• Tidak ada hasil yang ditemukan

BIOSORPSI ION LOGAM Cr(VI) DENGAN MENGGUNAKAN BIOMASSA LAMUN Enhalus acoroides YANG TERDAPAT DI PULAU BARRANG LOMPO

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BIOSORPSI ION LOGAM Cr(VI) DENGAN MENGGUNAKAN BIOMASSA LAMUN Enhalus acoroides YANG TERDAPAT DI PULAU BARRANG LOMPO"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

44

BIOSORPSI ION LOGAM Cr(VI) DENGAN MENGGUNAKAN BIOMASSA

LAMUN Enhalus acoroides YANG TERDAPAT DI PULAU BARRANG LOMPO

Nursiah La Nafie, Paulina Taba dan Djasmawati Mahmud

Jurusan Kimia, FMIPA Universitas Hasanuddin

Jl. Perintis Kemerdekaan KM 10 Tamalanrea, Makassar, Indonesia 90245

Abstrak. Biosorpsi merupakan metode alternatif yang dapat digunakan dalam

mengatasi pencemaran lingkungan yang berasal dari buangan industri yang

mengandung polutan logam berat. Biosorpsi ion logam Cr(VI) oleh biomassa lamun

kering Thalassia hemprichii telah dilakukan pada variasi waktu kontak, pH larutan dan

konsentrasi awal ion logam tersebut. Metode yang digunakan adalah metode ”batch”

dan konsentrasi ion logam Cr(VI) sebelum dan sesudah biosorpsi diukur dengan

spktrofotometer serapan atom (SSA). Kesetimbangan dicapai sesudah 80 menit.

Efektivitas adsorpsi bagi ion logam Cr(VI) dicapai pada pH 2. Biosorpsi ion Cr(VI)

dengan menggunakan biomassa lamun Enhalus acoroides lebih sesuai dengan model

isotermal Langmuir dengan nilai kapasitas adsorpsi (Qo) sebesar 8,13 mg/g.

Kata kunci: Biosorpsi, Cr(VI), lamun Enhalus acoroides, isotermal Langmuir

Abstract. Biosorption is an alternative technique which can be used in solving

environmental pollution coming from waste containing heavy metals. Biosorption of

Cr(VI) ion using biomass of seagrass, Thalassia hemprichii at various contact time, pH

and concentration has been investigated. Biosorption was performed by a batch method

and concentration of ions before and after biosorption were measured by atomic

absorption spectrophotometer (AAS). The equilibrium was achieved after 80 minutes.

Adsorption effectivity of Cr(VI) Enhalus acoroides ion was pH 2. Biosorption of

Cr(VI) ion by using biomass of Enhalus acoroides followed Langmuir isotherm and the

result showed that biosorption capacity (Qo) of Cr(VI) ion was 8.13 mg/g.

Keywords: biosorption, Cr(VI), seagrass, Enhalus acoroides, Langmuir isotherm.

PENDAHULUAN

Pencemaran lingkungan oleh

logam berat merupakan masalah yang

serius saat ini karena sifat akumulasi

logam tersebut dalam rantai makanan

dan persistensinya di dalam ekosistem.

Logam berat dapat berasal dari berbagai

industri

seperti

metalurgi,

tekstil,

baterai, penambangan, keramik dan

industri. Berbeda dengan logam biasa,

logam berat biasanya menimbulkan

efek-efek khusus pada manusia. Semua

logam berat dapat menjadi bahan racun

yang akan meracuni tubuh makhluk

hidup bila berada pada konsentrasi di

atas nilai ambang batas. Logam-logam

berat yang terlarut dalam badan perairan

pada konsentrasi tertentu dapat berubah

fungsi menjadi sumber racun bagi

kehidupan perairan. Meskipun daya

racun yang ditimbulkan oleh satu jenis

logam berat terhadap semua biota tidak

sama, namun kehancuran dari satu

kelompok

dapat

menyebabkan

terputusnya satu mata rantai kehidupan.

Pada

tingkat selanjutnya,

keadaan

tersebut

tentu

saja

dapat

(2)

45

menghancurkan satu tatanan ekosistem

perairan. Salah satu contoh logam berat

adalah krom (Cr), dimana Cr termasuk

logam yang mempunyai daya racun

tinggi. Logam ini dapat menyakibatkan

terjadinya

keracunan

yang

menyebabkan pembengkakan pada hati

(Palar, 1994).

Di masa sekarang ini kesadaran

publik terhadap bahaya air limbah yang

mengandung

logam

berat

telah

meningkat. Kromium yang merupakan

salah satu unsur logam berat yang

penting bagi manusia ternyata dapat

berdampak negatif jika berada di atas

nilai ambang batas, dimana batas

toleransi logam kromium dalam tubuh

adalah 0.05 mg/L (Goyal dkk, 1994).

Bentuk yang paling umum adalah

kromium (VI) dan umumnya dihasilkan

dari proses industri. Jadi potensi

keberadaannya dalam air limbah atau

perairan sangat besar. Oleh karena itu

dibutuhkan teknik atau metode untuk

menghilangkan logam-logam tersebut di

dalam air limbah atau perairan.

Berbagai

penelitian

telah

dilakukan dalam upaya pengolahan

limbah untuk penghilangan ion logam,

diantaranya metode oksidasi-reduksi,

pengendapan,

adsorpsi,

pemadatan,

rekoveri elektrolitik dan pertukaran ion.

Aplikasi dari beberapa proses, kadang

terbatas karena metode-metode tersebut

memiliki kekurangan seperti pengikatan

logam

yang

tidak

sempurna,

membutuhkan banyak bahan kimia dan

energi, serta menghasilkan produk

endapan dan air beracun sebagai hasil

samping. Masalah pencemaran oleh ion

logam berat memang menghadirkan

suatau

tantangan

dan

biosorpsi

merupakan solusi dari permasalahn

tersebut. (Viera dan Volesky, 2000).

Biosorpsi

merupakan

istilah

yang digunakan untuk menjelaskan

penghilangan logam berat melalui

pengikatan

pasif

pada

biomassa

tumbuhan atau mikroorganisme yang

tidak hidup dari larutannya dalam air

(Kumar, 2004), dan merupakan salah

satu

metode

alternatif

untuk

menghilangkan ion logam berat dalam

air limbah karena biayanya murah dan

ketersediaan biosorbennya mudah.

Berbagai

biosorben

telah

digunakan untuk menghilangkan logam

berat dari larutannya. Veglio dan

Beolchini (1997), melaporkan bahwa

fungi, bakteri dan ragi telah digunakan

sebagai biosorben logam-logam berat

seperti Cr, Co, Ni, Cu, Zn, Ag, Au, Pb,

Th dan U dengan kapasitas adsorpsi

bervariasi dari 0,4 – 450 mg/g.

Beberapa

macam

fungi

yaitu

Aspergillus,

Metarrhizium,

dan

Penicillium juga digunakan sebagai

biosorben untuk logam berat Pb (Cabuk,

dkk., 2005). Sedangkan peneliti lainnya

menggunakan

makroalgae

untuk

menghilangkan Cu

2+

, Cd

2+

, Pb

2+

, and

Zn

2+

(Pavasant, dkk., 2005), kitosan

sebagai biosorben ion Pb

2+

(Ng, dkk.,

2002), kulit jeruk untuk menghilangkan

Ni(II) (Ajmal dkk., 2000), kulit padi

untuk menghilangkan Cu(II) (Wang dan

Qin, 2005), tempurung kelapa untuk

menghilangkan Cd(II) (Pino dkk.,

2006). Biosorben lain yang digunakan

untuk menghilangkan logam berat

adalah

tumbuhan

air

golongan

macrophyte.

Wang

dkk,

1996 ;

Schneider dan Rubio, 1999 ; Schneider

dkk, 1999 dalam Keskinkan dkk, 2004),

menunjukkan bahwa beberapa logam

berat dapat terakumulasi oleh beberapa

tumbuhan macrophyta ; Potamogeton

lucens, Salvinia herzogoi, Eichhornia

crassipes, Myriophyllum brasillensis,

Cabomba sp., Myriophyllum spicatum.

Miretzky dkk (2004) melaporkan bahwa

tiga

tumbuhan

macrophyte;

Pista

stratiotes, Spirodela intermedia, dan

Lemna

minor

efektif

dalam

menghilangkan logam-logam Fe, Cu,

Zn, Mn, Cr dan Pb.

Lamun

termasuk

dalam

golongan

tumbuhan

macrophyte

(Kasim, 2005). Oleh karena itu, lamun

juga berpotensi untuk menghilangkan

ion-ion logam berat dari larutannya.

Penelitian pendahuluan telah dilakukan

dan hasil menunjukkan bahwa seluruh

bagian biomassa Enhalus acoroides

(3)

46

efektif dalam mengadsorpsi ion logam

Pb(II), Cd(II), dan Cu(II) (La Nafie,

dkk.,

2007).

Lamun

yang

akan

digunakan pada penelitian ini adalah

Enhalus acoroides, jenis lamun ini

banyak

ditemukan

di

Kepulauan

Spermonde, khususnya Pulau Barrang

Lompo. Penelitian ini dilakukan untuk

mengetahui

kapasitas

biosorpsi

biomassa lamun Enhalus acoroides

untuk ion Cr(VI) dalam larutan. Hasil

penelitian

ini

diharapkan

dapat

memberikan

informasi

tentang

kemampuan biosorben ini dalam larutan

yang terkontaminasi oleh ion logam

Cr(VI).

METODE PENELITIAN

Bahan-bahan

Biomassa lamun Enhalus acoroides,

K

2

Cr

2

O

7

,

HNO

3

1

%,

akuades,

akuabides, larutan buffer pH 2-8, kertas

saring Whatman 42.

Alat-alat

Blender,

magnetic

stirrer,

spektrofotometer serapan atom (SSA)

buck scientific model 205 VGP, oven

model SPNISOSFD, neraca digital

model Mettler PM 200, neraca digital

Ohaus, botol polietilen, ayakan ukuran

100-200 mesh dan desikator.

Cara kerja

Persiapan

Biosorben

Enhalus

acoroides

Lamun Enhalus acoroides dikoleksi

dari pulau Barrang Lompo, Sulawesi

Selatan. Lamun dicuci dengan segera

menggunakan

akuades,

kemudian

dikeringkan

dengan

tissue

dan

ditimbang

dalam

keadaan

basah.

Kemudian dikeringkan pada suhu 80

o

C

selama 24 jam. Biomassa lamun kering

digunakan dalam menentukan adsorpsi

sebagai

fungsi

waktu,

pH

dan

konsentrasi awal. Partikel lamun kering

diambil dengan ukuran lolos saringan

antara 100-200 mesh.

Penentuan Waktu Kontak Optimum

Biosorpsi Ion Cr(VI)

Larutan Cr(VI) dengan konsentrasi 10

ppm pada pH 5 disiapkan. Ke dalam 50

mL larutan ditambahkan masing-masing

200 mg biomassa lamun kering E.

acoroides. Campuran diaduk dengan

magnetic stirrer selama variasi waktu

20, 40, 60, 80, 100 dan 120 menit pada

suhu kamar dan disaring dengan kertas

saring Whatman 42. Filtrat diukur

dengan SSA pada panjang gelombang

228,9 nm. Setiap percobaan dilakukan 3

kali pengulangan.

Konsentrasi yang teradsorpsi

untuk tiap waktu kontak dihitung dari:

Konsentrasi teradsorpsi = Konsentrasi

awal – Konsentrasi akhir

C

adsorpsi

= C

awal

-C

akhir

(1)

Banyaknya ion logam yang

teradsorpsi (mg) per gram biosorben

(biomassa T. hemprichii) ditentukan

dengan persamaan:

a e 0 e

W

)V

C

(C

q

=

(2)

dimana: q

e

= jumlah ion logam

teradsorpsi (mg/g)

C

0

= konsentrasi ion logam

sebelum adsorpsi (mg/L)

C

e

= konsentrasi ion logam

setelah adsorpsi (mg/L)

V = volume larutan ion logam

(L)

W

a

=

jumlah

biosorben,

biomassa

lamun

Enhalus

acoroides (g)

Waktu kontak optimum adalah waktu

dimana konsentrasi teradsorpsi (C

adsorpsi

)

terbesar.

Penentuan pH Optimum Biosorpsi

Ion Cr(VI)

Larutan

Cr(VI)

dengan

konsentrasi 10 ppm sebanyak 50 mL

dengan pH 1 ditambahkan

masing-masing 200 mg biomassa lamun kering

E. acoroides. Campuran diaduk dengan

magnetic stirrer selama waktu optimum

pada suhu kamar dan disaring dengan

(4)

47

kertas saring Whatman 42. Filtrat

diukur dengan SSA pada panjang

gelombang 228,9 nm. Percobaan di atas

diulangi pada pH yang berbeda

masing-masing 2, 3, 4, 5, 6, dan 7. Setiap

percobaan

dilakukan

3

kali

pengulangan.

Banyaknya ion logam yang teradsorpsi

(mg) per gram biosorben (biomassa

Enhalus acoroides) untuk tiap pH

ditentukan menggunakan persamaan

(2).

pH

optimum

adalah

pH

dimana

konsentrasi

teradsorpsi

(C

adsorpsi

)

terbesar.

Penentuan Kapasitas Biosorpsi Ion

Cr(VI)

Larutan

Cr(VI)

dengan

konsentrasi 10 ppm, 25 ppm, 50 ppm,

dan 100 ppm pada pH optimum

disiapkan. Ke dalam tiap-tiap 50 mL

larutan ditambahkan masing-masing

200 mg biomassa lamun kering E.

acoroides. Tiap-tiap campuran diaduk

dengan magnetic stirrer selama waktu

optimum pada suhu kamar lalu disaring

dengan kertas saring Whatman 42.

Filtrat diukur dengan SSA pada panjang

gelombang 228,9 nm. Setiap percobaan

dilakukan 3 kali pengulangan.

Kapasitas biosorpsi dihitung dari

persamaan

(1)

atau

(2)

dengan

mengalurkan C

e

/Q

e

terhadap C

e

untuk

persamaan (1) atau log (x/m) terhadap

log C

e

untuk persamaan (2). Dari slope

persamaan (1) dapat diperoleh nilai Q

o

yang berhubungan dengan kapasitas

adsorpsi dan dari intercept persamaan

(2)

diperoleh

nilai

k

(kapasitas

adsorpsi).

HASIL DAN PEMBAHASAN

Penentuan Waktu Kontak Optimum

Biosorpsi Ion Cr(VI) oleh Biomassa

Lamun Enhalus acoroides

Salah

satu

faktor

yang

mempengaruhi proses biosorpsi adalah

waktu kontak. Waktu kontak optimum

menunjukkan waktu yang digunakan

oleh biosorben untuk mengadsorpsi

dalam jumlah maksimum ion logam

yang dianalisis. Waktu kontak optimum

dari biosorpsi ion logam Cr(VI) oleh

biomassa

lamun

E.

acoroides

ditentukan

dengan

menghitung

biosorpsi (q

e

) sebagai fungsi waktu (t).

Pada penentuan waktu kontak biosorpsi

optimum ion Cr(VI), digunakan 200 mg

biomassa lamun E. acoroides yang

masing-masing dicampur dengan 50 mL

larutan ion Cr(VI) pada konsentrasi 10

ppm dan variasi waktu pengadukan dari

20 menit hingga 120 menit. Biosorpsi

sebagai

fungsi

waktu

ditunjukkan

Gambar 1.

Kurva Waktu Optimum Cr(VI)

0 0.2 0.4 0.6 0.8 1 1.2 1.4 0 50 100 150 Waktu (menit) E fe k ti v it a s B io s o rp s i (Q e , m g /g )

(5)

48

Gambar 1. Grafik biosorpsi ion Cr(VI) vs waktu kontak dengan biomassa Lamun E.

adoroides (Konsentrasi ion Cu(II) = 10 ppm)

Grafik

1,

hubungan

antara

efektivitas biosorpsi (Q

e

) dengan waktu,

terlihat bahwa biosorpsi ion Cr(VI)

berlangsung dengan cepat dimana

kesetimbangan sistem tercapai dalam

waktu 80 menit, dan setelah 80 menit

adsorpsi cenderung stabil. Hal ini sesuai

dengan teori yang menyatakan bahwa

makin lama waktu yang digunakan

maka akan semakin banyak zat terlarut

yang dapat teradsorpsi. Namun, jumlah

zat terlarut yang diadsorpsi akan

mencapai batas maksimum. Hal ini

disebabkan

karena

permukaan

biosorben

(biomassa

Lamun

E.

acoroides) telah tertutupi oleh lapisan

ion Cr(VI) yang teradsorpsi. Dalam

penelitian ini, waktu kontak selama 80

menit

merupakan

waktu

kontak

optimum dimana ion Cr(VI) teradsorpsi

optimum

dan

waktu

kontak

ini

digunakan untuk penelitian selanjutnya.

Hasil

Penentuan

pH

Optimum

Biosorpsi Ion Cr(VI) oleh Biomassa

Lamun E. acoroides

Penelitian

mengenai

pH

optimum pada biosorpsi ion logam

Cr(VI)

oleh

biomassa

lamun

E.

acoroides dilakukan dengan cakupan

pH yang tidak dipengaruhi oleh logam

yang mengendap (sebagai hidroksida

logam). Perhitungan dari hasil kali

kelarutan (Ksp) (Sawyer dkk, 2002

dalam

Pavasant

dkk,

2005)

menunjukkan bahwa cakupan pH yang

sesuai untuk berbagai ion logam

berbeda, yaitu untuk Cr(VI) pada pH 1–

8. Pada pH 1, konsentrasi proton dalam

larutan

sangat

tinggi

sehingga

konsentrasi ion logam yang teradsorpsi

menjadi sangat rendah. Pada penentuan

pH optimum dari biosorpsi ion Cr(VI),

jumlah biomassa lamun E. acoroides

yang digunakan adalah 200 mg dan

volume larutan ion Cr(VI) 10 ppm

sebanyak 50 mL

.

Variasi pH adalah

antara 1 hingga 7 dengan waktu

pengadukan selama waktu optimum 80

menit. Penentuan pH optimum pada

biosorpsi ion logam Cr(VI) oleh

biomassa lamun E.acoroides ditentukan

dengan menghitung jumlah ion Cr(VI)

yang diadsorpsi (Q

e

) sebagai fungsi dari

pH dan Gambar 2 menunjukkan

hubungan antara efektivitas biosorpsi

(Q

e

)

dengan

pH

dari

larutan.

Kurva pH Optimum Cr(VI)

0 0.2 0.4 0.6 0.8 1 1.2 1.4 1.6 1.8 2 0 2 4 6 8 pH E fe k ti v it a s b io s o rp s i (Q e , m g /g )

(6)

49

Gambar 2. Grafik hubungan efektivitas biosorpsi Ion Cr(VI) oleh Biomassa Lamun E.

acoroides vs pH (konsentrasi larutan = 10 ppm)

Gambar

2

menunjukkan

bahwa

efektivitas biosorpsi tertinggi terjadi

pada pH 2 dan ini menyatakan bahwa

adsorpsi maksimum terjadi pada pH 2.

Hal ini disebabkan karena Cr(VI)

dalam larutan membentuk anion logam,

Cr

2

O

72-

,

dan

terjadi

interaksi

elektrostatik dengan proton pada sisi

yang aktif. Hal ini sesuai dengan teori,

bahwa pada cakupan pH rendah,

biosorpsi rendah. Menurut Pavasant dkk

(2005), ini terjadi karena adanya proton

dengan konsentrasi yang tinggi dalam

larutan. Proton ini bersaing dengan ion

logam dalam pembentukan ikatan pada

sisi yang aktif (gugus fungsional) pada

permukaan

biosorben,

sehingga

permukaan menjadi jenuh dan tidak

dapat berinteraksi dengan kation lain.

Hasil ini sesuai dengan

penelitian

sebelumnya (Matheickal (1998), Yin

dkk. (1999), Kapoor dkk (1999), dan

Kaewsarn (2000) dalam Pavasant dkk,

2005).

Sebaliknya,

dengan

meningkatnya pH berarti jumlah proton

menjadi

rendah. Hal ini menyebabkan

suatu penurunan persaingan antara

proton dan ion logam berat, sehingga

biosorpsi meningkat. Namun, setelah

pH 5 adsorpsi cenderung konstan, hal

ini

disebabkan

karena

permukaan

biosorben lamun E. acorides telah

tertutupi oleh lapisan ion Cr(VI) yang

teradsorpsi.

Maka

pH

optimum

biosorpsi ion Cr(VI) oleh biomassa

lamun E. acorides adalah pH 5 dan pH

ini

digunakan

untuk

penentuan

kapasitas biosorpsi.

Hasil Penentuan Kapasitas Biosorpsi

Ion Cr(VI) oleh Biomassa Lamun E.

acoroides

Pada penentuan kapasitas biosorpsi,

masing-masing 200 mg biomassa Lamun E.

acorides dicampur dengan 50 mL larutan

ion Cr(VI)

dengan konsentrasi yang

bervariasi yakni 10, 25, 50, 100, dan 200

ppm dengan menggunakan waktu 80 menit

dan pH 2 sesuai hasil yang diperoleh pada

penelitian sebelumnya. Kapasitas biosorpsi

dapat diketahui dengan membuat grafik

konsentrasi

kesetimbangan

(C

e

)

Vs

efektivitas biosorpsi (Q

e

). Konsentrasi pada

saat efektivitas biosorpsi tetap merupakan

kapasitas biosorpsi. Gambar 3 menunjukkan

grafik

hubungan

C

e

dan

efektivitas

biosorpsi

untuk

ion

Cr(VI).

0 1 2 3 4 5 6 7 0 10 20 30 40 50 60 70 Ce (m g/L) Q e ( m g /g )

(7)

50

Gambar 3. Kurva hubungan konsentrasi kesetimbangan (C

e

) dan efektivitas biosorpsi (Q

e

).

Hasil menunjukkan bahwa nilai

efektifitas biosorpsi meningkat dengan

meningkatnya konsentrasi sampai pada

nilai dimana kejenuhan biosorben akan

tercapai. Pada penelitian ini, keadaan

dimana adsorben telah jenuh oleh

adsorbat

belum

tercapai

karena

efektivitas

biosorpsi

masih

tetap

meningkat (efektivitas biosorpsi belum

konstan) dengan naiknya konsentrasi.

Untuk itu, kapasitas biosorpsi akan

ditentukan dari isotermal biosorpsi

menurut model Langmuir dan/atau

model Freundlich. Isotermal Langmuir

untuk biosorpsi ion Cr(VI)

diberikan

pada Gambar 4 sedangkan isotermal

Freundlich untuk biosorpsi ion Cr(VI)

dapat dilihat pada Gambar 5.

Harga

R

2

dari

isotermal

Freundlich

menunjukkan

bahwa

biosorpsi ion Cr(VI) oleh E. acoroides

tidak memenuhi isotermal Freundlich.

Harga R

2

dari isotermal Langmuir

hampir mendekati 1 yang menunjukkan

bahwa biosorpsi ion Cr(VI) oleh E.

acoroides

memenuhi

isotermal

Langmuir.

Berdasarkan

isotermal

Langmuir, nilai kapasitas adsorpsi (Qo)

sebesar 8,13 mg/g.

(8)

51

.

(9)

52

KESIMPULAN

Biomassa lamun E. acoroides

dapat digunakan sebagai biosorben ion

logam Cr(VI) dengan waktu dan pH

optimum biosorpsi lamun E. acoroides

terhadap ion logam Cr(VI) adalah 80

menit dan pH 2. Biosorpsi lamun E.

acoroides terhadap ion logam Cr(VI)

lebih sesuai dengan isotermal Langmuir

dengan nilai kapasitas adsorpsi (Qo)

sebesar 8,13 mg/g.

DAFTAR PUSTAKA

Indahsari, D., 2007. Biosorpsi ion logam

Cd(II)

dengan

menggunakan

biomassa

lamun

Thalassia

hemprichii yang terdapat di Pulau

Barranglompo,

Skripsi

tidak

diterbitkan, Jurusan Kimia, FMIPA

UNHAS, Makassar.

Kasim, M., 2005. Seagrass bukan

Rumput Laut, (Online), (

http://

www.maruf.wordpress.com/tag/sea

grass-bukan-rumput-laut

, Akses 27

November 2007).

Keskinkan, O., Goksu, M. Z. L.,

Basibuyuk, M. dan Forster, C. F.,

2004. Heavy metal adsorption

properties of a submerged aquatic

plant (Ceratophyllum demersum),

Bioresour. Technol., 92 (2) :

197-200.

La Nafie, N., Taba, P., Fauziah, S.,

Gulam, Arjuna dan Muliadi, 2007.

Biosorpsi

ion

Logam

Cu(II),

Cd(II), dan Pb(II) oleh biomassa

lamun kering Enhalus acoroides

yang

terdapat

di

Kepulauan

Spermonde, Torani Jurnal Ilmu

Kelautan dan Perikanan, 17(4) :

321-330.

Lestari, A. S. P. I., 2008. Biosorpsi ion

logam

Cr(VI)

dengan

menggunakan

biomassa

lamun

Thalassia hemprichii yang terdapat

di Pulau Barranglompo, Skripsi

tidak diterbitkan, Jurusan Kimia,

FMIPA UNHAS, Makassar.

Martaningtyas,

D.,

2004.

Bahaya

Cemaran Logam Berat, (Online),

http:

www.pikiran-rakyat.com

, 13

Oktober 2007.

Nuhoglu, Y., Malkoc, E., Gürses, A. dan

Canpolat, N., 2002. The removal of

Cu(II) from aqueous solutions by

Ulothrix

zonata,

Bioresour.

Technol., 85 : 331-333.

Palar, H., 1994, Pencemaran dan

Toksikologi Logam Berat, Bina

Rupa Aksara, Yogyakarta, 97-98.

Pavasant, P., Apiratikul, R., Sungkhum,

V.,

Suthiparinyanont,

P.,

Wattanachira, S. dan Marhaba, T.

F., 2005, Biosorption of Cu

2+

,

Cd

2+

, Pb

2+

, and Zn

2+

using dried

marine green macroalga Caulerpa

lentillifera, Bioresour. Technol.,

97 : 250-253.

Ucun, H., Bayhan, K., Kaya, Y., dan

Algur, D. F., 2002, Biosorption of

Chromium (VI) from Aqueous

Solution by Cone Biomass of

Pinus

sylvestris,

Bioresour.

Technol., 85 : 155-158.

Vieira, R. H. S. F. dan Volesky, B.,

2000, Biosorption: a solution to

pollution?,

International

Microbiol, 3, 17-24.

Wang, X-S., and Qin, Y, 2005,

Equilibrium Sorption Isotherms of

Cu

2+

on Rice Bran, Process

Biochem., 40 : 677 – 680.

Yan, G., dan Viraraghavan, T., 2003.

Heavy-metal

Removal

from

Aquoeus Solution by Fungus

Mucor rouxii, War. Res., 37 :

4486-4496

Gambar

Gambar  1.  Grafik    biosorpsi  ion  Cr(VI)  vs  waktu  kontak  dengan  biomassa  Lamun  E
Gambar 2. Grafik hubungan efektivitas biosorpsi Ion Cr(VI) oleh Biomassa Lamun E.
Gambar 3. Kurva hubungan konsentrasi kesetimbangan (C e ) dan efektivitas biosorpsi (Q e )
Gambar 5. Isotermal Freundlich untuk biosorpsi ion Cr(VI) oleh E. acoroides

Referensi

Dokumen terkait

Persentase kehadiran lamun yang paling banyak ditemukan di perairan Pantai Desa Tanjung Tiram yaitu jenis Enhalus acoroides L.. dan jenis

Laju pertumbuhan panjang daun lamun Enhalus acoroides yang ditanam di Pulau Barranglompo selama 8 minggu dengan umur semaian yang berbeda menunjukkan tidak

Dari hasil penelitian ini, diperoleh informasi bahwa biosorpsi ion logam Cu(II) dengan menggunakan kulit buah naga lebih sesuai dengan model isotermal

Telah dilakukan penelitian tentang “Hubungan Antara Kandungan Nitrogen Pada Pore Water Terhadap Nitrogen Pada Akar Dan Daun Lamun Enhalus acoroides Di Pulau

Hasil pengukuran laju pertumbuhan yang telah dilakukan di perairan Pulau Barranglompo antara semaian lamun Enhalus acoroides yang disimpan selama 2 hari, 5 hari dan 8 hari

golongan flavonoid, alkaloid dan steroid dalam ekstrak kasar Enhalus acoroides dan Thalassia hemprichii pada penelitian ini menunjukkan bahwa kedua jenis lamun

Dari hasil penelitian diketahui bahwa kandungan logam berat pada Lamun Enhalus acoroides di Perairan Tanjung Lanjut tergolong tinggi. Sedangkan untuk air laut,

Biota Laut, termasuk tanaman lamun dapat digunakan sebagai bioindikator dalam penentuan kualitas air di perairan.Lamun Enhalus acoroides merupakan tumbuhan yang banyak ditemukan di