KEANEKARAGAMAN HAYATI GENETIK TANAMAN
PANGAN KOMODITI JAGUNG
DISUSUN OLEH : KELOMPOK 1
Agel Yuda Sacer 11382102494
Ari Saputra 11382104684
Aryani 11382202145
Deri Gustanto 11382102804
Mentari Andika Putri 11382204078 M. holis seprizal 11382104240
M. khoirul amri 11382104322
Musthafa Mahmuddin 11382104908
Nanda Adi Utama 11382100074
Novan Wahyudi 11382100437
Nurmalinda Pratiwi 11382203329
Safrizal 11382102532
Sanny Lestari Lubis 11382205258
Siti Purminah 11382201898
Widya Ayuni 11382206080
JURUSAN AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN DAN PETERNAKAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SULTAN SYARIF KASIM RIAU
PEKANBARU
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan petunjuk dan kemudahan kepada penyusun sehingga dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “KEANEKARAGAMAN HAYATI GENETIK TANAMAN PANGAN KOMODITI JAGUNG” dengan baik. Sholawat serta salam mari kita haturkan kepada junjungan alam yakni Nabi Muhammad SAW. Semoga kita mendapatkan syafaatnya di akhirat kelak. Amin
Dalam penyusunan makalah ini, penulis mengalami beberapa hambatan. Namun, semua itu dapat diatasi atas bantuan dari semua pihak. Untuk itu, penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada dosen pembimbing dan teman-teman yang telah mengapresiasi makalah ini. Penulis menyadari sepenuhnya bahwa penulisan makalah ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, kritik dan saran sangat diharapkan guna perbaikan dan penyempurnaan penulisan makalah berikutnya. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi penulis khususnya dan pemerhati pendidikan pada umumnya. Serta merupakan wujud sebuah pengabdian kami kepada Allah SWT.
Pekanbaru, Oktober 2014
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
tidak bisa tumbuh secara optimal dalam kondisi asam. Ketinggian yang paling tepat untuk budidaya.
B. Rumusan masalah
Apa saja varietas-varietas jagung? Bagaimana penjelasannya ?
C. Tujuan masalah
Agar mengetahui berbagai macam varietas dan mngetahui cirri-ciri jagung.
PEMBAHSAN
A. SEJARAH SINGKAT
Tanaman jagung merupakan salah satu jenis tanaman pangan biji-bijian dari keluarga rumput-rumputan.Berasal dari Amerika yang tersebar ke Asia dan Afrika melalui kegiatan bisnis orang-orang Eropa ke Amerika.Sekitar abad ke-16 orang Portugal menyebarluaskannya ke Asia termasuk Indonesia.Orang Belanda menamakannya mais dan orang Inggris menamakannya corn.
B. JENIS TANAMAN
Sistematika tanaman kedelai adalah sebagai berikut:
Kingdom : Plantae (tumbuh-tumbuhan)
Divisio : Spermatophyta (tumbuhan berbiji)
Sub Divisio : Angiospermae (berbiji tertutup)
Classis : Monocotyledone (berkeping satu)
Ordo : Graminae (rumput-rumputan)
Familia : Graminaceae
Genus : Zea
Species : Zea mays L.
Jenis jagung dapat dikelompokkan menurut umur dan bentuk biji.
a) Menurut umur, dibagi menjadi 3 golongan:
Berumur pendek (genjah): 75-90 hari, contoh: Genjah Warangan, Genjah Kertas, Abimanyu dan Arjuna.
Berumur sedang (tengahan): 90-120 hari, contoh: Hibrida C 1, Hibrida CP 1 dan CPI 2, Hibrida IPB 4, Hibrida Pioneer 2, Malin,Metro dan Pandu. Berumur panjang: lebih dari 120 hari, contoh: Kania Putih, Bastar,
b) Menurut bentuk biji, dibagi menjadi 7 golongan:
Dent Corn Flint Corn Sweet Corn Pop Corn Flour Corn Pod Corn Waxy Corn
Varietas unggul mempunyai sifat: berproduksi tinggi, umur pendek, tahan serangan penyakit utama dan sifat-sifat lain yang menguntungkan. Varietas unggul ini dapat dibedakan menjadi dua, yaitu: jagung hibrida dan varietas jagung bersari bebas.
Nama beberapa varietas jagung yang dikenal antara lain: Abimanyu, Arjuna, Bromo, Bastar Kuning, Bima, Genjah Kertas, Harapan, Harapan Baru, Hibrida C 1 (Hibrida Cargil 1), Hibrida IPB 4, Kalingga, Kania Putih, Malin, Metro, Nakula, Pandu, Parikesit, Permadi, Sadewa, Wiyasa, Bogor Composite-2.
1. ANOMAN-1
Tanggal dilepas : 2 Oktober 2006
Populasi dasar (S1) dievaluasi dalam lingkungan tercekam kekeringan selama satu siklus. Sejumlah
20 famili S1 terpilih direkombinasi untuk membentuk Maros Sintetik-2
Umur berbunga jantan : ± 55 hari
Umur berbunga betina : ± 56 hari
Masak fisiologis : ± 103 hari
Batang : kuat dan tegap
Tinggi tanaman : ± 161 cm
Daun : panjang dan lebar
Warna daun : hijau
Warna malai : kemerahan
Warna rambut : kemerahan
Keragaman tanaman : agak seragam
Kerebahan : tahan rebah
Bentuk tongkol : panjang dan silindris
Kedudukan tongkol : ± 71 cm
Kelobot : tertutup rapat (95%)
Tipe biji : dent sampai semi dent (gigi kuda-semi gigi kuda)
Warna biji : putih
Jumlah baris/tongkol : 14-18 baris
Bobot 1000 biji : ± 320 g
Potensi hasil : 6,6 t/ha
Ketahanan penyakit : agak tahan terhadap bulai dan tergolong moderat terhadap hawar daun serta bercak daun kelabu
Ketahanan abiotis : toleran kekeringan (IK > 1,0; kandungan klorofil daun 30,91 – 36,94%)
Daerah adaptasi : lingkungan kering bercurah hujan pendek (800-1.200mm/th) dan dataran rendah sampai dataran tinggi (1.100 m dpl)
Pemulia : M. Yasin HG, R. Neny Iriany, Made J. Mejaya, Firdaus Kasim, Muh. Azrai, A. Takdir, Nuning AS., Roy Effendi, Wasmo Wakman, Hj. Suarni, dan Marsum M. Dahlan
2. KRESNA
Tanggal dilepas : 25 Februari 2000
Asal : (Cetet/Arjuna)/ Arjuna. Persilangan jagung local Jawa Timur, disilangkan dengan varietas Arjuna, yang hasilnya disebut Cetar. Selanjutnya Cetar disilangkan kembali dengan Arjuna
Umur 50% keluar rambut : ± 50 hari
Masak fisiologis : ± 90 hari
Warna batang : hijau
Tinggi tanaman : ± 185 cm (160-200 cm)
Daun : panjang
Warna daun : hijau tua
Keragaman tanaman : agak seragam
Perakaran : baik
Kerebahan : tahan rebah (0-35%)
Malai : semi kompak (55%)
Warna anther : coklat muda (75%)
Warna rambut : coklat keunguan (75%)
Bentuk tongkol : panjang dan silindris
Tinggi tongkol : ± 95 cm (80-110 cm)
Kelobot : tertutup baik (85%)
Tipe biji : mutiara (flint)
Warna biji : kuning
Baris biji : lurus
Jumlah baris/tongkol : 12-14 baris
Bobot 1000 biji : ± 270 g
Rata-rata hasil : 5,2 t/ha pipilan kering
Potensi hasil : 7 t/ha pipilan kering
Ketahanan penyakit : cukup tahan terhadap penyakit bulai (P. maydis)
Pemulia : Mustari Basir, Marsum Dahlan, Made J. Mejaya, Arbi Mappe, dan Firdaus Kasim
3. SRIKANDI PUTIH-1
Tanggal dilepas : 4 Juni 2004
Asal : Materi introduksi asal CIMMYT Mexikco, dibentuk dari saling silang 8 inbrida yang memiliki daya gabung umum bagus dalam sifat hasil (yield). Inbrida tersebut berasal darai beberapa populasi QPM putih dengan adaptasi lingkungan tropis
Umur berbunga jantan : ± 55-58 hari
Umur berbunga betina : ± 58-60 hari
Masak fisiologis : ± 105-110 hari
Batang : tegap
Warna batang : hijau
Tinggi tanaman : ± 195 cm
Daun : panjang dan lebar
Warna malai : kemerahan
Warna rambut : kemerahan
Keragaman tanaman : seragam (96-98%)
Bentuk tongkol : sedang dan silindris
Tinggi tongkol : ± 95 cm
Kelobot : tertutup rapat (95-97%)
Tipe biji : semi mutiara dan gigi kuda
Warna biji : putih
Baris biji : lurus dan rapat
Jumlah baris/tongkol : 12-14 baris
Bobot 1000 biji : ± 325 g
Endosperm : Protein : 10,44%; Lisin : 0,410%; Triptofan : 0,087%
Rata-rata hasil : 5,89 t/ha pipilan kering
Potensi hasil : 8,09 t/ha pipilan kering
Ketahanan penyakit : tahan hawar daun H. maydis dan karat daun Puccinia sp
Ketahanan hama : tahan hama penggerek batang O. furnacalis
Keterangan : dianjurkan ditanam di dataran rendah diutamakan pada musim penghujan
Pengusul : Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan
4. SUKMARAGA
Tanggal dilepas : 14 Februari 2003
Asal : Bahan introduksi AMATL (Asian Mildew Acid Tolerance Late), asal CIMMYT Thailand dengan introgressi bhan local yang diperbaiki sifat ketahanan terhadap penyakit bulai. Populasi awalnya diseleksi pada tanah kering masam Sitiung Sumbar, dan tanah sulfat masam di Barambai (Kalsel). Hasil kombinasi diuji pada berbagai lingkungan asam normal
Umur 50% keluar rambut : ± 58 hari
Masak fisiologis : ± 105-110 hari
Batang : tegap
Tinggi tanaman : ± 195 cm (180-220 cm)
Daun : panjang dan lebar
Keragaman tanaman : agak seragam
Perakaran : dalam, kuat dan baik
Kerebahan : agak tahan
Malai : semi kompak
Warna rambut : coklat keunguan
Bentuk tongkol : panjang dan silindris
Tinggi tongkol : ± 195 cm (90-100 cm)
Kelobot : tertutup baik (85%)
Tipe biji : semi mutiara (semi flint)
Warna biji : kuning tua
Baris biji : lurus dan rapat
Jumlah baris/tongkol : 12-16 baris
Bobot 1000 biji : ± 270 g
Rata-rata hasil : 6,0 t/ha pipilan kering
Potensi hasil : 8,5 t/ha pipilan kering
Ketahanan penyakit : cukup tahan terhadap penyakit bulai (P. maydis), penyakit bercak daun (H. maydis), dan penyakit karat daun (Puccinia sp.)
Daerah sebaran : dataran rendah sampai 800 m dpl, adaptif tanah masam
5. BIMA-2 Bantimurung
Tanggal dilepas : 7 Februari 2007
Asal : B11-209?Mr14. B11-209 dikembangkan dari galur introduksi TAMNET. Mr-14 dikembangkan dari populasi Suwan 3
Golongan : Hibrida silang tunggal (Single cross)
Umur : Berumur dalam
50% keluar rambut : ± 56 hari setelah tanam
50% malai pecah : ± 57 hari setelah tanam
Tinggi tanaman : ± 200 cm
Batang : Besar dan tegap
Warna batang : hijau
Jumlah daun : 12-14 helai
Keragaman tanaman : Cukup Seragam
Perakaran : sangat baik
Kerebahan : Tahan rebah
Bentuk malai : terbuka
Warna malai (anthera) : Krem
Warna sekam (glume) : Krem kehijauan
Warna rambut : Merah
Bentuk tongkol : Besar, silindris dan panjang, ± 21 cm
Penutupan tongkol : Menutup kelobot dengan baik (± 98%)
Kedudukan tongkol : ± 100 cm
Tipe biji : Semi Mutiara (semi flint)
Baris biji : Lurus
Warna biji : Kuning
Jumlah baris/tongkol : 12-14 baris
Bobot 1000 bijji : ± 378 g
Rata-rata hasil : 8,51t/ha pipilan kering
Ketahanan : agak toleran penyakit bulai (Peronosclerospora maydis L.)
Keterangan : Beradaptasi baik pada lahan kurang subur, lahan subur, populasi dapat mencapai 70.000 tan/ha (jarak tanam 75x20 cm, 1 butir per lubang
Pemulia : Andi Takdir M., R Neni Iriani, Made Jana M., Muzdalifah Isnaini, Achmad Muliadi, Nuning Agro subekti, M. Yasin HG., dan Marsum M. Dahlan
Teknisi : Sampara, Arifuddin, Fransiskus Misi, Stefanus Misi, Wisnu Undoyo dan Ulfah Aliawati
Tim Penguji : Amin Nur, Awaludin Hipi, Sri Sunarti, Sigit Budi Santoso, Said Kontong, A. Haris Talanca Wasmo Wakman, Johanis Tandiabang, Evert Y. Hosang, Nurtirtayani dan Amrizal Nasar
Pengusul : Balai Penelitian Tanaman Serealia, Maros dan PT. Tossa Agro
6. BIMA-3 Bantimurung
Asal : Nei9008/Mr14. Nei9008 dikembangkan dari galur introduksi Departemen Pertanian Thailand. Mr-14 dikembangkan dari populasi Suwan 3
Golongan : Hibrida silang tunggal (Single cross)
Umur : Berumur dalam
50% keluar rambut : ± 55 hari setelah tanam
50% malai pecah : ± 56 hari setelah tanam
Masak fisiologis : ± 100 hari setelah tanam
Tinggi tanaman : ± 200 cm
Batang : sedang dan tegap
Warna batang : hijau sedikit ungu
Keragaman tanaman : Seragam
Perakaran : sangat baik
Kerebahan : Tahan rebah
Bentuk malai : kompak
Warna malai (anthera) : Krem
Warna sekam (glume) : Krem
Warna rambut : Krem
Bentuk tongkol : Besar, silindris dan panjang, ± 21 cm
Penutupan tongkol : Menutup kelobot dengan baik (± 98%)
Kedudukan tongkol : ± 98 cm
Tipe biji : Semi Mutiara (semi flint)
Warna biji : Jingga
Jumlah baris/tongkol : 12-14 baris
Bobot 1000 bijji : ± 359 g
Rata-rata hasil : 8,27t/ha pipilan kering
Potensi hasil : 10,00 t/ha pipilan kering
Kandungan karbohidrat : ± 52,87%
Kandungan protein : ± 13,02%
Kandungan lemak : ± 4,87%
Ketahanan : toleran penyakit bulai (Peronosclerospora maydis L.)
Keterangan : Beradaptasi baik pada lahan subur, lahan sub optimal, populasi dapat mencapai 70.000 tan/ha (jarak tanam 75 cm x 20 cm, 1 butir per lubang
Pemulia : Made Jana Mejaya, R Neni Iriani, Andi Takdir M., Muzdalifah Isnaini, Achmad Muliadi, dan Marsum M. Dahlan
Teknisi : Sampara, Arifuddin, Fransiskus Misi, Stefanus Misi, Wisnu Undoyo dan Ulfah Aliawati
Tim Penguji : Amin Nur, Awaludin Hipi, Sri Sunarti, Sigit Budi Santoso, Said Kontong, A. Haris Talanca, Wasmo Wakman, Johanis Tandiabang, Evert Y. Hosang, Nurtirtayani dan Amrizal Nasar
Pengusul : Balai Penelitian Tanaman Serealia, Maros dan PT. Tossa Agro
Tanggal dilepas : 31 Oktober 2008
Asal : G 180/Mr14, G180 dikembangkan dari populasi P5/GM25, Mr14 dikembangkan dari populasi Suwan 3
Golongan : Hibrida silang tunggal (Single cross)
Umur : Berumur dalam
50% keluar rambut : ± 59 hari setelah tanam
50% malai pecah : ± 57 hari setelah tanam
Masak fisiologis : ± 102 hari setelah tanam
Tinggi tanaman : ± 212 cm
Batang : sedang dan tegap
Warna batang : hijau
Keragaman tanaman : Seragam
Perakaran : sangat baik
Bentuk malai : kompak
Warna sekam (glume) : Krem
Warna rambut : Krem
Bentuk tongkol : Besar dan silindris, ± 20 cm
Kedudukan tongkol : ± 116 cm
Tipe biji : Mutiara
Baris biji : Lurus
Warna biji : Jingga
Jumlah baris/tongkol : 12-14 baris
Bobot 1000 bijji : ± 265,6 g
Rata-rata hasil : 9,6 t/ha pipilan kering
Potensi hasil : 11,7 t/ha pipilan kering
Kandungan karbohidrat : ± 52,87%
Kandungan protein : ± 13,02%
Kandungan lemak : ± 4,87%
Keunggulan : Cepat panen, hasil panen tinggi, tidak mudah roboh, umur berbunga lebih cepat
Ketahanan : peka penyakit bulai (Peronosclerospora maydis L.), tahan penyakit karat dan bercak daun
Keterangan : Beradaptasi luas
Pemulia : R Neni Iriani, Andi Takdir M., Muhammad Azrai, Muzdalifah Isnaini, Sigit Budisantoso, M. Yasin HG., Marcia Bunga Pabendon
Tim Penguji : Awaludin Hipi, Andi Haris Talanca, Andi Tenri Rawe, Surtikanti, Syahrir Pakki, Said Kontong
Pengusul : Balai Penelitian Tanaman Serealia, Maros dan PT. Tossa Agro
8. BIMA 7
Tanggal dilepas : 30 November 2010
Asal : Persilangan antara galur murni GJ11 sebagai tetua betina dengan galur murni GJ15 sebagai tetua jantan (GJ11 x GJ15)
Umur : Genjah
50% keluar rambut : ± 49 hari setelah tanam
Masak fisiologis : ± 89 hari setelah tanam
Tinggi tanaman : ± 189 cm
Batang : tegak dan kuat
Warna batang : hijau
Keragaman tanaman : Seragam
Bentuk malai : Besar dan terbuka
Warna malai (anthera) : Putih kekuningan
Warna sekam (glume) : Hijau keunguan
Warna rambut : Putih kekuningan
Bentuk tongkol : panjang dan silindris
Kedudukan tongkol : pertengahan tinggi tanaman
Kelobot : Menutup rapat
Tipe biji : mutiara
Baris biji : Lurus dan rapat
Warna biji : Oranye
Jumlah baris/tongkol : 14-16 baris
Bobot 1000 bijji : ± 316 g
Rata-rata hasil : 10,0 t/ha pipilan kering
Potensi hasil : 12,1 t/ha pipilan kering
Kandungan karbohidrat : ± 71,0%
Kandungan protein : ± 10,4%
Kandungan lemak : ± 4,5%
Ketahanan : Agak toleran terhadap penyakit bulai (Peronosclerospora maydis L.), toleran penyakit karat dan bercak daun
Pemulia : Muhammad Azrai, Sri Sunarti, Musdalifah Isnaini dan Andi Takdir M.
Tim Penguji : Roy Effendi, Idris, Wen Langgo, Wasmo Wakman dan Demaks Masoara
Pengusul : Balai Penelitian Tanaman Serealia, Maros
9. IPB 4
SK : 858/Kpts/TP.240/12/1985 tanggal 28 Desember tahun 1985
Tahun : 1985
Tetua : Silang tunggal A16 x C6
Potensi Hasil : 6.6 ton/ha
Pemulia : Koswara, F.Rumawas
Asal : Silang tunggal A16 x C6
A16 galur murni hasil seleksi di jurusan Agronomi Fakultas Pertanian IPB.
C6 galur murni asal Muangthai yang diseleksi lagi di Bogor.
Golongan : Hibrida silang tunggal
Umur : 50% keluar rambut kurang lebih 58 hari, panen (masak) 100-105 hari
Batang : Tinggi
Daun : Panjang, lebar, dan tegak
Warna daun : Hijau tua sampai saat panen
Keragaman tanaman : Seragam
Tongkol : Besar, silindris
Warna biji : Kuning kemerahan
Baris biji : Lurus dan rapat
Jumlah baris/tongkol : 12-16 baris
Kelobot : Menutup dengan baik
Kedudukan tongkol : Kurang lebih ditengah batang
Perakaran : Baik
Kerebahan : Kurang tahan
Bobot 1.000 butir biji : Kurang lebih 227 gram
Ketahanan terhadap penyakit : Tahan terhadap bulai
Keterangan : Baik untuk ditanam pada dataran rendah sampai sedang
10. Jaya 1
Kategori : Varietas unggul nasional (released variety)
Tahun : 2002
Tetua : F1 dari silang tiga jalur (three way cross) antara silang tunggal TSG 81 F dengan galur murni TSG 81 M, yang dikembangkan oleh PT. Asian Hybrid Seed Technologies, di Filipina
Rataan Hasil : 15,5 ton/ha
Potensi Hasil : 9 ton/ha
Pemulia : PT. Asian Hybrid Seed Technologies
Tinggi tanaman :lebih kurang 242 cm
Keragaman tanaman : seragam
Batang : besar, kokoh
Warna batang : hijau
Kerebahan : tahan rebah
Warna daun : hijau tua
Bentuk malai : besar, terbuka
Warna malai : krem
Warna sekam :krem
Warna anthere : krem muda
Warna rambut : merah muda
Perakaran : sangat baik
Bentuk tongkol : silindris, panjang
Kedudukan tongkol : di tengah-tengah tinggi tanaman
Kelobo : menutup tongkol sangat baik
Jumlah baris/tongkol : 16-18 baris
Bentuk biji : semi mutiara
Warna biji : kuning oranye
Bobot 1000 butir : lebih kurang 300 gram
Ketahanan terhadap penyakit : tahan terhadap penyakit bulai
Daerah adaptasi : beradaptasi dari dataran rendah samapi ketinggian 1200 m dpl
Golongan : hibrida silang tiga jalur (three way cross)
Umur : - 50% polinasi lebih kurang 58 hst
- 50% keluar rambut lebih kurang 60 hst
11. Gumarang
Tetua : Disusun oleh sebanyak 20 galur SW2
Rataan Hasil : 8 ton/ha pipilan kering
Pemulia : Mustari Basir, Marsum M. Dahlan, Made J. Mejaya, Yenni Tamburian, Firdaus Kasim
Golongan : Bersari bebas
Umur : Umur 50% keluar rambut 50 hari, masak fisiologis 82 hari
Batang : Tegap
Warna batang : Hijau
Tinggi tanaman : 180 cm (160-210 cm)
Keragaman tanaman : Agak seragam
Daun : Hijau dan panjang
Malai : Semi kompak (50%)
Warna rambut : Coklat keunguan (90%)
Anthera : Hijau muda (70%)
Tinggi letak tongkol : 88 cm (80-100 cm)
Tongkol : Panjang dan selendris
Kelobot : Kelobot tertutup baik (75%)
Tipe biji : Mutiara (flint)
Warna biji : Kuning
Jumlah baris biji : 12-16 baris
Baris biji : Lurus
Bobot 1000 biji : 273 gram
Perakaran : Baik
Ketahanan penyakit : Cukup tahan bulai (Sclerospora maydis)
Daerah sebaran : Daerah rendah sampai 600 m.dpl
12. Benih Jagung Super Hibrida BISI-816
Tahun 2009 PT. BISI International Tbk merilis varietas benih jagung yang baru yaitu BISI-816.Benih Jagung Super Hibrida BISI-816 ini merupakan sebuah karya anak bangsa yang terlahir dengan dedikasi tinggi untuk memajukan pertanian di Indonesia. Superioritas yang terdapat pada sifat-sifat genetik yang dikembangkan pada BISI-816 mampu meningkatkan hasil panen jagung lebih baik dari yang lain.
Jagung Super Hibrida BISI-816 merupakan jagung hibrida silang tunggal (single cross) yang sudah teruji baik ditanam pada dataran rendah sampai ketinggian 700 meter diatas permukaan laut.
Tinggi tanaman jagung super hibrida BISI-816 mencapai sekitar + 203 cm dengan daun berwarna hijau gelap.Batang tanaman termasuk besar, kokoh dan tegak.Bentuknya yang oval (gepeng) dengan warna hijau ber-strip ungu (keunguan) dipastikan memang menimbulkan keyakinan petani terhadap kekuatan dari batang tanaman jagung. Terpaan angin kencang akan dapat diatasi dengan batang tanaman yang kokoh dan kuat. Selain itu, batang yang besar tersebut bagi petani dapat memberi keuntungan tersendiri karena sangat baik untuk pakan ternak mereka.
Jagung super hibrida BISI-816 mempunyai sistem perakaran yang sangat kuat dan baik, mampu menopang tanaman terhadap kekuatan angin kencang yang menerpa, sehingga tanaman menjadi kuat dan tahan terhadap kerebahan.Selain itu dengan sistem perakaran yang sangat baik menjadikan tanaman jagung super hibrida BISI-816 mampu menyerap unsur hara dalam tanah dengan baik dan mencukupi.Hal ini sangat membantu dalam pertumbuhan dan perkembangan tanaman sehingga tanaman mampu berproduksi dengan baik.
Jagung super hibrida BISI-816 merupakan salah satu benih jagung yang terbukti paling tahan terhadap penyakit bulai.Penyakit bulai (Peronosclerospora maydis) saat ini merupakan penyakit pada tanaman jagung yang sangat ditakuti oleh petani di beberapa sentra produksi jagung seperti di Sumatera Utara, Lampung, Kalimantan Barat dan Jawa Timur.Sampai saat ini belum ditemukan pestisida yang bisa mematikan penyakit ini.Cara-cara pencegahan menjadi alternatif utama untuk mengurangi pernyebaran penyakit ini.Penggunaan pestisida untuk seed treatment, benih yang tahan dan pola budidaya yang dianjurkan merupakan cara-cara yang direkomendasikan.
hasil prosentase serangan bulai pada jagung super hibrida BISI-816 terbukti paling rendah dibanding varietas jagung yang lain, dengan rata-rata 1,5%. Sedangkan varietas lain mendapat serangan penyakit bulai antara 12%-59,5%.
Keunggulan ini merupakan sebuah keuntungan besar bagi petani jagung, karena dengan menggunakan benih jagung super hibrida BISI-816 petani tidak perlu lagi was-was terjadi penurunan produksi yang terlalu besar atau bahkan gagal panen yang disebabkan penyakit bulai. Atau bisa diibaratkan “petani bisa tidur nyenyak” sambil menunggu panen jagung.
Selain itu jagung super hibrida BISI-816 juga tergolong tahan terhadap penyakit karat daun (Puccinia sorghi), dan agak tahan terhadap penyakit hawar daun (Helminthosporium maydis).
Pembungaan jagung super hibrida BISI-816 tergolong lebat.50% pembungaan (keluar rambut) pada dataran rendah terjadi pada umur + 55 hari sedangkan pada dataran tinggi saat umur + 70 hari.Bentuk malai bunga kompak dan agak tegak dengan warna malai (anther) ungu kemerahan, warna sekam ungu kemerahan serta warna rambut juga ungu kemerahan.Bunga jantan maupun bunga betina mempunyai bunga yang banyak. Kondisi ini mendorong penyerbukan menjadi lebih berhasil dan fruit set akan terjadi dengan baik. Pembungaan yang lebat bisa berarti juga biji jagung yang dihasilkan akan semakin banyak. Inilah yang menyebabkan jagung super hibrida BISI-816 memiliki biji jagung yang banyak dan muput hingga ke ujung.
oleh petani.Keunggulan jagung super hibrida BISI-816 ini sangat bermanfaat karena petani tidak perlu kuatir menanam jagung baik pada musim penghujan maupun pada musim kemarau.Kapan saja bisa ditanam sesuai kehendak petani dengan hasil yang baik.
Komponen hasil tanaman (produksi) jagung terutama terletak pada ukuran tongkol jagung dan ukuran kernelnya (biji).Kedua komponen tersebut merupakan indikator langsung secara visual yang dapat menggambarkan potensi produksi dari tanaman jagung.
Tongkol jagung super hibrida BISI-816 bertipe “Long Big Ear” atau bertongkol besar dan panjang.Kedudukan tongkol jagung + 99 cm di atas tanah. Bentuk tongkolnya silindris dengan ukuran diameter yang relatif sama mulai dari pangkal hingga ujung tongkolnya. Jumlah baris dalam satu tongkol jagung super hibrida BISI-816 berkisar 14-16 baris, sedangkan jumlah biji dalam satu baris mulai dari pangkal hingga ujung tongkol mencapai 45-50 biji. Sehingga dalam satu tongkol mempunyai jumlah biji 700-800 biji.
Tingkat keseragaman ukuran tongkol jagung dalam satu lahan bisa mencapai 80%-90%, artinya ukuran tongkol jagung super hibrida BISI-816 hampir sama besar dalam satu hamparan lahan. Dengan semakin banyaknya ukuran tongkol jagung yang besar dan seragam maka potensi produksinya semakin besar.
Selain besar dan panjang, jagung super hibrida BISI-816 juga mempunyai keistimewaan yaitu biji jagungnya terisi penuh sampai ujung (jawa=muput). Tidak ada ruang kosong atau tersisa lagi pada janggel jagung, semua penuh dengan biji jagung mulai pangkal sampai ujung.Keistimewaan ini semakin menambah keyakinan petani pada potensi produksi jagung super hibrida BISI-816 yang memang tinggi.
ini menyebabkan rendemen jagung menjadi tinggi, sehingga produksi jagungpun semakin meningkat.
Bobot 1.000 butir biji jagung super hibrida BISI-816 (diukur dalam kondisi Kadar Air 15%) adalah + 325 gram. Apabila dalam satu tongkol jagung super hibrida BISI-816 terdapat 700-800 biji, maka rata-rata satu tongkol mempunyai pipilan biji jagungnya seberat 243,75 gram. Sehingga untuk mendapatkan 1 kilogram jagung pipil hanya dibutuhkan 4,1 tongkol jagung super hibrida BISI-816. Pantaslah bila potensi hasilnya mencapai + 13,65 ton per hektar pipilan kering dan rata-rata hasil mencapai + 10,44 ton per hektar.
Kandungan karbohidrat pada biji jagung super hibrida BISI-816 adalah + 69,5%, kandungan protein + 9,4% dan kandungan lemak + 3,8%.
Jagung super hibrida BISI-816 bisa dipanen saat masak fisiologis yaitu umur + 101 hari pada dataran rendah sedangkan pada dataran tinggi saat umur + 130 hari.
Tongbes tungsar… tongbes tungsar … tongbes tungsar … itulah yang mungkin diingat kalo disebutkan Jagung Super Hibrida BISI-16.
Tongbes tungsar adalah kependekan dari Tongkol Besar Untung Besar yang menjadi tagline dari Jagung Super Hibrida BISI 16.Mengapa tongkol besar untung besar?Karena salah satu sifat genetik yang dominan pada Jagung Super Hibrida BISI-16 adalah tongkolnya yang super besar.Tongkol yang super besar ini menjadi sangat bermanfaat bagi petani, karena jelas hasil panennya lebih tinggi. Dengan hasil panen yang tinggi petani pasti akan mendapat untung yang lebih besar dari biasanya.
Jagung Super Hibrida BISI-16 merupakan jagung hibrida modifikasi silang tunggal.Direkomendasikan untuk ditanam pada daerah-daerah pengembangan baru dan sangat baik ditanam pada dataran rendah hingga 1000 meter diatas permukaan laut.
Sistem perakaran yang baik dan batang yang besar, kokoh dan tegak menjadi kekuatan dari jagung Super Hibrida BISI-16 dalam menghadapi terpaan angin kencang di sejumlah daerah tertentu.Tinggi tanaman sekitar 224 cm dengan batang berwarna hijau.Daun berukuran medium, bergelombang dan tegak, serta berwarna hijau gelap.
50% pembungaan (keluar rambut) pada dataran rendah terjadi pada sekitar umur 57 hari sedangkan pada dataran tinggi saat sekitar umur 73 hari.Bentuk malai bunga sedikit terbuka dan agak terkulai dengan warna malai (anther) ungu kekuningan, warna sekam ungu serta warna rambut ungu kemerahan.
Kedudukan tongkol jagung Super Hibrida BISI-16 sekitar 111 cm diatas tanah.Klobot menutupi tongkol jagung dengan cukup baik.Jumlah baris biji pada jagung super hibrida BISI-16 berkisar antara 14 – 18 baris, termasuk dalan kategori tongkol jagung yang sangat besar.Apalagi ditunjang dengan pengisian biji yang sangat baik dan muput sampai ke ujung, dengan jumlah biji dalam satu baris mulai dari pangkal hingga ujung tongkol mencapai 45-50 biji.Sehingga dalam satu tongkol bisa mencapai jumlah biji sebanyak 700-800 biji.
Tipe biji jagung super hibrida BISI-16 adalah semi gigi kuda, dengan warna oranye kekuningan dan bijinya nancap dalam pada janggel.Bobot 1.000 butir biji jagung super hibrida BISI-16 (diukur dalam kondisi Kadar Air 15%) adalah sekitar 336 gram.
Potensi hasil panen jagung super hibrida BISI-16 mencapai 13,4 ton per hektar pipilan kering. Sedangkan rata-rata adalah sekitar 9,2ton per hektar pipilan kering.
Jagung super hibrida BISI-16 bisa dipanen saat masak fisiologis yaitu umur sekitar 107 hari pada dataran rendah sedangkan pada dataran tinggi saat umur sekitar 135 hari.Pada saat jagung siap panen, daun dan tanaman masih tetap hijau (stay green), sehingga bisa dimanfaatkan untuk pakan ternak (sapi atau kambing).
Tanggal dilepas : 22 Oktober 2001
Asal : Mr-4/Mr-14. Mr-4 dikembangkan dari populasi MSJ1. Mr-14 dikembangkan dari populasi Suwan 3
Golongan : Hibrida silang tunggal (Single cross)
Umur : Berumur dalam
50% keluar rambut : ± 54 hari setelah tanam
Masak fisiologis : ± 97 hari setelah tanam
Tinggi tanaman : ± 215 cm
Batang : Tegap
Warna batang : hijau
Tinggi tongkol : ± 94 cm
Daun : Panjang, lebar dan berwarna hijau
Jumlah daun : 12-14 helai
Keragaman tanaman : Seragam
Perakaran : baik
Bentuk tongkol : Silindris dan panjang, ± 18 cm
Tipe biji : Mutiara
Baris biji : Lurus
Warna biji : Kuning
Jumlah baris/tongkol : 12-14 baris
Bobot 1000 bijji : ± 378 g
Rata-rata hasil : 7,3 t/ha pipilan kering
Potensi hasil : 8 - 9 t/ha pipilan kering
Ketahanan : agak tahan penyakit bulai (Peronosclerospora maydis L.) dan tahan bercak daun
Keterangan : Daerah sebaran pada dataran rendah sampai 1200 m dpl
Pemulia :Marsum Dahlan, Sriwidodo, Mustari Basir, Made J. Mejaya, Neny Iriani, Wasmo Wakman
Pengusul : Balai Penelitian Tanaman Serealia, Maros dan PT. Tossa Agro
SK : 854/Kpts/TP.240/12/1985 tanggal 28 Desember tahun 1985
Tahun : 1985
Tetua : Generasi ke delapan dari Pool 4 dibentuk dari 34 populasi berasal dari bahan dalam dan luar negeri pada awal 1980 dikembangkan dengan seleksi half-sib
Rataan Hasil : 7.0 ton/ha
Potensi Hasil : 5.4 ton/ha
Pemulia : Subsidi, A.Sudjana, Amsir Rifin, Rudi Setijono, Achmad Nuraefendi, Dian Hadian G.
Golongan varietas : bersari bebas
umur : 50% keluar rambut: kurang lebih 57 hari:panen kurang lebih 96 hari
Batang : tinggi dan tegap
Daun : panjang, sedang sampai lebar
tongkol : besar, panjang dan cukup silindris
warna daun : hijau agak tua
warna biji : kuning sampai kuning kemerahan, kadang ada yang putih
kedudukan tongkol : rata-rata ditengah batang
kelobot : menutup tongkol dengan cukup baik
perakaran : baik
baris biji : cukup lurus dan rapat
jumlah baris per tongkol: kebanyakan 12 - 18
Bobot 1000 butir : kurang lebih 302 g
ketahanan terhadap penyakit
C. MANFAAT TANAMAN
Tanaman jagung sangat bermanfaat bagi kehidupan manusia dan hewan. Di Indonesia, jagung merupakan komoditi tanaman pangan kedua terpenting setelah padi. Berdasarkan urutan bahan makanan pokok di dunia, jagung menduduki urutan ke 3 setelah gandum dan padi. Di Daerah Madura, jagung banyak dimanfaatkan sebagai makanan pokok.
Akhir-akhir ini tanaman jagung semakin meningkat penggunaannya. Tanaman jagung banyak sekali gunanya, sebab hampir seluruh bagian tanaman dapat dimanfaatkan untuk berbagai macam keperluan antara lain:
a) Batang dan daun muda: pakan ternak
b) Batang dan daun tua (setelah panen): pupuk hijau atau kompos
c) Batang dan daun kering: kayu bakar
d) Batang jagung: lanjaran (turus)
f) Buah jagung muda (putren, Jw): sayuran, bergedel, bakwan, sambel goreng
g) Biji jagung tua: pengganti nasi, marning, brondong, roti jagung, tepung, bihun, bahan campuran kopi bubuk, biskuit, kue kering, pakan ternak, bahan baku industri bir, industri farmasi, dextrin, perekat, industri textil.
D. SENTRA PENANAMAN
Di Indonesia, daerah-daerah penghasil utama tanaman jagung adalah Jawa Tengah, Jawa Barat, Jawa Timur, Madura, D.I. Yogyakarta, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, dan Maluku. Khusus di Daerah Jawa Timur dan Madura, budidaya tanaman jagung dilakukan secara intensif karena kondisi tanah dan iklimnya sangat mendukung untuk pertumbuhannya.
E. SYARAT PETUMBUHAN
Tanaman jagung berasal dari daerah tropis yang dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan di luar daerah tersebut.Jagung tidak menuntut persyaratan lingkungan yang terlalu ketat, dapat tumbuh pada berbagai macam tanah bahkan pada kondisi tanah yang agak kering.Tetapi untuk pertumbuhan optimalnya, jagung menghendaki beberapa persyaratan.
a) Iklim
Iklim yang dikehendaki oleh sebagian besar tanaman jagung adalah daerah-daerah beriklim sedang hingga daerah beriklim sub-tropis/tropis yang basah. Jagung dapat tumbuh di daerah yang terletak antara 0-50 derajat LU hingga 0-40 derajat LS.
Pada lahan yang tidak beririgasi, pertumbuhan tanaman ini memerlukan curah hujan ideal sekitar 85-200 mm/bulan dan harus merata. Pada fase pembungaan dan pengisian biji tanaman jagung perlu mendapatkan cukup air. Sebaiknya jagung ditanam diawal musim hujan, dan menjelang musim kemarau.
merana, dan memberikan hasil biji yang kurang baik bahkan tidak dapat membentuk buah.
Suhu yang dikehendaki tanaman jagung antara 21-34 derajat C, akan tetapi bagi pertumbuhan tanaman yang ideal memerlukan suhu optimum antara 23-27 derajat C. Pada proses perkecambahan benih jagung memerlukan suhu yang cocok sekitar 30 derajat C.
Saat panen jagung yang jatuh pada musim kemarau akan lebih baik daripada musim hujan, karena berpengaruh terhadap waktu pemasakan biji dan pengeringan hasil.
b) Media Tanam
Jagung tidak memerlukan persyaratan tanah yang khusus. Agar supaya dapat tumbuh optimal tanah harus gembur, subur dan kaya humus.
Jenis tanah yang dapat ditanami jagung antara lain: andosol (berasal dari gunung berapi), latosol, grumosol, tanah berpasir. Pada tanah-tanah dengan tekstur berat (grumosol) masih dapat ditanami jagung dengan hasil yang baik dengan pengolahan tanah secara baik. Sedangkan untuk tanah dengan tekstur lempung/liat (latosol) berdebu adalah yang terbaik untuk pertumbuhannya.
Keasaman tanah erat hubungannya dengan ketersediaan unsur-unsur hara tanaman. Keasaman tanah yang baik bagi pertumbuhan tanaman jagung adalah pH antara 5,6 - 7,5.
Tanaman jagung membutuhkan tanah dengan aerasi dan ketersediaan air dalam kondisi baik.
Tanah dengan kemiringan kurang dari 8 % dapat ditanami jagung, karena disana kemungkinan terjadinya erosi tanah sangat kecil. Sedangkan daerah dengan tingkat kemiringan lebih dari 8 %, sebaiknya dilakukan pembentukan teras dahulu.
c) Ketinggian Tempat
F. PEDOMAN BUDIDAYA a) Pembibitan
Persyaratan Benih
Benih yang akan digunakan sebaiknya bermutu tinggi, baik mutu genetik, fisik maupun fisiologinya. Berasal dari varietas unggul (daya tumbuh besar, tidak tercampur benih/varietas lain, tidak mengandung kotoran, tidak tercemar hama dan penyakit). Benih yang demikian dapat diperoleh bila menggunakan benih bersertifikat.Pada umumnya benih yang dibutuhkan sangat bergantung padakesehatan benih, kemurnian benih dan daya tumbuh benih.
Penggunaan benih jagung hibrida biasanya akan menghasilkan produksi yang lebih tinggi. Tetapi jagung hibrida mempunyai beberapa kelemahan dibandingkan varietas bersari bebas yaitu harga benihnya yang lebih mahal dan hanya dapat digunakan maksimal 2 kali turunan dan tersedia dalam jumlah terbatas. Beberapa varietas unggul jagung untuk dipilih sebagai benih adalah: Hibrida C 1, Hibrida C 2, Hibrida Pioneer 1, Pioneer 2, IPB 4, CPI-1, Kaliangga, Wiyasa, Arjuna, Baster kuning, Kania Putih, Metro, Harapan, Bima, Permadi, Bogor Composite, Parikesit, Sadewa, Nakula. Selain itu, jenis-jenis unggul yang belum lama dikembangkan adalah: CPI-2, BISI-1, BISI-2, P-3, P-4, P-5, C-3, Semar 1 dan Semar 2 (semuanya jenis Hibrida).
Pemindahan Bibit
Sebelum benih ditanam, sebaiknya dicampur dulu dengan fungisida seperti Benlate, terutama apabila diduga akan ada serangan jamur. Sedangkan bila diduga akan ada serangan lalat bibit dan ulat agrotis, sebaiknya benih dimasukkan ke dalam lubang bersama-sama dengan insektisida butiran dan sistemik seperti Furadan 3 G.
b) Pengolahan Media Tanam
kondisi lembab tetapi tidak terlalu basah.Tanah yang sudah gembur hanya diolah secara umum.
Persiapan
Dilakukan dengan cara membalik tanah dan memecah bongkah tanah agar diperoleh tanah yang gembur untuk memperbaiki aerasi. Tanah yang akan ditanami (calon tempat barisan tanaman) dicangkul sedalam 15-20 cm, kemudian diratakan. Tanah yang keras memerlukan pengolahan yang lebih banyak.Pertama-tama tanah dicangkul/dibajak lalu dihaluskan dan diratakan.
Pembukaan Lahan
Pengolahan lahan diawali dengan membersihkan lahan dari sisa sisa tanaman sebelumnya.Bila perlu sisa tanaman yang cukup banyak dibakar, abunya dikembalikan ke dalam tanah, kemudian dilanjutkan dengan pencangkulan dan pengolahan tanah dengan bajak.
Pembentukan Bedengan
Setelah tanah diolah, setiap 3 meter dibuat saluran drainase sepanjang barisan tanaman.Lebar saluran 25-30 cm dengan kedalaman 20 cm. Saluran ini dibuat terutama pada tanah yang drainasenya jelek.
Pengapuran
Di daerah dengan pH kurang dari 5, tanah harus dikapur.Jumlah kapur yang diberikan berkisar antara 1-3 ton yang diberikan tiap 2-3 tahun. Pemberian dilakukan dengan cara menyebar kapur secara merata atau pada barisan tanaman, sekitar 1 bulan sebelum tanam. Dapat pula digunakan dosis 300 kg/ha per musim tanam dengan cara disebar pada barisan tanaman.
Pemupukan
bergantung pada kesuburan tanah dan diberikan secara bertahap. Anjuran dosis rata-rata adalah: Urea=200-300 kg/ha, TSP=75-100 kg/ha dan KCl=50-100 kg/ha.
Adapun cara dan dosis pemupukan untuk setiap hektar:
Pemupukan dasar: 1/3 bagian pupuk Urea dan 1 bagian pupuk TSP diberikan saat tanam, 7 cm di parit kiri dan kanan lubang tanam sedalam 5 cm lalu ditutup tanah;
Susulan I: 1/3 bagian pupuk Urea ditambah 1/3 bagian pupuk KCl diberikan setelah tanaman berumur 30 hari, 15 cm di parit kiri dan kanan lubang tanam sedalam 10 cm lalu di tutup tanah;
Susulan II: 1/3 bagian pupuk Urea diberikan saat tanaman berumur 45 hari.
c) Teknik Penanaman
Penentuan Pola Tanam
Pola tanam memiliki arti penting dalam sistem produksi tanaman. Dengan pola tanam ini berarti memanfaatkan dan memadukan berbagai komponen yang tersedia (agroklimat, tanah, tanaman, hama dan penyakit, keteknikan dan sosial ekonomi). Pola tanam di daerah tropis seperti di Indonesia, biasanya disusun selama 1 tahun dengan memperhatikan curah hujan (terutama pada daerah/lahan yang sepenuhnya tergantung dari hujan.Maka pemilihan jenis/varietas yang ditanampun perlu disesuaikan dengan keadaan air yang tersedia ataupun curah hujan.
Beberapa pola tanam yang biasa diterapkan adalah sebagai berikut:
Tumpang sari (Intercropping), melakukan penanaman lebih dari 1 tanaman (umur sama atau berbeda). Contoh: tumpang sari sama umur seperti jagung dan kedelai; tumpang sari beda umur seperti jagung, ketela pohon, padi gogo.
Tanaman Bersisipan (Relay Cropping): pola tanam dengan cara menyisipkan satu atau beberapa jenis tanaman selain tanaman pokok (dalam waktu tanam yang bersamaan atau waktu yang berbeda). Contoh: jagung disisipkan kacang tanah, waktu jagung menjelang panen disisipkan kacang panjang.
Tanaman Campuran (Mixed Cropping): penanaman terdiri atas beberapa tanaman dan tumbuh tanpa diatur jarak tanam maupun larikannya, semua tercampur jadi satu Lahan efisien, tetapi riskan terhadap ancaman hama dan penyakit. Contoh: tanaman campuran seperti jagung, kedelai, ubi kayu.
Pembuatan Lubang Tanam
Lubang tanam dibuat dengan alat tugal.Kedalaman lubang perlu di perhatikan agar benih tidak terhambat pertumbuhannya. Kedalaman lubang tanam antara: 3-5 cm, dan tiap lubang hanya diisi 1 butir benih.
Jarak tanam jagung disesuaikan dengan umur panennya, semakin panjang umurnya, tanaman akan semakin tinggi dan memerlukan tempat yang lebih luas.
Jagung berumur dalam/panjang dengan waktu panen = 100 hari sejak penanaman, jarak tanamnya dibuat 40x100 cm (2 tanaman /lubang). Jagung berumur sedang (panen 80-100 hari), jarak tanamnya 25x75 cm (1 tanaman/lubang).Sedangkan jagung berumur pendek (panen < 80 hari), jarak tanamnya 20x50 cm (1 tanaman/lubang).Kedalaman lubang tanam yaitu antara 3-5 cm.
Cara Penanaman
pertumbuhan tanaman jagung.Pada saat penanaman sebaiknya tanah dalam keadaan lembab dan tidak tergenang. Apabila tanah kering, perlu diairi dahulu, kecuali bila diduga 1-2 hari lagi hujan akan turun. Pembuatan lubang tanaman dan penanaman biasanya memerlukan 4 orang (2 orang membuat lubang, 1 orang memasukkan benih, 1 orang lagi memasukkan pupuk dasar dan menutup lubang). Jumlah benih yang dimasukkan per lubang tergantung yang dikehendaki, bila dikehendaki 2 tanaman per lubang maka benih yang dimasukkan 3 biji per lubang, bila dikehendaki 1 tanaman per lubang, maka benih yang dimasukkan 2 butir benih per lubang.
Lain-lain
Di lahan sawah irigasi, jagung biasanya ditanam pada musim kemarau.Di sawah tadah hujan, ditanam pada akhir musim hujan.Di lahan kering ditanam pada awal musim hujan dan akhir musim hujan.
d) Pemeliharaan Tanaman
Penjarangan dan Penyulaman.
Dengan penjarangan maka dapat ditentukan jumlah tanaman per lubang sesuai dengan yang dikehendaki. Apabila dalam 1 lubang tumbuh 3 tanaman, sedangkan yang dikehendaki hanya 2 atau 1, maka tanaman tersebut harus dikurangi.
Tanaman yang tumbuhnya paling tidak baik, dipotong dengan pisau atau gunting yang tajam tepat di atas permukaan tanah. Pencabutan tanaman secara langsung tidak boleh dilakukan, karena akan melukai akar tanaman lain yang akan dibiarkan tumbuh. Penyulaman bertujuan untuk mengganti benih yang tidak tumbuh/mati.
Kegiatan ini dilakukan 7-10 hari sesudah tanam. Jumlah dan jenis benih serta perlakuan dalam penyulaman sama dengan sewaktu penanaman. Penyulaman hendaknya menggunakan benih dari jenis yang sama. Waktu penyulaman paling lambat dua minggu setelah tanam.
Penyiangan bertujuan untuk membersihkan lahan dari tanaman pengganggu (gulma).Penyiangan dilakukan 2 minggu sekali.Penyiangan pada tanaman jagung yang masih muda biasanya dengan tangan atau cangkul kecil, garpu dan sebagainya.Yang penting dalam penyiangan ini tidak mengganggu perakaran tanaman yang pada umur tersebut masih belum cukup kuat mencengkeram tanah.Hal ini biasanya dilakukan setelah tanaman berumur 15 hari.
Pembubunan
Pembumbunan dilakukan bersamaan dengan penyiangan dan bertujuan untuk memperkokoh posisi batang, sehingga tanaman tidak mudah rebah.Selain itu juga untuk menutup akar yang bermunculan di atas permukaan tanah karena adanya aerasi.Kegiatan ini dilakukan pada saat tanaman berumur 6 minggu, bersamaan dengan waktu pemupukan.Caranya, tanah di sebelah kanan dan kiri barisan tanaman diuruk dengan cangkul, kemudian ditimbun di barisan tanaman.
Dengan cara ini akan terbentuk guludan yang memanjang. Untuk efisiensi tenaga biasanya pembubunan dilakukan bersama dengan penyiangan kedua yaitu setelah tanaman berumur 1 bulan.
Pemupukan
Dosis pemupukan jagung untuk setiap hektarnya adalah pupuk Urea sebanyak 200-300 kg, pupuk TSP/SP 36 sebanyak 75-100 kg, dan pupuk KCl sebanyak 50-100 kg. Pemupukan dapat dilakukan dalam tiga tahap.Pada tahap pertama (pupuk dasar), pupuk diberikan bersamaan dengan waktu tanam.Pada tahap kedua (pupuk susulan I), pupuk diberikan setelah tanaman jagung berumur 3-4 minggu setelah tanam.Pada tahap ketiga (pupuk susulan II), pupuk diberikan setelah tanaman jagung berumur 8 minggu atau setelah malai keluar.
Pengairan dan Penyiraman
lebih besar sehingga perlu dialirkan air pada parit-parit di antara bumbunan tanaman jagung.
Waktu Penyemprotan Pestisida
Penggunaan pestisida hanya diperkenankan setelah terlihat adanya hama yang dapat membahayakan proses produksi jagung. Adapun pestisida yang digunakan yaitu pestisida yang dipakai untuk mengendalikan ulat. Pelaksanaan penyemprotan hendaknya memperlihatkan kelestarian musuh alami dan tingkat populasi hama yang menyerang, sehingga perlakuan ini akan lebih efisien.
G. HAMA DAN PENYAKIT
a) Hama
Lalat bibit (Atherigona exigua Stein)
Gejala: daun berubah warna menjadi kekuning-kuningan; di sekitar bekas gigitan atau bagian yang terserang mengalami pembusukan, akhirnya tanaman menjadi layu, pertumbuhan tanaman menjadi kerdil atau mati.
Penyebab: lalat bibit dengan ciri-ciri warna lalat abu-abu, warna punggung kuning kehijauan dab bergaris, warna perut coklat kekuningan, warna telur putih mutiara, dan panjang lalat 3-3,5 mm.
Pengendalian: (1) penanaman serentak dan penerapan pergiliran tanaman akan sangat membantu memutus siklus hidup lalat bibit, terutama setelah selesai panen jagung; (2) tanaman yang terserang lalat bibit harus segera dicabut dan dimusnahkan, agar hama tidak menyebar; (3) kebersihan di sekitar areal penanaman hendaklah dijaga dan selalu diperhatikan terutama terhadap tanaman inang yang sekaligus sebagai gulma; (4) pengendalian secara kimiawi insektisida yang dapat digunakan antara lain: Dursban 20 EC, Hostathion 40 EC, Larvin 74 WP, Marshal 25 ST, Miral 26 dan Promet 40 SD sedangkan dosis penggunaan dapat mengikuti aturan pakai.
Gejala: tanaman jagung yang terserang biasanya terpotong beberapa cm diatas permukaan tanah yang ditandai dengan adanya bekas gigitan pada batangnya, akibatnya tanaman jagung yang masih muda itu roboh di atas tanah.
Penyebab: beberapa jenis ulat pemotong: Agrotis sp. (A. ipsilon); Spodoptera litura, penggerek batang jagung (Ostrinia furnacalis), dan penggerek buah jagung (Helicoverpa armigera).
Pengendalian: (1) bertanam secara serentak pada areal yang luas, bisa juga dilakukan pergiliran tanaman; (2) dengan mencari dan membunuh ulat-ulat tersebut yang biasanya terdapat di dalam tanah; (3) sebelum lahan ditanami jagung, disemprot terlebih dahulu dengan insektisida.
b) Penyakit
Penyakit bulai (Downy mildew)
Penyebab: cendawan Peronosclero spora maydis dan P. spora javanica serta P. spora philippinensis. yang akan merajalela pada suhu udara 27 derajat C ke atas serta keadaan udara lembab.
Gejala: (1) pada tanaman berumur 2-3 minggu, daun runcing dan kecil, kaku dan pertumbuhan batang terhambat, warna menguning, sisi bawah daun terdapat lapisan spora cendawan warna putih; (2) pada tanaman berumur 3-5 minggu, tanaman yang terserang mengalami gangguan pertumbuhan, daun berubah warna dan perubahan warna ini dimulai dari bagian pangkal daun, tongkol berubah bentuk dan isi; (3) pada tanaman dewasa, terdapat garis-garis kecoklatan pada daun tua.
Pengendalian: (1) penanaman dilakukan menjelang atau awal musim penghujan; (2) pola tanam dan pola pergiliran tanaman, penanaman varietas unggul; (3) dilakukan pencabutan tanaman yang terserang, kemudian dimusnahkan.
Penyebab: cendawan Helminthosporium turcicum.
Gejala: pada daun tampak bercak memanjang dan teratur berwarna kuning dan dikelilingi warna coklat, bercak berkembang dan meluas dari ujung daun hingga ke pangkal daun, semula bercak tampak basah, kemudian berubah warna menjadi coklat kekuningkuningan, kemudian berubah menjadi coklat tua. Akhirnya seluruh permukaan daun berwarna coklat.
Pengendalian: (1) pergiliran tanaman hendaknya selalu dilakukan guna menekan meluasnya cendawan; (2) mekanis dengan mengatur kelembaban lahan agar kondisi lahan tidak lembab; (3) kimiawi dengan pestisida antara lain: Daconil 75 WP, Difolatan 4 F.
Penyakit karat (Rust)
Penyebab: cendawan Puccinia sorghi Schw dan Puccinia polypora Underw.
Gejala: pada tanaman dewasa yaitu pada daun yang sudah tua terdapat titik-titik noda yang berwarna merah kecoklatan seperti karat serta terdapat serbuk yang berwarna kuning kecoklatan, serbuk cendawan ini kemudian berkembang dan memanjang, kemudian akhirnya karat dapat berubah menjadi bermacam-macam bentuk.
Pengendalian: (1) mengatur kelembaban pada areal tanam; (2) menanam varietas unggul atau varietas yang tahan terhadap penyakit; (3) melakukan sanitasi pada areal pertanaman jagung; (4) kimiawi menggunakan pestisida seperti pada penyakit bulai dan bercak daun.
Penyakit gosong bengkak (Corn smut/boil smut)
Penyebab: cendawan Ustilago maydis (DC) Cda, Ustilago zeae (Schw) Ung, Uredo zeae Schw, Uredo maydis DC.
Pengendalian: (1) mengatur kelembaban areal pertanaman jagung dengan cara pengeringan dan irigasi; (2) memotong bagian tanaman kemudian dibakar; (3) benih yang akan ditanam dicampur dengan fungisida secara merata hingga semua permukaan benih terkena.
Penyakit busuk tongkol dan busuk biji
Penyebab: cendawan Fusarium atau Gibberella antara lain Gibberella zeae (Schw), Gibberella fujikuroi (Schw), Gibberella moniliforme.
Gejala: dapat diketahui setelah membuka pembungkus tongkol, biji-biji jagung berwarna merah jambu atau merah kecoklatan kemudian berubah menjadi warna coklat sawo matang.
Pengendalian: (1) menanam jagung varietas unggul, dilakukan pergiliran tanam, mengatur jarak tanam, perlakuan benih; (2) penyemprotan dengan fungisida setelah ditemukan gejala serangan.
H. P A N E N
Hasil panen jagung tidak semua berupa jagung tua/matang fisiologis, tergantung dari tujuan panen. Seperti pada tanaman padi, tingkat kemasakan buah jagung juga dapat dibedakan dalam 4 tingkat: masak susu, masak lunak, masak tua dan masak kering/masak mati.
a) Ciri dan Umur Panen
Ciri jagung yang siap dipanen adalah:
Umur panen adalah 86-96 hari setelah tanam.
Jagung siap dipanen dengan tongkol atau kelobot mulai mengering yang ditandai dengan adanya lapisan hitam pada biji bagian lembaga.
Biji kering, keras, dan mengkilat, apabila ditekan tidak membekas.
Jagung untuk makanan pokok (beras jagung), pakan ternak, benih, tepung dan berbagai keperluan lainnya dipanen jika sudah matang fisiologis. Tanda-tandanya: sebagian besar daun dan kelobot telah menguning.
Apabila bijinya dilepaskan akan ada warna coklat kehitaman pada tangkainya (tempat menempelnya biji pada tongkol). Bila biji dipijit dengan kuku, tidak meninggalkan bekas.
b) Cara Panen
Cara panen jagung yang matang fisiologis adalah dengan cara memutar tongkol berikut kelobotnya, atau dapat dilakukan dengan mematahkan tangkai buah jagung. Pada lahan yang luas dan rata sangat cocok bila menggunakan alat mesin pemetikan.
c) Periode Panen
Pemetikan jagung pada waktu yang kurang tepat, kurang masak dapat menyebabkan penurunan kualitas, butir jagung menjadi keriput bahkan setelah pengeringan akan pecah, terutama bila dipipil dengan alat. Jagung untuk keperluan sayur, dapat dipetik 15 sampai dengan 21 hari setelah tanaman berbunga.
Pemetikan jagung untuk dikonsumsi sebagai jagung rebus, tidak harus menunggu sampai biji masak, tetapi dapat dilakukan ± 4 minggu setelah tanaman berbunga atau dapat mengambil waktu panen antara umur panen jagung sayur dan umur panen jagung masak mati.
d) Prakiraan Produksi
cukup tinggi, cara untuk mendapatkan produksi pada tingkat optimal yang dilakukan oleh petani, baru memberikan hasil 17 ton/ha.
I. PASCA PANEN
Setelah jagung dipetik biasanya dilakukan proses lanjutan yang merupakan serangkaian pekerjaan yang berkaitan dan akhirnya produk siap disimpan atau dipasarkan.
a) Pengupasan
Jagung dikupas pada saat masih menempel pada batang atau setelah pemetikan selesai. Pengupasan ini dilakukan untuk menjaga agar kadar air di dalam tongkol dapat diturunkan dan kelembaban di sekitar biji tidak menimbulkan kerusakan biji atau mengakibatkan tumbuhnya cendawan. Pengupasan dapat memudahkan atau memperingan pengangkutan selama proses pengeringan. Untuk jagung masak mati sebagai bahan makanan, begitu selesai dipanen, kelobot segera dikupas.
b) Pengeringan
pengeringan buatan, tetapi prinsipnya sama yaitu untuk mengurangi kadar air di dalam biji dengan panas pengeringan sekitar 38-43 derajat C, sehingga kadar air turun menjadi 12-13 %. Mesin pengering dapat digunakan setiap saat dan dapat dilakukan pengaturan suhu sesuai dengan kadar air biji jagung yang diinginkan.
c) Pemipilan
Setelah dijemur sampai kering jagung dipipil.Pemipilan dapat menggunakan tangan atau alat pemipil jagung bila jumlah produksi cukup besar. Pada dasarnya “memipil” jagung hampir sama dengan proses perontokan gabah, yaitu memisahkan biji-biji dari tempat pelekatan. Jagung melekat pada tongkolnya, maka antara biji dan tongkol perlu dipisahkan.
d) Penyortiran dan Penggolongan
Setelah jagung terlepas dari tongkol, biji-biji jagung harus dipisahkan dari kotoran atau apa saja yang tidak dikehendaki, sehinggga tidak menurunkan kualitas jagung. Yang perlu dipisahkan dan dibuang antara lain sisa-sisa tongkol, biji kecil, biji pecah, biji hampa, kotoran selama petik ataupun pada waktu pengumpilan. Tindakan ini sangat bermanfaat untuk menghindari atau menekan serangan jamur dan hama selama dalam penyimpanan. Disamping itu juga dapat memperbaiki peredaran udara.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Keanekaragaman hayati tidak saja terjadi antar jenis, tetapi dalam satu jenis pun terdapat keanekaragaman. Adanya perbedaan warna, bentuk, dan ukuran dalam satu jenis disebut variasi.Gen pada setiap individu, walaupun perangkat dasar penyusunnya sama, tetapi susunannya berbeda-beda bergantung pada masing-masing induknya. Susunan perangkat gen inilah yang menentukan ciri atau sifat suatu individu dalam satu spesies.
B. Saran
DAFTAR PUSTAKA
AAK.(1993). Teknik Bercocok Tanam Jagung.Yogyakarta.Kanisius.
Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (1998). Budidaya Kedelai dan Jagung.Palangkaraya. Departemen Pertanian.
Capricorn Indo Consult.(1998). Studi Tentang Agroindustri & Pemasaran JAGUNG & KEDELAI di Indonesia.
Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan (1988). Jagung Bogor. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian
http://www.faktakita.com/2012/02/keanekaragaman-hayati.html