• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bahwa Terdakwa Anas Urbaningrum dalam keadaan sehat jasmani dan rohani selama

Dalam dokumen TABIR HAMBALANG TERSINGKAP Pembelaan Bag (Halaman 109-118)

DAKWAAN KETIGA

I. Dakwaan Kesatu

2. Bahwa Terdakwa Anas Urbaningrum dalam keadaan sehat jasmani dan rohani selama

proses persidangan;

3. Bahwa Terdakwa Anas Urbaningrum selaku Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR-RI) masa jabatan tahun 2009 – 2014 berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 70/P Tahun 2009 tanggal 15 September 2009, yang selanjutnya ditempatkan pada Komisi X

DPR-RI sebagai Ketua Fraksi dari Fraksi Partai Demokrat DPR-RI.”

Bahwa dalil Penuntut Umum sebagaimana kami uraikan di atas, merupakan dalil yang tidak benar, karena tidak mempertimbangkan keterangan saksi maupun ahli yang telah didengar dalam persidangan yang terbuka, sehingga analisa Penuntut Umum menjadi keliru dan terkesan dipaksakan. Adapun kesalahan Penuntut Umum dapat kami uraikan, sebagai berikut:

a. Bahwa pembuktian subyek hukum harus dilihat dari apakah perbuatan yang memenuhi unsur tindak pidana itu memang benar dilakukan oleh Terdakwa atau pihak lain. Hal tersebut dikarenakan berdasarkan prinsip hukum pidana, seseorang tidak dapat dipidana atas suatu perbuatan pidana yang tidak dilakukannya.

Dalam hukum pidana, tidaklah diperkenankan menindak secara hukum seseorang secara serampangan karena dianggap telah melakukan suatu perbuatan yang unsur-unsurnya dianggap telah terpenuhi berdasarkan suatu ketentuan hukum pidana. Penuntut Umum terlebih dahulu harus membuktikan bahwa perbuatan tersebut merupakan suatu perbuatan pidana atau bukan. Kemudian, Penuntut Umum harus membuktikan bahwa Terdakwa memang merupakan pelaku dari perbuatan yang diduga tersebut, bukan dilakukan oleh pihak lain. Setelah Penuntut Umum mampu membuktikan bahwa perbuatan tersebut memang perbuatan pidana, dimana Terdakwa adalah benar merupakan pelaku dari perbuatan pidana tersebut, maka Penuntut Umum harus dapat membuktikan bahwa Terdakwa memang dapat dimintakan pertanggungjawaban pidana atas perbuatan pidana yang telah dilakukannya. Masing-masing hal tersebut jangan dicampur-adukkan, sebab

masing-masing sifatnya berlainan1.

Dengan demikian, untuk membuktikan subyek hukum sebagai pelaku pidana, harus dibuktikan, yaitu:

i. Apakah perbuatan tersebut memang merupakan tindak pidana?

ii. Apakah subyek hukum memang pelaku yang melakukan perbuatan tersebut?

sedangkan apakah subyek hukum tersebut dapat dipidana, maka harus dibuktikan:

iii. Apakah subyek hukum tersebut memenuhi syarat untuk dapat dimintakan pertanggungjawaban pidana atas perbuatan tersebut?

b. Sasaran Norma atau adresart norm Pasal 12 huruf a UU Tipikor adalah Pegawai Negeri dan Penyelenggara Negara

Bahwa sasaran norma atau adresart norm adalah batasan mengenai siapa saja yang dapat menjadi subyek hukum dalam suatu ketentuan peraturan perundang-undangan. Pasal 12 huruf (a) UU Tipikor telah secara tegas mengatur bahwa sasaran norma atau adresart normnya adalah terbatas hanya pada orang-orang yang mempunyai kualitas atau kedudukan sebagai pegawai negeri dan penyelenggara negara. Hal ini berbeda dengan unsur “setiap orang”, dimana sasaran norma atau adresart nornya tidak dibatasi meliputi siapa saja individunya.

Dengan demikian, sebelum Penuntut Umum menyatakan bahwa Terdakwa telah memenuhi sebagai subyek hukum yang mempunyai kualitas/ 1Prof. Moeljatno, Asas-asas Hukum Pidana, Rineka Cipete, jakarta, 2008, hal. 10-11.

kedudukan baik sebagai Pegawai Negeri atau Penyelenggara Negara, maka Penuntut Umum harus membuktikan terlebih dahulu, kapan perbuatan yang didakwakan itu dilakukan Terdakwa dan apakah perbuatan yang didakwakan tersebut dilakukan pada saat Terdakwa memiliki kualitas atau kedudukan sebagai pegawai negeri atau penyelenggara Negara.

c. Terdakwa resmi dilantik menjadi anggota DPR R.I. pada tanggal 1 Oktober 2009 dan mengundurkan diri pada tanggal 26 Juli 2010

Bahwa Penuntut Umum pada halaman 1599 menguraikan bahwa: Terdakwa Anas Urbaningrum selaku Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR- RI) masa jabatan tahun 2009 – 2014 berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 70/P Tahun 2009 tanggal 15 September 2009, yang selanjutnya ditempatkan pada Komisi X DPR-RI sebagai Ketua Fraksi dari Fraksi Partai Demokrat DPR-RI”.

Bahwa fakta yang diuraikan Penuntut Umum tersebut di atas merupakan fakta baru yang menyesatkan. Bahwa sebagaimana identitas Terdakwa yang tercantum pada halaman 1 Surat Tuntutan, Terdakwa adalah mantan anggota DPR R.I.

Bahwa Terdakwa berfungsi sebagai anggota DPR R.I. periode 2009 – 2014 terhitung sejak tanggal Terdakwa dilantik dan mengucapkan sumpah jabatan pada tanggal 1 Oktober 2009. Hal ini telah ditegaskan berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 70/P Tahun 2009 tanggal 15 September 2009 (“Keputusan Presiden No. 70/2009”), dimana salah satu diktumnya menyatakan surat keputusan ini

dinyatakan berlaku sejak dilakukan pelantikan dan pengambilan sumpah jabatan.

Terdakwa telah mengundurkan diri sebagai anggota DPR R.I. melalui surat pengunduran diri tertanggal 26 Juli 2010. Selanjutnya berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 94/P/ Tahun 2010 tertanggal 21 Agustus 2014 , pengunduran diri Terdakwa ditegaskan dan diangkat orang lain menggantikan kedudukan Terdakwa sebagai anggota DPR R.I. dari fraksi Partai Demokrat. Dengan pengunduran diri Terdakwa tersebut, maka sejak tanggal pengunduran diri, Terdakwa tidak lagi berfungsi atau memiliki kewenangan dan kekuasaan sebagai anggota DPR R.I. dan karenanya Terdakwa tidak lagi masuk sebagai sasaran norma atau adresart norm ketentuan Pasal 12 huruf (a) UU Tipikor.

d. Terdakwa hanya menjadi bagian dari sasaran norma atau adresart norm Pasal 12 huruf (a) UU Tipikor selama Terdakwa menjabat sebagai anggota DPR R.I.

Bahwa saksi Winantuningtyastiti (selaku Sekejn DPR-RI) pada persidangan pada tanggal 21 Juli 2014 menyatakan, “…maka hak dan kewajiban anggota DPR-RI melekat sesaat setelah pengucapan sumpah tersebut…”, sehingga Terdakwa baru mendapat gaji dan segala fasilitasnya setelah mengucapkan sumpah menjadi anggota DPR-RI. Selanjutnya saksi Winantuningtyastiti menjelaskan bahwa anggota DPR R.I. periode 2004-2009 baru akan berakhir kedudukannya sebagai anggota DPR R.I. pada tanggal 30 September 2009, oleh karenanya calon terpilih anggota DPR R.I. periode 2009- 2014 baru akan mulai menjalankan fungsinya setelah yang bersangkutan dilantik dan mengucapkan sumpah jabatan pada tanggal 1 Oktober 2009. Dengan demikian calon terpilih belum menjalankan fungsinya sebagai anggota

DPR R.I., karena tidak mungkin ada 2 (dua) orang sekaligus menjabat sebagai anggota DPR- RI dalam waktu yang bersamaan.

Bahwa sejalan dengan pendapat saksi Winantuningtyastiti Ahli Prof Yusril Ihza Mahendra dalam persidangan pada tangal 3 September 2014 pada pokoknya menyatakan:

Kalau kembali ke istilah klasik Belanda, jabatan anggota DPR adalah ambtsdrager. Ambtsdrager itu harus dilantik dengan surat keputusan. Dalam sistem hukum kita, yang menyatakan seseorang itu terpilih sebagai anggota DPR, seluruhnya adalah kewenangan KPU yang mandiri dan independen, tetapi sejak kapan orang itu boleh dikatakan sebagai anggota DPR, adalah sejak ada surat keputusan presiden, yang mengangkat orang yang bersangkutan sebagai anggota DPR. Tetapi Keputusan Presiden itupun tidak otomatis menyebabkan seseorang itu adalah penyelenggara negara atau pejabat negara. Hal ini tergantung pada diktum di dalam surat keputusan Presiden itu sendiri. Misalnya presiden mengeluarkan Surat Keputusan pengesahan seseorang menjadi anggota DPR pada tanggal 30 September 2014. Lalu dikatakan dalam diktumnya, surat keputusan ini dinyatakan berlaku sejak dilakukan pelantikan dan pengambilan sumpah jabatan. Dilantik dan mengucapkan sumpah jabatan itu dibuktikan dengan berita acara pelantikan dan pengambilan sumpah jabatan. Jadi dia tidak dapat minta hak, dapat gaji, tunjangan, fasilitas, dan juga tidak dapat bertindak sebagaimana layaknya seorang anggota DPR sebelum dilantik dan mengucapkan sumpah jabatan”..

Bahwa argumentasi hukum yang diterangkan di atas sejalan dengan Ahli hukum DR. Chairul Huda, yang menyatakan:

“Undang Undang 28 tahun 1999 tentang Pemerintahan Yang Bersih dan Bebas KKN, disebutkan bahwa penyelenggara negara adalah orang yang menjalankan fungsi legislative, eksekutif dan yudikatif. Bagaimana orang yang belum dilantik sudah menjalankan

fungsi? Tidak mungkin dan tidak masuk akal orang itu sudah bisa menjalankan fungsi kalau dia belum dilantik. Oleh karenanya dari tataran hukum normatif saja yang bersangkutan belum dikualifkasi sebagai penyelenggara Negara”.

Bahwa dari pendapat kedua ahli tersebut di atas dihubungkan dengan fakta pada perkara ini, maka dapat ditarik kesimpulan, sebagai berikut:

(i) Bahwa berdasarkan Keputusan Presiden No. 70/2009, tertanggal 15 September 2009, Terdakwa mengucapkan sumpah pada tanggal 1 Oktober 2009;

(ii) Bahwa Terdakwa baru resmi menjalankan fungsi dan wewenang sebagai penyelenggara Negara sejak Terdakwa mengucapkan sumpah pada tanggal 1 Oktober 2009.

Bahwa selain dari hal-hal yang telah dijelaskan di atas, Pasal 1 butir (1) Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara Yang Bersih Dan Bebas Dari Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (“UU No. 8/1999”), menyatakan:

“Penyelenggara Negara adalah Pejabat Negara yang menjalankan fungsi eksekutif, legislatif, atau yudikatif, dan pejabat lain yang fungsi dan tugas pokoknya berkaitan dengan penyelenggaraan negara sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku”.

Sementara itu, Pasal 5 ayat (1) UU No. 8/1999, menyatakan:

“Setiap Penyelenggara Negara berkewajiban untuk:

1. Mengucapkan sumpah atau janji sesuai dengan agamanya sebelum memangku

jabatannya”;

Bahwa kata kunci dari Pasal 1 butir (1) UU No8/2009 adalah menjalankan fungsi, sementara frasa kata “menjalankan” dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, yaitu melakukan (tugas, kewajiban, pekerjaan), sehingga arti kata “menjalankan fungsi” dalam konteks Bahasa Indonesia seseorang yang melakukan tugas/kewajiban untuk suatu pekerjaan tertentu.

Lebih lanjut, berdasarkan Pasal 5 ayat (1) UU No. 8/1999 setiap penyelenggara Negara wajib mengucapkan sumpah sebelum memangku jabatan”, dengan demikian sebelum penyelenggara Negara tersebut mengucapkan sumpah, maka ia belum dapat menjalankan fungsinya sebagai penyelenggara Negara (vide Pasal 1 ayat (1) UU No. 8/1999). Hal ini juga sesuai dengan bunyi diktum pada Keputusan Presiden No. 70/2009, tertanngal 15 September 2009.

e. Penuntut Umum dalam mempertimbangkan perbuatan Terdakwa sama sekali tidak mempertimbangkan fakta kapan Terdakwa menjalankan fungsi sebagai anggota DPR R.I.

Bahwa Penuntut Umum dalam Surat Tuntutannya, pada pokoknya mendalilkan Terdakwa telah melakukan perbuatan-perbuatan:

 menerima uang sebesar Rp.2.305.500.000,- (dua milyar tiga ratus lima juta lima ratus ribu Rupiah) dari PT Adhi Karya;

menerima dari Muhammad Nazaruddin

(Permai Group) uang sebesar Rp.84.515.650.000 (delapan puluh empat milyar lima ratus lima belas juta enam ratus lima puluh ribu Rupiah) dan USD 36.070 (tiga

puluh enam ribu tujuh puluh Dollar Amerika Serikat);

 menerima dari Muhammad Nazaruddin (Permai Group) uang sebesar Rp. 30.000.000.000 (tiga puluh milyar Rupiah) dan USD 5.225.000 (lima juta dua ratus dua puluh lima ribu Dollar Amerika Serikat);

 menerima hadiah berupa mobil Toyota Harrier;  menerima fasilitas survey dari PT Lingkaran

Survey Indonesia senilai sekitar Rp. 478.632.230 (empat ratus tujuh puluh delapan juta enam ratus tiga puluh dua ribu dua ratus tiga puluh Rupiah); dan

 menerima fasilitas berupa 1 (satu) unit mobil Toyota Vellfire senilai Rp.735.000.000,- (tujuh ratus tiga puluh lima juta Rupiah);

namun Penuntut Umum sama sekali tidak mempertimbangkan apakah Terdakwa dalam melakukan perbuatan-perbuatan yang didakwakan tersebut berkualitas dan berkapasitas sebagai pegawai negeri atau penyelenggara negara.

Bahwa Terdakwa memperoleh mobil Toyota Harrier pada tanggal 12 september 2009 sebelum Terdakwa dilantik dan mengucapkan sumpah jabatan sebagai anggota DPR R.I. periode 2009- 2014 pada tanggal 1 Oktober 2009. Dengan demikian Terdakwa belum menjalankan fungsi sebagai penyelenggara negara dan karenanya kapasitas Terdakwa tidak memenuhi sasaran norma atau adresart norm sebagai penyelenggara negara pada ketentuan Pasal 12 huruf (a) UU Tipikor.

Begitu juga saat Terdakwa memperoleh pinjaman mobil Toyota Velfire pada bulan September 2010. Pada saat itu, Terdakwa telah resmi mengundurkan diri sebagai anggota DPR R.I. periode 2009-2014 berdasarkan surat pengunduran diri tertanggal 26 Juli 2010 yang

ditegaskan berdasarkan Keputusan Presiden No. 94/P/ Tahun 2010. Dengan demikian, pada saat Terdakwa memperoleh pinjaman Toyota Vellfire tersebut, Terdakwa sudah tidak lagi menjalankan fungsi sebagai anggota DPR R.I atau penyelenggara negara dan karenanya kapasitas Terdakwa tidak memenuhi sasaran norma atau adresart norm sebagai penyelenggara negara pada ketentuan Pasal 12 huruf (a) UU Tipikor. Berdasarkan uraian Penasihat Hukum di atas, maka dalil Penuntut Umum yang menyatakan Terdakwa Anas Urbaningrum telah memenuhi sebagai subyek hukum yang mempunyai kualitas/ kedudukan baik sebagai Pegawai Negeri atau Penyelenggara Negara, terbukti tidak benar dan karenanya harus ditolak.

2. Analisa Unsur “ Menerima hadiah atau janji ”

Dalam dokumen TABIR HAMBALANG TERSINGKAP Pembelaan Bag (Halaman 109-118)