[Type the company name]|Kks Bagian Radiologi RSUD DR.RM.Djoelham Binjai 1
BAB I PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Sistem reproduksi merupakan hal utama yang diperlukan untuk memiliki keturunan dan memenuhi kebutuhan seksual manusia dewasa. Tetapi pengetahuan tentang reproduksi seharusnya didapat sejak dini untuk pengetahuan agar tidak menjadi topik yang tabu dikalangan masyarakat sebab dari reproduksi itu sendiri banyak sekali masalah yang ditimbulkan jika terjadi ketidaktahuan terutama tentang hal-hal berbahaya seperti penularan penyakit.1
Kelainan anatomi serta penyakit infeksi pada sistem reproduksi terutama pada pria yang belum banyak diketahui dimasyarakat ternyata telah banyak terjadi di kalangan masyarakat kelas manapun.2
Penyakit infeksi pada system reproduksi mempunyai penyebaran yang sangat cepat. Karena setiap manusia pasti memiliki kebutuhan masing-masing mengenai reproduksi.Salah satu penyakit pada sistem reproduksi terutama pada pria adalah penyakit infeksi epididimitis yaitu peradangan pada epididimis yang bias bersifat akut dan kronik. Hal ini bisa menimbulkan berbagai masalah seperti timbulnya nyeri dan bengkak disertai dengan timbulnya indurasi pada skrotum. Apabila tidak segera dilakukan intervensi maka akan menimbulkan komplikasi yang membahayakan nyawa. Untuk mencegah agar komplikasi ini tidak terjadi pada pasien yaitu adanya penatalaksanaan yang cepat dan tepat.3
[Type the company name]|Kks Bagian Radiologi RSUD DR.RM.Djoelham Binjai 2 Adapun yang berperan dalam menangani pasien dengan epididimitis ini yaitu dokter bedah, perawat, serta tenaga medis yang lain.4
1.2 TUJUAN A. Tujuan Umum
Mangetahui masalah-masalah yang terjadi pada system reproduksi pria
B. Tujuan Khusus
1. Mengetahui definisi epididimitis. 2. Mengetahui etiologi pada epididimitis.
3. Mengetahui manifestasi klinis dari epididimitis. 4. Bagaimanakah patofisiologi dari epididimitis ?
5. Apakah pemeriksaan penunjang yang harus dilakukan pada epididimitis ? 6. Apakah penatalaksanaan dari epididimitis ?
7. Apakah komplikasi dari epididimitis ?
8. Bagaimanakah pencegahan dari epididimitis ? 9. Apakah prognosa dari epididimitis ?
C. RUMUSAN MASALAH
1. Apakah definisi dari epididimitis ? 2. Apakah etiologi dari epididimitis ?
3. Apakah manifestasi klinis dari epididimitis ? 4. Bagaimanakah patofisiologi dari epididimitis ?
5. Apakah pemeriksaan penunjang yang harus dilakukan pada epididimitis ? 6. Apakah penatalaksanaan dari epididimitis ?
[Type the company name]|Kks Bagian Radiologi RSUD DR.RM.Djoelham Binjai 3 7. Apakah komplikasi dari epididimitis ?
8. Bagaimanakah pencegahan dari epididimitis ? 9. Apakah prognosa dari epididimitis ?
1 . 4 M A N F A A T
Agar mahasiswa lebih mengerti tentang definisi dan masalah pada individu yang mengalami Epididimitis.
[Type the company name]|Kks Bagian Radiologi RSUD DR.RM.Djoelham Binjai 4
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2 .1 ANATOMI FISIOLOGI ALAT REPRODUKSI PRIA 5
Gambar. anatomi reproduksi pria sistem reproduksi pria meliputi organ-organ reproduksi, spermatogenesis dan hormon pada pria.
Organ reproduksi pria terdiri atas organ reproduksidalam dan organ Reproduksi luar:
A. Organ Reproduksi Dalam5
Organ reproduksi dalam pria terdiri atas testis, saluran pengeluaran dan kelenjar asesoris.
1. Testis5
Testis (gonad jantan) berbentuk oval dan terletak didalam kantung pelir (skrotum). Testis berjumlah sepasang (testes = jamak). Testis
[Type the company name]|Kks Bagian Radiologi RSUD DR.RM.Djoelham Binjai 5 terdapatdi bagian tubuh sebelah kiri dan kanan. Testis kiri dan kanan dibatasi olehsuatu sekat yang terdiri dari serat jaringan ikat dan otot polos. Fungsi testis secara umum merupakan alat untuk memproduksi sperma dan hormon kelamin jantan yang disebut testoteron.
2. Saluran Pengeluaran 5
Saluran pengeluaran pada organ reproduksi dalam pria terdiri dari epididimis, vas deferens, saluran ejakulasi dan uretra.
Epididimis
Epididimis merupakan saluran berkelok-kelok di dalam skrotum yang keluar dari testis. Epididimis berjumlah sepasang disebelah kanan dan kiri. Epididimis berfungsi sebagai tempat penyimpanan sementara sperma sampai sperma menjadi matang dan bergerak menuju vas deferens. Vas deferens
Vas deferens atau saluran sperma (duktus deferens) merupakan saluran lurus yang mengarah ke atas dan merupakan lanjutan dari epididimis. Vas deferens tidak menempel pada testis dan ujung salurannya terdapat di dalam kelenjar prostat. Vas deferens berfungsi sebagai saluran tempat jalannya sperma dari epididimis menuju kantung semen atau kantung mani (vesikula seminalis).
Saluran ejakulasi
Saluran ejakulasi merupakan saluran pendek yang menghubungkan kantung semen dengan uretra. Saluran ini berfungsi untuk mengeluarkan sperma agar masuk ke dalam uretra.
[Type the company name]|Kks Bagian Radiologi RSUD DR.RM.Djoelham Binjai 6 Uretra
Uretra merupakan saluran akhir reproduksi yang terdapat didalam penis. Uretra berfungsi sebagai saluran kelamin yang berasal dari kantung semen dan saluran untuk membuang u rin dari kantung kemih.
3. Kelenjar Asesoris 5
S e l a m a s p e r m a m e l a l u i s a l u r a n p e n g e l u a r a n , t e r j a d i p e n a m b a h a n berbagai getah kelamin yang dihasilkan oleh kelenjar asesoris. Getah-getah ini berfungsi untuk mempertahankan kelangsungan hidup dan pergerakan sperma. Kelenjar asesoris merupakan kelenjar kelamin yang terdiri dari vesikula seminalis, kelenjar prostat dan kelenjar Cowper.
Vesikula seminalis
Vesikula seminalis atau kantung semen (kantung mani) merupakan kelenjar berlekuk-lekuk yang terletak di belakang kantung kemih. Dinding vesikula seminalis menghasilkan zat makanan yang merupakan sumber makanan bagi sperma.
Kelenjar prostat
Kelenjar prostat melingkari bagian atas uretra dan terletak di bagian bawah kantung kemih. Kelenjar prostat menghasilkan getah yang mengandung kolesterol, garam dan fosfolipid yang berperan untuk kelangsungan hidup sperma.
[Type the company name]|Kks Bagian Radiologi RSUD DR.RM.Djoelham Binjai 7 Kelenjar Cowper
Kelenjar Cowper (kelenjar bulbouretra) merupakan kelenjar yang salurannya langsung menuju uretra. Kelenjar Cowper menghasilkan getah yang bersifat alkali (basa).
B. Organ Reproduksi Luar 6
Organ reproduksi luar pria terdiri dari penis dan skrotum. 1. Penis 6
Penis terdiri dari tiga rongga yang berisi jaringan spons. Dua rongga yang terletak di bagian atas berupa jaringan spons korpus kavernosa. Satu rongga lagi berada di bagian bawah yang berupa jaringan spons korpus spongiosum yang membungkus uretra. Uretra pada penis dikelilingi oleh jaringan erektil yang rongga-rongganya banyak mengandung pembuluh darah dan ujung-ujung saraf perasa. Bila ada suatu rangsangan, rongga tersebut akan terisi penuh oleh darah sehingga penis menjadi tegang dan mengembang (ereksi).
2. Skrotum 6
Skrotum (kantung pelir) merupakan kantung yang di dalamnya berisi testis. Skrotum berjumlah sepasang, yaitu skrotum kanan dan skrotum kiri. Di antara skrotum kanan dan skrotum kiri dibatasi oleh sekat yang berupa jaringan ikat dan otot polos (otot dartos). Otot dartos berfungsi untuk menggerakkan skrotum sehingga dapat mengerut dan mengendur. Di dalam skrotum juga tedapat serat-serat otot yang berasal dari penerusan otot lurik dinding perut yang disebut otot kremaster. Otot ini bertindak sebagai pengatur suhu lingkungan testis agar
[Type the company name]|Kks Bagian Radiologi RSUD DR.RM.Djoelham Binjai 8 kondisinya stabil. Proses pembentukan sperma (spermatogenesis) membutuhkan suhu yang stabil, yaitu beberapa derajat lebih rendah dari pada suhu tubuh.
Gambar. Anatomi sperma
3. Spermatogenesis6
Spermatogenesis terjadi di dalam testis, tep atnya pada tubulus seminiferus. Spermatogenesis mencakup pematangan sel epitel germinal dengan melalui proses pembelahan dan diferensiasi sel .Yang mana bertujuan untuk membentuk sperma fungsional. Pematangan sel terjadi di tubulus seminiferus yang kemudian disimpan di epididimis. Dinding tubulus seminiferus tersusun dari jaringan ikat dan jaringan epitelium germinal (jaringan epitelium benih) yang berfungsi pada saat spermatogenesis. Pintalan-pintalan tubulus seminiferus terdapat di dalam ruang-ruang testis (lobulus testis). Satu testis umumnya mengandung sekitar 250 lobulus testis. Tubulus seminiferus terdiri dari sejumlah besar sel epitel germinal (sel epitel benih) yang disebut spermatogonia (spermatogonium= tunggal). Spermatogonia
[Type the company name]|Kks Bagian Radiologi RSUD DR.RM.Djoelham Binjai 9 terletak di dua sampai tiga lapisan luar sel -sel epitel tubulus seminiferus.6
Spermatogonia terus-menerus membelah untuk meperbanyak diri, sebagian dari spermatogonia berdiferensiasi melalui tahap-tahap perkembangan tertentu untuk membentuk sperma. Pada tahap pertama spermatogenesis, spermatogonia yang bersifat diploid (2n atau mengandung 23 kromosom berpasangan), berkumpul ditepi membrane epitel germinal yang disebut spermatogenia tipe A. Spermatogenia tipe A membelah secara mitosis menjadi spermatogoniatipe B. Kemudian, setelah beberapa kali membelah, sel-sel ini akhirnya menjadi spermatosit primer yang masih bersifat diploid. 6
Setelah melewati beberapa minggu, setiap spermatosit primer membelah secara miosis membentuk dua buah spermatosit sekunder yang bersifat haploid. Spermatosit sekunder kemudian membelah lagi secara meiosis membentuk empat buah spermatid. Spermatid merupakan calon sperma yang belum memiliki ekor dan bersifat haploid (n atau mengandung 23 kromosom yang tidak berpasangan). Setiap spermatid akan berdiferensiasi menjadi spermatozoa (sperma).6
Proses perubahan spermatid menjadi sperma disebut spermiasi. Ketika spermatid dibentuk pertama kali, spermatid memiliki bentuk seperti sel-sel epitel. Namun, setelah spermatid mulai memanjang menjadi sperma, akan terlihat bentuk yang terdiri dari kepala dan ekor. Kepala sperma terdiri dari sel berinti tebal dengan hanya sedikit sitoplasma. Pada bagian membrane permukaan di ujung kepala sperma terdapat selubung tebal yang disebut akrosom. Akrosom mengandung
[Type the company name]|Kks Bagian Radiologi RSUD DR.RM.Djoelham Binjai 10 enzim hialuronidase dan proteinase yang berfungsi u ntuk menembus lapisan pelindung ovum. Pada ekor sperma terdapat badan sperma yang terletak di bagian tengah sperma. Badan sperma banyak mengandung mitikondria yang berfungsi sebagai penghasil energy untuk pergerakan sperma. Semua tahap spermatogenesis terjadi karena adanya pengaruhsel-sel sertoli yang memiliki fungsi khusus untuk menyediakan makanan dan mengatur proses spermatogenesis. 6
C. Hormon Pada Pria 7
Proses spermatogenesis distimulasi oleh sejumlah hormone, yaitu testoteron, LH (Luteinizing Hormone), FSH (Follicle Stimulating Hormone),estrogen dan hormon pertumbuhan.
1. T e s t o t e r o n 7
Testoteron disekresi oleh sel-sel Leydig yang terdapat di antara tubulus seminiferus. Hormon ini penting bagi tahap pembelahan sel-sel germinal untuk membentuk sperma, terutama pembelahan meiosis untuk membentuk spermatosit sekunder.
2. LH (Luteinizing Hormone)7
LH disekresi oleh kelenjar hipofisis anterior. LH berfungsi menstimulasi sel-sel Leydig untuk mensekresi testoteron.
[Type the company name]|Kks Bagian Radiologi RSUD DR.RM.Djoelham Binjai 11 FSH juga disekresikan oleh sel-sel kelenjar hipofisis anterior dan berfungsi menstimulasi sel-sel sertoli. Tanpa stimulasi ini, pengubahan spermatid menjadi sperma (spermiasi) tidak akan terjadi.
4. E s t r o g e n7
Estrogen dibentuk oleh sel-sel sertoli ketika distimulasi oleh FSH. Sel-sel sertoli juga mensekresi suatu protein pengikat androgen yang mengikat testoteron dan esterogen serta membawa keduanya kedalam cairan pada tubulus seminiferus. Kedua hormone ini tersedia untuk pematangan sperma.
5. Hormon Pertumbuhan 7
Hormon pertumbuhan diperlukan untuk mengatur fungsi metabolism testis. Hormone pertumbuhan secara khusus meningkatkan pembelahan awal pada spermatogenesis.
[Type the company name]|Kks Bagian Radiologi RSUD DR.RM.Djoelham Binjai 12
BAB III PEMBAHASAN
3.1 DEFINISI EPIDIDIMITIS 8
Epididimitis merupakan suatu proses inflamasi yang terjadi pada epididimis. Epididimis merupakan suatu struktur berbentuk kurva (koil) yang menempel di belakang testis dan berfungsi sebagaitempat penyimpanan sperma yang matur.8
Berdasarkan timbulnya nyeri, epididimitis dibedakanmenjadi epididimitis akut dan kronik. Epididimitis akut memiliki waktu timbulnya nyeri dan bengkak hanya dalam beberapa hari sedangkan pada epididimitis kronik, timbulnya nyeri dan peradangan pada epididimis telah berlangsung sedikitnya selama enam minggu disertai dengan timbulnya indurasi pada skrotum.8
Perkiraan insiden epididimitis di Amerika Serikat mencapai sekitar 600.000 kasus epididimitis pada laki-laki (0,69%). Insiden infeksi tertinggi dilaporkan pada laki-lakiumur 16-30 tahun, disertai oleh mereka yang berumur 51-70 tahun. Hal itu terkait dengan penyebab epididimitis yang dapat terjadi karena faktor riwayat aktivitas seksual, hygiene dan penyakit degenerative seperti prostat. Epididimitis yang terjadi pada g o l o n g a n u s i a m u d a s e b a g i a n besar juga merupakan penjalaran dari uretritis (infeksi uretra). Oleh karena
[Type the company name]|Kks Bagian Radiologi RSUD DR.RM.Djoelham Binjai 13 itu perlu diketahui riwayat a k t i v i t a s s e k s u a l y a n g b e r h u b u n g a n d e n g a n terjadinya epididimitis.9
Gambar. Proses inflamasi pada epididimis
3.2 ETIOLOGI 4,9
Bermacam penyebab timbulnya epididimitis tergantung dari usia pasien, sehingga penyebab dari timbulnya epididimitis dibedakan menjadi :
Infeksi bakteri non spesifik
Bakteri coliforms (misalnya E coli, Pseudomonas, Proteus, Klebsiella) menjadi penyebab umum terjadinya epididimitispada anak-anak, dewasa dengan usia lebih dari 35 tahun dan homoseksual. Ureaplasma urealyticum, Corynebacterium ,Mycoplasma and Mima polymorpha juga dapat ditemukan pada golongan penderita tersebut. Infeksi yang disebabkan oleh Haemophilus influenza dan meningitis sangat jarang terjadi.
[Type the company name]|Kks Bagian Radiologi RSUD DR.RM.Djoelham Binjai 14 Penyakit Menular Seksual
Chlamydia merupakan penyebab tersering pada laki-laki
berusia kurang dari 35 tahun dengan aktivitas seksual aktif. Infeksi yang disebabkan oleh Neisseria gonorrhoeae, Treponema pallidum, Trichomonas dan Gardnerella vaginalis juga sering terjadi pada populasi ini.
Virus
Virus menjadi penyebab yang cukup dominan pada anak-anak. Pada epididimitis yang disebabkan oleh virus tidak didapatkan adanya pyuria. Mumps merupakan virus yang sering menyebabkan epididimitis selain coxsackie virus A dan varicella.
Tuberkulosis
Epididimitis yang disebabkan oleh basil tuberkulosis sering terjadi di daerah endemis TB dan menjadi penyebab utama terjadinya TB urogenitalis.
Penyebab infeksi lain (seperti brucellosis, coccidioidomycosis, blastomycosis, cytomegalovirus (CMV), candidiasis, CMV pada HIV dapat terjadi pada individu dengan system imun tubuh yang rendah atau menurun.
O b s t r u k s i ( s e p e r t i B P H , m a l f o r m a s i u r o g e n i t a l ) m e m i c u terjadinya refluks.
Vaskulitis (seperti Henoch-Schönlein purpura pada anak-anak) sering menyebabkan epididimitis akibat adanyaproses infeksi sistemik.
[Type the company name]|Kks Bagian Radiologi RSUD DR.RM.Djoelham Binjai 15 Penggunaan Amiodarone dosis tinggi
Amiodarone adalah obat yang digunakan pada kasusaritmia jantung dengan dosis awal 600 mg/hari – 800 mg/ hariselama 1 – 3 minggu secara bertahap dan dosis pemeliharaan400 mg/hari. Penggunaan Amiodarone dosis tinggi ini (lebih dari 200 mg/hari) akan menimbulkan antibodi amiodarone HCLyang kemudian akan menyerang epidididmis sehinggatimbullah gejala epididimitis. Bagian yang sering terkena adalahbagian cranial dari epididimis dan kasus ini terjadi pada 3-11 % pasien yang menggunakan obat amiodarone.
Prostatitis
Prostatitis merupakan reaksi inflamasi pada kelenjar prostat yang dapat disebabkan oleh bakteri maupun non bakteri yang dapat menyebar ke skrotum, menyebabkan timbulnya epididimitis dengan rasa nyeri yang hebat, pembengkakan, kemerahan dan jika disentuh terasa sangat nyeri. G e j a l a y a n g j u g a s e r i n g menyertai adalah nyeri di selangkangan, daerah antara penis dan anus serta punggung bagian bawah, demam dan menggigil. Pada pemeriksaan colok dubur didapatkan prostat yang membengkak dan terasa nyeri jika disentuh. Prostatektomi dapat menimbulkan epidimitis karena terjadinya infeksi
preoperasi pada traktus urinarius. Hal initerjadi pada 13% kasus yang dilakukan prostatektomi suprapubik.
[Type the company name]|Kks Bagian Radiologi RSUD DR.RM.Djoelham Binjai 16 Kateterisasi dan instrumentasi
Terjadinya epididimitis akibat tindakan kateterisasi maupun pemasangan instrumentasi dipicu oleh adanya infeksi pada urethra yang menyebar hingga ke epididimis.
3.3 PATOFISIOLOGI 5,9
Disebabkan oleh aliran balik dari urin yang mengandung bakteri dari uretra pars prostatiakm menuju epididimis melalui duktus ejakulatorius vesika seminalis, ampula dan vas deferens. Oleh karena itu, penyumbatan yang terjadi di prostat dan uretra serta adanya anomali kongenital pada bagian genito-urinaria sering menyebabkan timbulnya epididimitis karena tekanan tinggi sewaktu miksi. Setiap kateterisasi maupun instrumentasi seperti sistoskopi merupakan faktor resiko yang sering menimbulkan epididimitis bakterial.
Infeksi berawal di kauda epididimis dan biasanya meluas ke tubuh dan hulu epididimis. Kemudian mungkin terjadi orkitis melalui radang kolateral. Tidak jarang berkembang abses yang dapat menembus kulit dorsal skrotum. Jarang sekali epididimitis disebabkan oleh refluks dari jalan kemih akibat tekanan tinggi intra abdomen karena cedera perut.
[Type the company name]|Kks Bagian Radiologi RSUD DR.RM.Djoelham Binjai 17
Skema Patologi Epididimitis 7,9
Infeksi bakteri nonspesifik (E.Coli, pseudomonas,dll) Virus ( mumps, varisella, dll) Bakteri PMS (Clamidia, N.Gonorhea, dll) Vaskulitis, Prostatitis, Prostatektomi
Refluk dari vas Deferens ke epididimis
Kateterisasi tidak steril
Infeksi menyerang ke uretra Menyerang epididimis
EPIDIDIMITIS
Inflamasi
Merangsang ujung saraf eferen nyeri Merangsang thermosial di hipotalamus Peningkatan suhu Hipotermi
Pembengkakan pada epididimis
Muncul infiltrat
Memenuhi rongga skrotum
Pembengkakan pada skrotum
Skrotum terasa berat dan perih
Takut melakukan hubungan seksual
[Type the company name]|Kks Bagian Radiologi RSUD DR.RM.Djoelham Binjai 18
3.4 MANIFESTASI KLINIS 5,9
A. GEJALA KLINIS
Gejala yang timbul tidak hanya berasal dari infeksi local namun juga berasal dari sumber infeksi yang asli. Gejala yang sering berasal dari sumber infeksi asli seperti duh uretra dan nyeri atau itching pada uretra (akibat uretritis), nyeri panggul dan frekuensi miksi yang meningkat, dan rasa terbakar saat miksi (akibat infeksi pada vesika urinaria yang disebut Cystitis), demam, nyeri pada daerah perineum, frekuensi miksi yang meningkat, urgensi, dan rasa perih dan terbakar saat miksi (akibat infeksi pada prostat yang disebut prostatitis), demam dan nyeri pada regio flank (akibat infeksi pada ginjal yang disebut pielonefritis).
Gejala lokal pada epididimitis berupa nyeri pada skrotum. Nyeri mulai timbul dari bagian belakang salah satu testis namun dengan cepat akan menyebar ke seluruh testis, skrotum dan kadang kala ke daerah inguinal disertai peningkatan suhu badan yang tinggi. Biasanya hanya mengenai salah satu skrotum saja dan tidak disertai dengan mual dan muntah.
B. TANDA KLINIS 4,9
Tanda klinis pada epididimitis yang didapat saat melakukan pemeriksaan fisik adalah :
Pada pemeriksaan ditemukan testis pada posisi yang normal, ukuran kedua testis sama besar, dan tidak terdapat peninggian pada salah satu testis dan epididimis membengkak di permukaan dorsal testis yang sangat nyeri.
[Type the company name]|Kks Bagian Radiologi RSUD DR.RM.Djoelham Binjai 19 Setelah beberapa hari, epididimis dan testis tidak dapat diraba terpisah karena bengkak yan g juga meliputi testis. Kulit skrotum teraba panas, merah dan bengkak karena adanya udem dan infiltrat. Funikulus spermatikus juga turut meradang menjadi bengkak dan nyeri.
Hasil pemeriksaan refleks kremaster normal
Phren sign bernilai positif dimana nyeri dapat berkurang bila skrotum diangkat ke atas karena pengangkatan ini akan mengurangi regangan pada testis. Namun pemeriksaan ini kurang spesifik.
Pembesaran kelanjar getah bening di regio inguinalis.
P a d a c o l o k d u b u r m u n g k i n d i d a p a t k a n t a n d a p r o s t a t i t i s kronik yaitu adanya pengeluaran sekret atau nanah setelah dilakukan masase prostat.
B i a s a n y a d i d a p a t k a n e r i t e m a d a n s e l u l i t i s p a d a s k r o t u m yang ringan
Pada anak-anak, epididimitis dapat disertai dengan anomaly kongenital pada traktus urogenitalis seperti ureter ektopik, vas deferens ektopik, dll.
[Type the company name]|Kks Bagian Radiologi RSUD DR.RM.Djoelham Binjai 20
3.5 PEMERIKSAAN LABORATORIUM 4,9
Pemeriksaan laboratorium yang dapat digunakan untuk mengetahui adanya suatu infeksi adalah:
Pemeriksaan darah dimana ditemukan leukosit meningkat dengan shift to the left (10.000-30.000/µl)
K u l t u r u r i n d a n p e n g e c a t a n g r a m u n t u k k u m a n p e n y e b a b infeksi
Analisa urin untuk melihat apakah disertai pyuria atau tidak Tes penyaringan untuk klamidia dan gonorhoeae.
K u l t u r d a r a h b i l a d i c u r i g a i t e l a h t e r j a d i i n f e k s i s i s t e m i k pada penderita
3.6 PEMERIKSAAN RADIOLOGIS 7,9
Sampai saat ini, pemeriksaan radiologis yang dapat digunakan adalah : 1. Color Doppler Ultrasonography7,9
Pemeriksaan ini memiliki rentang kegunaan yang luas dimana pemeriksaan ini-lebih banyak digunakan
untuk membedakan epididimitis dengan penyebab akut skrotum lainnya. Keefektifan pemeriksaan ini dibatasi oleh nyeri dan ukuran
anatomi pasien (seperti ukuran bayi berbeda dengan dewasa)
Pemeriksaan menggunakan ultrasonografi dilakukan
untuk melihat aliran darah pada arteri testikularis. Pada epididimitis, aliran darah pada arteri testikularis cenderung meningkat.
[Type the company name]|Kks Bagian Radiologi RSUD DR.RM.Djoelham Binjai 21 Ultrasonografi juga dapat dipakai untuk mengetahui adanya abses
skrotum sebagai komplikasi dari epididimitis.
Kronik epididimitis dapat diketahui melalui pembesaran testis dan epididimis yang disertai penebalan tunika vaginalis dimana hal ini akan menimbulkan gambaran echo yang heterogen pada ultrasonografi.
Gambar. Color Doppler Ultrasonography
Acute epididymitis in a 9-year-old boy with scrotal pain and redness. Longitudinal US scan shows that the epididymal head and body (arrows) are enlarged and hypoechoic relative to the normal testis (T). Wall thickening (*) and reactive hydrocele (h) are also seen. Power Doppler imaging showed increased perfusion of the epididymis.
[Type the company name]|Kks Bagian Radiologi RSUD DR.RM.Djoelham Binjai 22 Gambar. Color Doppler ultrasonography showing epididymitis and cyst.
Gambar. This ultrasonogram shows an enlarged epididymis with heterogeneous echotexture in a case of acute epididymitis.
[Type the company name]|Kks Bagian Radiologi RSUD DR.RM.Djoelham Binjai 23 Gambar. Color-flow ultrasonogram shows increased vascularity in the epididymis. An
enlarged epididymis with increased vascularity in the appropriate clinical setting is diagnostic of acute epididymitis.
Gambar. Transverse ultrasonogram of the testis shows an enlarged and predominantly hypoechoic epididymis with a reactive hydrocele in a patient with acute epididymitis.
[Type the company name]|Kks Bagian Radiologi RSUD DR.RM.Djoelham Binjai 24 2. Nuclear Scintigraphy 7,9
P e m e r i k s a a n i n i m e n g g u n a k a n t e c h n e t i u m - 9 9 t r a c e r d a n dilakukan untuk mengkonfirmasi hasil pemeriksaan aliran darah yang meragukan dengan memakai ultrasonografi.
Pada epididimitis akut, akan terlihat gambaran peningkatan penangkapan kontras
Memiliki sensitivitas dan spesifitas 90 -100% dalam menentukan daerah iskemia akibat infeksi.
Pada keadaan skrotum yang hiperemis akan timbul diagnosis negative palsu
Keterbatasan dari pemeriksaan ini adalah harga yang mahal dan sulit dalam melakukan interpretasi
3. Vesicouretrogram (VCUG), cystourethroscopy, dan USG abdomen 7,9
Pemeriksaan ini digunakan untuk mengetahui suatu anomaly congenital pada pasien anak-anak dengan bakteriuria dan epididimitis.
[Type the company name]|Kks Bagian Radiologi RSUD DR.RM.Djoelham Binjai 25 Table Selected Differential Diagnosis of Acute Scrotum 10
Condition Typical presentation Examination findings Ultrasound findings Epididymitis Gradual onset of pain
that occasionally radiates to the lower abdomen; symptoms of lower urinary tract infection
Localized epididymal tenderness that progresses to testicular swelling and tenderness; normal
cremasteric reflex; pain relief with testicular elevation (Prehn sign)
Enlarged, thickened epididymis with increased blood flow on color Doppler
Orchitis Abrupt onset of testicular pain
Testicular swelling and tenderness; normal cremasteric reflex
Testicular masses or swollen testicles with hypoechoic and hypervascular areas Testicular
torsion
Acute onset of pain, usually severe
High-riding transversely oriented testis; abnormal cremasteric reflex; pain with testicular elevation
Normal-appearing testis with decreased blood flow on color Doppler
3.7 DIAGNOSIS 7,9
Diagnosis epididimitis dapat ditegakkan melalui : a ) A n a m n e s a
b) Pemeriksaan fisik
c) Pemeriksaan Laboratorium d) Pemeriksaan penunjang lainnya
[Type the company name]|Kks Bagian Radiologi RSUD DR.RM.Djoelham Binjai 26
3.8 DIAGNOSIS BANDING 4,9
Diagnosis banding epididimitis meliputi : 1 . O r k i t i s
Gambar. Orkhitis
Orkitis adalah peradangan pada testis yang disebabkan oleh virus parotitis. Jika terjadi pada pria dewasa dapat menyebabkan infertilitas. Etiologi :
Kuman patogen Bakteri
Non spesifik : C.Trachomatis Spesifik : M..Tuberculosa Virus : Mumps
[Type the company name]|Kks Bagian Radiologi RSUD DR.RM.Djoelham Binjai 27 2. Hernia inguinalis inkarserata4 , 9
Hernia merupakan protusi/penonjolan isi rongga melalui defek atau bagian lemah dari dinding rongga yang bersangkutan.
Gambar. Hernia Inkaserata
3 . T o r s i o t e s t i s4 , 9
Torsio testis adalah terpeluntirnya funikulus spermatikus yang berakibat terjadinya gangguan aliran darah pada testis. Keadaan ini diderita oleh 1 diantara 4000 pria yang berumur kurang dari 25 tahun, dan paling banyak diderita oleh anak pada masa pubertas (12-20 tahun). Di samping itu tidak jarang janin yang masih berada di dalam uterus atau bayi baru lahir menderita torsio testis yang tidak terdiagnosis sehingga mengakibatkan kehilangan testis baik unilateral ataupun bilateral.
[Type the company name]|Kks Bagian Radiologi RSUD DR.RM.Djoelham Binjai 28 Gambar. Torsio testis
Perbedaan antara torsio testis dan epididimitis dapat dilihat pada tabel di bawah ini.
Diagnosis of Selected Conditions Responsible for the Acute Scrotum6
Condition Onset of symptoms Age Tenderness Urinalysis Cremasteric reflex Treatment Testicular torsion Acute Early puberty Diffuse - + Surgical exploration Epididymitis Insidious Adolesce
[Type the company name]|Kks Bagian Radiologi RSUD DR.RM.Djoelham Binjai 29 4 . S e m i n o m a t e s t i s1 1
Tumor testis merupakan pertumbuhan yang tidak terkontrol dari sel-sel testis yang telah mengalami transformasi (abnormal), yang bisa menyebabkan testis membesar atau menyebabkan adanya benjolan di dalam skrotum (kantung zakar). Pertumbuhan sel-sel tumor ini dapat cepat ataupun lambat. Tumor testis bisa berasal dari sel germinal atau jaringan stroma testis.
G a m b a r . S e m i n o m a t e s t i s
[Type the company name]|Kks Bagian Radiologi RSUD DR.RM.Djoelham Binjai 30
Tabel. Diagnosis Banding Pembesaran Skrotum yang Lazim Dijumpai12
Diagnosis Umur Lazim (Tahun) Transiluminasi Eritema Skrotum Nyeri
Epididimitis Semua umur Tidak Ya Berat
Torsio testis < 35 Tidak Ya Berat
Tumor testis < 35 Tidak Tidak Minimal
Hidrokel Semua umur Ya Tidak Tidak ada
Spermatokel Semua umur Ya Tidak Tidak ada
Hernia Semua umur Tidak Tidak Tidak ada sampai
sedang*
Varikokel > 15 Tidak Tidak Tidak ada
* Kecuali kalau mengalami inkarserasi, di mana nyerinya mungkin berat
3.9 PENATALAKSANAAN 9,12
Penatalaksanaan epididimitis meliputi dua hal yaitu penatalaksanaan medis dan bedah, berupa :
a. Penatalaksanaan Medis
Antibiotik digunakan bila diduga adanya suatu proses infeksi. Antibiotik yang sering digunakan adalah :
Fluorokuinolon, namun penggunaannya telah dibatas karena terbukti resisten terhadap kuman gonorhoeae
[Type the company name]|Kks Bagian Radiologi RSUD DR.RM.Djoelham Binjai 31 Levofloxacin atau ofloxacin untuk mengatasi infeksi klamidia
dan digunakan pada pasien yang alergi penisilin
Doksisiklin, azithromycin, dan tetrasiklin digunakan untuk men gatasi infeksi bakteri non gonokokal lainnya
Penanganan epididimitis lainnya berupa penanganan suportif, seperti : P e n g u r a n g a n a k t i v i t a s
Skrotum lebih ditinggikan dengan melakukan tirah baring total selama dua sampai tiga hari untuk mencegah regangan berlebihan pada skrotum.
K o m p r e s e s
P e m b e r i a n a n a l g e s i k d a n N S A ID
Mencegah penggunaan instrumentasi pada urethrae.
b. Penatalaksanaan Bedah9,12
Penatalaksanaan di bidang bedah meliputi : Scrotal exploration
Tindakan ini digunakan bila telah terjadi komplikasi dari epididimitis dan orchitis seperti abses, pyocele, maupun terjadinya infark pada testis. Diagnosis tentang gangguan intrascrotal baru dapat ditegakkan saat dilakukan orchiectomy.
[Type the company name]|Kks Bagian Radiologi RSUD DR.RM.Djoelham Binjai 32 Gambar. Scrotal exploration
Epididymectomy9,12
Tindakan ini dilaporkan telah berhasil mengurangi nyeri disebabkan oleh kronik epididimitis pada 50% kasus.
[Type the company name]|Kks Bagian Radiologi RSUD DR.RM.Djoelham Binjai 33 Epididymotomy9,12
Tindakan ini dilakukan pada pasien dengan epididimitis akut supurativa.
3.10 KOMPLIKASI 8,12
Komplikasi dari epididimitis adalah :
a . A b s e s d a n p y o c e l e p a d a s k r o t u m b . I n f a r k p a d a t e s t i s
c. Epididimitis kronis dan orchalgia
d. Infertilitas sekunder sebagai akibat dari inflamasi atau pun obstruksi dari duktus epididimis
e. Atrofi testis yang diikuti hipogonadotropik hipogonadism f. F i s t u l a k u t a n e u s
3.11 PENCEGAHAN 8,12
Pemberian profilaksis
Menjaga hygiene alat kelamin Menggunakan alat pelindung Tidak mlakukan hubungan seksual
[Type the company name]|Kks Bagian Radiologi RSUD DR.RM.Djoelham Binjai 34
3.12 PROGNOSIS8,12
Epididimitis akan sembuh total bila menggunakan antibiotik yang tepat dan adekuat serta melakukan hubungan seksual yang aman dan mengobati partner seksualnya. Kekambuhan epididimitis pada seorang pasien adalah hal yang biasa terjadi. Jika epididimitis tidak diobati maka akan memperparah kondisi dan dapat berlangsung dalam waktu lama (kronis)
[Type the company name]|Kks Bagian Radiologi RSUD DR.RM.Djoelham Binjai 35
BAB IV PENUTUP
4.1 KESIMPULAN
Epididimitis akut dapat dianggap sebagai infeksi asendens saluran kemih. Epididimitis sering ditemukan sebagai penyulit infeksi saluran kemih. Oleh karena itu, obstruksi uretra distal dari prostat sering menyebabkan timbulnya epididimitis karena tekanan tinggi sewaktu miksi. Setiap kateterisasi atau instrumentasi, seperti sistoskopi pada pasien dengan uretrisis, beresiko terjadinya epididimitis bacterial.
Beragam masalah penyakit infeksi pada system reproduksi pria yang telah dibahas dalam makalah ini diantaranya penyakit epididimitis yang menimbulkan masalah dengan manifestasi klinis yang berbeda-beda sesuai dengan factor penyebab timbulnya penyakit.
Penatalaksanaan yang harus dilakukan pun menyesuaikan dengan tingkat keparahan penyakit bahkan dibutuhkan tindakan pembedahan. Epididimitis dimana penyakit infeksi tersebut merupakan penyakit yang mudah penularannya tetapi mengakibatkan efek masalah yang mempengaruhi nyawa karena komplikasi yang ditimbulkan.
[Type the company name]|Kks Bagian Radiologi RSUD DR.RM.Djoelham Binjai 36
4.2 SARAN
Pengetahuan mengenai kelainan anatomi dan penyakit epididimitis pada organ reproduksi pria penting dan wajib untuk diketahui bagi mahasiswa kedokteran. Diharapkan makalah ini dapat menjadi sumber informasi mengenai anatomi dan infeksi epididimitis pada organ reproduksi pria utamanya bagi mahasiswa kedokteran
[Type the company name]|Kks Bagian Radiologi RSUD DR.RM.Djoelham Binjai 37
DAFTAR PUSTAKA
1. Bloom & Fawcett,12. 1994. Buku Ajar Histologi . Jakarta: EGC. 2. Putz.R, R. Pabst,22. 2006. Sobotta Jilid 2 . Jakarta: EGC.
3. Purnomo, B. B. 2000. Dasar-dasar Urologi . Jakarta: CV Info Medika. 4. R.Sjamsuhidajat, Wim De Jong. 2002. Buku Ajar Ilmu Bedah Jilid 2.
Jakarta : EGC 5. http://www.scribd.com/doc/53010792/EPIDIDIMITIS#download 6. http://www.scribd.com/doc/93407676/Regio-Pelvis 7. http://medicalera.com/info_answer.php?thread=5416 8. http://www.google.co.id/search?hl=id&pq=penyakit+tentang+testis&cp=2 8&gs_id=91&xhr=t&q=makalah+tentang+epididimitis&bav=on.2,or.r_gc. r_pw.r_qf.&biw=1040&bih=636&um=1&ie=UTF-8&tbm=isch&source=og&sa=N&tab=wi 9. http://ml.scribd.com/doc/88898026/EPIDEDEMITIS 10. www.aafp.org/afp/2009/0401/p583.html 11. http://www.darrylvirgiawan-blog.com/2008/07/g-ambaran-usg-pada-tumor-testis-darryl.html 12. http://dokterkecil.wordpress.com/2008/11/03/hernia/
[Type the company name]|Kks Bagian Radiologi RSUD DR.RM.Djoelham Binjai 38