• Tidak ada hasil yang ditemukan

PD (drh. JHONNI ALLEN MARBUN): Terima kasih Pimpinan

Dalam dokumen DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA (Halaman 30-35)

Assalaamu'alaikum Warrahmatullaahi Wabarakatuh. Yang terhormat Pak Menteri mitra kerja PU,

PUPR dan Desa Daerah Tertinggal.

Pertama saya memberikan apresiasi terhadap penilaian WTP. Selanjutnya untuk Menteri PU program padat karya, saya kira juga sampai 2021 kalau tidak salah kita memberikan kewenangan kepada pemerintah itu 3 tahun dalam konteks untuk soal anggaran. Nah ini ini juga kemarin kita persoalkan di Banggar ya, penyerapannya kecil. Ini memang Pak Menteri PU misalnya halaman 14, ini juga saya agak kaget beban 2021 kan 121T ya. Penyerapan anggaran dan penyerapan fisik itu biasanya agak berbanding agak anggarannya boleh rendah tapi biasanya fisiknya agak tinggi, tetapi di 2020 hampir sama penyerapan fisiknya dan penyerapan anggarannya dan fisik ini memang. Padahal program padat karya tadi itu luar biasa sebetulnya ya, ini memang.

Di 2019 saja ada selisih sekitar 5% ya, ini tidak ada, 48-48 gitu antara fisik dan penyerapan anggaran. Ini sebenarnya menjadi perhatian. Apalagi khususnya nanti persoalan kita sekarang di samping katakanlah multiplier effect Covid ini adalah persoalan ekonomi ya. Kalau kita lihat secara katakanlah kuantitatif apa positifnya ini kan meningkat terus, malah perhitungan saya di Desember-Januari bisa 300.000 kalau begini ceritanya.

Bogor saja sekarang sudah ini lagi berat, bahkan pedagang kaki lima suruh tutup jam 06.00. Kadang-kadang orang mau pedagang kaki lima jam 06.00 ditutup tidak masuk akal saya juga, jam 09.00 okelah, orang mau beli makan di apa itu kan. Ini juga menjadi perhatian kepada pemerintah untuk sekedar.

Selanjutnya kepada Menteri Desa juga memang anggarannya sangat terbatas, tapi tolong Pak Menteri supaya kita juga memang terus terang saja dari sisi anggaran memang sangat kecil lah Menteri Desa. Tapi kan paling pokok di sini kan lebih besar itu kan dana-dana pendamping ya sesuai ketentuan perundangan. Kalau saya lihat di 2019 pendamping pada desa dengan 74.963 hampir 75.000 desa, sekarang mungkin sudah hampir 80.000 ya. Capaiannya 36.318 orang, ini maksudnya apakah satu orang itu bisa mendampingi dua desa atau apa atau memang sekian desa atau baru separuh desa yang ini juga harus dijelaskan? Dan kalau boleh ya karena kita dalam aspek pengawasan dan implementasi, desa-desa mana saja seluruh Indonesia dan provinsi. Supaya kita lihat bahwa kita perlu dorong ini paling

tidak desa ini harus terpenuhi, misalnya pada daerah tertentu gitu loh, harus clear dong ini supaya tahu ya kita sendiri. Saya tidak tahu teman-teman, saya sendiri pun tidak tahu Dapil saya 19 kabupaten kota ada tidak pendamping desanya dari apa namanya ini program PDT. Saya sendiri tidak tahu kalau tidak ada database, kan tidak mungkin kita tanya-tanya Kepala Desa hey tidak mungkin itu kan.

Demikian juga BUMDes juga bagus ya, ini juga tolong daerah-daerah mana saja dan apa yang menjadi hasil apa lagi desa-desa yang memiliki katakanlah spesifikasi atau potensi di desa itu. Misalnya potensi pariwisata atau potensi pengembangan ekonomi masyarakat tentunya ini harus menjadi prioritas ya toh.

Artinya begini kalau memang tidak ada potensi di situ ya untuk apa? Untuk merangsang boleh, tetapi potensi-potensi yang ada itu menjadi prioritas kira-kira begitu, supaya kita nanti lihat gitu loh. Walaupun anggaran ini memang terbatas tetapi dia lebih fokus. Kalau anggaran kecil ya jangan malah tidak fokus.

Anggaran besar ya bolehlah kebagian yang lain, tapi kalau sudah anggarannya kecil, tidak fokus dia tidak menghasilkan output hanya output saja pertanggungjawaban nya gitu loh. Jadi saya harap outcome-nya ini juga menjadi persoalan kita untuk ke depan karena memang persoalan ekonomi kita menjadi persoalan dalam 2-3 tahun ke depan. Mudah-mudahan apa yang disampaikan oleh Presiden Republik Indonesia Pak Jokowi ya 2021 kita sudah bisa vaksinasi ya luar biasalah ya kita harapkan.

Itu saja pesan-pesan saya dari sisi umum hal-hal yang sifatnya administratif ya silakanlah dilengkapi kalau saya begitu saja ya, yang penting kita dalam fokus 2021 ini adalah menindaklanjuti dari pada realisasi anggaran yang menurut kami memang masih minim, harus lebih fokus ya. Kalau sebelum-sebelumnya sih okelah pada akhir tahun ya.

Komentar saya kemarin di Panitia Anggaran kita meminjam uang 1.040 Triliun 2020, tapi realisasinya untuk katakanlah untuk penyelenggaraan Covid hanya 200 sekian. Yang paling sedih lagi kesehatan hanya 5% gituloh, terus medis paramedis belum dibayar, alasannya apa rumit.

Saya bilang begini Pak Ketua, kita tidak usah bicara rumit, APBN saja harus melalui DPR, kita kasih tidak usah melalui DPR cukup dengan Perpres. Artinya apa yang tidak boleh, kita kasih menjadi boleh. Ini soal rumit apa sih? Yang bikin rumit siapa? Kita atau rakyat?

Tentunya saya kira yang bikin rumit adalah pemegang kewenangan, kenapa tidak dipermudah? Jangan model itu, kalau bisa dipermudah ya lebih dipermudah lagi, jangan sudah dipermudah jangan dipersulit gitu loh kira-kira. Itulah fungsi dari pada menurut saya percepatan dari pada konsilasi multiplier effect Covid-19 ini yang diberikan oleh DPR terhadap pemerintah sampai 3 tahun sampai di atas 3% ya toh. Kita kasih untuk bisa defisit sekarang ini 6%. Itulah maksudnya supaya eksekutif saya kira mengambil itu. Jangan ada lagi

kata rumit, susah, loh bagaimana pemerintah rumit dan yang lainnya ya. Yang penting SOP-nya jelas ya secara hukumnya jelas, ya semuanya kan di bawah Presiden ya, di bawah Presiden ya. Tidak ada yang rumit kalau dilakukan secara kebersamaan diantara pemberi kewenangan oleh pemerintah.

Demikian Pimpinan pengantar saya terima kasih. Wassalaamu'alaikum warrahmatullaahi wabarakatuh. KETUA RAPAT (LASARUS. S.Sos.,M.Si / F-PDIP):

Setuju saya Pak Jhonni memang ini situasi yang luar biasa juga harus kita tanggapi dengan cara yang luar biasa. Setiap serapan itu pasti ada multiplier effect-nya di lapangan. Jadi kita berharap tahun ini serapan bisa lebih baik.

Kemudian silakan Pak Willem Wandik. Bersiap-siap Pak Herson. F-PD (WILLEM WANDIK, S.Sos.):

Baik, oh belum.

KETUA RAPAT (LASARUS. S.Sos.,M.Si / F-PDIP):

Silakan Pak Willem, fokus pada materi hari ini Pak Willem, untuk usulan nanti tanggal 2, silakan.

F-PD (WILLEM WANDIK, S.Sos.):

Baik, Pimpinan dan Bapak Ibu Anggota Komisi V dan juga mitra.

Dari kami pertama terkait dengan LKPP 2019 dulu baru nanti akan kami sampaikan juga terkait dengan RAPBN 2020.

Baik yang terkait LKPP Tahun Anggaran 2019 berdasarkan paparan yang telah disampaikan oleh mitra. Dari laporan keuangan per kementerian telah disampaikan secara umum kami merasa cukup bagus. Di mana realisasi anggaran 2019 rata-rata di atas 85%. Tentunya kami patut memberikan apresiasi dan juga terkait dengan hasil pemeriksaan BPK RI. Di mana mitra kami per kementerian telah meraih peringkat opini, Wajar Tanpa Pengecualian. Tentunya kami juga turut memberikan apresiasi atas keberhasilan ini.

Dan berikut kami juga ingin memberikan catatan sedikit kepada Kementerian Desa. Pertama terkait dengan realisasi anggaran sebesar 55,5% untuk ya sorry untuk Kementerian Desa hasil penerimaan negara bukan pajak. Terkait pendapatan sewa tanah, gedung dan bangunan tahun 2019 bentuknya seperti apa dan penyewanya perorangan atau lembaga?

Yang kedua, mengapa jalan irigasi dan jaringan masih masuk pada aset tetap Kementerian Desa untuk tahun 2019? Mestinya tidak lagi karena sudah diserahterimakan kepada pemerintah daerah atau masyarakat.

Yang berikut piutang jangka panjang tahun 2019 sebesar 31,64 Juta akibat kehilangan kendaraan bermotor roda dua. Kok bisa terus bagaimana kelanjutannya? Itu terkait dengan LKPP Tahun Anggaran 2019 Pak Ketua.

Poin kedua adalah terkait dengan RAPBN Tahun Anggaran 2020 kalau memperhatikan paparan yang disampaikan tadi, bahwasanya realisasi anggaran 2020 untuk mitra kami per kementerian. Di mana realisasi anggarannya memasuki akhir triwulan ketiga ini 2020 ini masih di bawah 60% dari pagu anggaran.

Di mana realisasi anggaran Kementerian PUPERA 48,13%, Kementerian Perhubungan 45,27% dan Kementerian Desa 55,55%. Sehingga dikhawatirkan dengan kondisi pandemi Covid-19 ini yang masih terjadi saat ini maka sangat terberat untuk mencapai realisasi di atas 95% sampai akhir tahun 2020 nanti. Oleh karena itu di sini dibutuhkan perhatian dan keseriusan oleh kita semua, baik mitra maupun juga kami di parlemen dalam menjalankan fungsi parlemen.

KETUA RAPAT (LASARUS. S.Sos.,M.Si / F-PDIP): Cukup Pak Willem?

F-PD (WILLEM WANDIK, S.Sos.):

Dan Pak Ketua kami juga ingin memberikan catatan. KETUA RAPAT (LASARUS. S.Sos.,M.Si / F-PDIP):

Ya silakan pak, silakan.

F-PD (WILLEM WANDIK, S.Sos.):

Kami coba ingin memberikan rekomendasi dan tindak lanjut. Pertama. KETUA RAPAT (LASARUS. S.Sos.,M.Si / F-PDIP):

Kalau catatan langsung saja pak, silakan-silakan Pak Willem.

Ini judulnya lagunya “Aku Papua” pak. Silakan. Mas tolong dipoto yang bagus Mas. Pak Willem mau kirim ke Dapil, mau ke Menteri mana pak? Menteri PU atau Menteri Desa, oh dapat semua ya, ya semua dapat pak semua dapat ya.

Baik, terima kasih Pak Willem.

F-PDIP (H. HERSON MAYULU, S.IP.): Terima kasih.

Assalaamu'alaikum warrahmatullaahi wabarakatuh, Selamat siang,

Salam sejahtera bagi kita semua. Pimpinan DPR yang saya hormati,

Para Pimpinan Komisi, semua Anggota Komisi V yang saya hormati, Pak Menteri Perhubungan,

Menteri PUPERA,

Pak Kemendes bersama Wamen yang saya hormati,

Seluruh Pejabat Eselon I dari ketiga kementerian yang ada, Kita semua yang inshaAllah dirahmati Allah.

Yang pertama, tentu saya memberikan apresiasi yang positif terhadap pencapaian opini WTP yang diraih oleh tiga kementerian ini. Walaupun kita tahu bersama masih banyak catatan-catatan hendaknya tahun-tahun berikut catatan ini semakin kecil temuannya.

Yang kedua, soal realisasi anggaran yang dikatakan masih sedang-sedang. Saya tidak mau katakan rendah, saya juga memaklumi kenapa ketika terjadi refocusing realokasi banyak kementerian kelabakan. Oleh karena itu ternyata kemudian dalam serapan anggaran yang belum sesuai yang diharapkan. Tapi saya yakin dan percaya serapan anggaran ini akan bisa terwujud pada akhir tahun anggaran nanti.

Kita tahu refocusing dan realokasi selain kementerian mengeluarkan peraturan. Juga kita terkait dengan aturan-aturan yang dikeluarkan oleh Menteri Keuangan sendiri. Terus terang hampir 2 bulan terlihat di lapangan sangat-sangat sulit menyerap anggaran karena pada bingung semua. Jadi ketika realisasi sampai dengan bulan ini masih seperti ini, saya maklumi saja.

Yang ketiga, saya harus mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang tinggi kepada Pak Menteri PUPERA beserta jajaran. Karena penanganan bencana banjir, bencana alam yang cepat dan tanggap. Terima kasih Pak Menteri. Saya perlu laporkan satu hari sesudah bencana terjadi Kepala Balai Jalan dan Balai Sungai sudah ada di lokasi. Tentu ini satu harapan yang baik walaupun sampai sekarang penanganan siaga darurat belum tuntas. Terutama untuk sungai karena suasana cuaca di sana masih hujan masih deras, sewaktu-waktu banjir masih ada.

Yang ketiga, terima kasih juga ke Pak Menteri Desa. Saya di Dapil saya Sulawesi Utara kerja sama dengan koordinasi provinsi dengan kabupaten sudah terjalin bagus. Saya undang mereka untuk koordinasi mereka hadir, cuman ada titipan dari mereka. Dari Kemendes harus memikirkan ada satu regulasi yang memberi penguatan kepada para petugas pendamping desa ini terutama karena mereka belum begitu percaya diri.

Kadangkala dalam penyusunan APBD Desa mereka kurang diperankan oleh pemerintahan desa. Karena mereka tidak punya regulasi yang kuat dari Kementerian Desa, sampai di mana peran mereka?

Yang kedua juga titipan dari mereka, soal kesejahteraan mereka Pak Menteri. Memang dengan honor 3 Juta pendamping desa itu satu bulan tidak cukup. Sudah berulang kali saya bilang itu, mudah-mudahan 2021 ada peningkatan.

Yang kelima terakhir, mohon kepada kita semua terutama kepada tiga kementerian ini. Agar ke depan-ke depan serupiah yang keluar uang negara itu memberi dampak kepada kesejahteraan rakyat.

Itu yang paling penting dan paling terakhir Pak Menteri Perhubungan, saya mohon maaf saya sudah dua kali diundang untuk melihat program padat karyanya Kementerian Perhubungan. Masalahnya adalah jauh saya harus datang ke Sitaro. Sitaro itu lapangan terbang belum ada, saya harus naik kapal laut dengan kondisi yang ekstrim seperti ini saya masih takut. Nanti siang mau PAW saya yang untung Pak Menteri, belum setahun kemudian di-PAW.

Demikian Pak Ketua, terima kasih. Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq, Nasrun minallah wafatun qorib,

Billahifisabilaq,

Wassalaamu'alaikum warrahmatullaahi wabarakatuh. KETUA RAPAT (LASARUS. S.Sos.,M.Si / F-PDIP): Wa'alaikumsalam.

Kaka Willem kalau pakai ini kalau jalan sama kita di hutan Papua mesti kasih tahu kalau tidak bisa lari tidak karu-karuan kita.

Ya baik Pak Herson terima kasih.

Selanjutnya Pak Roberth Rouw, eh sorry Bu Attari, bersiap-siap Pak Roberth Rouw.

F-PAN (ATHARI GAUTHI ARDI):

Dalam dokumen DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA (Halaman 30-35)

Dokumen terkait