• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perubahan Anggaran Dasar

Dalam dokumen TABIR HAMBALANG TERSINGKAP Pembelaan Bag (Halaman 31-54)

A. Terkait Dakwaan Kesatu

2. Perubahan Anggaran Dasar

a. Nomor dan Tanggal Akta : 1; tanggal 1 Februari 2006

b. Notaris : H. Asman Yunus, SH, SpN berkedudukan di Pekanbaru

c. Nomor dan Tanggal SK : C-11264 HT.01.04.TH.2006 tanggal 20 April 2006

d. Modal Perseroan

- Modal Dasar : Rp.100.000.000.000 terbagi atas 100.000 saham, masing- masing saham bernilai Rp. 1.000.000 - Modal ditempatkan : 25.000 saham

atau Rp. 25.000.000.000

- Modal disetor : Rp. 25.000.000.000 e. Susunan Pemegang Saham:

Muhammad Ali : 20.000 saham Rizal Ahmad : 2.500 saham

Muhammad Yunus Rasyid, SH : 2.500 saham

3. Perubahan Anggaran Dasar

a. Nomor dan Tanggal Akta : 38; tanggal 30 Desember 2006

b. Notaris : H. Asman Yunus, SH,SpN berkedudukan di Pekanbaru

c. Nomor dan tanggal akta : C-00423 HT.01.04.TH.2007 tanggal 8 Oktober 2007

d. Susunan Pemegang saham

Muhammad Nazarudin : 20.000 saham Rizal Ahmad : 2.500 saham

Muhammad Yunus Rasyid,SH :2.500 saham

e. Susunan Pengurus

Direktur Utama : Rizal Ahmad Direktur : Widhya Mulya

Direktur : Mardianto Direktur : Amin Andoko

Direktur : Drs. Ahmad Darsono Direktur : Muhammad Ali

Komisaris Utama : Muhammad Nazarudin

Komisaris : Muhammad Yunus Rasyid, SH

4.Perubahan anggaran dasar dalam rangka penyesuaian dengan Undang- Undang Nomor 40 tahun 2007 ten- tang Perseroan Terbatas

a. Nomor dan tanggal akta : 2; tanggal 1 April 2008

b. Notaris : H. Asman Yunus,SH,SpN berkedudukan di Kota Pekanbaru c. Nomor dan tanggal SK : AHU-

39823.AH.01.02.Tahun 2008 tanggal 10 Juli 2008

d. Kedudukan : Kota Pekanbaru e. Jangka waktu : tidak terbatas

f. Maksud dan Tujuan: Perdagangan, Pembangunan, Telekomunikasi, Pen- gangkutan, Perindustrian, Perbengke- lan, Jasa, Pertanian, Pertambangan, dan Percetakan

- Modal Dasar: Rp. 100.000.000.000 terbagi atas 100.000 saham, masing- masing saham bernilai Rp. 1.000.000 - Modal ditempatkan/disetor : 25.000

saham atau Rp. 25.000.000.000 h. Susunan Pemegang Saham

Muhammad Nazarudin : 20.000 saham Rizal Ahmad : 2.500 saham

Muhammad Yunus Rasyid,SH : 2.500 saham

i. Susunan Pengurus

Direktur Utama : Rizal Ahmad Direktur : Widhya Mulya

Direktur : Mardianto Direktur : Amin Handoko

Direktur : Drs. Ahmad Darsono Direktur : Muhammad Ali

Komisaris Utama : Muhammad Nazarudin

Komisaris : Muhammad Yunus Rasyid,SH

5. Perubahan Anggaran Dasar

a. Nomor dan tanggal akta : 50; tanggal 31 Januari 2009

b. Notaris : H. Asman Yunus, SH,SpN berkedudukan di Kota Pekanbaru c. Nomor dan tanggal SK : AHU-

25305.AH.01.02.Tahun 2010 tanggal 19 Mei 2010

d. Modal Perseroan

- Modal Dasar : Rp. 500.000.000.000 terbagi atas 500.000 saham, masing- masing saham bernilai Rp. 1.000.000 - Modal ditempatkan/disetor :

200.000 saham atau Rp. 200.000.000.000

e. Susunan Pemegang Saham

Muhammad Nazarudin : 190.000 saham Rizal Ahmad : 5.000 saham

Muhammad Yunus Rasyid,SH : 5.000 saham

6. Perubahan data perseroan

a. Nomor dan tanggal akta : 36 tanggal 28 februari 2009

b. Notaris : H. Asman Yunus, SH,SpN berkedudukan di Kota Pekanbaru c. Nomor dan tanggal surat : AHU-

AH.01.10-13125 tanggal 27 Mei 2010 d. Susunan pemegang saham

Muhajidin Nur Hasim : 160.000 saham Rizal Ahmad : 20.000 saham

Muhammad Yunus Rasyid,SH : 20.000 saham

e. Susunan Pengurus

Direktur Utama : Rizal Ahmad Direktur I : Wasis Ginanjar Direkrut II : Amin Handoko Direktur III : Drs. Achmad Darsono Direktur IV : Muhammad Ali Direktur V : Muhammad Fajar Kurnia

Komisaris Utama : Mujahidin Nur Hasim

Komisaris : Muhammad Yunus Rasyid, SH

7. Perubahan Data Perseroan

Nomor dan tanggal Angka : 57, tanggal 30 Mei 2009

Notaris : H. Asman Yunus, SH,SpN berkedudukan di Kota Pekanbaru Nomor dan tanggal surat : AHU- AH.01.10-14335 tanggal 10 Juli 2010 Susunan Pengurus

Direktur Utama : Rizal Ahmad Direktur I : Amin Handoko Direktur II : Saimun Sinaga

Direktur III : Drs. Ahmad Dharsono Direktur IV : Muhammad Fajarkurnia Direktur V: Muhammad Hasan Utoyo Komisaris Utama : Mujahidin Nur Hashim Komisaris : Muhammad Yunus Rasyid,

SH, M.Hum 8. Perubahan Anggaran Dasar

a. Nomor dan tanggal Akta : 1; tanggal 1 September 2009

b. Notaris: H. Asman Yunus, SH,SpN berkedudukan di Kota Pekanbaru c. Nomor dan tanggal surat : AHU-

AH.01.10.15668 tanggal 23 Juni 2010 d. Susunan Pemegang Saham:

Amin Handoko : 120.000 saham Saimun Sinaga : 60.000 saham

Muhammad Yunus Rasyid, SH,Mhum : 20.000 saham

e. Susunan Pengurus :

Direktur Utama : Amin Handoko

Direktur I : Muhammad FajarKurnia Direktur II : Muhammad Hasan Utoyo

Komisaris Utama : Saimun Sinaga Komisaris : Muhammad Yunus Rasyid,

SH,M.Hum

Komisaris : Drs. Achmad Dharsono 9. Perubahan Anggaran Dasar

a. Nomor dan Tanggal Akta : 48 tanggal 31 Desember 2010

b. Notaris : H. Asman Yunus, SH,SpN berkedudukan di Kota Pekanbaru c. Nomor dan tanggal SK : AHU-

13055.AH.01.02.tahun 2011 tanggal 15 Maret 2011

d. Nomor dan tanggal surat : AHU-

AH.01.10-11817 tanggal 20 April 2011 e. Nomor dan tanggal surat : AHU-

AH.01.10-11818 tanggal 20 April 2011 f. Modal Perseroan

- Modal Dasar : Rp. 100.000.000.000 terbagi atas 100.000 saham, masing- masing saham bernilai Rp. 1.000.000 - Modal ditempatkan/disetor : 25.000

saham atau Rp. 25.000.000.000 g. Susunan pemegang saham

Amin Andoko : 17.500 saham Saimun Sinaga : 7.500 saham h. Susunan Pengurus

Direktur Utama : Amin Andoko Direktur : Muhammad Fajarkurnia Komisaris Utama : Saimun Sinaga Komisaris : Drs. Achmad Dharsono

Berdasarkan uraian data diatas, maka telah terungkap secara jelas :

Bahwa sejak tahun 1999 hingga tahun 2010 tidak tercantum nama Terdakwa

baik sebagai Pemilik, atau sebagai pe- megang saham, maupun sebagai pengu- rus pada PT Anugrah Nusantara.

Bahwa Pemilik dan Pengurus dari PT Anu- grah Nusantara adalah saksi Muhammad Nazaruddin dan Keluarganya.

b. Terdakwa tidak penah membentuk kantong-kantong dana yang bersumber dari proyek pemerintah dan BUMN

Bahwa Penuntut Umum dalam Dakwaan halaman 4 dan dalam Tuntutan Penuntut Umum halaman 1238 yang mendalilkan bahwa dalam rangka membentuk logistik Terdakwa membentuk kantong-kantong dana yang bersumber dari proyek pemerintah dan BUMN.

Bahwa dalil Penuntut Umum tersebut tidak benar dan telah dibantah oleh saksi-saksi yang namanya justru disebut dalam Surat Dakwaan, yaitu saksi Angelina Patricia Sondakh, saksi Mindo Rosalina Manulang, saksi Yulianis, saksi Mirwan Amir, saksi Pasha Ismaya Sukardi, dan saksi Muhammad Rahmat.

Fakta terkait proyek-proyek Kemendiknas yang dikelola Angelina Patricia Sondakh Bahwa menurut keterangan saksi Angelina Patricia Sondakh dipersidangan tanggal 14 Agustus 2014, saksi menjelaskan mendapat arahan dari pimpinan komisi yaitu Prof Mahyudin, bahwa untuk penganggaran pembagiannya sesuai kursi yang ada di DPR. Partai Demokrat mendapat 20%, karena 20% itu sesuai kursi Partai Demokrat di DPR. Setelah Prof Mahyudin menyatakan hal tersebut, saksi kemudian memberitahukan kepada Muhammad Nazaruddin, bahwa jatah

partai demokrat ada 20%, Muhammad Nazaruddin mengatakan “ya sudah itu diisi oleh Rosa, karena itu jatah partai nanti yang 1%-nya buat teman-teman di komisi nanti diselesaikan Rosa, untuk pimpinan banggar 1%-nya untuk fraksi biar saya sendiri yang menyelesaikan”.

Saksi menerangkan bahwa Terdakwa tidak pernah memberikan perintah kepada saksi untuk mengurus proyek yang berkaitan dengan Hambalang dan juga proyek-proyek yang lain, saksi menjelaskan bahwa saksi Muhammad Nazaruddin yang memberikan perintah kepada saksi, serta mengatur saksi untuk mengurus proyek-proyek di Kemendiknas, dimana jatah yang berasal dari proyek Kemendiknas saksi serahkan kepada saksi Muhammad Nazaruddin.

Dari keterangan saksi Angelina Patricia Sondakh, maka fakta yang terungkap adalah bahwa yang mengatur dan mengurus pembagian fee proyek Kemendiknas adalah Muhammad Nazaruddin dan bukan Terdakwa. Saksi juga menerangkan bahwa Terdakwa tidak pernah ikut campur dalam pengurusan proyek-proyek, karena yang memerintahkan langsung terkait pengurusan proyek adalah Muhammad Nazarudin.

Fakta terkait proyek-proyek Kemenpora Saksi Angelina Patricia Sondakh dalam persidangan tanggal

14 Agustus 2014 menjelaskan, bahwa Muhammad Nazarudin yang mengatur dan mengurus proyek-proyek di Kemenpora, Muhammad Nazaruddin mengatakan kepada saksi agar saksi menjalankan perintah Nazarudin “mbak angie harus menuruti kata2 saya, mbak angie duduk aja dikomisi X jalankan perintah saya nanti saya akan

mengupayakan mas Adji jadi ketua komisi V, dan saya menginginkan mas Adji juga jadi ketua komisi V. saya menjalankan apa yang pak Nazar perintahkan kepada saya, sehingga pak Nazar mengatakan kamu hanya menjalankan saja rumusannya adalah demikian, pokoknya kalau untuk komisi X kamu tidak usah mengerjakan yang lain lain, kamu tidak usah mengerjakan Kemenpora kamu juga tidak perlu mengerjakan Kemenbudpar, apalagi Kemenbudpar dan Kemenpora dua duanya adalah menteri dari partai demokrat, jadi tidak usah dikritisi programnya hanya diperjuangkan saja”

Bahwa dalam persidangan tanggal 14 Agustus 2014 Saksi Mindo Rosalina Manulang telah menegaskan bahwa Terdakwa tidak pernah ikut pertemuan-pertemuan yang membahas proyek Hambalang pada Kementrian Pemuda dan Olahraga. Selanjutnya saksi juga menegaskan bahwa Terdakwa sama sekali tidak memiliki peranan dalam pengurusan proyek Hambalang.

Bahwa dalam persidangan tanggal 2 Juli 2014 Saksi Wafid Muharam mantan Sekertaris Menteri Pemuda dan Olahrga (Sesmenpora) telah menegaskan bahwa selama kegiatan proyek Hambalang berlangsung, saksi tidak pernah mendengar nama Terdakwa, dan setiap pertemuan atau rapat-rapat di Kementrian Pemuda dan Olahraga saksi Wafid Muharam tidak pernah bertemu dengan Terdakwa, dan tidak pernah membicarakan proyek-proyek Kementrian Pemuda dan Olahraga dengan Terdakwa.

Dalam persidangan tanggal 3 Juli 2014, saksi Paul Nelwan yang merupakan mantan anggota tim asistensi proyek pusat pendidikan olahraga di Hambalang, menjelaskan bahwa saksi tidak mengenal dan tidak pernah

bertemu Terdakwa. Saksi juga menyatakan tidak pernah mendengar nama Terdakwa disebut-sebut dalam proyek Hambalang di Kementrian Pemuda dan Olahraga.

Bahwa berdasarkan uraian di atas, terungkap dengan jelas, Terdakwa tidak terkait dan sama sekali tidak memiliki peran dalam mengurus serta mengatur proyek-proyek yang ada di Kementrian Pemuda dan Olahrga.

Kantong Dana yang dikelola saksi Mirwan Amir, saksi Pasha Ismaya Sukardi, saksi Muhammad Rahmad

Dalam persidangan tanggal 7 Agustus 2014, saksi Mirwan Amir, saksi Pasha Ismaya Sukardi, saksi Muhammad Rahmad, menjelaskan bahwa para saksi tidak pernah tahu dan tidak pernah mendengar Terdakwa mengurus proyek-proyek pemerintah yang bersumber dari APBN. Para Saksi juga menjelaskan proyek-proyek pemerintah yang bersumber dari ABPN itu tidak dipengaruhi oleh ketua bidang politik Partai Demokrat. Para Saksi membantah pernah mengurus baik itu proyek APBN, BUMN atau proyek lainnya, adapun hal-hal yang dibantah Para Saksi:

(i) Saksi Mirwan Amir menerangkan:

- Saksi tidak mengurus proyek-proyek pemerintah yang bersumber dari APBN; - Saksi tidak pernah mengelola anggaran

sebesar Rp. 2.000.000.000.000,- (dua triliun Rupiah) bersama adiknya melalui PT. Hotel Kualatripa, Tripa Bangun Pratama, PT. Tripa Wisata Tour, dan CV. Nasita, namun saksi menegaskan bahwa yang disebutkan itu adalah bisnis dari orang tua saksi, sehingga tidak ada hubungannya dengan APBN.

- Saksi tidak pernah memberikan uang sebesar Rp.5.000.000.000,- (lima milyar Rupiah) kepada saksi Muhammad Nazaruddin di bulan April 2010;

- Saksi tidak pernah menerima uang sebesar Rp.5.000.000.000,- (lima milyar Rupiah) dari saksi Mafud Suroso.

- Saksi juga mengatakan tidak pernah memberikan uang sebesar Rp.25.00.000.000 (dua puluh lima milyar Rupiah) kepada Terdakwa.

(ii)Saksi Muhammad Rahmad

menerangkan:

- Saksi tidak pernah mengelola dana milik

Terdakwa sebesar

Rp2.500.000.000.000,- (dua trilyun lima ratus milyar Rupiah), bahkan saksi mengatakan di depan Majelis Hakim bahwa saksi telah difitnah luar biasa. - Saksi membantah mengelola uang milik

Terdakwa sebesar Rp.250.000.000,- (dua ratus lima puluh juta Rupiah).

- Saksi tidak pernah mengelola dana Terdakwa sebesar Rp.2.500.000.000,- (dua milyar lima ratus juta Rupiah), bahkan saksi menerangkan sejak saksi bersama dengan Terdakwa di DPR-RI, uang sejumlah Rp.10.000.000,- (sepuluh juta Rupiah) pun belum pernah Terdakwa diberikan kepada Saksi.

(iii) Saksi Pasha Ismaya Sukardi

- Saksi bukan kantong dana dan katong bisnis dari Terdakwa.

- Saksi tidak memiliki usaha dibidang impor gula.

- Saksi tidak pernah memiliki kamar bisnis yang difasilitasi dananya secara politik oleh Terdakwa ataupun pihak lain.

Bahwa berdasarkan uraian-uraian diatas maka telah terungkap secara jelas, dimuka persidangan Terdakwa tidak memiliki kantong-kantong dana yang bersumber dari proyek Pemerintah dan APBN sebagaimana dalam Dakwaan Penuntut Umum halaman 4, dan Tuntutan halaman 1238.Dari kesaksian saksi Angelina Patricia Sondakh, saksi Mirwan Amir, saksi Pasha Ismaya Sukardi, saksi Muhammad Rahmad, saksi Mindo Rosalina Manulang, dan saksi Yulianis juga terungkap bahwa tidak ada peran dari Terdakwa dalam urusan-urusan proyek yang bersumber dari APBN.

Selain itu, Terdakwa juga tidak pernah mengikuti rapat-rapat atau pertemuan untuk membahas proyek-proyek di Pemerintah dan APBN di Kementrian Pendidikan Nasional (Kemendiknas) dan Kementrian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora), bahwa saksi-saksi juga menegaskan mereka tidak pernah mengelola dan membentuk kantong-kantong dana untuk kepentingan Terdakwa

Bahwa Penuntut Umum dalam Surat Dakwaan halaman 4 dan Surat Tuntutan halaman 1238 yang pada pokoknya menguraikan dalil bahwa Terdakwa membentuk kantong- kantong dana yang bersumber dari proyek BUMN adalah tidak benar dan tidak berdasar. c. Fakta bantahan dalil Penuntut Umum

mengenai fee pengurusan proyek yang dilakukan Terdakwa sebesar 7% sanpai dengan 22%.

Penuntut umum dalam surat tuntutannya, halaman 1238 yang pada pokoknya menyebutkan bahwa dalam pengurusan proyek yang dilakukan Terdakwa melalui Permai Group, Terdakwa mendapatkan fee antara 7% (tujuh persen) sampai dengan 22%

(dua puluh dua persen) yang disimpan di brankas Permai Group.

Fakta bahwa Terdakwa tidak pernah melakukan pengurusan proyek – proyek yang bersumber dari APBN

Bahwa saksi M Arif Taufikurahman dalam persidangaan tanggal 26 Juni 2014, menyatakan tidak pernah melakukan pembicaraan mengenai proyek dengan Terdakwa, kesaksian saksi M Arif Taufikurahman juga didukung dengan saksi Abdul Ali Fauzi, saksi Sir Maharani Siregar dan saksi Yuli Nurwanto bahwa tidak pernah ada pembicaraan dengan Terdakwa mengenai proyek-proyek yang dikerjakan oleh PT. Adhi Karya.

Bahwa saksi Teuku Bagus dalam persidangan tanggal 30 Juni 2014 menyatakan, pada akhir tahun 2010 saksi pernah bertemu dengan saksi Dedy Kusdinar dan saksi Lisa L Isa, dalam pertemuan tersebut saksi Lisa L Isa atas perintah Sesmenpora menyampaikan kepada saksi mengenai kewajiban fee sebesar 18% dari kontrak yang akan ditandatangani PT Adhi Karya terkait proyek Hambalang. Saksi Teuku Bagus secara jelas menyatakan tidak ada keterlibatan Terdakwa mengenai permintaan fee sebesar 18%, saksi juga menyatakan tidak mengenal Terdakwa dan tidak pernah bertemu dengan Terdakwa, hanya mengetahui dari pemberitaan media. Bahwa saksi Wafid Muharam, menyatakan tidak mengetahui mengenai permintaan fee sebesar 18%, saksi dalam persidangan menyatakan bahwa tidak ada pertemuan dengan Terdakwa di chatter box di Plaza senayan yang dihadiri saksi, Terdakwa, saksi Muhammad Nazararuddin dan saksi Machfud Suroso yang membahas P3SON Hambalang.

Saksi sangat meyakini tidak ada pertemuan tersebut. Kesaksian saksi Wafid Muharam juga didukung oleh saksi Mindo Rosalina Manulang yang menyatakan tidak pernah ada peran Terdakwa, ketika saksi Mindo Rosalina Manulang melakukan pengurusan proyek Hambalang dengan saksi Wafid Muharam. Bahwa saksi Angelina Patricia Sondakh, menyatakan terkait permintaan fee sebesar 5% di proyek Kemendiknas adalah atas perintah langsung saksi Muhammad Nazaruddin, saksi menyatakan bahwa Terdakwa tidak pernah ikut campur dalam proyek-proyek Kemendiknas.

Bahwa saksi Yulianis dalam persidangan menyatakan, tugas saksi dalam mengelola dan penggunaan fee-fee proyek, pembayaran dari BUMN setelah ada kesepakatan dan harus dengan persetujuan saksi Muhammad Nazaruddin. Saksi Yulianis sebagai wakil dari saksi Neneng Sri Wahyuni yang menjabat Direktur Keuangan PT Anugrah, menyatakan tidak ada keterlibatan Terdakwa dalam pengelolaan keuangan PT Anugrah. Keterangan ini juga didukung oleh saksi Oktarina Furi yang menyatakan bahwa otoritas pengelolaan uang yang berlaku di PT Anugrah harus dengan persetujuan saksi Yulianis, saksi Neneng Sri Wahyuni dan saksi Muhammad Nazaruddin.

Bahwa berdasarkan uraian-uraian di atas, maka telah terungkap faktaTerdakwa sama sekali tidak berperan dalam pengurusan dan permintaan fee-fee antara 7% (tujuh persen) sampai dengan 22% (dua puluh dua persen) yang disimpan di brankas Permai terkait proyek Hambalang, proyek Kemendiknas maupun proyek-proyek lainnya.

(1)Fakta penerbitanSurat Keputusan Kepala Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia Nomor: 1/HP/BPN RI/2010 tentang Pemberian Hak Pakai Atas Nama Kementrian Negara Pemuda dan Olahraga Indonesia Atas Tanah di Kabupaten Bogor Jawa Barat (“SK BPN Tanah Hambalang”)

Penuntut Umum dalam Surat Dakwaan, halaman 6 pada pokoknya mendalilkan bahwa Terdakwa meminta Ignatius Mulyono untuk menanyakan proses pengurusan sertifikat tanah terkait dengan Proyek P3SON Hambalang kepada BPN RI.

Bahwa dalil Penuntut Umum tersebut tidak benar dan telah dibantah oleh saksi- saksi yang namanya justru disebut dalam Surat Dakwaan, yaitu:saksi Joyo Winoto, Managam Manurung, Ignatius Mulyono, Wafid Muharam dan Mindo Rosalina Manullang.

Fakta pengurusan SK BPN Tanah

Hambalang oleh Muhammad

Nazaruddin melalui Ignatius Mulyono Dalam persidangan pada tanggal 14 Juli 2014, saksi Joyo Winoto yang pada saat itu menjabat sebagai kepala BPNR.I.,menyatakan tidak pernah dihubungi pihak manapun, dalam hal ini termasuk

M. Nazaruddin, Mindo Rosalina Manulang maupun Ignatius Mulyono terkait penerbitan SK BPN Tanah Hambalang, kecuali dihubungi oleh Menpora Adhayaksa Dault pada tahun 2006. Bahkan saksi Joyo Winoto sama sekali tidak mengetahui adanya permintaan bantuan dari saksi Ignatius Mulyono

kepada saksi Managam Manurung.

Dalam persidangan pada tanggal 14 Juli 2014, walaupun saksi Ignatius Mulyono mengaku mendapat perintah mengurus SK BPN Tanah Hambalang, namun menurut saksi Ignatius Mulyono yang memberi perintahadalah saksi Muhammad Nazaruddin. Sedangkan peran Terdakwa terkait pengurusan SK BPN Tanah Hambalang semata-mata merupakan“penilaian” saksi Ignatius

Mulyonosendiri, karena

perintahpengurusan SK BPN Tanah Hambalang kepada saksi Ignatius Mulyono disampaikan oleh saksi Muhammad Nazaruddinpada saat saksi Ignatius Mulyono dipanggil ke ruang ketua fraksi/Terdakwaoleh saksi Muhammad Nazaruddin dimana pada saat itu ada Terdakwa. Perintah saksi Muhammad Nazaruddin ditindaklanjuti oleh saksi Ignatius Mulyono dengan mendatangi kantor BPN R.I. menemui saksi Managam Manurung.

Dalam persidangan tanggal 14 Juli 2014, saksi Managam Manurungmembenarkan pernah dihubungi oleh saksi Ignatius

Mulyono, namun demikian

saksimenyatakan karena kesibukannya, saksi tidak melakukan hal apapun untuk menindaklanjuti permintaan saksi Ignatius Mulyono.Selanjutnya Saksi Managam Manurung yang pada saat itu menjabat sebagai Plt Deputi Bidang Hak

Tanah dan Pendaftaran

Tanah,menegaskantidak pernah dihubungi oleh saksi Muhammad Nazaruddin, saksi Mindo Rosalina atau saksi Wafid Muharam terkait dengan pengurusan SK BPN Tanah Hambalang.

Bahwa baik saksi Joyo Winoto maupun saksi Managam Manurung menyatakan bahwa SK BPN Tanah Hambalang telah selesai karena memang sudah saatnya selesai.Dengan kata lain, penerbitan SK BPN Tanah Hambalang pada tanggal 6 Januari 2010 bukan karena “diurus” oleh

Terdakwa maupun

M. Nazaruddin melalui Ignatius Mulyono, namun karena memang BPN telah saatnya menerbitkan SK BPN Tanah Hambalang tersebut.

Bahwa SK BPN Tanah Hambalang yang telah diterbitkan tersebut selanjutnya diambil oleh saksi Ignatius Mulyono dan diserahkan kepada Muhammad Nazaruddin di ruang lantai 9, Gedung DPR RI

Fakta pengurusan SK BPN Tanah

Hambalang oleh Muhammad

Nazaruddin melalui Mindo Rosalina Manulang

Bahwa menurut keterangan saksi Mindo Rosalina Manulang pada persidangan tanggal 14 Agustus 2014, Wafid Muharam pernah meminta saksi untuk menyampaikan kepada Muhammad Nazaruddin agar membantu pengurusan sertifikat proyek Hambalang. Dari keterangan saksi ini diketahui bahwa pihak yang membantu pengurusan sertifikat proyek Hambalang adalah Muhammad Nazaruddin, bukan Terdakwa atau setidak-tidaknya pihak yang diminta bantuannya oleh Wafid Muharam adalah Muhammad Nazaruddin, bukan Terdakwa.

Setelah saksi Mindo Rosalina Manulang menyampaikan pesan Wafid Muharam

kepada saksi Muhammad Nazaruddin, saksi diperintahkan saksi Muhammad Nazaruddin untuk menghubungi saksi Joyo Winoto. Selanjutnya saksi beberapa kali menelpon saksi Joyo Winoto, tetapi tidak diangkat dan sms tidak dibalas sehingga kemudian saksi melapor kepada saksi Muhammad Nazaruddin. Menindaklanjuti laporan saksi Mindo Rosalina Manulang, saksi Muhammad Nazaruddin menghubungi seseorang, yang tidak diketahui saksi siapa orangnya. Saat itu saksi Muhammad Nazaruddin berkata: “Pak Joyo sudah ditelepon Rosa tetapi tidak diangkat mas, di-sms juga tidak dibalas”. Setelah menelpon orang tadi, akhirnya saksi Muhammad Nazaruddin memerintahkan kembali saksi Mindo Rosalina Manulang untuk menghubungi saksi Joyo Winoto, yang dibalas melalui SMS: “ke sekertaris saya saja”.

Setelah mendapat SMS dari saksi Joyo Winoto tersebut di atas, saksi Mindo Rosalina Manulang mendatangi kantor BPN R.I.. Kedatangan saksi ditemui oleh sekertaris Joyo Winoto dan menyerahkan bungkusan dokumen dengan amplop warna coklat. Bungkusan dokumen tersebut kemudian diserahkan saksi Mindo Rosalina Manulang kepada saksi Muhammad Nazaruddin.

Terkait pembicaraan pertelepon antara Muhammad Nazaruddin dengan “seseorang”, saksi Mindo Rosalina dalam persidangan memberi klarifikasi keterangannya pada butir 19 BAP tertanggal 1 Maret 2013, yang menyatakan: “Pak Nazar menghubungi Pak Anas Urbaningrum”. Dalam keterangannya di persidangan, Saksi

Mindo Rosalina menyatakan tidak mengetahui siapa orang yang dihubungi saksi Muhammad Nazaruddin tersebut dan penyebutan nama Anas dalam BAP tertanggal 1 Maret 2013 semata-mata merupakan asumsi saksi Mindo Rosalina Manulang, karena istilah “mas” biasanya merupakan panggilan saksi Muhammad Nazaruddin kepada Terdakwa.Bahwa terkait dengan asumsi saksi Mindo Rosalina Manullang tersebut, Terdakwa dalam persidangan yang sama telah memberikan tanggapan yang membantah asumsi tersebut. Terdakwa tidak pernah melakukan pembicaraan apapun dengan Muhammad Nazaruddin, termasuk melalui telepon perihal SK BPN Tanah Hambalang.

Bahwa berdasarkan uraian-uraian di atas, maka telah terungkap fakta, sebagai berikut:

(i) pengurusan SK BPN Tanah Hambalang atau sertifikat tanah proyek Hambalang merupakan inisiatif dan/atau perintah dari saksi Muhammad Nazaruddin, yaitu baik kepada saksi Ignatius Mulyojo maupun kepada saksi Mindo Rosalina Manulang;

(ii) Dokumen berupa SK BPN Tanah Hambalang yang telah diterbitkan oleh saksi Joyo Winoto selaku kepala BPN R.I. diserahkan kepada saksi Muhammad Nazaruddin karena proses SK BPN tersebut selesai; dan (iii) Terdakwa terbukti sama sekali tidak

mempunyai inisiatif atau berperan dalam pengurusan

(2)Fakta bantahan peran Terdakwa dalam pengurusan Proyek P3SON

Bahwa Penuntut Umum dalam dan Surat

Dalam dokumen TABIR HAMBALANG TERSINGKAP Pembelaan Bag (Halaman 31-54)