• Tidak ada hasil yang ditemukan

Implementasi Metode Naive Bayes-Certainty Factor Untuk Identifikasi Cedera Pada Pemain Futsal

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Implementasi Metode Naive Bayes-Certainty Factor Untuk Identifikasi Cedera Pada Pemain Futsal"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

Fakultas Ilmu Komputer

6467

Implementasi Metode

Naive Bayes-Certainty Factor

Untuk Identifikasi

Cedera Pada Pemain Futsal

Rhiezky Arniansya1, Nurul Hidayat2, Ratih Kartika Dewi3

Program Studi Teknik Informatika, Fakultas Ilmu Komputer, Universitas Brawijaya Email: 1[email protected], 2[email protected], 3[email protected]

Abstrak

Masih banyak pemain futsal yang beranggapan bahwa cedera dapat pulih dengan cepat tanpa harus melalui penanganan yang tepat. Ada cedera yang bisa semakin parah apabila penanganan di awal sudah salah. Hal itu disebabkan karena kurangnya pemahaman pemain tentang cedera. Penanganan cedera bisa dilakukan oleh fisioterapis tetapi hal itu terbentur karena minimnya fisioterapis yang tersedia guna melakukan penanganan. Pada penelitian akan dibuat sistem identifikasi untuk mengurangi keterbatasan tersebut dengan mengimplementasikan metode Naïve Bayes-Certainty Factor berbasis android untuk mendiagnosis cedera yang menimpa pemain futsal. Hasil uji coba menunjukkan penggunaan metode

Naïve Bayes-Certainty Factor memiliki ketepatan hasil dan diagnosis yang baik dan akurat, karena keluaran yang dihasilkan oleh sistem mempunyai tingkat keakuratan sebesar 88.57%. Diharapkan dengan aplikasi ini nantinya dapat membantu para pemain futsal untuk mengetahui cedera maupun menangani cederanya serta menambah wawasan seputar cedera apa saja yang dapat menimpanya.

Kata kunci: cedera, futsal, naive bayes, certainty factor

Abstract

There are still many futsal players who think that injury can recover quickly without having to go through the right handling. There are injuries that injury can get worse if the initial handling is wrong. That's because the lack of understanding of players about injury. Injury treatment can be done by the physiotherapist but it was hit because of the lack of physiotherapist available for handling. In the research will be made an identification system to reduce these limitations by implementing the method of Naïve Bayes-Certainty Factor-based android to diagnose the injury that affects futsal players. The results show that the use of Naïve Bayes-Certainty Factor method has accurate results and a good and accurate diagnosis, since the output produced by the system has an accuracy of 88.57%. Hopefully with this application will be able to help the players futsal to know injury or handle injury and add insight about any injuries that can befall him.

Keywords: injury, futsal, naive bayes, certainty factor

1. PENDAHULUAN

Olahraga futsal merupakan salah satu olahraga yang permainannya didasari dari olahragasepakbola, namunx.perbedaandengan sepakbola adalah karena futsaldimainkanoleh 5 oorang dan di tempat atau lapangan yang relatifxlebih kecil dari lapanganxsepakbola. Di kota Malang sendiri futsal sedang menjadi salah satu olahraga favorit dikalangan pelajar sampai mahasiswa, terbukti dengan semakin banyaknya lapangan futsal dan kompetisi di kota Malang dan se-Malang Raya. Olahraga futsal tentunya tidak terlepas dari adanya gerakan yang

selanjutnya akan melibatkan berbagai struktur/jaringan pada tubuh manusia, misalnya sendi, otot, meniscus/discus, kapsuloligamenter

dan otot, (Arif, 2011).

(2)

menyebabkan kurang maksimalnya performa seorang pemain di lapangan atau bahkan ditarik dari lapangan. Cedera yang sering dialami ada dua jenis, yaitu trauma akut dan overuse syndrome (Sindrom Pemakaian Berlebihan) (Arif, 2011).

Penanganan cedera pemain futsal amat diperlukan, apabila tidak segera ditangani maka mengakibatkan cedera yang lebih parah. Kebanyakan pemain futsal menangani cedera yang diderita dengan cara yang belum benar, seharusnya ada prosedur penanganannya yang baik dan benar. Hal itu disebabkan oleh minimnya pengetahuan tiap individu terhadap cedera yang menimpanya. Karena ada juga beberapa cedera yang memiliki ciri-ciri yang sama dengan cedera lainnya sehingga pemain akan salah mengambil tindakan penanganan cedera. (Titik, 2012).

Oleh sebab itu akan dibuat suatu sistem yang dapat mendiagnosa cidera pada pemain futsal dengan menggunakan kombinasiimetode

NaïveiiiBayes –- CertaintyiiiFactor dengan harapaniisistem iniiidapat memberikaniihasil identifikasidenganakurasiyanglebihtinggi dan tata cara penanganan cedera supaya pulih sesuai dengan harapan.

Naive Bayes merupakan sebuah pengklasifikasian probabilistik sederhana yang menghitung sekumpulan probabilitas dengan menjumlahkan frekuensi dan kombinasi nilai dari datasetayang diberikan. Keuntungan penggunaan Naive Bayes adalah bahwa metode ini hanya membutuhkan jumlah data pelatihan (Training Data) yang kecil untuk menentukan estimasi paremeter yang diperlukan dalam proses pengklasifikasian data (Saleh,2010).

Dalam aplikasi sistem pakar terdapat metode untuk menyelesaikan masalah ketidakpastian data. Salah satu-metode yang dapat digunakan adalah faktor kepastian (Certainty factor). Faktor kepastian (certainty factor) diperkenalkan oleh Shortliffe Buchanan dalam pembuatan MYCIN. Certainty Factor

(CF) merupakan nilai parameter klinis yang diberikan MYCIN untuk menunjukkan besarnya nilai kepercayaan (Kusrini, 2008).

Pada penelitian yang dilakukan oleh (Titik, 2016) dengan judul “Sistem Pakar Diagnosa Cedera Umum Pada Peserta Pekan Olahraga”, diagnosis cedera umum menggunakan sistem pakar. Sistem yang dibuat memiliki fitur konsultasi dimana user atau pengguna menjawab pertanyaan “ya” atau “tidak” dalam

berkonsultasi masalah cedera apa yang ingin didiagnosis beserta saran penanganannya. Kemudian didagnosis dan muncul hasil diagnosis berupa cedera dan solusi penanganannya. Penelitian selanjutnya dengan judul “Sistem Pakar Deteksi Dini Penyakit Stroke Menggunakan Metode Naïve Bayes-Certainty Factor” yang ditulis oleh (Renaldy, 2012) menunjukkan hasil akurasi sebesar 84% dengan menggunakan metode Naive Bayes-Certainty Factor.

Sesuai dengan permasalahan tersebut, perlu dibuat suatu sistem yang dapat mendiagnosis cedera pada pemain futsal. Sistem ini mempunyai fasilitas atau fitur yang memungkinkan pengguna dapat memperoleh informasi keluhan-keluhan cedera dan cedera apa yang dialami, serta solusi untuk dilakukannya penaganan medis dasar. Sistem ini dibuat terbatas pada diagnosis suatu cedera berdasarkan gejala-gejala cedera tersebut. Dengan menggunakan kombinasi metode naive bayes-certainty factor untuk mendiagnosis cedera yang nantinya akan dikembangkan pada

platform android dapat memudahkan pengguna untuk menangani dan memahami keadaan cedera.

2. LANDASAN KEPUSTAKAAN 2.1. Futsal

Futsal adalah permainan bola yang dimainkan oleh dua tim, yang masing-masing beranggotakan lima orang. Tujuannya adalah memasukkan bola ke gawang lawan dengan kaki dan anggota tubuh lainnya selain tangan. Selain lima pemain utama, setiap tim juga diperbolehkan memiliki pemain cadangan. Dalam maksud lain futsal juga merupakan jenis sepak bola tertutup yang secara resmi disahkan oleh Badan Perkumpulan Antar Negara Sepak Bola, Fédération Internationale de Football Association (FIFA). Namanya berasal dari bahasa Portugis futebol de salão, dan bahasa Spanyol fútbol de salón. Keduanya berarti sepak bola dalam ruangan. Futsal dimainkan oleh lima pemain dalam satu tim, salah satunya merupakan penjaga gawang, waktu permainan futsal juga singkat yaitu hanya 2x20 menit, Drajat (2013).

2.2. Cedera

(3)

Berlebih). Trauma akut adalah suatu cedera berat yang terjadi secara mendadak, seperti robekan

ligament, otot, tendo atau terkilir, atau bahkan patah tulang. Cedera akut biasanya memerlukan pertolongan profesional. Sindrom pemakaian berlebih sering dialami oleh pemain, bermula dari adanya suatu kekuatan yang sedikit berlebihan, namun berlangsung berulang-ulang dalam jangka waktu lama. Sindrom ini kadang memberi respon yang baik dengan pemulihan sendiri. Cedera olahraga seringkali direspon oleh tubuh dengan tanda radang yang terdiri atas rubor (merah), tumor (bengkak), kalor (panas), dolor (nyeri) dan functiolaesa (penurunan fungsi) (Arif, 2011).

2.3. Algoritma Naive Bayes

Naive Bayes merupakan sebuah pengklasifikasian probabilistik sederhana yang menghitung sekumpulan probabilitas dengan menjumlahkan frekuensi dan kombinasi nilai dari dataset yang diberikan. . Keuntungan penggunaan Naive Bayes adalah bahwa metode ini hanya membutuhkan jumlah data pelatihan (Training Data) yang kecil untuk menentukan estimasi paremeter yang diperlukan dalam proses pengklasifikasian

(Saleh,2010).

. Perhitungan metode Naïve Bayes dapat dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut:

1. Mencari nilai prior untuk tiap-tiap kelas dengan menghitung rata-rata tiap kelas dengan persamaan (1).

P(c)=

𝑋

𝐴

(1)

2. Mencari nilai likelihood untuk tiap-tiap kelas dengan persamaan (2).

𝑃

(

𝑎

|

𝑐

)

=

𝐹

𝐵

(2)

3. Mencari nilai posterior dari tiap kelas

yang ada menggunakan persamaan (3)

P

(

𝑐

) x

P

(

𝑎

|

𝑐

)

(3)

Hasil klasifikasi kelas dengan menggunakan metode Naïve Bayes dilakukan dengan membandingkan nilai posterior dari kelas-kelas yang ada. Nilai posterior yang paling tinggi yang terpilih sebagai hasil klasifikasi.

2.4. Certainty Factor

Dalam aplikasi sistem pakar terdapat suatu metode untuk menyelesaikan masalah ketidakpastian data. Salah satu metode yang dapat digunakan adalah faktor kepastian (Certainty factor). (Kusrini, 2008). Certainty

factor menggunakan suatu nilai untuk mengasumsikan derajat keyakinan seorang pakar terhadap suatu data. Perhitungan metode

Certainty Factor dapat dilakukan dengan persamaan (4). berkisar antara -1 sampai 1. Nilai 1 menunjukkan kepercayaan mutlak sedangkan nilai -1 menunjukkan ketidakpercayaan mutlak

• MB [H,E] = ukuran kenaikan kepercayaan (measure of increased belief) terhadap hipotesis H yang dipengaruhi oleh gejala E.

• MD (H,E) = ukuran kenaikan ketidakpercayaan (measure of increased disbelief) terhadap hipotesis H yang dipengaruhi oleh gejala E.

CF gabungan merupakan nilai

CF akhir dari sebuah calon konklusi.

CF gabungan diperlukan apabila

suatu konklusi diperoleh dari dua

aturan sekaligus. CF akhir dari suatu

aturan dengan aturan yang lain

digabungkan untuk mendapatkan

nilai CF akhir untuk calon konklusi

tersebut. Rumus untuk melakukan

penghitungan

CF

gabungan

ditunjukkan pada persamaan (5).

CF1+CF2(1-CF1),

jika CF1≤0 dan

CF2≤0………

(5)

3. METODOLOGI

(4)

Gambar 1 menunjukkan diagram alir metodologi penelitian ini.

Gambar 1. Diagram Alir Metodologi

4. ANALISIS KEBUTUHAN 4.1 Gambaran Umum Sistem

Sistem diagnosis cedera pada pemain futsal menggunakan metode Naïve Bayes-Certainty Factor dengan berbasis android yang dikembangkan dengan Android Studio menggunakan bahasa pemrograman JAVA dan

Extendible Markup Languange (XML). Sistem ini menghasilkan diagnosis berupa nama cedera, saran penanganannya dan persentase keyakinan. Pengguna diminta memasukkan keluhan terlebih dahulu sebagai inputan pada sistem ini pada

checkbox yang ada pada sistem dan diproses hasilnya akan ditampilkan pada halaman hasil diagnosis. Fitur lainnya yakni halaman berisi informasi seputar cedera yang dapat menambah pengetahuan. Jadi pada sistem diagnosis ini terdapat 2 fitur utama yakni fitur diagnosis dan fitur informasi cedera.

5. IMPLEMENTASI 5.1 Basis Pengetahuan

Basis pengetahuan merupakan gambaran secara umum pandangan dari seorang pakar terhadap permasalahan ini berisi kumpulan pengetahuan yang digunakan untuk memecahkan suatu permasalahan tertentu. Dapat bahwa basis pengetahuan merupakan inti dari sebuah sistem pakar. Pada basis pengetahuan ada dua elemen penting didalamnya, yaitu basis pengetahuan fakta dan basis pengetahuan aturan. Berikut merupakan sekumpulan informasi yang digunakan pada penelitian ini, cedera

ditunjukkan pada Tabel 1, keluhan cedera pada pemain futsal pada Tabel 2, dan aturan diagnosis cedera pada pemain futsal ditunjukkan pada Tabel 3. Aturan-aturan tersebut didapat pada saat wawancara dengan salah seorang pakar.

Tabel 1. Jenis Cedera

Kode Cedera Nama Cedera

C1 Cedera Meniscus

C2 Cedera Muscle Strain/Sprain

C3 Cedera Hamstring

C4 Cedera Ankle

C5 Cedera ACL(Anterior Cruciate Ligament

Tabel 2. Keluhan Pada Cedera

Keluhan Nama Keluhan

K1 Rasa nyeri pada telapak kaki K2 Rasa nyeri pada pergelangan kaki K3 Rasa nyeri pada tendon

K4 Rasa nyeri pada bagian bawah lutut K5 Rasa nyeri pada paha

K6 Rasa nyeri pada betis K7 Rasa nyeri pada sendi K8 Pembengkakan pada betis

K9 Pembengkakan pada pergelangan kaki K10 Rasa nyeri pada otot bagian belakang lutut

K11 Memar

K12 Tidak dapat digerakkan(bagian tubuh yang dirasa sakit)

K13 Kesulitan berjalan/pincang K14 Kelonggaran pada sendi K15 Sendi lutut tidak dapat

diluruskan/dilipat

Tabel 3. Aturan Diagnosis Cedera

Aturan Cedera Keluhan

R1 C1 K4,K7,K10,K12,K13,K14,K15

R2 C2 K3,K6,K8,K11

R3 C3 K5,K11,K12,K13

R4 C4 K1,K2,K7,K9,K11,K12,K13

R5 C5 K4,K7,K10,K12,K13,K15

5.2. Perancangan 5.2.1 Diagram Alir

Berikut merupakan diagram alir sistem secara keseluruhan. Ada juga perhitungan prior, likelihod, posterior dari Naive Bayes dan

(5)

Gambar 2. Diagram Alir proses Naive Bayes-Certainty Factor

Gambar 3. Diagram Alir Perhitungan prior pada

Naive Bayes

Gambar 4. Diagram Alir Perhitungan likelihood

pada Naive Bayes

Gambar 5. Diagram Alir Perhitungan Posterior

(6)

Gambar 6. Diagram Alir Perhitungan Certainty Factor

5.2.2 Langkah-langkah Perhitungan Naive Bayes

Pertama hitung nilai prior (peluang kemunculan suatu cedera pada data latih) berdasarkan inputan keluhan. Kedua pencarian nilai likelihood (peluang munculnya suatu keluhan terhadap suatu cedera) dari probabilitas keluhan yang mempengaruhi pada setiap cederanya. Ketiga pencarian nilai posterior

(probabilitas akhir) pada masing-masing cedera, cedera yang memiliki probabilitas paling tinggi dinyatakan sebagai hasil dari perhitungan ini. Hasil dari perhitungan Naive Bayes yang akan digunakan dalam perhitungan Certainty Factor

guna mencari tingkat keyakinannya, nilai keyakinan maksimal yaitu mendekati 1 dan untuk mengetahui persentase dari hasil perhitungan Naive Bayes.

5.2.3 Langkah-langkah Perhitungan

Certainty Factor

1. Penyakit yang akan dihitung nilai kepastiannya merupakan cedera dari hasil diagnosis pada metode Naive Bayes. Pada perhitungan ini nilai CFpakar dikalikan dengan CFuser. Cfpakar adalah nilai

keyakinan dari seorang pakar terhadap keluhan yang ada pada suatu cedera. CFuser adalah nilai masukan atau keluhan yang dimasukkan oleh pengguna/user.

2 Setelah nilai CF dihitung, maka selanjutnya yaitu menghitung nilai CFcombine. Perhitungan CFcombine menggunakan nilai CF yang diperoleh dari CFpakar*CFuser, dimana nilai CF dianggap sebagai nilai CF1 dan CF2. Setiap kali eksekusi hanya menggunakan dua buah data saja (CF1 dan CF2). Nilai tersebut digunakan untuk memberikan bobot pada setiap aturan yang ada.

6. PENGUJIAN 6.1 Pengujian Akurasi

Pengujian akurasi sistem dilakukan agar mengetahui performa dari sistem identifikasi yang telah dibuat dan seberapa besar tingkat akurasi dalam memberikan hasil diagnosis cedera pada pemain futsal yang dimasukkan oleh pengguna. Hasil pengujian terhadap 35 data ditunjukkan pada Tabel 4.

Tabel 4. Tabel Hasil Pengujian Akurasi

No Diagnosis Pakar Diagnosis Sistem Hasil

1 Cedera ACL Cedera ACL Cocok

2 Cedera Ankle Cedera Ankle Cocok

3 Cedera Meniscus

Cedera

Meniscus Cocok

4 Cedera Ankle Cedera Meniscus

Tidak Cocok

5 Cedera Ankle Cedera Ankle Cocok

6 Cedera ACL Cedera ACL Cocok

7 Cedera Ankle Cedera Ankle Cocok

8 Cedera Hamstring

Cedera

Hamstring Cocok

9 Cedera Muscle Strain

Cedera Muscle

Strain Cocok

10 Cedera Muscle Strain

Cedera Muscle

Strain Cocok

11 Cedera Hamstring

Cedera

Hamstring Cocok

(7)

13 Cedera

Berdasarkan Tabel 4, terdapat 31 data yang memiliki hasil diagnosis sistem sama dengan hasil diagnosis dari pakar, sehingga tingkat akurasi pada pengujian akurasi dengan persamaan akurasi.

𝐴𝑘𝑢𝑟𝑎𝑠𝑖% =3135 𝑥 100% = 88.57

Tingkat akurasi pada pengujian pertama

yang dihasilkan oleh sistem pakar diagnosis cedera pada pemain futsal menggunakan metode

naive bayes-certainty factor adalah sebesar 88.57 %. Pada pengujian akurasi sistem identifikasi cedera pada pemain futsal terdapat diagnosis sistem dan diagnosis pakar yang tidak sesuai. Ketidaksesuaian diagnosis terdapat pada data nomor 4, 15, 25, dan 30, karena pada proses perhitungan nilai likelihood dan posterior menghasilkan probabilitas 0, yang apabila terdapat probabilitas 0 maka perhitungan pada sistem akan memilih cedera dengan urutan pertama pada susunan data, pada sistem ini apabila terdapat probabilitas 0 maka cedera yang terpilih adalah cedere meniscus. Jika pengguna memasukkan keluhan dengan jumlah maksimal yaitu 14, maka sistem akan mengolah keluhan tersebut dan memilih cedera yang ada pada data latih dengan keluhan terbanyak pada suatu cedera.

Berdasarkan hasil pengujian akurasi yang telah dilakukan, sistem pakar diagnosis cedera pada pemain futsal menggunakan metode Naïve Bayes- Certainty Factor menghasilkan tingkat akurasi sebesar 88.57%. Hasil tersebut menunjukkan bahwa sebuah sistem pakar menggunakan Naïve Bayes-Certainty Factor

untuk melakukan proses diagnosis akan menghasilkan sebuah sistem pakar dengan ketepatan hasil yang baik dan akurat.

7. KESIMPULAN

Kesimpulanyang dapatdiambil dari hasiluji coba sistem diagnosis cedera pada pemain futsal dengan menggunakan naive bayes-certainty factor adalahsebagaiberikut :

1. Dalam implementasi metode yang digunakan yakni naive bayes-certainty factor pada permasalahan diagnosis cedera pada pemain futsal dapat diterapkan dengan baik. Proses diagnosis cedera dapat dilakukan dengan memasukkan keluhan yang dirasakan oleh pengguna. Dengan keluhan-keluhan tersebut akan melalui perhitungan dengan metode naive bayes-certainty factor guna mendapatkan hasil diagnosis berupa nama cedera yang menimpa, saran untuk penanganan dan juga persentase keyakinan. Dalam perhitungan diagnosis cedera dilakukan perhitungan dengan menggunakan naive bayes dengan menghitung nilai probabilitas prior, nilai probabilitas likelihood, dan nilai probabilitas

(8)

berupa nama cedera. Setelah didapat hasil diagnosis dari perhitungan naive bayes, hasil dari diagnosis akan dihitung nilai keyakinannya (CF) yang bertujuan untuk mengetahui persentase dari hasil perhitungan naive bayes.

2. Berdasarkan sistem identifikasi cedera dengan menggunakan metode naive bayes-certainty factor yang telah dibuat didapat hasil dengan tingkat akurasi sebesar 88,57%. Dari hasil tersebut dapat dilihat bahwa sistem ini dapat mengidentifikasi cedera dengan baik.

DAFTAR PUSTAKA

Arhami, M., 2005. “Konsep Dasar Sistem Pakar”. Andi Offset.

Budi, S., 2013. “Deskripsi Faktor Resiko dan Ketepatan Penanganan Cedera Tungkai Kaki pada Olahraga SepakBola di Klub “BIGREDS” Yogyakarta Tahun 2013. Fakutas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Yogyakarta. Yogyakarta.

Dewi, I.C., Soebroto, A.A., dan Furqon, M.T., 2015. Sistem Pakar Diagnosa Penyakit Sapi Potong Dengan Metode Naive Bayes. Repository Jurnal Mahasiswa PTIIK UB, Volume 2, No. 2.

Hutama, S.R., Hidayat, N., dan Santoso, E.,

2018.

Sistem Pakar Deteksi Dini

Penyakit

Stroke

Menggunakan

Metode

Naïve

Bayes-Certainty

Factor

. Repository Jurnal Mahasiswa

PTIIK UB, Volume 2, No2.

Ikorasaki, F., 2015. Sistem Pakar Mendiagnosa Penyakit Tulang Dengan Menggunakan Metode Certainty Factor, Universitas Potensi Utama, Medan.

Manalu, E., Sianturi, F. A., Manalu, M. R., 2017. Penerapan Algoritma Naive Bayes Untuk Memprediksi Jumlah Produksi Barang Berdasarkan Data Persediaan Dan Jumlah Pemesanan Pada CV.Papadan Mama Pastries. Jurnal Mantik Penusa, Volume 1, No. 2, STMIK Pelita Nusantara, Medan.

Nurcahyo, F., 2010. “Pencegahan Cedera Dalam

Sepak Bola” . Medikora, FIK UNY, Vol. VI, No 1.

Nurhayati, T. D., 2016. Sistem Pakar

Diagnosa Cedera Umum Pada

Peserta Pekan Olahraga. Artikel

Skripsi,

Universitas

Nusantara

PGRI Kediri.

Prakoso, D.B., Subiyono, H.S., dan Rahayu, S., 2013. Minat Bermain Futsal Di Jenis Lapangan Vinyil, Parquette, Rumput Sintetis dan Semen Pada Pengguna Lapangan Di Semarang. Journal of Sport Science and Fitness, Unversitas Negeri Semarang. Semarang.

Samudra, A. D., Terapi dan Latihan Teknik Pemasangan Kinesiotaping pada Cedera Hamstring. Perpustakaan Universitas Airlangga. Surabaya.

Setiawan, A, 2011. Faktor Timbulnya Cedera Olahraga. Jurnal Media Ilmu Keolahragaan Indonesia, Volume 1.

Sumartiningsih, S., 2012. Cedera Keseleo pada Pergelangan Kaki (Ankle Sprains). Jurnal Media Ilmu Keolahragaan Indonesia, Volume 2 Edisi 1. Universitas Negeri Semarang.

Sutojo, T., Mulyanto, E., dan Suhartono, V., 2011. Kecerdasan Buatan, Andi Offset, Yogyakarta.

Zein, M. I., 2011. Cedera Anterior Cruciate Ligament (ACL) Pada Atlet Berusia Muda, FIK UNY.

Gambar

Tabel 3. Aturan Diagnosis Cedera
Gambar 2. Diagram Alir proses Naive Bayes-
Gambar 6. Diagram Alir Perhitungan Certainty

Referensi

Dokumen terkait

Tanggung jawab belajar siswa itu dapat dilihat melalui indikator sebagai berikut yaitu: (1) melakukan tugas belajar dengan rutin, (2) dapat menjelaskan alasan atas belajar

Untuk mengetahui pengaruh jenis presipitan terhadap hasil pengendapan emas, setelah tahap proses leaching menggunakan aqua regia dilakukan proses pengendapan

perawatan jalan raya mutlak sangat dibutuhkan mengingat pelibatan penilik jalan raya yang peneliti sebutkan dalam hasil penelitian diatas kurang begitu efektif

Berdasarkan pengamatan dan hasil pengolahan data, parameter hidro-dinamika di perairan kabupaten Karawang memiliki tinggi gelombang laut antara 2,0-3,0 m dengan arah dari

Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa Tingkat partisipasi anggota kelompok masyarakat dalam pelestarian hutan mangrove pada kategori tinggi

Tujuan dari penelitian ini adalah (1) menganalisis model faktual pemantauan pelaksanaan delapan SNP yang dilakukan pengawas sekolah, (2) Menghasilkan dan menganalisis model

Tingkat hutang yang tinggi pada suatu perusahaan juga akan menurunkan minat investor untuk menanamkan modalnya pada saham perusahaan tersebut, karena investor

Hasil asuhan kebidanan secara komprehensif pada Ny”I” selama kehamilan trimester III dengan Kehamilan Resiko Tinggi (Jarak Kehamilan Terlalu Dekat), pada persalinan