Pesantren dan Kehidupan Beragama di Papua (1). Wahabi Mengancam Kerukunan di Papua
Tingginya potensi konflik di Papua dikhawatirkan bakal semakin meningkat. Hal itu dipicu dengan gaya dakwah kelompok Wahabi yang intoleran dan melahirkan stigma negative terhadap islam. Lembaga-lembaga pendidikan Islam, semacam Pesantren yang dikelola para Kiai Nahdliyin pun resah dengan kehadiran mereka. Sebab para kiai yang telah lama berbaur membangun dengan masyarakat pribumi Papua, dan masyarakat pendatang lain dari beragam agama, terancam dengan kehadiran kelompok islam garis keras yang intoleran.
A Malik Mughni, - Jakarta
Kedatangan Islam di bumi Papua, konon dimulai sejak Abad ke XIII, bersamaan dengan berdirinya Kesultanan Tidore, di Kepulauan Maluku. Pada masa itu, menurut Antropolog Papua Dr.J.R. Mansoben, Islam masuk ke Raja Ampat, di Kepulauan ujung timur Indonesia itu. Sementara sebagian sejarawan berpendapat bahwa masuknya Islam di Papua sekitar akhir Abad ke XVIII. Hal itu didasarkan pada sejumlah peninggalan para Da’I, yakni Masjid tertua di Papua, yang usianya diperkirakan tak lebih dari empat Abad.
Namun, kapan pun Islam masuk pertama kali di bumi Cendrawasih, Perkembangan budaya dan pendidikan Islam di sana, ternyata tak semasif di pulau Jawa. Hal itu bisa dilihat dari Data Badan Pusat Statistik Papua tahun 2010, yang menyebutkan bahwa jumlah lembaga pendidikan di 29 Kabupaten di Papua, baru berdiri sebanyak 115 lembaga. Sementara Madrasah Diniyah hanya terdata sebanyak 19 lembaga.
“Meski tak massif, keberadaan pesantren dan madrasah di Papua telah ikut membantu memajukan peradaban di Papua. Ditambah sifat terbuka masyarakat asli Papua terhadap masyarakat pendatang telah menciptakan ruang akulturasi budaya menjdi entitas masyarakat yang bisa bekerjasama dalam hal
ekonomi, perdagangan, hingga dalam hal mempersatukan kepentingan politik,” kata Ahmad Muhajir, tokoh muda Muslim Papua.
Muhajir yang pernah menjabat Ketua Umum Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Jayapura itu mengungkapkan indahnya toleransi yang dibangun bersama umat beragama lain, juga dengan kalangan pribumi Papua yang sebagian masih menganut animisme. “Kami anak-anak muda dari lintas organisasi dan lintas agama sering berkumpul, berdiskusi dan mengadakan kegiatan bersama, termasuk juga menjaga kondusifitas saat perayaan hari besar agama-agama yang ada di Papua,” ujarnya.
Dikatakan bahwa cara dakwah kelompok Wahabi yang tak menghargai toleransi telah meresahkan masyarakat Papua. “Tak hanya yang non muslim. Sesama umat islam pun resah dengan gaya dakwah mereka,” ujar mantan aktivis Himpunan Mahasiswa Islam itu.
Sabara mengatakan hal itu berdasarkan hasil penelitian terbarunya tentang Muallaf di Papua. Bahkan menurutnya, kedatangan kelompok dakwah Wahabi di papua bisa memicu konflik horizontal di Papua. Sebab saat ini, hubungan antar agama di Papua, pun bak api dalam sekam. Meski terkesan damai, namun masih ada benih-benih kecurigaan terhadap islamisasi dan kristenisasi di sana. “Isu politik Papua sangat sensitif dengan isu Islamisasi. Yah. Apalagi Papua diidentikkn dengan Kristen. Hidayatullah, Hizbut Tahrir, Jamaah Tabligh dan kelompok Wahabi ini bisa menjadi potensi masalah. Apalagi orang Papua gampang diprovokasi untuk jadi radikal,” paparnya.
Meski jumlahnya tak lebih banyak dari Da’I Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, maupun dari kelompk Muslim Papua lain yang lebih moderat, namun kelompok radikal islam yang dikirimkan secara kontinyu sejak tahun 1990-an itu, menurut Bara sangat berbahaya bagi kondusifitas Papua.
Bersambung…
Secara Lembaga, Peranan NU Dinilai Lemah
Secara kultural, politik dan sosial keagamaan, gaya dakwah ramah para Ulama Nahdliyin relatif diterima dan mampu menjaga harmoni kerukunan umat di Papua. Bahkan sejumlah prinsip Nahdlatul Ulama (NU), yakni manhajul Fikr Ahlu Sunnah Wal Jamaah (Aswaja), dan pengakuan terhadap prinsip pluralism, telah diadopsi menjadi prinsip perjuangan Majelis Muslim Papua (MMP).
Tapi secara kelembagaan, NU yang telah memiliki 29 Cabang di Propinsi Papua dinilai belum berperan maksimal. Bahkan jika dibandingkan dengan sistem dan pola dakwah kelompok garis keras, yang kini telah menggunakan media elektronik, dari radio hingga dakwah virtual, peranan NU semakin kurang terlihat.
A. Malik Mughni
Kondisi geografis Papua yang bergunung-gunung, cuaca yang panas menyengat, serta kuatnya penduduk pribumi yang mempertahankan tradisi animisme, membuat Papua sulit disentuh peradaban baru. Di sisi lain, letak geografis Papua yang berada di gerbang pasifik, sikap terbuka penduduk pribumi dan kayanya sumberdaya alam di sana, membuat Propinsi paling timur di Indonesia itu menjadi pusat perebutan kepentingan. Tak heran jika kemudian sebagian daerah di Papua kerap menjadi arena konflik antar kekuatan politik maupun ekonomi. Konflik kian mudah tersulut, karena psikologis masyarakat Papua yang bertensi tinggi.
Kehadiran agama di Papua, baik Islam maupun Kristen diakui budayawan Sentani, Engel Waly turut membangun dan memperkaya peradaban Papua. Angel yang merupakan salah satu anak suku asli di Papua mengaku memperoleh pendidikan membaca pertama dari Gereja. Di Gereja pula ia mendapat ruang untuk melanjutkan pendidikannya hingga ke Perguruan Tinggi dan memperkaya keterampilannya dalam menguasai seni tari nusantara.
Seperti Gerejawan yang menyediakan lembaga pendidikan, para tokoh muslim di sana juga mewarnai peradaban Papua melalui Masjid, Madrasah dan Pesantren. Data Badan Pusat Statistik Papua
menyebutkan, jumlah rumah ibadahdi 29 Kabupaten/Kota di Papua, hingga tahun 2010 lalu sebanyak 492 masjid, 709 surau atau musolla, 4.773 Gereja Kristen, dan 979 Gereja Katolik.
“Persebaran agama di Papua memang tak merata. Mayoritas Kristen, di banyak Kabupaten/Kota.
Sementara di Fak-Fak, Kerom, Sorong dan Kaymana mayoritasnya Muslim,” ujar Budayawan yang pernah menetap dan keliling ke berbagai Kabupaten/Kota di Papua, Budi Nusantara.
Uniknya, kata Budi, di sejumlah daerah seperti di Wamena dan Biak, banyak suku asli Papua yang masuk Islam, tapi belum bisa meninggalkan kebiasaaan lama meminum arak dan makan Babi.
“Di Fak-Fak 90 persen Islam, Kaymana banyak juga penduduk asli yang Muslim, walaupun sebagian besar adalah turunan dari Ambon dan Arab. Di Wamena ada satu desa muslimnya banyak. Tetapi mereka terkadang masih banyak yang makan babi. Di Kerom, Sorong dan Jayapura banyak muslim pendatang dari Makassar dan Jawa,” ujarnya.
Budi juga membenarkan persebaran Islam di Papua di mulai dari Raja Ampat, yang pada Abad lampau merupakan bagian dari Kesultanan Islam Ternate. “Banyak masjid tua di sana,” ujarnya.
Meski banyak masyarakat berkultur NU, namun dari hasil risetnya mengatakan bahwa peranan NU secara kelembagaan dinilai lemah. “Secara lembaga NU kalah dibandingkan Muhammadiyah yang banyak mendirikan Panti asuhan, kalah juga oleh kelompok Wahabi yang baru masuk pada Tahun 90-an, dan Kelompok Hizbut tahrir yang masuk tahun 2000-an,” paparnya.
Dakwah para Ulama NU menurut Sabar banyak dilakukan secara personal. Sehingga nama NU kurang dikenal. Hal itu juga diakui Mantan Ketua Umum PC PMII Jayapura Ahmad Muhazir. Bahkan menurut Ahmad, warga Papua lebih mengenal Ansor dan PMII ketimbang NU.
“Karena anak-anak mudanya ini yang sering bergerak bersama pemuda dari agama lain untuk menjalin kerjasama dan menjaga kerukunan Papua,” ujarnya.
Namun begitu, secara politis, NU di Papua berhasil mewarnai sejumlah kebijakan. Prinsip Aswaja ala NU pun diadaptasi oleh Majelis Muslim Papua, yang bervisi menjaga prinsip Tawasuth, Tawazun, Ta’adul dan Tasamuh. Tawassuth atau sikap moderat demi menghindari segala bentuk pendekatan dengan tatharruf (ekstrim). Tawazun yaitu sikap berimbang atau harmoni dalam berkhidmad demi terciptanya keserasian hubungan antar sesame umat manusia dan antara manusia dengan Aalloh swt. Ta'âdul, atau menjaga keadilan. Dan Tasammuh atau toleran yang berintikan penghargaan terhadap perbedaan pandangan dan kemajemukan identitas budaya masyarakat.
--Pesantren dan Keberagamaan di Papua Tak Semua Muslim Papua Sepakat Soal NKRI
Meski penyebaran islam di Papua banyak dilakukan oleh para transmigran Jawa dan para Da’I yang dikirim sejumlah organisasi keagamaan dari Pulau Jawa dan Makassar, namun diantara para tokoh muslim Papua sendiri terjadi pertentangan pendapat soal Negara Kesatuan Republik Indonesia. Begitu pun dengan pesantren, lembaga pendidikan dan panti asuhan yang banyak berdiri di sana. Karenanya banyak juga tokoh islam terutama dari kalangan pemudanya yang tergabung dalam Organisasi Papua Merdeka.
A. Malik Mughni
Saat berkunjung ke Papua dalam acara Musyawarah Pimpinan Nasional (Muspimnas) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) di Sentani Jayapura beberapa waktu lalu, kami sempat berbincang dengan Petinggi Organisasi Papua Merdeka, Syafaruddin Lakairo. Syafaruddin mengungkapkan, banyaknya pemuda Islam yang bergabung di OPM lebih didasarkan pada tingginya ketimpangan pembangunan yang dilakukan Pemerintah RI. Ia juga membantah jika OPM lebih didominasi kepentingan agama, khususnya agama Kristen.
“Konflik yang terjadi di sini lebih disebabkan kepentingan politik. “Kehidupan beragama di sini tak mengalami gangguan apapun. Lahirnya OPM lebih disebabkan oleh keinginan Putera Papua bahwa kaum Pribumi harus jadi raja di tanah sendiri. Agama di Papua tak terpecah oleh sekte-sekte. Termasuk Islam juga, meski banyak organisasi, kami tetap menyatu dalam Lembaga Masyarakat Adat (LMA), semua elemen di situ,” ujarnya.
Papua, andaikan anak di dalam kandungan di Papua ditanya akan bilang Merdeka. Merdeka di Papua akan terjadi tanpa pertumpahan darah,” tandasnya.
Ia meyakini jika Papua terpisah dari NKRI, kehidupan masyarakat di Papua lebih makmur, kerukunan beragama juga lebih terjaga. Sebab, kata dia, pecahnya kerukunan umat beragama di sana terjadi lantaran sikap dan provokasi dari Jawa. Arogansi sejumlah kelompok Islam di jawa, kata Syafar berimbas pada perubahan sikap kaum nasrani di Papua. "Tolong sampaikan pada saudara kita di Jawa, jangan hancurkan tempat ibadah agama lain. Kami di sini kena imbasnya. Membangun masjid pun kini kami dipersulit, gara-gara ulah sebagian umat Islam di Jawa,” tandasnya. Meski menjiwai betul prinsip OPM, namun Syafar sangat menghargai ukhuwah, atau persaudaraan Islam. Karenanya, ketika PMII berkunjung ke sana, Syafar dan kawan-kawan sesama muslim dari OPM turut menjaga keamanan selama Muspimnas berlangsung. “Kami melihat PMII sebagai anak ideologis Gus Dur yang mengajarkan pluralism dan menghargai Papua. Meski berbeda pandangan soal NKRI, kami tetap menghargai,” ujarnya.
Sementara menurut Peneliti Badan Penelitian dan Pengembangan (Balibang) Agama RI untuk Wilayah Timur Indonesia, Sabara Nuruddin, organisasi kemasyarakatan Islam di Papua kini memang terpecah dalam beberapa ideologi. Seiring dengan masuknya para duta dakwah dari berbagai kelompok islam di Jawa. Sampai awal tahun 2000,an komunikasi antar kelompok Islam itu masih berjalan baik. Namun datangnya sejumlah kelompok islam garis keras, seperti Hizbut Tahrir, Hidayatullah dan Kelompok Wahabi lain kata Sabar telah sukses memecah belah umat Islam.
Selain NU dan Muhammadiyah, kata Sabar, Yayasan Pendidikan Islam (biasanya berideologi NU), Majelis Muslim Papua, Komunitas Syi’ah yang mengorganisasikan diri dalam lembaga Forum Kajian Islam Tanah Papua (Forkita). “Komunikasi antar kelompok ini lumayan bagus. meski wahabi kerap jadi masalah internal umat Islam,” ujarnya.
Kata Sabar, kelompok Wahabi yang mengusung wacana formalisasi islam dan rafsir tekstualis itu sering Mreka sering menebarkan ceramah-ceramah yang menghujat amalan agama lain, atau bahkan sesama islam dari kelompok lain melalui siaran radio yang terpancar di banyak daerah di Papua. “Ini meresahkn kelompok islam lain, terutama NU,” ujarnya.
Kehadiran kelompok Wahabi dengan pola dakwah garis keras yang lebih sistematis melalui radio dan pendirian panti-panti asuhan serta member bantuan tertentu kepada masyarakat Pribumi Papua itu, menimbulkan kecurigaan dan image stigmatif Islam bagi orang-orang Papua. “ Efeknya ckup besar menjadi pemantik image stigmatif tentang Islam bagi orang-orang Papua,” ujarnya.
Karenanya, eksistensi Ormas Islam yang moderat di Papua, menurut dia perlu ditingkatkan, agar warga Papua tak terkecoh dalam memandang Islam. Sinyalemen Sabar ini bukanlah pernyataan yang didasari sikap phobia tanpa data. Sebab di sejumlah media Kristen, seperti Tabloid Reformata, dan sejumlah media lain
Turius Wenda, Ketua Forum Gerakan Pemuda Baptis Papua (FGPBP), mengatakan, masalah papua sesungguhnya bukan masalah makan – minum, akar masalah adalah masalah ideology dan sejarah integrasi yang penuh kotrovesial. Sehingga tidak bisa menyelesaikan dengan cara – cara kekerasan atau melalu berjihad yang sering kali menjadi cara dan semboyan Forum Umat islam. "Kerukunan umat beragama di papua sudah terjalin dan terpelihara dari dulu sehingga siapun yang membongkar dan merongrong kerukunan ini, maka semua orang yang hidup di papua harus melawan dan menolak isu berjihat seperti statement FUI beberapa waktu lalu." Ujarnya.
Tabloid Reformata juga pernah menuding Islamisasi yang dilakukan Yayasan Al-Fatih Kaafah Nusantara (AFKN) sebagai hal yang meresahkan.
Hasil penelitian Sabar juga mengungkapkan sebagian muallaf di Papua yang dididik oleh lembaga yang berideologi Wahabi cenderung mudah diprovokasi untuk melakukan tindakan kontraproduktif bagi kerukunan. Karenanya, ia menilai kehadiran NU, Muhammadiyah dan organisasi moderat lainnya, beserta organisasi kepemudaanya sangat dibutuhkan untuk menjaga kerukunan umat di Papua.
Sementara, Sekjend PB PMII Jabidi Ritonga mengungkapkan, kehadiran PMII di Papua diharapkan bisa membantu terjaganya toleransi umat di sana. “Kehadiran PMII di Papua menegaskan dan menghalau stigma bahwa Papua tak aman, tak kondusif, dan tak berbudaya. Karena sesungguhnya Papua sangat ramah dengan tingkat toleransi yang tinggi,” ujarnya.
PMII di Papua, saat ini sudah berdiri di 17 Kampus, di tujuh Kabupaten/Kota. Yakni di Kota Jayapura, Kabupaten Jayapura, Nabire, Sorong Kota, Sorong Kabupaten,
Fakfak, dan Merauke. Ia juga mengaku bahwa peranan NU secara kelembagaan di Papua masih lemah. “Secara basis NU lemah, tetapi secara ideologis, keberadaan NU dibutuhkan di Papua. Apalagi dengan keberadaan Gus Dur, masyarakat
meyakini bahwa NU bisa menjembatani persoalan Papua-Jakarta,” kata Jabidi.
Hal itu, kata dia terlihat dari acara-acara seremonial PMII di Papua. Pejabat
setempat juga mengakui keberadaan NU menjadi perekat NKRI di Papua. Gus Dur sangat menjadi teladan bagi masyarakat Papua. “PMII berpikir bahwa membangun Indonesia dari Papua sebagai sample berbagai persoalan di Indonesia. Dilihat dari aspek ekonomi, keamanan dan sosial. Papua sebaga serambi utama Indonesia. Membangun Indonesia tolak ukurnya dari Papua, dari aspek politik, NKRI, ekonomi. Persoalan Papua adalah cermin persoalan di Indonesia,” tandasnya.
Hal sama dipapar Koordinator PB PMII untuk wilayah timur Indonesia, Sabaruddin Rery. Kata Rery, sebagai serambi Indonesia, Papua harus mendapat perhatian besar dari Pemerintah. Penanganan Papua, kata dia, jangan hanya dilihat dari aspek keamanan, tapi juga dari aspek ekonomi dan budaya. “Otsus yang selama ini diterapkan di Papua belum menampakkan hasil terhadap pertumbuhan ekonomi maupun pendidikan masyarakat Papua. Ini disebabkan oleh dana otsus sering disalahgunakan oleh Pemerintah setempat, Banyak korupsi di Papua,” ujarnya.
Jayapura belum ada kader asli Papua, karena di sana mayoritas Pribumi Kristen. Tapi yang simpatik dengan PMII banyak.
FakFak, Sorong Selatan, Raja Ampat, Kaymana, Papua Barat sudah banyak muslim Pribumi.
merauke jayapura kota
masalahnya apa? Dan klp Syiah tntux.
Majelis Muslim Papua (MMP), sekarang ini penduduk pribumi (masyarakat asli) Papua yang memeluk Islam tersebar di kantong-kantong pemukiman “tradisional” sekitar kawasan Pesisir di bagian barat ke selatan (Raja Ampat, Teluk Bintuni, Babo, Inanwatan, Kokoda, Kokas, Fakfak, Kaimana, Teluk Arguni sampai Kayu Merah di Distrik Teluk Etna). Di kawasan Budaya Animha (Merauke), walaupun tidak banyak, namun terdapat juga komunitas Muslim Papua di Okaba dan Asmat. Demikian pula di Pegunungan Tengah, mereka berasal dan tinggal di Walessi, Hitigima, Air Garam dan di bebarapa perkampungan asli sekitar Lembah Baliem.
Di bagian lain Papua yakni di daerah Pegunungan Tengah Papua, Islam juga berkembang dan dianut oleh masyarakat pribumi. Pusat perkembangan Islam di daerah pegunungan ini berada di Kampung Walesi Kabupaten Jayawijaya yang kemudian menyebar ke 12 kampung lain disekitarnya. Pada tahun-tahun 1960-an akhir pasca istegrasi, penduduknya telah menganut Agama Islam. Kampung-kampung itu adalah Hitigima, Air Garam, Okilik, Apenas, Jagara, Ibele, Araboda,Megapura, Pasema, Mapenduma, Kurulu dan Pugima.
Kampung Walessi yang berasda di Distrik Wamena Kabupaten Jayawijaya ini dikenal sebagai “Perkampungan Muslim Tertinggi di Dunia” berada pada ketinggian 3000 di atas permukaan air laut dengan suhu rata-rata 14 – 26 Derajat Celcius. Kampung Walesi menjadi pusat pengembangan dan dakwah Islam “Islamic Center” bagi daerah-daerah sekitarnya di Pegunungan Tengah Papua. Tahun 1974 mencuat berita mengejutkan, yaitu masuk Islamnya “Kepala Suku Perang” Aipon Asso. Keislaman Aipon Asso diikuti oleh 600 orang warganya di Desa Walesi. H,Aipon yang waktu itu sudah berusia 70 tahun menjadi kepala suku yang sangat disegani di seluruh Lembah Baliem. Wilayah kekuasaannya membentang hampir 2/3 cekungan mangkuk Lembah Baliem.
Teringatlah kita pada kisah sahabat Nabi Muhammad yakni Umar bin Khattab ketika akan melakukan hijrah dari Mekah ke Madinah yang tingkah lakunya tanpa sembunyi-sembunyi dan tanpa ada rasa takut.
Tahun 2007, AiponAsso sempat hadir di Jayapura untuk mengikuti Muktamar I Majelis Muslim Papua pada tanggal 10 – 13 April 2007. Setelah acara itu, beliau pulang ke Jayawijaya dan segera mengundang seluruh muslim Jayawijaya untuk membentuk Majelis Muslim Papua wilayah kabupaten Jayawijaya. Musyawarah Wilayah Majelis Muslim Papua memberikan amanah kepada H. Aipon Asso sebagai Ketua Dewan Ukhuwah Majelis Muslim Papua Wilayah Jayawijaya. Sebelum dilantik, dia terlebih dahulu dipanggil Sang Khalik untuk menghadap selama-lamanya.
Pesantren
Majelis Muslim Papua (MMP) dibentuk berdasarkan pengalaman sejarah, pengalaman politik di mana saudara kita Muslim Papua dalam bahasa agama, yaitu disebut sebagai kaum Anshor. Dalam agama Islam dikenal dengan kaum Anshor dan kaum Muhajirin.
Dijelaskan kaum Anshor, artinya orang pribumi dan kaum Muhajirin berarti saudara kita yang berasal dari luar (pendatang), jelas Ketua MPP Pusat Papua, Arobi Autarau pada acara Musyawarah Pertama MPP Kabupaten Sorong yang berlangsung di aula Nurul Yaqin, Mayamuk, Kamis (28/2).
Istilah kaum Anshor dan kaum Muhajirin dalam ajaran Islam,ketika Nabi Muhamad SAW saat itu ketika berpindah tempat dari Mekkah ke Madinah. Dari warga Mekkah yang pindah ke Madinah dan kemudian di Madinah juga ada penduduk lokal, maka istilah itu dipakai hingga hari ini, ujarnya.
Wadah ini (MMP) dibentuk sejak adanya reformasi yang luar biasa tekanannya di tahun 1997 hingga 1999 di mana reformasi berkembang hingga di Papua dan dia bergerak lebih politis dengan adanya isu merdeka. Dengan adanya situasi seperti ini, kata Arobi Autarau yang juga sebagai anggota Majelis Rakyat Papua Barat. Dia menjelaskan, di mana posisi kita orang Muslim Papua kira-kira berada di mana dan mau ke mana. Akhirnya, kita coba membangun sebuah wadah dengan tujuan untuk menampung aspirasi. Dan tahun 1998 dari Muslim Papua kami membentuk “Solidaritas Muslim Papua,” terangnya.
Selanjutnya dari pembentukan solidaritas Muslim Papua dengan menggelar muktamar pertamar yang berlangsung 2007 lalu. Jadi, kegiatan yang dilaksanakan oleh MMP sama saja dengan kegiatan dari ormas-ormas Islam lainnya.”Tapi pendekatan yang dilakukan oleh MMP memang sedikit berbeda dan kami lebih condong pada kegiatan dialog-dialog agama dan perdamaian. Kemudian ada kegiatan resolusi-resolusi konflik.“Kalau secara umum melakukan kegiatan pengajian.”
Bahkan dirinya sering berdialaog dengan tokoh agama nasrani, baik Kristen Protestan maupun Katolik. Nah, di sini saya jelaskan Majelis Muslim Papua, dan kalau di Kristen itu namanya sinode-sinode. Seperti Sinode GKI, Sinode Pantekosta. “Kalau sinode di Islam diibaratkan seperti adanya Majelis Muslim Papua. Dari situlah maka dapat dipahami oleh saudara-saudara kita dari Nasrani, “ujar Arobi Autaruw.
Majelis Muslim Papua dengan kantor pusatnya di Jayapura. Tapi ada perwakilannya untuk tingkat kabupaten/ kota, baik yang ada di Papua maupun di Papua Barat dengan dibentuk pengurus dari masing-masing daerah.
Untuk kantor pusat MMP di Jayapura merupakan tempat berkumpulnya para tokoh lintas agama. Tujuannya untuk membicarakan berbagai hal terkait dengan masalah di Papua, dengan melakukan pendekatan secara adat dan budaya.Wilayah-wilayah yang dianggap rawan konflik maka kami akan masuk memberi pencerahan melalui pendekatan tersebut.
Hal itu pun diterapkan di Pondok Pesantren yang diasuhnya. Keberadaan pesantren di Babussalam menurut Muhajir bukanlah untuk melakukan penetrasi dan memaksakan agama islam kepada masyarakat setempat. “Dakwah yang dilakukan lebih kepada dakwah bil hal. Dakwah dengan tingkah laku yang baik dan bijaksana. Pesantren ini hadir untuk memajukan pendidikan di Papua, juga mengakomodir anak-anak muslim yang sebelumnya belum mendapat pendidikan keislaman karena langkanya pesantren,” paparnya. Ia pun bercerita, di awal pendiriannya pada tahun 1989, Pesantren tersebut bermula dari sebuah masjid. Dari masjid, itu masyarakat kemudian berharap didirikan lembaga pendidikan Islam. Maka didirikanlah Pesantren Babussalam, sebagai cabang dari Pesantren DDI Ambo Dalle Makassar.
Karenanya kemudian Pesantren yang memadukan sistem pendidikan salafiyah dan modern (menyertakan pengajian kitab-kitab klasik, juga sekolah berkulikulum standar pendidikan nasional, red). Asrama
Pesantren kemudian dibangun untuk menjaga kondusifitas para santri, yang kerap mendapat gangguan dari para pemabuk saat hendak atau pulang mengaji.
“Kami memadukan kurikulum pendidikani nasional Kementerian Agama, Kemenerian Pendidikan
Kebudayaan dan kurikulum pesantren tradisional,” ujar mantan Ketua Umum Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Cabang Jayapura itu.
Selain itu, para santri dibekali dengan berbagai kegiatan keterampilan (ekstrakurikuler). Kurikulum ini memungkinkan para santri lulusan RA, MI, MTs, dan MAK dapat diterima di semua lembaga pendidikan dan perguruan tinggi negeri maupun swasta lainnya.
Dengan sistem pendidikan tersebut, Babussalam bertekad untuk menjadi sentral tafaqquh fiddien (Pusat Pemahaman Agama Islam) dan mencetak SDM yang tangguh di lingkungan sekitar. Hal ini memang sangat diperlukan umat yang selama ini sangat memerlukan sarana untuk memahami Islam. Keberadaan Babussalam diharapkan bisa mencetak santri yang beriman, berilmu, berwawasan, trampil, ikhlas mandiri dan berjiwa enterpreneur. Selain itu para santri lulusan Babussalam ini menjadi sosok yang berdaya saing, unggul dan tangguh.
Pondok Pesantren Babussalam yang beralamat di Jl. Tanjung Pinang No. 3 Mandaow Dalam Distrik Samofa Bia Numfor, Papua ini kini dihuni lebih dari 80 santriwan dan santriwati. Pesantren ini
Para santri di masing-masing level pendidikan dibekali dengan pendidikan formal dan ketrampilan sesuai dengan kurikulum ponpes. “Para santri dididik agar dapat mandiri dan bekerja dengan keterampilan yang diberikan serta memiliki akhlak yang mulia, “ ujar Syukri.
Untuk memaksimalkan program pendidikan dan menjaga kualitas maka ponpes ini didukung oleh staf pengajar yang umumnya berkualifikasi pendidikan S1, bahkan S2, selain itu ada juga dari ulumnus ponpes. Ketrampilan bahasa pun diberikan yakni bahasa Arab dan bahasa Inggris dengan dilengkapi sarana laboratorium bahasa.
“Kami sudah menyiapkan ruangan untuk laboratorium komputer, namun sampai kini sarana komputer masih sedang kami upayakan. Selain itu kami juga sudah menyediakan ruang khusus untuk latihan menjahit bagi para santri,” ungkapnya.
Meski dengan sarana dan prasarana yang masih minim, berbagai prestasi telah diraih oleh Ponpes Babussalam, seperti Juara I Lomba peluncuran Roket pada LAPAN tingkat SMP se-Kabupaten Biak tahun 2009, Juara I Qasidah Majelis Ta'lim se-Kabupaten Biak tahun 2009, Juara I Gerak jalan tigkat SMP tahun 2009.
Dengan berbagai upaya pendidikan yang dilakukan serta didukung berbagai sarana yang ada di ponpes Babussalam ini, diharapkan dapat mencetak SDM yang mandiri. Kiranya niat baik ini dapat terwujud. Semog
Sy gak tau jg perbandinganx scra pasti, tp bhwa Islam radikal sdh msuk ke papua itu iya, bhkn HT & wahabi sdh msuk di sana, Syiah jg ada walau msh sgt kcil, tp tiap thn aktif bikin pringatn asyura di jypura.
Menurut anda, masuknya Wahabi, HTI dan klp ISlam radikal di Papua itu bagaimana efeknya? Sejak kapan kah mereka masuk?
Kalo hidayatullah sjak thn 90an, yg lain thn 2000an. perkembangan populasinya
Iya, itu jg bisa jd potensi mslh, apalg org papua gampang diprovokasi utk jd radikal. Kalau jumlah antara Da'i NU (yang dikenal moderat) dengan dai2 radikal besar mana? kenapa harus diwaspadai?
*Oh iya ini kita anggap wawancara ya, untuk dimuat di duta masyarakat* kalau ada yang off the reccord disampaikan saja, plus keterangan OTR.
Krn potensi radikalisasi Islam, slain itu mmbuat prpecahn ssama umat Islam. Hehe. Boleh juga.
ada upaya pencegahan dari klp lain?
Yah ada, pesantren yapis, hidayatullah, muhammadiyah. Tapi lbh bnyk peran person2 individu dai. No hpx Dr. Tony Wanggai 085244578870. Sy gak menemukn peran pes NU yg signifikan, kcuali peran dai2 NU scra personal.
Artinya, secara kelembagaan, yang intensif berperan di papua, adalah Muhammadiyah, dan Hidayatullah?
Yapis yg paling brperan, muhammadiyah & hidayatullah juga. Contoh peranannya?
Anak2 Muallaf asli papua bnyak diambil oleh panti asuhan muhammadiyah di jypura, sdgkn hidayatullah aktif mlakukn pmbinaan muallaf asli papua hngga pelosok & pgunungan. Peran jamaah tabligh jg lumayan dlm mengajarkn Islam pd pnduduk wamena.
Saat ini, jumlah muallaf di Papua berapa banyak?
Gak ada data yg pasti, tp populasi muslim asli papua yg ada di prov papua lbh kurang 20rb jiwa kira2 1% dr pnduduk asli papua.
konflik keberagamaan di sana bagaimana? Wah kalo itu lbh disulut faktor2 politis.
Faktor sbnrx dibalik knflik tsb lbh krn soal eko pol.
mungkinkah potensi konflik agama di Papua semacam api dalam sekam? terutama ISlamisasi VS kristenisasi
an Djamaluddin
HMINEWS- Ketika saya menjadi Sekretaris I HMI Cabang Jayapura (1977-1978) dan Ketua Umum LHMI-HMI Cabang Jayapura (1978-1979 dan 1979-1980) banyak memang pengalaman menarik di Bumi Cenderawasih itu, terutama dalam hal kerukunan beragama. Pada waktu itu saling menghormati sangat terasa meski Islam adalah minoritas. Di Papua kebanyakan warga Muslim berasal dari para pendatang, Makasar dan daerah-daerah sekitarnya di samping banyak pula warga asli yang memeluknya.
Menurut sumber yang saya terima dari Dalam berbagai laporan para ahli dan seminar-seminar menunjukkan bahwa sebelum agama-agama besar lainnya datang ke Papua, Islam sudah lebih awal masuk ke Papua. Sebagaimana hal ini dilaporkan seorang Antropolog Papua Dr.J.R. Mansoben
(1977):”Agama besar pertama yang masuk ke Irian Jaya (Papua) adalah Islam.” Menurut Van der Leeder (1980,22), agama Islam masuk di kepulauan Raja Ampat atas pengaruh dari Kesultanan Tidore tidak lama sesudah agama tersebut masuk di Maluku pada Abad XIII.
Maka tidaklah mengherankan bila kedatangan Missionaris Kristen paertama justeru diantar oleh Muballigh Islam (Muhammad Arfan: Penduduk Asli Raja Ampat) utusan dari Kerajaan Tidore pada 5 Februari 1855 di sebuah Pulau Kecil Mansinam di perairan Manokwari. Dua Missionaris dari Jerman itu adalah C.W.Ottow dan G.J.Geisseir.
Oh, bolehkah saya minta kontak beliau? mungkin bapak juga bisa menambahkan pendapat.
Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mendukung penuh upaya Majelis Rakyat Papua (MRP) untuk menyelesaikan sejumlah permasalahan yang melanda rakyat Papua Barat. Sebagai ormas yang fokus di bidang sosial-keagamaan, NU sebisa mungkin akan turut membantu
menagani persoalan kesejahteraan, kebudayaan, dan kerukunan beragama di sana.
Dukungan ini mencuat dalam kunjungan 12 anggota MRP Papua Barat di Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Rabu (23/5). Mereka yang mayoritas adalah anggota Kelompok Kerja (Pokja) Agama MRP ini diterima dengan baik oleh Sekretaris Jendral PBNU H Marsudi Syuhud dan Sekretaris PP RMINU Miftah Faqih.
Menaggapi sejumlah keluhan, PBNU menyatakan siap menjadi bagian dari solusi masalah itu. Sebab, secara moral sudah sejalan dengan sikap dasar NU yang senantiasa menghendaki kehidupan yang damai, setara, dan sejahtera.
“Biar lebih gampang, bikin surat rekomendasi untuk penyelesaian masalah yang ada, nanti PBNU akan tandatangani,” tutur Marsudi.
Salah satu anggota Pokja Agama H Arobi Ahmad Auitarau merasakan, selama ini pemerintah dinilai diskriminatif dalam hal pendidikan. “Kami menginginkan selain IAIN (Institut Agama Islam Negeri), nantinya bisa didirikan perguruan tinggi negeri untuk agama Kristen dan lainya. Kalaupun tidak negeri, alokasi dana pendidikan bisa direalisasikan secara seimbang,” Ujar pria yang juga menjabat ketua Majelis Muslim Papua ini.
Arobi juga prihatin dengan sejumlah pihak yang menebar provokasi permusuhan antarumat beragama. Isu sentimen yang diangkat kerap mengoyak keharmonisan masyarakat Papua yang pada dasarnya toleran dan mampu bekerja sama. Sementara para tokoh agama kurang produktif sebagai solusi lantaran kondisi kemiskinan yang mereka alami.
“Melalui kehadiran kami di PBNU ini semoga permasalahan di Papua akan cepat teratasi,” tukas Mesach M Karababa, anggota Pokja Agama lainnya.
20:32
Sabara Putra Borneo
baru br dalam berkolaborasi politik, ekonomi dll
saat ini pendatang dipapua sdh mencapai 53%, artinya adalah penyebaran islam diapaua menjd rahmaat semua orang utk selalu berkembang
Van der Leeder (1980,22) Namun sebagian
--. Muslim Balim Wamena
Dalam berbagai laporan para ahli dan seminar-seminar menunjukkan sebelum
agama-agama besar lain datang berkhidmat di Tanah Papua, Agama Islam sudah lebih dulu ada di Tanah Papua. Islam sudah lebih awal hadir di Tanah Papua yakni sejak
500 tahun sebelumnya>
Kapan Islam hadir di Papua? Menurut ceritera (mitologi) Irarutu Islam sudah ada di Papua sejak Awal dan Akhir, tapi melalui penelian melelahkan baru-baru ini Dr Tony Wanggai membuktikan bahwa Agama Islam hadir di Papua tepatnya pada abad ke 15, demikian Tesis doktor di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta judul "Rekontruksi Sejarah Umat Islam Papua", (2009). Agama Islam lebih awal masuk ke Papua dari Agama Protestan yang dibawa oleh Otto & Geisler di Mansinam (pulau kecil) di Manukwari. Dr. J. R. Mansoben (1997) :
‘Agama besar pertama yang masuk ke Irian Jaya (Papua) adalah
Islam. Agama Islam masuk di Irian Jaya yaitu didaerah Kepulauan Raja Ampat dan daerah Fak-Fak berasal dari Kepulauan Maluku dan disebarkan melalui hubungan perdagangan yang terjadi diantara kedua daerah tersebut’. Menurut Van der Leeder (1980, 22), agama Islam masuk di kepulauan Raja Ampat pengaruh dari kesultanan Tidore tidak lama sesudah agama tersebut masuk di Maluku pada abad ke 13.[1]
Maka tidaklah mengherankan bila, ‘kedatangan Missionaris Kristen pertama justeru diantar oleh Muballiqh Islam dari Kerajaan Tidore pada tanggal 5 Pebruari 1855 disebuah Pulau Kecil Mansinam diperaiaran Manokwari. Dua Missionaris dari Jerman itu adalah C. W. Ottow dan G. J. Geissler’.[2]
Pengaruh Islam secara luas diseluruh pelosok daerah Propinsi Irian Jaya dan dengan semua kelompok suku di daerah ini dalam hidup sehari-hari dalam semua bidang kehidupan, baru mulai dirasakan setelah Irian Jaya berintegrasi menjadi bagian dari Republik Indonesia awal tahun 1060-an.[3]
Dalam akhir tahun 1960-an akhir di kota Wamena melalui kontak dengan transmigrasi
dan guru-guru yang dikirim pemerintah Indonesia asal dari Jawa dan para perantau (urban dari Bugis, Buton, Makasar dan Madura-Jawa. Perkenalan agama Islam Suku Dani lebih banyak melalui interaksi perdagangan antara para pendatang dan penduduk asli.
Pengenalan Agama Islam dikalangan Suku Dani Jayawi Jaya, terjadi pasca integrasi dengan Indonesia pada dekade 1960-an, melalui guru-guru dan transmigran dari Pulau Jawa di daerah
Megapura (Sinata).
Pengaruh Agama Islam pada Suku Dani secara lebih intensif melalui kontak soaial perdagangan diantara pendatang yang beragama Islam. Melalui perdangan terjadi hubungan antara pendatang dan pribumi Suku Dani Lembah Balim yang datang dari Indonesia Timur (Bugis Makassar, Maluku, Ternate, Buton dll), Suku Dani Palim Tengah dan Palim Selatan dari Moiety : Asso-Lokowal Asso-Wetipo,
Dari sejumlah saksi mengatakan bahwa Esogalib Lokowal adalah orang
paling pertama dari Palim/Baliem Selatan yang masuk agama Islam. Kemudian Harun Asso (dari Hitigima/Wesapot), Yasa Asso (dari Hepuba/Wiaima), Horopalek Lokowal,
Musa Asso (dari Megapura/Sinata), Donatus Lani (dari Lanitapo).[4]
Dalam tahun 1960-an akhir didaerah Megapura, Hitigima/Wesapot, Hepuba, Woma, Pugima dan Walesi (kini di Walesi clan Asso-Yelipele seluruh warganya 100% beragama Islam) adalah daerah pertama yang berinteraksi dengan Orang Muslim dari berbagai daerah Nusantara. Muhammad Ali Wetipo, misalnya; dari konfederasi Asso-Lokowal dari daerah Hepuba masuk Agama Islam melalui orang Pendatang di Kota Wamena dalam tahun 1967 dan datang sekolah di Panti Asuhan Muhammadiyyah AB-Pura Jayapura.[5]
Demikian sama halnya dengan Ilham Walelo dan Abdul Mu’in Itlay dari Pugima, dalam tahun 1969 mereka sekolah di Panti Asuhan Muhammadiyah, AB-pura Jayapura sampai tamat dari sekolah ini dalam tahun 1979, kemudian melanjutkan studynya di IAIN Jakarta (kini UIN).[6]
--Akar Konflik
Integrasi Papua tahun 1962, rekayasa kepentingan Amerika dan Indonesia tanpa mekanisme, one man one vote (satu orang satu suara). PT Freeport-McMoRan Copper & Gold Inc, masuk tahun 1967, sebelum status Papua resmi masuk Indonesia di dewan PBB tahun 1979. Selama 45 tahun integrasi tidak membawa kemajuan bangsa Papua.
Dewasa ini, ada gejala proses genosida (punahisasi) etnis Papua secara terselubung (HIV/AIDS, terjadi melalui alcohol, KB, Otsus Papua dll) maupun konfrontasi antara rakyat dengan pihak militer Indonesia. (Lihat misalnya buku yang ditulis oleh Sendius Wonda, Tenggelamnya Ras Melanesia, Penerbit : Deiyei, Jogja, 2008). Sebab proses integrasi penuh rekayasa dan manipulasi antara Indonesia dan Amerika (baca: John F Kennedy dan Soekarno).
Diawali dialog pertemuan 100 tokoh Papua yang dipimpin Tom Beanal (kini ketua PDP) dengan Presiden BJ. Habibi pada tanggl 26 Februari 1999 dan puncaknya Kongres Papua ke II, yang didanai 1 Milyar oleh Presiden Gus-Dur. Kongres ini diadakan di Jayapura, tgl. 29 Mei s/d 4 Juni 2000, dan dihadiri ribuan orang diantaranya 501 peserta yang mempunyai hak suara. Kongres meminta perhatian atas empat kenyataan de facto:
1. bahwa pada tahun 1961 Bangsa Papua sudah diberikan kedaulatan;
2. bahwa Bangsa Papua tidak terwakili sewaktu New York Agreement ditetapkan pada tahun 1962;
3. bahwa Pepera (Penentuan Pendapat Rakyat) tahun 1969 bercacat hukum dan dilaksanakan disertai intimidasi dan penindasan;
Memang ada sesuatu benar dari Gus-Dur, hal-hal simbolik bukan essensi bernilai cultural Papua harus dihargai karena keunikannya, tetap dibiarkan oleh negara, simbol-simbol cultural yang di zaman Gus-Dur di bolehkan orang Papua memakainya, sekarang dianggap haram dan subversip.
UU karet tentang terorisme siap membungkam dengan alasan terorisme, kapan saja aparat militer menangkap, menyiksa bahkan halal memukul anak-anak mahasiswa Papua sampai mati di penjara. UU pasal karet terorisme, menjadikan halal, membunuh, menangkap dan menyiksa, siapa saja orang Papua. Di Papua selalu saja ada darah, air mata, tanpa pernah kita tahu kapan berakhir.
B. Otsus Bukan Solusi
Otsus Papua dituangkan dalam UU No 21/2001, yang merupakan hasil proses pembahasan yang panjang di DPR, dan disepakati pemerintah. Namun sejumlah kalangan tidak percaya Otsus Papua dan itu terutama kalangan intelektual Papua yang berada di universitas. Apalagi TPN/OPM di rimba raya Papua, bagi mereka Otsus Papua sama sekali bukan solusi. Jargon TPN/OPM jelas, bagi mereka, Papua Merdeka harga mati sebagaimana NKRI harga mati bagi TNI/POLRI.
Sejak Otsus diterima Presedium Dewan Papua (PDP) dengan syarat, maka banyak orang menduga bahwa persoalan Papua akan selesai dan separatisme bisa diredam. Tapi orang lupa bahwa seni dan budaya adalah menyangkut harkat dan martabat kemanusiaan manusia, dan itu hanya bisa diketahui Gus-Dur yang tidak di pahami oleh Presiden Megawati Soekarno Putri, malah lebih tidak dimengerti aparat militer Indonesia di Papua.
Dana trilyunan yang dikucurkan pemerintah pusat tidak menghalangi perjuangan Merdeka rakyat Papua untuk berdaulat penuh, malah anasir-nasir separatisme tetap muncul kembali. Semua usaha pemerintah seakan tidak mempan untuk meredam keinginan aspirasi “M” (merdeka) Papua. Terbukti dengan limpahan sekian banyak dana trilyunan belum mampu meredam aksi separatisme Papua. Alasannya dengan limpahan trilyunan rupiah yang dikucurkan pemerintah pusat untuk percepatan pembangunan dan kesejahteraan rakyat dapat diharapkan meredam anasir separatisme. Memang dana trilyunan wajar mengingat konrtibusi Papua cukup tinggi bagi negara, misalnya hanya menyebut satu, PT Freeport.
Kenyataannya sekarang memang benar diera Otsus Papua banyak uang mengalir ke Papua belum mampu meredam keinginan rakyat Papua mau merdeka lepas dari NKRI. Sampai saat ini kita menyaksikan bahwa persoalan Papua belum selesai, sebagaimana dugaan dan harapan semua orang. Mengapa itu bisa terjadi?
Harus diingat bahwa TPN/OPM di rimba raya tidak pernah dilibatkan dalam penerimaan Otsus Papua. Hanya PDP menerima tapi dengan syarat, pelurusan sejarah dan tawaran dialog. Tapi tidak pernah ditaati pemerintah pusat. Karena itu wajar akibatnya kalau kemudian sejumlah kalangan intelektual Papua yang berada di universiatas tidak percaya Otsus Papua.
D. Dialog
bahwa kelompok kompromistis ini, juga punya potensi menjadi TPN/OPM “benaran”, jika keinginan berkuasa tidak diperoleh apalagi tidak di jatah jabatan oleh pemerintah pusat.
Tidak ada perundingan Papua dan Indonesia melalui pintu dialog. Malah yang terjadi selama ini yang kita amati adalah monolog antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah, berdialog sendiri bukan dialog TPN/OPM dan Jakarta. Bahkan pusat terkesan menghindari terjadi dialog. Selama ini hanya pertemuan elit yang dilakukan kelompok yang mengaku separatis (pejuang) Papua. Padahal yang harus diajak berkompromi seharusnya TPN/OPM. Sebab yang bertikai secara militer di Papua dengan TNI/POLRI bukan dengan Pemda atau PDP dan DAP dan LSM sejenisnya.
Kita belum pernah saksikan bahwa sejauh ini pemerintah Indonesia pernah melibatkan TPN/OPM di kepulauan Fasipik dan dan TPN/OPM di rimba raya Papua. Yang dilibatkan dalam penyelesaian persoalan konflik di Papua, bukan dengan TPN/OPM sungguhan tapi TPN/OPM boneka buatan Militer Indonesia. Hasilnya sudah bisa ditebak bahwa sampai saat ini letupan-letupan kontak senjata kedua bela pihak terus terjadi di era Otsus tanpa sanggup dihentikan oleh siapapun.
Sejauh ini terkesan pemerintah pusat tidak secara serius dan konsisten melaksanak Otsus Papua. Misalnya honor MRP yang tidak dibayar selama beberapa bulan, sekian banyak rekomendasi MRP yang tidak ditanggapi pemerintah. Padahal pembentukan MRP dan pengesahan melalui UU dan sahkan sendiri oleh SBY. Tapi barang yang disahkan pemerintah sendiri melalui UU tidak jelas gaji anggota MRP darimana mau diambilaknnya.
Bahkan bagi aktifis Papua menganggap bahwa sekarang ini MRP bukan lagi lambang cultural rakyat Papua Barat. MRP sekarang ini tidak lebih hanya superbody pemerintahan colonial yang sebelumnya di era Gus-Dur, MRP mau difungsikan benar-benar sebagai lambang cultural karena disana ada keterwakilan semua suku dan budaya Papua seperti unsur perempuan, agama, dan golongan yang mencirikan pluralitas semua suku masyarakat Papua.
TPN/OPM tetap eksis di rimba raya Papua dalam aktivitas gerilya dan selalu akan mengganggu aktifitas pembangunan Papua pemerintah selama ini dalam kompromi mencari solusi soal Papua tidak pernah melibatkan mereka. Karena bagi mereka selama ini Pemerintah Indonesia melibatkan kelompok lain dikota bukan langsung dengan dirinya (TPN/OPM) dalam penyelesaian konflik berkepanjangan di Papua.
Dugaan pemerintah pusat Otsus Papua dapat meredam anasir separatisme. Tapi Otsus sesungguhnya hanya punya potensi menimalisir bukan solusi final. Sebab sejauh ini dan itu tetap akan demikian selamanya, jika penyelesaian konflik, tanpa penegakan hukum dan HAM, maka perang antara TNI/POLRI versus TPN/OPM tetap akan terjadi selamanya. Demikian juga kalau penyelesaian tanpa pernah melibatkan kelompok separatisme sesungguhnya TPN/OPM. Akhirnya harapan utopia” Papua Zona Damai” hanya live service belaka para tokoh Agama Papua dan TNI/POLRI.
Kalau tidak, bicara soal 'perundingan' elit Papua dan pusat, hanya omong kosong. Kecuali hanya menimalisir anasir-anasir separatisme potensial kaum intelektual dan OPM kota buatan militer Indonesia, bagi TPN/OPM dalam garis perjuangannya jelas, kemerdekaan dan kedaulatan penuh wilayah Papua dari aneksasi Indonesia.
Selama tuntutan mereka belum dipenuhi sepanjang jalan itu yang akan mereka ditempuh. TPN/OPM tetap bersama rakyat Papua. Selama ini Jakarta berkompromi dengan kelompok LSM, pekerja sosial, kelompok peduli lingkungan. Bukan dengan TPN/OPM sesungguhnya yang ada dirimba raya Papua. Kelompok disebut terakhir ini entah oleh karena apa tidak pernah dilibatkan. Pertemuan penyelesaian kasus Papua TPN/OPM tidak pernah secara sanggup tersentuh dan terjangkau oleh militer apalagi pusat. Karena keberadaan meraka terpencar tidak hanya di satu titik wilayah Papua tapi semua sudut dan belahan lain di Fasifik.
Karena itu wajar perundingan elit Papua-Jakarta tanpa melibatkan mereka (TPN/OPM) dan tanpa kesadaran dialog sepanjang pelanggaran HAM, keadilan ekonomi, tidak ditegakkan maka selama itu pula perjuangan kemerdekaan tetap eksis. Bagi mereka selain dialog antara Papua-Jakarta yang di mediasi pihak internasional belum dipenuhi pusat, sepanjang itu pula TPN/OPM, mahsiswa dan rakyat Papua selalu meneriakkan yel-yel perjuangan sambil mengangkat issu-issu relevant.