NOTA PEMBELAAN (PLEIDOOI) Atas nama Terdakwa: ANAS URBANINGRUM
Perkara Pidana No.55/PID.SUS/TPK/2014/PN.JKT.PST Diajukan oleh Tim Penasihat Hukum:
Prof. DR. Adnan Buyung Nasution Pia A.R. Akbar-Nasution, S.H., LL.M.
M Sadly Hasibuan, S.H. Indra Nathan Kusnadi, S.H.,M.H.
Marlon E. Tobing, S.H.
Aryo Herwibowo,S.T., S.H., MMSI. Firman Wijaya, S.H., M.H. Tina Haryaningsih, S.H., M.H.
Asmar Oemar Saleh, S.H. Arief Patramijaya, S.H., LL.M.
Handika H., S.H.
Abdul Gani Latar, S.H., M.H. Slamet Triyanto, S.H. Deny Hariyatna, S.H., M.H. Hindun Anisah, S.AG., M.A.
Di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta
Jakarta, 18 September 2014
Majelis Hakim yang mulia, dan
Penuntut Umum yang kami hormati.
telah berkenan memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada para pihak untuk melakukan tanya jawab secara leluasa kepada Saksi, Ahli maupun Terdakwa. Bahkan Majelis Hakim pun secara aktif dan kritis mengajukan berbagai pertanyaan kepada Saksi, Ahli maupun Terdakwa, guna mencari dan menemukan kebenaran materiil yang menjadi tujuan dari persidangan perkara ini sehingga dapat dicapai keadilan.
Kami juga mengucapkan terima kasih kepada Penuntut Umum yang telah menjalankan tugasnya secara wajar dan kooperatif, sehingga persidangan ini dapat berjalan dengan lancar, tanpa ada ketegangan yang berpotensi merusak suasana dan jalannya proses persidangan perkara ini.
Selain itu kami juga mengucapkan terima kasih kepada panitera pengganti yang telah bekerja sama dengan kami dalam setiap persiapan pelaksanaan persidangan maupun membuat notulensi persidangan secara baik dan lengkap. Dan tidak lupa terima kasih kepada rekan-rekan pers, baik media cetak,media online dan media elektronik yang selalu setia meliput proses persidangan ini sejak pagi hari dan tidak jarang hingga dini hari. Begitu pula denganmasyarakat yang setia, tekun, dan tertib menghadiri persidangan perkara ini, sehingga turut membantu kelancaran dan ketenteraman jalannya proses persidangan perkara ini.
Kini sampailah kita pada agenda persidangan yaitu pembacaan Nota Pembelaan (Pleidooi), yang pada dasarnya mengekspresikan pendapat dan kesimpulan kami terhadap seluruh proses persidangan, baik yang menyangkut fakta-fakta (question of facts) maupun yang terkait analisa hukum terhadap fakta-fakta tersebut (question of law), yang selengkapnya akan termuat dalam nota pembelaan ini.
Majelis Hakim yang mulia, dan
Penuntut Umum yang kami hormati.
Bahwa Terdakwa telah didakwa oleh Penuntut Umum melakukan tindak pidana sebagaimana tersebut dalam Surat Dakwaan yang disusun secara kumulatif, yaitu:
”Melanggar: Pasal 12 huruf a jo. Pasal 18 Undang-undang Republik Indonesia Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2001 tentang Perubahan Atas Undang-undang Republik Indonesia Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (selanjutnya disebut ”UU Tipikor”)” DAKWAAN KESATU SUBSIDAIR
”Melanggar: Pasal 11 jo. Pasal 18 UU Tipikor jo. Pasal 64 ayat (1) KUHP.”
DAKWAAN KEDUA
”Melanggar: Pasal 3 Undang-undang Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang jo. Pasal 65 ayat (1) KUHP”
DAKWAAN KETIGA
“Melanggar: Pasal 3 ayat (1) huruf c Undang-undang Republik Indonesia Nomor 15 Tahun 2002 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 2003 tentang Perubahan Atas Undang-undang No.15 Tahun 2002 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang (selanjutnya disebut “UU No 15/2002 jo. UU No 25/2003”)
(i). Menjatuhkan pidana penjara terhadap Terdakwa selama 15 (lima belas) tahun dan ditambah dengan pidana denda sebesar Rp. 500.000.000,- (lima ratus juta Rupiah) subsidair selama 5 (lima) bulan kurungan;
(ii). Menghukum Terdakwa membayar uang pengganti kerugian Negara yang jumlahnya sebanyak-banyaknya sama dengan harta benda yang diperoleh dari tindak pidana korupsi in casu sebsar Rp. 94.180.050.000,-(sembilan puluh empat milyar seratus delapan puluh juta lima puluh ribu Rupiah), dengan ketentuan apabila Terdakwa tidak membayar uang pengganti dalam waktu 1 (satu) bulan sesudah putusan pengadilan memperoleh kekuatan hokum tetap, maka harta bendanya akan disita oleh Jaksa Penuntut Umum dan dapat dilelang untuk menutupi uang pengganti tersebut dan dalam hal tidak mempunyai harta benda yang mencukupi untuk membayar uang pengganti tersebut, maka dipidana dengan Pidana Penjara selama 4 (empat) tahun.
(iii). Menjatuhkan hukuman tambahan kepada Terdakwa berupa pencabutan hak untuk dipilih dalam jabatan public.
(iv) Menjatuhkan pidana tambahan berupa pencabutan Ijin Usaha Pertambangan (IUP) atas nama PT Arina Kota Jaya berdasarkan Keputusan Bupati Kutai Timur Nomor: 540.1/ K.237/HK/III/2010 tentang Persetujuan Izin Usaha Pertambangan (IUP) Eksplorasi kepada PT Arina Kota Jaya tanggal 26 Maret 2010.
Bahwa terhadap Dakwaan dan Tuntutan Penuntut Umum tersebut, kami selaku Penasihat Hukum Terdakwa menyatakan MENOLAK seluruh dalil-dalil Penuntut Umum dan oleh karenanya kami akan membacakan Nota Pembelaan (Pleidooi) yang akan menguraikan dan menjelaskan secara terang benderang mengenai alasan penolakan kami tersebut. Oleh karena itu, sistematika Nota Pembelaan (Pleidooi) ini kami susun sebagai berikut:
I. Pendahuluan;
II. Fakta-fakta Persidangan dan Analisa Fakta;
IV. Kesimpulan dan Permohonan.
I. PENDAHULUAN
TABIR HAMBALANG TERSINGKAP:
Pembelaan Bagi Seorang Mantan Ketua Umum Partai Terbesar Di Indonesia
Majelis Hakim yang mulia,
PLEDOI ini kami mulai dengan sebuah harapan kepada majelis hakim yang mulia agar memutuskan perkara ini dengan penuh kebijaksanaan, kearifan dan senantiasa berkiblat kepada rasa keadilan dan hati nurani kemanusiaan. Kami berharap pula, majelis hakim secara teliti mempelajari mengkaji dan mempertimbangkan semua fakta-fakta persidangan berikut keterangan-keterangan saksi-saksi, ahli-ahli dan alat bukti yang ada, dan melihat semuanya dalam kerangka berpikir bahwa putusan yang dibuat nantinya adalah putusan yang memenuhi rasa keadilan, karena amanat yang Maha Kuasa kepada para hakim adalah melahirkan putusan yang adil, karena hakim adalah juru bicara keadilan, lebih daripada juru bicara hukum.
Majelis Hakim yang kami muliakan,
Saudara penuntut umum yang terhormat, dan Rekan-rekan pers yang kami hormati
“Dihukumnya seseorang yang tak bersalah merupakan urusan semua orang yang berpikir.” Begitu kata Filsuf Prancis, La Bruyerre. Kita memang harus berpikir mengapa di era demokratis yang menjunjung tinggi rule of law dan supremasi hukum, masih kita temui seseorang yang harus diadili untuk kejahatan yang tidak dilakukannya. Kita juga masih menemukan pengadilan politik dengan bungkus hukum.
Intervensi politik dalam kasus hukum memiliki sejarah panjang di negeri ini. Sejak masa penjajahan, politisasi kasus dan pemenjaraan politisi yang tidak disukai oleh penguasa jamak terjadi. Lewat tangan hukum, penguasa yang merasa terancam kepemimpinan ataupun pemerintahannya membuat lawan-lawan politiknya berhadapan dengan hukum, dengan cara rekayasa dan manipulasi. Kasus hukum menjadi cara paling ampuh untuk membungkam, menyingkirkan lawan politik bahkan mematikan karier politiknya.
hukum dan pengadilan seringkali tunduk pada kehendak penguasa. Politisasi hukum dilakukan secara sangat terencana untuk membungkam, menghambat, sampai mematikan perjuangan atau karier politik seseorang yang dianggap dapat mengancam eksistensi penguasa. Kepolisian, kejaksaan, pengadilan, rumah tahanan kerapkali menjadi instrumen bagi penguasa untuk melanggengkan kekuasaan politiknya.
Apakah KPK juga bisa jadi instrumen kekuasaan politik? Bisa ”ya” dan bisa juga ”tidak”. Tapi yang paling bisa membuktikannya adalah sejarah. Lewat sejarah nanti kita akan tahu apakah penegak hukum di dalam KPK bebas dari kepentingan dan intervensi politik, atau mereka sesungguhnya memainkan misi-misi politik tertentu sesuai ”pesanan” penguasa. Atau terlalu dini jika menyebut kekuasaan politik saat ini tak bisa menjangkau KPK. Marilah kita tunda sementara ambisi untuk mengatakan dengan dada membusung bahwa KPK independen dan tak tersentuh politik kekuasaan. Biarkan sejarah berjalan dan dari situ kita akan peroleh jawaban yang sesungguhnya.
Majelis Hakim yang kami muliakan,
Saudara penuntut umum yang terhormat, dan Rekan-rekan pers yang kami hormati
Kami ingin mengajak kembali sejenak ke suatu masa. Ke momen-momen krusial yang mengantarkan kami berdiri di sini mendampingi klien kami Anas Urbaningrum.
Momen pertama adalah hari-hari dramatis di bulan Juli 2011. Seorang politisi sekaligus pengusaha muncul lewat skype dalam pelariannya di luar negeri. Nazaruddin, nama politisi itu, menyebut nama klien kami, Anas Urbaningrum, dalam sejumlah kasus korupsi. Beberapa nama lain disebutnya. Tapi ia siapkan bombardemen khusus untuk menyerang Anas Urbaningrum lewat ucapan-ucapannya yang penuh amarah dan dendam yang kami tidak pernah paham mengapa ia bersikap begitu.
Lalu nama Anas Urbaningrum dikaitkan dalam penyelidikan proyek pembangunan sarana olahraga di Hambalang, Bogor. Tuduhan ini yang kemudian terus direproduksi untuk menjerat klien kami. Dan seperti sering terjadi, tanpa verifikasi dan investigasi lebih lanjut, hampir tiap hari nama klien kami, bahkan istrinya, disebut-sebut melakukan korupsi, yang mana berulang kali klien kami tegaskan: “tak serupiah pun Anas mengkorupsi dana Hambalang.”
Peristiwa kedua adalah bocornya surat perintah penyidikan (sprindik) atas nama klien kami, Anas Urbningrum. Peristiwa itu terjadi pada tanggal
8 Februari 2013. Komite Etik KPK telah mengumumkan bahwa pelaku pembocoran sprindik adalah Sekretaris Pribadi (Sespri) Ketua KPK Abraham Samad, bernama Wiwin Suwandi. Komite Etik memutuskan Ketua KPK Abraham Samad dan Wakil Ketua KPK Adnan Pandu Praja terbukti bersalah melakukan pelanggaran kode etik.
Kronologi bocornya sprindik itu juga penuh drama. Pada tanggal
7 Februari 2013 tiga pimpinan KPK Zulkarnain, Abraham Samad dan Adnan Pandu Praja menandatangani sprindik atas nama klien kami, Anas Urbanigrum dalam kasus Hambalang. Oleh Wiwin Suwandi sprindik itu kemudian di fotocopy di ruangannya di Gedung KPK.
Esok harinya, tanggal 8 Februari 2013, Adnan Pandu Praja mencabut paraf persetujuan atas sprindik yang sebelumnya telah disetujuinya. Tetapi Wiwin Suwandi justru mengabarkan status tersangka klien kami kepada seorang pakar hukum tata negara sembari mengutip kata-kata Abraham Samad: "Jangan sebut namaku dulu soalnya kami yang ambil alih kasus ini supaya bisa jalan, kami pakai kekerasan sedikit, makanya kami tidak mau tambah runyam." Tak berhenti disitu, Wiwin kemudian membocorkan sprindik itu kepada reporter TvOne, serta menyebarkan foto dokumen sprindik itu ke wartawan Tempo dan Media Indonesia.
Pembina Partai Demokrat mengeluhkan tentang status hukum beberapa kader Demokrat yang menggantung, sehingga mempengaruhi kepercayaan publik terhadap partai. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono minta KPK segera memperjelas status hukum klien kami yang waktu itu masih sebagai Ketua Umum Partai Demokrat.
Ini tentu saja bias dan tidak bijak karena Presiden Susilo Bambang Yudhoyono hanya berbicara satu kasus saja dari sekian banyak kasus yang menjerat kader partainya ataupun pejabat dalam kabinetnya. Susilo Bambang Yudhoyono mestinya memposisikan dirinya sebagai kepala negara ketika berbicara soal kasus korupsi. Tidak elok didengar dan dilihat dalam kapasitas sebagai kepala negara berbicara soal kasus yang menimpa klien kami, yang saat itu menjabat Ketua Umum Partai Demokrat. Kalau pun bicara sebagai presiden, ia tidak bisa bicara khusus. Sebab, ketika ia membahas Anas secara khusus, tentu secara langsung maupun tidak langsung sama saja memberi tekanan terhadap KPK, sebuah intervensi terhadap KPK.
Drama itu berakhir dengan penyampaian delapan solusi yang disebut sebagai langkah penyelamatan partai oleh Ketua Dewan Pembina yang juga Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono. Delapan solusi tersebut dihasilkan dalam rapat Majelis Tinggi yang dihadiri pula oleh Ketua Fraksi Partai Demokrat di DPR dan menteri-menteri yang berasal dari Partai Demokrat.
Di antara isi delapan solusi Majelis Tinggi itu adalah pengambilalihan kepemimpinan Partai Demokrat dari tangan Anas Urbaningrum, klien kami. Kemudian, Susilo Bambang Yudhoyono minta Anas Urbaningrum fokus menghadapi masalah dugaan hukum di KPK dengan dalih menyelamatkan Partai Demokrat. Seolah-olah Anas Urbaningrum telah menghancurkan dan menenggelamkan Partai Demokrat. Padahal saat itu Anas Urbaningrum belum berstatus tersangka.
terjadi pada tanggal 22 Februari 2013. Dalam surat penyidikan, Anas Urbaningrum disebut melanggar pasal 12 a dan b atau pasal 11 Undang-undang No. 31 tahun 1999 tentang tindak pidana korupsi.
KPK menyimpulkan bahwa klien kami diduga menerima sesuatu berkaitan dengan janji yang berkaitan dengan tugas dan wewenang kala menjabat sebagai anggota DPR. Surat perintah penyidikan ditandatangani oleh satu dari lima pimpinan KPK, yaitu Bambang Widjojanto.
Kami berkeyakinan, berdasarkan apa yang kami lihat, dengar, dan analisis Presiden Susilo Bambang Yudhoyono secara langsung atau tidak langsung punya peran untuk mendorong masalah politik internal Partai Demokrat menjadi masalah hukum di KPK. Pidato politik dan hukum yang dilakukan di Jeddah, Arab Saudi, jelas merupakan tekanan dan intervensi dalam proses hukum klien kami. Jangan lupa, Presiden dalam sistem pemerintahan dan ketatanegaraan kita adalah Kepala Negara tapi juga sekaligus Kepala Pemerintahan, sehingga titahnya pasti didengar dan dilaksanakan.
Proses pengambilalihan kewenangan Anas Urbaningrum sebagai Ketua Umum Partai Demokrat dan perintahnya agar Anas Urbaningrum berkonsentrasi menghadapi masalah hukum adalah penggiringan politik yang nyata bersamaan dengan saat-saat krusial penetapan Anas Urbaningrum menjadi tersangka. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan para pembantunya tidak bisa membantah fakta-fakta itu. Pernyataan dan analisis dapat dibantah, tapi apakah fakta bisa dibantah dan disembunyikan?
Majelis Hakim yang mulia,
Saudara penuntut umum yang terhormat, dan Rekan rekan pers yang kami hormati.
pernyataan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Jeddah yang meminta KPK untuk segera memperjelas status Anas Urbaningrum lantaran namanya kerap disebut terlibat korupsi. KPK, demi independensinya,sebenarnya dan seharusnya menolak perintah-perintah seperti itu, meski dari Presiden sekalipun.
Aroma politik memang tercium pekat dalam kasus Hambalang ini. Bocornya dokumen yang diduga sebagai surat perintah penyidikan (sprindik) atas nama Anas Urbaningrum milik KPK ke publik membuktikan dengan jelas bau politik dalam kasus klien kami ini. Kasus Anas Urbaningrum ini akan menjadi catatan hitam bagi KPK, seperti halnya kasus-kasus politik di jaman ORLA; kasus Lie Hok Thay, kasus Piet De Quelyu dan di jaman ORBA; kasus Jenderal HR Dharsono, kasus Buku Putih mahasiswa ITB dan lain sebagainya.
Kebocoran draft sprindik tersebut menjadi catatan hitam bagi KPK sebab untuk pertama kalinya dokumen resmi KPK bocor dan beredar luas. Terlebih, kebocoran sprindik itu seolah menegaskan ada kongkalikong oknum di dalam KPK dengan pihak lain (mungkin jurnalis, politisi, atau pejabat negara) untuk membocorkan informasi-informasi yang selayaknya belum menjadi konsumsi publik.
Majelis Hakim yang mulia,
Saudara penuntut umum yang terhormat, dan Rekan-rekan pers yang kami hormati.
Selanjutnya, dibawah ini akan kami uraikan berbagai anomali ataupun kejanggalan-kejanggalan untuk tidak dikatakan kesalahan-kesalahan dalam penuntutan Perkara ini, yang sekaligus sebagai tanggapan terhadap uraian Penuntut Umum pada bagian Pendahuluan, halaman 1-11 Surat Tuntutannya.
Penahanan mengandung frasa “proyek-proyek lainnya”, sehingga mengandung pengertian yang sangat luas, abstrak dan akibatnya tidak dapat dimengerti oleh Terdakwa. Surat Panggilan dan Surat Perintah Penahanan tersebut melanggar ketentuan hukum yang dimuat dalam Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP), dengan penjelasan sebagai berikut: Bahwa penetapan seseorang menjadi tersangka tidak dapat dipisahkan dari 2 (dua) proses hukum sebelum dan sesudah yang bersangkutan ditetapkan sebagai tersangka, yakni :
1. Proses penyelidikan sebelum seseorang ditetapkan menjadi tersangka (vide Pasal 1 angka 5 jo. Pasal 102 KUHAP); dan
2. Proses pemeriksaan dipersidangan dimana tersangka dituntut, diperiksa dan diadili di sidang pengadilan (vide Pasal 1 angka 14 jo. Pasal 1 angka 15 KUHAP) dengan menjamin hak tersangka untuk diberi-tahukan dengan jelas dalam bahasa yang di-mengerti olehnya tentang apa yang disangkakan kepadanya pada waktu pemeriksaan dimulai (vide Pasal 51 huruf a KUHAP).
a. Bahwa KUHAP amat tegas memberikan definisi tersangka. Dalam Pasal 1 angka 14 KUHAP diny-atakan tersangka adalah seseorang yang karena perbuatannya atau keadaannya berdasarkan bukti permulaan patut diduga sebagai pelaku tindak pi-dana. Bukti permulaan dalam pengertian ini meru-juk pada proses penyelidikan dengan tujuan men-cari dan menemukan suatu peristiwa yang diduga sebagai tindak pidana.
b. Bahwa dicantumkannya frasa “dan atau” dan “proyek-proyek lainnya” menunjukkan adanya keragu-raguan KPK, sehingga terkesan “memaksakan” agar Klien kami dapat dijerat secara pidana.
“due process of law”, kepastian hukum dan hak asasi manusia.
2. Metode klarifkasi saksi oleh Penuntut Umum telah melanggar asas “due process of law”
Bahwa Penuntut Umum pada halaman 3 Surat Tuntutannya pada pokoknya mengkritisi metode klarifikasi keterangan saksi-saksi yang dilakukan Penasihat Hukum dan Terdakwa. Menurut Penuntut Umum, Terdakwa dan Penasihat Hukum bertanya kepada saksi dengan terlebih dahulu memberikan deskripsi atas keterangan saksi dalam BAP yang belum dihadirkan sebagai saksi di persidangan dan Terdakwa beserta Penasihat Hukum membangun model klarifikasi dengan pertanyaan yang sudah pernah diajukan oleh Penuntut Umum, Majelis Hakim bahkan oleh Terdakwa maupun Penasihat Hukum lainnya. Lebih lanjut, Penuntut Umum memandang model klarifikasi yang dilakukan oleh Terdakwa dan Penasihat Hukum sebagai sebuah penyesatan fakta.
yang harus diklarifikasi atau dicari kebenarannya dari saksi-saksi yang namanya disebutkan tersebut. Selanjutnya apabila Penasihat Hukum dan Terdakwa dikatakan membangun metode bertanya yang mengulang-ngulang, hal tersebut semata-mata dikarenakan Penasihat Hukum dan Terdakwa mempunyai sudut pandang yang berbeda dengan Penuntut Umum maupun Majelis Hakim. Hal demikian tidaklah dapat disimpulkan sebagai suatu upaya untuk menyesatkan fakta.
Bahwa upaya untuk menyesatkan fakta justru kerap kali dilakukan oleh Penuntut Umum dalam melakukan metode klarifikasi kepada saksi-saksi, antara lain: Penuntut Umum kerap kali meminta klarifikasi saksi atas pendapat atau jalan pikiran Penuntut Umum sendiri atau setidak-tidaknya memberikan pertanyaan mengenai pendapat kepada saksi fakta. Di samping itu Penuntut Umum kerap kali memberikan pertanyaan terhadap suatu hal yang tidak dialami, dirasa dan didengar langsung oleh saksi yang bersangkutan (“hear say”), khususnya keterangan-keterangan yang hanya didengar saksi dari Muhammad Nazaruddin. Tentunya Penuntut Umum tidak lupa atas beberapa keberatan Penasihat Hukum maupun teguran dari Majelis Hakim mengenai hal tersebut. Cara atau metode yang dilakukan Penuntut Umum sudah barang tentu merugikan Terdakwa maupun Penasihat Hukum dan merupakan pelanggaran terhadap asas “due process of law”.
3. Surat Tuntutan Penuntut Umum justru dibentuk melalui persepsi dan asumsi belaka
Bahwa Penuntut Umum pada halaman 4 Surat Tuntutannya pada pokoknya menyatakan Penasihat Hukum dan Terdakwa terjebak dalam upaya membangun persepsi daripada upaya membangun keyakinan.
dalam persidangan telah dibantah oleh seluruh saksi-saksi yang lain. Di samping itu, keterangan saksi-saksi-saksi-saksi lain hanya digunakan secara sepotong-potong, atau dengan kata lain Penuntut Umum memotong keterangan saksi-saksi tersebut dan hanya menggunakan potongan keterangan tertentu yang menguntungkan dakwaan Penuntut Umum kepada Terdakwa.
Bahwa berdasarkan pemeriksaan dalam persidangan, telah terlihat begitu banyaknya keterangan saksi-saksi yang telah membantah dalil-dalil Penuntut Umum yang diuraikan dalam Surat Dakwaan (selengkapnya akan kami uraikan pada bagian analisa fakta). Hal ini memunculkan pertanyaan dalam benak kami, darimana Penuntut Umum memperoleh keyakinan, sementara saksi-saksi atau sebagian besar saksi (apabila tidak dapat disebutkan seluruhnya) justru telah membantah dalil-dalil Penuntut Umum. Apalagi Penuntut Umum dalam Surat Tuntutannya tetap mempertahankan dalil-dalilnya dalam Surat Dakwaan dan selanjutnya menuntut Terdakwa dengan tuntutan yang “bombastis”. Apabila demikian, tidak perlu lagi ada persidangan dan seluruh waktu dan kesempatan yang telah dibuka seluas-luasnya oleh Majelis Hakim untuk mencari kebenaran materiil menjadi sia-sia.
4. Surat Tuntutan Penuntut Umum disusun hanya berdasarkan keterangan Muhammad Nazaruddin Bahwa Penuntut Umum pada halaman 5 Surat Tuntutannya pada pokoknya menguraikan secara panjang lebar mengenai kualitas keterangan Muhammad Nazaruddin. Menurut Penuntut Umum, keterangan Muhammad Nazaruddin telah terbukti beberapa kali membangun keyakinan hakim untuk menjatuhkan putusannya, antara lain dalam perkara Angelina Patricia Pinkan Sondakh, Mindo Rosalina Manullang, Wafid Muharam, Teuku Bagus Muhammad Noor dan Andi Malaranggeng.
dengan perkara-perkara lain yang disebutkan di atas, karena bukan perkara yang sama. Perkara Angelina Patricia Pinkan Sondakh adalah perkara mengenai Wisma Atlit, dimana dalam perkara tersebut sama sekali tidak ada keterlibatan atau peran Terdakwa. Sedangkan perkara Mindo Rosalina Manullang , Wafid Muharam, Teuku Bagus Muhammad Noor dan Andi Malaranggeng adalah perkara proyek Hambalang, dimana dalam persidangan ini telah terungkap fakta bahwa Terdakwa sama sekali tidak mempunyai peran apapun maupun keterlibatan dalam korupsi proyek Hambalang (selengkapnya akan kami uraikan lebih lanjut pada bagian analisa fakta). Yang didakwakan kepada Terdakwa dalam perkara ini adalah penerimaan dana-dana dan mobil Toyota Harrier yang menurut Surat Dakwaan dan Surat Tuntutan diterima oleh Terdakwa -quod non-. Perkara ini sudah barang tentu berbeda dengan perkara korupsi proyek Hambalang.
Bahwa seperti telah kami uraikan pada butir 3 di atas, keterangan Muhammad Nazaruddin telah dibantah dalam persidangan oleh saksi-saksi lain yang dihadirkan dalam persidangan. Terlebih dalil Penuntut Umum pada halaman 6 Surat Tuntutan, yang menyatakan “berdasarkan fakta persidangan justru terungkap bahwa pelariannya ke luar negeri adalah atas perintah dari Terdakwa Anas Urbaningrum”. Dalil tersebut telah menggambarkan secara jelas bagaimana Penuntut Umum hanya menggunakan keterangan Muhammad Nazaruddin saja dan mengabaikan keterangan saksi-saksi lain yang telah memberikan keterangan yang membantah keterangan tersebut dalam persidangan. Dalam persidangan, saksi Nuril Anwar, saksi Yulianis, saksi Oktarina Furi, saksi Mindo Rosalina Manulang, saksi Eva Ompita Soraya, saksi Wahyudi Utomo alias Iwan, saksi Clara Maureen telah secara tegas membantah keterangan saksi Muhammad Nazaruddin yang menyatakan pelariannya ke luar negeri merupakan perintah Terdakwa.
sebagai orang terdekat Terdakwa yang dapat membahasakan bahasa simbol yang disampaikan Terdakwa. Apalagi dikaitkan dengan pembagian prosentase fee dan jatah partai sehubungan dengan proyek-proyek yang bersumber dari dana optimalisasi Kementerian Pendidikan Nasional. Saksi Angelina Patricia Sondakh dalam persidangan pada tanggal 14 Agustus 2014 benar menguraikan fakta prosentase fee dan pembagian jatah partai, namun ia sama sekali tidak pernah menjelaskan adanya bahasa simbol yang disampaikan Terdakwa dan dibahasakan oleh saksi Muhammad Nazaruddin. Penuntut Umum dalam hal ini ternyata telah bersikap mengada-ada.
5. Dalil Penuntut Umum mengenai Keterikatan Psikologis Saksi dan Terdakwa merupakan dalil fatamorgana
Bahwa Penuntut Umum pada halaman 8 Surat Tuntutannya pada pokoknya menyatakan tidak sedikit saksi yang memiliki keterikatan psikologis dengan Terdakwa sehingga validitas keterangannya diragukan. Bahwa Dalil Penuntut Umum tersebut di atas sekali lagi menggambarkan begitu besarnya semangat “menghukum” Penuntut Umum dalam perkara ini dibandingkan dengan semangat untuk mencari kebenaran. Namun demikian, Penunut Umum sama sekali tidak menyebutkan saksi-saksi manakah yang diragukan validitas keterangannya. Hal ini menunjukkan Penuntut Umum sama sekali tidak dapat membuktikan pernyataan atau keraguan atas validitas keterangan saksi-saksi tersebut.
dalam persidangan, Penuntut Umum selalu memulai dengan pertanyaan: “apakah saksi telah memberikan keterangan dalam BAP”, “apakah keterangan dalam BAP tersebut sudah benar” dan “apakah saksi dipaksa atau ditekan dalam memberikan keterangan”. Namun setelah keterangan saksi dalam persidangan ternyata justru membantah dalil dakwaan Penuntut Umum, sungguh tidak adil dan bertentangan dengan asas “due process of law” apabila Penuntut Umum menyatakan meragukan keterangan saksi-saksi tersebut dan selanjutnya mengesampingkannya dalam membuat Surat Tuntutan. Terjadinya hal ini memunculkan pertanyaan; untuk apa persidangan ini dilakukan?Kalau keterangan saksi-saksi yang tidak menguntungkan dakwaan Penuntut Umum kemudian diragukan dan dikesampingkan dalam Surat Tuntutan, bukankah tujuan persidangan adalah untuk mencari kebenaran materiil.
Di samping itu pernyataan Penuntut Umum yang meragukan validitas keterangan saksi karena adanya kedekatan psikologis, sama sekali tidak berdasarkan bukti-bukti. Dengan kata lain Penuntut Umum hanya membuat asumsi belaka.
6. Manipulasi hukum dan tebang pilih dalam Penyidikan dan Penuntutan Perkara yang melanggar asas The Due Process of Law dan Negara Hukum
tidak dijerat dengan permasalahan hukum yang sama? Dalam persidangan ini, para peserta kongres yang hadir saat itu menyampaikan bahwa mereka memperoleh aliran dana dari tim sukses kandidat Ketua Umum lainnya, bahkan untuk mendapatkan keuntungan pribadi ada saksi yang menerangkan mereka pun mendapatkan aliran dana dari seluruh tim sukses kandidat Ketua Umum Partai Demokrat yang ada saat itu. Dalam permasalahan hukum yang menjerat mantan Menpora Andi Malarangeng, yang bersangkutan sama sekali tidak dihubungkan dengan permasalahan dana yang mengalir dalam kongres tersebut. Bahkan kandidat Ketua Umum Partai Demokrat saat itu, Marzuki Ali, sama sekali tidak tersentuh permasalahan hukum. Lalu timbul pertanyaan, mengapa Anas Urbaningrum saja yang dihadapkan kemuka hukum dengan tuduhan adanya aliran dana kepada para anggota kongres partai Demokrat? Pada titik ini lah kami merasakan ada nuansa tebang pilih dalam penegakan hukum.
Selain itu, untuk dapat mendudukkan klien kami menjadi tersangka dalam perkara ini, penyidik KPK telah mengumpulkan 250 lebih orang saksi. Merupakan hal yang sangat luar biasa dalam upaya pengungkapan peristiwa pidana dengan saksi yang begitu banyak. Secara hukum, seseorang dapat dijadikan tersangka atas adanya dugaan tindak pidana, cukup dengan adanya 2 alat bukti permulaan yang cukup. Begitu pula untuk menghukum seseorang, Majelis Hakim cukup mendasarkan pada 2 alat bukti yang saling mendukung satu dengan yang lainnya, yang membuktikan adanya suatu tindak pidana.
keterangan saksi-saksi yang dihadirkan dalam persidangan. Keterangan saksi satu dengan yang lainnya tidak sinkron bahkan bertentangan. Ibarat sebuah puzzle, banyak bagian yang hilang dan terputus-putus untuk dapat membuktikan suatu peristiwa hukum ataupun suatu cerita karangan. Hal yang paling menyentuh adalah tidak sedikit saksi yang mengakui dimuka persidangan bahwa dirinya merasa takut pada saat diperiksa oleh KPK, karena diancam Muhammad Nazaruddin sehingga memberikan keterangan yang berbeda pada saat dimuka persidangan.
Apakah kemudian berdasarkan fakta-fakta yang telah berubah dan fakta-fakta yang tidak lengkap tersebut dapat membuktikan kesalahan Terdakwa? Momen pembacaan tuntutan Penuntut Umum menjawab segalanya. Surat tuntutan sebanyak 1.791halaman yang dibacakan dengan lantang dimuka persidangan membuat kami tercengang. Dalam tuntutannya seolah Penuntut Umum menutup mata atas fakta-fakta persidangan. Sempat terbersit dibenak kami, untuk apa kita bersidang apabila Penuntut Umum dengan kacamata kuda berpaku pada Berita Acara Pemeriksaan dan surat dakwaan. Berdasarkan fakta ini lah kami menilai Penuntut Umum mempunyai semangat menghukum yang sangat tinggi. Ditambah lagi dengan tuntutan 15 tahun dan pembayaran sejumlah uang yang jumlahnya sangat bombastis. Apakah ini yang dinamakan semangat pemberantasan korupsi dengan mengedepankan rasa keadilan?
Majelis Hakim yang mulia,
Saudara penuntut umum yang terhormat, dan Rekan-rekan pers yang kami hormati.
Kita tahu bahwa di negeri ini fitnah dan gosip politik mudah sekali tersebar. Kebenaran kerapkali sengaja disembunyikan. Media massa barangkali lebih senang fokus pada bombastisnya berita, dan lantas menyebarluaskannya. Tak banyak yang mau sungguh-sungguh mencari tahu kebenaran berita itu.
yang tak punya bukti kuat disebarluaskan secara massif dan sistematis. Fitnah seperti itu ampuh membunuh karakter, mematikan karier serta masa depan seseorang. Dan yang lebih penting lagi, fitnah itu menghancurkan kehidupan keluarga dan anak-anak orang yang difitnahnya. Ironis jika banyak yang tidak mau tahu dan acuh saja pada itu semua. Klien kami memang bukan orang suci. Lazimnya manusia lainnya, ia juga punya salah dan khilaf. Tapi klien kami tidak akan diam pada fitnah yang memang tak pernah diperbuatnya.
II. FAKTA PERSIDANGAN DAN ANALISA FAKTA Majelis Hakim yang kami muliakan,
Penuntut Umum yang kami hormati,
Rekan-rekan pers dan masyarakat luas yang sangat kami hargai
II.1. Fakta Persidangan
Bahwa sesuai dengan ketentuan pasal 184 KUHAP, alat bukti yang sah terdiri dari: (i) keterangan saksi; (ii)
keterangan ahli; (iii)surat;
(iv) petunjuk; dan (v) keterangan terdakwa. a. Alat Bukti Keterangan saksi
Pasal 1 angka (27) KUHAP menyatakan bahwa : “Keterangan saksi adalahsalah satu alat bukti dalam perkara pidana yang berupa keterangan dari saksi mengenai suatu peristiwa pidana yang ia dengar sendiri, ia lihat sendiri dan ia alami sendiri dengan menyebut alasan dari pengetahuannya”.
persidangan perkara ini, baik saksia chargeyang dihadirkan oleh Penuntut Umummaupun saksi a de charge yang dihadirkan oleh Penasihat Hukum. Keterangan saksi-saksi tersebut kami lampirkan pada bagian akhir Nota Pembelaan ini (Lampiran-1 dan Lampiran-2).
Sedangkan keterangan-keterangan saksi a charge yang terdapat dalam berkas perkara sebanyak 258 orang, namun tidak dihadirkan Penuntut Umum dalam persidangan, maka keterangan yang terdapat dalam Berita Acara Pemeriksaan saksi-saksi tersebut tidak dapat dipergunakan dalam proses pembuktian perkara dengan dasar hukum sebagai berikut:
berdasarkan ketentuan Pasal 185 (1) KUHAP disebutkan “Keterangan saksi sebagai alat bukti ialah apa yang saksi nyatakan di sidang Pengadilan”
M. Karjadi dan R. Soesilo dalam bukunya yang berjudul “Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana dengan Penjelasan Resmi dan Komentar”, halaman 164, memberikan komentar terhadap ketentuan Pasal 185 ayat (1) KUHAP, sebagai berikut: “alat bukti keterangan saksi merupakan alat bukti yang terpenting. Keterangan yang diucapkan di muka polisi itu bukanlah kesaksian, lain halnya apabila keterangan itu diberikan pada pemeriksaan pendahuluan dengan disumpah terlebih dahulu, ditetapkan dalam berita acara yang dibacakan di muka sidang, oleh karena orangnya tidak datang”;
bukti keterangan saksi merupakan alat bukti yang paling utama dalam perkara pidana...”.
Berdasarkan uraian tersebut di atas, dikarenakan saksi-saksi tersebut tidak pernah dihadirkan dan disumpah di muka persidangan maupun keterangan yang diberikan dalam BAP tidak pernah dibacakan dimuka sidang, kami mohon kepada Majelis Hakim yang kami muliakan agar tidak mempergunakan sebagai alat bukti dan mengesampingkan seluruh keterangan saksi-saksi dalam BAP yang tidak dihadirkan Penuntut Umum dalam persidangan. b. Alat Bukti Keterangan Ahli
Sesuai dengan ketentuan pasal 1 angka (28) KUHAP, keterangan Ahli adalah “keterangan yang diberikan oleh seorang yang memiliki keahlian khusus tentang hal yang diperlukan untuk membuat terang suatu perkara guna kepentingan pemeriksaan”.
Bahwa keterangan ahli-ahli tersebut di atas, selengkapnyakami lampirkan pada bagian akhir Nota Pembelaan ini (Lampiran-3).
c. Alat Bukti Surat
Bahwa sebagaimana ketentuan pasal 186 KUHAP, alat bukti surat sebagaimana yang ditentukan dalam pasal 184 ayat (1) huruf c, adalah surat yang dibuat di atas sumpah atau dilakukan dengan sumpah yaitu:
i. berita acara dan surat lain dalam bentuk resmi yang dibuat oleh pejabat umum yang berwenang atau yang dibuat di hadapannya, yang memuat keterangan tentang kejadian atau keadaan yang didengar, dilihat atau yang dialaminya sendiri, disertai dengan alasan yang jelas dan tegas tentang keterangannya itu;
ii. surat yang dibuat menurut ketentuan perundang-undangan atau surat yang dibuat oleh pejabat mengenai hal yang termasuk dalam tata laksana yang menjadi tanggung jawabnya dan yang diperuntukkan bagi pembuktian sesuatu hal atau sesuatu keadaan; iii. surat keterangan dari seorang ahli yang
memuat pendapat berdasarkan keahliannya mengenai sesuatu hal atau sesuatu keadaan yang diminta secara resmi dari padanya;
iv. surat lain yang hanya dapat berlaku jika ada hubungannya dengan isi dari alat pembuktian yang lain.
d. Alat Bukti Petunjuk
menandakan bahwa telah terjadi suatu tindak pidana dan siapa pelakunya.
Dalam suatu perkara pidana, petunjuk tersebut hanya dapat diperoleh dari (i) keterangan saksi; (ii)surat; dan (iii) keterangan Terdakwa (vide pasal 188 ayat (2) KUHAP).
Berkenaan dengan hal tersebut, Penuntut Umum dalam Tuntutannya telah menjelaskan mengenai teori-teori alat bukti petunjuk menurut Hukum Acara Pidana. Namun demikian Penuntut Umum tidak menjelaskan secara lebih konkrit alat bukti petunjuk apa yang digunakan oleh Penuntut Umum dan dari mana Penuntut Umum mendapatkan alat bukti petunjuk tersebut untuk membuktikan unsur-unsur dalam dakwaan.
Bahwa Alat Bukti Petunjuk Penuntut Umum ini akan kami uraikan berdasarkan analisa dan pemahaman yuridis kami selaku Penasihat Hukum Terdakwa, sebagaimana dituangkan dalam Bagian III mengenai Analisa Yuridis Terhadap Tuntutan Penuntut Umum.
e. Alat Bukti Keterangan Terdakwa
Bahwa berdasarkan Pasal 189 ayat (1) KUHAP, yang dimaksud dengan keterangan terdakwa adalah apa yang terdakwa nyatakan di sidang tentang perbuatan yang ia lakukan atau ia ketahui sendiri atau alami sendiri.
Bahwa selengkapnya keterangan Terdakwa tersebut kami lampirkan pada bagian akhir Nota Pembelaan ini (Lampiran ...).
II.2. Analisa Fakta Persidangan Majelis Hakim Yang Kami Muliakan, Penuntut Umum yang kami hormati,
Berdasarkan seluruh uraian keterangan Saksi-Saksi, Ahli dan Terdakwa serta bukti-bukti surat dan petunjuk yang diajukan selama pemeriksaan di persidangan, apabila dianalisa dengan menghubungan alat bukti yang satu dengan yang lainnya, maka akan terungkap fakta-fakta persidangan yang semakin menjelaskan bahwa Surat Tuntutan Penuntut Umum tidak terbukti. Bahwa berdasarkan analisa kami, fakta-fakta hukum yang terungkap dalam persidangan yang selengkapnya adalah sebagai berikut:
A. Terkait Dakwaan Kesatu
1. Fakta bantahan terhadap dalil Penuntut Umum mengenai keinginan Terdakwa tampil menjadi Presiden R.I. dan penghimpunan kantong-kantong dana
a. Terdakwa bukan pemilik Anugrah Group yang kemudian berubah nama menjadi Permai Group
Fakta Kepemilikan dari PT Anugerah Nusantara
Bahwa dalam Dakwaan Penuntut Umum halaman 4, yang mendalilkan bahwa untuk menghimpun dana guna menyiapkan logistik, Terdakwa dan saksi Muhammad Nazarudin bergabung dalam Anugrah Group yang kemudian berubah nama menjadi Permai Group.
Bahwa dalil Penuntut Umum tersebut tidak benar. Berdasarkan fakta persidangan telah terungkap fakta-fakta sebagai berikut:
Group. Penamaan Anugrah Group dan Permai Group berawal dari pemberitaan media seputaran perkara Hambalang dan lainnya maka fakta yang sebenarnya adalah PT Anugrah Nusantara bukan Anu-grah Group.
(ii) Bahwa saksi Clara Mauren men-erangkan pernah menjabat sebagai manager marketing di PT Anugerah Nusantara, kemudian saksi Clara Mauren memberikan keterangan bahwa saksi tidak pernah melihat Terdakwa berkantor di PT Anugerah Group. Saksi Clara Mauren juga tidak melihat adanya ruang kerja Terdakwa di PT Anugrah Group maupun setelah berubah nama men-jadi Permai Group. Saksi tidak per-nah melihat Terdakwa mengikuti atau memimpin rapat perusahan di Anugrah Group maupun di Permai Group. Bahkan saksi menerangkan bahwa saksi mengetahui pemilik Anugrah Group dan Permai Group adalah saksi Muhammad Nazarud-din.
Ne-neng Sri Wahyuni. Saksi menjelaskan bahwa yang mempunyai wewenang atau otoritas dalam hal penerimaan karyawan, menentukan karier karyawan, jabatan karyawan dalam pe-rusahaan, dan menentukan gaji karyawan adalah saksi Muhamad Nazarudin dan saksi Neneng Sri Wahyuni.
(iii) Fakta Persidangan tanggal 18 Agus-tus 2014, saksi Dadiono mantan kurir di PT Anugrah Group, menegaskan bahwa pimpinan dari Anugrah Group adalah saksi Muhamad Nazarudin. (iv) Fakta persidangan tanggal 14 dan
18 Agustus 2014, saksi Yulianis man-tan wakil Direktur Keuangan Anugrah Group, menegaskan bahwa pimpinan Anugrah Group adalah saksi Muham-mad Nazaruddin. Saksi juga menje-laskan bahwa otoritas penggunaan keuangan Anugrah Group harus dise-tujui oleh saksi Yulianis, saksi Neneng Sri Wahyuni dan saksi Muhammad Nazaruddin.
(v) Fakta persidangan tanggal 14 Agustus 2014, saksi Oktarina Furi menjelaskan bahwa otoritas penggunaan keuan-ganan Anugrah Group harus disetujui oleh saksi Yulianis, saksi Neneng Sri Wahyuni dan saksi Muhamad Nazarudin.
Berdasarkan uraian fakta tersebut di atas, maka telah terungkap bahwa Terdakwa bukan sebagai pemilik maupun pimpinan dari PT Anugrah Group yang beralamat di Jl. KH Abdullah Syafii No 9, Tebet, Jakarta Selatan yang kemudian berubah nama menjadi
PT Permai Group setelah pindah kantor ke Tower Permai di Jl. Warung Buncit Raya No 27, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan. Bahwa Pemilik dan sekaligus Pimpinan dari PT Anugrah Group yang kemudian berubah nama menjadi PT Permai Group adalah saksi Muhammad Nazaruddin, hal ini sebagaimana diterangkan oleh mantan karyawan-karyawan Muhamad Nazarudin dalam fakta persidangan, bahkan saksi Clara Mauren menerangkan bahwa saksi Muhammad Nazaruddin ketika ditahan, masih bisa memimpin rapat-rapat perusahan dari dalam tahanan di Mako Brimob, lapas Cipinang bahkan lapas Sukamiskin di Bandung.
Fakta tentang kepengurusan PT Anugerah Nusantara
Bahwa berdasarkan dokumen dan informasi yang diperoleh Penasihat Hukum tentang struktur kepemilikan dan kepengurusan dari PT. Anugrah Nusantara dari Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia, terungkap secara jelas bahwa Terdakwa bukanlah sebagai Pemilik dan bukan juga sebagai Pengurus dari PT Anugrah Nusantara. Hal ini berdasarkan data pada Subdit Badan Hukum, Direktorat Perdata, Direktorat Jenderal Administrasi Hukum Umum pada Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia, sebagaimana diuraikan dibawah ini :
a. Nomor dan tanggal akta : 75; 25 Januari 1999
b. Notaris : H.Asman Yunus,SH SpN berkedudukan di Pekanbaru
c. Nomor dan Tanggal SK : C-12644 HT.01.01.TH.2001 tanggal 7 November 2001
d. Kedudukan : Pekanbaru e. Jangka waktu : 75 tahun
f. Maksud dan tujuan : Perdagangan, Pembangunan, Pengangkutan Darat, Perindustrian, Perbengkelan, Jasa, Per-tanian, Pertambangan, dan Percetakan. g. Modal Perseroan:
Modal Dasar : Rp. 2.000.000.000 terbagi atas 2000 saham, masing-masing saham bernilai Rp. 1.000.000. Modal Ditempatkan : 600 saham
atau Rp. 600.000.000
Modal disetor : Rp. 600.000.000 Susunan Pemegang Saham :
Muhammad Nazarudin : 330 saham
Drs. Ayub Khan : 90 saham
Muhammad Nasir : 60 saham
Muhammad Ali : 60
saham
Muhammad Yunus Rasyid, SH : 60 saham
Susunan Pengurus :
Direktur Utama : Muhammad Nazarudin
Komisaris Utama : Drs. Ayub Khan Komisaris : Muhammad Ali Komisaris : Muhammad Yunus Rasyid, SH
2. Perubahan Anggaran Dasar
a. Nomor dan Tanggal Akta : 1; tanggal 1 Februari 2006
b. Notaris : H. Asman Yunus, SH, SpN berkedudukan di Pekanbaru
c. Nomor dan Tanggal SK : C-11264 HT.01.04.TH.2006 tanggal 20 April 2006
d. Modal Perseroan
- Modal Dasar : Rp.100.000.000.000 terbagi atas 100.000 saham, masing-masing saham bernilai Rp. 1.000.000 - Modal ditempatkan : 25.000 saham
atau Rp. 25.000.000.000
- Modal disetor : Rp. 25.000.000.000 e. Susunan Pemegang Saham:
Muhammad Ali : 20.000 saham Rizal Ahmad : 2.500 saham
Muhammad Yunus Rasyid, SH : 2.500 saham
3. Perubahan Anggaran Dasar
a. Nomor dan Tanggal Akta : 38; tanggal 30 Desember 2006
b. Notaris : H. Asman Yunus, SH,SpN berkedudukan di Pekanbaru
d. Susunan Pemegang saham
Muhammad Nazarudin : 20.000 saham Rizal Ahmad : 2.500 saham
Muhammad Yunus Rasyid,SH :2.500 saham
e. Susunan Pengurus
Direktur Utama : Rizal Ahmad Direktur : Widhya Mulya
Direktur : Mardianto Direktur : Amin Andoko
Direktur : Drs. Ahmad Darsono Direktur : Muhammad Ali
Komisaris Utama : Muhammad Nazarudin
Komisaris : Muhammad Yunus Rasyid, SH
4.Perubahan anggaran dasar dalam rangka penyesuaian dengan Undang-Undang Nomor 40 tahun 2007 ten-tang Perseroan Terbatas
a. Nomor dan tanggal akta : 2; tanggal 1 April 2008
b. Notaris : H. Asman Yunus,SH,SpN berkedudukan di Kota Pekanbaru c. Nomor dan tanggal SK :
AHU-39823.AH.01.02.Tahun 2008 tanggal 10 Juli 2008
d. Kedudukan : Kota Pekanbaru e. Jangka waktu : tidak terbatas
f. Maksud dan Tujuan: Perdagangan, Pembangunan, Telekomunikasi, Pen-gangkutan, Perindustrian, Perbengke-lan, Jasa, Pertanian, Pertambangan, dan Percetakan
- Modal Dasar: Rp. 100.000.000.000 terbagi atas 100.000 saham, masing-masing saham bernilai Rp. 1.000.000 - Modal ditempatkan/disetor : 25.000
saham atau Rp. 25.000.000.000 h. Susunan Pemegang Saham
Muhammad Nazarudin : 20.000 saham Rizal Ahmad : 2.500 saham
Muhammad Yunus Rasyid,SH : 2.500 saham
i. Susunan Pengurus
Direktur Utama : Rizal Ahmad Direktur : Widhya Mulya
Direktur : Mardianto Direktur : Amin Handoko
Direktur : Drs. Ahmad Darsono Direktur : Muhammad Ali
Komisaris Utama : Muhammad Nazarudin
Komisaris : Muhammad Yunus Rasyid,SH
5. Perubahan Anggaran Dasar
a. Nomor dan tanggal akta : 50; tanggal 31 Januari 2009
b. Notaris : H. Asman Yunus, SH,SpN berkedudukan di Kota Pekanbaru c. Nomor dan tanggal SK :
AHU-25305.AH.01.02.Tahun 2010 tanggal 19 Mei 2010
d. Modal Perseroan
200.000 saham atau Rp. 200.000.000.000
e. Susunan Pemegang Saham
Muhammad Nazarudin : 190.000 saham Rizal Ahmad : 5.000 saham
Muhammad Yunus Rasyid,SH : 5.000 saham
6. Perubahan data perseroan
a. Nomor dan tanggal akta : 36 tanggal 28 februari 2009
b. Notaris : H. Asman Yunus, SH,SpN berkedudukan di Kota Pekanbaru c. Nomor dan tanggal surat :
AHU-AH.01.10-13125 tanggal 27 Mei 2010 d. Susunan pemegang saham
Muhajidin Nur Hasim : 160.000 saham Rizal Ahmad : 20.000 saham
Muhammad Yunus Rasyid,SH : 20.000 saham
e. Susunan Pengurus
Direktur Utama : Rizal Ahmad Direktur I : Wasis Ginanjar Direkrut II : Amin Handoko Direktur III : Drs. Achmad Darsono Direktur IV : Muhammad Ali Direktur V : Muhammad Fajar Kurnia
Komisaris Utama : Mujahidin Nur Hasim
7. Perubahan Data Perseroan
Nomor dan tanggal Angka : 57, tanggal 30 Mei 2009
Notaris : H. Asman Yunus, SH,SpN berkedudukan di Kota Pekanbaru Nomor dan tanggal surat : AHU-AH.01.10-14335 tanggal 10 Juli 2010 Susunan Pengurus
Direktur Utama : Rizal Ahmad Direktur I : Amin Handoko Direktur II : Saimun Sinaga
Direktur III : Drs. Ahmad Dharsono Direktur IV : Muhammad Fajarkurnia Direktur V: Muhammad Hasan Utoyo Komisaris Utama : Mujahidin Nur Hashim Komisaris : Muhammad Yunus Rasyid,
SH, M.Hum 8. Perubahan Anggaran Dasar
a. Nomor dan tanggal Akta : 1; tanggal 1 September 2009
b. Notaris: H. Asman Yunus, SH,SpN berkedudukan di Kota Pekanbaru c. Nomor dan tanggal surat :
AHU-AH.01.10.15668 tanggal 23 Juni 2010 d. Susunan Pemegang Saham:
Amin Handoko : 120.000 saham Saimun Sinaga : 60.000 saham
Muhammad Yunus Rasyid, SH,Mhum : 20.000 saham
e. Susunan Pengurus :
Direktur Utama : Amin Handoko
Direktur I : Muhammad FajarKurnia Direktur II : Muhammad Hasan Utoyo
SH,M.Hum
Komisaris : Drs. Achmad Dharsono 9. Perubahan Anggaran Dasar
a. Nomor dan Tanggal Akta : 48 tanggal 31 Desember 2010
b. Notaris : H. Asman Yunus, SH,SpN berkedudukan di Kota Pekanbaru c. Nomor dan tanggal SK :
AHU-13055.AH.01.02.tahun 2011 tanggal 15 Maret 2011
d. Nomor dan tanggal surat :
AHU-AH.01.10-11817 tanggal 20 April 2011 e. Nomor dan tanggal surat :
AHU-AH.01.10-11818 tanggal 20 April 2011 f. Modal Perseroan
- Modal Dasar : Rp. 100.000.000.000 terbagi atas 100.000 saham, masing-masing saham bernilai Rp. 1.000.000 - Modal ditempatkan/disetor : 25.000
saham atau Rp. 25.000.000.000 g. Susunan pemegang saham
Amin Andoko : 17.500 saham Saimun Sinaga : 7.500 saham h. Susunan Pengurus
Direktur Utama : Amin Andoko Direktur : Muhammad Fajarkurnia Komisaris Utama : Saimun Sinaga Komisaris : Drs. Achmad Dharsono
Berdasarkan uraian data diatas, maka telah terungkap secara jelas :
baik sebagai Pemilik, atau sebagai pe-megang saham, maupun sebagai pengu-rus pada PT Anugrah Nusantara.
Bahwa Pemilik dan Pengurus dari PT Anu-grah Nusantara adalah saksi Muhammad Nazaruddin dan Keluarganya.
b. Terdakwa tidak penah membentuk kantong-kantong dana yang bersumber dari proyek pemerintah dan BUMN
Bahwa Penuntut Umum dalam Dakwaan halaman 4 dan dalam Tuntutan Penuntut Umum halaman 1238 yang mendalilkan bahwa dalam rangka membentuk logistik Terdakwa membentuk kantong-kantong dana yang bersumber dari proyek pemerintah dan BUMN.
Bahwa dalil Penuntut Umum tersebut tidak benar dan telah dibantah oleh saksi-saksi yang namanya justru disebut dalam Surat Dakwaan, yaitu saksi Angelina Patricia Sondakh, saksi Mindo Rosalina Manulang, saksi Yulianis, saksi Mirwan Amir, saksi Pasha Ismaya Sukardi, dan saksi Muhammad Rahmat.
partai demokrat ada 20%, Muhammad Nazaruddin mengatakan “ya sudah itu diisi oleh Rosa, karena itu jatah partai nanti yang 1%-nya buat teman-teman di komisi nanti diselesaikan Rosa, untuk pimpinan banggar 1%-nya untuk fraksi biar saya sendiri yang menyelesaikan”.
Saksi menerangkan bahwa Terdakwa tidak pernah memberikan perintah kepada saksi untuk mengurus proyek yang berkaitan dengan Hambalang dan juga proyek-proyek yang lain, saksi menjelaskan bahwa saksi Muhammad Nazaruddin yang memberikan perintah kepada saksi, serta mengatur saksi untuk mengurus proyek-proyek di Kemendiknas, dimana jatah yang berasal dari proyek Kemendiknas saksi serahkan kepada saksi Muhammad Nazaruddin.
Dari keterangan saksi Angelina Patricia Sondakh, maka fakta yang terungkap adalah bahwa yang mengatur dan mengurus pembagian fee proyek Kemendiknas adalah Muhammad Nazaruddin dan bukan Terdakwa. Saksi juga menerangkan bahwa Terdakwa tidak pernah ikut campur dalam pengurusan proyek-proyek, karena yang memerintahkan langsung terkait pengurusan proyek adalah Muhammad Nazarudin.
Fakta terkait proyek-proyek Kemenpora Saksi Angelina Patricia Sondakh dalam persidangan tanggal
mengupayakan mas Adji jadi ketua komisi V, dan saya menginginkan mas Adji juga jadi ketua komisi V. saya menjalankan apa yang pak Nazar perintahkan kepada saya, sehingga pak Nazar mengatakan kamu hanya menjalankan saja rumusannya adalah demikian, pokoknya kalau untuk komisi X kamu tidak usah mengerjakan yang lain lain, kamu tidak usah mengerjakan Kemenpora kamu juga tidak perlu mengerjakan Kemenbudpar, apalagi Kemenbudpar dan Kemenpora dua duanya adalah menteri dari partai demokrat, jadi tidak usah dikritisi programnya hanya diperjuangkan saja”
Bahwa dalam persidangan tanggal 14 Agustus 2014 Saksi Mindo Rosalina Manulang telah menegaskan bahwa Terdakwa tidak pernah ikut pertemuan-pertemuan yang membahas proyek Hambalang pada Kementrian Pemuda dan Olahraga. Selanjutnya saksi juga menegaskan bahwa Terdakwa sama sekali tidak memiliki peranan dalam pengurusan proyek Hambalang.
Bahwa dalam persidangan tanggal 2 Juli 2014 Saksi Wafid Muharam mantan Sekertaris Menteri Pemuda dan Olahrga (Sesmenpora) telah menegaskan bahwa selama kegiatan proyek Hambalang berlangsung, saksi tidak pernah mendengar nama Terdakwa, dan setiap pertemuan atau rapat-rapat di Kementrian Pemuda dan Olahraga saksi Wafid Muharam tidak pernah bertemu dengan Terdakwa, dan tidak pernah membicarakan proyek-proyek Kementrian Pemuda dan Olahraga dengan Terdakwa.
bertemu Terdakwa. Saksi juga menyatakan tidak pernah mendengar nama Terdakwa disebut-sebut dalam proyek Hambalang di Kementrian Pemuda dan Olahraga.
Bahwa berdasarkan uraian di atas, terungkap dengan jelas, Terdakwa tidak terkait dan sama sekali tidak memiliki peran dalam mengurus serta mengatur proyek-proyek yang ada di Kementrian Pemuda dan Olahrga.
Kantong Dana yang dikelola saksi Mirwan Amir, saksi Pasha Ismaya Sukardi, saksi Muhammad Rahmad
Dalam persidangan tanggal 7 Agustus 2014, saksi Mirwan Amir, saksi Pasha Ismaya Sukardi, saksi Muhammad Rahmad, menjelaskan bahwa para saksi tidak pernah tahu dan tidak pernah mendengar Terdakwa mengurus proyek-proyek pemerintah yang bersumber dari APBN. Para Saksi juga menjelaskan proyek-proyek pemerintah yang bersumber dari ABPN itu tidak dipengaruhi oleh ketua bidang politik Partai Demokrat. Para Saksi membantah pernah mengurus baik itu proyek APBN, BUMN atau proyek lainnya, adapun hal-hal yang dibantah Para Saksi:
(i) Saksi Mirwan Amir menerangkan:
- Saksi tidak mengurus proyek-proyek pemerintah yang bersumber dari APBN; - Saksi tidak pernah mengelola anggaran
- Saksi tidak pernah memberikan uang sebesar Rp.5.000.000.000,- (lima milyar Rupiah) kepada saksi Muhammad Nazaruddin di bulan April 2010;
- Saksi tidak pernah menerima uang sebesar Rp.5.000.000.000,- (lima milyar Rupiah) dari saksi Mafud Suroso.
- Saksi juga mengatakan tidak pernah memberikan uang sebesar Rp.25.00.000.000 (dua puluh lima milyar Rupiah) kepada Terdakwa.
(ii)Saksi Muhammad Rahmad
menerangkan:
- Saksi tidak pernah mengelola dana milik
Terdakwa sebesar
Rp2.500.000.000.000,- (dua trilyun lima ratus milyar Rupiah), bahkan saksi mengatakan di depan Majelis Hakim bahwa saksi telah difitnah luar biasa. - Saksi membantah mengelola uang milik
Terdakwa sebesar Rp.250.000.000,- (dua ratus lima puluh juta Rupiah).
- Saksi tidak pernah mengelola dana Terdakwa sebesar Rp.2.500.000.000,-(dua milyar lima ratus juta Rupiah), bahkan saksi menerangkan sejak saksi bersama dengan Terdakwa di DPR-RI, uang sejumlah Rp.10.000.000,- (sepuluh juta Rupiah) pun belum pernah Terdakwa diberikan kepada Saksi.
(iii) Saksi Pasha Ismaya Sukardi
- Saksi bukan kantong dana dan katong bisnis dari Terdakwa.
- Saksi tidak memiliki usaha dibidang impor gula.
Bahwa berdasarkan uraian-uraian diatas maka telah terungkap secara jelas, dimuka persidangan Terdakwa tidak memiliki kantong-kantong dana yang bersumber dari proyek Pemerintah dan APBN sebagaimana dalam Dakwaan Penuntut Umum halaman 4, dan Tuntutan halaman 1238.Dari kesaksian saksi Angelina Patricia Sondakh, saksi Mirwan Amir, saksi Pasha Ismaya Sukardi, saksi Muhammad Rahmad, saksi Mindo Rosalina Manulang, dan saksi Yulianis juga terungkap bahwa tidak ada peran dari Terdakwa dalam urusan-urusan proyek yang bersumber dari APBN.
Selain itu, Terdakwa juga tidak pernah mengikuti rapat-rapat atau pertemuan untuk membahas proyek-proyek di Pemerintah dan APBN di Kementrian Pendidikan Nasional (Kemendiknas) dan Kementrian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora), bahwa saksi-saksi juga menegaskan mereka tidak pernah mengelola dan membentuk kantong-kantong dana untuk kepentingan Terdakwa
Bahwa Penuntut Umum dalam Surat Dakwaan halaman 4 dan Surat Tuntutan halaman 1238 yang pada pokoknya menguraikan dalil bahwa Terdakwa membentuk kantong-kantong dana yang bersumber dari proyek BUMN adalah tidak benar dan tidak berdasar. c. Fakta bantahan dalil Penuntut Umum
mengenai fee pengurusan proyek yang dilakukan Terdakwa sebesar 7% sanpai dengan 22%.
(dua puluh dua persen) yang disimpan di brankas Permai Group.
Fakta bahwa Terdakwa tidak pernah melakukan pengurusan proyek – proyek yang bersumber dari APBN
Bahwa saksi M Arif Taufikurahman dalam persidangaan tanggal 26 Juni 2014, menyatakan tidak pernah melakukan pembicaraan mengenai proyek dengan Terdakwa, kesaksian saksi M Arif Taufikurahman juga didukung dengan saksi Abdul Ali Fauzi, saksi Sir Maharani Siregar dan saksi Yuli Nurwanto bahwa tidak pernah ada pembicaraan dengan Terdakwa mengenai proyek-proyek yang dikerjakan oleh PT. Adhi Karya.
Saksi sangat meyakini tidak ada pertemuan tersebut. Kesaksian saksi Wafid Muharam juga didukung oleh saksi Mindo Rosalina Manulang yang menyatakan tidak pernah ada peran Terdakwa, ketika saksi Mindo Rosalina Manulang melakukan pengurusan proyek Hambalang dengan saksi Wafid Muharam. Bahwa saksi Angelina Patricia Sondakh, menyatakan terkait permintaan fee sebesar 5% di proyek Kemendiknas adalah atas perintah langsung saksi Muhammad Nazaruddin, saksi menyatakan bahwa Terdakwa tidak pernah ikut campur dalam proyek-proyek Kemendiknas.
Bahwa saksi Yulianis dalam persidangan menyatakan, tugas saksi dalam mengelola dan penggunaan fee-fee proyek, pembayaran dari BUMN setelah ada kesepakatan dan harus dengan persetujuan saksi Muhammad Nazaruddin. Saksi Yulianis sebagai wakil dari saksi Neneng Sri Wahyuni yang menjabat Direktur Keuangan PT Anugrah, menyatakan tidak ada keterlibatan Terdakwa dalam pengelolaan keuangan PT Anugrah. Keterangan ini juga didukung oleh saksi Oktarina Furi yang menyatakan bahwa otoritas pengelolaan uang yang berlaku di PT Anugrah harus dengan persetujuan saksi Yulianis, saksi Neneng Sri Wahyuni dan saksi Muhammad Nazaruddin.
Bahwa berdasarkan uraian-uraian di atas, maka telah terungkap faktaTerdakwa sama sekali tidak berperan dalam pengurusan dan permintaan fee-fee antara 7% (tujuh persen) sampai dengan 22% (dua puluh dua persen) yang disimpan di brankas Permai terkait proyek Hambalang, proyek Kemendiknas maupun proyek-proyek lainnya.
(1)Fakta penerbitanSurat Keputusan Kepala Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia Nomor: 1/HP/BPN RI/2010 tentang Pemberian Hak Pakai Atas Nama Kementrian Negara Pemuda dan Olahraga Indonesia Atas Tanah di Kabupaten Bogor Jawa Barat (“SK BPN Tanah Hambalang”)
Penuntut Umum dalam Surat Dakwaan, halaman 6 pada pokoknya mendalilkan bahwa Terdakwa meminta Ignatius Mulyono untuk menanyakan proses pengurusan sertifikat tanah terkait dengan Proyek P3SON Hambalang kepada BPN RI.
Bahwa dalil Penuntut Umum tersebut tidak benar dan telah dibantah oleh saksi-saksi yang namanya justru disebut dalam Surat Dakwaan, yaitu:saksi Joyo Winoto, Managam Manurung, Ignatius Mulyono, Wafid Muharam dan Mindo Rosalina Manullang.
Fakta pengurusan SK BPN Tanah
Hambalang oleh Muhammad
Nazaruddin melalui Ignatius Mulyono Dalam persidangan pada tanggal 14 Juli 2014, saksi Joyo Winoto yang pada saat itu menjabat sebagai kepala BPNR.I.,menyatakan tidak pernah dihubungi pihak manapun, dalam hal ini termasuk
kepada saksi Managam Manurung.
Dalam persidangan pada tanggal 14 Juli 2014, walaupun saksi Ignatius Mulyono mengaku mendapat perintah mengurus SK BPN Tanah Hambalang, namun menurut saksi Ignatius Mulyono yang memberi perintahadalah saksi Muhammad Nazaruddin. Sedangkan peran Terdakwa terkait pengurusan SK BPN Tanah Hambalang semata-mata merupakan“penilaian” saksi Ignatius
Mulyonosendiri, karena
perintahpengurusan SK BPN Tanah Hambalang kepada saksi Ignatius Mulyono disampaikan oleh saksi Muhammad Nazaruddinpada saat saksi Ignatius Mulyono dipanggil ke ruang ketua fraksi/Terdakwaoleh saksi Muhammad Nazaruddin dimana pada saat itu ada Terdakwa. Perintah saksi Muhammad Nazaruddin ditindaklanjuti oleh saksi Ignatius Mulyono dengan mendatangi kantor BPN R.I. menemui saksi Managam Manurung.
Dalam persidangan tanggal 14 Juli 2014, saksi Managam Manurungmembenarkan pernah dihubungi oleh saksi Ignatius
Mulyono, namun demikian
saksimenyatakan karena kesibukannya, saksi tidak melakukan hal apapun untuk menindaklanjuti permintaan saksi Ignatius Mulyono.Selanjutnya Saksi Managam Manurung yang pada saat itu menjabat sebagai Plt Deputi Bidang Hak
Tanah dan Pendaftaran
Bahwa baik saksi Joyo Winoto maupun saksi Managam Manurung menyatakan bahwa SK BPN Tanah Hambalang telah selesai karena memang sudah saatnya selesai.Dengan kata lain, penerbitan SK BPN Tanah Hambalang pada tanggal 6 Januari 2010 bukan karena “diurus” oleh
Terdakwa maupun
M. Nazaruddin melalui Ignatius Mulyono, namun karena memang BPN telah saatnya menerbitkan SK BPN Tanah Hambalang tersebut.
Bahwa SK BPN Tanah Hambalang yang telah diterbitkan tersebut selanjutnya diambil oleh saksi Ignatius Mulyono dan diserahkan kepada Muhammad Nazaruddin di ruang lantai 9, Gedung DPR RI
Fakta pengurusan SK BPN Tanah
Hambalang oleh Muhammad
Nazaruddin melalui Mindo Rosalina Manulang
Bahwa menurut keterangan saksi Mindo Rosalina Manulang pada persidangan tanggal 14 Agustus 2014, Wafid Muharam pernah meminta saksi untuk menyampaikan kepada Muhammad Nazaruddin agar membantu pengurusan sertifikat proyek Hambalang. Dari keterangan saksi ini diketahui bahwa pihak yang membantu pengurusan sertifikat proyek Hambalang adalah Muhammad Nazaruddin, bukan Terdakwa atau setidak-tidaknya pihak yang diminta bantuannya oleh Wafid Muharam adalah Muhammad Nazaruddin, bukan Terdakwa.
kepada saksi Muhammad Nazaruddin, saksi diperintahkan saksi Muhammad Nazaruddin untuk menghubungi saksi Joyo Winoto. Selanjutnya saksi beberapa kali menelpon saksi Joyo Winoto, tetapi tidak diangkat dan sms tidak dibalas sehingga kemudian saksi melapor kepada saksi Muhammad Nazaruddin. Menindaklanjuti laporan saksi Mindo Rosalina Manulang, saksi Muhammad Nazaruddin menghubungi seseorang, yang tidak diketahui saksi siapa orangnya. Saat itu saksi Muhammad Nazaruddin berkata: “Pak Joyo sudah ditelepon Rosa tetapi tidak diangkat mas, di-sms juga tidak dibalas”. Setelah menelpon orang tadi, akhirnya saksi Muhammad Nazaruddin memerintahkan kembali saksi Mindo Rosalina Manulang untuk menghubungi saksi Joyo Winoto, yang dibalas melalui SMS: “ke sekertaris saya saja”.
Setelah mendapat SMS dari saksi Joyo Winoto tersebut di atas, saksi Mindo Rosalina Manulang mendatangi kantor BPN R.I.. Kedatangan saksi ditemui oleh sekertaris Joyo Winoto dan menyerahkan bungkusan dokumen dengan amplop warna coklat. Bungkusan dokumen tersebut kemudian diserahkan saksi Mindo Rosalina Manulang kepada saksi Muhammad Nazaruddin.
Mindo Rosalina menyatakan tidak mengetahui siapa orang yang dihubungi saksi Muhammad Nazaruddin tersebut dan penyebutan nama Anas dalam BAP tertanggal 1 Maret 2013 semata-mata merupakan asumsi saksi Mindo Rosalina Manulang, karena istilah “mas” biasanya merupakan panggilan saksi Muhammad Nazaruddin kepada Terdakwa.Bahwa terkait dengan asumsi saksi Mindo Rosalina Manullang tersebut, Terdakwa dalam persidangan yang sama telah memberikan tanggapan yang membantah asumsi tersebut. Terdakwa tidak pernah melakukan pembicaraan apapun dengan Muhammad Nazaruddin, termasuk melalui telepon perihal SK BPN Tanah Hambalang.
Bahwa berdasarkan uraian-uraian di atas, maka telah terungkap fakta, sebagai berikut:
(i) pengurusan SK BPN Tanah Hambalang atau sertifikat tanah proyek Hambalang merupakan inisiatif dan/atau perintah dari saksi Muhammad Nazaruddin, yaitu baik kepada saksi Ignatius Mulyojo maupun kepada saksi Mindo Rosalina Manulang;
(ii) Dokumen berupa SK BPN Tanah Hambalang yang telah diterbitkan oleh saksi Joyo Winoto selaku kepala BPN R.I. diserahkan kepada saksi Muhammad Nazaruddin karena proses SK BPN tersebut selesai; dan (iii) Terdakwa terbukti sama sekali tidak
mempunyai inisiatif atau berperan dalam pengurusan
(2)Fakta bantahan peran Terdakwa dalam pengurusan Proyek P3SON
Bahwa Penuntut Umum dalam dan Surat Tuntutan halaman 1275 pada pokoknya menguraikan dalil bahwa Terdakwa berperan dalam pengurusan proyek P3SON, antara lain membantu penerbitan SK BPN Tanah Hambalang, sebagaimana telah terbantahkan berdasarkan uraian di atas dan menghadiri pertemuan-pertemuan yang membicarakan proyek Hambalang.
Bahwa dalil Penuntut Umum tersebut bertentangan dengan fakta persidangan, karena:
a. Saksi Wafid Muharam pada persidangan tanggal 2 Juli 2014 telah menegaskan bahwa selama kegiatan proyek Hambalang berlangsung, saksi tidak pernah mendengar nama Terdakwa. Justru saksi mendengar dari Prof. Mahyudin, saksi Angelina Sondakh yang selalu berkata bahwa yang mengurus proyek Hambalang adalah Muhammad Nazaruddin. Ditambahkan juga oleh Saksi Wafid Muharam bahwa Saksi Wafid Muharam tidak pernah bertemu dengan Terdakwa membicarakan proyek Hambalang.
pengurusan proyek Hambalang.
c. Saksi Machfud Suroso pada persidangan tanggal 30 Agustus 2014 telah menegaskan bahwa Terdakwa sama sekali tidak memiliki peranan dalam pengurusan proyek Hambalang yang dimenangkan oleh PT Adhi Karya. Saksi juga menegaskan Terdakwa sama sekali tidak pernah ikut dalam pertemuan-pertemuan yang membahas proyek Hambalang.
d. Saksi Teuku Bagus Noor pada persidangan tanggal 30 Juni 2014 bahkan secara tegas mengatakan tidak pernah bertemu dengan Terdakwa. e. Dalam keterangan Terdakwa pun
dalam persidangan pada tanggal 4 September 2014 telah membantah membantu PT Adhi Karya memperoleh proyek Hambalang maupun mengikuti pertemuan-pertemuan yang membahas proyek Hambalang.
Bahwa berdasarkan uraian-uraian di atas, maka telah terungkap faktaTerdakwa sama sekali tidak berperan dalam pengurusan proyek Hambalang maupun memenangkan PT Adhi Karya untuk mengerjakan proyek Hambalang. Terdakwa juga terbukti tidak pernah mengikuti pertemuan-pertemuan yang membahas proyek Hambalang.
b. Campur tangan agar PT DGI mundur dari proyek P3 SON Hambalang dan PT Adhi Karya yang maju.
telah mengungkapkan hal-hal sebagai berikut:
1. Fakta pertemuan bulan puasa;
Bahwa saksi M. Arif Taufikurrahman tidak pernah melihat secara langsung pertemuan secara khusus antara saksi Machfud Suroso, saksi Muhammad Nazaruddin dan Terdakwa pada saat acara buka puasa bersama tahun 2010 di rumah Terdakwa. Saksi menyatakan hanya mendengar cerita tersebut dari saksi Machfud Suroso.
Saksi Machfud Suroso dalam keterangan di persidangan telah membantah adanya pertemuan khusus antara dirinya dengan saksi Muhammad Nazaruddin dan Terdakwa. Terdakwa ketika memberikan tanggapan di persidangan juga membantah adanya pertemuan tersebut, pertemuan khusus tersebut tidak mungkin terjadi karena pada saat acara buka puasa bersama tahun 2010 tersebut seluruh rumah sangat penuh oleh tamu undangan.
2. Fakta tentang sudah dikeluarkannya biaya oleh PT DGI untuk proyek Hambalang;
Saksi Wafid Muharam menyatakan tidak mengetahui alasan kenapa saksi Mindo Rosalina Manulang meminta uang penggantian tersebut kepada saksi. Saksi Wafid Muharam kemudian meminta saksi Paul Nelwan dan saksi Lisa L Isa untuk menyelesaikan urusan dengan saksi Mindo Rosalina Manulang. Saksi Wafid Muharam menyatakan tidak mengetahui proses pengembalian uang tersebut kepada saksi Mindo Rosalina Manulang.
3. Fakta adanya pengembalian dana dari PT Adhi Karya kepada PT DGI melalui saksi Lisa L Isa;