DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA
RISALAH RAPAT PANITIA KHUSUS
RUU TENTANG PEMILIHAN UMUM ANGGOTA DEWAN PERWAKILAN RAKYAT, DEWAN PERWAKILAN DAERAH, DAN DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH Tahun Sidang Masa Persidangan Jenis Rapat RapatKe Sifat Rapat Dengan Hari I Tanggal Pukul Tempat Rapat Ketua Rapat Sekretaris Rapat Acara
Anggota yang hadir Nama Anggota
Pimpinan Pansus Pemilu:
2007-2008 I
Rapat Kerja XIII (Tiga Belas) Terbuka
Menteri Dalam Negeri, Menteri Sekretaris Negara & Menteri Hukum dan HAM
Sen in, 8 Oktober 2007 14.00 WIB- selesai
Ruang Rapat Komisi II DPR Rl (KK.III/Gd. Nusantara) Drs. Ferry Mursyidan Baldan I Ketua Pans us Pemilu Suroso, SH/Kabagset Pansus Pemilu
1. Pembahasan DIM RUU Tentang Pemilihan Umum Anggota DPR, DPD, dan DPRD
2. Pembentukan PANJA
38 dari 50 orang anggota Pansus Pemilu 12 orang ljin
1. Drs. Ferry Mursyidan Baldan/F-PG/Ketua 2. DR. Yasona H. Laoly, SH, MS/F-PDIP/Waket 3. DR. H.B. Tamam Achda, M,Si /F-PPP/Waket 4. Ignatius Mulyono/F-PD/Waket
5. DR. Jr. Hj. Andi Yuliani Paris, M.Sc/F·PAN/Waket
Fraksi Partai Golkar : Fraksi Kebangkitan Bangsa :
6. Drs. Agun Gunandjar Sudarsa 30. Drs. H. Ali Masykur Musa, M.Si 7. Drs. H.A. Mudjib Rochmat 31. Drs. H. Saifullah Ma'Shum, M.Si 8. Mustokoweni Murdi, SH 32. Hj. Badriyah Fayumi, Lc
9. Dr. Mariani Akib Baramuli, MM 33. Prof. DR. Moh. Mahfud MD 10. Drs. TM. Nurlif
11. H. Hardisoesilo
12. H. Muhammad Sofhian Mile, SH, MH 13. H. Asep Ruchimat Sudjana
Fraksi POl Perjuangan : 15. Tjahjo Kumolo, SH 16. Alexander Litaay 17. Pataniari Siahaan
18. Jacobus Mayong Padang 19. Nursuhud
20. lrmadi Lubis 21. Drs. Eka Santosa
22. Hj. Tumbu Saraswati, SH
Fraksi Partai Persatuan Pembangunan : 23. Ora. Hj. Lena Maryana Mukti
24. Lukman Hakim Saifuddin Fraksi Partai Demokrat :
25. DR. Syarief Hasan, SE, ME, MBA 26. DR. Benny Kabur Harman, SH 27. lr. Agus Hermanto, MM Fraksi Partai Amanat Nasional : 28. H. Totok Daryanto, SE 29. lr. Tjatur Sapto Edy, MT
Anggota yang berhalangan hadir (ljin) : 1. Ora. Chairun Nisa, MA
2. Drs. Simon Patrice Morin 3. DR. Sutradara Gintings 4. Drs. H. Akhmad Muqowam 5. Drs. H. Hasrul Azwar, MM 6. Drh. Jhonny Allen 7. Patrialis Akbar, SH 8. Abdillah Toha, SE
Fraksi Partai Keadilan Sejahtera : 34. Agus Purnomo, S.IP
35. Mustafa Kamal, SS
Fraksi Bintang Pelopor Demokrasi : 36. Drs. Ali Mochtar Ngabalin, M.Si
Fraksi Partai Bintang Reformasi : 37. H. Bachrum R. Siregar, SE
Fraksi Partai Damai Sejahtera : 38. Pastor Saut M. Hasibuan
9. H.A. Effendy Choirie, M.Ag. MH 10. Drs. Almuzzammil Yusuf 11. H. Jazuli Juwaini, MA
12. Prof. DR. M. Ryaas Rasyid, MA
KETUA RAPAT (DRS. FERRY MURSYIDAN BALDAN/F-PG):
Kita harapkan menjadi Pansus terakhir, sebelum kita Rapat Panja. Daftar hadir sudah ditanda tangani oleh 26 dari 50 orang Anggota dan sembilan dari sepuluh Fraksi telah hadir, karena itu kourum sudah terpenuhi.
(RAPAT DIBUKA PUKUL 14.30 WIB)
Rapat ini kita harapkan menjadi Rapat terakhir kita sebelum Rapat memasuki Panja, dari sisi materi ada beberapa yang harus kita lakukan pembicaraan, khususnya berkaitan dengan kampanye dan juga ketentuan pidana dan hal-hal yang lain yang waktu itu terpending, diantaranya pada waktu itu adalah judul, azas Pemilu, hari pemungutan suara, soal Bawaslu, soal pemantauan Pemilu, termasuk juga soal bagaimana memunculkan nama calon Presiden ketika kampanye yang ada di Dim No. 80.
Dari aspek waktu, kita harapkan kita bisa selesai pada pukul17.00 WIB Rapat ini dengan melakukan dua pembicaraan dengan dua kategori. Yang pertama adalah berkaitan dengan kampanye, yang kedua adalah peserta Pemilu dan ketentuan sangsi dan ketentuan pidana.
Kemudian kita baru akan membentuk tim panitia kerja yang akan kita lakukan terakhir pada Rapat hari ini, karena Panitia Kerja harus segera melakukan kegiatannya sekitar , direncanakan pada awal-awal masa sidang yang akan dimulai pada tanggal 5 November 2007. Karena Masa Sidang yang akan datang hanya singkat mulai dari 5 November 2007 sampai 7 Desember 2007, itu adalah kurang lebih adalah 32 hari, kalau dihitung hari kerja lagi, terpotong lagi.
Kita sudah bisa menyesuaikan seluruh rangkaian pembahasan tentang Rancangan Undang-undang ini pada sebelum Reses itu, sebelum tiba masa Reses pada Masa Sidang yang
akan datang, karenanya kita akan melakukan langkah-langkah percepatan dalam proses panja nanti. Tadi kita sudah membahas di Pimpinan, bagaimana upaya kita mempercepat Rapat-rapat kita.
Sebagai upaya me-refresh saja, saya kira kemarin kita sudah dua putaran yang masing-masing Fraksi membicarakan lima sampai enam, ada yang dua pembicara sekitar empat sampai lima, yang satu pembicara bisa tiga atau em pat kali bicara khusus untuk sistem Pemilu.
Sistem Pemilu itu saya kira memang panjang dari mulai penamannya sampai ke penamaan sistem Pemilunya, kemudian berkaitan dengan penetapan calon terpilihnya yang terbatas atau tidak terbatas itu, kemudian masuk ke Daerah Pemilihan masuk kedalam jumlah kursi Daerah Pemilihan, masuk ke cara mencoblosnya, masuk ke usulan jumlah bagaimana, berapa jumlah yang bisa diusulkan oleh Partai, kemudian ketika menghitung suaranya, perolehan suara partai, bagaimana sisa suara dan ini juga terkait dengan apa yang kita sebut parlementary threshold yang sempat muncul dalam pembahasan yang lalu.
Untuk betapa banyak dan terangkainya dan ini disebut Mensesneg yaitu menjadi urat nadi dari Undang-undang ini, maka sebelum masuk ke Panja , kita akan melakukan suatu proses loby untuk lebih mendekatkan beberapa hal yang berbeda secara substansi dalam satu rangkaian sistem tadi. Nanti kita akan membawakan dalam forum lobby, yang tentu akan kita sederhanakan pasti selesai Hari Raya ldul Fitri bukan sebelum Hari Raya ldul Fitri. ltu sekedar informasi.
Baik Bapak dan lbu sekalian,
Jumlah Panja barangkali kita akan putuskan nanti saja ya terakhir, dengan catatan jumlah Panja ini adalah 25 orang, Pimpinan 5 orang, kemudian PBR, PDS satu-satu orang dan BPD satu orang. F-PG itu empat orang, F-PDIP tiga orang, F-PPP, F-PD, F-PAN, F-KB, F-PKS itu dua-dua orang. BPD, PBR, PDS satu-satu orang, sehingga totalnya dengan jumlah Pimpinan itu 25 orang.
Mengingat Panja ini memiliki hal yang penting, maka Pimpinan tadi mengambil kebijakan adalah Anggota Panja penganti atau Anggota Panja yang dicadangkan oleh Fraksi masing-masing. Sehingga ketika seseorang Anggota Panja yang sudah ditetapkan oleh Fraksi tidak bisa hadir pad a Rapat yang ditentukan, bisa digantikan dengan nama lain, karena prinsipnya kalau tidak terdaftar sebagai Anggota Panja tidak bisa, jadi bisa mengamati tadi bagaimana kita bisa mengatasi. Tetapi yang pasti adalah dari Anggota Fraksi yang ada di Pansus ini, itu pesannya, tentu yang ada di Pansus ini, jadi Bapak Bachrum jangan turunkan Ketua Umum Anggota ini, kalau menurut Bapak Bursah bukan Anggota Pansus itu. jadi kita akan tetapkan pola itu, jadi artinya nanti dikirimkan selain nama-nama yang masuk dalam Panja, kemudian kita namakan Anggota Panja penganti untuk m asing-masing Fraksi, setidak-tidaknya dua atau tiga orang untuk ini, makanya ini tidak berlaku untuk PBR sebetulnya, saya khawatir kalau ini berlaku, dia akan kirim Ketua Umumnya Bapak Bursah dan segala macam. ltu untuk mengatasi masalah-masalah jika yang bersangkutan tidak bisa hadir.
Kemudian, nama-nama itu kita harapkan nanti sudah masuk ke Sekretariat Pansus itu pada tanggal 22 Oktober 2007 yang akan datang, kita harapkan setelah ldul Fitri nama-nama itu sudah masuk Anggota Panja Pengantinya. Nanti ketika Rapat Panja kapan kita mulai, tadi ada pikiran akan kita mulai pada akhir Masa Reses, jadi Sabtu-Minggu sebelum Sidang, kita akan gunakan waktu itu, tetapi karena umumnya Komisi-komisi menggunakan waktu Kunjungan Kerja juga dihari-hari itu, maka kita sepakat ketika mulai Masa Sidang, awalnya Masa Sidang, Hari Senin pada awal Masa Sidang, kita akan mulai Rapat Pimpinan Pansus, kemudian pada esok harinya kita akan mulai Panja dsb, sehingga minggu itu kita sudah bisa gunakan untuk pembahasan materi, nanti kita cari kesepakatan waktu untuk melalui proses lobby. Dengan demikian kita harapkan kita bisa lakukan variasi, apakah kita akan konsinyir atau kita akan memadukan atau selang-seling, supaya kita bisa menggunakan konsinyir setidak-tidaknya tiga minggu berturut-turut dalam tiga hari, tetapi kita sesuaikan dengan jadwal-jadwal hari-hari yang lain. tetapi semangat kita adalah untuk menyelesaikan dari seluruh materi atau DIM-DIM yang ada, karena memang nanti kita akan sajikan kepada Anggota Panja beberapa hal yang menjadi penting, beberapa materi-materi crucial dari Master Materinya, maupun dari rincian DIM-DIM-nya. Saya kira kita sudah melakukan rekap ini untuk membantu kita mengecek selain catatan dari Bapak dan lbu sendiri.
Baik itu barangkali informasi dari Pimpinan, Baik Bapak Menteri cukup itu,
Tidak digunakan ya hari akhir Masa, karena pesannya begitu, janganlah digunakan, tetapi sudahlah, karena kebetulan memang karena kunjungan kerja.
Baik,
Demikian Panja 25 orang, kita berikan kesempatan kepada Fraksi-fraksi untuk mengusulkan juga, nama Anggota Panja Penganti untuk bisa memperlancar kerja Panja, sehingga kita tidak terikat , kita bisa memenuhi Anggota Panja yang lain dan kemudian kita akan terima daftar nama itu tanggal 22, tanggal 22 saya kira masih suasana 10 hari, saya kira undur 29 Oktober nama-nama itu masuk ke Sekretariat, cukup ya, mulainya nanti tanggal 5, begitu Masa Sidang mulai nanti kita langsung mulai, minggu pertama, langsung ya Bapak. Jadi tanggal 29 kita terima komposisi nama-nama itu, setuju ya seperti itu.
Saya ketok dulu yang 25.
LUKMAN HAKIM SAIFUDDIN/F-PPP:
Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,
lni menyangkut Anggota Panja, jadi tadi selintas saya mendengar ada Anggota Panja penganti, ini perlu jelas dulu, karena seingat saya ini tidak lazim, Panja itu definitive Anggotanya, kalau mau diganti ya diganti, sipengantinya definitive juga, yang digantikan ya sudah tidak bisa , tetapi tadi terkesan bisa keluar masuk begitu, jadi kalau kebetulan Anggota Panja berhalangan, dia bisa digantikan oleh sipenganti, lalu kalau yang berhalangan itu suatu saat bisa lagi, dia bisa kembali lagi, ini kemudian bisa keluar masuk, ini nanti akan menyangkut proses pembahasan dan perlu jelas juga, yang menganti itu berapa banyak, apakah kalau setiap Fraksi itu Anggota Panjanya lima lalu pengantinya bisa lima, sebenarnya sepuluh Anggotanya itu, hanya tinggal kapan masuknya, ini perlu jelas.
KETUA RAPAT: Saya jawab dulu,
Sebenarnya tawaran Pimpinan,
Pimpinan simple saja tidak mau menerima Anggota Penganti ini, tetapi tawaran Pimpinan ketika Fraksi-fraksi nanti, ketika ada seseorang yang tidak hadir, itu bisakah dia masuk Anggota yang lain, itu yang saya kira, jadi semangatnya yang terdaftar dan menerima konsekuensi administratifnya, dia tidak berubah, tetap 25, aturan internal Fraksi saja nanti yang main. Jadi prinsipnya kita tidak bisa membolehkan Anggota Fraksi dengan menghadirkan cadangannya, tetap dia lima, dia lima, kemudian keputusan untuk menganti, oh si A untuk diganti ini, untuk hal ini, itu dimungkinkan, tetapi itu tawaran Pimpinan untuk mempermudah, sehingga Rapat-rapat Panja itu, karena harus kourum, nanti kourumnya tidak terpenuhi, sehingga oh Anggota ini tidak bisa hadir, untuk menganti tidak gampang juga, harus ada keputusan Fraksinya, lewatlah Surat Fraksinya nanti, tetapi ini prinsipnya tawaran Pimpinan untuk mempermudah, sehingga Rapat-rapat Panja itu bisa berjalan lancar, menghilangkan substansi Panja, bahwa yang nama penganti ini, saya kira anytime on call, itu perintahnya , dia bisa menganti nama oleh yang bersangkutan, jadi bukan sekaligus hadir sebanyak itu, tentu porsinya adalah bisa hadir adalah misalnya dari Golkar empat, tidak boleh lebih dari empat orang, sekalipun dia statusnya Anggota Penganti tidak boleh hadir, itu prinsip kita, yang tawaran kita untuk memudahkan kelancaran Rapat-rapat Panja.
Saya kira saya akan membuka kesempatan ini untuk merespon lagi. Dari Bapak PDIP, PAN dan PDS.
IRMADI LUBIS/F-PDIP: Terima kasih Pimpinan,
Yang saya hormati rekan-rekan Pansus dan yang mewakili Pemerintah, saya kira dari Bapak Lukman tadi ada beberapa kali melakukan ini, umpamanya di Pansus Pemerintah Aceh itu juga lakukan dulu, tetapi jumlahnya tidak boleh melebihi jumlah Anggota Panja yang waktu itu kita sepakati kalau tidak salah di Aceh itu separuh daripada dan dibulatkan keatas, kelihatan juga dari Pansus kepabeanan juga kita laksanakan dulu.
Saya kira itu saja Pimpinan, bahwa hal ini adalah bukan hal yang baru pada kita. Terima kasih.
KETUA RAPAT: Silahkan.
T JAHJO KUMOLO, SH/F·PDIP: Tarnbahan Pirnpinan,
Tadi Saudara Ketua rnenyarnpaikan bahwa Anggota Penganti tidak perlu rnengikuti Rapat Panja, tetapi kalau rnernang ada Anggota Panja yang berhalangan ikut, bagairnana bisa rnengikuti kalau Anggota pengganti tidak ikut. Pengalarnan yang sudah-sudah, rnernang dibentuk Anggota Panja, separuh Anggota Pengganti, Anggota Pengganti ikut dalarn setiap Rapat Panja, tetapi tidak punya hak untuk bicara, rnengantikan untuk bicara Anggota Panja yang ada, itu yang saya paharni Ketua.
T erirna kasih Ketua. KETUA RAPAT: PAN.
H. TOTOK DARYANTO, SE/F-PAN:
Pad a Prinsipnya setuju ada pengganti supaya lancar. KETUA RAPAT:
PDS.
PASTOR SAUT M. HASIBUAN/F·PDS:
Terirna kasih Pirnpinan, kalau rnernang diijinkan pengganti berarti Anggota Pansus juga bisa diganti, artinya saya, kalau saya berhalangan bisa diganti oleh Anggota lain, dengan dernikian juga kalau saya berhalangan hadir di Panja, saya bisa digantikan juga, sarna itu, kalau rnernang itu bunyi bahasanya disahkan saja, artinya saya bisa tidak hadir disini karena ada pengganti saya, yang penting diingat disini bahwa satu untuk satu, karni satu dan satu pengganti karni. Dernikian juga di Panja itu bunyi bahasanya, pengertiannya sudah betul jelas terang.
T erirna kasih. KETUA RAPAT: T erirna kasih. F-PG.
H. MUHAMMAD SOFHIAN MILE, SH/F-PG:
T erirna kasih Ketua, .
Pertama, saya paharn betul apa yang disarnpaikan Bapak Ketua, tentunya dirnaksudkan supaya Panja yang rnernbahas sudah sarnpai pada soal-soal yang lebih teknis, substantif, itu berjalan lancar, jangan sarnpai ketidakhadiran beberapa Anggota itu ikut rnengharnbat target-target waktu yang sudah saya inginkan, itu saya kira yang harus kita paharni bersarna, apa yang dirnaksudkan oleh Pirnpinan.
Oleh karena itu dukungan karni terhadap konsep Pirnpinan yang pertarna, tentunya apa yang diinginkan untuk penarnbahan Anggota Pengganti itu, betul-betul Anggota Pengganti yang tau persis alur pernbicaraan sarnpai sejauhrnana perkernbangan pernbicaraan, jadi tidak tiba-tiba dia rnasuk dan rnulai dari awal lagi. Pikiran yang dikernukakan oleh ternan-ternan dari PDIP saya kira betul, jadi dia bisa rnasuk tetapi tidak ikut bicara, jadi dia bisa rnengikuti substansi pernbicaraan, kalau toh dia rnau buat konstribusi baru secara tertulis kepada juru bicaranya, sarna saja dengan staff Ahli tetapi dia Anggota DPR. Saya kira begitu.
Terirna kasih Pirnpinan. KETUA RAPAT: PD.
IR. AGUS HERMANTO, MM/F-PD: Bismilahirohmanirohim,
Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,
Yang kami hormati Pimpinan serta Pansus dari Pemilu dan, Yang kami hormati Bapak Menteri beserta seluruh jajarannya.
Pada prinsipnya sepanjang memang didalam aturannya tidak dilanggar dan diperbolehkan bagi kami, tentunya tidak ada masalah dan ini silahkan juga bisa dilaksanakan, akan tetapi yang menjadi titik berat adalah, jangan sampai memang gantiannya itu diatur, jadi seolah-olah ini ikut segini, kemudian yang lain ikut yang lain, padahal menurut hemat kami adalah kalau memang betul-betul itu tidak bisa, baru memang pengganti itu bisa.
Yang lebih saya setujui adalah usul baik dari PDIP atau yang lain tadi, lebih baik seluruh Anggota baik pengganti maupun yang Panjanya ada didalam, tetapi memang juru bicaranya ada di Panja itu sendiri.
T erima kasih . KETUA RAPAT: Jadi,
IGNATIUS MUL YONO/F-PD: Terima kasih Pimpinan,
Bapak dan lbu yang saya hormati,
Menambahkan sedikit saja, barangkali ada pembatasan juga, siapa yang bisa menggantikan, yang menggantikan barangkali yang lebih tepat yang masuk Pansus baru bisa menjadi pengganti, kecuali mungkin rekan-rekan dari PDS dan PBR itu diberikan pengecualian di luar Pansus, karena hanya satu orang, kalau tidak ada penggantinya tidak bisa masuk dia. ltu barangkali, tetapi mung kin perlu disetujui juga.
KETUA RAPAT:
Pada prinsipnya ini administrative, ini administrative saja, kalau keputusan seseorang ada di Pansus atau tidak ada di Pansus itu bisa dipolitik, jadi saya kira Bapak Pastor tidak mung kin itu diambil alih Pimpinan, ini administrative saja, kalau Bapak Pastor mau diganti, memang ada yang berani mengganti Bapak Pastor, saya kira tidak ada Bapak, kata-kata mengganti, itu keputusan politik, mengganti keanggotaan didalam Pansus, jadi tidak masuk diruang sana, tidak masuk ke ruang sana, tetapi saya kira yang kita lakukan adalah kemudahan bagaimana nanti ketika Anggota Panja dari stu Fraksi, syukur-syukur baiknya memang optimalnya tidak ada yang berhalangan, tetapi ketika dia belakangan, seringkali ditanyakan, ini siapa, Anggota ini penggantinya Bapak B boleh atau tidak, kok tidak ada didaftar, boleh diganti, tetapi Fraksi keluarkan dulu surat baru mengganti yang tidak hadir itu diganti dengan yang B, harus ada Surat Fraksi, itu saya katakan administrative, jadi untuk mempermudah, diberikan ruang, tidak banyak-banyak juga, saya kira misalnya PG dan PDIP paling-paling maksimal dua, yang lain satu-satu cadangan, jangan sampai cadangan lebih banyak daripada inti, kan untuk memperlancar.
PASTOR SAUT M. HASIBUAN/F-PDS:
Maksud kami Ketua, bukan ganti-gantian, artinya kita akan memberikan surat resmi dari Fraksi bahwa karena berhalangan itu ada Surat Resmi, kira-kira seperti itu Ketua.
Terima kasih. KETUA RAPAT:
Kira-kira kalau yang satu ini, artinya dia tidak pada posisi Anggota Pengganti Panja, itu statusnya adalah Anggota Pansusnya diganti, bukan Anggota Pengganti Panja, tidak bisa.
Bapak Bahrun.
H. BAHRUM R. SIREGARIF·PBR:
Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,
Tadi Pimpinan mengatakan itu adalah dalam rangka kebutuhan administrative, saya melihat ini diskriminatif, saya pikir selama ini sudah aturan mengatakan bahwa Panja itu tetap orangnya, kalau mau diganti diambil dari Pansus, aturan itu saya rasa masih berlaku, kalaupun
hanya titik pendekatannya untuk kelancaran, justru itu belum tentu lancar, karena bisa saja irama yang sudah terjalin, begitu masuk nanti pemain cadangan irama Panja itu akan berbeda lagi. Atau katakan untuk kawan-kawan yang merasa senior, untuk kawan-kawan DIM-DIM yang ringan dikasihkan yang cadangan, yang berat-berat yang intim, jadi iramanya berlainan , saya rasa sudahlah tetap seperti biasa, kalau itu tidak lancar kita cari dimana tidak lancarnya.
Terima kasih. KETUA RAPAT:
Saya kira jangan di persepsi berlebihan, itu yang saya keberatan, karena ini sudah terpraktekkan juga. Saya kira simple saja, kalau mau dilakukan apa yang mau Bapak Bahrun katakan, itu bisa saja diatur skenarionya, oke DIM sekian, DIM sekian si anu- si anu. Nanti begitu selesai DIM ini Fraksi itu kirim lagi nama baru, itu bisa saja, kalau memang demikian. Tawaran Pimpinan sekali lagi saya kira untuk mondar-mandirnya Anggota Panja itu saya kira saya kira adalah keputusan Fraksi, kepada ternan-ternan tentunya yang memiliki Anggota Panjanya, itu tidak sama dengan jumlah Anggota Pansus, kami usulkan untuk mengusulkan nama calon Anggota pengganti, dia tentu tercatat sebagai tidak ada penamaan Anggota Panja dsb. Kalau pada saatnya yang bersangkutan tidak hadir itu bisa digantikan seketika.
Saya kira Bapak Bahrun yang paling prinsip ketika kourum Rapat Panja ini, kemudian ada seseorang, ada beberapa dsb berhalangan, untuk mempermudah, jadi tidak bisa diganti seketika, dia diganti dengan Surat Fraksi, jadi samalah seperti kehadiran di Bamus dan lain-lain, ini prinsipnya seperti itu, ketika nanti Rapat Panja, F-PG empat tetap, ini tiga yang lainnya itu saja, jadi tidak boleh ngomong, walaupun kita sepakat untuk bisa hadir, itu untuk mempermudah. Saya harapkan itu tidak persepsi lain , tetapi kalau ini menyatakan kekhawatiran, Pimpinan juga akan menarik usulan kemudahan yang kita usulkan tadi, kalau ada kemudahan yang lain, yang sifatnya diluar administrative.
Bisa dipahami, itu tetap saja ya, prinsipnya tidak lebih dari setengah dari jumlah Anggota Panjanya dan kehadirannya dikonfirmasi oleh jumlah Anggota Panja yang bersangkutan dan dia tidak boleh punya hak, tidak boleh berbicara, artinya diawal Rapat-rapat Panja di konfirmasi bahwa Anggota Panja ini adalah yang pengganti tidak apa, tetap dalam posisi pengganti, kalau dia diawal Rapat, ini supaya fair mainnya, jangan kemudian tadi ini yang dikhawatirkan tadi menjadi tambahan juru bicara, jadi harus diawal, dan penggantiannya jangan juga setiap sesi, per hari kira-kira sekurang-kurangnya, setengah hari.
Jadi bisa disepakati ini ya, setengah jumlahnya dan Anggotanya boleh hadir tetapi tetap dalam konteks yang juru bicara adalah sejumlah Anggota Panja yang kita tetapkan, pengganti tidak bisa punya ini, kecuali dia punya peran penggantinya terhadap Anggota Panja yang definitive.
Baik cukup ya,
(RAPAT:SETUJU)
Jadi tanggal 29 Oktober kita akan berikan batas waktu, nama-nama itu sudah segera terkirim.
Baik Bapak dan lbu sekalian, Menteri Dalam Negeri,
Menteri Hukum dan Ham dan segenap jajarannya,
Kita akan masuk pada materi kampanye yang ketika materi kampanye ini kita bahas ada banyak catatan-catatan yang pertama adalah pada buku yang lalu yaitu pada DIM No. 80 sebenarnya tetap, tetapi PDIP mengusulkan dimungkinkannya pengajuan nama calon Presiden ketika kampanye Legislatif, kemudian bentuk-bentuk kampanye ada di DIM No. 495, kemudian juga ada DIM-DIM yang mengatur tentang hari-hari tenang, yang lain adalah juga soal dana kampanye antara besaran dana itu ada di DIM No. 697, DIM No. 703 sampai DIM No. 704, termasuk besarannya, kemudian bentuk laporannya itu di DIM No. 729 dan bagaimana pemeriksaan oleh Akuntan Publik di DIM No. 733 dan pelaporan dana kampanye berikut sangsinya ada di DIM No. 744 sampai DIM No. 753.
Saya kira ada beberapa hal yang diusulkan oleh Fraksi-fraksi khusus dalam bentuk, misalnya bentuk-betuk kampanye ada hari tenang, ada kampanye media, ada kampanye Rapat
Umum yang memerlukan ijin atau pengaturan oleh KPU yang lainnya menjadi tidak memerlukan ijin dsb.
Baik saya persilahkan dari Fraksi-fraksi untuk menyampaikan pendapatnya, DIM itu khususnya pada DIM, mulai keluar pada DIM No. 495 pada bentuk kampanye, kemudian hari ten an g.
Mulai DIM No. 466 sampai DIM No. 755 DIM kampanye itu, dari PDIP ada catatan pada DIM No. 80 terkait dengan bolehnya pengajuan nama Calon Presiden setiap kampanye legislative.
Baik saya persilahkan dari PG untuk kampanye. Silahkan.
MUSTOKOWENI MURDI, SH/F-PG: Terima kasih Pimpinan,
Bapak dan lbu sekalian yang saya hormati,
DIM No. 472 disini Partai Golkar ada usulan perubahan substansi, disini ditambahkan kalimat yang merupakan masyarakat pemilih, sehingga perubahannya adalah kampanye Pemilu diikuti oleh peserta kampanye yang merupakan masyarakat pemilih. Reasoningnya adalah karena didalam pelaksanaan kampanye, didalam arena kampanye itu terdiri dari ada kader partai, simpatisan partai, atau masyarakat umum, yang semuanya ini adalah masyarakat pemilih. Oleh karen a itu Fraksi Golkar mengusulkan ada kalimat yang merupakan masyarakat pemilih.
Terima kasih. KETUA RAPAT: Masih ada lagi Golkar,
Bentuk kampanye belum, oh cukup, Silahkan PDIP.
IRMADI LUBIS/F-PDIP: Terima kasih Pimpinan,
Saya kira diantara DIM-DIM yang lain, masih substansi teknis itu nanti mungkin dapat kita perdalam di Panja, akan tetapi yang kami usulkan bahwa ada pendapatnya, sebelum Pemilihan Legislatif itu, Partai-partai politik telah mengajukan, bukan mendaftarkan, telah mengusulkan Calon Presidennya, karena menurut pendapat kami Pemilihan Umum itu Pemilihan Umum Anggota DPR, Pemilihan DPRD, Pemilihan DPD dan Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden adalah satu tarikan nafas Pemilihan Umum, oleh karenanya sehubungan dengan Pasal 6a ini Ayat (2) bahwa pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden diusulkan oleh Partai Politik atau gabungan Partai Politik peserta Pemilihan Umum sebelum pelaksanaan Pemilihan Umum.
Jadi, itu yang kami inikan dalam DIM kami bahwa (rekaman terputus) Calon Presidennya, sehingga ada keterkaitan antara nanti sewaktu Pemilihan Presiden dengan kandidat Legislatif, jadi menurut kami itu nanti akan memperkuat sistem Presidensil kita, dimana rakyat sudah lebih dahulu menentukan nanti suatu kaitan diantara dia memilih siapa Anggota DPR-nya dan Partai Politik-nya dan dia juga sekaligus sudah bisa kira-kira nanti menginikan Calon Presiden yang akan datang.
Prinsipnya kami menafsirkan bahwa Pasal6 Ayat (2) itu bahwa sebelum Pemilihan Umum yang dimaksudkan oleh konstitusi yaitu sebelum pemilihan legislative, karena pemilihan umum itu satu tarikan nafas, yaitu Pemilihan Umum Anggota DPR, Pemilihan DPRD, Pemilihan DPD dan Pemilihan Presiden.
Terima kasih Pimpinan. KETUA RAPAT: Cukup PDIP,
Selanjutnya saya persilahkan dari PPP. LUKMAN HAKIM SAIFUDDIN/F-PPP:
Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,
Bagi PPP, prinsip-prinsip dasar terlebih dahulu yang mungkin perlu kita bahas untuk kita sepakati, yaitu pengertian tentang kampanye, jadi ini mungkin yang perlu kita sedikit rubah, paradigma atau cara pandang kita tentang kampanye itu, karena sesungguhnya sebagai Partai Politik, berkampanye itu adalah sesuatu yang niscaya, yang dilakukan tidak hanya setiap hari,
tetapi mungkin setiap saat. Oleh karenanya menyangkut diimensi waktu kapan kampanye ini yang harus jelas, yang diatur dalam jangka waktu tertentu, kegiatan-kegiatan kampanye itu apanya yang ingin diatur, karena pad a dasarnya kampanye itu setiap hani dilakukan oleh setiap Partai Politik.
Oleh karenanya, misalnya menyangkut ragam atau jenis atau metoda kampanye dalam bentuk Rapat terbuka atau dengan cara mengerahkan pawai-pawai atau reli-reli, menurut saya hal seperti itu sudah kita tiadakan saja, kita hilangkan saja, kegiatan kampanye yang sebenarnya tidak terlalu mendatangkan hal-hal yang positif, bahkan lebih banyak sisi negatifnya, dan karenanya kampanye harus diarahkan demi pendidikan politik, karenanya maka kampanye harus diarahkan kepada kampanye dialogis, kampanye yang mendidik masyarakat para pemilih tentang politik, tentang kehidupan bernegara, bermasyarakat.
Jadi bagi PPP, PPP mengusulkan sebaiknya kegiatan masyarakat secara massal, Rapat Terbuka, yang kemudian itu melibatkan adanya reli, pawai-pawai dsb, itu sebaiknya dilarang secara tegas dalam Undang-undang ini. Lalu yang diatur dalam jangka waktu tertentu adalah kegiatan-kegiatan kampanye yang sifatnya dialogis, yang sifatnya langsung, misalnya berkaitan dengan Calon Anggota Legislatif atau Pilpres kalau itu nanti Pemilu Pilpres, lalu kemudian apa yang boleh dan apa yang tidak dilakukan oleh setiap peserta Pemilu, termasuk penggunaan sarana-sarana media, apakah cetak atau elektronik, prinsip dasarnya adalah azas keadilan, jadi adil disini adalah adil memberikan peluang, kesempatan kepada setiap peserta Pemilu untuk disamakan peluangnya, diberlakukan sama dalam berkes~mpatan untuk menggunakan sejumlah media massa itu.
ltulah Pimpinan beberapa Prinsip-prinsip dasar yang diajukan oleh PPP. Terima kasih.
KETUA RAPAT: Terima kasih, Silahkan F-PD.
IR. AGUS HERMANTO, MM/F-PD:
Dari F-PD yang kami melihat memang DIM No. 80 kita memang tetap, tetapi setelah kita membaca usulan dari PDIP, dimana kami melihat kok c;Jda Presiden harus ditampilkan dulu, tentunya ini kita akan lanjutkan dalam membahas untuk Un~ang-undang Pemilu Presiden, apakah ini kalau dicampurkan disini, tentunya agak berbeda, tetapi ini hanya melihat kearah situ, tetapi tentunya nanti pembicaraan jauh lebih detail di Panja atau Seperti apa, tetapi kami melihat bahwa kalau sudah tercampur disini agak berbeda, pad a saat nanti IPemilu misalkan Partai yang baru atau apa, yang dia belum tau apakah dapat memenuhi criteria, lmemenuhi persyaratannya atau tidak, tentunya akan sangat menyulitkan kearah situ, tentunya ini ~enjadi pertimbangan saja.
Selanjutnya ke DIM No. 495 PO adalah tetap, yang 1 1
berubah adalah di DIM No. 697, disitu seluruh kegiatan kampanye Pemilu Anggota DPR, A~ggota DPRD Provinsi dan DPRD Kabupaten/Kota didanai oleh masing-masing Partai Politik peserta Pemilu, di DIM-nya Partai Demokrat ditambah kata dan calon Anggota DPR, DPRD Provinsi, DPRD Kabupaten/Kota sesuai dengan Daerah Pemilihannya, tentunya kalau pembiayaan Pemilu itu tidak hanya khusus dari Partai Politiknya menurut kami dari calon Anggota
Legi~latif
juga harus berkonstribusi untuk membiayai kampanye tersebut, sehingga DIM No. 697 inj seluruh kegiatan kampanye Pemilu Anggota DPR, DPRD Provinsi dan DPRD Kabupaten/Kot~ didanai oleh masing-masing Partai Politik Peserta Pemilu dan Calon Anggota DPR, DPD, DPRD, DPRD Provinsi, DPRD Kabupaten/Kota sesuai dengan Daerah Pemilihannyam~sing-masing.
Jadi, kita ditambahkan kecuali Partai Politiknya juga merupakan calon Anggota legis'latifnya itu sendiri.Kemudian, yang DIM No. 703 itu tetap, DIM No. 7041 itu tetap, kami meningkat ke DIM No. 714 itu memang di Partai Demokrat itu tetap, disini sumba~gan dari perseorangan, nilainya tidak boleh melebihi Rp. 500 juta dari kelompok perusahaan dary/atau Badan Usaha Non Pemerintah nilainya tidak boleh melebihi Rp. 1 miliar, tentunya ini bisa menjadi pertimbangan, karena toh kalau memang Perusahaan yang tidak ada kaitannya misalnya swasta, perusahaan yang cukup besar, tentunya kalau melebihi dari Rp. 1 miliar tentunya belum tentu dia ada kaitan-kaitan politik yang justru juga menjadikan sesuatu yang bertentangan, sehingga barangkali diperbolehkan tentunya bisa menjadi suatu pertimbangan yang lebih masak, kalau untuk usaha yang memang betul-betul bonafid dan betul-betul ikhlas dan betul-betul sesuai dengan kemampuanya, saya pikir batasan miliar itu bisa ditingkatkan kern bali.
Selanjutnya DIM yang lain belum kita sampai kearah situ, nanti mungkin pada putaran berikutnya.
KETUA RAPAT:
Selanjutnya saya persilahkan dari F-PAN. H. TOTOK DARYANTO, SE/F-PAN: T erima kasih,
Kami dari PAN pertama ingin melakukan perubahan pilihan kata pembelajaran pada Pasal 90 untuk diganti dengan kata adil, jujur dan mendidik, karena kalau disebut prinsip pembelajaran bersama itu, tidak begitu jelas maksudnya, bersama siapa itu pembelajarannya, jadi kita lebih jelas untuk menyebut saja bahwa itu adalah prinsip-prinsip yang disebut adil, jujur dan mendidik.
Kemudian ada pihak-pihak yang kemudian kita usulkan untuk tidak boleh ikut kampanye, atau dilarang terlibat dalam kampanye, yaitu Presiden, Wakil Presiden, Ketua, Wakil Ketua Muda Hakim Agung, Hakim Konstitusi, dst sampai ada Gubernur, Bupati, Pejabat BUMN, BUMD, Pegawai Negeri Sipil, Anggota TNI, Kepala Desa, Perangkat Desa, Anggota Badan permusyawaratan Desa, dan Warga Negara Indonesia yang tidak memiliki Hak Memilih.
Kemudian kampanye kita usulkan selama 90, kampanye ini ada dua, ada kampanye umum dan kampanye khusus. Kampanye umum adalah segala bentuk kampanye yang tidak masuk dalam kategori khusus, sebagian dimaksud dalam Pasal apa yang mengatur tentang jenis kampanye itu.
Kampanye khusus kami ingin memberikan kelengkapan pada tambahan-tambahan butir-butir pada Pasal 91 ini, bahwa Kampanye khusus itu adalah kampanye dalam bentuk penyebaran atau penyiaran dalam bentuk iklan, melalui media massa cetak, maupun elektronik, pemasangan alat peraga, ditempat-tempat umum dan Rapat Umum ditempat terbuka dan/atau pawai.
Kampanye dalam bentuk kampanye khusus sebagaimana pada Ayat (3) dilaksanakan sepuluh hari kerja, setelah calon Peserta Pemilu ditetapkan sebagai Peserta Pemilu sampai dimulainya masa tenang, yakni selama 14 hari kerja.
Masa tenang sebagaimana dimaksud pada Pasal 4 selama tiga hari kerja sebelum hari dan tanggal pemunggutan suara. Pembatasan waktu sebagaimana dimaksud pada Ayat (4) dan (5) tidak berlaku pada kampanye dalam bentuk kampanye umum. Jadi kami ingin memberikan makna dan meningkatkan demokrasi kita bahwa kampanye dalam pendidikan politik itu tidak usah dibatasi, mau siang, mau malam hari, mau kapanpun juga, yang perlu dibatasi itu adalah kampanye dalam bentuk khusus, karena justru kalau kampanye dalam bentuk umum tadi sifatnya mendidik, pendidikan politik itu sangat diperlukan oleh setiap calon pemilih dan itu tidak perlu dibatasi, yang perlu dibatasi adalah kampanye dalam bentuk umum.
Kemudian juga saya tidak bacakan, karena cukup banyak ini, dan saya kira bisa dipahami, yang penting kami juga ingin memasukkan sangsi terhadap pelanggaran ini, misalnya di Pasal 98 pelaksanaan kampanye dilarang dan lain sebagainya itu, kami ingin memasukkan adanya tindak pidana pemilu terhadap pelanggaran-pelanggaran itu, nanti sangsinya berapa dan bagaimana saya kira bisa kita bicarakan di Panja, kemudian juga pelanggaran-pelanggaran yang lain itu kami cenderung kami untuk mengusulkan sebagai tindak pidana Pemilu.
Kemudian, didalam penggunaan Media, kami mengusulkan agar ada pembagian secara proporsional kepada Partai-partai politik, sehingga tidak terjadi Partai yang mampu membeli jam tayang untuk media televisi, itu akan diborong habis seluruh jam televisi, jadi musti diatur berapa batasan yang wajar, maksimalnya penggunaan media-media itu untuk Partai-partai politik dan ya mungkin juga ada program yang sifatnya itu sebagai bentuk pelayanan atau dianggarkan khusus oleh, sebelumnya juga sudah ada oleh Pemerintah yang itu diberikan secara proporsional kepada partai-partai politik yang ikut Pemilu.
Demikian Saudara Ketua,
Catatan-catatan kami dan hal-hal lain nanti akan kita bahas didalam Panja. Terima kasih.
KETUA RAPAT:
Selanjutnya saya persilahkan dari F-KB. DRS. H. All MASYKUR MUSA, M.SIIF-KB: Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, Selamat sore dan salam sejahtera,
Pimpinan dan Pemerintah dan,
Teman-teman Anggota Pansus yang saya hormati,
Ada enam isu yang saya kira perlu kita cermati didalam kampanye dan tindak pidana, khususnya pelanggaran-pelanggaran dalam bidang kampanye, yang pertama tentang batasan tentang kampanye itu apa, implikasinya adalah siapa yang menyelenggarakan dan waktunya kapan, jadi saya setuju dengan usulan terdahulu yang menyebutkan pada prinsipnya setiap partai itu diberikan kebebasan untuk mengkampanye prinsip, program, dan juga nilai-nilai yang dikembangkan oleh Partai itu sendiri, karena partai itu menu rut teorinya ada beberapa fungsi sejak sosialisasi, komunikasi, agregasi dsb, tergantung siapa yang menulis, itu tergantung teori yang kita baca.
Karena itu setiap saat boleh dilakukan, didalam Undang-undang itu perlu dibedakan, mana yang menjadi kampanye terstruktur menurut Mas Totok itu disebut dengan kampanye khusus dan kampanye yang tidak struktur atau kampanye umum, kalau yang khusus dan struktur itu berarti yang dibatasi oleh waktu, dengan bentuk-bentuk yang lebih jelas atau lebih terukur, karena itu ketika ,menyelenggarakan mobilisasi umum, Rapat umum, tentu penyelenggaraannya adalah di kampanye khusus.
Kami melihat dari F-KB, DIM-DIM atau Rancangan Undang-undang ini belum membedakan terhadap kampanye terstruktur atau struktur, atau umum atau khusus, itu tergantung bagaimana kita mengartikan nanti di Panja, ini yang pertama.
Kedua, berkaitan dengan media massa dan pemberitaan, karena saya membedakan antara Media Massa, Pemberitaan, implikasinya nanti di belanja iklan, didalam Rancangan Undang-undang ini hanya menyebutkan pemberian kesempatan yang sama itu hanya untuk RRI dan TVRI. Karena itu menurut pandangan F-KB seyogyanya memberikan kesempatan yang sama itu tidak pada media massa layanan publik, tetapi juga pada TV-TV Swasta yang kita tau corporate dan sindikasinya yang kita lihat di Indonesia itu. karena itu F-KB menyetujui apabila tentang program kampanye terstruktur oleh Mass Media itu tidak hanya diberikan oleh layanan, media massa layanan publik, tetapi juga oleh TV Swasta, sehingga TV Swasta itu memiliki rasa nasionalisme, tidak hanya menjual iklan atau prime time-nya dengan demikian dia mendapatkan dana, tetapi dia harus dipaksa untuk menjadikan instrumen untuk melakukan pendidikan politik kepada warga bangsa ini.
F-KB tidak melihat itu diberikan kesempatan yang sama, hanya TVRI dan TV itu. implikasi dari pemberian media massa yang sama itu, maka F-KB mengusulkan ada batas atas belanja kampanye, jadi jangan diberi kebebasan tanpa batas sebuah partai yang mendapatkan fund rissingnya sangat luar biasa, sehingga terjadi liberalisasi dalam konteks kampanye, sehingga menguasai begitu banyak seluruh media massa. Oleh karena itu F-KB mengusulkan ada batas atas, batas atas belanja kampanye itu, sebetulnya sudah disampaikan oleh ternan-ternan dari PDIP, misalkan tidak melebihi jumlah pemilih dikali berapa, ini yang benar sebenarnya, jumlah pemilih dikali berapa, tetapi yang sekarang adalah jumlah kursi dari berapa, mustinya untuk pemilih bukan kursi, karena itu F-KB sangat rugi besar apabila jumlah bantuan dsb itu dihitung dari kursi bukan pemilih, sudah kursinya kalah bantuannya juga dihilangkan Bapak Menteri, ini juga tidak adil, ini proporsional, kembali lagi. Jadi, sekali lagi jangan ada al akalun al akali, itu tidak boleh. Jadi kaitannya media massa beri kesempatan yang sama, swasta maupun tidak swasta diberikan program-program dan diberi belanja batas atas, ini yang kedua.
Ketiga, iklan juga demikian, karena itu di DIM No. 546 F-KB mengusulkan setelah pemberitaan memberikan kesatuan yang sama, juga terhadap belanja iklan, ini belanja iklan, perlu ditambah di DIM No. 546. Selanjutnya terhadap, karena ini ada unsur pendidikan politik dan nasionalisme, tidak saja oleh Anggota, karena itu pemberian atau sumbangan itu bisa dilakukan oleh corporate maupun perorangan. Untuk mengukur sejauhmana seseorang atau pengusaha, atau individu atau simpatisan itu memberikan rasa simpatik kepada Partai tertentu, F-KB
mengusulkan agar seluruh sumbangan oleh corporate maupun individu itu bisa diakses langsung melalui Bank tertentu.
Di Negara-negara yang sudah maju seperti Amerika, Federal Election itu bisa mengakses hari ini siapa yang masuk, artis mana yang bisa menyumbang Partai Demokrat, Partai Republik, dan juga kita akan ketahui Pengusaha mana memberikan sumbangan kepada Partai X, Y, Z, jangan-jangan semua partai itu diberikan invest sekian-sekian. Menurut saya ini harus diukur, pengusaha itu harus ada unsur nasionalismenya dan unsur keberpihakannya, jangan sampai menangnya sendiri, siapapun pengusahanya dia cincai dan selalu menang, jadi harus ada dari awal dididik seperti itu, kalau itu disetujui saya pikir tanggungjawab Pemilu itu tidak hanya oleh Partai, tetapi juga oleh pengusaha-pengusaha seluruhnya itu.
Jadi, menurut saya bisa diakses, misalkan PDIP Nomor Accountnya berapa, Golkar berapa paswordnya diberikan oleh KPU, diakses, sehingga dengan demikian tidak akan terjadi jumlah atau budget yang tidak terduga bisa diketahui lewat ini, di Amerika bisa diketahui lewat ini, artis mana, kepada Partai mana itu bisa diketahui, jadi bisa diakses. ltu yang Lippa Group itu.
Terakhir, berkaitan dengan apakah boleh menyebut nama Calon Presiden atau Wakil Presiden didalam kampanye Pemilu, menurut saya boleh, karena ini bagian dari sebuah magnitud sebuah partai yang intinya itu untuk mempengaruhi massa, jadi tidak mungkin kampanye yang tidak mempengaruhi, mempengaruhi itu salah satunya adalah figure, oleh karena itu F-KB membolehkan dan apabila pada tempatnya partai-partai dalam kampanye itu boleh menyebut Calon Presiden atau Wakil Presiden atau sudah terlihat koalisi mana kira-kira pada Pemilu Presiden kedepan, toh penetapannya nanti pada Pemilihan Presiden, tetapi rancangannya itu sudah ketahuan, oh ini nasionalis ketemu religius, demokrat, PKB religius dan nasionalis jadi ketemu.
Saya pikir itu Pimpinan, ada lima point yang saya pikir perlu dicermati dalam kampanye dan lebih jelasnya nanti dibahas didalam Panja, lebih jelasnya mahan maaf.
Terima kasih,
Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. KETUA RAPAT:
Selanjutnya PKS.
AGUS PURNOMO, SIP/F-PKS: Bismilahirohmanirohim,
Terima kasih Ketua,
Yang kami hormati dari Pemerintah,
Pada umumnya saya setuju dengan program Pemerintah, tetapi kita merencanakan untuka da DIM susulan khusus untuk urusan kampanye, jadi untuk pendahuluan kita menyangkut tentang masalah pembedaan antara Lembaga Penyiaran Publik dengan Lembaga Penyiaran Swasta. Jadi dalam prakteknya sebenarnya dua lembaga itu sama-sama menggunakan ruang publik, jadi untuk memperoleh ruang publik itu diatur didalam komisi penyiaran, mungkin Undang-undang penyiaran, bukan Komisi Penyiaran.
Jadi, kita melihat bahwa ada yang belum singkron antara satu sisi pengaturan kita tentang kampanye, yang keduanya adalah tentang masalah waktu iklan, jadi mungkin kita perlu fix antara presentase berapa maksimal partai itu berkampanye satu hari, jadi didalam Undang-undang penyiaran itu waktu siaran iklan niaga untuk swasta paling banyak 20%, jadi saya menduga kategori iklan kampanye politik itu masuk dalam kategori bisnis dan ini saya kira tidak tepat, karena kita masuk didalam publik sektor dan itu kemudian saya kira perlu diatur.
Kemudian untuk Lembaga Penyiaran Publik sebagaimana punya TVRI, TVRI itu 15% boleh untuk iklan, waktu siaran layanan masyarakat swasta itu paling sedikit 50% dari total siaran, sementara untuk publik 30%, kita masih mempermasalahkan dua hal ini, tentang pendefinisian satu sisi adalah Lembaga Penyiaran Publik yang walaupun itu atas nama Undang-undang, keduanya Lembaga Penyiaran Swasta, karena didalam prakteknya mereka sama-sama menggunakan gelombang yang itu sebenarnya ada di Menkoinfo atau apapun namanya, atau Menteri yang lain.
Usul Ketua, adalah mungkin kita perlu berbicara lebih fix tentang berapa prosentase total dari sebuah Partai dia bisa beriklan dari total jumlah waktu yang dimiliki oleh televisi itu, jadi terhadap 20% yang dialokasikan untuk iklan itu.
Kedua, adalah menyangkut tentang kampanye, jadi kampanye memang kita perlu fix-kan jangan kampanye secara umum, tetapi ini kampanye untuk memilih wakil rakyat, saya mengusulkan untuk kampanye itu, atau kami rencananya kalau mengusulkan, ini kampanye politik, sudah fix kampanye politik, sehingga mungkin kita akan mulai dari suNeysing persiapannya, sampai terakhir mungkin nanti election atau pemilihan. Karena itu kemudian masalah pembatasan waktu saya kira itu bisa lebih banyak, jadi mereka itu berhak untuk mereka melakukankan kampanye sejak persiapan mereka untuk pencalonan, dari mulai pencalonan di internal partai, mereka boleh beriklan, sampai kemudian di tahapan terakhir adalah pemilihan. Hal inilah yang perlu kita atur secara detail karena sebenarnya detail-detail itu masalah iklan atau masalah kampanye terbuka itu masuk didalam tambahan, kalau kemungkinan nanti kita, bukan kemungkinan, kita fix akan melakukan untuk adanya tahapan kampanye, jadi tidak hanya kampanye secara umum saja, kemudian diatur juga kampanye menyangkut tahapan dari setiap proses rekrutmen dari pejabat politik itu. ini yang rencananya akan kita usulkan, baru nanti DIM-nya akan, mohon maaf baru sampai disini dulu.
Terima kasih,
Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. KETUA RAPAT:
Terima kasih PKS,
Selanjutnya BPD belum hadir, PBR. H. BAHRUM R. SIREGARIF-PBR:
Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, Yang terhormat Pimpinan,
Bapak Menteri beserta seluruh jajarannya, Rekan-rekan Anggota Pansus,
Terhadap inti apa yang disampaikan bagaimana tadi oleh Pimpinan, secara umum PBR menganggap itu tetap, karena disini yang dinyatakan adalah kampanye Pemilu, pengertian F-PBR kampanye itu untuk kepentingan Pemilu, jadi bukan untuk kepentingan lain, jadi harus jelas diatur, yang tadi oleh F-KB dikatakan tadi terstruktur atau khusus, mungkin pengertiannya itu untuk membedakannya, karena pengertian kami kampanye ini harus diatur, dia berkaitan dengan Pemilunya sendiri, harus ada masa waktunya, harus ada metodanya, dan ada hal-hal yang dibolehkan ada yang tidak.
Kami sependapat dengan apa yang tadi disampaikan, Lembaga Penyiaran oleh F-KB, tidak hanya Lembaga Penyiaran Publik yang perlu diatur, saya rasa seluruh Lembaga Penyiaran, apakah Lembaga Penyiaran Swasta, Radio Komunal, ini perlu diatur, karena Pemerintah disini sebenarnya bisa mengatur hal tersebut, karena ijin frekuensi sebenarnya masih ditangan Pemerintah, jadi karena selama mereka bekerja atau memancarkan siarannya di Republik ini, harusnya mereka bisa diaturan-aturan yang tidak terlalu mengikat, sehingga mereka bisa berkiprah dalam pelaksanaan Pemilu ini.
Panja.
Kemudian hal-hal lain, apabila ada tambahan F-PBR akan menyampaikan pada saat Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
KETUA RAPAT: PDS tidak ada, Baik.
MUSTOKOWENI MURDI, SH/F-PG:
Ada tambahan boleh Bapak, masih menyambung yang tadi, ternyata itu sampai kebawah, kami mengawali lagi. Pertama, masalah kampanye karena sesuai dengan ketentuan umum, itu sudah dijelaskan disitu Golkar sependapat, masalah kampanye, jadi seperti contoh, di DIM No. 471 disini F-PG kata pelaksana kampanye diganti dengan peserta Pemilu, jadi pada dasarnya siapa
yang melakukan kampanye Pemilu, itu adalah peserta Pemilu, disini nanti runtut pada Pasal-pasal selanjutnya Golkar mengusulkan demikian.
Kemudian kampanye Pemilu itu didukung oleh petugas kampanye, disini Golkar juga mengusulkan bahwa petugas kampanye itu adalah sebagian dari peserta pemilu, jadi nanti juga runtut dari Pasal-pasal berikutnya.
Kemudian disini juga ada seperti DIM No. 475, kata-kata satgas, tetapi diganti dengan petugas lainnya, karena petugas lainnya juga bisa Polisi, bisa dari petugas(rekaman terputus) bukan ke Satgas. Kalau ke Satgas, itu kesannya Satgasnya Partai disini.
Kemudian, masalah materi kampanye. Golkar pada prinsipnya tetap disini. Kemudian, metode kampanye. Nanti kalau ada kurang, barangkali Golkar akan membahas dalam Panja. Metode kampanye, saya pikir Golkar masih sependapat dengan konsep Pemerintah. Hanya disini ada beberapa tambahan mulai dari DIM 485 Golkar tetap dan kemudian DIM 487 ada sinkronisasi dengan istilah sebelumnya yaitu diganti dengan Pasal 83.
Kemudian, pertemuan terbatas. Disini Golkar masih tetap dan hanya pertemuan terbatas tersebut dalam metode kampanye ditentukan, Golkar menghendaki supaya pertemuan tidak melebih dari 500 ratus orang dalam DIM 488.
Yang lainnya, Golkar masih tetap. Kemudian, masalah larangan kampanye. Disini Golkar mulai dari Dim 504 sampai DIM 505 konsistensi dengan DIM-DIM sebelumnya yaitu Pelaksana Kampanye menjadi Peserta Pemilu.
Kemudian DIM 509 juga masih tetap. DIM 510, Golkar memberikan catatan. Kata mengadu domba dicari padanan kata yang lebih tepat dimana barangkali rumusannya dirumuskan dalam Panja.
Selanjutnya, masalah larangan kampanye (DIM 552). Disini Golkar mohon keterangan karena ada kekhawatiran seolah-olah dan diterjemahkan PNS tidak boleh menghadiri kampanye. lni Golkar kalau menghadiri saja kan boleh, hanya dia sebagai peserta kampanye dan itu yang tidak boleh, tetapi kalau hadir dan melihat itukan boleh. Nah ini Golkar ingin mendapatkan penjelasan itu, yaitu dalam DIM 522.
Kemudian, DIM 527 huruf c di rancangan Warga Negara Indonesia tidak memiliki hak memilih. lni Golkar mengusulkan agar dihapus, karena Warga Negara tidak memiliki hak memilih dan ini mohon ada klasifikasi yang jelas. Kalau memang dicantumkan, nanti malah menjadikan masalah siapa Warga Negara Indonesia yang tidak memiliki hak memilih. Oleh karena itu, lebih baik tidak dicantumkan dalam Undang-undang tersebut. Golkar mengusulkan dihapus dan juga DIM 528 Pelanggaran terhadap larangan sebagaimana dimaksud ayat (1) huruf L dan huruf J serta pada ayat (2) merupakan tindak pidana Pemi/u, Golkar juga mengusulkan dihapus karena disini belum ada kejelasan klasifikasi tindak pidana Pemilu. Apakah tindak pidana Pemilu itu sama dengan tindak pidana. Misalnya, Tipikor dan sebagainya. lni Golkar ingin mendapatkan penjelasan masalah ini.
Kemudian, Bagian V "Sanksi atas Pelanggaran dan Larangan Kampanye". Disini di DIM 536, kata denda itu Golkar mengusulkan dihapus dan diganti dengan kata keputusan penghentian kampanye. Jadi, kata pelaksana kampanye ini konsistensi dengan usulan terdahulu. Jadi, disini pengertiannya denda dihapus tetapi diganti dengan kata keputusan penghentian kampanye. ltu usulan dari Golkar.
Sudah Pak ya? Nanti Pak, karena ini banyak sekali. Saya kira bisa kita usulkan di Panja, tetapi yang prinsip-prinsip sudah dikemukakan tadi.
Terima kasih. KETUA RAPAT: Baik, terima kasih.
Katanya ada geliat dari Pak Tjatur, silahkan Pak Tjatur. TJATUR SAPTO EDY, MT/F·PAN:
Sedikit Ketua.
Untuk Dim 702 dan 703, PAN mengusulkan bahwa sumber pendanaan untuk kampanye di awal-awal di DIM 702 sudah disebutkan bahwa sumbangan pihak lain yang jelas identitasnya. Jadi, itu penekanan dari PAN. Yang kedua, pendanaan itu juga disamping uang, barang atau jasa, juga bisa dalam wujud utang. Jadi, 2 hal ini yang prinsip dalam pendanaan Pemilu.
KETUA RAPAT: Ya, terima kasih.
Saya kira Fraksi-fraksi sudah menyampaikan pandangan dan pendapatnya serta usulannya terhadap DIM 466 sampai DIM 755 , saya kira banyak hal yang tadi disampaikan sampai pendefinisian iklan media atau kampanye media yang saya kira · tadi FPK akan menyampaikan juga pandangan dan usulan barunya. Saya persilahkan Pemerintah.
PEMERINTAH (DEPARTEMEN DALAM NEGERI): Pimpinan yang saya hormati; dan
Seluruh peserta pertemuan yang saya hormati pula.
Cukup banyak yang disampaikan oleh masing-masing fraksi yang kalau kami cermati tadi semuanya berangkat dari pengalaman kampanye selama ini. Jadi, pengalaman kemarin itu dijadikan suatu bahan bagaimana tentu dengan suatu semangat untuk memperbaiki pola kampanye ke depan tentu akan bisa kita akomodasikan bersama. Karena banyaknya seperti ini, tentu Pemerintah pun juga ingin memberikan suatu gambaran yang pasti nanti akan juga menjadi suatu gambaran umum dari rencana kita ke depan.
Memang nomor 1 substansi kampanye harus disamakan persepsinya. Kita sangat menyadari bahwa kampanye dilakukan karena parpol ingin memberikan pendidikan politik bagi masyarakat, karena itu domainnya Partai Politik. Kampanye juga bisa dikarenakan sebagai suatu momentum bagi peserta Pemilu untuk melakukan komunikasi dengan konstituen dan hanya denga kampanye mereka bisa bertemu langsung. Kampanye juga kita jadikan bentuk bagaimana kita mengembangkan partisipasi politik dari masyarakat itu. Jadi, substansi kampanye itu sebetulnya menurut Pemerintah seperti itu. Nah kalau itu dirasakan bersama, nah tentu tadi kalau ada yang menyarankan tidak perlu dengan Rapat Umum dan sebagainya, mengurangi konflik atau malam hari bisa diberikan, tetapi di sisi lain juga ada kerawanan-kerawanan yang muncul kalau memang dilakukan pada malam hari dan sebagainya, tentu ini merupakan sebuah dinamika yang kita alami bersama, tetapi pada prinsipnya Pemerintah sepakat bahwa kampanye itu dirumuskan bahwa kampanye kita sadari bersama sebagai 1 wahana untuk pembelajaran bagi masyarakat dan Pemerintah tidak akan masuk terlalu dalam, kita hanya memberikan suatu rumusan-rumusan yang kalau memang itu bisa membahayakan publik dan sebagainya, maka kita batasi itu. Jadi, kesana semangatnya Pak.
Kemudian, masalah Presiden dan Wakil Presiden. Kami juga mengetengahkan kembali bahwa RUU ini memang disusun dalam rangka RUU untuk membahas tentang Pemilu Anggota DPR, DPD dan DPRD. Kita juga mempunyai forum nanti pada waktu menyiapkan RUU tentang Pemilihan Presiden, apakah ini nanti akan diatur kesana? Nanti kita lihat semuanya, tetapi yang jelas adalah secara substansial kita pindahkan sana.
Kemudian, bagi Fraksi Golkar yang tadi menyampaikan contoh-contoh kecil memang ini perlu kita cermati bersama. Kadang-kadang ada yang sudah tertuang dari pasal-pasal yang lain belum terjawab misalnya. Misalnya, Partai Golkar menambahkan suatu substansi kalimat dengan kata-kata yang merupakan masyakarat pemilih. Ternyata kalau kita pelajari DIM-nya pada Pasal 92 ayat (2) sudah termasuk disitu pada DIM 476. Dengan demikian, yang kita bahas itu saling kait mengkait.
Kemudian, Fraksi PAN yang menyampaikan masalah jujur dan adil apakah valid atau tidak? Tetapi karena ini merupakan suatu ketentuan di dalam rangka penyelenggaraan pemilu, maka kami tetap eksplisit menyampaikan itu.
Hal-hal yang terkait dengan masalah yang sangat rumit tadi, namanya politik Pak ya memang kadang-kadang net cotta banget ya bukan politik. Kami sangat memahami sekali. Tadi lbu mengatakan bahwa PNS boleh atau tidak? Kalau sebagai pelaksana kampanye, tidak boleh dan itu jelas secara eksplisit. Nah kalau adil, boleh atau tidak? Tetapi menurut saya kasihan yang PNS Pak. Nanti kalau datang pas jam kerja, nanti bolos. Nanti kalau hadir dalam konteks oh ini PNS kok hadir kesana, kok rasanya tidak pas? Kalau menurut kami, ya biarkan PNS itu punya sikap politik, tetapi saya kira tidak perlu dieksplisitkan. Adil boleh dan kalau jadi pelaksana kampanye tidak boleh. Nanti hadir pun nanti ditawar, nanti kalau ekspilisit itu nanti malah kasihan PNS-nya. Saya kira Pemerintah lebih moderat, tidak mengurangi hak pilih PNS tetapi jelas pada waktu ekspresinya dikemukakan dengan secara fulgar seperti itu, biarkan dia memilih karena dia masih punya ketetapan hati PNS, tetapi kalau dibawa ke dalam yang lebih cetto, itu malah kasihan PNS-nya.
Kemudian, masalah yang berkaitan dengan kebebasan untuk melaksanakan kampanye. Saya kira kita sependapat, tetapi tentu dengan rambu-rambu yang pas bagaimana. Kemudian, masalah pembatasan atau pemberian kesempatan untuk bisa menggunakan media komunikasi untuk bisa digunakan dengan maksimal. Nah ini Pemerintah juga melihat bahwa tidak semua media massa dan media elektronik, media cetak itu mempunyai suatu kemampuan yang sama. Kalau dia untuk menghidupi dirinya perlu pasang tarif tinggi, tidak semuanya ikut. Jadi, sangat rumit dan paling tidak kalau memang disepakati ada waktu-waktu pemberian kesempatan ini ya nanti kita rumuskan bersama bagaimana yang baik, karena mereka pun ada unsur bisnisnya. Kalau bisnisnya laku keras, tentunya sangat menguntungkan tetapi kita sependapat bahwa akan ada pengaturan yang lebih dalam bagaimana bentuknya, prosentase dan sebagainya itu kita sepakati bersama untuk dibahas lebih dalam.
Kemudian, mengenai batas belanja kampanye yang tadi disinggung juga kalau belanjanya tidak diberikan akan rugi juga Pemerintah. Pemerintah juga merasakan demikian Pak. lnginnya kita itu sampai dengan tingkat daerah kita memberikan 1 bantuan partai politik sesuai dengan ketentaun yang berlaku, tetapi kalau masih ada konftik internal yang kita sendiri juga kerepotan menyampaikannya, ini juga tentunya melihat suatu kendala pemerintah dalam rangka memberikan dukungan. Nah inilah sebabnya nanti pada waktu mengatur Rancangan Undang-undang ini kalau bisa kita sepakati ada suatu yang konkrit berapa persen kita bicarakan dalam sisi yang lain.
Hal lain yang menyangkut dengan hukum dan sebagainya yang tentunya dari Ternan kami dari Menteri Hukam bisa memberikan penjelasan, tetapi pada prinsipnya karena berbagai masalah yang muncul tadi untuk penyempurnaan ke depan dan tidak mungkin kita bahas secara rincin karena saling kait mengkait, maka Pemerintah memang menyarankan untuk dibahas di dalam Panja nanti.
Terima kasih Pak.
PEMERINTAH (DEPARTEMEN HUKUM DAN HAM): Pimpinan dan Anggota Pansus yang kami hormati.
Masalah tindak pidana dan sanksi yang ada disini di desain supaya penyelenggara pemilu terlaksana dengan baik dan tertib. Jadi, mung kin ada definisi sanksi disin dan definisi tindak pidana yang berbeda dengan tempat lain, karena tindak pidana dan sanksi disini memang didesain untuk mensukseskan pemilu.
Oleh karena itu, jenis sanksi dan jenis tindak pidana disini sangat terkait pertama dengan waktu. Kalau barang itu dikatakan haram, selama masa kampanye. Di luar kampanye, dia tidak haram dan dia halal. Oleh karena itu, bahasa yang dipakai selama masa kampanye tidak boleh sehingga sering timbul sengketa Pak. Bagaimana kelakuan kampanye di luar kampanye yang sering disebut curi start? Nah itu tidak berlaku hukum kampanye disitu. Pertanyaannya adalah kalau begitu, orang bebas sebebasnya? Tolong anda pikirkan, karena hukum kampanye hanya berlaku di masa kampanye dan di luar kampanye tidak berlaku hukum kampanye. Kalau orang pasang poster atau pasang apa, jangan pakai hukum kampanye Pak dan mungkin Perda. Jadi, tidak ada istilah curi start karena hukum kampanye hanya berlaku dalam masa kampanye dan di luar itu tidak berlaku hukum kampanye melainkan berlaku hukum biasa. Jadi, terkait dengan waktu. Kedua, terkait dengan tempat. Ya mungkin dalam gedung itu haram, di luar halal. Jadi, dalam perumusan sanksi harus jelas tempat mana boleh melakukan sesuatu seperti Pak Pataniari biasanya, di mobil tidak boleh Pak, di rumah mungkin boleh (merokok). ltu tempat.
Lalu terkait siapa yang menegak hukumnya, apa cukup Panwas, apa Jaksa, apa Polisi boleh langsung? Masing-masing tindak pidanannya nanti beda-beda.
Yang keempat, baru jenis dan berat sanksinya. Ada sanksi yang harus bayar denda, ada sanksi yang harus dihentikan kegiatan itu, ada sanksi yang tidak boleh melanjutkan ke berikutnya misalnya memalsukan surat-surat keterangan pencalonan, dia tidak hanya sekedar distop, dia tidak boleh lanjut ke langkah berikutnya, tetapi kalau larangan kampanye saja misalnya, dia hanya distop disitu dan kampanye berikutnya tetap boleh saja dia. Jadi, jenis-jenis sanksinya harus disesuaikan. Kemudian pengaruhnya dengan sikkuen berikutnya, apakah pelanggaran itu akan mempengaruhi sikkuen sesudahnya atau tidak. Nah ini memang harus dibicarakan secara simultan dan tidak mungkin disini. Tentu barangkali bagus juga Pak Menteri untuik dibahas di Panja.
Nah ada 1 yang tadi disampaikan oleh PDIP mengenai Pasal 6A "Konstitusi". Saya kira Pak Lukman masih ingat siapa pun masih ingat bahwa pasangan calon presiden dan calon wakil presiden diusulkan oleh parpol atau gabungan parpol sebelum pemilu. Asal muasalnya pada saat
itu karena di amandemen ingin supaya ada konstisensif pilihan rakyat antara presiden dengan DPR supaya produk pemilu ini bekerja bahu membahu melaksanakan tugas. ltu ide awalnya, tetapi dalam pembicaraan berikutnya ternyata parpol dan gabungan parpol harus mempunyai prestasi tertentu dan baru dia bisa mencalonkan presiden. ltulah yang disebut e/etora/ threshold dan mungkin 3%, 5%, 6%. Berubahlah konsep awalnya sebenarnya, ini dari Pak Jacob Tobing Pasangan Presiden dan Wakil Presiden didaftarkan, itu bunyi awalnya tetapi karena tidak mungkin didaftarkan karena masih harus harus melihat hasil pemilu legislatif berapa persen perolehan suaranya, diubahlah istilah didaftarkan menjadi diajukan. lnipun diajukannya nanti dianggap harus didaftar ke KPU, diubahlah kalimat itu menjadi diusulkan. Jadi, dilaunching namanya Pak dan boleh saja nama itu berubah. Mungkin misalnya PDIP mencalonkan Bu Mega, tetapi tidak mungkin berubah ke Pak Pataniari. ltu hanya semata-mata untuk, ya bagian dari kampanye. Ya itu ceritanya waktu di konstitusi dulu. Nah kita mau memperlakukan apa ini ya bergantung kepada Bapak dan I bu.
Saya rasa demikian Pak. KETUA RAPAT:
Ya, baik.
lbu/Bapak sekalian,
Kita sudah mendengarkan dan memang ada beberapa hal yang pnns1pnya untuk penegasan dan penyempurnaan. Misalnya, ketika tadi disampaikan soal curi start itu. ltu saya kira ada usulan untuk bagaimana waktu kampanye itu ketika sudah ditetapkan sebagai peserta pemilu. Jadi, tidak ada curi start. Karena curi start itu ada kata dia sudah sah menjadi peserta pemilu, tetapi belum boleh kampanye. Masalah ini saya kira banyak kami manfaatkan dan sering disebut curi start. Nanti kita akan lihat apa rangkaian sanksi. Nah ini juga media iklan tadi, kekhawatiran atau bagaimana sampai teman-teman wartawan khawatir justru sanksi pidana yang ada ke mereka ini bagaimana kita kok dipidana karena pemilu, yang dapat kursi politisi kok kami yang di penjara. Kira-kira begitu. Jadi, minta katakanlah tidak dalam ketentuan ini diatur tetapi pelanggaran kampanye ada memang sanksinya. Ada mulai dari penghentian, pelarangan dan sebagainya, apakah kaitannya memang, belum sampai ke tahapan berikutnya. Ya nanti kita dalami dan juga berkaitan dengan laporan kampanye, ini berapa lama. Ya ini apakah 30 hari cukup Akuntan Publik atau Polisi siapa yang nunjuk dan sebagainya dan bagaimana besaran sumbangan? Antara besaran sumbangan, tadi Pak Ali Masykur Musa menyampaikan belanja iklan sebetulnya ada pemikiran untuk menetapkan batas atas berapa uang atau belanja yangt boleh diuraikan khusus dalam kampanye. Ya saya kira nanti kampanye-kampanye iklan, karena di konsep 12 2003 sebetulnya soal kampanye iklan sudah mengarah atau memformat kepada rasa keadilan Pak Menteri. Saya kira semua diberikan kesempatan, ruang dan waktu yang sama untuk prime time di televisi, tetapi ketika tidak digunakan itu tidak boleh dibeli oleh peserta pemilu lainnya. ltu saya kira aturan mainnya yang sudah ada di Undang-undang No. 12. Ya, takut kalau boleh ya diborong semua. Ada yang juga jual space iklan, ini juga khawatir Pak, spacenya diberikan oleh KPU tetapi memang tidak digunakan tetapi dijual dan itu yang tidak boleh. ltu yang masuk kriminal juga. ltu bentuk-bentuk dan tidak juga merupakan aset untuk memborong kekhawatirannya tetapi juga kalau itu memang sengaja dikomersialkan hak politiknya. ltu juga sesuatu yang saya kira kita pikiran secara detail dan ini banyak tertuang di usulan DIM dari Fraksi-fraksi.
Dengan demikian, saya kira karena rangkaiannya itu, udah mau akhir Pak. Tidak, apa yang mau ditambah? Oh silahkan.
H. ASEP RUCHIMAT SUDJANAIF-PG:
Pak Menteri, tanpa mengurangi rasa hormat kepada Pak Menteri.
Saya ingin menyampaikan bahwa Golkar tadi sampaikan oleh lbu Mustokoweni, masalah PNS ini kami menganggap cukup penting. Karena apa? Karena kita sepakat bahwa PNS ini punya hak pilih dan menggunakan hak pilihnya. Ada lainnya PNS dengan TN I. TNI punya hak pilih, tetapi tidak menggunakan hak pilihnya. Kami agak keberatan jika PNS itu sepertinya kan di daerah terjadi Hari Minggu mereka jalan melihat kampanye dan Hari Seninnya dipanggil oleh Kepala Daerah atau Kepala Bagiannya. Padahal mereka punya hak pilih. Saya melihat PNS ini potensial untuk menentukan hak pilihnya secara rasional dan inter kualitas yang bagus, tidak bisa lagi PNS digiring kepada suatu partai tanpa dia mengerti apa program partai itu. Kami tidak melihat PNS ini
adalah barang mati, kami tidak melihat PNS itu yang bisa saja diperintah untuk memilih 1 partai semata-mata atau dia punya kehendak politik terhadap 1 kekuatan saja, mereka adalah kaum intelektual yang patut dihargai dan biarkan mereka memilih secara bebas. Dengan demikian, mereka perlu menentukan sikapnya setelah mereka mengetahui bagaimana kualitas yang disampaikan secara programatis dari masing-masing partai dan untuk itu mereka perlu lihat kalau perlu. Ketika larangan mereka tidak boleh menghadiri kampanye/mendengar kampanye, barangkali perlu larangan juga mereka tidak boleh melihat televisi atau radio karena disitu ada kampanye. Jadi, mohon ini ada perumusan yang jelas. Bagi kami, PNS perlu dihargai dan mereka menentukan sikap politiknya karena mereka punya hak politik secara rasional dan tepat. Memang kami setuju tanpa menggangu jam kerja, kami setuju kalau mereka tidak menjadi jur kampanye/panitia kampanye. Kami setuju pada tingkat itu dan malah saya berpikir terlalu jauh. Kopri itu kalau perlu mengundang parpol mendengarkan programnya dan bukan mengganggu pekerjaan mereka, mereka harus tahu, mereka kaum intelektual, mereka punya derajat yang tinggi. Oleh sebab itu, kita perlu rumuskan secara mengambang dan kita perlu jelaskan apakah ini boleh mereka mendengarkan kampanye, boleh menghadiri kampanye atau tidak? lni Pak Menteri perlu ketegasan dalam hal ini.
Terima kasih. KETUA RAPAT: Pak Pastor silahkan.
PASTOR SAUT M. HASIBUAN/F·PDS: Terima kasih Pimpinan.
Setelah berdiskusi kiri dan kanan, ada inspirasi Ketua. Bapak Menteri yang saya hormati;
Rekan-rekan sekalian;
lbu/Bapak yang duduk di belakang, di atas.
Bahwa apa yang dikemukakan oleh Pemerintah tadi dalam bentuk netralitas PNS harus dihormati dan dihargai, sebab selama inikan kita semua tahu bahwa peran serta daripada PNS dan TNI/Polri begitu kuat. Kalau Pemerintah mengajukan hal yang positif seperti itu, kami yang kecil-kecil ini rasa dihormati, apa tidak perlu memikirkan bahwa jurdilnya itu sudah aman, lalu lugasnya sudah terjadi karena sudah terbatas, sudah diatur sedemikian rupa di dalam kampanye. Yang perlu kami sampaikan Bapak Ketua karena ini pandangan-pandangan yang terakhir untuk memasuki panja bahwa selain dari sistem pemilu dan dapil akan dimasukan pada panja, maka jangan lupa pada aturan peralihan ada usul dari PDS and PBR dalam aturan peralihan sebab kalau pada Undang-undang yang lalu sudah ditentukan bahwa ET-nya 3%, maka kami dari Fraksi yang kecil-kecilan yang dianggap berpotensi untuk ikut serta ya tentu kami mengusulkan kalau bisa 2% dan kalau bisa fraksi yang ada sekarang untuk langsung ikut dalam pemilu. lnilah masukan daripada kami supaya ikut dipanjakan aturan peralihan. Kira-kira begitu dan yang lain, saya kira Fraksi-fraksi besar disini sudah melakukan yang terbaik.
Terima kasih Pimpinan. KETUA RAPAT:
T erima kasih Pak Pastor.
Kita sedang membicarakan materi kampanye di Undang-undang, bukan event kampanye. Ya, kita ambil positif dan catat 2 kali itu. Pak Lukman dulu.
LUKMAN HAKIM SAIFUDDIN/F·PPP: Terima kasih Ketua.
lni menyangkut PNS, Fraksi kami tetap mengusulkan netralitas PNS itu betul-betul bisa ditegakan. ltulah kenapa ketika ada usulan bahwa PNS itu juga dimungkinkan untuk katakanlah hadir saja dalam sebuah event atau kegiatan kampanye, ini kita harus hati-hati betul karena kehadiran itu memiliki dampak yang tidak sederhana. Kita tahu PNS kita tidak hanya menyangkut budaya (culture), tetapi ada sejumlah ketentuan peraturan perundang-undangan yang harus tunduk birokrasi dimana pun dia harus tunduk ke atasannya. Jadi, kehadiran seorang Dirjen