• Tidak ada hasil yang ditemukan

Biosorpsi Ion Logam Cu(II) Oleh Kulit Buah Naga (Hylocereus polyrhizus)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Biosorpsi Ion Logam Cu(II) Oleh Kulit Buah Naga (Hylocereus polyrhizus)"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

BIOSORPSI ION LOGAM Cu(II) OLEH KULIT BUAH NAGA (Hylocereus polyrhizus)

Sahriani Ali, Nursiah La Nafie, Paulina Taba Jurusan Kimia FMIPA Universitas Hasanuddin

Kampus Tamalanrea Makassar 90425

Abstrak. Biosorpsi merupakan metode yang efektif untuk menghilangkan ion logam berat dari suatu larutan. Biosorpsi ion logam Cu(II) dengan menggunakan biosorben kulit buah naga pada variasi waktu kontak, pH dan konsentrasi telah diteliti. Konsentrasi ion Cu(II) sebelum dan setelah adsorpsi ditentukan dengan menggunakan Spektrofotometer Serapan Atom (SSA). Pengaruh pH dalam proses biosorpsi dipelajari pada pH 2-7. Hasil penelitian menunjukkan bahwa waktu optimum biosorpsi ion Cu(II) biomassa kulit buah naga adalah 10 menit dan pH optimum biosorpsi adalah 4. Model Langmuir dan Freundlich digunakan untuk mempelajari isotermal adsorpsi. Dari hasil penelitian ini, diperoleh informasi bahwa biosorpsi ion logam Cu(II) dengan menggunakan kulit buah naga lebih sesuai dengan model isotermal Langmuir dibandingkan isotermal Freundlich dengan kapasitas adsorpsi (Qo) 20,401 mg/g biosorben. Hasil

analisis FT-IR menunjukkan bahwa gugus hidroksil yang berperan dalam pengikatan ion Cu(II).

Kata Kunci : Biosorpsi, SSA, Isotermal Langmuir, ion Cu(II), Kulit Buah Naga.

Abstract. Biosorption is an effective method for the removal of heavy metal ions from their solution. Biosorption of Cu(II) by dragon fruit peel with variation of contact time, pH, and concentration has been investigated. Concentration of Cu(II) ion before and after adsorption was determined using Atomic Absorption Spectrophotometer (AAS). Effect of pH in the biosorption process was studied at pH of 2-7. The result showed that the optimum time for biosorption of Cu(II) ion by biomass dragon fruit peel was 10 minutes and pH 4 was the optimum pH of biosorption. Langmuir and Freundlich models were used to study the adsorption isotherm. Result showed that biosorption of Cu(II) ion by dragon fruit peel fit better the Langmuir model than Freundlich model with the adsorption capacity (Qo) of 20,401 mg/g biosorbent. The result of

FT-IR analysis showed that hydroxyl group are responsible for the binding of the Cu(II) ion.

(2)

PENDAHULUAN

Pencemaran lingkungan merupakan masalah yang semakin penting untuk diselesaikan karena menyangkut keselamatan, kesehatan, dan kehidupan makhluk hidup. Di antara banyaknya masalah pencemaran lingkungan saat ini yang mendapat perhatian serius adalah masalah pencemaran lingkungan yang disebabkan oleh logam berat. Pencemaran ini dapat menyebabkan kerugian besar, karena umumnya buangan/limbah pada lingkungan mengandung zat beracun salah satunya yaitu logam Cu (Darmono, 2001).

Logam Cu dalam lingkungan perairan dapat dipisahkan dengan berbagai cara, seperti cara pelapisan, penyaringan, pengendapan, dan pengapungan partikel tersuspensi. Namun, metode tersebut dianggap kurang efektif karena membutuhkan biaya yang relatif tinggi, produksi lumpur limbah beracun yang tinggi dan dapat menyulitkan proses penanganan serta pembuangannya. Untuk itu metode penyerapan dipakai dengan menggunakan bahan yang relatif murah, bisa didapat dengan mudah dan mempunyai daya serap tinggi (Zein dkk., 2003 dalam Lelifajri, 2010).

Salah satu alternative dalam pengolahan limbah yang mengandung logam berat adalah penggunaan bahan-bahan biologis sebagai adsorben. Proses ini kemudian disebut sebagai biosorpsi. Biosorpsi menunjukkan kemampuan biomassa untuk mengikat logam berat dari dalam larutan melalui langkah-langkah metabolisme atau kimia dan fisika. Keuntungan penggunaan proses biosorpsi diantaranya adalah biaya yang relatif murah, pembentukan lumpur yang minimal, serta proses regenerasinya yang mudah (Ashraf dkk., 2010).

Proses biosorpsi dipengaruhi oleh waktu kontak, pH dan konsentrasi (Kuraisy, 2008). Selain itu, proses akhir

biosorpsi dilakukan dengan menentukan jumlah kapasitas biosorpsi yang diadsorpsi oleh ion logam dengan menggunakan pendekatan isotermal adsorpsi. Isotermal adsorpsi yang umum digunakan yaitu Isotermal Freundlich dan Isotermal Langmuir (Hawari dkk., 2006).

Bahan biologis yang dapat digunakan sebagai bahan baku biosorben salah satunya adalah limbah produk-produk pertanian. Limbah produk pertanian merupakan limbah organik yang tentunya akan sangat mudah ditemukan dalam jumlah besar. Pemanfaatan dan penggunaan limbah pertanian sebagai bahan baku biosorben selain dapat membantu mengurangi volume limbah juga dapat memberdayakan limbah menjadi suatu produk yang mempunyai nilai jual. Oleh karena itu, potensi limbah pertanian cukup besar untuk digunakan sebagai bahan baku biosorben logam berat (Kurniasari, 2010).

Berbagai biosorben dengan menggunakan limbah pertanian ataupun bahan biologis telah banyak dilakukan oleh peneliti-peneliti sebelumnya seperti biosorpsi dengan menggunakan daun nanas (Budiyanto dkk., 2010), kulit jeruk Bali (Tasaso, 2014), dan serbuk kayu gergaji (Lelifajri, 2010)

Komponen yang berperan dalam proses adsorpsi logam berat dengan adsorben bahan-bahan biologis adalah gugus aktif yang ada dalam bahan tersebut. Gugus-gugus tersebut yang akan menarik dan mengikat logam pada biomassa, gugus–gugus itu diantaranya gugus hidroksil dan karboksil (Ahalya dkk., 2003).

Salah satu limbah yang mengandung banyak gugus aktif adalah kulit buah naga. Dari hasil analisis menunjukkan bahwa kulit buah naga mengandung nitrogen, karbon, hidrogen, dan sulfur (Mallampati, 2013). Senyawa- senyawa yang terkandung dalam kulit buah naga mengandung gugus –OH dan –COOH. Gugus- gugus aktif tersebut

(3)

jika ditinjau dari HSAB (Hard Soft Acid

Base) digolongkan sebagai basa keras

sementara logam Cu(II) dikategorikan sebagai asam madya, sehingga Cu(II) dapat berinteraksi baik dengan gugus aktif yang terdapat dalam kulit buah naga (Lin dkk., 2002). Namal dkk., (2013) telah berhasil melakukan penelitian dengan menggunakan kulit buah naga untuk mengadsorpsi ion Mn(II). Hal ini menunjukkan bahwa kulit buah naga berpotensi untuk dijadikan sebagai biosorben ion logam berat (Mallampati, 2013).

Berdasarkan uraian maka penelitian yang memanfaatkan kulit buah naga sebagai biosorben dilakukan untuk penghilangan logam berat Cu2+.

BAHAN DAN METODE Bahan Penelitian

Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kulit buah naga, kristal Cu(NO3)2.3H2O, HNO3 pekat, NaOH,

akuades, akuabides, kertas saring

Whatman 42, kertas label, dan tissue roll.

Alat Penelitian

Peralatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah alat-alat gelas kimia yang umum digunakan, ayakan (lolos saringan 100 mesh dan tidak lolos saringan

230 mesh), oven model SPNISOSFD,

magnetik stirrer, neraca digital Ohaus model

NO AP210, crusher, pH meter, botol semprot, seperangkat alat sentrifuge,

seperangkat alat SSA, seperangkat alat spektrofotometer FT-IR model SHIMADZU 8201 PC dan desikator.

Prosedur

Persiapan Biosorben Kulit Buah Naga (Hylocereus polyrhizus)

Kulit buah naga dipotong kecil, lalu dicuci dengan air mengalir untuk menghilangkan kotoran. Kemudian kulit buah naga dibilas dengan akuades, dan ditiriskan. Kulit buah naga dikeringkan di bawah sinar matahari selama 1 minggu. Selanjutnya kulit buah naga dikeringkan di oven pada suhu 80 °C selama 24 jam. Kemudian kulit buah naga disimpan dalam desikator. Setelah itu, kulit buah naga digerus/dihaluskan dengan menggunakan

crusher, dan diayak dengan ukuran lolos

saringan 100 mesh tetapi tidak lolos saringan 230 mesh.

Penentuan Waktu Optimum Biosorpsi Ion Cu(II) Oleh Kulit Buah Naga (Hylocereus polyrhizus)

Serbuk kulit buah naga ditimbang sebanyak 0,2 gram dan dimasukkan ke dalam erlenmeyer 100 mL. Selanjutnya ditambahkan 50 mL larutan Cu(II) dengan konsentrasi 100 ppm. Campuran dikocok dengan magnetik stirrer selama 5 menit dan disaring. Absorbansi filtrat diukur dengan Spektrofotometer Serapan Atom pada panjang gelombang 324,8 nm. Percobaan kemudian diulangi dengan variasi waktu 10; 15; 20; 30; 40; 50; 60; 70; 80; dan 90 menit. Setiap percobaan dilakukan 2 kali pengulangan. Percobaan blanko dilakukan seperti di atas tetapi tanpa pengocokan dengan magnetik stirrer.

Penentuan Pengaruh pH Biosorpsi Ion Cu(II) Oleh Kulit Buah Naga (Hylocereus polyrhizus)

Sebanyak 0,2 gram serbuk kulit buah naga dimasukkan ke dalam gelas erlenmeyer 100 mL yang berisi 50 mL larutan Cu(II) 100 ppm. Kemudian dikocok dengan

(4)

5, 6 dan 7 selama waktu kontak optimum. Disaring dengan kertas saring Whatman 42. Absorbansi filtrat diukur dengan Spektrofotometer Serapan Atom.

Penentuan Kapasitas Biosorpsi Ion Cu(II) Oleh Kulit Buah Naga (Hylocereus polyrhizus)

Serbuk kulit buah naga ditimbang sebanyak 0,2 gram dan dimasukkan ke dalam erlenmeyer 100 mL yang berisi 50 mL larutan Cu(II) dengan variasi konsentrasi 50; 100; 150; 250, dan 400 ppm. Campuran dikocok dengan magnetic stirrer selama waktu dan pH optimum dan kemudian disaring. Residu dianalisis dengan FT-IR dan filtratnya dianalisis dengan SSA.

Analisis dengan FTIR

Analisis spektrum FTIR (Fourier

Transform Infra Red) dilakukan pada

biomassa kulit buah naga sebelum dan sesudah adsorpsi. Spektra direkam pada daerah bilangan gelombang 4000-400 cm-1 dengan resolusi 4 cm-1 pada suhu ruangan menggunakan detektor DTGS (Deuterated

Triglycine Sulphate). Spektra diproses

dengan menggunakan Software Easy Plot. HASIL DAN PEMBAHASAN

Waktu Optimum Biosorpsi Ion Cu(II) Oleh Kulit Buah Naga (Hylocereus polyrhizus)

Jumlah ion Cu(II) yang diadsorpsi sebagai fungsi waktu ditunjukan pada Gambar 4.

Gambar 4. Jumlah ion Cu(II) yang diadsorpsi vs waktu kontak dengan biosorben kulit buah naga (Co= 100 ppm, pH= 5,1).

Jumlah ion Cu(II) yang diadsorpsi pada waktu 5 menit adalah 5,001 mg/g. Jumlah ini meningkat pada waktu pengadukan 10 menit hingga mencapai batas optimum dengan jumlah ion teradsorpsi sebesar 5,27 mg/g. Setelah melampaui waktu optimum pada waktu 10 menit, jumlah ion Cu(II) yang teradsorpsi cenderung mengalami penurunan dari waktu 30 menit sampai 90 menit. Data ini

menunjukkan bahwa sisi aktif permukaan kulit buah naga telah jenuh.

Hal ini sesuai dengan teori yang menyatakan bahwa makin lama waktu yang digunakan semakin banyak zat terlarut yang teradsorpsi. Namun, jumlah zat terlarut yang diadsorpsi akan mencapai batas maksimum, karena permukaan biosorben telah tertutupi oleh lapisan ion Cu(II) yang teradsorpsi (Kuraisy, 2008). 0 1 2 3 4 5 6 0 20 40 60 80 100 qe (m g/ g) Waktu (t, menit)

(5)

Untuk penelitian lebih lanjut, waktu yang digunakan ion Cu(II) oleh kulit buah naga adalah pada waktu 10 menit yang merupakan waktu optimum.

Pengaruh pH terhadap Biosorpsi Ion Cu(II) Oleh Kulit Buah Naga (Hylocereus polyrhizus)

Pengaruh pH pada biosorpsi ion Cu(II) oleh kulit buah naga dilakukan antara

pH 2 hingga pH 7 dengan waktu pengadukan selama waktu optimum 10 menit. Penentuan pengaruh pH dari biosorpsi ion Cu(II) oleh biosorben kulit buah naga ditentukan dengan menghitung jumlah ion yang diadsorpsi (Qe) pada

berbagai pH. Hasil penelitian biosorpsi ion Cu(II) ditunjukkan pada Gambar 5.

Jumlah ion Cu(II) yang diadsorpsi oleh kulit buah naga pada pH 2 adalah 0,72 mg/g. Jumlah ini meningkat dan mencapai maksimum pada pH 4 dengan jumlah teradsorpsi menjadi 7,27 mg/g. Setelah melewati pH 4 jumlah yang diadsorpsi cenderung menurun.

Menurut Pravasant, dkk., (2005) rendahnya jumlah ion Cu(II) yang diadsorpsi pada pH rendah karena larutan mengandung ion-ion H+ dengan konsentrasi tinggi sehingga ion Cu(II) bersaing dengan proton dalam interaksi dengan sisi aktif pada permukaan biosorben. Pada pH rendah, permukaan biosorben ditutupi oleh ion-ion H+ yang mencegah ion-ion Cu(II) untuk

mendekati permukaan biosorben tersebut karena adanya gaya tolak.

Dengan bertambahnya pH, konsentrasi ion H+ berkurang dan permukaan adsorben menjadi lebih negatif sehingga ion-ion Cu(II) akan lebih mudah teradsorpsi. Pada pH yang lebih tinggi yaitu pH 5 dan 6 jumlah ion-ion Cu(II) yang diadsorpsi mengalami penurunan selanjutnya cenderung konstan sampai pada pH 7. Penurunan jumlah ion logam yang diserap pada proses adsorpsi pada pH tinggi terjadi sebelum mencapai pH dimana ion logam tersebut mengendap disebabkan oleh terbentuknya kompleks hidroksil terlarut dari ion logam sehingga ion logam tidak bisa lagi berikatan dengan gugus aktif pada adsorben (Ahmad dkk., 2009). Dari data di 0 1 2 3 4 5 6 7 8 0 1 2 3 4 5 6 7 8 qe (m g/ g) pH

Gambar 5. Jumlah Ion Cu(II) yang diadsorpsi oleh Kulit Buah Naga vs pH (t= 10 menit, Co= 100 ppm).

(6)

0 5 10 15 20 0 100 200 300 400 500 Ju m lah io n Cu (II ) y an g di ad so rp si (q e, m g/ g) Konsentrasi Ce (mg/L)

atas pH optimum untuk mengadsorpsi ion logam Cu(II) oleh kulit buah naga adalah pH 4.

Hal ini sama dengan yang dilaporkan oleh Tasaso (2014) pada biosorpsi ion Cu(II) oleh kulit jeruk bali yang optimum pada pH 4, begitupun yang dilaporkan Gulnaz, dkk., (2005) pada biosorpsi ion Cu(II) oleh

sludge aktif kering, Tikupadang (2009) juga

melaporkan pH optimum biosorpsi ion Cu(II) oleh ampas sagu pada pH 4. Penelitian selanjutnya dilakukan pada pH 4.

Kapasitas Biosorpsi Ion Cu(II) Oleh Kulit Buah Naga (Hylocereus polyrhizus)

Jumlah ion Cu(II) yang diadsorpsi oleh kulit buah naga sebagai fungsi dari konsentrasi awal ion Cu(II) diberikan pada Gambar 6. Jumlah ion Cu(II) yang diadsorpsi meningkat dengan meningkatnya konsentrasi awal. Pada rentang konsentrasi yang digunakan, jumlah ion Cu(II) yang diadsorpsi masih terus bertambah yang berarti adsorben belum jenuh. Oleh karena itu penentuan kapasitas adsorpsi dilakukan dengan menggunakan isotermal Langmuir dan Freundlich.

Gambar 7 dan 8 menunjukkan isotermal Langmuir dan Freundlich.

Gambar 7. Isotermal Langmuir dengan variasi Konsentrasi 50 mg/L, 100 mg/L, 150 mg/L, 250 mg/L, 400 mg/L pada pH 4. y = 0.049x + 2.544 R² = 0.995 0 2 4 6 8 10 12 14 16 18 0 50 100 150 200 250 300 Ce /q e Ce

Gambar 6. Jumlah ion Cu(II) yang diadsorpsi oleh kulit buah naga vs konsentrasi ion Cu (II) dalam larutan setelah adsorpsi (t= 10 menit, pH= 4).

(7)

Gambar 8. Isotermal Freundlich dengan variasi konsentrasi 50 mg/L, 100 mg/L, 150 mg/L, 250 mg/L, 400 mg/L pada pH 4.

Dengan membandingkan nilai garis kuadrat terkecil, maka akan dipilih model isotermal adsorpsi yang sesuai. Gambar 7 dan 8 menunjukkan bahwa adsorpsi ion Cu(II) pada kulit buah naga lebih sesuai dengan isotermal adsorpsi Langmuir dimana titiknya cenderung menunjukkan suatu hubungan garis lurus sesuai dengan nilai kuadrat terkecil dimana R2 yang diperoleh (0,995), sedangkan pada isotermal adsorpsi Freundlich diperoleh R2 sebesar 0,968.

Intercept dan slope isotermal dari adsorpsi

Langmuir memberikan nilai kapasitas biosorpsi (Qo) sebesar 20,401 mg/g atau

0,321 mmol/g dan b (intensitas biosorpsi) sebesar 0,02 L/mg

.

Tikupadang (2009) menunjukkan bahwa biosorpsi ion Cu(II) oleh ampas sagu juga sesuai dengan isotermal Langmuir dengan nilai Qo= 10,92 mg/g. Hal yang

sama juga dilaporkan oleh Moo (2010) yang menggunakan ampas tahu sebagai biosorben ion Cu(II) dengan nilai Qo = 7,91 mg/g.

Septiany (2008) menunjukkan bahwa biosorpsi ion Cu(II) oleh biomassa rhizoma

T. hemprichii sesuai dengan isotermal

Langmuir dengan nilai Qo sebesar

37,03 mg/g. Tetapi Lesage, dkk., (2006) menunjukkan bahwa biosorpsi ion Cu(II) oleh tumbuhan Myriophyllum spicatum L. sesuai dengan isotermal Freundlich dengan k = 29 mg/g. Menurut Kojima dan Lee (2001) dalam Pravasant, dkk., (2005), adsorben yang berbeda memberikan karakteristik adsorpsi yang berbeda pula. Oleh karena itu, kesesuaian dari isotermal adsorpsi bergantung pada biosorben yang digunakan.

Hasil Analisis FT-IR

Spektrum FT-IR kulit buah naga sebelum dan sesudah biosorpsi dapat dilihat pada Gambar 9 y = 0.379x + 0.328 R² = 0.968 0 0.2 0.4 0.6 0.8 1 1.2 1.4 0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 lo g qe log Ce

(8)

Gambar 9. Spektrum Hasil Analisa FT-IR Biosorben Kulit Buah Naga (a) Sebelum Kontak dengan Ion Cu(II) dan (b) Setelah Kontak dengan Logam Cu(II)

Beberapa puncak terdetekasi pada sampel sebelum biosorpsi seperti pada sampel 1056,99 cm-1 (ulur C-O), 1643,35 cm-1 (ulur C=O), 2922,16 cm-1 (ulur –CH alifatik) dan 3415,93 cm-1 (ulur –OH). Puncak-puncak tersebut juga diamati pada spektrum setelah biosorpsi kecuali puncak pada 3415,93 cm-1 (ulur –OH) mengalami pergeseran menjadi 3442,94 cm-1. Hal ini menunjukkan adanya interaksi ion Cu(II) dengan gugus hidroksil yang terkandung dalam kulit buah naga. Selain itu pada daerah bilang gelombang 524,64 cm-1 juga mengalami pergerseran menjadi 534,26 cm-1. Pergeseran puncak serapan ini disebabkan karena adanya ikatan antara ion Cu(II) dengan oksigen (regangan Cu-O) (Gatial dkk., 2014).

Berdasarkan hasil analisis FT-IR, interaksi diperkirakan terjadi antara gugus fungsi hidroksil (-OH) yang berasal dari

lignin maupun selulosa dengan ion Cu(II) karena adanya gugus hidroksil (-OH) pada selulosa dan lignin yang tidak terhalangi oleh efek sterik sementara pada pektin, gugus hidroksilnya terhalangi oleh adanya efek sterik dan juga gugus (-OH) pada pektin yang berasal dari gugus (-COOH), oksigen pada gugus (-OH) dan gugus (-CO) memiliki kemampuan yang sama besar untuk menarik elektron karena adanya efek konjugasi sehingga kemungkinan yang bergeser adalah gugus (-CO).

Gambar 10 dan 11 menunjukkan perbedaan energi ikatan pada gugus hidroksil (–OH)1 merupakan lignin yang

terhalangi oleh efek sterik dan gugus (–OH)2

yang tidak terhalangi efek sterik. Perbedaan energi ikatan ini menunjukkan bahwa gugus yang cenderung untuk berikatan dengan ion Cu(II) adalah gugus (–OH)2 yang tidak

terhalangi oleh efek sterik. Gugus (–OH)2 0 50 100 150 200 500 1000 1500 2000 2500 3000 3500 4000 3 4 4 2 .9 4 b a 1 7 3 5 .9 3 5 2 4 .6 4 6 2 4 .9 4 6 6 7 .3 7 8 9 4 .9 7 1 0 3 5 .7 7 1 0 5 6 .9 9 1 1 0 3 .2 8 1 1 5 3 .4 3 1 2 4 7 .9 4 1 3 2 5 .1 0 1 3 7 7 .1 7 1 4 1 5 .7 5 1 6 4 3 .3 5 2 3 3 5 .8 0 2 3 6 0 .8 7 2 9 2 2 .1 6 3 4 1 5 .9 3 8 9 3 .0 4 5 3 4 .2 8 6 2 5 .2 9 6 6 5 .4 4 1 0 5 8 .9 2 1 0 2 6 .7 7 1 1 5 5 .3 6 1 2 4 6 .0 2 1 3 3 0 .8 8 1 3 7 9 .1 0 2 3 3 5 .8 0 2 3 6 0 .8 7 1 4 1 9 .6 1 1 7 3 7 .8 6 1 6 4 3 .3 5 1 1 0 3 .2 8 2 9 2 2 .1 6 bilangan gelombang (cm-1) % T ra n sm ita n 12 a b

(9)

yang energi ikatannya lebih kecil cenderung lebih stabil dan dari strukturnya gugus (–OH)2ini lebih bebas dibandingkan dengan

gugus (–OH)1 yang terhalangi oleh efek

sterik. Reaksi yang diusulkan diberikan pada Gambar 12

Gambar 10. Gugus Hidroksil (–OH) yang terhalangi oleh efek sterik

Gambar 11. Gugus Hidroksil (–OH) yang tidak terhalangi oleh efek sterik 1

2

1

2

Energi Total = 104,602 kcal/mol Energi Total = 74,029 kcal/mol

1

(10)

O O H H O CH2 H OH H OH H O H OH CH2OH H H H OH OH HO OH O OCH3 H3CO O H H O CH2OH H OH H OH H O H OH CH2 H H H OHH O OH OH OH O OCH3 OCH3

Cu

2+ H OH OH OH HO

Gambar 12. Reaksi antara ion Cu(II) dengan gugus lignin dan selulosa KESIMPULAN

Waktu optimum biosorpsi ion Cu(II) oleh kulit buah naga adalah 10 menit, dengan pH optimum adalah 4. Biosorpsi ion Cu(II) oleh kulit buah naga memenuhi isotermal Langmuir dengan nilai Qo sebesar

20,401 mg/g atau 0,321 mmol/g. Gugus fungsi yang terlibat pada biosorpsi ion Cu(II) oleh kulit buah naga yaitu gugus hidroksil (-OH).

DAFTAR PUSTAKA

Ahalya, N., Ramachandra, T.V., dan Kanamadi, RD., 2003, Biosorption of Heavy Metal, Research J. Chem. Environ., 7(4): 71-79.

Ahmad, A., Rafatullal, M., Sulaiman, O., Ibrahim, M.H., Chii, Y.Y., and

Siddique, B.M., 2009, Removal of Cu(II) and Pb(II) ions from aqueous solutions by adsorption on sawdust of Meranti wood, Desalination, 250: 300-310.

(11)

Ashraf, M.A., Maah, M.J., dan Yusoff, I., 2010, Study of Banana peel (Musa sapientum) as a Cationic Biosorben, American-Eurasia, J. Agric. Enviro.

Sci., 8(1): 7-17.

Budiyanto, E., Wardani, A.Y., dan Nirmala, W., 2010, Pemanfaatan Daun Nanas

(Ananas comosus) Sebagai Adsorben Logam Ag Dan Cu Pada Limbah Industri Perak Kotagede, Skripsi tidak

diterbitkan, Jurusan Kimia FMIPA UNY, Yogyakarta

Darmono, 2001, Lingkungan Hidup dan

Pencemaran Hubungannya Dengan Toksikologi Senyawa Logam, UI-Press.

Jakarta.

Gatial, A., Mudra, M., Moncol, J., Dankova, M., Peter, L., and Breza Martin., 2014, Structure and Vibrational Spectra of copper(II) 2 pyridylmethanolate tetrahydrate,

Chemical Papers, 68(7): 940–949.

Gulnaz, O., Saygideger, S., dan Kusvuran, E., 2005, Study of Cu(II) Biosorption by Dried Activated Sludge: Effect of Physico-Chemical Environment and Kinetics Study, J. Hazard. Mat., B120, 193-200

Hawari, A. H., and Catherine N.M., 2006, Biosorption of Lead(II), Cadmium(II), Copper(II) and Nickel(II) by Anaerobic Granular Biomass. Bioresource Technal, 97: 692–700.

Kuraisy, A., 2008, Pemanfaatan Biomassa

Rhizoma Lamun thallasia hemprichii yang Terdapat di Pulau Barrang

Lompo Sebagai Biosorben Ion

Cu(II), Skripsi tidak diterbitkan,

Jurusan Kimia FMIPA UNHAS, Makassar.

Kurniasari, L., 2010, “Pemanfaatan

Mikroorganisme dan Limbah pertanian Sebagai Bahan Baku

Biosorben Logam Berat” Majalah

Ilmiah Fakultas Teknik Universitas Wahid Hasyim Semarang, Jurnal Moment, 6(2): 5-8

Lelifajri, 2010, Adsorpsi Ion Logam Cu(II) Menggunakan Lignin dari Limbah Serbuk Kayu Gergaji, Jurnal Rekayasa Kimia dan Lingkungan ,

7(3): 126-129.

Lesage, E., dkk, 2006, Sorption of Co, Cu, Ni and Zn from Industrial effluents by the submerged aquatic macrophyte Myriophyllum spicatum L., Ecol Eng, 30, 32-325.

Lin, Y.E., Vidic, R.D., Stout, J.E and Yu, V.L., 2002, Negative Effect of High pH on Biocidal Efficacy of Copper and Siver Ions in Cotrolling

Legionella pneumophila, AEM,

68(6): 2711-2715

Mallampati, R., 2013, Biomimetic Synthesis

Of Hydrid Materials For Potential Applications, A Thesis Submitted

For The Degree Of Doctor Of Philosophy, Department Of Chemistry National University Of Singapore, Singapore.

Moo, B.W., 2010, Biosorpsi Logam Cu(II)

dengan Menggunakan Ampas Tahu,

Skripsi tidak diterbitkan, Jurusan Kimia FMIPA UNHAS, Makassar.

(12)

Namal, P., Linda B.I. Lim, Dahri, M.K., dan Tennakoon, D.T.B., 2013,

Dragon Fruit Skin as a Potential

Low-cost Biosorbent for The

Removal of Manganese(II) Ions,

2013, 8(3): 178-188.

Pravasant, P., Apiratikul, R., Sungkhum, V., Suthiparinyanont, P., Wattanachira, S., and Marhaba, T. F., 2005, Biosorption of Cu2+, Cd2+, Pb2+, and Zn 2+ using dried marine green macro alga Caulerpa lentillifera.

Biores. Technol.

Septiany, I., 2008, Pemanfaatan Biomassa

Rhizoma Lamun thallasia hemprichii

yang Terdapat di Pulau Barrang

Lompo Sebagai Biosorben Ion

Cu(II), Skripsi tidak diterbitkan,

Jurusan Kimia FMIPA UNHAS, Makassar.

Tasaso, P., 2014, Adsorption of Copper Using Pomelo Peel and Depectinated Pomelo Peel, J. Clean. Energy.

Technol., 2(2): 154-157.

Tikupadang, L.J., 2009, Biosorpsi Ion Logam Cu(II) Oleh Ampas Sagu,

Skripsi tidak diterbitkan, Jurusan Kimia FMIPA UNHAS, Makassar.

Gambar

Gambar 4. Jumlah ion Cu(II) yang diadsorpsi vs waktu kontak dengan biosorben kulit buah naga (C o = 100 ppm, pH=  5,1).
Gambar  5.  Jumlah  Ion  Cu(II)  yang  diadsorpsi  oleh  Kulit  Buah  Naga vs  pH (t=  10  menit, C o = 100 ppm).
Gambar  7. Isotermal  Langmuir  dengan  variasi  Konsentrasi  50  mg/L,  100  mg/L,  150  mg/L, 250 mg/L, 400 mg/L pada pH 4
Gambar  8.  Isotermal  Freundlich  dengan  variasi  konsentrasi  50  mg/L,  100  mg/L,  150  mg/L, 250 mg/L, 400 mg/L pada pH 4.
+3

Referensi

Dokumen terkait

Manusia terinfeksi Salmonella typhi secara fecal - oral, biasanya melalui makanan yang kurang terjaga kebersihannya dan atau kurang masak.. Salmonella typhi adalah bakteri

Kementerian Urusan Agama Islam, Wakaf, Da’wah dan Irsyad Kerajaan Saudi Arabia.. Al-Quran Dan

Pelaksanaan bimbingan konseling pasca nikah untuk membantu miskomunikasi suami-istri di BP4 sudah sangat baik sekali antara konselor dan klien, karena peran konselor di BP4 sangat

hal ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang positif antara dzikir dengan kontrol diri pada musyrifah ma‟had sunan ampel al-ali UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.. Saran

Min daripada soalan kajian persepsi pelajar terhadap penilaian latihan industry dikategorikan sebagai tinggi dan ini membuktikan kualiti penilaian yang dilaksanakan

Peran kepala sekolah dalam meningkatkan kompetensi profesional guru di SD Negeri 1 Manjung, Sawit Boyolali Tahun Pelajaran 2016/2017yaitu: a) Kepala Sekolah sebagai edukator

menunjukkan angka -72 dBm. Namun demikian, nilai tersebut adalah batas sensitivitas notebook yang digunakan. Hasil pengukuran yang dilakukan pada ruang bersekat,

Dalam tautan dengan konteks sosial budaya Manggarai yang melatari penggunaannya, secara maknawi, satuan kebahasaan dalam ungkapan itu menyiratkan seperangkat nilai sebagai