• Tidak ada hasil yang ditemukan

laporan dan praktikum dan epidemiologi

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "laporan dan praktikum dan epidemiologi"

Copied!
30
0
0

Teks penuh

(1)

PRAKTIKUM EPIDEMIOLOGI

LAPORAN HASIL KUNJUNGAN RESPONDEN

OLEH : SUSIATI NIM. 1111015153

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT UNIVERSITAS MULAWARMAN

(2)

LAPORAN HASIL

HASIL Responden 1 :

Tabel Identitas Responden Nama : Yuliati Jenis kelamin : Perempuan Usia : 23 tahun Pekerjaan : Mahasiswa Penyakit : Alergi

Alamat : Jl. Gelatik Gang Aman No. Hp : 082311447337

Asal : Sebatik Kabupaten Nunukan

Tabel hasil kunjungan, dan pengintervesian atau perlakuan terhadap pembatasan baik agent, environment dan host

B1 (10 hari pertama)

1. Meminta ijin untuk melakukan pengontrolan

2. Memperolah RAP masalah kesehatan 3. Melihat kondisi tempat tinggal

B2 (10 hari kedua)

1. menanyakan masalah perilaku sehari-hari

2. memberi saran untuk menghindari pemicu alergi responden

B3 (10 hari ketiga)

1. Saling berbagi cerita tentang kesehatan 2. Menanyakan apakah saran yang telah

dilakukan

3. Mengecek asupan makanan B4 (10 hari keempat)

1. Periksa tekanan darah dan denyut jantung

(3)

gatal

3. Responden mulai menghindari makanan pemicu alergi

B5 (10 Hari kelima)

1. Pasien sudah mulai menghindari makanan yang bersantan, seafood dan kacang-kacangan

2. Pasien mulai menjadwalkan olahraga rutin setiap Sabtu dan Minggu

B6 (10 Hari kelima)

1. Bengkak akibat asam urat sudah mulai berkurang

2. Pasien mengeluhkan banyaknya pekerjaan yang mengharuskan ia banyak mengetik sehingga tangan yang bengkak lambat sembuh

3. Pemberian saran agar pasien membatasi waktu kerja

B7 (10 Hari kelima)

1. Pasien telah rutin berolahraga (jogging) setiap Sabtu dan Minggu

2. Bengkak akibat asam urat ditangan telah sembuh

3. Pengecekan tekanan darah 160/90 4. Istri pasien masih rutin memberikan jus

labu siam B8 (10 Hari kelima)

1. Pemberian saran bagi pasien agar mempertahankan kebiasaan baik yang telah dilakukan

(4)

B9 (10 Hari kelima)

1. Saran-saran yang diberikan sebagian besar telah dilaksanakan pasien dengan baik

2. Jam kerja tidak begitu di forsir lagi 3. Tekanan darah mendekati normal

140/90

4. Saran masih dijalankan dengan baik

RAP RESPONDEN 1

1. Masa sebelum sakit (Prepatogenesis)

Responden tidak memliki alergi atau belum mengetahui adanya gelrgi pada dirinya 2. Masa Inkubasi (Early

Pathogenesis)

Seperti masih sering mengkomsumsi makanan telur dan menggunakan kosmetik yang dapat memicu alergi

3. Masa penyakit dini (Demostrable but early disease)

Muncul rasa gatal dan bintik kemerahan pada daerah siku dan tangan setelah mengkomsumsi telur. Dan bercak kemerakan pada muka setelah menggunakan kosmetik

4. Masa penyakit lanjut (Advance or manifest disease)

Rasa gatal dan menimbulkan bekas di pergelangan tangan setelah mengggunakan kosmetik tersebut ataupun mengkonsumsi telur secar berlebihan. Karena responden tidak memperdulikan hal tersebut dan sering menggaruk daerah timbulnya alergi

menyebabkan kulit responden menjadi hitam dan berbintik bintik.

5. Masa akhir penyakit (Convalesence)

Umumnya penyakit Alergi tidak

menyisakan kecacatan. Namunalergi akan muncul kembali jika mengkonsumsi makanan dan menggunakan kosmetik yang memicu alegi.

(5)

Responden 1

Deskripsi kondisi dan situasi Hunian

Melihat kondisi dan situasi hunian pasien ini, dapat dikatakan rumah pasien telah masuk kategori rumah sehat. Rumah pasien memiliki pencahayaan, sanitasi, dan tata letak yang cukup baik. Hal ini sesuai dengan penyakit yang diderita pasien tidak berhubungan dengan kondisi lingkungan, namun lebih kepada gaya hidup pasien.

Kunjungan dan Pengintervensian

Pasien ini bernama Masumi dan berusia 51 tahun, dengan status pekerjaan sebagai karyawan swasta. Dengan usia ini, dapat diketahui penyakit degeneratif akan mudah dialami pasien (khususnya asam urat dan hipertensi). Pada kunjungan pertama diketahui bahwa pasien memiliki riwayat hipertensi dan memiliki kebiasaan makan makanan yang berkadar purin tinggi (terutama seafood dan makanan bersantan), hal inilah yang menjadi penyebab utama pasien menderita penyakit asam urat. Dengan beberapa gejala yang dialami, yaitu terjadinya pembengkakan di wilayah sekitar punggung tangan dan rasa nyeri serta kram dibagian bengkak tersebut.

Meninjau dari pemaparan yang dijelaskan untuk mengetahui penyebanya maka dapat diambil prediksi beberapa faktor yang menyebabkan hal tersebut :

 Faktor resiko : Usia, Gaya hidup dan Kurang Ber –Olahraga, Kadar Kolestrol Tinggi, Memilik Riwayat Hipertensi

 Faktor pendorong : Kebiasaan istri pasien memasak makanan yang mengandung santan dan seafood

 Faktor pencetus : Pasien memakan masakan dengan santan kental

Saran diberikan pada kunjungan pertama, yaitu mengubah perilaku host untuk menjaga asupan makannya dalam hal ini yakni mengurangi makanan yang bersantan agar tidak terjadi pembengkakan akibat asam urat.

(6)

telah diberikan dimana pasien belum menghindari makanan yang bersantan dan seafood. Bahkan dikagetkan dengan hasil pengukuran tekanan darah pasien setinggi 210/120, saat itu pasien ke dokter dan mendapat rujukan ke RSU A.Wahab Syahrani. Dalam kunjungan ini pemberian saran difokuskan kepada istri pasien agar mengurangi memasak masakan yang bersantan.

Pada kunjungan ketiga, didapatkan informasi tambahan bahwa pasien jarang berolahraga. Pasien pun masih sering makan makanan yang bersantan diluar rumah, terutama pasien sering mendapatkan undangan dari teman dan kerabatnya. Namun, untuk dirumah istri pasien mulai menuruti saran yang telah diberikan.

Hasil kunjungan ke-empat, dilakukan pengecekan tekanan darah kembali dan didapatkan tekanan darah pasien 180/100 (terjadi penurunan) selain itu mulai ada respon positif dari pasien. Istri pasien juga turut serta memberikan dukungan terhadap pasien dengan rutin memberikan jus labu siam untuk menurunkan tekanan darah pasien. Jus labu siam ini merupakan saran dari dokter untuk menurunkan tekanan darah pasien.

Pada kunjungan ke-lima, pasien sudah mulai menghindari makanan yang bersantan, seafood dan kacang-kacangan. Selain itu, pasien mulai menjadwalkan olahraga rutin setiap hari Sabtu dan Minggu.

Ketika kunjungan ke-enam, bengkak akibat asam urat yang dialami pasien sudah mulai berkurang. Namun, pasien mengeluhkan banyaknya pekerjaan yang mengharuskan ia banyak mengetik sehingga tangan yang bengkak lambat sembuh. Pada kunjungan ini pasien diberikan saran agar membatasi waktu kerja (tidak memforsir).

Hasil kunjungan ke-tujuh diketahui pasien telah rutin berolahraga (jogging) setiap Sabtu dan Minggu. Selain itu, didapatkan bengkak akibat asam urat yang pasien derita ditangan telah sembuh. Dilakukan pengecekan tekanan darah kembali, dimana didapatkan hasil pengukuran 160/90 (terus mengalami penurunan). Istri pasien pun diketahui masih rutin memberikan jus labu siam (setiap hari) kepada pasien.

(7)

bahwa pasien sudah sangat jarang mengkonsumsi makanan yang berpurin lagi (bersantan dan seafood).

Pada kunjungan ke-sembilan, saran-saran yang diberikan sebagian besar telah dilaksanakan pasien dengan baik dan jam kerja pasien tidak begitu di forsir lagi.

Pada kunjungan kesepuluh (terakhir), penyakit asam urat yang diderita pasien sudah tidak kambuh lagi. Dilakukan pengecekan tekanan darah kembali, didapatkan tekanan darah pasien telah mendekati normal, yaitu 140/90. Saran-saran yang diberikan pun masih dijalankan dengan baik.

Responden 2 :

Tabel Identitas Responden

Nama : Supardi Agus Susanto Jenis kelamin : Laki-laki

Usia : 62 tahun

Pekerjaan : Security TupperWare Penyakit : Diabetes Melitus

Alamat : Perum Samarinda Hills Blok B no 5 Kel. Rapak Dalam Kec. Loa jana Ilir

No. Hp : 085250018005 Jmlh keluarga : 3 orang

Asal : Samarinda

Tabel hasil kunjungan, dan pengintervesian atau perlakuan terhadap pembatasan baik agent, environment dan host

B1 (10 hari pertama) 1. Perkenalan

2. Meminta ijin melakuakn pengontrolan 3. Menanyakan masalah kesehatan 4. Melihat kondisi rumah

B2 (10 hari kedua)

1. Saling berbagi cerita tentang kesehatan 2. Memperoleh RAP Responden

(8)

dalam perubahan perilaku konsumsi B3 (10 hari ketiga)

1. Memeriksa tekanan darah dan denyut nadi responden

2. Memberikan saran dan arahan agar selalu mengurangi makanan yang mengandung glukosa lebih seperti mengkonsumsi kopi dan susu yang manis B4 (10 hari keempat)

B5 (10 Hari kelima)

3. Pasien sudah mulai menghindari makanan yang bersantan, seafood dan kacang-kacangan

4. Pasien mulai menjadwalkan olahraga rutin setiap Sabtu dan Minggu

B6 (10 Hari kelima)

4. Bengkak akibat asam urat sudah mulai berkurang

5. Pasien mengeluhkan banyaknya pekerjaan yang mengharuskan ia banyak mengetik sehingga tangan yang bengkak lambat sembuh

6. Pemberian saran agar pasien membatasi waktu kerja

B7 (10 Hari kelima)

5. Pasien telah rutin berolahraga (jogging) setiap Sabtu dan Minggu

(9)

7. Pengecekan tekanan darah 160/90 8. Istri pasien masih rutin memberikan jus

labu siam B8 (10 Hari kelima)

3. Pemberian saran bagi pasien agar mempertahankan kebiasaan baik yang telah dilakukan

4. Pasien sangat jarang mengkonsumsi makanan yang berpurin lagi (bersantan dan seafood)

B9 (10 Hari kelima)

5. Saran-saran yang diberikan sebagian besar telah dilaksanakan pasien dengan baik

6. Jam kerja tidak begitu di forsir lagi 7. Tekanan darah mendekati normal

140/90

8. Saran masih dijalankan dengan baik

RAP Responden 2

1. Masa sebelum sakit (Prepatogenesis)

Responden sangat menyukai makanna cemilan yang manis dan meminum susu kopi yang manis setiap hari. Karena pekerjaan responden sebagai sekuriti maka Responden jarang beristirahat dan sering melakuakn aktifitas di malam hari. 2. Masa Inkubasi (Early

Pathogenesis)

(10)

menggunakan botol plastik berulang kali. Responden juga seorang perokok aktif sejak masih muda

3. Masa penyakit dini (Demostrable but early disease)

Responden sering merasa kelelahan dan sering buang air kecil yang berlebihan dan mulai adanya peningkatan kadar gula dalam darah dan air seni.dan juga kadar kolesterol semakin tinggi

4. Masa penyakit lanjut (Advance or manifest disease)

Berat badan responden menurun drastic, terus menerus merasa haus, baung air kecil semakin sering sel-sel kehilangan air karena tubuh mengalami dehidrasi akibat perpindahan osmotic air dari dalam sel ke cairan ekstrasel yang hipertonik. timbul gangguan fungsi system sarat dengan rasa haus yang berlebihan pada responden. 5. Masa akhir penyakit

(Convalesence)

Umumnya Diabetes mellitus kering tidak menimbulkan luka yang membusuk

karenajuka ada luka pada diabetes mellitus kering akan lebih mudah sembuh

PEMBAHASAN Responden 2

Deskripsi kondisi dan situasi Hunian

(11)

Gambar dapur Ibu Eliani Kunjungan dan Pengintervensian

Pasien ke-2 ini bernama Ibu Eliani Wongso yang telah berusia 76 tahun termasuk dalam usia lansia, pekerjaannya sehari-hari sebagai ibu rumah tangga. Pada saat kunjungan pertama dilakukan upaya pendekatan agar pasien mau dipantau kondisi kesehatannya. Selain itu didapatkan bahwa pasien menderita asam urat akibat penuaan/penyakit degeneratif mengingat usia pasien telah lansia. Gejala yang terlihat jelas yaitu terjadi pembengkakan sendi di sekitar daerah kaki pasien. Bengkak tersebut terasa nyeri dan kaku, hal ini merupakan gejala utama penyakit hipertensi.

Meninjau dari pemaparan yang dijelaskan untuk mengetahui penyebanya maka dapat diambil prediksi beberapa faktor yang menyebabkan hal tersebut :

 Faktor resiko : Usia (LANSIA), Riwayat Hipertensi

 Faktor pendorong : Kurangnya perhatian keluarga terhadap konsumsi makanan pasien

 Faktor pencetus : Pasien pernah terjatuh di dapur

Saran diberikan pada kunjungan 1 yaitu mengubah perilaku host untuk mengonsumsi makanan yang sehat dan gizi seimbang.

Pada kunjungan kedua, dilakukan pengecekan kesehatan pasien berupa pengukuran tekanan darah didapatkan tekanan darah pasien 140/90. Namun didapatkan informasi bahwa pasien telah rutin mengkonsumsi jus timun tiap harinya.

(12)

kunjungan ini dilakukan pemberian saran kepada pasien agar membatasi asupan makanan yang dikonsumsi agar tidak memperparah asam urat yang diderita pasien.

Pada kunjugan keempat, dilakukan pemantauan kondisi pasien dan dilakukan pemberian saran kepada anggota keluarga pasien agar senantiasa mengawasi aktivitas pasien untuk menghindari kemungkinan pasien terjatuh kembali.

Pada kunjungan ke-lima, kembali dilakukan pemantauan pasien diamana didapatkan perkembangan bengkak pasien yang semakin membaik.

Kunjungan ke-enam, keluarga pasien telah lebih peduli terhadap pasien terbukti dengan adanya pengawasan jenis makanan yang dikonsumsi pasien untuk menghindari makanan yang memicu asam urat (berkadar purin tinggi). Selain itu, ketika dilakukan pengukuran tekanan darah pasien didapatkan tekanan pasien telah 130/90 (mendekati normal).

Hasil kunjungan ke-tujuh, diketahui bahwa pasien masih rutin mengkonsumsi jus timun. Jus timun dipercaya dapat dengan cepat menurunkan tekanan darah dan dapat menjaga tekanan darah agar tidak tinggi. Dengan kebiasaan pasien tersebut, terlihat kondisi bengkak pasien yang hampir sembuh.

Pada kunjungan ke-delapan, keluarga pasien mengaku telah melarang pasien untuk beraktivitas di dapur, hal ini dilakukan dengan cara membagi pekerjaan dengan anggota keluarga lainnya agar pasien tidak perlu sering bekerja di dapur. Pada kunjungan ini pula, dilakukan pemberian saran untuk mempertahankan kondisi pasien.

Di kunjungan ke-sembilan, dilakukan kembali pemantauan pasien dan dilakukan pemberian saran agar pasien membatasi aktivitas di rumah untuk menghindari accident yang pernah dialami pasien.

(13)

Responden 3 :

Tabel Identitas Responden

Pasien tidak memberikan izin dalam pengambilan

foto

Nama : Dimas R Jenis kelamin : Laki-laki Usia : 20 Tahun Pekerjaan : Mahasiswa Penyakit : Maag

Alamat : Jl. Bukit Barisan, Kampung Jawa belakang RS Dirgahayu

No. HP : 085346953385

Asal : Jawa

Tabel hasil kunjungan, dan pengintervesian atau perlakuan terhadap pembatasan baik agent, environment dan host

B1 (10 hari pertama)

1. Memperoleh masalah kesehatan 2. Meminta ijin untuk melakukan

pengontrolan

3. Saling bertukar informasi seputar kesehatan

4. Memperoleh RAP Masalah kesehatan Responden

B2 (10 hari kedua)

1. Berbagi cerita tentang kesehatan

2. Mengecek perilaku pola makan dan asupan responden

3. Memberikan saran untuk menghindari makanan yang dapat memicu maag B3 (10 hari ketiga)

1. Periksa tekanan darah dan denyut jantung 2. Responden masih belum bisa mengatur

pola makan

(14)

B4 (10 hari keempat)

1. Responden masih sering telat makan dan sulit mengatur pola makan namun responden menyadari akan pentingnya makan tepat waktu

2. Responden masih mengkonsumsi makanan yang dapat memicu maag

3. Memberikan penyuluhan tentang gzi seimbang dan pola makan yang tepat B5 (10 Hari kelima)

1. Tetap menanyakan apakah saran yang diberikan tetap dijalankan

2. Responden mengaku bahwa intensitas timbulnya indikasi maag mulai berkurang 3. Memberikan saran untuk tetap

mempertahankan sarapan pagi dan menjaga pola makan dengan gizi seimbang B6 (10 Hari kelima)

1. Hanya melakukan kontak via telepon dengan menanyakan kabar responden dan kondisi kesehatan responden

B7 (10 Hari kelima)

1. Responden mengaku penyakit maagnya sempat kambuh disebabkan responden terlalu sibuk dengan aktivitas organisasi kampus sehingga sulit mengontrol pola makan

2. Tetap memberikan saran untuk tetap menjaga pola makan

3. Memanfaatkan teman sesama aktivis untuk mengiatkan responden tetap menjaga pola makannya

B8 (10 Hari kelima)

(15)

tetap menanyakan kondisi responden dan saran yang telah diberikan

B9 (10 Hari kelima)

1. Responden tetap mengaku masih sulit sarapan pagi dan menjaga pola makan namun tetap komitmen untuk menjalankan saran yang telah diberikan

PEMBAHASAN Responden 3

1. Deskripsi kondisi dan situasi Hunian

Responden 3 tinggal dikontrakan bersama dengan temannya. Kesibukan aktifitas akademik dan organisasi responden menyebabkan jarang sarapan pagi, sering telat makan selain itu responden juga menyukai makanan yang berminyak dan pedas yang dapat memicu timbulnya maag.

2. Kunjungan dan Pengintervensian

Pada saat kunjungan pertama dengan Reponden 3 bernama Dimas berusia 20 tahun, dengan status mahasiswa di Universitas Mulawarman yaitu mencari permasalahan kesehatan yang diderita dan didapati bahwa responden memiliki penyakit gastritis (maag) yang diderita sejak kecil. Responden mengaku bahwa kondisi lambungnya lemah. Gejala yang dialami sering merasakan nyeri pada ulu hati.

Setelah wawancara singkat dengan responden maka ditemukan beberapa faktor dan RAP dari penyakit maag yaitu:

Faktor Resiko Stress beban tugas kuliah dan aktivitas organisasi, pola makan

(16)

penting

Faktor Pencetus Makanan pedas, asam dan berminyak, aktivitas organisasi reponden yang sangat padat

RAP Responden 3

1. Masa sebelum sakit (Prepatogenesis)

Responden masih belum mengalami gelaja maag namun faktor risiko seperti pola makandan psikologis telah ada pada responden. Responden mengatakan bahwa lambungnya sangat lemah dan sensitive terhadap makanan

2. Masa Inkubasi (Early Pathogenesis)

Selama responden terpapar dengan faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya maag maka akan menimbulkan gejala maag. Responden masih sering telat makan dan tidak membiasakan sarapan pagi sebelum beraktifitas.

3. Masa penyakit dini (Demostrable but early disease)

Responden sering merasa nyeri dan keram di daerah perut. Apalagi saat responden tidak memperdulikan pola makannya dan sering telat makan

4. Masa penyakit lanjut (Advance or manifest disease)

Responden sibuk dengan aktifitas dan resing telat makan ditambah faktor stress akibat beban tugas kuliah sehingga penyakit maag sering kambuh dan responden mengaku saat maag telah kambuh responden sudah tidak dapat beraktifitas hanya bisa berbaring atau duduk saja

5. Masa akhir penyakit (Convalesence)

(17)

Kunjungan ketiga, pada kunjungan ini saya melakukan pemeriksaan tekanan darah pada responden, responden masih belum bisa mengatur pola makan sehingga belum ada perkembangan karena penyakit maag masih sering kambuh. Sehingga saran yang dilakukan adalan dengan memberdayakan keluarga dan teman responden untuk saling mengingatkan tentang asupan dan pola makan

Pada kunjungan ke-empat belum ada perkembangan, responden masih belum terbiasa untuk selalu sarapan pagi sebelum berangkat kuliah, makan yang teratur dan responden masih sering mengkonsumsi makanan yang pedas dan asam. Saran yang dapat diberikan yaitu menyuruh kepada keluarga untuk selalu mengingatkan untuk sarapan pagi terlebih dahulu sebelum berangkat kuliah, makan yang teratur, dan mengurangi mengkonsumsi makanan yang pedas dan asam.

Hasil kunjungan ke-lima yaitu tidak bertemu responden dikarenakan kesibukan responden di kampus.

Kunjungan ke-enam, responden sudah mulai terbiasa untuk sarapan pagi sebelum berangkat kuliah, makan yang teratur dan mulai mengurangi makanan yang pedas dan asam. Pemberian saran untuk selalu memotivasi diri sendiri agar terus menerapkan kebiasaan tersebut dikehidupan sehari-hari sehingga responden akan selalu sarapan pagi sebelum berangkat kuliah, makan yang teratur, dann mengurangi makanan yang pedas dan asam.

Hasil kunjungan ke-tujuh, tidak bertemu responden lagi dikarenakan responden ada tugas lapangan.

Pada kunjungan yang ke-delapan , responden mengaku penyakit maag yang dideritanya sudah jarang kambuh dan responden juga sudah bisa mengatasi apabila stres. Saran yang diberikan kepada responden untuk terus-terusan menerapkan perubahan yang ada di kehidupan sehari-hari.

(18)

Pada kunjungan terakhir, Sudah mengalami perkembangan tetapi belum sepenuhnya dikarenakan responden masih belum bisa mengurangi makanan yang pedas dan asam.

Responden 4 :

Tabel Identitas Responden Nama : Nasrullah Jenis kelamin : Laki-laki Usia : 55 Tahun Pekerjaan : Wiraswasta

Penyakit : Penyakit Jantung Koroner Alamat : Jl. Kemakmuran

No. Hp : 081258050559 Suku : Bugis

Tabel hasil kunjungan, dan pengintervesian atau perlakuan terhadap pembatasan baik agent, environment dan host

B1 (10 hari pertama) 1. Perkenalan

2. Memperolah RAP masalah kesehatan 3. Meminta ijin

4. Memperoleh informasi aktifitas sehari-hari responden

B2 (10 hari kedua)

1. Saling berbagi informasi tentang kesehatan

2. Memberikan saran tentang perilaku hidup sehat misalnya olahraga dan menghindari rokok

3. Memberdayakan keluarga responden untuk saling mengingatkan untuk menghindari faktor yang dapat menjadi pencetus

B3 (10 hari ketiga)

(19)

mengonsumsi makanan yang dapat menurunkan kolesterol

3. Pemberian arahan untuk mengkomsumsi sayur dan buah B4 (10 hari keempat)

1. Periksa tekanan darah dan denyut Jantung

2. Responden mengaku sering merasa sesak dalam dada

3. Responden mulai teratur berolahraga dengan lari pagi sekitar wilayah unmul namun tidak teratur

4. Responden mengkonsumsi makanan penurun kolesterol sebagai alternative untuk menghindari obat yang mahal B5 (10 Hari kelima)

5. Pasien sudah mulai menghindari makanan yang bersantan, seafood dan kacang-kacangan

6. Pasien mulai menjadwalkan olahraga rutin setiap Sabtu dan Minggu

B6 (10 Hari kelima)

7. Bengkak akibat asam urat sudah mulai berkurang

8. Pasien mengeluhkan banyaknya pekerjaan yang mengharuskan ia banyak mengetik sehingga tangan yang bengkak lambat sembuh

9. Pemberian saran agar pasien membatasi waktu kerja

B7 (10 Hari kelima)

9. Pasien telah rutin berolahraga (jogging) setiap Sabtu dan Minggu

10.Bengkak akibat asam urat ditangan telah sembuh

(20)

12.Istri pasien masih rutin memberikan jus labu siam

B8 (10 Hari kelima)

5. Pemberian saran bagi pasien agar mempertahankan kebiasaan baik yang telah dilakukan

6. Pasien sangat jarang mengkonsumsi makanan yang berpurin lagi (bersantan dan seafood)

B9 (10 Hari kelima)

9. Saran-saran yang diberikan sebagian besar telah dilaksanakan pasien dengan baik

10. Jam kerja tidak begitu di forsir lagi 11. Tekanan darah mendekati normal

140/90

12. Saran masih dijalankan dengan baik

RAP Responden 4

1. Masa sebelum sakit (Prepatogenesis)

Responden mengaku adalah seorang perokok aktif saat masih muda dan sering

mengkonsumsi makanan yang mengandung kolesterol yang tinggi

2. Masa Inkubasi (Early Pathogenesis)

Selama responden terpapar dengan faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya Penyakit Jantung Koroner seperti merokok dengan frekunsi sering dan banyak

3. Masa penyakit dini (Demostrable but early disease)

Responden sering merasa kelelahan dan nyeri pada daerah jantung apalagi saat selesai merokok dan stress dengan pekerjaan. Responden juga mengaku nyeri dan sesak timbul saat emosi tidak stabil dan melakukan aktifitas lebih

4. Masa penyakit lanjut (Advance or manifest

(21)

disease) Responden mengaku nyeri yang dirasakan sampai responden tidak merasakan jantung namun hanya berlansung beberapa menit saja. Responden mengaku telah berhenti merokok saat 5 tahun yang lalu

5. Masa akhir penyakit (Convalesence)

-PEMBAHASAN Responden 4

Deskripsi kondisi dan situasi Hunian

Melihat masalah kesehatan yang diderita oleh pasien adalah termasuk dalam PAK (penyakit akibat kerja), kondisi lingkungan tempat tinggal tidak turut mempengaruhi parahnya penyakit pasien. Faktor utama yang mempengaruhi, yaitu kondisi lingkungan tempat kerja pasien, dimana kondisi lingkungan tempat kerja pasien sangat berpotensi menyebabkan penyakit SBS (Sick Building Syndrome).

Kunjungan dan Pengintervensian

Pasien ini bernama Triyadi Yulianto berusia 40 tahun dengan status sebagai pekerja swasta. Pada saat kunjungan pertama yang dilakukan di tempat kerja pasien, dilakukan upaya pendekatan agar pasien mau dikontrol kondisi kesehatannya. Pada saat ini, didapatkan bahwa pasien menderita salah satu jenis penyakit akibat kerja yang dikenal dengan istilah Sick Building Syndrome.

Pada kunjungan pertama ini belum didapatkan faktor-faktor yang mempengaruhi masalah kesehatan yang diderita pasien, hal ini dikarenakan waktu kunjungan hanya sebentar (menyesuaikan waktu kerja pasien).

(22)

penyebanya maka dapat diambil prediksi beberapa faktor yang menyebabkan hal tersebut :

 Faktor resiko : Dari host yang jarang berolahraga; Agent berupa agent biologis, agent kimia, dan radiasi

 Faktor pendorong : Paparan agent biologis dari sirkulasi AC yang jarang dibersihkan

 Faktor pencetus : Posisi tempat kerja yang searah dengan sumber pendingin (AC)

Pada kunjungan kedua ini pasien mengeluhkan gejala seperti flu yang dideritanya tidak kunjung sembuh. Gejala yang dirasakan pasien di antaranya adalah hidung dan mata berair, kepala sakit, dan kulit kering. Berdasarkan teori, gejala yang dialami pasien bukanlah gejala flu melainkan gejala Sick Building Syndrome. Pada kunjungan ini diberikan saran kepada pasien agar mengkonsumsi banyak vitamin C dengan tujuan utama meningkatkan imunitas tubuh pasien agar tidak memperparah gejala yang diderita pasien.

Pada kunjugan ketiga, diketahui bahwa kantor tempat pasien bekerja tidak memiliki jendela maupun ventilasi dan hanya mengandalkan AC sebagai sirkulasi udara utama. Padahal diketahui bahwa AC yang jarang mendapatkan perawatan akan menjadi tempat perkembangbiakkan bibit penyakit, dari sinilah pasien mendapatkan paparan agent biologis. Selanjutnya didapatkan pengakuan pasien yang jarang berolahraga, sehingga dilakukan pemberian saran agar pasien rajin berolahraga.

(23)

Pada kunjugan kelima, pasien masih mengeluhkan gejala mata dan hidung selalu berair saat bekerja. Namun pada kunjungan ini diketahui bahwa pasien mulai menyempatkan waktu untuk berolahraga. Pada kunjungan ini dilakukan pemberian saran kepada atasan pasien agar memberikan perawatan rutin bagi AC untuk meminimalisir kemungkinan perkembangan agent biologis dalam sirkulasi udara di ruangan kerja pasien.

Pada kunjungan keenam, pasien sudah mulai membuka pintu ruangan kantor terlebih dahulu setiap paginya, dalam hal ini pasien sudah mulai menyadari pengaruh dari sirkulasi udara ruangan kantor yang cukup buruk dapat memperparah penyakit Sick Building Syndrome yang pasien derita. Pada kunjungan ini pula pasien mengaku telah memperbanyak konsumsi vitamin C. Selain itu, saran kepada atasan kantor pasien yang diberikan pada kunjungan sebelumnya telah diterima dengan baik pada kunjungan keenam ini.

Pada kunjungan ketujuh, pasien mengaku gejala SBS yang ia derita telah berkurang. Selain itu, pasien juga telah memiliki jadwal tetap berolahraga 1 minggu sekali yaitu setiap hari minggu pagi. Pada kunjungan ini dapat disimpulkan bahwa pasien telah mulai melakukan pola hidup sehat.

Pada kunjungan kedelapan, hanya dilakukan pemantauan kondisi pasien dimana didapatkan kondisi pasien semakin membaik. Selain itu, dilakukan pemberian saran kepada pasien agar pasien mempertahankan kebiasaan baik yang mulai dibuat pasien tersebut.

Ketika kunjungan kesembilan, pasien tidak dapat ditemui karena sedang ditugaskan pihak kantor untuk mengikuti diklat dan pelatihan, sehingga pada jadwal kunjungan ini tidak dapat diketahui kondisi pasien.

(24)

Responden 5 :

Tabel Identitas Responden

Nama : Muhammad Fajar Jenis kelamin : laki-laki

Usia : 24 tahun

Pekerjaan : Mahasiswa Teknik Informatika STIMIK

Penyakit : perokok

Alamat : Jl. Lambung Mangkurat No. Hp : 085250793378

Suku : Bugis

B1 (10 hari pertama)

1. memperoleh masalah kesehatan 2. meminta ijin melakukan pengontrolan 3. menanyakan RAP Merokok

B2 (10 hari kedua)

1. Menanyakan RAP merokok

2. Responden mengaku tidak sanggup menghindari rokok

3. Memberdayakan keluarga agar

responden mulai mengurangi mengisap rokok

B3 (10 hari ketiga)

1. Periksa tekanan darah dan denyut jantung

2. Menanyakan responden tentang apa yang di rasakan responden jika mengisap rokok yang banyak 3. Responden mulai mengerti tentang

bahaya merokok namun mengaku sangat sulit mneghindari rokok B4 (10 hari keempat)

4. Periksa tekanan darah dan denyut jantung

(25)

gatal

6. Responden mulai menghindari makanan pemicu alergi

B5 (10 Hari kelima)

7. Pasien sudah mulai menghindari makanan yang bersantan, seafood dan kacang-kacangan

8. Pasien mulai menjadwalkan olahraga rutin setiap Sabtu dan Minggu

B6 (10 Hari kelima)

10.Bengkak akibat asam urat sudah mulai berkurang

11.Pasien mengeluhkan banyaknya pekerjaan yang mengharuskan ia banyak mengetik sehingga tangan yang bengkak lambat sembuh

12.Pemberian saran agar pasien membatasi waktu kerja

B7 (10 Hari kelima)

13.Pasien telah rutin berolahraga (jogging) setiap Sabtu dan Minggu

14.Bengkak akibat asam urat ditangan telah sembuh

15.Pengecekan tekanan darah 160/90 16.Istri pasien masih rutin memberikan jus

labu siam B8 (10 Hari kelima)

7. Pemberian saran bagi pasien agar mempertahankan kebiasaan baik yang telah dilakukan

(26)

B9 (10 Hari kelima)

13. Saran-saran yang diberikan sebagian besar telah dilaksanakan pasien dengan baik

14. Jam kerja tidak begitu di forsir lagi 15. Tekanan darah mendekati normal

140/90

16. Saran masih dijalankan dengan baik

RAP Responden 5

1. Masa sebelum sakit (Prepatogenesis)

Lingkungan responden yang dominan dengan perokok termasuk keluarga

responden, pergaulan responden yang bebas dan rasa keingintahuan yang tinggi akan sesuatu hal yang baru

2. Masa Inkubasi (Early Pathogenesis)

Responden mulai mencoba merokok saat smp. Hanya satu atau dua batang saja. Responden mengaku membeli rokok dengan uang jajan yang diberikan orang tua.

3. Masa penyakit dini (Demostrable but early disease)

Responden mulai menyukai aktifitas merokok apalagi saat orang tua responden telah berpisah dan tidak ada larangan dari orang tua karena kedua orang tua sibuk dengan pekerjaan masing-masing 4. Masa penyakit lanjut

(Advance or manifest disease)

Responden mulai tergantung dengan rokok. Responden mengaku menghisap rokok bisa satu bungkus tiap hari.

5. Masa akhir penyakit (Convalesence)

-PEMBAHASAN Responden 5

Deskripsi kondisi dan situasi Hunian

(27)

menekankan pada kondisi dan situasi hunian. Sehingga tidak dilakukan pengamatan di rumah pasien. Didapatkan lingkungan kerja pasien yang berada di sebuah gedung permanen dan terletak di pinggir jalan dengan polusi udara cukup tinggi.

Kunjungan dan Pengintervensian

Pasien ke-5 ini bernama Dewi Anggraini berusia 27 tahun yang sehari-harinya bekerja sebagai salah satu karyawan swasta di kawasan perkantoran Samarinda. Pada saat kunjungan pertama dengan target mencari permasalahan kesehatan yang diderita ternyata didapati bahwa responden menderita penyakit akibat kerja Sick Building Syndrome. Dengan beberapa gejala yang dialami seperti hidung berair, kulit kering, dan sulit berkonsentrasi. Hal ini merupakan gejala dari penyakit Sick Building Syndrome.

Meninjau dari pemaparan yang dijelaskan untuk mengetahui penyebanya maka dapat diambil prediksi beberapa faktor yang menyebabkan hal tersebut.

 Faktor resiko : Dari host yang jarang berolahraga; Agent berupa agent biologis, agent kimia, dan radiasi

 Faktor pendorong : Paparan agent biologis dari sirkulasi AC yang jarang dibersihkan

 Faktor pencetus : Jam kerja full dalam ruangan, mengoperasikan mesin photo copy

Pada kunjungan pertama ini, tidak diberikan saran bagi pasien karena masih dipelajari penyebab-penyebab dari masalah kesehatan yang diderita oleh pasien.

Pada kunjungan kedua, pasien mengeluhkan jam kerja yang full di dalam ruangan, yaitu selama kurang lebih 8 jam. Padahal setelah dilakukan pengamatan, ruang kerja pasien tidak memiliki ventilasi, yaitu hanya mengandalkan AC sebagai sirkulasi udara. Pada kunjungan ini dilakukan pemberian saran agar pasien meluangkan waktu keluar ruangan kerja sesekali yang diharapkan dapat membantu pasien memperoleh udara bersih.

(28)

jam kerja. Hal ini merupakan bagian dari paparan radiasi penyebab SBS bagi pasien. Tidak hanya berhadapan dengan komputer selama jam kerja, pasien juga sering mengoperasikan mesin foto copy yang ada dikantor tersebut. Pada kunjungan ini dilakukan pemberian saran kepada pasien untuk rajin berolahraga.

Pada kunjungan keempat, diketahui adanya pemakaian pengharum ruangan yang cukup banyak disekitar tempat kerja. Dari teori yang didapatkan, penggunaan pengharum ruangan merupakan bagian dari faktor penyebab gejala Sick Building Syndrome yang sifatnya sebagai agent kimia. Namun, pada kunjungan ini didapatkan kemajuan pasien yang mulai rajin berolahraga.

Pada kunjungan ke-lima, pasien masih mengalami gejala SBS (terutama hidung berair). Pada kunjungan ini dilakukan pemberian saran kepada pasien untuk mengkonsumsi buah-buahan sebagai sumber utama vitamin untuk meningkatkan stamina tubuh pasien. Karena penyakit akan semakin parah apabila tidak diiringi dengan stamina tubuh yang baik.

Kunjungan ke-enam, terjadi penurunan kebiasaan pasien, dimana pasien yang awalnya sudah mulai membiasakan diri untuk berolahraga kini mulai malas berolahraga kembali. Namun di sisi lain, pasien mulai mengurangi paparan dari radiasi komputer dengan menambah waktu istirahat dan membatasi waktu kerja di depan komputer. Pada kunjungan ini dilakukan pemberian saran agar pasien dapat konsisten rajin berolahraga.

Hasil kunjungan ke-tujuh, yaitu didapatkan pasien yang mulai membiasakan diri mengkonsumsi buah-buahan. Selain itu telah ada kebijakan baru dari atasan, yaitu dilakukannya pembagian tugas foto copy dengan karyawan lainnya untuk mengurangi paparan radiasi dari mesin foto copy. Pada kunjungan ini pasien mengaku telah mulai kembali rajin berolahraga.

Pada kunjungan ke-delapan, gejala SBS yang dirasakan pasien telah sembuh. Selanjutnya dilakukan pemberian saran agar pasien senantiasa mempertahankan pola hidup yang sehat (seperti yang telah dijalankan sebelumnya).

(29)

Untuk selanjutnya, yaitu pada kunjungan kesepuluh tidak dilakukan kunjungan. Hal ini dikarenakan kondisi pasien telah sesuai dengan yang diharapkan (pasien telah sembuh total dari gejala SBS) dan ketika itu bertepatan dengan pasien yang tidak bisa ditemui.

(30)

Kesan yang didapatkan selama proses pemantauan dan intervensi masalah kesehatan ini, yaitu adanya hambatan-hambatan yang ditemui selama proses kegiatan berlangsung. Mulai dari sulitnya menemui responden karena responden awalnya selalu berusaha menghindar dan tidak ingin diikuti perkembangan kesehatannya. Selain itu juga terletak pada proses intervensi yang tidak selalu berjalan dengan mulus, dikarenakan watak pasien yang berbeda-beda dan tidak semua mau menerima apalagi menjalankan saran dan masukan yang telah diberikan. Kesulitan dalam analisis faktor penyebab juga menjadi suatu hal yang cukup berat, dikarenakan peneliti harus mengikuti terus perkembangan dan kegiatan pasien agar dapat menarik suatu kesimpulan.

Namun dengan adanya tugas ini, mahasiswa akan bertambah pengalamannya. Mahasiswa juga dapat tau sedikit cara membina hubungan yang baik dengan masyarakat. Dari tugas ini juga dapat diketahui bahwa masalah kesehatan di masyarakat kian kompleks dengan faktor penyebab yang berbeda-beda, sehingga berbeda pula cara intervensinya. Pasien yang satu dengan pasien lainnya sekalipun memiliki masalah kesehatan yang sama, ternyata memiliki faktor resiko, faktor pendorong, dan faktor pencetus yang berbeda.

Gambar

Tabel Identitas Responden
Tabel hasil kunjungan, dan pengintervesian atau perlakuan terhadap pembatasan
Tabel Identitas Responden
Tabel Identitas Responden
+2

Referensi

Dokumen terkait

menghisap udara yang ada didalam ruangan smoking area tersebut, karena kalau hanya memakai 1 fan saja maka hanya untuk menghisap udara dari dalam keluar. dan oksigen diruangan

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara kualitas fisik (suhu dan kelembaban) dan biologi (jumlah mikroorganisme) udara pada ruangan ber-AC dengan

Hasil yang diperoleh dari penelitian terhadap karyawan yang bekerja didalam ruangan ber-AC menunjukkan bahwa karyawan di gedung TVRI Kota Medan yang melakukan pencegahan Sick

Frekuensi yang kecil ini menunjukkan juga bahwa volume udara yang dapat masuk maupun keluar paru akan lebih kecil bila dibandingkan dengan volume udara pernapasan pada orang dengan

Pemeliharaan : Dibersihkan dengan menggunakan lap bersih dan disimpan di lemari dalam keadaan suhu ruangan ber-AC.. Komponen :

Frekuensi yang kecil ini menunjukkan juga bahwa volume udara yang dapat masuk maupun keluar paru akan lebih kecil bila dibandingkan dengan volume udara pernapasan pada

Pada tempat yang gelap beaker glass A menit ke 0, 10, 20 dan 30 tinggi udara yang dihasilkan Hydrilla adalah 0 cm didalam tabung reaksi, pada menit ke 40, tinggi udara

Perinsip kerja dari alat ini iyalah menggunakan lampu halogen sebagai sumber untuk memanaskan ruangan kabinet dan fan sebagai penyetabil sirkulasi udara panas didalam