• Tidak ada hasil yang ditemukan

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA"

Copied!
86
0
0

Teks penuh

(1)

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA

RISALAH

RAPAT DENGAR PENDAPAT KOMISI V DPR RI

DENGAN DIRJEN BINA MARGA, DIRJEN SUMBER DAYA AIR, DAN DIRJEN BINA KONSTRUKSI KEMENTERIAN PUPR RI

Tahun Sidang : 2021-2022 Masa Persidangan : III

Rapat Ke- :

Jenis Rapat : Rapat Dengar Pendapat Sifat Rapat : Terbuka

Hari, Tanggal : Selasa, 15 Februari 2022

Waktu : Pukul 13.00 WIB s.d. 18.20 WIB

Tempat : Ruang Rapat Komisi V DPR RI, (Ruang KK V) Gedung Nusantara DPR RI dan Secara Virtual Zoom Cloud Meeting

Ketua Rapat : Lasarus, S.Sos., M.Si./F-PDIP/Ketua Komisi V DPR RI

Acara : 1. Evaluasi Pelaksanaan APBN TA 2021 2. Membahas Program Kerja Tahun 2022 3. Lain-lain

Sekretaris Rapat : Nunik Prihatin Budiastuti, S.H., Kabag Komisi V DPR RI

Hadir : A. Anggota DPR RI:

43 dari 54 orang Anggota dengan rincian:

1. FRAKSI PDI-PERJUANGAN (F-PDIP) 9 dari 11 orang Anggota

1. Lasarus, S.Sos., M.Si.

2. Bob Andika Mamana Sitepu, S.H.

3. Mochamad Herviano

4. Hj. Sadarestuwati, S.P., M.M.A.

5. Sukur H. Nababan, S.T.

6. Ir. Sudjadi

7. Sarce Bandaso Tandiasik, S.H., M.H.

8. H. Irmadi Lubis 9. Ir. Effendi Sianipar

2. FRAKSI PARTAI GOLKAR (F-PG) 7 dari 8 orang Anggota

1. Ir. Ridwan Bae

2. Drs. Hamka B Kady, M.S.

3. Cen Sui Lan

4. DR. H. Ali Mufthi, S.A.G., M.Si.

5. Ilham Pangestu

6. Bambang Hermanto, S.E.

7. Muhammad Fauzi, S.E.

(2)

3. FRAKSI PARTAI GERINDRA (F-GERINDRA)

7 dari 7 orang Anggota

1. H. Andi Iwan Darmawan Aras, S.E., M.Si.

2. Sudewo, S.T., M.T.

3. Iis Rosyita Dewi, S.Hum., M.M.

4. Ir. Eddy Santana Putra, M.T.

5. Drs. H. Mulyadi, M.MA.

6. Hj. Novita Wijayanti, S.E., M.M.

7. Ir. Sumail Abdullah

4. FRAKSI PARTAI NASDEM (F-NASDEM) 5 dari 6 orang Anggota

1. Roberth Rouw

2. H. Syarif Abdullah Alkadrie, S.H., M.H.

3. Drs. H. Soehartono, M.Si.

4. Sri Wahyuni

5. Drs. H. Tamanuri, M.M.

5. FRAKSI PARTAI KEBANGKITAN BANGSA (F-PKB)

3 dari 6 orang Anggota 1. H. Ruslan M. Daud 2. Sofyan Ali, S.H.

3. H. Syafiuddin, S.Sos

6. FRAKSI PARTAI DEMOKRAT (F-PD) 4 dari 5 orang Anggota

1. Dr. H. Irwan S.IP., M.P.

2. drh. Jhonni Allen Marbun, M.M.

3. Lasmi Indaryani, S.E.

4. Ir. H. Ishak Mekki, M.M.

7. FRAKSI PARTAI KEADILAN

SEJAHTERA (F-PKS) 4 dari 5 orang Anggota

1. H. Suryadi Jaya Purnama, S.T.

2. Ir. H. Sigit Sosiantomo

3. Drs. Hamid Noor Yasin, M.M.

4. KH. Toriq Hidayat, Lc.

8. FRAKSI PARTAI AMANAT NASIONAL (F-PAN)

3 dari 5 orang Anggota 1. H.A. Bakri H. M., S.E.

2. Athari Ghauthi Ardi 3. Mesakh Mirin, SKM.

(3)

9. FRAKSI PARTAI PERSATUAN PEMBANGUNAN (F-PPP)

1 dari 2 orang Anggota

1. Dr. H. Muh Aras, S.Pd., M.M.

B. UNDANGAN:

1. Direktur Jenderal Bina Marga Kementerian PUPR RI (Dr. Ir. Hedy Rahadian, M.Sc.) 2. Direktur Jenderal Sumber Daya Air

Kementerian PUPR RI (Ir. Jarot Widyoko, Sp- 1)

3. Direktur Jenderal Bina Konstruksi Kementerian PUPR RI (Ir. Yudha Mediawan M.Dev. Plg.)

4. Pengurus LPJK (Ir. Taufik Widjoyono, M.Sc.)

JALANNYA RAPAT:

KETUA RAPAT/F-PDIP(LASARUS, S.Sos., M.Si.)/KETUA KOMISI V DPR RI:

Baik, Bapak Ibu sekalian Pimpinan dan Anggota Komisi V yang saya hormati, kita mulai rapat dengar pendapat kita pada hari ini secara virtual.

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Selamat siang dan salam sejahtera bagi kita semua.

Yang saya hormati hadir bersama saya di sini Pak Ridwan Bae Pimpinan Komisi V dan seluruh Pimpinan Komisi V yang hadir secara virtual

Seluruh Anggota Komisi V yang saya hormati saya cintai dan saya banggakan dan saya hormati.

Yang Terhormat Dirjen Bina Marga, Dirjen Sumber Daya Air, Dirjen Bina Konstruksi beserta seluruh jajarannya serta hadirin yang berbahagia.

Pertama-tama marilah kita panjatkan puji dan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, karena berkat dan karunia-Nya kita dapat hadir pada rapat siang hari yang seyogyanya kita laksanakan jam 10 tadi pagi tapi berhubung karena DPR melaksanakan rapat paripurna tadi pagi maka jadwalnya kita mundurkan menjadi jam 13 dan sekarang kita mulai.

Saya, atas nama Pimpinan menyampaikan permohonan maaf mungkin atas ketidaknyamanan ini. Namun demikian perlu kami sampaikan RDP tidak bisa dan tidak diperbolehkan bertabrakan jadwalnya dengan rapat paripurna.

Berdasarkan informasi dari sekretariat sudah hadir 20 orang anggota ya, 18 orang hadir secara virtual dan saya bersama Pak Ridwan hadir secara fisik dari 6 unsur fraksi yang berbeda. Maka sesuai dengan pasal 281 Peraturan DPR RI tentang Tata Tertib, izinkan kami membuka rapat dengar pendapat pada hari ini, dan sesuai ketentuan pasal 276 ayat (1), Rapat Dengar Pendapat Komisi V DPR RI pada hari ini saya nyatakan dibuka dan terbuka untuk umum.

(4)

(RAPAT DIBUKA PUKUL 13.00 WIB)

Kami ucapkan terima kasih kepada para Dirjen dan seluruh Kepala Balai baik Balai Bina Marga, Balai Cipta Karya, eh sorry Balai SDA dan Balai LPJK atau Lembaga Pembina Jasa Konstruksi sebagai perwakilan dari Direktorat Jenderal Bina Kontruksi yang ada di daerah yang telah menghadiri undangan kami pada siang hari ini.

Sebagaimana kita ketahui bahwa pada tanggal 25 Januari yang lalu, kami Komisi V DPR RI telah melakukan rapat kerja dengan Menteri PUPR dan sebagai tindak lanjutnya, hari ini dilakukan Rapat Dengar Pendapat dengan Eselon 1 Kementerian PUPR sesuai surat undangan yang sudah kami sampaikan.

Untuk agenda pertama terkait dengan evaluasi pelaksanaan APBN Tahun 2021. Komisi V DPR RI nanti ingin mendengarkan penjelasan secara komprehensif dari masing-masing direktorat jenderal yang sudah hadir pada siang hari ini sesuai dengan undangan.

Kemudian nanti yang kedua adalah pembahasan program kerja Tahun Anggaran 2022. Perlu kami sampaikan bahwa pagu anggaran Ditjen Bina Marga sebesar 39,7 triliun, Ditjen Sumber Daya Air sebesar 41,23 triliun dan Dirjen Bina Konstruksi Kementerian PUPR sebesar 600 miliar. Dengan anggaran ini kami ingin mengetahui bagaimana pemanfaatan dari anggaran tersebut untuk pencapaian program atau kegiatan prioritas nasional pada masing-masing eselon I.

Berdasarkan pengawasan yang dilakukan oleh Komisi V DPR RI, ada beberapa hal yang perlu kami sampaikan pada rapat yang berbahagia siang hari ini. Yang pertama strategi optimalisasi daya serap anggaran untuk program strategis nasional pada masing-masing Direktorat Jenderal ya, Bina Marga, Sumber Daya Air dan Bina konstruksi. Nanti mohon dijelaskan secara komprehensif kepada forum rapat ini.

Yang kedua, mendukung pemulihan ekonomi nasional di 34 provinsi melalui kegiatan Padat Karya. Sebagaimana kita ketahui di masing-masing Direktorat Jenderal yang rapat pada hari ini ya terutama SDA ya Sumber Daya Air, Pak Jarot, ada begitu banyak program Padat Karya di sana nanti juga perlu disampaikan kepada kami, sudah sejauh mana progres yang diperlukan terkait dengan hal-hal yang bersifat administratif ada SK dan seterusnya karena seluruh program padat karya ini ada surat keputusan dari menteri, ya, terhadap seluruh alokasi kegiatan dari padat karya ini, demikian juga nanti Pak Hedy Rahadian ya Dirjen Bina Marga, terkait dengan program padat karya yang ada di Direktorat Jenderal Bina Marga.

Kemudian yang ketiga memperkuat infrastruktur untuk mendukung pengembangan ekonomi dan pelayanan dasar yang meliputi kegiatan jalan tol, jalan-jalan baru, flyover, underpass, jembatan pembangunan bendungan, embung dan pengendali banjir.

(5)

Yang keempat, peningkatan pembinaan penyelenggaraan jasa konstruksi, keselamatan konstruksi dan sistem informasi jasa konstruksi terintegrasi.

Untuk Dirjen Bina Konstruksi perlu saya sampaikan pada kesempatan yang berbahagia ini ya, Pak Dirjen, kami banyak mendapatkan masukan termasuk laporan ya bahwa perlu komunikasi yang intens ya barangkali di dalam antara Lembaga Pengembang Jasa Konstruksi atau LPJK dengan Bina Konstruksi sebagai mitra induk di dalam internal kementerian PU ya.

Jadi, menurut kalangan luar ini ya, Lembaga Pengembang Jasa Konstruksi yang sudah kita putuskan anggotanya di forum rapat ini kemarin, hampir tidak kelihatan fungsinya, hampir tidak kelihatan kegiatannya.

Saya dengan Pimpinan yang lain juga pernah berdiskusikan ini apakah persoalannya di aturan turunannya, Pak Taufiq ya, saya lihat Pak Taufiq hadir di sini. Beliau adalah mantan Sekjen PU dulu, sekarang sebagai Ketua Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi. Pak Taufiq, nanti mohon juga kalo bisa disampaikan kepada kami Pak, kalau memang ada turunan dari UU Jasa Konstruksi yang sedikit menghambat tugas daripada LPJK ini, juga perlu dituntaskan segera Pak, sehingga khalayak ramai bagaimanapun penilaian masyarakat perlu kami dengar Pak. Ini seluruh teman-teman penyedia jasa konstruksi mengeluh Pak sekarang ya, bahwa menurut mereka lebih baik di waktu dulu ketika LPJK tidak di bawah langsung oleh Kementerian PUPR, ini suara suara yang kami dengar Pak dari Gapensi hingga seterusnya.

Kami sedang mengkaji juga Pak kenapa penawaran itu yang terendah yang dipakai kemudian sulit sekali teman-teman penyedia jasa konstruksi ini untuk mengkondisikan di daerahnya masing-masing sehingga terjadi apa namanya persaingan yang cenderung mengarah ke hal hal yang kurang sehat Pak.

Yang kami maksud adalah, yasudah lah daripada ndak kerja biarpun harga rendah kita ambil saja daripada perusahaan nganggur dan seterusnya.

ini dari diskusi Pak, jadi ada banyak putus kontrak ada banyak pembangunan yang di bawah itu menemui hambatan apalagi di teman-temannya pelaksana ya seperti Ditjen Bina Marga, Dirjen Sumber Daya Air, Dirjen Cipta Karya dan seterusnyalah. Mereka mau tidak mau harus melaksanakan tugas dengan harga yang menurut mereka hampir tidak pantas, ya ini, ini menimbulkan begitu banyak keruwetan Pak turunan dari ini, turunan dari kompetisi yang tidak sehat ini.

Oleh karenanya kami juga ingin mendengarkan nanti seperti apa strategi dari Direktorat Jenderal Bina Konstruksi ya termasuk juga dari LPJK, untuk menghadapi situasi ini ke depan. Apakah kita akan terus seperti ini dan seterusnya? Atau ada jalan keluar yang strategis ya, termasuk kita sudah merencanakan untuk melakukan rapat bersama ya dengan berbagai instansi terkait, yang terkait dengan pengadaan barang dan jasa ini.

(6)

Barangkali itu Bapak Ibu sekalian ya Pimpinan Pak Ridwan yang saya hormati ya, hadir secara fisik juga Pak Iwan, terima kasih Pak Irwan (rekaman kurang jelas), hadir secara fisik di tempat ini ya, terima kasih Pak Dirjen, teman- teman Pimpinan dan Anggota Komisi V ya barangkali ini sebagai pengantar yang dapat saya sampaikan.

Saya berharap Pak penjelasan dari masing-masing Direktorat Jenderal ya, walaupun kita hadir secara virtual pada hari ini, tidak mengurangi makna Pak, karena teman-teman di komisi ini rindu sekali sebetulnya Pak kita ini bisa tatap muka untuk rapat bersama di sini tapi, saya mendapat permintaan dari mitra Pak, baik dari PU maupun dari perhubungan, karena berhubung masing- masing Kementerian ini banyak yang sekarang sedang positif ya, jadi untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak kita inginkan maka kita full secara virtual Pak ya, di masing-masing kementerian pun kondisi seperti ini banyak sekali yang sedang positif, ya tentu kami dari Pimpinan juga harus memperhitungkan keselamatan, kenyamanan dan seterusnya kita semua.

Saya rasa demikian ya, saya akan persilakan nanti untuk secara berturut-turut mulai dari Dirjen Bina Marga dulu ya, selanjutnya nanti Sumber Daya Air dan terakhir nanti Dirjen Bina konstruksi. Kepada Dirjen Bina Marga Pak Hedy Rahadian, sebagai kesempatan pertama untuk bisa menyampaikan paparannya, waktu saya persilakan Pak Hedy Rahadian.

DIREKTUR JENDERAL BINA MARGA KEMENTERIAN PUPR RI (Dr. Ir.

HEDY RAHADIAN, M.Sc.):

Terima kasih.

Ini unmute dikontrol oleh pusat (rekaman kurang jelas).

Yang kami hormati Bapak Pimpinan Komisi V DPR RI, Seluruh Bapak dan Ibu Anggota DPR RI yang kami hormati, Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Pertama-tama terima kasih atas kesempatan kami yang pertama dan kami harap kita selalu dalam keadaan sehat walafiat dan tentu saja saya kira rapat ini walaupun secara online, tetap memiliki makna yang sama.

Pertama izinkan kami memaparkan beberapa hal yang sesuai dengan tema rapat kali ini. Yaitu ada dua hal yang pertama adalah evaluasi pelaksanaan anggaran 2021 dan yang kedua adalah rencana di 2022. Jadi, perlu kami sampaikan, absen dulu Pak kami laporkan ada 33 balai di Dirjen Bina Marga, ada (rekaman kurang jelas) balai yang kami cek sudah hadir (rekaman kurang jelas) yaitu Balai Bengkulu yang mohon izin diwakili balai yang bersangkutan sedang dalam pemeriksaan kesehatan di rumah sakit.

Kemudian kami juga ingin memperkenalkan diri Pak Ketua, ada direktur baru yaitu Direktur Pembangunan Jalan, Pak Satrio, saya kira beliau sudah hadir di sini. Kemudian juga ada perubahan di beberapa balai, Balai Jawa

(7)

Tengah sekarang itu adalah Bu Ida, Kemudian Balai Banten masih Plt oleh Pak Rahman Taufik, beliau sudah hadir di sini Pak.

Kemudian lanjut, baik kami sampaikan kronologis anggaran tahun 2021, yang pertama adalah usulan indikatif sebesar 68,09 triliun. Kemudian pagu indikatif turun menjadi 38,87 triliun dan pagu anggaran adalah sebesar 53,96 triliun. Terus ada kita tau ada refocusing tahap pertama, setelah tahap empat totalnya menjadi 48,50 triliun, perlu kami laporkan juga di sini bahwa dalam dipa kami memang tercatat ada tambahan aset tahunan. Jadi ini aset saja yang kita terima, yaitu dalam bentuk tanah senilai 17,87 triliun. Jadi total dalam dipa termasuk aset ini adalah 66,37 triliun, lanjut.

Kami laporkan detailnya aset lahan setelah ada tambah 17,87 triliun, kemudian ada tambahan anggaran di samping refocusing ada tambahan anggaran sebesar 4,87 triliun yaitu untuk cuaca ekstrem, penanganan longsoran dan penanganan Covid PEN sebesar 800 miliar. Juga ada percepatan dan peluncuran SBSN sebesar 1,78 triliun. Ini total refocusing totalnya mencapai 10,46 triliun yang dikurangi dari anggaran awal.

Lanjut, kami laporkan progres 2021 dalam realisasi keuangan 95,87%

atau dengan asset menjadi 63 triliun, ini ada defiasi -4,13% dari rencana 100%, adapun realisasi fisik adalah sebesar 94,61%. Lanjut, ini output-nya disampaikan, jalan tol tahun 2021 bertambah 123 kilometer yang dibiaya APBN, kemudian jalan baru sepanjang 721 kilometer, kemudian jembatan sepanjang 27.708 meter, dan pembangunan flyover dan underpass sebesar sepanjang 2.321 meter.

Kami sampaikan Pak, ini hal yang saya kira perlu diketahui oleh Bapak dan Ibu Anggota Komisi V DPR dari segi kinerja. Jadi kinerja yang pertama indikator kinerja yang utama adalah waktu tempuh, ini di Renstra 2024, 1,9 jam per 100 kilometer, saat ini sampai 2021, 2,19 jam per 100 km target tapi yang tercapai baru 2,22 jam per 100 kilometer. Jadi ada kekurangan dari target kita.

Kemudian yang jalan tol dari target 684 kilometer baru tercapai 369 kilometer, kemudian jalan baru nasional itu target 1.050 kilometer baru tercapai 976 kilometer. Kemudian penempatan target 2021 ke 92% ini yang masih di bawah tercapai nampaknya 91,81%.

Lanjut, nah ini kenapa kita, baik saya lanjutkan dulu bahwa teritorial jadi kami laporkan pada Bina Marga ada dua jenis. Pertama pada swakelola, ini yang memang betul-betul dikelola oleh PPK dan stafnya, itu total adalah sebesar 3,815 triliun, pencapaiannya adalah 98,71%, adapun penyerapan tenaga kerja 111,57%. Nah, di samping padat karya yang swakelola ini yang saya sering mendengar keluhan dari Bapak dan Ibu Anggota DPR itu adalah padat karya kontraktual, ini memang tidak secara langsung (rekaman kurang jelas) karena ini ditangani secara kontraktual. Total nilainya adalah 3,513 triliun, progresnya adalah 95% dan penyerapan tenaga kerjanya adalah 247%, jadi lebih tinggi daripada targetnya.

(8)

Lanjut, ini adalah sebarannya memang masih didominasi oleh Sumatera dan Jawa, yang memang konsentrasi tenaga kerjanya cukup tinggi.

Lanjut.

Untuk 2022 kami sampaikan pertama adalah dari indikatif, indikatifnya, PUPR kita lihat dari 176,68 (rekaman kurang jelas) triliun. Kemudian finalnya adalah di 100,59 triliun, untuk Bina Marga dari indikatif 68,10 (rekaman kurang jelas) triliun, finalnya adalah di 39,7 triliun seperti yang tadi sudah disampaikan oleh Bapak Ketua.

Dan ini ada beberapa hal yang saya kira perlu diinformasikan dan cukup penting adalah target kemantapan kita, turun Pak tahun depan ini, nanti penyebabnya akan kami sampaikan, menjadi hanya 90,71% sebab-sebabnya apa nanti akan kami sampaikan.

Lanjut, ini jauh dari target 94%. Jadi permasalahan utama adalah kenapa kita turun ini adalah yang pertama adalah backlog-nya, jadi backlog kumulatif kita sampai 2022 adalah sebesar 50 triliun. Untuk preservasi jalan sendiri yang memang anggaran utama untuk mempertahankan dan meningkatkan kemantapan itu ada backlog sebesar 14,9 triliun.

Jadi, ini kita akan mengalami lebih dari 1 persen penerimaan kemantapan, artinya apa artinya jalan nya rusak akan bertambah di 2022 dan ini makin jauh dari target kemantapan di Renstra. Nah, hitung-hitungan simulasi kami dari aset manajemen sistem kita untuk mempertahankan penempatan jalan itu kita butuh 22 triliun tapi kenyataannya kita kurang dari 20 triliun. Dan untuk mencapai Renstra kita membutuhkan anggaran 2022 adalah sebesar 30 triliun.

Jadi, ini cukup jauh dari mempertahankan maupun untuk apalagi untuk meningkatkan karena anggaran yang tersedia untuk preservasi jalan nasional itu hanya 18 triliun. Nah, ini perlu kita sampaikan kenapa terjadi penurunan ini, ini adalah pertama karena jalan-jalan kita dan jembatan kita sudah banyak yang aging, jadi usianya sudah, usia layannya sudah tidak sedikit ya, dan ini kami terus terang saja kami sampaikan di sini kekhawatiran kami bahwa keterlambatan dalam penanganan ini akan menimbulkan biaya yang lebih besar lagi apabila kita tunda.

Jadi, kami sedang memikirkan bagaimana caranya untuk penanganan jembatan-jembatan jalan dan jembatan yang aging ini. Jadi saat ini disamping jalan yang rusak, ada sekitar hampir 3000 km jalan yang hampir rusak, yang membutuhkan segera penanganan preventif. Ini yang belum banyak kami bisa tangani di tahun ini, lanjut.

Jadi, ini kita lihat setiap tahun kita memang ada backlog kebutuhan preservasi jalan dan jembatan dari apa yang tercantum dalam Renstra dan untuk mencapai target di Renstra, lanjut.

(9)

Ini kami juga ingin menyampaikan penanganan jalan nasional yang juga memakan setiap proporsi sampai tahap tertentu ketersediaan anggaran untuk penanganan jalan nasional, lanjut.

Ini kami sampaikan postur anggaran untuk tahun 2022, ini kita ada 39,7 triliun kalau kita lihat ini didominasi oleh rupiah murni, tapi juga ada proporsi yang cukup besar dari SBSN yaitu sekitar kira-kira 23%, lanjut.

Nah, ini kalau kita lihat postur anggaran secara (rekaman kurang jelas) kompetensinya jadi untuk Dukman (dukungan manajemen) itu sekitar 6%, 2,4 triliun sedangkan untuk program konektivitas core bisnis kita adalah sebesar 93,9% atau sekitar 37 triliun.

Untuk pembangunan jalan proporsinya kami sampaikan sekitar 13,79%, untuk pembangunan underpass 13,4%, adapun untuk ketersediaan jembatan 52,84%. Ini yang sebenarnya secara postur anggaran, ada kebutuhan untuk meningkatkan proporsi preservasi jalan cuman kita lihat bahwa memang ruang fiskal kita sangat terbatas, lanjut.

Jadi, kira-kira ini ruang fiskal yang bisa kami sampaikan Pak Ketua dan Ibu Bapak Anggota, jadi yang sudah kami hitung sudah hampir setengahnya Pak, 48% kemudian ada sekitar 14% yang memang merupakan hal yang wajib kita penuhi tidak bisa kita tinggalkan. Sehingga yang non komite di ruang fiskal kita hanya sekitar 18 triliun yang bisa kita gunakan untuk preservasi jalan dan jembatan.

Jadi, ini memang ruang fiskal kita juga postur anggarannya menjadi sangat terbatas karena tingginya project-project yang sifatnya commited dan ada hal-hal yang tidak bisa kita tinggalkan, lanjut.

Adapun untuk rencana 2022 kami sampaikan Pak Ketua dan Bapak Ibu Anggota, mungkin detailnya saya tidak akan saya bacakan satu per satu, saya kira bisa dibaca di bahan yang sudah kami sampaikan. Yaitu antara lain adalah pembangunan jembatan seperti Sei Wampu, Way Rarem, Ciloseh dan seterusnya, kemudian preservasi dan pengerjaan jembatan (rekaman kurang jelas) dan seterusnya. Kemudian untuk infrastruktur jalan ada pembangunan jalan 354 kilometer, kemudian peningkatan kapasitas dan preservasi peningkatan struktur tersebar di berbagai tempat di Indonesia.

Dan, juga ada penanganan-penanganan besar dan tanggap darurat yang sudah tercapai. Kemudian untuk flyover antara lain adalah flyover (rekaman kurang jelas) kemudian tol yang tahun ini kita akan inisiasi untuk dukungan APBN nya adalah Serang-Panimbang, Semarang-Demak disamping juga dukungan untuk lahan jalan tol, lanjut.

Untuk padat karya kami laporkan Pak untuk yang sifatnya yang penting saya kira yang swakelola jadi jalan dan jembatan itu terdapat anggaran 4,5 triliun untuk padat karya dengan rancangan penyerapan tenaga kerja 55.660 orang yang terdiri dari (rekaman kurang jelas) jalan sekitar 1,59, 1,559 triliun, kemudian untuk jembatan 397 miliar, drainase 506 miliar dan yang kontraktual

(10)

ada sekitar 1,98 triliun. Khusus yang swakelola itu kami sudah instruksikan kepada balai agar sejak awal berkoordinasi dengan Bapak dan Ibu di Komisi V mulai dari tahap perencanaan sampai ke pelaksanaannya, untuk itu nanti mohon bantuannya untuk kerjasamanya, lanjut.

Ini alokasi masih sama didominasi terutama adalah di Sumatera dan Jawa kita menyesuaikan dengan ketersediaan atau konsentrasi tenaga kerja yang ada, lanjut.

Nah, ini progres sampai saat ini kami sampaikan progres kita baru mencapai 3,06% memang sudah ada deviasi, lanjut.

Kemudian yang tadi untuk penyerapan kita juga sudah melakukan (rekaman kurang jelas) dan sudah terkontrak dari keseluruhan paket sebesar sebanyak 1.701 paket, 803 paket sudah terkontrak itu senilai sekitar 19,65 triliun. Kemudian ada 262 paket yang dipersiapkan, kemudian yang sedang dalam proses lelang itu sebanyak 372 paket dan yang belum lelang 293 paket ini biasanya adalah kegiatan kegiatan yang masih dalam proses desain atau ada arahan-arahan khusus yang sebenarnya harus kita persiapkan agak terlambat, lanjut.

Saya kira itu Pak Ketua dan Bapak Ibu Anggota Komisi V yang kami hormati laporan dari Bina Marga, atas perhatiannya kami ucapkan terima kasih.

Assalamualaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh.

F-P. GOLKAR (Ir. RIDWAN BAE)/WAKIL KETUA KOMISI V DPR RI:

Terima kasih Pak Dirjen Bina Marga, selanjutnya dengan Pak Dirjen SDA, silakan Pak Dirjen.

DIREKTUR JENDERAL SUMBER DAYA AIR PUPR RI (Ir. DJAROT WIDYOKO, Sp-1):

Terima kasih Bapak Pimpinan.

Yang kami hormati Bapak Pimpinan Ketua, Wakil Ketua Komisi V DPR RI, Yang kami hormati Bapak Ibu Anggota Komisi V baik yang hadir fisik maupun secara virtual.

Yang kami hormati pula Bapak Ibu Dirjen dari Bina Marga, Bina Konstruksi, dan Kepala LPJK.

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, Shalom Om Swastiastu,

Namo Budaya, dan Selamat siang.

Sebelumnya Bapak Pimpinan Komisi V pada kesempatan yang baik ini, kami melaporkan kehadiran seluruh balai dari Sabang sampai Merauke untuk kalau wilayah sungai, total 37 balai, balai besar maupun kecil dan juga ada 9

(11)

balai teknik jadi totalnya ada 46 balai yang hadir. Kami laporkan juga pada kesempatan ini ada 2 orang, 1 balai Teknik rawa, ini mohon izin tapi juga diwakili karena sedang mengikuti diklat PIM II, sedangkan satu balai dari balai (rekaman kurang jelas) dan geologi geoteknik keairan sedang sakit, ini juga diwakili.

Pada kesempatan yang baik ini kepada Bapak Pimpinan Komisi V, kami sampaikan juga hadir pada kesempatan ini adalah 11 Pejabat Tinggi Pratama, para Direktur, lalu (rekaman kurang jelas) dan Kapus (rekaman kurang jelas)

Mohon izin berkenan Bapak Pimpinan dan Bapak Ibu Sekalian, kami ingin menyampaikan laporan kegiatan tahun 2021 dan program kerja tahun 2022. Mohon izin kami akan men-share. Lanjut.

Dari total anggaran Kementerian PUPR tahun 2021 sebesar 161,31 triliun di mana realisasi anggarannya 94,73 triliun dengan realisasi fisik sebesar 95,12%. Total anggaran tidak terserap untuk Kementerian PUPR 8,5 triliun.

Pada kesempatan yang baik ini kami laporkan Direktorat Jenderal Sumber Daya Air sebesar 94,75% atau 53,9 triliun dari Pagu Total 56,89 triliun. Dengan realisasi fisik sebesar 96,60%, anggaran yang tidak terserap sebesar 2,96 triliun yang terdiri dari dana yang diblokir, sisanya yang, karena saat itu (rekaman kurang jelas) dibuatkan belakang bulan bulan belakangan. Lalu juga ada dana dari loan dan alokasi dana dari SBSN dan juga ada dari kegiatan swakelola kebanyakan adalah dari (rekaman kurang jelas) yang di padat karyakan yang tidak dapat dilaksanakan karena kondisi pandemi covid-19.

Bersama ini dapat kami jelaskan kepada Bapak Ibu yang kami hormati bahwa anggaran tahun 2021 adalah sebesar 2,99 triliun, yang terdiri dari dana umum sebesar 0,81 triliun dan alokasi pendanaan dari SBSN sebesar 0,88 triliun. Di mana sisa anggaran PHN dan SBSN ini tidak dapat dimanfaatkan untuk kegiatan baru sehingga diserahkan kembali kepada Kementerian Keuangan sebagai SILPA sedangkan sisa anggaran rupiah adalah sebesar 1,29 triliun ini juga sebagai SILPA yang terdiri dari dana blokir 0,09 triliun lalu juga sisa lelang, yang waktu saat itu lelangnya sudah tidak memungkinkan lagi untuk direvisi kurang lebih 0,76 triliun, sedangkan sisa pengadaan tanah proses pembebasan lahannya mepet melewati tahun anggaran kurang lebih 0,44 triliun.

Bapak Ibu yang kami hormati bersama ini juga kami sampaikan capaian pembangunan infrastruktur Tahun Anggaran 2021 bidang Sumber Daya Air yang terdiri dari 48 bendungan, 48 bendungan terdiri dari 32 onging yang sekarang sedang berjalan. Lalu 15 sudah selesai dan sudah diresmikan dan 1 adalah bendungan baru. Total bendungan yang sudah selesai sampai dengan tahun 2021 sebanyak 29 bendungan dengan kapasitas tampung sebesar 1,77 milliar meter kubik yang terdiri dari 14 bendungan selesai tahun 2014 sampai 2020 dan 15 bendungan selesai di tahun 2021.

Yang B ada penambahan luasan daerah irigasi sebesar 22.900 hektar.

Lalu juga ada daerah irigasi yang direhabilitasi kurang lebih 364 ribu hektar, dan kita juga membangun 43 embung dan juga 261 km pengendali banjir,

(12)

pengaman pantai untuk perlindungan 9.800 hektar kawasan terdampak banjir dan juga kita menyiapkan 4,57 meter kubik per detik layanan air baku.

Bapak Ibu yang kami hormati, pada kesempatan yang baik ini, juga kami laporkan untuk program padat karya tahun 2021 terealisasi sebesar 6,52 triliun dengan penerima manfaat sebanyak 361.000 pekerja. Dalam rangka pemograman Tahun Anggaran 2022, Direktorat Jenderal Sumber Daya Air melaksanakan arahan Menteri PUPR yaitu Optimalisasi Pemeliharaan Operasi dan Rehabilitasi atau disingkat di sini adalah OPOR. Alokasi anggaran tahun anggaran tahun 2022 sebesar 41,23 triliun yang terdiri dari belanja modal 29,79 triliun; belanja barang 10,34 triliun; dan belanja pegawai 1,10 triliun.

Selanjutnya, dapat kami laporkan juga pelaksanaan tender pada tahun 2022 dilakukan pada 1.496 paket senilai 11,59 triliun. Status per hari ini dapat kami laporkan sebagai berikut. Jumlah paket yang belum dilelangkan sebanyak 272 paket senilai 2,78 triliun, sedangkan jumlah paket yang sedang dalam proses lelang sebanyak 825 paket senilai 5,97 triliun dan jumlah paket yang sudah tender dan siap berkembang sebanyak 213 paket senilai 1,71 triliun.

Jumlah paket kontrak sampai saat ini sebanyak 186 paket senilai 1,12 triliun.

Bapak ibu yang kami hormati,

Untuk target pembangunan infrastruktur SDA tahun 2022 antara lain dapat kami sampaikan adalah 10.035 hektar untuk daerah irigasi, 142.615 hektar rehabilitasi jaringan irigasi, 35 bendungan termasuk di dalamnya dua baru plus 33 (rekaman kurang jelas) dan juga 21 embung ditambah membangun pengendali tanggul dan pengaman pantai sepanjang 157 kilometer dan juga menambah ketersediaan air bersih sebesar 2,86 meter kubik per detik.

Pada kesempatan yang baik ini kami sampaikan beberapa program strategis yang dilaksanakan tahun 2022 dapat kami laporkan sebagai berikut.

Antara lain kegiatan irigasi dan rawa ini mungkin tidak kami sebutkan satu per satu tetapi nanti di dalam buku laporan paling tidak sebagian besar sudah kami sampaikan antara lain. Rehabilitasi daerah irigasi Pantai Lhok (rekaman kurang jelas) di Aceh, lalu juga pembangunan irigasi Cidilati Tano (rekaman kurang jelas) di Sumut, Daerah irigasi Batang Ase (rekaman kurang jelas) di Jambi, daerah (rekaman kurang jelas) di Kaltim, (rekaman kurang jelas) dan tanah wilih di Papua, dan lain lain Bapak Ibu.

Selanjutnya mengenai kegiatan sungai pantai antara lain pengendalian banjir di sungai (rekaman kurang jelas) sungai Kampar dan Indragiri, sungai (rekaman kurang jelas) sungai bendung, (rekaman kurang jelas) dan juga ada sungai walanae dan pengaman pantai (rekaman kurang jelas) dan cabang di sungai (rekaman kurang jelas) Papua dan pengendali banjir (rekaman kurang jelas) Merauke, dan lain lain.

Sedangkan kegiatan bendungan dan danau ini ada mungkin kurang lebih 33 bendungan. Antara lain, Sadawarna, (rekaman kurang jelas) lalu juga ada bendungan baru adalah (rekaman kurang jelas) di Danau Toba, danau

(13)

(rekaman kurang jelas) danau (rekaman kurang jelas) Kelimutu, Tondano dan lain lain.

Pada kesempatan yang baik ini kami sampaikan kegiatan air tanah dan air(rekaman kurang jelas) antara lain (rekaman kurang jelas) di Tanah Toraja dan (rekaman kurang jelas) dan pemanfaatan bendungan dalam hal ini (rekaman kurang jelas). Pada tahun 2022 direncanakan program padat karya sebesar 4,85 triliun yang terdiri dari (rekaman kurang jelas) 2,25 triliun dengan target penyerapan tenaga kerja 179 ribu orang, program ABSAH sebesar 145 miliar dengan target penyerapan tenaga kerja 4.640 orang. PP (rekaman kurang jelas) dengan pola padat karya 2,455 triliun dengan target penyerapan tenaga kerja kurang lebih sebesar 166 ribu orang. Jumlah kira kira ditotal tenaga kerja yang akan terserap di tahun 2022 sebesar 350 ribu orang.

Bapak ibu yang kami hormati.

Ada beberapa hal yang kami sampaikan antara lain bahwa pada saat rapat kemarin rencana ada penambahan untuk kegiatan padat karya, nanti kami akan menunggu dari sisa tender seperti yang disampaikan Bapak Menteri dan kami juga akan kami laporkan pada rapat dikemudian.

Demikian Bapak Ketua, Bapak Pimpinan dan Bapak Ibu Anggota Komisi V yang kami hormati, yang bisa kami sampaikan. Kurang lebih kami mohon maaf, akhir kata

Wassalamuikumsalam Warrahmatullahi Wabarakatuh.

F-P. GOLKAR (Ir. RIDWAN BAE)/WAKIL KETUA KOMISI V DPR RI:

Makasih Pak Djarot, Pak Dirjen, utamanya yang padat karyanya itu mejadi perhatian itu Pak, harapan rakyat kita di daerah.

DIREKTUR JENDERAL SUMBER DAYA AIR PUPR RI (Ir. DJAROT WIDYOKO, Sp-1):

Siap Bapak

F-P. GOLKAR (Ir. RIDWAN BAE)/WAKIL KETUA KOMISI V DPR RI:

Makasih sekali lagi Pak Dirjen

DIREKTUR JENDERAL SUMBER DAYA AIR PUPR RI (Ir. DJAROT WIDYOKO, Sp-1):

Siap Bapak

F-P. GOLKAR (Ir. RIDWAN BAE)/WAKIL KETUA KOMISI V DPR RI:

Berikutnya Pak Dirjen Bina Konstruksi, juga 15 menit Pak Yah, Pak Dirjen Bina Marga, Dirjen Sumber Daya Air masing-masing 15 menit nih, pas.

(14)

Bapak juga paling lama 15 menit paling lama yah Pak, Pak Dirjen Bina Konstruksi. Silakan.

DIREKTUR JENDERAL BINA KONSTRUKSI KEMENTERIAN PUPR RI (Ir.

YUDHA MEDIAWAN, M.Dev. Plg.):

Baik terima kasih.

Yang kami hormati Pimpinan Komisi V DPR RI.

Bapak Ibu Anggota Komisi V.

Serta rekan-rekan dari Kementerian PUPR.

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Selamat siang.

Salam sejahtera untuk kita semua.

Shalom.

Perlu saya laporkan bahwa DBK sebanyak 34 balai telah hadir, ditambah 7 balai Jasa Konstruksi Wilayah jadi total ada 41 balai yang hadir Pak dalam kegiatan RDP siang hari ini.

Bapak ibu yang kami hormati bahwa komplek DBK ini kami sudah menciptakan outline. Yaitu yang pertama adalah capaian untuk tahun 2021 dengan (rekaman kurang jelas) kemudian folder-folder yang telah dilakukan pembinaan tenaga kerja dalam pelayanan pengadaan barang dan jasa.

Sementara untuk rencana kerja tahun 2022 ini juga kaitannya dengan background pagu Tahun Anggaran 2022 serta target dari pembinaan, next.

Untuk pagu Direktorat Jenderal Bina Konstruksi 2022 ini ada data secara historical dibagi menjadi 3 di mana didalamnya ada belanja pegawai, belanja barang operasional, dan belanja barang non-operasional serta belanja modal.

Di sini kita dapat melihat bahwa pagu (rekaman kurang jelas) ini 3 tahun terakhir mengalami penurunan akibat ada kebutuhan dana untuk covid, dan juga yang banyak berkurang di sini adalah kegiatan untuk (rekaman kurang jelas). Yaitu untuk belanja barang non-operasional serta kegiatan penggunaan.

Untuk yang lainnya ini relatif tetap dan menambah sedikit, tentu ini adalah capaian yang di tahun 2021 ini dengan progres fisik untuk Direktorat Jenderal Bina Konstruksi itu kurang lebih 98,54%. Sementara untuk keuangannya 97,54 jadi untuk realisasi keuangan ini untuk Direktur Jenderal Bina Konstruksi yang tertinggi, tapi ini karena pagu DJBK tidak Direktorat Jenderal habisin maka tidak memberikan kontribusi yang signifikan untuk (rekaman kurang jelas) air dari Kementerian PUPR.

Bapak ibu yang saya hormati

Bahwa untuk di 2021 ada beberapa catatan produk atau pengaturan dari Direktorat Jenderal Bina Konstruksi (rekaman kurang jelas) Adapun standar prosedur dan kriteria ataupun produk pengaturannya adalah 3 NSPK yang

(15)

kaitannya penyelenggaran jasa konstruksi, kemudian keempat NSPK pengadaan barang dan jasa, NSPK material dan peralatan konstruksi serta NSPK yang terkait dengan sertifikasi tenaga kerja konstruksi dan badan usaha jasa konstruksi. Dan 6 NSPK untuk konstruksi yang berkelanjutan serta NSPK izin perusahaan. Nah ini tentu mungkin NSPK izin perusahaan serta sertifikasi ini berkaitan erat dengan tugas dan fungsi LPJK yang baru.

Untuk capaian pembinaan tenaga kerja konstruksi di tahun 2021 ini capaiannya kurang lebih 85% di mana sebarannya sesuai dengan target dan dapil dari Anggota Komisi V. Dan kegiatan ini diselenggarakan melalui 7 balai jasa konstruksi wilayah yang wilayah 1 itu letaknya di Aceh, kemudian wilayah 2 di Palembang, wilayah 3 ada di DKI, kemudian wilayah 4 Surabaya, dan wilayah di 5 Banjarmasin dan serta wilayah 6 di Sulawesi, terakhir wilayah 7 di Papua. Dari target 5.500 orang ini laris kurang lebih 4.717 orang.

Untuk capaian pelatihan sertifikasi tenaga bagian konstruksi di 2020- 2021 dengan target 125.000 orang realisasinya itu kurang lebih 99.000 orang kurang lebih 84%. Ini terdiri dari tenaga (rekaman kurang jelas) dan tenaga kerja konstruksi operasional yang mempunyai keahlian seperti ini di SMK ataupun di D3 di perguruan tinggi.

Kemudian untuk anggaran 2021 sendiri ini dari 52.857 orang dapat terlaksana kurang lebih 74.400 orang. Jadi melampaui target sebesar 141%

yang tentu kalau ini dijumlahkan, kurang lebih sudah menghasilkan tenaga kerja konstruksi baik yang ahli dan terampil dari 2020 sampai 2021 179.309 orang terdiri dari tenaga kerja konstruksi yang regular dan operasional.

Untuk capaian layanan pengadaan barang dan jasa di 2021, yang seperti kita ketahui, pagu atau kebijakan yang dilelangkan untuk di Kementerian PUPR ini kurang lebih 111,5 triliun dengan total paket 5.461. Ini terdiri dari jasa lainnya dan barang 2021, jasa konsultasi ini 2.448, dan pekerjaan konstruksi atau kontraktor 2.680. Dengan sumber dana baik itu dari rupiah murni, SBSN dan (rekaman kurang jelas)

Dari jumlah paket itu sebarannya kurang lebih seperti yang ada dalam tayangan, untuk SDA yaitu mencapai 99,25% dari total paket, dari jumlah paket yaitu dapat dilelangkan. Bina Marga kurang lebih 98,69% dan Cipta Karya 98,19%, Perumahan 100%, Sekretariat Jenderal, Inspektorat, BPSDM, BPIW dan Infrastuktur itu kurang lebih koma 32% (rekaman kurang jelas). Jadi total dari pagu Kementerian PUPR yang 111,51 triliun, 5.491 paket itu yang selesai dilelangkan itu kurang lebih 5.472 dengan capaian realisasi kurang lebih 100,72% atau 98,94% dari jumlah paket.

Bapak ibu yang saya hormati

Sejalan dengan itu kami juga di Direktorat Jenderal Bina Konstruksi ini mendominasi penghargaan, jadi kita terus melakukan perbaikan-perbaikan dengan melakukan digital proses pengadaan dan sistem informasi jasa konstruksi. Dimana di dalamnya itu ada beberapa aplikasi yang sudah dahulu

(16)

keberadaannya sudah ada dan melakukan optimalisasi dengan melakukan integrasi.

Contoh, SIKI itu Sistem Informasi Konstruksi Indonesia sudah ada semenjak zaman LPJK yang dahulu, dan datanya sudah tersimpan dengan baik di dalamnya terdapat data badan usaha jasa konstruksi, (rekaman kurang jelas) konstruksi, asosiasi, kemudian lembaga sertifikasi baik profesi dan badan usaha, begitu juga dengan sistem informasi matrial peralatan konstruksi. Itu juga sudah ada, tinggal kita lakukan intensifikasi dan sedikit pemaksaan supaya ini bisa berjalan.

Nah, tentu ini juga seiring dengan sistem informasi (rekaman kurang jelas) yang sudah berjalan, dan ini juga ada yang dilakukan pengawalan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi, yaitu aplikasi sistem informasi yang terintegrasi. Jadi nanti, APS ini di dalam sistem ini juga memuat database katalog harga satuan wilayah serta harga satuan jasa dan harga perkiraan sendiri, yang dilakukan secara profesional oleh PPK berdasarkan Permen PU yang ada.

Juga nanti terkoneksi atau online dengan data Dukcapil, data kependudukan sehingga NIK, baik tenaga kerja ataupun tenaga kerja konstruksi ataupun yang tenaga ahli di konsultan itu benar benar tidak bisa dilakukan duplikasi ataupun (rekaman kurang jelas), begitu juga dengan SPSE yang telah dikembangkan oleh LKPP ini juga kita online-kan. Dan yang baru saja di launching tahun lalu kaitannya dengan perizinan yang seperti itu, tentu ini juga masih ada sedikit kendala karena (rekaman kurang jelas) belum sepenuhnya lancar tapi ini sedang kita usahakan dengan bersama-sama Kementerian Investasi agar proses perizinan seperti yang disampaikan Bapak Menteri, tidak terlambat untuk bidang jasa konstruksi.

Kemudian juga dengan pajak juga online, jadi pengalaman pekerjaan tidak bisa lagi dilakukan setengah aspal gitu ya, jadi benar benar tertelusur nantinya sehingga (rekaman kurang jelas) itu bisa dijadikan menjadi referensi dan juga (rekaman kurang jelas) di Kemenkumham.

Kemudian yang sesuai dengan aksi dari (rekaman kurang jelas) KPK dan juga keinginan Bapak Presiden terkait dengan percepatan untuk, kita juga mengembangkan katalog, jadi e-catalogue sektoral.

Jadi e-catalogue-nya ada tiga, e-catalogue nasional yang dikelola oleh LKPP, kemudian e-catalogue yang dikelola daerah. Nah kami di Kementerian PUPR ini, sebagai e-catalogue sektoral bidang konstruksi. Ini sudah cukup terbayang komoditas yang ditayangkan, kurang lebih ada 14 etalase atau komoditas. Jenis sebarannya, untuk SDA itu ada 4 komoditas dengan penyedia jasa 25 penyedia (rekaman kurang jelas)

Kemudian Bina Marga juga begitu, 4 etalase untuk komoditasnya (rekaman kurang jelas) Cipta Karya juga ada 4 dengan 16 penyedia, 17 produk (rekaman kurang jelas) serta 7 produk Cipta Karya dan rumah produk bersama.

Artinya produk bersama ini, bersama-sama dengan sektor lain mungkin SDA,

(17)

(rekaman kurang jelas) ataupun produk (rekaman kurang jelas). Begitu juga perumahan, ini produk bersama dengan Cipta Karya untuk rumah (rekaman kurang jelas) atapun (rekaman kurang jelas) ada 2 komoditas.

Jadi total semua ini ada 141 produk, ini kami berharap semakin banyak penyedia yang nantinya ikut kontrak dan dapat tayang di dashboard-nya LKPP sehingga proses lelang ke depan nyaman, singkat ya ini proses penunjukkan untuk memiliki e-catalog ini hanya 7 hari yang untuk beberapa payung yang dilakukan verifikasi dan harga mengikuti harga pasar.

Jadi LKPP sedang menyusun bahwa kalo anggaran telah (rekaman kurang jelas) ada semacam sistem pinalti bagi penyedia. Untuk pembelanjaan melalui catalogue electronic, next. Ini sudah dilakukan sampai saat ini kurang lebih hampir 500 miliar. Jadi itu kegiatannya untuk alat berat oke, SDA yang termasuk (rekaman kurang jelas) mobile PAM yang dilakukan oleh Cipta Karya.

Kemudian preservasi jalan ini (rekaman kurang jelas) antara material dan juga jasa. Tapi preservasi itu tidak terlalu lelang, cukup nanti didasarkan katalog wilayahnya. Bisa ditinggali pesan dan demikian juga untuk jalan jembatan pada jembatan dan kendaraan untuk mobil (rekaman kurang jelas).

Kemudian ini terkait dengan sektoral ini tentu Pemerintah Daerah juga berkepentingan untuk melakukan pengadaan, ini juga kami untuk membuka akses untuk komoditas (rekaman kurang jelas) kurang lebih 177,5 miliar, dan total keseluruhan kurang lebih 677. Ini ke depannya kami berharap juga bisa meningkat lebih banyak lagi di sektor ini yang menyiapkan untuk percepatan komoditas yang akan ditayangkan.

Untuk rencana kerja di (rekaman kurang jelas) Bapak Ibu yang saya hormati, bahwa kegiatan ini berdasarkan kronologis dari angka yang didapat baik itu dari pagu indikatif, pagu dipa dan pagu akhir di, itu kurang lebih dari 750,9 miliar dan atau pagu indikatif 600 sampai dengan pagu dipa itu kurang lebih 574 miliar. Dan tentu ini sejalan dengan program di Dirjen Bina Konstruksi untuk 2022 dan dukungan manajemen kurang lebih 524,9 miliar, sementara untuk Pendidikan Pelatihan Vokasi yang dilaksanakan oleh Balai Jasa Konstruksi Wilayah, tolong dilanjut, itu nantinya akan dilaksanakan berdasarkan dengan apa yang diusulkan oleh Bapak Ibu, aspirasi dan juga yang reguler.

Jadi itulah kurang lebih total pagu 600 miliar itu dengan breakdown bahwa belanja pegawai ini mendominasi kurang lebih 28,5%. Jadi di sini gaji tunjangan di 48 satker baik yang di pusat dan di daerah. Dalam hal ini daerah itu adalah UPT (rekaman kurang jelas) Pelaksanaan Jasa Konstruksi yaitu BP2JK dan Balai Konstruksi Wilayah (rekaman kurang jelas). Kemudian belanja barang non operasional untuk menunjang dari pembinaan dan program vokasi yang saya. Serta ada juga belanja barang operasional untuk operasi di satker sebanyak 48. Nah belanja modal ini masih ada tinggalan untuk pembayaran kontrak dari konstruksi (rekaman kurang jelas).

F-P. GOLKAR (Ir. RIDWAN BAE)/WAKIL KETUA KOMISI V DPR RI:

(18)

Hilang Pak, hilang suaranya. Pak Dirjen hilang suaranya Pak Dirjen, Pak Yudha.

Sudah kedengaran, hilang lagi, hilang lagi Pak Dirjen. Pak Yudha hilang, hilang. Ya sekarang bagus, dipersingkat saja Pak Yudha. Dipersingkat ya.

DIREKTUR JENDERAL BINA KONSTRUKSI KEMENTERIAN PUPR RI (Ir.

YUDHA MEDIAWAN, M.Dev.Plg.):

Ini ada yang terakhir adalah agenda utama untuk Quick Win yang akan dilakukan pada pembinaan konstruksi 2022 sampai 2024 itu ada 8 kurang lebih yaitu operasional Sistim Informasi Jasa Konstruksi Terpadu terintegrasi, kemudian modernisasi PBJ, peningkatan tertib penyelenggaran jasa konstruksi, ini pertama untuk kaitannya tindak lanjut dari Undang-Undang Cipta Kerja dan peraturan yang ada di bawahnya.

Kemudian pengembangan sistem rantai pasok kemudian juga peningkatan kompetensi tenaga kerja konstruksi yang akan terus kita lakukan baik itu yang terampil dan ahli. Dan juga reposisi kelembagaan, baik itu yang ada di pusat dan di daerah. Kemudian pembentukan tempat uji kompetensi dan penyelesaian sertifikasi masa transisi yang sedang kita lakukan juga. Dan terakhir adalah revisi PP No.5 Tahun 2021.

Bapak Ibu yang saya hormati.

Ini yang target dari pembinaan tenaga kerja konstruksi tahun 2022, yaitu total kurang lebih 46.790 orang, regulernya adalah 17.800 dan vokasional 28.990 tersebar di 7 wilayah balai jasa konstruksi wilayah dan tentu ini juga sesuai dengan usulan Anggota Komisi V, ada 11 ribu orang yang nantinya akan dilakukan kegiatan tersebut.

Untuk pelaksanaan tender di ini 2022, ini paket di 2022 ini jumlahnya menurun dari yang tadinya 5.400 menjadi 3.600 dengan pagu 71,3 triliun. Dan ini sebarannya juga untuk SDA kurang lebih yang sudah melakukan proses pelelangan 17,91%, Bina Marga yang tertinggi 42,6%, Cipta Karya ini yang cukup rendah, 4,18% perumahan juga sangat rendah 2,09% sementara untuk SIBBPI 18,97%. Jadi dari itu rata-rata total untuk Kementerian PUPR yang sudah selesai tender 860 paket dengan total 23,89%.

Untuk upaya perbaikan terkait dengan regulasi perizinan berusaha ini sertifikat yang sedang diproses ini dalam masa transisi baik itu untuk LSP dan SBU maka untuk dilakukan relaksasi hingga 31 Juli 2022. Dan ini dapat digunakan sebagai perikatan untuk kontrak. Ini banyak tadinya klaim ataupun apa namanya keberatan dari Badan Usaha Jasa Konstruksi, dan ini kita sudah melakukan relaksasi sehingga bisa dipakai sementara dalam proses penyelesaian oleh LPJK. Kemudian Surat Edaran Menteri PUPR Nomor 3 ini penyelesaian sertifikasi untuk Jobker yang belum ada LSP, pengampunya ini akan diperpanjang satu tahun sampai Desember 2022. Nah, ini setelah itu ini akan dilakukan sesuai dengan peraturan pemerintah yang berlaku (rekaman kurang jelas) terkait dengan perizinan.

(19)

Kemudian ketiga adalah Surat Edaran Menteri PUPR Nomor 21 kaitannya dengan konversi KBRI 2015, 2020 untuk badan usaha, dan ini perlu dilakukan karena memang ada sedikit perbedaan, tentu ini yang merupakan suatu upaya kita di masa transisi sehingga nantinya bisa smooth untuk proses konversinya.

Kemudian operasionalisasi secara teknik baik untuk lisensi LSBU, LSP melalui OSS. Untuk yang BUJK asosiasi, BUJK dan LSP yang teregistrasi dan terakreditasi di LPJK. Dan ini juga telah dilakukan relaksasi nantinya dengan persyaratan (rekaman kurang jelas) konstruksi pada penanggungjawab teknis badan usaha dan penanggungjawab sub-navigasi badan usaha. Jadi jumlah kualifikasi personil dan juga personil yang ada di masing-masing sub- klasifikasi. Juga nilai penjualan dan juga peralatan, ini kita lakukan relaksasi sehingga ini dapat memenuhi masa transisi tersebut.

Demikian yang dapat kami sampaikan atas paparan kami yang ini lebih dan kurangnya kami mohon maaf.

Wabillahitaufiq Walhidayah.

Wasallamualaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh.

F-P. GOLKAR (Ir. RIDWAN BAE)/WAKIL KETUA KOMISI V DPR RI:

Waalaikumsalam, Makasih Pak Yudha Pak Dirjen Bina Konstruksi.

Sudah tiga Dirjen yang kita lalui, tinggal pengurus LPJK. Silakan dari pengurus LPJK, juga kalo bisa dipersingkat Pak.

Pengurus LPJK mana? Iya silakan Pak.

KETUA LPJK KEMENTERIAN PUPR RI (Ir. TAUFIQ WIDJOYONO, M.Sc.):

Baik terima kasih, sudah Pak bisa terdengar Pak?

KETUA RAPAT:

Sudah sudah sudah, ya, silakan.

KETUA LPJK KEMENTERIAN PUPR RI (Ir. TAUFIQ WIDJOYONO, M.Sc.):

Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Salam sejahtera untuk kita semua.

Yang terhormat Bapak Pimpinan Komisi V beserta seluruh anggota.

Izinkan kami hari ini menyampaikan beberapa hal, laporan atas kinerja LPJK untuk 2021 dan juga untuk rencana 2022.

(20)

Yang kami hormati para Dirjen, Pak Dirjen Bina Marga, Bina Konstruksi dan Sumber Daya Air yang selama ini menjadi partner kami dalam proses kepengurusan LPJK ini.

Ibu Bapak sekalian, ada enam hal yang akan kami sampaikan, pertama evaluasi, program kerja, roadmap, pembentukan PTUK anggaran 2022 dan isu strategis lainnya.

Sebagai gambaran, apa yang sudah kami lakukan di tahun 2021, lisensi LSPU yang sudah dilakukan adalah 100% selesai, karena tugas kami adalah memberikan lisensi untuk LSPU, telah memberikan rekomendasi untuk lisensi LSP ada 144% lebih banyak dari yang direncanakan. Telah dilakukan akreditasi untuk asosiasi, memang ini baru 30% karena memang kesiapan bersama kami baik asosiasi maupun regulasinya, kemudian penyetaraan tenaga kerja asing sudah dilakukan namun baru 46% ini juga terkait dengan regulasi.

Kemudian tenaga ahli untuk penetapan, tenaga ahli pada saat kegagalan bangunan sudah selesai. Tenaga ahli eksisting untuk registrasi tercatat untuk SKA ada 66% yang sudah kita selesaikan. Dan kemudian TKK teknisi ada 87.500 terselesaikan 65.000 atau 75%. Kemudian SPU eksisting teregistrasi tercatat ada 32.000, lebih banyak dari yang direncanakan.

Meskipun sebenarnya jumlahnya yang diperlukan masih lebih banyak dan kemudian pengembangan ke proses yang berkelanjutan ini juga melebihi target.

Ibu Bapak sekalian, keseluruhan dari kegiatan ini telah diselesaikan dengan seluruh anggaran yang tersedia 29,7 miliar hanya terserap sekitar 90%.

Yang tidak terserap itu akibat dari remunerasi yang tahun kemarin 2021 belum bisa direalisasi.

Ibu Bapak sekalian yang kami hormati.

Ini adalah hal yang terpenting yang ingin kami sampaikan bahwa sesuai tugas LPJK, bahwa LPJK mendapat tugas tambahan dari Menteri untuk memproses sertifikasi pada saat transisi. Ada 146.886 permohonan, terproses 127.704 sekitar 89%, dan tersisa sejak 7 Desember 2021 tersisa 19.182 dan ini yang nanti akan kami selesaikan, perkiraannya akan selesai dalam waktu 5 bulan.

Ibu Bapak sekalian seluruh permohonan ke depan juga belum bisa diproses karena ada sebagian jabatan kerja yang belum bisa diampu oleh LSP.

Jadi LSP ini belum terbentuk, karena asosiasi pembentuknya belum terakreditasi, yaitu untuk Arsitektur, tata lingkungan, Arsitek Lanskap Iluminasi dan Desain Interior atau kita sebut ALIDI , dan perencanaan wilayah kota serta sains dan rekayasa teknik.

Ibu Bapak sekalian, atas dasar itulah maka kami menyusun roadmap secara umum dapat kami sampaikan bahwa untuk 2021 80% dari waktu LPJK

(21)

ada disiapkan atau menyiapkan aturan yang berlaku dan menyiapkan sertifikasi masa transisi.

Untuk 2022 harapan kami kita akan memulai proses, implementasi dari tugas-tugas tadi setelah peraturan-peraturan tadi tertentu. Kemudian inovasi dan determinasi atau pembangunan lebih lanjut akan dilakukan di 2023 dan 2024.

Ibu Bapak sekalian, untuk 2022 sampai 2024 khususnya untuk 2022, utamanya kami akan melakukan pembentukan PBOK atau Pengembangan PBOK bersama dengan Dirjen Bina Konstruksi, yang kedua menyelesaikan sertifikasi pasca masa transisi, yang tadi tersisa 19.600 sertifikat.

Mengoprasionalkan pencatatan berbasis sistem informasi jasa konstruksi terpadu, pengembangan program rantai pasok, akreditasi asosiasi, oprasional LSBU dan LSPI, ini yang penting Ibu Bapak sekalian, bahwa LPJK sudah tidak lagi melakukan sertifikasi, seluruhnya ditangani oleh LSP dan LSBU dan tugas LPJK adalah memfasilitasi dan mengkoordinasikan seluruh proses tadi yang melibatkan banyak pihak. Antara lain OSS, Pusdatin, LPJK sendiri, BNSP dan juga tentunya pihak-pihak lain yang terkait termasuk Kementerian Tenaga Kerja.

Kemudian meneruskan sertifikasi penilaian ahli, meningkatkan penyetaraan TKKA, kemudian pengembangan keprofesian berkelanjutan dan pemantauan serta melakukan evaluasi. Itu adalah tugas pokok terutama yang 10 pemantauan dan evaluasi akan dilakukan bersama Direktorat Jenderal Bina Konstruksi.

Ibu Bapak sekalian, saya kira untuk 2022 progres yang ada masih relatif kecil, tugas kami untuk membentuk PTUK ini masih dalam proses, kemudian sertifikasi masa transisi juga masih memerlukan penanganan lebih lanjut.

Harapan kami ini akan selesai dalam 4 bulan. Kemudian, operasionalisasi pencatatan SEJKT ini sudah 50% selesai, ini berkerja bersama tentunya dengan Pusdatin dengan Bina Konstruksi dan juga pihak-pihak lain yang terkait termasuk juga dengan Lembaga Sandi Negara.

Kemudian pengembangan program rantai pasok, ini masih belum berjalan. Melanjutkan akreditasi asosiasi ini juga belum berjalan, operasional LSBU dan LSP ini adalah kembali adalah tugas pokok kami, setelah LPJK tidak lagi menangani sertifikasi. Melanjutkan sertifikasi penilaian ahli, karena ini masih ada 10 wilayah yang masih kosong terutama ini dari perguruan tinggi kami harapkan partisipasinya dan selanjutnya meningkatkan penyetaran TKKA, ini sudah berjalan 18%, pengembangan keprofesian berkelanjutan ini juga sudah berjalan, kemudian pemantauan dan evaluasi ini sekali lagi ini adalah tugas pokok kami.

Ibu Bapak sekalian, PTUK menjadi penting terutama untuk beberapa jabatan kerja yang belum ada pengampunya dan mengingat bahwa pembentukan ini tidak sederhana, maka perpanjangan otomatis diberlakukan untuk yang belum ada pengampunya berlaku sampai dengan Desember 2022 sebagaimana tadi disampaikan oleh Bapak Dirjen Bina Konstruksi. Sementara

(22)

untuk yang sudah tercatat di LPJK dan juga sudah tercatat di LSBU atau LSP diperpanjang sampai dengan bulan Juli 2022.

Perpanjangan tadi untuk mengantisipasi berbagai masalah di mana kendala berbagai hal, kendala koordinasi dan kendala sistem. Sehingga dengan demikian, kami harapkan seminimal mungkin mengganggu dalam proses atau mengganggu kenyamanan dari para pemegang sertifikat.

Ibu Bapak sekalian, kami laporkan history pagu LPJK, jadi untuk 2021 total anggarannya adalah 29,7 sebagaian besar 50% digunakan untuk sertifikasi, 2,6 miliar digunakan untuk tugas utama, dan 12,3 miliar untuk rutin dan operasional termasuk pemeliharaan kantor dan lain-lain. Untuk pagu 2022 tersedia 15,3 miliar yang di mana akan digunakan untuk melakukan tugas utama 0,9 miliar, melanjutkan sertifikasi 7,2 miliar dan rutin operasional 7,2 miliar. Jumlah tadi sangat tidak mencukupi karena itulah kami mengusulkan melalui Dirjen Bina Konstruksi untuk mendapat tambahan 15,1 miliar. Untuk pembentukan PTUK dan juga rutin operasional. Rutin operasional ini menjadi besar karena untuk menggantikan remunerasi yang tahun kemarin tidak bisa terealisasi sehingga membebani tahun anggaran saat ini. Sehingga total 2022 kami mengharapkan anggaran bisa disiapkan sejumlah 30 miliar untuk bisa melaksanakan tugas-tugas LPJK.

Ibu Bapak sekalian, hal yang menjadi krusial saat ini akhir-akhir ini adalah dua, pertama adalah sertifikasi yaitu melanjutkan proses atau menyelesaikan proses, kemudian memperpanjang masa berlakunya SBU dan SKK sampai Juli dan juga sampai Desember dan yang ketiga yang dalam proses LPJK dan LSBU juga dapat digunakan dalam pengikatan kontrak sehingga sekali lagi tidak merugikan bagi pemegang sertifikat. Hal kedua yang menjadi krusial juga karena berbagai masukan dari masyarakat, dari Kadin dari Asosiasi ini adalah bagaimana perizinan berusaha ini diupayakan atau diusulkan untuk direlaksasi.

Yang pertama, penjualan tahunan yang sekarang diberlakukannya tiga tahun dalam proses pengusulan untuk menjadi 10 tahun. Kemudian peralatan per klasifikasi dirasa memberatkan oleh para pelaku jasa konstruksi dan ini sedang dalam proses pembahasan oleh Direktorat Jenderal Bina Konstruksi.

Demikian juga untuk proses permohonan sertifikasi bagi kantor perwakilan BUJKA yang saat ini belum bisa diproses di OSS dan ini harus diproses melalui portal perizinan, ini dalam proses persiapan. Kemudian tentunya kami melanjutkan pembentukan dan perluasan tugas untuk PTUK sehingga jabatan kerja yang belum terlayani oleh LSP bisa dilanjutkan.

Demikian Ibu Bapak sekalian, selanjutnya mohon masukan dan mohon arahan dari Ibu Bapak sekalian untuk perbaikan kinerja LPJK di masa mendatang.

Terima kasih.

Wassalamualaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh.

(23)

F-P. GOLKAR (Ir. RIDWAN BAE)/WAKIL KETUA KOMISI V DPR RI:

Wa’alaikumsalam.

Terima kasih Pak LPJK, maka sekarang sudah selesai tiga Dirjen dan satu LPJK. Kita mungkin persilakan dulu ada dua yang virtual dan ada empat yang fisik.

Mau virtual dulu baru kita atau cuma 2 orang nih? Virtual dulu ya, Pak Dewo? Fisik duluan? Ya kita hargain fisik yah. Hahahaha, silakan Pak Dewo, silakan Pak, dia yang minta, kita hargai.

F-P. GERINDRA (SUDEWO S.T., M.T.):

Kalau mau diberi ke Pak Irwan (rekaman kurang jelas) juga gak papa, kalau memang junior tidak menghargai senior ya silakan saja. Saya, terima kasih Pimpinan, mana ini mitra kita? Berada di mana ini Pimpinan?

ANGGOTA KOMISI V DPR RI:

Ada nih, ada ada ada Pak Dewo, dihormatin juga nih.

F-P. GERINDRA (SUDEWO S.T., M.T.):

Oh, tampakkan dong begitu. Siap, jadi sengaja saya hadir secara langsung di sini, karena rasanya tidak menjiwai kalau saya berbicara tidak di dalam ruangan ini. Saya ini selalu.

F-P. NASDEM (H. SYARIEF ABDULLAH ALKADRIE, S.H., M.H.) Menjiwai ya.

F-P. GERINDRA (SUDEWO S.T., M.T.):

Siap, bagaimana?

F-P. NASDEM (H. SYARIEF ABDULLAH ALKADRIE, S.H., M.H.) Menjiwai.

F-P. GERINDRA (SUDEWO S.T., M.T.):

Menjiwai, oh ini Pak Asep, senior kita.

F-P. NASDEM (H. SYARIEF ABDULLAH ALKADRIE, S.H., M.H.) Bukan, Pak Syarif

F-P. GERINDRA (SUDEWO S.T., M.T.):

(24)

Pak Syarif, oh bos kita ini Pak Syarif. Terima kasih Pimpinan.

Kepada Dirjen SDA, Dirjen Bina Marga, Dirjen Binkon dan LPJK dengan seluruh jajarannya, ya.

Saya ini Anggota DPR RI yang membawa Amanah, wakil, membawa Amanah dari rakyat karena memang dipilih oleh rakyat, baik pemilihannya itu meskipun melalui daerah pemilihan, tetapi Ketika sudah menjadi Anggota DPR RI, tugas dan kewajiban kami adalah kepada seluruh rakyat Indonesia, tidak hanya di daerah pemilihan saja. Jadi, kalau saya harus hanya berbicara daerah pemilihan saja itu berarti saya tidak bisa memahami apa yang terkandung dalam maksud sebagai Anggota DPR RI.

Terakhir ini ada satu dinamika tentang pembangunan Bendungan Bener di Kabupaten Purworejo, kalau saya sebagai Anggota DPR RI tidak melakukan pendalaman terhadap dinamika ini, saya khawatir dianggap tidak sebagai Anggota DPR RI yang amanah.

Tetapi pertama yang ingin saya sampaikan kepada Kementerian PUPR kepada Dirjen Sumber Daya Air, tentang dinamika ini adalah, saya secara pribadi maupun sebagai Anggota DPR RI Komisi V, memberikan support secara moral dan konstitusional bahwa perencanaan dan program pembangunan Bendungan Bener di Kabupaten Purworejo ini, harus tetap dilanjutkan, harus sampai betul-betul terealisasi. Karena manfaat daripada bendungan Bener ini diharapkan oleh banyak warga. Kalau berdasarkan data yang diberikan kepada kami bahwa bendungan Bener ini bisa mengairi sekitar 15.000 hektar. Kemudian punya multifungsi lagi juga.

Maka berbagai masalah berbagai dinamika yang terjadi di sana, harapan kami, harapan saya Dirjen Sumber Daya Air itu mampu mengatasi secara bijak, secara proporsional. Secara proporsional itu berarti ada satu keseimbangan antara fungsi dan tugas Dirjen Sumber Daya Air, kemudian juga azas keadilan, ya azas keadilan. Bahwa apa yang terjadi di sana itu betul betul harus menjadikan perhatian Direktorat Jenderal Sumber Daya Air. Jangan sampai pendekatannya adalah kekuasaan, tapi pendekatannya adalah keadilan ya. Ada dinamika pembebasan lahan di satu titik tertentu yang dimiliki oleh masyarakat di sana, belum clear pembebasannya tetapi sudah dikerjakan.

Ada solusi tengah untuk mengatasi itu yaitu dengan model sewa. Ketika pembebasan lahan itu belum clear, maka lahan warga disewa untuk kurun waktu tertentu. Kalau sampai sudah clear baru itu dilakukan pembebasan lahan.

Tetapi, informasi yang saya dengar di sana bahwa di luar dari lahan yang disewa oleh Kementerian PUPR, oleh Direktorat Jenderal Sumber Daya Air, itu ternyata sudah dikerjakan juga. Jadi bukan berarti itu sudah disewa kemudian bisa dijalankan konstruksinya, di luar dari lahan yang disewa dan di luar dari yang belum d-clear-kan itu ternyata sudah dikerjakan. Ini saya minta hal-hal semacam ini diperhatikan, tidak boleh terjadi di kemudian hari. Dirjen Sumber Daya Air jangan hanya fokus bagaimana pencapaian target fisik dan bagaimana jangan pencapaian target keuangan juga, tetapi hal-hal yang terkait

(25)

dengan masalah sosial itu perlu mendapatkan suatu perhatian dan mendapatkan suatu respon.

Saya juga membaca surat dari Dirjen ESDM, Dirjen Minerba yang mendasari permohonan surat dari Dirjen Sumber Daya Air Kementerian PUPR untuk diberikan suatu perlakuan khusus dalam hal penambangan di Desa Wadas tersebut. Dirjen Minerba Kementerian ESDM memberikan satu persetujuan, ya jadi ada dasar lah Dirjen SDA untuk melakukan itu.

Yang menjadi pertanyaan, kalau hanya berdasarkan surat dari Kementerian ESDM tersebut, apakah itu sudah dianggap cukup untuk melakukan suatu kegiatan penambangan? Proses amdalnya seperti apa?

Karena dari berbagai pihak baik di internal DPR RI di Komisi VII juga mempertanyakan ini, di Walhi mempertanyakan ini, di berbagai pihak juga mempertanyakan ini. Amdalnya bagaimana? Boleh itu dilakukan perlakuan khusus untuk Direkotrat Jenderal Sumber Daya Air, tapi tidak boleh mengabaikan amdal, karena dalam konteks pembangunan bendungan itu saja harus clear amdalnya, bagaimana dengan pengambilan material untuk Desa Wadas, logikanya mesti sama ya.

Kemudian Wadas yang diributkan sekarang ini itu jaraknya kurang lebih 11kilometer dari waduk itu sendiri, dari bendungan itu sendiri. Mengapa dengan jarak 11kilometer ini menjadi satu kesatuan peta lokasi? Ini argumentasinya bagaimana? Apakah ini dicari-carikan satu logika oleh karena di Wadas ada suatu sumber material? Ya sehingga kemudian diatur direkayasa sedemikian rupa, sehingga menjadi suatu kesatuan peta lokasi? Ataukah memang ada satu dasar peraturan peraturan yang memang mendukung ya bagaimana untuk menentukan sebuah peta lokasi.

Yang menjadikan pertanyaan pula, ini Program Strategis Nasional, Program Strategis Nasional yang menentukan peta lokasi ini seyogyanya Kepala Daerah ataukah dari pusat? Gitu, menurut hemat saya sih karena ini Program Strategis Nasional itu adalah Kementerian yaitu oleh Pemerintah Pusat gitu, tapi kenapa ini yang menentukan adalah Gubernur? Ya ini dasarnya ini memang perlu dipertanyakan.

Kalau memang itu diperlakukan satu perlakuan khusus untuk kepentingan sendiri, ya dalam hal ini tanpa harus melalui suatu proses perijinan. Yang melakukan kegiatan penambangan siapa? Apakah yang melakukan kegiatan penambangan itu Direktorat Jenderal Sumber Daya Air sendiri dengan istilah sistem swakelola? Ataukah oleh pihak ketiga? Gitu. Kalau yang dilakukan itu pihak ketiga? Yang melakukan pihak ketiga itu siapa?

Apakah itu kontraktor? Kalau kontraktor kita lihat nanti coba Dirjen SDA menjelaskan kepada kami, harga satuannya itu? Itu apakah sama dengan harga satuan pasar ataukah lebih murah? Karena material tidak beli.

Berbeda dengan pihak ketiga yang membeli material dari pihak luar dari manapun, ya kan, kemudian dia melakukan penambangan dia melakukan pengangkutan ya, tetapi kalau ini kan hanya ongkos penambangan dan ongkos angkutan. Coba nanti kita lihat harga satuannya, kalau sampai harga

(26)

satuannya itu sama dengan harga pasar, ini hati-hati kepada Pak Dirjen SDA, jangan sampai Dirjen SDA itu dikategorikan melakukan sesuatu dengan kewenangannya memperkaya pihak lain, ini hati-hati, kalau memang itu terjadi tolong itu dicek kembali karena ada ranah ranah hukumnya.

Saya ingin mempertanyakan kepada Dirjen Sumber Daya Air, kemarin waktu kami RDP dengan Sekjen Kementerian PUPR, ya kepada Biro Hukum saya pertanyakan, dari sekian yang dia lakukan terhadap kajian hukum di Sekjen Kemeterian PUPR, mengapa yang Undang-Undang tentang Sumber Daya Air yang ditetapkan pada tahun 2019 Oktober itu sampai dengan sekarang yang sudah dua tahun lebih, tidak disenggol sama sekali turunannya?

Ada 18 pasal yang harus diwujudkan dalam Peraturan Pemerintah, ada satu pasal yang harus diwujudkan dalam Perpres, ada satu pasal yang harus diwujudkan dalam Kepres, dan ada dua pasal yang diwujudkan dalam Peraturan Menteri.

Peraturan Menteri itu kan sederhana sekali karena internal Kementerian itukan tugas utama dari Direktorat Jenderal Sumber Daya Air. Tapi mengapa ini tidak dijalankan? Dan anehnya, unit-unit organisasi di Direktorat Jenderal Sumber Daya Air itu masih mengacu Undang-Undang lama, pada pasal yang sama. Secara hukum ini mesti tidak berlaku tapi masih dipakai. Contoh, ada satu sumber air yang bisa dieksploitasi menjadi bendung untuk meninggikan permukaan air tanah yang digunakan untuk mengairi sawah pada luasan tertentu. Tetapi karena masih mengacu Undang-Undang yang lama, sumber potensi, sumber-sumber air itu potensi sungai-sungai yang punya potensi besar untuk pengairan itu akhirnya tidak bisa berjalan. Karena apa? Karena kewenangannya harus tetap 3.000 hektar lebih baru ke pemerintah pusat, gak ada yang seperti itu. Esensi dari perubahan Undang-Undang SDA lama sampai dengan Undang-Undang yang baru di tahun 2019 tuh di antaranya hal itu.

Supaya tidak ada pembatasan, supaya ada fleksibilitas. Mana yang punya potensi dibuat bendung, supaya bisa ditangani oleh pemerintah pusat, sebagaimana juga Undang-Undang tentang Jalan.

Jalan kabupaten atau jalan provinsi rusak berat di mana-mana itu kalau pemerintah daerah tidak mampu untuk mengatasi, biarlah pemerintah pusat untuk turun tangan, itu fleksibel, Undang-Undang SDA juga begitu, tapi mengapa sama sekali tidak dan banyak sekali sektor air ini yang sangat menguntungkan negara tidak dimanfaatkan oleh segelintir orang atau pihak tertentu, tetapi sayang sekali Direktorat Jenderal Sumber Daya Air tidak menyentuh sama sekali soal Undang-Undang tentang Sumber Daya Air, semangatnya itu tidak sama dengan apa yang dikehendaki oleh DPR RI, oleh rakyat, oleh negara. Karena ini sudah diputuskan melalui Sidang Paripurna DPR RI. Ini bukan lagi merupakan pekerjaan dari Komisi V, tapi DPR RI semua DPR RI, DPR RI itu siapa? Rakyat. Tapi sama sekali tidak dilakukan kajian atau pembuatan peraturan di bawahnya.

Saya mengingatkan kepada Dirjen Sumber Daya Air ya, yang namanya Program ABSAH itu tidak relevan sekali, tidak efektif sama sekali. Karena musim kemarau baru berjalan satu bulan kira-kira, itu sudah kering, endapannya itu sangat tebal, banyak cacing di situ ya dan Ketika musim hujan

(27)

itu penuh, lah buat apa? Karena tidak perlu ABSAH itu aja musim hujan, masyarakat sudah cukup air, jadi tolong ABSAH ini dievaluasi, bisa diwujudkan dalam bentuk yang lain.

Kemudian Bina Marga, Bina Marga ini saya minta lakukan evaluasi secara menyeluruh tentang kondisi jalan secara nasional, anggaran Bina Marga itu besar hampir 50 triliun setiap tahunnya. Tapi kita lihat dengan kasat mata, secara visual secara mudah. Banyak sekali jalan nasional di mana-mana itu rusak. Tetapi dikategorikan, konon katanya menurut Dirjen Bina Marga, berdasarkan aturan tertentu bahwa yang rusak sedang itu sudah dikategorikan mantap. Tapi mantap versi pemerintah itu berbeda Pak, dengan mantap versi pengguna jalan, versi masyarakat.

Ini tolong mendapatkan satu perhatian, banyak sekali jalan nasional di mana-mana itu rusak. Maka pentingnya bagi Direktorat Jenderal Bina Marga, untuk melakukan prioritas alokasi anggaran, anggaran yang begitu besar prioritaskanlah, kepada ruas-ruas jalan tertentu yang memang memiliki nilai ekonomi yang sangat tinggi, yang lalu lintasnya padat, yang kendaraan berat.

Ini Dirjen Bina Marga sama sekali tidak mencatat jangan-jangan lupa nanti. Apa yang saya omongkan nanti bisa lupa itu oleh Dirjen Bina Marga itu.

Jadi alokasi prioritas alokasi anggaran itu menjadi penting Pak, buatkan satu matriks, matriksnya itu tidak hanya berdasarkan jalan itu rusak tapi juga berdasarkan nilai keekonomian. Karena kita tidak hanya berbicara soal outcome, tidak hanya berbicara soal output tapi juga berbicara soal outcome.

Yang Namanya jalan nasional di pantura dan juga Surabaya-Solo itu kayaknya gak ada yang kategori baik, baik itu hanya beberapa kilometer saja, tapi anggaran Bina Marga yang setiap tahunnya besar dikemanakan ini seolah- olah seperti itu loh. Ya saya tidak mengatakan bahwa anggaran Bina Marga digunakan yang tidak jelas, itu pasti jelas. Tetapi skala prioritas mengalokasikan anggaran itu perlu dilakukan evaluasi lagi ya supaya anggaran Bina Marga yang sangat besar itu betul betul bisa dirasakan oleh pengguna jalan, bisa digunakan untuk mendongkrak pertumbuhan perekonomian, urat nadi perekonomian itu ada di infrastruktur jalan, jadi arus pergerakan barang maupun orang itu biar cepet, lancar, aman.

Coba Bina Marga melakukan suatu kajian, terjadinya kecelakaan lalu lintas di mana-mana itu ya, melakukan kajian jangan dilempar kepada pihak kepolisian itu punya kewenangan pihak kepolisian, tapi Bina Marga juga melakukan kajian dong melakukan suatu penelitian. Bisa saja kecelakaan yang terjadi dimana-mana itu oleh karena disebabkan kondisi jalan yang rusak.

Kayaknya tidak pernah yang namanya Bina Marga berpikir sampai kesitu.

Kemudian, pilihan konstruksi jalan itu menjadi penting, jangan pada ruas jalan tertentu yang harusnya itu adalah dengan pilihan konstruksi rigid yang beton gitu ya, tapi itu aspal, itu fleksibel, pilihan jenis konstruksi ini menjadi sesuatu yang penting, jangan diabaikan ini teknis. Kemudian bagaimana perencanaan dan pengawasan ya, saya kalau kembali ke perencanaan, saya akan sampaikan tidak hanya pada Dirjen Bina Marga, tetapi juga kepada Dirjen

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui algoritma yang dapat digunakan sebagai paremeter-paremeter pendukung curah hujan estimasi, membandingkan pola curah hujan estimasi

Tugas Akhir ini berisi tentang analisis gerakan pada struktur Floating Storage And Offloading (FSO) Arco Ardjuna yang tertambat pada struktur Single Poin Mooring (SPM),

Metode Penelitian Sosial Ekonomi 1 II/4/Agri A1+A2 61 Rika Fitri Elvira,SP.,M.Si.. Gustami

11 ALICE TAMARA SMAK IPEKA Pluit JAKARTA UTARA 12 ROBBY BINUR SMAN 114 Jakarta JAKARTA UTARA 13 NOVAN ALLANADI SMAK IPEKA Sunter JAKARTA UTARA 14 SAMUEL MARZUKI SMA Don Bosco-1

2.1.5 Setiap petugas kesehatan di Puskesmas Kecamatan Kebayoran Baru yang berkewajiban melakukan identifikasi sebelum pemberian obat, infus, sebelum

Tercatat 10 insiden angin puyuh menyebabkan satu kematian dan 121 orang mengungsi - enam persen dari jumlah total orang yang terkena dampak bencana alam pada bulan Mei..

Hasil akhir penelitian ini adalah diketahuinya bahwa produk olahraga permainan badpingpong yang dikembangkan memiliki kualitas “sangat baik” dan layak untuk

layanan yang akan “disajikan” kepada pemakai perpustakaan. Dokumen seperti buku, majalah, jurnal, prospektus, laporan keuangan, dan berbagai bentuk media lain baik tercetak maupun