• Tidak ada hasil yang ditemukan

SEKRETARIAT PANSUS DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONSIA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "SEKRETARIAT PANSUS DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONSIA"

Copied!
24
0
0

Teks penuh

(1)

II I

ii 11 11

I

!I

I

11

I I

11 I I I I I I I I I I

I

BELUM DIKOREKSI

I

RISALAH RAPAT

PANITIA KHUSUS RANCANGAN UNDANG-UNDANG TENTANG

PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 9 TAHUN 1969 TENTANG

PENETAPAN PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG­

UNDANG NOMOR 1 TAHUN 1969 (LEMBARAN NEGARA TAHUN 1969 NOMOR 16, TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA NOMOR 2890)

TENTANG

BENTUK-BENTUK USAHA NEGARA MENJADI UNDANG-UNDANG

RAPAT KERJA KE 1 Tanggal, 29 Mei 2002

SEKRETARIAT PANSUS DEWAN PERWAKILAN RAKYAT

REPUBLIK INDONSIA

(2)

I I I I I I I I I I I I I I I I I I I I I I I

DEWAN PERWAKILA.N RAKYAT REPUBLIK INDONESIA

RISALAH RAPAT

PANITIA KHUSUS RANCANGAN UNDANG-UNDANG TENTANG

PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 9 TAHUN 1969 TENTANG

PENETAPAN PERA TURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG NOMOR 1 TAHUN 1969 (LEMBARAN NEGARA TAHUN 1969 NOMOR 16,

TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA NOMOR 2890) TENTANG

BENTUK-BENTUK USAHA NEGARA MENJADI UNDANG-UNDANG

--- ---

Tahun Sidang Masa Persidangan Rapatke

Jenis rapat Hari/tanggal Pu k u I Ac a r a

Ketua Rapat Sekretaris Rapat Hadir Anggota

2001-2002 IV

3

Rapat Kerja Ke-1 Rabu, 29 Mei 2002 15.00 s/d 16.00 WIS

Pengantar Ketua Pansus

- Penjelasan Menteri BUMN atas Surat Nomor S-403/MBU/2002, tanggal 20 Mei 2002.

- Lain-lain lrmadi Lubis

Bambang Satmoko

20 dari 28 Anggota Pansus

tlADIR ANGGOTA PANSUS:

1. lrmadi Lubis

2. Dr.H.M. Azwir Dainy Tara, MBA 3. H. Abdul Kadir Aklis

4. lsmangoen Notosapoetro 5. Sukono

6. Wiliem M Tutuarima 7. Imam Soeroso

Ketua/F .POPI Wk. Ketua/ FPG Wk. Ketua/F.PPP Anggota/FPDI P Anggota/FPDIP Anggota/F. POI P Anaaota/FPDIP

(3)

I

I

I

I I i I I ,I I I I I I I I I I I I I I 11 I ii

2 8. Matheos Formes

9. Ors. Marsudi Fandinegara 10. Ir. Daniel Budi Setiawan, MM 11. Ir. Achmad Hafiz Zawawi, MSc 12. Azhar Muchlis, SH

13. IR. H. Hamka Yandhu YR,SE 14. IR. H.M. Ridwan Hisyam 15. Barlianta Harahap 16. Alvin Lie , MSc 17. Ir. Afni Achmad

18. Ors. Sudirman, SE,Msi

19. Christina M Ranteti=ma,SKM,MPH 20. Ors. Abdullah Alwahdi

KETUA RAPAT: (IRMADI LUBIS)

Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Anggota/FPDI P Anggota/FPDI P Anggota/FPDIP Anggota/FPG Anggota/FPG Anggota/FPG Anggota/FPG Anggota/FPPP Anggota/F. Reformasi Anggota/F. Reformasi Anggota/F. TNI/Polri Anggota/F. TN 1/Polri Anggota/F.PDU

Yang terhormat Saudara Menteri BUMN beserta jajarannya, Yc1ng terhormat rekan-rekan anggota Pansus,

Hadirin yang saya muliakan.

Perkenankanlah sebelum Rapat Kerja Pansus ini kita mulai, kami atas nama seluruh Anggota Pansus menyampaikan terimakasih kepada Saudara Menteri beserta seluruh jajarannya yang telah menyediakan waktu : untuk melakukan Rapat Kerja Pansus yang pertama pada siang hari ini .

Kami menyadari bahwa sejak pagi tadi Saudara Menteri telah berada di DPR-RI atau lebih tepatnya berada di ruangan ini.

Menurut laporan dari Sekretariat Pansus telah hadir 17 dari 28 Anggota Pansus yang berarti Rapat ini telah di hadiri oleh lebih dari Anggota Pansus terdiri lebih dari unsur fraksi maka sesuai dengan Tata Tertib DPR-RI Pasal 95 Ayat (1) kuorum telah tercapai.

Dengan mengucapkan Bismillahirrahmannirahim Rapat Kerja Pansus dengan yang terhormat Saudara Menteri BUMN selaku Wakil Pemerintah dinyata '{an dibuka dan menurut Tata Tertib DPR-RI Pasal 91 Ayat (5) rapat ini saya nratakan terbuka untuk umum.

KETOKPALU

(4)

I I I I I I ,1 I ,I 11

I

I

I I I I I I I I I I 11

3

Hadirin yang kami muliakan,

Untuk lebih mengakrabkan pertemuan kita alangkah akan lebih baik apabila diperkenalkan terlebih dahulu para Anggota Pansus ini, walaupun kami menyadari bahwa Saudara Menteri telah mengenalnya karena para Anggota Pansus ini berasal dari dua Komisi yaitu Komisi V dan Komisi IX DPR-RI.

Saya mulai memperkenalkan sebagai berikut :

1. Dr.H.M. Azwir Dainy Tara, MBA Wk. Ketua/ FPG 2. H. Abdul Kadir Aklis

3. H. Andi Najmi Fuadi, SH 4. lsmangoen Notosapoetro · 5. Sukono

6. Wiliem M Tutuarima, SH 7. Imam Soeroso

8. Matheos Formes

9. Ors. Marsudi Fandinegara 10. Ir. Daniel Budi Setiawan, MM 11. Ir. Achmad Hafiz Zawawi, MSc 12. Azhar Muchlis, SH

13. IR. H. Hamka Yandhu YR,SE 14. IR. H.M. Ridwan Hisyam 15. Hasanuddin Mochdar, SH 16. DRS. H. Nu'man abdul hakim 17. Barlianta Hara hap

18. K.H. lmang Mansyur Burhan 19. DRS.H. Aliy As'ad

20. Greg.orius Seto Harianto 21 . Alvin Lie , MSc

22. Ir. Afni Achmad

23. Ors. Sudirman, SE,Msi

24. Christina M Rantetana,SKM,MPH 25. Mawardi Abdullah,SE

26. F.X. Sumitro, SH 27. Ors. Abdullah Alwahdi

Wk. Ketua/F.PPP Wk. Ketua/ FKB Anggota /FPDIP Anggota /FPDIP Anggota/F.PDIP Anggota/ FPDIP Anggota /FPDIP Anggota /FPDIP Anggota /FPDIP Anggota /FPG Anggota /FPG Anggota /FPG Anggota /FPG Anggota /FPG Anggota FPPP Anggota /FPPP Anggota /FKB Anggota /FKB Anggota /FKB

Anggota/ F. Reformasi Anggota /F. Reformasi Anggota /FTNI/Polri Anggota /TNI/Polri Anggota /F.PBB Anggota /FKKI Anggota IF.POU

Dan saya sendiri lrmadi Lubis, yang dalam Pansus ini mendapat kepercayaan dari pada teman-teman sebagai Ketua Pansus.

Saudara Menteri, hadirin yang terhormat,

(5)

11 I

II I ii I

I I

1

1

11 11 ,I

I I I I I I I I I I I

4

I >ada Rapat Kerja Pansus hari ini, kami ingin mendapat penjelasan langsung dari Saudara Menteri berkenaan dengan adanya surat No S- 403/MBU/2002 tertanggal 22 Mei 2002. Hal tersebut perlu kita bicarakan dahulu didalam forum Rapat Kerja Pansus, sehingga kita mempunyai persepsi yang sama terhadap RUU yang akan kita bahas nanti.

Demikianlah pengantar dari kami, selanjutnya kami persilakan yang terhormat Sdr. Menteri BUMN untuk memberikan penjelasan mengenai surat No.

S -403/MBU/2002 tertanggal 22 Mei 2002 yang kami maksudkan diatas.

Kami persilakan kepada Saudara Menteri.

ANGGOTA F.PG: (IR. ACHMAD HAFIZ ZAWAWI, MSC)

Saudara Ketua, interpretasi yang walaupun sekedar joke dalam risalah ini tertulis bahwa saya adalah · Anggota F.PDIP, jadi sampai saat ini saya masih menjadi Anggota F.PG dan belum berniat pindah, sampai saat ini. Koreksi untuk sekretariat jadi jangan sampai ada kesalahan lagi, terimakasih.

KETUA RAPAT

Terima kasih Pak Hafiz, atas nama Ketua Pansus kami mohon ma'af atas kekeliruan sekretariat, terimakasih.

Untuk selanjutnya saya kira kita persilahkan kepada Saudara Menteri BUMN untuk memberikan penjelasan sebagaimana yang telah kita paparkan tadi.

PEMERINTAH/ MENTERI BUMN (LAKSAMANA SUKARDI) : Bismilahhirrahmanirohim,

Asalamualaikum Wr. WB,

Pimpinan dan Anggota Pansus yang kami hormati,

Apa perlu saya perkenalkan staf kami, mungkin semua sudah semuanya tahu, karena sudah mengenal baik Komisi V dan Komisi IX, karena sering berinteraksi.

Ada baiknya kami langsung memberikan penjelasan pada surat yang telah kami kirimkan kepada Pimpinan.DPR-RI. Surat tersebut sebetulnya merupakan respons Kementerian BUMN atas informasi yang menyatakan bahwa DPR-RI telah membentuk Pansus untuk membahas Rancangan Undang-undang tentang Perubahan atas UU No 9 tahun 1969 Tentang Bentuk-bentuk Usaha Negara menjadi UU atau RUU Tentang Perubahan atas UU No 9 tahun 1969 yang didalamnya mengatur materi privatisasi, Rancangan Undang-undang tersebut disampaikan kepada DPR-RI dengan surat Presiden No R 15/PU/IX/2001 tanggal 7 September 2001.

(6)

I I I I

I I I I I ,I II I I I i I I

I I I I I I I II

5

Jadi dengan telah terbentuknya Pansus dan jadual pembahasan yang telah disusun oleh Pansus, maka kami menyambut dengan baik dan sesuai dengan harapan kami bahwa pembehasan RUU tentang Perubahan atas Undang-undang No. 9 -ahun 1969 tersebut dapat dibahas dalam waktu yang segera dan dapat diseles likan dalam tenggang waktu yang singkat.

Jadi mengenai materi RUU yang dijadikan bahan pembahasan adalah sesuai dengan materi yang telah disampaikan oleh Pemerintah kepada DPR dengan surat No R.15/PU/IXl/2001 tersebut diatas, namun tentu saja dalam perkembangannya akan mengalami penambahan maupun pengurangan berdasarkan masukan, baik yang disampaikan oleh Pemerintah maupun DPR serta pendapat pakar dan mungkin masukan-masukan dari pihak lainnya, disisi lain hal tersebut kami juga bermaksud memberikan informasi kepada Dewan bahwa kami saat ini sedang menyiapkan RUU BUMN yang mengatur Pembinaan, Pengelolaan dan Pengawasan BUMN secara lebih komprehensif, karena didalamnya temasuk juga materi privatisasi. Dengan diatur pula materi privatisasi dimaksudkan nantinya hanya ada satu Undang-undang BUMN, dimana privatisasi merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Undang-undang BUMN.

Penyusunan RUU BUMN tersebut adalah dalam rangka memenuhi amanat GBHN sebagaimana tertuang dalam Ketetapan MPR No IV/MPR/1999 yang antara lain menyatakan bahwa keberadaan dan pengelolaan BUMN ditetapkan dengan Undang-Undang.

Demikian juga dalam REPETA 2002 dinyatakan bahwa Pemerintah diminta untuk mempersiapkan penyusunan RUU BUMN hingga finalisasi menjadi Undang­

undang BUMN

Dapat kami kemukakan, bahwa pembahasan RUU BUMN yang saat ini kami lakukan masih dalam tahap awal dan baru pada tingkat pengumpulan pandangan dan pendapat mengenai isu-isu strategis walaupun draft awal sudah disiapkan.

Dengan akan dibahasnya RUU tentang Perubahan Atas UU No. 9 tahun 1969 tersebut oleh Pansus, maka kami akan mengikuti pembahasan RUU sebagaimana telah dijadualkan oleh Pansus dan tetap melakukan penyiapan RUU BUMN, untuk selanjutnya maka ada dua kemungkinan yaitu sebagai berikut:

Pe.rtama, Undang-undang tentang Perubahan atas Undang-undang No 9 tahun 1969 yang disahkan pertama kali dan Undang-undang tentang BUMN yang disahkan kemudian yang me sing-masing UU tersebut berdiri sendiri.

(7)

I I I . I I I I ,I I

II I I I I 11 I I I I I I II

6

Kedua, Undang-undang tentang Perubahan atas Undang-undang No 9 tahun 1969 yang telah yang telah terlebih dahulu disahkan, kemudian dicabut oleh Undang-undang tentang BUMN yang disahkan kemudian, sehingga nantinya hanya akan ada satu UU yang mengatur tentang BUMN secara komprefensif karena didalamnya diatur pula mengenai privatisasi.

Jadi berdasarkan hal tersebut kami mengusulkan sebaiknya hanya ada satu UU BUMN yang mengatur secara komprefensif mengenai Pembinaan, Pengelolaan dan Pengawasan BUMN termasuk didalamnya mengenai privatisasi dari pada ada dua UU yang mengatur BUMN.

Demikian tanggapan dari kami.

Terimakasih.

KETUA RAPAT:

Terima kasih Saudara Menteri atas penjelasannya.

Baiklah, mengingat ini sifatnya penjelasan, maka kami persilakan kepada Anggota Pansus untuk mengajukan pendapatnya ataupun ada pertanyaan kepada Saudara Menteri.

Bagaimana kalau kita daftar dulu atau lansung, okey kalau begitu dengan usulan Pak Afni kita usul dari sebelah kanan.

ANGGOTA F.PG (IR ACHMAD HAFIZ ZAWAWI, MSC):

Terima kasih Saduarc. Pimpinan,

Saudara Menteri BUMN dan jajarannya,

Setelah mendengarkan penjelasan dari Saudara Menteri BUMN, saya kira pada prinsipnya saya setuju apa yang diusulkan oleh Saudara Menteri BUMN bahwa sebaiknya yang kita bahas adalah RUU mengenai BUMN yang didalamnya juga ada mengenai privatisasi, sehingga kita tidak menjadi dua kali kerja, jadi untuk apa kita rnelakukan perubahan atas UU no. 9 tahun 69 ini kemudian nanti dicabut lagi, lalu digabungkan lagi, saya kira itu mubazir waktunya, barang kali yang kita harus pikirkan secara prosedur teknis dan tata tertib itu bagaimana kita supaya kita bisa mengejar waktu apakah di mungkinkan dalam masa persidangan ini secara tata tertib itu Pemerintah mengusulkan RUU itu dan kemudian secara maraton kita bahas itu, jadi saya kira itu memang lebih efisien dari pada waktu kita, kita habiskan untuik membahas pansus kecil yang membahas perubah an atas UU No 9 tahun 1969 ini, langsung saja masuk kepada RUU BUMN yang kemudian akan kita usulkan secara teknis dan tata tertib D :,R.

1 ·erimakasih Saudara Ketua.

(8)

I I I I I I I I ii I I I ,I I :1 ii 11 I

I I I I

7

KETUA RAPAT:

Silahkan Pak Afni.

ANGGOTA F.REFORMASI (IR. AFNI AHCMAD):

T erimakasih Ketua

Assalamualaikum Wr.Wb.

Kalau kita lihat UU No 9 tahun 1969 memang hanya menguraikan bentuk­

bentuk usaha, jadi RUU perubahan UU No 9 ini juga konsisten melengkapi apa yang tidak ada di UU no 6 tahun 1969.

Sedangkan surat Saudara Menteri bersama penjelasannya terkandung untuk merespon masalah-masalah privatisasi, dan memang sekarang substansinya mengapa deras tuntutan pengawasan terhadap proses privatisasi ini, karena memang di lihat terjadinya kejanggalan-kejanggalan didalam proses privatisasi itu, dan itu berdampak luas kepada asset-asset negara yang strategis.

Saya sepakat dengan apa yang disampaikan oleh Saudara Menteri BUMN agar sekaligus saja membahasnya dalam proses RUU BUMN ini, dimana didalamnya terkandung masalah-masalah privatisasi. Namun ada komplikasinya adalah bahwa berarti kita menunggu RUU yang akan disampaikan oleh Menteri BUMN, itu pilihannya, dan kemudian kembali ke Bamus merubah Pansus ini menjadi dimana partisipannya menjadi lebih luas, tidak hanya Komisi V dan IX tapi juga akan ikut juga Komisi-Komisi dimana BUMN nya cukup banyak dan strategis , berarti Pansusnya menjadi Pansus besar.

Saya ingin menawarkan karena tuntunan masyarakat begitu kencang dan ini sangat menganggu stabilitas politik dan investasi di Republik ini kita harus segera bisa menyelesaiakar I persoalan-persoalan yang strategis ini.

Saya mengusulkan apakal I kita dengan judul ini kita langsung masuk saja sehingga usulan Menteri BUMN masuk dalam DIM kita jadi tidak perlu ka.-ena judulnya pun tidak berubah, karena kalau ini kita baca perubahan atas

u,u

no 9

tahun 1969 tentang bentuk-bentuk usaha negara menjadi UU, jadi di dalam usulan ini pun sebenarnya kita masukan point-point privatisasi, jadi kita anggap saja usulan Pak Menteri yang akan di ajukan itu lansung saja didalam DIM-DIM itu kita sebagai daftar isian masalah kita, mungkin juga dari Komisi j�ga ada , sehingga itu memperkaya proses kita, dengan kosekuensi kita tidak menunggu terlampau lama, untuk masuk disini dan kita sama-sama kita bahas.

Konsekuensinya waktu pembahasan kita agak lebih panjang, tapi itu memperkokoh proses privatisasi yang akan kita lakukan mendatang lewat UU ini.

lni saya usulkan, bukan ini dicabut, tapi kita tetap jalan, tapi usul Meneg BUMN masuk didalam proses pembahasan, karena judulnyapun sudah men cover.

T erima kasih.

(9)

I I I I I I I I

ii I I

I I ,I I 11 11 II I I I I I

8

KETUA RAPAT:

Bagaimana kita sebelah kanan, silakan Pak Azhar.

ANGGOTA FPG (AZHAR MUCHLIS, SH) Terima kasih Ketua,

Saudara Menteri dengan jajaran yang kami hormati, rekan-rekan Pansus yang kami muliakan.

'ertama seperti pertanyaan kami kemarin kepada Menteri, bahwa kerang ca dasar berpikir apa yang disampaikan oleh Menteri sebenarnya sudah ada kesamaan dengan para anggota , itu yang penting.

Yang kedua, kita harus mentaati mekanisme yang ada di lembaga ini, dan itupun sangat bagus sekali, bahwa diluar dikesankan merancang UU tentang Privatisasi adalah melegalisir penjualan barang-barang atau milik negara.

Dengan kalimat Menteri yang cukup tangkas tadi dikatakan, sebenarnya itu tidak benar, bahwa dikatakan untuk membuat Rancangan Undang-undang menjadi UU BUMN ini memang dilandasi pemikiran yang matang supaya nanti BUMN ini berjalan dengan baik dan benar.

Dengan demikian sudah menepis anggapan masyarakat yang hanya sekedar ingin melegalisir penjualan asset-asset milik negara.

Dengan demikian bukan saya tidak setuju, memang mekanisme yang benar adalah mencabut ap8 yang telah disampaikan oleh Presiden dan kembali Presiden mengirimkan surat kepada Dewan dan dilakukan pembahasan di BAMUS, memang ini bertele-tele tapi memang mekanisme itu harus dilakukan.

Salah satu contoh pada saat RUU Bl atau amandemen Bl untuk merubah itu dilakukan dalam forum Paripurna dan surat itu dikirimkan oleh Presiden.

Dengan demikian supaya tidak terasa kesusu, ingin apa yang disindirkan masyarakat itu tidak benar, maka mekanisme itu memang harus dilakukan.

Walaupun tadi dikatakan oleh teman kami judulnya memang sama, ini menunjukkan bahwa perencanaan ini memang harus matang dan benar, tapi saya juga tidak tahu karena bagaimana surat ini merujuk, apa sebelum Pak Menteri jadi Menteri lagi ini , surat ini sudah sampai disini kok ada pemikiran ulang membuat RUU tentan� BUMN atau yang sekarang sudah disiapkan. Kami kira ini supaya kita taat bersama tentang mekanisme yang ada di Tatib itu, ya dengan mohon maaf mungkin kalau soal jumlah saya sepakat walaupun sedikit kalau kita aktif saya kira juga bagus, sebaliknya terus tidak ada yang hadir juga memalukan, ini perlu ada pertimbangan-pertimbangan terhadap fraksi paling tidak teman-teman yang sekarang sudah ditunjuk oleh fraksinya ini tetap akan menjadi anggota Pansus yang mungkin berubah nama atau tetap, itu pemikiran kami supaya juga dipahami oleh Bapak-bapak sekalian.

(10)

I I I I I I I I I I I I 11 I I I I I I I II I

9

Dan kecepatan itu sangat tergantung kepada kami dan teman-teman eksekutif dari Kementerian BUMN, dengan cepat saya kira keinginan Pak Menteri untuk periodenisasi tahun ini bisa selesai itu mungkin, tetapi juga apa itu perlu cepat nah ini juga kita supaya tidak sekedar membuat UU tetapi nilainya kurang dan tidak bermanfaat untuk kepentingan masyarakat, bangsa dan negara kita.

Kami kira itu Ketua y;mg bisa kami sampaikan, terima kasih.

KETUA RAPAT Silakan Pak Abdullah.

ANGGOTA F.PDU (DRS. ABDULLAH ALWAHDI):

Terima kasih Saudara Ketua,

Saudara Menteri besorta jajarannya yang saya hormati.

Saya langsung pada pokok persoalan, yang pertama bahwa pikiran Pak Menteri mengenai masalah UU BUMN yang di dalamnya termasuk privatisasi. Oleh karena ini kami memahami dan saya sangat setuju terhadap masalah itu. Oleh karena itu, maka apa yang kita bahas sekarang ini tentunya jangan sampai mubazir, persilahkan untuk menyusun secara lengkap RUU untuk disampaikan kepada kita.

Kedua, saya sependapat dengan saudara Azhar Muklis tentang masalah mekanisme dan prosedur kita lalui. Jangan sampai pada waktu kita berjalan, ada la! 1i yang mengungkap masalah-masalah mekanisme ini nanti akan juga timbul ,nasalah perdebatan yang terus menerus diantara kita. Oleh karena itu dua masalah ini, bahwa saudara Menteri mempersilahkan menyusun RUU yang tadi telah disampaikan kepada kita dalam proses penyusunan awal dan sekaligus nanti dilengkapi dengan semua yang berhubungan dengan BUMN dan privatisasi yang didalamnya juga termasuk perubahan-perubahan tadi, yang dimasukan di dalam satu RUU ini. Oleh karena itu, maka tetap kita lakukan sesuai dengan prosedur yang berlaku.

Terima kasih saudara ketua.

Wassalamualaikum Wr. Wb.

KETUA RAPAT:

Silahkan Pak Sudirman

ANGGOTA F.TNI/POLRI ( DRS. SUDIRMAN, SE. MSi):

Terima kasih Pak Pimpinan.

(11)

I I II 1:

I

I

I I I I I I ,I I I I I I I I I I I

10

Dua alternatif yang disampaikan oleh Bapak Menteri, sama-sama substansinya dan mengarah ke satu tujuan. Tetapi bila dihadapkan kami kepada alternatif yang pertama, bahwasanya rancangan ini dapat diselesaikan dulu, kami pribadi bingung. Kenapa bingung, karena tidak tahu bagaimana gambaran secara besarannya itu bagaimana. Bagaimana keterkaitannya itu bagaimana ,dengan induknya kami tidak tahu.

Walaupun dikatakan oleh Bapak Menteri tadi, ini bagian dari induknya itu.

Dan dua alternatif itu yang diusulkan Bapak Menteri, malah nantinya digabung kembali kepada induknya. Jadi dari dua alternatif itu, kalau dipilih alternatif satu kami bingung, tidak tahu cantolannya ini dimana, induknya bentuknya bagaimana dan lain-lain. Tetapi kalau alternatif yang kedua induknya itu kita selesaikan, itu akan makin menjadi jelas bagi kita, dimana posisi dan lain privatisasi itu, apa itu BUMN, apa itu lingkup BUMN dan lain sebagainya.

Nah ini yang kita dengar di masyarakat sekarang ini kenapa ada BUMN satu ditolak, kenapa BUMN yang lain tidak ditolak dan lain sebagainya. Kalau menurut saya dalam pengamatan saya itu tidak terjadi di sini saja, tetapi di negara-negara lain bisa terjadi, seperti ambilah Korsel yang baru-baru ini mengadakan demo besar-besaran mengenai BUMN juga. Apa yang sebetulnya di situ, kami melihat founding fathers kita dalam menyusun UUD 45 itu sangat arif sekali. Bahwa katanya, antara lain bahwasannya yang menyangkut hidup orang banyak dikuasai negera. lni kan harus jelas, dalam UU BUMN itu harus jelas. Apa saja yang bisa menyangkut hidup orang banyak itu, apakah semua itu dikait-kaitkan menyangkut hidup orang banyak, itu yang dikuasai negara. Jadi harus jelas dalam UU BUMN itu mana yang harus dikuasai negara, mana UUD 45 itu, sehingga kita tahu mana porsi BUMN, mana porsi swasta.

Kemudian lagi founding fathers kita mengatakan bumi, air, sekarang ditambah dengan perubahan Nomor 4 UUD 1945, angkasa, dan yang terkandung di dalamnya diberikan kesejahteraan, sebesar-besarnya kesejahteraan rakyat. lni amanatnya apa, di situ BUMN. Jadi dalam pikiran saya BUMN itu akan ada nanti yang mungkin tidak bisa diprivatisasi sembarang saja, ada BUMN yang bisa diprivatisasi sembarang saja. Jadi mungkin yang terkait dengan bumi, air, dan angkasa seperti semen, perkebunan, migas itu hati-hati kita dalam melepasnya. Berbeda dengan misalnya BUMN yang bergerak dibidang jasa konstruksi, perhotelan dan sebagainya, itu gampang dan tidak ada masalah. Jadi ini kita dudukan dulu masalah itu dan lihat dulu induknya, kita meraba-raba anaknya, induknya tidak tahu. Jadi dalam dua pilihan yang diberikan oleh Bapak Menteri tadi kami disuruh memilih yang pertama ini jadikan dulu kemudian barengan kami bingung.

(12)

i I I.

ii ,.

I I

1

I

II I 11 11

I

I I I I I I

I

I

11 I I 11

11

Tetapi kalau UU BUMN ditarik, ini dimasukan dalam UU kami akan dapat gambaran yang jelas, jadi ini BUMN yang akan ditarik, ini kriteria BUMN yang akan diprivatisasi sehingga dimasyarakat itu tidak ada gejolak lagi, tidak ada demo-demo lagi.

Jadi sangat mendasar sekali sehingga kami sampai sekarang alternatif kami UU BUMN itu dulu , dan masalah waktu itu tergantung kita, kita bisa kerja kejar waktu, dan kalau perlu pagi, siang, sore tidak masalah, malam kalau perlu, kalau perlu pakai Sabtu, Minggu, tidak ada masalah. Sekarang kita kan Sabtu, Minggu, kita pakai Komisi IX sampai sekarang, dan bagi kami bukan masalah.

Masalah mendasar kami ingin tahu dulu induknya itu bagaimana, kriteria-kriteria BUMN itu bagaimana sehingga kita jangan ini, dan ini dijual sehingga tidak sesuai dengan kriteria yang kita harapkan. Bagaimana penjabaran dari UUD 45.

itu mendasar sekali.

Jadi kesimpulannya bahwa pimpinan, kalau ditawarkan Pak Menteri dua alternatif itu kami rasanya memilih, BUMN dulu nanti ini, nanti kita mantap dan mungkin kita lebih kongkrit. Dan kalau pemilihan yang pertama ini dijadikan kami bingung. Terima kasih.

ANGGOTA F.PDI.P (SUKONO) Terima kasih waktu yang diberikan.

Bapak-bapak yang kami hormati.

Pada dasarnya apa yang disampaikan Bapak-bapak ini sama-sama.

Namun demikian perlu kita lihat satu mekanisme yang ada bahwa rancangan ini telah dimasukan oleh Presiden kepada DPR. Kalau ini dicabut, berarti DPR harus mengembalikan terlebih dahulu, karena inisiatif itu dari DPR, berarti DPR harus membuat surat resmi pada Presiden. Tetapi kalau hal ini tidak dicabut, hal seperti ini kita lakukan terus, kemudian apa yang disampaikan oleh Pak Menteri tadi merupakan satu bab tersendiri. Saya rasa tidak bisa berjalan sama. Tetapi kalau ini harus dicabut dulu, ini sudah masuk berarti kita harus mengembalikan.

lni prosesnya yang perlu kita cermati. Memang semuanya itu ingin baik, tapi saya kira sekali lagi seandainya usul Pak Menteri tadi dimasukan dalam satu bab tersendiri di alam pembahasan ini, saya rasa juga tidak masalah.

Sekian terima kasih.

ANGGOTA F.PDI.P (MATHEOS PORMES):

Baik terima kasih saudara pimpinan.

Saudara Menteri dan jajaran yang saya hormati.

(13)

I I I I I I I I I I I I I I 11 I 11 1,

I I I I

12

Saya kira yang kita bicarakan sekarang tidak salah karena yang kita bicarakan sekarang adalah UU tentang bentuk-bentuk: BUMN. Jadi tidak ada yang salah di sini, jadi tidak ·ada yang perlu dicabut dan dikembalikan. Persoalan kita adalah dimaterinya, dan materi adalah hak fraksi.;fraksi untuk menyatakan di DIM. Di situlah terjadi usulan-usulan perubahan tentunyaldalam DIM itu. Masing­

masing fraksi berunding. lni tidak cukup bahan yang disampaikan Pemerintah cuma tiga pasal. Dewan punya hak untuk menambahkan materinya, judulnya tidak berubah atau kita bisa memodifikasikan judulnya, sehingga tidak ada permasalahan sama sekali. Toh kita belum membicarakan soal DIM, masing­

masing fraksi akan mengajukan DIM, jadi kita tidak sampai pada tahap mengembalikan ini tapi di DIM itulah masing-masing fraksi. lni tidak dari judul ini tidak cukup muatannya seperti ini, muatannya kita harus lengkapi untuk didalamnya ada pembinaan, pengelolaan BUMN dan lain-lain. Saya kira itu tidak ada persoalan saya kira. Jadi saya usulkan bahwa ini kita lanjutkan setiap fraksi menyusun DIM-nya ,apa maunya baru kita bicarakan, itupun bisa termodifikasi sehingga pemerintahpun bisa melengkapi bahan-bahannya. Saya kira itu, terima kasih Ketua.

ANGGOTA F.PPP (DRS. BARLIANTA HARAHAP):

Saudara Ketua dan Saudara Menteri yang terhormat.

Sedikitnya ada 3 aspek yang perlu kita perhatikan dalam membahas apa yang disampaikan oleh Saudara Menteri, pertama aspek substansial, substansi atau konten apa saja yang perlu kita pikirkan pada waktu kita membahas RUU tentang Pembinaan dan Pengelolaan BUMN, di mana pada didalamnya ada tersangkut mengenai program atau ketentuan lain dari pprivatisasi. Yang kedua aspek prosedural karena pemerintah sudah menyampaikan Rencana UU tentang perubahan PP Nomor 1/ 1969 tentang bentuk-bentuk perusahaaan negara dan kemudian ada amanat dari MPR agar Pemerintah juga menyiapkan UU mengenai keberadaan dan pengelolaan BUMN, maka kita harus memikirkan itu di BAMUS untuk kita laporkan kepada DPR, apakah rencana UU yang sudah disampaikan ditarik, untuk kemudian nanti diusahakan memasukannya kepada . RUU tentang BUMN itu nanti kita pikirkan kita bicarakan dengan Pemerintah.

Karena seperti kata konstitusi, Saudara Menteri BUMN-lah yang paling tahu nmengenai seluk beluk BUMN. Jadi apakah bentuknya Qagaimana, proposal beliau kepada presiden, bagaimana eksistensinya dalam susunan perekonomian nasional, dan apakah bangun usaha itu bersand_arkan kepada komoditas apakah aktifitas, ini nanti akan kita bicarakan secara komprehensif.

(14)

I I,,

,

,�

i I I I I I I I I I I

I

I

I I II I I I I

13

Tapi yang pasti posisi mengatakan bahwa SaudaraHiaksamana · Sukardi, Menteri yang paling berpengaruh terhadap Presiden terl:ladap dalam menentukan politik negara mengenai BUMN. tni harus; kita 'hormati.

Jadi saya lebih sepakat, kalau misalnya kita berembuk agat kalau Menteri misalnya pemerintah setuju kita melaporakan dulu kepada Pimpinan DPR, .. untuk nanti mereka bicarakan ke Bamus bagaimana sebaiknya usul pemerintah ini.

Saya pada dasarnya menyetujui usulan Pemerintah karena legs generalis diutamakan kepada legs specialist pertama.

Kedua kalau BUMN itu by law, nyata betul keberadaan dan pengelolaan BUMN harus ditentukan dengan UU, Iii konsekuensi daripada ketentuan konstitusi. Dan konstitusi mengatakan "perkonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asas kekeluargan". Jadi ada susunan ekonomi nasional kita. Disusunan itu ada bangun usaha. Nah bangun usaha itu dijelaskan pada pasal 2, "Bumi air dan kekayaan yang ada di dalamnya itu dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat".

Jadi baik komoditis, bumi, air, jadi di bumi itu ada minyak, apakah komoditas mau dikuasai negara, katanya perlu. Bisa by regulation, bisa by management, bisa by ownership. Nanti kita serahkan dulu proposal daripada pemerintah kepada kita. Karena mereka lebih mengetahui seluk beluk daripada BUMN baik dala penguasaan komoditas. Tapi di pasal 3 dikatakan "cabang­

cabang produksi yang panting dan yang menguasai hajat orang banyak dikuasai oleh negara". Jadi apa cabang itu bisa kalau di perusahan patungan yang pernah saya pelajari bisa itu pohon produksi. Ada akar produksi, ada batang produksi ada ranting produksi, nanti kita tanyakan kepada Bapak Laksamana Sukardi, apa ini cabang-cabang itu. Apakah produksi beraktifitas misalnya, maufakturing, jasa, pemasaran dan bagaimana pengusaanya, apakah dikuatum arti regulasi, cukup apakah dimanage, dipimpin, sini ada pengelolaan, management atau lebih dari itu pemilikan. Nah pemilikan itu ada istilah persero.

Jadi ada sebagian dari kekayaan negara yang dimasukan dalam PT Persero Persero ini rupanya mau dipercepat privatisasinya agar dia mempunyai nilai lebih, baik dalam hal kesehatan perusahan maupun kontribusinya kepada kemakmuran rakyat sebesar-besarnya itu.

Kesimpulan saya saudara Ketua, berdasarkan kerangka pikir yang konstitusional ini dalam · dasar operasional yang telah ditetapkan oleh GBHN TAP MPR No. IV Tahun 1999, TAP MPR VIII Tahun 2000, TAP MPR No. X Tahun 2001 memang UU tentang BUMN kita utamakan by law. Sedangkan ini ketentuan bersama. lni bisa kita masukan by law itu, program privatisasi untuk persero.

(15)

r-

I

1

--����-

14

11' I

I .

II '•

1.

I

,.

:I

I

1• I I I

11 I I I I I I I I I

Demikian saya kira dan aspek strukturalnya saya kira Saudara Ketua lebih tahu dari saya bagaimana nanti menghandle-nya di OPR sendiri dan bagaimana dengan pemerintah kepada Presiden untuk mengatasi masalah ini :secara proseduralnya.

Aspek ketiga yaitu aspek batasan waktu. Saya · selalu berfikir strategis bagaimana supaya nanti Pemerintah (lbu Presiden), tidak ditanyakan bagaimana yang kami amanati kepada lbu. Mudah-mudahan ini siap sebelum Juli. lni mesti diperhatikan oleh Bapak Laksamana Sukardi sebagai pembantu presiden. ltu batasan waktunya, jangan sampai nanti sidang tahunan ditanyakan, kami amanatkan tahun sekian tahun 1998, tahun 2002 tidak ada. Kami amanatkan tahun 2000 sekarang tidak ada. Kami ingatkan tahun 2001 makin tidak ada, maka timbulah minimal konflik politis. lni harus kita hindarkan bersama-sama kalau kita ingin agar pemerintah ini stabil sampai tahun 2004.

Demikian terima kasih.

KETUA RAPAT:

Kepada Pak Imam.

ANGGOTA F.PDI.P (IMAM SOEROSO):

T erima kasih Pimpinan.

Apa yang disampaikan oleh penugasan Pansus ini, saya kira sudah cukup kuat karena Pansus ini adalah Pansus Bentuk-bentuk Usaha Negara.

Usaha Negara itu kaitannya dalam berbagai hal perlu masukan-masukan.

Masukan-masukan itu dimasukkan didalam DIM-DIM yang akan kita bahas.

Berikutnya tadi kalau ada pemikiran untuk dicabut, ini saya bacakan Pasal 25 Tatib DPR-RI "Rancangan Undang-undang yang berasal dari Pemerintah dapat ditarik kembali sebelum Pembicaraan Tingkat I itu berakhir". Kalau Rancangan ini ditarik, otomatis Pansusnya bubar, yang perlu kita pertimbangkan kalau ditarik maka pansusnya bubar, jadi membentuk Pansus lagi.

lni kita perlu waktu apa yang disampaikan Pak Barlianta, bahwa kita ngejar waktu sampai tidak ada realisasi, ini perlu kita pertimbangkan untuk Pansus ini berjalan terus. Adapun masalah-masalah , materi-materi yang akan dimasukkan dalam pembahasan-pembahasan nantinya. Saya lebih setuju begitu. Daripada kita nanti kalau Pansus ini ditarik kembali oleh Pemerintah otomatis susuna anggota Pansusnya berakhir (tamat). Untuk ini kami mohon kepada Menteri BUMN segera menyampaikan masalah-masalah yang akan dimasukkan dalam waktu dekat, tidak sangat terlalu lama.

(16)

I Ir

I:

1

I I I I I I I I ,I I I

I

I

I I I I I I I

15

Agar dalam rangka pembahasan ini lebih terselesaikan dengan baik, sebagaimana kes_anggupan anggota Pansus, sanggup uhtuk menyingkat waktu dalam proses pembahasan sepanjang materi-materi itul isudah dihadapan kita semua.

Demikian, terima kasih.

KETUA RAPAT:

T erima kasih Pak Imam.

Saya kira sudah semua rekan-rekan memberikan pendapat. Saya coba menyimpulkan, jadi mohon dikoreksi kalau ada yang salah. Jadi dari semua yang memberikan pendapat ini, hampir senada bahwa kita harus membahas Undang­

undang ini secara komprehensif tidak sepotong-sepotong hanya privatisasinya saja, itu yang pertama. Yang kedua mengenai proses prosedural apakah ditarik dulu, apakah langsung masuk ,itu akan kita konsultasikan kepada Pimpinan DPR dan didalam Intern kita besok.

Sementara itu yang bisa kita simpulkan.

ANGGOTA F.PG ( AZHAR MUCHLIS, SH):

Terima kasih Pak Ketua.

Usulan yang disampaikan teman-teman, ada yang ingin menarik atau ada yang tetap, itu sebenarnya didasari dari pemikiran Pak Menteri. Seandainya Pak Menteri tadi tidak memberikan kejelasan tambahan, ada RUU BUMN atau melewati surat ini, mungkin tidak menjadi masalah. ltu masalahnya. Tetapi kami melihat kerangka berfikir Pak Menteri ini luas, jangkauannya kedepan dan satu hal yang menguntungkan bahwa ada satu isu kalau kita dengan begitu cepat menyelesaikan privatisasi, ada legalisasi penjualan terhadap asset-aset, ini harus kita tepis juga. Padahal bukan itu tujuannya, memang itu tugas yang dibebankan Pemerintah dan Dewan untuk membuat Undang-undang.

Dengan demikian, kecepatan itu bisa ditempuh pertama forum lobby kita, itu yang panting. Jadi tidak rapat resmi, teman-teman Pak Menteri, siapapun bisa memberikan suatu pikiran-pikiran kepada kita, kita beranggapan sebagai kolega.

Dengan demikian menangkap isu yang mereka berikan terhadap kita.

Lalu materinya secepat mungkin disampaikan kepada kita. Kalau materi yang disampaikan berbeda dengan ini, sangat sulit. Tetapi kalau justru pohonnya didulukan bukan anaknya yang lahir kemudian, maka itu akan lebih bagus. Jadi pikiran-pikiran kami, sebenarnya merespon apa yang dikehendaki Pak Menteri.

Mungkin kami salah menangkap, tetapi sebaiknya pak Menteri juga berkomentar terhadap pikiran teman-teman. Cepat OK, tidak ada masalah.

(17)

I I

• I

11 II

I

I

I I

1,

11

I

II !1 I I I I I I I I I

16

Jadi kami akan selalu siap, tentunya tidak selalu formal didalam forum ruangan ini. ltu biasanya lebih cepat terselesaikan, kaJau diruangan ini sepertinya yang satu rapat ini1 atau rapat itu, akhirnya ini tidak mungkin terselesaikan. lni mungkin Pimpinan, sebagai bahan saja, terima kasih.

KETUA RAPAT:

Kalau begitu menurut Pak Azhar, kita beri kesempatan dulu kepada Saudara Menteri untuk menanggapi segala macam tadi yang berkembang diforum.

Saya persilakan Pak Menteri.

PEMERINTAH:

Terima kasih Pimpinan.

Kami sangat berterima kasih atas komentar dan respon. Pada intinya kami menganggap sangat positif dan konstruktif. Jadi kalau boleh kami menambahkan juga, karena pansus ini juga dan judul dari Undang-undangnya adalah mengenai UU Bentuk-bentuk Usaha Negara, dimana sebetulnya BUMN itu salah satu dari bentuk usaha negara. Jadi karena BUMn salah satu bentuk dari badan usaha negara jadi dalam materi ada disitu BUMN-nya. Nanti bisa diperluas, bidang BUMN-nya itu. Masalah pembinaannya dan lain sebagainya masuk dalam materinya, dan juga privatisasi juga mungkin bisa dikategorikan merubah bentuk usaha negara, mungkin dari BUMN menjadi BUSN atau lain sebagainya. Jadi karena ini Undang-undang juga yang menyangkut segi korporasinya, karena kita ada UU Perseroan, UU Pasar Modal, yang mengikat juga BUMN.

Saya kira semua yang dikatakan itu sangat konstruktif dan kalau kami boleh usul, untuk mempersingkat waktu tentu adalah sebuah komitmen dari Pemerintah. Kami sangat berterima kasih juga adanya komitmen dari Bapak­

bapak di Dewan.

Jadi kalau saya boleh mengusulkan, karena Pansus-nya adalah mengenai UU Bentuk-bentuk usaha negara dimana BUMN adalah salah satu bentuk negara, jadi itu masuk kedalam materinya daripada kita merubah-rubah Pansus­

nya.

Saya kira demikian, Pimpinan.

ANGGOTA F. REFORMASI (IR. AFNI ACHMAD):

lnterupsi Pimpinan.

(18)

I I I I I I I I I I I I I I 11 I

I I I I I I

17

lni klarifikasi saja, mungkini kita perlu; samakan definisinya BUMN bukan salah satu bentuk, salah satu bentuk usaha: ekonomi ya, karena bentuk BUMN itu adalah Perjan, Perum, Perserp mungkin ini supaya, kita sepaham ya, jadi BUMN itu terdiri daripada Perjan, Perum dan Persero. Sedangkan pelaku ekonomi memang tiga yaitu BUMN, swasta dan Koperasi jadi ini supaya kesamaan pemahaman saja.

T erimakasih.

ANGGOTA F.PG ( IR. ACHMAD HAFIZ ZAWAWl,MSC)

Klarifikasi hampir sama dengan Pak Afni, tapi izinkanlah saya ingin memberikan tanggapan. Nampaknya Saudara Menteri ingin mengusulkan sipaya Pansus ini diteruskan dengan nama yang sama tapi didalamnya ada substansi mengenai BUMN dan juga privatisasi. Saya tak ingin terjebak kepada secara mendalam kepada substansial, tetapi kalau sudah diusulkan yang demikian ini memang sudah substansi.

Menurut saya kalau judulnya tentang bentuk-bentuk usaha negara ini kita hanya akan bicara mengenai bentuk, tapi kalau kita bicara mengenai badah usaha milik negara secara keseluruhan, maka itu yang paling pas adalah mungkin pengelolaan BUMN, sehingga didalamnya ada memang masalah privatisasi, masalah perubahan bentuk, masalah peralihan saham dsb.

Jadi kalau itu kita paksakan, nanti sesuatu yang jangan-jangan nanti di koreksi lagi oleh kita sendiri kemudian. Padahal sebetulnya inilah kesempatan dari Pak Menteri untuk membuat sesuatu Undang-undang yang monumental.

Belum pernah dalam sejarah republik, suatu RUU mengenai BUMN, tadr Pak Barlianta sudah menjelaskan dengan panjang lebar mengenai Pasal 33 ayat (1), (2) dan (3).

Di dalam panitia adhoc 1 (satu) sekarang itu, walaupun ada rancangan ke­

empat amandemen; badan pekerja PAH I tidak merubah Pasal 33 hanya mencantumkan ruang angkasa tadi. Tapi ayat (1), (2) dan (3) itu cabang-cabang produksi yang penting yang menguasai hajat hidup orang banyak dan panting . bagi negara dikuasai oleh negara, dan yang kedua adalah bumi, air dan ruang angkasa (dan seterusnya) itu tidak ada perubahan. Hanya memang yang terjadi satu diskusi bahwa apa yang dimaksud oleh "dikuasai", tadinya kita m.engatakan

"dikuasai" itu juga tidak berarti dikuasai tapi hanya di kelola.

Amanat yang semacam ini harus kita tuangkan di dalam Un_dang-undang.

Jadi kalau hanya menggarap sepotong-sepotong nanti malah menjadi satu preseden yang tidak baik bagi kita.

(19)

I�: I i:

I

I:

II I I I I I 1• I

I I I I

I I 'I I

I I I

18

Jadi saya usulkan kita kembalikan kepada Pemerintah siapkan RUU yang baru, dan saya kira Pak Barlianta komitmen kita kalau memang sudah l'tikad baik dari Pemerjntah untuk mengajukan RUU itu-kan kita

tidak

memberikam raport merah, tentu Pak, walaupun dalam Sidang Tahunan Jni. Tapi Pemerintah sekarang sedang mempersiapkan dan itu karena waktu befum selesai, jadi bukan sesuatu raport yang merah karena itu kesepahaman kita.

Terima kasih.

PEMERINTAH

T erima kasih Pak Hafiz.

Kami kira setuju bersama-sama untuk menciptakan atau melahirkan Undang-undang yang monumental dimana bisa merupakan prestasi kita bersama. Dalam interest itu, mungkin kami serahkan kepada Pansus karena kami juga tidak memahami masalah Tatib di dalam, apakah boleh ada perubahan judul dari RUU tersebut. Kalau boleh lebih bagus karena ini interest­

nya adalah waktu dan materi tersebut.

KETUA RAPAT

Saya kira saya coba mengembalikan ke kesimpulan kita tadi dan tolong koreksinya kalau ada yang salah .

Jadi yang pertama itu jadi kita sepakat bahwa Undang-undang yang kita bahas itu adalah Undang-undang mengenai BUMN yang komprehensif tidak sepotong-potong.

Yang kedua mengenai proses pembahasan dan mekanisme apakah yang tadi ditarik atau bagaimana kita akan konsultasikan kepada Pimpinan DPR dan juga di Rapat Intern. Apakah itu dapat disetujui ?

ANGGOTA F-TNI/POLRI (DRS. SUDIRMAN, SE, MSi) Sedikit Pimpina·n,

Jadi dari kesimpulan itu Menteri belum konkret dalam menanggapi saya.

Jadi kalau kesimpulannya begitu kalau tanggapan saya, RUU yang Bapak bikin itu masuk, ini ditarik. Jadi bukan ini dirubah lalu dimasukkan (bukan), itu kalau pendapat saya begitu. Nanti ini pembicaraannya kita dengan Pimpinan Dewan, mungkin juga dari Menteri nanti ini ditarik dan itu diajukan. Nanti bagaimana isinya kita ikut kepada prosedural. Jadi ini kita samakan dulu Pak Menteri, jadi persepsi yang demikian ini jadi keputusan Pimpinan itu sudah jelas. Cuma saya melihat Pak Menteri masih ini yang mana ini, apakah saya yang malah menanggapi salah, karena ini saja dirubah (bukan begitu). lni ditarik dan yang itu masuk dan ini masuk kesana kalau pengertian saya begitu.

(20)

I I I I I I I I I I I I I I I

11 I ,I I I I I I

19

Jadi keputusan Pimpinan saya rasa betul itu, cuma saya minta klarifikasi daripada Pak Menteri.

Terima kasih.

PEMERINTAH

Mungkin apa yang kami maksudkan itu kami serahkan kepada prosedur yang berlaku sesuai dengan Tatib.

ANGGOTA F-REFORMASI (ALVIN LIE, MSc):

Mohon ijin Pimpinan,

Saya kira kita semua disini sepakat untuk melahirkan Undang-undang yang komprehensif namun juga dalam waktu yang secepat-cepatnya, juga menjaga momentum ini. Saya khawatir kalau ini ditarik kemudian nanti mundurnya itu bisa lama.

Mungkin bisa dipertimbangkan, kalau dari pihak Menneg BUMN bisa menambahkan saja materinya tanpa mencabut yang ini. Kemudian kita bisa mencoba di dalam Pansus ini kita membuat keputusan. Salah satu keputusan Pansus adalah mengusulkan perubahan judul untuk mengakomodir kepentingan yang lebih luas dan usul itu kita teruskan kepada Bamus untuk nanti disahkan melalui Paripurna. Kalau mekanismenya itu bisa ditempuh, saya kira itu jalan yang cukup singkat.

Terima kasih.

ANGGOTA F-TNI/POLRI (DRS. SUDIRMAN, SE, MSi):

Pimpinan,

Jadi saya rasa kita tidak sekedar judul, ini masalah content-nya (substansinya). Seperti yang diusulkan disini-kan jelas bentuk-bentuknya, pembinaan, pengelolaan, pengawasan dan sebagainya. Jadi tidak sekedar judul.

T erima kasih.

ANGGOTA F-PDIP (SUKONO) Terima kasih.

Sebenarnya apa yang kami sampaikan sama dengan yang disampaikan oleh Pak Alvin Lie bahwa disini ada satu bentuk tetapi tidak ada satu pengelolaan, sehingga kalau pengelolaan apa yang disampaikan tadi oleh Pak Menteri ini tentang privatisasi ini, merupakan satu bab tersendiri sehingga dari beberapa bab maka bab itu adalah merupakan kelanjutan daripada Undang­

undan·g ini dan saya rasa itu lebih simple.

T erima kasih.

(21)

r--- -�-

I

I

11

l

I I '

! •.

I

'

I I I I I I I

I .

ii

I

I

I I I I I I I I

20

KETUA RAPAT:

Jadi saya kira, kita kembali kepada kesepakatan tadi I :dan saya bacakan kembali, berdasarkan dialog tadi maka kita sepakat bahwa !yang kita bahas. itu : adalah bukan hanya perubahan daripada Undang-undanf No.1 Tahun 1969 tetapi adalah Undang-undang mengenai BUMN secara lebih komprehensif, jadi legs generalis-nya yang lebih dulu menurut Pak Barlianta.

Yang kedua, mengenai prosesnya itu besok kami dari Pimpinan Pansus akan mencoba berkonsultasi dengan Pimpinan DPR dan kemudian akan kita sampaikan kepada Rapat Intern pukul 14.00WIB.

ANGGOTA F-PDIP (MATHEOS PORMES) Ketua,

Dalam hubungan dengan kesimpulan yang Pimpinan akan berkonsultasi dengan Pimpinan DPR. Saya kira kita harus menempuh prosedur dalam pembahasan ini. lni sudah ada dari Pemerintah pembicaraan tingkat I diawali dengan rapat fraksi-fraksi. Kemudian memberikan pandangan umum terhadap rancangan yang diajukan oleh Pemerintah, disitulah muncul apa yang akan kita lakukan sekarang (Tatib Pasal 120). Jadi mekanisme ini yang harus kita tempuh.

Katanya sudah dibentuk resmi DPR, sudah ditugaskan, masing-masing fraksi rapat, menyusun pandangan umum terhadap rancangan disampaikan kepada Pemerintah.

KETUA RAPAT Pak Matheos,

Kita sebetulnya belum masuk kepada acara Pansus, kita masih masuk kepada acara mengenai surat ini saja. Jadi kita belum masuk ke jadual.

ANGGOTA F-PDIP (MATHEOS PORMES):

Kita harus berlanjut kesitu karena fraksi-fraksi yang bisa mengusulkan itu, kalau menurut Tatib fraksi yang mengusulkan. Jadi kalau ada fraksi yang merasa ini kurang dan harus dilengkapi, itulah yang kita usulkan untuk di perubahan.

Coba-coba dipelajari mekanisme itu.

Terima kasih.

ANGGOTA F-REFORMASI (IR. AFNI ACHMAD):

F'impinan,

Memang ini suatu keadaan yang complicated ini.

(22)

I I I I I I I I I I I I II I I I

11 I I I I I

21

Jadi memang judul ini RUU dari Pemerintah ini, sesuatu yang membuat pembicaraan kita menjadi bias karena sebenarnya-kan "bentuk-bentuk" dan

"bentuk-bentuk" itu-kan cuma 3 {tiga) yaitu Perjan, Perum, Persero tidak bicara soal saham. Konyol-konyol disini ada usulan soat saham dan penjualan saham, jadi memang ini tidak perlu dibahas. Sedangkan isinya, itu sebenarnya adalah mengenai Undang-undang tentang BUMN, disitu ada penjualan saham, privatisasi, pengelolaan, pengawasan dan semestinya itu

Sebenarnya kalau ini kita tidak bahas tidak apa-apa, kita ajukan saja Undang-undang yang baru yaitu Undang-undang BUMN itu maksud saya.

Jadi saya pikir ada bagusnya jugalah kita sedikit menyampaikan hat ini kepada Pimpinan DPR untuk mencarikan jalan keluarnya supaya kita bisa berjalan pada rel yang kita harapkan karena aspirasi masyarakat adalah bagaimana kekhawatiran yang sangat kuat dari masyarakat soal BUMN sekarang itu dan itu yang menjadi inti sebenarnya.

Terima kasih.

ANGGOTA F-PDU (DRS. ABDULLAH AL WAHDI):

Ketua,

Saya kira kembali saja kepada kesimpulan yang tadi dibacakan Ketua kita lakukan untuk mempercepat waktu persoalannya.

Terima kasih.

ANGGOTA F-PG (AZHAR MUCHLIS, SH)

Kami kira Pak Menteri sudah menyampaikan hal itu diserahkan kepada kita.

Jadi sangat bijak sekali, katakanlah beliau manut apa maunya Dewan.

Seandainya lobby-lobby itu dilakukan dengan kita sebelumnya, mungkin akan lebih cepat dan lebih bagus.

Jadi lobby itu tidak harus dilakukan dalam bentuk orang yang mengawasi di komisi-komisi. Kita punya badan legislasi dengan Pak Imam itu, kita bisa lobby disana bagaimana merancang Undang-undang. Saya kira itu panting, jadi supaya kita tidak terjebak dalam retorika pengawasan yang kadang-kadang juga tidak jelas juga tapi Undang-undang ini adalah tugas pokok Dewan.

Oleh karena itu sekali lagi mungkin kami mengharap Pimpinan bisa lobby­

lobby, ·apakah bentuk ini benar. Kalau sudah niat ada perubahan, merubah judul itu sejak awal.

(23)

I 1·,·

I I I I I I I I 11 I II I I I I I I I I I

22

Jadi ini diserahkan, baru ada pikiran Pak Menteri dengan surat itu lalu kita baca "kenapa begini", padahal surat itu mengandung suatu nuansa yang cukup komprehensif dan akan melahirkan satu RUU yang menurut saya sangat baik.

Kami kira itu, Ketua.

Terima kasih.

ANGGOTA F-REFORMASI (IR. AFNI ACHMAD)

Terima kasih, Ketua,

Saya kebetulan juga peserta Pansus dari Undang-undang Perlindungan Tenaga Kerja. Ketika membahas kita juga merubah judul karena judulnya waktu itu awalnya semangatnya adalah Undang-undang Perlindungan Buruh tapi akhirnya dicari jalan kompromi dalam rapat-rapat itu sehingga tetap Perlindungan Tenaga Kerja.

Jadi saya pikir berdasarkan preseden itu bisa juga kita melakukan perubahan terhadap judul ini seperti yang semangat dalam forum ini, jadi tidak terpaku kepada adanya Pemerintah. Kita-kan setara dengan Pemerintah dalam hal ini, jadi bisa saja kita bersama-sama merubahnya, ini pengalaman.

Terima kasih .

KETUA:

Jadi saya kira kita kembali kepada kesimpulan tadi, dan juga dari Saudara Menteri sudah menyatakan akan mengikuti Tatib ataupun prosedur yang ada di DPR.

Saya bacakan sekali lagi "berdasarkan dialog tadi kita sepakati bahwa yang kita bahas itu adalah Undang-undang BUMN yang komprehensif". Kedua mengenai proses dan tata cara pembahasan dan pemasukan materi dari pihak Pemerintah menyerahkan kepada DPR, dan untuk itu besok siang Pimpinan Pansus berusaha konsultasi dengan Pimpinan DPR dan akan kami laporkan pada Rapat Intern kita pukul 14.00 WIB.

Setuju?

(RAPAT

SETUJU)

Saudara Menteri dan hadirin yang kami muliakan, kami atas nama seluruh Anggota Pansus sekali lagi mengucapkan terima kasih kepada Saudara Menteri beserta seluruh jajarannya. Dan mohon maaf apabila dalam dialog tadi ada kata­

kata yang kurang berkenan.

(24)

I I I : .:

I I I I I I ,1

I

I

I I I I I I

I

I

I I

l I I

23

Untuk itu Rapat Kerja dengan Saudara Menteri pada ihari ini dapat klta akhiri.

Assalaamu'alaikum Wr. Wb.

Rapat ditutup pukul 16.00 WIB.

Jakarta, 29 Mei 2002 a.n. Ketua Rapat

BAMBANG SATMOKO

Referensi

Dokumen terkait

Sebagai pusat layanan informasi dalam memberikan pelayanan kepada pengunjung, kepuasan terhadap jasa pelayanan merupakan salah satu hal yang penting bagi

Hal yang menjadi pertimbangan dibangunnya sistem pada Puskesmas Kecamatan Penjaringan adalah karena tidak adanya integrasi sistem, sehingga arus informasi tidak

Dari hasil analisis yang dilakukan diketahui risiko yang bersifat dominan dari hasil perhitungan nilai risiko antara lain keruntuhan/terjatuhnya girder dengan nilai

Keuangan penulis juga semakin menipis dengan adanya kuliah daring ini penulis terus-terusan membeli kuota yang biasanya satu kali dalam sebulan kini menjadi tiga kali

Terima kasih Pak Ilham dari Poksi Golkar.. Selanjutnya dari Gerindra silakan Mas Dewo. Assalaamu'alaikum Warrahmatullaahi Wabarakatuh. Yang saya hormati Pimpinan, Pak Menteri

Kemudian siswa diminta untuk menuliskan jumlah hari dalam satu bulan, menuliskan bilangan-bilangan ganjil dan bilangan- bilangan genap yang ada pada

Pada penelitian ini hipotesis 1 dan 2 akan menggunakan model regresi linier sederhana untuk melakukan pengujian dengan memanfaatkan program SPSS 20.0, sedangkan

Dari 28 industri batik, jenis produksi yang paling dominan di Kampung Batik Laweyan adalah batik tulis dengan prosentase 40%, sedangkan posisi kedua terdapat batik