• Tidak ada hasil yang ditemukan

Peran pemuda dalam pengembangan pelayanan publik: studi peran pemuda dalam pengembangan pelayanan publik tingkat desa di Kabupaten Gresik.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Peran pemuda dalam pengembangan pelayanan publik: studi peran pemuda dalam pengembangan pelayanan publik tingkat desa di Kabupaten Gresik."

Copied!
177
0
0

Teks penuh

(1)

PERAN PEMUDA DALAM PENGEMBANGAN

PELAYANAN PUBLIK

(Studi Peran Pemuda Dalam Pengembangan Pelayanan Publik Tingkat Desa di Kabupaten Gresik)

TESIS

Diajukan untuk Memenuhi Sebagian Syarat

Memperoleh Gelar Magister dalam Program Dirasah Islamiah

Disusun Oleh: Mufiddin Niah

NIM: F520915024

PASCASARJANA

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL SURABAYA

(2)
(3)
(4)
(5)
(6)

ABSTRAK

Penelitian ini berjudul "Peran Pemuda Dalam Pengembangan Pelayanan Publik, (Studi Peran Pemuda Dalam Pengembangan Pelayanan Publik Tingkat Desa Di Kabupaten Gresik)". Penelitian dilatarbelakangai oleh persoalan pelayanan publik. Persoalan tersebut menyangkut ketidakseriusan, kesemrawutan dan ketidakjelasan nasib pelayanan publik yang menjadi hak warga negara sebagaimana diamanatkan undang-undang, khususnya ditingkat desa. Dalam hal ini SAGAF sebagai pemuda memainkan peran yang diharapkan dapat mengatasi maupun menjawab masalah yang dihadapi masyarakat dan Pemerintah Kabupaten Gresik, dan mampu melakukan pengembangan dan peningkatan kualitas disegala bidang dengan program gagasannya The Sunan Giri Award (SGA). Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan dan mengasalisa munculnya gagasan The Sunan Giri Award (SGA), peran pemuda dan dampaknya dalam pengembangan pelayanan publik tingkat desa. Sehingga rumusan masalahnya adalah apa faktor yang mendasari munculnya gagasan program The Sunan Giri Award (SGA) dan Bagaimana peran pemuda serta dampak yang dihasilkan terhadap pengembangan publik tingkat desa di Kabupaten Gresik? Penelitian ini merupakan penelitian jenis kualitatif pendekatan dengan pendekatan diskriptif.

Berdasarkan hasil yang diperoleh dilapangan dapat disumpulkan bahwa: 1) Faktor munculnya gagasan The Sunan Giri Award (SGA) adalah tidak adanya kontrol pelayanan, tidak profesionalnya para aparatur desa, dan tidak produktivitasnya Pemerintah Kabupaten Gresik. 2) Peran partisipasi pemuda dikategorikan peran partisipasi masyarakat dalam pembangunan, dan 3) Dampak peran pemuda dalam pengembangan pelayanan publik diantaranya dampak kelembagaan, dampak administrasi dan dampak profesional.

(7)

ABSTRACT

This research entitled "The Role of Youth in the Development of Public Service, (Role of Youth Study in the Development of Public Service at Village Level Gresik Regency)". Research is based on public service issues. The issue concerns the lack of seriousness, clutter and unclear fate of public services that are the right of citizens as mandated by law, especially at the village level. In this case SAGAF as a youth plays a role that is expected to overcome and answer the problems faced by the people and the Government of Gresik Regency, and able to develop and improve quality in all fields with the idea program The Sunan Giri Award (SGA). The purpose of this study is to describe and analyze the emergence of the idea of The Sunan Giri Award (SGA), the role of youth and its impact in the development of public services at village level. So the formulation of the problem is what factors underlie the emergence of the idea of The Sunan Giri Award (SGA) program and How is the role of youth and the resulting impact on village level public development in Gresik Regency? This research is a type of qualitative research approach with descriptive approach.

Based on the results obtained in the field can be collected that: 1) Factors emergence of the idea of The Sunan Giri Award (SGA) is the absence of service control, unprofessional village officials, and not productivity Gresik regency. 2) The role of youth participation is categorized as the role of community participation in development, and 3) The impact of youth's role in the development of public services such as institutional impact, administrative impact and professional impact.

(8)

DAFTAR ISI

COVER ... i

PERNYATAAN KEASLIAN ... ii

PERSETUJUAN ... iii

PENGESAHAN TIM PENGUJI ... iv

PESEMBAHAN ... v

MOTTO ... vii

KATA PENGANTAR ... viii

ABSTRAK ... x

DAFTAR ISI ... xii

BAB I : PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang ... 1

1.2. Batasan Masalah ... 12

1.3. Rumusan Masalah ... 12

1.4. Tujuan Penelitian ... 13

1.5. Kegunaan Penelitian ... 14

1.6. Penelitian Terdahulu ... 15

BAB II : TINJAUAN TEORITIK 2.1. Peran ... 22

2.1.1.Definisi Peran ... 22

2.1.2.Aspek-aspek Peran ... 23

2.1.3. Perbedaan Peran dan Kedudukan ... 36

2.2. Pemuda ... 37

(9)

2.2.2. Pemuda dalam Pandangan Islam ... 39

2.2.3. Karakteristik Pemuda ... 40

2.2.4. Peran Pemuda ... 43

2.2.5. Partisipasi Pemuda dalam Pembangunan ... 46

2.3. Pelayanan Publik ... 50

2.3.1. Pengertian Pelayanan Publik ... 50

2.3.2. Pandangan Agama tentang Pelayanan Publik ... 53

2.3.3. Hakikat Pelayanan Publik ... 57

2.3.4. Asas-asas Pelayanan Publik ... 58

2.3.5. Kualitas Pelayanan Publik ... 59

2.3.6. Indikator Pelayanan Publik ... 62

2.4. Peran Pemuda dalam Pengembangan Pelayanan Publik ... 65

2.4.1. Kedudukan Pemuda dalam Masyarakat Desa ... 65

2.4.2. Pengukuran Peran Pemuda dalam Pengembangan Pelayanan Publik Tingkat Desa ... 67

2.4.3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Aktualisasi Peran Pemuda dalam Pengembangan Pelayanan Publik Tingkat Desa ... 67

BAB III : METODE PENELITIAN 3.1. Pendekatan Penelitian ... 71

3.2. Sumber Data ... 71

3.3. Informan Penelitian ... 72

3.4. Teknik Pengumpulan Data ... 73

(10)

BAB IV : DESKRIPSI HASIL

4.1. Deskripsi Lokasi Penelitian ... 77

4.1.1. Letak Geografis Kabupaten Gresik ... 77

4.1.2. Topografi Kabupaten Gresik ... 77

4.2. Pelayanan Publik Tingkat Desa di Kabupaten Gresik ... 78

4.2.1. Pelayanan Publik Kabupaten Gresik ... 78

4.2.2. Jenis-jenis Pelayanan Tingkat Desa di Kabupaten Gresik ... 81

4.3. Inovasi Pelayanan Melalui Program The Sunan Giri Award (SGA) ... 92

4.3.1. Profil The Sunan Giri Awardi (SGA) ... 92

4.3.2. Proses dan Mekanisme Penilaian The Sunan Giri Award (SGA) ... 94

4.3.3. Penyelenggara The Sunan Giri Award (SGA) ... 106

4.4. Peran Pemuda dalam Pengembangan Pelayanan Publik Tingkat Desa di Kabupaten Gresik ... 108

4.4.1. Profil Pemuda SAGAF ... 108

4.4.2. Persepsi Pemuda dalam Pengembangan Pelayanan Publik Tingkat Desa di Kabupaten Gresik ... 115

4.4.3. Kinerja Pemuda dalam Pengembangan Pelayanan Publik Tingkat Desa di Kabupaten Gresik ... 116

(11)

BAB V : ANALISIS DATA

5.1. Munculnya Gagasan Program Pengembangan Pelayanan

Publik Tingkat Desa di Kabupaten Gresik ... 123

5.2. Peran The Sunan Giri Foundation (SAGAF) dalam

Pengembangan Pelayanan Publik Tingkat Desa di Kabupaten

Gresik ... 129

5.3. Dampak dari Peran The Sunan Giri Foundation (SAGAF)

dalam Pengembangan Pelayanan Publik Tingkat Desa di

kabupaten Gresik ... 142

5.4.Kelebihan The Sunan Giri Award (SGA) ... 155

5.5. Kekurangan The Sunan Giri Award (SGA) ... 156

BAB VI : PENUTUP

6.1. Kesimpulan ... 156

6.2. Rekomedasi ... 157

DAFTAR PUSTAKA ... 160

LAMPIRAN

(12)

1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Generasi muda memiliki posisi dan peran yang sangat vital dalam

kehidupan kebangsaan Indonesia. Hal ini didasarkan pada peran pemuda

seperti yang dimuat dalam UU RI No. 40 tahun 2009 tentang Kepemudaan

yang berbunyi pemuda berperan aktif sebagai kekuatan moral, kontrol

sosial, dan agen perubahan dalam segala aspek pembangunan nasional.1 Pemuda menjadi salah satu kunci terlahirnya negara Indonesia yang

menjunjung tinggi nilai-nilai persatuan di atas kemajemukan bangsa

Indonesia. Hal ini dapat dibuktikan dari peristiwa sejarah Indonesia yang

memberikan gambaran tentang vitalnya peran pemuda yaitu peristiwa

sejarah Deklarasi Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928 yang

menjadi kunci terbentuknya kekuatan pemuda untuk bersatu melawan

penjajahan kolonial Belanda. Dalam deklarasi ini tercapai kesepakatan

pemuda Indonesia sebagai pemuda yang bertumpah darah satu, yaitu tanah

air Indonesia, sebagai pemuda yang berbangsa satu, yaitu bangsa

Indonesia, dan berbahasa satu, bahasa Indonesia.2

Presiden RI pertama, Soekarno, pernah berkata “Beri aku 1.000 orang

tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda,

1

UU RI No. 40 Tahun 2009 Tentang Kepemudaan pasal 16 2

(13)

2

niscaya akan ku goncangkan dunia”,3 hal tersebut menjadi sebuah cambuk bahwa pemuda menjadi kunci utama dalam perjuangan ke arah perbaikan

negara Indonesia yang sejatera. Hal ini didasari atas karakteristik pemuda

seperti pada UU RI No. 40 tahun 2009 tentang kepemudaan pasal 6 yaitu

“memiliki semangat kejuangan, kesukarelaan, tanggung jawab, dan

ksatria, serta memiliki sifat kritis, idealis, inovatif, progresif, dinamis,

reformis, dan futuristik”.4 Pemuda dengan karakteristik seperti demikian menjadikannya memiliki peran penting dalam dinamika sosial Indonesia

ditengah arus perubahan sosial yang terus mendera Indonesia.

Apabila kita membaca ulang sejarah kemerdekaan Indonesia, disitu

dapat dilihat bahwa peran pemuda sangatlah besar mulai dari proklamasi

sampai reformasi semuanya tidak akan terjadi tanpa adanya kiprah para

pemuda. Dan pada masa ini pemuda ditantang untuk bisa menunjukkan

dan membangun Indonesia dengan tampil memberikan solusi terbaik

untuk mengatasi segala permasalahan dan juga memberikan harapan baru

bagi bangsa ini untuk lebih baik lagi dalam pengembangan di segala

bidang.5

Pemuda menjadi penting peranannya bukan saja karena bagian

terbesar dari penduduk Indonesia saat ini berusia muda, tetapi penting

karena berbagai alas antara lain, pertama, pemuda adalah generasi penerus

yang akan melanjutkan cita-cita perjuangan bangsa. Kedua, kelangsungan

3

Kalimat tersebut merupakan sepenggal dari pidato Bung Karno semasa ia menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia.

4

UU RI No. 40 Tahun 2009 Tentang Kepemudaan pasal 6 5

(14)

3

sejarah dan budaya bangsa, corak dan warna masa depan suatu bangsa

akan sangat ditentukan oleh arah persiapan atau pembinaan dan

pengembangan generasi muda pada saat ini. Ketiga, terjaminnya proses

kesinambungan nilai-nilai dasar negara. Yaitu dipandang dari sudut

semangat kepemudaan yakni sumpah pemuda 1928, proklamasi 1945,

Pancasila dan UUD 1945.6

Perubahan sosial dan budaya yang cenderung bergerak sangat cepat

pada era modern ini sebagai sebagai akibat kemajuan ilmu pengetahuan,

teknologi, banyaknya jumlah penduduk dan krisis multi dimensi telah

mempengaruhi perubahan pada masyarakat secara mendasar.

Pengaruh perubahan-perubahan tersebut juga dirasakan oleh pemuda

sebagai masalah yang telah menyangkut kepentingannya dimasa kini dan

tantangan yang dihadapinya dimasa depan.

Terbukti pemuda zaman sekarang identik dengan hal- hal yang

bersifat menyenangkan (hura- hura), seperti touring club motor, nge-band,

karaoke, bahkan judi, mabuk-mabukan, dugem, narkoba sampai tawuran

antar kelompok pemuda. Tidak sedikit para pemuda yang memikirkan

tentang keadaan bangsa Indonesia saat ini, tentang masalah yang dihadapi

bangsa ini, karena memang pemuda saat ini kebanyakan bersikap masa

bodoh dan tidak mau tau terhadap masalah apapun yang tengah dihadapi

oleh bangsa ini.

6

(15)

4

Kabupaten Gresik dikenal dengan kota industri dari industri kecil,

menengah, dan industri besar, dan juga merupakan salah satu hinterland

kota Surabaya. Kabupaten Gresik juga merupakan salah satu pusat

kawasan industri terbesar yang berada di Jawa Timur. Sektor penghasil

Produk Domestik Regional Bruto tertinggi Kabupaten Gresik adalah

sektor industri, sehingga masyarakat luas mengenal Kabupaten Gresik

sebagai kota industri. Sehingga banyak perusahaan dan industri yang

merekrut pemuda Gresik sebagai karyawan dan buruh pekerja di

perusahaan. Hal tersebut dapat mempengaruhi mindset berfikir pemuda

untuk memiliki jiwa dan semangat dalam mencari rupiah, sehingga

mengubah cara berfikir pemuda Gresik menjadi pragmatis dan matrealis.

Ada anggapan bahwa pemuda Gresik sibuk dengan aktivitasnya

masing- masing, ada yang sibuk sekolah, ada yang sibuk kuliah, bahkan

ada yang sibuk mencari rupiah dengan berkerja. Kalaupun ada waktu

luang, mereka lebih memilih untuk mengisinya dengan nongkrong di

warung kopi mengobrol khas pemuda yang arah obrolanya tidak tuntas.

Kondisi tersebut memicu dan mendorong beberapa pemuda untuk terlibat

dalam ruang yang lebih luas, mereka kemudian berkumpul dalam sebuah

organisasi yang dikenal denan nama The Sunan Giri Foundation

(SAGAF).

The Sunan Giri Foudation (SAGAF) merupakan sebuah lembaga

konsultasi bidang pelayanan publik. Lembaga yang lebih akrab disebut

(16)

5

Kabupaten Gresik. SAGAF didirikan dengan cita- cita besar yang

terwujud dalam visinya, yaitu “Terwujudnya Masyarakat Sipil yang

Berkeadilan dan Berperadaban”. Dalam rangka mencapai visi tersebut

SAGAF telah melakukan berbagai upaya melalui program- program.7 Berbagai macam bentuk program atau kegiatan yang mana semuanya

merupakan wujud dari peran SAGAF yang dilaksanakan dalam rangka

untuk memperbaiki Kabupaten Gresik baik dalam bidang pendidikan,

sosial, maupun pelayanan publik dalam konteks politik atau

penyelenggaraan pemerintahan di Kabupaten Gresik.8

Dalam konteks peran SAGAF, menurut Sarwono yang dinamakan

peran adalah dimana seorang aktor dalam teater harus bermain sebagai

tokoh tertentu dan dalam posisinya sebagai tokoh itu ia diharapkan untuk

berprilaku secara tentu. Dan dalam hal ini SAGAF sebagai pemuda

memainkan peran yang diharapkan dapat mengatasi maupun menjawab

segala masalah yang sedang dihadapi masyarakat dan Pemerintah

Kabupaten Gresik, serta mampu membawa Gresik dalam hal

pengembangan dan peningkatan kualitas disegala bidang.9 Dari semua peran yang telah dilakukan oleh SAGAF, peneliti lebih tertarik dengan

7

SAGAF News, Vol.I, September 2014, Hlm. 2 8

Banyak peran yang telah dilakukan oleh pemuda Sagaf untuk mengembangakan dan meningkatkan Kabupaten Gresik baik dalam bidang pendidikan, sosial, politik, maupun pemerintahan. Peran yang dilakukan SAGAF dalam bidang sosial antara lain yaitu, membentuk kelompok program pemberdayaan masyarakat dampingan dan juga program penyaluran bantuan ternak kepada masyaraka Gresik yang tidak mampu. Peran yang dilakukan SAGAF dalam bidang pendidikan antara lain yaitu, sekolah PAR (Participatory, Action, Research) untuk para pemuda yang ada dilingkungan Kabupaten Gresik. Peran yang dilakukan pemuda Sagaf dalam bidang politik antara lain yaitu, program SGA (The Sunan Giri Award) yang merupakan suatu program kompetisi pelayanan publik tingkat desa di Kabupaten Gresik untuk menuju desa kompetitif dan bebas korupsi.

9

(17)

6

peran SAGAF dalam bidang-bidang politik atau pemerintahan yaitu

dengan program program kompetisi pelayanan publik tingkat desa di

Kabupaten Gresik.

Pelayanan publik merupakan kegiatan atau rangkaian kegiatan

pemenuhan kebutuhan masyarakat yang dilaksanakan oleh instansi

pemerintah baik pusat maupun daerah yang sesuai dengan peraturan

perundang- undangan baik dalam bentuk barang, jasa, maupun pelayanan

administratif.10

Menurut UU No. 25 Tahun 2009 Tentang Pelayanan Publik,

pelayanan publik adalah rangkaian kegiatan dalam rangka pemenuhan

kebutuhan pelayanan sesuai dengan perundang- undangan bagi setiap

warga Negara dan penduduk atas barang, jasa dan atau pelayanan

administratif yang disediakan oleh penyelenggara pelayanan publik.11 Desa atau kelurahan merupakan kepanjangan utama pemerintah dalam

memberikan pelayanan kepada masyarakat, dan dari pintu desa/ kelurahan

itulah pelayanan pertama dilakukan oleh pemerintah. Pemenuhan standar

minimal pelayanan ditingkat desa dan kelurahan diharapkan dapat

memperkuat pelayanan publik serta memperbaiki citra pelayanan kepada

masyarakat.

Dalam Islam, sesungguhnya Allah SWT pun juga sudah mengatur

berbagai cara untuk mewujudkan konsep pelayanan publik yang biasa

dikenal dengan konsep pelayanan prima yang tertuang dalam kitab suci

10

Nurman, Strategi Pembangunan Daerah, (Jakarta: Rajawali Pers 2015), Hlm. 18 11

(18)

7

Al- Qur’an, dan kita sebagai umat islam tidak mpernah menyadari itu

sama sekali. Kebanyakan orang Islam di Indonesia pun enggan melihat

atau mempelajari ajaran- ajaran agamanya dan mereka mengimpor konsep

dari luar Islam. Konsep Islam mengajarkan bahwa dalam memberikan

layanan dari usaha yang dijalankan baik itu berupa barang atau jasa jangan

memberikan yang buruk atau tidak berkualitas, melainkan yang bekualitas

kepada orang lain.

Dengan memberian pelayanan yang menunjukkan kesopanan dan

kelemah lembutan akan menjadi jaminan rasa aman bagi konsumen dan

yang berdampak pada kesuksesan lembaga penyedia layanan jasa.

Berkenaan dengan hal ini, Al Qur’an Surat Ali Imran ayat 159 menyatakan

bahwa :

Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma’afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian

apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang

bertawakkal kepada-Nya. (QS. Ali Imran : 159)12

Syariat Islam menilai bahwa perbuatan atau pelayanan terbaik kepada

orang lain pada hakikatnya ia telah berbuat baik pada dirinya sendiri,

sebagai mana firman Allah dalam Al-Qur’an:

12

Departemen Agama RI, “Al-Qur’an Dan Terjemahnya Al- Hikmah”, (Bandung: Diponegoro,

(19)

8

“Jika kamu berbuat baik, (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu

sendiri.” (QS. Al-Isra’: 7)13

Islam mengajarkan kepada kita apabila berkeinginan memberikan

hasil usaha baik berupa barang /benda ataupun pelayanan/jasa hendaknya

memberikan pelayanan yang berkualitas kepada orang lain. Seperti yang

dijelaskan dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 276:

Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (dijalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu, dan janganlah kamu meilih yang buruk-buruk lalu kamu menafkahkan daripadanya, padahal kamu sendiri

tidak mau mengambilnya melainkan dengan memincingkan mata terhadapnya, dan ketahuilah bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.

(QS. Al-Baqarah : 276)14

Bagaimana seorang pelayan publik bisa memberi pelayanan terhadap

masyarakat sepenuh hati sesuai Standart Operating Procedure (SOP) yang

telah ditentukan, sebagai pelayanan publik harus mempunyai jiwa yang

adil, jujur, akuntabel, transparan semua itu kunci dari keberhasilan

pelayanan agar Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM) terpenuhi.

Namun kenyataannya tidak semua desa/ kelurahan memberikan

pelayanan maksimal kepada masyarakat baik dalam arti pelayanan publik

sesungguhnya, pelayanan publik dalam konsep Islam, maupun amanat

13

Ibid., Hlm. 282

14

(20)

9

yang terkandung dalam UU No.25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik.

Permasalahan Pelayanan Publik yang ada di Kabupaten Gresik khususnya

di tingkat desa yaitu kegiatan layanan yang dilakukan diluar jam kerja,

tanpa mengenal batas waktu, tidak memiliki standar operasional, dan

dilakukan seenaknya oleh aparatur desa. Proses pelayanan publik yang

seperti ini sama sekali tidak diketahui dan dikontrol ketat oleh pengambil

kebijakan diatasnya, sehingga terkesan pelayanan publik ditingkat desa

dibiarkan berjalan mengikuti ritme dan mekanisame arus lokal dimasing-

masing daerah (desa/ dusun) tanpa adanya standard dan aturan yang

universal. Bayangkan saja pelayanan publik yang seperti itu terjadi di

Kabupaten Gresik yang notabenenya masih termasuk kota, bagaimana

dengan pelayanan publik di desa- desa yang jauh dari kontrol dan

jangkauan pengawasan pemerintah.

Sebagai organisasi pemuda yang sangat peka tentunya The Sunan Giri

Foundation (SAGAF) sangat prihatin ketika dihadapkan dengan realitas

pelayanan publik di Kabupaten Gresik. Kondisi pelayanan publik dinilai

benar- benar sangat kurang atau bisa dikatakan sangat buruk. Persoalan

pelayanan publik merupakan persoalan mendasar yang dihadapi oleh

pemerintah baik pada level nasional maupun regional yaitu pada tingkatan

desa. Tidak semua desa memberikan pelayanan maksimal yang sesuai

dengan kaidah dan standart yang telah diatur dalam Undang- Undang,

terutama yang tertuang dalam UU No. 25 tahun 2009 tentang pelayanan

(21)

10

Hanya sedikit desa yang berkerja sesuai dengan aturan maupun

prosedur, dan tidak semua perangkat desa berada ditempat pada saat

masyarakat datang untuk mengurus keperluannya. Serta tidak semua

masyarakat juga mendapatkan pelayan yang tepat waktu, serta tidak semua

layanan tergambar dengan jelas, transparan dan obyektif. Begitulah

gambaran pelayanan publik ditingkat desa di Kabupaten Gresik. Hal yang

menurut peneliti mudah ditemui dan diukur, karena sebagian dari kita

pernah mengalaminya.

Inilah realitas pelayanan publik yang terjadi dan dirasa tidak perlu

diperdebatkan siapa yang salah dan bertanggung jawab atas semua itu,

karena semua pihak semestinya berkewajiban untuk meretas persoalan

tersebut tidak terkecuali SAGAF. SAGAF pun memberikan solusi kepada

pihak Pemerintah Kabupaten Gresik yaitu sebuah gagasan untuk

menyelenggarakan aktivitas pembinaan, pendampingan, dan pemberian

penghargaan di bidang pelayanan publik yang dikenal dengan sebutan The

Sunan Giri Award (SGA).

The Sunan Giri Award (SGA)15 adalah program kompetisi pelayanan

publik tingkat desa di Kabupaten Gresik, pemberian penghargaan bagi

desa- desa yang memiliki pelayanan publik terbaik. Program tersebut

berisikan penilaian dan apresiasi atas proses dan pencapaian pelayan

publik di tingkat desa dan kelurahan di Kabupaten Gresik, yang mana

15

(22)

11

pemberian penghargaan sebelumnya melalui proses pembinaan dan

pendampingan.16 Program SGA merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan kualitas pelayanan Pemerintah Desa terhadap masyarakat,

dan SAGAF memantau progress perkembangan kualitas pelayanan di

setiap desa di Kabupaten Gresik setiap tahunnya.17 Melalui SGA, SAGAF memiliki kemungkinan lebih besar untuk menjangkau permasalahan lebih

dekat dengan memanfaatkan keunggulan network serta mengembangkan

gagasan inovatif untuk menanggulangi masalah pelayanan publik maupun

meningkatkan kualitas pelayanan dan kebijakan publik.

SAGAF merupakan inspirasi dan semangat baru dari pemuda dalam

memberikan pelayanan publik yang lebih baik kepada masyarakat. Karena,

pemuda adalah tenaga produktif (pembangunan) hari ini dan masa depan

suatu bangsa. Pemuda menjadi “mesin” bangsa yang diharapkan mampu

mengatasi beban bangsa dan mengangkat martabat bangsa ini.18 Sehingga nasib Kabupaten Gresik juga berada ditangan pemuda. Pemuda Gresik

harus meneruskan tongkat estafet kepemimpinan. Apa yang di alami

Kabupaten Gresik hari ini adalah bentuk atau hasil dari peran dan kiprah

pemuda Gresik pada hari kemarin. Dan peran atau kiprah apapun yang

dilkukan pemuda Gresik hari ini akan menentukan nasib Kabupaten

Gresik hari esok.

Berdasarkan hal tersebut, peneliti terdorong untuk meneliti SAGAF

Gresik yang dianggap memiliki peran besar dalam kehidupan

16

Abdul Chalik dan Muttaqin Habibullah.op. cit. Hlm. 36 17

SAGAF News, Vol.I, September 2014, Hlm. 3 18

(23)

12

penyelenggaraan pelayanan publik. Hal inilah yang menarik untuk

dijadikan sebuah penelitian yang berjudul “PERAN PEMUDA DALAM

PENGEMBANGAN PELAYAN PUBLIK; Studi Peran Pemuda dalam

Pengembangan Pelayanan Publik Tingkat Desa diKabupaten Gresik

1.2. Batasan Masalah

Peneliti perlu untuk memberikan batasan penelitian Peran Pemuda

dalam Pengembangan Pelayanan Publik Tingkat Desa di Kabupaten

Gresik, sebagai berikut :

1. Pemuda dalam penelitian ini adalah seluruh pengurus dan anggota The

Sunan Giri Foundation (SAGAF) Gresik.

2. Peran dalam penelitian ini adalah segala bentuk peran yang dilakukan

The Sunan Giri Foundation (SAGAF) dalam pengembangan

pelayanan publik di Kabupaten Gresik.

3. Pelayanan publik dalam penelitian ini adalah semua pelayanan publik

yang diberikan pada tingkat desa di Kabupaten Gresik.

1.3. Rumusan Masalah

1. Apa yang mendasari munculnya gagasan program pengembangan

pelayanan publik tingkat desa yang diinisiasi oleh pemuda ?

2. Bagaimana peran pemuda dalam pengembangan pelayanan publik

(24)

13

3. Bagaimana dampak yang dihasilkan dari peran pemuda terhadap

pengembangan pelayanan publik tingkat desa di Kabupaten Gresik ?

1.4. Tujuan Penelitian

Sehubungan dengan rumusan masalah di atas, maka peneliti

mempuyai tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini. Adapun tujuan

dari penelitian ini agar memperoleh gambaran yang jelas dan tepat serta

terhindar dari adanya interpretasi dan meluasnya masalah dalam

memahami isi penelitian. Tujuan dari penelitian ini adalah :

1. Mendeskripsikan apa yang mendasari munculnya gagasan program

pengembangan pelayanan publik tingkat desa yang diinisiasi oleh

pemuda.

2. Mendeskripsikan peran pemuda dalam pengembangan pelayanan

publik tingkat desa di Kabupaten Gresik.

3. Mendeskripsikan dampak yang dihasilkan dari peran pemuda terhadap

(25)

14

1.5. Kegunaan Penelitian

Berhubungan dengan tujuan penelitian diatas maka penulis paparkan

bahwa kegunaan dari penelitian ini adalah :

1. Manfaat Teoritis

Dari segi teoritis penelitian ini merupakan kegiatan dalam

rangka mengembangkan ilmu pengetahuan khususnya wacana

pendidikan dan kepemudaan. Secara akademis penelitian ini

diharapkan mampu memberi sumbangan teori tentang peran

pemuda dalam pengembangan pelayanan publik tingkat desa,

kepada Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya

khususya kepada mahasiswa Dirasah Islamiah Kepemudaan dan

perpustakaan sebagai bahan bacaan yang bersifat ilmiah dan

sebagai kontribusi khazanah intelektual.

2. Manfaat Praktis

Pada segi praktis penelitian, penulis berharap mampu

meningkatkan dan menguatkan pemahaman peran pemuda dalam

pengembangan pelayanan publik tingkat desa, khususnya

organisasi kepemudaan The Sunan Giri Foundation (SAGAF)

Gresik.

Manfaat selanjutnya adalah bagi masyarakat dapat diberikan

landasan berpikir, tahapan berpikir dan implementasi pentingnya

peran pemuda dalam pengembangan pelayanan publik, baik

(26)

15

Manfaat bagi pemerintah sebagai masukan serta bahan

analisa dan wacana bagaimana peran pemuda dalam

pengembangan pelayanan publik, baik tingkat daerah maupun

nasional.

1.6. Penelitian Terdahulu

Banyak penelitian terdahulu yang ada hubungannya dengan penelitian

ini, adalah sebagai berikut :

1) Penelitian yang dilakukan oleh Yuni Siti Aisah yang berjudul “Kajian

Governance Networks Dalam Program The Sunan Giri Awards di

Kabupaten Gresik” dalam bentuk Skripsi, penelitian ini diterbitkan

oleh Jurusan PMP-KN Universitas Negeri Surabaya Tahun 2015.

Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan relasi yang terjalin antar

partisipasi network yakni Pemerintah Kabupaten Gresik dan The

Sunan Giri Foundation dalam penyelenggaraan The Sunan Giri

Awards agar network yang dibentuk dapat berjalan dengan baik

berdasarkan perspektif Governance Network. Pendekatan yang

digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. Data

merupakan data primer dan sekunder yang dipadukan yang diperoleh

melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi.

Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa variabel tersebut

diatas mempresentasikan relasi yang terjalin antara Pemerintah

(27)

16

penyelenggaraan The Sunan Giri Awards (SGA). Variabel modal

menjelaskan kemampuan kedua belah pihak untuk dapat berkontribusi

menyertakan partisipasinya dalam network. Variabel model ikatan

menjelaskan relasi yang terjalin melalui sebuah negosiasi untuk

berjejaring dalam sebuah program yaitu The Sunan Giri Award (SGA)

dimana kedua belah pihak akan bekerja bersama. Variabel perangkat

kebijakan menjelaskan peraturan yang mendasari kedua belah pihak

melakukan aktifitas kerja dengan fungsi kedudukan tertentu dalam

kebijakan yang bersangkutan. Variabel strategi administratif

menjelaskan koordinasi para aktor untuk dapat mengakses berbagai

alat administratif dan strategi yang terdapat dalam network. Variabel

struktur akuntabilitas menjelaskan pertanggungjawaban kedua belah

pihak akan kinerja mereka dalam network kepada network maupun

otoritas yang lebih tinggi dari kedua belah pihak. Variabel sistem

manajemen kinerja menjelaskan monitoring terhadap kinerja kedua

belah pihak dalam network pada keseluruhan rangkaian program.19 Apabila dikaitkan dengan penelitian ini sama- sama membahas

tentang pelayanan publik, namun yang membedakan pada penelitian

yang dilakukan oleh Yuni Siti Aisah ini lebih fokus pada governance

network dalam pengembangan pelayanan publik tingkat desa,

sedangkan penelitian yang dilakukan peneliti lebih fokus membahas

19

(28)

17

tentang peran pemuda dalam pengembangan pelayanan publik tingkat

desa di Kabupaten Gresik.

2) Penelitian yang dilakukan oleh Wahyu Ishardino Satries yang

berjudul “Peran Serta Pemuda Dalam Pembangunan Masyarakat”

dalam bentuk Jurnal, penelitian ini diterbitkan oleh Jurnal FISIP

Madani Tahun 2009 Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan

peran pemuda dalam pembangunan masyarakat. Pendekatan yang

digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif.

Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa Keberadaan

pemuda yang aktif dalam kegiatan kemasyarakatan merupakan salah

satu solusi dari upaya pemberdayaan masyarakat sekitarnya. Sebab

pemuda dengan segala potensinya diharapkan mampu mengangkat

derajat masyarakat sekitar melalui berbagai kegiatan dan organisasi

yang didirikannya. Namun, pengembangan potensi pemuda ini masih

minim dukungan dari pihak pemerintah baik pusat maupun daerah.

Hal tersebut terbukti dari minimnya anggaran kepemudaan di daerah

dan anggaran tersebut diberikan hanya pada satu organisasi pemuda

yang dianggap representasi dari organisasi kepemudaan lainnya.

Untuk itu diperlukan upaya kreatif dari pemuda untuk dapat

berpartisipasi dalam pemberdayaan masyarakat seperti menggandeng

pihak swasta sebagai donatur.20

20

(29)

18

Apabila dikaitkan dengan penelitian ini sama- sama membahas

tentang peran pemuda, namun yang membedakan pada penelitian

yang dilakukan oleh Wahyu Ishardino Satries ini lebih fokus pada

peran pemuda dalam pembangunan masyarakat, sedangkan penelitian

yang dilakukan peneliti lebih fokus membahas tentang peran pemuda

dalam pengembangan pelayanan publik tingkat desa di Kabupaten

Gresik.

3) Penelitian yang dilakukan oleh Sabat Banuaji, Wiwik Widayati dan

Puji Astuti yang berjudul “Peran Gerakan Pemuda Ansor dalam

Penguatan Civil Society di Kabupaten Jepara” dalam bentuk Jurnal,

penelitian ini diterbitkan oleh Journal of Politic and Government

Studies Tahun 2013. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan

peran pemuda dalam penguatan civil society. Pendekatan yang

digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif.

Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa keberadaan GP

Ansor selama ini terkesan begitu kental dengan aroma politik. Hal ini

memang karena aktivis GP Ansor banyak terlibat di ranah politik.

Aktivis GP Ansor lebih tertarik menjadi politisi ketimbang sebagai

penyangga gerakan civil society. Sayangnya, naluri politik tersebut

belum berkorelasi positif terhadap usaha-usaha GP Ansor dalam turut

memberikan pemahaman dalam membangun iklim demokrasi pada

masyarakat. Selama ini belum ada kegiatan yang sifatnya memberikan

(30)

19

kegiatan yang dilakukan selama ini masih banyak yang bersifat

ritual-ritual keagamaan seperti pengajian dan sebagainya. Menghadapi

realitas kebangsaan dengan problem yang sangat kompleks, tentu

membutuhkan adanya kedewasaan politik, bukan hanya kearifan

politik dengan sikap arif dan bijaksana mengahapi kompleksitas

problem kebangsaan, akan tetapi GP Ansor dituntut perannya secara

riil untuk lebih mengedepankan kepentingan rakyat diatas kepentingan

kelompok atau golongan. Tidak ada jalan lain bagi GP Ansor agar

tidak ditinggalkan warganya, perlu strategi yang lebih kreatif dan

aspiratif dalam ikut membantu pemerintah meringankan beban

masyarakat.21

Apabila dikaitkan dengan penelitian ini sama- sama membahas

tentang peran pemuda, namun yang membedakan pada penelitian

yang dilakukan oleh Sabat Banuaji, Wiwik Widayati dan Puji Astuti

ini lebih fokus pada peran pemuda dalam penguatan civil society,

sedangkan penelitian yang dilakukan peneliti lebih fokus membahas

tentang peran pemuda dalam pengembangan pelayanan publik tingkat

desa di Kabupaten Gresik.

4) Penelitian yang dilakukan oleh Yaya Mulya Mantri yang berjudul

“Peranan Pemuda Dalam Pelestarian Seni Tradisional Benjang Guna

Meningkatkan Ketahanan Budaya Daerah (Studi di Kecamatan

Ujungberung Kota Bandung Provinsi Jawa Barat)” dalam bentuk

21

(31)

20

Jurnal, penelitian ini diterbitkan oleh Jurnal Ketahanan Nasional

Tahun 2014. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan peranan

pemuda dalam pelestarian seni tradisional guna meningkatkan

ketahanan budaya daerah. Pendekatan yang digunakan dalam

penelitian ini adalah pendekatan kualitatif.

Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa pertama, peran

pemuda dalam pelestarian seni tradisi onal Benjang yang terbagi

dalam lima peran yaitu: peran pewarisan, peran pemilik, peran pelaku,

peran inovatif, dan peran edukatif. Kedua, pemuda menghadapi tiga

kendala dalam pelestarian seni tradisional Benjang, yaitu kendala

dalam mengembangkan seni tradisional Benjang, kurang nya

keterlibatan dari berbagai pihak, dan masuknya budaya asing secara

masif. Ketiga, meningkatnya kesadaran dan identitas budaya lokal,

perubahan tanpa menyalahi orisinalitas budaya daerah, dan

menangkal penetrasi budaya asing yang tidak sesuai dengan budaya

daerah.22

Apabila dikaitkan dengan penelitian ini sama- sama membahas

tentang peran pemuda, namun yang membedakan pada penelitian

yang dilakukan oleh Yaya Mulya Mantri. ini lebih fokus pada peranan

pemuda dalam pelestarian seni tradisional guna meningkatkan

ketahanan budaya daerah., sedangkan penelitian yang dilakukan

22

(32)

21

peneliti lebih fokus membahas tentang peran pemuda dalam

(33)

22

BAB II

TINJAUAN TEORITIK

2.1.Peran

2.1.1. Definisi Peran

Teori peran adalah sebuah teori yang digunakan dalam dunia

sosiologi, psikologi dan antropologi yang merupakan perpaduan

berbagai teori, orientasi maupun disiplin ilmu. Teori peran berbicara

tentang istilah “peran” yang biasa digunakan dalam dunia teater,

dimana seorang aktor dala teater harus bermain sebagai tokoh tertentu

dan dalam posisinya sebagai tokoh itu ia diharapkan untuk berprilaku

secara tertentu. Posisi seorang aktor dalam teater dinalogikan dengan

posisi seseorang dalam masyarakat, dan keduanya memiliki kesamaan

posisi.23

Peran diartikan pada karakterisasi yang disandang untuk dibawakan

oleh seorang aktor dalam sebuah pentas drama, yang dalam konteks

sosial peran diartikan sebagai suatu fungsi yang dibawakan seseorang

ketika menduduki suatu posisi dalam struktur sosial. Peran seorang

aktor adalah batasan yang dirancang oleh aktor lain, yang kebetulan

sama- sama berada dalam satu penampilan/ unjuk peran (role

perfomance).24

23

Sarlito Wirawan Sarwono, Teori- Teori Psikologi Sosial, (Jakarta: Rajawali Pers, 2015), Hlm.215

24

(34)

23

Dari paparan diatas tersebut dapat disimpulkan bahwa teori peran

adalah teori yang berbicara tentang posisi dan prilaku seseorang yang

diharapkan dari padanya tidak berdiri sendiri, melainkan selalu berada

dalam kaitannya dengan adanya orang- orang lain yang berhubungan

dengan orang atau aktor tersebut. Pelaku peran menjadi sadar akan

struktur sosial yang didudukinya, oleh karena itu seorang aktor

berusaha untuk selalu nampak “mumpuni” dan dipersepsi oleh aktor

lainnya sebagai “tak menyimpang“ dari sistem harapan yang ada dalam

masyarakat.25

2.1.2. Aspek- aspek Peran

Biddle dan Thomas membagi peristilahan dalam teori peran dalam

empat golongan, yaitu:26

1. Orang- orang yang mengambil bagian dalam interaksi sosial

2. Perilaku yang muncul dalam interaksi tersebut

3. Kedudukan orang- orang dalam perilaku

4. Kaitan antara orang dan perilaku

2.1.2.1.Orang Yang Berperan

Berbagai istilah tentang orang- orang dalam teori peran.

Orang- orang yang mengambil bagian dalm interaksi sosial dapat

dibagi dalam dua golongan sebagai berikut :

25

Ibid., Hlm.4 26

(35)

24

a. Aktor atau pelaku, yaitu orang yang sedang berprilaku

menuruti suatu peran tertentu.

b. Target (sasaran) atau orang lain, yaitu orang yang mempunyai

hubungan dengan aktor dan perilakunya.

Aktor maupun target bisa berupa individu ataupun kumpulan

individu (kelompok). Hubungan antara kelompok dengan

kelompok misalnya terjadi antara sebuah paduan suara (aktor) dan

pendengar (target). Biasanya istilah aktor diganti dengan person,

ego, atau self. Sedangkan target diganti dengan istilah alter-ego,

ego, atau non-self.27

Dengan demikian dapat dilihat bahwa sebenarnya teori peran

digunakan untuk menganalisis setiap hubungan atara dua orang

atau banyak orang. Menurut cooley dan Mead, hubungan antara

aktor dan target adalah untuk membentuk identitas aktor (person,

ego, self) yang dalam hal ini dipengaruhi oleh penilaian atau sikap

orang- orang lain (target) yang telah digeneralisasikan oleh aktor.

Secord dan Backman berpendapat bahwa aktor menempati posisi

pusat tersebut (focal position), sedangkan target menempati posisi

padanan dari posisi pusat tersebut (counter position). Maka dapat

dilihat bahwa, target dalam teori peran berperan sebagai pasangan

(partner) bagi aktor.

27

(36)

25

2.1.2.2.Perilaku Dalam Peran

Biddle dan Thomas membagi lima indikator tentang perilaku

dalam kaitanya dengan peran sebagai berikut :

a. Harapan tentang peran (expectation)

Harapan tentang peran adalah harapan- harapan orang lain

tentang perilaku yang pantas, yang seharusnya ditunjukkan

oleh seseorang yang mempunyai peran tertentu. Harapan

tentang perilaku ini bisa berlaku umum, bisa merupakan

harapan dari segolongan orang saja, dan bisa juga merupakan

harapan dari satu orang tertentu.28 b. Norma(norm)

Secord dan Backman berpendapat bahwa, norma hanya

merupakan salah satu bentuk harapan. Secord dan Backman

membagi jenis- jenis harapan sebagai berikut : 29

1. Harapan yang bersifat meramalkan (anticipatory), yaitu

harapan tentang suatu perilaku yang akan terjadi.

2. Harapan normatif (role expectation), yaitu keharusan yang

menyertai suatu peran. Harapan normatif ini dibagi lagi ke

dalam dua jenis:

 Harapan yang terselubung (convert), yaitu harapan itu

tetap ada walaupun tidak diucapkan.

28

Ibid., Hlm. 217 29

(37)

26

 Harapan yang terbuka (overt), yaitu harapan yang

diucapkan. Harapan jenis ini dinamai tuntutan peran

(role demand). Tuntutan peran melalui proses

internalisasi dapat menjadi norma bagi peran yang

bersangkutan.

c. Wujud perilaku dalam peran(performance)

Peran diwujudkan dalam perilaku oleh aktor. Wujud

perilaku dalam peran ini nyata dan bervariasi, berbeda- beda

dari satu aktor ke aktor yang lain. Variasi tersebut dalam teori

peran dipandang normal dan tidak ada batasnya.

Teori peran tidak cenderung mengklasifikasikan istilah-

istilahnya menurut perilaku khusus, melainkan berdasarkan

klasifikasinya pada sifat asal dari perilaku dan tujuannya

(motivasinya). Sehingga, wujud perilaku peran dapat

digolongkan misalnya kedalam jenis hasil kerja, hasil

sekolah, hasil olahraga, pendisiplinan anak, pencari nafkah,

pemeliharaaan ketertiban, dan lain sebagainya.30

Peran dilihat wujudnya dari tujuan dasarnya atau hasil

akhirnya, terlepas dari cara mencapai tujuan atau hasil

tersebut. Namun tidak menutup kemungkinan adanya cara-

cara tertentu dalam suatu peran yang mendapat sanksi dari

masyarakat. Suatu cara menjadi penting dalam perwujudan

30

(38)

27

peran, ketika cara itu bertentangan dengan aspek lain dari

peran. Dengan demikian, seorang aktor bebas untuk

menentukan cara- caranya sendiri selama tidak bertentangn

dengan setiap aspek dari peran yang diharapkan darinya.31 Terkait perwujudan peran, ada 2 pendapat, yaitu:

1. Sarbin menyatakan bahwa perwujudan peran dapat dibagi

dalam tujuh golongan menurut intensitasnya berdasarkan

keterlibatan diri (self) aktor dalam peran yang

dibawakannya. Tingkat intensitas yang terendah adalah

keadaan di mana diri aktor sangat tidak terlibat. Perilaku

peran dibawakan secara otomatis dan mekanistis saja.

Sedangkat tingkat yang tertinggi akan terjadi jika aktor

melibatkan seluruh pribadinya dalam perilaku peran yang

sedang dikerjakan.32

2. Goffman meninjau perwujudan peran dari sudut yang lain.

Dia memperkenalkan istilah permukaan (front), yaitu

untuk menunjukkan perilaku- perilaku tertentu yang

diekspresikan secara khusus agar orang lain mengetahui

dengan jelas peran si pelaku (aktor).33 d. Penilaian(evaluation) dan sanksi(sanction)

Jika dikaitkan dengan peran, penilaian dan sanksi agak

(39)

28

mengatakan bahwa antara penilaian dan sanksi didasarkan

pada harapan masyarakat (orang lain) tentang norma.

Penilaian peran dalam teori peran adalah kesan positif atau

negatif yang diberikan oleh masyarakat berdasarkan norma

yang berlaku terhadap suatu perilaku yang dilakukan oleh

aktor. Sedangkan sanksi yang dimaksud adalah usaha yang

dilakukan seorang aktor dalam mempertahankan suatu nilai

positif atau agar perwujudan peran diubah sedemikian rupa

sehingga hal yang tadinya dinilai negatif berubah menjadi

positif.34

Menurut Biddle dan Thomas, penilaian maupun sanksi

dapat datang dari orang lain (eksternal) dari dalam diri

sendiri (internal). Jika penilaian dan sanksi datang dari luar,

berarti bahwa penilaian dan sanksi terhadap peran itu

ditentukan oleh perlaku orang lain. Jika penilaian dan sanksi

datang dari dalam diri sendiri, maka pelaku sendirilah yang

memberi nilai dan sanksi berdasarakan pengetahuannya

tentang harapan- harapan dan norma- norma masyarakat.

Biasanya penilaian dan sanksi internal terjadi pada peran-

peran yang dianggap penting oleh individu yang

bersangkutan, sedangkan penilaian dan sanksi eksternal lebih

34

(40)

29

sering berlaku pada peran dan norma yang kurang penting

bagi individu tersebut.35

Kemudian Biddle dan Thomas penilaian dan sanksi

eksternal disebut juga sebagai penilaian dan sanksi terbuka

(overt), sedangkan yang internal disebutnya tertutup (covert).

Hal tersebut karena penilaian dan sanksi didasarkan pada

harapan tentang norma yang timbul dari orang lain yang

dikomunikasikan melalui perilaku yang terbuka (overt).

Tanpa adanya pernyataan melalui perilaku yang terbuka,

seseorang tidak dapat memperoleh penilaian dan sanksi atas

perilakunya.36

Menurut Merton dan Kitt mengemukakan bahwa, setiap

orang memerlukan kelompok rujukan (reference group)

tertentu dalam memberikan penilaian dan sanksi. Dan fungsi

kelopok rujukan tersebut ada dua macam, yaitu :37

1. Fungsi normatif, dalam fungsi ini kelompok mendesakkan

suatu standar tertentu bagi perilaku dan keyakinan/

kepercayaan anggotanya. Terlepas dari benar- salahnya

standar itu, kelompok mempunyai cukup kekuatan atas

individu- individu sehingga mau-tidak-mau individu

mengikuti standar tersebut. Jika norma- norma itu diserap

(41)

30

dalam diri individu itu, yang selanjutnya akan menjadi

pedoman bagi tingkah laku dan kepercayaan.

2. Fungsi komparatif (perbandingan), dalam fungsi ini

kelompok hanya dijadikan alat pembanding bagi individu,

untuk mengetahui apakah perilaku atau kepercayaannya

sudah benar atau masih salah (untuk mengecek kebenaran

objektif). Perbandingan ini dapat dilakukan dengan

melibatkan diri dalam kelompok maupun tidak. Dalam hal

yang terakhir individu hanya memanfaatkan kelompok

untuk tujuan normatif.

2.1.2.3.Kedudukan dan Perilaku Orang Dalam Peran

Kedudukan adalah sekumpulan orang yang secara

bersama-sama (kolektif) diakui perbedaannya dari kelompok- kelompok

yang lain berdasarkan sifat- sifat yang mereka miliki bersama,

perilaku yang sama- sama mereka perbuat, dan reaksi orang-

orang lain terhadap mereka bersama. Ada tiga faktor yang

mendasari penempatan seseorang dalam posisi tertentu, yaitu:38 1. Sifat- sifat yang dimiliki bersama seperti jenis kelamin, suku

bangsa, usia atau ketiga sifat itu sekaligus. Semakin banyak

sifat yang dijadikan dasar kategori kedudukan, semakin sedikit

orang yang dapat ditempatkan dalam kedudukan itu.

38

(42)

31

2. Perilaku yang sama seperti penjahat (karena perilaku jahat),

olahragawan, atau pemimpin. Perilaku ini dapat diperinci lagi

sehingga kita memperoleh kedudukan yang lebih terbatas.

Selain itu, penggolongan kedudukan berdasarkan perilaku ini

dapat bersilang dengan penggolongan berdasarkan sifat,

sehingga membuat kedudukan semakin eksklusif.

3. Reaksi orang terhadap mereka.

2.1.2.4.Kaitan Orang dan Perilaku

Biddle dan Thomas mengemukakan bahwa kaitan (hubungan)

yang dapat dibuktikan atau tidak adanya dan dapat diperkirakan

kekuatannya adalah kaitan antara orang dengan perilaku dan

perilaku dengan perilaku. Kaitan antara orang dengan orang

dalam teori peran ini tidak banyak dibicarakan. Kriteria untuk

menetapkan kaitan- kaitan tersebut di atas diantaranya yaitu : 39 a) Kriteria Kesamaan

1. Diferensiasi (differentiation), yaitu seperti norma untuk

anggota suatu kelompok sosial tertentu sangat berbeda dari

norma- norma untuk orang- orang yang bukan anggota

kelompok itu. Hubungan antara kedua jenis norma itu

adalah diferensiasi, yaitu ditandai oleh adanya

ketidaksamaan.

39

(43)

32

2. Konsensus (consensus), yaitu kaitan antara perilaku-

perilaku yang berupa kesepakatan mengenai suatu hal

tertentu. Hal yang disepakati bersama itu biasa berupa

preskripsi, penilaian, deskripsi, dan sanksi, sedangkan

bentuk konsensus sendiri bias overt atau kovert. Jenis- jenis

konsensus antara lain sebagai berikut :

a. konsensus tentang preskripsi yang overt, berupa

konsensus tentang norma,

b. konsensus tentang preskripsi yang kovert, berupa

harapan- harapan tertentu,

c. konsensus tentang penilaian yang overt berupa

konsensus tentang nilai,

Jika konsensus ditandai oleh kesamaan pandangan, maka

ada pula kaitan antara perilaku- perilaku yang ditandai oleh

tidak adanya persamaan pandangan. Keadaan ini disebut

disensus (dissensus), ada dua bentuk disensus menurut

Biddle dan Thomas, yaitu:

a. Disensus yang tidak terpolarisasi, yaitu ada beberapa

pendapat yang berbeda- beda.

b. Disensus yang terpolarisasi, yaitu ada dua pendapat yang

saling bertentangan. Disensus yang terpolarisasi ini

(44)

33

3. Konflik peran, berdasarkan adanya disensus yang

terpolarisasi yang menyangkut peran, yaitu suatu hal yang

sangat menarik perhatian ahli- ahli psikologi sosial dan

sosiologi. Ada dua macam konflik peran, yaitu konflik

antarperan (inter-role conflict) yang disebabkan oleh

ketidak jelasan antara perilaku yang diharapkan dari satu

posisi dengan posisi lainnya pada satu aktor, dan konflik

dalam peran (intra-role conflict) yang disebabkan oleh tidak

jelasnya perilaku yang diharapkan dari suatu posisi tertentu.

4. Keseragaman, yaitu kaitan dua orang lebih memiliki peran

yang sama.

5. Spesialisasi, yaitu kaitan orang dan prilaku dalam satu

kelompok dibedakan menurut posisi dan peran yang

diharapkan dari mereka.

6. Konsistensi, yaitu kaitan antara perilaku dengan perilaku

sebelumnya yang saling menyambung. Sebagai lawan dari

konsistensi adalah inkonsistensi (inconsistency) yang

memiliki dua jenis, yaitu:

a. Inkonsistensi logis, misalnya anjuran membunuh dalam

peperangan adalah inkonsistensi dengan firman tuhan

dalam 10 perintah tuhan bahwa “kau tidak boleh

(45)

34

b. Inkonsistensi kognitif, yaitu adanya dua atau lebih

perilaku yang inkonsistensi pada satu orang. Contoh,

seseorang menjadi anggota polisi, tetapi ia juga menjadi

kepala perampok.

b) Derajat Saling Ketergantungan

Derajat saling ketergantungan, pada kaitan ini suatu

hubungan orang- perilaku akan mempengaruhi, menyebabkan,

atau menghambat hubungan orang- perilaku yang lain.

1. Rangsangan dan hambatan (facilitation & bidrance), ada

tiga jenis saling ketergantungan yaitu pertama, tingkah laku

A merangsang atau menghambat tingkah laku B. Kedua,

tingkah laku A dan B saling merangsang atau menghambat.

Ketiga, tingkah laku A dan B tidak saling tergantung.40 2. Ganjaran dan harga (reward & cost), Biddle dan Thomas

mengemukakan tiga jenis ketergantungan yang menyangkut

ganjaran dan harga untuk perilaku- perilaku yang saling

berkaitan yaitu pertama, tingkah laku A menetukan

ganjaran yang diterima atau harga yang harus dibayar oleh

B. Kedua, tingkah laku A dan B saling menentukan

ganjaran atau harga masing- masing. Ketiga, tingkah laku A

40

(46)

35

dan B tidak saling menentukan ganjaran atau harga masing-

masing.41

c) Gabungan antara Derajat Kesamaan dan Saling

Ketergantungan :42

1. Konformitas (conformity), yaitu kesamaan atau kesesuaian

antara perilaku seseorang dengan perilaku orang lain atau

perilaku seseorang dengan harapan orang lain tentang

perilakunya. Konsep ini sangat penting dalam teori peran.

2. Penyesuaian (adjustmen), yaitu perbedaan atau

ketidaksesuaian antara perilaku seseorang dengan perilaku

orang lain atau perilaku seseorang dengan harapan orang

lain tentang perilakunya.

3. Kecermatan (accuracy), yaitu ketepatan penggambaran

(deskripsi) suatu peran. Deskripsi peran yang cermat

(accurate) adalah deskripsi yang sesuai dengan harapan-

harapan tentang peran itu dan sesuai dengan perilaku nyata

yang ditunjukkan oleh orang yang memegang peran itu.

Dalam penelitian ini teori peran digunakan sebagai kerangka

deskriptif dan evaluatif terhadap tindakan dan perilaku The Sunan Giri

Foundation (SAGAF) Gresik. Tindakan dan perilaku mereka dilukiskan

dalam konteks posisi sosial yang mereka miliki di Kabupaten Gresik

sebagai organisasi kepemudaan. Posisi ini ditentukan oleh beberapa

41

Ibid., Hlm. 229- 230 42

(47)

36

aspek sosial termasuk norma, tuntutan, dan tata aturan yang ada di

lingkungan Kabupaten Gresik. Posisi mereka juga ditentukan oleh

peran yang dijalankan orang lain pada posisi serupa pada kapasitas

yang mereka miliki sebagai individu dalam posisi tersebut.

2.1.3. Perbedaan Peran dan Kedudukan

Kedudukan sendiri sering diartikan sebagai tempat atau posisi

seseorang dalam suatu kelompok sosial. Dengan demikian, seseorang

dikatakan mempunyai beberapa kedudukan karena biasanya dia ikut

serta dalam berbagai pola kehidupan yang beragam.

Dalam pengertiannya, peran (role) adalah sesuatu yang diharapkan

yang dimiliki oleh individu yang mempunyai kedudukan lebih tinggi

dalam kehidupan masyarakat.43 Peran erat kaitannya dengan status,44 dimana di antara keduanya sangat sulit dipisahkan. Peran adalah pola

perilaku yang terkait dengan status. Peran adalah aspek dinamis dari

kedudukan (status). Apabila seseorang melaksanakan kewajiban sesuai

dengan kedudukan maka ia menjalankan suatu peran.

Perbedaan antara kedudukan dengan peranan adalah hanya sebatas

kepentingan ilmu pengetahuan. Tidak ada peran tanpa adanya

kedudukan dan begitu juga tidak ada kedudukan yang tidak mempunyai

peran di masyarakat secara langsung.45

43

Peter Salim dan Yeni Salim, Kamus Bahasa Indonesia Kontemporer, (Jakarta: Modern English Press, 1991), hal: 1132

44

Soerjono Soekanto, Memperkenalkan Sosiologi, (Jakarta: Rajawali, 1982), hal: 33 45

(48)

37

Setiap orang mempunyai peranan masing-masing dalam

kehidupannya sesuai dengan pola lingkungan hidupnya. Hal ini berarti

bahwa peranan menentukan terhadap perbuatan bagi seseorang.

Pentingnya peran adalah dengan adanya peran yang diperoleh dari

kedudukan akan bisa menentukan dan mengatur perilaku masyarakat

atau orang lain.

2.2.Pemuda

2.2.1. Pengertian Pemuda

Pemuda adalah individu yang bila dilihat secara fisik sedang

mengalami perkembangan dan secara psikis sedang mengalami

perkembangan emosional, sehingga pemuda merupakan sumber daya

manusia pembangunan baik saat ini maupun masa datang.

Sebagai calon generasi penerus yang akan menggantikan generasi

sebelumnya. Secara internasional, World Health Organization (WHO)

menyebut sebagai ”young people” dengan batas usia 10-24 tahun,

sedangkan usia 10-19 tahun disebut ”adolescenea” atau remaja.

Definisi yang kedua, pemuda adalah individu dengan karakter yang

dinamis, bahkan bergejolak dan optimis namun belum memiliki

pengendalian emosi yang stabil.46

Ortegal Gesset, memandang pemuda sebagai masa sentral. Ia

memandang pemuda dari teori lingkungan hidup (life cycle theory). Ia

46

(49)

38

membagi generasi menajdi lima masa, yaitu: (1) anak-anak, (2) remaja,

(3) pemuda, (4) dewasa, dan (5) tua.47

Pendapat Gesset tersebut, tampaknya ada kemiripan dengan

pembagian periode menurut masyarakat Jawa. Di masyarakat Jawa,

telah lama dikenal istilah windu dan tumbuk dalam membagi masa

kehidupan manusia. Istilah windu menunjukkan masa waktu delapan

tahunan, dan tumbuk menunjuukan waktu 32 tahunan menurut tahun

Jawa.

Berdasarkan pembagian periodesasi masyarakat Jawa tersebut, daur

kehidupan manusia dibagi menjadi lima pula. Periode pertama adalah

windu pertama (0,0 - 7 tahun 9 bulan) disebut masa anak-anak. Windu

kedua (7 tahun 10 bulan - 15 tahun 6 bulan) disebut masa remaja.

Windu ketiga (15 tahun 7 bulan -23 tahun 9 bulan) disebut masa remaja

akhir atau pemuda awal. Windu keempat (23 tahun 10 bulan - 31 tahun

5 bulan) disebut masa dewasa awal atau masa transisi dari pemuda

akhir ke dewasa (atau disebut pemuda matang. Windu kelima (31 tahun

6 bulan - 62 tahun 2 bulan) sebut masa dewasa.

Sedangkan Pemuda menurut Undang-Undang No. 40 tahun 2009,

yakni Warga negara Indonesia yang memasuki periode penting

pertumbuhan dan perkembangan yang berusia 16 (enam belas) sampai

30 (tiga puluh) tahun; dan Kepemudaan adalah berbagai hal yang

47

(50)

39

berkaitan dengan potensi, tanggung jawab, hak, karakter, kapasitas,

aktualisasi diri, dan cita-cita pemuda.48

2.2.2. Pemuda dalam Pandangan Islam

Agama Islam mempunyai perhatian yang sangat besar mengenai

pertumbuhan dan perkembangan para pemuda, karena merekalah yang

akan menjadi tokoh di masa yang kan datang, yang akan menggatikan

dan mewarisi tugas-tugas mulia dari orangtuanya. Salah satu hadist

Nabi Muhammad SAW.

Manfaatkanlah lima perkara sebelum lima perkara (1) Waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu, (2) Waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu, (3) Masa kayamu sebelum datang masa kefakiranmu, (4) Masa luangmu sebelum datang masa sibukmu, (5) Hidupmu sebelum datang matimu.” (HR. Al-Hakim)

Dalam surat Al-Kahfi ayat 10 dan 13 dijelaskan:

“(Ingatlah) tatkala para pemuda itu mencari tempat

berlindung ke dalam gua, lalu mereka berdo’a: “Wahai Tuhan kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan

kami (ini).” (QS. Al-Kahfi:10)49

48

Undang- Undang Republik Indonesia Nomor 40 Tahun 2009, (Jakarta: Kemepora RI, 2014), Hlm.2

49

(51)

40

“Sesungguhnya mereka (ashabul kahfi) adalah para pemuda yang

beriman kepada Rabbnya dan Kami tambahkan kepada mereka

petunjuk / hidayah” (QS. Al-Kahfi: 13)50

Ayat ini menceritakan tentang kisah Ash-habul Kahfi (para pemuda

penghuni gua). Mereka rela meninggalkan kampung halamannya,

meninggalkan keluarganya, serta teman-temannya demi menyelamatkan

keimanan dan aqidah kepada Tuhannya (Allah).

Seorang pemuda hendaknya memiliki konsistensi yang tinggi dalam

memegang teguh prinsip-prinsip yang telah diyakininya sesuai dengan

ajaran agamanya. Pemuda bukanlah seseorang yang dengan mudah

tergiur oleh indahnya godaan dunia yang hanya akan melunturkan

aqidah dan keyakinannya terhadap ajaran agamanya.

Seorang pemuda harus memiliki standar moralitas, berwawasan,

bersatu, optimis dan teguh dalam pendirian serta konsisten dalam

perkataan. Seperti tergambar pada kisah Ash-habul Kahfi diatas.

2.2.3. Karakteristik Pemuda

Pemuda memiliki andil besar dalam sejarah kebangkitan bangsa.

Maju mundurnya bangsa tergantung pada kondisi para pemudanya. Jika

pemudanya memiliki jiwa yang maju, jiwa besar, dan jiwa

50

(52)

41

kepemimpinan, maka bangsa itu akan maju, besar dan mampu

memimpin peradaban dunia.

Sebaliknya, jika pemudanya menghabiskan waktunya untuk hal-hal

yang tidak bermanfaat, apalagi bertentangan dengan nilai-nilai agama,

seperti mabuk-mabukan, tawuran, pornografi, dan pornoaksi, maka

masa depan bangsa itu akan suram.

Karakteristik pemuda dapat dilihat pada jiwa yang dimiliki oleh

seseorang. Jika orang tersebut memiliki jika yang suka memberontak,

penuh inisiatif, kreatif, anti kemapanan, serta ada tujuan lebih

membangun kepribadian, maka orang tersebut dapat dikatakan sebagai

pemuda. Acuan yang kedua inilah yang pada masa lalu digunakan,

sehingga pada saat itu terlihat bahwa organisasi pemuda itu lebih

banyak dikendalikan oleh orang-orang yang secara usia sudah tidak

muda lagi, tetapi mereka mempunyai jiwa pemuda. Oleh sebab itu

kelemahan dari pemikiran yang kedua itu organisasi kepemudaan yang

seharusnya digunakan sebagai wadah untuk berkreasi dan

mematangkan para pemuda dijadikan kendaraan politik, ekonomi, dan

sosial untuk kepentingan perorangan dan kelompok.51

Selain didasarkan pada usia, pemuda juga dapat dilihat dari

sifat/jiwa yang mengiringinya. Jika didasarkan pada sifat maka pemuda

mempunyai ciri-ciri :52

51

Deddy Mulyana, Ilmu Komunikasi, (Bandung: PT. Rosdakarya, 2011), Hlm. 1 52

(53)

42

1) Selalu ingin memberontak terhadap kemapanan. Hal ini lebih

disebabkan karena pada usia ini seorang pemuda sedang mencari

identitas diri. Keinginan untuk diakui dan ingin mendapatkan

perhatian mendorong pemuda untuk berbuat sesuatu yang ”tidak

biasa-biasa saja dan sama dengan yang lain”. Ditinjau dari sisi

positif perilaku ini akan memunculkan kreatifitas, akan tetapi disisi

lain akan muncul penentangan dari pihak lain khususnya pihak

orang dewasa yang sudah mapan.

2) Bekerja keras dan pantang menyerah. Sifat kedua ini berhubungan

erat dengan sifat pertama. Kerja keras dan pantang menyerah inilah

yang mendorong pemuda berlaku revolusioner. Perilaku

revolusioner inilah yang memunculkan anggapan bahwa pemuda itu

tidak berpikir panjang sehingga akan berpotensi untuk

menimbulkan konflik baik itu dengan sesama pemuda maupun

dengan orang tua.

3) Selalu optimis. Sifat ini sangat menunjang sifat kerja keras dan

pantang menyerah. Sifat optimis ini akan mendorong pemuda selalu

bersemangat berusaha untuk mencapai cita-citanya.

Karakteristik pemuda adalah mereka yang selalu bertanya-tanya

pada diri sendiri (wonder) tentang sesuatu yang mereka lakukan. Jika

dirasa ada sesuatu yang kurang tepat, ia akan bertanya pada dirinya lagi

apakah ada kesempatan untuk mengubahnya. Gejolak yang demikian

Gambar

Gambar 3: Lemari tempat penataan surat-
Gambar 5: Informasi Prosedur Pelayanan
Gambar 9: : Perangkat Desa Sidorukun siap menerima warga yang membutuhkan
Gambar 10: Warga mengurus surat domisili
+2

Referensi

Dokumen terkait

Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses perencanaan strategi di Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Sragen dalam pengembangan Desa Wisata Betisrejo

Peran tokoh masyarakat dalam membina kesadaran hukum pemuda adalah dengan memberikan contoh yang baik kepada pemuda, serta memberikan penjelasan melalui sosialisasi

DAFTAR LAMPIRAN ... Latar Belakang ... Rumusan Masalah ... Tujuan Penelitian ... Kegunaan Penelitian ... TINJAUAN PUSTAKA ... Generasi Muda ... Pertanian Organik ...

pemanfaatan sampah plastik). Dengan berfokus pada aset dan potensi terbesar yang ada di Desa Belahan Rejo yaitu para pemuda yang merupakan generasi muda penerus

Kesimpulan penelitian ini yaitu bentuk partisipasi pemuda dalam pembangunan pengerasan jalan usaha tani, kegiatan pembangunan masjid dan kegiatan pemugaran masjid di Desa

Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Subyek penelitian adalah Pengurus Karang Taruna dan Pemuda Desa Timbuseng. Pengumpulan data menggunakan

Penelitian ini bertujuan untuk menjawab pertanyaan dalam rumusan masalah yaitu untuk mendeskripsikan hasil penelitian tentang Dampak - Dampak yang Ditimbulkan Dengan

Peran pemuda merupakan hal penting dalam pelaksanaan program pembangunan desa. Desa Sokawera sebagai salah satu lembaga pemerintahan dan ujung tombak pemberian layanan