II-1
BAB II
EVALUASI HASIL PELAKSANAAN RKPD TAHUN LALU
Evaluasi pelaksanaan RKPD tahun lalu menguraikan tentang hasil evaluasi RKPD tahun lalu, selain itu juga memperhatikan dokumen RPJMD dan dokumen RKPD tahun berjalan sebagai bahan acuan. Sementara itu capaian kinerja penyelenggaraan pemerintahan menguraikan tentang kondisi geografi demografi, pencapaian kinerja penyelenggaraan pemerintahan, dan permasalahan pembangunan.
2.1 Gambaran Umum Kondisi Daerah
2.1.1.Aspek Geografis
Kabupaten Probolinggo merupakan salah satu kabupaten yang termasuk
wilayah Provinsi Jawa Timur, berada pada posisi 7°40’ s/d 8°10’ Lintang Selatan dan 111°50’ s/d 113°30’ Bujur Timur, dengan luas wilayah 1.696,16
km², termasuk didalamnya kawasan Pulau Giliketapang dengan luas wilayah 0,6 km².
Kabupaten Probolinggo terletak di lereng gunung-gunung yang membujur dari Barat ke Timur, yakni Pegunungan Tengger, Gunung Lamongan dan Gunung Argopuro. Wilayah kabupaten Probolinggo terletak pada ketinggian 0 - 2500 m diatas permukaan laut, tanahnya berupa tanah vulkanis yang banyak mengandung mineral yang berasal dari ledakan gunung berapi berupa pasir dan batu, lumpur bercampur dengan tanah liat yang berwarna kelabu kekuning-kuningan. Pada ketinggian 750 - 2500 m diatas permukaan laut, cocok untuk jenis tanaman sayur-sayuran dan pada ketinggian 150 - 750 m diatas permukaan laut, yang membujur dari Barat ke Timur di bagian Selatan yang berada di kaki gunung Argopuro, sangat cocok untuk tanaman kopi, buah-buahan seperti, durian, alpukat dan buah lainnya, contoh di kecamatan Tiris dan Kecamatan Krucil.
2.1.1.1. Luas Wilayah dan Letak Geografis Daerah
Luas wilayah kabupaten probolinggo lebih kurang 1.696,16 km², terdiri atas :
II-2
Sementara Luas wilayah kabupaten probolinggo ditinjau dari luas 24 kecamatan dapat dilihat pada tabel 2.1.sebagai berikut :
Tabel 2.1
Luas Wilayah Kabupaten Probolinggo Per Kecamatan
No. Kecamatan Luas (Ha) Prosentase (%)
Sumber :Kabupaten Probolinggo Dalam Angka, 2012
Letak geografis daerah berbatasan dengan : - Utara : Selat Madura
- Timur : Kabupaten Situbondo - Barat : Kabupaten Pasuruan
II-3
Sedangkan di sebelah Utara bagian tengah terdapat Daerah Otonom yaitu Kota Probolinggo.
2.1.1.2. Topografi
Secara topografis, Kabupaten Probolinggo mempunyai ciri fisik yang menggambarkan kondisi geografis, yaitu terdiri dari dataran rendah pada bagian utara, lereng-lereng gunung pada bagian tengah dan dataran tinggi pada bagian selatan, dengan tingkat kesuburan dan pola penggunaan tanah yang berbeda.
Sedangkan bentuk permukaan daratan di Kabupaten Probolinggo di klasifikasikan atas 3 (tiga) jenis, yaitu :
a) Dataran rendah dan tanah pesisir dengan ketinggian 0 – 100 m diatas permukaan laut. Daerah ini membentang di sepanjang pantai utara mulai dari Barat ke Timur kemudian membujur ke Selatan
b) Daerah perbukitan dengan ketinggian 100 – 1.000 m diatas permukaan laut. Daerah ini terletak di wilayah bagian Tengah sepanjang Pegunungan Tengger serta pada bagian selatan sisi Timur sekitar Gunung Lamongan c) Daerah pegunungan dengan ketinggian diatas 1.000 m dari permukaan
laut. Daerah ini terletak di sebelah Barat Daya yaitu sekitar Pegunungan Tengger dan sebelah Tenggara yaitu di sekitar Gunung Argopuro.
2.1.1.3. Hidrologi
Terdapat 25 sungai yang mengalir dan mengairi wilayah Kabupaten Probolinggo. Sungai terpanjang adalah Rondoningo dengan panjang 95,2 km, sedangkan sungai terpendek adalah Afour Bujel dengan panjang hanya 2 km saja.
Sungai-sungai yang mengalir di wilayah Kabupaten Probolinggo tersebut sangat dipengaruhi oleh iklim yang berlangsung tiap tahun.Pada saat musim kemarau, sebagian besar sungai yang mengalir mengalami kekeringan kecuali sungai-sungai besar (yaitu sungai-sungai utama) yang masih tergenang terus sepanjang tahun.
Tabel 2.2
Sungai di Kabupaten Probolinggo
No. Nama Sungai Panjang Lebar Debit Air
II-4
No. Nama Sungai Panjang Lebar Debit Air
Baku Lahan (Km) (M) (Minimum) (Ha) 4 K. Kandang Jati 8,00 8,00 ± 100 507.00 5 K. Besuk 13,20 8,00 ± 100-200 173.00 6 K. Jabung 20,50 8,00 ± 300 465.00 7 K. Pancarlagas 85,70 50,00 ± 200 3.30
8 K. Legundi 12,50 6,00 - -
9 K. Paiton 18,00 20,00 ± 100 454.00 10 K. Kresek 24,50 25,00 ± 100 786.00 11 K. Taman 24,10 12,00 ± 5-10 240.00 12 K. Curah Manjangan 5,00 9,00 ± 50 34.00 13 K. Klumprit 12,50 12,00 ± 50 53.00
14 K.
Lumbang/Bayeman 17,50 13,00 ± 75 125.00
15 K. Blibis 20,00 15,00 - -
16 K. Blabo 10,00 10,00 ± 50 213.00 17 K. Besi 15,50 15,00 ± 5-10 183.00 18 K. Patalan 22,50 18,00 ± 50 72.00 19 K. Kedung Galeng 38,00 35,00 ± 100 564.00 20 K. Banyubiru 11,00 18,00 ± 300 697.00 21 K. Gending 20,00 20,00 ± 300 - 22 K. Klaseman 11,00 15,00 ± 100-200 - 23 K. Pekalen 35,10 35,00 ± 3.300 6.98
24 Afour Bujel 2,00 5,00 - -
25 K. Lawean 16,70 25,00 ± 200 369.00 Sumber : Dinas PU Pengairan Kabupaten Probolinggo
Selain sungai di Kabupaten Probolinggo juga terdapat danau/ranu yaitu Ranu Segaran, Ranu Agung, Ranu Segaran Duwas dan Ranu Gedong yang belum didayagunakan sebagaimana mestinya. Lokasi semua danau tersebut berada di Kecamatan Tiris, sedang lokasi desanya dapat dilihat pada Tabel. 2.3., berikut :
Tabel. 2.3
Danau atau Ranu di Kabupaten Probolinggo
No Nama Danau Luas
(Ha) Lokasi
1. Ranu Segaran* 30.000 Desa Segaran, Kecamatan Tiris
2. Ranu Agung*
Segaran Agung 20.813 Desa Ranuagung, Kecamatan Tiris 3. Ranu Segaran Duwas* 23.000 Desa Tlogoargo, Kecamatan Tiris 4. Ranu Merah* 18.000 Desa Andungsari
II-5
Selain itu tercatat pula sumur yang umumnya berupa sumur gali dan beberapa sumur bor. Kedalaman dari sumur-sumur gali berkisar 3 - 30 m. Kedalaman ini berarti air tanah dangkal sampai sedang dan sangat dipengaruhi oleh keadaan iklim, sedangkan kedalaman sumur bor yang merupakan air tanah dalam berkisar 40-200 m.
Sumur bor yang sudah ada mempunyai debit yang cukup besar, sebagian untuk kebutuhan air minum dan sebagian besar lainnya diperuntukkan irigasi, hal ini mengingat pada saat musim kemarau sebagian besar daerah mengalami kekeringan.
Ditinjau dari sisi kedalaman air tanah, 62,56 % dari luas wilayah Kabupaten Probolinggo memiliki kedalaman > 90 m; seluas 11,17 % kedalaman air tanahnya antara 60 – 90 m; dan selebihnya 26,27 % mempunyai kedalaman air tanah < 60 m.
2.1.1.3. Klimatologi
Seperti juga daerah tropis lainnya, iklim yang ada berupa iklim tropis dengan 2 musim, yaitu musim penghujan dan musim kemarau.Pada umumnya musim kemarau jatuh pada bulan April hingga bulan Oktober, sedangkan musim hujan terjadi antara bulan Oktober hingga bulan April.
Curah hujan yang cukup tinggi terjadi pada bulan Desember sampai dengan Maret. Curah hujan selama tahun 2011 berkisar antara 1.100–1.700 mm untuk dataran rendah, dan berkisar 1.700–5.700 mm untuk dataran tinggi dengan rata-rata intensitas hujan sebesar 24,211 mm/hari. Jumlah curah hujan rata-rata dalam setahun di Kabupaten Probolinggo sebesar 1.713 mm/tahun dengan hari hujan rata 75.41 hari. Suhu udara beragam rata-rata antara 27C hingga 32C pada bagian Utara, sedangkan di wilayah pegunungan Argopuro dan Tengger, yaitu di Kecamatan Tiris, Krucil, Sumber dan Sukapura suhu udaranya berkisar antara 5C hingga 15C.
2.1.1.4. Jenis Tanah
Jenis tanah penting untuk diketahui terutama usaha pengembangan budidaya pertanian.Dilihat dari tekstur tanahnya, maka jenis tanah yang mendominasi adalah tanah latosol yang berasal dari tanaman perkebunan, sawah dan hutan tropika.Jenis tanah lainnya adalah alluvial, regosol, andosol, mediteran dan gromossol.
2.1.1.5. Luas dan Sebaran Kawasan Budidaya
II-6
budidaya meliputi kawasan perkotaan dan kawasan pedesaan, dengan berbagai jenis peruntukan dapat dilihat pada tabel 2.4.
Tabel 2.4
Luas Peruntukan Kawasan Budidaya (Ha)
No Peruntukan Luas Prosen
1. Hutan 55.796,68 32,89
2. Tegal 52.801,95 31,13
3. Sawah 38.509,00 22,70
4. Perkampungan/Permukiman 12.904,04 7,60 5. Perkebunan Swasta/Rakyat 2.009,30 1,18 6. Tanah Rusak/Padang Rumput 2.413,96 1,42
7. Tambak 1.320,06 0,77
8. Kebun Campur 1.186,57 0,69
9. Industri 866,56 0,51
10. Hutan Rakyat 625,32 0,37
11. Danau/Rawa 138,00 0,08
12. Lain-lain 1.045,36 0,66
Jumlah 169.616,80 100
Sumber :Badan Pertanahan Nasional Kabupaten Probolinggo
Dari tabel 2.4 terlihat bahwa peruntukan lahan di Kabupaten Probolinggo didominasi oleh hutan (32,89 %), tegalan (31,13 %), serta persawahan (22,70 %). Sedangkan lahan permukiman yang merupakan kawasan terbangunnya hanya meliputi 7,60 % dari seluruh luas lahan.
Berdasarkan Rencana Tata Ruang Wilyah Kabupaten Probolinggo Tahun 2010-2019, rencana peruntukan kawasan budidaya yang ditetapkan dapat dilihat pada tabel 2.5
Tabel 2.5
Luas Kawasan Budidaya (Ha)
No Kawasan Budidaya Luas Kawasan Prosen 1. Kawasan Hutan Produksi 28.829,10 17,00 2. Kawasan Pertanian & Peternakan 40.081,07 23,63 3. Kawasan Perkebunan 38.649,00 22,79 4. Kawasan Perikanan 3.227,00 1,90 5. Kawasan Pariwisata 1.700,00 1,00 6. Kawasan Permukiman 18.248,00 10,76 7. Kawasan Perindustrian 3.272,00 1,93 8. Kawasan Pertambangan 10,00 0,01
9. Kawasan Khusus 1.550,00 0,91
II-7 2.1.1.6. Kawasan Lindung
Yang dimaksud dengan kawasan lindung adalah kawasan yang ditetapkan dengan fungsi utama melindungi kelestarian lingkungan hidup yang mencakup sumber alam, sumber daya buatan dan nilai sejarah serta budaya bangsa guna kepentingan pembangunan berkelanjutan.
Salah satu kawasan lindung yang perlu terus menerus dimantapkan adalah kawasan suaka alam. Kawasan ini di Kabupaten Probolinggo telah ditetapkan sesuai dengan arahan RTRW Propinsi Jawa Timur. Pada dasarnya pemantapan kawasan ini bertujuan untuk melestarikan lingkungan dan melindungi biota, ekosistem, ilmu pengetahuan dan pembangunan pada umumnya. Perlindungan kawasan suaka alam terdiri dari cagar alam, suaka margasatwa, hutan wisata, daerah perlindungan plasma nutfah dan daerah pengungsian satwa. Kawasan suaka alam selain untuk mempertahankan kelestarian alam itu sendiri, juga berperan dalam pengembangan dunia ilmu pengetahuan dan kegiatan wisata. Pemanfaatan untuk pengembangan ilmu pengetahuan dan kegiatan wisata tetap harus berdasarkan pada konsepsi menjaga kawasan suaka alam itu sendiri, termasuk dalam kawasan suaka alam Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Jenis kawasan lindung di Kabupaten Probolinggo yang akan dikembangkan dalam 5 tahun kedepan antara lain kawasan suaka alam, hutan lindung, sempadan sungai, dan sempadan pantai. Luas rencana kawasan lindung di Kabupaten Probolinggo sampai dengan tahun 2013 dapat dilihat pada tabel 2.6.
Tabel 2.6 Kawasan Lindung
No Jenis Kawasan Lindung Luas Kawasan Prosen 1. Kawasan Suaka Alam 5.859,50 16,25 2. Hutan Lindung 25.998,53 72,08 3. Sempadan Sungai 3.585,00 9,94
4. Sempadan Pantai 625,00 1,73
Jumlah 36.068,03 100
Sumber :RTRW Kabupaten Probolinggo
2.1.1.7. Kawasan Rawan Bencana
II-8
atau mempunyai potensi bencana alam, seperti letusan gunung berapi, Angin Gending, banjir dan kebakaran yang disebabkan oleh alam. Beberapa wilayah rawan bencana di Kabupaten Probolinggo dapat diidentifikasi diantaranya, sebagai berikut:
a
a.. LLeettuussaannGGuunnuunnggBBeerraappii
Gunung Bromo merupakan gunung berapi yang masih aktif mempunyai potensi disamping sebagai obyek wisata, juga dapat menimbulkan bencana letusan gunung berapi.Wilayah-wilayah yang masih berada dalam jangkauan letusan gunung berapi seperti Kecamatan Sukapura dan Kecamatan Sumber perlu mewaspadai aktifitas yang terjadi di kawah Gunung Bromo.
Kabupaten Probolinggo memiliki 2 buah gunung berapi yang berpotensi menimbulkan bencana yaitu Gunung Bromo dan Gunung Lamongan. Gunung Bromo merupakan gunung api yang sering meletus lemah, berupa letusan freatik atau magmatik tipe Stromboli. Material yang diletuskan berupa batu (pijar) dan hembusan gas beracun hanya terbatas disekeliling kawah atau dasar kaldera Lautan Pasir. Ancaman hujan abu lebat tidak lebih dari jarak 6 Km dari kawah Gunung Bromo.
b
b.. GGeerraakkaannTTaannaahh((LLoonnggssoorr))
Kawasan rawan bencana di Kabupaten Probolinggo berupa tanah longsor yang terdapat di berbagai kecamatan.Wilayah yang peka terhadap bahaya ini adalah wilayah yang memiliki tingkat erosi tinggi, kawasan pantai dan tanah-tanah gundul di kawasan hutan lindung, serta kawasan yang mempunyai kelerengan tanah lebih dari 40 %. Berdasarkan Studi identifikasi kawasan rawan bencana Kab. Probolinggo tahun 2007, kawasan dengan tipologi gerakan tanah tertinggi adalah Kecamatan Gading, Krucil, Lumbang, Pakuniran, Sukapura, Sumber, Kota Anyar dan Tiris.
c
c.. BBaannjjiirr
II-9
d
d.. DDaaeerraahhRRaawwaannAAbbrraassii PPaannttaaii
Kabupaten Probolinggo memiliki panjang kawasan pesisir sekitar 71,893 Km dan seperti kabupaten lain di Indonesia juga memiliki masalah
dengan ekosistem pantainya terutama dengan masalah abrasi pantai.
Ada banyak faktor yang mengakibatkan sebuah pantai mengalami abrasi, dari sekian faktor yang mempengaruhi ada satu faktor yang sangat domininan yaitu ketahanan pantai itu sendiri dalam menghadapi gelombang air laut. Ketahanan pantai akan tercipta dengan sendirinya jika ekosistem di kawasan tersebut masih terjaga, salah satu ekosistem pantai yang berperan penting dalam menciptakan ketahan pantai adalah keberadaaan dari hutan mangrove atau rawa di wilayah pantai tersebut.
Dari beberapa hal di atas maka, deliniasi kawasan rawan abrasi pantai dicari dengan menganalisa kawasan pantai yang tidak mempunyai vegetasi rawa atau mangrove di pesisirnya. Dari hasil analisa spasial pada peta tata guna lahan didapat distribusi kawasan rawan abrasi pantai meliputi Kecamatan-kecamatan Tongas, Sumberasih, Dringu, Kraksaan, Gending, Pajarakan dan Paiton.
Tabel 2.7
Luas Daerah Berdasarkan Kemiringan Tanah
No. Kemiringan Luas Kawasan (Ha) Prosen
1 0 - 2 % 48.070,55 28,34
2 2 – 15 % 41.721,36 24,59
3 15 – 40 % 20.968,52 12,36
4 > 40 % 58.856,22 34,69
Jumlah 169.616,65 100
Sumber : Kabupaten Probolinggo Dalam Angka Tahun 2012 (Diolah)
Dari tabel 2.7 terlihat bahwa daerah yang memiliki tingkat kemiringan tanah lebih dari 40 % cukup tinggi, yaitu seluas 58.856,22 Ha (34,69 %) dari seluruh luas daerah Kabupaten Probolinggo. Diantara luas daerah yang memiliki kemiringan tanah > 40 % tersebut, yang terluas adalah di Kecamatan Sumber yaitu seluas 11.979,66 Ha (20,35 %) dan Kecamatan Krucil seluas 11.889,96 Ha (20,20 %).
2.1.1.8. Potensi pengembangan wilayah
II-10
a. Prioritas I : Pengembangan Kawasan Strategis Agropolitan, Ekowisata, Industri guna mendukung pengembangan wilayah barat.
Wilayah Kabupaten Probolinggo bagian barat mempunyai potensi yang besar karena terdapat beberapa kawasan strategis Kabupaten Probolinggo antara lain:
Kawasan agropolitan bagian barat yang terdiri dari Kecamatan Tongas, Lumbang, Sukapura, Sumber.
Jalur Pariwisata Nasional-Internasional Tanaman Nasional Bromo Tengger Semeru,
Pengembangan kawasan industri di Kecamatan Tongas.
Sesuai dengan tujuan, kebijakan dan strategi pengembangan perwujudan ruang Kabupaten Probolinggo, maka kawasan strategis yang terletak di Kabupaten Probolinggo bagian barat merupakan prioritas I pengembangan. Pengembangan kawasan strategis bagian barat ini diarah pada pengembangan kawasan agropolitan, ekowisata dan industri.
b. Prioritas II : Pengembangan Kawasan Strategis pada Sistem Perkotaan Pendukung
Sistem perkotaan pendukung merupakan kawasan Perkotaan Kraksaan dan kawasan pusat-pusat pelayanan. Pengembangan kawasan ini meruakan prioritas pengembangan karena kawasan system perkotaan pendukung ini fungsinya sebagai sentra-sentra pengembangan, simpul distribusi pelayanan dan simpul penarik keterkaitan antar antar wilayah. Pengembangan kawasan ini diarahkan sesuai dengan fungsi dan perannya seperti telah dirumuskan rencana struktur ruang Kabupaten Probolinggo. c. Prioritas III: Pengembangan Kawasan Strategis Agropolitan, Ekowisata,
Industri guna mendukung pengembangan wilayah timur.
Wilayah Kabupaten Probolinggo bagian timur mempunyai potensi pengembangan kawasan strategis Kabupaten Probolinggo antara lain:
Kawasan agropolitan bagian timur yang terdiri dari Kecamatan Tiris, Krucil, Gading.
Kawasan wisata Pegunungan Argopuro/Dataran Tinggi Hyang, arung jeram Sungai Pekalen,
Pengembangan kawasan industri di Kecamatan Paiton.
II-11
pengembangan kawasan strategis bagian timur ini diarah pada pengembangan kawasan agropolitan, ecowisata dan industri.
d. Prioritas IV: Pengembangan Kawasan Strategis Minapolitan
Selain potensi pertanian, industri dan pariwisata, Kabupaten Probolinggo mempunyai potensi yang besar di sektor perikanan. Potensi perikanan meliputi perikanan laut disekitar laut Pantai Utara dan perikanan darat berupa budidaya tambak. potensi perikanan tersebut juga telah didukung oleh sentra-sentra pengolahan. Tetapi potensi perikanan kurang diperhatikan terutama untuk perikanan laut. Sehingga kawasan perikanan laut dan kawasan tambak disekitar Pantai Utara banyak yang mengalami alih fungsi ke industri, permukiman dan perdagangan. Sehingga pengembangan kawasan strategis minapolitan berupa pengembangan sentra-sentra perikanan sangat diperlukan dan menjadi prioritas pengembangan. Pengembangan kawasan strategis minapolitan meliputi:
Pengembangan kawasan tambak disekitar Kecamatan Tongas, Sumberasih, Dringu, Gending, Pajarakan, Kraksaan dan Paiton.
Pengembangan kawasan budidaya laut tersebar di Kecamatan Tongas, Sumberasih, Dringu, Gending, Pajarakan, Kraksaan dan Paiton.
2.1.2 Aspek Demografi
Menurut hasil registrasi penduduk, jumlah penduduk Kabupaten Probolinggo Tahun 2011 tercatat 1.185.711 Jiwa, yang tersebar di 24 kecamatan. Dengan rincian jumlah Laki-laki sebanyak 583.209 Jiwa dan Perempuan 602.502 Jiwa. Kecamatan yang memiliki jumlah penduduk terbanyak yaitu Kecamatan Tiris sebanyak 76.719 jiwa, sedangkan kecamatan yang memiliki jumlah penduduk paling sedikit adalah Kecamatan Sukapura yaitu sebanyak 21.176 jiwa sebagaimana ditunjukkan dalam Tabel 2.8.dibawah ini :
Tabel. 2.8
Jumlah Penduduk per Kecamatan di Kabupaten Probolinggo berdasarkan hasil registrasi Tahun 2011
II-12
Krucil 28.766 28.408 57.174 Gading 27.938 28.524 56.462 Pakuniran 22.523 23.294 45.817 Kotaanyar 18.447 19.414 37.861 Paiton 34.864 34.995 69.859 Besuk 24.684 26.336 51.020 Kraksaan 33.896 34.730 68.626 Krejengan 20.126 20.899 41.025 Pajarakan 17.257 17.763 35.020 Maron 32.461 33.731 66.192 Gending 21.018 21.713 42.731 Dringu 27.076 27.091 54.167 Wonomerto 21.323 22.407 43.730 Lumbang 15.764 16.630 32.394 Tongas 32.420 34.029 66.449 Sumberasih 30.401 31.218 61.619 JUMLAH 583.209 602.502 1.185.711
Sumber : Kabupaten Probolinggo dalam Angka, 2012
2.1.3. Aspek Sumber Daya Manusia
Kondisi sumber daya manusia di Kabupaten Probolinggo bisa dilihat dari Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dan sebaran Rumah Tangga Miskin (RTM) di Kabupaten Probolinggo. Mengenai IPM di Kabupaten Probolinggo dapat dilihat pada tabel berikut
Tabel 2.9
Besarnya Nilai IPM dan Komponennya
Indeks 2010 2011 2012**
IPM 62.99 63.84 64,06
Indeks Harapan Hidup (Tahun) 60,22 60.70 60,87 Indeks Pendidikan (Persen) 64.98 66.52 66,84 IndekPengeluaran Per Kapita
(Persen) 63.79 64.29 64,48
II-13
Sedangkan mengenai sebaran rumah tangga miskin di Kabupaten Probolinggo dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 2.10
Informasi Status Kesejahteraan Rumah Tangga dan Individu di Kabupaten Probolinggo
Sumber: Basis Data Terpadu untuk Program Perlindungan Sosial. Maret 2012
KECAMATAN
Jumlah Rumah Tangga
JUMLAH
Kelompok 1 Kelompok
2 Kelompok 3
Sumber: Basis Data Terpadu untuk Program Perlindungan Sosial. Maret 2012
2.1.4 Aspek Kesejahteraan Masyarakat
Dalam sub bab ini akan dijelaskan mengenai capaian kinerja penyelenggaraan pemerintahan Kabupaten Probolinggo 4 tahun terakhir ditinjau dari aspek kesejahteraan masyarakat, terdiri dari kondisi makro ekonomi daerah dan kesejahteraan sosial.
A. PDRB
II-14
sementara) sebesar Rp. 18,849.11 Milyar. Kenaikan PDRB ini mengindikasikan bahwa kegiatan ekonomi Kabupaten Probolinggo secara makro khususnya produksi barang dan jasa mengalami peningkatan.Pencapaian PDRB Kabupaten Probolinggo dapat dikatakan cukup berhasil seiring dengan usaha penguatan ekonomi rakyat melalui pembinaan terhadap usaha kecil/wirausaha baru dan penguatan ekonomi melalui sektor yang lain.
B. Pertumbuhan Ekonomi
Secara umum laju pertumbuhan ekonomi Kabupaten Probolinggo dalam tiga tahun terakhir menunjukkan peningkatan, artinya kondisi perekonomian di Kabupaten Probolinggo tetap dapat memberikan pertumbuhan yang positif. Mulai tahun 2008 sampai dengan 2012 tingkat pertumbuhan ekonomi mengalami kenaikan, yakni 4,74% tahun 2008, naik menjadi sebesar 5,72% tahun 2009. Sedangkan pada tahun 2010 terjadi kenaikan yang cukup signifikan mencapai 6,19%. Adapun pertumbuhan ekonomi Kabupaten Probolinggo tahun 2011 sebesar 6,23% dan pada tahun 2012 (angka sementara) sebesar 6,47 %. Kondisi ini tentunya cukup menggembirakan dan menandakan bahwa perkembangan perekonomian di wilayah Kabupaten Probolinggo sudah mulai kembali pada jalur yang sesuai dengan harapan. Namun demikian masih diperlukan upaya-upaya yang lebih baik di dalam upaya percepatan pertumbuhan ekonomi di wilayah Kabupaten Probolinggo.
II-15 Gambar 2.1
5.78 5.72
6.19 6.23 6.47 9.2
5.48
6.3
5.93
5.62
0 2 4 6 8 10
2008 2009 2010 2011 2012**
Pertumbuhan Ekonomi dan Inflasi
Kab.Probolinggo (%)
Pertumbuhan Ekonomi
Inflasi
Sumber data: BPS Provinsi Jawa Timur ** Angka Sementara
C. PDRB Per Kapita
Salah satu indikator ekonomi yang cukup penting penting untuk mengetahui pertumbuhan pendapatan daerah dalam hubungannya dengan kemajuan sektor ekonomi adalah PDRB per kapita yang biasanya dipakai sebagai indikator perkembangan kesejahteraan rakyat. Pada umumnya PDRB per kapita disajikan berdasarkan Atas Dasar Harga Berlaku, karena PDRB Perkapita selain dipengaruhi faktor produksi juga dipengaruhi oleh harga barang/jasa. Namun demikian gambaran tersebut tidak dapat langsung dijadikan sebagai ukuran peningkatan ekonomi maupun penyebaran di setiap strata ekonomi karena pengaruh inflasi sangat dominan baik dalam pembentukan PDRB maupun pendapatan regional.
II-16 D. Laju Inflasi
Kabupaten Probolinggo cukup berhasil dalam menekan laju inflasi. Pada tahun 2008 angka Inflasi sebesar 9,20%, Tahun 2009 menurun menjadi 5,48%, Tahun 2010 kembali meningkat sebesar 6,30% antara lain diakibatkan oleh kondisi iklim ekstrim dan tidak menentu atau anomali cuaca, kenaikan harga bahan makanan yang disebabkan banyaknya kegagalan panen menyebabkan penurunan kualitas dan kuantitas serta kenaikan tarif dasar listrik (TDL) pada awal tahun 2010. Sedangkan pada tahun 2011 inflasi tercatat sebesar 5,93% dan pada tahun 2012 (angka sementara) 5,62 %.
Tabel 2.11
Inflasi PDRB Kabupaten Probolinggo 2008 – 2012 (%)
Indeks 2008 2009 2010 2011 2012** PERTANIAN 10,24 6,74 6,43 8,28 8,47 PERTAMBANGAN DAN PENGGALIAN 4,55 3,45 3,47 5,17 4,13 INDUSTRI PENGOLAHAN 9,43 6,34 8,41 6,52 6,49 LISTRIK, GAS DAN AIR BERSIH 2,11 1,06 2,54 1,11 1,17 BANGUNAN 10,80 5,14 7,61 7,50 2,80 PERDAG, HOTEL, RESTORAN 8,30 4,05 5,11 3,44 2,79 PENGANGKUTAN DAN KOMUNIKASI 1,77 2,96 2,91 1,24 1,66 KEU. PERSEWAAN DAN JASA PERUSH 8,48 4,25 5,05 4,66 4,88 JASA-JASA 10,27 6,20 4,97 5,32 5,38 INFLASI KAB. PROBOLINGGO 9,02 5,48 6,30 5,93 5,62
Sumber data: BPS Provinsi Jawa Timur * Angka Sementara
E. Kemiskinan
Kemiskinan adalah keadaan dimana terjadi ketidakmampuan untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti makanan, pakaian, tempat berlindung, pendidikan, dan kesehatan. Kemiskinan dapat disebabkan oleh kelangkaan alat pemenuh kebutuhan dasar, ataupun sulitnya akses terhadap pendidikan dan pekerjaan. Kemiskinan merupakan masalah global. Sebagian orang memahami istilah ini secara subyektif dan komparatif, sementara yang lainnya melihatnya dari segi moral dan evaluatif, dan yang lainnya lagi memahaminya dari sudut ilmiah yang telah mapan. Data kemiskinan yang baik dapat digunakan untuk:
1. Mengevaluasi kebijakan pemerintah terhadap kemiskinan; 2. Membandingkan kemiskinan antar waktu, antar daerah;
II-17
Angka Kemiskinan di Kabupaten Probolinggo secara resmi menggunakan data Informasi Status Kesejahteraan Rumah Tangga dan Individu yang merupakan hasil Pendataan Program Perlindungan Sosial (PPLS) Tahun 2011 oleh BPS Kabupaten Probolinggo. Angka RT Kelompok 1 (Rumah Tangga/Individu dengan kondisi kesejahteraan sampai dengan 10% terendah di Indonesia) sejumlah 68.484 KK, RT Kelompok 2 (Rumah Tangga/Individu dengan kondisi kesejahteraan sampai dengan 11% - 20% terendah di Indonesia) sejumlah 53.482 KK dan RT Kelompok 3 (Rumah Tangga/Individu dengan kondisi kesejahteraan sampai dengan 21% - 30% terendah di Indonesia) sejumlah 53.481 KK, sehingga jumlah RTS di Kabupaten Probolinggo adalah 175.447 KK. Dokumen Strategi Penanggulangan Kemiskinan Daerah Kabupaten Probolinggo Tahun 2010 yang disusun oleh Bappeda Kabupaten probolinggo merekomendasikan hal-hal sebagai berikut:
Tahap pertama (2010-2012) diprioritaskan pada sektor yang mampu menjadi landasan dalam memerangi kemiskinan, peningkatan kesempatan kerja, pengembangan layanan dan kualitas pendidikan, pemenuhan kebutuhan dasar dan kualitas kesehatan.
Tahap kedua (2012-2014) diprioritaskan pada kegiatan peningkatan kualitas kesehatan masyarakat, peningkatan investasi, peningkatan kesempatan kerja, pemberdayaan masyarakat pada arus mikro, pengembangan layanan dan kualitas pendidikan, serta percepatan pengembangan wilayah.
Tahap ketiga (2014-2015) dititikberatkan pada kegiatan yang bersifat monitoring dan evaluasi pelaksanaan kegiatan tahun-tahun sebelumnya
.
Tabel 2.12
Tabel Prosentase Penduduk Miskin Kabupaten Probolinggo
Hasil Sensus Tahun 2009 – 2011
No. Uraian 2009 2010 2011 2012 1 Jumlah Penduduk
Miskin (000)
280.10
276.60 259.23 245.88 2 Jumlah Penduduk
Miskin (%)
27.69
25.22 23,48 22,17 3 Garis Kemiskinan
(Rp/Kap/Bln) 225,151.00
255,757.00 306,762.00
II-18 Tabel 2.13
TPT Kabupaten Probolinggo
No. Uraian 2009 2010 2011 2012 **
1 Pengangguran 15,686 12,190 18,218 12,356
2 Angka Kerja 604,247 603,228 569,592 623,537
3 TPT 2,60 2,02 3,20 1,98
Data : BPS Jatim ** Angka Sementara
F. Angka Kriminalitas
Keamanan, ketertiban dan penanggulangan kriminalitas merupakan salah satu prioritas dalam mewujudkan stabilitas penyelenggaraan pemerintahan terutama di daerah. Pemerintahan daerah dapat terselenggara dengan baik apabila pemerintah dapat memberikan rasa aman kepada masyarakat, menjaga ketertiban dalam pergaulan masyarakat, serta menanggulangi kriminalitas sehingga kuantitas dan kualitas kriminalitas dapat diminimalisir.
Angka kriminalitas yang tertangani adalah penanganan kriminal oleh aparat penegak hukum (kepolisian). Data mengenai perkembangan angka kriminalitas pada tahun 2007-2011 dapat dilihat pada tabel 2.14. sebagai berikut :
Tabel 2.14
Jumlah Angka Kriminalitas di Kabupaten Probolinggo Tahun 2007 - 2011
NO Uraian Satuan 2007 2008 2009 2010 2011
1 Perjudian Kasus 212 118 93 121 80
2 Pembunuhan Kasus 9 3 4 9 5
3 Penipuan Kasus 81 42 45 44 75
4 Narkoba Kasus 19 11 31 39 36
5 Pencurian biasa Kasus 49 47 44 32 53
6 Penadahan Kasus 9 4 9 13 15
7 Penculikan Kasus - 1 - 0 0
8 Ganda Uang Kasus - - - 0 1
9 Aniaya Biasa Kasus - - 5 79 70
10 Pemerasan Kasus 4 12 6 42 42
11 KDRT Kasus - - 15 13 30
12 C a b u l Kasus 5 13 1 7 6
13 Perkosaan Kasus 22 8 8 10 5
14 Perampasan Kasus 16 5 5 4 6
Jumlah Kasus 426 264 266 413 424
Sumber : Polres Probolinggo tahun 2012
II-19
terakhir ditinjau dari aspek kesejahteraan masyarakat lainnya secara rinci dapat diliihat pada tabel 2.15 berikut ini:
Tabel 2.15
Matrik Gambaran Umum Kondisi Daerah
terhadap Capaian Kinerja Penyelenggaraan Urusan Pemerintahan Kabupaten Probolinggo tahun 2008 – 2012
Aspek Kesejahteraan Masyarakat
No
Aspek/Fokus/Bidang Urusan/ Indikator Kinerja Pembangunan
Daerah
Capaian kinerja SKPD Penanggung Jawab 2008 2009 2010 2011 2012
ASPEK KESEJAHTERAAN MASYARAKAT Fokus Kesejahteraan dan Pemerataan Ekonomi
1 Otonomi Daerah, Pemerintahan Umum, Administrasi keuangan daerah, Perangkat Daerah, Kepegawaian dan Persandian
1.3 PDRB per kapita 9.966.153 11.022.14 0
1.2 Angka rata-rata lama sekolah
(SD s/d SMA) 13,16 12,97 12,78 12,17 12,09 Dinas Pendidikan 1.3 Angka partisipasi kasar
1.3.1 Angka Partisipasi Kasar (APK)
SD/MI/Paket A 119.26 119.96 119.50 119.74 120,28 Dinas Pendidikan
1.3.2 Angka Partisipasi Kasar (APK)
SMP/MTs/Paket B 92.86 93.11 93.05 93.23 93,66 Dinas Pendidikan
1.3.3 Angka Partisipasi Kasar (APK)
SMA/SMK/MA/Paket C 59,53 59,87 60.21 60.56 60,9 Dinas Pendidikan
1.4 Angka pendidikan yang
ditamatkan - - - Dinas Pendidikan
1.5 Angka Partisipasi Murni
1.5.1 Angka Partisipasi Murni (APM)
SD/MI/Paket A 98.87 99.13 98.86 99.06 99,67 Dinas Pendidikan
1.5.2 Angka Partisipasi Murni (APM)
SMP/MTs/Paket B 71.87 70.38 72.03 72.17 72,54 Dinas Pendidikan
1.5.3 Angka Partisipasi Murni (APM))
SMA/SMK/MA/Paket C 38.68 33.37 38.90 39.12 39,57 Dinas Pendidikan
2 Kesehatan
2.1 Angka kelangsungan hidup bayi
II-20
2.3 Persentase balita gizi buruk 1,65 2,23 3,36% 2,3% 2,8% Dinas Kesehatan
3 Ketenagakerjaan
3.1 Rasio penduduk yang bekerja - 0,974 0,979 0,968 0,980 Disnakertrans Fokus Seni Budaya dan Olahraga
1 Kebudayaan
1.1 Jumlah Grup Kesenian 60 62 73 83 90 Disbudpar
1.2 Jumlah Gedung 10 12 14 14 14 Disbudpar
2 Olah raga
2.1 Jumlah klub olahraga 64 82 88 98 117 Kanpora 2.2. Jumlah gedung olahraga 1 1 1 1 1 Kanpora
2.1.5 Aspek Pelayanan Umum
Dalam sub bab ini akan dijelaskan mengenai gambaran penyelenggaraan pemerintahan Kabupaten Probolinggo 5 tahun terakhir ditinjau dari aspek pelayanan umum, terdiri dari fokus urusan layanan kewenangan wajib dan kewenangan pilihan pemerintah daerah, sesuai dengan SKPD yang mempunyai tupoksi kewenangan masing-masing.
Data dari matrik gambaran pelayanan umum dapat dilihat pada tabel 2.16 berikut ini:
Tabel 2.16
Data Gambaran Umum Kondisi Daerah
terhadap Capaian Kinerja Penyelenggaraan Urusan Pemerintahan Kabupaten Probolinggo tahun 2007 – 2012
Aspek Pelayanan Umum
No
Aspek/Fokus/Bidang Urusan/ Indikator Kinerja Pembangunan
Daerah
Capaian kinerja SKPD Penanggungja
wab Satuan 2008 2009 2010 2011 2012
ASPEK PELAYANAN UMUM Fokus Pelayanan Urusan Wajib 1 Pendidikan
1.1 Pendidikan dasar
1.1.1 Angka partisipasi sekolah (SD
s/d SMA) % 87,38 87,56 87,73 87,84 87,93 Diknas
1.1.2 Rasio ketersediaan sekolah/
penduduk usia sekolah % 119.16 119.45 119.20 119.18 119.25 Diknas 1.1.3 Rasio Guru terhadap murid 1:… 1:7 1:8 1:8 1:7 1:10 Diknas
1.1.4 Rasio guru/murid per kelas rata
rata 1:…. 20 22 21 23 24 Diknas
1.3 Fasilitas Pendidikan:
II-21
kondisi bangunan baik
1.3.2
1.4.1 Rasio Jumlah Siswa Paud/Julah
Anak usia 2- 4 Tahun % 43.38 39.44 35.85 44.92 45,14 Diknas
1.5 Angka Putus Sekolah
1.5.1 Angka Putus Sekolah (APS)
SD/MI % 0,065 0,051 0,09 0,02 0,041 Diknas
1.5.2
Angka Putus Sekolah (APS)
SMP/MTs %
2.37 2.24 2.11 0.023 1,93 Diknas
1.5.3 Angka Putus Sekolah (APS)
SMA/SMK/MA % 1.07 1.02 0.97 0.03 0,72 Diknas
1.6 Angka Kelulusan
1.6.1 Angka Kelulusan (AL) SD/MI % 94,21 94,97 99,54 99,99 99,98 Diknas
1.6.2 Angka Kelulusan (AL) SMP/MTs % 96,85 97,34 98,95 98,78 98,98 Diknas
1.6.3 Angka Kelulusan (AL)
SMA/SMK/MA % 97.77 98.17 98.65 98.68 98.86 Diknas
1.6.4 Angka Melanjutkan (AM) dari
SD/MI ke SMP/MTs % 79.28 80.21 80.73 91.85 92,17 Diknas
1.6.5 Angka Melanjutkan (AM) dari
SMP/MTs ke SMA/SMK/MA % 69.50 69.80 70.08 70.98 71,24 Diknas
1.6.6 Guru yang memenuhi kualifikasi
S1/D-IV % 54.58 56.17 57.64 67.89 68,06 Diknas
2 Kesehatan
2.1 Rasio posyandu per satuan balita 13,55 13,55 14,43 14,43 14,43 Dinkes
2.2 Rasio puskesmas, poliklinik,
pustu per satuan penduduk /100.000 11,03 0,0121 0,0120 0,0121 0,0118 Dinkes
2.3 Rasio Rumah Sakit per satuan
penduduk /100.000 0,0048 0,0046 0,0045 0,0055 0,0055 Dinkes
2.4 Rasio dokter per satuan
penduduk /100.000 0,044 0,057 0,063 0,05 0,05 Dinkes
2.5 Rasio perawat per satuan
penduduk /100.000 0,061 0,073 0,085 0,087 0,087 Dinkes
2.6 Cakupan komplikasi kebidanan
yang ditangani % 73,81 86,66 60,59 80,61 97,53 Dinkes
2.7
Cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi kebidanan
2.9 Cakupan Balita Gizi Buruk
mendapat perawatan % 100 100 100 100 100 Dinkes
2.10 Cakupan penemuan dan
II-22
3.1 Proporsi panjang jaringan jalan
dalam kondisi baik % 80.11 82.44 68.26 74,62 73,10
DPU Bina Marga
3.2 Rasio Jaringan Irigasi 22,50 22,50 22,50 - DPU Pengairan
3.3 Jumlah tempat ibadah Buah 9,927 9,927 9,579 9,925 Bagian Kesra
3.4 Persentase rumah tinggal
bersanitasi % 44% 45% 45% 46%
DPU Ciptakarya
3.6
Rasio tempat pembuangan sampah (TPS) per satuan penduduk
Jalan Penghubung dari ibukota kecamatan ke kawasan pemukiman penduduk (mimal dilalui roda 4)
km 15,211 17,835 86,972 12,836 91,230 DPU Binamarga
3.11 Panjang jalan kabupaten dalam
kondisi baik ( > 40 KM/Jam ) % 88,27 90,42 86,38 90,56 89,76 DPU Binamarga
3.12
Panjang jalan yang memiliki trotoar dan drainase/saluran
Sempadan jalan yang dipakai pedagang kaki lima atau bangunan rumah liar
km 3,621 4,791 5,312 6,342 7,858 DPU Binamarga
3.14 Sempadan sungai yang dipakai
bangunan liar % 0,052 0,054 0,052 0,051 0,051 DPU Pengairan
3.15
Drainase dalam kondisi baik/ pembuangan aliran air tidak tersumbat
11,220 12,124 15,233 18,671 23,575 DPU Binamarga
3.17 Luas irigasi Kabupaten dalam
kondisi baik % 90,00 92,00 92,00 92,00 92,00 DPU Pengairan
4 Perumahan
4.1 Rumah tangga pengguna air
II-23
5 Penataan Ruang
5.1
Rasio Ruang Terbuka Hijau per Satuan Luas Wilayah ber HPL/HGB
- - - - - DPU
Ciptakarya
5.2 Rasio bangunan ber- IMB per
satuan bangunan 0.15 0.16 0.14 - -
DPU Ciptakarya
5.3 Ruang publik yang berubah
peruntukannya - - - - - perencanaan RPJPD yg telah ditetapkan dgn PERDA
Ada/Tida
k ADA ADA ADA ADA ADA Bappeda
6.2
Tersedianya Dokumen Perencanaan : RPJMD yg telah ditetapkan dgn Perencanaan : RKPD yg telah ditetapkan dgn PERKADA
Ada/Tida
k ADA ADA ADA ADA ADA Bappeda
6.4 Penjabaran Program RPJMD kedalam RKPD 7.3 Jumlah Pelabuhan
Laut/Udara/Terminal Bis Buah 3 3 3 3 3
Dinas Perhubungan 7.4 Angkutan darat Buah 5.050 5.368 5.547 5.756 5.980 Dinas
Perhubungan 7.5 Kepemilikan KIR angkutan
umum Buah 1.128 1.195 1.287 1.392 1.502
Dinas Perhubungan
7.6 Lama pengujian kelayakan
angkutan umum (KIR) Jam 15 menit 15 menit 10 menit 10 menit 10 menit Dinas Perhubungan
7.7 Biaya pengujian kelayakan
angkutan umum Rp 41.000 41.000 41.000 41.000 41.000
8.2 Persentase Penduduk berakses
air minum 10,680 11,222 11,819 - BLH
8.3 Pencemaran status mutu air - 40 59,10 82,60 83,3 BLH
8.4 Cakupan pengawasan terhadap
pelaksanaan amdal. % 100 100 100 100 100 BLH
8.5 Tempat pembuangan sampah
(TPS) per satuan penduduk 0.6 0.60 0,77 0.8 - BLH
8.6 Penegakan hukum lingkungan % 100 100 100 85 66,6 BLH
9 Pertanahan
II-24
10 Kependudukan dan Catatan Sipil
10.1 Rasio bayi (penerbitan) berakte
kelahiran 26,439 47,207 19,700 11,901 11,642 10.3 Ketersediaan database
kependudukan skala kabupaten
11 Pemberdayaan Perempuan dan
Perlindungan Anak
11.2 Partisipasi perempuan di
lembaga swasta % 25 29,6 32,7 35,6 37,9 BPP & KB 11.3 Rasio KDRT % 0,99 0,81 0,81 1,11 1,58 BPP & KB
11.4 Persentase jumlah tenaga kerja
dibawah umur % - 3,04 3,07 3,07 3,09 BPP & KB
11.5 Partisipasi angkatan kerja
perempuan % 25 27 19,61 16,65 21,04 BPP & KB
11.6
Penyelesaian pengaduan perlindungan perempuan dan anak dari tindakan kekerasan
% 50 65 77 96 96 BPP & KB
12 Keluarga Berencana dan
Keluarga Sejahtera
12.1 Rata-rata jumlah anak per
keluarga 63,42% 79,68% 110,78% 105,82 % - BPP & KB
12.2 Rasio akseptor KB % 14,35 14,76 14,76 17,20 16,74 BPP & KB 12.3 Cakupan peserta KB aktif % 73,11 72,94 72,95 75,64 73,39 BPP & KB
12.4 Keluarga Pra Sejahtera dan
Keluarga Sejahtera I % 59,11 54,64 54,64 59,27 47,92 BPP & KB
13 Sosial
13.1
Sarana sosial seperti panti asuhan, panti jompo dan panti rehabilitasi
96 107 133 55 Dinsos
13.2 Total PMKS (yg memperoleh
bantuan sosial) 114.866 113.998 113.219 113,02 Dinsos
13.3 Penanganan penyandang
masalah kesejahteraan sosial 868 779 691 Dinsos
14 Ketenagakerjaan
14.1 Angka angkatan kerja Jiwa 586.702 604.247 603.228 569.592 623.537 Disnakertrans
14.2 Tingkat partisipasi angkatan
kerja % 75,25 74,08 73,28 70,02 75,31
Disnakertrans 14.3 Pencari kerja yang terdaftar Jiwa 4,670 7,138 3,657 3,445 3,025 Disnakertrans 14.4 Tingkat pengangguran terbuka % 3,46 2,60 2,02 3,20 1,98 Disnakertrans
II-25
15 Koperasi Usaha Kecil dan
Menengah
16.1 Jumlah investor berskala
nasional (PMDN/PMA) 22 22 21 22
Kantor Perijinan dan Penanaman Modal
16.2 Jumlah nilai investasi berskala nasional (PMDN/PMA)
16.3 Kenaikan / penurunan Nilai Realisasi PMDN (milyar rupiah)
Rp.
17.1 Penyelenggaraan festival seni
dan budaya Kali 14 8 12 17 - Disbudpar
17.2 Benda, Situs dan Kawasan Cagar
Budaya yang dilestarikan % 100 100 100 100 100 Disbudpar
18 Kepemudaan dan Olahraga
18.1 Jumlah organisasi pemuda 762 1057 1081 1096 - Kanpora
18.2 Jumlah organisasi olahraga
(kab/kecamatan) 63 63 63 63 - Kanpora
18.3 Jumlah kegiatan kepemudaan 23 56 36 43 - Kanpora
18.6 Lapangan olahraga 64 64 65 65 - Kanpora
19 Kesatuan Bangsa dan Politik Dalam Negeri
19.1
Kegiatan pembinaan terhadap LSM, Ormas dan OKP (jumlah orsospol)
1 1 1 1 1 Bakesbangpol
19.2 Kegiatan Pembinaan Politik
Daerah 14 18 19 27 42 Bakesbangpol
20.1 Rasio jumlah Polisi Pamong Praja
per 10.000 penduduk Rasio 1.79 1.91 2.22 3.46 3,35
Kantor Satpol PP
20.2 Jumlah Linmas Orang 13,615 15,869 15,439 Bakesbangpol
20.3 Rasio Pos Siskamling per jumlah
II-26
PP (jml Satpol/Jumlah Pdduk) PP
20.09
Petugas Perlindungan Masyarakat (Linmas) di Kabupaten
Orang 13,615 15,869 15,439 Bakesbangpol
20.10 Cakupan pelayanan bencana
kebakaran kabupaten % - - 10,39 10,39 10,39
20.12 Sistim Informasi Manajemen
Pemda Ada/Tdk Ada Ada Ada Ada Ada
Bagian Kominfo 21 Ketahanan Pangan 2008 2009 2010 2011 2012
21.1 Ketersediaan pangan utama Ton 171.824 172.964 176.569 221.525 167.944 BKP & PPP
22 Pemberdayaan Masyarakat dan
Desa
23.1 Buku ”kabupaten dalam angka” Ada/Tida
k ADA ADA ADA ADA ADA
Bid. Dalap Bappeda 23.2 Buku ”PDRB kabupaten” Ada/Tida
k ADA ADA ADA ADA ADA
Bid. Dalap Bappeda
24 Kearsipan
24.1 Pengelolaan arsip secara baku/
Laporan data Kearsipan (SKPD) % 47 55 68 73 76
Kantor Arsip daerah
24.2 Peningkatan SDM pengelola
kearsipan (SKPD) orang 10 30 48 77 82
Kantor Arsip daerah
25 Komunikasi dan Informatika
25.1 Jumlah surat kabar
nasional/lokal Buah 8 10 10 10
Bagian Kominfo 25.2 Jumlah penyiaran radio/TV lokal Buah 12 14 12 9 Bagian
Kominfo 25.3 Web site milik pemerintah
daerah Buah 1 1 1 1
26.1 Jumlah perpustakaan
(sekolah/Ponpes/Desa) Buah 120 132 227 259 265 Kantor Perpustakaan daerah
26.2 Jumlah pengunjung
II-27
perpustakaan daerah
Fokus Layanan Urusan Pilihan
1 Pertanian
1.1
Produktivitas padi atau bahan pangan utama lokal lainnya per hektar
1.3 Kontribusi sektor pertanian
(palawija) terhadap PDRB % 18.10 18.33 17.64 17.19 16.80
Diperta/Dibu nhut
1.4 Kontribusi sektor perkebunan
(tanaman keras) terhadap PDRB % 4.18 4.15 4.08 4.06 4.07 Dibunhut
1.5 Kontribusi sektor peternakan
terhadap PDRB % 3.76 3.77 3.83 3.81 3.81 Disnak
1.6 Cakupan bina kelompok petani % 60.98 39.40 42.68 57.30 - Diperta
2 Kahutanan
2.1 Rehabilitasi hutan dan lahan
kritis % 2.33 6.06 9.79 49.10 25,00 Disbunhut
2.3 Kontribusi sektor kehutanan
terhadap PDRB % 1,17 1,16 1,12 1,11 1,11 Disbunhut
3 ESDM
3.1 Pertambangan tanpa ijin % - 15 45 38 55 PU Pengairan
4 Pariwisata
4.1 Kunjungan wisata 174.153 204.167 240.016 243.381 244.644 Disbudpar
4.2 Kontribusi sektor pariwisata
terhadap PDRB 0.83 0.89 0.94 0.95 0.96 Disbudpar 5.4 Produksi perikanan kelompok
nelayan % 9,7 9,6 9,5 12,10 13,90
Dinas
Perikanan dan Kelautan
6 Perdagangan
6.1 Kontribusi sektor Perdagangan
terhadap PDRB 25.89 25.71 26.51 26.81 26.97 Disperindag
6.2 Cakupan bina kelompok
pedagang/usaha informal 0.6 0.8 0.9 0.9 0.9 Disperindag
7 Perindustrian
7.1 Kontribusi sektor Industri
II-28
7.4 Cakupan bina kelompok
pengrajin 0.8 0.8 0.10 0.12 0.12 Disperindag
8 Ketransmigrasian
8.1 Transmigran swakarsa % - - 71,02 - - Disnakertrans
2.1.6 Aspek Daya Saing Daerah
Dalam sub bab ini akan dijelaskan mengenai gambaran penyelenggaraan pemerintahan Kabupaten Probolinggo 4 tahun terakhir ditinjau dari aspek daya saing daerah, terdiri dari fokus kemampuan ekonomi daerah, fasilitas wilayah, iklim investasi dan sumberdaya manusia. Data dari matrik gambaran pelayanan umum dapat dilihat pada tabel 2.17. berikut ini:
Tabel 2.17
Hasil Analisis Gambaran Umum Kondisi Daerah
terhadap Capaian Kinerja Penyelenggaraan Urusan Pemerintahan Kabupaten Probolinggo tahun 2007 – 2011
Aspek Daya Saing Daerah
No
Aspek/Fokus/Bidang Urusan/ Indikator Kinerja Pembangunan
Daerah
Capaian kinerja
SKPD penanggungjawab 2008 2009 2010 2011 2012
ASPEK DAYA SAING DAERAH Fokus Kemampuan Ekonomi Daerah
1 Otonomi Daerah, Pemerintahan Umum, Administrasi Keuangan Daerah, Perangkat Daerah, Kepegawaian dan Persandian
1.1 Pengeluaran konsumsi rumah
tangga per kapita 55,61 54,22 58,58 42,44 - BPS
1.2 Pengeluaran konsumsi non pangan perkapita
44,39 45,78 41,42 42,44
- BPS
1.3 Produktivitas total daerah BPS
2 Pertanian
2.1 Nilai tukar petani 97,01 98,19 98,74 102,62 Diperta Fokus Fasilitas Wilayah/Infrastuktur
1 Perhubungan
1.1 Rasio panjang jalan per jumlah
kendaraan 1 : 143 1 : 192 1 : 96 1 : 192 - Dinas Perhubungan 1.2 Jumlah orang/ barang yang
terangkut angkutan umum - - - Dinas Perhubungan
1.3
Jumlah orang/barang melalui dermaga/bandara/ terminal per tahun
46.371 53.220 58.100 38.100 Dinas Perhubungan
2 Penataan Ruang
II-29
2.3 Luas wilayah industri 79.006 79.006 79.006 79.006 79.006 DPU CIPTA KARYA 2.4 Luas wilayah kebanjiran 1.461,07 1.461,07 1.461,07 1.461,07 1.461,07 DPU PENGAIRAN 2.5 Luas wilayah kekeringan - - - DPU PENGAIRAN 2.6 Luas wilayah perkotaan 4.715,23 4.715,23 4.715,23 4.715,23 4.715,23 DPU CIPTA KARYA
3 Otonomi Daerah, Pemerintahan Umum, Administrasi Keuangan Daerah, Perangkat Daerah, Kepegawaian dan Persandian
3.3 3.3.1
Jenis, kelas, dan jumlah
Restoran 6 5 7 2 14 Dispenda
3.3.2 Rumah Makan 95 76 60 69 55 Dispenda
3.4 Jenis, kelas, dan jumlah penginapan/ hotel
3.4.1 Hotel Melati Satu 2 2 2 10 12 Dispenda 3.4.2 Hotel Melati Dua 5 4 4 4 5 Dispenda 3.4.3 Hotel Melati Tiga 9 10 11 2 3 Dispenda 4 Lingkungan Hidup
4.1 Persentase Rumah Tangga (RT)
yang menggunakan air bersih 59,67 66,95 83,01 87,44 - PU Ciptakarya
5 Komunikasi dan Informatika
5.1 Rasio ketersediaan daya listrik 1 : 1.536,2
1 : 3.188,8
1 : 1.274,37
1 :
1.154,7 - PLN
5.2 Persentase rumah tangga yang
menggunakan listrik 84,8 84,38 83,97 83,55 83,76 PLN Fokus Iklim Berinvestasi
1 Otonomi Daerah, Pemerintahan Umum, Administrasi Keuangan Daerah, Perangkat Daerah, Kepegawaian dan Persandian
1.4 Jumlah dan macam pajak dan
retribusi daerah Dispenda
1.4.1 Pajak Daerah 6 6 7 7 9 Dispenda
1.4.2 Retribusi Daerah 26 26 26 23 29 Dispenda 1.5 Jumlah Perda yang
mendukung iklim usaha 3 1 3 4 4 Bagian Hukum
2.2 Evaluasi Pelaksanaan Program dan Kegiatan Tahun 2012
Guna mengetahui evaluasi pelaksanaan program dan kegiatan tahun 2012, maka berikut adalah kesimpulan hasil evaluasi program dan kegiatan berdasarkan dokumen Laporan Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP) Kabupaten Probolinggo Tahun 2012, sebagai berikut:
1. Sasaran Meningkatnya Ketahanan Pangan Melalui Optimalisasi Produksi Pertanian/Perkebunan, Peternakan dan Perikanan.
a. Pertanian
II-30
mencapai 102,38%. Produksi jagung juga melampaui target yaitu produksi tahun 2012 mencapai 322.921 ton sedangkan targetnya hanya 320.581 ton atau mencapai 100,73%.
Sedangkan untuk produksi kedelai tidak berhasil melampaui target yaitu produksi tahun 2012 mencapai 634 ton sedangkan targetnya 892 ton atau hanya mencapai 71,08%. Untuk produksi ubi kayu juga tidak berhasil melampaui target yaitu produksi tahun 2012 mencapai 117.888 ton sedangkan targetnya 118.818 ton atau hanya mencapai 99,22%. Manfaat kegiatan telah dapat dirasakan oleh petani maupun masyarakat luas yaitu ketersediaan bahan makanan pokok, harga jual ditingkat petani relatif stabil, meningkatnya pola konsumsi masyarakat, meningkatnya kelembagaan petani serta pengetahuan dan keterampilan petani.
b. Peternakan
Pada tahun 2012, menurut data Dinas Peternakan Kabupaten Probolinggo menunjukkan bahwa pencapaian produksi dan produktifitas ternak sangat berhasil. Hal ini dapat ditunjukkan indikator sasaran atau target yang telah ditetapkan secara signifikan dapat dicapai diantaranya: peningkatan produksi telur dari 1.290.112 ton menjadi 1.300.122 ton, susu dari 9.431.224 liter menjadi 9.967.424 liter, daging dari 5.798.849 kg menjadi 5.949.249 kg, sapi potong dari 287.480 ekor menjadi 296.683 ekor, sapi perah dari 8.593 ekor menjadi 8.809 ekor, kambing dari 45.771 ekor menjadi 46.943 ekor dan domba dari 71.448 ekor menjadi 713.053 ekor, ayam buras dari 992.690 ekor menjadi 998.275 ekor serta ayam ras dari 484.132 ekor menjadi 487.594 ekor.
c. Perikanan
II-31
Upaya yang terus dilakukan untuk mencapai target yang akan datang dari berbagai indikator adalah :
- Pembinaan dan pendampingan pengembangan kapasitas kelembagaan petani.
- Bantuan modal usaha bagi kelompok lumbung pangan.
- Mengadakan penelitian tentang pola konsumsi pangan masyarakat untuk menentukan kebijakan di masa yang akan datang.
- Mengadakan penelitian untuk penyusunan perumusan kebijakan penanganan daerah rawan pangan dengan penerapan Sistem Desa Mandiri Pangan.
- Memasyarakatkan pemanfaatan bahan pangan lokal non beras baik untuk konsumsi sendiri maupun untuk pengembangan usaha.
- Memasyarakatkan penganekaragaman menu berbasis 3B (Beragam, bergisi, dan Berimbang) untuk menuju hidup sehat dan berkualitas.
- Sosialisasi pola pangan berbasis 3 B (beragam, bergizi dan berimbang) dan diversifikasi pangan.
- Perlu adanya terapan teknologi baik melalui sosialisasi maupun bantuan langsung mesin-mesin pengolahan tanah, irigasi dan pengolahan produksi (pasca panen) dalam rangka peningkatan mutu/kualitas bahan baku.
- Perlunya Peningkatan SDM Penyuluh baik kuantitas maupun kualitasnya.
2. Sasaran Meningkatnya Perekonomian Daerah Melalui Otimalisasi Sektor Riil
a. Volume Usaha Koperasi
Dalam rangka pengembangan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), maka dalam lima tahun akan ditingkatkan melalui fasilitasi promosi, pelatihan, teknologi produksi, pusat informasi dan perijinan yang didukung dengan fasilitasi permodalan bekerja sama dengan lembaga keuangan. Khusus untuk Pemberian Kredit Modal Kerja Bagi UMKM dari Pemerintah Kabupaten Probolinggo, diharapkan 5 tahun kedepan volume usaha koperasi menjadi sebesar Rp 275.051.271.000,00 (tahun 2007 sebagai tahun dasar). Diharapkan pada tahun 2014 menjadi sebesar Rp 351.042.500.000.
II-32
keamanan dan ketertiban terus dilakukan sehingga dalam lima tahun ke depan pasar daerah yang ada dapat melayani masyarakat lebih profesional.
b.Nilai Investasi Sektor Industri.
Salah satu indikator meningkatnya kondisi ekonomi suatu daerah adalah nilai investasi industri, dengan melaksanakan program dan kegiatan dalam rangka peningkatan investasi dimaksud, maka pada tahun 2014 diharapkan nilai investasi sektor industri di Kabupaten Probolinggo sebesar Rp.320.742.000,00. Selanjutnya tujuan pembangunan ini akan dijabarkan dalam sasaran–sasaran yang tergabung dalam fungsi ekonomi, serta pariwisata dan budaya.
3. Sasaran Percepatan Pembangunan Infrastruktur dan Peningkatan Investasi.
Dalam hal peningkatan rasio jalan yang baik pada tahun 2012 belum dapat mencapai target yang telah ditetapkan karena baru tercapai 98%, sedangkan untuk jembatan yang baik melampaui target yang ditetapkan yaitu 103 %. Hal ini disebabkan beberapa faktor kendala yaitu keterbatasan dana dan kondisi iklim (bencana) yang merupakan salah satu faktor belum tercapainya target yang telah ditetapkan.
Pada tahun 2012 Dinas PU Bina Marga telah dapat mengurangi kondisi jalan rusak menjadi kondisi jalan sedang melalui kegiatan pembangunan jalan dan jembatan, rehabilitasi/pemeliharaan jalan dan jembatan dan peningkatan jalan dan jembatan.
Sedangkan untuk Dinas PU Pengairan pada tahun 2012 untuk beberapa indikator telah berhasil mencapai target yang ditentukan bahkan melampaui, yaitu jaringan irigasi utama sebesar 100 % dan perbaikan sungai mencapai 109 %. Untuk jaringan irigasi pedesaan mengalami penurunan sebesar 8,58 %.
Upaya yang terus dilakukan untuk mencapai target yang akan datang dari berbagai indikator adalah :
- Melaksanakan penjadwalan pelaksanaan proyek sedini mungkin dalam setiap Tahun anggaran dan memacu pelaksanaan proyek yang berlokasi pada dataran tinggi guna mengantisipasi datangnya musim penghujan dan mengkoordinasikan kepada instansi yang terkait untuk melakukan pembinaan terhadap pelaksanan pekerjaan.
II-33
pengawas guna lebih mengefektifkan peningkatan kualitas pelaksanaan proyek.
- Melibatkan dan meningkatkan SDM dengan dibekali lebih dahulu diklat-diklat/kursus-kursus yang ditujukan pada peningkatan profesionalisme sumber daya manusia.
- Memberikan sosialisasi kepada masyarakat petani / HIPPA / GHIPPA dalam hal operasi dan pemeliharaan jaringan irigasi serta pengenalan/pemahaman bangunan irigasi dengan mengikut sertakan dalam program diklat/ kursus-kursus yang diselenggarakan oleh Dinas Pekerjaan Umum Pengairan. Selain itu memberikan himbauan agar masyarakat ikut berpartisipasi dalam memelihara bangunan dan saluran irigasi.
4. Sasaran Pelestarian Fungsi Lingkungan Hidup dan Pencegahan Bencana Pencapaian sasaran dapat dikatakan berhasil karena beberapa indikator sasaran telah melampaui target yg ditetapkan, diantaranya peningkatan pelayanan pencegahan pencemaran air yang mencapai 138 %, peningkatan pelayanan pencegahan pencemaran udara mencapai 116 %, peningkatan rasio tempat pembuangan sampah per satuan penduduk mencapai 101%.
Pencapaian terus dipertahankan dengan upaya-upaya sebagai berikut:
- Membina dan menumbuhkan kesadaran masyarakat, dunia usaha dan instansi terkait untuk menjaga kelestarian fungsi lingkungan hidup melalui CSR perusahaan.
- Mengendalikan kegiatan eksploitasi sumber daya alam melalui perijinan dan pengawasan.
- Menumbuhkembangkan ketanggapsegeraan masyarakat untuk melakukan pengawasan sosial.
- Meningkatkan responsibilitas aparat Pemerintah Kabupaten terhadap laporan/pengaduan masyarakat dalam melaporkan terjadinya pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan dalam waktu 24 jam.
- Upaya pencegahan dampak lingkungan hidup, melalui penaatan perijinan bidang lingkungan hidup dan Penyusunan dokumen pengelolaan lingkungan hidup (AMDAL/ UKL dan UPL).
II-34
- Upaya pemulihan kualitas lingkungan hidup, meliputi Penyelamatan sumber mata air dan Pemulihan ekosistem pantai.
- Upaya pengembangan kapasitas kelembagaan pengelola lingkungan hidup, melalui Peningkatan kuantitas dan kualitas SDM aparatur, Pembinaan perusahaan dan Pembinaan kepada masyarakat.
5. Sasaran Peningkatan Kualitas Pelayanan Pendidikan, Sosial Keagamaan dan Kesehatan.
a. Persentase penurunan kematian bayi belum berhasil mencapai target karena terjadinya peningkatan angka kematian bayi dimana target yang harus dicapai adalah 9,5 per 1.000 kelahiran sedangkan riilnya kematian bayi mencapai 12,43 per 1.000 kelahiran.
b. Angka kematian Ibu melahirkan belum berhasil mencapai target dari 61 per 100.000 tapi tercapai 81 per 100.000.
c. Penduduk yang berkunjung ke sarana pelayanan kesehatan juga belum berhasil mencapai target dari 58 % hanya tercapai 55,8 %.
d. Angka Pemanfaatan tempat tidur dalam satuan waktu tertentu (BOR) realisasi tahun 2012 adalah sebanyak 48,27 % meningkat dari tahun 2011 yang mencapai 44,11 %.
e. Rata-rata Lama Dirawat atau ALOS realisasi tahun 2012 adalah sebanyak 3,27 hari turun dari tahun 2011 yang mencapai 3,46 hari. f. Frekuensi pemakaian tempat tidur (BTO) menunjukkan bahwa realisasi
tahun 2012 adalah sebanyak 53,02 kali meningkat dari tahun 2011 yang mencapai 51,99 %.
g. Angka Kematian Bersih (Netto Death Rate/NDR), angka kematian 48 jam setelah dirawat tahun 2012 : 18,70 promil (standar Depkes tahun 2005 – standar Depkes : ≤ 25 promil meningkat dari tahun 2011 yang mencapai 12,31 promil.
h. Angka Kematian Kasar (Gross Death Rate/GDR), angka kematian umum tahun 2012 : 22,32 promil (standar Depkes Tahun 2005 –
standar Depkes ≤ 45 promil) meningkat dari tahun 2011 yang mencapai 18,25 promil.
i. PUS yang menjadi peserta KB aktif tercapai dari target 70% menjadi 97,8% atau tercapai 104,84%.
II-35
k. Persentase penanganan tindak kekerasan terhadap perempuan dan anak tercapai dari target 60% menjadi 60,5% atau tercapai 100,83%.. l. Persentase peningkatan peran kader perempuan capaiannya adalah
100% sehingga telah dapat melampaui target tahun 2011.
m. Persentase Angka Partisipasi Murni (APM) pada tahun 2011 APM SD 99,47%; APM SMP 72,35% dan APM SMA 39,35%. Sedangkan pada tahun 2012 APM SD 99,67%; APM SMP 72,54% dan APM SMA 39,57%. Walaupun demikian pencapaian diatas masih berada dibawah target. Rasio jumlah siswa per jumlah sekolah untuk tingkat SD adalah 1: 119. Untuk tingkat SMP rasionya 1: 36 sedangkan target adalah 1: 160. Tingkat SMA rasio siswa per jumlah sekolah 1:76
Upaya yang terus akan dilakukan untuk meningkatkan pencapaian target antara lain:
- Peningkatan jumlah kebutuhan sarana dan prasarana pelayanan kesehatan yang memadai secara bertahap.
- Penambahan tenaga kesehatan secara bertahap dan mengoptimalkan tenaga yang ada .
- Peningkatan kompetensi tenaga kesehatan melalui pelatihan-pelatihan teknis.
- Meningkatkan kemitraan antara bidan dan dukun bayi, melakukan kegiatan swadaya serta pelaksanaan Audit Maternal Perinatal non medis di Kecamatan.
- Peningkatan deteksi dini balita gizi buruk melalui peran aktif kader posyandu di pedesaan dan meningkatkan kapasitas kelembagaan posyandu serta dukungan sektor-sektor terkait.
- Memberdayakan tokoh agama, tokoh masyarakat dan sektor-sektor terkait dalam penyebarluasan informasi dan promosi kesehatan tentang pentingnya Perilaku Hidup Bersih Sehat pada kelompok-kelompok potensial,.
- Pemberdayaan masyarakat untuk ikut serta dalam program Desa Siaga dan Rumah Tangga Sehat.
- Penerapan sangsi terhadap pengedar garam tidak beryodium.
- Meningkatkan Sistem Kewaspadaan Pangan dan Gizi (SKPG) melalui peran aktif Tim Pangan dan Gizi (TPG) mulai dari Tingkat Kecamatan sampai Kabupaten.
II-36 Kabupaten.
- Pembangunan TK Negeri di Kecamatan dan pendirian SMK di masing-masing Kecamatan untuk memenuhi rasio SMK : SMA = 60 : 40.
- Kerjasama dengan perguruan tinggi untuk peningkatan kualifikasi pendidikan guru.
- Peningkatan pengembangan kompetensi tenaga tutor.
- Dilaksanakan kegiatan-kegiatan kampanye pendidikan.
- Mendirikan perpustakaan sekolah dan meningkatkan minat baca siswa.
- Meningkatkan kualitas dan kuantitas sarana dan prasarana perpustakaan keliling (sepeda motor dan mobil perpustakaan).
- Meningkatkan kualitas SDM aparatur Perpustakaan melalui Diklat Teknologi Informatika.
- Menerapkan kebijakan atau regulasi pemerintah Kabupaten Probolinggo yang dapat meningkatkan akses dan partisipasi perempuan dalam memberdayakan ekonomi keluarga, memberikan latihan ketrampilan, magang, bimbingan usaha dan bantuan modal.
- Melakukan penyadaran kepada masyarakat dengan memberikan penyuluhan, penyebaran informasi lewat media elektonik, leaflet dengan melibatkan Tokoh Masyarakat, Tokoh Agama sehingga kekerasan terhadap perempuan dan anak semakin berkurang.
- Melakukan advokasi pada pengambil kebijakan dan perencana sehingga program dan kegiatan yang responsive gender lebih besar.
- Melakukan advokasi kepada instansi terkait khususnya bagian perencanaan dan keuangan untuk memberikan dukungan dana, sarana dan prasarana yang memadai sehingga perlindungan terhadap perempuan dan anak optimal.
- Memberikan advokasi kepada pemerintah desa serta memberikan tambahan kesejahteraan kepada kader.
- Diadakan sosialisasi terhadap program.
- Perlu peningkatan kegiatan KIE pada masyarakat.
- Perlu adanya pembekalan khusus kepada kepala desa.
- Diberi penghargaan yang memadai dan adanya pancingan didalam setiap pelayanan KB.
II-37
6. Penanggulangan Kemiskinan dan Pengangguran
a) Penurunan jumlah Keluarga Pra sejahtera pada tahun 2012 berdasarkan data Dinas Sosial sebesar 33,54% dari tahun sebelumnya; b) Penurunan masyarakat penyandang masalah kesejahteraan sosial
sebesar 26,5% dari tahun sebelumnya;
c) Persentase Peningkatan jumlah Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) yang dibina (mendapat bantuan) menurut data Dinas Sosial sampai dengan tahun 2012 adalah 14,3%.
d) Tingkat kesempatan kerja yaitu perbandingan antara tenaga kerja tertampung dibanding jumlah angkatan kerja adalah 98,02%.
e) Upah Minimum Kabupaten (UMK) pada tahun 2012 menunjukkan bahwa UMK telah meningkat menjadi Rp 814.000 per bulan sehingga Persentase pencapaian kehidupan minimal mencapai 88,23%.
f) Jumlah transmigran terkirim sebanyak 30 KK/117 jiwa dengan tujuan ke 3 (tiga) lokasi yaitu :
- 15 KK/59 jiwa ke UPT Makeruh Kecamatan Rupat Kabupaten Bengkalis Provinsi Riau.
- 10 KK/40 jiwa ke UPT Bekkai Kabupaten Wajo Provinsi Sulawesi Selatan.
- 5 KK/18 jiwa ke UPT Kosa SP.2 Kecamatan Oba Kota Tidore Provinsi Maluku Utara.
Upaya yang terus dilakukan untuk mencapai target yang akan datang dari berbagai indikator adalah :
- Penanganan secara berkala kepada para PMKS.
- Mengoptimalkan tugas dan fungsi PSM/TKSK dan Karang Taruna yang ada di wilayah dalam usaha kesejahteraan sosial.
- Mengajukan tambahan dana sehingga dapat menangani permasalahan yang ada.
- Perlunya wadah untuk menampung permasalahan-permasalahan sosial.
- Peningkatan kemampuan, pendidikan dan keterampilan kepada Keluarga Binaan Sosial (KBS).
II-38
- Mengadakan kerjasama dengan kabupaten penerima transmigran di luar Pulau Jawa.
7. Sasaran Peningkatan Kualitas Pelayanan Publik dan Pelaksanaan Otonomi Daerah.
Rata-rata capaian program dan kegiatan dapat dikatakan berhasil, hal ini seiring pencapaian sasaran dalam RPJMD berikut ini:
a. Persentase peningkatan kuantitas dan kualitas sarana prasarana aparatur telah dapat mencapai 100% karena target jumlah aset bergerak dan tak bergerak telah sesuai dengan target begitu juga pemeliharaannya.
b. Persentase ketepatan laporan pelaksanaan pembangunan mencapai 100% sehingga telah dapat mencapai target.
c. Persentase penyelesaian kegiatan sesuai waktu dan mutu yang direncanakan penyampaian kegiatan sesuai waktu dan administrasi yang direncanakan telah tercapai 100%.
d. Persentase tingkat kelengkapan administrasi kearsipan tercapai 100% penataan dan pemberkasan telah dapat dilaksanakan pada tahun ini. e. Persentase tingkat penerapan teknologi informasi & tingkat pelayanan
informasi kearsipan daerah bagi masyarakat dalam administrasi kearsipan tercapai 100%.
f. Penerbitan Akta kelahiran sebanyak 11.642 lembar terdiri dari kelahiran umum sebanyak 4.121 lembar dan kelahiran terlambat sebanyak 7.521 lembar.
g. Penerbitan Akta Perkawinan sebanyak 130 lembar terdiri dari 65 lembar akta perkawinan suami dan 65 lembar akta perkawinan istri.
Upaya yang terus dilakukan untuk mencapai target yang akan datang dari berbagai indikator adalah :
- Meningkatkan intensitas sosialisasi permendagri Nomor 21 Tahun 2011 Tentang perubahan kedua atas Permendagri Nomor 13 Tahun 2006 Tentang Pengelolaan Keuangan Daerah, Permendagri Nomor 22 Tahun 2011 tentang Pedoman Penyusunan APBD TA. 2012, PMK Nomor 64/PMK.05 Tahun 2011 perubahan atas PMK Nomor 97/PMK.05/2010 Tentang Pedoman Perjalanan Dinas Keluar Negeri bagi Pejabat Negara/Pegawai Negeri dan Pegawai Tidak tetap serta standart biaya umum TA. 2012 berdasarkan PMK Nomor 84/02 Tahun 2011..
II-39
- Dalam rangka mencapai hasil kerja yang optimal kedepan diharapkan masing-masing Satker agar melaporkan kegiatannya sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan, mengupayakan lebih serius untuk peningkatan kualitas SDM dan pembinaan serta pengawasan melekat guna peningkatan prestasi yang lebih baik dari tahun yang lalu.
- Intensitas rapat koordinasi dengan SKPD yang membutuhkan pengadaan barang dan jasa.
- Meningkatkan intensitas pendataan dan sertifikasi aset daerah.
- Meningkatkan sosialisasi kepada SKPD tentang mekanisme perencanaan kebutuhan dan pengelolaan aset daerah.
- Mengkaji kembali dasar hukum pengelolaan aset daerah.
- Melakukan koordinasi dan himbauan kepada SKPD, agar lebih mengoptimalkan pemungutan atas obyek pendapatan yang menjadi tanggungjawabnya.
- Melakukan koordinasi yang intensif dengan Pemerintah Pusat untuk penerbitan petunjuk pelaksanaannya.
- Melakukan pendampingan SKPD dalam penyusunan Neraca;
- Melakukan koordinasi dengan Propinsi Jawa Timur baik sebelum maupun sesudah juknis pelaksanaan kegiatan yang bersumber dari Bantuan Keuangan Khusus.
- Melakukan koordinasi dan himbauan kepada SKPD, agar lebih mengoptimalkan penyerapan dananya.
- Melakukan bimbingan teknis dan pembinaan Kepala SKPD dan Pejabat Pengelola Keuangan Daerah.
2.3 Permasalahan Pembangunan Daerah
2.3.1 Meningkatnya Ketahanan Pangan Melalui Optimalisasi Produksi Pertanian/Perkebunan, Peternakan dan Perikanan.
Dalam upaya meningkatkan Ketahanan Pangan Melalui Optimalisasi Produksi Pertanian/Perkebunan, Peternakan dan Perikanan, masih menghadapi banyak kendala, diantaranya :
1. Anomali cuaca yang tidak menentu,
2. Terdapatnya daerah yang mengalami gagal panen,
II-40
4. Serangan OPT pada tanaman perkebunan,
5. Banyaknya virus yang menjangkit pada hewan ternak, seperti virus flu burung.
2.3.2 Peningkatan Perekonomian Daerah Melalui Optimalisasi Usaha Sektor Riil.
Dalam upaya meningkatkan Perekonomian Daerah Melalui Optimalisasi Usaha Sektor Riil, masih menghadapi banyak kendala, diantaranya :
1. Belum optimalnya jaringan promosi sebagai sarana pengembangan investasi/penanaman modal;
2. Belum optimalnya pelayanan dan rendahnya kepastian hokum dalam investasi/penanaman modal;
3. Kurangnya insentif investasi dan keterbatasan infrastrukutr serta rendahya kualitas SDM.
4. Kualitas SDM yang relatif masih rendah yang tercermin kurangnya produktivitas tenaga kerja;
5. Masih rendahnya penerapan standarisasi untuk produk-produk industri manufaktur;
6. Lemahnya akses UMKM kepada sumber daya produktif, yaitu permodalan, teknologi, informasi dan pasar;
7. Masih banyaknya koperasi yang dinilai belum sehat, terlihat bahwa koperasi di Kabupaten Probolinggo memiliki kecenderungan adanya peningkatan anggota dan jumlah simpanan, tetapi omset volume usahanya mengalami penurunan;
8. Masih rendahnya produktivitas UMKM dan koperasi, karena kualitas Sumber Daya Manusia UMKM dan koperasi masih rendah, rendahnya kompetensi kewirausahaan UMKM dan terbatasnya sarana prasarana operasional dan modal usaha;
9. Minimnya sarana dan prasarana perdagangan yang memadai.
2.3.3 Percepatan Pembangunan Infrastruktur Dan Perekonomian Daerah Beberapa Kendala utama dari pembangunan infrastruktur baik infrastruktur transportasi, perumahan dan permukiman, pengairan di kabupaten Probolinggo antara lain: