• Tidak ada hasil yang ditemukan

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA"

Copied!
81
0
0

Teks penuh

(1)

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA

RISALAH RESMI RAPAT KOMISI V DPR RI

DENGAN MENTERI PUPR R.I., MENTERI PERHUBUNGAN R.I., DAN MENTERI DESA PEMBANGUNAN DAERAH TERTINGGAL

DAN TRANSMIGRASI R.I. Tahun Sidang : 2020-2021

Masa Persidangan : I

Rapat ke- :

Jenis Rapat : Raker Sifat Rapat : Terbuka

Hari, Tanggal : Senin, 31 Agustus 2020 Waktu : Pukul 13.00 s.d. 17.25 WIB

Tempat : Ruang Rapat Komisi V DPR RI (KK V) Gedung Nusantara, Jakarta

Ketua Rapat : LASARUS. Sos./Ketua Komisi V DPR RI / F-PDIP Sekretaris Rapat : Nanik Sulistyawati, S.A.P.

Acara : 1. Membahas Laporan keuangan Pemerintah Pusat APBN TA 2019;

2. Realisasi APBN TA 2020 sampai dengan bulan Agustus 2020;

3. Lain-lain.

Hadir : Menteri PUPR, Menteri Perhubungan DPR RI dan Menteri Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi RI

Hadir: 45 orang Anggota hadir , 1 orang anggota izin dan 1 orang anggota sakit dari 53 Anggota Komisi V DPR RI dengan rincian sebagai berikut:

A. Anggota DPR RI: PIMPINAN :

1. Lasarus, S.Sos, M.Si 2. Ir. Ridwan Bae

3. H. Andi Iwan Darmawan Aras.,SE.,M.Si 4. Hj. Nurhayati

(2)

PERJUANGAN:

10 orang Anggota dari 11 Anggota: 1. H. Herson Mayulu,S.IP

2. Hj. Sadarestuwati.,SP.,M.MA 3. Ir.Sudjadi

4. Sukur Nababan 5. Mochamad Herviano

6. Bob Andika Mamana Sitepu.,SH 7. Sarce Bandaso Tandiasik.,SH 8. H.M. Rifqinizamy Karsayuda 9. Jimmy Demianus Ijie

10. Bambang Suryadi, SH,MH 2. FRAKSI PARTAI GOLKAR:

5 orang Anggota dari 7 Anggota: 1. Drs. Hamka B Kady, MS

2. Dr. H. Gatot Sudjito, M.Si 3. H. Hasan Basri Agus 4. Ir. H. Anang Susanto.,M.Si 5. H. Tubagus Haerul Jaman, SE 3. FRAKSI PARTAI GERINDRA: 2 5 orang Anggota dari 6 Anggota:

1. Hj. Novita Wjayanti.,SE.,MM 2. Sudewo,ST, MT

3. Iis Edhy Prabowo.,S.Hum.,MM 4. Drs.H. Mulyadi.,MMA

5. Ir. Sumail Abdullah 4. FRAKSI NASDEM:

3 orang Anggota dari 4 Anggota: 1. Drs.H.Soehartono

2. Sri Wahyuni 3. Roberth Rouw

5. FRAKSI PARTAI KEBANGKITAN BANGSA 6 orang Anggota dari 6 Anggota:

1. Neng Eem Marhamah Zulfa Hiz, S.Th.I 2. H. Irmawan.,S.Sos.,MM

3. Ruslan M Daud

4. Sofyan Ali.,S.Ag.,SH.,M.Pd 5. H. Dedi Wahidi.,S.Pd

6. H. Syafiuddin, S.Sos

6. FRAKSI PARTAI DEMOKRAT: 5 orang Anggota dari 5 Anggota: 1. Willem Wandik, .S.Sos

2. H. Irwan, S.IP, MP

3. Drh. Jhoni Allen Marbun 4. Lasmi Indaryani.,SE

(3)

5. Ir.H.Ishak Mekki.,MM

7. FRAKSI PARTAI KEADILAN SEJAHTERA: 2 orang Anggota dari 4 Anggota:

1. H. Syahrul Aidi Maazat.,Lc.,MA 2. H. Suryadi Jaya Purnama, ST

8. FRAKSI PARTAI AMANAT NASIONAL: 4 orang Anggota dari 4 Anggota:

1. H.A. Bakri H.M. SE 2. Hj. Hanna Gayatri.,SH 3. H. Boyman Harun.,SH 4. Athari Ghauthi Ardi

9. FRAKSI PARTAI PERSATUAN PEMBANGUNAN:

1 orang Anggota dari 1 Anggota: 1. H. Muh Aras, S.Pd,MM

Anggota yang izin dan sakit:

1. Ir. Eddy Santana Putra.,MT (F-PGERINDRA)

2. Drs. H. Tamanuri.,MM (F-PNASDEM) B. PEMERINTAH:

1. Ir.M.Basuki Hadimuljono.,M.Sc.,Ph.D (Menteri PUPR)

2. Budi Karya Sumadi (Menteri Perhubungan RI)

3. Abdul Halim Iskandar (Menteri Desa PDTT RI)

4. Jhon Wempi Wetipo (Wamen PUPR) 5. Anita Firmanti (Sekjen PUPR)

(4)

KETUA RAPAT/KETUA KOMISI V DPR RI (LASARUS. S.Sos.,M.Si / F-PDIP):

Mohon izin Pak Wakil Ketua DPR Pak Rahmat Gobel. Assalaamu'alaikum Warrahmatullaahi Wabarakatuh, Selamat siang dan salam sejahtera bagi kita semua. Yang terhormat Wakil Ketua DPR RI, Pak Rahmat Gobel,

Yang terhormat Pimpinan dan Anggota Komisi V DPR RI baik yang hadir secara fisik maupun secara virtual,

Yang terhormat saudara Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat beserta seluruh jajarannya,

Saudara Menteri Perhubungan beserta jajarannya,

Saudara Menteri dan Wakil Menteri Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi beserta seluruh jajarannya.

Melalui Rapat Kerja hari ini, marilah kita panjatkan puji dan syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala limpah dan rahmat-Nya kepada kita semua sehingga kita bisa melaksanakan rapat pada siang hari ini sesuai dengan jadwal yang sudah kami sampaikan baik secara fisik maupun secara virtual.

Menurut laporan dari Sekretariat Komisi V DPR RI, saat ini Rapat Komisi V DPR RI telah diikui oleh 25 Anggota baik yang fisik maupun virtual dari 53 Anggota dan dari 8 unsur Fraksi yang berbeda sehingga telah memenuhi kuorum. Oleh karena itu sebagaimana ketentuan yang diatur dalam Pasal 281 Peraturan DPR RI tentang Tata Tertib, izinkanlah kami membuka rapat pada hari ini dan sesuai ketentuan Pasal 276 Ayat (1) Rapat Kerja Komisi V DPR RI pada hari ini dinyatakan terbuka untuk umum.

(RAPAT DIBUKA PUKUL 13.00 WIB)

Kami ucapkan terima kasih dan penghargaan kepada saudara Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Menteri Desa, Menteri Perhubungan, Menteri Desa PDT dan Transmigrasi yang telah memenuhi undangan kami dalam Rapat Kerja membahas mengenai Laporan Keuangan Pemerintah Pusat (LKPP) APBN Tahun 2019 dan Realisasi APBN Tahun Anggaran 2020 sampai dengan bulan Agustus 2020.

Pimpinan,

Anggota Komisi V DPR RI,

Saudara Menteri yang kami hormati.

Berdasarkan Surat Badan Anggaran Nomor

PW/09816/DPRRI/VIII/2020 tangal 20 Juli 2020, perihal Penyampaian Rancangan Jadwal Pembahasan RUU tentang Pertanggungjawaban atas Pelaksanaan APBN Tahun 2019 dan Rancangan Jadwal Pembahasan RUU tentang APBN Tahun 2021 dan sesuai jadwal Rapat Kerja Komisi-komisi dengan Mitra Kerja-nya. Maka hari ini Komisi V DPR RI melaksanakan Rapat

(5)

Kerja dengan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Menteri Perhubungan dan Menteri Desa PDT dan Transmigrasi.

Sesuai dengan mekanisme yang diatur dalam Undang-undang Republik Indonesia Nomor 42 Tahun 2014 tentang Perubahan atas Undang-undang Nomor 17 Tahun 2014 tentang Majelis Permusyawaratan Rakyat, Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Pasal 98 Ayat (2) huruf d serta Peraturan Tata Tertib DPR RI Pasal 59 Ayat (2) huruf h dinyatakan bahwa tugas Komisi dalam bidang anggaran meliputi; diantaranya mengadakan pembahasan laporan keuangan negara dan pelaksanaan APBN.

Sebagaimana kita ketahui Laporan Hasil Pemeriksaan BPK RI atas LKPP APBN Tahun 2019 terhadap Kementerian PUPR, Kementerian Perhubungan dan Kementerian Desa PDT dan Transmigrasi adalah sebagai berikut:

Satu, berdasarkan Laporan Hasil Pemeriksaan BPK terhadap LKPP Tahun 2019 Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat mendapat opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP). Ya tepuk tangan dulu buat Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat. Sedangkan realisasi anggaran tahun 2020 sampai dengan 30 Agustus 2020 sebesar 48,13%.

Yang kedua, berdasarkan Laporan Hasil Pemeriksaan BPK terhadap LKPP Tahun 2019 Kementerian Perhubungan mendapat opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP). Sedangkan realisasi anggaran tahun 2020 sampai dengan 31 Agustus 2020 sebesar 45,27%.

Yang ketiga, berdasarkan Laporan Hasil Pemeriksaan BPK terhadap LKPP Tahun 2019 Kementerian Desa PDT dan Transmigrasi mendapatkan opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP). Sedangkan realisasi anggaran tahun 2020 sampai dengan 26 Agustus 2020 sebesar 55,55%.

Oleh karena itu dalam kesempatan Rapat Kerja hari ini, Komisi V DPR RI hendak mendapatkan penjelasan yang komprehensif terkait dengan Laporan Keuangan Pemerintah Pusat APBN Tahun 2019 Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Kementerian Perhubungan dan Kementerian Desa PDT dan Transmigrasi serta Realisasi APBN Tahun 2020 sampai dengan bulan Agustus 2020.

Saudara yang kami hormati.

Demikian pengantar dari kami untuk rapat kita pada siang hari ini. Selanjutnya saya persilakan kepada saudara Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat. Nanti kesempatan yang pertama, selanjutnya nanti Menteri Perhubungan dan yang terakhir nanti dari Menteri Desa PDT dan Transmigrasi untuk menyampaikan paparannya sesuai dengan jadwal rapat kita pada hari ini.

(6)

Kepada teman-teman sekalian, saya menyampaikan hari ini agenda kita adalah terkait dengan LKPP Tahun 2019 dan Realisasi Anggaran Tahun 2020. Terkait dengan program, usulan dan seterusnya untuk 2021 kita lusa hari Rabu akan ada Raker. Jadi nanti kita supaya kita fokus hari ini kepada LKPP dan serapan, mengingat memang saya harus menggunakan waktu seefektif mungkin di tempat ini dalam situasi yang memang harus kita sama-sama sikapi bersama-sama. Semakin cepat kita selesai, semakin baik pak situasinya di lingkungan kita di sini sekarang. Jadi supaya kita bisa fokus bukan lebih cepat lebih baik, tapi lebih cepat tidak boleh mengurangi makna dan isi rapat kita. Nah untuk khusus hari ini kita bicara tentang LKPP dan serapan. Program nanti kita bahas lusa Raker pada hari Rabu nanti.

Demikian saya persilakan saudara Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat untuk mempersingkat waktu untuk menyampaikan paparannya.

Waktu dan tempat kami persilakan.

MENTERI PUPR RI (Ir. MOCHAMAD BASOEKI HADIMOELJONO, M.Sc., Ph.D.):

Assalaamu'alaikum Warrahmatullaahi Wabarakatuh. Bapak Wakil Ketua DPR,

Ketua dan Wakil Ketua Komisi V DPR RI yang terhormat, Ibu Bapak Anggota Komisi V DPR RI yang saya hormati.

Pertama, saya ingin mengapresiasi Bapak Ketua yang telah mengarahkan agar kita fokus dan memang lebih cepat ya lebih baik. Karena kondisinya bukan soal substansi, memang kondisinya yang di media kan banyak sekali disampaikan.

Bapak Ibu sekalian yang kami hormati.

Ada tiga LHP BPK RI atas Laporan Keuangan Kementerian PUPR 2019. Pertama Nomor 8 Tahun 2020 tentang Laporan Keuangan, kemudian Nomor 8B dan 8C tentang LHP-nya sendiri. Kami ingin melaporkan ketiga LHP tersebut.

Berdasarkan Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) BPK RI, Laporan Keuangan Kementerian PUPR Tahun 2019 Kementerian PUPR memperoleh opini Wajar Tanpa Pengecualian dari BPK RI. Langkah-langkah strategis yang telah ditempuh Kementerian PUPR dalam memperoleh opini WTP Tahun 2019 adalah sebagai berikut:

Pertama, melakukan revaluasi aset. Telah dilakukan penyelesaian nomor urut pencatatan untuk 95% dari total nilai aset yang lebih dari 5 Miliar, sehingga nilai aset kementerian PUPR bertambah dari semula 915 Triliun pada tahun 2018 menjadi 1.896 Triliun pada tanggal 31 Desember 2019. Pada Desember 2020 akan diselesaikan pula 253.990.999 nomor urut

(7)

pencatatan senilai 205 Triliun untuk aset yang kurang dari 5 Miliar. Yang pertama tadi yang lebih dari 5 Miliar, sekarang kami fokus di nilai aset yang kurang dari 5 Miliar.

Kedua, pencatatan dan pelaporan aset dan kewajiban jasa konsesi. Kementerian PUPR berkoordinasi dengan Komite Standar Akuntansi Pemerintahan dalam penyusunan kebijakan akuntansi dan pedoman lain yang terkait dengan pencatatan dan pelaporan aset jasa konsesi dan kewajiban jasa konsesi. Ini yang berhubungan dengan aset yang diserahkan yang dikelola oleh BUJT di jalan tol. Kementerian PUPR berkoordinasi dengan Dirjen Kekayaan Negara Kementerian Keuangan untuk melakukan inventarisasi dan penilaian atas aset dan kewajiban yang terkait dengan jasa konsesi.

Yang ketiga, Kementerian PUPR melakukan pengelolaan dan penatausahaan BMN untuk diserahkan kepada masyarakat yang pertama adalah hibah BMN (Barang Milik Negara) dengan nilai total 105 Triliun dan progress saat ini dalam tahap pemindahtanganan penghapusan sebesar 31,29 Triliun, 29,8%. Sedangkan sisanya sebesar 70,2% akan segera dilanjut...(rekaman suara terputus)

Untuk tahun 2020 direncanakan penyerahan BMN kepada Pemda atau masyarakat sebesar...(rekaman suara terputus) PISEW dan lain-lain yang memang diserahkan kepada masyarakat dan Pemda.

Yang kedua untuk pengelolaan dan penatausahaan BMN, Kementerian PUPR sedang melakukan inventarisasi dan verifikasi dokumen sumber BMN berdasarkan klasterisasi kesiapan atau prioritas dan lokasi BMN yang akan dihibahkan.

Kementerian PUPR akan melakukan percepatan proses serah terima hibah diawali dengan pengerjaan izin prinsip kepada Kementerian Keuangan untuk BMN dengan nilai di atas 10 Miliar serta berkoordinasi dengan calon penerima hibah sehingga seluruh hibah BMN direncanakan untuk diselesaikan pada tahun 2021. Ini penghapusan atau penyerahan melalui Kementerian Keuangan dan disetujui oleh Presiden sehingga membutuhkan waktu kami perkirakan 2 tahun.

Yang ke empat pencatatan aset tanah untuk proyek strategis nasional yang didukung oleh Lembaga Manajemen Aset L-MAN. Pada tahun 2019 Kementerian PUPR telah melakukan pencatatan atas PSN LMAN sebesar 32 Triliun. Meliputi tanah untuk 34 ruas jalan tol di Dirjen Bina Marga sebesar 30 Triliun 585 Miliar dan 16 bendungan di Dirjen SDA sebesar 1,7 Triliun. Selanjutnya akan dilakukan koordinasi dengan Kementerian Keuangan guna percepatan penetapan status penggunaan PSN-LMAN ini. Lanjut ini adalah penyerahan laporan keuangan dari BPK kepada Kementerian PUPR pada 23 Juli yang lalu.

Kemudian berdasarkan LHP BPK yang Nomor 8B dan 8C kami laporkan hal-hal sebagai berikut, tabel Halaman 7.

(8)

a. Temuan terkait sistem pengendalian intern sebanyak 21 butir dan 50 butir rekomendasi dengan nilai temuan sebesar Rp0,- tanpa nilai. b. Temuan terkait kepatuhan terhadap peraturan perundangan sebanyak

21 butir dan 49 rekomendasi dengan nilai temuan 83,97 Miliar. Ini yang menyebabkan kami mendapat WTP karena dinilai tidak materialize. Dari temuan kepatuhan terhadap peraturan perundangan. Pertama adalah pengelolaan PNBP sebelum atau belum sepenuhnya sesuai ketentuan pada Sekjen (Sekretaris Jenderal), Dirjen Cipta Karya, Bina Konstruksi, Pembiaya Infrastruktur, Badan Pengembangan Suatu Wilayah, dan BPSDM senilai 0,49 Miliar atau 490 Juta.

Kedua, pekerjaan fisik belanja modal dan belanja barang belum sepenuhnya dilaksanakan sesuai ketentuan pada Sekretaris Jenderal, Dirjen SDA, Bina Marga, Cipta Karya, Pembiayaan Infrastruktur, BPIW dan eks-Balitbang senilai 39 Miliar.

Ketiga pengenaan sanksi denda atas keterlambatan penyelesaian pekerjaan belaja modal dan barang pada Ditjen SDA, Bina Marga, Cipta Karya dan Perumahan senilai 19 Miliar.

Keempat jaminan pembayaran uang muka atau pelaksanaan belum diterima kas negara pada Ditjen Bina Marga, Ditjen Perumahan dan Ditjen Bina Konstruksi sebesar 19 Miliar dan tata cara penyelesaian sisa pekerjaan yang dilanjutkan ke tahun anggaran berikutnya belum sepenuhnya sesuai ketentuan pada Ditjen Perumahan senilai 5,46 Miliar.

Yang keempat, pokok-pokok temuan tindak lanjut atas LHP 2019 tadi adalah sebagai berikut tabel 8. Pengelolaan piutang tagihan penjualan angsuran pada Direktorat Bina Penataan Bangunan Ditjen Cipta Karya kurang memadai. Ini sudah ditindaklanjuti. Mohon maaf kalau berkenan cukup dibaca supaya lebih cepat.

Kemudian yang kedua temuannya adalah pengelolaan dan penatausahaan barang milik negara untuk diserahkan kepada masyarakat kurang memadai. Ini pada Sekretariat Jenderal, Ditjen SDA, Ditjen Cipta Karya dan Ditjen Penyediaan Perumahan. Ini kami telah membentuk Tim Satuan Tugas Percepatan Penyelesaian Pengalihan, ini yang kami sampaikan untuk yang tadi itu tindak lanjutnya.

Dan yang ketiga adalah penyajian hasil perbaikan penilaian kembali atau revaluasi BMN pada tahun 2017-2018 pada Laporan Keuangan Kementerian PUPR Tahun 2019 tidak akurat. Ini telah ditindaklanjuti pula di Sekretariat Jenderal.

Keempat, aset dan kewajiban jasa konsesi pada Ditjen Bina Marga belum didukung dengan dokumen yang memadai. Semua juga sudah ditindaklanjuti.

(9)

Kemudian yang “b” pokok-pokok temuan dan tindak lanjut atas LHP LK Laporan Keuangan Kementerian PUPR Tahun 2019 pada aspek kepatuhan terhadap peraturan perundangan tabel halaman 9. Temuannya adalah lima kami kelompokkan ini. Pengelolaan PNBP belum sepenuhnya sesuai ketentuan dan lainnya, ini di Sekretariat Jenderal Cipta Karya, Bina Konstruksi, Direktorat Jenderal Pembiayaan Infrastruktur, Badan Pengembangan Infrastruktur Wilayah dan BPSDM. Tahun 2021 nanti kami telah sepakat bahwa keseluruhan PNBP tidak akan kami gunakan tapi seluruhnya diserahkan pada APBN.

Kedua, pelaksanaan pekerjaan fisik belanja modal dan belanja barang belum sepenuhnya dilaksanakan sesuai ketentuan. Ini Ditjen Sumber Daya Bina Marga dan CIpta Karya. Kami pun juga sudah melakukan penyetoran, kemudian untuk sisanya secara bertahap nanti disetorkan dan akan selesai pada tahun 2021.

Ini semua pejabat yang akan diangkat sudah menandatangani pernyataan bahwa akan menyelesaikan tunggakan-tunggakan temuan baik BPKP, BPK maupun Inspektorat Jenderal.

Pengenaan sanksi denda atas keterlambatan penyelesaian pekerjaan belanja modal dan belanja barang di Ditjen SDA, Bina Marga, Cipta Karya dan Penyediaan Perumahan ini juga sudah ditindaklanjuti.

Kemudian jaminan pembayaran uang muka, pelaksanaan jaminan pembayaran uang muka maupun jaminan pelaksanaan belum diterima kas negara. Saya kira ini telah dilakukan penyetoran-penyetoran.

Yang kelima tata cara penyelesaian sisa pekerjaan yang dilanjutkan ke tahun anggaran berikutnya belum sepenuhnya sesuai ketentuan. Telah diturunkan surat teguran dari Dirjen pada Satker dan PPK untuk percepatan tugas dan pengenaan denda keterlambatan penyelesaian fisik.

Ibu Bapak sekalian, demikian tadi yang untuk laporan keuangan tahun 2019 audited BPK RI.

Yang kedua kami laporkan Realisasi APBN tahun 2020 hingga bulan Agustus 2020. Pada gambar halaman 12 alokasi pagu awal 2020 adalah 120,21 Triliun, kemudian ada perubahan realokasi anggaran menjadi 75,63 Triliun, berkurang 44,58 dalam rangka refocusing untuk Covid. Kemudian ada luncuran pinjaman hibah luar negeri dan percepatan SBSN bertambah 8,39 Triliun menjadi 84,02 Triliun.

Kemudian ada tambahan anggaran ini tadi yang sampai dengan tambahan anggaran untuk pemulihan ekonomi nasional, baik untuk prioritas nasional, untuk exit maupun kawasan industri sebesar 1,67 Triliun. Jadi total anggaran PU yang harus dipertanggungjawabkan pada tahun 2020 adalah 85,70 Triliun.

(10)

Kemudian halaman 14 Realisasi Anggaran Kementerian PU hingga 30 Agustus 2020 yaitu progress keuangan 48,13% atau 41,17 karena ada tambahan tadi 85 hingga persentasenya hanya sedikit naik 48,13%. Progress fisiknya 48,15%.

Kemudian tabel halaman 16 prognosis penyerapan halaman 15. Prognosis penyerapan keuangan terhadap hibah PUPR tahun 2020 sebesar 83,62 Triliun ini prognosisnya, 97,58% dari keseluruhan pagu 85,70 Triliun. Perkiraan sisa anggaran sebesar 2,08 Triliun atau 2,42% terdiri atas; belanja pegawai, gaji, kemudian sisa loan dan SBSN yang memang tidak bisa diserap.

Kemudian alokasi kegiatan padat karya tunai halaman 16 yang sebelumnya adalah 11,3 Triliun karena ada tambahan untuk PEN sebesar 1 Triliun dalam rangka perbaikan 5.000 KM drainase jalan nasional. Jadi sekarang di seluruh provinsi 34 provinsi kami membuat drainase jalan nasional sepanjang 5.000 KM dengan tambahan anggaran Rp1 Triliun, ini sekarang sudah mulai bekerja. Mudah-mudahan bapak-bapak bisa mengamati di lapangan.

Dengan rencana serapan tenaga kerja jadi menjadi 12,32 Triliun dengan rencana serapan tenaga kerja sebesar 638.990 orang. Jadi serapan tenaga kerjanya dari padat karya sebesar 12,32 Triliun diperkirakan sebesar 638.990 orang. Progress hingga tanggal 29 Agustus progress keuangan 58,14%, 7,16 Triliun dan progress serapan tenaga kerja dari padat karya sebesar 402.449 orang dari 638.990 orang yang direncanakan.

Lanjut, upaya-upaya percepatan realisasinya pertama adalah mempercepat pelaksanaan padat karya agar tepat waktu dan tepat sasaran untuk penyerapan triwulan keempat dan triwulan ketiga. Jadi dipercepat padat karya yang seharusnya dikerjakan triwulan keempat kita tarik ke triwulan ketiga. Kemudian melakukan revisi DIPA untuk pemanfaatan anggaran yang berpotensi tidak terserap.

Jadi kami juga menyisir program-program atau yang tidak dapat dimanfaatkan direvisi untuk kegiatan yang membutuhkan keuangan. Mempercepat pemanfaatan sisa lelang untuk program prioritas, semuanya masih dalam satu program. Karena harus lewat program pasti akan minta persetujuan dari Komisi V DPR. Yang keempat mempercepat belanja pencegahan Covid-19, namun juga memastikan pelaksanaan pekerjaan sesuai target pekerjaannya.

Lanjut, saya kira ini menjadi lampiran saja, semua ada di depan bapak- bapak. Lanjut, ya saya kira ini ada alokasi tambahan anggaran yang tadi satu koma ini kronologis dari tambahan anggarannya.

Lanjut, terus ini sekilas saja padat karya yang sedang dikerjakan. Lanjut, lanjut, terus, terus ini irigasi, terus ini sungai, terus irigasi rawa, terus ini yang coba kembali, kembali dulu, kembali ini adalah terus terus. Terus ini bapak-bapak sekalian ini yang kami di irigasi rentang di Indramayu, ada

(11)

sekitar 3 Triliun irigasi di 9 paket. Namun untuk per 3 bulan pertama kami minta tidak menggunakan alat berat. Jadi kita ganti dulu dengan orang. Mereka pakai seragam karena masing-masing paket pekerjaan ini di oleh yang mempunyai paketnya dilengkapi dengan seragam. Jadi ini juga cara bukan maksudnya ini adalah program reguler, tapi karena mengingat kebutuhan lapangan kerja kita jadikan untuk padat karya.

Lanjut, ini juga yang OP jalan terus preservasi jalan terus, jalan pengecatan kita adakan untuk dicat jembatan-jembatan agar dapat menyerap tenaga kerja. Lanjut, ini yang revitalisasi drainase yang 5.000 KM di 34 provinsi. Semuanya dengan padat karya sekarang sudah mulai dan dengan Rp1 Triliun akan kita selesaikan September-Oktober ini harus sudah selesai.

Lanjut, sama ini juga untuk padat karya semua. Lanjut, lanjut, terus masih terus saja, terus.

Saya kira Ibu Bapak sekalian, Bapak Pimpinan, Bapak Wakil Ketua DPR, Ketua dan Wakil Ketua Komisi V DPR RI, Bapak-bapak sekalian, demikian laporan kami, kurang lebihnya kami mohon maaf.

Wassalaamu'alaikum warrahmatullaahi wabarakatuh. KETUA RAPAT (LASARUS. S.Sos.,M.Si / F-PDIP): Terima kasih Pak Menteri PUPR.

Selanjutnya silakan Menteri Perhubungan untuk menyampaikan paparannya, silakan pak.

MENTERI PERHUBUNGAN RI (BUDI KARYA SUMADI): Terima kasih Pak Ketua.

Yang terhormat Wakil Ketua DPR RI Bidang Korinbang, Pak Rahmat Gobel, Yang saya hormati Bapak Ketua,

Ibu Wakil Ketua dan Bapak Ibu Anggota Komisi V, Menteri PUPR,

Menteri Desa dan Hadirin sekalian.

Assalaamu'alaikum Warrahmatullaahi Wabarakatuh, Shaloom,

Om swastuastu, Namo Buddhaya, Salam kebajikan.

Tentu kita menyampaikan puji syukur kita bisa bertemu walaupun dalam suasana pandemi ini. Bapak Ketua, Bapak Wakil Ketua dan para Anggota Komisi V yang saya hormati dan Bapak Wakil Ketua DPR RI.

(12)

Dalam rangka pertanggungjawaban APBN, setiap kementerian lembaga wajib menyampaikan laporan keuangan sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari laporan keuangan pemerintah pusat. Sesuai dengan PMK.222 2016 laporan keuangan kementerian lembaga meliputi; laporan realisasi anggaran, neraca, laporan operasional, laporan tentang ekuitas dan catatan atas laporan keuangan.

Selanjutnya setelah kami melakukan penelitian dan pemeriksaan terhadap laporan keuangan yang telah kami sampaikan, maka berdasarkan surat BPK Nomor 19LHP15/0205/2020, 15 Juni 2020 tentang Laporan Hasil Pemeriksaan Laporan Keuangan Pemerintah Tahun 2019 Alhamdulillaah Kementerian Perhubungan pada tahun 2019 kembali memperoleh opini Wajar Tanpa Pengecualian. Ini merupakan capaian predikat opini WTP yang ketujuh secara berturut-turut sejak tahun 2013 dan ini menjadi motivasi kami Kementerian Perhubungan untuk meningkatkan kinerja dan akuntabilitas dalam penatakelolaan keuangan di masa mendatang.

Bapak Wakil Ketua DPR RI, Bapak Ketua,

Ibu Wakil Ketua,

Para Anggota Komisi V yang saya banggakan.

Sebagai wujud pertanggungjawaban kami terhadap pengelolaan anggaran tahun 2019, izinkan saya menyampaikan Ikhtisar Laporan Keuangan Kementerian Perhubungan sebagai berikut.

Pertama untuk Laporan Realisasi Anggaran 2019. Bahwa satgas Menteri Keuangan tanggal 18 Oktober 2018 tentang Penyampaian Pagu Alokasi Anggaran Kementerian 2019 sebanyak 44,3 Triliun dan dalam kesempatan ini kami sampaikan dicapai suatu penyerapan sebanyak 89,4% atau 39,6% suatu realisasi yang meningkat 5% dibandingkan tahun 2018.

Kedua mengenai neraca dan ekuitas Kementerian Perhubungan 2019. Jumlah aset mengalami peningkatan sebanyak 515 Triliun pada tahun 2019 dibandingkan 2018 sebanyak 241 Triliun. Kemudian kewajiban juga meningkat 2019 menjadi 584 Miliar dibandingkan 2018, 479 Miliar. Terakhir jumlah ekuitas 2019 sebanyak 513 Triliun atau mengalami kenaikan yang sebelumnya 240 Triliun.

Ketiga, laporan operasional Kementerian Perhubungan tahun 2019. Dapat disampaikan bahwa defisit kegiatan operasional sebanyak 31 Triliun atau naik sebanyak 23 Triliun. Sedangkan kegiatan non-operasional mengalami defisit 542 setelah pada 2018 mengalami surplus sebanyak 261 Miliar. Dari dua kegiatan tersebut laporan operasional kegiatan defisit 31 Triliun defisit ini naik dibandingkan 2018 sebanyak 23,4 Triliun.

Terakhir catatan atas laporan keuangan Kementerian Perhubungan 2019. Setelah dilakukan peninjauan dan pemeriksaan oleh BPK RI, Kementerian Perhubungan memiliki catatan terhadap laporan terhadap realisasi anggaran neraca ekuitas dan laporan operasional.

(13)

Laporan realisasi anggaran hasil koreksi BPK menunjukkan penerimaan negara bukan pajak meningkat 1,24 Triliun antara lain berasal dari kenaikan pelayanan pengujian kendaraan bermotor. Disebabkan adanya implementasi elektronik, sertifikat registerasi uji tipe A atau shrut dan peningkatan PNBP jasa layanan umum pada Satker, BLU Kementerian Perhubungan. Selain itu persentase realisasi anggaran belanja pada tahun 2019 mengalami peningkatan 5,1%, terutama pada belanja modal.

Neraca dan ekuitas hasil koreksi BPK RI menyatakan bahwa kenaikan aset sebanyak 285 Miliar antara lain berasal dari kenaikan saldo kas BLU, piutang PNBP, kenaikan signifikan aset tetap sebanyak 298 Triliun sebanyak 119% dan ekuitas sebanyak 273 Triliun. Karena adanya inventarisasi dan penilaian revaluasi BMN tahun 2017-2019.

Lalu untuk kenaikan nilai transaksi antar entitas, transaksi dengan kementerian lain sekitar 21%. Hal ini antara lain disebabkan oleh transfer masuk aset tanah proyek strategis nasional dari Lembaga Manajemen Aset Negara LMAN, Kemenkeu dan hibah PT3D personil, peralatan, pendanaan dan dokumen dari Pemda pada Dirjen Perhubungan Darat berupa; terminal tipe A dan unit pelaksanaan perimbangan kendaraan bermotor.

Laporan operasional hasil koreksi BPK RI menyatakan mendapat PNBP aktual meningkat sebanyak 869 Miliar inline dengan peningkatan pendapatan PNBP secara cash sebanyak 14%. Sedangkan beban operasional meningkat Rp8,4 Triliun, terutama adanya peningkatan signifikan pada belanja pengadaan persediaan yang akan diserahkan kepada masyarakat, Pemda berupa kapal, bus, dermaga dan sejenisnya serta penyelenggaraan subsidi perintis, kapal ternak dan tol laut.

Lebih lanjut terdapat catatan kinerja penyerapan 2019 sebanyak 4,6 Triliun 10,3% dengan total anggaran 2019. Berdasarkan sumber kegiatan sisa anggaran yang paling besar yaitu SBSN sebanyak 2,9 Triliun, sisanya 1,7 Triliun berasal dari kegiatan-kegiatan rupiah murni, PNBP dan kegiatan lainnya.

Bapak Wakil Ketua DPR, Bapak Ketua Komisi V,

Ibu Wakil Ketua Komisi V dan para Anggota Komisi V yang saya hormati. Terhadap sejumlah temuan BPK atas Laporan Keuangan Kementerian Perhubungan telah ditindaklanjuti langkah-langkah sebagai berikut. Menindaklanjuti temuan revaluasi aset tetap, melakukan review dan pembenahan SOP terhadap barang yang akan diserahkan kepada masyarakat, penyampaian surat penagihan atau konfirmasi kepada APM terkait penerbitan SRUT atau SRUT tahun 2016-2017 baik yang belum maupun yang sudah dibayar.

Bapak Wakil Ketua DPR, Bapak Ketua Komisi V,

(14)

Ibu Wakil Ketua Komisi V dan Bapak Ibu Anggota Komisi V yang saya hormati dan saya banggakan.

Terkait dengan pembahasan mengenai realisasi anggaran sampai dengan Agustus 2020. Dapat kami sampaikan bahwa surat Menteri Keuangan 26 September tentang Penyampaian Pagu Alokasi Anggaran 2020 total anggaran Kementerian Perhubungan adalah 43,1 Triliun. Untuk saldo adalah sebanyak 611 Miliar, sedangkan luncuran dana SBSN PHLN sebesar 2,8 Triliun. Selanjutnya setelah melakukan penghematan sesuai dengan Perpres 54 menjadi 10,4 Triliun, maka pagu akhir tahun 2020 menjadi 36,1 Triliun.

Pada kesempatan ini kami sampaikan bahwa realisasi anggaran Kementerian Perhubungan 31 Agustus 2020 sebanyak 45 koma 2 % atau senilai 16,34 Triliun dan dalam prognosa kita akan rencanakan akan terjadi penyerapan sebanyak 93% kami sedang upayakan menjadi 96% apabila realokasi disetujui oleh Kementerian Keuangan.

Bapak Wakil Ketua DPR, Bapak Ketua Komisi V,

Ibu Wakil Ketua Komisi V dan Bapak Ibu Anggota Komisi V yang saya hormati.

Dalam pelaksanaan anggaran tahun 2020 ini terdapat sebuah kendala terutama pandemi Covid, menyebabkan penyerapan anggaran mengalami hambatan beberapa kegiatan antara lain kegiatan pendidikan, penelitian, pembangunan. Terutama dengan adanya kebijakan physical distancing, tidak hanya itu penerimaan PNBP dan BLU yang belum mencapai target sehingga penyerapan tidak dapat direalisasikan. Ditambah adanya beberapa faktor sebagian lahan masih dalam proses pembebasan, kegiatan fisik masih dalam proses perizinan dan pembayaran termin kegiatan tidak sesuai dengan...(rekaman terputus).

Untuk itu kami mengambil langkah-langkah percepatan penyerapan anggaran dengan satu merealokasi anggaran yang belum terserap. Saat ini ada 700 Miliar yang sedang kami usulkan kepada Kementerian Keuangan dan Kementerian Keuangan. Kedua, mengubah sumber pendanaan rupiah murni menjadi SBSN terhadap kegiatan yang terkena penghematan. Melakukan lelang tidak mengikat. Memonitor rencana penarikan dana sesuai jadwal. Berkoordinasi dengan instansi terkait terhadap permasalahan lahan dan perizinan. Optimalisasi sisa kegiatan terhadap pembangunan infrastruktur.

Bapak Wakil Ketua DPR, Bapak Ketua Komisi V, Ibu Wakil Ketua Komisi V,

Dan Bapak Ibu sekalian Anggota Komisi V yang saya hormati.

Demikian garis besar yang dapat saya sampaikan Laporan Keuangan Kementerian Keuangan 2019 dan Realisasi Kerja 2020. Akhir kata saya

(15)

ucapkan mohon maaf apabila ada hal yang kurang berkenan, kami siap menindaklanjuti saran dan arahan dari Bapak Ibu sekalian.

Wassalaamu'alaikum warrahmatullaahi wabarakatuh, Shalloom,

Om swastiastu, Namo Buddhaya, Dan salam kebajikan.

KETUA RAPAT (LASARUS. S.Sos.,M.Si / F-PDIP): Terima kasih Pak Menteri Perhubungan, Pak Budi Karya. Silakan Pak Menteri Desa PDT Transmigrasi.

MENTERI DESA, PDT DAN TRANSMIGRASI R.I. (Dr.(H.C). Drs. H. ABDUL HALIM ISKANDAR, M.Pd.):

Assalaamu'alaikum Warrahmatullaahi Wabarakatuh, Selamat sore dan salam sejahtera untuk kita semua, Shalloom,

Om swastiastu, Salam kebajikan.

Yang saya hormati Wakil Ketua DPR RI, Yang saya hormati Ketua,

Wakil Ketua dan para Anggota Komisi V DPR RI dan seluruh yang hadir. Pertama terima kasih atas waktu yang diberikan kepada kami dari Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi. Sebelum kami melaporkan secara umum Laporan Keuangan Tahun 2019, kami laporkan juga kepada para Pimpinan Anggota Komisi V dan juga kepada Wakil Ketua DPR RI bahwa terhitung per hari ini di Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Sekretaris Jenderal dijabat oleh Plt, karena Sekjen yang lama pindah ke Kementerian Ketenagakerjaan. Demikian untuk laporan awal.

Kemudian terkait dengan Laporan Keuangan sebagaimana tadi disinggung oleh Pak Ketua Komisi V bahwa Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi telah mendapatkan opini Wajar Tanpa Pengecualian dan pada posisi 31 Desember kita memiliki ekuitas, total ekuitas kita Rp3.438.288.220.906,- yang ini yang ini mengalami kenaikan 18,10% dengan ada kenaikan aset karena ada beberapa tambahan dari tahun 2018.

Kemudian terkait dengan kinerja sebagaimana kita laporkan di dalam halaman 14-15 dan 16 ini kita misalnya bidang desa dan pedesaan seluruhnya ini tercapai 100% sesuai dengan target awal yang ditentukan. Begitu juga untuk daerah tertinggal bidang daerah tertinggal, ini juga

(16)

memenuhi 100% capaiannya dari target yang telah direncanakan. Demikian juga untuk bidang transmigrasi. Alhamdulillaah semua mencapai 100%.

Sedangkan terkait dengan capaian kinerja dukungan manajemen tahun 2019, tata kelola kearsipan kita tetap pada peringkat 5, jadi sejak 2017 sampai 2019 tidak pernah naik tapi juga tidak turun. Kemudian nilai SPIP kita untuk 2019 belum keluar belum dirilis resmi dari BPKP mencapai 2,41.

Kemudian nilai reformasi birokrasi mengalami kenaikan dari 67,44 menjadi 71,04. Nilai SAKIP naik sedikit dari 62,08 menjadi 63,30. Kemudian standar pelayanan publik dari zona kuning 2017, 2018 menjadi zona hijau dan Alhamdulillaah Tukin 2017 60%, di 2019 tunjangan kinerja naik menjadi 70%. Mudah-mudahan di 2020 ini naik lagi karena dua syarat sedang dalam proses yaitu reformasi birokrasi ramping struktur kaya fungsi dan perubahan dari struktural menjadi fungsional.

Bapak Ketua,

Wakil Ketua Komisi V dan seluruh Anggota Komisi V yang kami hormati. Selanjutnya terkait dengan Realisasi Anggaran Kementerian Desa sampai dengan 26 Agustus. Pagu setelah realokasi Dua Triliun Lima Ratus Tujuh Puluh Tiga koma Nol Enam Lima Tujuh Ratus Sembilan Puluh Tiga Ribu. Pada hari ini posisinya pada 26 Agustus posisi serapan atau realisasi 55,55 sampai dengan 31 Agustus lebih tinggi lagi dibanding 26. Jadi setiap saat mengalami kenaikan.

Kemudian yang terkait dengan realisasi total dari 2018 ke 2019 sebagaimana ada di slide yang ke-12 tadi, kita progress-nya dari 2018 realisasinya ada di 92,73 sedangkan 2019 ada di posisi 96,21%.

Rincian terkait dengan tindak lanjut Laporan Hasil Pemeriksaan karena kita tidak cantumkan di sini tapi kita segera kirim sudah lengkap rekapnya. Termasuk tindak lanjut yang sudah dilakukan dengan ketentuan 60 hari setelah penyerahan LHP harus sudah selesai dan hari ini sudah melaksanakan seluruh rekomendasi yang sudah dikeluarkan oleh BPK. Yang intinya di LHP kita ada 32 butir yang harus ditindaklanjuti dan ini sedang dalam proses perjalanan nanti segera kita kirim rincian detilnya per item atau per butir rekomendasi.

Saya pikir itu Pak Ketua, Wakil Ketua dan para Anggota Komisi V laporan yang bisa saya sampaikan pada kesempatan hari ini.

Terima kasih.

Wassalaamu'alaikum warrahmatullaahi wabarakatuh. KETUA RAPAT (LASARUS. S.Sos.,M.Si / F-PDIP): Baik, terima kasih.

(17)

Demikian paparan dari Menteri PUPR, Menteri Perhubungan dan Menteri Desa PDT dan Transmigrasi.

Teman-teman sekalian seperti yang saya sampaikan tadi kita hari ini fokus kepada LHP dan serapan tahun 2020. Untuk program nanti akan kita alokasikan waktu khusus, lusa tanggal 2 September kita Raker lagi terkait dengan program tahun 2021.

Sesuai daftar yang ada di tempat saya, saya langsung saja.

INTERUPSI WAKIL KETUA KOMISI V DPR RI (Hj. NURHAYATI/F-PPPP): Interupsi Pimpinan.

KETUA RAPAT (LASARUS. S.Sos.,M.Si / F-PDIP): Silakan bu.

WAKIL KETUA KOMISI V DPR RI (Hj. NURHAYATI/F-PPP): Assalaamu'alaikum.

Memang di dalam agenda Raker kita sekarang adalah pembahasan Laporan Keuangan Pemerintah Pusat APBN Tahun Anggaran 2019, tetapi saya belum melihat Laporan Keuangan Tahun Anggaran 2019 di Kementerian PUPR pak. Laporan keuangan itu kan terdiri dari neraca keuangan, laporan operasional dan perubahan ekuitas. Nah neracanya kami tidak bisa lihat di sini. Jadi sebaiknya itu disajikan dan bisa kita bahas pak. Jadi saya minta Kementerian PUPR untuk melengkapi neraca keuangannya. KETUA RAPAT (LASARUS. S.Sos.,M.Si / F-PDIP):

Baik, saya rasa nanti Pak Menteri tinggal dilengkapi saja Pak neracanya nanti dikirim ke kami ya? Dilengkapi sebagaimana format yang ada di Menteri Perhubungan dan Menteri Desa PDT dan Transmigrasi begitu Bu Neng ya? Baik.

WAKIL KETUA KOMISI V DPR RI (Hj. NURHAYATI/F-PPP): Karena laporan keuangan itu terdiri dari tadi pak. KETUA RAPAT (LASARUS. S.Sos.,M.Si / F-PDIP):

Oke, baik tinggal dilengkapi nanti sampai dikirimkan ke kami. Baik, silakan Bu Sadarestuwati, bersiap-siap Pak Hasan Basri. F-PDIP (Hj. SADARESTUWATI, S.P., M.MA.):

(18)

Assalaamu'alaikum Warrahmatullaahi Wabarakatuh, Selamat siang,

Salam sejahtera untuk kita semua.

Saya tidak akan memberikan pertanyaan yang pasti saya mengapresiasi memberikan apresiasi kepada ketiga kementerian mitra kita yang sudah mendapatkan penilaian dari BPK semuanya mendapatkan WTP. Walaupun memang masih banyak hal yang harus diperhatikan, khususnya program-program di kementerian. Baik itu di Kementerian Desa yang selama ini sebenarnya banyak sekali program kerakyatan. Hampir semuanya program-program ini bersifat hibah banyak sekali, akan tetapi untuk dibahas di Komisi ini kelihatannya yang masih kurang. Jadi ke depan kita minta lebih transparan lagi untuk program-programnya sehingga kami yang ada di Komisi V juga bisa ikut serta melakukan pengawasan.

Kemudian juga saya mengapresiasi untuk Kementerian Perhubungan, saya kira langkah yang sangat tepat ketika dilihat anggaran kemungkinan serapan anggarannya kecil atau tidak terserap. Kemudian dilakukan realokasi, tetapi kembali lagi bahwa kita fokus untuk kegiatan padat karya yang tentunya saya terima kasih juga kemarin sudah ikut serta untuk melihat secara langsung kegiatan padat karya tunai di Kementerian Perhubungan dan juga Kementerian PUPR. Yang juga memang hampir semuanya yang dilaksanakan untuk di daerah sebagian besar adalah kegiatan yang bersifat padat karya tunai, karena ini sangat membantu perekonomian masyarakat pada saat ini.

Dan saya sampaikan tadi saya tidak memberi pertanyaan, akan tetapi saya ingin menyampaikan ada titipan usulan dari Ketua Badan Anggaran. Mohon izin Pimpinan.

KETUA RAPAT (LASARUS. S.Sos.,M.Si / F-PDIP):

Silakan, mana berani kita Ketua DPP ini. Apalagi Ketua Badan Anggaran Bung Said Abdullah.

Baik, terima kasih Bu Restu.

Sekarang saya persilakan Pak Hasan Basri. Bersiap-siap Pak Soehartono.

F-PG (H. HASAN BASRI AGUS):

Assalaamu'alaikum Warrahmatullaahi Wabarakatuh.

Yang saya hormati Bapak Wakil Ketua DPR Republik Indonesia dan Pimpinan dan Wakil Komisi V dan Rekan-rekan Anggota Komisi V yang saya hormati, Bapak ketiga Menteri,

Menteri PU,

(19)

Wakil Menteri dan beserta Staf, Bapak Ibu sekalian yang berbahagia.

Pertama-tama, kami memberikan apresiasi yang cukup tinggi kepada tiga kementerian yang di bawah koordinasi Komisi V ini tetap mendapat nilai WTP dari BPK. Mudah-mudahan ini terus berlanjut bagaimanapun keberhasilan bapak juga keberhasilan kami juga sebagai Komisi V yang melakukan pengawasan di lapangan.

Pertama kami tujukan kepada Pak Menteri PU. Pak Menteri PU, waktu bapak mau jadi Menteri, kita pada saat itu mengunjungi Dam Batang Asai yang bermasalah waktu itu dan sekarang terus jalan pak hasil pengawasan kami di lapangan berapa minggu yang lalu. Alhamdulillaah mudah-mudahan ini bisa cepat selesai pada waktunya.

Kemudian yang kedua, yang jadi persoalan adalah ya itu adalah DAM yang berada di Limun Pak Menteri. Itu sudah hampir 30 tahun lebih sampai sekarang belum berfungsi sebagaimana yang kita harapkan. Artinya tidak jalan, masih membutuhkan dana, sehingga bisa DAM itu bisa dipergunakan oleh masyarakat untuk pengairan sawah. Jadi menurut hemat kami ini menjadi perhatian apakah nanti di anggaran perubahan ini atau anggaran yang akan datang.

Kemudian yang selanjutnya masih tetap rencana kita masalah pembelian karet rakyat dan beberapa rapat dengan Dirjen beberapa hari yang lalu juga dipersoalkan, kami ingin mendapat penegasan dari Pak Menteri kapak pelaksanaan dan petunjuk pelaksanaannya sampai sekarang belum ada di lapangan. Itu.

Yang selanjutnya masalah sarana prasarana cuci tangan pak ya, kan kemarin waktu saya ketemu bapak kalau misal satu contoh percontohan provinsi itu Jambi, saya tidak tahu apa realisasinya pak.

Kemudian yang kedua Pak Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal, masalah data yang kami minta berapa lagi jumlah desa tertinggal di se-Indonesia ini pak? Sehingga kami lebih tahu program bapak untuk ke depan, sehingga capaian-capaian kita harapkan nanti kalau bisa pada akhir 2024 itu sudah bisa terselesaikan dengan faktor-faktor pendukungnya. Maksud saya adalah salah satu berapa contoh sehingga desa itu bisa tidak tertinggal lagi, apa persyaratannya?

Kemudian yang kedua, masalah program yang sedang berjalan sekarang pak. Kami lihat di desa ini kelihatannya Kepala Desanya sudah bingung untuk melaksanakan program dana bantuan dari pusat yang dari bapak APBN itu dan ADD. Sehingga dalam pelaksanaannya membuat jalan drainase jalan itu yang sudah ada itu dipecahkan lagi. Sehingga diganti dengan yang baru dan ini saya tidak tahu salahnya. Apakah ini salah dari pendamping desa yang mungkin tidak mengarahkan, atau mungkin sengaja dari Kepala Desa untuk mencari peluang-peluang menggunakan dana itu untuk kepentingan pribadi dia? Dan ini mungkin perlu dibuat pak

(20)

persyaratan-persyaratan yang ketat dan petunjukkan yang lebih ketat lagi di masa-masa yang akan datang.

Kami rasa hanya itu saja yang bisa kami sampaikan Pak Ketua. Terima kasih dan untuk Menteri Perhubungan kami ucapkan selamat pak bekerja dan menurut penilaian kami cukup tetap berjalan sebagaimana yang diharapkan. Terima kasih.

Wassalaamu'alaikum warrahmatullaahi wabarakatuh. KETUA RAPAT (LASARUS. S.Sos.,M.Si / F-PDIP): Baik, terima kasih Pak Hasan Basri.

Sekali lagi teman-teman sekalian, untuk program kita bahas khusus di mulai tanggal 2 nanti. Hari ini kita fokus pada LHP.

Selanjutnya Pak Soehartono, bersiap-siap Pak Sumail Abdullah. F-P.NASDEM (Drs. H. SOEHARTONO, M.Si.):

Terima kasih Ketua.

Assalaamu'alaikum Warrahmatullaahi Wabarakatuh, Selamat sore.

Wakil Ketua DPR yang saya hormati, Pak Rahmat Gobel, Ketua dan Anggota Komisi V yang saya hormati,

Pak Menteri PUPR dan jajarannya yang saya hormati,

Pak Menteri Perhubungan berikut jajarannya yang saya hormati, Pak Menteri Desa yang saya hormati berikut jajarannya.

Kami tidak banyak pak, kita hanya menginginkan untuk ketiga Menteri ini agar dalam rapat-rapat selanjutnya itu membuat rincian proyek-proyek yang dikerjakan tahun ini dan yang akan datang yang bersifat multiyears. Jadi kita Anggota DPR ini tahu bahwa proyek yang dikerjakan tahun ini untuk proyek A itu hanya berapa persen.

Kemudian yang diteruskan untuk anggaran 20 itu berapa persen? Saya kira nanti di rapat tingkat Dirjen itu bisa bicarakan lebih lanjut. Karena tidak sedikit proyek yang di-multiyears-kan, walaupun kurang dari 100 Miliar. Ya karena situasi, karena Covid terpaksa multiyears ini juga tidak sesuai dengan ketentuan sebelumnya. Kalau yang lalu-lalu multiyears itu pasti di atas 100 Miliar, sekarang ini tidak.

Kemudian ini mendahului saja pak sifatnya mungkin hanya apa ya poin-poinnya saja untuk Pak Menteri PU tentang long segment. Long segment sendiri dari Dirjen Bina Marga itu mengalami kesulitan ketika merangkum dari konstruksi sampai pemeliharaan, sampai pemotongan rumput saja masuk

(21)

long segment. Sedang sejarahnya long segment kita semua tahu itu dulu itu tahulah tapi tidak perlu kita ungkap di sini.

Kemudian yang untuk Pak Menteri PU selanjutnya adalah preservasi jalan. Jadi dana preservasi jalan itu sampai sekarang ini di dalam undang-undang itu sudah ada menggunakannya. Kemudian ternyata dalam pelaksanaannya sudah lebih dari 9 tahun ini tidak jelas. Kemarin kita rapat dengan Dirjen Bina Marga, sebenarnya ini maunya Departemen PU itu apa?

Misalnya dana preservasi itu dibuatkan satu anggaran khusus atau dengan kata yang lugas itu bisa diterima oleh Departemen Bina Marga, sehingga di dalam menjalankan tugasnya dia bisa lebih cepat, karena ini unik. Jadi Bina Marga itu cuma membuat, yang melaksanakan yang memanfaatkan lebih tepatnya itu lalu lintas dan Ditjen Darat. Sehingga di situ aturannya tumpang tindih. Oleh karena itu saya dalam kesempatan itu ingin apa yang dimaui oleh Pak Menteri PU tentang dana preservasi.

Kemudian untuk Pak Menteri Perhubungan. Saya sudah sering mengusulkan tentang Jembatan Sebidang. Di mana Jembatan Sebidang itu selalu menjadi yang terakhir. Dirjen PU kalau tidak terpaksa tidak akan menganggarkan di situ, kalau terpaksa contohnya Brexit 3 jembatan tidak sampai setahun jadi nah ini. Jadi ini pasti ada kendala.

Saya berpikir Jembatan Sebidang itu sebenarnya yang sangat apa ya? Sangat bertanggung jawab atau sangat membutuhkan itu sebenarnya Perhubungan. Kereta api, kereta api itu kan komersial, dia ini kan dapat duit. Mengapa dua Menteri itu tidak berkolaborasi? Misalnya untuk jembatannya itu diberikan kerangka baja, itu dari kereta api.

Kemudian operated-nya ini dari PU atau PU dengan koordinasi dengan daerah-daerah. Saya pikir pak kalau itu terjadi kesepakatan seperti itu Pak Menteri PU juga tidak usah bingung, banyak Bupati dan Gubernur yang tentu menyediakan anggaran itu untuk demi keselamatan rakyatnya, ini pak. Selama ini beban tunggalnya itu kan PU gitu loh dan PU sendiri itu anggarannya diperuntukkan untuk segala hal. Itu yang pertama.

Yang kedua pak, ini untuk Pak Menteri Perhubungan, terutama Dirjen Darat ya. Lampu tenaga surya disebar di seluruh negeri tanpa pemeliharaan karena apa? Karena struktur perhubungan sendiri itu tidak sampai detil, tidak sampai di kabupaten-kabupaten. Kabupaten juga ada pak itu tapi dia tidak punya wewenang. Sehingga lampu tenaga surya yang cukup mahal itu tidak berfungsi dan mati gara-gara lampunya baterainya yang murah itu tidak ada yang siapa yang bertanggung jawab itu pak.

Kemudian yang terakhiri ini Pak Menterinya tidak ada ini, tapi Pak Dirjennya ada ya? Bina Konstruksi ada pak? Kalau tidak ada tidak saya sebut di sini. Nanti pada saat rapat berikutnya toh kita akan ketemu dengan Dirjen Bina Konstruksi.

(22)

Wassalaamu'alaikum warrahmatullaahi wabarakatuh. KETUA RAPAT (LASARUS. S.Sos.,M.Si / F-PDIP):

Baik nanti Dirjen-nya kita satu-satu Dirjen pak, tenang saja, pasti bapak nanti ketemu. Makanya tadi saya bilang kita fokus ke LHP saja dulu, nanti Dirjen satu-satu sama kita pak.

Sekarang Pak Sumail Abdullah ada? Tidak ada? F-P.GERINDRA (Ir. SUMAIL ABDULLAH):

Saya Ketua sisi kiri Ketua.

KETUA RAPAT (LASARUS. S.Sos.,M.Si / F-PDIP):

Oke, sorry tidak kelihatan. Untung mengkilap sedikit jadi mata saya langsung terang.

Silakan Pak Sumail. Bersiap-siap Pak Irwan. F-P.GERINDRA (Ir. SUMAIL ABDULLAH): Ya biar lebih kelihatan ini, terima kasih.

Assalaamu'alaikum Warrahmatullaahi Wabarakatuh dan selamat siang serta salam sejahtera buat kita semuanya.

Bapak Menteri, Bapak Menteri PU,

Bapak Menteri Desa dan Perhubungan yang saya hormati beserta jajaran, Para sahabat Komisi V yang juga saya hormati.

Mencermati dari apa yang telah disampaikan tadi bahwa serapan anggaran dari masing-masing kementerian masih kurang dari 50%. Saya sebenarnya bisa bayangkan, karena apa? Karena kita 4 bulan lagi sudah selesai tahun ini pak, paling tidak perkiraan kami agar dilakukan percepatan agar supaya program-program strategis yang padat karya ini di masa pandemi ini bisa sedikit mengungkit dan meningkatkan pendapatan-pendapatan di masyarakat.

Hari ini hampir lumpuh pak, terutama di Banyuwangi ya, Banyuwangi hari ini pandeminya sangat luar biasa. Satu hari peningkatannya itu bisa 400 yang positif itu ada di salah satu pondok pesantren, kita berharap ini bisa selesai ya. Artinya apa? Harapan-harapan ini agar menjadi perhatian yang sangat serius dari Pak Menteri yang tentu diikuti oleh Eselon I Pak Dirjen ya, sehingga serapan di akhir tahun ini menjadi maksimal.

(23)

Yang kedua, saya karena tadi saya kritisi, tentu yang kedua saya harus juga apresiasi terhadap Pak Menteri akan raihan WTP terdapat dari atau opini dari BPK ini, tentu kami apresiasi sehingga harapannya juga tahun-tahun depan juga memperoleh penilaian dan opini yang sama.

Berikutnya yang ketiga, saya ingin menyoal, walaupun tadi Pimpinan mewanti-wanti soal kegiatan apa namanya untuk kita evaluasi secara tersendiri. Karena pada rapat sebelumnya, saya sempat menyampaikan ini kaitannya dengan Kementerian PU Pak Direktorat Jenderal Bina Marga ya Dirjen Bina Marga. Barangkali juga hadir di sini Pak Dirjennya ya sama Dirut Jasa Marga, tidak ada pak ya?

Saya sempat menyoal tentang trase atau lintasan jalan tol yang melewati dua kabupaten Situbondo dan Banyuwangi. Sangat disayangkan bapak, saya kira ini perlu dikaji dan dievaluasi kembali, karena melintasi tanah-tanah produktif, tanah persawahan. Nah sementara di bagian Selatannya ya di atasnya sekali lagi saya tekankan ini banyak tanah-tanah marginal, karena untuk ganti rugi atau penyelesaian itu tidak hanya selesai diganti untung tadi pak. Banyak masyarakat yang bekerja ya secara ekonomi dan sosial juga harus digaji.

Banyak orang yang bekerja atas tanah-tanah tersebut, bukan hanya yang memiliki saja, tetapi ada penggarap ya, ada penyewa yang juga menggantungkan hidupnya terhadap tanah-tanah produktif. Kalau ini tetap dilakukan tentu ada dua pelanggaran saya kira yang dilewati ya, pertama Pak Presiden juga telah mengeluarkan Perpres 59 tahun 2019 agar dilakukan pencegahan terhadap alih fungsi lahan-lahan produktif. Nah kita juga sedang getol Pak Menteri PU juga sekarang dikasih mandat juga untuk membangun sawah-sawah baru, kenapa ini tidak kita jaga.

Saya kira itu sebagai apa namanya ulasan kami Pak Ketua, Pak Menteri mudah-mudahan jadi apa namanya perhatian bagi kita semuanya. Wassalaamu'alaikum warrahmatullaahi wabarakatuh.

KETUA RAPAT (LASARUS. S.Sos.,M.Si / F-PDIP): Terima kasih Pak Sumail.

Adinda Irwan silakan. Bersiap-siap Pak Suryadi Jaya Purnama. F-PD (Dr.H. IRWAN, S.IP., M.P.):

Assalaamu'alaikum Warrahmatullaahi Wabarakatuh. Yang saya hormati Bapak Wakil Ketua DPR RI,

Ketua Komisi V, Wakil Ketua Komisi V serta Rekan-rekan yang saya hormati, Yang saya hormati Bapak Menteri PUPR, beserta jajaran Pak Dirjen,

Bapak Menteri PUPR,

(24)

Serta Bapak Menteri Kementerian Desa PDT dan Transmigrasi beserta Pak Wamen, serta jajaran Kementerian Desa yang saya hormati.

Pertama-tama Pimpinan saya menyoroti rendahnya ya penyerapan anggaran pemerintah ya dari sisi kementerian lembaga dalam kaitannya dengan pemulihan ekonomi nasional ini. Terkhusus kemudian pada mitra Komisi V ya, lebih khususnya lagi pada Kementerian Perhubungan dan PUPR di bawah 50%.

Ini juga sesuai dengan apa yang disampaikan Pak Wakil Presiden ya pada saat itu dan sejak disampaikan pada saat itu sampai hari ini pun peningkatannya juga belum signifikan ya, terlihat dari laporan hari ini Kementerian Perhubungan baru 46,2%, Kementerian PUPR sendiri 48 dan Kementerian Desa 55%. Kementerian Desa cukup baik ya, artinya ada lebih besar dibandingkan realisasi serapan dari tahun lalu ya di bulan Agustus yaitu 51,68%.

Ini menjadi sangat penting Pimpinan, karena dengan situasi ekonomi seperti ini tentu penyerapan anggaran yang maksimal dapat membantu pemerintah. Ya bisa kemudian menghindari dampak-dampak dari pada resesi ekonomi maupun pertumbuhan ekonomi yang sampai saat ini masih minus.

Kemudian kaitannya dengan hasil pemeriksaan BPK, saya mengapresiasi memberikan ucapan selamat kepada ketiga kementerian mendapat opini WTP, tapi di samping usaha yang keras untuk menindaklanjuti temuan itu, yang paling penting saya melihat Pimpinan bahwa ke depan, bagaimana kemudian mitigas dari kementerian-kementerian ini justru tidak mengulang ya dari temuan-temuan itu ya.

Walaupun kemudian contohnya Kementerian Perhubungan ya ada tren kenaikan dari jumlah temuan maupun besaran dari rekomendasi yang mana jika kondisi seperti ini terus menerus maka akumulasi temuan ini juga terus membesar. Termasuk kemudian optimalisasi PNBP yang tidak maksimal ya di Kementerian Perhubungan, terutama kewajiban penerbitan SRUT ya pada ATM tahun 2017 itu belum baru sebesar 21%. Artinya piutang itu terbayarnya sangat rendah.

Nah maksimalisasi hal-hal ini juga cukup bisa membantu ya pemerintah saat ini di mana sangat kesulitan keuangan. Kemudian optimalisasi dari program padat karya di kementerian juga menjadi sangat penting untuk membantu terutama masalah masyarakat di desa yang di daerah dan ini juga serapannya juga masih rendah ya. Dari data yang disampaikan juga contohnya juga Kementerian Perhubungan, ini di Ditjen Perhubungan Darat dari target serapan 7 Triliun per 31 Agustus ini baru 1,4 Triliun, target jumlah tenaga kerja 3.174 orang per 31 Agustus hanya terealisasi 848 orang, jadi sangat-sangat kecil ya secara apa persentasi. Ini baru di Ditjen Hubdat, belum di Ditjen-ditjen lainnya.

Kemudian khusus di PUPR, kami juga punya data terkait padat karya di Kalimantan Timur yang untuk P3TGAI sudah 61% untuk SK tahap II-nya

(25)

mungkin segera bisa didorong terus ya Pak Jarot. Artinya ini sangat sangat membantu sekali karena SK tahap I-nya itu sudah 100% ya jadi 61% ini cukup bagus. Kemudian untuk PISEW sudah 82%, untuk BSPS sendiri 66%, nah Kotaku ini yang masih ketinggalan Pak Menteri masih 30% untuk di Kaltim ya bukan nasional di Kaltim. Mudah-mudahan ini juga bisa didorong sampai akhir November karena sudah terbukti ya program padat karya ini sangat membantu masyarakat di tengah pandemi Covid-19 ini.

Mungkin secara umum itu yang bisa saya sampaikan Pimpinan. Saya sangat mengapresiasi kerja-kerja kementerian, mudah-mudahan untuk 2020-2021 ke depan lebih meningkat lagi secara kinerja.

Terima kasih.

KETUA RAPAT (LASARUS. S.Sos.,M.Si / F-PDIP): Terima kasih Pak Irwan.

Silakan Pak Suryadi. Bersiap-siap Pak Syafiuddin. F-PKS (H. SURYADI JAYA PURNAMA, S.T.): Terima kasih Pimpinan.

Yang saya hormati Bapak Wakil Ketua DPR RI, Pak Ketua Komisi dan Wakil Ketua,

Rekan-rekan Anggota, Bapak Menteri, Pak Wakil Menteri dan seluruh jajaran.

Ada beberapa hal yang ingin kami sampaikan. Pertama kami juga mengapresiasi ketiga kementerian yang sudah mencapai predikat Wajar Tanpa Pengecualian dan saya kira ini sudah cukup bagus ya. Ada yang sudah 4 tahun berturut-turut, ada yang 7 tahun ya Kementerian Perhubungan. Yang kedua juga apresiasi atas tindak lanjut rekomendasi BPK. Walaupun masih ada catatan-catatan tetapi relatif sebagian besarnya sudah ditindaklanjuti.

Demikian juga khusus Kementerian PUPR, di tengah pandemi ini memprioritaskan program-program yang berbasis masyarakat ya padat karya ini sangat bagus ya, kita dorong terus Pak Menteri. Namun demikian masih ada beberapa catatan-catatan yang menjadi sorotan kami dari PKS ya.

Pertama untuk Kementerian Perhubungan ya, kita mempertanyakan upaya tagihan kepada agen pemegang merk yang berpotensi merugikan negara sebesar 683 Miliar. Ya agen pemegang merk kendaraan bermotor yang belum mengajukan surat registerasi uji tipe ya sehingga belum melakukan pembayaran.

Jadi ini langkah-langkahnya seperti apa? Karena nilainya juga cukup besar gitu dan ini sejak sudah 2-3 tahun yang lalu. Jadi ini harus ada tindak lanjutnya. Saya kira ini penting karena penerimaan negara bukan pajak ini

(26)

juga penting di saat penerimaan negara dari pajak mulai keteteran. Saya kira ini perlu jadi catatan khusus.

Yang kedua untuk Kementerian Desa, kami hanya ingin memperjelas dari slide yang disampaikan tadi bahwa pagu anggaran 2020 sebesar 2,573 Triliun ya. Padahal dalam RDP kita pada 11 Mei 2020 itu pagunya sebesar 2,647. Nah ini mungkin kita perlu kejelasan yang mana pagu akhir yang berlaku dan atas dasar apa pagu yang tadi dipresentasikan ini kemudian kita mengacu ke sana, karena berbeda ya. Berbedanya bukan saja dari sisi jumlah tapi dasar hukumnya juga. Pagu awal itu menggunakan Perpres gitu tapi kemudian direvisi oleh surat Kementerian Keuangan. Nah ini apa namanya hirarki dasar hukum ini juga perlu kita perjelas Pak Ketua. Supaya jangan sampai aturan di atasnya dibatalkan oleh peraturan di bawahnya begitu. Ini penting menjadi catatan kita.

Yang terakhir untuk Kementerian PUPR ya, selain apresiasi tadi kami juga memberikan catatan khususnya yang terkait dengan Wisma Atlet. Jadi Wisma Atlet di Kemayoran Blok C.2 dan D.10 itu kan IMB-nya sudah berakhir tahun 2018 dan sertifikat layak fungsi juga sudah berakhir 2019. Ini berdasarkan pemeriksaan BPK. Sementara pada saat yang sama kita memanfaatkan bangunan tersebut untuk rumah sakit ya, yang kapasitasnya 7.000 lebih.

Nah bagaimana kita bisa memastikan keamanan dari gedung tersebut sementara standar layak fungsinya sudah tidak berlaku? Saya kira ini penting untuk ditindaklanjuti, karena IMB-nya kemudian standar layak fungsinya juga sudah tidak berlaku.

Kemudian terkait dengan renovasi infrastruktur di Komplek GBK ya Gelora Bung Karno ada perbedaan antara mutu yang sudah dikerjakan oleh pihak ketiga dengan spesifikasi yang dipersyaratkan di dalam kontrak. Nah ini mungkin perlu diapa tindak lanjutnya seperti apa? Karena hasil pemeriksaan BPK berbeda antara spesifikasi di dalam kontrak dengan hasil akhir yang dikerjakan oleh pihak ketiga ya.

Dan terakhir masih tentang fungsi gedung ya sebagai rumah sakit. Kita juga punya Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 24 yang mengatur tentang persyaratan teknis bangunan gedung rumah sakit. Nah sejauh mana bangunan yang tadinya bukan untuk rumah sakit, kemudian difungsikan untuk rumah sakit ini memenuhi Surat Keputusan Menteri Kesehatan tersebut?

Karena misalnya tentang kelayakannya, kita tahu beberapa waktu lalu ada 40 ton Alkes dari China yang dimasukkan di situ. Nah bagaimana konstruksinya apakah bisa menanggung beban seberat itu ditambah dengan kapasitas yang berbeda dari peruntukkan semula? Saya kira ini penting ya karena di saat kita misalnya ditempati juga oleh para dokter, kemudian orang sakit tetapi kita belum menjamin keselamatan gedung itu sendiri.

Jadi ini catatan-catatan kami Pak Ketua, selain juga tentu pengalihan aset ini ya tadi juga sudah dipresentasikan. Saya kira tinggal ditindaklanjuti

(27)

untuk penyerahan Wisma Atlet itu kepada kementerian atau lembaga yang nanti akan bertugas untuk mengelola hasil tersebut. Itu beberapa catatan Pak Ketua.

Terima kasih.

Wassalaamu'alaikum warrahmatullaahi wabarakatuh.

KETUA RAPAT (LASARUS. S.Sos.,M.Si / F-PDIP):

Ya Pak Suryadi, tadi yang pagu awalnya pakai Perpres gitu maksudnya ya? Nah terus yang penghematannya pakai PMK gitu? Iya memang ini nanti PR teman-teman di Banggarlah nanti mempertanyakan itu ya.

Jadi kalau Pak Menteri ini setahu saya sifatnya menerima ini, nanti di Banggar nanti dipertanyakan apakah boleh demikian, kalau boleh ya saya termasuk yang aneh juga gitu loh. Harusnya pakai Perpres juga mestinya.

Jadi baik Pak Syafiuddin, bersiap-siap Pak Jhoni Allen. F-PKB (H. SYAFIUDDIN, S.Sos.):

Terima kasih.

Assalaamu'alaikum Warrahmatullaahi Wabarakatuh. Yang saya hormati Wakil Ketua DPR RI,

Segenap Pimpinan Komisi V beserta Rekan-rekan Anggota Komisi V yang saya banggakan,

Para Menteri baik Menteri Perhubungan,

Menteri PDT dan Menteri PUPR yang saya hormati dan saya banggakan. Pertama-tama kami mengapresiasi karena ketiga Menteri ini mendapatkan WTP walaupun ada beberapa catatan dan juga kami juga akan menyoroti terkait dengan progress realisasi anggaran yang menurut saya sampai triwulan yang ketiga ini masih kurang lebih 50%. Jadi menurut saya masih kurang dan mudah-mudahan di limit waktu yang sangat minimalis ini yang 4 bulan ke depan ini bisa diserap lebih maksimal lagi sehingga sesuai target dari apa yang kita sepakati bersama.

Yang ketiga, kami juga mengapresiasi terutama di Kementerian PUPR walaupun nanti ada pertanyaan juga dari saya. Karena di alokasi realokasi anggaran untuk penanganan Covid yang 1,67 Triliun, baru kali ini pondok-pondok pesantren itu diberikan program. Walaupun ini hanya pilot proyek walaupun sebetulnya kita sama-sama memahami bahwa pondok pesantren ini merupakan kelas terbaru. Karena kita tahu khususnya di Jawa Timur ada beberapa pondok pesantren yang terkena pandemi Covid ini.

(28)

Ada kemarin itu kita dengar di Gontor juga di Banyuwangi dan lain-lain. Namun pertanyaan saya kenapa di walaupun sebetulnya kemarin kita mempertanyakan di ruang ini bahwa alokasi anggaran untuk penanganan Covid itu tidak ada pembahasan dengan kita dan itu kita toleransi. Namun pertanyaan kami di dukungan prioritas nasional ini di mana itu ada program untuk bantuan pondok pesantren dari 10 provinsi dipilih 10 provinsi ada 100 kegiatan.

Pertanyaan saya mungkin kepada Bapak Menteri PUPR, dari 10 provinsi ini sebetulnya kan tidak sama jumlah pondoknya, yang saya dengar bahwa satu provinsi itu 10 pondok. Saya minta data-data dari Kementerian PUPR pondok mana saja yang mendapatkan bantuan dari pilot project ini? Karena yang saya khawatirkan itu nantinya tidak tepat sasaran. Apakah juga di Dapil saya di Madura mendapatkan itu? Karena kita juga sebagai Anggota DPR RI punya hak pengawasan. Selain kami punya hak aspirasi, kami juga ditegur ditanyakan terus oleh beberapa Kyai dan para Ulama di Madura juga di Jawa Timur yang merupakan lumbung menurut saya selain Jawa Barat pondok-pondok pesantren yang paling banyak.

Jadi menurut saya ini harus proporsional, tidak boleh disamaratakan antara Provinsi Jawa Timur, Jawa Barat, mohon maaf kepada teman-teman NTB. Jawa Timur saja 38 Kabupaten Kota, juga terdiri dari beberapa pondok pesantren yang ribuan. Kalau di NTB kan hanya 11 kabupaten, jadi layaklah dikasih 10 pilot project gitu, tapi kalau Jawa Timur, Jawa Barat dan Jawa Tengah mungkin ini harus ditambah Pak Menteri. Kenapa saya tanyakan ini karena kami memang tidak ikut di pembahasan. Karena memang tidak diberitahukan terkait dengan realokasi anggaran yang 1,7 ini dan tidak masuk di pembahasan kita.

Mungkin itu pertanyaan kami Pak Menteri dan kami tolong karena punya hak pengawasan kita diberi data untuk Gus Menteri Desa ini, bos saya juga ini mohon juga kami akan. Kami sudah apresiasi tadi apa yang akan ditanyakan sebetulnya sudah tidak bisa. Karena ini hanya tinggal bantuan operasional katanya ya untuk pendamping dan gaji pegawai.

Namun ini ada keluh kesah Pak Menteri dari teman-teman Kepala Desa yang menurut saya yang paling terdampak pandemi Covid ini bukan hanya masyarakatnya. Tapi memang Kepala Desa sebagai ujung tombak pemerintah yang terdepan yang bersentuhan langsung dengan rakyat. Terutama di Jawa Timur lebih khusus lagi ya di Madura.

Karena di Madura ini sekarang sampai detik ini masih oranye. Terus pemahaman terkait Covid ini, ini juga mohon maaf saudara-saudara saya ini masih rendah. Sehingga masih ngomong masih begini gitu loh. Jadi yang repot itu adalah Kepala Desa Pak Menteri.

Jadi seumpama ada yang sakit mengantarkan ke rumah sakit itu juga Kepala Desa. Terus seumpama ada beda persepsi bahwa ini Covid atau tidak. Karena memang Madura itu sangat khas Pak Menteri itu yang jadi

(29)

sasaran tembak kesalahan itu ya juga Kepala Desa gitu yang mewakili pemerintah pusat menurut saya. Jadi semuanya itu kepada Kepala Desa.

Jadi ada beberapa persoalan juga yang mungkin bisa ditindaklanjuti oleh Kementerian Desa walaupun ini bukan kewenangan kita. Jadi ada refocusing itu di apa namanya di perangkat-perangkat desa Pak Menteri yang memang itu kewenangan daerah ya kewenangan Bupati dan teman-teman di DPRD daerah.

Namun itu sangat betul-betul diharapkan oleh teman-teman Kepala Desa untuk ada surat edaran mungkin dari Kementerian Desa bahwa seperti honor atau apa ya gaji perangkat desa itu tidak masuk kepada refocusing di daerah gitu loh kira-kira begitu. Karena memang yang bersentuhan langsung dengan masyarakat desa itu Kepala Desa. Ya diharapkan kepada Bapak Menteri juga mungkin dari Dirjen yang menangani ini ada surat edaran. Sehingga nyampe ke Kepala Daerah-kepala Daerah bahwa untuk honor perangkat-perangkat desa itu untuk tidak dilakukan efisiensi.

Untuk Perhubungan, kami menyoroti ada beberapa ini ya terkait dengan realokasi anggaran penanganan Covid juga tadi disampaikan bahwa masih perlu dikejar kembali. Tapi juga kami melihat di sini Pak Menteri kalau kita ikut pesawat, kita memang harus pakai rapid tes. Kita ikut kereta api ini pakai rapid tes, tapi kalau seumpama pakai bus yang kebetulan ini saudara-saudara yang masyarakat jelata, ini tidak pakai rapid tes. Padahal mewabahnya pandemi Covid ini tidak hanya kelas menengah dan kelas atas, artinya bahwa dampak ini juga ada yang di bawah.

Mungkin saya harapkan kepada teman-teman yang Dirjen Perhubungan Darat melalui mungkin balai-balai yang UPT yang ada di provinsi itu lebih maksimal lagi dengan tetap mengedepankan kemanusiaan. Artinya kalau naik bus ya harus ada protokol kesehatan yang lebih maksimal gitu. Tidak hanya kita yang di kereta api ataupun di apa namanya bandar udara.

Mungkin seperti itu Pak Menteri, terima kasih Pimpinan. Kurang lebihnya saya mohon maaf.

Wallaahulmuafik illa aqwamittoriq,

Wassalaamu'alaikum warrahmatullaahi wabarakatuh. KETUA RAPAT (LASARUS. S.Sos.,M.Si / F-PDIP):

Ini Pak Abdul Halim, Pak Menteri Desa. Pak Syafiuddin ini waktu dia nyapa Pak Menteri PU gagah dia pak, tapi begitu dia nyapa Menteri Desa PDT dia izin-izin bos saya pak katanya. Tapi saya senang Pak Syafiuddin dia kalau bicara itu pasti Madura ini harus kita urus ramai-ramai ya pak. Supaya terutama apa namanya BPWS ya pak ya. Pak Bakri tadi bilang semua Kepala Desa pak, sama memang semua kalau di kampung itu lari Kepala Desa pak. Ya apalagi mau kawin lagi.

(30)

Ya baik sekali lagi teman-teman sekalian kita fokus ke pemeriksaan apa LHP dan serapan.

Silakan Bang Jhonni Allen.

F-PD (drh. JHONNI ALLEN MARBUN): Terima kasih Pimpinan.

Assalaamu'alaikum Warrahmatullaahi Wabarakatuh. Yang terhormat Pak Menteri mitra kerja PU,

PUPR dan Desa Daerah Tertinggal.

Pertama saya memberikan apresiasi terhadap penilaian WTP. Selanjutnya untuk Menteri PU program padat karya, saya kira juga sampai 2021 kalau tidak salah kita memberikan kewenangan kepada pemerintah itu 3 tahun dalam konteks untuk soal anggaran. Nah ini ini juga kemarin kita persoalkan di Banggar ya, penyerapannya kecil. Ini memang Pak Menteri PU misalnya halaman 14, ini juga saya agak kaget beban 2021 kan 121T ya. Penyerapan anggaran dan penyerapan fisik itu biasanya agak berbanding agak anggarannya boleh rendah tapi biasanya fisiknya agak tinggi, tetapi di 2020 hampir sama penyerapan fisiknya dan penyerapan anggarannya dan fisik ini memang. Padahal program padat karya tadi itu luar biasa sebetulnya ya, ini memang.

Di 2019 saja ada selisih sekitar 5% ya, ini tidak ada, 48-48 gitu antara fisik dan penyerapan anggaran. Ini sebenarnya menjadi perhatian. Apalagi khususnya nanti persoalan kita sekarang di samping katakanlah multiplier effect Covid ini adalah persoalan ekonomi ya. Kalau kita lihat secara katakanlah kuantitatif apa positifnya ini kan meningkat terus, malah perhitungan saya di Desember-Januari bisa 300.000 kalau begini ceritanya.

Bogor saja sekarang sudah ini lagi berat, bahkan pedagang kaki lima suruh tutup jam 06.00. Kadang-kadang orang mau pedagang kaki lima jam 06.00 ditutup tidak masuk akal saya juga, jam 09.00 okelah, orang mau beli makan di apa itu kan. Ini juga menjadi perhatian kepada pemerintah untuk sekedar.

Selanjutnya kepada Menteri Desa juga memang anggarannya sangat terbatas, tapi tolong Pak Menteri supaya kita juga memang terus terang saja dari sisi anggaran memang sangat kecil lah Menteri Desa. Tapi kan paling pokok di sini kan lebih besar itu kan dana-dana pendamping ya sesuai ketentuan perundangan. Kalau saya lihat di 2019 pendamping pada desa dengan 74.963 hampir 75.000 desa, sekarang mungkin sudah hampir 80.000 ya. Capaiannya 36.318 orang, ini maksudnya apakah satu orang itu bisa mendampingi dua desa atau apa atau memang sekian desa atau baru separuh desa yang ini juga harus dijelaskan? Dan kalau boleh ya karena kita dalam aspek pengawasan dan implementasi, desa-desa mana saja seluruh Indonesia dan provinsi. Supaya kita lihat bahwa kita perlu dorong ini paling

Referensi

Dokumen terkait

Terima kasih, banyak kurang bersabar menunggu selesainya Pak Dewo, tapi rupanya mewakili juga Pak Hamka, mewakili Pak Hamka, Bu Novi, Pak Mul. Jadi kita bisa mengerti

Terima kasih Pak Ilham dari Poksi Golkar.. Selanjutnya dari Gerindra silakan Mas Dewo. Assalaamu'alaikum Warrahmatullaahi Wabarakatuh. Yang saya hormati Pimpinan, Pak Menteri

Terima kasih, Pimpinan. Ini kalau rapat sama Pak Bahlil begini. Terima kasih, Pimpinan, Pak Menteri dan Pak Kepala BKPM. Kalau kita berkhayal bahwa situasi bisa kembali

Pada tanggal 17 Juni 2010 dalam Rapat Konsultasi antara Pimpinan DPR RI dengan Pimpinan Fraksi-fraksi DPR RI (sebagai pengganti Rapat Sadan Musyawarah) memutuskan

Waalaikumsalam warahmatullah wabarakatuh. Terima kasih Pak John Kenedy Azis. Pak Doni memang besok akan ada Paripurna Prolegnas Pak, yang kemarin kita waktu di Millenium

KETUA RAPAT/KETUA KOMISI V DPR RI (LASARUS. Selamat siang dan salam sejahtera bagi kita semua.. 2 Yang saya hormati segenap Pimpinan dan seluruh Anggota Komisi V DPR RI. Yang

FPDIP (MY ESTI WIJAYATI): Menambahkan Pak Ketua. Saya menggambarkan hari ini tadi, karena ini adalah rapat pertama, setidaknya ada target- target yang bisa disampaikan kepada

Terima kasih. Pimpinan, Anggota Komisi I DPR RI yang terhormat, Para Komisioner BRTI. Sebagai Ketua BRTI ya Pak? Bukan sebagai Dirjen, Dirjen kan eks officio artinya hadir sebagai