• Tidak ada hasil yang ditemukan

Dokumen Perencanaan - Bappeda Kab. Probolinggo

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Dokumen Perencanaan - Bappeda Kab. Probolinggo"

Copied!
61
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

KONDISI, ANALISIS

DAN PREDIKSI KONDISI UMUM DAERAH

2.1 Kondisi dan Analisis

2.1.1 Geomorfologi dan Lingkungan Hidup

2.1.1.1 Geomorfologi

A. Letak Geografis dan Luas Wilayah

Kabupaten Probolinggo merupakan salah satu Kabupaten yang terletak di Provinsi Jawa Timur berada pada posisi 7º40΄ - 8º10΄ Lintang Selatan (LS) dan 112º50΄ - 113º30΄ Bujur Timur (BT), dengan luas wilayah

mencapai 1.696,17 km2. Batas-batas wilayah Kabupaten Probolinggo, adalah:

- Sebelah Utara (7º40΄ LS) : Selat Madura.

- Sebelah Timur (113º30΄ BT) : Kabupaten Situbondo. - Sebelah Barat (80º10΄ LS) : Kabupaten Pasuruan.

- Sebelah Selatan (112º50΄ BT) : Kabupaten Lumajang dan Kabupaten Jember.

- Sedangkan di sebelah Utara bagian tengah terdapat Daerah Otonom, yaitu Kota Probolinggo.

Dari luas wilayah yang ada, pemanfaatan paling besar 513,80 Km

(2)

permukiman, perkebunan, tambak/kolam, sempadan sungai dan

pantai. Dalam jangka waktu 20 tahun yang akan datang distribusi pemanfaatan tata ruang ini bisa berubah dengan adanya peningkatan

kebutuhan permukiman dengan perkembangan jumlah penduduk, untuk kawasan industri (manufaktur maupun jasa) yang bisa mendesak turunnya proporsi untuk pertanian. Dengan demikian perlu dipikirkan kualitas dari

rencana tata ruang yang lebih baik serta diterapkannya perundangan penataan ruang sebagai payung kebijakan pemanfaatan ruang bagi semua

sektor. Oleh karena jika terjadi perubahan tata guna lahan perlu mengikuti perencanaan tata ruang daerah/wilayah Kabupatan Probolinggo sampai 20 tahun kedepan.

B. Topografi

Secara topografi Kabupaten Probolinggo mempunyai ciri-ciri fisik yang menggambarkan kondisi geografis terdiri dari dataran rendah pada bagian Utara, lereng-lereng gunung pada bagian Tengah dan dataran tinggi

pada bagian Selatan dengan tingkat kesuburan dan pola penggunaan tanah yang berbeda. Kabupaten Probolinggo terletak di lereng gunung-gunung membujur dari Barat ke Timur, yaitu Gunung Semeru, Gunung Argopuro,

Gunung Tengger dan Gunung Lamongan. Kabupaten Probolinggo terletak pada ketinggian 0 – 2500 m di atas permukaan laut dengan temperatur

(3)

dari ledakan gunung berapi yang berupa pasir dan batu, lumpur bercampur

dengan tanah liat yang berwarna kelabu kekuning-kuningan. Sifat tanah semacam ini mempunyai tingkat kesuburan tinggi dan sangat cocok untuk

jenis tanaman sayur-sayuran (hortikultura) seperti di sekitar pegunungan Tengger yang mempunyai ketinggian antara 750 – 2.500 m di atas permukaan laut. Meskipun demikian perlu diwaspadai kemungkinan terjadi

bencana meletusnya gunung berapi, mengingat gunung Semeru masih aktif dan kadang kala menyemburkan pasir seperti hujan pasir yang dapat

dirasakan juga oleh masyarakat Kabupaten Probolinggo.

Tanah yang membujur dari Barat ke Timur di bagian Selatan yang berada di kaki pegunungan Argopuro dan berketinggian antara 150 – 750 m

di atas permukaan laut sangat cocok untuk tanaman kopi, buah-buahan seperti durian, alpukat dan mangga. Wilayah Kecamatan yang sangat tepat

untuk tanaman buah-buahan ini adalah Kecamatan Krucil dan Tiris. Kabupaten Probolinggo memang terkenal dengan buah mangga yang merupakan tanaman musiman, sehingga kalau sedang musim, produksi

buah mangga sangat melimpah. Oleh karena buah ini tidak tahan lama, maka perlu dipikirkan upaya untuk menggunakan buah mangga sebagai bahan dasar untuk membuat berbagai makanan dan minuman yang

mempunyai nilai jual lebih tinggi, seperti selai, kripik, jus, dan dodol.

Bentuk permukaan daratan di kabupaten Probolinggo diklasifikasikan

(4)

1. Dataran rendah dan tanah pesisir dengan ketinggian 0 - 100 m diatas

permukaan air laut, daerah ini membentang di sepanjang pantai Utara mulai dari Barat ke arah Timur. Dengan demikian keberadaan

laut tersebut cukup potensi untuk meningkatkan ekonomi masyarakat, namun juga perlu mengamankan wilayah pesisir pantai supaya tidak terjadi abrasi, yaitu dengan cara menanami bakau

sepanjang tepi pantai dan tidak diperkenankan adanya reklamasi untuk lahan bangunan.

2. Daerah perbukitan dengan ketinggian antara 100 - 1.000 m diatas permukaan air laut, daerah ini terletak di wilayah bagian Tengah sepanjang kaki Gunung Semeru dan Pegunungan Tengger serta

pada bagian Utara sisi bagian Timur sekitar Gunung Lamongan. 3. Daerah pegunungan dengan ketinggian diatas 1.000 m dari

permukaan air laut, daerah ini terletak di sebelah Barat Daya yaitu sekitar Pegunungan Tengger dan di sebelah Tenggara yaitu disekitar Pegunungan Argopuro.

Kondisi yang bervariasi tersebut telah memperkaya sumberdaya alam, baik yang terdapat di darat, laut, dan udara dalam bentuk keanekaragaman flora, fauna, sumberdaya mineral, dan sumberdaya air

yang diharapkan dapat didayagunakan secara optimal, bertanggung jawab dan berkelanjutan demi kesejahteraan masyarakat.

(5)

prakteknya terjadi perubahan fungsi lahan yang tidak sesuai

peruntukkannya.

Selain itu di Kabupaten Probolinggo juga terdapat kawasan rawan

bencana berupa tanah longsor, seperti kawasan pantai, tanah gundul di kawasan hutan lindung dan kawasan berkelerengan lebih dari 40 %. Hal ini perlu diantisipasi supaya tidak menimbulkan bencana dikemudian hari.

Dengan demikian, sebagian besar daratan digunakan untuk penyediaan pangan dan kegiatan pertanian lainnya, hal ini menunjukkan

bahwa sektor pertanian masih merupakan sektor andalan masyarakat Kabupaten Probolinggo.

C. Hidrologi

Menurut Dinas Pengairan Kabupaten Probolinggo, terdapat 25

sungai yang mengalir di wilayah Kabupaten Probolinggo. Sungai terpanjang adalah Rondoningo dengan panjang 95,2 km sedangkan sungai terpendek adalah Afour Bujel dengan panjang hanya 2 km. Sungai yang paling lebar

adalah sungai Pancarlagas dengan lebar 50 m dan panjang 85,70 Km. Sungai-sungai yang mempunyai debit air terkecil adalah sungai Pekalen dengan debit 3.300 (ml/dt), panjang 35,10 Km dan lebar 35 m serta baku

lahan paling luas diairi 6.983 Ha. Sementara itu, terdapat areal irigasi yang cukup luas, yaitu 35.031 Ha, sehingga membuka peluang bagi petani untuk

(6)

tergantung pada kemampuan tangkapan air di musim hujan dan kondisi

hutan di daerah hulu sungai. Untuk keperluan tersebut pemeliharaan sungai perlu lebih diperhatikan, jangan sampai sempadan sungai dimanfaatkan

untuk kegiatan yang tidak selayaknya, misalnya adanya bangunan hunian di kawasan yang seharusnya untuk peruntukan tanaman.

Selain sungai, di Kabupaten Probolinggo juga terdapat Danau/Ranu,

yaitu Danau/Ranu Segaran, Danau/Ranu Agung, dan Danau/Ranu Gedang, yang sampai saat ini belum didayagunakan sebagaimana mestinya.

Danau/Ranu tersebut dapat meningkatkan aset Kabupaten Probolinggo jika dikelola dengan baik yaitu dapat digunakan sebagai daerah wisata maupun untuk budidaya perikanan air tawar.

D. Klimatologi

Lokasi Kabupaten Probolinggo yang berada di sekitar garis khatulistiwa berarti daerah ini mengalami perubahan iklim dua jenis setiap tahun, yaitu musim kemarau dan musim penghujan. Untuk musim kemarau

berkisar pada bulan April hingga bulan Oktober dengan rata-rata curah hujan ± 29,5 mm per hari hujan, sedangkan musim penghujan dari bulan Oktober hingga April dengan rata-rata curah hujan ± 229 mm per hari hujan.

Curah hujan yang cukup tinggi terjadi pada bulan Desember sampai dengan Maret dengan rata-rata ± 360 mm per hari hujan. Melihat rentang curah

(7)

terdapat musim pancaroba yang biasanya ditandai dengan tiupan angin

kering yang cukup kencang yang biasa disebut Angin Gending.

2.1.1.2 Lingkungan Hidup

Pembangunan bidang lingkungan hidup diarahkan untuk meningkatkan pengelolaan lingkungan hidup berkelanjutan. Untuk

mewujudkan arah pembangunan bidang lingkungan hidup tersebut ditetapkan strategi dan prioritas pembangunan bidang lingkungan hidup,

yaitu pengendalian dan pemulihan pencemaran udara, tanah, air pada daerah yang memiliki industri bsar dan sedang sampai ke hilir.

Pembangunan yang dilakukan di seluruh wilayah Indonesia termasuk

di Kabupaten Probolinggo masih sering mengutamakan pencapaian tujuan jangka pendek dan kurang mempertimbangkan keberlanjutannya dan

adanya daya dukung lingkungan. Keinginan untuk memperoleh keuntungan ekonomi jangka pendek seringkali menimbulkan eksploitasi sumberdaya alam (SDA) secara berlebihan sehingga menurunkan kualitas dan kuantitas

SDA dan lingkungan hidup termasuk terjadinya konflik pemanfaatan ruang untuk berbagai peruntukannya. Penyebab terjadinya permasalahan tersebut adalah (1) pembangunan yang dilakukan dalam wilayah tersebut belum

menggunakan rencana tata ruang sebagai acuan koordinasi dan sinkronisasi pembangunan antar sektor dan antar wilayah; (2) pemanfaatan

(8)

Pengelolaan lingkungan hidup di wilayah pedesaan kabupaten

Probolinggo yang diarahkan melalui lima macam pengembangan, yaitu (1) pengembangan agropolitan terutama bagi kawasan yang berbasis

pertanian; (2) peningkatan kapasitas SDM di pedesaan khususnya dalam pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya; (3) pengembangan jaringan infrastruktur penunjang kegiatan produksi di kawasan pedesaan dalam

upaya menciptakan keterkaitan fisik, sosial, dan ekonomi yang komplementer serta saling menguntungkan; (4) peningkatan akses

informasi dan pemasaran, lembaga keuangan, kesempatan kerja, dan teknologi serta (5) pengembangan social capital dan human capital yang belum tergali potensinya, sehingga kawasan pedesaan tidak semata-mata

mengandalkan sumberdaya alamnya saja.

Permasalahan yang dihadapi dari sektor lingkungan hidup, antara

lain (1) terbatasnya SDM aparatur yang berkualifikasi lingkungan hidup; (2) adanya instrumen kebijakan pengelolaan lingkungan hidup yang belum dapat diterapkan secara menyeluruh; (3) masih rendahnya kesadaran

masyarakat dan dunia usaha dalam pengelolaan lingkungan hidup; (4) belum optimalnya peran organisasi lingkungan hidup; (5) terjadinya fenomena pembangunan oleh masyarakat yang tidak serasi dengan

rencana tata ruang, dan (6) masih adanya pelanggaran di bidang sumberdaya alam dan lingkungan hidup. Sedangkan permasalahan yang

(9)

Kabupaten Probolinggo telah memiliki Instalasi Pengolahan Air Limbah

(IPAL), namun demikian pada beberapa industri (pada saat tertentu) pernah terjadi kualitas air limbahnya untuk beberapa parameter masih diatas

ambang baku mutu, antara lain pabrik tahu dan pabrik gula; (2) aktivitas pembuangan air limbah dan sampah domestik ke sungai. Sedangkan penyebab terjadinya kerusakan lingkungan hidup, antara lain (1)

penebangan mangrove secara liar; (2) perusakan mangrove oleh pada pencari cacing rofus; (3) aktivitas penambangan Bahan Galian Golongan C

yang tidak berwawasan lingkungan; (4) aktivitas penangkapan ikan dengan menggunakan jaring pukat harimau yang menyebabkan kerusakan terumbu karang; (5) aktivitas pengangkutan batu bara PLTU yang menimbulkan

ceceran di pantai secara akumulatif berpotensi mengganggu kehidupan terumbu karang; (6) aktivitas produksi biomasa tanaman semusim pada

lahan dengan kelerengan > 45 % tanpa diikuti usaha konservasi lahan (terasering).

Berkaitan dengan upaya pengelolaan lingkungan hidup, Kabupaten

Probolinggo terpisah menjadi beberapa kawasan yaitu kawasan budidaya, kawasan lindung dan kawasan rawan bencana. Terdapat juga satu kawasan yang disebut dengan kawasan khusus, yaitu kawasan PLTU

Paiton, kawasan Pulau Gili Ketapang dan kawasan hortikultura (mangga estate). Luas kawasan khusus ini adalah 1.550,00 Ha atau 0,91 % dari luas

(10)

A. Kawasan Budidaya

Kawasan budidaya adalah kawasan yang ditetapkan sebagai fungsi utama untuk dibudidayakan atas dasar kondisi dan potensi sumberdaya

alam, sumberdaya manusia dan sumberdaya buatan. Klasifikasi kawasan budidaya meliputi kawasan perkotaan dan kawasan pedesaan dengan jenis peruntukan hutan 426,46 Km2, tegalan 513,80 Km2, serta persawahan

373,13 Km2. Sedangkan lahan permukiman yang merupakan kawasan terbangun hanya meliputi 147,74 Km2 dari seluruh luas lahan. Pengaturan

zoning kawasan budidaya diarahkan untuk mengendalikan perkembangan pemanfaatan ruang yang cenderung dapat berpengaruh negatif terhadap lingkungan sekitar. Pengaturan zoning kawasan budidaya ini mencakup

pengembangan lokasi/kawasan industri, kawasan pertanian, kawasan pariwisata, kawasan permukiman perkotaan dan pedesaan. Arah

pengembangan perindustrian direncanakan menyebar. Pengendalian untuk kawasan ini dilakukan secara ketat agar tidak menimbulkan masalah lingkungan (pencemaran). Pengembangan untuk kawasan ini hanya

diizinkan untuk kegiatan penunjang industri. Antara industri dan kegiatan penunjang diberi jalur hijau yang berfungsi sebagai pemisah (barrier) dan KDB maksimum sebesar 40 % dari tanah yang dimiliki.

Pengaturan zoning kawasan pertanian yang terdiri pertanian basah dan pertanian kering adalah (1) untuk sawah pertanian basah perubahan

(11)

perkebunan peralihan fungsinya diizinkan maksimum 5 % dari luas wilayah

perkebunan yang ada.

Pengaturan zoning kawasan pariwisata pada berbagai wilayah

kecamatan perlu dilakukan peningkatan pelayanan atas kondisi dan keindahan wisata tanpa perubahan fungsi. Sementara itu pengaturan zoning kawasan permukiman perkotaan dan pedesaan dikembangkan

sesuai dengan peran dan fungsinya yaitu konsep fleksibel zoning bagi kawasan yang rawan perubahan dan mempunyai fungsi yang sangat penting, sedangkan pada kawasan lainnya menggunakan konsep fixed

zoning.

B. Kawasan Lindung

Kawasan lindung adalah kawasan yang ditetapkan dengan fungsi

utama melindungi kelestarian lingkungan hidup yang mencakup sumberdaya alam, sumberdaya buatan dan nilai sejarah serta budaya bangsa guna kepentingan pembangunan berkelanjutan. Salah satu

kawasan lindung yang perlu terus menerus dimantapkan adalah kawasan suaka alam. Kawasan ini di Kabupaten Probolinggo telah ditetapkan sesuai dengan arahan RTRW Provinsi Jawa Timur. Pada dasarnya pemantapan

kawasan ini bertujuan untuk melestarikan lingkungan dan melindungi biota, ekosistem, ilmu pengetahuan dan pembangunan pada umumnya.

(12)

Kawasan suaka alam selain untuk mempertahankan kelestarian

alam, juga berperan dalam pengembangan dunia ilmu pengetahuan dan kegiatan wisata. Kegiatan ini tetap harus dipertahankan berdasarkan pada

konsepsi menjaga kawasan suaka alam, termasuk kawasan suaka alam Taman Nasional Bromo Tengger Semeru.

Pengaturan zoning kawasan lindung dikendalikan secara ketat

sesuai dengan kondisi dan penambahan fungsi kawasan tersebut antara lain (1) kawasan suaka alam dan pelestarian tidak ada perubahan fungsi,

sedangkan luas kawasan serta kegiatan tambahan berupa bangunan hanya diizinkan untuk menunjang pariwisata; (2) kawasan hutan lindung mutlak tidak diizinkan adanya perubahan fungsi kawasan selain hanya untuk

kawasan lindung; (3) kawasan lindung yang terdapat kawasan terbangun penunjang pariwisata yang memiliki kelerengan tanah tinggi dibatasi

pengembangannya, kawasan ini dimanfaatkan sebagai kawasan wisata alam dan (4) kondisi pemanfaatan ruang di sepanjang daerah aliran sungai pada sebagian kawasan telah dimanfaatkan untuk pertanian, permukiman

atau pemanfaatan bahan galian pasir. Untuk melindungi kawasan ini, maka kawasan yang belum digunakan sebagai kawasan budidaya harus tetap dipertahankan dan tidak boleh terjadi perubahan fungsi.

Masalah yang timbul di dalam kawasan hutan lindung yang terbentang di sepanjang aliran sungai adalah adanya perambahan hutan,

(13)

Pelestarian lingkungan hidup melalui pengaturan kawasan, terutama

untuk kawasan lindung dilakukan untuk tetap dapat mempertahankan kelestarian alam, pengendalian dan pencemaran udara, tanah, dan air.

Pengendalian tersebut perlu terus menerus dipantau, agar kualitas lingkungan hidup di Kabupaten Probolinggo terjaga.

C. Kawasan Rawan Bencana

Penetapan kawasan rawan bencana di Kabupaten Probolinggo

bertujuan untuk melindungi manusia dan kegiatannya dari bencana yang disebabkan oleh alam maupun secara tidak langsung oleh perbuatan manusia itu sendiri. Bencana yang dimaksudkan berupa tanah longsor,

termasuk didalamnya adalah wilayah rentan yaitu daerah-daerah yang memiliki tingkat erosi tinggi, kawasan pantai dan tanah gundul di kawasan

hutan lindung, serta kawasan bersudut lereng lebih dari 40 %. Kawasan rawan bencana lainnya meliputi kawasan rawan gerakan tanah, rawan letusan gunung berapi, rawan gempa bumi, dan rawan angin topan.

Kawasan rawan bencana erosi pada umumnya terdapat di bagian wilayah Selatan yang merupakan daerah dataran tinggi. Berdasarkan sumber yang berasal dari Kantor Pertanahan Kabupaten Probolinggo

bahwa daerah yang memiliki tingkat kemiringan tanah lebih dari 40 % cukup tinggi, yaitu seluas 35 % dari seluruh luas daerah Kabupaten Probolinggo.

(14)

2.1.2 Demografi

Penduduk Kabupaten Probolinggo sebagian besar berasal dari suku Madura karena wilayah Kabupaten Probolinggo adalah daerah pantai yang

sebagian besar hidup sebagai nelayan. Berdasarkan sebaran penduduk menunjukkan 72,6 % tinggal di pedesaan sedangkan sisanya sebesar 27,4 % tinggal di perkotaan.

Berdasarkan hasil susenas tahun 2000, Kabupaten Probolinggo memiliki penduduk sebesar 1.004.967 jiwa jiwa dengan pertumbuhan

penduduk sebesar 0,95% dan hasil survey Sosial dan Ekonomi Nasionan (Susenas) Tahun 2004, jumlah penduduk menjadi sebesar Rp. 1.043.971 Jiwa yang berarti laju penduduk sebesar 0,96%.

Kondisi ini diikuti pula dengan peningkatan tingkat kepadatan penduduk sebesar 3,8 % pada tahun 2004. Peningkatan laju pertumbuhan

penduduk dan kepadatan penduduk disamping karena penambahan angka kelahiran juga disebabkan oleh migrasi dari daerah sekitarnya, karena Probolinggo merupakan pusat Wilayah Pembangunan (WP) Probolinggo –

Lumajang. Dengan pertumbuhan penduduk sebesar 0,96 % per tahun, maka diperkirakan dalam jarak waktu 20 tahun ke depan akan bertambah sebesar 25 %. Dengan bertambahnya jumlah penduduk sebesar 270.000

(angka kelahiran tetap) berarti kebutuhan perumahan bertambah sebanyak ± 70.000 unit, penyediaan air bersih juga ikut bertambah dan demikian pula

(15)

proporsional akan menimbulkan semakin tingginya tingkat pengangguran

dan kemiskinan.

Salah satu cara untuk mengukur tingkat keberhasilan pembangunan

adalah melalui Indeks Pembangunan Manusia (IPM). IPM didefinisikan sebagai indeks komposit yang disusun dari tiga indikator, yaitu lama hidup yang diukur dengan angka harapan hidup ketika lahir, pendidikan yang

diukur berdasarkan rata-rata lama sekolah dan angka melek huruf penduduk usia 15 tahun ke atas dan standar hidup yang di ukur dengan

pengeluaran per kapita (PPP Rupiah). IPM sebagai nilai komposit dapat menunjukkan seberapa besar tingkatan pembangunan manusia dapat dicapai. Selain itu IPM juga dapat digunakan sebagai dasar pertimbangan

bagi perencanaan pengembangan peningkatan sumberdaya manusia (SDM).

IPM Kabupaten Probolinggo selama 5 tahun terakhir terus mengalami kenaikan yang cukup berarti. Besar IPM tahun 2004 sebesar 58,53. Peningkatan ini menunjukkan bahwa stabilitas ekonomi dan

pembangunan manusia sudah mulai menunjukkan tanda-tanda membaik, yang hal ini tidak terlepas dari kontribusi komponen penentunya, yaitu Indeks Harapan Hidup sebesar 59,12, Indeks Pendidikan sebesar 60,53,

dan Indeks Daya Beli Masyarakat sebesar 55,93. Namun, IPM Kabupaten Probolinggo masih lebih kecil dari IPM Jawa Timur yang besarnya 64,49.

(16)

Berdasarkan informasi yang diperoleh dari Kabupaten Probolinggo

dalam angka, jumlah murid yang menempuh pendidikan (SD, SMA, dan SMA) semakin meningkat yang diikuti dengan peningkatan rasio guru dan

murid. Sementara itu apabila ditinjau dari kesehatan, ditunjukkan bahwa terdapatnya penurunan balita dan ibu melahirkan.

Permasalahan yang dihadapi berkaitan dengan kependudukan

adalah persebaran penduduk yang tidak merata bahwa sebagian besar penduduk dengan kepadatan tinggi tinggal di sekitar perkotaan, sedangkan

penduduk dengan kepadatan rendah tinggal di daerah pedesaan. Hal ini menimbulkan permasalahan bagi pembangunan wilayah yaitu terjadi ketidakseimbangan pertumbuhan pembangunan antara daerah pusat kota

dengan daerah pedesaan. Tantangan kependudukan untuk tahun 2005 adalah pengendalian laju pertumbuhan penduduk, pemerataan persebaran

penduduk, kualitas penduduk, serta penyediaan sarana dan prasarana untuk menunjang kehidupan penduduk.

Struktur penduduk berdasarkan jumlah pencari kerja pada tahun

2004 tercatat 1.061 orang yang terdiri dari laki-laki 569 orang dan perempuan 492 orang. Jumlah pencari kerja ini sebatas yang terekam lewat kantor tenaga kerja. Diyakini jumlah pencari kerja sebenarnya lebih

besar dari angka tersebut karena banyak yang tidak mendaftar ke kantor tenaga kerja. Dibandingkan dengan tahun 2003 jumlah pencari kerja ini

(17)

hanya mencapai 2,19% dari seluruh pencari kerja dengan kata lain

mengalami penurunan sekitar 5% dibanding Tahun lalu.

Berdasarkan struktur umur dengan pertumbuhan rata-rata usia

produktif 0,21 % pertahun, penduduk usia produktif pada tahun 2025 diproyeksikan akan mencapai 994.232 penduduk atau sekitar 82 % dari jumlah penduduk pada tahun 2025. Jumlah ini lebih tinggi dari perkiraan

penduduk usia produktif Indonesia sebesar 40 %. Jumlah ini mengindikasikan terjadinya pertumbuhan penduduk usia produktif, sehingga

penanganan untuk penyediaan kesempatan kerja harus mendapat perhatian lebih besar karena adanya kecenderungan peningkatan usia produktif yang masuk pasar kerja.

Berdasarkan hasil sensus ekonomi tahun 2004 di Kabupaten Probolinggo terdapat 138.382 Rumah Tangga Miskin (RTM) dengan jumlah

anggota rumah tangga sebanyak 421.795 jiwa. Adapun kecamatan yang memiliki jumlah rumah tangga miskin terbesar yaitu kecamatan besuk terdapat 11.087 RTM dengan jumlah anggota sebanyak 32.306 jiwa. Hal ini

menunjukkan bahwa Kabupaten Probolinggo masih diperlukannya penanganan lebih intensif yang dilakukan secara berkala untuk mengatasi masalah kemiskinan baik yang dilakukan oleh pemerintah maupun

masyarakat, karena hal ini berkaitan dengan masalah mutu sumberdaya manusia (SDM), hak asasi manusia (HAM) dan pemerataan kesejahteraan.

(18)

kesadaran masyarakat untuk memiliki dokumen penduduk (KTP, KK,

akta-akta Catatan Sipil) masih rendah.

2.1.3 Ekonomi dan Sumberdaya Alam

2.1.3.1 Ekonomi

Pertumbuhan ekonomi pada dasarnya merupakan gambaran dari

aktifitas perekonomian masyarakat di Kabupaten Probolinggo yang juga digunakan sebagai salah satu tolok ukur keberhasilan pelaksanaan

pembangunan. Berdasarkan indikator Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas Dasar Harga Konstan (ADHK) tahun 2000, pertumbuhan ekonomi Kabupaten Probolinggo sampai Tahun 2004 mengalami

pertumbuhan sebesar 4,51% dengan PDRB atas dasar harga konstan mencapai Rp. 4.894.000.000,9. Namun dibandingkan dengan kondisi

sebelum krisis ekonomi pertumbuhan ini masih belum kembali seperti semula

Sementara itu indikator pertumbuhan ekonomi lainnya dapat di ukur

melalui pendapatan regional perkapita yang menunjukkan peningkatan dalam kurun waktu lima tahun terakhir, yaitu dari Rp. 3.846.065,99 pada tahun 2000 menjadi Rp. 5.925.277,24 pada tahun 2004. Berdasarkan

trend yang ada, PDRB untuk lima tahun ke depan diperkirakan masih akan mengalami pertumbuhan rata-rata sebesar 5,23 % per tahun. Sedangkan

(19)

Selanjutnya berdasarkan ADHB, sektor pertanian menyumbang

sekitar 33,81 % dari total nilai PDRB Kabupaten yang diikuti oleh sektor perdagangan, hotel, dan restoran sebesar 24,73 % sedangkan sektor paling

kecil adalah sektor pertambangan dan penggalian sebesar 2,01 %.

Pemerintah Kabupaten Probolinggo selalu berusaha meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) dengan memacu penggalian sumber

keuangan baru secara intensif, wajar dan tertib agar dana pembangunan tidak terlalu tergantung dari Pemerintah Pusat. Secara umum PAD dari

tahun ke tahun mengalami kenaikan jika pada tahun 2003 sebesar Rp. 23.705.403.724,18 menjadi sebesar Rp. 19.561.775.961,05 pada tahun 2004 yang disebabkan adanya perubahan obyek pajak. Apabila

dibandingkan dengan besarnya APBD Tahun 2004 yang sebesar Rp. 347.004.328.154 maka kontribusi PAD sebesar 5,52%. Sehingga keuangan

Kabupaten Probolinggo masih dapat dikatakan masih bergantung pada Pemerintah Pusat.

Apabila ditinjau dari besarnya angka Daya Beli Masyarakat (DBM)

tercermin masih kurang kuatnya permintaan barang dan jasa yang di dorong oleh peningkatan pengeluaran oleh para pelaku ekonomi, tetapi secara umum pengeluaran kebanyakan masih cenderung terserap pada

konsumsi bukan pada investasi. DBM Kabupaten Probolinggo selama lima tahun terakhir mengalami peningkatan seiring dengan perkembangan nilai

(20)

dibandingkan dengan angka rata-rata DBM di Propinsi Jawa Timur sebesar

Rp. 1.756.200,- per kapita per tahun, menunjukkan bahwa DBM Kabupaten Probolinggo sudah lebih baik. Hal ini diperkuat dengan besarnya Ideks

Daya Beli (IDB) Kabupaten Probolinggo tahun 2004 yang besarnya 58,56 masih lebih tinggi dari IDB Propinsi Jawa Timur.

Mencermati Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD)

Kabupaten Probolinggo menunjukkan bahwa realisasi anggaran pendapatan melebihi rencana yang telah ditargetkan di tahun 2004, dengan

besar rencana Rp. 344.821.879.000,- dan realisasi sebesar Rp. 345.887.858.145,05,-. Disamping itu anggaran belanja mengalami surplus, yang berarti tingkat pendapatan melebihi jumlah yang dibelanjakan.

Walaupun demikian perlu dicatat bahwa surplus ini terjadi karena ada sebagian kegiatan yang tidak terselesaikan sesuai dengan waktu yang

ditetapkan. Apabila kegiatan tersebut bersifat kegiatan investasi Pemerintah berarti surplus tersebut justru kurang membantu pertumbuhan ekonomi daerah.

A. Industri

Berdasarkan hasil survei industri yang dilakukan Badan Pusat

Statistik (BPS), terjadi peningkatan jumlah perusahaan, tercatat 14 Industri Besar dengan penyerapan tenaga kerja ± 1400 orang, 41 industri sedang

(21)

Industri kerajinan merupakan jenis industri unggulan dari Kabupaten

Probolinggo, sehingga keberadaannya perlu untuk tetap dipertahankan. Kerajinan kayu dalam bentuk mebelair memiliki nilai jual yang tinggi

terutama untuk pasar ekspor, karena memiliki kekhasan tersendiri, baik dilihat bahan bakunya, yaitu umur kayu dan jenis kayu yang dipergunakan maupun desain hasil produksinya.

Pengelolaan industri kerajinan diarahkan pada peningkatan kualitas hasil produksi kerajinan, peningkatan usaha kelompok pengrajin dengan

fasilitas kredit lunak, penyebarluasan informasi pemasaran kepada kelompok usaha. Sedangkan pengelolaan industri pengolahan diarahkan pada penyiapan kawasan lokalisasi industri berorientasi pengolahan hasil

pertanian, peningkatan dan penggunaan teknologi pengolahan yang bebas polusi.

Selama periode lima tahun terakhir investasi mengalami peningkatan rata sebesar 5,3 % per tahun. Sedangkan produksi meningkat rata-rata sebesar 1,7 % per tahun. Untuk masing-masing sektor peningkatan

yang terjadi adalah (1) Industri mesin, logam dan kimia untuk industri kecil formal mengalami peningkatan rata-rata sebesar 3,3 % per tahun; (2) Industri mesin, logam dan kimia untuk industri kecil non formal mengalami

peningkatan rata-rata sebesar 3,3 %; (3) Industri Aneka untuk industri kecil formal mengalami peningkatan rata-rata sebesar 8,2 %; (4) Industri Aneka

(22)

Berdasarkan data-data diatas, terlihat bahwa sektor formal

mengalami kenaikan lebih besar daripada sektor non formal. Selain itu, industri kecil juga mengalami kenaikan yang lebih besar dibandingkan

industri menengah dan besar.

Jumlah industri kecil selama kurun waktu lima tahun terakhir mengalami kenaikan rata-rata 3,8 %. Di sisi lain, jumlah tenaga kerja yang

terserap pada sektor industri kecil mengalami kenaikan rata-rata 3,3 % selama lima tahun terakhir. Kondisi Industri yang masuk kriteria baik

mengalami kenaikan rata-rata 1,5 % per tahun. Industri yang masuk kriteria cukup, mengalami kenaikan rata-rata 17,4 %.

Walaupun perkembangan industri cukup menggembirakan, beberapa

masalah yang perlu mendapatkan perhatian adalah masalah yang berkaitan dengan pasar yaitu produk yang dihasilkan masih berorientasi pada pasar lokal, lemahnya inovasi-inovasi dalam networking (jejaring) yang justru

dituntut untuk memasuki pasar global dan masih sedikitnya pemanfaatan komunikasi pasar melalui internet.

B. Pariwisata

Probolinggo mempunyai banyak obyek wisata, diantaranya Gunung

Bromo, air terjun Madakaripura, Pulau Giliketapang dengan taman lautnya, Pantai Bentar, Arung Jeram, Danau Ronggojalu, Ranu Segaran, dan

(23)

diantaranya Kerapan Sapi, Tarian Kuda Kencak, Tari Kiprah Glipang, Tari

Slempang, Tari Pangore, Tari Rondojalu, dan seni budaya masyarakat Tengger (Hari Raya Kasada).

Jumlah wisatawan yang berkunjung di Kabupaten Probolinggo menurun sebesar 16 % tahun 2003-2004 baik untuk wisatawan domestik maupun wisatawan mancanegara. Tujuan wisatawan sebanyak 64 % ke

Gunung Bromo, 32 % ke Gunung Bentar, 3,5 % ke Ronggojalu, dan 0,3 % ke Air Terjun Madakaripura.

Penurunan jumlah wisatawan saat ini lebih disebabkan oleh adanya lumpur Lapindo yang mengakibatkan sektor perekonomian Jawa Timur mengalami penurunan yang tidak hanya di alami oleh Kabupaten

Probolinggo saja melainkan juga Kota dan Kabupaten lainnya di Jawa Timur. Selama ini jalur pariwisata (road map) wisatawan nusantara maupun

wisatawan mancanegara mempunyai rute jalur pariwisata Surabaya-Malang-Probolinggo-Bali. Namun sekarang rute pariwisata tersebut dialihkan menjadi Surabaya-Malang-Denpasar, dengan memakai jalur

penerbangan.

Beragamnya obyek wisata di Kabupaten Probolinggo belum ditunjang dengan kelengkapan sarana dan prasarana yang memadai salah

satunya adalah sarana akomodasi. Beberapa permasalahan yang dihadapi adalah (1) terbatasnya sarana dan prasarana pariwisata utamanya pada

(24)

kurangnya pemeliharaan, pelestarian dan pengembangan pariwisata

daerah.

2.1.3.2 Sumberdaya Alam

A. Sumberdaya Alam Tidak Terbarukan

Sumberdaya alam tidak terbarukan yang dimiliki oleh Kabupaten

Probolinggo berupa bahan-bahan tambang meliputi sirtu (pasir/tanah dan batu-batuan). Kawasan pertambangan adalah kawasan yang mempunyai

potensi untuk usaha pertambangan yang meliputi pertambangan bahan-bahan galian golongan C. Berdasarkan data dari Dispenda Kabupaten Probolinggo terdapat beberapa hasil tambang di Kabupaten Probolinggo

yaitu batu gunung, pasir, tanah urug, dan pasir/krikil batu. Luas areal tambang batu gunung pada tahun 2001 adalah 61 Ha dan menurun menjadi

57 Ha pada tahun 2004. Penurunan ini diikuti dengan menurunnya jumlah produksi sebesar 0,77 %. Tambang pasir yang dimiliki juga mengalami penurunan hasil produksi sebesar 0,45 % dari tahun 2002 ke tahun 2004.

Kemudian besarnya luas areal tambang pasir/krikil batu dari tahun 2001 ke tahun 2004 mengalami penurunan sebesar 0,93 %.

Penurunan hasil tambang sirtu terjadi karena adanya pembatasan

lahan yang diperbolehkan untuk di tambang dari Pihak Pemerintah Daerah. Pengelolaan sektor pertambangan ke depan diarahkan pada pembatasan

(25)

penambangan yang tidak berijin. Disamping itu juga dilakukan pembinaan

dan penyuluhan secara berkala dan diawasi secara ketat. Hal ini dilakukan dalam upaya pengelolaan lingkungan hidup akibat beban cemaran limbah

pada komponen lingkungan fisik, kimia, biologi, sosial, ekonomi, budaya, dan kesehatan masyarakat. Selain itu untuk jangka 20 tahun ke depan bahan tambang yang merupakan sumberdaya tidak terbarukan tidak dapat

diandalkan untuk meningkatkan pendapatan daerah, karena itu perlu dikelola secara efektif dan efisien sehingga penggunaannya lebih hemat,

sekaligus menjaga kelestariannya. B. Sumberdaya Alam Terbarukan

Sumberdaya alam terbarukan di Kabupaten Probolinggo berasal dari

hasil pertanian, perkebunan, kehutanan, peternakan, serta perikanan dan kelautan.

Hasil Pertanian

Berdasarkan karakteristik daerah ± 60 % mata pencaharian

penduduk bekerja di sektor pertanian. Pertanian tanaman pangan masih merupakan sub sektor andalan dalam pembangunan di Kabupaten

Probolinggo. Tanaman pangan meliputi padi dan palawija yang terdiri dari tanaman jagung, ubi kayu, kacang tanah, kacang hijau, dan kedele. Secara

(26)

0,6 % dengan produksi padi perhektar yang mengalami kenaikan sebesar

0,03 % Tahun 2004.

Untuk produksi palawija, secara umum areal panen mengalami

penurunan yang diikuti dengan penurunan hasil produksinya untuk tahun 2004 dibandingkan tahun 2003. Untuk ubi kayu dan ubi jalar masing-masing naik sebesar 56 % yakni mencapai 184.498 Ton. Meningkatnya produksi

palawija yang berupa ubi kayu dan ubi jalar menggambarkan bahwa petani lebih memfokuskan pada tanaman palawija ini, di samping karena mudah

dalam melakukan budidaya juga dari segi biaya lebih murah, mereka juga mengkonsumsinya sebagai pengganti beras apabila harga beras mahal atau pada saat harga palawija tersebut sangat murah karena hasil produksi

melimpah di pasar. Berdasarkan peruntukan lahan di Kabupaten Probolinggo areal sawah seluas 38.509 Ha (22,7 %) lebih kecil dibanding

areal tegal seluas 52.801,95 Ha (31,1 %). Berarti penduduk lebih banyak mengusahakan tanaman palawija dibanding padi.

Kabupaten Probolinggo terkenal sebagai sentra tanaman bawang

merah sebagai salah satu dari tanaman hortikultura yang dikembangkan. Luas panen dan produktifitas tertinggi dicapai oleh Kecamatan Dringu, yaitu sebesar 4.011 ha dengan produktifitas sebesar 135,68 kw/ha. Jika

dibandingkan dengan tahun sebelumnya, terjadi penurunan produktifitas sebesar 5,21 %. Penurunan produktifitas dikarenakan perubahan musim

(27)

Untuk tanaman buah-buahan selain Probolinggo terkenal dengan

julukannya sebagai kota Mangga dan Anggur juga menghasilkan beberapa buah-buahan lainnya, seperti alpukat, manggis, dan durian. Pada tahun

2004 produktifitas mangga mencapai 48.182 Tonyang berarti mengalami penurunan sebesar 8,4 % dibanding tahun sebelumnya hal ini lebih dikarenakan pengaruh iklim yang tidak mendukung. Sedangkan untuk

anggur mengalami kenaikan produksi sebesar 6,3%. Sementara produksi durian meningkat 18% walaupun alpukat dan manggis mengalami

penurunan produksi sebesar 93% dan 90%. Penurunan ini disebabkan oleh serangan hama dan sistem budidaya yang kurang optimal.

Pembangunan sektor pertanian merupakan salah satu bagian

pembangunan ekonomi berbasis sumberdaya alam yang berakar di masyarakat dan merupakan andalan dalam memperkokoh fundamental

ekonomi regional maupun nasional. Sub sektor tanaman pangan sebagai basis dalam struktur perekonomian daerah masih nampak terjadi fluktuasi produktifitasnya dari tahun ke tahun yang disebabkan oleh (1) masih

rendahnya sumberdaya manusia petani serta belum berfungsinya secara optimal keberadaan kelompok tani; (2) masih rendahnya kepemilikan aset petani yang rata-rata memiliki lahan di bawah 0,5 Ha dan belum optimalnya

pemanfaatan teknologi pertanian, (3) belum dilaksanakannya anjuran pemakaian pupuk berimbang, dan (4) masih lemahnya akses pasar dan

(28)

Masalah yang terlihat pada saat ini dalam bidang pertanian adalah

menyempitnya lahan pertanian, beberapa tanaman pangan mengalami penurunan produktifitas, ketersediaan input (benih, pupuk, obat) dalam

waktu, jumlah dan harga yang tepat yang belum terjangkau khususnya untuk petani lahan sempit.

Hasil Perkebunan

Komoditas perkebunan berupa kelapa, tembakau, kapuk randu,

cengkeh, kopi, tebu, kapas, pinang, dan aren. Total hasil produksi kelapa di tahun 2004 sebesar 3,977 ton, naik sebesar 4,3 % dibandingkan tahun 2003. Peningkatan produksi kelapa ini disebabkan karena bertambahnya

luas area perkebunan kelapa itu sendiriditambah dengan dilakukannya peremajaan secara berkal dan pemberantasan hama secara efektif..

Sementara itu total luas areal kapuk randu adalah 4.321 ha untuk tahun 2004, mengalami peningkatan sebesar 0,5 % dibandingkan tahun sebelumnya. Hasil produksi kapuk dan produktifitasnya juga mengalami

peningkatan masing-masing sebesar 8,1 %, dan 2,6 %. Peningkatan produksi yang tidak diikuti oleh peningkatan produktifitas secara

proporsional, disebabkan karena belum semua tanaman randu dapat menghasilkan serat kapuk yang sama jumlah produksinya dan kurang

dilakukan peremajaan.

Hasil komoditas terbesar selain kelapa dan kapuk randu adalah tembakau, kopi, dan tebu. Tembakau dengan hasil produksi berupa

(29)

Kotaanyar, Paiton, Besuk, Kraksaan, dan Krejengan masing-masing

dengan produktifitas yang sama, yaitu sebesar 1,40 ton/ha/tahun

Kopi dapat diperoleh di tujuh Kecamatan, yaitu Sukapura, Sumber,

Tiris, Krucil, Gading, Pakuniran, dan Lumbang. Pada tahun 2004 total hasil produksi berupa ose kering mencapai 569,68 ton dengan tingkat produktifitas 0,32 ton/ha/Th . Hal perlu diwaspadai ketidakstabilan harga

kopi di pasaran yang pada umumnya terkait dengan kondisi panen dan penanganan pasca panen yang kurang optimal. Hal ini berarti bahwa

ketidakstabilan harga kopi harus dipertimbangkan dalam keputusan untuk menambah areal tanam. Namun untuk kopi rakyat kelemahannya sering terjadi pada kualitas produksi tidak melakukan grading sehingga antara kopi

yang masak dengan yang masih muda sering tercampur, dan hal ini dapat menurunkan harga produk.

Tebu merupakan tanaman yang dapat dijumpai di hampir setiap Kecamatan, kecuali Kecamatan Kuripan dan Bantaran dengan hasil produksi berupa kristal gula. Pada tahun 2004 terjadi penurunan luas areal

tanaman tebu sebesar 25 % dari tahun 2003.

Walaupun tebu, tembakau dan kopi menjadi tanaman perkebunan andalan bagi Kabupaten Probolinggo, namun masalah yang sering timbul,

adalah ketidakpastian harga. Untuk kopi dan tembakau harganya sangat tergantung kepada harga pasar dunia. Sedangkan tebu harganya bagi

(30)

kebebasan petani untuk memilih komoditas yang dibudidayakan

menyulitkan pemerintah untuk menyeimbangkan antara produksi dan permintaan pasar.

Pengelolaan sektor perkebunan diarahkan pada peningkatan kualitas bibit unggul tanaman. Selain itu, pembangunan hasil perkebunan diarahkan untuk membangun manusia dan masyarakat perkebunan melalui usaha

perkebunan. Oleh karena itu, pelaksanaan pembangunan perkebunan dilakukan dengan mengintegrasikan aspek-aspek ekonomi, ekologi, dan

sosial budaya.

Hasil Kehutanan

Pembangunan hasil kehutanan merupakan salah satu bagian pembangunan ekonomi berbasis sumberdaya alam yang berakar di

masyarakat dan merupakan andalan dalam memperkokoh fundamental ekonomi regional maupun nasional. Berkaitan dengan kehutanan, menurut fungsinya terbagi atas tiga klasifikasi yaitu hutan lindung, hutan produksi,

dan hutan suaka alam. Luas hutan secara total menurut data yang diperoleh dari Perum Perhutani II Jatim/KKPH Probolinggo tahun 2004

adalah meningkat 0,62 % dengan capaian luas arel 51.502,9 ha dan terdistribusi menjadi hutan lindung 54% hutan produksi dan sisanya 42 %

merupakan hutan suaka alam 4%.

(31)

hutan produksi yang dikhawatirkan menurunkan fungsi hutan lindung

dengan indikator hilangnya beberapa spesies tanaman yang dilindungi.

Hasil Peternakan

Hasil peternakan di Kabupaten Probolinggo dibedakan antara ternak

besar, ternak kecil dan unggas (ayam dan burung). Perkembangan populasi

ternak yang naik turun menghasilkan pendapatan peternak yang juga mengalami pasang surut. Adanya penyakit ternak besar, seperti kuku dan mulut dan ternak unggas seperti Avian Flu, mempengaruhi pendapatan

peternak, karena peternak harus mengeluarkan biaya ekstra untuk melakukan vaksinasi.

Dengan memperhatikan aspek manajemen budidaya yang masih lemah dan belum berorientasi bisnis, maka nilai tambah atau hasil yang

dicapai belum memberikan kontribusi baik kepada pertumbuhan ekonomi rakyat maupun pendapatan daerah. Hal ini diakibatkan oleh adanya beberapa permasalahan yang ada antara lain (1) rekayasa genetika

sapi-sapi bibit Intansejati (IB) berjalan sangat lamban dan kurang memperoleh perhatian yang serius; (2) belum adanya sentuhan teknologi terhadap

limbah pertanian sebagai pakan ternak yang potensial; (3) belum adanya penanganan yang serius terhadap akses pasar yang berpihak kepada

(32)

hewan, dan (4) belum adanya penanganan kesehatan ternak yang

memadai (klinik, laboratorium type C, Poskeswan).

Hasil Perikanan dan Kelautan

Hasil Perikanan dan Kelautan di Kabupaten Probolinggo diperoleh dari hasil penangkapan di laut, tambak, kolam, dan keramba serta

ranu/sungai. Produktifitas hasil penangkapan ikan di laut semakin lama semakin menurun dan berdampak kepada rendahnya pendapatan nelayan.

Kondisi ini dikarenakan rusaknya sebagian habitat ikan di laut yang mengalami degradasi ekosistem di laut dan pantai. Apabila kerusakan habitat ikan di laut dan pantai tidak dilakukan rehabilitasi ekosistemnya,

maka pendapatan nelayan akan semakin menurun. Daerah kerusakan yang terjadi terutama terumbu karang dan kawasan mangrove, serta kurangnya

partisipasi masyarakat dan pihak swasta untuk bersama-sama melindungi habitat ikan di laut secara bertanggung jawab dan berkelanjutan.

Adapun beberapa permasalahan yang dihadapi dalam hasil

perikanan yaitu (1) sebagian besar sarana dan prasarana tangkap yang dipakai nelayan kapasitasnya kecil; (2) terbatasnya fishing ground dan adanya over fishing; (3) besarnya biaya untuk budidaya air payau

(pengelolaan tambak) secara intensif; (4) banyaknya lahan tambak yang

(33)

tingkat kesadaran masyarakat masih rendah terhadap pelestarian fungsi

laut dan pantai.

2.1.4 Sosial Budaya dan Politik

2.1.4.1 Sosial Budaya

Kehidupan masyarakat Kabupaten Probolinggo relatif rukun, toleran,

dan terbuka merupakan modal dasar untuk melaksanakan pembangunan dan merealisasikan tujuan reformasi. Sikap menghargai perbedaan

pendapat secara kritis telah membudaya di masyarakat juga merupakan modal dasar untuk mengembangkan pemerintahan yang baik dan bersih

(good and clean governance). Demikian pula karakateristik masyarakat

Kabupaten Probolinggo yang ulet, tegas, terbuka, dan lugas bila dikelola dan disalurkan dengan baik merupakan modal dasar yang cukup besar

peranannya dalam pembangunan.

Masyarakat Probolinggo sebagai bagian dari Provinsi Jawa Timur yang menghargai nilai-nilai adat dan budaya Jawa dan Madura serta

terbuka terhadap nilai-nilai positif yang datang dari luar, merupakan kondisi yang sangat kondusif bagi pelaksanaan pembangunan dan mewujudkan cita-cita reformasi. Meskipun masyarakat Probolinggo sebagian besar terdiri

dari Jawa dan Madura, kehidupan mereka relatif rukun dan damai dengan warga.

(34)

yaitu rasa kolektifitas menjadi sangat dominan dalam kehidupan sehari-hari.

Individu tidak bisa dengan leluasa berbuat tanpa ada kesepakatan kolektif dalam mencapai tujuan hidupnya. Mereka tetap terikat dengan sebuah

kesadaran kolektif baik ditingkat keluarga maupun masyarakat. Disamping itu terdapat sebagian kecil masyarakat lainnya yang sosial budayanya masih diwarnai oleh sisa-sisa zaman kerajaan Majapahit, yaitu masyarakat

Tengger yang hidup di lereng gunung Bromo, Kecamatan Sukapura, Sumber dan sekitarnya dengan sebagian besar penduduknya beragama

Hindu.

Sebagai daerah pesisir/pantai, sosial budaya masyarakat Probolinggo telah mulai mengalami akulturasi. Keragaman budaya itu

menjadi kekayaan yang harus dilestarikan dan dikembangkan. Permasalahan budaya yang dihadapi adalah semakin besarnya pengaruh

globalisasi yang berdampak pada perubahan sosial budaya lokal, yang bila tidak diantisipasi dan dikendalikan tentunya akan berdampak pada nilai-nilai sosial budaya lokal.

A. Agama

Selama ini pembangunan agama menunjukkan adanya peningkatan

kualitas keimanan dan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, terpeliharanya kerukunan antar umat beragama serta meningkatnya

(35)

peribadatan, kegiatan keagamaan serta pelayanan dan penyelenggaraan

ibadah haji.

Pada tahun 2004 dari 1.043.967 jiwa penduduk Kabupaten

Probolinggo, tercatat 972.994 jiwa menganut Agama Islam. Sedangkan agama lain dianut oleh sebagian kecil masyarakat. Agama Kristen Protestan dipelukoleh 1.084 jiwa, Agama Katolik dipeluk oleh 1.285 jiwa,

Agama Hindu dipeluk oleh 15.456 jiwa dan Agama budha dipeluk oleh 243 orang.

Permasalahan yang masih memerlukan perhatian bersama adalah pada sebagian masyarakat kehidupan beragama belum menggambarkan penghayatan dan penerapan niai-nilai ajaran agama yang dianut, walaupun

disisi lain kerukunan antara umat beragama masih tetap terpelihara dengan baik, sehingga diperlukan penghayatan terhadap norma-norma agama yang

telah dijalani dengan sepenuh hati. Oleh karena itu pembinaan kehidupan umat beragama diposisikan sejajar dengan aspek-aspek pembangunan lainnya, karena memiliki makna yang sangat strategis bagi suksesnya

pembangunan secara keseluruhan.

B. Pendidikan

Pembangunan di bidang pendidikan secara umum terus ditingkatkan guna terciptanya masyarakat Indonesia yang berpendidikan untuk

(36)

harus diimbangi dengan sarana fisik pendidikan dan tenaga guru yang

memadai.

Pada tahun 2004 rasio murid dan guru untuk TK dan SD meningkat

masing-masing menjadi sebesar 1:15 dari sebelumnya 1:18. Peningkatan ini menunjukkan adanya peningkatan jumlah sekolah, jumlah murid dan jumlah guru. Sementara untuk SLTP dan SMA menurun dari 1:11 menjadi

1:14.

Indeks Pendidikan Kabupaten Probolinggo selama lima tahun

terakhir menunjukkan peningkatan, yang di tahun 2004 sebesar 2,18, dari tahun 2003. Besarnya indeks pendidikan di tahun 2004 masih jauh lebih rendah dari rata-rata Indeks Pendidikan Propinsi Jawa Timur yang sebesar

70,92, namun sudah lebih baik dari pada pencapain indeks tahun-tahun sebelumnya. Angka indeks pendidikan ini dibentuk berdasarkan gabungan

antara Angka Melek Huruf (AMH) dan Rata-rata Lama Sekolah (RLS), yang proporsinya adalah dua per tiga dari AMH dan satu per tiga dari RLS.

Angka Melek Huruf (AMH) merupakan proporsi penduduk berusia 15

tahun ke atas yang dapat membaca dan menulis dalam huruf latin atau lainnya, terhadap jumlah penduduk usia 15 tahun atau lebih. AMH Kabupaten Probolinggo selama 5 tahun terakhir terus mengalami kenaikan

yang cukup signifikan. Besar AMH tahun 2004 sebesar 75,65 % meningkat 1,29 % dibandingkan tahun 2003. Angka ini sebenarnya masih tergolong

(37)

yang dimaksud adalah seluruh penduduk 15 tahun ke atas, termasuk usia

dewasa dan lansia. Membebaskan buta huruf dari penduduk usia sekolah tentu berbeda dengan membebaskan buta huruf dari penduduk usia

dewasa dan lansia. Meningkatnya angka melek huruf menunjukkan bahwa program-program pembangunan pendidikan yang telah di buat oleh Pemerintah Kabupaten Probolinggo mulai memberikan hasil yang

signifikan. Program-program pendidikan ini terutama ditujukan pada pemberian kesempatan yang lebih merata pada semua lapisan masyarakat

untuk menerima pendidikan.

Sementara itu, Rata-rata Lama Sekolah (RLS) dari pendidikan yang ditempuh penduduk Kabupaten Probolinggo selama lima tahun terakhir

mengalami peningkatan, yang di tahun 2004 sebesar 5,24 meningkat 0,31 dari tahun 2003.

Indikator komposit pendidikan melalui AMH dan RLS merupakan tingkatan kemajuan yang harus dicapai dalam taraf yang minimal. Asumsi dasarnya adalah semakin lama orang belajar/ sekolah, semakin tinggi

kemampuan melek hurufnya dan semakin merata tingkat pendidikannya. Hal ini berarti bahwa salah satu indikator kemajuan pembangunan tercapai dengan signifikan.

Pada dasarnya pendidikan merupakan suatu investasi dalam modal manusia, karena pada hakekatnya investasi tersebut adalah pengorbanan

(38)

tidaklah berlebihan bila Kabupaten Probolinggo menempatkan sektor

pendidikan sebagai sektor prioritas selain kesehatan dan ketahanan pangan.

Permasalahan yang dihadapi dalam pendidikan, adalah (1) pemerataan dan perluasan akses pendidikan; (2) peningkatan mutu, relevansi dan daya saing keluaran pendidikan; (3) tata kelola dan

akuntabilitas serta pencitraan publik ; (4) masih terbatasnya kebutuhan sarana dan prasarana sekolah; dan (5) kemitraan dengan masyarakat dan

dunia usaha dalam proses belajar mengajar masih perlu ditingkatkan.

Pendidikan tidak dapat dilepaskan dengan bidang kebudayaan. Permasalahan yang dihadapi dalam pembangunan bidang kebudayaan

adalah (1) masih terbatasnya pelaku/pemerhati seni dan budaya dalam rangka pembinaan seni dan budaya; (2) dalam upaya pelestarian,

peningkatan dan pengembangan kebudayaan, belum mencapai hasil yang optimal; (3) usaha pelestarian cagar budaya dan nilai budaya belum optimal, dan (4) masih terbatasnya dukungan masyarakat dalam upaya

penggalian, penyusunan penelitian dan penulisan sejarah.

C. Kesehatan

Peningkatan pelayanan kesehatan tidak terlepas dari ketersediaan sarana dan prasarana kesehatan yang memadai. Secara umum banyaknya

(39)

Jumlah fasilitas kesehatan di Kabupaten Probolinggo tidak

mengalami perubahan dibandingkan dengan tahun sebelumnya, yaitu 2 buah Rumah Sakit di Kecamatan Kraksaan, Kecamatan Dringu , 33 buah

Puskesmas dan 87 Puskesmas Pembantu yang terdapat di setiap Kecamatan. Sedangkan jumlah tenaga kesehatan umumnya mengalami peningkatan pada tenaga bidan dan perawat. Selain itu di tahun 2004

terjadi peningkatan jumlah apotik sebesar 14%.

Rata-rata lebih dari 90 % bayi di setiap Kecamatan telah diimunisasi.

Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat telah menyadari pentingnya kesehatan khususnya imunisasi untuk bayi agar terjadi kekebalan tubuh terhadap penyakit tertentu. Selain itu jumlah mengunjung Posyandu

meningkat dari 76,5 % di tahun 2004.

Jumlah pasangan usia subur (PUS) tercatat 229.330 orang, namun

yang menjadi peserta KB aktif sebanyak 165.666 atau sekitar 72,24 %. Jika dibandingkan dengan tahun lalu, terjadi peningkatan peserta KB aktif sebesar 2 %. Dari keseluruhan jenis alat kontrasepsi, tiga jenis alat

kontrasepsi yang diminati masyarakat, yang diamati dari tiga tertinggi persentase pemakaian adalah suntik (31,55 %), pil (26,34 %) dan implant (23,24 %).

Indeks Harapan Hidup (IHH) Kabupaten Probolinggo selama 5 tahun terakhir terus mengalami kenaikan yang cukup berarti. Besar IHH tahun

(40)

AHH adalah rata-rata lamanya hidup yang akan dicapai oleh

penduduk. AHH Kabupaten Probolinggo selama 5 tahun terakhir terus mengalami kenaikan yang cukup berarti. Besar AHH tahun 2004 sebesar

60,47 tahun meningkat 0,32 dibandingkan tahun 2003. AHH sekitar 60 tahun ini harus ditingkatkan terus, karena masih lebih rendah dari rata-rata Propinsi Jawa Timur yang besarnya mencapai 64,69 tahun.

Penambahan usia harapan hidup waktu lahir menunjukkan telah terjadinya peningkatan kemampuan penduduk dalam memperbaiki kualitas

hidup dan lingkungan. Peningkatan kualitas hidup akan sebanding dengan peningkatan status sosio-ekonomi keluarga. Sedangkan kualitas lingkungan berkaitan dengan tingkat kesadaran masyarakat untuk hidup dalam

lingkungan fisik yang lebih baik.

Cara pengukuran AHH adalah berhubugan dengan angka kematian

bayi. Semakin rendahnya angka kematian bayi, maka AHH semakin tinggi dan sebaliknya. Dengan demikian upaya menurunkan angka kematian bayi adalah suatu yang mutlak untuk meningkatkan AHH. Bayi merupakan

kelompok umur yang paling peka terhadap aspek-aspek kesehatan, karena sistem pertahanan tubuh yang belum sempurna menyebabkan bayi mudah terkena penyakit, terutama infeksi.

Permasalahan yang dihadapi dalam kesehatan adalah (1) masih tingginya angka kematian ibu dan anak; (2) kesadaran masyarakat untuk

(41)

karena keterlambatan penanganan; (5) masih tingginya penderita TB Paru,

Kusta dan Deman Berdarah; (6) belum terpenuhinya seluruh kebutuhan alat kontrasepsi bagi peserta KB aktif dan peserta KB baru; (7) rendahnya minat

masyarakat terhadap IUD sementara stok IUD cukup banyak; dan (8) sulitnya memberantas penyakit sosial masyarakat yang berdampak semakin bertambahnya angka penderita HIV/AIDS.

D. Sosial Lainnya

Berkaitan dengan kesejahteraan bidang sosial lainnya, disoroti

hal-hal yang menunjang keamanan dan ketertiban masyarakat. Keamanan dan ketertiban masyarakat merupakan satu kondisi yang sangat penting terhadap kelangsungan penyelenggaraan pemerintahan dan pelaksanaan

pembangunan serta terciptanya ketentraman dan ketertiban, sehingga hasilnya dapat dinikmati masyarakat secara luas. Dalam kenyataannya,

tingkat kesadaran dan kemampuan masyarakat dalam usaha bela negara melalui sistem keamanan swakarsa belum mantap. Hal ini ditunjukkan oleh adanya perkara tindak pidana umum di tahun 2004 mengalami penurunan

sebesar 15,29 % dibandingkan tahun sebelumnya dan semua perkara sudah dilimpahkan ke Pengadilan Negeri (PN). Sedangkan untuk perkara tindak pidana Narkoba ada 7 perkara di tahun 2004 yang telah dilimpahkan

ke PN.

Selanjutnya dengan menurunnya jumlah korban kecelakaan lalu

(42)

masyarakat dalam berlalu lintas. Sedangkan untuk perkara korupsi pada

tahun 2004 terdapat 2 perkara yang semuanya sudah dilimpahkan ke PN. Pembangunan bidang sosial lainnya diarahkan pada pemberdayaan

masyarakat desa dan perempuan terutama pada isu-isu pengarusutamaan gender (PUG) dalam pembangunan, perlindungan kepada perempuan dengan peningkatan ketrampilan dan kesejahteraan perempuan,

peningkatan keswadayaan masyarakat, pengembangan kapasitas kelembagaan dan kemasyarakatan desa/kelurahan serta peningkatan

kesejahteraan sosial.

Permasalahan yang dihadapi dalam pembangunan bidang sosial adalah (1) rendahnya kesadaran bela negara dalam mewujudkan

keamanan swakarsa; (2) pendidikan, pengetahuan dan ketrampilan masyarakat masih rendah; (3) banyak lembaga desa yang kurang berfungsi

dan kurangnya keterbukaan aparat desa, dan (4) masih rendahnya SDM perempuan dalam upaya mensejahterakan dirinya dan keluarga.

2.1.4.2 Politik

Reformasi politik nasional yang menemukan momentum di tahun 1998, secara monumental diwujudkan dalam pemilu tahun 1999 serta

pemilu legislatif dan pemilu presiden/wakil presiden tahun 2004, melalui dua kali perubahan lima undang-undang politik. Dalam penyelenggaraan

(43)

politik dan perlunya konsolidasi dan sinkronisasi ketentuan normatif maka

dilakukan revisi dengan menerbitkan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah untuk mengganti undang-undang

sebelumya. Praktek politik selama sekitar lima tahun memperlihatkan betapa besarnya perubahan politik yang terjadi, partisipasi politik masyarakat yang lebih otonom, independen dan mandiri juga semakin

meningkat dan meluas termasuk dalam kehidupan politik lokal.

Dalam penyelenggaraan otonomi daerah yang masih baru berjalan,

maka implementasinya masih menunjukkan adanya kelemahan-kelemahan yang membutuhkan penyesuaian guna menuju tercapaianya pemerintahan yang baik dan bersih (good and clean governance). Penyelenggaraan

Pemerintahan yang baik menuntut adanya kerjasama antara Pemerintah Daerah, DPRD dan masyarakat luas yang saat ini terjalin dengan baik.

Indikasinya antara lain adalah kebersamaan dalam menyelesaikan berbagai masalah yang timbul, fungsi legislatif sebagai wakil rakyat telah semakin meningkat kualitasnya dalam melaksanakan fungsi pengawasan terhadap

kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh eksekutif.

Permasalahan yang dihadapai dalam kehidupan politik antara lain (1) belum optimalnya pelaksanaan kewenangan yang diserahkan kepada

daerah; dan (2) keberadaan aparat pemerintah serta mekanisme hubungan pusat dengan daerah belum sepenuhnya mendorong kesiapan pelaksanaan

(44)

2.1.5 Prasarana dan Sarana

Prasarana dan sarana adalah aspek penting dalam kelancaran

proses pembangunan guna meningkatkan perekonomian daerah, karena

tingkat aksesibilitas suatu wilayah akan dapat mempengaruhi perkembangan sosial, ekonomi, dan budaya daerah. Sumberdaya pendukung tidak hanya berupa sarana dan prasaran fisik saja, melainkan

juga berupa sarana dan prasarana hukum serta pemerintahan. Secara rinci akan diuraikan sebagai berikut :

A. Transportasi dan Perhubungan

Transportasi secara umum berfungsi sebagai katalisator dalam

mendukung pertumbuhan ekonomi, pengembangan wilayah, dan pemersatu wilayah. Infrastruktur transportasi mencakup transportasi darat

(jalan, perkeretaapian, angkutan sungai, danau, dan penyeberangan), transportasi laut dan udara.

Transportasi jalan merupakan modal transportasi utama yang

berperan penting dalam mendukung pembangunan serta mempunyai kontribusi terbesar dalam melayani mobilitas manusia maupun distribusi komoditi perdagangan dan industri. Sarana dan prasarana transportasi jalan

telah menjangkau hampir seluruh bagian wilayah bahkan sampai ke desa-desa. Berdasarkan informasi yang diperoleh dari PU Bina Marga bahwa

(45)

Permasalahan yang dihadapi Kabupaten Probolinggo dalam sektor

transporasi darat adalah (1) kurangnya jumlah terminal untuk beberapa kawasan strategis; dan (2) adanya kecenderungan kepadatan lalu lintas

yang meningkat untuk kendaraan bermotor dan tidak bermotor; dan (3) pelebaran badan jalan.

Prasarana lain di Kabupaten Probolinggo berupa jalan kereta api

yang memanjang di sisi Barat Ke Timur/Selatan yang secara garis besar melewati KecamatanTongas-Kota Probolinggo-Leces-Tegal Siwalan.

Angkutan kereta api di Kabupaten Probolinggo mempunyai peranan yang cukup besar karena dapat mengurangi beban jalan raya, selain itu karena kereta api dapat digunakan untuk mengangkut barang selain orang.

Pengelolaan prasarana kereta api di Kabupaten Probolinggo adalah dengan meningkatkan frekuensi perjalanan, menambah armada kereta api, dan

meningkatkan pemeliharaan terhadap jalur kereta api.

Pengembangan transportasi laut di Kabupaten Probolinggo diarahkan untuk meningkatkan jumlah keluar-masuk angkutan barang dan

penumpang melalui laut yang dilakukan dengan kapal-kapal yang ada. Sedangkan pembangunan bidang perhubungan untuk jangka panjang diarahkan pada peningkatan sistem pelayanan transportasi yang tertib,

lancar, aman, merata, dan terjangkau masyarakat luas.

B. Telekomunikasi dan Informasi

(46)

negatif bagi kehidupan manusia, termasuk bagi pelaksanaan pembangunan

daerah. Dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan, telah banyak diaplikasikan hasil-hasil pengembangan ilmu pengetahuan

dan teknologi, disertai dengan adanya berbagai penelitian dan pengembangan untuk mengatasi berbagai permasalahan strategis daerah secara terarah dan berkelanjutan.

Kemajuan teknologi bidang telekomunikasi terutama sarana dan prasarana telepon sampai saat ini telah menjangkau seluruh wilayah

kecamatan. Dengan melalui sarana telekomunikasi tersebut, baik untuk keperluan bisnis maupun sosial diharapkan dapat mendukung kelancaran arus informasi dan komunikasi daerah serta media elektronik, guna

memberikan informasi yang cepat, tepat, dan akurat kepada masyarakat tentang keberhasilan pelaksanaan pembangunan dan

permasalahan-permasalahan yang dihadapi dalam pelaksanaan pembangunan di Kabupaten Probolinggo.

Perkembangan sektor telekomunikasi secara umum mengalami

kenaikan. Jumlah pelanggan otomat mencapai 14.533 orang pada Tahun 2003. Namun, peningkatan ini diikuti oleh penurunan jumlah warung telekomunikasi (wartel) hingga 56,76 % di tahun yang sama. Hal ini terjadi

akibat meningkatnya jumlah pengguna telepon selular yang tarifnya jauh lebih murah dibandingkan dengan telepon rumah dan wartel.

(47)

penerangan untuk mewujudkan keterbukaan dan kebebasan yang

bertanggung jawab saat ini masih terus dikembangkan.

Permasalahan utama yang dihadapi dalam teknologi informasi

adalah (1) semakin derasnya pengaruh arus globalisasi; (2) masih sedikitnya masyarakat yang menggunakan jasa internet yang berdampak pada perubahan paradigma sistem dan mekanisme pemerintahan; (3)

kurang tanggap dan mampunya institusi dan aparatur dalam menyiapkan dan mengaplikasi berbagai hasil pengembangan ilmu pengetahuan dan

teknologi serta hasil-hasil penelitian dan pengembangan untuk meningkatkan kinerja pelayanan publik; (4) implementasi e-government

belum optimal, dan (5) belum adanya akses informasi sampai ke

desa/kecamatan dengan menggunakan LAN (Local Area Network).

C. Listrik, Air Bersih, dan Drainase

Listrik

Kebutuhan listrik dari tahun ke tahun terus meningkat sejalan dengan

berkembangnya perekonomian suatu wilayah dan meningkatnya taraf hidup masyarakat. Hal ini dapat dilihat dengan meningkatnya jumlah pelanggan

listrik sebesar 1,6 % di tahun 2004 dibandingkan tahun 2003. Dari keseluruhan pelanggan, pelanggan kategori rumah tangga mencapai 72,3

%.

(48)

Air Bersih

Berdasarkan data dari dinas pengairan, penyediaan air baku untuk pertanian pada tahun 2004 meningkat sebesar 1,8 % dibandingkan tahun

2002, sementara jumlah areal sawah fungsional yang diairi pada tahun 2004 meningkat sebesar 1,6 % dibandingkan tahun 2002. Selain itu penggunaan areal sawah dengan pengairan teknis cukup luas. Hal ini

membuka peluang pada petani untuk meningkatkan hasil produksi pertaniannya, mengingat pengairan teknis mampu digunakan lebih dari dua

kali dalam setahun.

Pemanfaatan air baku adalah pemanfaatan sumberdaya air oleh masyarakat untuk berbagai kepentingan dalam menunjang kegiatan

pembangunan. Dalam pemanfaatan kegiatan air baku harus memperhatikan keseimbangan daya dukung sumberdaya air sebab

keseimbangan daya dukung sumberdaya air sangat berkaitan dengan masalah kelestarian lingkungan hidup. Tata guna air, tata guna lahan serta kehutanan diselenggarakan secara terpadu sehingga menjamin kelestarian

fungsi sumberdaya alam dan lingkungan hidup. Perhatian khusus perlu diberikan kepada pengembangan dan konservasi sumberdaya air,

penyediaan dan pengelolaan air baku, pengembangan dan pengelolaan jaringan irigasi serta pengelolaan sumber air bawah tanah yang terkendali.

Potensi sumberdaya air yang terdapat di wilayah Kabupaten Probolinggo berasal dari sungai besar dan kecil, telaga/ranu, dan sumber-sumber mata air. Sumber-sumber-sumber air tersebut dapat digunakan untuk

(49)

mampu dipenuhi oleh PDAM hanya 50 %), irigasi persawahan dan tegalan,

pendinginan dalam proses industri perikanan.

Banyaknya sumber-sumber air yang tersebar di seluruh wilayah

Kabupaten Probolinggo memberikan gambaran bahwa pada kenyataannya masyarakat masih dapat memenuhi kebutuhan air bersih sendiri. Namun demikian semakin tinggi kepadatan penduduknya sumber-sumber air yang

ada akan semakin tidak memenuhi jumlah kebutuhan yang ada. Untuk mencukupi kebutuhan air bersih PDAM memanfaatkan semaksimal

mungkin bahan baku air dari sungai yang mempunyai debit terbesar.

Sebagaimana yang ditargetkan bahwa pelayanan air bersih sebesar 60 % dari seluruh jumlah penduduk di Kabupaten Probolinggo, namun

diperkirakan jumlah pemakai akan tidak sebesar angka tersebut. Permasalahan yang dihadapi adalah (1) kebutuhan air bersih masih belum

dirasakan oleh seluruh masyarakat, karena belum tersedianya pipa penghubung; (2) sulitnya medan untuk pipanisasi di pedesaan; dan (3) belum meningkatnya kesadaran sebagian besar masyarakat terutama di

pedesaan akan pentingnya air bersih terutama untuk kesehatan.

Untuk menjaga tersedianya air tanah yang cukup setiap bangunan yang ada dipersyaratkan untuk menyediakan peresapan air dari hujan.

Ruang-ruang terbuka dan pekarangan sebaiknya tidak diperkeras seluruhnya sehingga masih tetap ada lahan-lahan untuk peresapan air.

(50)

jumlah air yang tersedia. Pemanfaatan sumber air alam ini perlu dijaga

keseimbangannya dengan tetap menjaga daerah peresapan disekitar sumber air.

Drainase

Berdasarkan data Profil Kesehatan Kabupaten Probolinggo tahun

2004 terlihat bahwa kesadaran masyarakat terhadap pentingnya kesehatan lingkungan semakin meningkat. Hal tersebut tercermin dari meningkatnya

persentase penduduk pengguna jamban yaitu sebesar 29,36 % pada tahun 2001 meningkat menjadi 38,30 % pada tahun 2004. Begitu juga rumah yang memiliki Saluran Pembuang Air Limbah (SPAL) dari 14,83 % pada

tahun 2001 meningkat menjadi 26,24 % pada tahun 2004.

Permasalahan yang dihadapi berkaitan dengan drainase adalah (1)

belum seluruh warga masyarakat terutama yang tinggal dipedesaan memiliki jamban sendiri; (2) pembangungan jamban yang dilakukan oleh pemerintah tidak semuanya dipergunakan warga; (3) kurangnya sosialisasi

masalah kesehatan diri dan lingkungan kepada masyarakat berkaitan dengan kebersihan; dan (4) rendahnya tingkat pendidikan masyarakat desa.

2.1.6 Pemerintahan

Pembagian wilayah Kabupaten Probolinggo terdiri dari 24 Kecamatan, 325 Desa dan 5 Kelurahan, 1.380 Dusun, 1.593 Rukun Warga (RW) serta 5.863 Rukun Tetangga (RT). Di lihat dari komposisi jumlah

Referensi

Dokumen terkait

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah KABUPATEN PROBOLINGGO TAHUN 2013-2018.. i

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah KABUPATEN PROBOLINGGO TAHUN 2013-2018.. DAFTAR TABEL

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah KABUPATEN PROBOLINGGO TAHUN 2013-2018.. DAFTAR ISI

RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA PANJANG DAERAH (RPJP DAERAH) KABUPATEN PROBOLINGGO TAHUN 2005-2025.

- Menerapkan kebijakan atau regulasi pemerintah Kabupaten Probolinggo yang dapat meningkatkan akses dan partisipasi perempuan dalam memberdayakan ekonomi keluarga,

Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Kabupaten Probolinggo Tahun 2015. adalah sebagai

PEMERINTAH KABUPATEN PROBOLINGGO.

PEMERINTAH KABUPATEN PROBOLINGGO.