal ini terlihat dari jumlah pengguna new media (internet) /

media sosial. Hal ini merupakan salah satu bentuk globalism, Tingkatan kepadatan

globalism di era kontemporer ditandai oleh peningkatan density networks, institutional

velocity, dan transnational participation (Keohane dan Nye 2000, 107 dalam Mubah).

Bentuk globa lism ini adalah pergerakan ide, informasi, orang, dan citra (image). Pada tingkatan tertinggi, social globalism mempengaruhi kesadaran individu dan sikapnya

(2)

dalam globalisasi, perbedaan dihapuskan untuk menciptakan pola kehidupan sama di semua

negara. Pada akhirnya masyarakat lantas makan makanan sama, menonton film yang sama,

memakai pakaian sama, menggunakan bahasa sama. Berkembangnya homogenisasi ini

dapat menyebabkan hilangnya ciri khas budaya, identitas kultural, dan lenyapnya pemikiran

kritis. Dunia saat ini paling tidak mengalami revolusi di bidang Technology,

Telecomunication, yang memiliki efek sebagai pendorong global dominan sehingga batas antar wilayah semakin kabur dan berujung pada terciptanya global village seperti prediksi

Marshall McLuhan (Saptadi 2008). Kondisi itu memunculkan permasalahan pada

melunturnya nilai- nilai identitas kultural. Hal ini terlihat pada gaya bahasa, gaya

berpakaian, pola konsumsi, dan teknologi informasi. Fenomena ini terlihat pada sejumlah

anak muda di Indonesia, khususnya di kota Padang. Oleh sebab itu yang akan dikaji dalam

penelitian adalah bagaimana kuasa media dalam penyebaran budaya popular sebagai bentuk

globalisasi serta apa saja bentuk dari memudarnya budaya lokal bagi mahasiswa yang

berasal dari Univeristas Negeri Padang, Uniersitas Andalas, Universitas Putra Indonesia di

kota Padang.

Kajian Teoritis dan Konsep

Munculnya Globalisasi

Globalisasi pada tahap awal perkembangannya telah dimulai sekitar abad ke-16

ketika imperium militer dan politik berkuasa secara ekspansif pada masa itu (Held 1999

dalam Datta 2004). Namun, setelah kejatuhan Uni Sovyet pada tahun 1990 yang kemudian

menjadikan AS sebagai satu-satunya negara adidaya dunia, polarisasi dua blok berubah

menjadi homogenisasi kekuatan hegemonik. Ian Clark memandang globalisasi sebagai

salah satu penyebab berakhirnya perang dingin karena globalisasi telah mendorong

marjinalisasi Uni Sovyet dengan menyingkap kelemahan-kelemahan di dalam negara

komunis itu. Pada saat yang sama, globalisasi juga muncul sebagai efek perang dingin.

Karena itu, globalisasi dapat dikatakan sebagai sistem kontinuitas antara tatanan pada

perang dingin dan pasca-perang dingin (Clark dalam Baylish dan Smith 2001, 737; ).

Berawal dari kontinuitas tersebut, nilai- nilai Barat khususnya AS semakin kuat

dipromosikan ke berbagai negara. Identitas kultural awalnya hanya dianut oleh komunitas

atau Negara tertentu kemudian diglobalkan ke seluruh wilayah dunia. Globalisasi budaya

ini semakin mudah dipromosikan seiring dengan perkembangan teknologi komunikasi dan

informasi yang begitu pesat. Jaringan internet memegang peran terbesar dalam

melancarkan penyebaran identitas lokal dan nasional suatu negara ke ranah global. Melalui

(3)

merasa dekat satu sama lain sehingga memungkinkan mereka melakukan kontak identitas,

nilai, dan budaya yang berbeda-beda. Terkait dengan itu, Manuel Castells (1996)

mengatakan bahwa meluasnya jejaring komunikasi yang menyebabkan hubungan antar

masyarakat di seluruh dunia berjalan secara cepat dan dekat telah menimbulkan dilema

antara tetap bertahan dalam identitas asli, menjadi diri sendiri (the self) atau ikut melebur

dalam identitas masyarakat yang mengidentifikasi diri sebagai masyarakat jaringan global

(the net) (dalam Mubah, 2011: 252).

Adapun persolan penting terkait dengan globalisasi; 1) satu adalah semakin

memudarnya rasa persatuan saat ini seiring menjamurnya pemakaian budaya asing yang

disebarkan oleh arus globalisasi ke masyarakat Indonesia; 2) dua adalah Kesenian-kesenian

tradisional daerah menghadapi ancaman yang serius. (http://kebudayaan.kemdikbud.go.id) .

Hal ini disebabkan oleh berkembangnya budaya pop negara asing yang semakin diminati

masyarakat karena dianggap lebih modern; 3) tiga adalah Budaya konvensional yang

menempatkan tepo seliro, toleransi, keramahtamahan, penghormatan pada yang lebih tua

juga digempur oleh pergaulan bebas dan sikap individualistik yang dibawa oleh arus

globalisasi; 4) empat adalah berakibat pada memudarnya identitas nasional dan budaya

lokal. Itulah masalah terbesar dalam relasi globalisasi dan identitas Indonesia saat ini.

Media dan Budaya Populer

Media dalam hal ini bersifat merekonstruksi materi sumber dengan berbagai cara,

untuk berbagai alasan terutama untuk menjadikannya menarik bagi audiens. Media

mempengaruhi suatu konstruksi sosial dan mampu menciptakan isu-isu serta membentuk

suatu opini tertentu. Burton (1999:28) menjabarkan beberapa proposisi umum dalam

sosiologi media dengan merujuk pada kajian media, di antaranya media telah menciptakan

audiens massa dan memiliki pengaruh terhadap audiens tersebut. Studi tentang media

berkaitan erat dengan pemahaman tentang struktur dominan dan pandangan dominan dalam

masyarakat. Menurut Turner (1984), budaya pop dan media massa memiliki hubungan

simbiotik. Keduanya saling tergantung dalam sebuah kolaboras i yang sangat kuat.

Kepopuleran suatu budaya sangat tergantung pada seberapa jauh media massa gencar

mengkampanyekannya. Begitu pula, media massa hidup dengan cara mengekspos

budaya-budaya yang sedang dan akan populer.

Wacana menurut Michel Foucault bukanlah sesuatu yang dipahami sebagai

serangkaian kata atau proposisi dalam teks. Wacana di sini dipahami sebagai sesuatu yang

memproduksi yang lain (gagasan, konsep atau efek). Wacana dapat dideteksi karena secara

(4)

tertentu sehingga mempengaruhi cara berpikir dan bertindak tertentu (Eriyanto, 2005:65).

Wacana tertentu dapat menghasilkan kebenaran dan pengetahuan tertentu yang

menimbulkan efek kuasa. Kebenaran disini, oleh Fo ucault tidak dipahami sebagai sesuatu

yang datang begitu saja, bukan juga sebuah konsep yang abstrak. Namun ia diproduksi,

setiap kekuasaan menghasilkan dan memproduksi kebenaran sendiri malalui mana

khalayak digiring untuk mengikuti kebenaran yang telah d itetapkan tersebut. Dalam bahasa

Foucault dinyatakan;

Truth is the world; it is produced there by virtue of multiple constra in. Each society has its regime of truth;its genera l politics of truth; that is the types of discourse it harbours and causes to function as true, the machanisms and instances which enable one to distinguish true from false statements, the way in wich each is sanctioned, the techniques and procedures which are valorised for obtaining truth. The status of those who are charged with saying what count as true. (Dikutip dari Mills. 1997:18)

Wacana tertentu menghasilkan kebenaran dan pengetahuan tertentu yang

menimbulkan efek kuasa (Aditjondro, 1994: 58-60). Strategi kuasa tidak bekerja melalui

penindasan dan represi, tetapi melalui normalisasi dan regulasi. Publik tidak dikontrol lewat

kekuasaan yang sifatnya fisik, tetapi dikontrol, diatur dan didisiplinkan lewat wacana.

Kekuasaan dalam pandangan Foucault disalurkan melalui hubungan sosial, dalam

memproduksi bentuk-bentuk kategorisasi perilaku sebagai baik atau buruk, sebagai bentuk

pengendalian perilaku. Relasi sosial itulah yang memproduksi bentuk subjektivitas dan

perilaku lebih secara sederhana digambarkan sebagai bentuk restriksi. (Eriyanto, 2005: 67).

Dalam kaitannya dengan wacana ya ng dimaksud oleh Foucault maka Budaya Populer

Korea khususnya tentang Life Style (gaya hidup) merupakan suatu wacana yang dibentuk,

dikemas dan disebarluaskan ke berbagai negara melalui media seperti musik, film dan

drama-drama di televisi.

Kuasa dan Wacana

Foucault tertarik tentang bagaimana kuasa dipraktekkan dalam pengetahuan

(knowledge) dan kebenaran (truth) serta bagaimana kebenaran dibentuk melalui praktek. Ketertarikannya pada kebenaran tidak bersifat abstrak atau filosofis, melainkan ketertarikan

dalam menganalisa apa yang disebutnya sebagai permainan kebenaran (truth games) (Allan

dalam Agustin, 2005:445). Istilah permainan dalam hal ini, tidak merujuk bahwa kebenaran

dalam sejarah yang ada adalah sebuah kesalahan atau hanya konstruksi bahasa. Namun

Foucault berpendapat, sesuatu bisa dikatakan “salah” jika kebenaran telah lebih dahulu

diasumsikan. Sehingga Foucault mencoba membedah bagaimana kebenaran itu

(5)

Pada umumnya kuasa sering dikaitkan dengan orang atau lembaga tertentu,

khususnya aparat negara, tetapi menurut Foucault, strategi kuasa berlangsung dimana-mana

(Berthens, 1996:320). Letak kuasa ada dalam tindakan-tindakan tersebut, bukan pada orang

yang sedang berkuasa atau struktur sosial. K uasa seharusnya dianalisa sebagai sesuatu yang

sifatnya berputar, serta dilihat sebagai sesuatu yang berfungsi dalam bentuk rantai. Kuasa

digunakan dan dipraktekkan dalam organisasi-organisasi. Individual hanya dilihat sebagai

„kendaraan‟ kuasa, bukan sebagai pengendali kuasa (Mills, 2003: 35). Dalam pandangan

Foucault kuasa tidak bersifat negatif, ia tersebar di mana- mana dan diselenggarakan oleh

wacana-wacana yang muncul. Di mana saja terdapat susunan, aturan-aturan, sistem-sistem

regulasi, di mana saja ada manusia yang mempunyai hubungan tertentu satu sama lain dan

dengan dunia, di situ juga kuasa sedang bekerja. K uasa tidak datang dari dunia luar, tetapi

menentukan susunan, aturan-aturan dan hubungan-hubungan itu dari dalam. K uasa juga

tidak selalu bekerja melalui penindasan dan reputasi tetapi terutama melalui normalisasi

dan regulasi. K uasa tidak bekerja secara negatif dan represif, melainkan dengan cara positif

dan produktif (Agustin, 2005:446).

Metode Penelitian

Penelitian ini mengkaji tentang bagaimana kuasa media dalam pembentukan

globalisasi dan penyebaran budaya popular, sehingga kian melunturnya budaya lokal dan

kian terkikisnya identitas diri remaja dalam gempuran budaya popular melalui berbagai

media teurtama new media. Penelitian ini menggunakan studi literatur terkait dengan

persoalan kuasa media, globalisasi dan penyebaran budaya popular. Selain itu juga

wawancara mendalam terhadap tujuh orang mahasiswa tentang pemanfaatan new media

dengan wacana budaya popular serta perubahan identitas diri mereka sebagai seorang anak

Indonesia.

Dalam penelitian ini yang dijadikan subjek adalah mahasiswa yang aktif dalam

pemanfaatan new media dengan wacana budaya populer. Kriteria utama informan adalah

mahasiswa yang mengalami fenomena pemanfaatan new media, merasakan pengaruh

budaya popular Korea sampai tahap mengidolakan artis Korea serta produk-produk Korea,

memiliki ketertarikan untuk memahami dan mendalami maknanya, mau berpartisipasi

dalam wawancara mendalam, dan mempublikasikannya untuk kepentingan ilmiah, Clark

Moustaqas (1994). Jumlah informan sebagaimana direkomendasikan John W. Creswell

(2014: 108) eksplorasi pada kelompok individu yang telah mengalami fenomena tersebut.

Kelompok di indentifikasi yang mungkin beragam dalam ukurannya dari 3 hingga 4 hingga

(6)

pemanfaatan media dan perubahan pada diri informan. Teknik pengumpulan data dilakukan

dengan cara observasi, wawancara mendalam, dokumentasi dan studi pustaka.

Hasil dan Analisis

Terkait kuasa media terutama dalam globalisasi dan budaya popular telah membawa

sebuah perubahan besar pada sejumlah masyarakat terutama anak muda. Dalam hal ini

penulis mengambil tujuh orang mahasiswa yang menggunakan new media dan tergolong

Korean lovers di kota Padang. Keseharian mereka dalam pemanfaatan media dan gaya

hidup yang identik dengan sikap “hedonisme” serta selalu memperhatikan penampilan

dalam kesehariannya yang fashionable.

Ada beberapa temuan dalam riset ini 1) satu adalah dalam pe manfaatan media,

kegiatan yang dilakukan Korean Lovers ini adalah selalu mengikuti berita dan informasi

terhadap artis idolanya melalui twitter atau youtube, majalah Asia Plus dan Star Magazine

untuk melihat gaya fashion. Update status di BBM, pasang DP (display picture) dan ganti

PM (persona l messege) kalau menonton drama Korea. Mereka merasa kehilangan sesuatu

jika dalam sehari tidak mengikuti informasi terbaru tentang Korea dan tidak melakukan up

date status di media sosial.

2) dua adalah Penampilan Fisik, sebagai fans fanatik, mereka telah membangun

konsep diri melalui kepemilikan terhadap barang-barang atau atribut serta aksesoris yang

berkaitan dengan idolanya. Mereka rela menghabiskan uang atau tabungan mereka untuk

membeli barang-barang yang identik dengan para idolanya sebagai bentuk sikap

menghargai hasil karya dari idolanya. Para penggemar kerap kali meniru penampilan atau

fashion para personil band yang mereka sukai, seperti gaya rambut, ataupun meniru gaya

pakaian personil yang mereka idolakan, seperti foto berikut ini;

Foto di atas tampak sebelah kiri adalah mahasiswa dan sebelah kanan artis Korea

Jang Geunsuk, terlihat bahwa mahasiswa tersebut mengikuti penampilan atau fashion dari

(7)

diidolakannya. Konstruksi yang dilakukan oleh para penggemar boy band ini, menunjukkan

bahwa mereka merupakan salah satu penggemar boy band atau gir l band Korea. Hal ini

juga sebagai salah satu bentuk identitas untuk menujukkan bahwa mereka adalah

penggemar korean wave. Mereka mengkontruksikan diri sebagai penggemar Korea pada

masyarakat atau orang lain yang melihat.

3) tiga adalah pandangan mereka terhadap te man yang berjenis kelamin be rbeda

(opposite sex peers self-concept). Penampilan artis Korea yang selalu perfect didukung dengan wajah dan postur tubuh mereka yang menarik perhatian, dengan wajah putih, postur

tubuh mereka yang tinggi serta pakaian yang full color pada setiap performance mereka.

Hal inilah yang kerap kali membuat para fans mereka menyukainya. Ukuran tampan bagi

sebagian anak muda saat ini pria yang berkulit bersih, postur tinggi fashionable dan gaya

seperti artis Korea. Bahkan beberapa mahasiswa mengaku ciri tersebut sebagai ukuran

mereka untuk memilih pacar/ kekasihnya. Mereka merasa seolah-olah punya “pacar

bayangan” saat menonton reality show artis yang mereka idolakan, bahkan beberapa orang di antaranya mengaku bahwa sejak menyukai artis Korea, mereka kurang/tidak tertarik

dengan anak muda Indonesia. Mereka juga mengatakan bahwa budaya, fashion, kosmetik

bahkan tempat wisata, saat ini yang mereka sukai adalah Korea.

Kesimpulan

1. Globalisasi yang bertujuan homogenisasi adalah kondisi yang t idak terelakkan dan harus disikapi secara strategis dan kritis oleh semua negara, termasuk Indonesia.

2. Lalulintas kultural global ini masuk melalui media komunikasi dan informasi.

Indonesia sebagai negara berkembang mengalami kesulitan dalam menahan arus

penetrasi identitas tersebut. Dalam hal ini Indonesia bisa menerapkan kurikulum

sejak dini untuk menanamkan kecintaan siswa pada budaya Indonesia.

3. Kajian media harus dikembangkan pada penguasaan atas media dan informasi,

memperbanyak kajian-kajian tentang revitalisasi budaya lokal untuk direbranding,

diterapkan dan dipublikasikan melalui berbagai media seperti film- film, drama serta

musik di Indonesia. Dalam hal ini negara memiliki peran yang sangat penting,

membuat regulasi media yang melindungi usaha- usaha kreatif yang berbasis budaya

(8)

Daftar Pustaka

Allan, Kenneth. Contemporary Socia l a nd Sociology Theory. California: Pine Forge Press, Sage Pub, Inc.

Berthens, K. 1996. Seri Filsafat Atmajaya: Filsafa t Bara t Abad XX jilid II: Prancis. Jakarta: Pt Gramedia Pustaka Utama.

Burton, Graeme. 1999. Penganta r untuk mema ha mi media da n budaya populer . Yogyakarta: Jalasutra

Clark, Ian, 2001. “Globalization and Post-Cold Wa r Order,” dalam Baylis, John, dan Steve Smith (eds.), 2001. The Globa liza tion of World Politics. Second Edition. Oxford: Oxford University Press.

Cresswell, John W 2014. Peneltia n Kua lita tif & Desa in Riset: Memilih di Anta ra Lima Pendeka tan

(Terjema han), Pustaka Pelajar. Yokyakarta

Datta, Anup, 2004. “Globalization in International Relations,” dalam Majumdar, Anindyo J. dan Shibashis Chatterjee, 2004. Understanding Globa l Politics, Issues & Trends. New

Delkhi: Lancer‟s Books.

Eriyanto. 2005. Analisis wacana. Yogyakarta. LKIS

Keohane, Robert O. dan Joseph S. Nye Jr., 2000. “Globalization: What’s New? What’s

Not? (And So What?),” dalam Foreign Policy, Spring.

McQuail, Denis. 1996. Teori Komunikasi Massa: Suatu Pengantar (edisi kedua). Jakarta: Penerbit Erlangga.

Mills, Sara. 1997. Discourse. London and New York: Routledge. Mills, Sara. 2003. Michel Foucault. New York: Routledge

Mulyana. 2008. Penga ntar Ilmu Komunika si. Bandung. Remaja Rosda Karya.

Nye, Russel B. 1978. “Populer Cultural as a Genre”, dalam Wayne A Wiegand (ed.), Popular Culture and The Libara ry: Proceedings of symposium II. Lexington, Kentuucky: University of Kentucky, college of Libra ry Science

Rakhmat. Jalaluddin. 1999. Psikologi Komunikasi. Bandung. Remadja Rosda Karya.

Saptadi, Krisnadi Yuliawan, 2008. “Membaca Globalisasi dalam Kaca Mata Perang Budaya”.

Makalah Semina r Globalisasi, Seni, dan Moral Ba ngsa di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Jakarta

Storey, John. 1993. An Introductory guide to cultra l theory and populer culture. Hertfordshire: Harvester wheatsheaf.

Taylor, Anita. 1977. Communica ting. EngleWood Cliffs: Prentice-Hall, Inc Sumber Jurnal dan karya ilmiah lainnya

Aditjondro, George Junus. 1994. Pengeta huan-pengeta hua n lokal ya ng tertindas. Jurnal kalam Agustin, Sari Monik. 2005. Konstruksi Waca na Tubuh Norma tif Terha dap Konep Diri Perempuan

La jak Gemuk Dewasa di J akarta. Thesis. Jurnal Penelitian Ilmu Komunikasi. Jakarta. Departemen Ilmu Komunikasi Fisip UI.

Amellita, Nesya. 2010. Kebuda yaan Populer. Skripsi.FIB UI. Diakses 17 Februari 2014 Mubah, A Syafril. 2011. Revitalisasi Identitas Kultural Indonesia di Tengah Upaya

Homogenisasi Global. Globa l & Stra tegis, Edisi Khusus, Desember 2011 Thorne, Scott dan Gordon C.Burner II. 2006. “An explora tory investigation of the

Referensi

Dokumen terkait

Tugas akhir karya seni yang berjudul Penyutradaraan Film Dokumenter Potret "Dulhaji Dolena" dengan Gaya Cinéma vérité lahir dengan dukungan dan bantuan

Kesimpulan yang dapat ditarik dalam penelitian ini adalah penambahan ekstrak daun ketapang dengan dosis 5 g/kg pakan dengan lama pemberian 21 hari efektif meningkatkan

Hasil penelitian ini yang menunjukkan bahwa religiusitas berpengaruh positif dan signifikan terhadap perilaku nasabah perbankan konvensional beralih ke perbankan

Berbagai upaya penanganan gizi berimbang tidak hanya diusahakan dari rumah sakit tetapi mulai digiatkan sampai pada unit terkecil yaitu Pos Pelayanan Terpadu

Contohnya, pada masa proses pewahyuan al-Qur’an, alasan laki-laki mendapat bagian dua kali lebih banyak dari perempuan meskipun mereka berposisi sebagai ahli waris yang

Kontribusi Terhadap Kepentingan atau Tujuan Kelompok dalam Program Keluarga Berencana di Kecamatan Tugu Kota Semarang Kontribusi yang diberikan oleh pemerintah untuk

Salah satu isu utama terkait dengan perempuan adalah permasalahan aborsi. Aborsi didefinisikan sebagai pengguguran kandungan secara sengaja baik oleh sang calon ibu

Kedua, bisa terjadi saling mempengaruhi itu menjadi lebih tetap, tetapi kami melihat bahwa pelaksanaan kampanye tidak harus dengan Rapat Umum dan sebagainya,