SATYA WIDYA Vol. 18 No.2 Desember 2005: Halaman 120
–
126
HUBUNGAN ANTARA NILAI ANUTAN GAYA HIDUP DAN
LOCUS OF CONTROL
MAHASISWA
Sumardjono PadmomartonoProgdi S-1 Bimbingan dan Konseling, FKIP-UKSW Salatiga
ABSTRAK
Penelitian ini dirancang untuk mengkaji korelasi antara nilai anutan gaya hidup dan locus of control (pusat kendali diri) 59 orang mahasiswa satu program studi di Universitas Swasta di Jawa Tengah. Instrumen penelitian diadaptasi oleh peneliti dari Work & Life Style Questionnaire (Hecklinger & Curtin, 2003) untuk mengukur nilai anutan gaya hidup mahasiswa dan Locus of Control Questionnaire (Wilf Ratzburg, 2004) sebagai pengukur Locus of Control yang internal ataupun yang ekternal. SPSS Ver. 10.0 digunakan untuk menganalisis data. Hasil yang diperoleh melalui Pearson Product Moment Correlation menunjukkan nilai anutan gaya hidup secara signifikan berkorelasi positif pada taraf cukup dengan locus of control (pusat kendali diri) mahasiswa (r = korelasi 0,616** ; p < 0.001). Analisis melalui tabulasi silang menunjukkan terdapat 17 orang mahasiswa (28,8%) yang berada pada kategori tinggi anutan gaya hidupnya termasuk pada kategori high internal locus of control. Selanjutnya, ada 14 orang mahasiswa (23,7%) yang berada pada kategori sangat tinggi anutan gaya hidupnya sekaligus termasuk pada kategori high internal locus of control.
I. PENDAHULUAN
Nilai anutan mahasiswa menempati posisi strategik dalam mengarahkannya mempo-sisikan diri dalam persaingan ketat untuk meraih keunggulan di pendidikan tinggi dan dunia kerja. Di lain pihak, locus of control (pusat kendali diri) yang dipilah sebagai kendali diri yang berasal dari dalam diri dan dari luar diri/faktor kebetulan ikut memberi kontribusi pada kadar kebermak-naan sukses studi yang dicapai mahasiswa.
Nilai anutan mahasiswa mendefinisikan siapa dan bagaimana mahasiswa itu. Nilai anutan berkaitan dengan tujuan hidup seseorang. Tujuan hidup adalah sesuatu yang diinginkan untuk dicapai (what someone wants to achieve), sedangkan nilai anutan berkenaan dengan cara bagaimana seseorang ingin mencapai tujuan hidupnya (how someone wants to achieve it). Nilai anutan adalah hasrat atau keinginan yang disadari yang memandu seorang mahasiswa berperilaku dalam hidupnya kini. Nilai anutan adalah pandangan hidup yang menetap dan berjangkauan jauh mengenai apa saja yang dipentingkan dan diperjuangkan dalam hidup di masa kini. Nilai anutan ini menjadi tolok ukur menilai mengenai sesuatu yang benar dan salah, baik dan buruk serta dapat diterima dan ditolak oleh diri sendiri maupun oleh lingkungan terdekat mahasiswa. Nilai anutan diperoleh dan
dikomu-nikasikan ke individu melalui sistem pendidikan dan pola-asuh di rumah tangga, training, komu-nitas, organisasi dan nation-building.
Dibedakan dengan sikap, nilai anutan adalah pandangan umum mengenai kehidupan, sedangkan sikap merupakan perasaan spesifik yang dikenakan kepada obyek, kejadian atau kelompok orang tertentu. Nilai anutan mem-pengaruhi sikap individu terhadap obyek, keja-dian dan kelompok orang. Nilai anutan maha-siswa juga berhubungan dengan sikap terhadap belajar dan bekerja; sedangkan seberapa intensif mahasiswa menghampiri tugas belajar dan bekerja sangatlah serius serta menuntut komitmennya. Padahal, diduga perilaku mahasiswa masih dikendalikan peraturan dan bukan oleh nilai anutan yang diperoleh dan diperjuangkan bersama sivitas akademika.
SATYA WIDYA Vol. 18 No.2 Desember 2005: Halaman 120
–
126
akan lebih akurat dalam menetapkan tujuan
layanan kependidikannya.
Salah satu dimensi kehidupan mahasiswa yang perlu dieksplorasi adalah nilai anutan gaya hidup yang diprioritaskan mahasiswa untuk diwujudkan melalui kehidupannya dalam periode waktu tertentu, semisal untuk masa tiga sampai sepuluh tahun mendatang. Riset Profil Mahasiswa (Pusat Bimbingan UKSW, 1983) me-nunjukkan nilai anutan yang sangat diutamakan dan menjadi pedoman hidup seluruh lima suku mahasiswa kala itu adalah ilmu pengetahuan dan hidup rumah tangga yang utuh-berbahagia, empat suku mahasiswa memilih nilai anutan relasi yang selaras dengan keluarga dan warga sesuku, tiga suku memilih nilai anutan kepribadian yang matang dan seimbang, dua suku memilih nilai anutan harga diri. Disimpulkan dalam penelitian ini pilihan nilai anutan didasarkan pada pan-dangan tertentu tentang kehidupan. Disarankan agar dilakukan penelitian lanjutan tentang hubungan nilai anutan dengan studi dan masalah-masalah lain dalam kehidupan mahasiswa.
Jennifer A. Lease (2002) meneliti 52 orang mahasiswa di Universitas Georgia, Amerika Serikat belahan barat. Digunakan The Student Developmental Task and Lifestyle Assessment (SDTLA/Winston, Miller, & Cooper, 1999) guna mengukur perkembangan psikososial dalam aspek perkembangan tujuan hidup/perencanaan karir, relasi antar pribadi yang matang, kemandirian akademik dan terbentuknya gaya hidup yang sehat. Sampel dibedakan dalam empat kelompok, yaitu kelompok mahasiswa laki-laki dan perempuan di satu pihak dan kelompok mahasiswa yang sangat berprestasi dengan mahasiswa berprestasi rerata. Tidak ditemukan perbedaan yang signifikan antar keempat kelompok mahasiswa dalam aspek perencanaan karir, pilihan gaya hidup, kemandirian emosi dan tujuan hidup. Ditam-bahkannya kelompok mahasiswa berprestasi menghadapi dilema yang sama dengan kelompok mahasiswa berprestasi rerata pada aspek-aspek pilihan karir, pilihan gaya hidup dan cara mengembangkan kemandirian emosi.
Dapat dilihat betapa strategik perlunya mahasiswa mengembangkan cara pandang yang tepat terhadap kegiatan belajar dan bekerja. Belajar dan bekerja sangat berkaitan di arena pendidikan tinggi. Belajar dan bekerja sangat menuntut pengerahan segi-segi kepribadian, diantaranya nilai anutan gaya hidup (life-style values) dan pusat kendali diri (locus of control).
Rotter (Weston, 1991) menyatakan indi-vidu mengembangkan pengharapan mengenai apakah kejadian-kejadian yang berlangsung pada-nya adalah akibat dari diri dan perilaku sendiri (sebagai orientasi terhadap faktor internal/diri sendiri) atau akibat dari perilaku orang lain, keberuntungan/nasib baik-buruk atau faktor kebe-tulan (sebagai orientasi pada faktor eksternal). Rotter percaya locus of control sangat cenderung mempengaruhi cara individu menafsirkan keja-dian-kejadian dalam hidupnya yang serba baru atau yang ambiguous/samar-samar.
Howard (1996) meneliti hubungan locus of control dan model peran yang diidenti-fikasikan oleh mahasiswa perempuan terhadap dosen yang sejenis kelamin. Temuan penelitian menunjukkan mahasiswa yang mengidentifi-kasikan diri dengan model peran memiliki internal locus of control yang lebih kuat daripada mahasiswa yang tidak mengidentifikasikan diri. Selewat setahun, kelompok mahasiswa yang mengidentifikasikan diri dengan model peran internal locus of controlnya makin menguat, sedangkan kelompok mahasiswa yang tidak mengidentifikasikan diri pada model peran internal locus of control merosot.
SATYA WIDYA Vol. 18 No.2 Desember 2005: Halaman 120
–
126
secara khas mencari cara lebih efektif untuk
mencapai tujuan kuliah, yaitu dengan bersikap lebih kooperatif terhadap tuntutan studi dan mengikuti dengan teratur perkuliahan serta mengerjakan tugas kuliah dengan benar.
Respon emosional dibedakan menjadi empat dimensi yang pada waktu tertentu maha-siswa menggunakan empat macam respon berikut terhadap tuntutan lingkungan hidupnya, tetapi umumnya mahasiswa menggunakan satu respon saja secara konsisten. Keempat pola respon (Jennifer, 2002) terhadap lingkungan adalah:
1.
The Dominant Response, individu bertindakterhadap lingkungan yang diamati sebagai unfavorable bagi diri sendiri.
2.
The Influence Response, individu bertindak terhadap lingkungan yang diamati sebagai favorable bagi diri sendiri. 3.
The Steadiness Response, individu mengako-modasikan diri pada lingkungan yang diamatinya sebagai favorable. 4.
The Conscientiousness Response, individu mengakomodasikan diri pada lingkungan yang diamatinya sebagai unfavorable.Melalui menyadari persepsi pada ling-kungan belajar, mahasiswa memetik 1) pema-haman lebih mendalam perilaku pribadi, 2) wa-wasan menyeluruh atas pola perilaku yang terbedakan yang dikinerjakan mahasiswa dalam lingkungan belajar tertentu. Selanjutnya, maha-siswa akan belajar mengenali lingkungan belajar yang lebih nyaman baginya. Sejauh mungkin, mahasiswa belajar mengenali dan menempatkan diri pada lingkungan yang lebih nyaman dan menghindari penempatkan diri pada lingkungan yang kurang nyaman. Mahasiswa diperhadapkan pada keharusan belajar mengubah secara aktif lingkungan yang kurang nyaman atau menghin-dari elemen di lingkungan belajar yang kurang nyaman dengan ancangan agar dapat meraih sukses di lingkungan itu. Atas dasar alasan inilah mahasiswa yang makin mengenal diri akan lebih sering menunjukkan perilaku tertentu karena perilaku itu terbukti efektif dalam meraih sukses. Bertolak dari pembandingan antar hasil penelitian tersebut dan tinjauan sekilas landasan
teoretik serta untuk lebih memahami hubungan antara anutan gaya hidup dan pusat kendali diri mahasiswa yang mendorong penulis menempuh penelitian ini.
II. RUMUSAN MASALAH DAN HIPOTESIS Masalah yang akan dikaji adalah: “ Apa-kah terdapat hubungan antara anutan gaya hidup dan locus of control mahasiswa?” Sedangkan hipotesis yang diajukan adalah: “Terdapat hubungan positif dan signifikan antara anutan gaya hidup dan locus of control mahasiswa.
III. METODE PENELITIAN Subyek Penelitian
Subyek penelitian adalah 59 orang maha-siswa suatu program studi di FKIP-UKSW yang aktif kuliah pada tahun akademik 2004-2005. Seluruh anggota populasi menjadi sampel.
Pengumpulan Data
Pengumpulan data ditempuh melalui mengadministrasikan “Angket Nilai Anutan Gaya Hidupku” yang terdiri atas 43 butir. Angket ini merupakan adaptasi dari Hecklinger & Curtin, Training for Life (2003). Pada distribusi data dikenakan Uji Validitas Butir dengan hasil koefisien validitas bergerak pada rentang r = 0,2297 sampai dengan r = 0,8527 dan Reliabilitas Alpha Cronbach 0,9284.
Selanjutnya, pada distribusi data hasil angket “Pusat Kendali Diri” yang diadaptasi dari Locus of Control Questionnaire (Wilf Ratzburg, 2004) yang terdiri atas 10 butir, dikenakan Uji Validitas Butir dan Reliabilitas. Uji Validitas Butir Pusat Kendali Diri menghasilkan koefisien validitas pada rentang r = 0,2297 sampai dengan r = 0,6790 dan Reliabilitas Alpha Cronbach 0,7710 yang pada taraf reliabilitas ini masih layak digunakan sebagai instrumen pengumpul data.
IV. HASIL
SATYA WIDYA Vol. 18 No.2 Desember 2005: Halaman 120
–
126
korelasi ini menerima hipotesis bahwa antara
nilai anutan gaya hidup berhubungan secara positif dan signifikan dengan kendali diri mahasiswa. Mengacu pada tolok ukur nilai r menurut Hadi (Arikunto, 1997) dinyatakan bahwa temuan korelasi ini berada pada taraf cukup serta arahnya positif.
Guna lebih memahami proporsi nilai anutan gaya hidup pada kedua dimensi locus of control, yaitu internal locus of control dan external locus of control, disusun tabulasi silang pada kedua variabel seperti pada tabel berikut:
Tampak pada Tabel 1. terdapat 17 maha-siswa (28,8%) yang berada pada kategori tinggi anutan gaya hidupnya termasuk pada kategori high internal locus of control. Selanjutnya, ada 14 mahasiswa (23,7%) pada kategori sangat
tinggi anutan gaya hidupnya sekaligus termasuk pada kategori high internal locus of control.
Berdasarkan pilahan kategori tinggi anutan gaya hidup ada 20 mahasiswa (33,9%), tanpa melihat taraf internal locus of control. Di lain pihak pada pilahan high internal locus of control, ada 42 orang mahasiswa (71,2%), tanpa memandang pula kategori anutan gaya hidupnya. Uji Chi-Square pada data tabel 1. menun-jukkan terbukti ada beda nyata antar sel-sel yang tertera dalam tabulasi silang tersebut, sehingga dapatan frekuensi tiap sel selaras pengkategorian pada nilai anutan gaya hidup mahasiswa dalam keterkaitannya dengan pengkategorian taraf internal dan external locus of control secara empirik nyata berbeda (Pearson Chi-Square, Value 35.970, df 16, Asymp.Sig. 0,003).
Tabel 1. Tabulasi Silang Kategori Nilai Anutan Gaya Hidup Dan Locus of Control Mahasiswa (N=59) Kategori
Anutan Gaya Hidup
Kategori Locus of Control (LoC)
Hasil penelitian menunjukkan hipotesis yang diajukan yaitu terdapat hubungan positif dan signifikan antara nilai anutan gaya hidup dan locus of control mahasiswa secara empirik terbuk-tikan kebenarannya. Dengan kata lain taraf-taraf nilai anutan gaya hidup mahasiswa berhubungan secara nyata dengan taraf-taraf pusat kendali diri mahasiswa yang bersangkutan. Artinya, semakin
SATYA WIDYA Vol. 18 No.2 Desember 2005: Halaman 120
–
126
Sesuai panduan Wilf H. Ratzburg (2004),
semakin tinggi skor internal locus of control mahasiswa (mulai skor 7 sampai dengan skor maksimum 10), makin tinggi kepercayaan diri mahasiswa untuk mampu mengendalikan hidup dan studinya sendiri. Di lain pihak, makin tinggi skor external locus of control mahasiswa (jika skor total mahasiswa berada pada rentang skor 1 sampai dengan 4), maka mahasiswa makin percaya segenap kajadian yang terjadi dalam hidup dan studinya disebabkan oleh faktor keber-untungan atau kebetulan saja, artinya sumber sukses atau gagal dikenakan pada pihak lain di luar diri mahasiswa.
Disejajarkan dengan pusat kendali diri (internal & external locus of control) yang con-dong ke arah kendali berasal dari dalam diri mahasiswa sendiri, nilai anutan gaya hidup yang menonjol dalam skor mahasiswa sehingga condong diperjuangkan mahasiswa sebagai berikut: 1) Ingin bertempat tinggal berdekatan dengan tempat bekerja, bersekolah, berbelanja, sarana hiburan dan budaya; 2) Ingin memiliki rumah sendiri; 3) Ingin berperanserta aktif di lingkungan dalam aktivitas sosial; 4) Ingin punya waktu cukup menekuni minat, berolahraga dan beraktivitas produktif lainnya; 5) Ingin waktu cukup beraktivitas dengan pasangan hidup dan anggota keluarga.
Kuat kecenderungan skor mahasiswa berkutat pada butir-butir angket yang mengung-kap kehendak untuk memenuhi kebutuhan narsistik (mementingkan kebutuhan sendiri), barulah pada kadar tertentu muncul keinginan untuk berperanserta aktif di lingkungan dalam aktivitas sosial. Bagi dosen, nampak sulit mendorong agar mahasiswa mencurahkan perha-tian pada memprioritaskan layanan bagi sesama melalui aktivitas di lingkungan sosial justru ketika masih berstatus sebagai mahasiswa.
Ditambahkan, acuan gaya hidup maha-siswa masih sangat mengutamakan pemenuhan kebutuhan diri yang menuntut tersedianya fasilitas lingkungan yang meleluasakan memenuhi kebu-tuhan konsumtif. Sedikit mahasiswa yang berke-hendak berperanserta aktif di lingkungan dalam aktivitas sosial. Apakah di lingkungan universitas kini mahasiswa kurang dipajankan pada tantangan pada pemenuhan pengembangan diri yang ber-orientasi pada melayani lingkungan sosialnya? Diperlukan telaah lebih lanjut untuk mengurai persoalan kurang berhasratnya mahasiswa ber-pikir dan bertindak bagi lingkungan sosialnya.
Sayang mahasiswa kini kurang menyikapi situasi hidup masa depan dengan peluang menda-patkan pekerjaan, tempat tinggal dan lapangan kerja yang bagus bagi pasangan hidup teramat sulit diperoleh dengan bercermin pada kondisi sosial ekonomi bangsa. Meski demikian, maha-siswa memandang berperanserta aktif di ling-kungan dalam aktivitas sosial merupakan gaya hidup yang diperlukan yang beriringan dengan mahasiswa yang ingin waktu cukup beraktivitas dengan pasangan hidup dan anggota keluarga sekaligus ingin punya waktu cukup menekuni minat, berolahraga dan beraktivitas produktif lainnya. Mahasiswa selain menyiapkan diri me-masuki dunia kerja juga berkehendak mewujud-kan diri mengupayamewujud-kan pemenuhan kebutuhan beraktivitas sosial dan rekreasional, menekuni minat dan hobi. Justru muncul nilai anutan gaya hidup ingin bertempat tinggal di daerah yang berpepohonan yang sesuai. Nampak memilih lokasi tempat tinggal yang sesuai merupakan keharusan bagi sebagian mahasiswa karena hal ini sangat mempengaruhi produktivitasnya.
KEPUSTAKAAN
SATYA WIDYA Vol. 18 No.2 Desember 2005: Halaman 120
–
126
Hans, T. 2000. A meta-analysis of the effects of
adventure programming on locus of control. Journal of Contemporary Psychotherapy, 30(1), 33-60 dalam Locus of Control-A Class Tutorial. Http://www/ wilderdom.com/games/descriptions/ Locus/ 5/9/2005.
Hecklinger, Fred & Curtin, Bernadette. 2003. Training for Life. http://www.cedu. niu.edu/epf/edadmin/faculty/hunt/classes/ lecture/L8/Resiliency.rtf.6/8/2004.
Howard, Diane Elizabeth. 1996. The Relationship Of Internal Locus Of Control And Female Role Models In Female College Students. Dissertation Abstract. Http://www.diane howard.com/relationship_internal_locus.h tm. 6/8/2004.
Lease, Jennifer A.2002. Psychosocial Develop-ment in the University: A Study of Freshman Honors Students. The Uni-versity of Georgia. Http://www.coe.uga. edu/echd/saa/GCPA/index.htm.6/8/2004.
Pusat Bimbingan UKSW. 1983. Student Profiles: Research on Batak, Chinese, Dayak, Javanese and Sumbanese Students at Satya Wacana University. Salatiga: Uni-versitas Kristen Satya Wacana, Pusat Bimbingan.
Ratzburg, Wilf H., 2004. What Is Your Locus of Contr ol. OBWerks_exesoftware. url= (0063) Http://www.geocities.com/Athens/ Forum/1650/qlocusofcontrol.html6/8/2004.
“KNOW YOURSELF EXERCISES” Adapted for
use from Training for Life: A Practical Guide to Career and Life Planning, Fifth Edition.1994), Bernadette M. Black and Fred J. Hecklinger. Cache (Http://careers. gmu.edu/students/ choose/wksheets/know doc2.html).5/9/2005.