• Tidak ada hasil yang ditemukan

Aspek pentingnya benih untuk budidaya pe

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Aspek pentingnya benih untuk budidaya pe"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

TUGAS MAKALAH TEKNOLOGI BENIH

ASPEK PENTINGNYA BENIH DALAM BUDIDAYA PERTANIAN

Kelas A Anggota :

Vidda Ryend Pramudawardhani (111510501002) Fitria Anggriani (111510501004) Prisca Monika (111510501010)

Abiyanto (101510501063)

Aris F. (101510501066)

PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI FAKULTAS PERTANIAN

(2)

BAB 1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Dalam budidaya pertanian, salah satu aspek utama yang wajib untuk dipenuhi adalah bahan tanam. Bahan tanam ini merupakan kompone mendasar yang dibutuhkan untuk melakukan suatu proses budidaya tanaman. Pada dasarnya, bahan tanam dapat terdiri dari berbagai jenis seperti benih, bibit, maupun beberapa jenis bahan tanam yang diperoleh dari perkembangbiakan secara vegetatf seperti setek, cangkok, sambung, dan lain sebagainya. Dalam hal ini, bahan tanam utama yang menjadi kebuthan penting dalam sektor pertanian adalah benih. Benih merupakan bahan tanam yang diperoleh dari hasil pembiakan generatif yaitu dengan pertemuan dari sel ovum dan sel sperma dari induk tanaman.

Kualitas dan kuantitas dari hasil budidaya tanaman sangatlah bergantung pada kualiatas benh itu sendiri. Semakin baik mutu benih maka dapat diapastikan bahwa nantinya hal ini akan berdampak baik pada hasil produksinya baik kualitas maupun kuantitas. Namun, pada kenyataannya mutu dari benih Indonesia sangatlah rendah, hal ini dapat disebabkan oleh berbagai faktor seperti rendahnya kesadaran petani untuk mengguankan benih yang berkualitas tinggi. Pada umumnya petani hanya menyisihkan sebagian hasil panennya untuk dijadikan sebagai benih untuk musim tanam berikutnya. Benih tersebut tentu saja tidak terjamin mutunya. Hal ini disebabkan petani tidak mampu membeli benih yang bermutu baik yang telah tersertifiakasi oleh lembaga pemerintahan.

(3)

bermutu pula jika diikuti dengan perlakuan agronomi yang baik dan input teknologi yang berimbang. Sebaliknya, bila benih yang digunakan tidak bermutu maka produksinya banyak tidak menjanjikan atau tidak lebih baik dari penggunaan benih bermutu. Penggunaan benih bermutu diharapkan mampu mengurangi berbagai faktor resiko kegagalan panen.

1.2 Tujuan

1. Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruji mutu benih. 2. Untuk mengetahui pengendalian mutu benih dan komponennya. 3. Untuk mengetahui bagaimana kharakteristik mutu sifat benih. 4. Untuk mengetahui aspek pentingnya benih.

1.3 Rumusan Masalah

1. Apa saja factor-faktor yang mempengaruhi mutu benih? 2. Bagaimana pengendalian mutu benih dan komponennya? 3. Bagaimana kharakteristik mutu sifat benih?

(4)

BAB 2. PEMBAHASAN

Input dasar yang paling penting dalam pertanian adalah mutu benih, mutu benih yang baik merupakan dasar bagi produktifitas pertanian yang lebih baik. Benih merupakan salah satu faktor yang harus diperhatikan dalam budidaya tanaman, karena faktor tersebut ikut menentukan produksi. Kualitas benih itu sendiri akan ditentukan dalam proses perkembangan dan kemasakan benih, panen dan perontokan, pengeringan, penyimpanan benih sampai fase pertumbuhan di persemaian. Menurut Qamar dan Setiawan (1995) mutu benih adalah hal yang penting dalam usaha produksi benih. Produsen atau pedagang benih yang maju menggunakan mutu sebagai suatu teknik kompetitif sebagaimana harga dan pelayanan. Mutu merangsang ketertarikan konsumen, membantu produsen dan pedagang benih membangun reputasi positif atau kesan yang baik dan menghasilkan konsumen yang puas dan bisnis yang berkelanjutan.

Kunci budidaya terletak pada kualitas benih yang ditanam. Untuk itu diperlukan benih yang memiliki daya kecambah tinggi, sehat dan murni. Benih yang memiliki persyaratan tersebut diharapkan akan menghasilkan bibit yang benar, seragam dan sehat. Berdasarkan persyaratan kualitas, benih yang ditanam harus bermutu tinggi. Benih yang bermutu tinggi mempunyai sifat-sifat sebagai berikut :

1) Daya tumbuh minimal 80 %,

2) Mempunyai unsur yang baik yaitu benih tumbuh serentak, cepat dan sehat, 3) Benih murni minimal 99 %,

4) Campuran benih atau varietas lain maksimal 1 %,

5) Sehat, bernas tidak keriput dan umumnya normal serta seragam, 6) Kadar Air 13 % dan

7) Warna benih terang dan tidak kusam. Selanjutnya dikatakan bahwa program perbenihan menitikberatkan pada penggunaan benih tepat mutu yang ditunjukkan pada labelnya. Agar tidak tertipu oleh label benih, para pengguna benih (terutama petani) hendaknya memahami tentang mutu. benih dari komponen-komponennya yang dicantumkan di dalam label benih.

(5)

akan mampu tumbuh baik pada kondisi lahan yang kurang menguntungkan, bebas dari serangan hama penyakit sehingga dengan demikian hasil panen dapat sesuai dengan harapan (Qamara dan Setiawan, 1995). Sedangkan menurut Hill (1979) dalam Kartasapoetra (1992), bahwa pemakaian benih berkualitas tinggi dapat memberi hasil yang diharapkan, yang menyangkut peningkatan kualitas dan kuantitas produksinya.

Mutu benih adalah gambaran dan karakteristik menyeluruh benih, yang menunjukkan kemampuan untuk memenuhi standar yang ditentukan. Mutu benih adalah sejumlah atribut dan kerakter benih yang ditunjukkan secara indifidual atau kelompok. Kualitas atau mutu benih dapat dibagi atas 4 bagian besar, yaitu:

1. Mutu Fisik 2. Mutu Fisiologis 3. Mutu Genetik 4. Mutu Pathologis

A. Mutu fisik benih

Mutu fisik benih ini berkaitan dengan kondisi fisik benih secara visual, seperti warna, ukuran, bentuk, bobot dan tekstur permukaan kulit benih. Tolak ukur yang dijadikan kriteria adalah keseragaman. Sifat-sifat lain yang diamati adalah tingkat keutuhan benih (tolak ukur; tingkat kerusakan benih), tingkat kelembaban benih (tolok ukur; kadar air benih), dan tingkat kontaminasi benda lain (tolok ukur; kemurnian mekanis benih).

B. Mutu fisiologis benih

Mutu fisiologis benih berkaitan dengan aktivitas perkecambahan benih, yang di dalamnya terdapat aktivitas enzim, reaksi-reaksi biokimia serta respirasi benih. Parameter yang biasa digunakan untuk mengetahui mutu fisiologis benih ini adalah viabilitas benih serta vigor benih. Tolak ukur viabilitas benih yaitu Daya Berkecambah (DB) dan Potensi Tumbuh Maksimum (PTM), sedangkan tolak ukur vigor benih yaitu Daya Simpan Benih dan Kekuatan Tumbuh Benih (KecepatanTumbuh Benih).

(6)

Benih Mutu benih secara genetik ini barkaitan dengan susunan kromosom dan DNA benih serta jenis protein yang ada dalam benih, dengan tolak ukur kemurnian genetis benih. Selain itu, tolak ukur lain adalah kemurnian mekanis benih yaitu persentase kontaminasi jenis atau varietas lain.

D. Mutu pathologis benih

Tolak ukur dari mutu pathologis benih yang biasa diginakan adalah status kesehatan benih. Hal-hal yang diamati untuk mengetahui status kesehatan benih ini adalah keberadaan serangan pathogen, jenis pathogen, dan tingkat serangan pathogen. Sehingga dapat dinyatakan bahwa mutu suatu benih dapat dilihat dari faktor-faktor sebagai berikut : kebenaran varietas, kemurnian benih, daya hidup (daya kecambah dan kekuatan tumbuh), serta bebas dari hama dan penyakit. Pada umumnya dipakai standar minimum sebagai dasar dari klasifikasi atau penununtun pengkuran untuk menentukan tinggi rendahnya mutu suatu benih yaitu untuk kriteria benih murni, daya kecambah dan kekuatan tumbuh. Sedangkan standar maksimum digunakan untuk kadar air benih, persentase biji tanaman lain, gulma dan kontaminan-kontaminan lain serta hama dan penyakit pada benih. Kegagalan benih untuk memenuhi satu atau lebih dari kriteria tersebut di atas dapat dianggap menunjukan sebagai benih yang mutunya kurang baik.

PENGENDALIAN MUTU BENIH DAN KOMPONENNYA 1. Pengendalian Mutu Benih

(7)

Pengendalian mutu merupakan salah satu teknik pengelolaan yang paling menentukan dalam bisnis benih. Tetapi, hal ini sering tidak dipandang sebagai sumber daya oleh produsen benih, kecuali oleh perusahaan benih yang besar. Pengendalian mutu merupakan suatu kegiatan yang dapat dilakukan oleh produsen benih kecil sekalipun.

Teknik pengawasan mutu bukan merupakan hal yang asing bagi produsen benih dan pedagang benih. Tetapi umumnya, kegiatan ini sering dilakukan secara tidak menyeluruh di setiap aspek kegiatan produksi benih, sejak penyiapan lapang produksi sampai benih siap disalurkan. Mutu benih yang jelek kebanyakan sering merupakan hasil dari tidak melakukan sutu kegiatan atau melakukannya dengan tidak benar. Pengendalian mutu semestinya mengkoordinasikan seluruh kegiatan yang diarahkan pada pencapaian standar mutu menjadi usaha yang komprehensif, sistematis, dan berkelanjutan. Pengendalian mutu berurusan dengan perhatian dan upaya pada berbagai kegiatan yang termasuk dalam bisnis benih. Prosedur yang digunakan dalam mengendalikan mutu berkisar dari yang sederhana, seperti pengontrolan sewaktu-waktu terhadap gulma yang berbahaya, sampai yang kompleks, seperti perancangan ulang sampai tuntas atas sistem penanganan dan pengangkutan benih untuk meminimumkan kerusakan benih. Pengendalian mutu berusaha menghindarkan timbulnya masalah atau, jika masalah itu tidak dapat dihindarkan, mengurangi pengaruhnya.

(8)

bukanlah tujuan, tetapi merupakan taraf terendah dari berbagai sifat mutu yang dapat diterima. Adapun tujuannya adalah berupa mutu yang tertinggi.

2. Komponen Pengendalian Mutu benih

Berikut ini disampaikan komponen-komponen dalam pelaksanaan pengendalian mutu yang harus diperhatikan oleh produsen benih. Pengendalian mutu tidak lebih dari memberikan perhatian atas operasi dan prosedur yang penting dalam melaksanakan bisnis benih; kualifikasi benih yang akan dihasilkan dapat dicek secara periodik sehingga dapat ditentukan apakah akan memenuhi standar dan dapat dipertahankan.

a. Sumber Benih

Kemurnian varietas dari suatu pertanaman untuk menghasilkan benih tidak akan lebih baik daripada kemurnian benih yang ditanam, bahkan dapat lebih jelek. Penggunaan benih yang murni varietas dan bebas dari benih gulma merupakan langkah pertama dalam pengendalian mutu. Jika benih akan diberi sertifikat, maka sumber benih harus tertentu kelasnya dan diperiksa oleh BPSB. Jika bukan benih bersertifikat akan dihasilkan, penggunaan benih sumber berkelas sebar merupakan cara terbaik untuk menjaga kemumian varietasnya.

b. Lahan

Lahan yang digunakan untuk produksi benih harus subur, berdrainase baik dan cukup bebas dari gulma, terutama gulma yang sulit dipisahkan dari benih yang akan diproduksi. Lahan harus tidak ditanami sebelumnya dengan varietas yang berbeda atau lahan harus bera. Dalam hal lahan sebelumnya ditanami dengan varietas yang berbeda, maka hendaknya diikuti persyaratan pemberaan yang telah diatur oleh BPSB, walaupun bukan benih bersertifikat akan dihasilkan. Hal ini dimaksudkan agar pertanaman dapat terbebas dari tanaman voluntir.

c. Penanaman

(9)

sama. Dalam produksi benih legum, misalnya, benih yang akan ditanam mungkin perlu diinokulasi, tergantung pada jenisnya dan kondisi lahan. Benih harus disisakan kira-kira 0,5 kg untuk disimpan. Hal ini perlu untuk pengujian ulang jika ternyata benih tidak tumbuh dengan memuaskan. Pencatatan kualifikasi benih yang ditanam sebaiknya dilakukan, atau hal ini dapat ditempuh dengan menjaga label benih tidak terlepas dari kantongnya.

d. Isolasi

Jarak antarvarietas hendaknya memenuhi persyaratan minimal yang ditetapkan BPSB walaupun bukan benih bersertifikat yang akan dihasilkan. Produsen benih dapat menggunakan isolasi jarak atau isolasi waktu tergantung kebutuhan atau situasi lapangan. Persyaratan minimum jarak atau waktu isolasi telah diatur oleh BPSB.

e. Teknik Budidaya

Teknik budidaya terbaik hendaknya dilaksanakan, termasuk di dalamnya pengendalian gulma. Pengendalian gulma merupakan salah satu kegiatan yang ditekankan dalam prosedur menghasilkan benih bersertifikat.

f. Pemeriksaan Lapang

Petugas yang bertanggung jawab atas pengendalian mutu atau supervisor produksi harus memeriksa lapangan beberapa kali dan melakukan roguing, yaitu: (1) setelah muncul bibit sambil menetapkan status pertanaman, (2) selama musim awal pertumbuhan tanaman sambil mencek keperluan pengendalian gulma dan menilai status pertanaman, (3) pada saat pembungaan untuk mencek kemurnian varietas, dan (4) sebelum panen untuk mencek kemurnian varietas, kehadiran gulma yang berbahaya, dan melaksanakan roguing terakhir.

g. Pemanenan

(10)

Efektivitas pemanenan harus diperhatikan dengan memeriksa ketepatan fungsi setiap bagian alat pemanen. Walaupun saat ini telah ada kombain yang terprogram komputer, pengamatan hasil kerjanya masih memerlukan campur tangan operator. Selain itu, hendaknya dilakukan pengambilan contoh benih untuk mengukur kadar air dan menyesuaikan penyetelan bagian perontok dari kombain. Kebersihan conveyor, trailer, dan alat lain yang digunakan harus terjamin.

h. Penyimpanan “Lindak” (Bulk Storage)

Setelah dipanen, benih hendaknya ditempatkan dalam penyimpanan lindak yang bersih. Aerasi diperlukan jika kadar air benih cukup tinggi, misalnya 13-14% untuk kedelai. Aerasi diperlukan juga walaupun kadar air benih setinggi 12% atau kurang untuk menghindari adanya ‘titik atau sumber panas’ (hot spot) di dalam massa benih. Contoh benih juga diambil dari simpanan lindak ini dan dikirimkan ke laboratorium untuk diuji kemurnian dan perkecambahannya. Berdasarkan hasil pengujian itu produsen benih harus menetapkan status mutu benihnya dan memutuskan apakah perlu untuk mengolah benih lebih lanjut; langkah-langkah tertentu mungkin diperlukan pada taraf itu agar benih yang telah diuji pada akhirya memenuhi persyaratan.

i. Pengolahan Benih

Alat-alat pengolahan benih harus diperiksa dan dibersihkan dari kontaminan. Alat-alat yang diperlukan hendaknya dipasang dengan benar untuk menekan kehilangan dan mencapai hasil pemilahan yang optimum atau memenuhi standar. Pemilihan alat pemilahan benih yang tepat sangat perlu. Selanjutnya benih harus diambil contohnya dan dikirimkan ke laboratorium untuk penilaian mutunya. Kira-kira 1 kg benih hendaknya disimpan sebagai arsip dan kelompok benih harus dihitung serta ditentukan kebutuhan kantong pengemas dan labelnya. j. Penyimpanan

(11)

lengkap dengan posisinya di dalam gudang. Gudang harus bersih dan bebas dari tikus.

k. PemeriksaanTerakhir

Pengambilan contoh benih masih diperlukan sebelum benih didistribusikan, terutama untuk pengangkutan jarak jauh. Hal ini untuk menghindari tuntutan dari konsumen, terutama jika benih telah disimpan cukup lama di dalam gudang, walaupun masih belum kedaluwarsa. Gudang, wadah penyimpanan, dan alat-alat pengolahan, pemanenan, dan penanaman harus dibersihkan pada akhir kegiatan produksi benih di musim yang bersangkutan. Evaluasi harus dilakukan atas pelaksanaan produksi benih yang lalu agar dapat melakukan perbaikan dalam kegiatan di musim berikutnya. Produsen benih disarankan untuk melihat lapang yang telah digunakan; suatu gagasan mungkin akan muncul untuk meningkatkan taraf pengendalian mutu pada masa yang akan datang.

3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Mutu Benih a. Faktor bawaan ( kemurnian varietas )

b. Faktor fisiologi dan fisik benih  Tingkat kematangan benih

 Benih harus dipanen dari tanaman yang sudah matang benar  Tingkat kerusakan mekanis benih

 Tingkat keusangan benih, yaitu hubungan antara vigor awal benih dengan

lamanya benih yang disimpan.

 Patogen pada benih, terutama soybean mozaic virus (SMU) serta penyakit

virus lainnya

 Ukuran dan berat jenis benih  Komposisi kimia benih

c. Faktor lingkungan

(12)

d. Faktor perlakuan pascapanen

 Cara penimbunan serta lamanya penimbunan brangkasan sebelum

pengeringan dan pembijian  Cara pengeringan

 Keseragaman dan kesehatan benih sebelum disimpan  Cara pengepakan, khususnya volume dan jenis kemasan  Suhu dan kelembaban tempat penyimpanan

 Lama, cara, dan proses pengangkutan benih

HAMBATAN DALAM MEMPRODUKSI BENIH BERMUTU 1. Permasalahan

Fakta dilapangan menunjukkan bahwa ketersediaan dan penggunaan benih bermutu (dan berlabel) masih rendah. Permasalahan yang dihadapi dalam peningkatan produksi benih antara lain adalah :

- Keterbatasan ketersediaan benih sumber untuk diperbanyak oleh produsen dan penangkar benih

- Produsen benih kelas menengah ke bawah umumnya belum mempunyai pemulia sendiri, serta penyilang benih banyak yang belum mempunyai laboratorium kultur jaringan

- Keterbatasan modal usaha, sehingga penggunaan input dan sarana produksi terbatas, yang berakibat volume usaha juga tidak optimal.

- Keterbatasan varietas benih dalam negeri yang disukai konsumen (sesuai preferensi konsumen), sementara pemohon pelepasan varietas sayuran berasal dari intoduksi (luar negeri) meningkat.

- Keterbatasan data supply-demand benih antar daerah dan antar sentra, sehingga jalur dan pemenuhan benih tidak terpantau secara baik.

- Keterbatasan jumlah dan kemampuan petugas pengawas benih tanaman. - Keterbatasan dana operasional bagi Balai Benih BPS danPengawan Benih

Tanaman

ASPEK PENTINGNYA BENIH

1. Arti Penting/Ekonomi Benih Dalam Budidaya Tanaman.

(13)

ekonomi memberi nilai tambah/manfaat bagi masyarakat/petani. Benih bermutu (Undang-undang No. 12 tahun 1992) mempunyai ciri sebagai berikut: a. Produktivitasnya tinggi (Produksi/satuan luas), yaitu varietas/klon mempunyai produksi yang tinggi, artinya gap antara produksi yang diperoleh pada lingkungan pengujian sebelum varietas/klon tersebut dirilis dengan lingkungan pertanaman luas atau di masyarakat rendah, b. Pertumbuhan seragam, yaitu pertumbuhan antar satu tanaman dalam suatu pertanaman sama, baik dari aspek tinggi tanaman, diametr batang, perkembangan kanopi, dan produktivitas. c.Mutu genetisnya tingi, yaitu struktur gen dalam kromosom sama pada setiap tanaman dalam klon/varietas tersebut. Misalnya pada tanaman karet Klon GT1, Kelapa Sawit dengan varietas Tenera.

Dalam menetapkan suatu biji dikategorikan sebagai benih bermutu dan mempunyai nilai ekonomi diwajibkan melakukan pengujian berikut (PP No. 44 Tahun 1995) :

 Uji kadar air, yaitu uji yang dilakukan untuk mengetahui kadar air suatu

benih, dengan metode oven, hal tersebut dilakukan untuk tujuan penyimpanan/pengiriman,

 Uji daya tumbuh, yaitu uji yang dilakukan untuk mengetahui persentase

tumbuh benih yang dijadikan sebagai benih untuk tujuan budidaya dan pelabelan,

 Uji kemurnian, yaitu uji yang dilakukan untuk mengetahui persentase benih

secara genetik yang terkandung dalam suatu benih yang akan digunakan untuk budidaya maupun untuk tujuan pelabelan,

 Uji campuran dari varietas lain, yaitu untuk mengetahui beni varietas lain

yang terdapat dalam benih yang akan digunakan dalam budidaya, tujuannya agar diperoleh keseragaman benih,

 Uji kompatabilitas benih (keseragaman), yaitu uji keserempakan tumbuh dan

keseragaman benih,

 Uji heterogenitas, uji yang dilakukan untuk mengetahui keseragaman besar

dan ukuran biji dari setiap benih,

 Uji tetrazolium, uji yang dilakukan untuk mengetahui keutuhan benih dalam

(14)

 Uji kesehatan benih, yaitu uji yang dilakukan untuk mengetahui apakah benih

tersebut terbebas dari fatogen yang akan membahayakan pertumbuhan. Dalam pengelolaan benih agar bernilai ekonomi dan menguntungkan, maka dikenal ada dua aspek, yaitu :

1. Biji bermutu, yaitu benih dari varietas benar dan murni, mempunyai mutu genetis, fisiologis, dan mutu fisik yang tingi sesuai dengan standar mutu di kelasnya,

2. Standar mutu benih, yaitu spesifikasi benih yang mencakup fisik, genetis, fisiologis, dan kesehatan benih yang dibakukan dan merupakan konsensus semua pihak yang terkait.

Syarat umum dalam pengembangan perbenihan agar diperoleh mutu ekonomi benih yang tinggi ( Kamil, 1991), yaitu :

 Daya kecambah, minimal 80 %, artinya benih yang tumbuh dari benih yang

ditanam minimal 80 persen, hal tersebut ditetapkan guna menghindari penggunaan benih yang banyak yang dapat meningkatkan biaya produksi,  Benih murni, minimal 95 %, artinya benih yang ada pada setiap varietas/klon

terdapat pada varietas/klon yang sama, hal tersebut dilakukan guna menghindari ketidakseragaman pertumbuhan dan ketahanan terhadap hama/penyakit yang akhirnya menyebabkan produksi menurun,

 Banih dari varietas lain, maksimal 5 %, artinya murni dari varietas/klon yang

sama,

 Kotoran, maksimal 3 %, artinya benda asing dan lainnya seperti ranting,

krikil, dan benda asing lainnya tidak ada,

 Benih dari rumputan, maksimal 2 %, artinya bila benih terdapat batu,

campuran benih dengan gulma, maka akan menyulitkan pemeliharaan dan keseragan pertumbuhan karena dalam pertumbuhan tanaman tersebut terjadi kompetisi antara gulma dan tanaman utama, akhirnya dapat menutunkan produksi.

Guna memenuhi hal tersebut di atas, benih sebelum diedarkan atau dipasarkan ke masyarakat, faktor mutu fisik benih perlu mendapat perhatian yang meliputi:

(15)

b. Warna benih seragam, tidak terserang hama penyakit, hal tersebut diperhatikan agar benih tidak berubah warna yang mengakibatkan kemerosotan pertumbuhan dan nilai jual,

c. Tidak bercak-bercak,

d. Bernas/berisi sesuai struktur biji, artinya komposisi kimia dan fisik normal, e. Tidak kriput.

Agar usaha budidaya dapat berhasil dengan optimal dari aspek produksi dan nilai ekonomi, maka klasifikasi benih ( Kamil, 1991) yang dapat digunakan adalah seperti pada sekema berikut. Benih Penjenis, Yaitu benih yang dihasilkan dari kegiatan Pemuliaan tanaman dan hanya dikuasai oleh pemulia. Benih Dasar, yaitu yang diperbanyak oleh lembaga tertentu Dan memperoleh izin dari pemerintah. Benih Pokok, yaitu disebar dan diperbanyak oleh lembaga/ Perorangan yang diawasi oleh badan sertifikasi benih. Benih Sebar, yaitu benih yang diperdagangkan dan ditanam Oleh petani.

2. Perundang-Undangan Dalam Perbenihan Tanaman

(16)

BAB 3. KESIMPULAN

(17)

DAFATR PUSTAKA

Anonim. 1999. Kebijakan Pembangunan Pertanian. Jakarta : Departemen Pertanian.

Kartasapoetra, A.G. 1992. Teknologi Benih. Jakarta : Rinneka Cipta Saputra.

Kuswanto, H., 1994. Produksi dan Distribusi Benih. Malang : Forum komunikasi dan antar peminat dan ahli benih.

Qamara, W., dan A, Setiawan S. 1995. Produksi Benih. Jakarta : Bumi Aksara.

Referensi

Dokumen terkait

Penduduk Berumur 15 Tahun Ke Atas Menurut Provinsi dan Bukan Angkatan Kerja (Lainnya) Selama Seminggu yang Lalu, 2000-20121. Sumber : BPS, Data diolah dari

Indonesia memiliki 60 % keanekaragaman fauna dunia termasuk ayam lokal. Ayam lokal merupakan ternak unggas andalan yang mempunyai potensi tinggi dalam menyambung ketersediaan

Berdasarkan perhitungan maka dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh positif dan signifikan Fasilitas perpustakaan dan kualiatas media pembelajaran secara

Melakukan pemeriksaan selama kehamilan (pemeriksaan ANC) sesuai ketentuan pada satu Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (minimal 4 kali pemeriksaan pada

Based on from the researches above and supported by this research, the researcher concludes that there is a slightly significant difference of the comparison

Asam humat berstruktur amorf, setelah proses adsorpsi ion Au(III) muncul puncak karakteristik dari logam emas di daerah 2 q 38, 44, dan 64 pada difraktogram sinar X menunjukkan

Pada tahap implementasi, respon output HEV menggunakan kontroler Neuro-Fuzzy tanpa model prediksi dan respon output HEV menggunakan kontroler Neuro-Fuzzy dengan

1) Langkah-langkah menerapkan metode eksperimen melukis pada media telanan yaitu pertama siswa memutuskan objek yang akan dilukis lalu guru menjelaskan cara memilih