• Tidak ada hasil yang ditemukan

MENTERI PERHUBUNGAN RI (BUDI KARYA SUMADI):

Dalam dokumen DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA (Halaman 72-80)

Nah ini sangat berbahaya dan menurut survey hari ini angkutan umum pak itu salah satu tempat yang paling banyak menularkan virus Covid-19. Saya pikir kita dari Kementerian Perhubungan ngambil posisi yang lebih tegas, lebih jelas pak dalam rangka setiap yang menggunakan angkutan umum ini saya pikir kita mesti ambil posisi pak.

Seperti kemarin saya sempat marah-marah pak di bus salah satu maskapai saya tidak perlu sebutkan namanya. Ketika orang dengan seenaknya pun mereka pun yang mengawasi kita diam saja pak, mesti kita yang ngomel, kan tidak pas ini. Ini di mana ada kekosongan orang tidak bisa berbuat apa-apa, di situ kan negara harus hadir itu maksudnya. Nah itu negara ya siapa ya petugas yang ditunjuk oleh negara kan begitu.

Kalau kita yang negur sesama penumpang, bisa baku tonjok kita pak, nah ini loh. Kan masih ada petugas khusus misalnya di bandara ya mesti petugas bandara. Yang maskapainya tidak mengindahkan, maskapainya kita tindak dan seterusnya. Saya pikir ini hal yang serius, seperti yang tadi saya sampaikan kita berusaha memutus mata rantai. Tapi yang berjalan ini tidak melakukan hal-hal yang mendukung untuk terjadinya percepatan pemutusan mata rantai itu sendiri saya pikir ini masalah.

Demikian Pak Menteri.

MENTERI PERHUBUNGAN RI (BUDI KARYA SUMADI):

Baik pak jadi apa yang bapak sampaikan akan menjadi perhatian saya dan saya akan melakukan tindakan tegas, tapi saya selaku profesional juga harus memberikan suatu keterangan yang sifatnya globally ya.

Jadi kalau kita bicara ICAO dan IATA sebenarnya di penerbangan itu ada teknologi HEPA yang membuat di dalam pesawat itu paling aman karena sirkulasi udara di situ keluar ya.

Jadi paling aman itu di situ gitu. Hanya saja kita memang tidak berani karena di beberapa negara sudah 100% pak. Nah kita memang psikis bahwa Kementerian Kesehatan tetap mempertahankan 70%. Sebenarnya ada keinginan untuk menaikkan tapi karena psikis kita tidak mau menaikkan, tapi anyway karena rule itu adalah 70% harus kita lakukan suatu tindakan, tapi sebenarnya kalau international regulation tidak ada 70% karena kalau dengan HEPA itu bisa 100%.

Hanya saja memang ekses-ekses dari pada yang terjadi katakanlah senggolan dan sebagainya itu yang mesti diperkirakan. Tapi apapun saya akan tegur pak ini, tapi saya juga akan memberikan ilustrasi tentang apa yang terjadi di kereta api.

Sekarang ini kereta api di KRL pak, itu kita pertahankan di 45% tidak boleh naik dari situ ya. KAI sudah minta tapi pakar ergonoloy tidak bisa memberikan itu, tapi di lapangan berangkat dari Bogor 45%, tapi begitu masuk dekat Jakarta masuk langsung kita susah juga gitu. Jadi memang di lapangan ini memang satu yang sulit ya. Nah oleh karenanya kita juga Bu Polana BPTJ memberikan subsidi. Jadi kita menyediakan bus gratis dari Bogor ke Jakarta gitu.

Jadi memang di masa-masa sekarang ini hampir setiap minggu bahkan hari minggu, minggu malam kami kerja sama diskusi sama Pak Doni dari Gugus Tugas membahas hal-hal yang detil itu. Bagaimana hari Senin itu harus dilakukan katakan untuk menjaga tetap 45% dan terjaga kami harus drop 100 bus di Bogor, 100 bus di Bekasi dan Tangerang ya.

Nah jadi dinamika inilah yang terjadi. Ya saya memang harus karena rule kita 70% kita akan tegur, tapi saya harus menjelaskan bahwa international regulation Bapak bisa cek di ICAO sama IATA itu tidak ada syarat-syarat itu. Jadi saya maaf kalau ini saya menyatakan apa adanya supaya ini untuk pengetahuan pak, tapi keseharian kita masih tegas. Maaf kalau saya kurang pas bicaranya.

Terima kasih.

Wassalaamu'alaikum warrahmatullaahi wabarakatuh. INTERUPSI ANGGOTA KOMISI V DPR RI:

Izin Pimpinan, izin terkait ini pak?

KETUA RAPAT (LASARUS. S.Sos.,M.Si / F-PDIP): Ya silakan, singkat pak ya.

INTERUPSI ANGGOTA KOMISI V DPR RI:

Jadi saya Pak Budi yang saya hormati mengunjungi Bandara Sultan Mahmud Badaruddin. Kira-kira 2 hari atau 3 hari ya itu katakanlah kami di sini ada namanya Sidak. Walaupun sudah saya kasih tahu, karena banyak wartawan yang ikut saya jadi saya beritahu dulu bahwa saya akan ke sana gitu.

Nah ternyata di bandara itu kita kurang disiplin pak termasuk petugas kita. Tidak pernah mengingatkan orang tidak pakai masker ataupun memang ada maskernya tapi sering lupa kan di bawah gitu. Nah itu tidak pernah diingatkan, malah saya yang mengingatkan. Kemudian ruang tunggu duduk itu berhimpit-himpitan sudah, padahal di sebelahnya sangat luas masih. Nah ini kan petugasnya harusnya. Tolong ditegur pak itu.

Ada lagi tempat pijat pak. Tempat pijat ini yang mijat tidak pakai masker, yang dipijat tidak pakai masker. Nah itu refleksi pak bukan pijat yang

itu, bukan pijak tradisional, refleksi. Loh itu pada tidak pakai masker bersentuhan pak. Nah ini jadi saya mohon itu mungkin di bandara semua bandara lebih disiplin pak, petugas kita itu mengingatkan protokol kesehatan yang penting sekali untuk memutus rantai pandemi ini.

Terima kasih pak.

KETUA RAPAT (LASARUS. S.Sos.,M.Si / F-PDIP):

Baik saya pikir Pak Menteri sudah memahami apa yang kita bicarakan, intinya bagaimana fasilitas angkutan umum yang ada betul-betul bisa kita tertibkan dalam rangka penanganan Covid-19 ini.

Baik terakhir ke Pak Menteri Desa PDT dan Transmigrasi sebelum kita menuju ke kesimpulan rapat.

Silakan pak.

MENTERI DESA, PDT DAN TRANSMIGRASI R.I. (Dr.(H.C). Drs. H. ABDUL HALIM ISKANDAR, M.Pd.):

Terima kasih. Pak Ketua,

Pak Wakil Ketua DPR,

Wakil Ketua Komisi V dan para Anggota Komisi.

Pertama secara umum kami menyampaikan bahwa untuk program tahun 2021 yang akan segera dibahas, kami persilakan kepada seluruh Pimpinan dan Anggota Komisi V untuk mencermati dan melakukan penataan dan pemetaan. Semaksimal mungkin akan kita ikuti apa yang menjadi arahan dari para Pimpinan dan Anggota Komisi V dengan syarat dan ketentuan berlaku sebagaimana pesan Pak Ketua kepada kita semua.

Kemudian yang kedua, terkait dengan penggunaan dana desa. Regulasinya jelas pak, jadi dana desa mutlak menjadi kewenangan Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi. Oleh karena itu kami sepakat bahwa harus diukur dampak dari penggunaan dana desa. Itulah makanya kita sudah membikin ukuran-ukuran yang lebih lugas, lebih mudah dipahami oleh desa oleh Kepala Desa.

Salah satu contoh penggunaan dana desa misalnya digunakan untuk pembangunan desa dengan target desa tanpa kelaparan, desa tanpa kemiskinan, desa sehat, desa berpendidikan kualitas, desa melibatkan perempuan dan seterusnya-dan seterusnya. Ada 18 indikator yang menjadi target untuk ngukur penggunaan dana desa.

Ini akan kita terapkan secara maksimal di 2021 sehingga nanti di 2022 kita pastikan kita bisa melaporkan secara lebih rigid lagi berapa desa di Indonesia yang sudah menyelesaikan terkait dengan kemiskinan, terkait

dengan kesehatan, stunting misalnya atau penyakit kronis lainnya. Karena ini sangat penting agar penanganan di desa menjadi lebih jelas fokusnya. Dana desa lebih fokus.

Kemudian ketika ada intervensi dari kementerian dan lembaga lain juga jelas. Sehingga tidak terjadi overlapping misalnya PUPR mau membangun jalan antar desa atau jalan kabupaten yang melewati desa, itu jelas mana yang perlu disentuh supaya tidak tumpuk dengan yang sudah dibangun menggunakan dana desa.

Dengan demikian terkait dengan berbagai permasalahan misalnya membangun di tanahnya warga itu inshaAllah tidak terjadi lagi. Karena ada persyaratan clear and clean. Kemudian prioritas penggunaan dana desa juga lebih terarah dan ini menjadi tanggung jawab dan kewajiban Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi.

Bapak Ibu sekalian yang saya hormati.

Kemudian terkait dengan pendamping desa, memang sampai hari ini sebagaimana sudah pernah kita laporkan beberapa kali, jumlah pendamping desa tidak sama dengan jumlah desa. Jadi ada yang satu desa satu pendamping, dua, tiga dan ada yang empat untuk daerah Jawa. Dengan ini kami dari Kementerian Desa belum berniat untuk melakukan rekruitmen karena kita masih fokus pada peningkatan SDM dan kemudian ketegasan tugas.

Jadi tugas pokok dan fungsi pendamping desa harus jelas sekali supaya tidak kemudian timbul persepsi yang kurang pas. Misalnya pendamping desa ternyata sebagian ditugasi oleh Kepala Desa membantu administrasi yang tidak ada hubungannya dengan dana desa dan pelaporan. Nah ini misalnya ini juga menjadi bagian dari tugas kita agar tidak pemanfaatan pendamping desa sesuai dengan peruntukkannya.

Termasuk juga nanti kita juga akan regulasikan terkait dengan pendamping desa, sampai hari ini belum ada regulasi khusus yang mengatur pendamping desa, termasuk self assessment-nya. Jadi bagaimana melakukan pengukuran terhadap kinerja pendamping desa.

Kita melakukan model self assessment. Sehingga kementerian tidak perlu melakukan penilaian cukup melakukan verifikasi terhadap laporan kinerja yang dilakukan ketika itu baik bagus maka bisa dilanjutkan dan kita berupaya agar status pendamping desa ini lebih eksis lagi.

Apakah nanti menjadi kontrak kerja multiyears atau bahkan kalau perlu sampai kepada P3K? Tentu ini bagian dari usaha kita agar kinerja dan kemudian produk dari tugas-tugas pendamping desa betul-betul bersinergi dengan keinginan kita untuk penggunaan dana desa secara maksimal.

Nah oleh karena itulah maka Kementerian Desa tidak ada program untuk melakukan rekruitmen sampai dengan sekarang karena lebih fokus pada peningkatan SDM.

Terkait dengan data, nanti kita kirim kepada bapak iIbu nama dan alamat pendamping desa termasuk nomor induknya yang baru sekarang kita kasih nomor induk. Supaya identitasnya jelas, dengan demikian nanti Bapak Ibu sekalian bisa mengundang ketika turun ke Dapil bisa mendapat pengawasan dan sekaligus tugas-tugas yang bisa diberikan kepada para pendamping desa, terutama untuk pengawalan penggunaan dana desa.

Termasuk juga terkait dengan perangkat desa. Ada banyak memang aspirasi agar Kepala Desa ini dengan mengelola dana yang sekian ada dana operasional dan seterusnya. Ini sudah kita sampaikan kepada Kementerian Keuangan untuk menjadi perhatian juga kepada Kementerian Dalam Negeri. Bahkan kita sudah mengusulkan bagaimana mengukurnya, misalnya apa dana operasional Kepala Desa diberikan untuk mereka yang kinerja penggunaan dana desanya bisa maksimal. Nah ukuran maksimalnya sudah kita bikin sedemikian rupa, sehingga nanti semua kinerja itu betul-betul bisa terukur.

Bapak Ibu sekalian yang saya hormati.

Kemudian yang terkait dengan pagu yang dipakai. Jadi ceritanya begini, jadi awal itu 3,497 kemudian terjadi pemotongan 1,123 maka sisa 2373 ini yang awal. Kemudian tadi kita laporkan dalam DIPA 2573 ini karena kita memasukkan 199M yang menjadi kewajiban pendamping desa untuk gaji yang Desember.

Kemarin harus jadi pemotongan 1,123 itu mutlak, meskipun sudah kita sampaikan kalau dipotong 1,123 ini ada kekurangan untuk gaji pendamping desa. Tapi karena ini sudah dipatok sedemikian rupa maka tetap dilaporkan dipotong, tapi kemudian dikasih lagi untuk menutup kekurangan gaji itu tapi dalam bentuk dana yang masih terblokir. Nah kita masukkan lagi meskipun statusnya masih terblokir. Karena nanti kalau tidak kita masukkan pada laporan akhir nanti akan ada selisih. Jadi itu yang terkait dengan pagu yang kita pakai.

Kemudian pendapatan yang dari sewa, ini ada sewa kelembagaan misalnya dari BRI, BNI yang menggunakan aset-aset Kementerian Desa. Juga sewa perorangan misalnya ada gedung, tetapi semua sewa ini langsung masuk ke kas negara, tidak ada yang transit di Kementerian Desa. Dulu pernah katanya beberapa tahun yang lalu transit baru disetor. Kemudian jadi temuan BPK, akhirnya sekarang tidak ada satu rupiah pun yang transit, langsung ke kas negara.

Termasuk misalnya ada piutang 31,6 Juta karena kendaraan hilang, karena hilang maka wajib mengganti dan kemudian karena pegawai staf yang tentu tidak mampu langsung maka dicicil, nah ini termasuk piutang yang masih harus menjadi kewajiban.

Kemudian terkait dengan SP3 1,2,3 di Lampung tadi Pak Bambang Suryadi. Ini semua sudah diserahkan pak, kecuali yang terkait dengan tukar fungsi dengan hutan. Memang ini masih dalam proses, tapi yang untuk kawasan transmigrasi sudah diserahkan sepenuhnya kepada pemerintah daerah.

Kemudian ke Pak Eddi Santana, tadi terkait dengan Laporan Kinerja kita sudah sampaikan meskipun global di slide 14, 15, 16 tadi sudah kita sampaikan apa yang sudah kita capai pada posisi anggaran 2019 dan semuanya Alhamdulillaah pada posisi 100%.

Kemudian BLT dana desa tahap II dan seterusnya apa bisa diubah penerimanya? Sepanjang memenuhi mekanisme Musdes dan pendataan yang benar boleh. Jadi karena memang keberadaan BLT dana desa itu sikap atas Covid-19, maka sifatnya sangat dinamis. Bisa saja kemarin dapat, tapi kemudian karena kebetulan dia punya usaha baru yang dibutuhkan hari ini, ekonominya meningkat menjadi tidak layak untuk mendapatkan BLT. Maka bisa dicoret dan digantikan yang lain yang penting memenuhi mekanisme dalam hal ini adalah Musdesus.

Kemudian yang terkait dengan jembatan. Ini sudah diserahkan Pak Syahrul, jadi sudah kita serahkan kepada Pemda sejak dulu dan sudah kita laporkan secara tertulis beberapa waktu yang lalu.

Desa wisata memang menjadi prioritas, termasuk disinggung oleh Pidato Presiden pada Agustus yang lalu Pidato Kenegaraan di DPR salah satu prioritas adalah desa wisata.

Kemudian untuk Pak Gatot Sudjito terkait dengan PKP, kita sudah lakukan perbaikan Juknis dan untuk kondisi lapangan sudah kita tindaklanjuti sesuai dengan rekomendasi BPK.

Kemudian untuk Pak Iwan terkait food estate, Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi kebagian lahan. Jadi lahan yang di wilayah trans itu tanggung jawabnya kita untuk clean and clear terkait dengan data, selebihnya ditangani oleh kementerian lain, termasuk PUPR. Jadi untuk urusan SDM kalau tidak salah diserahkan ke Menhan kalau tidak salah ya? Jadi dulu memang SDM diserahkan ke kita, kemudian karena ini khusus maka tidak lagi menggunakan sumber daya dari transmigrasi.

Saya pikir itu Pak Ketua yang bisa kami laporkan. Mungkin ada hal yang kurang lengkap nanti akan kita sampaikan secara tertulis.

Terima kasih.

Wassalaamu'alaikum warrahmatullaahi wabarakatuh. KETUA RAPAT (LASARUS. S.Sos.,M.Si / F-PDIP):

Baik, cukup ya? Sekarang kita ke kesimpulan.

Saya bacakan draft Kesimpulan Rapat Kerja Komisi V DPR RI dengan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Kementerian Perhubungan dan Kementerian Desa PDT dan Transmigrasi, 31 Agustus 2020.

Poin pertama, Komisi V DPR RI memberikan apresiasi kepada Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Kementerian Perhubungan dan Kementerian Desa PDT dan Transmigrasi terhadap hasil pemeriksaan Laporan Keuangan Pemerintah Pusat (LKPP) Tahun 2019 dengan opini, Wajar Tanpa Pengecualian (WTP). Selanjutnya Komisi V DPR RI meminta Kementerian PUPR, Kementerian Perhubungan dan Kementerian Desa PDT dan Transmigrasi untuk mempertahankan opini ini tahun-tahun mendatang.

Yang kedua, Komisi V DPR RI memahami penjelasan Kementerian PUPR, Kementerian Perhubungan dan Kementerian Desa PDT dan Transmigrasi tentang capaian APBN Tahun 2020 sampai dengan capaian serapan kali ya? Ya capaian serapan APBN Tahun 2020 sampai dengan bulan Agustus 2020 dengan rincian sebagai berikut:

1. Kementerian PUPR per 30 Agustus 2020, realisasi keuangan 48,13%, realisasi fisik 48,15%.

2. Kementerian Perhubungan per 31 Agustus 2020, realisasi keuangan 45,27%, realisasi fisik 52,61%.

3. Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi per 26 Agustus 2020, realisasi keuangan 55,55% dan realisasi fisik 56,88%.

Selanjutnya Komisi V DPR RI meminta kepada Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Kementerian Perhubungan dan Kementerian Desa PDT dan Transmigrasi untuk meningkatkan capaian kinerja masing-masing kementerian sesuai dengan saran dan masukan Komisi V DPR RI dalam Rapat Kerja pada hari ini.

Yang ketiga, Komisi V DPR RI meminta Kementerian PUPR, Kementerian Perhubungan dan Kementerian Desa PDT dan Transmigrasi untuk mempercepat realisasi dan penyerapan anggaran pada program kegiatan dan memberi stimulus bagi masyarakat dalam pemulihan ekonomi, seperti program padat karya tunai, program padat karya tunai desa dan BLT dana desa.

Yang keempat, Komisi V DPR RI meminta Kementerian PUPR, Kementerian Perhubungan dan Kementerian Desa PDT dan Transmigrasi untuk segera meningkatkan kualitas perencanaan, pelaksanaan serta pengawasan dan pengendalian internal dalam tata kelola manajemen sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Pak Jhonni silakan.

F-PD (drh. JHONNI ALLEN MARBUN): Poin dua.

KETUA RAPAT (LASARUS. Sos. / F-PDIP): Ya buka poin dua.

F-PD (drh. JHONNI ALLEN MARBUN):

Poin dua itu yang terakhir selanjutnya Komisi V DPR RI meminta kepada ketiga Menteri untuk meningkatkan capaian kinerja masing-masing sesuai dengan saran-saran. Saran itu apa? Sesuai dengan artinya apa pada akhir tahun itu, dia bisa maksimal atau optimal, pada tahun akhir anggaran. Kita kan sekarang ini kan sudah jelas bulan Agustus, jadi kita meminta supaya pada tahun akhir anggaran dia bisa merealisasikan sesuai dengan target seoptimal mungkin gitu, itu saja. Saran tadi itu saran ini tidak jelas ini ya toh.

Jadi seoptimal mungkin pada realisasi akhir tahun anggaran, karena kita kan untuk mengetahui, kita bertemu ini kan adalah dalam rangka untuk merealisasi akhir tahun anggaran sampai bulan 31 Desember dari apa? Berani tidak kita mengatakan di atas 90% misalnya atau kata optimal terserah mana yang lebih tepat supaya sama-sama enak. Kalau saya sih di atas 90% kalau 100% tidak ya kan atau optimallah misalnya, ya itu barangkali nanti yang di.

Jadi di situ target kita dalam rangka Rapat Kerja ini, karena kalau Agustus tidak ada lagi cerita hanya menjelaskan sekian persen. Tapi dalam akhir Desember 31 Desember paling tidak bisa mencapai minimal persentasi tahun anggaran sebelumnya atau di atas. Saya kira begitu poin apanya yang kita sarankan atas RDP ini, kira-kira begitu itunya kalimatnya.

KETUA RAPAT (LASARUS. S.Sos.,M.Si / F-PDIP):

Baik, saya kasih ilustrasi dulu kan saran dan masukan hari ini kan banyak sekali gitu loh pak dan ini direkam, rapat kita ini direkam pak. Rapat kita direkam, ada notulen dan seterusnya ya ini. Jadi apa namanya ya ini sudah ada pembenahan ya? Nah ini masuk ya? Ya sudah oke, hanya penambahan sedikit, apakah itu mencapai target yang optimal.

Oke cocok? Cocok ya, sudah ya, Anggota semua sudah? Saya ketok ini.

(RAPAT: SETUJU) Silakan dari pemerintah. Pak Basoeki?

MENTERI PUPR RI (Ir. MOCHAMAD BASOEKI HADIMOELJONO, M.Sc., Ph.D.):

Saya kira atas nama teman-teman Pak Menhub dan Menteri Desa kami menerima cocok.

KETUA RAPAT (LASARUS. S.Sos.,M.Si / F-PDIP): Cocok ya, baik saya ketok.

(RAPAT: SETUJU)

Dalam dokumen DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA (Halaman 72-80)

Dokumen terkait