DUKUNGAN KEBIJAKAN DALAM MEWUJUDKAN PEMUDA KREATIF DAN INOVATIF
Oleh: Siti Wahyudini, S.P., M.Si.1
Abstrak
Pemuda kreatif dan inovatif merupakan salah satu modal pembangunan dalam menghadapi perkembangan dunia yang semakin pesat dan persaingan global. Indonesia merupakan negara yang memiliki sumberdaya pemuda yang melimpah. Oleh sebab itu dukungan kebijakan pemerintah sangat dibutuhkan agar pemuda dapat berkreasi dan melakukan inovasi semaksimal mungkin dalam menggerakkan roda perekonomian.
Makalah ini akan membahas tentang kebijakan pemerintah yang sedang berjalan dalam mewujudkan pemuda yang memiliki kreativitas dan daya inovasi serta mampu berkontribusi dalam perekonomian, khususnya ekonomi kreatif. Selain itu bagaimana strategi ke depan agar kebijakan tersebut dapat berjalan dengan efektif sehingga pemuda mampu berperan nyata sebagai agen perubahan menuju kemandirian ekonomi serta berdaya saing.
Pendahuluan
Pemuda merupakan segmen penting dalam suatu negara. Di Indonesia, jumlah pemuda, yaitu mereka yang berada diantara usia 16-30 tahun, mencapai lebih dari 25 persen total penduduk. Jumlah ini merupakan modal besar bagi pembangunan. Karakter pemuda yang aktif dan berenergi, memiliki inisiatif tinggi, rela berkorban, memiliki idealisme, solidaritas kelompok yang tinggi, menjadi pendorong bagi mereka untuk menghasilkan karya-karya yang memberikan dampak luas bagi sekelilingnya. Menghadapi dunia yang semakin terbuka dan persaingan global, pemuda diharapkan menjadi garda terdepan yang mampu menjadikan negara kuat dan berdaya. Terlebih lagi saat ini Indonesia menyongsong Bonus Demografi, dimana populasi usia produktif mencapai puncaknya hingga 70 persen dari total penduduk, yaitu di tahun 2020 hingga 2030. Tentunya peran pemuda menjadi signifikan, terutama di bidang perekonomian dimana mereka diharapkan turut
memberikan sumbangsih bagi perputaran roda perekonomian serta menciptakan nilai ekonomi bagi negara.
Kreativitas dan inovasi pemuda saat ini semakin tumbuh ditandai dengan semakin maraknya bidang-bidang industri kreatif yang ditekuni oleh pemuda. Industri kreatif merupakan penggerak utama bagi berkembangnya ekonomi kreatif. Industri kreatif terdiri atas 16 sektor meliputi Aplikasi dan Game Developer, Arsitektur, Desain Interior, Desain Komunikasi Visual, Desain Produk, Fesyen, Film, Animasi dan Video, Fotografi, Kriya, Kuliner, Musik, Penerbitan, Periklanan, Seni Pertunjukan, Seni Rupa, Televisi dan Radio. Data dari Kementerian Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian menyebutkan bahwa pada tahun 2013 ekonomi kreatif mampu berkontribusi 7,05 persen terhadap PDB Nasional, menyerap 11,91 juta tenaga kerja atau 11 persen dari total tenaga kerja nasional, serta menciptakan 5,4 juta usaha kreatif yang sebagian besar adalah Usaha Kecil Menengah (UKM). Sampai saat ini terdapat tiga sektor yang sudah memberikan kontribusi hampir 70 persen dari total ekonomi nasional, yaitu Kuliner, Kriya dan Fesyen.
Pesatnya jumlah pemuda yang menggeluti industri kreatif sepertinya sejalan dengan karakteristik generasi millenial yang cocok dengan perkembangan dunia yang semakin kreatif. Yorris Sebastian (2016) mengungkapkan bahwa dari survey yang dilakukan oleh Youthlab, generasi millenial (mereka yang berusia 16 hingga 36 tahun) memiliki karakteristik collective, customisation, community, close to family, change over generation, chasing inspiration, connected dan confidence. Karakter ini sejalan dengan ciri-ciri industri kreatif yang unsur utamanya adalah kreativitas, keahlian dan talenta yang berpotensi meningkatkan kesejahteraan melalui penawaran kreasi intelektual, menyediakan produk kreatif langsung kepada pelanggan dan pendukung penciptaan nilai kreatif pada sektor lain yang secara tidak langsung berhubungan dengan pelanggan, serta produknya mempunyai ciri siklus hidup singkat, margin tinggi, keanekaragaman tinggi, persaingan tinggi, dan mudah ditiru.
Peran pemerintah dalam mendukung generasi baru yang berbondong-bondong memasuki industri kreatif ini tentunya sangat diharapkan. Walaupun memiliki karakter berani dalam berinovasi, pemuda tetap memerlukan skill, fasilitator, mentor, dan kebijakan yang berpihak. Kebijakan pemerintah diharapkan dapat mendorong
dan memberikan jalan bagi pemuda untuk terus berkreasi dan berinovasi sehingga mampu menghidupkan sektor ekonomi kreatif.
Kondisi Kekinian Indonesia
Ekonomi kreatif berjalan didasarkan pada kreativitas sumber daya manusia. Menurut Indeks Kreativitas Global (Global Creativity Index/GCI) 2015, Indonesia menempati urutan 115 dari 139 negara seperti terlihat dari tabel berikut.
Ran
GCI diukur berdasarkan 3T yaitu technology, talent dan tolerance. Data dikumpulkan dari 139 negara di dunia. Aspek teknologi diukur dengan menggunakan variabel (1) global R&D investment, yaitu belanja R&D sebagai persentase dari PDB; (2) global research atau peneliti profesional per satu juta orang penduduk, dan (3) global innovation atau jumlah paten per kapita.
Di samping itu GCI sangat erat hubungannya dengan pertumbuhan ekonomi, daya saing dan kemakmuran suatu negara. Negara-negara yang menunjukkan nilai GCI yang tinggi memiliki tingkat produktivitas (diukur berdasarkan output ekonomi per orang), daya saing, entrepreneurship, dan pembangunan sumber daya manusia yang tinggi pula. Kreativitas juga berhubungan erat dengan urbanisasi, dimana negara-negara yang lebih urban memiliki skor GCI yang lebih tinggi.
Dari indeks tersebut dapat dilihat bahwa Indonesia masih berada di posisi jauh di bawah negara tetangga seperti Filipina, Malaysia, Vietnam, Thailand, terlebih lagi Singapura. Hal ini perlu menjadi perhatian mengingat kreativitas dan inovasi merupakan kunci daya saing dan kemajuan sebuah bangsa.
Dari sisi daya saing, laporan World Economic Forum dalam Global Competitiveness Report 2016-2017 menyebutkan bahwa Indeks Daya Saing Global Indonesia berada pada urutan ke 42. Posisi ini menunjukkan kemerosotan dari tahun lalu dimana Indonesia menduduki ranking 37 dari 138 negara. Tiga besar masih diduduki oleh Switzerland, Singapura dan Amerika. Posisi Indonesia ini juga masih berada di bawah Malaysia, Thailand dan India.
Daya saing didefinisikan sebagai seperangkat institusi, kebijakan, dan faktor-faktor yang menentukan tingkat produktivitas ekonomi, yang pada gilirannya menetapkan tingkat kemakmuran yang dicapai oleh suatu negara. Rendahnya daya saing Indonesia salah satunya disumbangkan oleh rendahnya posisi kesiapan teknologi (rangking 91), dimana hanya seperlima dari populasi yang menggunakan internet
4
dan tersedia hanya satu koneksi broadband bagi setiap 100 orang. Tabel 2 menunjukkan komponen-komponen subindeks yang menyumbang terhadap Indeks Daya Saing Global.
Dibalik itu, perkembangan industri kreatif di Indonesia ternyata cukup menjanjikan. Pada tahun 2013, pertumbuhan ekonomi kreatif mencapai 5,76%, yaitu berada diatas rata-rata pertumbuhan ekonomi nasional yang 5,74%. Ekonomi kreatif menyumbangkan 7,05% kepada total PDB Indonesia (sekitar Rp. 642 trilyun). Kontribusi terbesar terhadap PDB berasal dari usaha kuliner sebanyak 32,4 persen, fesyen 27,9 persen, dan kerajinan/kriya 14,88 persen. Industri kreatif juga menyerap 10,7% dari total tenaga kerja atau 11,8 juta orang (RAJM Ekonomi Kreatif 2015 – 2019). Rata-rata konstribusi terbesar penyerapan tenaga kerja berasal dari bidang fesyen sebanyak 32,3 persen, kuliner 31,5 persen, dan kriya 25,8 persen.
Sayangnya belum terdapat data pasti berapa jumlah pemuda yang terjun ke dalam industri kreatif ini. Namun dari berbagai kompetisi maupun publikasi tentang wirausaha muda dapat dilihat bahwa segmen pemuda merupakan mayoritas pelaku industri kreatif. Kreativitas pemuda merupakan salah satu kontributor bagi berkembangnya industri kreatif di tanah air. Ditambah lagi kemajuan teknologi, kemudahan akses komunikasi dan penggunaan media sosial yang semakin luas. Walaupun demikian, berdasarkan survey yang dilakukan oleh Himpunan Pengusaha Muda Indonesia di sejumlah perguruan tinggi, animo dan minat lulusan Strata 1 untuk menjadi pengusaha (entrepreneur) masih minim, yaitu hanya sebesar 4%. Sebanyak 83% mahasiswa Indonesia masih ingin menjadi karyawan dan 13 % ingin bekerja di birokrasi (Sebastian, 2016). Padahal idealnya, sebanyak 2 persen penduduk suatu negara adalah wirausaha.
tersebut. Ia tidak mengeluarkan modal sedikit pun untuk membuat sistem tersebut. Inovasi ini membuatnya memenangkan Juara 2 Mandiri Innovation Award 2013. Adapula Adharis Kuswidiarto dan Gita yang berhasil menjuarai Adira Innocamp 2016 dengan membuat konsep www.operkredit.com yang sangat sederhana namun berdampak besar. Masih banyak contoh inovasi anak-anak muda lainnya seperti Tokopedia, Bukalapak, Keripik Mak Icih, Gojek, dan lainnya. Bahkan tokoh selebritis muda juga turut meramaikan industri kreatif Indonesia seperti Dian Sastrowardoyo, Andien, Teuku Wisnu, Oki Setianadewi, Zaskia Adya Mecca dan masih banyak lagi.
Berkembangnya industri kreatif tentunya memberikan dampak positif bagi laju peningkatan ekonomi. Peluang untuk mengembangkan industri kreatif masih terbuka luas dan didukung oleh kekayaan alam dan budaya Indonesia. Namun pemuda pelaku industri kreatif masih memerlukan banyak bimbingan mengenai keberlanjutan usahanya di masa depan dan bagaimana meningkatkan daya saing. Selain itu iklim kreatif juga harus ditumbuhkan agar selalu muncul ide dan gagasan untuk memulai suatu usaha kreatif.
Tantangan dan Inisiatif Kebijakan
Perputaran ekonomi kreatif secara langsung maupun tidak bergantung pada sejauh mana manusia mampu berpikir kreatif. Namun apakah ada sistem yang dapat mendorong orang untuk berpikir kreatif dan inovatif? Pemerintah sebagai pemegang mandat pembangunan bertanggungjawab untuk menciptakan iklim kreatif agar semakin banyak pelaku industri kreatif yang muncul. Pemerintah harus campur tangan dalam memunculkan inovasi dan kreasi di dalam masyarakat karena hasilnya akan dinikmati sebagai hasil pembangunan. Dalam hal ini dukungan kebijakan seperti apa yang dapat dimintakan kepada Pemerintah untuk mewujudkan sumberdaya manusia yang kreatif dan inovatif dalam rangka menumbuhkan iklim ekonomi kreatif yang produktif.
Mewujudkan manusia kreatif dan inovatif berarti bergerak pada ranah hulu/input daripada ekonomi kreatif. Hal ini membutuhkan pendekatan berbeda karena manusia tidak dapat disamakan dengan infrastruktur yang dapat dengan mudah dikondisikan melalui suatu kebijakan. Pada dasarnya sumberdaya manusia yang kreatif dan inovatif merupakan salah satu output yang diharapkan dalam pembangunan nasional.
Dalam Undang-Undang No. 17 Tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional disebutkan bahwa visi pembangunan ekonomi nasional sampai dengan 2025 adalah ”mewujudkan masyarakat Indonesia yang mandiri, maju, adil dan makmur.” Untuk itu diperlukan penguatan dan pengembangan ekonomi di segala bidang berdasarkan keunggulan kompetitif. Perwujudan menjadi ” Indonesia yang mandiri, maju, adil dan makmur” membutuhkan Percepatan Transformasi Ekonomi Nasional, dimana dibutuhkan pola pikir yang tidak biasa. Untuk itu diperlukan ciri-ciri masyarakat yang bekerja keras dan tidak cepat puas, berinisiatif, berdaya saing tinggi, menyadari pentingnya teknologi, kreatif dan inovatif.
Dalam UU No. 40 Tahun 2009 tentang Kepemudaan Pasal (3) jelas disebutkan bahwa tujuan pembangunan kepemudaan adalah terwujudnya pemuda yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, cerdas, kreatif, inovatif, mandiri, demokratis, bertanggungjawab, berdaya saing, serta memiliki jiwa kepemimpinan, kewirausahaan, kepeloporan, dan kebangsaan berdasarkan Pancasila dan UndangUndang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Mempertimbangkan tujuan tersebut di atas maka Pemerintah harus memfasilitasi penumbuhkembangan kreativitas dan inovasi dengan menciptakan ekosistem yang mendukung. Kreativitas merupakan fungsi dari tiga komponen yaitu keahlian (expertise), keterampilan berpikir kreatif dan motivasi. Sementara inovasi merupakan implementasi dari suatu ide kreatif yang diadopsi oleh masyarakat dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
mereka merasa termotivasi oleh keterterikan, kepuasan, maupun tantangan dari pekerjaan itu sendiri.
Iklim yang mendukung tumbuhnya kreativitas dapat dibangun melalui penguatan sistem pendidikan. Adapun pendidikan sangat berpengaruh terhadap kualitas sumber daya manusia sebagai pelaku industri kreatif. Lembaga pendidkan dan pelatihan memegang peranan penting dalam menciptakan pelaku-pelaku yang memiliki keahlian dan keterampilan. Sistem pendidikan termasuk di dalamnya penganggaran penyusunan dan pengkajian kurikulum, penyebarluasan informasi, penelitian, infrastruktur, hubungan dengan dunia industri dan insentif.
Sebagai contoh, Massachusette Institute of Technology (MIT), salah satu perguruan tinggi bergengsi di Amerika Serikat, pada kurun waktu 1980-1996 dimana kondisi sosial ekonomi yang kurang stabil dan semakin meluasnya pengangguran terdidik, merubah arah kebijakan perguruan tingginya dari High Learning Institute and Research University menjadi Entrepreneurial University. Pro dan kontra harus dihadapi oleh MIT pada waktu itu namun dalam kurun waktu tersebut (16 tahun) terbukti MIT mampu melahirkan 4.000 perusahaan dari tangan alumni-alumninya dengan menyedot 1.1 juta tenaga kerja dan omset sebesar 232 miliar dolar pertahun. Kebijakan ini yang kemudian ditiru oleh banyak perguruan tinggi pada saat ini.
Di Indonesia, perguruan tinggi sudah banyak melakukan usaha untuk merangsang para mahasiswanya berpikir kreatif dan inovatif. Progam-program tersebut diantaranya pendirian Pusat Kewirausahaan Kampus, adanya mata kuliah kewirausahaan, program-program wirausaha mandiri untuk mahasiswa, sampai kepada pemberian modal usaha bagi mahasiswa.
Dari sisi internal perguruan tinggi berbagai program untuk menumbuhkan semangat berkreasi dan motivasi berwirausaha dapat dilakukan. Salah satunya adalah penyusunan kurikulum kewirausahaan dengan sungguh-sungguh, dengan melibatkan praktisi/pelaku usaha serta motivator entrepreneurship agar mampu melahirkan konsep kurikulum yang tepat. Selain itu peningkatan kualitas SDM dosen juga harus terus dilakukan, bisa melalui program entrepreneurship shortcouse bagi dosen, pemagangan dosen di dunia usaha, maupun melalui seminar/vworkshop/lokakarya.
Kerjasama antara perguruan tinggi dengan dunia usaha harus dirintis mengingat dunia usaha merupakan jembatan bagi penerapan inovasi dan peluang bagi mahasiswa untuk memasuki dunia usaha. Selain itu dunia usaha merupakan sumber informasi bagi ide-ide riset di perguruan tinggi untuk melahirkan inovasi-inovasi baru.
Perguruan tinggi juga dapat menjadi fasilitator dan mediator bagi mahasiswa untuk mengakses sumber-sumber permodalan mengingat mahasiswa masih minim informasi dan akses untuk memperoleh modal dalam memulai berwirausaha, Kerjasama perguruan tinggi dengan lembaga keuangan diharapkan dapat membuka akses tersebut.
Diadakannya perlombaan kreativitas dan inovasi mahasiswa merupakan salah satu pemacu bagi mahasiswa untuk menghasilkan karya-karya kreatif. Selain itu penghargaan yang diberikan dapat menambah semangat dan modal bagi mahasiswa dalam menemukan ide-ide baru.
Dalam mendukung munculnya inovasi, suatu negara harus melakukan tiga hal mendasar yaitu berinvestasi, memiliki intelektual dan kompetensi yang mendukung, dan adanya budaya yang mendukung inovasi, yaitu masyarakat yang mendorong warganya untuk berani mencoba dan mengambil resiko.
Beberapa pemerintah daerah di Indonesia menerbitkan peraturan/kebijakan yang mendukung warganya untuk berinovasi. Contohnya di Kota Bandung, mulai Februari 2016 Pemerintah Kota membebaskan izin Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM). Para pelaku usaha kecil cukup melaporkan jenis usaha mereka dalam sebuah formulir yang telah disediakan Pemkot melalui Badan Pelayanan Perizinan Terpadu. Tujuannya kemudahan berbisnis ini sebagai langkah konkret menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) sekaligus menggenjot minat masyarakat untuk berwirausaha.
mengkomersialisasikan hasil riset sampai ke pasar. BTP merupakan kolaborasi Tekom University, Kementerian Perindustrian dan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Propinsi Jawa Barat. Bandung Techno Park sudah menghasilkan aplikasi yang dikomersialisasikan, seperti Traffic Grab. Traffic Grab adalah aplikasi berbasis video untuk mengambil data kuantitatif kondisi lalu lintas di jalan raya dan jalan tol. U Kit, aplikasi alat praktikum untuk media pembelajaran hardware elektronika khususnya mikrokontroler. Aplikasi lainnya ada Postur Check, pemeriksa postur tubuh yang digunakan pada seleksi calon anggota TNI AD. Di Bandung telah didirikan pula Bandung Digital Valley yang tujuannya nyaris sama yakni menciptakan para technopreneur terutama yang bergelut dalam bisnis aplikasi.
Kesimpulan dan Rekomendasi
Dukungan kebijakan untuk meningkatkan kreativitas dan inovasi generasi muda sangat dibutuhkan, dalam hal ini adalah menumbuhkan iklim kreatif melalui penguatan sistem pendidikan dan kebijakan publik yang mendorong ke arah sana. Dibutuhkan dukungan investasi pemerintah sebagai modal untuk menciptakan berbagai inovasi di masyarakat serta adanya kolaborasi dengan berbagai pihak, terutama antara pemerintah dengan dunia pendidikan dan dunia usaha.
Kreativitas dan inovasi merupakan modal dasar untuk memulai wirausaha. Keduanya terhubung oleh sistem yang ada di dalam lingkungan sekitarnya dan oleh karenanya melibatkan masyarakat luas, pemerintah, dan dunia pendidikan serta dunia usaha. Harapannya dengan melibatkan semua pihak tersebut dapat mendorong tumbuhnya iklim kreatif dan pada akhirnya ekosistem kewirausahaan dalam industri kreatif dan mendorong tumbuhnya ekonomi kreatif.
Kebijakan untuk mendukung terwujudnya kreativitas dan inovasi pemuda dapat berjalan efektif bila terdapat komitmen yang kuat dari pemimpin (daerah/legisatif) dan adanya sumberdaya yang mendukung.
Daftar Pustaka
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2007 Tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun 2005 – 2025. Republik Indonesia.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 40 Tahun 2009 Tentang Kepemudaan. Republik Indonesia.
The Global Competitiveness Report 2015–2016: The World Economic Forum.
The Global Creativity Index 2015. Floridacharlotta, Richard & Mellanderkaren King. The Martin Prosperity Institute, Toronto.
Okpara, Friday O. Dr. The Value Of Creativity and Innovation In Entrepreneurship. University Of Gondar, Ethiopia. Journal of Asia Entrepreneurship and
Sustainability. Volume III, Issue 2, September 2007.
Departemen Perdagangan. Rencana Pengembangan Ekonomi Kreatif Indonesia 2009-2015.
Mazzarol, Tim. 6 Ways Governments Can Encourage Entrepreneurship. 2014. Diakses dari https://www.weforum.org/agenda/2014/12/6-ways-governments-can-encourage-entrepreneurship/
DeGraff, Jeff. This Is How America Can Become the World's Most Creative Country. Diakses dari http://www.inc.com/jeff-degraff/what-s-wrong-with-america-s-business-model-for-innovation-and-entrepreneurship.html
Kuswara, Heri. Strategi Perguruan Tinggi Mewujudkan Entrepreneurial Campus. 2012. Diakses dari http://www.dikti.go.id/strategi-perguruan-tinggi-mewujudkan-entrepreneurial-campus/