PEMBINAAN PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT DENGAN
METODE PEMBIASAAN DI SEKOLAH DASAR
Wayan Sugandini1, Ni Ketut Erawati2, Made Juliani3
ABSTRACT
Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) or Clean and Healthy Lifestyle in school is one of the government's efforts which are expected to be able to mobilize and empower people to live healthily in an educational environment, but since 1996 until now its realization has not been as expected, as is the case found at SD 5 Panji. Community service in the form of CHL supervision at SD 5 Panji using the habituation method, aims to familiarize teachers, students and all people in the school environment to be accustomed to living clean and healthy. The activities carried out in the form of providing CHL materials and preparing school’s environment for the implementation of CHL. The result of the activity, there was a significant change in the understanding of teachers, students and the community in SD 5 Panji, and every day they were getting used to doing CHL. Through this activity, it is hoped that CHLB can be implemented optimally, so that clean and healthy elementary schools can be realized according to the expectations of the local government, and can improve the general health status of the community.
Keyword : CHLB in schools and Habituation
ABSTRAK
Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di Sekolah merupakan salah satu upaya pemerintah yang diharapkan dapat menggerakkan dan memberdayakan masyarakat untuk hidup sehat di lingkungan pendidikan, namun sejak dilaksanaan tahun 1996 hingga saat ini keberhasilannya belum sesuai harapan, demikian halnya di SD 5 Panji. Pengabdian Kepada Masyarakat berupa pembinaan PHBS di SD 5 Panji dengan menggunakan metoda pembiasaan bertujuan untuk membiasakan para guru, dan semua masyarakat di lingkungan sekolah terbiasa melakukan hidup bersih dan sehat. Kegiatan yang dilaksanakan berupa pemberian materi PHBS serta menyiapkan lingkungan sekolah yang mendukung untuk pelaksanaan PHBS. Hasil Kegiatan, terjadi perubahan pemahaman para guru, dan masyarakat yang ada di lingkungan SD 5 Panji menjadi lebih baik, serta setiap hari mereka makin terbiasa melakukan PHBS. Melalui kegiatan ini di harapkan PHBS dapat dilaksanakan secara optimal sehingga dapat terwujud sekolah dasar yang bersih dan sehat sesuai harapan pemerintah daerah, dan dapat meningkatkan derajat kesehatan masyarakat secara umum.
Kata kunci: PHBS di Sekolah dengan Pembiasaan PENDAHULUAN
Sehat merupakan dambaan setiap insan, sehat adalah hak azazi setiap insan dan juga merupakan investasi pembangunan sumber daya manusia. Maka dari itu untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia, kesehatan setiap insan perlu dipelihara, dan ditingkatkan, melalui berbagai upaya yang dilakukan oleh semua pihak termasuk pada lingkungan pendidikan yakni sekolah. Anak
sekolah merupakan aset atau modal utama pembangunan dimasa depan, oleh karena itu perlu dijaga, dilindungi haknya untuk mendapatkan kesehatan serta ditingkatkan kesehatannya.
Di Indonesia terdapat 307.655 sekolah yang terdiri dari sekolah negeri, swasta, maupun sekolah berbasis agama dari berbagai tingkatan (Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2018). Masing-masing sekolah sudah memiliki kader kesehatan yang terlatih,
1,2,3 Program Studi Diploma III Kebidanan, Universitas Pendidikan Ganesa Singaraja
yang diharapkan dapat membantu mewujudkan strategi pembangunan kesehatan dari Kementerian Kesehatan dalam menggerakkan dan memberdayakan masyarakat untuk hidup sehat khususnya dilingkungan pendidikan. Untuk mewujudkannya dibentuk suatu program yang kegiatannya difokuskan bagi peningkatan perilaku sehat dalam rangka meningkatkan derajat kesehatan anak sekolah dan warga sekolah lainnya. Usaha ini disebut sebagai Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) ditatanan sekolah.
PHBS sudah dilakukan sejak tahun 1996, evaluasi keberhasilannya menggunakan indikator PHBS tatanan rumah tangga, namun demikian karena rumah tangga saling terkait dengan tatana-tatanan lain maka, pembinaan PHBS juga dilakukan pada tatanan institusi pendidikan, tempat kerja, tempat-tempat umum, dan tatanan fasilitas kesehatan. Keberhasilan yang dicapai sangat jauh dari harapan, dimana renstra Strategis Kementerian Kesehatan menetapkan target pada tahun 2014 rumah tangga yang mempraktikkan PHBS 70%, namun yang tercapai hanya38,7%. Pernyataan ini disampaikan dalam sambutannya oleh Kepala Pusat Promosi Kesehatan Kemenkes RI(Dirjen Kesmas RI, 2011:I). Hal ini menuntut peningkatan yang luar biasa dalam pembinaan, oleh sebab itu pembinaan PHBS harus dilaksanakan di semua tatanan.
Perilaku Hidup Bersih dan Sehat merupakan karakter dari setiap individu, sehingga sangat penting pembinaan ber perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) dilakukan sejak dini yaitu pada usia sekolah dasar melalui Usaha Kesehatan Sekolah (UKS), yang tercantum dalam Keputusan bersama Menteri Pendidikan, Menteri Kesehatan, Menteri Agama, dan Menteri dalam Negeri Nomor 1/u/SKB/2003, Nomor
1067/Menkes/SKB/VII/2003, Nomor
MA/230A/2003, Nomor 26 Tahun 2003 tentang Pembinaan dan Pengembangan Usaha Kesehatan Sekolah(Dirjen Kesmas RI, 2011: IX). Pembinaan PHBS juga merupakan bagian
dari Pengembangan Desa dan Kelurahan Siaga Aktif, merupakan Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1529/Menkes/SK/X/2010, menyatakan bahwa masyarakat di Kelurahan Siaga Aktif wajib melaksanakan PHBS (Dirjen Kesmas RI, 2011:4).
PHBS di sekolah adalah sekumpulan perilaku sehat yang dipraktikkan oleh peserta didik, guru dan masyarakat lingkungan sekolah atas dasar kesadaran sebagai hasil pembelajaran, sehingga secara mandiri mampu meningkatkan kesehatan, berperan aktif dalam mewujudkan lingkungan sekolah yang sehat dan mampu mencegah penyakit. (Dirjen Kesmas RI, 2011:7).
Di kabupaten Buleleng terdapat 9 (sembilan) Kecamatan terdiri dari 19 Kelurahan dan 129 Desa (Kemendagri, 2017), serta terdapat 507 Sekolah Dasar yang terdiri dari sekolah dasar Negeri dan Swasta (PDSPK.
http://sdm.data.kemendikbud.go.id). Dinas
Kesehatan Kabupaten Buleleng sudah melakukan pembinaan PHBS di sekolah Dasar yang ada di Kabupaten Buleleng melalui Puskesmas dan Poskesdes yang ada di wilayah masing-masing, namun masih terdapat beberapa Sekolah Dasar yang belum
melakukan PHBS secara maksimal,
diantaranya adalah Sekolah Dasar Negeri yang berada Desa Panji Kecamatan Sukasada Kabupaten Buleleng.
Dari hasil Pengamatan yang dilakukan pada tanggal 27 November 2019 di 6 (enam) Sekolah Dasar yang terdapat di Desa Panji memang belum melakukan PHBS secara maksimal, dapat dilihat dari tidak digunakan dengan baik tempat cuci tangan yang sudah disediakan, kamar kecil tempat buang air masih kotor dan berbau pesing, siswa tidak dilakukan penimbangan berat badan secara rutin, tempat buang sampah ada namun sangat terbatas, personal hygiene para siswa masih kurang. Hal ini butuh penanganan yang serius, apabila tidak ditangani dengan baik maka berdampak terhadap kualitas kesehatan siswa dan sangat berpengaruh terhadap prestasi akademik para siswa Sekolah Dasar. Hasil
wawancara dari petugas kesehatan di Desa Panji penyakit yang paling sering terjadi pada anak sekolah di Desa Panji adalah penyakit infeksi saluran nafas, infeksi saluran pencernaan (diare), dan penyakit kulit.
Bertolak dari latar belakang tersebut diatas, kami melakukan pengabdian masyarakat di Sekolah Dasar Negeri 5 di Desa Panji Kecamatan Sukasada Kabupaten Buleleng, karena dari enam (6) Sekolah Dasar Negeri yang ada, sekolah tersebut dianggap paling urgent mendapat pembinaan PHBS.
Pembinaan dilakukan dengan
mengimplementasikan Model Pembiasaan untuk meningkatkan Budaya Prilaku Hidup Bersih dan Sehat di Sekolah Dasar, sehingga berdampak terhadap peningkatan derajat kesehatan khususnya masyarakat desa Panji dan pada umumnya masyarakat Buleleng.
Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) adalah sekumpulan perilaku yan dipraktekkan atas dasar kesadaran sebagai hasil pembelajaran, yang menjadikan seseorang, keluarga, kelompok atau masyarakat mampu menolong dirinya sendiri (mandiri) di bidang
kesehatan dan berperan aktif dalam
mewujudkan kesehatan masyarakat (Dirjen Kesmas RI, 2011:7). Dengan demikian, PHBS mencakup beratus-ratus bahkan mungkin beribu-ribu perilaku yang harus dipraktekkan dalam rangka mencapai derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya.
Dalam Buku Pedoman Pembinaan Krida Bina Perilaku Hidup Bersih dan Sehat dari Dirjen Kesehatan Masyarakat Kementerian Kesehatan RI (2018:11-12), Tatanan PHBS meliputi beberapa tatanan, salah satunya adalah tatanan PHBS disekolah. Tatanan PHBS di sekolah adalah upaya untuk memperdayakan siswa, guru dan masyarakat lingkungan sekolah agar tahu, mau dan mampu mempraktikkan perilaku hidup bersih dan sehat serta berperan aktif dalam mewujudkan sekolah ber-PHBS.
PHBS di Sekolah adalah sekumpulan perilaku yang dipraktikkan oleh peserta didik, guru dan masyarakat lingkungan sekolah atas
dasar kesadaran sebagai hasil pembelajaran, sehingga secara mandiri mampu mencegah penyakit, meningkatkan kesehatannya, serta berperan aktif dalam mewujudkan lingkungan sehat. Terdapat beberapa indikator yang dipakai sebagai ukuran untuk menilai PHBS di sekolah yaitu ; 1) mencuci tangan dengan air mengalir menggunakan sabun, 2) mengkonsumsi jajanan sehat di kantin sekolah, 3) menggunakan jamban yang bersih dan sehat, 4) olahraga yang teratur dan terukur, 5) memberantas jentik nyamuk, 6) tidak merokok di sekolah, 7) menimbang berat badan dan mengukur tinggi badan setiap enam bulan, 8) membuang sampah pada tempatnya. Semua indikator tersebut akan dapat dilaksanakan apabila anak-anak sudah terbiasa dilatih sejak dini, tentunya dibutuhkan kedisiplinan dari masing-masing individunya.
Penelitian yang berkaitan dengan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di sekolah sudah banyak dilaksanakan oleh akademisi, hasil yang diperoleh menyatakan pelaksanaan PHBS belum terlaksana dengan baik, dengan alasan yang bervariasi.
Dari beberapa hasil penelitian yang dilakukan pada beberapa sekolah dasar di beberapa daerah, seperti yang dilaksanakan oleh : (1) Fivi Melva D tahun 2014 di Sekolah Dasar Tanjung Balai Karimun, sebagian lebih siswa belum memahami PHBS di sekolah terutama dalam mencuci tangan yang benar, buang air di tempat yang bersih serta pemberantasan sarang nyamuk. Dari hasil analisis diketahui bahwa Pengetahuan siswa berpengaruh terhadap perilaku hidup bersih dan sehat dimakan siswa yang memiliki pengetahuan yang baik tentang PHBS, perilakunya baik dengan pelaksanaan PHBS demikian sebaliknya, (2) Henico P L melaksanakan penelitian tentang PHBS siswa SD di Padang, menyatakan bahwa siswa, guru, dan masyarakat di lingkungan sekolah masih kurang pemahamannya tentang PHBS disekolah, terutama tentang pengukuran berat badan setiap enam bulan, serta siswa menyatakan bahwa tidak pernah melakukan
pemberantasan sarang nyamuk, (3) Titi Sari B, dkk pada tahun 2016 meneliti tentang Hubungan antara Perilaku Hidup Bersih dan Sehat Siswa di bantul menyampaikan hasil, bahwa masih banyak siswa yang belum memahami tentang PHBS di sekolah, sehingga mereka belum sepenuhnya berperilaku hidup bersih dan sehat di sekolah terutama dalam melakukan jajanan sehat di kantin sekolah. Analisi penelitian menyatakan terdapat hubungan antara pengetahuan tentang PHBS dengan pola hidup sehat, (4) Aswadi, dkk tahun 2017 melakukan penelitian pada Sekolah Dasar di Kota Manggarai tentang Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) pada siswa-siswi Sekolah Dasar. Hasil penelitian sekolah memberi tanggapan baik terhadap PHBS dan telah melaksankan PHBS dengan baik, (5) Mutmainah FH, dkk pada tahun 2018 di kota Jember, melaksanakan penelitian tentang Efektivitas Buku PHBS di sekolah dalam meningkatkan PHBS siswa Sekolah Dasar. Intervensi yang dilakukan berupa pemberian materi tentang PHBS kepada siswa sekolah . hasil penelitian menyatakan bahwa pengetahuan dan sikap tentang PHBS setelah dilakukan intervensi siswa memiliki pengetahuan lebih baik dari sebelumnya, dan (6) Titin Nasiatin, dkk pada tahun 2019 meneliti Hubungan Sikap, Peran Guru dan Orang tua dengan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat siswa. Dari penelitian tersebut berhasil menemukan terdapat hubungan yang erat antara Sikap, Peran Guru dan orang tua dengan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat Siswa.
Pada Pengabdian Masyarakat yang di selenggarakan ini dilakukan Pembinaan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat dengan Metode Pembiasaan kepada para guru, siswa, pegawai, dan penjaga sekolah SD Negeri 5 Panji kecamatan Sukasada Kabupaten Buleleng dengan harapan mereka dapat berperan penting dalam melaksanakan PHBS di Sekolah sehingga sekolah menjadi bersih dan sehat serta siswa dan semua yang ada di lingkungan sekolah terjamin kesehatannya.
Menurut Hasnida (2014:15) disiplin
yaitu b a g i a n d a r i pengajaran, bimbingan atau dorongan yang dilakukan oleh orang dewasa, tujuannya menolong anak belajar untuk hidup sebagai makhluk sosial dan untuk mencapai pertumbuhan serta perkembangan mereka secara optimal. Penerapan disiplin yang utama adalah adanya keinginan untuk membentuk menjadi anak yang berguna dan baik. Apabila anak disiplin dalam melakukan setiap tatanan dalam kehidupan maka dia akan selalu melaksanakan dengan baik dan akan menjadi kebiasan yang baik hingga mereka dewasa. Dipandang perlu membiasakan anak sekolah melakukan PHBS di tatanan sekolah sehingga mereka dapat menerapkan berperilaku bersih dimanapun mereka berada.
Pembiasaan dinilai efektif jika penerapannya dilakukan terhadap peserta didik yang berusia kecil. Karena memiliki “rekaman” ingatan yang kuat dan kondisi kepribadian yang belum matang, sehingga mereka mudah terlarut dengan kebiasaan- kebiasaan yang mereka lakukan sehari-hari. “Pengertian pembiasaan dapat diartikan sebagai sebuah metode dalam pendidikan berupa proses penanaman kebiasaan. Inti dari pembiasaan ialah pengulangan. . Ciri khas daripada metode pembiasaan adalah kegiatan yang berupa pengualangan yang berkali-kali dari suatu hal yang sama. Pengulangan ini sengaja dilakukan berkali-kali supaya asosiasi antara stimulus dengan respon menjadi sangat kuat, atau dengan kata lain, tidak mudah dilupakan. Dengan demikian, terbentuklah pengetahuan sikap atau ketrampilan yang setiap saat siap untuk dipergunakan oleh yang bersangkutan. Pembisaan bertujuan untuk pembentukan kebiasaan-kebiasaan baru atau memperbaiki kebiasaan yang sebelumnya. Hukuman dan ganjaran dalam belajar kebiasaan perlu digunakan, agar siswa medapat sikap-sikap dan kebiasaan-kebiasaan baru yang lebih baik dan positif dalam artian tepat dan positif sesuai dengan kebutuhan kontekstual.
Dapat disimpulkan bahwa tujuan metode pembiasaan di sekolah adalah untuk melatih serta membiasakan anak didik secara
konsisten dan kontinyu dengan sebuah tujuan, sehingga benar-benar tertanam pada diri anak dan akhirnya menjadi kebiasaan yang sulit ditinggalkan dikemudian hari.
Dalam Pengabdian Kepada masyarakat ini akan dilakukan kegiatan berupa pemberian materi PHBS di sekolah, dan menyiapkan lingkungan sekolah yang bersih dan sehat, serta pendampingan dalam melaksanakan PHBS di sekolah. Tujuan dari kegiatan tersebut adalah membina para guru, siswa dan masyarakat di lingkungan sekolah agar terbiasa melakukan PHBS di sekolah sehingga kebiasaan tersebut bisa diterapkan terhadap PHBS pada tatanan lainnya.
METODE
Dalam melaksanakan pengabdian kepada masyarakat ini menggunakan metode pelatihan dan pendampingan, dengan tahapan sebagai berikut : 1) Memberikan pendidikan kesehatan tentang PHBS, 2) menyiapkan lingkungan sekolah bersih dan sehat, 3) Pendampingan pelaksanaan PHBS.
pengumpulan data dengan metode wawancara, tes, dan observasi kebiasaan melakukan PHBS oleh para guru, siswa dan masyarakat yang ada di lingkungan sekolah. Instrumen yang digunakan berupa lembar wawancara, kuisioner test, dan lembar observasi. Metode Pembiasaan digunakan dalam pelaksanaan PHBS di sekolah sehari- hari oleh guru terhadap para siswanya.
HASIL DAN PEMBAHASAN
1. Tahap Perencanaan
Pada Pengabdian kepada Masyarakat ini di lakukan Pembinaan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di Sekolah, dengan masyarakat sasarannya adalah siswa, guru, pegawai tata usaha, dan penjaga sekolah di SD 5 Desa Panji, Kecamatan Sukasada Kabupaten Buleleng. Kegiatan PHBS di SD 5 Panji belum dilaksanakan secara optimal dengan demikian memberikan kesempatan kepada kami tim
pengabdi melakukan pembinaan dan pendampingan agar pelaksanaan PHBS dapat dilakukan dengan baik sehingga SD 5 Panji menjadi sekolah dasar Bersih dan sehat sesuai dengan program yang di rancang oleh Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kabupaten Buleleng.
Kegiatan Pengabdian ini diawali dengan permohonan izin kepada pihak – pihak terkait diantaranya Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Buleleng, Kantor Wilayah Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kecamatan Sukasada, dan Kepala Sekolah Dasar Negeri 5 Desa Panji. Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kabupaten Buleleng menyambut baik pengabdian yang akan kami laksanakan di SD 5 Panji dan mengatakan bahwa pengabdian yang akan kami laksanakan seiring dengan program Disdikpora Kabupaten Buleleng yaitu Sekolah Dasar Bersih dan Sehat, yang dilaksanakan pembinaan setiap tahun bergantian di Sekolah dengan kategori yang sudah ditentukan. SD 5 Panji termasuk salah satu SD yang termasuk kriteria untuk dibina namun pada tahun ini belum mendapat giliran. Pada dasarnya bapak kadisdikpora mengijinkan PKM dilaksanakan di SD 5 Panji, namun beliau berpesan agar tetap melakukan protokol kesehatan dan untuk sasarannya guru, tenaga administrasi dan penjaga sekolah, sedangkan siswa agar diwakili oleh beberapa orang siswa dari masing-masing kelas mengingat masih merebaknya kasus covid19. Dari perwakilan tersebut diharapkan dapat memberikan teladan kepada siswa yang lain ketika sudah mulai belajar lagi di sekolah apabila pandemi sudah berlalu dan pemerintah mengijinkan sekolah dibuka kembali.
Pertemuan pertama dilaksanakan di SD 5 Panji dengan bapak kepala sekolah, para guru termasuk guru UKS, dan tim pengabdi. Tujuan pertemuan ini adalah menjelaskan kegiatan yang akan dilaksanakan oleh tim selama pengabdian kurun waktu tertentu. Ketua tim menjelaskan kegiatan yang akan dilaksanakan selama pengabdian berupa pembinaan perilaku
hidup bersih dan sehat kepada guru, siswa, pegawai dan penjaga sekolah dengan metode pembiasaan, kegiatan berupa penyampaian materi tentang indikator PHBS, dampak jika
sekolah tidak menerapkan PHBS,
pendampingan melaksanakan perilaku hidup bersih dan sehat, menciptakan lingkungan sekolah yang bersih dan sehat, serta membiasakan semua orang yang ada di lingkungan sekolah melakukan PHBS.
Tujuan akhir yang ingin dicapai dari kegiatan pembinaan ini adalah siswa, guru dan masyarakat di lingkungan sekolah terbiasa melakukan hidup bersih dan sehat, seperti : mencuci tangan pada air mengalir menggunakan sabun pada tempat yang sudah disediakan, membuang air di WC yang bersih dan sehat; para siswa belanja di kantin sekolah yang sehat, para siswa berolahraga secara teratur; para siswa membuang sampah pada tempat yang sudah disediakan; berat badan siswa dan tinggi badan di ukur setiap 6 bulan; pihak sekolah dan siswa melakukan kebersihan lingkungan secara rutin dan terjadual; dan tidak ada siswa, guru dan pegawai yang merokok di lingkungan sekolah. Pada pertemuan tersebut diperoleh kesepakatan antara tim pengabdi dan kepala sekolah serta guru UKS kegiatan bahwa, pengabdian akan dilaksanakan seperti jadual di bawah ini.
Tabel 1. Rencana Pembinaan PHBS di SD 5 Panji
Waktu Kegiatan Pelaksana
Tanggal Pendidikan Tim 24-7-2020 Kesehatan Pengabdi Penyuluhan
PHBS
Tanggal Gotong Tim 7-8-2020 Royong Pengabdi Pendamp Guru Tanggal 28-8-2020 Evaluasi Tim Pengabdi
Jadwal tersebut disepakati untuk dilaksanakan sesuai dengan yang telah ditentukan dan bila ada halangan maka akan dilaksanakan koordinasi. Karena situasi dunia sedang mengalami pandemi covid19 siswa SD di kabupaten buleleng pada bulan juli belum efektif melaksanakan pembelajaran maka pendidikan kesehatan tentang PHBS di SD 5 Panji diberikan kepada para guru, perwakilan siswa, pegawai, dan penjaga sekolah. Harapan kami kedepannya para guru dan wakil siswa yang akan melanjutkan kepada siswa lainnya. Pelaksanaannya akan dikoordinir oleh guru UKS. Pendidikan kesehatan diharapkan dapat dilaksanakan sesuai waktu yang telah ditetapkan dan dengan tetap menerapkan protokol kesehatan.
2. Tahap Pelaksanaan
Pelaksanaan kegiatan pokok dimulai tanggal 24 juli 2020 pukul 08.30 wita diawali dengan sambutan dari bapak kepala sekolah. Selanjutnya dilaksanakan pendidikan kesehatan tentang PHBS oleh tim pengabdi kepada para guru, pegawai, dan penjaga sekolah. Sebelum penyuluhan dimulai terlebih dahulu dilakukan pre test dengan memberikan kuisioner kepada peserta yang memuat pertanyaan berkaitan dengan perilaku hidup bersih dan sehat. Kemudian setelah peserta selesai menjawab kuisioner pemberian materi dilaksanakan oleh ketua tim dan anggota dibantu oleh mahasiswa D3 Kebidanan dengan menggunakan media power point dan film animasi tentang perilaku hidup bersih dan sehat di sekolah, cara mencuci tangan yang benar dengan menggunakan sabun pada air yang mengalir, serta memperkenalkan Senam Nangun Sat Kerthi Loka Bali agar di gunakan memenuhi salah satu indikator PHBS di sekolah yaitu olahraga secara teratur.
Gambar 1. Pendidikan kesehatan pada siswa
Gambar 2. Pendidikan Kesehatan pada Guru
Guru, siswa, pegawai, dan penjaga sekolah yang mengikuti pendidikan kesehatan berjumlah 35 orang dengan kriteria seperti di bawah ini:
Tabel 2 Peserta Pendidikan Kesehatan tentang PHBS di Sekolah
Kategori jumlah prosentase Guru 10 28,6 Siswa 23 65,7 Pegawai/TU 1 2,85 Penjaga sekolah 1 2,85 Total 35 100
Jumlah peserta keseluruhan 35 orang yang terdiri dari guru, siswa, pegawai dan penjaga sekolah.
Kegiatan selanjutnya berupa gotong royong membersihkan lingkungan sekolah oleh tim pengabdi dan para guru, pegawai, dan penjaga sekolah, serta mahasiswa D3 Kebidanan didampingi oleh bapak kepala sekolah. Kegiatan saat itu dilaksanakan sekalian pemberantasan sarang nyamuk dan pendampingan pelaksanaan PHBS. Kegiatan yang dilakukan pada tanggal 7 Agustus 2020 dimulai pukul 08.30 wita, diawali dengan
koordinasi dan pembagian tugas. Kegiatan yang dilaksanakan berupa; 1) menata ruangan UKS dengan tujuan agar ruangan UKS di fungsikan kembali untuk tempat istirahat sementara apabila ada siswa yang mengalami masalah kesehatan ketika mengikuti pelajaran di kelas sambil menunggu dijemput oleh orang tuanya atau sambil menunggu keputusan apakah perlu tindakan lebih lanjut atau di rujuk ke Puskesmas Pembantu, sedangkan tujuan lainnya adalah agar diaktifkan kembali kegiatan menimbang berat badan siswa secara rutin setiap enam bulan agar diketahui pertumbuhan dan perkembangan para siswanya, karena menimbang berat badan rutin setiap enam bulan merupakan salah satu indikator dari PHBS, 2) membersihkan WC Sekolah bertujuan agar semua yang ada di lingkungan sekolah buang air pada WC yang sehat sehingga tidak mencemari lingkungan sekolah oleh bau yang tidak sedap, karena sangat mempengaruhi kesehatan para siswa dan berdampak kepada prestasi belajar mereka, 3) menyiapkan tempat cuci tangan berupa wastafel yang lengkap dengan deterjen dan tissu, agar para siswa dan semua yang ada di lingkungan sekolah mau mencuci tangan sebelum dan sesudah melakukan aktivitas yang pada masa pandemi sangat urgent dilakukan sehingga dapat membantu upaya pemerintah dalam pencegahan penularan covid19, 4) menyiapkan tempat sampah agar para siswa membuang sampah pada tempat yang sudah disediakan, meskipun belum bisa terpenuhi tempat sampah yang sesuai dengan fungsinya, karena masih menunggu anggaran untuk pengadaan tempat sampah tersebut, 5) Pemberantasan sarang nyamuk. Semua kegiatan yang dilaksanakan mengacu kepada indikator PHBS di tatanan sekolah sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan RI No: 2269/MENKES/PER/XI/2011(Kemenkes.2011 ). Pada saat ini belum bisa dilaksankan pembinaan kepada seluruh siswa yang ada hanya dilakukan pada perwakilan kelas saja, karena situasi pandemi namun selanjutnya guru dan perwakilan siswa sebagai perpanjangan
tangan akan menyampaikan kepada siswa lainnya baik materi, praktik serta berjanji akan membimbing para siswa agar terbiasa melakukan PHBS. Dalam upaya melancarkan tugas guru, membiasakan siswa ber PHBS maka, hal yang dapat kami lakukan adalah menyiapkan lingkungan sekolah yang mendukung pelaksanaan kedepannya.
Gambar 3. Gotong Royong 3. Evaluasi
Evaluasi hasil kegiatan PKM dilaksanakan setelah semua kegiatan dilaksanakan sesuai rencana awal. Setelah pemberian materi dilakukan evaluasi tentang pemahaman sasaran tentang PHBS di sekolah mengenai delapan indikator yang sudah disampaikan serta dampaknya apabila para siswa, guru dan orang yang berada di lingkungan sekolah tidak melakukan PHBS. Evaluasi dilakukan dengan metode post test, yaitu memberika peserta menjawab test yang sudah diberika diawal sebelum penyuluhan dilaksanakan. Hasil evaluasi menunjukkan peserta mampu memahami dengan baik PHBS di sekolah setelah diberikan materi oleh tim PKM. Tabel. 3 Distribusi Frekuensi nilai pre test
No Rentang
Nilai Frekuensi Prosentase
1 40-49 12 34,3
2 50-59 14 40
3 60-69 6 17,1
4 70-79 3 8,6
5 Total 35 100
Hasil rata-rata hitung nilai tes sebelum penyampaian materi PHBS adalah 53.
Kemudian di lakukan penjelasan tentang PHBS di sekolah dengan delapan indikator serta dampaknya jika tidak melalukan PHBS di sekolah.
Setelah dilakukan Pendidikan Kesehatan dan Penyuluhan hasil Evaluasi sebagai berikut. Tabel.4 Distribusi Frekuensi Nilai Post Test
No Rentang
Nilai Frekuensi Prosentase
1 60-69 3 8,6
2 70-79 9 25,7
3 80-89 20 57,1
4 90-100 3 8,6
Total 35 100
Setelah diberikan penjelasan tentang PHBS di sekolah perolehan rata-rata nilai meningkan menjadi 81. Dari hasil pretest dan post test dapat disimpulkan bahwa peserta telah memahami dengan baik materi yang telah disampaikan. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Mutmainah FH, dkk (2018) di kota Jember yang menyatakan bahwa pengetahuan dan sikap tentang PHBS setelah dilakukan intervensi siswa memiliki pengetahuan lebih baik dari sebelumnya. Indikaor PHBS merupakan kegiatan yang dilaksanakan setiap hari oleh masyarakat, namun masih terkendala dengan kedisiplinan sehingga mereka kurang terbiasa melakukan hal yang mesti dilakukan untuk menjaga agar mereka tetap sehat. Hanya dengan memberikan review materi saja peserta sudah dapat memahami dengan baik tentang PHBS, hanya saja untuk menerapkan dibutuhkan ketekunan dilakukan setiap saat sesuai dengan keadaan dan yang paling penting ada yang bisa memberikan contoh dalam penerapannya. Hal ini sesuia dengan pernyataan dari Amin (2015:57) menyebutkan bahwa jika dilaksanakan secara rutin maka anak akan terbiasa melakukan sesuatu dengan baik, dan dilakukan dengan spontan tanpa ada rangsangan, hal ini menunjukkan anak sudah terbiasa melakukan sesuatu terutama sikap sopan santun, serta hal itu biasanya di teladani dari orang tua dan guru.
Selain melakukan evaluasi terhadap kemampuan memahami materi tentang PHBS, juga dilakukan evaluasi terhadap perilaku sasaran dalam menjalankan kehidupan di sekolah terkait dengan PHBS. Evaluasi hasil pembinaan dilakukan dengan metode observasi yaitu mengamati lingkungan sekolah SD 5 Panji setelah dilakukan pembinaan PHBS, berupa; Tersedianya tempat cuci tangan yang memadai, tempat buang air para siswa, guru dan orang yang ada di lingkungan sekolah tetap terjaga kebersihannya, tempat membuang sampah tersedia setiap saat dalam keadaan bersih, ruang UKS terjaga kebersihannya, terpasang jargon larangan merokok. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa lingkungan sekolah SD 5 Panji sudah bersih dan telah tersedia semua sarana yang dibutuhkan untuk melaksanakan PHBS di sekolah jika siswa sudah mulai melakukan pembelajaran langsung di sekolah. Semua yang dilaksanakan oleh guru, siswa, pegawai dan penjaga sekolah sudah menunjukkan sikap yang positif terhadap pelaksanaan PHBS setelah diberi materi tentang PHBS oleh tim pengabdi, hal ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan di Jember oleh Fivi Melva Diana (2014) yang menyatakan bahwa pengetahuan berpengaruh terhadap perilaku PHBS. Dibawah ini bukti kesiapan SD 5 Panji melaksanakan PHBS.
Gambar 4. Tempat cuci tangan
Salah satu indikator PHBS (Promkes. 2016) adalah mencuci tangan dengan air mengalir menggunakan sabun, hal ini telah lama diketahui oleh masyarakat umum bahwa mencuci tangan merupakan salah satu cara pencegahan dan perlindungan diri terhadap kuman penyakit. Guru, peserta didik, dan masyarakat sekolah selalu
mencuci tangan sebelum makan, sesudah buang air besar/sesudah buang air kecil, sesudah beraktivitas, dan atau setiap kali tangan kotor dengan memakai sabun dan air bersih yang mengalir. Air bersih yang mengalir akan membuang kuman-kuman yang ada pada tangan yang kotor, sedangkan sabun selain membersihkan kotoran juga dapat membunuh kuman yang ada di tangan.
PHBS dilakukan sejak dini yaitu pada usia sekolah dasar melalui Usaha Kesehatan Sekolah (UKS), yang tercantum dalam Keputusan bersama Menteri Pendidikan, Menteri Kesehatan, Menteri Agama, dan Menteri dalam Negeri Nomor 1/u/SKB/2003, Nomor 1067/Menkes/SKB/VII/2003, Nomor MA/230A/2003, Nomor 26 Tahun 2003 tentang Pembinaan dan Pengembangan Usaha Kesehatan Sekolah. Ruang UKS di SD 5 Panji sudah tertata rapi.
Gambar 5. Ruang UKS tertata rapi
Menggunakan Jamban sehat termasuk indikator penting dalam penerapan PHBS di sekolah (Promkes.2016). Kebersihan jamban mutlak diperlukan untuk mencegah penularan bakteri dan virus penyebab penyakit diantara warga sekolah yang menggunakannya. Selain kebersihan dari jamban, daya tahan tubuh pengguna juga menjadi faktor penentu penularan penyakit. Sehingga diperlukan jamban yang memenuhi syarat jamban sehat.
Gambar 6. Jamban Sekolah bersih
Gambar.7 Tersedia Tempat sampah
Sampah merupakan media
menumpuknya bakteri dan virus penyebab penyakit. Peserta didik/guru/masyarakat sekolah membuang sampah ke tempat sampah yang tersedia. Sekolah sebaiknya menyediakan tempat sampah yang terpilah antara sampah organik, non-organik, dan sampah bahan berbahaya. Sampah selain kotor dan tidak sedap dipandang juga mengandung berbagai kuman penyakit. Membiasakan membuang sampah pada tempat sampah yang tersedia
akan sangat membantu peserta
didik/guru/masyarakat sekolah terhindar dari berbagai kuman penyakit. Membuang sampah pada tempatnya merupakan perbuatan baik yang positif yang harus dijadikan sebagai suatu kebiasaan sehari-hari agar dapat menjadi teladan bagi orang lain. SD 5 Panji belum menyediakan tempat sampah yang terpilah pada saat ini, namun pada tahun selanjutnya akan berupaya menyediakan dengan menggunkan dana pada tahun tersebut.
Indikatotor PHBS yang lainnya seperti larangan merokok di sekolah sudah ada dan selanjutnya akan di pasang pada lingkungan sekolah oleh guru UKS, namun untuk kantin sehat belum bisa dilakukan pembinaan karena selama masa pandemi kantin tidak beroperasi. Pembinaan kantin akan dilakukan oleh bapak kepala sekolah dengan menyarankan agar pengelola kantin menyediakan makanan sehat untuk para siswa. untuk pelaksanaan olahraga
sudah diberikan vidio senam Nangun Sat Kerthi Loka Bali kepada guru olahraga, yang akan digunakan nanti mengisi kegiatan senam dalam rangka memenuhi indikator olahraga secara teratur dan terukur.
Kegiatan Pemberantasan sarang nyamuk dilaksanakan dengan membersihkan lingkungan sekolah bersama para guru, pegawai dan penjaga sekolah, tujuan dari membersihkan sarang nyamuk adalah Memberantas jentik di lingkungan sekolah dilakukan dengan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) melalui kegiatan: menguras dan menutup tempat-tempat penampungan air, mengubur barang-barang bekas, dan menghindari gigitan nyamuk.
SIMPULAN
Kegiatan PKM yang dilaksanakan di SD Negeri 5 panji yang melibatkan guru, siswa, pegawai dan penjaga sekolah yang ada di lingkungan sekolah secara umum dapat berjalan dengan baik dan lancar. Dilihat dari hasil evaluasi yang dilaksanakan dapat disimpulkan bahwa guru, siswa, Pegawai, dan penjaga sekolah di lingkungan sekolah sudah memahami dengan baik PHBS di sekolah. Dengan mencermati hasil observasi, sekolah sudah melaksankan pembiasaan PHBS delapan indikator PHBS secara bertahap kepada para siswanya.
DAFTAR RUJUKAN
Amin, M Maswardi. 2015. Pendidikan Karakter Anak Bangsa.Yogyakarta: Hak Cipta.
Aswadi, dkk. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) pada Siswa-Siswi SDK
Rita Kecamatan Kota Komba
Kabupaten Manggarai Timur Provinsi Nusa Tenggara Timur. Jurnal Al-Siah 2017. Volume IX Hal 187-196. Diunduh 25-1-2020
Banun TS. Hubungan antara PHBS dengan Pola Hidup Sehat Siswa di Kota Bantul.
Jurnal Pendidikan Guru Sekolah Dasar. 2016. Edisi 14. Halaman 1-9. Diakses 20-12-2019
Diana FM. Pelaksanaan Program PHBS di SD Negeri 001 Tanjung Balai Karimun. Jurnal Kesehatan Masyarakat 2014. Volume 8 no 1. Halaman 46-51. Diakses 25-11-2019
Dirjen Kesmas RI (2011). Pedoman Perilaku Hidup Bersih dan Sehat. Jakarta: Kemenkes RI
Dirjen Kesmas RI (2018). Pedoman Pembinaan Krida Perilaku Hidup Bersih dan Sehat. Jakarta: Kemenkes RI
Djaali. 2013. Psikologi Pendidikan.Jakarta: Bumi Aksara.
Hasnida. 2014. Analisis Kebutuhan Anak Usia Dini. Jakarta: Luxima
Kemendikbud (2018). Jumlah Sekolah
Menurut Jenjang Tahun Ajaran
2017/2018. http://databoks.
Katadata.co.id. diakses tanggal 28 November 2019.
Kemendagri (2017). Peraturan Menteri dalam Negeri Nomor 137 Tahun 2017 tentang Kode dan Data Wilayah Administrasi Pemerintah. http://id.m.wikipedia. Diakses tanggal 28 November 2019 Mulyasa. 2012. Manajemen Pendidikan
Karakter. Jakarta: Bumi Aksara. Mutmainah FH, dkk. Efektivitas Buku Saku
PHBS di Sekolah dalam Meningkatkan PHBS. Jurnal Kesehatan. 2018. Volume 6 No 2. Halaman 46-53. Diakses 25-1-2020
Nasiatin T, dkk. Determinasi PHBS pada Siswa Sekolah Dasar Negeri. Faletehan Health Journal. 2019. Volume 6(3). Hal 118-124. Diakses 12-12-2020
PDSPK (2018). Data Sekolah Negeri dan
Swasta di Indonesia.
http://sdm.data.kemendikbud.go.id.
Diakses tanggal 28 November 2019. PromKes. 2016. Perilaku Hidup Bersih dan
Sehat.
http://promkes.kemkes.go.id/feed/rss.php
?cat=gm . diakses tanggal 28 November
2019
Taryatman. 2016. Budaya Hidup Bersih dan Sehat di Sekolah Dasar untuk Membangun Generasi Muda yang Berkarakter. Jurnal Ke-SD-an. 2016. Volume 3 No 1. Halaman 8-13. Diakses 29-3-2020