• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH KOMPETENSI DAN KUALIFIKASI GURU

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PENGARUH KOMPETENSI DAN KUALIFIKASI GURU"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

KEWIRAUSAHAAN DI SMK

SE-KABUPATEN SRAGEN

Bakti Widyaningrum, Soetarno Joyoatmojo, Susilaningsih Magister Pendidikan Ekonomi Program Pascasarjana UNS

[email protected]

ABSTRACT

Background: The objectives of this research are to investigate the effect of: (1) teachers’ competencies on the entrepreneurship attitudes of students; (2) teachers’ qualifications on the entrepreneurship attitudes of students; (3 teachers’ competencies on the mastery of Entrepreneurship learning materials of students; (4) teachers’ qualifications on the mastery of Entrepreneurship learning materials of students; (5) mastery of the Entrepreneurship learning materials on the entrepreneurship attitudes of students; and (6) teachers’ competencies and qualifications on the entrepreneurship attitudes of the students of Vocational High Schools of Sragen based on the mastery of Entrepreneurship learning materials.

Subject and methods: This research used the quantitative survey method. Its population was all of the students of Business and Management Vocational High School of Sragen. The samples of the research were taken by using the simple random sampling technique by randomly choosing the classes to be the objects of the research.

Result :The results of the research are as follows: (1) there is a significant effect of the teachers’ competencies on the students’ entrepreneurship attitudes (2) there is a significant effect of the teachers’ qualifications on the students’ entrepreneurship attitudes (3) there is a significant effect of the teachers’ competencies on the students’ mastery of Entrepreneurship learning materials (4) there is a significant effect of the teachers’ qualifications on the students’ mastery of Entrepreneurship learning materials (5) there is not any significant effect between the students’ mastery of Entrepreneurship learning materials and their entrepreneurship attitudes and (6) there is not any significant effect of the teachers’ competencies and qualifications on the entrepreneurship attitudes of the students of Vocational High Schools of Sragen based on the mastery of Entrepreneurship learning materials.

(2)

PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah

Pendidikan adalah sebuah proses pembentukan individu untuk menjadi manusia seutuhnya. Dalam undang-undang No 20 Tahun 2003 disebutkan bahwa Pendidikan bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan YME, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Masalah yang akhir-akhir ini dijadikan trending topic di Negara Indonesia adalah pengangguran. Jumlah pengangguran pada tahun 2012 masih menyentuh angka 7 juta, dan fakta yang didapat dari survey tersebut SMK menjadi salah satu lembaga pendidikaan

penyumbang pengangguran

terbesar yaitu 14 %.

Entrepreneur mempunyai peran yang sangat dominan

dalam mengen-taskan

pengangguraan di banyak Negara. Negara yang maju bahkan telah mengenalkan dan menanamkan kewira-usahaan melalui entrepreneur education

dalam pembelajaran sekolah di

tingkat dasar. Misi terbesar pendidikan kewirausahaan adalah menciptakan entrepreneur handal yang mampu men-ciptakan suatu usaha dan menampung banyak pekerja,.

Di Indonesia, pendidikan kewirausahaan diajarkan menjadi mata pelajaran kewirausahaan pada siswa Sekolah Menengah Kejuruan. Tuntutan tamatan Sekolah Menengah Kejuruan adalah mendapatkan pekerjaan yang layak dengan gaji yang menjanjikan atau menciptakan pekerjaan yang produktif melalui wirausaha. Pilihan untuk menjadi wirausaha lebih sering dijadikan

alternatif terakhir oleh

kebanyakan tamatan Sekolah Menengah. Masalah ini dipersulit dengan kendala pada rendahnya tingkat ketrampilan dan keahlian

tamatan SMK untuk

berwirausaha. Oleh karena itu, setiap angkatan kerja harus

dibekali pengetahuan,

ketrampilan dan sikap menjadi wirausaha.

(3)

sikap kewirausahaan peserta didik.

Hasil tracer study SMK Muhammadiyah 3 Gemolong dalam 2 tahun terakhir mengindikasikan banyaknya lulusan SMK Muhammadiyah 3 Gemolong yang belum mampu

menerapkan ilmu

kewirausahasaan yang

diterimanya di sekolah. Tamatan SMK dalam 2 tahun terakhir ini masih 37% yang belum bekerja dan hanya 6% dari 477 siswa yang memulai karir mereka dengan berusaha.

Hasil belajar kewirausahaan

siswa lulusan SMK

Muhammadiyah dalam

penguasaan materi pelajaran kewirausahaan dapat dikatakan kurang baik. Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) untuk mata pelajaran kewirausahaan sebesar 75, dan sebesar 4% siswa belum tuntas KKM.

Guru mempunyai peran

strategis dalam upaya

pembentukan sikap

kewirausahaan peserta didik, karena dengan kompetensi dan kualifikasi yang dimiliki guru maka pembelajaran yang berlangsung dapat memberikan kebermaknaan bagi siswa dalam

mengkonstruksi dan

mempraktekkan pengetahuan

yang telah didapatkan.

Berdasarkan pemikiran di atas maka perlu dikaji lebih dalam tentang pengaruh kompetensi dan kualifikasi guru terhadap sikap kewirausahaan berdasarkan penguasaan materi kewira-usahaan peserta didik.

Tujuan penelitian

Tujuan penelitin ini adalah untuk mengetahui pengaruh:

1. Kompetensi guru terhadap sikap kewirausahaan peserta di SMK se-Kabupaten Sragen. 2. Kualifikasi guru terhadap sikap

kewirausahaan peserta didik di SMK se-Kabupaten Sragen. 3. Kompetensi guru terhadap

penguasaan materi

kewirausahaan peserta didik di SMK se-Kabupaten Sragen. 4. Kualifikasi guru terhadap

penguasaan materi

kewirausahaan peserta didik di SMK se-Kabupaten Sragen. 5. Penguasaan materi terhadap

sikap kewirausahaan peserta didik di SMK se-Kabupaten Sragen

(4)

berdasarkan penguasaan meteri kewirausahaan.

KAJIAN PUSTAKA

Menurut Tamizharasi dan

Panchanatham (2010:354)

Entrepreneurship has acquired a special significance in the control of economic growth and industrial development in the rapidly changing socioeconomic and sociocultural climates both in the developed and developing countries”

Kewirausahaan sendiri adalah “proses penciptaan sesuatu yang baru pada nilai, menggunakan waktu dan upaya yang diperlukan, menanggung resiko keuangan, fisik serta resiko sosial yang mengiringi, menerima imbalan moneter yang dihasilkan serta kepuasan pribadi” (Hisrich,

Peters, dan Shepherd, 2008:10). Mamman (2009) menjelaskan bahwa “entrepreneurship as an organizational and management approach that enables a person respond to change and solves problems in whatever situation they may find themselves”

(Ememe, Ezeh dan Ekemezie, 2013:242)

Dari pengertian dan pendapat yang telah dikemukakan di atas

dapat ditarik kesimpulan bahwa kewirausahaan merupakan proses penciptaan sesuatu yang baru pada sebuah nilai yang di dalamnya terdapat pendekatan manajemen yang membuat seseorang dapat merespon dan memecahkan sendiri masalah yang dihadapinya.

Menurut Ememe, Ezeh dan Ekemezie (2013:244) “The concern created in teaching entrepreneurship education to pupils is for them to take more responsibility for themselves and their learning, to try to achieve their goals in life, be creative, discover existing opportunities and in general cope in the complex societies”

Sedangkan UNESCO (2008) mendifinisikan pembelajaran kewirausahaan sebagai berikut: 1) Entrepreneurship education is made up of all kinds of experiences that give pupils the ability and vision of how to access and transform opportunities of different kinds;

(5)

entrepreneurship education (not enterprise education) so that it does not sound as if it is focusing on business.

Berdasarkan pendapat di atas dapat ditarik kesimpulan hakikat dari pembelajaran kewirausahaan merupakan proses pembelajaran penanaman nilai kewirausahaan

melalui pembiasaan dan

pemeliharaan perilaku serta sikap sehari-hari peserta didik yang dilakukan oleh guru dan sekolah. Pembelajaran kewirausahaan secara berkelanjutan dapat menghasilkan peserta didik yang mempunyai karakter dan sikap yang kuat.

Menurut Fiet (2000:1)

“Educators should develop more refined theory and teach it to students in away that emphasizes learning by doing,which should accelerate student mastery”. Walaupun

demikian Fiet (2000:1)

menjelaskan lebih lanjut bahwa “Theory is an essential part of what we teach because we do not know any other way to help students anticipate the future, which is a key to entrepreneurial success. Despite the current limitations of our theorizing, theorystill offers the most

promise as course content for students”.

Pengusaan materi peserta didik sangat erat kaitannya dengan hasil belajar yang nantinya akan diperoleh. Winkel (2002: 102) menyatakan bahwa “prestasi belajar adalah bukti keberhasilan yang dicapai, proses belajar yang dialami siswa

menghasilkan

perubahan-perubahan dalam bidang pengetahuan atau pemahaman, keterampilan, nilai dan sikap”.

Berdasarkan pendapat di atas, materi kewirausahan yang diajarkan harus sarat akan

pengetahuan, pengetahuan

didapat dari teori-teori

kewirausahaan yang diajarkan oleh guru kepada siswa. Pada akhirnya, pengetahuan yang telah diproses akan menghasilkan penguasaan materi yang optimal dan dapat diwujudkan dalam bentuk angka atau nilai, maupun perubahan sikap dan tingkah laku.

Anastasi (1965)

menjelaskan, bahwa penilaian

dalam pendidikan dapat

dipergunakan oleh guru sebagai alat bantu dalam membuat

evaluasi pembelajaran,

(6)

dan untuk mengembangkan isi kurikulum. Menurut Linn dan Groundlund (2000) Evaluasi sendiri memiliki tiga dimensi yang sangat berkaitan yaitu

assessment, test dan

measurement.

Bloom mengklasifikasi ranah hasil belajar kognitif atas enam tingkatan, yaitu pengetahuan, pemahaman, penerapan, analisis, síntesis dan evaluasi. Selanjutnya dalam penelitian ini, penguasaan materi kewirausahaan yang dimaksud adalah penguasaan materi kewirausahaan siswa SMK di Kabupaten Sragen ranah kognitif pada semester satu tahun pelajaran 2013/2014.

Wenneker dan Thurik (1999) menjelaskan bahwa ada tiga dimensi yang harus dimiliki oleh

seorang wirausaha yaitu

attitudes, skills dan creativity

(Hosseini dan Ahmadi, 2011).

Allport (1935)

menjelaskan“Attitude is defined as a mental and neural state of exerting readiness, organized through experience, exerting a directive or dynamic influence upon the individuals regards to all objectives and situation with it is related” (Tamizharasi dan Panchanatham, 2010:354).

Indikator sikap kewira-usahaan menurut Stimpson, Robinson dan Hunt (1991) terdiri dari 4 dimensi utama yang juga disebut dengan Entrepreneurial Attitude Orientation (EAO) yaitu

need for achievement, personal control over behavior, innovation, dan self esteem (Tamizharasi dan Panchanatham, 2010; Pihie dan Bagheri, 2011; Gibson, Walker, Harris, 2010).

Sedangkan Buchari (2011) menjelaskan terdapat enam sikap yang harus dimiliki oleh seorang wirasusaha yaitu percaya diri, mempunyai inisiatif, memiliki motif untuk berprestasi, memiliki jiwa kepemimpinan, berani dalam

mengambil resiko penuh

perhitungan dan yang terakhir orisinalitas.

Akhirnya seseorang dapat

dikatakan sebagai

the real

entrepreneurship apabila memiliki

sifat-sifat yang telah disebutkan di

atas, baik itu sebagian kecil maupun

menyeluruh.

Arti kompetensi dalam pendidikan dibagi menjadi dua,

(7)

perilaku. Kedua dilihat dari

operational point of view, yang

mencakup pengetahuan,

ketrampilan, sikap, metakognisi dan berfikir strategis, serta sikap dalam mengambil keputusan (Westera, 2001).

Kompetensi guru di Indonesia berjumlah empat indikator yang tertuang dalam bab IV pasal sepuluh Undang-Undang nomor 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen yaitu

kompetensi pedagogik,

kompetensi kepribadian,

kompetensi sosial, dan

kompetensi profesional.

Perrenoud (1999)

mengemukakan bahwa

teacher’s pedagogic competence as his abilities and aptitudes to organize and animate learning situations, to manage the progression or continuation of learning, to implicate the learners (pupils) in the learning process, to organise group work, to manage his personal continuous training and also, to inform and implicate parents in issues relating to their children’s education” Calvin dan Chumba (2011:1098).

Permendiknas RI Nomor 16 Tahun 2007 dalam Nanang

(2009:105) menjelaskan

kompetensi kepribadian yang harus dimiliki guru adalah bertindak sesuai dengan norma agama, hukum, sosial, dan kebudayaan nasional Indonesia; menampilkann diri sebagai pribadi yang jujur, berakhlak mulia, dan teladan bagi peserta

didik dan masyarakat;

menampilkan diri sebagai pribadi yang mantap, stabil, dewasa, arif dan berwibawa; menunjukkan etos kerja, tanggung jawab yang tinggi, rasa bangga menjadi guru, dan rasa percaya diri; menjunjung tinggi kode etik profesi guru.

Menurut Eccless dan Roeser (1999) kompetensi sosial tidak hanya diaplikasikan guru ketika sedang berada pada lingkungan sosial saja. Dalam proses belajar mengajarpun seorang guru harus mempunyai kompetensi sosial. Kompetensi sosial digunakan guru untuk menjaga dan memberikan tempo selama proses belajar. Lebih lanjut diungkapkan bahwa kompetensi sosial guru juga tercermin dalam tingkah lakunya sehari-hari (Jennings dan Greenberg, 2009).

Belousa dan Uzulina

(8)

bahwa Teachers’ professional competence which is accounted for by the know-how and skills needed, the social and personal dimension, professional identity, the spiritual dimension. Sedangkan Indikator kompetensi profesional menurut Peraturan Pemerintah RI Nomor 74 tahun 2008 yaitu: menguasai materi pelajaran secara luas dan mendalam sesuai dengan mata

pelajaran yang diampu

(kewirausahaan), menguasai konsep dan metode disiplin keilmuan mata pelajaran yang diampu (kewirausahaan).

Guru yang berkompetensi mampu membentuk sikap kewirausahaan peserta didik. Untuk itu, guru harus mengembangkan dan memadu padankan seluruh komponen kompetensi yang dimilikinya yaitu

kompetensi profesional,

kompetensi pedagogik,

kompetensi sosial dan

kompetensi kepribadian dengan baik dan seimbang.

Peraturan yang mengatur tentang kualifikasi guru, disebut sebagi standar kualifikasi dan kompetensi guru, terdapat di dalam Peraturan Menteri nomor 16 tahun 2007. Di dalamnya,

disebutkan bahwa guru Sekolah Menengah Kejuruan harus memiliki kualifikasi akademik pendidikan minimum diploma empat (D-IV) atau sarjana (S1) program studi yang sesuai dengan mata pelajaran yang diajarkan/diampu, dan diperoleh dari program studi yang terakreditasi.

Sedangkan Zuzovsky (2003) menjelaskan bahwa kualifikasi guru dapat dilihat dari: Teachers’ Formal education, Teacher education in the Subject matter of Teaching, Teacher education in Pedagogical Studies, Certification and licensing Status, Years of experience.

Guru yang memiliki kualifikasi akademik sesuai dengan mata pelajaran yang diampu dalam hal ini kewirausahaan akan lebih mengetahui bahwa tujuan utama dari pendidikan kewirausahaan ditekankan pada pembentukan sikap kewirausahaan.

Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan di seluruh SMK Bisnis dan Manajemen di Kabupaten Sragen.

Jenis Penilitian

Penelitian ini adalah penelitian survey. Menurut Sugiyono (2012) penelitian survey merupakan

(9)

digunakan untuk mendapatkan data dari tempat tertentu yang

alamiah (bukan buatan)

sedangkan menurut Jogiyanto (2010) survey merupakan metode pengumpulan data primer dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan kepada responden.

Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah metode kuesioner dan tes. kuesioner digunakan utuk mengetahui pengaruh kompetensi dan kualifikasi guru terhadap sikap kewirausahaan peserta didik berdasarkan penguasaan materi kewirausahaan, sedangkan tes digunakan untuk mengukur

penguasaan materi

kewirausahaan peserta didik.

Teknik Analisis Data

Teknik analisis data penelitian ini menggunakan tiga metode statistik, yaitu dengan analisis korelasi, uji statistik t dan path analysis.

Analisis korelasi digunakan untuk memastikan bahwa antar variabel bebas tidak terdapat korelasi. Uji statistik t digunakan untuk mengukur pengaruh masing-masing variabel. Path analysis digunakan untuk mengetahui pengaruh variabel eksogen terhadap variabel

endogenus melalui variabel

intervening. Selanjutnya

exogenous variable is a variable whose variability is assumed to be determined by causes outside the causal model” (Pedhazur, 1982: 581) yang artinya Variabel

eksogen adalah variabel yang variabilitasnya diasumsikan ditentukan oleh model kausal atau sebab akibat. Variabel

eksogen selalu memainkan peranan sebagai variabel independen (Gudono, 2011).

Variabel eksogen dalam

penelitian ini adalah Kompetensi

Guru Mata Pelajaran

Kewirausahaan (X1) dan

Kualifikasi Guru Mata Pelajaran Kewirausahaan (X2).

Sedangkan “An endogenous variable is one whose variation is explained by exogenous or endogenous variable in the system” (Pedhazur, 1982:581) yang artinya variabel endogen

adalah variabel yang salah satu variasinya dijelaskan oleh variabel eksogen atau endogen

dalam sistem atau model.

Variabel endogen dalam

penelitian ini adalah Sikap Kewirausahaan (Y).

(10)

hubungan kausal antara variabel

eksogen dan variabel endogen. Variabel interveningdalam penelitian ini adalah Penguasaan Materi Kewirausahaan (X3).

kompetensi dan kualifikasi guru terhadap penguasaan materi kewirausahaan peserta didik berdasarkan penguasaan materi kewirausahaan.

Hasil Penelitian

Sebelum melakukan uji hipotesis terlebih dahulu dilakukan uji persyaratan analisis. Berdasarkan ujji normalitas diperoleh koefisien p-value = 0.207 dan Kolmogorov-Smirnov

1.065 dimana p-value lebih besar dari 0.05 (0.207>0.05), sehingga dapat dikatakan bahwa data penelitian berdistribusi normal. Uji multikolonieritas menunjukkan seluruh variabel bebas memiliki VIF yang nilainya < 10. Angka VIF pada variabel kompetensi guru sebesar 1.068 < 10, kualifikasi guru

1.127 < 10, dan penguasaan materi 1.156 < 10. Uji multikolonieritas pada model

regresi penelitian ini

menunjukkan tidak adanya gangguan multikolonieritas.

Uji Hipotesis

Analisis Korelasi

Untuk membuktikan bahwa masing-masing variabel bebas tidak mempunyai hubungan dilakukan analisis korelasi. Analisis korelasi dalam penelitian ini dapat dilihat dalam tabel 1.

Korelasi kompetensi dan kualifikasi guru sebesar 0,172 ditafsirkan hubungan antar variabel eksogen sangat lemah (dianggap tidak ada) dan searah (hasilnya positif), dengan taraf signifikansi 0.029 < 0.05 yang berarti signifikan. Jadi hubungan antara kompetensi dan kualifikasi guru searah dan signifikan tapi sangat lemah (dianggap tidak ada).

Uji Statistik t (Parsial)

Untuk mengetahui besar kecilnya pengaruh langsung dan tidak langsung digunakan path analysis, dengan menggunakan bantuan dari SPSS versi 16.

Perhitungan dengan

menggunakan uji statistik t (parsial) antara variabel kompetensi guru, kualifikasi guru terhadap sikap kewirausahaan peserta didik berdasarkan

penguasaan materi

(11)

Tabel 1 Analisis Korelasi Kompetens Guru, Kualifikasi Guru Penguaasaan Materi Kewirausahaan

Correlations

Kompetens

i Kualifikasi PM

K

o

m

p

e

te

n

si

Pearson

Correlation 1 .172* .231**

Sig. (2-tailed) 0.029 0.003

N 163 163 163

K

u

a

l

ifik

a

s

i

Pearson

Correlation .172* 1 .321**

Sig. (2-tailed) 0.029 0

N 163 163 163

P

M Pearson

Correlation .231** .321** 1

N 163 163 163

*. Correlation is significant at the 0.05 level (2-tailed). **. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).

Tabel 2 Uji Statistik t (Parsial) Kompetensi dan Kualifikasi Guru terhadap Sikap Kewirausahaan berdasarkan Penguasaan Materi

Coefficientsa

Model

Unstandardized

Coefficients StandardizedCoefficients

t Sig.

B Std.

Error Beta

1 (Constant) 5.750 3.213 1.790 0.075

Kompetensi 0.083 0.026 0.227 3.180 0.002

Kualifikasi 0.619 0.106 0.430 5.855 0.000

PM -0.058 0.036 -0.122 -1.636 0.104

a. Dependent Variable: Sikap

Berdasarkan tabel di atas

dapat diintepretasikan

kompetensi guru terhadap sikap kewirausahaan peserta didik diperoleh nilai standardized coefficients beta sebesar 0,227.

Standardized coefficients beta

0,430 untuk pengaruh kualifikasi

guru terhadap sikap

kewirausahaan. Antara variabel

penguasaan materi

kewirausahaan terhadap sikap kewirausahaan peserta didik diperoleh nilai standardized coefficients beta sebesar -0.122. Dengan mempergunakan uji statistik t (parsial) diperoleh hasil kompetensi guru terhadap

(12)

kewirausahaan peserta didik dalam tabel 3.

Nilai standardized coefficients beta sebesar 0,290 untuk kualifikasi guru terhadap

penguasaan materi

kewirausahaan. Hasil ini

menunjukkan bahwa pengaruh

kalifikasi guru terhadap

penguasaan materi

kewirausahaan peserta didik sebesar 0,290. Berdasarkan analisis uji statistik t keseluruhan taraf signifikansi < 0,05 yang dapat diartikan signifikan.

Path Analysis

kompetensi dan kualifikasi

guru berpengaruh positif

terhadap sikap kewirausahaan peserta didik berdasarkan penguasaan materi. Berdasarkan perhitungan yang telah dilakukan sebelumnya diperoleh pengaruh langsung kompetensi guru terhadap sikap kewirausahaan peserta didik sebesar 0,227. Pengaruh langsung kualifikasi

guru terhadap sikap

kewirausahaan peserta didik

sebesar 0,430. Pengaruh

lengsung kompetensi guru terhadap penguasaan materi kewirausahaan peserta didik

sebesar 0,182. Pengaruh

langsung kualifikasi guru

terhadap penguasaan materi kewirausahaan peserta didik sebesar 0,290, dan seluruhnya signifikan. Sedangkan pengaruh langsung penguasaan materi kewirausahaan terhadap sikap kewirausahaan peserta didik tidak signifikan dengan besar pengaruh -0,122.

Pengaruh tidak langsung kompetensi guru terhadap sikap kewirausahaan berdasarkan

penguasaan materi

kewirausahaan peserta didik adalah -0,022, sedangkan pengaruh tidak langsung kualifikasi guru terhadap sikap kewirausahaan berdasarkaan

penguasaan materi

kewirausahaan adalah sebesar -0,035.

Pengaruh total kompetensi dan kualifikasi guru terhadap sikap kewirausahaan peserta didik berdasarkan penguasaan materi sebesar 0,350. Sedangkan pengaruh total kompetensi dan kualifikasi guru terhadap sikap kewirausahaan peserta didik tanpa melalui pengasaan materi sebesar 0,657

(13)

Penguasaan materi kwu Sikap kwu Kompetensi guru

Kualifikasi guru 0,172

0,290 0,182

0,227

0,430

-0,122 e1=0,930

e2=0,872 Tabel 3 Uji statistik t Kompetensi dan Kualifikasi Guru terhadap Sikap

Kewirausahaan

Coefficientsa

Model

Unstandardized

Coefficients Standardized

Coefficients t Sig.

B Std.

Error Beta

1 (Constant) 55.093 5.628 9.789 0.000

Koompetens

i 0.138 0.057 0.182 2.434 0.016

Kualifikaasi 0.869 0.224 0.290 3.882 0.000

a. Dependent Variable: PM

Nilai e1 sebesar 0,930

merupakan variance eror dari variabel pengasaan materi kewirausahaan dan e2 merupakan

varince eror dari variabel sikap kewirausahaan peserta didik. Nilai e diperoleh dari perhitungan:

Nilai e1 =

(

1

R

2

)

=

(

1

0,135

)

=

0,865

= 0,930 Nilai e2 =

(

1

R

2

)

=

1

(

¿

0,239

)

¿

=

0,761

= 0,872

Berdasarkan seluruh

perhitungan path analysis dengan bantuan SPSS versi 16 dalam penelitian ini, maka persaman struktural model dalam penelitian ini adalah:

Y1 = 0,182X1+0,290X2+0,930; Gb. 1 Model Path Kompetensi Dan Kualifikasi Guru Terhadap Sikap

(14)

Y2=0,227X1+0,122Y1+0,430X2+0,

872

Kesimpulan dan Saran Kesimpulan

Simpulan penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Terdapat pengaruh yang signifikan kompetensi guru terhadap sikap kewirausahaan peserta didik di SMK se-Kabupaten Sragen.

2. Terdapat pengaruh signifikan kualifikasi guru terhadap sikap kewirausahaan peserta didik di SMK se-Kabupaten Sragen. 3. Terdapat pengaruh signifikan

kompetensi guru terhadap

penguasaan materi

kewirausahaan peserta didik di SMK se-Kabupaten Sragen. 4. Terdapat pengaruh signifikan

kualifikasi Guru terhadap

penguasaan materi

kewirausahaan peserta didik di SMK se-Kabupaten Sragen.

5. Tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara penguasaan

materi kewirausahaan

terhadap sikap kewirausahaan peserta didik di SMK se-Kabupaten Sragen.

6. Terdapat pengaruh tidak signifikan kompetensi dan kualifikasi guru terhadap sikap kewirausahaan peserta didik di SMK se-Kabupaten Sragen

berdasarkan penguasaan

materi.

Saran

Berdasarkan kesimpulan dan implikasi dalam penelitian ini, maka peneliti mengajukan beberapa saran sebagai berikut:

1. Langkah pemerintah dalam mengentaskan pengangguran

dimulai dari sekolah

menengah kejuruan dengan menanamkan motivasi dan sikap berwira-usaha dalam

mata pelajaran

kewiraausahaan di Sekolah

Menengah Kejuruan

(15)

mena-namkan sikap berwirausaha pada siswanya. Sebaiknya kurikulum materi kewirausa-haan lebih ditingkatkan dan dimodifikasi agar dapat cepat diterima oleh peserta didik, sehingga learning outcomes

yang matang secara sikap,

pada peserta didik. Selain itu,

guru diharapkan

mengembangkan sendiri

materi kewirausahaan dan disesuaikan dengan kondisi peserta didik, sehingga pembelajaran di kelas dapat memberikan kebermanfaatan yang lebih kepada peserta didiknya.

3. Peneliti lain dapat mengem-bangkan penelitian ini dengan

menambah ataupun

mengganti variabel

intervening sehingga dapat diketahui dengan jelas, selain kompetensi dan kuali-fikasi guru variabel apa lagi yang dapat mengakselerasikan terbentuknya sikap kewira-usahaan peserta didik.

Daftar Pustaka

Alnoor, Abdulghani. M. & Hongyu, Ma. 2011. Instrument of Primary School Teacher Competency. Journal of Social Sciences 7 (4): 586-589

Anastasi, Anne. 1965.

Calvin Jean B dan Chumba Evelyn N. 2011. Teacher’s Pedagogic Competence And Pupils’ Academic Performance In English In Francophone

Schools. International

Research Journals Educational Research 2 (4): 1094-1105. Cheng , Yin C. and Tsui , Kwok

T. (1996). Total teacher

effectiveness: new

conception and improvement.

International Journal of Educational Management

10(6): 7-17.

Depdiknas, 2003, Undang -undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Jakarta: Depdiknas RI.

(16)

Social Sciences and Humanities. 2 (01): 242 – 249 Fiet, James. O. 2000. The

Theoritical Side of Teaching Entrepreneurship. Journal of Business Venturing. 16: 1 –24

____________. 2000. The

Pedagogical Side Of

Entrepreneurship Theory. Journal of Business Venturing. 16: 101 –117

Hisrich, R. D., Peters, M. P, Sheperd, A. D. 2008.

Entrepreneurship. Jakarta: Salemba Empat.

Hosseini, S. J. F,. Ahmadi, Heidar. 2011. Affective Factors

Contributing to

Entrepreneurial Attitudes of University Students in Iran.

Annals of Biological Research. 2 (2): 366-371.

Ikävalko, M., Ruskovaara, E., Leino, J.S. 2006. Rediscovering

Teacher’s Role In

Entrepreneurship Education.

Academy of Management Review. 25 (1): 217-226

Jennings, Patricia A dan Greenberg, Mark T. (1996). The Prosocial Classroom: Teacher Social and Emotional Competence in Relation to Student and Classroom

Outcomes. Review of

Educational Research Spring

79 (1): 491-525.

Linn, R.L., & Gronlund, N.E. 2002.

Measurement And Assessment In Teaching 8th Ed.

Englewood Cliffs, New York: Vocational Education and Training. 1 (1): 65-83

Pihie, Z. A. L., Bagheri, A. 2011. Are Teachers Qualified to Teach Entrepreneurship? Analysis of Entrepreneurial Attitude and Self Eficacy.

Journal of Aplied Sciences. 11 (18): 3308-3314.

Winkel W.S. 2002. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta.

Tamizharasi, G., Panchanatham, N. 2010. Entrepreneurial

Attitudes among

Entrepreneurs in Small and

Medium Enterprises.

International Journal of Innovation, Management and Technology. 1(4): 354-356. Undang-undang Nomor 14 Tahun

2005 tentang Guru dan Dosen

UNESCO (2008). Inter-Regional Seminar on Promoting Entrepreneurship Education in Secondary School. Bangkok: UNESCO

Westera, Wim. 2001.

Competences in Education: A Confusion of Tongues. Journal of Curriculum Studies. 33 (1): 75-88.

Zuzovsky, Ruth. 2003. . Teacher’s Qualifications and Their

Impact on Student

(17)

Gambar

Tabel 1 Analisis Korelasi Kompetens Guru, Kualifikasi Guru Penguaasaan Materi Kewirausahaan Correlations Kompetens i Kualifikasi PM Ko mp ete nsi Pearson Correlation 1 .172 * .231 **Sig
Tabel 3 Uji statistik t Kompetensi dan Kualifikasi Guru terhadap Sikap  Kewirausahaan Coefficients a Model UnstandardizedCoefficients StandardizedCoefficients t Sig.BStd.ErrorBeta 1 (Constant) 55.093 5.628 9.789 0.000 Koompetens i 0.138 0.057 0.182 2.434 0

Referensi

Dokumen terkait

Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) optimistis berlakunya ASEAN-China Free Trade Agreement (AC-FTA) yang mulai berlangsung 1 Januari 2010 akan

merupakan situasi bahasa daerah yang berada pada ambang kepunahan dan taraf 1.. merupakan situasi bahasa menuju pada perkembangan

Dasar tujuan dari pendidikan Islam adalah pendidikan yang dapat membentuk lulusannya menjadi manusia dengan kepribadian Islami (ber- akhlaqulkarimah), dan hal

Kelompok siswa yang menggunakan strategi pembelajaran KWL menunjukkan nilai rata-rata yaitu 74.075 dan kelompok siswa yang menggunakan strategi pembelajaran Konvensional

To further this agenda, the eleven Member States of the WHO South-East Asia Region came together for a three-day regional consultation focused on ways to improve the availability

Kebutuhan material tinggi Kapasitas penyimpan an gudang besar Service level ketersediaan material tinggi Produk Jadi Produksi yang berlebihan Prosedur

Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa variable citra merek dan reputasi perusahaan mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap pengambilan keputusan pembelian smartphone

Komposisi tubuh ternak babi lokal jantan grower berupa persentase bobot badan tanpa isi saluran pencernaan, persentase bobot karkas, dan persentase bobot non