• Tidak ada hasil yang ditemukan

Aspek Aspek Hukum Internasional Dalam Pa

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Aspek Aspek Hukum Internasional Dalam Pa"

Copied!
22
0
0

Teks penuh

(1)

ASPEK-ASPEK HUKUM INTERNASIONAL DALAM PASUKAN PEMELIHARA PERDAMAIAN

Oleh: Imam Mulyana*

Peace-Keeping is not soldier`s job, But only a soldier can do it” (C.C. Moskos Jr)**

A. Pendahuluan

Hubungan internasional diantara negara-negara di dunia telah membawa banyak perubahan ke arah yang lebih positif. Kerjasama –baik secara bilateral maupun multilateral- yang lebih memberikan jaminan terhadap kepentingan membuat hubungan antar negara menjadi semakin pesat. Akan tetapi, seiring dengan pesatnya perkembangan hubungan tersebut, sengketa diantara negara-negara di dunia juga menjadi semakin kompleks. Perbedaan yang menimbulkan sengketa diantara negara-negara pada umumnya dapat diselesaikan dengan cara-cara damai, akan tetapi ada kalanya penyelesaian sengketa berakhir dengan cara kekerasan.

Salah satu organisasi internasional yang mempunyai kewenangan untuk menyelesaikan sengketa adalah PBB. Selain menggunakan penyelesaian sengketa dengan cara-cara damai, PBB juga mempunyai kewenangan untuk mengambil tindakan-tindakan kolektif yang diperlukan untuk menyelesaikan suatu sengketa, terlebih lagi apabila sengketa itu dapat mengancam perdamaian dan keamanan internasional.

Kekuasaan yang lebih luas untuk memelihara perdamaian dan keamanan dunia diserahkan kepada Dewan Keamanan sehingga badan ini akan menyelesaikan kebijakan PBB secara cepat dan tegas. Dewan Keamanan pada umumnya bertindak terhadap dua sengketa yaitu1:

1. sengketa-sengketa yang dapat membahayakan perdamaian dan keamanan nasional 2. kasus-kasus yang mengancam perdamaian atau melanggar perdamaian, atau

tindakan-tindakan agresi

*

Staf Magang pada Bagian Hukum Internasional Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran

**

Robert C.R. Siekmann,National Contingents in United Nations Peacekeeping Forces, Martinus Nijhoff Publishers, 1991, hlm 12

(2)

Dewan Keamanan telah dijadikan suatu organ eksekutif yang dilengkapi dengan kewenangan terutama di bidang pelaksanaan Bab VII Piagam. Sejumlah pasal dibuat khusus sehingga memungkinkan Dewan Keamanan bertindak secara cepat dan efisien mencegah maupun menghentikan sengketa-sengketa bersenjata. Dewan Keamanan pulalah yang mengambil semua tindakan yang diperlukan mulai dari pemutusan hubungan hingga penggunaan pasukan bersenjata bila perdamaian dunia sudah terancam.

Salah satu mekanisme penyelesaian sengketa dengan menggunakan senjata yang ditempuh PBB adalah pembentukan pasukan pemelihara perdamaian. PBB pada hakikatnya tidak membentuk angkatan bersenjata internasional yang bebas dari negara-negara asalnya dan diletakan di bawah komando langsung Dewan Keamanan. Hal ini dikarenakan Pasal 43 Piagam mengatur bahwa negara-negara anggota membantu Dewan Keamanan dengan menyerahkan pasukan bersenjata yang diperlukan atas dasar kesepakatan-kesepakatan khusus dengan Dewan Keamanan. Ini berarti yang ada hanyalah himpunan dari pasukan berbagai negara yang dikoordinasikan oleh Dewan Keamanan.

Sebagai bagian dari PBB, tentu saja pasukan pemelihara perdamaian mempunyai kelebihan-kelebihan dibanding dengan pasukan reguler biasa. Kenyataan lain mengenai bahwa pasukan pemelihara perdamaian terdiri dari kontingen yang berasal dari berbagai negara juga membuat mereka mempunyai pengaturan tersendiri yang berbeda dengan pasukan reguler biasa. Meskipun belum ada instrumen hukum internasional yang secara khusus mengatur mengenai keberadaan pasukan pemelihara perdamaian, akan tetapi keberadaan mereka sebagai sebuah entitas internasional tidak terlepas dari beberapa cabang rezim hukum internasional yang sekarang ini berlaku.

B. Pasukan Pemelihara Perdamaian

(3)

invasi Israel ke wilayah Mesir sebagai akibat nasionalisasi terusan Suez pada tanggal 26 Juli 1956, hingga lahirlah UNEF (United Nations Emergency Force). Beberapa tahun kemudian setelah pembentukan UNEF tepatnya tahun 1960, dibentuk juga ONUC (Opĕration des Nations Unies au Congo) oleh Dewan Keamanan PBB.2

Kegiatan pasukan pemelihara perdamaian sering dinamakan operasi pemeliharaan perdamaian, istilah ini selanjutnya banyak dipakai untuk segala macam kegiatan operasional PBB dalam rangka memelihara keamanan. Namun demikian, karakteristik dari pasukan pemelihara perdamaian ternyata memiliki beberapa perbedaan dengan pasukan PBB yang bertindak dibawah Pasal 42 Piagam PBB (enforcement action). Penjelasan ini terdapat dalam definisi pasukan pemelihara perdamaian seperti yang tercantum dalamReview on the United Nations Peacekeepingyaitu3:

“an operational involving military personel, but without enforcement powers, undertaken by the United Nations to help maintain or restore international peace and security in areas of conflict. These operations are voluntary and are based on consent and cooperation. While they involve the use of military personnel, they achieve their objectives not by force of arms, thus contrasting them with the ‘enforcement action’ of the United Nations under Article 42”

Dari definisi yang dikemukakan dalam Review on the United Nations Peacekeeping ada beberapa prinsip dasar yang kemudian senantiasa dipegang teguh oleh PBB dalam menjalankan misi-misinya, prinsip tersebut yaitu4:

a. Operasi yang disepakati

Walaupun diputuskan secara unilateral dan dilaksanakan secara bebas oleh PBB, operasi pemeliharaan perdamaian dan keamanan sama sekali tidak bersifat semena-mena. Bahkan sebaliknya, keseluruhan proses pembentukan dan kegiatannya mengharuskan kesepakatan semua pihak yang berkepentingan. Prinsip kesepakatan ini juga berisikan kesediaan tuan rumah memberikan sejumlah jaminan terutama mengenai kebebasan bergerak di seluruh wilayah nasional atau zona operasi, kebebasan berkomunikasi di samping kekebalan-kekebalan yang diperlukan bagi pelaksanaan fungsi suatu organ internasional.

2

Robert C.R. Siekmann,op cit, hlm 4

3

N.D. White,Keeping the Peace, Manchester University Press, Manchester 1997, hlm 207

4Boer Mauna,Hukum Internasional : Pengertian, Peranan dan Fungsi Dalam Era Dinamika Global, P.T.

(4)

b. Operasi tanpa kekerasan

Prinsip tanpa menggunakan kekerasan adalah salah satu ciri pokok pasukan pemelihara perdamaian. Dari segi militer, pasukan pemelihara perdamaian tidak boleh menggunakan senjata untuk mencapai sasaran yang telah ditetapkan demikian juga tidak boleh mengambil prakarsa untuk menggunakan senjata dalam kontak-kontak yang terjadi. Pasukan PBB hanya dapat menggunakan senjata dalam hal bela diri terutama untuk mempertahankan posisi yang ditempati bila ada serangan untuk mengambil posisi tersebut.

c. Operasi Konservasi dan Netral

Karakteristik lainnya dari pasukan perdamaian PBB adalah sifat pemeliharaannya. Yang dimaksud dengan sifat pemeliharaan ialah bahwa tujuan keberadaan pasukan PBB tidak lain dari mempermudah penghentian permusuhan, menjaga gencatan senjata, dan menurunkan ketegangan di wilayah tertentu. Selain itu, pasukan PBB harus selalu bersifat netral baik di bidang politik maupun hukum. Pasukan PBB harus bertindak netral baik di bidang politik maupun di bidang hukum. Pasukan PBB harus bertindak dalam netralitas total dan menjauhkan diri dari semua keadaan terutama yang bersifat intern dan tidak boleh mencampuri urusan dalam negeri tuan rumah.

Sejak diluncurkannya hingga saat ini, pasukan pemelihara perdamaian PBB telah mengalami perubahan karakteristik yang cukup signifikan. Pada garis besarnya, perubahan tersebut dapat diklasifikasikan ke dalam dua kelompok masa yaitu masa perang dingin dan pasca perang dingin. Secara ringkas, perkembangan dan perubahan karakteristik pasukan dibawah bendera PBB adalah sebagai berikut5:

1. Operasi pemeliharaan perdamaian tradisional (generasi pertama)

Pasukan-pasukan pemelihara perdamaian yang terbentuk sebelum berakhirnya perang dingin, pada umumnya dapat diberi namaoperasi pemelihara perdamaian tradisional atau operasi pemelihara perdamaian generasi pertama. Dinamakan demikian karena tugas operasinya lebih bertujuan menjaga kemanan perbatasan, memisahkan pasukan-pasukan yang bersengketa sambil memberi kesempatan

(5)

kepada juru runding untuk mencari penyelesaian atas sengketa dari negara-negara yang terlibat.

2. Operasi pemeliharaan perdamaian multidimensi (generasi kedua)

Dengan berakhirnya perang dingin, konsensus dan kerjasama telah muncul dan menggantikan sikap konfrontasi di forum dewan Keamanan, khususnya di antara negara-negara anggota tetap. Situasi dan kondisi yang baru ini telah memberikan dorongan bagi masalah-masalah yang berkaitan dengan perdamaian dan kemanan internasional, termasuk lebih mudahnya tercapai konsensus dalam pembentukan operasi-operasi pemelihara perdamaian PBB. Selain itu, kesukaran-kesukaran yang dialami rezim-rezim tertentu setelah negara-negara adidaya menarik dukungannya, lembaga-lembaga negara yang lemah, perekonomian yang merosot, bencana alam, sengketa etnis, atau agama yang melanda berbagai negara telah merupakan pula penyebab kehadiran misi-misi PBB untuk ikut menyelesaiakan permasalahan.

Tugas-tugas operasi pemelihara perdamaian PBB karenanya telah bergeser dari tugas untuk memelihara perdamaian menjadi operasi yang memiliki sejumlah dimensi kegiatan dalam mengatasi konflik internal. Operasi pemelihara perdamaian miltidimensi atau disebut juga sebagai generasi kedua ini tidak hanya memiliki dimensi militer sebagaimana halnya generasi pertama, tetapi juga dimensi politik, ekonomi, sosial, kemanusiaan dan bahkan lingkungan hidup. Operasi multidimensi tersebut mencakup pula bantuan dalam rangka pemilihan umum, pelatihan bagi kepolisisan setempat, rekonstruksi pasca konflik, perlindungan konvoi bantuan kemanusiaan, perlindungan hak-hak asasi manusia, dan pembersihan ranjau darat.

3. Operasi pemelihara perdamaian dengan kekuatan militer (generasi Ketiga)

(6)

Pada dasarnya, pasukan pemelihara perdamaian PBB yang digelarkan di wilayah manapun dibekali peace rationale dengan pengertian bahwa misi mereka adalah untuk memelihara perdamaian hingga tercapainya penyelesaian politik atas konflik yang tengah terjadi. Namun, dalam konflik-konflik internal tertentu, pasukan PBB bertugas pula untuk memulihkan perdamaian yang belum tercipta, dan mereka dihadapkan pada pertikaian bersenjata antara faksi-faksi yang dilandasi oleh war rationale yaitu upaya untuk saling mengalahkan pihak lawan melalui perjuangan bersenjata. Menghadapi situasi seperti ini, operasi pemelihara perdamaian PBB dinilai akan sulit mencapai keberhasilan yang diharapkan jika hanya bersandar pada upaya-upaya politik dan diplomatik untuk membawa pihak-pihak yang bertikai duduk di meja perundingan. Oleh karena itu, PBB mulai menyusupkan unsur peace enforcement rationale dalam operasi-operasi pemelihara perdamaian dalam menghadapi situasi konflik sejenis itu. Pertimbangan pokoknya adalah bahwa pihak yang bertikai dinilai tidak akan secara sukarela melakukan dialog dan perundiangan damai, sehingga perdamaian perlu dipaksakan oleh PBB melaui tekanan oleh kekuatan militer pasukan operasi pemelihara perdamaian. Selain itu, kekuatan militer tersebut diperlukan guna melindungi para pasukan PBB yang seringkali dijadikan sasaran tindak kekerasan oleh salah satu faksi yang bertikai. Dengan demikian, 3 prinsip dasar pergelaran operasi pemelihara perdamaian yaitu persetujaun pemerintah atau pihak terkait, netralitas dan tidak menggunakan kekuatan militer kecuali membela diri, mulai ditinggalkan karena sudah menggunakan kekuatan militer dalam mengupayakan tercapainya perdamaian.

4. Operasi pemelihara perdamaian oleh Pasukan Multinasional

(7)

menjalankan misinya. Hambatan tersebut terutama dikarenkan sulitnya mencari negara-negara penyumbang pasukan pasukan yang bersedia sepenuhnya mengirimkan personilnya ke negara lain dengan misi melaksanakan perdamaian melalui kekuatan militer.

Hambatan-hambatan dalam operasi dengan kekuatan militer tersebut akhirnya mendorong PBB, dalam hal ini dewan Keamanan, untuk mengambil kebijakan baru yaitu dengan memberikan kewenangan kepada negara-negara anggota PBB atai organisasi regional untuk membentuk suatu operasi pemelihara perdamaian oleh pasukan multinasional, apabila misi yang akan dijalankan memerlukan penggunaan kekuatan militer.

Perbedaan utama dari operasi pemelihara perdamaian PBB dan pasukan multinasional terdapat pada jalur komando dan kontrol pasukan yang digelar. Dalam operasi pemeliharaan PBB, setiap tindakan dilapangan berada dibawah komado Sekjen PBB atas dasar kewenangan yang diberikan Dewan Keamanan PBB. Sedangkan dalam pasukan multinasional, setiap tindakan dilakukan atas dasar komando satu atau lebih negara anggota PBB yang tergabung dalam koalisi pasukan tersebut. Kewenangan memberikan komando tersebut didasarkan pada mandat yang diberikan Dewan Keamanan PBB kepada pasukan multinasional untuk menggunakan kekuatan militer guna mencapai tujuan-tujuan sesuai dengan yang tertuang dalam resolusi Dewan Keamanan terkait. Perbedaan lainnya adalah bahwa jika dalam operasi pemelihara perdamaian PBB, semua pasukan menggunakan baret dan bendera nasionalnya masing-masing. Selain itu, biaya bagi pasukan PBB dibebankan pada anggaran PBB sementara pasukan multinasional dibiayai oleh dana dari negara-negara penyumbang pasukan dan sering pula ditambah dari sumbangan negara-negara anggota PBB secara sukarela (trust fund).

Sejak tahun 1948 hingga 1999, sebanyak 48 operasi pemelihara perdamain telah digelar oleh PBB di berbagai penjuru dunia yang mencakup lebih dari 750.000 pasukan.6

6United Nations Handbook 1999, New Zealand Ministry of Foreign Affairrs and Trade Wellington, 1999,

(8)

Personil militer, polisi dan sipil yang bertugas dalam pasukan pemelihara perdamaian PBB tersebut berasal dari 110 negara termasuk Indonesia. Setelah melaksanakan misinya selama 40 tahun, pasukan pemelihara perdamaian PBB memperoleh hadiah Nobel Perdamaian pada tanggal 29 September 1988. Pemberian hadiah Nobel tersebut didasari atas keberhasilan dan dedikasi pasukan pemelihara perdamaian dalam melaksanakan misi yang berbahaya dan yang menuntut keterampilan khusus demi tercapainya perdamaian.7

Meskipun istilah pasukan pemelihara perdamaian tidak terdapat dalam Piagam PBB, namun demikian tidak berarti kita dapat mengasumsikan bahwa keberadaannya tidak sesuai dengan semangat PBB terutama dalam hal menjaga perdamaian dan keamanan internasional. Secara praktik, pasukan pemelihara perdamaian PBB telah memberikan kontribusi nyata dalam hal memelihara perdamaian dan keamanan internasional.

Satu hal yang jelas, hingga sekarang belum ada instrumen hukum internasional yang mengatur secara khusus mengenai keberadaan pasukan pemelihara perdamaian, bahkan dapat dikatakan bahwa kodifikasi hukum internasional mengenai pengaturan pasukan pemelihara perdamaian PBB masih sangat kurang. Negara-negara Amerika Latin seperti Brazil pernah mengusulkan agar pengaturan mengenai keberadaan pasukan pemelihara perdamaian dimasukan didalam Piagam PBB, dalam “Bab 6 1/2” ditempatkan diantara metode penyelesaian sengketa secara damai (Bab VI) dan metode penyelesaian sengketa dengan menggunakan kekuatan bersenjata (Bab VII).8

Sarjana hukum terkemuka seperti Merrills, berpendapat bahwa pasukan pemelihara perdamaian telah menjadi subjek dari berbagai cabang ilmu hukum internasional9. Selanjutnya pembahasan mengenai pasukan pemelihara perdamaian akan kita fokuskan kedalam kaitan pasukan pemelihara perdamaian dengan beberapa rezim cabang hukum internasional yang berlaku. Sekurang-kurangnya ada tiga cabang hukum internasional yang relevan apabila dikaitkan dengan pasukan pemelihara perdamaian; pertama hukum penyelesaian sengketa internasional, kedua hukum organisasi internasional dan yang ketiga hukum humaniter internasional.

7Departemen of Public Information, United Nations Security Council, New York, 1989, p.18 dalam Boer

Mauna,ibid, hlm 564

8

Robert C.R. Siekmann,op cit, hlm 4

9 J.G. Merrills, International Dispute Settlement, Third Edition, Cambridge University Press, 1998, hlm

(9)

1. Aspek Hukum Organisasi Internasional dalam Pasukan Pemelihara Perdamaian Suatu organisasi internasional yang dibentuk melalui suatu perjanjian dengan “instrumen pokok” apa pun akan memiliki suatu personalitas hukum dalam hukum internasional. Personalitas hukum ini mutlak penting guna memungkinkan organisasi internasional itu dapat berfungsi dalam hubungan internasional, khususnya kapasitas untuk melaksanakan fungsi hukum seperti membuat kontrak, membuat perjanjian dengan suatu negara atau mengajukan tuntutan dengan negara lainnya.

Guna mencapai tujuannya sebagai suatu kesatuan internasional, organisasi internasional harus mempunyai kemampuan untuk melaksanakan semua tugasnya secara optimal, hal inilah yang kemudian menjadi dasar pemikiran kenapa organisasi internasional semisal PBB harus memiliki personalitas hukum, termasuk mempunyai kekebalan dan keistimewaan.

Dalam hal pembentukan organisasi internasional seperti PBB pada waktu merumuskan Piagam dalam konfrensi Internasional mengenai Organisasi Internasional di San Fransisco pada bulan April 1945, tidak secara khusus dicantumkan masalah personalitas hukum kecuali termuat dalam Pasal 104 Piagam PBB, yaitu bahwa badan PBB jika perlu dapat memiliki kapasitas hukum di wilayah setiap negara anggotanya dalam rangka melaksanakan fungsi dan mencapai tujuan badan tersebut.10 Dalam hubungannya dengan keistimewaan dan kekebalan dari badan PBB, Piagam dalam Pasal 105 (1) menyatakan bahwa PBB memiliki personalitas secara terpisah. Kekebalan dan keistimewaan tersebut dinikmati karena benar-benar diperlukan dalam rangka melaksanakan tujuan-tujuan PBB, sedangkan Pasal 105 (2) mencantumkan bahwa para wakil-wakil negara anggota akan menikmati keistimewaan dan kekebalan yang diperlukan untuk melaksanakan fungsi mereka secara bebas dalam hubungannya dengan PBB.

Perkembangan selanjutnya mengenai kekebalan dan keistimewaan PBB terdapat dalam General Convention on Privileges and Immunities of the United Nations 1946.

General Convention 1946 adalah hasil kerja keras Majelis Umum dalam hal merinci keistimewaan dan kekebalan PBB. Konvensi ini memuat ketentuan-ketentuan mengenai

(10)

kekebalan milik dan aktiva lainnya terhadap proses hukum, tidak diganggu gugatnya gedung-gedung dan arsip-arsip, hak untuk membekukan dana, membuka giro dan memindahkan dana secara bebas, pembebasan pajak langsung, bea cukai dan pembatasan impor serta ekspor barang-barang untuk keperluan dinas, pelayanan bagi komunikasi resmi, dan hak menggunakan jasa kurir. Selain itu diatur pula kesitimewaan-keistimewaan khusus seperti imunitas dari penangkapan dan kebebasan untuk bergerak termasuk perlindungan hukum atas tindakan yang dilakukan dan perkataan yang diucapkan dalam kapasitas jabatannya.

Selanjutnya sebagaimana kita ketahui bersama, PBB terdiri dari badan-badan utama seperti Majelis Umum, Dewan Keamanan, Dewan Ekonomi dan Sosial, Dewan Perwalian, Mahkamah Internasional dan Sekretariat, semuanya mempunyai wewenang sendiri dan tiap-tiap badan tersebut juga mempunyai sub-sub badan yang disebut badan subsider.11 Pasukan pemelihara perdamaian yang merupakan bagian dari PBB (biasanya lahir dari Resolusi Dewan Keamanan dan berada dibawah pengawasan Sekretaris Jenderal) secara otomatis akan menikmati kekebalan dan keistimewaan sebagaimana yang diatur dalam General Convention 1946. Permasalahan yang selanjutnya mengemuka adalah pengaturan mana dalam General Convention 1946 yang selanjutnya menjadi justifikasi bahwa pasukan pemelihara perdamaian mendapatkan kekebalan dan keistimewaan yang sama dengan badan subsider PBB lainnya? Pertanyaan ini penting karena General Convention1946 sendiri tidak pernah menyebutkan Pasukan Pemelihara Perdamaian masuk kedalam kategori pihak yang mendapat kekebalan dan keistimewaan PBB, meskipun ketika beroprasi dilapangan pasukan pemelihara perdamaian selalu mendasarkan kekebalan dan keitimewaan yang dimiliknya dijamin oleh General Convention1946.

Jawaban dari pertanyaan tadi akan kita dapat dengan membandingkan antara

General Convention 1946 dengan UNEF I SOFA12(United Nations Emergency Forces I Status of Forces Agreements). General Convention 1946 membedakan pihak-pihak yang

11loc cit

12Robert C.R. Siekmann,op cit, hlm 8, SOFAs adalah sebuah acuan kerja (frame work) yang berbentuk

(11)

berhak mendapatkan kekebalan dan keistimewaan kedalam tiga kategori yaitu: ‘The Representatives of Members’ (Pasal IV), ’Officials’ (Pasal V) dan ’Experts on Missions for the United Nations’ (Pasal VI). Kategori yang pertama (‘The Representatives of Members’) tidak berkaitan dengan masalah yang sedang kita bahas, yang dimaksud dengan ‘The Representatives of Members’ pada kategori pertama adalah perwakilan dari badan utama atau badan subsider PBB ketika berada dalam suatu Konferensi internasional.

Kategori yang kedua ‘Officials’, Pasal V (17)General Convention1946 mengatur bahwa Sekretaris Jendral wajib melaporkan nama-nama warga negara dari negara anggota yang namanya menjadi ‘Officials’ PBB kepada pemerintah negara yang bersangkutan secara berkala termasuk memberikan laporan kepada Majelis Umum PBB. Sekretaris Jendral juga wajib mengeluarkan UN laissez-passer kepada para ‘Officials’ agar diterima oleh para penguasa di Negara anggota sebagai dokumen yang sah.

Selain mendapat kekebalan dari jurisdiksi perdata dan pidana, beberapa keistimewaan ’Officials’ diatur dalam Pasal V (18) yaitu:

a. pengecualian pajak terhadap pendapatan yang bersumber dari PBB b. kekebalan dari pembatasan imigrasi

c. keistimewaan-keistimewaan yang diberikan kepada orang-orang asing dalam kapasitas mereka sebagai perwakilan dari negara pengirim yang sedang berada di negara penerima

d. keistimewaan untuk mengimpor perlengkapan-perlengkapan yang dibutuhkan untuk melakukan tugas mereka tanpa melalui bea cukai

e. kebebasan untuk melakukan perjalanan dan keistimewaan dari pengaturan passport dan visa

Meskipun demikian, keistimewaan dan kekebalan yang diberikan oleh General Convention 1946 hanya dipergunakan untuk kepentingan para ”Officials” sepanjang berkaitan dengan tugas mereka sebagai representasi dari PBB dan melarang dengan tegas penggunaan keistimewaan dan kekebalan untuk kepentingan pribadi.

(12)

1. tidak boleh diganggu gugatnya dokumen-dokumen

2. hak untuk menggunakan kode PBB dan hak korespondensi

3. fasilitas yang sama mengenai mata uang, kebebasan berkomunikasi sepanjang diperuntukan demi kelancaran tugas mereka dalam kapasitasnya sebagai ahli PBB 4. kekebalan dan keistimewaan yang diperuntukan bagi barang-barang bawaan, tas

pribadi yang diperlakukan sama seperti perwakilan diplomatik

Sama dengan pengaturan kekebalan dan keistimewaan yang diberikan kepada ”Officials”, pengaturan mengenai kekebalan dan keistimewaan yang diberikan kepada ”Experts on Mission for the United Nations” juga hanya diperuntukan bagi kelancaran tugasnya dan tidak dipergunakan untuk kepentingan pribadi.

Dari beberapa penjelasan mengenai ketentuan diatas, selanjutnya kita akan melihat juga pengaturan pasukan perdamaian PBB yang terdapat dalam UNEF I SOFA, pengaturan tersebut diantaranya menyebutkan bahwa pasukan pemelihara perdamaian PBB mendapatkan keistimewaan-keistimewaan sebagai berikut:

1. pengecualian pajak terhadap pendapatan (selain berasal dari PBB pendapatan kontingen nasional pasukan pemelihara perdamaian juga berasal dari negara asalnya) 2. kekebalan dari pembatasan imigrasi

3. keistimewaan-keistimewaan yang diberikan kepada orang-orang asing dalam kapasitas mereka sebagai perwakilan dari negara pengirim yang sedang berada di negara penerima

4. keistimewaan untuk mengimpor perlengkapan-perlengkapan yang dibutuhkan untuk melakukan tugas mereka tanpa melalui bea cukai

5. kebebasan untuk melakukan perjalanan dan keistimewaan dari pengaturan passport dan visa

(13)

Perbandingan berikutnya adalah antara Pasal VGeneral Convention 1946 dengan UNEF ’I’ SOFA pada bagian pengaturan mengenenai keistimewaan, tampak terlihat sekali bahwa pengaturan keistimewaan pada Pasal V General Convention 1946 diterapkan pada keistimewaan yang terdapat dalam pasukan pemelihara perdamaian secara mutatis mutandis. Hal ini mengindikasikan bahwa ada tendensi yang kuat yang menyamakan pasukan pemelihara perdamaian kedalam kategori kedua pihak yang mendapat kekebalan dan keistimewaan dalam General Convention 1946, yaitu ”Officials”.

Dalam perkembangan berikutnya pengaturan mengenai keistimewaan yang terdapat dalam UNEF ’I’ SOFA ini telah diterima bahkan ditiru dan dijadikan model bagi operasi-operasi pemelihara perdamaian berikutnya (misalnya UNFICYP SOFA`s). Rezim hukum organisasi internasional telah meletakan pasukan pemelihara perdamaian sebagai bagian dari ”Officials” PBB dan berhak mendapatkan keistimewaan dan kekebalan.13

2. Aspek Hukum Penyelesaian Sengketa Internasional dalam Pasukan Pemelihara Perdamaian

Sebagaimana diketahui tujuan utama PBB adalah untuk memelihara perdamaian dan keamanan internasional. Untuk mencapai tujuan tersebut PBB akan mengambil langkah-langkah bersama secara efektif guna mencegah dan menghindari ancaman terhadap perdamaian di samping untuk menghentikan tindakan agresi atau pelanggaran lainnya terhadap perdamaian dan mengusahakan penyelesaian melalui cara-cara damai, sesuai dengan prinsip-prinsip keadilan hukum internasional.

Untuk mewujudkan tujuan itu, PBB diberikan kewenangan sesuai dengan Bab VII Piagam untuk mengambil tindakan-tindakan yang dianggap perlu, termasuk membentuk pasukan internasional apabila penyelesaian sengketa dengan cara-cara damai tidak berhasil. Perkembangan pengaturan pasukan dibawah bendera PBB ini telah mengalami banyak perubahan sejak pasukan pemelihara perdamaian generasi pertama, hingga lahirnya pasukan multinasional sebagai suatu bentuk solusi penyelesaian sengketa internasional dengan penggunaan senjata. Hukum internasional sendiri, di dalam keadaan-keadaan tertentu memberi hak kepada suatu negara untuk melakukan intervensi

(14)

kepada negara lain. Keadaan ini memang merupakan pengecualian dan keadaan-keadaan itu diantaranya:14

1. intervensi kolektif sesuai dengan piagam PBB;

2. untuk melindungi hak-hak dan kepentingan-kepentingan, serta keselamatan jiwa warga negaranya di luar negeri;

3. pembelaan diri, jika intervensi diperlukan untuk melenyapkan bahaya serangan bersenjata yang nyata dan mengancam

4. dalam menangani urusan sebuah protektorat yang berada di bawah dominionnya 5. jika negara yang mengalami intervensi itu telah jelas melakukan pelanggaran

terhadap hukum internasional terutama menyangkut negara yang melakukan intervensi, misalnya jika negara itu sendiri melakukan intervensi dengan mengenyampingkan kaidah-kaidah hukum internasional.

Pelaksanaan hak-hak khusus untuk melakukan intervensi dalam menyelesaikan sengketa ini haruslah ditempatkan di bawah kewajiban utama negara-negara sesuai ketentuan dalam Piagam PBB. Dengan demikian, kecuali Piagam PBB memberi izin, intervensi yang dilakukan tidak sampai ancaman atau penggunaan kekerasan terhadap integritas wilayah atau kemerdekaan politik negara manapun15

Dalam upaya menciptakan perdamaian dan keamanan internasional untuk menyelesaikan suatu sengketa, PBB memiliki empat kelompok tindakan, secara umum empat kelompok tindakan tersebut adalah:16

1. Preventive Diplomacy

Preventive Diplomacy adalah suatu tindakan untuk mencegah timbulnya suatu sengketa di antara para pihak, mencegah meluasnya suatu sengketa, atau membatasi perluasan suatu sengketa. Cara ini dapat dilakukan oleh Sekjen PBB, Dewan Keamanan, Majelis Umum, atau oleh organisasi-organisasi regional bekerja sama dengan PBB.

2. Peace Making

14J.G. Starke,op cit, hlm 91

15 Pasal 2 ayat 4 Piagam PBB mewajibkan semua anggotanya untuk menjauhkan diri dari tindakan

mengancam atau menggunakan kekerasan terhadap integritas wilayah dan kemerdekaan politik negara lain dengan cara apa pun yang bertentangan dengan tujuan PBB

16Boutros Boutros-Ghali, An Agenda for Peace, New York: United Nations, 1992, hlm 12 dalam Huala

(15)

Peace Making adalah tindakan untuk membawa para pihak yang bersengketa untuk saling sepakat, khususnya melalui cara-cara damai seperti terdapat dalam Bab VI Piagam PBB. Tujuan PBB dalam hal ini berada di antara tugas menvegah konflik dan menjaga perdamaian. Di antara dua tugas ini terdapat kewajiban untuk mencoba membawa para pihak yang bersengketa menuju kesepakatan dengan cara-cara damai.

3. Peace Keeping

Peace Keeping adalah tindakan untuk mengerahkan kehadiran PBB dalam memelihara perdamaian dengan kesepakatan para pihak yang berkepentingan. Biasanya PBB mengirimkan personel militer, polisi PBB, dan juga personel sipil. Meskipun sifatnya militer, namun mereka bukan pasukan perang atau angkatan bersenjata (angkatan perang)

4. Peace Building

Peace Building adalah tindakan mengidentifikasi dan mendukung struktur-struktur yang ada guna memperkuat perdamaian untuk mencegah suatu konflik yang telah didamaikan berubah kembali menjadi konflik.Peace Buildinglahir setelah berlangsungnya konflik.

Menurut Bab VII Piagam, Dewan Keamanan dapat menjatuhkan sanksi kepada negara-negara anggota PBB dalam 3 hal, yaitu : Pertama, jika suatu negara melakukan tindakan yang mengancam perdamaian; Kedua, jika suatu negara melanggar perdamaian; dan Ketiga, jika suatu negara melancarkan agresi terhadap negara lain. Selanjutnya Dewan Keamanan memutuskan bahwa ada suatu tindakan negara yang mengancam perdamaian, melanggar perdamaian, dan agresi, Dewan Keamanan dapat mengambil tindakan-tindakan pemaksaan sebagaimana ditentukan dalam Bab VII Piagam, mulai dari penjatuhan sanksi ekonomi sampai dengan penjatuhan sanksi militer.

(16)

udara jika dipandang perlu demi terpeliharanya serta pulihnya perdamaian dan keamanan internasional. Tindakan tersebut dapat berupa demonstrasi, blokade dan operasi militer baik melalui udara, laut, dan darat yang dilakukan oleh negara-negara anggota sebagimana ditentukan dalam Pasal 42 Piagam yaitu:

“Should the Security Council consider that measures provided for in Article 41 would be in adequate or have proved to be inadequate, it may take such action by air, sea, or land forces as may be necessary to maintain or restore international peace and security. Such action may include demonstrations, blockade, and other operations by air, sea or land forces of Members of the United Nations”

Jadi Pasal 42 Piagam memberi kemungkinan penggunaan kekuatan bersenjata oleh Dewan keamanan untuk menegakan keputusannya. Untuk dapat melakukan tindakan penggunaan kekuatan bersenjata terlebih dahulu harus dibentuk Armed Force (pasukan bersenjata). Upaya yang ditempuh oleh Dewan Keamanan PBB selanjutnya adalah membentuk pasukan pemelihara perdamaian.

Meskipun sampai saat ini penyelesaian sengketa melalui kekuatan bersenjata masih menjadi perdebatan, akan tetapi fakta mengenai keberadaan pasukan pemelihara perdamaian sebagai salah satu mekanisme menyelesaikan sengketa internasional tidak terbantahkan.

3. Aspek Hukum Humaniter Internasional dalam Pasukan Pemelihara Perdamaian

(17)

Menurut Jean Pictet, hukum humaniter adalah:17

International humanitarian law in the wide sense is constitusional legal provision, whether written and costumary, ensuring respect for individual and his

well being”

Sedangkan Esbjorn Rosenbland, merumuskan hukum humaniter internasional dengan mengadakan pembedaan antara:18

The Law of Armed Conflict, berhubungan dengan: a. Permulaan dan berakhirnya pertikaian

b. Pendudukan wilayah lawan

c. Hubungan pihak bertikai dengan negara netral; SedangkanLaw of Warfare,ini antara lain mencakup: a. Metode dan sarana berperang

b. Status kombatan

c. Perlindungan yang sakit, tawanan perang dan orang sipil

Hukum humaniter internasional mengenal beberapa prinsip atau asas penting, satu diantaranya adalah prinsip pembeda (distinction principle). Prinsip ini membedakan atau membagi penduduk dari suatu negara yang sedang berperang, atau sedang terlibat dalam konflik bersenjata, ke dalam dua golongan, yakni Kombatan (Combatant) dan Penduduk Sipil (Civilian). Kombatan adalah golongan penduduk yang secara aktif turut serta dalam permusuhan (hostilities), sedangkan penduduk sipil adalah golongan penduduk yang tidak turut dalam permusuhan.19

Perlunya pembedaan sangat penting ditekankan, dikarenakan prinsip ini ditujukan sebagai upaya untuk melindungi penduduk sipil pada waktu perang atau konflik bersenjata, secara tidak langsung prinsip ini juga melindungi para kombatan atau anggota angkatan bersenjata dari pihak-pihak yang terlibat perang atau konflik bersenjata.20

17 Jean Pictet, The Principles of International Law, dalam Haryo Mataram, Hukum Humaniter, C.V.

Radjawali, Jakarta, 1994, hlm 15

18

Arlina Permanasari et.,al.,Pengantar Hukum Humaniter, International Committee Of The Red Cross, Jakarta, 1999, hlm 9

19Haryo Mataram,op cit, hlm 63

(18)

Konvensi Jenewa 1949 tidak secara rinci menjabarkan mengenai siapa-siapa saja yang menjadi kombatan dan siapa-siapa saja yang menjadi penduduk sipil. Konvensi hanya memberikan ciri-ciri umum yang kemudian dipergunakan untuk mengkategorikan mana Kombatan dan mana Penduduk Sipil. Ciri-ciri dari Kombatan menurut Konvensi Jenewa 1949 yaitu:21

1. Memiliki pemimpin yang bertanggungjawab atas bawahannya 2. Mengenakan tanda tertentu yang dapat dikenali dari jarak jauh 3. Membawa senjata secara terbuka

4. Dalam beroperasi mematuhi hukum dan kebiasaan perang

Selanjutnya pasukan pemelihara perdamaian dapat saja digolongkan kedalam kategori kombatan karena mereka telah memenuhi semua ciri diatas. Alasan pasukan pemelihara perdamaian dapat dikategorikan kedalam kombatan adalah:

1. Memiliki pemimpin yang bertanggung jawab atas bawahannya

Dalam menjalankan misi perdamaian, pasukan pemelihara perdamaian PBB selalu dibentuk dengan memperhatikan hierarki struktur yang ada pada sebuah struktur militer pada umumnya. Pasukan pemelihara perdamaian biasanya dipimpin oleh seorang Special Representative/Commander yang ditunjuk oleh Sekertaris Jendral. Special Representative/Commander ini kemudian akan mengkordinasikan semua kegiatan pasukan pemelihara perdamaian dilapangan termasuk memberikan laporan secara berkala kepada sekretaris jenderal dan dewan keamanan PBB.

2. Mengenakan tanda tertentu yang dapat dikenali dari jarak jauh

Dalam melaksanakan tugasnya, pasukan pemelihara perdamaian berhak menggunakan tanda-tanda dan bendera PBB. Tanda ini harus terlihat secara jelas pada anggota pasukan termasuk juga pada kendaraan-kendaran PBB. Tanda ini kemudian membuat pasukan pemelihara perdamaian PBB dikenal juga sebagai ”blue helmet”. Penjelasan mengenai tanda tertentu yang dapat dikenali dari jarak jauh terdapat juga dalam penjelasan mengenai pasukan pemelihara perdamaian yang dijelaskan oleh Profesor Diehl, yaitu:22

(19)

“Millitary members of the UN Peacekeeping, including vehicles, vessels and aircraft of the UN Peacekeeping operation shall carry a distinctive United Nations identification, which shall be notified to the Government”

3. Membawa senjata secara terbuka

Peacekeeping forces also have the distinguishing feature of being lightly armed. A typical peacekeeping soldier is equipped only with a rifle23

Konvensi Jenewa 1949 tidak menjelaskan lebih lanjut mengenai senjata dengan jenis dan spesifikasi seperti apa yang harus dimiliki oleh Kombatan, karena jika disebutkan membawa senjata secara terbuka, meskipun hanya senjata ringan, maka pasukan penelihara perdamaian juga telah memenuhi salah satu kriteria ini. Meskipun demikian pada perkembangan selanjutnya, pasukan pemelihara perdamaian tidak saja membawa senjata ringan, tetapi mereka juga dilengkapi dengan senjata berat dan kendaraan-kendaraan perang, semua itu ditujukan semata-mata untuk menegakan perdamaian dan keamanan internasional.

4. Dalam beroperasi mematuhi hukum dan kebiasaan perang

Dalam beroperasi, pasukan pemelihara perdamaian juga diharuskan mematuhi hukum dan kebiasaan-kebiasaan yang ada pada saat berperang. Meskipun pasukan pemelihara perdamaian tersusun dari kontingen militer beberapa negara, akan tetapi mereka juga mempunyai kewajiban untuk menghormati ketentuan-ketentuan hukum internasional terkait dengan kegiatan mereka dalam mewujudkan perdamaian dan keamanan internasional. Pada bulan November 1961 ICRC mengirimkan memorandum kepada semua negara peserta Konvensi Jenewa 1949 dan kepada semua negara anggota PBB terkait dengan pembentukan kekuatan bersenjata oleh PBB yang menegaskan bahwa ketentuan-ketentuan mengenai hukum humaniter harus diaplikasikan oleh negara-negara yang terlibat dalam misi-misi pemelihara perdamaian PBB:

“…expressed that the provisions of humanitarian law were applied by all contingents and by the UN Command(‘United Command’)24

Penjelasan lain mengenai penggolongan kombatan juga terdapat dalam instrumen hukum humaniter yang lain yaitu Protokol Tambahan 1977 Pasal 43 yaitu:

23loc cit

(20)

1. The armed forces of a Party to a conflict of organized armed forces, groups and units which are under a command responsible to that Party and units which are under a command responsible to that Party for the conduct of its subordinates, even if that Party is represented by a government or an authority not recognized by an adverse party. Such armed force shall be subject to an internal disciplinary system which, inter alia, shall enforce compliance with the rule of international law applicable in armed conflict

2. Members of the armed forces of a Party to a conflict (other than medical personel and chaplains covered by Article 33 of the Third Convention) are combatants, that is to say, they have the right to participate directly in hostilities

3. Whenever a Party to a conflict incorporates a paramilitary or armed law enforcement agency into its armed forces it shall so notify to the other Parties to the conflict

Ketentuan Pasal 43 diatas secara tegas menentukan bahwa mereka yang dapat digolongkan sebagai Kombatan adalah mereka yang termasuk kedalam pengertianarmed forces (angkatan bersenjata), dan mereka yang termasuk kedalam pengertian angkatan bersenjata itu adalah “mereka yang memiliki hak untuk berperan serta secara langsung dalam permusuhan”. Mereka terdiri atas: angkatan bersenjata yang terorganisasi (Organized armed forces), kelompok-kelompok atau unit-unit yang berada di bawah suatu komando yang bertanggung jawab atas tingkah laku bawahannya kepada Pihak yang bersangkutan, meskipun Pihak tersebut diwakili oleh suatu penguasa yang tidak diakui oleh pihak yang menjadi lawannya, dengan ketentuan bahwa angkatan bersenjata itu harus tunduk kepada suatu disiplin internal yang berisikan, antara lain, pelaksanaan ketentuan yang berlaku dalam konflik bersenjata. Ketentuan Protokol Tambahan 1977 ini menjadi suatu perkembangan yang revolusioner Karen atidak lagi ada pembedaan perlakuan antara tentara reguler, tidak ada lagi ketentuan khusus yang berlaku bagi mereka yang tergolong bukan tentara reguler.25

Penjelasan mengenai pengaturan pasukan pemelihara perdamaian yang juga menjadi objek yang diatur oleh hukum internasional sangatlah penting, ini dikarenakan hokum humaniter internasional selanjutnya akan memberikan sejumlah hak yang akan mereka terima dan sejumlah kewajiban yang harus mereka kerjakan. Pembatasan hak dan kewajiban ini akan menjadi ketentuan yang mengatur pasukan pemelihara perdamaian dalam melakukan tugas-tugasnya dilapangan.

(21)

C. Kesimpulan dan Saran

Keberadaan pasukan pemelihara perdamaian sebagai sebuah cara untuk menyelesaikan sengketa dewasa ini telah mengalami berbagai macam perkembangan. Meskipun belum ada instrumen hukum internasional yang secara jelas mengatur mereka, akan tetapi sebagai sebuah pasukan yang tersusun dari kontingen yang terdiri dari berbagai macam bangsa mereka tetap terikat dengan beberapa rezim hukum internasional.

Meskipun pasukan pemelihara perdamaian bukan pasukan supra nasional, akan tetapi sebagai bagian dari PBB, maka dalam melaksanakan tugasnya mereka dilengkapi dengan sejumlah keistimewaan dan kekebalan. Urgensi dari pemberian keistimewaan dan kekebalan ini tidak lain berdasarkan pertimbangan untuk mempermudah dan melindungi mereka ketika bertugas dilapangan. Pasukan pemelihara perdamaian juga diwajibkan untuk tunduk pada ketentuan-ketentuan yang berlaku dalam hukum humaniter internasional, tegasnya mereka juga mempunyai hak dan kewajiban sesuai dengan ketentuan-ketentuan hukum humaniter.

(22)

DAFTAR PUSTAKA

Buku:

Arlina Permanasari et.,al., Pengantar Hukum Humaniter, International Committee Of The Red Cross, Jakarta, 1999

Boer Mauna, Hukum Internasional : Pengertian, Peranan dan Fungsi Dalam Era Dinamika Global, P.T. Alumni, Bandung, 2003

Haryo Mataram,Hukum Humaniter, C.V. Radjawali, Jakarta, 1994

Huala Adolf,Hukum Penyelesaian Sengketa Internasional, Sinar Grafika, Jakarta 2004 J.G. Merrills, International Dispute Settlement, Third Edition, Cambridge University

Press, 1998

J.G. Starke,Introduction to International Law,Tenth Edition, Butterworth, London 1989 N.D. White,Keeping the Peace, Manchester University Press, Manchester 1997

Robert C.R. Siekmann, National Contingents in United Nations Peacekeeping Forces, Martinus Nijhoff Publishers, 1991

Sumaryo Suryokusumo,Hukum Organisasi Internasional, UI PRESS, Jakarta 1990

Dokumen:

Charter of the United Nations 1945

General Convention on Privileges and Immunities of the United Nations1946.

Referensi

Dokumen terkait

18 Saya meyakini seseorang yang telah dididik dalam profesi auditor memiliki suatu tanggungjawab untuk tidak beralih pada profesi lain selama periode atau kurun waktu

 Suara huruf yang bersifat ismat dilaksanakan tersekat-sekat kerana hurufnya dikeluarkan  jauh dari bahagian pinggir lidah atau

Dengan menggunakan metode six sigma melalui pendekatan DMAIC akan mengetahui faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi kualitas yang menjadi akar penyebab masalah dari proses

Semua galur kapas yang diuji pada sis- tem tumpang sari dengan kacang hijau tidak menunjukkan perbedaan antargalur dan varie- tas kontrol terhadap pertumbuhan

Para peneliti bidang psikologi khususnya psikologi pendidikan kini telah semakin sadar betapa dalam dan rumitnya proses berfikir siswa ketika ia belajar, sehingga

Bak kultur plankton chlorella sp disesuaikan dengan volume bak pemeliharaan larva yang terbuat dari serat kaca maupun konstruksi beton ditempatkan di luar ruangan yang dapat

Hampir dapat dipastikan bahwa setiap sen dari utang yang diperoleh akan berdampak pada perubahan kebijakan dan peraturan perundangan di Indonesia, yang akan

[r]