PENEGAKAN HUKUM TERHADAP TINDAK PIDANA PENJUALAN SENJATA API ILEGAL MELALUI MEDIA ONLINE FACEBOOK
(Jurnal)
Oleh
Rizki Amantha Hasibuan
0
FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS LAMPUNG
ABSTRAK
PENEGAKAN HUKUM TERHADAP TINDAK PIDANA PENJUALAN SENJATA API ILEGAL MELALUI MEDIA ONLINE FACEBOOK
Oleh
Rizki Amantha Hasibuan, Sanusi Husin, Budi Rizki Husin
Media sosial yang sering digunakan pengguna (akun) dalam transaksi jual beli senjata api ilegal adalah Facebook. Facebook adalah sarana sosial yang menghubungkan orang-orang dengan teman dan rekan mereka lainnya yang bekerja, belajar, dan hidup di sekitar mereka. Permasalahan dalam penelitian ini adalah bagaimana penegakan hukum terhadap tindak pidana penjualan senjata api ilegal melalui media online Facebook dan apa saja faktor penghambat penegakan hukum terhadap tindak pidana penjualan senjata api ilegal melalui media online
Facebook. Metode penelitian yang dilakukan dalam penelitian ini adalah yuridis
normatif dan empiris, dengan mempelajari norma atau kaidah hukum, tinjauan atas penegakan hukum terhadap tindak pidana penjualan senjata api ilegal melalui media online Facebook. Metode analisis secara kualitatif dan disimpulkan dengan cara pikir induktif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penegakan hukum terhadap tindak pidana penjualan senjata api ilegal melalui media online
Facebook dilakukan dengan tindakan represif yaitu penyelidikan, penyidikan,
penangkapan dan dilakukan juga dengan tindakan preventif yaitu dengan sistem dan prosedur izin kepemilikan senjata api yang ketat, patroli dan razia. Faktor penghambat penegakan hukum terhadap tindak pidana penjualan senjata api ilegal melalui media online Facebook diantaranya kendala kurangnya informasi, kedua kendala Sumber Daya Manusia di Polres Lampung Selatan, ketiga kendala legislasi, keempat kendala kurangnya peran masyarakat dan kelima kendala geografis. Upaya yang dilakukan Kepolisian untuk mengatasi kendala dalam melaksanakan penegakan hukum terhadap tindak pidana penyalahgunaan senjata api bagi masyarakat sipil diantaranya: pertama terhadap kendala faktor informasi yakni, meningkatkan kerja sama dengan Direktorat Intelijen untuk mencegah peredaran senjata api secara ilegal, meningkatkan koordinasi dengan seluruh Kapolda-Kapolda di Indonesia, kedua dengan meningkatkan semangat dan motivasi anggota serta pelatihan kemampuan pengetahuan tentang senjata api. Ketiga mengupayakan adanya perubahan terhadap undang-undang yang sudah ada dengan segala upaya agar semakin menguatkan, keempat memberikan informasi dan Pengetahuan kepada masayarakat terhadap bahaya dari penyalahgunaan senjata api dan kelima kendala faktor geografis yakni meningkatkan pengawasan di setiap daerah.
.
ABSTRACT
LEGAL ENFORCEMENT ON CRIMINAL SALES FALSE CLAIMS THROUGH ONLINE FACEBOOK MEDIA
Social media that is often used by the user (account) in illegal firearms sale transaction is Facebook. Facebook is a social tool that connects people with their friends and other colleagues who work, study, and live around them. The problem in this research is how law enforcement against illegal firearms sale through Facebook online media and what are the factors that hamper law enforcement against illegal firearms sale through Facebook online media. Research methods undertaken in this study are normative and empirical juridical, by studying the norms or rules of law, a review of law enforcement of illegal firearms sale through online media Facebook. The method of analysis is qualitatively and inferred by inductive thought. The results show that law enforcement against illegal firearms sale through Facebook online media is done by repressive action, investigation, investigation, arrest and also done by preventive action with system and procedure of tight firearms license, patrol and raid. Law enforcement factors against illegal firearms selling through Facebook's online media include the lack of information, both human resource constraints in Lampung Selatan Police, the three legislative constraints, the four obstacles to the lack of public role and the five geographic constraints. Police efforts to overcome obstacles in enforcing law enforcement against criminal misuse of firearms for civil society include: first against information factor constraints that is, increasing cooperation with Directorate of Intelligence to prevent illegal circulation of firearms, improve coordination with all Kapolda-Kapolda in secondly by enhancing the spirit and motivation of the members as well as training the ability of knowledge about firearms. All three are seeking changes to existing laws with every effort to strengthen them, fourthly providing information and knowledge to the community against the dangers of gun misuse and the five geographic factor constraints that increase supervision in each region.
I. PENDAHULUAN
Perkembangan zaman pada saat ini mengalami kemajuan pertumbuhan yang sangat pesat, tidak hanya di dunia teknik industri dan perdagangan tetapi juga dalam dunia hukum. Perkebangan zaman diikuti juga oleh perkembangan tingkat kejahatan dimana perkembangan tingkat kejahatan dipengaruhi oleh peredaran senjata api ilegal. Senjata api pada dasarnya dapat dimiliki oleh masyrakat sipil tetapi melalui proses yang cukup panjang.
Secara normatif, Indonesia sebenarnya termasuk negara yang cukup ketat menerapkan aturan kepemilikan senjata api untuk kalangan sipil. Ada sejumlah dasar hukum yang mengatur mengenai hal ini, mulai dari level undang-undang yakni Undang-Undang Darurat Nomor 12 Tahun 1951, Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1948 dan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 20 Tahun 1960. Selebihnya adalah peraturan yang diterbitkan oleh Kepolisian, seperti Surat Keputusan Kapolri Nomor Skep/244/II/1999 dan Surat Keputusan Kepala Polri Nomor 82 Tahun 2004 tentang Pelaksanaan Pengawasan dan Pengendalian Senjata Non-Organik.
Berdasarkan Surat Keputusan Kepala Polri Nomor 82 Tahun 2004 tentang Pelaksanaan Pengawasan dan Pengendalian Senjata Non-Organik, persyaratan untuk mendapatkan senjata api ternyata relatif mudah. Cukup dengan menyerahkan syarat kelengkapan dokumen seperti KTP, Kartu Keluarga, dan lain-lain, seseorang berusia 24-65 tahun yang memiliki sertifikat menembak dan juga lulus tes menembak, maka dapat memiliki senjata api. Surat Keputusan
tersebut juga mengatur bahwa individu pemilik senjata api untuk keperluan pribadi dibatasi minimal setingkat Kepala Dinas atau Bupati untuk kalangan pejabat pemerintah, minimal Letnan Satu untuk kalangan angkatan bersenjata, dan pengacara atas rekomendasi Departemen Kehakiman.
Seiring dengan meningkatnya kejahatan dengan senjata api, pada tahun 2007 Kapolri Sutanto mengeluarkan kebijakan penarikan senjata api yang dianggap ilegal. Senjata api ilegal adalah senjata yang tidak sah beredar di kalangan sipil, senjata yang tidak diberi izin kepemilikan, atau senjata yang telah habis masa berlaku izinnya. Berdasarkan ketentuan yang berlaku, izin kepemilikan senjata api di Indonesia dibatasi hingga satu tahun dan dapat diperpanjang untuk jangka waktu yang sama. Gerakan Polri ini bertujuan untuk mengurangi kepemilikan senjata api oleh sipil karena banyak penyalahgunaan senjata api oleh masyarakat. Meskipun sudah ada upaya preventif dengan mewajibkan calon pemilik mengikuti psikotes terlebih dahulu sebelum mendapat izin kepemilikan senjata, memberikan jaminan untuk tidak memberikan tuntutan hukum kepada mereka yang menyerahkan senjata api mereka secara sukarela.1
Motif warga sipil menguasai senjata api secara ilegal memang bermacam- macam. Pada situasi perang terbuka, motifnya jelas" membunuh atau dibunuh". Dalam kasus kekerasan bersenjata, sejakMei tahun 2000, hingga pra Deklarasi Malino, Desember 2001, motif ini jelas sangat menonjol. Motif ini juga masih
1http://www.indowebster.com/lawandlegal.,dik
terungkap dalam sejumlah kasus kekerasan bersenjata paska Deklarasi Malino. Pada situasi yang relatif damai, sebagian warga tetap menguasai senjata api. Alasannya sederhana, karena sama sekali tidak mempercayai jaminan keamanan dari aparat keamanan. Mereka menyatakan terpaksa memiliki senjata api secara ilegal, karena tidak ada kepastian keamanan, mereka tidak ingin menjadi korban kekerasan bersenjata. Bagi para penjahat jelas senjata api digunakan untuk memudahkan niat jahatnya.2
Jual beli senjata api di Indonesia masuk kategori ilegal. Namun, penjual berani memasarkan secara terang-terangan. Dengan bantuan internet, sangat mudah mencari informasi jual beli senjata api ilegal. Di salah satu
website, terpampang harga, jenis dan
merek senjata api yang dijual. Sebut saja merek Glock yang disebut-sebut menjadi andalan penegak hukum di FNP-9/Browning PRO-9 pistol pabrika Belgia dan AS yang dibanderol Rp 5,3-5,9 juta.3
Petugas Polres Lampung Selatan, berhasil mengamankan tiga senjata api jenis pistol yang diduga dibeli melalui jaringan penjualan secara online. Kapolres Lampung Selatan, terungkapnya kasus senjata api ilegal tersebut berawal dari ditemukannya sepucuk pistol dalam sebuah paket di
2
https://www.merdeka.com/uang/mudahnya-
transaksi-jual-beli-senjata-api-ilegal-di-indonesia-bisnis-senjata-api-3.html, diakses Tanggal 19 Maret 2017 pukul 21.45 WIB
3Ibid
bagasi bus Lorena tujuan Sleman, Jawa Tengah di pos pemeriksaan Seaport
Interdiction Pelabuhan Bakauheuni,
Lampung pada Rabu 17 Oktober 2016. Selain sepucuk pistol merk Taurus kaliber spesial buatan Brazil tersebut, petugas juga mengamankan enam buah butir peluru. Pistol itu di selipkan diantara botol minuman di dalam paket dengan tujuan Ananda Ganesha di Sleman. Setelah melakukan pengembangan kepolisian menangkap Arta Yuli Setiananda (32), warga Sleman di Pool Bus Lorena, Sleman. Dari tangan tersangka, petugas menyita barang bukti berupa 23 amunisi, dua lembar slip transfer. Dari keterangan tersangka pihak kepolisian melakukan penyelidikan terhadap pengirim paket kepada Arta tersebut dan berhasil meringkus Perry Widyonarko (38), warga Bandar Lampung. Petugas juga mengamankan barang bukti berupa sepucuk pistol kaliber 4,5 mm merk MP654K buatan Rusia berikut tujuh butir peluru dan sebuah magazine, sepucuk pistol kaliber 7,62 mm buatan Jerman, 13 butir peluru kaliber 3,2 mm, 32 butir peluru kaliber 7,65 mm, sebuah magazine senjata api laras panjang, serta satu lembar bukti jasa pengiriman barang tujuan Sleman. Penangkapan kali ini adalah modus baru dalam penjualan senjata api ilegal, yakni dengan menggunakan sistem
online. Tersangka akan dikenakan
Undang-Undang Darurat Nomor 12 tahun 1951 tentang Senjata api dan bahan peledak.4
Salah satu media sosial yang sering digunakan pengguna (akun) dalam transaksi jual beli senjata api ilegal adalah Facebook.Facebook adalah sarana sosial yang menghubungkan
4
orang-orang dengan teman dan rekan mereka lainnya yang bekerja, belajar, dan hidup di sekitar mereka.5
Perumusan masalah dalam penelitian ini adalah:
1) Bagaimanapenegakan hukum terhadap tindak pidana penjualan senjata api ilegal melalui media
online Facebook?
2) Apa saja faktor penghambat penegakan hukum terhadap tindak pidana penjualan senjata api ilegal melalui media online Facebook?
Pendekatan masalah yang digunakan dalam penulisan ini adalah pendekatan yuridis normatif dan yuridis empiris. Data primer diperoleh secara langsung dari penelitian di lapangan yang ada hubungannya dengan masalah yang diteliti, yakni dilakukan wawancara kepada narasumber. Data sekunder diperoleh dari penelitian kepustakaan yang meliputi buku-buku literatur,
peraturanperundang-undangan,dokumen-dokumen resmi dan lain-lain.
II. PEMBAHASAN
A. Penegakan Hukum Terhadap Tindak Pidana Penjualan Senjata Api Ilegal Melalui Media Online Facebook
Adapun bentuk upaya penegakan hukum yang dilakukan oleh Kepolisian Resor Lampung Selatan terhadap penyalahgunaan senjata api oleh masyarakat, yaitu sebagai berikut :
1. TindakanRepresif
Tindakan represif merupakan tindakan nyata yang dilakukan oleh menyimpang atau telah melanggar suatu peraturan perundang-undangan yang berlaku sehingga dengan adanya tindakan represif dapat diharapkan menghentikan peyimpangan yang terjadi serta mengurangi perbuatan yang sama dikemudian hari.
Adapun upaya represif (penindakan) yang dilakukan oleh Kepolisian Resor Lampung Selatan dalam hal penegakan hukum tindak pidana penyalahgunaan senjata api oleh masyarakat antara lain sebagai berikut:
a. Penyelidikan
Penyelidikan dalam Pasal 1 butir 5 KUHAP menjelaskan bahwa serangkaian tindakan penyelidik untuk mencari dan menemukan suatu peristiwa yang diduga sebagai tindak pidana guna menentukan dapat tidaknya dilakukan penyidikan menurut cara yang diatur dalam Undang- Undang. Sedangkan yang dimaksudkan dengan Penyelidik adalah Pejabat Polisi Negara Republik Indonesia yang diberi wewenang oleh Undang-Undang ini untuk melakukan penyelidikan (Pasal 1 butir 4 KUHP). Pada Pasal 4 KUHP disebutkan bahwa setiap Pejabat Polisi Negara Republik Indonesia adalah penyidik.
tertangkap tangan maka penyidik Reserse Kriminal Lampung Selatan tanpa menunggu perintah akan melakukan tindakan yang diperlukan dalam rangka penyelidikan seperti penangkapan, pemeriksaan dan penyitaan surat, mengambil sidik jari dan membawa serta menghadapkan kepada penyidik.
b. Penyidikan
Jalannya proses penyidikan yang dilakukan oleh penyidik Reserse Kriminal Polres Lampung Selatan, terhadap terjadinya suatu peristiwa yang patut diduga sebagai tindak pidana maka akan segera melakukan penyidikan yang diperlukan sesuai ketentuan Pasal 7 ayat (1) KUHAP.
Proses penyidikan tindak pidana penyalahgunaan senjata api oleh masyarakat ini penyidik Reserse Kriminal akan melakukan penyidikan dengan bekerjasama oleh Unit Sat Intelkam Dalam mengindentifikasi jenis senjata api yang digunakan oleh pelaku. Jenis dan keterangan tersebut dapat memberikan informasi tentang peredaran dan bagaimana cara penggunaan senjata api tersebut. Juga akan diketahui dari mana asal senjata api tersebut didapati oleh pelaku.
Proses penyidikan dilakukan terhadap pelaku hingga berkas perkara dinyatakan lengkap oleh jaksa penuntut umum serta dilakukan serah terima barang bukti dan tersangka ke pihak
Jaksa Penuntut Umum (JPU) terhadap proses penyidikan. Dalam proses penyidikan tersangka yang melakukan kejahatan dengan menggunakan senjata api akan dikenakan Pasal berlapis berdasarkan dengan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana.
c. Penangkapan
Menurut Pasal 1 butir 20 KUHAP dijelaskan bahwasanya penangkapan adalah suatu tindakan penyidik berupa pengekangan sementara waktu kebebasan tersangka atau terdakwa apabila terdapat cukup bukti guna kepentingan penyidikan atau penuntutan dan atau peradilan dalam hal serta menurut cara yang diatur dalam Undang-Undang ini.
Perintah penangkapan dilakukan terhadap seseorang yang diduga melakukan tindak pidana berdasarkan bukti permulaan yang cukup. Pelaksanaan tugas penangkapan dilakukan oleh petugas Kepolisian Resor Lampung Selatan dengan memperlihatkan surat tugas serta memberikan kepada tersangka surat perintah penangkapan yang mencantumkan identitas tersangka dan menyebutkan alasan penangkapan serta uraian singkat perkara kejahatan yang dipersangkakan serta tempat ia diperiksa.
tersangka serta barang bukti yang ada kepada penyidik atau penyidik pembantu terdekat. Kemudian tembusan surat penangkapan harus diberikan kepada keluarganya segera setelah penangkapan dilakukan.
Berdasarkan data yang diperoleh penulis dari wawancara dengan Bapak Iptu Syahrizal, Penyidik Kepolisian Resor Lampung Selatan bahwa proses penegakan hukum terhadap penyalahgunaan senjata api sudah dilakukan dengan ditangkapnya beberapa pelaku tindak pidana penyalahgunaan senjata api, bahkan sudah diproses hingga tahapan putusan pengadilan.
Beberapa pelaku berhasil ditangkap berdasarkan adanya laporan dari masyarakat dan juga tertangkap tangan, namun penulis menilai jumlah dan hasil penegakan hukum yang dilakukan oleh Kepolisian sebagai aparat penegak hukum tampaknya masih kurang berjalan efektif dengan tingkat kriminal yang cukup tinggi dan penyalahgunaan senjata api yang masih saja terjadi di wilayah Lampung Selatan. Pelaku pada umumnya merupakan sebuah kelompok sehingga tidak menutup kemungkinan ada jaringan yang terkoneksi dalam mendapatkan senjata api tersebut.
2. Tindakan Preventif
Disamping tugas represif tersebut, tidak kalah pentingnya dari peranan Kepolisian dalam mengungkap tindak pidana senjata api yang
dilakukan oleh masyarakat sipil ialah apa yang disebutdengan tugas
preventif, yaitu dengan melakukan
sistem dan prosedur izin kepemilikan senjata api yang ketat, melakukan patroli-patroli secara terarah dan teratur, yaitu dengan melakukan razia pemeriksaan tersebut adalah untuk memperkecil kesempatan untuk melakukan kejahatan dan segera bertindak
preventif, untuk mengatasi
peredaran senjata api pihak Kepolisian mengadakan sweeping diberbagai tempat lokasi yang disinyalir tempat transaksi jual beli senjata api ilegal.
Adapun langkah-langkah preventif yang dilakukan oleh Kepolisian Resor Lampung Selatan dalam mencegah terjadinya penyalahgunaan senjata api oleh masyarakat adalah :
a. Sistem dan Prosedur Izin kepemilikan senjata api yang ketat
memiliki izin yang sah.
1) Melakukan pendataan kepemilikan senjata api; 2) Melakukan pengecekan
secara periodik setiap setahun sekali kepada pemilik senjata api baik senjata api maupun surat dokumen kepemilikan/ penggunaan senjata api; 3) Melakukan penarikan
senjata api yang surat dokumennya sudah mati atau masa berlakunya sudah habis;
4) Penerbitan izin kepemilikan dan penggunaan senjata api maupun senapan angin dan senjata replika/ mainan dalam rangka pengawasan dan pengendalian (Skep Kapolri No. Pol 82 Tahun 2004);
5) Melakukan tindakan/ upaya hukum sesuai dengan ketentuan Undang-Undang yang berlaku dalam hal ini penyidik menggunakan Undang-Undang Darurat Nomor 12 tahun 1951 tentang senjata api dan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana. Dengan pencatatan dan prosedur yang ketat kepolisian juga bekerjasama dengan perbankin Indonesia dalam pencatatan sipil kepemilikan senjata api, dengan menggandeng Perbankin disetiap daerah, wilayah peredaran senjata api setidaknya dapat diawasi di wilayah masyarakat. Selain itu pastinya hal-hal mengenai jenis dan klasifikasi senjata api Kepolisian Resor Lampung Selatan dapat melibatkan
yang diketahui oleh Perbankin.
b. Patroli
Patroli adalah salah satu kegiatan kepolisian yang dilakukan oleh 2 (dua) orang atau lebih anggota Kepolisian, sebagai usaha dalam mencegah bertemunya niat dan kesempatan, dengan cara mendatangi, mengamati/ mengawasi/ memperhatikan situasi dan kondisi yang diperkirakan akan menimbulkan segala bentuk kejahatan/ gangguan keamanan ketertiban masyarakat yang melanggar hukum, guna memelihara ketertiban dan menjamin keamanan umum masyarakat.
Patroli yang dilakukan oleh Polres Lampung Selatan terhadap masyarakat dilakukan di Wilayah Lampung Selatan yang rawan akan penyalahgunaan senjata api serta rawan terjadi tindak pidana. Daerah daerah tersebut adalah daerah perbatasan kota dimana setiap harinya lalu lintas dari luar daerah sangat padat sehingga memungkinkan senjata api dapat dimasukkan kedalam wilayah Lampung Selatan. Dengan menugaskan beberapa personil dalam operasi patrol polisi juga bekerja sama dengan masyarakat sebagai pengawasan dan pengaduan tindak pidana yang terjadi disekitar tempat tinggal masyarakat.
c. Razia
mendatangi tempat-tempat yang diduga dan terindikasi rawan penyalahgunaan senjata api. Selain itu juga dilokasi yang dicurigai jalur lintas peredaran senjata api illegal yang masuk kedalam wilayah Lampung Selatan yang umumnya terletak didaerah pinggiran kota dan wilayah perlintasan provinsi.
B. Faktor Penghambat Penegakan Hukum Terhadap Tindak Pidana Penjualan Senjata Api Ilegal Melalui Media Online Facebook
Pelaksanaan penegakan hukum terhadap tindak pidana penjualan senjata api ilegal melalui media online
Facebook terdapat beberapa kendala
yang dihadapi oleh Kepolisian Resor Lampung Selatan, kendala tersebut yaitu:
1. FaktorInternal a. Kendala informasi
Untuk kendala penegakan hukum ini dimulai dari kurangnya informasi yang diperoleh oleh kepolisian terhadap peredaran senjata api yang beredar di kalangan masyarakat.
b. Kendala sumber daya manusia di Polres Lampung Selatan
Berdasarkan hasil wawancara dengan Juliansyah selaku penyidik di Kepolisian Resor Lampung Selatan menyatakan bahwa Kepolisisan Resor Lampung Selatan dalam penyelesaian kasus penyalahgunaan tindak pidana senjata api melalui satuan Reserse Kriminal masih kurang anggota dengan keahlian khusus dalam bidang keahlian mendeteksi senjata api, yang dilakukan hanya mendeteksi dalam kapasitas tindak
pidana umum yang dilakukan dengan senjata api tidak pada peredaran dan pemasukan senjata api yang dilakukan oleh pemasok senjata api dari luar daerah.
Sarana atau fasiltas tersebut mencakup tenaga manusia yang terdidik dan terampil, organisasi yang baik, peralatan yang memadai, keuangan yang cukup, dan sebagainya. Ketersediaan sarana dan fasilitas yang memadai merupakan suatu keharusan bagi keberhasilan penegak hukum. Sarana atau fasilitas adalah satu hal yang penting dalam proses berjalannya penegakan hukum karna tanpa adanya sarana atau fasilitas yang memadai akan memperlambat proses penegakan hukum, maka untuk terwujdunya penegakan hukum yang berjalan dengan baik perlu adanya sarana dan fasilitas yang sesuai dengan proses penegakan hukum tersebut. Johannes Siregar juga berpendapat bahwa faktor sarana dan fasilitas yang menghambat penegakan hukum terhadap penggunaan senjata api adalah kurangnya sarana dan prasarana.
c. Kendala legislasi
Berdasarkan hasil wawancara dengan Juliansyah selaku penyidik di Kepolisian Resor Lampung Selatan menyatakan bahwa kendala legislasi merupakan salah satu kendala yang juga menjadi kendala sangat penting dalam penegakan hukum penyalahgunaan tindak pidana senjata api.
2. FaktorEksternal
masayarakat memahami betul apa yang dikatakan dengan tindak pidana, apa saja yang dilarang dalam suatu Undang- Undang serta mampu mengimplementasikan nilai kaidah yang terkandung didalamnya dalam kehidupan tentu permasalahan hukum tidak akan terjadi.
Kesadaran hukum pada hakikatnya adalah kesadaran yang pada setiap manusia apa hukum itu atau apa seharusnya hukum itu, suatu kategori tertentu dari kejiwaan manusia untuk dapat membedakan antara hukum dan tidak kesadaran hukum, antara yang dilakukan dan tidak dilakukan yakni masyarakat lingkungan di mana hukum tersebut berlaku atau diterapkan. Warga masyarakat harus mengetahui dan memahami hukum yang berlaku, serta menaati hukum yang berlaku dengan penuh kesadaran akan penting dan perlunya hukum bagi kehidupan masyarakat. Kesadaran hukum akan ada, apabila warga Negara mempunyai pendapat tertentu terhadap perilaku yang nyata dari pejabat-pejabat dan atribut- atribut tertentu dari pejabat yang dikaitkan dengan rasa keadilan.
Masyarakat sebagai peranan yang sangat penting dalam proses penegakan hukum diharpakan andil dalam berjalannya proses penegkan hukum, namun terkadang kurangnya informasi mengenai aturan hukum membuat masyarakat enggan dalam membantu berjalannya proses penegakan hukum. Masyarakat adalah faktor yang paling besar menghambat dalam upaya penegakan hukum terhadap penggunaan senjata
api.Seperti kurangnya pos-pos penjagaan kepolisian di daerah-daerah yang dianggap rawan terjadi kejahatan dengan kekerasan baik itu pembegalan maupun dengan menggunakan senjata api. Selain itu juga dibutuhkan kendaraan roda dua dan kendaraan roda empat, seperti mobil patroli untuk memudahkan melakukan pemeriksaan ketempat yang dianggap menjadi tempat pembuatan senjata api, dan motor kepolisian yang berada di pos-pos penjagaan guna dapat segera mengejar pelaku ketika terjadi tindak kejahatan. Dengan demikian sangat dibutuhkan sarana dan fasilitas guna mendukung pihak kepolisian dalam menangani penegakan hukum terhadap penggunaan senjata api.
Masyarakat sebenernya mengetahui adanya aktivitas pembuatan senjata api atau transaksi perdangan senjata api serta kejahatan-kejahatan yang menggunakan senjata api di daerah sekitar tempat tinggalnya. Bahkan kadang masyarakat itu sendiri yang menjadi korban atau memiliki senjata api tersebut, namun karena rasa takut dan kurangnya pengatahuan yang dimiliki masyarakat sehingga membuat masyarakat tidak perduli dengan lingkungan sekitar dan tidak berani memberikan informasi kepada pihak kepolisian.
dimilikinya kepada kepolisian baik melalui kepala desa, RT ataupun dari diri sendiri.
b. Kendala Geografis
Kondisi geografis yang menyebabkan menjadi salah satu faktor kendala dalam penegakan hukum terhadap penyalahgunaan senjata api yang dilakukan oleh masyarakat sipil. Secara umum Provinsi Riau khususnya Lampung Selatan terletak diantara provinsi- provinsi yang telah maju serta berkembang. Provinsi Riau khususnya Lampung Selatan menjadi perlintasan yang dilewati oleh peredaran senjata api hal tersebut menjadikan semakin meningkatnya penyalahgunaan senjata api yang ada di provinsi ini.
III.PENUTUP
A. Simpulan
1. Penegakan hukum terhadap tindak pidana penjualan senjata api ilegal melalui media online Facebook dilakukan dengan tindakanrepresif yaitu penyelidikan, penyidikan, penangkapan dan dilakukan juga dengan tindakan preventif yaitu dengan sistem dan prosedur izin kepemilikan senjata api yang ketat, patroli dan razia.
2. Faktor penghambat penegakan hukum terhadap tindak pidana penjualan senjata api ilegal melalui media online Facebook diantaranya kendala kurangnya informasi, kedua kendala Sumber Daya Manusia di Polres Lampung Selatan, ketiga kendala legislasi, keempat kendala kurangnya peran masyarakat dan kelima kendala geografis. Upaya yang dilakukan Kepolisian untuk mengatasi kendala
dalam melaksanakan penegakan hukum terhadap tindak pidana penyalahgunaan senjata api bagi masyarakat sipil diantaranya: pertama terhadap kendala faktor informasi yakni, meningkatkan kerja sama dengan Direktorat Intelijen untuk mencegah peredaran senjata api secara ilegal, meningkatkan koordinasi dengan seluruh Kapolda-Kapolda di Indonesia, kedua dengan meningkatkan semangat dan motivasi anggota serta pelatihan kemampuan pengetahuan tentang senjata api. Ketiga mengupayakan adanya perubahan terhadap undang-undang yang sudah ada dengan segala upaya agar semakin menguatkan, keempat memberikan informasi dan Pengetahuan kepada masayarakat terhadap bahaya dari penyalahgunaan senjata api dan kelima kendala faktor geografis yakni meningkatkan pengawasan di setiap daerah.
B. Saran
1. Penegakan hukum yang dilakukan oleh Kepolisian perlu dilakukan secara lebih optimal dan terkoordinasi yang lebih baik terhadap semua instansi-instansi pihak yang terkait dalam pelaksanaan penegakan hukum. 2. Kepolisian harus meningkatkan
DAFTAR PUSTAKA
Sunggono, Bambang. Metodelogi
Penelitian Hukum, Raja Grafindo
Persada, Jakarta, 2001
Arief, Barda Nawawi. Bunga Rampai
Kebijakan Hukum Pidana, PT.
Citra Aditya Bhakti, Bandung, 1996.
Koentjara ningrat, Kamus Besar
Bahasa Indonesia, Balai Pustaka,
Jakarta, 2001.
Marpaung, Leden, Proses Penanganan
Perkara Pidana, Sinar. Grafika,
Jakarta. 1992.
http://www.indowebster.com/lawandle gal.dikunjungi terakhir tangga l9 April 2017
https://www.merdeka.com/uang/mudah nya-transaksi-jual-beli-senjata- api-ilegal-di-indonesia-bisnis-senjata-api-3.html, diakses Tanggal 19 Maret 2017 pukul 21.45 WIB
http://news.okezone.com/jual-beli-senpi-via-internet, Tanggal 19 Maret 2017 pukul 21.45 WIB