• Tidak ada hasil yang ditemukan

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA"

Copied!
28
0
0

Teks penuh

(1)

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA RISALAH RESMI RAPAT KERJA

KOMISI V DPR RI DENGAN

MENTERI DESA PEMBANGUNAN DAERAH TERTINGGAL DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA

Tahun Sidang : 2019-2020 Masa Persidangan : II

Rapat ke- :

Jenis Rapat : Rapat Kerja Sifat Rapat : Terbuka

Hari, Tanggal : Selasa, 25 Februari 2020 Waktu : Pukul 10.30 s.d. 11.35 WIB

Tempat : Ruang Rapat Komisi V DPR RI, Gedung Nusantara - Jakarta

Ketua Rapat : H. Syarief Abdullah Alkadrie, S.H., M.H./ Wakil Ketua Komisi V DPR RI / F-P.Nasdem

Sekretaris Rapat : Nunik Prihatin Budiastuti, S.H.

Acara : Membahas Penjelasan mengenai Silpa (Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran) Tahun Anggaran 2019 dan Evaluasi Pelaksanaan Anggaran Tahun 2019.

Hadir : 32 orang anggota hadir, 2 orang anggota izin dari 52 orang Anggota dengan rincian

A. Anggota DPR RI: PIMPINAN :

1. Lasarus, S.Sos, M.Si

2. H. Syarif Abdullah Alkadrie, SH, MH

1. FRAKSI PARTAI DEMOKRASI INDONESIA PERJUANGAN:

6 orang Anggota dari 10 Anggota: 1. Herson Mayulu, S.IP

2. Mochamad Herviano

3. Bob Andika Mamana Sitepu, SH 4. Sarce Bandaso Tandiasik, SH 5. H.M.Rifqinizamy Karsayuda 6. Bambang Suryadi, SH, MH

(2)

2. FRAKSI PARTAI GOLKAR:

6 orang Anggota dari 7 Anggota: 1. Drs. Hamka B Kady, MS

2. H. Daniel Mutaqien Syafiuddin, ST 3. H. Ansar Ahmad, SE, MM

4. H. Hasan Basri Agus 5. Ir.H. Anang Susanto, M.Si 6. H.Tubagus Haerul Jaman, SE 3. FRAKSI PARTAI GERINDRA: 3 orang Anggota dari 6 Anggota:

1. H. Andi Iwan Darmawan Aras, SE, M.Si 2. Drs. H. Mulyadi, MMA

3. Ir. Eddy Santana Putra, MT

4. FRAKSI PARTAI NASIONAL DEMOKRAT 3 orang Anggota dari 4 Anggota:

1. Drs. H.Tamanuri, MM 2. Sri Wahyuni

3. Roberth Rouw 5. FRAKSI PKB:

6 orang Anggota dari 6 Anggota: 1. Neng Eem Marhamah Zulfa Hiz 2. H. Irmawan, S.Sos, MM

3. Ruslan M Daud

4. Sofyan Ali, S.Ag, SH, M.Pd 5. H. Dedi Wahidi, S.Pd

6. H. Syafiuddin, S.Sos

6. FRAKSI PARTAI DEMOKRAT: 2 orang Anggota dari 5 Anggota:

1. Drh. Jhoni Allen Marbun 2. Ir. H. Ishak Mekki, MM 7. FRAKSI PARTAI KEADILAN SEJAHTERA:

2 orang Anggota dari 4 Anggota: 1. H. Syahrul Aidi Maazat, Lc, MA 2. H. Suryadi Jaya Purnama, ST 8. FRAKSI PARTAI AMANAT NASIONAL:

1 orang Anggota dari 4 Anggota: 1. Hj. Hanna Gayatri, SH

9. FRAKSI PPP:

1 orang Anggota dari 1 Anggota: 1. H. Muh Aras, S.Pd, MM

(3)

Anggota yang izin dan sakit:

1. Hj. Sadarestuwati, SP, M.MA (F-PDIP) 2. Ir. H. Sigit Sosiantomo (F-PKS)

B. UNDANGAN :

1. A. Halim Iskandar (Menteri Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi)

2. Budi Ane Setiadi (Wamen) 3. Samsul Widodo (Dirjen PDT) 4. Anwar Sanusi (Sekjen PDTT) 5. M.Nurdin (Dirjen Plotgan) 6. Taufik Madjid (Dirjen PPMD) 7. R. Hari. P (Dirjen PKP2Trans) 8. Aisyah Gamawati (Dirjen PDTU)

9. Heriyanto (Dir. Promosi KementerianTrans) 10. Hermanto Sirulingga (Dir. Pembiayaan Trans) 11. Siswa Trihadi (Dir. PSPKP)

(4)

KETUA RAPAT / WAKIL KETUA KOMISI V DPR RI (H. SYARIEF ABDULLAH ALKADRIE, S.H., M.H./ F-NASDEM):

Assalaamu'alaikum warrahmatullaahi wabarakatuh, Selamat siang dan salam sejahtera.

Anggota DPR RI yang saya hormati,

Saudara Menteri Desa PDT danTransmigrasi beserta jajarannya.

Sebagaimana mengawali rapat ini, maka saya akan menyatakan bahwa rapat ini terbuka untuk umum.

(RAPAT DIBUKA PUKUL 10.30 WIB)

Pertama-tama, kami dari DPR RI dari Komisi V Pimpinan beserta Anggota menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada saudara mentreri beserta seluruh jajaran yang hadir dalam Rapat Evaluasi terhadap Anggaran Tahun 2020, eh Tahun 2019, mohon maaf.

Berdasarkan Bab I Ketentuan Umum Permenkeu No.203 PMK 05 2013 tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Keuangan No.206 PMK 05 2010 tentang Pengelolaan Saldo Anggaran Lebih yang dimaksud dengan Silpa atau Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran adalah selisih lebih realisasi penerimaan dan pengeluaran APBN selama satu periode pelaporan.

Berdasarkan bahan dari Kementerian Desa PDT Transmigrasi yang kami terima, terdapat jumlah anggaran yang tidak terserap tahun 2019 sebesar Rp 203,47 Miliar terkait dengan anggaran yang tidak terserap tersebut Komisi V DPR RI hendak mendapatkan penjelasan apakah dapat ditempatkan untuk membiayai kebutuhan APBN pada tahun-tahun berikutnya sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Dalam kesempatan ini kami Komisi V DPR RI juga ingin mendapatkan penjelasan antara lain; tentang mekanisme Silpa di Kementerian Desa, PDT dan Transmigrasi, termasuk faktor-faktor yang menjadi kendala dan penyebab, serta bagaimana pengelolaan dan pengalokasiannya.

Selain itu perlu kami sampaikan pula bahwa pada tanggal 25 Oktober 2018 yang lalu, Komisi V DPR RI telah mengesahkan pagu anggaran Kementerian Desa, PDT dan Transmigrasi dalam Tahun 2019 sebesar Rp 4,325 Triliun, oleh karena itu Komisi V DPR RI juga ingin memperoleh penjelasan tentang pelaksanaan anggaran tahun 2019 di Kementerian Desa, PDT dan Transmigrasi.

Saudara Pimpinan, Anggota Komisi V,

(5)

Demikianlah pengantar dari kami untuk menyingkat waktu kami persilakan kepada saudara Menteri untuk menyampaikan sebagaimana yang telah kami sampaikan di awal dalam pembukaan rapat ini.

Sekali lagi kami atas nama Komisi V menyampaikan ucapan terima kasih yang setinggi-tingginya kepada saudara Menteri beserta seluruh jajaran yang hadir pada rapat hari ini dan juga kepada teman-teman, perlu diketahui bahwa Pak Menteri ini ada Ratas jam 13.30 WIB, ya kita harapkan soal ini di Istana ya pak ya, di Bogor atau di? Oh di sini, ini juga jalan banyak yang macet ini. Jadi bisa mengatur waktu. Kira-kira kita sepakati berapa lama pak? Ya paling tidak 1 jam ya 12.30 WIB cukup? Ya saya kira silakan sambil berjalan, ini Ratas jalan terus, kita lihat.

Untuk itu kami persilakan kepada Pak Menteri untuk menyampaikan apa yang dimaksud tadi.

Silakan pak.

MENTERI DESA PEMBANGUNAN DAERAH TERTINGGAL DAN TRANSMIGRASI RI (Drs. H. ABDUL HALIM ISKANDAR, M.Pd.):

Assalaamu'alaikum warrahmatullaahi wabarakatuh. Yang saya hormati para Pimpinan dan Anggota Komisi V, Teman-teman dari Kementerian Desa, Pak Wamen.

Sesuai dengan apa yang disampaikan oleh Pimpinan Rapat, kami ingin melaporkan beberapa hal terkait dengan penggunaan anggaran di 2019. Masuk halaman 3. Jadi kalau kita lihat pagu anggaran di 2019 kita punya Silpa Rp 203.470.713.242,- setara dengan 3,79% yang Alhamdulillaah pada posisi di 2015-2019 halaman 5, penyerapan kita antara pagu dengan realisasi termasuk sangat tinggi dari posisi 2015 sampai 2019, posisi kita hari ini 96,21%. Mudah-mudahan nanti di 2020 bisa lebih meningkat lagi.

Nah terkait dengan Silpa yang sebesar Rp 203.470.713.242,- ini seluruhnya kembali ke kas negara. Artinya dana ini masuk lagi ke kas negara dan tentu ada tahapan atau proses-proses untuk penggunaan proses penyusunan dan pemanfaatan APBN untuk 2020.

Kondisi 203 ini disebabkan; satu, sisa belanja pegawai, itu salah satu faktor kenapa terjadi Silpa. Kemudian yang kedua, sisa belanja barang. Yang ketiga, sisa anggaran dari belanja jasa profesi. Yang ke empat putus kontrak kegiatan pada beberapa program. Jadi mungkin karena ada permasalahan terkait dengan pelaksana proyek pihak ketiga. Kemudian sisa lelang karena efisiensi. Ini faktor-faktor yang menjadi penyebab terjadinya Silpa.

Nah terkait dengan output prioritas, ini sudah kita laporkan semua dari yang sifatnya global, termasuk lampiran yang kita susulkan Pak Pimpinan Komisi, cukup detil laporan kita sesuai dengan UKE1. Sekilas kita bisa sampaikan satu contoh saja untuk output prioritas pengawasan dan

(6)

peningkatan akuntabilitas tahun 2019 Inspektorat I, II ini sama-sama 100%. Inspektorat III naik 109% artinya target terlampaui bahkan lebih. Bahkan di Inspektorat V itu dari 31 laporan yang direncanakan, realisasi sampai 56 laporan. Ini terjadi karena memang ada permintaan, jadi dari sisi perencanaan memang menyiapkan untuk mengawasi 130 laporan, tetapi karena permintaan akhirnya bertambah 5, nah bertambah menjadi 56 laporan dari 31 laporan yang direncanakan untuk diperiksa di Inspektorat V. Itu makanya bisa sampai 180%. Begitu juga untuk Inspektorat III dari 54 menjadi 59 laporan yang diperiksa.

Demikian seterusnya bisa dicermati di laporan yang sudah kita kirim beberapa hari yang lalu dan sudah juga kita tambahi dengan susulan telling matrik masing-masing UKE1.

Demikian laporan singkat Pak Pimpinan Komisi, selanjutnya nanti kita akan menunggu arahan dari seluruh Pimpinan dan Anggota Komisi V.

Terima kasih.

Wassalaamu'alaikum warrahmatullaahi wabarakatuh.

KETUA RAPAT / WAKIL KETUA KOMISI V DPR RI (H. SYARIEF ABDULLAH ALKADRIE, S.H., M.H./ F-NASDEM):

Baik Bapak Menteri.

Secara singkat sudah menyampaikan laporannya. Saya kira bahan-bahan ini sudah Bapak-bapak terima semua ya keseluruhannya. Sudah diterima keseluruhan, saya pikir sudah dipelajari dan saya lihat detil ini ya ini bahan-bahannya disampaikan secara lengkap. Ini kita berikan apresiasi kepada Pak Menteri pada hari ini menyampaikan laporan yang saya kira dari tiga kementerian yang rapat hari ini baru yang sekarang ini yang lengkap, sehingga kedua kali rapat kemarin terpaksa ditunda pak.

Saya tadi was-was apa deg-degan juga jangan sampai nanti Kemen DT ini tertunda, yang mimpin rapat disuruh saya, saya tidak enak juga menunda tapi ini saya lihat lengkap yang disampaikan ini, ya silakan untuk diperdalam oleh rekan-rekan sekalian berkaitan dengan apa yang disampaikan oleh Pak Menteri tadi.

Saya kira karena ini belum ada yang menyampaikan ini, saya persilakan siapa yang menunjuk tangan. Pak Rifqi, pak siapa, Pak Tamanuri, Pak Bambang, ya tiga.

(7)

F-PDIP (H.M. RIFQINIZAMI KARSAYUDA, S.H.): Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Assalaamu'alaikum warrahmatullaahi wabarakatuh.

Ketua dan Kawan-kawan Anggota Komisi V yang kami hormati, Bapak Menteri,

Pak Wakil Menteri,

Para Pejabat Eselon I, II di Kementerian Desa PDT yang kami banggakan. Pertama, kita ini rindu sekali dengan Pak Menteri dan jajaran pak, karena baru sekali rapat dan baru rapat lagi kali ini. Bahkan Pak Mulyadi itu pernah nanya ke kami, “Pak Halim itu masih mitra kerja kita apa tidak?” katanya. Jadi mungkin tidak usah nunggu dipanggil Komisi V pak, sesekali juga kita agendakan misalnya Kunspik dan lain-lain untuk melihat kinerja kawan-kawan Kementerian Desa PDT yang saya kira banyak diapresiasi oleh publik.

Yang kedua, ini pertanyaan di luar Silpa. Saya harus tanyakan agar tidak menjadi bola liar. Kita tahu Kementerian PDT antara APBN yang disepakati di Komisi V dengan APBN yang didapat itu ada selisih Rp900 Miliar. Kalau kita berkaca dalam konteks Undang-undang tentang Keuangan Negara, ini kalau tidak di-clear-kan akan menjadi bola liar di mana-mana. Karena fungsi Badan Anggaran dan Pimpinan DPR sekalipun itu tidak boleh mendelegasikan tahapan pengambilan keputusan anggaran yang ada di Komisi sebagai mitra kerja.

Itu saya kira mungkin Pak Sekjen bisa membantu Pak Menteri karena Pak Menteri belum masuk pada saat itu, agar nanti kalau saya tidak nanya teman-teman juga pasti nanya soal ini pak.

Yang kedua, soal pengawasan dan akuntabilitas tahun 2019. Kita mengapresiasi kinerja Inspektorat-inspektorat, terutama Inspektorat III dan Inspektorat V sebagaimana paparan Pak Menteri tadi, tapi pada pihak yang lain juga tingginya laporan itu juga mengindikasikan sebetulnya banyak keresahan di masyarakat terkait dengan terutama dana desa. Karena itu mungkin nanti perlu juga dipaparkan secara lebih spesifik apa sih yang paling menjadi keluhan dari masyarakat. Kami punya data pak sebetulnya di internal, tapi akan lebih elok kalau bapak yang lebih dulu memaparkan. Bayangkan di Inspektorat V ini ada 180%, jadi targetnya cuma 31 laporan tapi karena ada permintaan dari kelompok tertentu dan di masyarakat menjadi 56 laporan. Di Inspektorat III awalnya cuma 54, tapi karena ada 4 tambahan permintaan dari masyarakat menjadi 59.

Saya kira itu Pimpinan, Pak Menteri, Pak Wamen, mohon maaf atas segala kekurangan dan kekhilafan.

Wabillaahittaufik walhidayah. Waridho inayah.

Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq.

(8)

KETUA RAPAT / WAKIL KETUA KOMISI V DPR RI (H. SYARIEF ABDULLAH ALKADRIE, S.H., M.H./ F-NASDEM):

Silakan Pak Tamanuri.

F-P.NASDEM (Drs. H.TAMANURI, M.M.):

Assalaamu'alaikum warrahmatullaahi wabarakatuh. Yang terhormat Bapak Pimpinan,

Yang terhormat saudara-saudara Anggota DPR RI Komisi V, Yang kami banggakan Bapak Menteri beserta jajarannya.

Kami tidak, belum bisa mengambil suatu pemikiran-pemikiran, tapi sudah jelas bahwa persentase keberhasilan Kementerian Desa dan Transmigrasi ini sudah luar biasa 97 koma sekian persen. Akan tetapi tadi kita sudah dibatasi waktu 1 sampai 1,5 jam. Ini 8 buku yang diserahkan ini baru kami terima hari ini. Jadi tidak mungkin 1 buku pun bisa kami baca.

Nah oleh karena itu berilah kami kesempatan untuk dapat mempelajari ini sehingga kita lebih mendalam lagi. Karena gunanya pendalaman ini adalah untuk juga kementerian untuk masa depan apa yang akan kita kerjakan. Memang secara kasat mata sih semua program-program yang diturunkan ke bawah terutama dana desa, itu baik. Akan tetapi sekarang seperti sekarang ini setelah keluarnya himbauan bahwa mereka harus menyampaikan pertanggungjawaban tahun yang lalu. Nyatanya di salah satu kabupaten di Provinsi Lampung dari 247 desa hanya 2 yang bisa menyelesaikan itu dan hanya 2 yang baru dicairkan 40% itu yang 40-40-20 itu.

Nah oleh karena itu tentu juga tempat lain seperti itu, karena apa, karena memang Kepala Desa-nya tidak hebat-hebat, bukan sarjana semua dan mereka tidak ada namanya pendamping yang bisa memberikan saran-saran dan petunjuk.

Nah oleh karena itu saya khawatir kalau ini tidak didalami secara mendalam, maka hasilnya juga kurang memadai. Oleh karena itu saya harapkan beri kami kesempatan untuk membaca ini lebih bagus lagi, lebih dalam lagi.

Terima kasih.

Wassalaamu'alaikum warrahmatullaahi wabarakatuh.

KETUA RAPAT / WAKIL KETUA KOMISI V DPR RI (H. SYARIEF ABDULLAH ALKADRIE, S.H., M.H./ F-NASDEM):

(9)

F-PDIP (BAMBANG SURYADI, S.H., M.H.): Terima kasih Pimpinan.

Bismillaahirrahmaanirrahiim,

Assalaamu'alaikum warrahmatullaahi wabarakatuh, Selamat siang,

Salam sejahtera.

Pimpinan dan Anggota Komisi V yang saya hormati, Pak Menteri,

Pak wamen serta jajaran yang saya hormati.

Luar biasa penyerapan Kemendes sampai 95 lebih, ini pertanyaannya karena memang anggarannya kecil, sehingga pengelolaannya bisa maksimal. Pak Menteri, tadi bapak menyampaikan soal Silpa. Silpa dari 203 semuanya kembali ke Menteri Keuangan diteruskan dengan kalimat bapak penggunaannya kembali dengan mekanisme-mekanisme. Saya ingin ada jawaban yang lebih dalam soal teknis penggunaan kembali Silpa tadi. Apakah isu itu sudah masuk include dalam struktur APBN di Kemendes atau belum? Itu yang pertama.

Yang kedua, Presiden menugaskan Kementerian Desa di dalam Nawacita-nya itu salah satunya adalah desa wisata. Pengelolaan pembinaan desa itu memang bapak tidak sendirian, diatur oleh undang-undang. Ada Menteri Dalam Negeri untuk struktur pemerintahannya, Kemendes ini pemberdayaannya, sehingga saya masih ketemu tumpang tindih aturan di dalam Permen itu yang tumpang tindih sehingga membingungkan kawan-kawan di bawah. Sehingga perlu penajaman kembali pak, penyinkronan kembali gitu.

Yang ketiga, saya mengulangi pertanyaan saya yang beberapa minggu yang lalu, bapak sudah jawab sebenarnya, tetapi ini perlu proses dan saya berharap bahwa ini sesegera mungkin. Di otak Kepala Desa hari ini, ini boleh saya katakan mayoritas kalau dana desa soal aturan mulailah yang tidak boleh ini, yang boleh ini, ini sudah mulai agak tertib, tetapi bahwa dia berhak mengelola atau dipihak ketigakan atau dirinya menamakan sebagai pemborong itu mayoritas terjadi pak. Ini dari Irjen ya, ini terjadi pak. Kalau di Lampung di kampungnya Pak Tamanuri dan kampung saya itu misalkan pembangunan peningkatan jalan desa itu sudah pasti pak, walaupun tidak ada nama CV atau PT-nya yang kerja pihak ketiga.

Konsep Undang-undang Desa itu yang pertama adalah padat karya. Ini sudah lari dari arah tujuan Undang-undang Desa yang sebenarnya. Nah yang selanjutnya soal penentuan dari pada desa wisata dan lain sebagainya. Target utamanya bagaimana Bumdes itu bisa bersaing, bisa menjadi menciptakan lapangan kerja, bisa meningkatkan income desa yang sebelumnya desa prasejahtera menjadi desa sejahtera. Ini tanggung jawab ini

(10)

ada di pundak Kemendes Pembinaan aparaturnya ada di Kementerian Dalam Negeri.

Soal hal-hal yang lain-lain laporan, nah ini luar biasa pak luar biasa. Jadi mudah-mudahan ke depan kalau memang bapak bisa membuktikan Bumdes-bumdes bisa berdaya saing semakin banyak-semakin banyak, Bapak tunjukin sama kami “Ayo Komisi V kunjungan ke mana Bumdes-nya yang paling luar biasa” nah itu baru kita naikkan anggarannya tahun depan. Terima kasih.

Wabillaahittaufik walhidaya,

Wassalaamu'alaikum warrahmatullaahi wabarakatuh.

KETUA RAPAT / WAKIL KETUA KOMISI V DPR RI (H. SYARIEF ABDULLAH ALKADRIE, S.H., M.H./ F-NASDEM):

Silakan Pak siapa tadi yang pertama, Pak Syahrul Aidi ya. Tadi sudah ngangkat ayo pak. Nanti siap-siap pak.

F-PKS (H. SYAHRUL AIDI MAAZAT, L.C., M.A.): Bismillaahirrahmaanirrahii,

Assalaamu'alaikum warrahmatullaahi wabarakatuh. Pimpinan dan Anggota Komisi V,

Pak Menteri dan jajarannya.

Ini sudah dua kali rapat di Komisi V, tapi bagi saya ini baru rapat perdana dengan Pak Menteri Desa. Bahagia sekali bisa bertemu dengan Pak Menteri salah satu yang membuat saya senang berada di Komisi V ini, karena mitra kerjanya adalah Kementerian Desa.

Untuk memperkenalkan diri, karena ini pertemuan pertama dengan saya pak, Syahrul Aidi dari Dapil Riau II pak, PKS. Dapil Riau II itu seluruhnya kabupaten, maka di bawahnya banyak sekali desa dan banyak desa transmigrasi dan juga desa tertinggal. Dulu Pak Menterinya pernah dari Kementerian Desa juga adalah Bapak Lukman Edi ya, baik pak.

Saya membaca sedikit perjalanan Kementerian Desa ini terkait anggaran setiap tahun nampaknya menurun. Maka kalau tadi dikatakan serapan anggarannya cukup besar, karena dananya sedikit.

Nah ini menjadi tanda tanya bagi saya, padahal saya berharap dengan adanya Undang-undang Desa ini dan begitu banyak anggaran yang dikucurkan oleh pemerintah, baik itu melalui Kementerian Keuangan ataupun Kementerian Desa, desa kita bisa berkembang. Melalui desa ini kita bisa membangun Indonesia.

(11)

Saya melihat apa yang disampaikan oleh teman-teman tadi salah satu prioritas pembangunan dan pemberdayaan masyarakat desa tahun 2019 itu adalah tentang desa wisata pak, tetapi saya menyayangkan ternyata di dalam pagunya hanya untuk 37 desa. Kemarin kami mendengar program ada desa wisata yang kemudian bisa kita kucurkan anggarannya ke desa-desa, tetapi yang menyedihkan kembali bahwasanya hanya diperuntukkan untuk 7 objek wisata yang besar. Ini saya lihat tumpang tindih pak, kalau hanya mohon maaf ya Borobudur, Mandalika, itu juga harus diurus oleh Kementerian Desa, ini overlapp. Ini cakupannya bukan lagi desa pak, harusnya Kementerian Desa itu lebih mengarah kepada desa-desa yang punya potensi wisata yang tidak tergali.

Di kami pak di Riau itu ada desa yang sangat terpencil sekali. Kami kemarin melakukan perjalanan untuk 50KM jaraknya itu 12 jam pak, jalannya jelek, tidak ada akses jalan. Kemudian potensinya luar biasa potensi wisata, tapi permasalahannya apa, anggaran untuk membangun dan memperbaiki sarana dan prasarana wisatanya itu tidak ada. Saya berbahagia kemarin oh ini ada desa wisata, saya bisa mengkomunikasikannya dengan Kementerian Desa, tetapi saya akhirnya kecewa ternyata hanya untuk wisata-wisata yang sudah luar biasa besar.

Nah ini mohon kepada Kementerian Desa agar lebih mengambil posisi yang memang belum ada kementerian yang mengelolanya. Nah ini saya lihat mari fokus pak untuk desa wisata ini ke depan kita lebih harus lebih banyak ini Ketua. Karena banyak di Indonesia ini terutama di desa-desa itu potensi wisata yang saya punya satu tempat kemarin saya kunjungi, ada 47 spot air terjun di satu desa pak dan itu tidak tergali dan itu menjadi wisata minat khusus dan luar biasa. Nah ini mohon ditampung ini di Kementerian Desa.

Yang ketiga, yang ingin saya sampaikan kebetulan kami aktif komunikasi dengan Kepala Desa, dengan Asosiasi Desa. Pak ini anggaran luar biasa yang dikucurkan ke desa bisa lebih kurang 1 Miliar per desa dari Kementerian Keuangan, tentu regulasinya juga ada dari Kementerian Desa. Saya sangat bahagia kemarin kalau tidak salah Peraturan Menteri Desa mengenai penggunaan dana desa itu adalah diantaranya untuk olahraga ya pak ya, nah salah satu fokusnya adalah olahraga, tapi mohon maaf supaya lebih terarah pak. Saya mengusulkan agar bentuknya bukan anggaran lepas begitu saja, tetapi coba kita buat pola pendampingan.

Jadi ada namanya pendamping olahraga desa atau apalah istilahnya, sehingga apa, ini kita bisa rekrut para atlit, mantan atlit atau sarjanan olahraga. Kemudian dia menjadi pendamping olahraga di desa, kan selama ini desa sudah membangun sarana dan prasarana olah raga desa dan arah kebijakan kita juga pernah untuk membangun sarana prasarana olahraga. Kalau sekarang adalah pembinaannya, tetapi kalau pembinaannya itu lepas tidak jelas siapa yang akan menangani, hanya diserahkan kepada Kepala Desa, saya kira nanti olahraganya hanya untuk mengeluarkan keringat. Kita ingin dari desa ini muncul atlet pak. Kenapa atlit kita ini selama ini tidak begitu profesional, tidak begitu muncul, karena ternyata atlet itu dari desa.

(12)

Nah saatnya sekarang Kementerian Desa itu lebih konkrit lagi bagaimana dana desa ini yang dikucurkan untuk olahraga, khususnya bagi anak-anak muda kita, itu pakai pembinaan. Polanya pola pendampingan pak, sehingga laporan, sehingga memang olahraga itu betul-betul dengan ilmunya kalau main voly itu ya dengan ilmunya anak-anak di desa, atlit itu betul-betul berangkat dari desa.

Yang ke empat, mohon maaf ini yang terakhir. Pak, ini titip tadi dikatakan bahwasanya Kepala Desa itu mengelola dana desa itu luar biasa besar 1 Miliar lebih ditambah lagi dari dana ADD dari provinsi juga, tapi sayang pak. Saya melihat sisi lain kalau kita melihat di media massa banyak sekali Kepala Desa ini yang terjerat hukum. Kita selalu hanya pendekatannya pendekatan pengawasan, bahwasanya perlu ada pengawasan, sampai-sampai pengawasan itu sekarang Kapolsek juga ikut mengawas ya, Kajari, Kapolsek itu mengawas, belum lagi LSM.

Satu yang ingin saya sampaikan pak, bahwasanya ada di beberapa daerah itu Kepala Desa gajinya hanya Rp 2.500.000,- pak, yang dia kelola dana Rp 1.000.000.000,- lebih, tetapi gajinya Rp 2.500.000,- tidak sampai UMK pak. Tidak sampai, tetapi gajinya nah ini perlu diperhatikan juga kita menekankan agar Kepala Desa berjalan menjalankan pemerintahan desa itu bersih, tetapi kita tidak memperhatikan haknya juga.

Mohon maaf, kalau saya menganalogikan yang punya jengkol itu yang punya jengkol itu kan Presiden, kemudian Gubernur, Bupati, Camat dan Kepala Desa. Harusnya formula kita memberikan take home pay dan kesejahteraan juga harus sama pak. Mohon maaf, Kepala Desa pak dikunjungi oleh banyak warga, tamu, baik dari Camat, Kabupaten dan seterusnya, tapi saya tidak menemukan ada anggaran untuk rumah tangga, uang rumah tangga Kepala Desa, pak.

KETUA RAPAT / WAKIL KETUA KOMISI V DPR RI (H. SYARIEF ABDULLAH ALKADRIE, S.H., M.H./ F-NASDEM):

Dipersingkat pak dipersingkat.

F-PKS (H. SYAHRUL AIDI MAAZAT, L.C., M.A.):

Jadi mohon maaf, intinya saya ingin menyampaikan bahwa ayo kita tidak hanya menuntut Kepala Desa agar bersih menjalankan tugas-tugasnya secara profesional, bebas korupsi, tetapi juga kita harus memperhatikan hak-hak mereka. Perhatikan honornya itu harus standar pak, gaji mereka harus standar. Masa Kepala Dusun, Kepala Dusun ada gaji Rp 2.000.000,- Kepala Desa Rp 2.500.000,- beban sosial Kepala Desa itu tinggi ya. Yang berhadapan ketika ada musibah ada masalah di desa yang berhadapan pertama sekali adalah Kepala Desa. Nah ini suara Kepala Desa ingin saya sampaikan kepada Pak Menteri, mudah-mudahan bisa menjadi kebijakan untuk lebih baik berikutnya.

(13)

Terima kasih.

Wassalaamu'alaikum warrahmatullaahi wabarakatuh.

KETUA RAPAT / WAKIL KETUA KOMISI V DPR RI (H. SYARIEF ABDULLAH ALKADRIE, S.H., M.H./ F-NASDEM):

Terima kasih.

Cuma saya ingkatkan kepada teman-teman, supaya tidak terlalu jauh dari konteks rapat kita pada hari ini sebagai evaluasi terhadap anggaran 2019, karena nanti ada pak panggungnya itu. Masih ada beberapa rapat saya kira tadi kalau tadi kan Pak Tamanuri protes ini anggaran bagaimana kita mau membahas, soalnya baru saya baca apa baru dibaca lampiran-lampirannya hari ini.

Nah ini saya kira tetapi kan bisa dilihat di situ sudah lengkap ya bapak sekalian, tapi saya mohon supaya ini apa lagi Pak Menteri hari ini ada Rapat Ratas ya. Saya minta kita kepada konteks dulu terhadap materi rapat hari ini yang supaya kita tidak terlalu jauh gitu Silpa tahun 2019.

Silakan pak.

INTERUPSI F-PG (DRS. HAMKA BACO KADY, M.S.): Interupsi dulu Pimpinan 1 menit.

KETUA RAPAT / WAKIL KETUA KOMISI V DPR RI (H. SYARIEF ABDULLAH ALKADRIE, S.H., M.H./ F-NASDEM):

Sebentar pak. Silakan.

F-PG (DRS. HAMKA BACO KADY, M.S.):

Terkait tadi, saya mohon kesepakatan kita kalau memang Menteri ada jadwal silakan kita tutup sidang ini dulu, dipersilakan Pak Menteri untuk melaksanakan tugas beliau, karena terlalu panjang ini pak. Saya belum mau bahas ini mengenai penambahan anggaran juga belum mau saya bahas, itu juga urgent pak dan sangat mempengaruhi, bisa jadi temuan itu.

Jadi saya berharap kalau apa namanya Pak Menteri punya kegiatan yang lain dan penting, saya kira dipersilakan dulu, tidak mungkin melebar, tidak mungkin kami tidak melebar kiri kanan pak, hanya mau meng-clear-kan semua persoalan-persoalan gituloh. Belum lagi saya di Badan Anggaran, belum lagi mempersoalkan tambahan anggaran dan di Badan Anggaran belum pernah terbahas. Ini saya anggap sesuatu yang harus kita clear-kan sebab di dalam Peraturan Menteri No.206 disebut Pasal 6 itu bahwa semua penambahan anggaran baik pinjaman maupun hibah harus disepakati dan

(14)

dilaporkan di Komisi V. Ini tidak pernah pak. Ini kita ini cobalah bagaimana solusinya tanpa mengurangi rasa hormat kami kepada Pak Menteri dan Wakil Menteri harus kita koridornya dulu kita luruskan.

Kalau mengenai tadi Silpa sudah dijelaskan oleh Pak Menteri bahwa kembali ke kas negara, tidak ada persoalan, tetapi mengevaluasi anggaran tahun 2019 itu panjang waktunya.

Terima kasih Pimpinan, mohon maaf kalau ada hal-hal yang kurang berkenan.

Wassalaamu'alaikum warrahmatullaahi wabarakatuh.

KETUA RAPAT / WAKIL KETUA KOMISI V DPR RI (H. SYARIEF ABDULLAH ALKADRIE, S.H., M.H./ F-NASDEM):

Wa'alaikumsalam warrahmatullaahi wabarakatuh.

Ya memang in isudah jam 11.00 ya, kaitan memang ini cukup banyak bahan yang harus kita bahas. Makanya tadi ada dua usulan, pertama Pak Tamanuri mengusulkan bahwa ini baru hari ini lampirannya yang didapat. Kalau ininya sudah pak. Sudah lama ya, tetapi berkaitan dengan item-item program kegiatan baru hari ini kita terima. Nah untuk itu saya tawarkan kepada sekalian karena memang sesuai dengan Tatib paling lama 24 jam skors itu kita harus tutup rapat ini untuk kita lanjutkan pada rapat berikutnya. Ini sudah jam 11.00 WIB. Nah kalau memang juga ini tidak akan maksimal terhadap rapat hari ini, karena Pak Menteri juga akan ada Ratas atau ada perubahan pak? Memang jadwal hari ini ada kan atau 13.30 WIB? Sampai sini bisa jam berapa jam satu?

INTERUPSI F-PKS (H. SURYADI JAYA PURNAMA, S.T.): Interupsi Ketua.

KETUA RAPAT / WAKIL KETUA KOMISI V DPR RI (H. SYARIEF ABDULLAH ALKADRIE, S.H., M.H./ F-NASDEM):

Ya, saya kira sebentar, sebentar dulu, jangan.

Ya silakan, saya minta pendapat yang lain dulu pak, kita bahas persoalan ini sebelum bapak lanjutkan silakan.

F-PKS (H. SURYADI JAYA PURNAMA, S.T.): Baik, terima kasih.

(15)

Pertama memang kita apresiasi karena jumlah datanya lengkap, tapi dari sisi waktu Pak Ketua, sehingga catatan kita waktunya ini yang sangat mepet, sehingga kita belum sempat mendalami secara detil, padahal ini cukup serius. Satu contoh walaupun waktu terbatas misalnya ada angka-angka yang tidak sinkron.

Pertama tadi disampaikan tentang pagu anggaran ya yang ada ada penambahan di tengah jalan itupun angkanya berbeda, ketika kita zoom di setiap Satker di beberapa Dirjen ini juga berbeda. Misalnya angka 1 Triliun lebih gitu, ini kan pinjaman Bank Dunia padahal itu memang hajatnya untuk program inovasi desa yang seharusnya menurut Permenkeu program hibah perubahan anggaran di tengah jalan ini, itu tidak keluar dari Satker yang berbeda.

Nah ini beberapa catatan-catatan kita sehingga pertama dari sisi legalitasnya tentang prosedur penambahannya. Kemudian yang kedua beberapa angka-angka yang mungkin perlu kita zoom lagi Pak Ketua, sehingga saya setuju kalau rapat ini memang harus lebih serius dialokasikan waktu yang paling tidak 4-5 jam begitu kalau Pak Menteri tadi jam 1 mungkin harus sudah berangkat dari sini, saya kira ini sangat mepet ya. Saya satu tema saja agak dalam ini angka-angkanya Pak Ketua, karena dari beberapa Dirjen itu misalnya di Dirjen PPMD laporannya programnya 300 Miliar lebih gitu, tetapi dari pinjaman Bank Dunia ini kan angkanya 1 Triliun lebih gitu Pak Ketua. Jadi mungkin itu salah satu contoh yang ingin kita coba dalami.

Saya usul ya memang kita perlu tadi kita apresiasi datanya lengkap, tapi yang masih kurang itu dari sisi waktunya ya, sehingga kita perlu waktu juga untuk mempelajari sebelum kita menyampaikan pertanyaan-pertanyaan kepada Pak Menteri.

Terima kasih Pak Pimpinan.

Assalamualaikum Warrahmatullaahi Wabarakatuh.

KETUA RAPAT / WAKIL KETUA KOMISI V DPR RI (H. SYARIEF ABDULLAH ALKADRIE, S.H., M.H./ F-NASDEM):

Baik, terima kasih.

Saya kira kalau memang sudah kita sepakat supaya tidak terburu-buru berkaitan dengan ini. Kebetulan Pak Menteri juga ada Ratas.

INTERUPSI F-PKB (H. IRMAWAN, S.Sos., M.M.): Interupsi Pimpinan.

KETUA RAPAT (H. SYARIEF ABDULLAH ALKADRIE, S.H., M.H) : Silakan.

(16)

F-PKB (H. IRMAWAN, S.Sos., M.M.):

Sedikit saya tambahkan Pimpinan. Ini kan karena rapat kita kan sudah kita mulai sejak dari jam 10.00 WIB tadi. Saya pikir sisa waktu yang ada ini kita manfaatkan saja. Toh kalau masih ada yang kurang nanti kita jadwalkan kembali untuk rapat dengan Kemendes ini, biar waktu ini tidak mubazir Pak Pimpinan.

Sekian, terima kasih.

Assalamualaikum Warrahmatullaahi Wabarakatuh.

KETUA RAPAT / WAKIL KETUA KOMISI V DPR RI (H. SYARIEF ABDULLAH ALKADRIE, S.H., M.H./ F-NASDEM):

Ya, jadi begini ini memang bisa juga mubazir, artinya karena rapat ini kita tutup dan kita bahas lagi kemudian, ini akan terjadi pengulangan lagi gitu ya. Kan kita tidak bisa juga untuk membatasi sampai ini kemudian berikutnya kita bahas lagi. Sebaiknya supaya ini lebih kawan-kawan lebih lengkap, kemudian juga lebih banyak bahan dan bisa dibicarakan secara tuntas, mungkin juga memberikan solusi-solusi yang terbaik di dalam untuk masa yang akan datang, saya kira sebaiknya rapat hari ini kita tunda dulu ya. Setuju ya? Tapi sebelum kita ini, saya minta Pak Ketua kebetulan hadir mungkin ada yang akan disampaikan.

Silakan.

KETUA RAPAT / WAKIL KETUA KOMISI V DPR RI (H. SYARIEF ABDULLAH ALKADRIE, S.H., M.H./ F-NASDEM):

Baik.

Assalaamu'alaikum Warrahmatullaahi Wabarakatuh.

Pimpinan dan Teman-teman Anggota Komisi V yang saya hormati, Pak Menteri dan seluruh jajaran yang saya hormati,

Pak Menteri yang terhormat.

Kami di jadwal rapat kali ini sudah ini yang kementerian yang ketiga pak yang kita tidak tuntas terkait dengan evaluasi.

Pak Hamka, kebetulan Pak Hamka yang di Banggar ini siapa saja selain Pak Hamka ya? Ya Pak Syarief, Pak Pimpinan ada di Banggar, lumayan banyak di Banggar. Ini menurut saya pak, efek dari tidak adanya APBN Perubahan sudah berapa tahun ini, sehingga ketika ada perubahan kan biasanya moment-nya di APBN perubahan. Kemudian dibahas di sana, Komisi bahas kembali dengan kementerian lembaga, termasuk fungsi dan program pak dulu kita bahas. Terkait dengan tambahan yang disampaikan oleh Badan Anggaran kepada kita. Nah sekarang dalam waktu berjalan, ada

(17)

perubahan itu Pak Hamka, ada. APBN Perubahan itu terjadi, tetapi di sini memang rada-rada melanggar kalau kita lihat, tetapi tidak mendapat persetujuan kami. Yang harusnya disetujui oleh Komisi menurut Undang-undang MD3, pak. Ada fungsi anggaran yang dimiliki oleh Komisi. Jadi fungsi dan programnya kita tidak bisa bahas.

Nah anggaran masuk tapi fungsi program kita tidak bisa bahas pak, karena memang tidak ada pemberitahuan ada perubahan. Yang kami terima hanya pagu indikatif yang kita bahas di APBN murni. Itu saja yang kita bahas. Setelah itu ketika ada perubahan anggaran di jalan, kalau pergeseran program ya mungkin pak. Itupun sebetulnya pergeseran program, fungsi dan program ketika bergeser itu harus dilaporkan mestinya pak, karena itu kita sepakati bersama apalagi kalau ada tambahan. Ini tambahan pun tidak dilaporkan ke kita pak, kami tidak tahu.

Makanya ketika kita rapat evaluasi dan kita mau tahu berapa si Silpa tahun berjalan, begini jadinya pak, begini jadinya, tidak nyambung kita. Saya kumpulkan kesimpulan rapat anggaran kita tahun kemarin, waktu kita menetapkan APBN di Komisi ini memang angkanya tidak sama dengan apa yang bapak sampaikan hari ini, tidak sama pak di kesimpulan rapat kita. Nah yang kita simpulkan di rapat itulah itu yang kita sepakati, yang pernah kita sepakati. Berarti kalau tidak ada di kesimpulan rapat, tidak pernah kita sepakati pak.

Nah ini bukan hanya MD3 sebetulnya kita sudah bicara Undang-Undang Dasar di sini terkait penganggaran jelas pasal dan ayatnya. Jadi harapan saya barangkali Pak Menteri untuk kita memperbaiki ini ke depan mohon izin pak, ini semua bukan salah, saya tidak mengatakan ini salah siapa pak ya ini perlu digarisbawahi. Ini saya tidak mengatakan ini salah siapa. Memang kebijakan pemerintah tidak ada APBN perubahan kan begitu ya Pak Sekjen ya yang kebetulan Pak Sekjen ini masih orang lama pak Menteri. Tidak ada APBN perubahan. Nomenklaturnya tidak ada APBN perubahan, tapi faktanya terjadi ada APBN perubahan. Yang kita sebut APBN perubahan apa, ketika terjadi tambah kurang pak. Tambah kurang itulah namanya APBN perubahan dan itu harus disepakati di sini mestinya di forum ini, baru ketika bapak rapat sama kita, bapak bisa secara rigit secara teliti bisa mempertanggungjawabkan kepada kami satu per satu. Kalau kaya begini coba pak tidak nyambung kita. bapak jalan terus, kami tidak tahu. Ketika kita bahas, bapak sudah jalan, kami tidak pernah bahas. Ada miss di sini. Nah ini sistem pak sebetulnya yang berjalan yang tidak baik.

Ini menurut saya pak barangkali jalan keluar Pak Menteri ini ada teman-teman sekalian, kalau pun pemerintah tidak ada APBN perubahan, saya harap ke depan pak kalau Pak Sekjen ya yang leading sector-nya anggaran di kementerian, saya harap pak ke depan kalau pun tidak ada APBN perubahan, segenap dana yang masuk ke kementerian atau terjadi pemotongan anggaran di kementerian kita ini kan biasa pak. Pengalaman saya 10 tahun, bapak punya biasa dipotong juga kan pak, berkurang sampai sekian triliun. Pernah juga ditambah sampai sekian triliun, pernah sampai 2

(18)

Triliun bapak dipotong ya kan? Tapi pernah juga ditambah sampai 1 Triliun lebih dan kita harap itu dilaporkan ke sini pak.

Pada saat kita Raker materinya lain, karena kami kan tidak tahu Pak Menteri. Mungkin materi kita tidak bicara soal tambah kurang, tetapi Pak Menteri kebetulan mendapat mandat tambah kurang dari pemerintah tolong dilaporkan di forum ini. Sehingga di kesimpulan rapat kita bisa bikin pak atau nanti Komisi bisa membuat agenda bersama kementerian kita bahas kurang tambah ini secara mendalam. Ini jalan keluar barangkali ke depan pak ketika pemerintah tidak lagi secara resmi mengatakan ada APBN perubahan padahal ada APBN perubahan pak.

Apapun kemarin kami diskusi dengan Pak Hamka, mau dari mana pun sumber dananya ketika itu merubah angka di kesimpulan rapat kita dengan kementerian itu harus disampaikan di Komisi pak. Kenapa? Karena ketika kita bahas kami kan setiap tahun rutin menerima mandat dari BPK RI pak untuk membicarakan hasil temuan BPK. Membicarakan hasil audit BPK. Nah ini ada kaitan pak. Setelah nanti kita bahas evaluasi serapan anggaran, kemudian Dipa apa Silpa anggaran tahun 2019, baru nanti kita masuk kepada rapat membahas hasil pemeriksaan BPK pak akan kita jadwalkan. Ini sudah kita susun ini.

Nah kami di DPR ini ada namanya Badan Akuntabilitas Keuangan Negara pak. Di sini ada, ada badan khusus di DPR sini dan kami Pimpinan wajib melaporkan ini semua pak kepada Badan Akuntabilitas di DPR sini. Jadi saya rasa barangkali kementerian supaya kita nyambung pak ke depan. Kami dari Komisi memang tidak punya kewenangan memaksa atau meminta pemerintah untuk tambah kurang pak. “Loe nambah kenapa tidak bikn APBN perubahan?”, “You ngurang kenapa tidak bikin APBN perubahan?” Nah itu diatur pak dalam aturan main kita, tetapi you nambah you kurang, nambah kurang saja, tapi tidak pernah dibahas secara terbuka di sini. Ini kan tidak betul pak yang akibatnya memang ya bapak juga susah ketika kita ini dalam kondisi seperti ini.

Jadi sekali lagi saya garisbawahi pak ke depan kalau ada tambah kurang mohon di rapat apapun kebetulan bapak menerima mandat tambah kurang laporkan di sini. Dan nanti kalau perlu kita bahas kita diskusikan bersama, kita bahas bersama. Sehingga klausul dalam Undang-undang MD3 dan Undang-Undang Dasar terkait dengan kewajiban kami, hak dan fungsi DPR dalam konteks anggaran itu terpenuhi pak.

Saya rasa demikian barangkali tambahan dari saya untuk agenda hari ini saya setuju pak, barangkali tidak enak juga kita kalau paksakan nanti jam kalau bapak Ratas-nya jam 01.30 kan jam 1 Pak Menteri mesti sudah jalan dari sini. Kita punya jam 1, 1 jam setengah, tidak tuntas juga. Nanti kalau kita buka rapat baru lagi teman yang sudah ngomong mau tidak nanti dibatasi tidak ngomong kan. Setelah nanti lihat bahannya sudah lengkap, ketemu lagi modal untuk bicara, tidak mau pasti tidak mau dibatasi. Ya sudah kita alokasikan waktu yang panjang saja yang cukup untuk kita bahas. Saya pikir setuju.

(19)

Ya demikian, kurangnya lebihnya saya mohon maaf. Assalamu’alaikum Warrahmatullaahi Wabarakatuh. INTERUPSI F-PG (DRS. HAMKA BACO KADY, M.S.): Interupsi sedikit Pimpinan.

Pak Menteri dan Pak Wakil Menteri.

Saya tanpa mengurangi rasa hormat saya, saya ingin menyampaikan bahwa jangankan Undang-undang MD3, Peraturan Menteri pun dalam Pasal 17 Ayat (1) sampai (3) yang menyatakan bahwa revisi anggaran yang memerlukan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat terdiri dari bla-bla-bla. Termasuk pinjaman luar negeri dan hibah.

Jadi kalau saya mau mengacu pada aturan main penganggaran ini, tambahan anggaran ini melanggar aturan semua pak. Ini Peraturan Menteri Keuangan loh. Saya belum bahas MD3, undang-undang. Jadi mohon dengan sangat. Mari kita bicarakan sama yang disampaikan oleh Pimpinan. Kalau pagu yang saya buru sekarang pagunya, saya tidak mau tahu yang 1 Triliun tambahan, tidak bisa, salah kalau kita bahas itu. Awalnya tidak tahu, kok ada gituloh.

Saya kira ini Pak Menteri, Pak Wakil Menteri mohon maaf kalau ada hal-hal mari kita sama-sama, semua kita kena ini pak kalau melanjutkan persoalan ini tanpa ada penyelesaian. Bisa menjadi temuan luar biasa ini. Saya kira itu tambahan saya.

Terima kasih.

KETUA RAPAT / WAKIL KETUA KOMISI V DPR RI (H. SYARIEF ABDULLAH ALKADRIE, S.H., M.H./ F-NASDEM):

Baik Bapak Ibu sekalian saya kira. F-P.NASDEM (SRI WAHYUNI):

Ketua.

KETUA RAPAT / WAKIL KETUA KOMISI V DPR RI (H. SYARIEF ABDULLAH ALKADRIE, S.H., M.H./ F-NASDEM):

Saya pikir sudah cukup ya. F-P.NASDEM (SRI WAHYUNI):

(20)

KETUA RAPAT / WAKIL KETUA KOMISI V DPR RI (H. SYARIEF ABDULLAH ALKADRIE, S.H., M.H./ F-NASDEM):

Ya.

F-P.NASDEM (SRI WAHYUNI):

Assalaamu'alaikum Warrahmatullaahi Wabarakatuh. Mohon maaf Ketua, Pak Menteri, saya masukan saja.

Kalau memang rapat ini hari ini dilaksanakan setengah jalan, kenapa tidak sebaiknya dari awal ditunda saja Ketua. Karena seperti orang makan saja kalau lagi enak-enaknya makan disuruh berhenti di tengah-tengah kan tidak enak Ketua, begitu ya Pak Menteri ya mohon maaf sekali lagi.

Terus, karena hari ini kita baru ketemu lagi Pak Menteri setelah sekian lama kita tidak ketemu, jadi kangen juga dan banyak sekali yang harus kita bahas tolong tenang ya bapak-bapak. Apalagi ada Silpa yang begitu besar itu coba diberi ke kami mungkin bisa terserap itu. Nah itu kalau di tengah jalan begini memang tidak nyaman. Jadi masukan saja Ketua, untuk kementerian lain juga apabila memang tiba-tiba Pak Menteri dipanggil Presiden untuk rapat. Walaupun kita sudah terjadwal hari ini atau tanggal sekian-tanggal sekian, jangan sungkan-sungkan Pak Menteri menyampaikan ke kami atau ke Ketua agar supaya bisa menunda dari awal seperti itu, begitu ya teman-teman ya.

Saya rasa demikian, jadi kalau memang ditunda jangan di tengah jalan begini, karena kita sudah lama sekali tidak rapat dengan Pak Menteri, banyak hal yang bisa kita bahas yang akan kita bahas. Apalagi menyangkut angka-angka dan Silpa yang begitu besar, kalau dipotong di tengah jalan itu tidak elok tidak baik. Jadi sekali lagi Ketua, kalau memang ada penundaan dari awal saja.

Terima kasih.

Wassalamu’alaikum Warrahmatullaahi Wabarakatuh.

KETUA RAPAT / WAKIL KETUA KOMISI V DPR RI (H. SYARIEF ABDULLAH ALKADRIE, S.H., M.H./ F-NASDEM):

Ya, terima kasih.

Walaupun hari ini kita bahas juga bu sampai akhir, ini juga rapat tanpa kesimpulan. Artinya karena tadi sudah banyak beberapa berkaitan dengan ini yang perlu dibahas untuk lebih lanjut. Maka untuk itu saya kira karena ini sebagian besar menginginkan untuk rapat ini kita tunda, artinya ini tidak ada masalah pak.

(21)

F-PKB (H. SYAFIUDDIN, S.Sos.): Ketua, izin sebentar.

Terima kasih.

Saya cuma ingin mengingatkan terutama kepada Pimpinan dan segenap Anggota pada waktu kita rapat pertama terkait dengan 1 Triliun ini, kita dulu pernah menyepakati bahwa ini ada rapat khusus terkait itu. Makanya saya di forum ini, di forum ini pikiran saya itu sudah selesai. Saya setuju juga bahwa terkait dengan yang 1 Triliun ini unsur dan sumber dari mana itu kan memang tidak jelas, cuma saya menunggu dari Pimpinan terkait dengan kesepakatan kita dulu. Ini ada Pak Jhonny Allen dan dikatakan pada waktu itu Pak Jhonny Allen mengusulkan Rapat Tertutup gitu, Rapat Tertutup dan sampai sekarang ini tidak ada. Pikiran saya itu sudah selesai gituloh.

Jadi menurut saya kalau ini diterus-teruskan persoalan ini, saya minta kepada Pimpinan mungkin segenap Anggota urusan Silpa mungkin kita tunda, tapi urusan yang 1 Triliun ini ada ruang tersendiri untuk kita bahas, karena antara Silpa dengan ini kan beda makhluk. Nah menurut saya itu gitu loh. Jadi harus tegaslah Pimpinan ini gitu loh. Saya cuma saya datang dari Madura mulai kemarin ditunda hari ini, sekarang ditunda lagi, terus besok ditunda lagi gitu, itu kan tidak konsisten Ketua.

Jadi menurut saya ini harus ada konsistensi dari kita sendiri juga. Kita tidak boleh, karena waktu ini sangat mahal harganya menurut saya. Saya datang dari Madura ini luar biasa, mulai hari Senin kemarin ditunda, sekarang ditunda, besok lagi ditunda lagi ini, bagaimana kita kinerja kita? Jadi mungkin seperti itu.

Terima kasih Ketua.

Assalamu’alaikum Warrahmatullaahi Wabarakatuh.

KETUA RAPAT / WAKIL KETUA KOMISI V DPR RI (H. SYARIEF ABDULLAH ALKADRIE, S.H., M.H./ F-NASDEM):

Ya, terima kasih.

Artinya satu yang harus saya jelaskan bahwa rapat berkaitan masalah anggaran ini tidak boleh tertutup ya, itu yang harus dimengerti terlebih dahulu. Karena tidak mungkin kita lakukan tertutup, tapi untuk lebih lanjut silakan mungkin ada tambahan oleh Pak Ketua.

INTERUPSI ANGGOTA KOMISI V DPR RI: Ada Ketua.

(22)

KETUA RAPAT / WAKIL KETUA KOMISI V DPR RI (H. SYARIEF ABDULLAH ALKADRIE, S.H., M.H./ F-NASDEM):

Sebentar, sebentar, Pak Ketua mungkin ada yang mau tambahan. KETUA KOMISI V DPR RI (LASARUS, S.Sos, M.Si/F. PDIP):

Baik, jadi begini pak, jadi begini, ini forum ini kan forum kita bersama. Ketua tidak boleh ngambil kesimpulan sendiri pak. Kita ini kolektif kolegial. Saya dari awal sampaikan di depan Pak Menteri mohon maaf ya, karena tadi bapak nyebut Pimpinan harus konsisten, kita konsisten pak. Kita konsisten. Konsistensi kita itu berada pada kolektif kolegial pak ya, karena memang Anggota menginginkan supaya ditunda, kita tunda pak. Pimpinan tidak boleh memaksa. Di sini adalah harus mendengar suara terbanyak pak, masa kita voting, kan begitu. Masa Ketua rapat tidak rapat saja pakai voting kan tidak elok kita pak. Nah terus kalau Ketua paksakan, sementara yang mayoritas sudah menginginkan ini ditunda kan tidak elok juga ya kan. Ya Pimpinan pun tidak boleh pak hanya pakai suaranya sendiri, harus pakai suara kita semua.

Rapat yang kemarin ditunda itu keinginan kita semua pak, saya tidak sebut itu keinginan Anggota, tapi keinginan kita semua atas usul Anggota, bukan begitu bapak-bapak sekalian? Ini biar clear dulu ini jangan seolah-olah Pimpinan yang salah gituloh. Ini saya harus bela meja Pimpinan ini ya. Harus bela, karena keinginan bapak-bapak.

Kalau saya pak bicara soal waktu, Pimpinan itu pasti datang duluan pulang belakangan. Mohon maaf bapak-bapak kadang-kadang habis tanya pergi sesukanya loh ya kan, habis nanya tinggal gitu saja. Kita sampai rapat selesai pak di sini. Saya mohon maaf karena agak nyentil-nyentil Pimpinan gitu loh ya. Kita kawal pak, rapat mulai sampai kesimpulan selesai baru kita tinggalkan tempat ini. Kadang-kadang buang air kecil pun ditahan pak ya.

Jadi saya rasa begitu, sekarang kita kembalikan kepada forum. Kalau kita mau lanjut sampai waktu Pak Menteri habis jam 1, ya sudah tidak ada kesimpulan yang pasti. Kita sampai jam 1 silakan saja atau kita mau selesai seperti usul yang sudah. Ini kan ada dua usul ini. Mohon maaf Pak Ketua, saya kembalikan lagi kepada Pak Syarief untuk mengendalikan rapat ini. Silakan.

KETUA RAPAT / WAKIL KETUA KOMISI V DPR RI (H. SYARIEF ABDULLAH ALKADRIE, S.H., M.H./ F-NASDEM):

Ya, terima kasih.

Saya kira kalau memang kita mau lanjut, sampai jam 1 tapi ini rapat tanpa kesimpulan. Artinya rapat ini kita tutup, kemudian kita tetap akan melakukan rapat kembali. Artinya bahwa bapak-bapak konsisten tidak yang sudah nanya itu tidak nanya lagi yang akan datang? Supaya tidak mubazir

(23)

dan Pak Menteri punya waktu ya. Ini kan tidak ada persoalan apa sebenarnya berkaitan cuma memang kita masih perlu mendalami supaya Pak Menteri ada waktu untuk datang tidak tergesa-gesa rapat ini. Karena beliau ini kan rapat Ratas dengan Presiden, kecuali kalau Ratas di kementeriannya sendiri, ini yang datang dengan Presiden kan tidak mungkin terlambat juga.

Nah supaya kita tidak terburu-buru, banyak yang harus kita dalami, karena tadi berkembang inginnya ini ditunda supaya lebih bisa mendalami terhadap bahan-bahan yang sudah disampaikan ini, kita tunda saja kan gitu, nah karena suara yang banyaknya seperti itu. Saya kira.

INTERUPSI F-PD (DRH. JHONI ALLEN MARBUN, M.M.): Interupsi Pimpinan.

KETUA RAPAT / WAKIL KETUA KOMISI V DPR RI (H. SYARIEF ABDULLAH ALKADRIE, S.H., M.H./ F-NASDEM):

Berkaitan?

F-PD (DRH. JHONI ALLEN MARBUN, M.M.): Soal ini.

KETUA RAPAT / WAKIL KETUA KOMISI V DPR RI (H. SYARIEF ABDULLAH ALKADRIE, S.H., M.H./ F-NASDEM):

Ya.

F-PD (DRH. JHONI ALLEN MARBUN, M.M.): Terima kasih Pimpinan.

Saya tidak persoalkan soal ditunda atau tidak ditunda, bukan itu substansi bagi saya. Substansi yang paling utama adalah saya kira apa yang harus mereka pertanggungjawabkan atau di dalam katakanlah antara sisa Silpa adalah yang harus kita sepakati dulu adalah angka yang ditetapkan di Komisi ini yaitu 4,3 sekian, bukan 5,2 sekian, itu dulu substansinya. Soal ditunda atau tidak ditunda.

KETUA RAPAT / WAKIL KETUA KOMISI V DPR RI (H. SYARIEF ABDULLAH ALKADRIE, S.H., M.H./ F-NASDEM):

Maaf pak, tadi sudah dibahas itu pak ya. Jadi sudah kita bahas sebelum Pak Jhonny datang sudah kita bahas itu.

(24)

F-PD (DRH. JHONI ALLEN MARBUN, M.M.): Nah artinya mana yang mau ditetapkan itu?

KETUA RAPAT / WAKIL KETUA KOMISI V DPR RI (H. SYARIEF ABDULLAH ALKADRIE, S.H., M.H./ F-NASDEM):

Ya bagaimana kita mau menetapkan, ini kan masih ada pembahasan pak. Nah makanya ini kita mau tunda dulu supaya ini semuanya clear kaitan dengan ini ya.

F-PD (DRH. JHONI ALLEN MARBUN, M.M.): Saya akan interupsi dulu.

Justru saya bilang tadi, saya tidak persoalkan ditunda atau tidak ditunda, tetapi kita harus ada kesepakatan, nanti ditunda kembali lagi pada persoalan substansi, yang mana yang harus mereka pertanggungjawabkan. Artinya yang 4,3. Nah yang 5 sisanya apa? Kalau tidak akan menyalahi aturan, karena itu yang saya lihat di dalam kesimpulan penetapan anggaran untuk Kementerian Pedesaan adalah 4,3. Ini sebenarnya karena menterinya yang baru ini sebetulnya adalah kesalahan fatal di Sekretaris Utama atau di Dirjen yang menggunakan anggaran tidak melapor kepada Komisi V, itu sebetulnya, itu kesalahannya. Artinya, setiap anggaran yang mau digunakan oleh Direktorat harus dilapor kepada Komisi terkait karena Menteri-nya baru dan ini adalah yang bertanggung jawab harusnya adalah Sekretaris Utama dan Dirjen yang menggunakan anggaran tersebut, berani menggunakan anggaran tanpa persetujuan Komisi-nya.

Saya kira itu Pimpinan yang menjadi poin substansi, bukan soal ditunda atau tidak ditunda, sehingga ditunda pun itu poinnya.

Terima kasih Pimpinan.

INTERUPSI F-PG (H. ANSAR AHMAD, S.E., M.M.): Pimpinan, interupsi.

Pimpinan sebelah kanan.

KETUA RAPAT / WAKIL KETUA KOMISI V DPR RI (H. SYARIEF ABDULLAH ALKADRIE, S.H., M.H./ F-NASDEM):

Ya, silakan.

F-PG (H. ANSAR AHMAD, S.E., M.M.): Terima kasih Pimpinan.

(25)

Saya kira karena substansi pembicaraan kita ini sangat penting dan diskusi kita pasti panjang, sementara kita juga paling jarang ketemu sama Menteri Kementerian Pemerintahan Desa ini. Maka saya kira karena kita butuh waktu yang cukup, dari pada nanti kita bahas ini kemudian Pak Menteri meninggalkan ruangan karena kepentingan lain dan tergantung kesimpulan juga tidak bisa kita buat bersama. Dan juga mungkin kementerian bisa mempersiapkan ini dengan jawaban yang lebih bagus atau tertulis atau apa nanti yang akan kita bahas.

Saya kira saya sepakat kalau ini kita tunda dulu supaya saya yakin kalau kita lepas semua teman-teman pasti menyampaikan masukan dan itu waktunya tidak sedikit.

Saya kira sepakat ditunda.

Terima kasih, cari waktu yang cukup.

KETUA RAPAT / WAKIL KETUA KOMISI V DPR RI (H. SYARIEF ABDULLAH ALKADRIE, S.H., M.H./ F-NASDEM):

Ya, saya kira kita sepakat ya kita tunda ya? (RAPAT: SETUJU)

Sebentar, saya kira itu bapak-bapak sekalian berkaitan dengan ini, kita sepakat semua karena memang ini cukup mendasar dan perlu pembahasan yang waktu yang panjang. Namun nanti mungkin Pak Ketua juga akan berbicara akan kita undang dengan Kapoksi-kapoksi berkaitan dengan untuk menyikapi persoalan ini dengan teman-teman Komisi V, sehingga nanti pada saat kita rapat berikutnya, mungkin nanti kita minta kepada Pak Menteri minta dialokasikan pak waktu yang cukup, karena nampaknya banyak yang cinta dengan kementerian bapak gitu loh. Kalau banyak ini kan banyak yang cinta pak, karena berkaitan dengan Kementerian Desa. Tadi bapak sudah dengar sendiri banyak yang cinta gitu, banyak yang rindu. Nah ini saya tidak pernah ada yang bilang rindu, Bu Ipung tidak pernah bilang rindu dengan saya gitu padahal satu fraksi.

Baik bapak ibu sekalian.

Berkaitan dengan ini saya kira sebelum saya tutup, mungkin ada tambahan dari Pak Ketua sebelum kita serahkan kepada Pak Menteri.

Silakan.

KETUA KOMISI V DPR RI (LASARUS, S.Sos, M.Si/F. PDIP): Baik.

Teman-teman sekalian di Tatib kita pasal, ini supaya nanti kita kan tidak lazim begini pak. Ya saya sendiri tidak lazim rapat setelah kita mulai

(26)

begini terus kita tunda dan tidak ada kesimpulan. Di Pasal 253 Tatib kita pak, Tatib yang masih berlaku sampai sekarang, itu Pimpinan wajib mengumumkan pokok-pokok rapat pak sebelum rapat ini ditutup. Jadi saya umumkan.

Pertama, kita sepakat rapat ini kita tutup dulu terkait dengan ada Ratas nanti jam 01.30 WIB dan Anggota beranggapan masih kurang cukup waktu yang ada untuk membahas secara mendalam. Pokok bahasan kita adalah terkait dengan tambah kurang pak. Jadi bukan tambah saja, nanti akan terjadi tambah, akan terjadi kurang ke depan, untuk kiranya akan kita dalami pada pembahasan materi berikutnya.

Pak Menteri dan Teman-teman sekalian.

Saya rasa juga kami Pimpinan pun merasa terganggu juga pak dengan pola hubungan kita dengan pemerintah belakangan ini terkait dengan kami susah pak nyusun waktu rapat kita, sementara tiba-tiba bapak-bapak Ratas, tiba-tiba Ratas. Jadwal kita sudah bikin. Jadi sering berubah pak kita di ini. Saya rasa mungkin dan Ratas ini kan waktunya kalau bisa pasti enak pak, contoh misalnya DPR tidak usah ngundang Menteri pada hari A atau pada hari B, jadi kita tidak usah pak bikin Raker pada hari tersebut. Iniloh jadi dan inipun tidak ada kepastian di kita Pak Jhonny. Kita ini sudah mengalami yang ke empat ini pak kita geser, yang kita kasih tahu maupun yang kita tidak kasih tahu duluan kepada teman-teman. Kan beberapa jadwal kita berubah kan pak ya, ini terkait Ratas pak. Menterinya tidak bisa hadir bikin surat resmi sebelum acara kita lakukan terpaksa kita geser.

Nah barangkali nanti kami kita juga akan lapor kepada Pimpinan DPR pak, karena itu ranahnya Pimpinan DPR supaya kita sepakati saja hari apa misalnya untuk Ratas gitu. Jadi kami dari Komisi memang tahu hari itu tidak ada gunanya kita ngundang Menteri untuk Raker. Jadi sepakat kita tidak kejadian seperti ini tidak terulang-ulang terus. Nanti mungkin kami akan sampaikan pak kepada Pimpinan DPR mohon izin juga Pak Menteri kalau dapat nanti di Ratas bapak sampaikan juga “Saya terpaksa menutup rapat DPR karena mengikuti Ratas” sampaikan juga pak, masa kita begini terus gitu loh. Kita juga dilihat rakyat tidak enak pak kami, ini rapat tidak pernah tuntas seperti kita kerja ini setengah-setengah hati. Padahal memang kita menghormati juga Pak Menteri tidak mungkin tidak hadir karena diundang resmi oleh Presiden di Ratas. Sementara di Tatib pak, Raker itu wajib Menteri tidak boleh diwakilkan. Nah ini kan persoalan pak di aturan kita.

Jadi kami harap kalau bisa kita sepakati hari apa untuk Raker jadi kami sudah tahu hari itu tidak ada, untuk Ratas. Jadi tahu kami hari itu tidak akan ngundang untuk Rapat Kerja, kita ngundang hari yang lain. Barangkali ini hanya pemberitahuan saja, karena sesuai Pasal 253 wajib pokok-pokok ini saya sampaikan supaya kejadian seperti ini tidak terulang lagi di hari-hari di agenda rapat kita yang akan datang.

(27)

Assalamu’alaikum Warrahmatullaahi Wabarakatuh. Saya kembalikan kepada Pimpinan Rapat.

KETUA RAPAT / WAKIL KETUA KOMISI V DPR RI (H. SYARIEF ABDULLAH ALKADRIE, S.H., M.H./ F-NASDEM):

Terima kasih.

Mungkin ada yang mau disampaikan sebelum kita tutup rapat ini? Silakan pak.

MENTERI DESA PEMBANGUNAN DAERAH TERTINGGAL DAN TRANSMIGRASI RI (Drs. H. ABDUL HALIM ISKANDAR, M.Pd.):

Terima kasih Pimpinan dan Anggota Komisi V.

Jadi kita dapat undangan Ratas itu baru kemarin, lebih dulu Komisi V, tapi memang materinya cukup mendasar, maka ditambah lagi kita juga sudah kangen dengan Komisi V. Selama saya jadi Menteri, baru sekali. Kemudian ada pernah mau diundang, terus mundur lagi reses. Nah ini kita manfaatkan betul maunya saya begitu, eh siapa tahu dalam durasi waktu yang sedemikian ternyata cukup, tapi ternyata tidak cukup.

Nah makanya saya sekaligus mohon maaf dan juga terima kasih ketika disepakati untuk ditunda dan dicarikan waktu yang lebih longgar supaya kita juga sama-sama terbuka sama-sama jelas dan semua permasalahan yang menjadi bagian dari agenda rapat kita bisa kita selesaikan. Saya kira gitu. Terima kasih Pimpinan dan Anggota Komisi V.

Assalamu’alaikum Warrahmatullaahi Wabarakatuh.

KETUA RAPAT / WAKIL KETUA KOMISI V DPR RI (H. SYARIEF ABDULLAH ALKADRIE, S.H., M.H./ F-NASDEM):

Baik Pak Menteri terima kasih. Teman-teman Komisi V,

Pimpinan Rapat dan Pak Ketua Komisi yang saya hormati.

Maka karena nanti kita 29 sudah masuk masa reses penutupan sidang, mungkin kita akan agendakan pada sidang berikutnya, masa sidang berikutnya.

(28)

Saya kira itu saja, terima kasih kepada semua pihak, kepada Pak Menteri seluruh jajaran, Pimpinan dan Rekan-rekan Anggota Komisi V, maka rapat ini saya tutup, saya akhiri.

Wallaahulmuafik illaa aqwa mittoriq,

Assalamu’alaikum Warrahmatullaahi Wabarakatuh. Selamat siang dan salam sejahtera.

(RAPAT DITUTUP PUKUL 11.35 WIB)

a.n. Ketua Rapat SEKRETARIS RAPAT,

NUNIK PRIHATIN B., S.H. NIP. 19691202 199803 2 002

Referensi

Dokumen terkait

Silakan Pak Syarif. Assalamu'alaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh. Pimpinan yang saya hormati, Anggota-Anggota Komisi V, Para Sekjen dan seluruh jajaran. Pertama, ke

Ini yang baru mudah-mudahan ingat yang lama jangan ingat yang baru. Terima kasih Pimpinan. Saya hormati dengan apa yang Pak Ketua sampaikan mengenai prosedur rapat hari ini

Terima kasih Pak Ketua. Usulan yang disampaikan teman-teman, ada yang ingin menarik atau ada yang tetap, itu sebenarnya didasari dari pemikiran Pak Menteri. Seandainya Pak Menteri

KETUA RAPAT (ASRIL HAMZAH TANJUNG, S.IP.): Terima kasih Pak Budi Youyastri. Jadi benar ini, kalau di undang ini jarang-jarang datang/tidak datang ya percuma kita tidak bisa

Ada lagunya itu katanya...(rekaman suara kurang jelas). Pak Sudewo, siap-siap Pak Willem. Assalaamu'alaikum Warrahmatullaahi Wabarakatuh. Saya sangat salut kepada

Waalaikumsalam warahmatullah wabarakatuh. Terima kasih Pak John Kenedy Azis. Pak Doni memang besok akan ada Paripurna Prolegnas Pak, yang kemarin kita waktu di Millenium

Assalaamu'alaikum Warrahmatullaahi Wabarakatuh. Bapak dan Ibu Pimpinan, serta Bapak Ibu Anggota Komisi V DPR RI yang terhormat. Ada empat hal yang ingin kami jawab

Meskipun kehadiran Anggota Pansus tidak mencapai kuorum, namun karena dalam RDP dan RDPU untuk mendapatkan masukan terhadap RUU tentang Wawasan Nusantara, maka Ketua