1
DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA
RISALAH RAPAT KOMISI I DPR RI Tahun Sidang : 2018-2019
Masa Persidangan : III Jenis Rapat :
Rapat Dengar Pendapat Komisi I DPR RI dengan Sekretariat Jenderal Kementerian Kesehatan RI, Direktorat Jenderal Kekuatan Pertahanan Kementerian Pertahanan RI, Kepala Pusat Kesehatan Mabes TNI, Direktur Utama PT. Asabri (Persero), dan Direktur Utama BPJS Kesehatan.
Hari, Tanggal : Senin, 14 Januari 2019 Pukul : 13.19 WIB – 16.08 WIB Sifat Rapat : Terbuka
Tempat : Ruang Rapat Komisi I DPR RI, Gedung Nusantara II Lt. 1, Jl. Jenderal Gatot Soebroto, Jakarta 10270 Ketua Rapat : Asril Hamzah Tanjung, S.IP.
Sekretaris Rapat : Suprihartini, S.IP., M.SI., Kabag Sekretariat Komisi I DPR RI Acara : Pembahasan penyelesaian payung hukum terkait pelayanan
kesehatan untuk prajurit TNI/PNS Kementerian Pertahanan dan keluarga serta purnawirawan dan pembentukan gugus tugasnya.
Hadir : PIMPINAN:
1. Dr. H. Abdul Kharis Almasyhari (F-PKS) 2. Ir. H. Satya Widya Yudha, M.E., M.Sc. (F-PG) 3. Asril Hamzah Tanjung, S.IP. (F-Gerindra) 4. H.A. Hanafi Rais, S.IP., M.PP. (F-PAN) ANGGOTA:
FRAKSI PDI-PERJUANGAN (F-PDIP) 5. Ir. Rudianto Tjen
6. Dr. Effendi MS Simbolon, MIPol. 7. Charles Honoris
8. Andreas Hugo Pareira 9. Yadi Srimulyadi
10. Drs. Ahmad Basarah, MH FRAKSI PARTAI GOLKAR (F-PG)
11. Meutya Viada Hafid
12. Bobby Adhityo Rizaldi, S.E., Ak., M.B.A., C.F.E. 13. Dave Akbarshah Fikarno, M.E.
14. Bambang Atmanto Wiyogo, S.E. 15. Venny Devianti, S. Sos.
16. H. Andi Rio Idris Padjalangi, S.H., M.Kn. 17. Dr. Jerry Sambuaga
2
FRAKSI PARTAI GERINDRA (F-GERINDRA) 18. H. Ahmad Muzani
19. Martin Hutabarat
20. H. Biem Triani Benjamin, B.Sc., M.M. 21. Rachel Maryam Sayidina
22. H. Fadli Zon, S.S., M.Sc.
23. Andika Pandu Puragabaya, S.Psi, M.Si, M.Sc. FRAKSI PARTAI DEMOKRAT (F-PD)
24. Teuku Riefky Harsya, B.Sc., M.T.
25. Dr. Sjarifuddin Hasan, S.E., M.M., M.B.A. 26. H. Darizal Basir
FRAKSI PARTAI AMANAT NASIONAL (F-PAN) 27. Zulkifli Hasan, S.E., M.M.
28. Budi Youyastri
FRAKSI PARTAI KEBANGKITAN BANGSA (F-PKB) 29. Drs. H.A. Muhamin Iskandar, M.Si.
30. Drs. H.M. Syaiful Bahri Anshori, M.P. 31. Arvin Hakim Thoha
FRAKSI PARTAI KEADILAN SEJAHTERA (F-PKS) 32. Dr. H. M. Hidayat Nur Wahid, M.A.
33. Dr. H. Jazuli Juwaini, Lc., M.A. 34. H. Sukamta, Ph.D.
FRAKSI PARTAI PERSATUAN PEMBANGUNAN (F-PPP) 35. H. Syaifullah Tamliha, S.Pi., M.S.
FRAKSI PARTAI NASIONAL DEMOKRAT (F-NASDEM) FRAKSI PARTAI HATI NURANI RAKYAT (F-HANURA)
36. Drs. Timbul P. Manurung
Anggota yang Izin : 1. Ir. Bambang Wuryanto, M.BA. (F-PDI Perjuangan) 2. Dr. Evita Nursanty, M.Sc. (F-PDI Perjuangan) 3. Junico BP Siahaan (F-PDI Perjuangan)
4. Elnino M. Husein Mohi, S.T., M.Si. (F-GERINDRA) 5. Ir. Hari Kartana, M.M. (F-PD)
6. KRMT Roy Suryo Notodiprojo (F-PD) 7. Ir. Alimin Abdullah (F-PAN)
8. H.M. Syafrudin, S.T., M.M. (F-PAN) 9. Drs. H. Taufiq R. Abdullah (F-PKB) 10. Moh. Arwani Thomafi (F-PPP) 11. Dra. Hj. Lena Maryana (F-PPP)
12. Prof. Dr. Bachtiar Aly, M.A. (F-NASDEM)
13. Mayjen TNI (Purn) Supiadin Aries Saputra (F-NASDEM) 14. Prananda Surya Paloh (F-NASDEM)
15. H. M. Ali Umri, S.H., M.Kn. (F-NASDEM)
Undangan : 1. Direktur Jenderal Kekuatan Pertahanan Kementerian Pertahanan RI, Mayjen TNI Bambang Hartawan, M.Sc.
3
2. Direktur Kesehatan Ditjen Kuathan Kementerian Pertahanan RI, Laksamana Pertama TNI dr. Arie Zakaria, SpOT, FICS.
3. Kepala Pusat Kesehatan Mabes TNI, Mayjen TNI dr. Ben Yura Rimba, MARS.
4. Kepala Pusat Kesehatan Angkatan Darat, Mayjen TNI dr. Bambang Dwi HS, Sp.B.,FlnaCS.,M.Si.
5. Sekretaris Direktorat Jenderal Kesehatan Masyarakat Kementerian Kesehatan RI, dr. Kuwat Sri Hudoyo, MS. 6. Kapus PPJK Kementerian Kesehatan RI, dr. Kolsum
Komaryani, MPPM.
7. Direktur Utama PT. ASABRI (Persero), Sonny Widjaja. 8. Direktur Operasi PT. ASABRI (Persero), Adiyatmika,
S.E.
9. Direktur Kepatuhan, Hukum, dan Hubungan Antar Lembaga BPJS, Dr. dr. H. Bayu Wahyudi. Spog. MPHM. Mhkes. MM.
10. Direktur Jaminan Pelayanan Kesehatan BPJS, dr. Maya A. Rusady, M.Kes, AAK.
1. Beserta jajaran. 2.
4 Jalannya Rapat:
KETUA RAPAT (ASRIL HAMZAH TANJUNG, S.IP.): Assalaamu'alaikum Warohmatulloohi Wabarokaatuh. Shalom, Om Swastiastu, Namo Budaya.
Bapak/Ibu sekalian mitra kami yang kami hormati,
Pertama dari Bapak Dirjen Kuathan, Pak Bambang, selamat datang. Dengan Dirkes Kemhan ya, Pak Ari Zakaria. Kemudian, Kapuskes oleh Pak Bambang lagi, Dwi. Kemudian mewakili Kemenkes, Sekjen, Ibu Kalsum Komariyani. Selamat datang Ibu Kalsum. Mungkin dengan dokter ahli ya. Kemudian dari Dirut BPJS, Ibu Maya, hadir terus ini. Dokter Bayu, hadir terus. Kemudian dari ASABRI, Pak Sonny sama Pak Adiyatma. Selamat datang.
Jadi sebelum kita mulai, saya minta pendapat, terutama dari Kemenhan dan Kemenkes, rapat ini terbuka atau tertutup. Karena seperti kemarin-kemarin terbuka. Sekarang mungkin ada perubahan? Silakan Pak Bambang, terbuka saja atau tertutup? Kenapa? Terbuka. Ibu Kemenkes, setuju?
Dengan demikian Rapat Dengar Pendapat Komisi I DPR RI pada hari ini, 14 Januari 2019, dengan Sekjen Kemenkes, Dirjen Kuathan Kemhan, Kepala Pusat Kesehatan Mabes TNI, Dirut PT ASABRI, dan Dirut BPJS Kesehatan, kita buka dan dinyatakan terbuka.
KETOK PALU : 1 KALI (Rapat di buka pukul: 13.19 WIB) Bapak/Ibu sekalian,
Pada RDP hari ini sebetulnya merupakan kelanjutan. Ada 2 (dua) kali RDP kita kemarin itu:
1. 16 Oktober 2018; 2. 5 Desember 2018
Kita ingin sekali mendapat masukan saat ini, karena sudah terbentuknya gugus tugas dan lain-lain. Kita minta nanti silakan paparan, mulai dari Dirjen Kuathan, kemudian nanti dari yang mewakili Kemenkes, dan selanjutnya nanti yang kita pandang perlu.
Kita sangat berharap mudah-mudahan ada titik temu. Karena perkembangan di luar kita lihat, entah beberapa rumah sakit memutuskan hubungan kerja dengan BPJS.
Betul, Ibu Maya, ya?
Ini ada apa ini? Hampir semua rumah sakit memutuskan hubungan. Ini kalau tidak yang banyak dosa ini BPJS, kalau tidak ya Kemenkes ini. Ini kita sangat perlu mendapat masukan ini. Mudah-mudahan dengan hasil koordinasi dengan Kemenhan, dengan Kemenkes, dengan BPJS, dengan Dirut ASABRI, mudah-mudahan ini akan menjadi contoh. Biar ada titik balik Mereka yang keluar-keluar BPJS kita bisa tarik lagi.
Mudah-mudahan hasil RDP kita hari ini bisa membuat satu keputusan atau solusi yang diharapkan oleh TNI. Terutama prajurit. Kalau ini sudah nanti baik, Insya Alloh saya yakin para rumah sakit kalau di tata BPJS nya dengan bagus akan kembali lagi Pak. Karena jaminan kesehatan nasional yang ditelurkan oleh Keppres itu, itu memang penting.
Tapi menurut saya ada hal yang kurang. Terutama, Ibu Kalsum, mungkin kurang teliti lah kepada TNI/Prajurit ini. Tugasnya agak lain, Ibu, dengan Satpam, dengan PNS, agak lain. Mereka punya tugas-tugas khusus yang tidak bisa dilimpahkan ke orang lain. Ini kalau saya ulang-ulang terus nanti bosan dengarnya kan. TNI itu begitu, 1 kali 24 jam siap di kirim perang kemana saja. Ini yang perlu kita hargai. Tidak bisa, mau anaknya sakit, mau istrinya ngleper-ngleper meregang nyawa, tidak ada, berangkat.
Kita juga menghindari nanti kejadian-kejadian buruk selama ini. Ada rumah sakit di dekat Asrama TNI, prajurit TNI tidak boleh berobat kesana, keluarga tidak boleh. Akhirnya rumah
5
sakitnya di tendang, di kotori macam-macam. Kita jangan sampai seperti itu. Ini memang kadang-kadang tidak masuk akal.
Apalagi yang berjenjang-jenjang itu. TNI itu tidak mau sulit, Ibu. TNI itu yang mantap, cepat, tepat, itu yang dibutuhkan. Kalau perang lambat-lambat, kita kalah terus nanti. Ini mohon dimaafkan juga ini.
Jadi untuk BPJS, Ibu Kemenkes, tolong bantu kita semua ini. Kami di Komisi I DPR RI ini hanya memfasilitasi, dan hanya bagaimana mempertemukan para mitra ini. Karena kita wajib membantu mitra kerja kita. Entah Kesehatan, entah BPJS, entah tentara, entah apa, disini tempatnya kita bisa berkoordinasi. Mudah-mudahan tidak ada dari mitra-mitra kita ini yang salah menanggapi hal semacam ini.
Saya rasa Prajurit TNI, bukan karena saya dari TNI dulu, itu tidak minta macam-macam. Haknya ada, obatnya ada, rumah sakitnya ada, kita kembalikan biar ini lancar. Kan itu saja. Tidak ada macam-macam. Kenapa kok terjadi hal-hal yang begini yang kita semuanya mungkin kurang setuju juga.
Jadi ini pembukaan dari saya mungkin. Mudah-mudahan ini bisa lancar, bisa dapat solusi yang bagus, sehingga ini menjadi contoh pilot project nanti untuk rumah sakit-rumah sakit swasta atau yang di luar lain itu bisa bergabung kembali dan mendukung masalah program kesehatan nasional ini.
Ini dari kami Pak dari BPJS, Ibu, mudah-mudahan ini kita hari ini bisa membuat suatu sejarah yang bagus untuk kesehatan negeri kita. Terutama prajurit.
Silakan dari Dirjen Kuathan dulu lah. Silakan Pak Bambang, silakan Pak Farhan, apa yang perlu disampaikan lagi berturut-turut. Habis itu dari Kemenkes, Ibu Kalsum. Silakan.
DIREKTUR JENDERAL KEKUATAN PERTAHANAN KEMENTERIAN PERTAHANAN RI (MAYJEN TNI BAMBANG HARTAWAN, M.SC.):
Assalaamu'alaikum Warohmatulloohi Wabarokaatuh. Salam sejahtera, selamat siang untuk kita semua. Shalom, Om Swastiastu.
Yang terhormat, Pimpinan Rapat (Bapak Asril Tanjung);
Yang terhormat, Anggota Komisi I DPR RI yang saya cintai, saya hormati, dan saya banggakan;
Kemudian juga dari Kementerian Kesehatan, dari BPJS, dari Puskes TNI, juga dari ASABRI. Pertama-tama tidak bosan saya mengucapkan/mengajak untuk senantiasa kita bersyukur kehadlirat Alloh Subhaanahuata’aala Tuhan Yang Maha Besar, karena atas limpahan rahmat dan karunia serta ridho-Nya kita dapat berkumpul kembali di ruang yang sangat megah ini dalam keadaan sehat wal’afiat.
Yang kedua, kami dari Kementerian Pertahanan sekali lagi mengucapkan terima kasih dan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada Komisi I DPR yang telah memfasilitasi kami untuk bisa melakukan mediasi ataupun berdiskusi dengan pihak BPJS dan Kementerian Kesehatan, juga dengan PT ASABRI, dalam rangka kami perbaiki sistem untuk masalah-masalah yang ada di kesehatan kami, khususnya yang berhubungan dengan masalah BPJS.
Untuk mempersingkat waktu, kami akan langsung pada paparan kami. Bapak/Ibu sekalian,
Sebagaimana kita ketahui bahwa hasil RDP dengan Komisi I DPR RI pada tanggal 5 Desember 2018 disimpulkan bahwa:
1. Komisi I DPR telah mendengarkan penjelasan Kementerian Pertahanan, Kementerian Kesehatan, Puskes TNI, dan BPJS Kesehatan, terkait laporan tindak lanjut rapat dengar pendapat tanggal 16 Oktober 2018 yang meliputi:
2. Penyelesaian payung hukum terkait pelayanan kesehatan bagi prajurit TNI, PNS Kemhan dan keluarganya, serta purnawirawan;
6
3. Pembentukan gugus tugas/task force dengan leading sector dari Kementerian Kesehatan sebagai tahapan membentuk payung hukum sebagaimana tersebut pada huruf a di atas;
4. Sementara menunggu regulasi, sistem rujukan online berjenjang bagi Prajurit TNI, PNS Kemhan dan keluarganya, serta purnawirawan, diberlakukan secara khusus; Ini alhamdulillaah sudah berjalan.
5. Komisi I DPR RI akan menindaklanjuti dan menjadualkan dalam rapat Komisi I DPR pada masa sidang berikutnya;
6. Terkait dengan perkembangan pembentukan dan pelaksanaan gugus tugas, Komisi I DPR RI mendesak Kementerian Pertahanan, Kementerian Kesehatan, dan BPJS Kesehatan untuk melaporkan kepada Komisi I DPR RI secara berkala.
Bapak/Ibu sekalian,
Bahwa berdasarkan Surat Sekretariat Jenderal Kementerian Kesehatan Nomor JP0203/3/X4170/2018 tanggal 11 Desember 2018 tentang kendala sistem rujukan di lingkungan Kemhan dan TNI. Kita ketahui bahwa Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) merupakan bagian dari Sistem Jaminan Sosial Nasional yang diselenggarakan untuk memenuhi amanat Undang-Undang Dasar 1945 dengan menyelenggarakan sistem jaminan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Bahwa dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2004 Tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional dijelaskan bahwa tujuan dari JKN adalah memberi perlindungan kepada masyarakat terhadap kebutuhan dasar kesehatan, dimana JKN dilaksanakan secara nasional dengan prinsip equitas atau disamakan. Ini yang perlu jelaskan untuk berikutnya.
Sesuai dengan Peraturan Presiden Nomor 82 Tahun 2018 tanggal 17 Desember 2018 tentang jaminan kesehatan, pelayanan kesehatan bagi peserta, termasuk peserta dari jajaran Kementerian Pertahanan dan TNI, dilaksanakan secara berjenjang sesuai dengan kebutuhan medis dan kompetensi fasilitas kesehatan.
Selanjutnya, terkait kekhususan pelayanan kesehatan di lingkungan Kementerian Pertahanan dan TNI yang belum di akomodir dalam sistem pelayanan JKN, saat ini Kementerian Pertahanan TNI, Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Kementerian Kesehatan dan BPJS Kesehatan, dengan Komisi I DPR RI telah menyepakati membentuk task force untuk membahas secara teknis perihal permasalahan tersebut secara intensif.
Bahwa saat ini Kementerian Kesehatan memang tengah melaksanakan perumusan peraturan menteri yang merupakan delegasi atau turunan dari Peraturan Presiden Nomor 82 Tahun 2018 tentang Jaminan Kesehatan, dimana dalam pembahasannya kami dari Kementerian Pertahanan mengharapkan dapat memberikan masukan untuk pengembangan pelayanan kesehatan pada program JKN, termasuk salah satunya pelayanan rujukan.
Perlu Bapak dan Ibu ketahui bahwa, sampai dengan saat ini sesuai dengan keputusan sidang yang lalu dimana Kementerian Kesehatan menjadi leading sector untuk task force, namun sampai dengan saat ini mungkin karena kesibukan dan lain sebagainya sampai dengan saat ini kami belum ada kelanjutannya untuk task force tersebut. Karena kami belum di undang dan lain sebagainya untuk membicarakan masalah task force ini.
Sementara itu beberapa regulasi yang sudah di revisi, masuk daftar regulasi baru, revisi, dan penggabungan yang terkait dengan tindak lanjut Perpres Nomor 82 Tahun 2018. Ini ada beberapa yang kami catat, sekitar 8 (delapan), yaitu:
1. Tentang Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 28 Tahun 2018 tentang Pedoman Pelaksanaan Program JKN;
Bahwa di dalam Permenkes sebagai tindak lanjut Perkes Nomor 82, itu adalah rancangan Permenkes tentang Pedoman Pelaksanaan Program JKN. Ini kami dilibatkan dalam hal ini. Ini proses sedang berlangsung. Kalau tidak salah sudah 3 (tiga) kali rapat kami ikuti.
2. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 856/menkes.sk/IX/2009 tentang standar instalasi gawat darurat rumah sakit. Ini menjadi PMK Nomor 47 Tahun 2018 tanggal 31 Desember 2018 tentang Pelayanan Kegawatdaruratan;
7 Ini kami belum dilibatkan juga;
3. PMK Nomor 71 Tahun 2017 tanggal 12 Nopember 2011 tentang Pelayanan Kesehatan pada JKN, dan PMK Nomor 34 Tahun 2017 tanggal 7 Juni 2017 tentang Akreditasi Rumah Sakit; Ini selanjutnya menjadi surat Menkes Nomor AK0301/menkes768/2018 tanggal 31 Desember 2018;
4. Surat Menkes Nomor HK0301/menkes18/2019 tanggal 4 Januari 2019 tentang Perpanjangan Kerjasama RS dengan BPJS. Ini kalau saya tidak salah yang ramai kemarin pada bulan Desember banyak yang memutus. Kemudian keluar lagi surat perpanjangan kerjasama dengan BPJS pada 4 Januari yang lalu yang Bapak bicarakan sebelumnya.
5. Selanjutnya adalah turunan dari Permenkes, ini tindak lanjut Perpres Nomor 82, yaitu PMK Nomor 51/2018 tanggal 14 Desember 2018. Ini tentang pengenaan urun biaya dan selisih biaya dalam program JKN;
Ini kami juga belum dilibatkan.
6. Selanjutnya adalah tentang PMK Nomor 76/2016, ini tentang pedoman Indonesian Case Base Group (Ina-CBG) dalam program JKN;
Ini masih dalam proses pembahasan, dan kami juga belum dilibatkan.
7. Termasuk juga yang berikut PMK Nomor 001 Tahun 2018, ini tentang sistem rujukan pelayanan kesehatan perorangan;
Belum di bahas sekali.
8. Yang selanjutnya yang terakhir adalah PMK Nomor 47/2016 tanggal 31 Oktober 2016 tentang fasilitas kesehatan;
Ini masih dalam pembahasan, kami juga belum dilibatkan.
Hadirin atau Bapak/Ibu dalam sidang sekalian yang saya hormati dan saya banggakan, Kami dari Kementerian Kesehatan dan TNI menghendaki bahwa dalam proses pembicaraan atau pembahasan aturan-aturan ini untuk bisa dimintai masukan atau dilibatkan. Karena apa, karena rumah sakit TNI dan Kemhan, ini baik secara maupun tidak langsung ini kami langsung juga melayani masyarakat, dan juga mengikuti di aturan-aturan yang ada di Kemenkes. Sehingga bila ada hal-hal yang kiranya nanti tidak cocok dengan undang-undang yang ada di dalam Undang-Undang TNI tentang Rumah Sakit ini tentunya ini bisa diselaraskan, dengan harapan seperti itu. Namun apabila kami tidak dilibatkan dalam pembahasan-pembahasan ini tentunya nanti apabila terjadi di lapangan ini akan menjadi hal yang kurang baik antara hubungan dengan Kemenkes dengan Kementerian Pertahanan maupun TNI.
Kami sebagai operator, sementara Kementerian Kesehatan ini sebagai regulator, paling tidak kami di ajak bicara dalam rangka menggunakan fasilitas kesehatan yang ada di Kemenhan maupun di TNI. Ini berkaitan dengan kerjasama kita dengan BPJS maupun dengan asuransi-asuransi yang lainnya.
Saya rasa demikian perkembangan yang dapat kami laporkan sampai dengan saat ini setelah sidang kita yang terakhir. Selanjutnya kami mohon mungkin nanti bisa didiskusikan, dan mungkin masukan-masukan yang konstruktif, supaya ada perkembangan yang lebih baik dalam rangka pelayanan kesehatan untuk prajurit TNI, keluarga, dan para purnawirawan.
Demikian. Lebih kurangnya kami mohon maaf. Billaahitaufiq Wal Hidaayah.
Wassalaamu'alaikum Warohmatulloohi Wabarokaatuh. Om Santi-santi Om.
KETUA RAPAT (ASRIL HAMZAH TANJUNG, S.IP.): Wa’alaikumsalaam.
Alhamdulillaah, terima kasih Pak Bambang Hartawan/Dirjen Kuathan. Kita tidak mengharapkan jangan sampai nanti rumah sakit TNI di luar 60 persen sekarang rumah sakit itu melayani umum/masyarakat. Saya berkali-kali meninjau ke seluruh rumah sakit TNI yang ada di
8
Indonesia, 60 masyarakat, 40 persen prajurit. Kalau sampai nanti ini kesulitan, masyarakat tidak di terima, alangkah buruknya nanti nama TNI. Karena TNI anaknya rakyat, rakyatnya datang tidak bisa di obat, kita tidak mengharapkan seperti itu. Saya harap Pak Bambang tolong sampaikan ke Menkes dan Panglima TNI, melayani masyarakat umum rumah sakit TNI tetap. Permintaan dari kami, ini teman-teman dari Komisi I juga demikian. Jangan sampai nanti pupus, tidak ada. Malah di rumah sakit tentara yang ada di Kalimantan Timur itu menjadi rujukan rumah sakit pemda Provinsi Kalimantan Timur untuk berobat ke rumah sakit TNI yang ada di Kalimantan Timur itu. Saya lupa, di Samarinda atau di Balikpapan, begitu dominannya rumah sakit tentara membantu TNI. Kita berharap, Pak Bambang, mudah-mudahan Menkes kita sudah mengetahui hal ini, mungkin bisa memberikan solusi yang lebih baik. Kita harapkanlah.
Jadi, Ibu Kalsum, tidak usah menunggu Dokter Muhammad Subuh itu. Muhammad Subuh mungkin datangnya subuh itu. Namanya Dokter Muhammad Subuh, saya khawatir ini. Ibu Komaria saja dulu paparan. Nanti kalau memang Beliau datang Insya Alloh kita bisa tambah kurangnya dari Beliau.
Silakan, Ibu Komaria. Terima kasih.
KAPUS PPJK KEMENTERIAN KESEHATAN RI (dr. KOLSUM KOMARYANI, MPPM.): Terima kasih Pak Pimpinan.
Yang kami hormati, Bapak Pimpinan dan para Anggota Komisi I DPR RI;
Yang kami hormati, Bapak/Ibu dari Kementerian Pertahanan dan juga Mabes TNI; Yang kami hormati, Bapak/Ibu dari Direksi BPJS Kesehatan dan Direksi PT ASABRI.
Pertama-tama kami menyampaikan permohonan maaf karena Pak Subuh/Staf Ahli Bidang Ekonomi Kesehatan dari Kementerian Kesehatan saat ini memang masih berlangsung rapat antara Menkes dengan jajaran eselon satu, jadi untuk itu Beliau masih berusaha juga untuk hadir kesini.
Namun demikian, kami dari pusat pembiayaan dan jaminan kesehatan kami juga sudah mengikuti proses-proses di Komisi I ini. Saya ingat sudah ada 4 (empat) kali rapat yang sebelumnya memang dihadiri oleh Sekretariat Jenderal yang pertama, lalu ada Direktur Jenderal Pelayanan Kesehatan, dan berikutnya ada Staf Ahli Menteri Bidang Ekonomi Kesehatan, dan terakhir dengan Staf Ahli Menteri Bidang Hukum dan Kesehatan.
Tentang topik bahasan yang sudah disampaikan tadi dari Bapak Dirjen Kuathan dari Kementerian Pertahanan, tentunya ini kita melihat pada RDP-RDP sebelumnya yang menjadi fokus adalah mengenai sistem pelayanan rujukan di TNI. Dan pada rapat-rapat sebelumnya memang sudah disepakati rujukan online dari program JKN yang dikelola oleh BPJS Kesehatan ini sudah di akomodir khusus untuk anggota TNI dan keluarganya, sehingga kelompok peserta JKN dari TNI ini sudah bisa berobat di luar sistem yang ada.
Dan yang menjadi persoalan yang berikutnya adalah tentang regulasi yang memayungi sistem rujukan pada TNI tersebut. Perlu diketahui bahwa Kementerian Kesehatan ini melaksanakan tugas untuk menyelesaikan peraturan-peraturan Menteri Kesehatan sebagai amanat dari Perpres Nomor 82 Tahun 2018 tentang Jaminan Kesehatan.
Dan memang cukup banyak Permenkes yang di proses, baik itu permenkes yang benar-benar baru, lalu permenkes yang merupakan perbaikan-perbaikan dari permenkes yang ada. Jadi prosesnya pun memang ada urutan-urutannya, karena ada yang harus segera terbit, yaitu tentang pelayanan kegawatdaruratan dan mekanisme urun biaya. Ini dibatasi harus terbit 3 (tiga) bulan setelah perpresnya terbit. Perpresnya sendiri terbit bulan September 2018.
Lalu yang lainnya memang sekarang masih fokus untuk penyusunan Permenkes tentang Pedoman Pelaksanaan Jaminan Kesehatan, dimana memang kami sudah bekerjasama/sudah melibatkan semua stake holders, termasuk TNI. Tadi sudah disampaikan oleh Pak Dirjen, kita sudah beberapakali rapat. Dan inipun belum tuntas, karena sangat luasnya pengaturan dalam pedoman pelaksanaan JKN.
Sementara untuk sistem rujukan ini memang akan diarahkan/diatur dalam perubahan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 001 Tahun 2012, yaitu tentang sistem rujukan. Ini memang
9
di proses di Kemenkes, meskipun masih tahap awal. Yang menjadi leading-nya adalah dari Dirjen Pelayanan Kesehatan di Kementerian Kesehatan. Kebetulan bukan di kesekjenan. Kami di bawah kesekjenan.
Jadi kurang lebih memang belum semua di proses. Dan tentunya juga kami belum mengundang pihak TNI, karena ini memang belum. Terutama untuk yang tarif yang tadi disampaikan Permenkes 76, Permenkes 52, dan sebagainya. Ini memang kami pun sedikit menunda, karena kebijakan untuk meningkatkan iuran atau premi ini masih belum di ambil oleh Pemerintah.
Yang terakhir barangkali tentang pemutusan kerjasama dengan rumah sakit. Sebetulnya ini sudah clear, sudah selesai. Dimana minggu lalu juga sudah ada RDP dengan mitra kerja Kementerian Kesehatan, Komisi IX, juga dengan BPJS Kesehatan. Sebenarnya ini adalah penerapan dari Undang-Undang Tentang Kesehatan juga dan Undang-Undang Rumah Sakit bahwa rumah sakit dalam pelaksanaannya harus menempuh akreditasi. Dan ini memang sudah diberi kesempatan 5 (lima) tahun, tapi ternyata ada beberapa hal dari rumah sakit yang memang belum siap. Jadi intinya memang akreditasi ini adalah melindungi pertama pasien agar pasien ini mendapatkan pelayanan bermutu. Lalu juga tenaga kesehatannya dan rumah sakitnya dalam rangka pemenuhan standar dan pemberian pelayanan bermutu.
Dengan adanya surat rekomendasi dari Menteri Kesehatan memang sudah selesai. Rumah sakit yang tadinya akan dihentikan kerjasamanya dengan BPJS kembali sudah berjalan, dan ini artinya tidak mengganggu pelayanan lagi.
Mungkin itu yang bisa saya sampaikan, terima kasih.
KETUA RAPAT (ASRIL HAMZAH TANJUNG, S.IP.):
Terima kasih Ibu Kalsum Komariyani mewakili Menkes, karena Pak Dokter Muhammad Subuh belum datang. Jadi memang demikian, dari Kemhan juga, Pak Dirjen Kuathan, memang sampai sekarang belum terlihat adanya payung hukum yang jelas ini, masih dalam proses kalau kita lihat dari Ibu.
Ini memang perlu kesabaran. Karena tentara maunya cepat. Kenapa cepat, inikan sudah pengalaman, begitu terlambat kita habis sama musuh. Jadi mudah-mudahan ini bisa agak cepat nanti.
Jadi itu gunanya Permen kan itu. Di Keppres, di Perpres, tidak bisa nampung, Permen. Permen mau bikin 1.000 (seribu) juga tidak apa-apa. Yang penting bisa dijabarkan Keppres atau Perpres yang ada. Saya rasa Ibu Menteri Kesehatan paham sekali ini.
Mudah-mudahan, Pak Bambang, kita mengharapkan ini. Dan lebih kita harapkan lagi apabila antara Kemenhan/TNI ini bisa juga tetap langsung berkoordinasi dengan Kemenkes, BPJS. Bila perlu juga ASABRI. ASABRI itu juga diam-diam banyak duitnya itu. Saya belum cek itu ya. Yang banyak duit itu diam-diam, tidak tahu kemana uang itu ya. Tapi mudah-mudahan nanti bisa di bantu oleh ASABRI kita.
Kita minta mungkin tambahan dari Kapuskes Mabes TNI yang diwakili oleh Pak Kapuskes Angkatan Darat, Pak Bambang Dwi. Kalau ada tambahan silakan Pak.
KEPALA PUSAT KESEHATAN ANGKATAN DARAT (MAYJEN TNI dr. BAMBANG DWI HS, SP.B.,FLNACS.,M.SI.):
Terima kasih.
Jadi dari kami jajaran Rumah Sakit TNI prinsipnya bahwa setelah RDP yang terakhir begitu diputuskan bahwa rujukan berjenjang untuk sementara ditangguhkan. Pelayanan bisa berjalan Pak, cuma sampai sekarang memang yang kami pertanyakan adalah payung hukumnya saja.
Terima kasih.
10 KETUA RAPAT (ASRIL HAMZAH TANJUNG, S.IP.):
Jadi oke Pak Anu ya, bantu Kemhan bagaimana ini. Jangan Pak Bambang ini biar sendiri dia luntang-lantung. Pak Mizar teman saya itu tidak bisa ikuti terus ini. Jadi saya rasa dari Kapuskes siap ya, AD, AL, AU. Ini kita bersama, prajurit kita kok ini.
Baik, kita lanjutkan ya. Sekarang kita minta Dirut PT ASABRI. Ada tidak PT ASABRI? Ngomong sedikit Pak, nanti baru kita lanjut sama BPJS kalau masih ada.
Silakan.
DIREKTUR UTAMA PT. ASABRI (PERSERO) (SONNY WIDJAJA.): Terima kasih.
Assalaamu'alaikum Warohmatulloohi Wabarokaatuh. Salam sejahtera bagi kita semua.
Yang terhormat, Pimpinan Rapat Komisi I DPR RI; dan Bapak/Ibu yang terhormat seluruh Anggota Komisi I DPR RI.
Dari ASABRI belum ada perkembangan. Justru kami itu mengharapkan agenda yang dua ini sudah bisa di bahas sehingga kami berikan masukan. Kami kan operator juga terhadap pelayanan.
Kami tidak menyelenggarakan pelayanan kesehatan seperti yang saya paparkan semula. Kami menyelenggarakan perawatan kesehatan pada kecelakaan kerja saja. Oleh karena itu sejak 5 Desember, sudah satu bulan lebih, tidak ada progress-nya.
Saran saya kepada Dirjen Kuathan untuk lebih menyongsong/mengajak rapat koordinasi dengan Kementerian Kesehatan, duduk bareng begini. Langsung dijadualkan saja kapan kita bisa duduk bareng bisa meluruskan. Kalau tidak begitu tidak cepat Pak. Saling tunggu-menunggu sampai tanggal 32 tidak selesai ini. Sehingga harus saling menyambut satu sama lainnya seperti apa. Kalau sibuk semuanya juga sibuk, banyak kegiatan. Tapi inikan seperti Bapak Pimpinan Rapat tadi, tidak bisa di tunda. Kalau kita terlambat maka kita akan tertembak dulu, mati kita sudah. Oleh karena itu harus ada upaya bersama untuk duduk bareng di forum terpisah antara Kementerian Pertahanan dengan Kesehatan untuk mulai menyusun draft payung hukum, termasuk task force yang kita sepakati pada 5 Desember yang lalu.
Itu saran kami Pak. Secara umum ASABRI sebagai operator siap menjalankan, tetapi siap diskusi juga.
Terima kasih Pak. Billaahitaufiq Wal Hidaayah.
Wassalaamu'alaikum Warohmatulloohi Wabarokaatuh. KETUA RAPAT (ASRIL HAMZAH TANJUNG, S.IP.):
Terima kasih Pak Sonny.
Ini ada harapan kita. Ibu, kalau kurang-kurang, Kemenkes nanti koordinasi sama PT ASABRI. Tapi bukan untuk itu sebetulnya, ada lagi ya. Tidak apa-apa, kita sudah mendengar mereka siap membantu di bidang apa yang bisa, dan menyarankan supaya jemput bola lah, Mas Bambang. Jangan tunggu-tunggu, serang terus itu Kemenkes itu bagaimana untuk bisa dapat cepat kepastiannya dan payung hukumnya. Kita tahu Kemenkes juga sangat sibuk. Apalagi akhir-akhir ini terjadi bencana alam yang sangat banyak itu, saya pasti tahu pontang-panting Kemenkes itu. Tapi kalau Ibu lihat di TV yang kelihatan baju loreng sama polisi. Tentaranya dulu turun. Bayangkan itu, tentara turun dulu. Ibu belum datang dia sudah kesana. Prajurit kita seperti itu. Jadi sangat disayangkan kalau ini tidak dapat jaminan kesehatan. Kasihan Presiden yang bikin JKN-JKN tapi malah bermasalah begini. Kita lah dengan Permen itu mudah-mudahan ini bisa menjabarkan program dari Keppres/Perpres ini dengan baik.
11
Silakan sekarang dari BPJS, Ibu Maya atau Pak Bayu, monggo. Pak Dokter Bayu Wahyudi, silakan Pak.
DIREKTUR KEPATUHAN, HUKUM, DAN HUBUNGAN ANTAR LEMBAGA BPJS (DR. dr. H. BAYU WAHYUDI. SPOG. MPHM. MHKES. MM.):
Ijin, Pimpinan.
Yang kami hormati, Pimpinan beserta seluruh Anggota Komisi I DPR RI; Bapak/Ibu mitra Komisi I yang hadir pada kesempatan ini.
Assalaamu'alaikum Warohmatulloohi Wabarokaatuh.
Kami menyampaikan perkembangan, dan juga tadi disinggung oleh Pimpinan tentang permasalahan yang dihadapi dalam dua minggu terakhir ini tentang masalah Jaminan Kesehatan Nasional.
Kalau kita melihat dari kesimpulan rapat yang lalu dimana telah disepakati bahwa di ambil diskresi tentang sistem rujukan, dan sifatnya diskresi tentang membuka sistem rujukan pada fasilitas kesehatan TNI/Polri.
Tentu tadi saran dari Pimpinan dan seluruh Anggota yang men-support, tentu harus di buat satu aturan yang memang legal dan memayungi kita semua, sehingga di kemudian hari tidak menemui masalah hukum. Dan di beri kewenangan dan tugas, dalam hal ini hasil kesimpulan juga diberikan kewenangan kepada Kementerian Kesehatan untuk mengatur hal tersebut.
Dan tadi sudah disampaikan akan melakukan revisi tentang Permenkes 001 Tahun 2012 tentang Sistem Rujukan Layanan Perseorangan. Dalam hal ini tentu BPJS Kesehatan sebagai penyelenggara Jaminan Kesehatan Nasional, dalam hal ini penyelenggara, yang ingin agar pesertanya mendapatkan kpastian akses jaminan kesehatan bila dibutuhkan, sehingga dirasakan kehadiran negara sewaktu peserta membutuhkan. Baik itu peserta TNI maupun Polri ataupun masyarakat umum.
Sesuai dengan fungsi, tugas, wewenang, dan hak yang ada pada BPJS Kesehatan, sesuai dengan Undang-Undang BPJS Nomor 24 Tahun 2011, dan terbaru adanya Perpres 82 Tahun 2018, dimana disebutkan bahwa wewenang BPJS, dalam hal ini ada Pasal 11 yang mengatur sebagai berikut:
Pasal 11 ayat (d) ‘membuat kesepakatan fasilitas kesehatan mengenai besar pembayaran fasilitas kesehatan yang mampu mengacu pada standar tarif yang ditetapkan oleh pemerintah; e. membuat atau menghentikan kontrak kerja dengan fasilitas kesehatan’.
Tadi disinggung bahwa adanya penghentian fasilitas kesehatan. Hal ini adalah mengacu pada undang-undang yang ada, yaitu baik Undang-Undang Nomor 44 tentang Rumah Sakit, syarat-syarat rumah sakit, operasional rumah sakit, dan juga beberapa hal yang telah ditetapkan. Dan perlu kami sampaikan bahwa, sesuai ayat yang ada di Perpres tersebut juga mengatur tentang kewe3nangan dari BPJS Kesehatan itu sendiri, sehingga pada Pasal 82, Perpres 82 Tahun 2018 pada Pasal 82, disebutkan ‘dalam rangka kendali mutu dan kendali biaya penyelenggaraan program jaminan kesehatan menteri menetapkan kebijakan penyelenggaraan: a. penilaian teknologi kesehatan; b. pertimbangan klinis; c. perhitungan standar tarif; d. monitoring dan evaluasi penyelenggaraan pelayanan jaminan kesehatan’.
Kemudian, bila melihat Pasal 86 ayat (1) ‘dalam rangka kendali mutu dan kendali biaya penyelenggaraan program jaminan kesehatan BPJS Kesehatan mengembangkan teknis operasional, sistem pelayanan kesehatan, sistem kendali mutu pelayanan, dan sistem pembayaran pelayanan kesehatan untuk meningkatkan efisiensi dan efektifitas dalam meningkatkan program jaminan kesehatan’.
Jadi dalam hal ini tentu diperlukan regulasi-regulasi untuk memayungi pelaksanaan sistem jaminan kesehatan ini agar lebih optimal, sehingga diharapkan mempunyai sesuatu yang jelas, dalam hal ini tidak perlu di ambil diskresi sementara bila ada hal-hal yang diperlukan. Seperti diskresi yang beberapa waktu yang lalu sistem rujukan layanan perorangan. Dan ini tentu kami mengharapkan adanya kepastian hukum sehingga regulasi-regulasi yang ada itu bisa berjalan.
12
Termasuk juga kemarin di ambil suatu diskresi dari Menteri Kesehatan tentang sistem akreditasi rumah sakit yang ada Permenkes nya, kemudian dilakukank surat edaran. Dalam hal ini tentu secara payung hukum memang diperlukan hal yang kira-kira sesuai. Karena sesuai dengan regulasi hukum yang ada, hukum positif, bahwa undang-undang ada istilahnya superior derogat inferior, jadi yang lebih tinggi itu akan menganulir yang lebih rendah. Tetapi yang lebih rendah tidak bisa menganulir yang lebih tinggi. Jadi Undang-Undang Dasar, undang-undang, peraturan pemerintah, kemudian perpres, peraturan menteri, dan sebagainya.
Dan ini ada Peraturan Menteri Kesehatan tentang akreditasi. Tetapi mungkin karena situasi dinamis di masyarakat sehingga heboh, seolah-olah pemutusan hubungan itu karena BPJS, padahal adalah akreditasi yang belum terakreditasi rumah sakit yang nanti secara teknis akan dijelaskan oleh Ibu Maya.
Saya rasa ini saja yang perlu kami sampaikan, terima kasih. KETUA RAPAT (ASRIL HAMZAH TANJUNG, S.IP.):
Terima kasih.
Tolong dilanjutkan nanti dari Pak Wahyu tadi, Ibu Maya ya. Tapi yang kerjasama dengan rumah sakit sudah balik lagi? Alhamdulillaah. Kenapa saya tanya Pak, anak saya punya rumah sakit. Ini kalau tidak di bayar terus ya kacau juga.
Silakan Ibu Maya Amiarny Rusady.
DIREKTUR JAMINAN PELAYANAN KESEHATAN BPJS (dr. MAYA A. RUSADY, M.KES, AAK.):
Bismillaahirrohmaanirrohiim.
Assalaamu'alaikum Warohmatulloohi Wabarokaatuh.
Yang kami hormati, Pimpinan Rapat Komisi I DPR RI dan seluruh Anggota, serta seluruh Bapak/Ibu yang hadir.
Pertama ijinkan kami menambahkan informasi yang disampaikan oleh Pak Bayu. Pertama terkait dengan tindak lanjut RDP. Bapak, ijinkan kami laporkan bahwa sudah ditindaklanjut. Sesuai tadi juga disampaikan dari Bapak dari TNI Puskes bahwa pelayanan rujukan atau sistem rujukan berjenjang bagi lingkungan Kemhan dan TNI sudah diberlakukan perlakuan khusus. Tentu kami sangat menunggu nanti bagaimana payung hukum ini bisa segera kita selesaikan bersama demi keamanan kita bersama.
Kemudian tindak lanjut juga dari rapat sebelumnya. Bapak, ijin kami laporkan bahwa kami sudah mengusulkan nama-nama anggota kami yang bisa menjadi tim task force untuk membantu dalam pembahasan kira-kira pembentukan payung hukum seperti apa. Kami sudah mengirimkan 9 (sembilan) nama dan siap untuk mendukung.
Kemudian juga kami dalam rapat-rapat sebelumnya mengusulkan. Mungkin apa yang kami usulkan ini bisa menjadi bahan untuk pembahasan regulasi/payung hukum ke depan tentang konsep sistem rujukan untuk lingkungan Kemhan dan TNI. Jadi konsep diskresi yang saat ini diberlakukan, itu yang kami usulkan untuk ada payung hukumnya, yaitu bahwa peraturan yang akan di buat ini nanti berlaku untuk seluruh prajurit TNI, PNS Kemhan dan keluarganya, serta purnawirawan yang saat ini masih belum ada payung hukumnya.
Kemudian bahwa, peserta apabila terdaftar di faskes milik TNI, maka kalau dia anggota TNI, prajurit, PNS Kemhan dan keluarga, serta purnawirawan ini bisa langsung di rujuk ke faskes tingkat dua milik TNI atau Kemhan. Kemudian kalau dia terdaftar di faskes non TNI maka tentu mengikuti rujukan berjenjang yang berlaku untuk seluruh peserta JKN. Ini konsep-konsep yang kami usulkan untuk dapat di bahas sebagai materi untuk payung hukum regulasi.
Kemudian menanggapi yang Bapak Pimpinan sampaikan terhadap pemutusan kerjasama rumah sakit. Pertama kami sampaikan, ingin meluruskan berita bahwa tidak ada rumah sakit yang memutuskan kerjasama dengan BPJS Kesehatan karena keterlambatan pembayaran BPJS
13
Kesehatan. Ini yang pertama perlu kami luruskan. Dan kedua bahwa, tidak ada kaitannya dengan defisit JKN yang selama ini di bahas di media. Itu yang pertama.
Kemudian kami ingin menyampaikan bahwa, dalam melakukan kerjasama dengan fasilitas kesehatan tentu BPJS menjalankan amanah yang diembankan kepada BPJS, yaitu bahwa BPJS mempunyai kewenangan untuk melakukan/ membuat kontrak atau memutuskakn kontrak dengan fasilitas kesehatan sesuai ketentuan peraturan perundangan yang ada. Ini di atur dalam Undang-Undang 24 Pasal 11 huruf e, itu jelas sekali.
Kemudian tentu untuk melakukan ini BPJS tidak sendiri. Kami dalam melakukan kerjasama dengan fasilitas kesehatan, kami berkoordinasi dengan dinas kesehatan, asosiasi fasilitas kesehatan, yang kemudian akan memberikan rekomendasi apakah fasilitas kesehatan tersebut bisa di terima untuk kerjasama atau kemudian tidak di terima untuk kerjasama. Demikian juga apabila ada fasilitas kesehatan yang sudah bekerjasama ternyata tidak mengikuti aturan-aturan yang ada, atau tidak memenuhi persyaratan-persyaratan yang ada, maka tim tadi (dinas kesehatan, asosiasi fasilitas kesehatan) bisa memberikan rekomendasi ini diputuskan atau diperpanjang kerjasamanya. Jadi tidak dilakukan sendiri semata oleh BPJS Kesehatan.
Kemudian jelas sekali terkait dengan kontrak kerjasama ini di PP 87 Tahun 2018, khususnya Pasal 67, menyatakan bahwa ‘semua faskes milik pemerintah, baik pusat maupun daerah, wajib kerjasama untuk melayani peserta BPJS Kesehatan’. Yang Pemerintah ya.
Kemudian untuk fasilitas kesehatan swasta ini yang memenuhi persyaratan dapat bekerjasama. Jadi kalimatnya ‘dapat bekerjasama’, bukan ‘wajib’. Kalau yang sebelumnya untuk fasilitas kesehatan pemerintah yang memenuhi persyaratan ‘wajib bekerjasama’. Tentu peraturan memenuhi persyaratan atau tidaknya ini ditentukan oleh peraturan menteri, dalam hal ini Menteri Kesehatan. Itu tertuang dalam peraturan.
Dan dalam menjalankan kerjasama dengan fasilitas kesehatan untuk memastikan mutu dan layanan diberikan oleh fasilitas kesehatan adalah baik, kemudian memenuhi standar-standar pelayanan, maka kami mengikuti peraturan menteri yang menyatakan persyaratan tersebut. Antara lain, Permenkes 71 Tahun 2013, disitu sudah menyatakan persyaratan-persyaratan yang harus dipenuhi oleh sebuah fasilitas kesehatan. Antara lain, harus ada ijin operasional, harus ada surat ijin praktek dokternya. Dan salah satunya adalah akreditasi/sertifikat akreditasi.
Kemudian dilanjutkan perbaikan di Permenkes 99 Tahun 2015 yang menyatakan menindaklanjuti Permenkes 71/2013 yang di revisi dengan Permenkes 99/2015, ditambahkan jangka waktunya bahwa semua persyaratan tersebut harus dipenuhi paling lambat 5 (lima) tahun. Jadi sebetulnya persyaratan rumah sakit untuk bekerjasama dengan BPJS Kesehatan sudah digaungkan sejak tahun 2013. Dan pada tahun 2015 dibatasi 5 (lima) tahun, maka berakhir tentu di 2018. Maka pada 31 Desember 2018 fasilitas kesehatan yang tidak mempunyai persyaratan, salah satu yang tidak memiliki akreditasi itu tidak bisa melanjutkan. Jadi bukan BPJS juga tidak mau kerjasama atau rumah sakit memutuskan, tapi karena persyaratan tersebut.
Untuk ini kami kemudian sudah melakukan himbauan kepada semua fasilitas kesehatan yang ada di wilayah yang bekerjasama sejak bulan Agustus. Kami sudah menghimbau apakah sudah memenuhi semua persyaratan sesuai Permenkes 99/2015.
Kemudian kami melaporkan kondisi setiap akhir tahun, 3 (tiga) bulan sebelum akhir kerjasama berakhir, kami/BPJS melakukan recredentialling. Jadi kalau di awal kerjasama kami melakukan credentialing atau seleksi fasilitas kesehatan, maka setiap akhir tahun kerjasama, sebelum berakhir kerjasama, kami melakukan recredentialling. Dan disitulah kami mendapatkan gambaran bahwa belum semua rumah sakit memiliki persyaratan sesuai yang ditetapkan. Dan ini kami laporkan kepada Kementerian Kesehatan pada bulan Nopember. Kemudian kami lanjutkan juga laporan pada bulan Desember.
Kenapa kami laporkan sebulan kemudian, karena memang angka bergerak terus. Ada rumah sakit-rumah sakit baru yang bertambah, sebanyak 33 rumah sakit di bulan Desember. Dan ternyata rumah sakit ini belum memiliki akreditasi. Tentu kondisi ini wajib kami laporkan kepada Kementerian Kesehatan yang membuat regulasi.
Atas apa yang kami sampaikan kemudian Pak Dirjen Kementerian Kesehatan juga membuat surat edaran menghimbau seluruh rumah sakit agar mengikuti semua persyaratan, khususnya akreditasi. Dan di beri waktu apabila yang belum terakreditasi agar memenuhi persyaratan akreditasi dalam waktu 6 (enam) bulan, yaitu 1 Januari 2019 sampai 30 Juni 2019.
14
Artinya diberi toleransi lagi waktu. Atas dasar ini kemudian ada surat menteri pada 31 Desember menyatakan kepada BPJS, rumah sakit yang walaupun belum memenuhi credentialling, kemudian belum mempunyai sertifikat akreditasi, tapi bisa di kontrak kembali. Itu direkomendasikan, maka kami kemudian kontrak.
Kemudian ada tambahan lagi surat menteri bulan Januari tanggal 4 menyatakan ada tambahan rumah sakit belum terakreditasi tapi kemudian bisa di kontrak. Maka setelah kami tindak lanjut bisa dikatakan seluruh rumah sakit yang bekerjasama dengan BPJS Kesehatan yang belum terakreditasi sudah kami tindak lanjut perpanjang kontraknya. Jadi tidak ada lagi isu bahwa tidak ada rumah sakit yang tidak bekerjasama karena masalah akreditasi.
Itu yang dapat kami laporkan, Bapak. Tentu ada rumah sakit yang tidak dapat kami perpanjang, karena yang sangat prinsip yaitu ijin operasional rumah sakit sudah tidak ada, sudah habis, dan belum di urus. Tentu untuk hal-hal ini kami tidak dapat melanjutkan kerjasama. Namun kami tentu memikirkan akses pelayanan bagi peserta. Kami tetap melihat/berkoordinasi dengan dinas kesehatan setempat, dengan asosiasi fasilitas kesehatan, dimana kira-kira pelayanan bisa dialihkan kepada yang terdekat.
Mungkin itu yang dapat kami laporkan, Bapak, terima kasih. Assalaamu'alaikum Warohmatulloohi Wabarokaatuh.
KETUA RAPAT (ASRIL HAMZAH TANJUNG, S.IP.): Wa’alaikumsalaam.
Jadi terima kasih, Pak Bayu, Ibu Maya.
Di luar itu orang tidak tahu ini rumah sakit pemerintah, rumah sakit swasta, ini wajib atau tidak wajib untuk BPJS tidak tahu. Mereka semuanya ‘harusnya bisa’, ini yang juga kita waspadai. Hampir semua, dia tidak tahu itu rumah sakitnya sudah ada belum kerjasama. Yang penting ada BPJS dia ikut.
Malah ada lagi, Pemda Bekasi, bikin kartu sehat sendiri lagi kalau tidak salah. Bekasi mana saya tidak tahu itu bikin itu. Jadi bingung ini bagaimana ini. Apa memang ini pembayaran setor ke rumah sakit itu lewat pemda? Untuk BPJS nya lewat pemda tidak, Pak Bayu, tidak? Apa lewat mana itu? Saya tidak tahu itu lewat mana itu uang di terima itu.
DIREKTUR KEPATUHAN, HUKUM, DAN HUBUNGAN ANTAR LEMBAGA BPJS (DR. dr. H. BAYU WAHYUDI. SPOG. MPHM. MHKES. MM.):
Ijin Pak.
Ada beberapa jenis peserta JKN. Pertama adalah PBI (Penerima Bantuan Iuran) yang ditetapkan oleh pemerintah pusat, dalam hal ini Kementerian Sosial, yang anggarannya dimasukkan dalam anggaran. KPA nya kebetulan ada disini, Ibu Kalsum Komariyani. Itu dibiayai oleh pemerintah pusat.
Kemudian ada yang dibiayai oleh APBD. Dalam hal ini tentu yang APBD-APBD ini yang mungkin yang menjadi permasalahan.
Kemudian peserta yang sifatnya non PBI, atau Peserta Penerima Upah. Seperti TNI/Polri itu dibiayai oleh Pemerintah. Tapi ada yang mandiri atau yang swasta, ini yang langsung ke BPJS. KETUA RAPAT (ASRIL HAMZAH TANJUNG, S.IP.):
Jadi memang ada yang lewat pemda ya pembayarannya? Ini saya belum tahu.
Baik, Bapak/Ibu, terima kasih para mitra. Ini, silakan ini teman-teman saya dari Komisi I, karena masih ada waktu untuk kita mungkin pendalaman sedikit. Nanti kurang-kurang kita tambah lagi.
Pertama, silakan Pak Doktor Sukamta. Nanti berikutnya Pak Budi Youyastri, kemudian nanti yang ketiga Pak Hidayat Nurwahid.
15 F-PKS (H. SUKAMTA, Ph.D.):
Terima kasih Pimpinan.
Anggota dan tim dari Pemerintah, Dirjen Kuathan, Kepala Pusat Kesehatan TNI, dari Kementerian Kesehatan, PT ASABRI, BPJS Kesehatan, dan semua staf yang terhormat semuanya.
Saya kira hari-hari ini BPJS baru menjadi lakon di republik ini. Dan kita berdo’a mudah-mudahan segera selesai persoalan yang ditangani. Dan tanggung jawab yang saya kira sangat mulia walaupun berat, karena ini mengurusi kesehatan seluruh, atau tepatnya jaminan kesehatan bagi seluruh rakyat Indonesia.
Saya ingin fokus pada TNI, tadi disampaikan dari Kemenkes payung hukum soal pelayanan khusus bagi TNI dan PNS di lingkungan TNI dan keluarganya. Ini sekarang ada di Kemenkes ya. Dan tadi dari semua pihak yang terkait ini menyampaikan bahwa tidak bisa melangkah secara teknis sebelum ada payung hukumnya. Dan saya kira temuan kita di lapangan juga sama, teman-teman kita di mitra Komisi I di rumah sakit TNI mereka belum bisa melaksanakan pelayanan khusus kepada anggota TNI walaupun di rumah sakitnya sendiri sebelum ada pedoman kerja yang teknis, dan belum ada payung hukum yang memayungi semuanya ini.
Saya kira kalau kita lihat sejarah, mungkin mengulang sedikit, karena TNI ini tugas khususnya adalah untuk menjadi prajurit yang siap perang setiap saat, maka TNI merasa perlu membuat rumah sakit sendiri, supaya seluruh ketugasan itu tidak terganggu oleh adanya kondisi TNI/prajurit TNI yang tidak siap tempur. Walaupun di masa damai, TNI harus menyiapkan diri terus untuk tempur. Latihan tiap hari, ada di barak, yang sakit juga harus segera diobati. Itu sebabnya TNI perlu membuat rumah sakit sendiri.
Dan dalam perkembangannya setelah ada sistem Jaminan Kesehatan Nasional, teman-teman TNI ini dengan sangat legowo menuruti undang-undang memperlebar pelayanannya, tidak hanya untuk TNI tapi juga untuk seluruh rakyat Indonesia sebagaimana ketentuan undang-undang. Saya kira ini harus kita hormati apa yang diputuskan oleh TNI sebagai institusi yang terus tunduk pada undang-undang. Walaupun sebetulnya kita tahu ini ‘merugikan’ bagi pelayanan prajurit TNI itu sendiri. Disinilah saya kira pentingnya kita agak simpati terhadap teman-teman TNI ini.
Untung sekali kita ini sekarang kondisinya damai. Coba kalau kita ini agak berperang sedikit dengan negara lain, ada trouble, ada problem keamanan, terus TNI kita ini ada hambatan-hambatan yang kita ciptakan sendiri. Prajuritnya saya yakin mayoritas sehat. Tapi kalau ada yang tidak sehat, atau terkena masalah-masalah di peperangan, kemudian harus pakai kondisi-kondisi aturan-aturan prosedur normal, nanti prajurit pulang dari medan perang harus di rujuk dulu ke puskesmas, harus ke tingkat berikutnya-tingkat berikutnya, saya khawatir republik ini bisa hancur gara-gara sistem yang kita buat sendiri yang tidak efektif, tidak efisien. Itu dari sisi efisiensi.
Yang kedua juga saya kira kebutuhan TNI ini menjaga rahasia akan kualitas sumber daya manusianya. Salah satunya dari sisi kesehatan prajuritnya. Saya tidak bisa membayangkan kalau prajurit TNI ini medical record-nya itu ketahuan oleh musuh. Saya kira intelijen musuh sangat mudah sekarang dengan sistem online ini mencari medical record dimana-mana. Sekarang ini yang ter-record kan baru alat-alat perangnya. Kapal perangnya yang punya sekian puluh, yang bisa layak operasional sekian. Kapal selamnya bisa nyelam, tapi belum tentu bisa balik lagi yang ada kan.
Kalau begini ini gampang. Tapi kalau sampai prajuritnya juga ketahuan, TNI punya 400 ribu prajurit, yang sakit ginjal sekian puluh ribu, yang sakit gula sekian puluh ribu, ini lawan langsung ngincer, “Wah TNI yang dulu ditakuti karena SDM nya, bukan peralatannya, tiba-tiba ini sakit semua TNI nya, tenang saja, ayo kita kilik-kilik saja, tidak usah di kasih perang yang serius begitu. Yang kena-kena gula sudah tidak bisa lari, yang kena ginjal tidak bisa bertahan di hutan”. Mau berapa lama negara ini akan bertahan kalau TNI nya sudah tidak punya rahasia SDM nya. Ini ada di dalam sistem kesehatannya.
Saya ini terus terang agak prihatin dan terkejut sekali Kementerian Kesehatan ini tidak melihat ini sebagai prioritas. Inikan kondisinya menurut saya memang tidak darurat perang. Tapi kalau itu terjadi, jangan sampai terlambat. Saya tidak tahu, mungkin sesibuk-sibuknya birokrasi di
16
Kemenkes, kan ada bagian hukum yang mengurusi. Berapa banyak peraturan yang diurusi oleh bagian hukum sehingga memprioritaskan rancangan permenkes saja itu sudah sekian minggu tidak selesai. Dan saya tidak mendapatkan jawaban tadi kapan akan selesai. Ini hanya nunggu antrian. Jadi yang antri bukan hanya rakyat di BPJS saja rupanya, peraturan di Kementerian Kesehatan juga nunggu antrian yang terlalu lama. Menurut saya yang begini ini agak susah kalau dibiarkan.
Saya mengharapkan, kalau dari kementerian ini memang antri, harus prosedurnya begitu, tidak ada sense of daruratnya, sense of emergency-nya tidak di anggap ini business as usual normal begini, tolong kami diberitahu kapan antrinya. Setahu saya dokter saja bisa kasih jadual antrian kita akan selesai kapan pasien akan di periksa janjiannya. Jamnya juga sampai ketahuan kan, karena dokter ini padat banget. Dan saya kira dokter biasa sekali punya jadual yang super-super padat, sehingga untuk urusan antrian peraturan/membahas peraturan ini harapan kami bisa lah ditetapkah kapan ini tanggal akan di bahas dan kapan akan selesai. Sehingga paling tidak teman-teman TNI ini punya kepastian. Kalau mau perang nunggu dulu peraturannya ini selesaikan dulu, jangan sampai ini nanti mau perang panglima angkatan perangnya bilang dulu ke musuh “tunggu dulu dong kalau mau nyerang, tunggu peraturan menteri selesai dulu”.
Jadi saya kira ini perlu diseriusi, Pak Ketua, bagaimana caranya supaya urusan yang sebetulnya menurut saya tidak njlimet. Karena urusannya kan urusan antrian ini. Bukan urusan konten, bukan urusan anggaran yang tidak ada. Kalau urusan antrian itu urusan kinerja. Bagaimana kita ini mau lembur, mau menyelesaikan, membuat prioritas. Ini babnya bab manajemen, bukan bab urusan-urusan yang sangat serius.
Tolong, Pimpinan, cari cara. Kalau bisa diputuskan hari ini, kapan kepastiannya, tanggalnya, tanggal dibahasnya, tanggal selesainya. Kalau hari ini tidak bisa diputuskan juga, saya minta kepada Pimpinan mohon supaya koordinasi dengan Pimpinan DPR supaya koordinasi dengan bosnya menteri, supaya bosnya menteri lah yang menyuruh supaya bisa diprioritaskan. Kalau yang demikian tidak bisa diatasi, nanti setelah sampai selesai pemilu tdiak selesai juga. Selesai ganti pemerintahan tidak selesai juga itu. Khawatir nanti kalau situasi tidak stabil, di kawasan ada masalah, ada persoalan, prajurit kita. Jangankan dengan negara lain, dengan urusan dalam negeri juga kalau prajuritnya tidak bisa ditugaskan karena urusan-urusan kesehatan tidak selesai ini, ini akan mengganggu ketahanan nasional kita.
Terima kasih Pimpinan.
KETUA RAPAT (ASRIL HAMZAH TANJUNG, S.IP.): Terima kasih Pak Doktor Sukamta.
Intinya sebetulnya ini, Ibu Kalsum, ini mengenai waktunya yang di kejar, yang di tunggu. Kalau berlama-lama nanti habis pemilu sudah lain lagi menterinya, tidak jadi lagi. Apalagi saya di tunjuk sebagai Menteri Kesehatan, tambah amburadul, tidak bisa. Jadi ini yang penekannya seperti itu. Memang kemajuan ini sekarang tidak bisa kita cegah, kemajuan teknologi tidak bisa. Apalagi online-online ini. Ini intinya.
Kita lanjut yang kedua, tadi Pak Budi Youyastri. Silakan, Pak Budi. F-PAN (BUDI YOUYASTRI):
Pimpinan, terima kasih. Anggota Komisi I yang terhormat;
Bapak/Ibu dari jajaran Pemerintah, Pak Dirjen Kuathan.
Saya mengapresiasi bahwa untuk pengenaan dengan cara online itu di pending sehingga pelayanan kepada prajurit kita bisa berjalan, saya mengucapkan terima kasih kepada Kementerian Kesehatan dan BPJS. Tapi ternyata regulasinya tidak di buat. Jadi selama 2 (dua) bulan lebih Menteri Kesehatan kerjanya tidur. Katanya suruh kerja-kerja malah tidur.
Pimpinan, ini yang datang katanya Sekjen, tapi tidak datang Sekjen nya. Diwakilkan. Saya tidak tahu eselon satu atau eselon dua ini yang datang, Pimpinan.
17
Ibu, eselon satu atau eselon dari Kementerian Kesehatan? Eselon dua.
Pimpinan, buat saya omongannya Ibu barusan diabaikan. Kita mengadakan lagi rapat gabungan dengan Komisi IX, panggil menterinya di dalam ruangan ini, Pimpinan. Paksa menterinya. Karena buat saya ini penghinaan kepada lembaga negara. Eselon satu tidak datang, diwakili eselon dua. Dan Ibu itu sifatnya cuma narasumber, tidak ada gunanya buat saya. Apapun yang Ibu omongkan saya abaikan, dan minta di notulen semuanya diabaikan sebagai bagian dari kesepakatan rapat kita. Karena dia tidak punya kewenangan secara tupoksinya.
Yang kedua, saya mau tanya kepada Pak Bambang, kepada Dirjen Kuathan.
Pak Dirjen, semua prajurit kita, semua keluarga prajurit kita itu mendapatkan gaji dari negara. Dan kemudian mereka ikut membayar BPJS bulanan yang di pungut oleh Bapak, oleh Kuasa Pemegang Anggaran langsung di p;otong di KPPN mustinya. Pertanyaan saya adalah, berapa jumlah prajurit TNI dan keluarganya dan purnawirawan yang di potong untuk iuran BPJS, jumlahnya berapa dalam sebulan atau setahun. Saya minta jumlahnya yang pasti. Tolong datanya diberikan kepada kami.
Lalu yang kedua pertanyaan saya adalah, berapa uang yang dikeluarkan oleh rumah sakit TNI yang di bawah koordinasi Mabes TNI di semua UO, dan di Kementerian Pertahanan, yang berhubungan langsung dengan prajurit, keluarga, dan purnawirawannya. Saya ingin tahu duitnya berapa yang kita kumpulkan untuk BPJS, dan berapa uang yang sudah dikeluarkan oleh semua rumah sakit untuk pelayanan kesehatan prajurit, keluarga, dan purnawirawannya. Saya ingin melihat kecocokkannya.
Yang ketiga pertanyaan saya kepada Pak Bambang. Pak Bambang tetap punya dua peraturan perundang-undangan mengenai kesehatan. Satu Undang-Undang Jaminan Kesehatan, yang kedua Undang-Undang Pertahanan kita. Dua-dua undang-undang itu mengatur tentang regulasi kesehatan prajurit kita. Jadi tidak ada yang menyatakan bahwa Bapak harus tunduk kepada Undang-Undang JKN. Bapak wajib tunduk kepada Undang-Undang Pertahanan, buat saya begitu esensinya. Kenapa, Bapak adalah alat negara, sedangkan JKN itu adalah fungsi sosial dari negara, berbeda filosofinya, berbeda maksud dan tujuannya. Jika ada perbedaan tafsir terhadap undang-undang, terhada regulasi, saya sebagai wakil rakyat mendesak Pak Bambang, Kementerian Pertahanan, gunakan Undang-Undang Pertahanan kita.
Sehingga pertanyaan saya, misalnya tadi, saya tidak mengerti regulasi di internal, Pak Bambang, di Kementerian Pertahanan. Misalnya tadi tentang kerahasiaan medical record, itu statusnya apa? Dia rahasia negara, dia adalah milik data private-nya prajurit, atau dia data publik? Misalnya itu Pak, saya butuh regulasi dari Bapak mengenai status medical record, kemudian status kesiapsiagaan kesehatan prajurit kita dan seterusnya yang saya tidak paham. Kalau Bapak punya regulasinya tolong disampaikan kepada saya.
Kemudian tolong disampaikan juga mana yang comply dan mana yang tidak dengan Kementerian Kesehatan. Kalau tidak comply dengan Kementerian Kesehatan, maka saya akan menyatakan gunakan punya Bapak, abaikan yang Menteri Kesehatan.
Terima kasih.
KETUA RAPAT (ASRIL HAMZAH TANJUNG, S.IP.): Terima kasih Pak Budi Youyastri.
Jadi benar ini, kalau di undang ini jarang-jarang datang/tidak datang ya percuma kita tidak bisa mengambil keputusan. Memang kita ada rencana nanti ada rapat langsung gabungan dengan Komisi IX dan badan terkait lainnya, biar ini cepat selesai. Jadi tolong ini untuk Pak Budi ya.
Yang ketiga, silakan Pak Hidayat Nurwahid.
F-PKS (DR. H.M. HIDAYAT NUR WAHID, M.A): Terima kasih Pak Ketua.
Yang mewakili Ibu Menkes, rekan-rekan dari Kemenhan, dari ASABRI, dari BPJS, dan mitra kerja kita semuanya;
18 Assalaamu'alaikum Warohmatulloohi Wabarokaatuh. Selamat siang dan salam sejahtera untuk kita semuanya.
Saya melanjutkan yang disampaikan rekan-rekan tadi. Secara prinsip memang seharusnya rapat-rapat kita ini efektif dihadiri oleh pihak-pihak yang memang berkewenangan sesuai dengan undangannya untuk bisa mengambil keputusan. Karena kita semuanya pastilah sangat sibuk, tapi menjadi akan sangat sibuk kalau kita tidak efektif di dalam penyelenggaraan rapat-rapat kita.
Jadi karenanya apapun juga, karena ini sudah terlanjur ada rapat ini ya saya berharap nanti dari yang mewakili Kemenkes untuk secara amanah menyampaikan apapun keputusan yang ada disini untuk segera ditindaklanjuti.
Nomor dua, ini kayaknya rapat yang ketiga terkait dengan masalah pelayanan kesehatan untuk rekan-rekan dari TNI, atau melibatkan dari unsur Kementerian Kesehatan dan juga Komisi I. Tapi apa yang kemudian disepakati secara prinsip, yaitu adanya semacam terobosan untuk sementara melakukan semacam diskresi untuk pelayanan/untuk rujukan online berjenjang bagi prajurit TNI, PNS Kemenhan dan keluarganya, serta purnawirawan yang diperlakukan secara khusus, ternyata sampai detik ini inti yang diharapkannya belum bisa diwujudkan, yaitu adanya payung hukum. Padahal ketiadaan payung hukum ini sesungguhnya serius. Apalagi di era dimana, mohon maaf, KPK begitu sangat gencar, dan semua orang menyoroti tentang masalah korupsi. Kita tidak ingin, apalagi TNI kita, prajurit-prajurit kita, kemudian dipermasalahkan hanya karena keterlambatan atau ketiadaan payung hukum akibat keterlambatan pembuatan daripada payung hukum ini. Jadi jangan sampai mereka-mereka, dan juga BPJS saya yakin juga tidak ingin terlibat dalam masalah hanya karena adanya keterlambatan payung hukum. Dan tadi dari BPJS sudah menyampaikan, terima kasih keterangannya, menyodorkan 9 (sembilan) nama untuk kemudian dilibatkan di dalam penggodokan payung hukum ini.
Inikan harusnya Kemenkes lebih sigap lagi ya. Karena pastilah Kemenkes juga tidak ingin mempunyai masalah dari sisi hukum terkait dengan masalah KPK. Dan pihak yang terkait pun sudah amat sangat mendorong untuk segera adanya payung hukum ini. Komisi I sangat mendorong, dari rekan-rekan TNI sangat mendorong, dari BPJS juga sangat mendorong. Maka mestinya memang harus ada prioritas untuk segera selesainya masalah ini, Diprioritaskan sesegera mungkin adalah satu hal yang amat sangat diharuskan.
Apalagi kita juga paham bahwa ini tidak hanya terkait dengan rekan-rekan dari TNI saja, tapi juga dengan keluarga mereka. Rekan-rekan TNI sekalipun mereka sehat wal afiat, dan mereka bisa melaksanakan tugas tempur sekalipun, tapi kalau mereka tahu mendapat informasi keluarganya sakit dan tidak mendapatkan pelayanan yang sebenarnya, dan/atau pelayanan yang masih sisi hukumnya bermasalah, saya yakin juga konsentrasinya bisa tidak penuh. Bisa jadi misalnya bisa menembak tepat sasaran, karena tidak konsentrasi bisa jadi malah menghambur-hamburkan banyak peluru, padahal peluru kita terbatas.
Jadi menurut saya ini amat sangat dipentingkan. Karena sekali lagi, ini tidak hanya terkait dengan rekan-rekan TNI, tapi juga dengan keluarga mereka yang keluarga itu pastilah akan sangat berpengaruh ke dalam kinerja dari rekan-rekan TNI kita, baik dalam posisi perang maupun dalam posisi yang damai. Jadi karenanya saya sangat mendukung agar payung ini segera dan diprioritaskan. Dan menurut saya bisa diputuskan agar kita disini menyepakati agar Kementerian Kesehatan memprioritaskan dalam tempo yang secepat-cepatnya dan sesingkat-singkatnya payung hukum ini bisa segera diselesaikan.
Terlepas dari apakah nanti akan ada presiden baru atau ada presiden yang lainnya, saya yakin kalau ini segera selesai akan menjadi warisan yang amat sangat bagus Kementerian Kesehatan memberikan rasa aman kepada seluruh pihak sehingga tidak terjadi masalah. Ini saya kira justru di bulan-bulan terakhir ini menjadi khusnul khotimah bagi Kementerian Kesehatan di bawah kepemimpinan Ibu Menteri. Kalaupun nanti akan dilanjutkan ya biarlah itu nanti. Tapi yang jelas bahwa masa akhir ini menjadi masa yang dipentingkan untuk menghadirkan sebuah kinerja yang unggulan untuk menyelamatkan semua pihak, termasuk TNI dan keluarganya, dan para prajuritnya, dan juga termasuk purnawirawannya.
Terakhir saya ingin sampaikan sebuah pertanyaan kepada BPJS khususnya. Ini ada informasi di meja kami temuan atau informasi bahwa rumah sakit di bawah naungan Kementerian
19
Pertahanan sampai hari ini masih menanggung beban karena klaim BPJS yang belum dibayarkan hingga jumlahnya 500 miliar rupiah. Ini kami mohon konfirmasinya dan sekaligus penyelesaiannya. Supaya lagi-lagi rekan-rekan TNI kita tidak lagi dibebani dengan masalah-masalah semacam ini. Sebab kalau ini betul-betul ada dan kemudian berdampak kepada rumah sakit Kemenhan atau rumah sakit di bawah naungan Kemenhan yang kemudian 500 miliar pasti jumlah yang tidak sedikit. Banyak rumah sakit yang sudah mengeluhkan tentang keterlambatan pembayaran BPJS ini. Saya kira ini menjadi bagian dari yang juga penting untuk diprioritaskan untuk segera diselesaikan.
Karena alhamdulillaah, mohon maaf, kalau ukurannya adalah dari kertas penyampaian BPJS ini sangat mewah, ini mewah sekali. Kertasnya pun sangat-sangat mewah. Ini pasti anggarannya pun juga sangat banyak ini. Dibandingkan dengan yang dilaporkan dari Kemenhan maupun Kemenkes sederhana sekali itu. Maksud saya rupanya BPJS cukup longgar anggarannya. Kalau memang benar anggarannya sangat longgar, daripada di bikin untuk map-map yang sangat mewah kayak begini kenapa tidak diprioritaskan untuk segera melunasi tunggakan-tunggakan pembayaran kepada banyak rumah sakit yang mengeluhkan. Minggu yang lalu kita mendapatkan berita di salah satu koran bahwa rumah sakit di Kabupaten Bogor saja itu tunggakan dari BPJS tidak kurang dari 200 miliar rupiah. Maksud saya daripada kemudian dipakai untuk map yang ini juga tidak terlalu sangat berguna, dan anggarannya pasti juga ada, lebih bagus mapnya sederhana saja tapi anggarannya bisa maksimal dipergunakan untuk melunasi tanggungan-tanggungan BPJS terhadap rumah sakit-rumah sakit.
Terima kasih.
Wassalaamu'alaikum Warohmatulloohi Wabarokaatuh. KETUA RAPAT (ASRIL HAMZAH TANJUNG, S.IP.): Wa’alaikumsalaam.
Terima kasih Pak Hidayat Nurwahid.
Mungkin dari sektor kiri, Pak Charles, Pak Timbul, ada? Cukup ya.
Jadi ada 3 (tiga) tadi tanggapan, pertanyaan, atau saran, silakan ditanggapi. Mulai dari Pak Bambang nanti beserta jajarannya, kemudian nanti dari Kemenkes, yang terakhir dari BPJS. Ibu Maya ya, tolong nanti mungkin ada yang perlu dimasukkan. Karena sampai sekarang orang menganggap petugas BPJS itu gajinya besar-besar, dirutnya itu 500 juta, kenapa orang tidak bisa dilayani kesehatan.
Menghilangkan image itu tidak gampang itu. Mungkin tidak ada segitu, kita tahu. Itu anggapan masyarakat, “kenapa ini, ini BPJS gajinya ratusan juta, dirutnya saja 500, kok kita tidak ditangani kesehatan”. Namanya kan masyarakat banyak seperti itu.
Silakan Pak Bambang dengan grupnya menanggapi tiga yang hal tadi itu, dari Pak Doktor Sukamta, Pak Budi Youyastri, dan Pak Hidayat Nurwahid. Monggo, silakan.
DIREKTUR JENDERAL KEKUATAN PERTAHANAN KEMENTERIAN PERTAHANAN RI (MAYJEN TNI BAMBANG HARTAWAN, M.SC.):
Terima kasih Pimpinan.
Saya akan mencoba mejawab satu persatu yang menjadi pertanyaan kepada kami. Pada prinsipnya sebagaimana tadi disampaikan oleh pihak BPJS bahwa memang sudah ada diskresi untuk pelaksanaan program BPJS ini kepada pihak rumah sakit TNI dan Kemhan. Hanya masalahnya memang diskresi ini perlu di dukung oleh satu regulas. Memang dari kami pun tidak mau bergerak tanpa ada regulasi. Karena karena kalau diskresi itu sifatnya sementara, maka itu kami berharap sangat besar pada regulator, dalam hal ini adalah Kemenkes, untuk segera membuat regulasinya. Karena kami ini adalah sebagai operator sebagian rumah sakit.
Memang yang disampaikan oleh Pak Budi tadi, kami ada 2 (dua) undang-undang yang kami patuhi untuk masalah kesehatan ini. Satu adalah Undang-Undang Pertahanan TNI, dan juga undang-undang yang berlaku dari Kemenkes. Memang pada saat kami dalam kondisi kritis, yang
20
kami kerjakan adalah undang-undang yang menyangkut Undang-Undang Pertahanan dan TNI. Apabila prajurit kami memang dalam kondisi yang kritis dan sebagainya ini yang kami abaikan adalah aturan yang dari regulator, yang kami utamakan adalah undang-undang dari TNI/Polri.
Hanya disini kami membentur satu lagi, yaitu yang dalam satu sistem yang sekarang sedang berjalan yaitu berlakunya BPJS. Hingga pada saat kami mengatasi sendiri tentunya kami mengeluarkan biaya untuk mengatasi permasalahan yang ada di dalam kami. Karena kami sudah bagian dari anggota BPJS, pada saat kami tagihkan ke BPJS ini yang mungkin di tolak karena tidak sesuai prosedur sehingga BPJS tidak mau membayar karena kami tidak sesuai prosedur. Kira-kira seperti itu. Kalau kami jalankan proses ini sesuai dengan regulasi kami sendiri. Tentunya kami membutuhkan dengan adanya diskresi tadi yang disampaikan oleh pihak BPJS ini sudah smooth jalannya. Hanya diskresi inikan perlu ada regulasi yang memayunginya ini/perlindungan hukumnya ini.
Yang kita harapkan ke depan dari pihak regulator, dalam hal ini Kemenkes, di dalam keputusan sidang rapat kemarin adalah sebagai leading sector untuk melakukan pembahasan sebagai task force ini perlu segera direalisasikan.
Kami bukannya tidak mau menjemput bola dan sebagainya. Nanti kami malah salah lagi kalau kami menjemput bola, karena kami bukan pihak regulator untuk membuat itu. Memang kami bisa mengundang, tapi nanti hasilnya tidak optimal kalau kami yang mengundang dan lain sebagainya. Sehingga kami butuh keputusan sesuai dengan yang disampaikan oleh putusan rapat yang lalu bahwa leading sector adalah Kemenkes, karena memang mereka adalah regulator di bidang kesehatan.
Kemudian pertanyaan kedua masalah, tadi disampaikan oleh Pak Sukamta, juga disampaikan oleh Pak Budi, tentang kerahasiaan atau medical record untuk prajurit. Saya kira ini berlaku hampir di seluruh dunia untuk prajurit ini. Memang data kesehatannya bagian dari kerahasiaan negara. Karena apabila ada data kesehatan dari prajurit ini yang tentunya, apalagi unsur pimpinan dan sebagainya, ini bisa menjadi satu kelemahan bagi kita dalam rangka kita menghadapi lawan-lawan kita. Kira-kira seperti itu.
F-PAN (BUDI YOUYASTRI): Pimpinan, pendalaman.
Jika sudah menjadi regulasinya internal Kementerian Pertahanan, pertanyaan saya adalah, di dalam proses penagihannya apakah BPJS meminta medical record dari prajurit kita selama ini dalam prakteknya?
KETUA RAPAT (ASRIL HAMZAH TANJUNG, S.IP.):
Itu memang bayar tidak prajurit kita? Seperti umum itukan bayar juga yang Pak Budi tanya tadi. Di potong tidak prajurit kita?
DIREKTUR JENDERAL KEKUATAN PERTAHANAN KEMENTERIAN PERTAHANAN RI (MAYJEN TNI BAMBANG HARTAWAN, M.SC.):
Di potong Pak, di potong 2 persen. Tapi yang 3 persen dari APBN, subsidi. Jadi 5 persen. Tetap di potong Pak, kita di potong 2 persen dari 5 persen itu. Untuk prajurit TNI dengan PNS dan keluarga adalah sekitar 1 juta 523 ribu 460 orang. Kalau di tambah dengan purnawirawan itu menjadi sekitar 2 juta 565 ribu 193 orang.
F-PAN (BUDI YOUYASTRI): Iuran BPJS nya berapa?
21
DIREKTUR JENDERAL KEKUATAN PERTAHANAN KEMENTERIAN PERTAHANAN RI (MAYJEN TNI BAMBANG HARTAWAN, M.SC.):
Variatif Pak.
F-PAN (BUDI YOUYASTRI):
Saya butuh jumlah totalnya, berapa total yang dibayarkan menjadi iuran ke BPJS? DIREKTUR JENDERAL KEKUATAN PERTAHANAN KEMENTERIAN PERTAHANAN RI (MAYJEN TNI BAMBANG HARTAWAN, M.SC.):
Datanya mungkin ada di BPJS Pak. Nanti kami sampaikan setelah rapat ini. F-PAN (BUDI YOUYASTRI):
Bapak yang memotong dan Bapak yang menyetorkan. Kan Kementerian Pertahanan yang motong dan menyetorkan diserahkan ke BPJS kan.
DIREKTUR JENDERAL KEKUATAN PERTAHANAN KEMENTERIAN PERTAHANAN RI (MAYJEN TNI BAMBANG HARTAWAN, M.SC.):
Bukan Kementerian Pertahanan yang memotong Pak, tapi Kementerian Keuangan langsung. Bukan dari kami.
F-PAN (BUDI YOUYASTRI):
Kan Kementerian Keuangan memotong, tetapi kan atas pengetahuan Bapak sebagai KPA. Tidak bisa otomatis di potong kan? Kan karena dia sifatnya, saya tidak tahu regulasinya, kan sifatnya sukarela ketika membayar.
DIREKTUR JENDERAL KEKUATAN PERTAHANAN KEMENTERIAN PERTAHANAN RI (MAYJEN TNI BAMBANG HARTAWAN, M.SC.):
Wajib Pak. TNI, Polri, dan PNS wajib. F-PAN (BUDI YOUYASTRI):
Iya betul. Kan wajib itu adalah kewajibannya satu orang. Betul kan Pak, satu orang TNI wajib membayar? Bukan TNI membayar wajib, tapi perorang kan. Perorang itukan artinya di kasih dulu gajinya, baru di potong dari gajinya. Bukan ujug-ujug negara bayarin orang itu.
Jadi pertanyaannya adalah, dia menjadi kewajiban si TNI kita membayar, karena dia sudah mendapatkan penghasilan dari negara. Pertanyaannya kan Bapak pasti punya datanya, Bapak pegang datanya berapa yang sudah di potong dari setiap anggota/setiap personil yang disetorkan ke BPJS melalui Menteri Keuangan. Tidak mungkin Bapak tidak punya datanya, pasti punya datanya. Jadi saya ingin tahu berapa jumlahnya. Kalau rata-rata 25 ribu kali 2 juta setengah berarti berapa? 6 triliun? 600 miliar?
KETUA RAPAT (ASRIL HAMZAH TANJUNG, S.IP.):
Coba di cek lagi, Pak Bambang. Dulu kita di potong itu langsung. Jadi gaji itu sudah termasuk potong kesehatan.
22 F-PAN (BUDI YOUYASTRI):
Saya tahu. Tapi kan di dalam selip gajinya pasti di tulis potongannya. Tidak? Tidak mungkin tidak. Berarti tidak bagian dari gaji kalau di potong.
DIREKTUR JENDERAL KEKUATAN PERTAHANAN KEMENTERIAN PERTAHANAN RI (MAYJEN TNI BAMBANG HARTAWAN, M.SC.):
2 persen dari gaji Pak. F-PAN (BUDI YOUYASTRI):
2 persen dari gaji pokok kan? Kan harus keluar dulu gaji pokoknya, kemudian baru ada pengurang/dipotongnya oleh Kementerian Keuangan. Tapi kan gaji itu tidak melalui kesekjenan? DIREKTUR JENDERAL KEKUATAN PERTAHANAN KEMENTERIAN PERTAHANAN RI (MAYJEN TNI BAMBANG HARTAWAN, M.SC.):
Lewat UO masing-masing Pak. F-PAN (BUDI YOUYASTRI):
Ke UO masing-masing kan?
DIREKTUR JENDERAL KEKUATAN PERTAHANAN KEMENTERIAN PERTAHANAN RI (MAYJEN TNI BAMBANG HARTAWAN, M.SC.):
Kebetulan kami datanya tidak bawa sekarang. Mungkin kami akan sampaikan nanti setelah rapat ini.
Terima kasih.
F-PAN (BUDI YOUYASTRI):
Saya perlu tahu adalah berapa jumlah prajurit kita membayar iuran BPJS seluruhnya, sehingga kita bisa mengevaluas apakah pengggunaan uang itu efektif dilakukan oleh BPJS. Itu pertanyaan saya. Saya tidak peduli dengan fungsi pelayanan masyarakatnya. Fungsi dari TNI kita. Begitu Pak maksudnya.
KETUA RAPAT (ASRIL HAMZAH TANJUNG, S.IP.):
Silakan dari Kemenhan kalau masih bisa ditanggapi. Memang potong-potong itu tetap ada. Tapi yang di minta Pak Budi jumlahnya akhirnya di potong itu yang diserahkan berapa. Sesuai dengan jumlah itukan. Termasuk keluarga PNS dan lain-lain.
DIREKTUR JENDERAL KEKUATAN PERTAHANAN KEMENTERIAN PERTAHANAN RI (MAYJEN TNI BAMBANG HARTAWAN, M.SC.):
Siap. Dari kami sementara itu Bapak. Mungkin ada tambahan dari Kapuskes? F-PAN (BUDI YOUYASTRI):
Dan biaya rumah sakit kita yang menjadi biaya langsung untuk melayani prajurit, keluarganya, dan purnawirawan berapa Pak?