LP Tumor Colli

22 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

KONSEP DASAR MEDIS KONSEP DASAR MEDIS A.

A. DefenisiDefenisi

Dalam pengertian umum tumor adalah benjolan atau pembengkakan dalam Dalam pengertian umum tumor adalah benjolan atau pembengkakan dalam tubuh. Dalam pengertian khusus tumor adalah benjolan yang disebabkan oleh tubuh. Dalam pengertian khusus tumor adalah benjolan yang disebabkan oleh neoplasma.

neoplasma.

Tumor atau Neoplasma adalah massa abnormal dari sel-sel yang mengalami Tumor atau Neoplasma adalah massa abnormal dari sel-sel yang mengalami  proliferasi.

 proliferasi. Sel-sel Sel-sel neoplasma neoplasma berasal berasal dari dari sel-sel sel-sel yang yang sebelumnya sebelumnya adalah adalah sel-selsel-sel normal, namun selama mengalami perubahan neoplastik mereka memperoleh normal, namun selama mengalami perubahan neoplastik mereka memperoleh derajat otonomi tertentu yaitu sel neoplastik tumbuh dengan kecepatan yang tidak derajat otonomi tertentu yaitu sel neoplastik tumbuh dengan kecepatan yang tidak terkoordinasi dengan kebutuhan hospes dan fungsi yang sangat tergantung pada terkoordinasi dengan kebutuhan hospes dan fungsi yang sangat tergantung pada  pengawasan homeostatis sebagian besar sel tubuh lainnya.

 pengawasan homeostatis sebagian besar sel tubuh lainnya.

Tumor colli adalah setiap massa baik congenital maupun didapat timbul di Tumor colli adalah setiap massa baik congenital maupun didapat timbul di segitiga anterior atau posterior leher diantara klavikula pada bagian inferior dan segitiga anterior atau posterior leher diantara klavikula pada bagian inferior dan mandibulae serta dasar tengkorak pada bagian superior. Pada 50% kasus benjolan mandibulae serta dasar tengkorak pada bagian superior. Pada 50% kasus benjolan  pada leher

 pada leher berasal berasal dari dari tiroid 40% tiroid 40% benjolan pada benjolan pada leher diseleher disebabkan oleh babkan oleh keganasan,keganasan, 10% berasal dari peradangan atau kelainan congenital.

10% berasal dari peradangan atau kelainan congenital.

Secara umum tumor colli dapat dibedakan menjadi tiga kategori yaitu: Secara umum tumor colli dapat dibedakan menjadi tiga kategori yaitu: 1.

1. Kelainan kongenital : kista dan fistel leher lateral dan median, seperti hygromaKelainan kongenital : kista dan fistel leher lateral dan median, seperti hygroma colli cysticum, kista dermoid

colli cysticum, kista dermoid 2.

2. Inflamasi atau peradangan : limfadenitis sekunder karena inflamasi banal (acneInflamasi atau peradangan : limfadenitis sekunder karena inflamasi banal (acne faciei, kelainan gigi dan tonsilitis) atau proses infamasi yang lebih spesifik faciei, kelainan gigi dan tonsilitis) atau proses infamasi yang lebih spesifik (tuberculosis, tuberculosis atipik, penyakit garukan kuku, actinomikosis, (tuberculosis, tuberculosis atipik, penyakit garukan kuku, actinomikosis, toksoplasmosis). Disamping itu di leher dijumpai perbesaran kelenjar limfe pada toksoplasmosis). Disamping itu di leher dijumpai perbesaran kelenjar limfe pada  penyakit infeksi umum seperti rubella dan mono

 penyakit infeksi umum seperti rubella dan mononukleosis infeksiosa.nukleosis infeksiosa. 3.

3.  Neoplasma  Neoplasma : : Lipoma, lLipoma, limfangioma, imfangioma, hemangioma hemangioma dan dan paraganglioma paraganglioma caroticumcaroticum yang jarang terdapat (terutama carotid body; tumor glomus caroticum) yang yang jarang terdapat (terutama carotid body; tumor glomus caroticum) yang  berasal

 berasal dari dari paraganglion paraganglion caroticum caroticum yang yang terletak terletak di di bifurcatiobifurcatio carotis,merupakan tumor benigna. Selanjutnya tumor benigna dari kutub bawah carotis,merupakan tumor benigna. Selanjutnya tumor benigna dari kutub bawah glandula parotidea, glandula submandibularis dan kelenjar tiroid. Tumor glandula parotidea, glandula submandibularis dan kelenjar tiroid. Tumor maligna dapat terjadi primer di dalam kelenjar limfe (limfoma maligna), maligna dapat terjadi primer di dalam kelenjar limfe (limfoma maligna), glandula parotidea, glandula submandibularis, glandula tiroidea atau lebih jarang glandula parotidea, glandula submandibularis, glandula tiroidea atau lebih jarang timbul dari pembuluh darah, saraf, otot, jaringan ikat, lemak dan tulang. Tumor timbul dari pembuluh darah, saraf, otot, jaringan ikat, lemak dan tulang. Tumor

(2)

maligna sekunder di leher pada umumnya adalah metastasis kelenjar limfe suatu maligna sekunder di leher pada umumnya adalah metastasis kelenjar limfe suatu tumor epitelial primer disuatu tempat didaerah kepala dan leher. Jika metastasis tumor epitelial primer disuatu tempat didaerah kepala dan leher. Jika metastasis kelenjar leher hanya terdapat didaerah suprac1avikula kemungkinan lebuh besar kelenjar leher hanya terdapat didaerah suprac1avikula kemungkinan lebuh besar  bahwa tumor primemya terdapat ditempat lain di dalam tubu

 bahwa tumor primemya terdapat ditempat lain di dalam tubuh.h. B.

B. EtiologiEtiologi

Etiologi yang terkait dengan tumor colli diantaranya yaitu: Etiologi yang terkait dengan tumor colli diantaranya yaitu: 1.

1. Karsinogen kimiawiKarsinogen kimiawi

Karsinogen yang memerlukan perubahan metobolisme agar menjadi Karsinogen yang memerlukan perubahan metobolisme agar menjadi karsinogen aktif , sehingga, misalnya Aflatoksin B1 pada kacang, vinylklorida karsinogen aktif , sehingga, misalnya Aflatoksin B1 pada kacang, vinylklorida  pada

 pada industri industri plastik, plastik, benzoapiran benzoapiran pada pada asap asap kendaraan kendaraan bermotor, bermotor, kemoterapikemoterapi dalam kesehatan.

dalam kesehatan. 2.

2. Karsinogen fisikKarsinogen fisik

Berkaitan dengan ultraviolet kangker kulit, karena terkana sinar.radiasi Berkaitan dengan ultraviolet kangker kulit, karena terkana sinar.radiasi UV yang dapat menimbulkan dimmer yang merusak rangka fasfodiester DNA, UV yang dapat menimbulkan dimmer yang merusak rangka fasfodiester DNA, misalnya sinar ionisasi pada nuklir, sinar radioaktif, sinar ultraviolet

misalnya sinar ionisasi pada nuklir, sinar radioaktif, sinar ultraviolet 3.

3. Hormon,Hormon,

Hormon merupkan zat yang dihasilkan kelenjer tubuh yang berfungsi Hormon merupkan zat yang dihasilkan kelenjer tubuh yang berfungsi mengatur organ-organ tubuh, pemberian hormone tertentu secara berlebihan mengatur organ-organ tubuh, pemberian hormone tertentu secara berlebihan dapat menyebabkan peningkatan terjadinya beberapa kangker.

dapat menyebabkan peningkatan terjadinya beberapa kangker. 4.

4. Gaya hidup,Gaya hidup,

Gaya hidup yang tidak sehat merupakan salah satu factor pendukukng Gaya hidup yang tidak sehat merupakan salah satu factor pendukukng kangker, misalnya diet, merokok, alcohol

kangker, misalnya diet, merokok, alcohol 5.

5. GenetikGenetik

Walaupun tumor tidak termasuk tumor genetic tetapi kerentangan Walaupun tumor tidak termasuk tumor genetic tetapi kerentangan terhadap tumor pada kelompok masyarakat tertentu relatif menonjol dan terhadap tumor pada kelompok masyarakat tertentu relatif menonjol dan agregasi familiar. Analisis korelasi menunjukan gen HLA (human agregasi familiar. Analisis korelasi menunjukan gen HLA (human leukocyteantigen) mungkin bertanggung jawab atas aktivasi metabolik yang leukocyteantigen) mungkin bertanggung jawab atas aktivasi metabolik yang terkait karsinogen

terkait karsinogen 6.

6. Kelainan kongenitalKelainan kongenital

Kelainan congenital adalah kelainan yang dibawa sejak lahir, Kelainan congenital adalah kelainan yang dibawa sejak lahir,  benjolannya dapat berupa benjolan yang timbul sejak

 benjolannya dapat berupa benjolan yang timbul sejak lahir atau timbul palahir atau timbul pada usiada usia kanak-kanak bahkan terkadang muncul setelah usia dewasa. Pada kelainan ini kanak-kanak bahkan terkadang muncul setelah usia dewasa. Pada kelainan ini

(3)

,benjolan yang paling sering terletak di leher samping bagian kiri atau kanan di sebelah atas , dan juga di tengah-tengah di bawah dagu. Ukuran benjolan bisa kecil beberapa cm tetapi bisa juga besar seperti bola tenis

7. Penurunan imunitas,

Pada saat system imun menurun menyebabkan terjadinya gangguan sistem kekebalan tubuh yang menyebabkan terjadinya peningkatan kerentanan terhadap infeksi, dan perlambatan proses penyembuhan penyakit.

8. Usia dan jenis kelamin

Terdapat resiko malignasi apabila didapat nodul tiroid pada usia >45 tahun, dan untuk wanita mempunyai resiko tiga kali lebih besar dari pada pria. C. Patofisiologi

Kelainan congenital, genetic, gender/ jenis kelamin, usia, rangsangan fisik  berulang, hormone infeksi, gaya hidup, karsinogenik (bahan kimia, virus, radiasi) dapat menimbulkan tumbuh dan berkembangnyasel tumor. Sel tumor dapat bersifat  benigna (Jinak) atau bersifat maligna (ganas). Sel tumor pada tumor jinak bersifat

tumbuh lambat, sehingga tumor jinak pada umumnya tidak cepat membesar. Sel tumor mendesak jaringan sehat sekitarnya secara serempak sehingga terbentuk serabut pembungkus yang memisahkan jaringan tumor dari jaringan sehat.

Sel tumor ialah sel tubuh yang mengalami transformasi dan tumbuh secara autonom lepas dari kendali pertumbuhan sel normal sehingga sel ini berbeda dari sel normal dalam bentuk dan strukturnya. Perbedaan sifat sel tumor tergantung dari  besarnya penyimpangan dalam bentuk dan fungsinya, autonominya dalam  pertumbuhan, kemampuan dalam berinfiltrasi dan menyebabkan metastase

Pada umumnya tumor mulai tumbuh dari satu sel di suatu tempat (unisentrik), tetapi kadang tumor berasal dari beberapa sel dalam satu organ (multisentrik) atau dari beberapa organ (multiokuler) pada waktu bersamaan (sinkron) atau berbeda (metakron).

Selama pertumbuhan tumor masih terbatas pada organ tempat asalnya maka tumor dikatakan mencapai tahap local, namum bila telah infiltrasi ke organ sekitarnya dikatakan mencapai tahap invasive atau infiltratif .

Sel tumor bersifat tumbuh terus sehingga makin lama makin besar dan mendesak jaringan sekitarnya. Pada neoplasma sel tumbuh sambil menyusup dan

(4)

merembes ke jaringan sekitarnya dan dapat meninggalkan sel induk masuk ke  pembuluh darah atau pembuluh limfe, sehingga terjadi penyebaran hematogen dan

limfatogen.

Tumor colli merupakan neoplasma yang berasal dari kelenjar yang terletak di depan leher yang secara normal memproduksi hormone tiroid yang penting untuk metabolisme tubuh. Infiltrasi ca colli dapat ditemukan di trachea, laring, faring, esophagus, pembuluh darah karotis, vena jugularis, struktur lain pada leher dan kulit. Metastase limfogen dapat meliputi semua region leher sedangkan metastase hematogen biasanya di paru, tulang, otak dan hati. Kanker ini  berdiferensiasi mempertahankan kemampuan untuk menimbun yodium pembesaran kelenjar getah bening. Lokasi kelenjar getah bening yang bisa membesar dan bisa teraba pada perabaan yakni di ketiak, lipat paha. Ada juga kelenjar getah bening yang terdapat di dalam tubuh yang mana tidak dapat diraba yakni didalam rongga  perut. Penyebab dari pembesaran kelenjar getah bening adalah infeksi non spesifik,

infeksi spesifik (TBC), keganasan (lymphoma). D. Manifestasi Klinik

Secara umum, manifestasi klinis dari tumor colli adalah :

1. Terapat lesi pada organ yang biasanya tidak nyeri terfiksasi dan keras dengan  batas yang tidak teratur.

2. Terjadi retraksi pada organ, karena tumor membesar sehingga terjadi penerikan  pada organ-organ yang berada dekat dengan tumor tersebut.

3. Pembengkakan organ yang terkena, dikarenakan pertumbuhan tumor yang secara progresif dan invasive sehinga dapat merusak atau mengalami  pembengkakan,organ-organ di sekitar tumor.

4. Terjadi eritema atau pembengkakan lokal, di karenakan terjadinya peradangan  pada tumor sehingga daerah sekitar tumor akan mengalami eritema

5. Pada penyakit yang sudah stadium lanjut dapat terjadi pecahnya benjolan- benjolan pada kulit atau ulserasi.

Kecurigaan klinis adanya ca colli didasarkan pada observasi yang dikonfirmasikan dengan pemeriksaan patologis dan dibagi dalam kecurigaan ti nggi, sedang dan rendah.

(5)

a. Riwayat neoplasma endokrin multipel dalam keluarga.  b. Pertumbuhan tumor cepat.

c.  Nodul teraba keras. d. Fiksasi daerah sekitar. e. Paralisis pita suara.

f. Pembesaran kelenjar limpa regional. g. Adanya metastasis jauh.

2. Kecurigaan sedang diantaranya: a. Usia > 60 tahun.

 b. Riwayat radiasi leher.

c. Jenis kelamin pria dengan nodul soliter. d. Tidak jelas adanya fiksasi daerah sekitar. e. Diameter lebih besar dari 4 cm dan kistik. 3. Kecurigaan rendah diantaranya:

a. Tanda atau gejala diluar/selain yang disebutkan diatas.  b. Penekanan organ sekitar

c. Gangguan dan rasa sakit waktu menelan d. Sulit benafas, suara serak,

e. Limfadenopati leher serta dapat terjadi metastasi jauh, paling sering ke paru- paru, tulang dan hati.

E. Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan penunjang untuk tumor colli, antara lain : 1. Laboratorium

Pemeriksaan laboratorium yang membedakan tumor jinak dan ganas tiroid  belum ada yang khusus, kecuali kanker meduler, yaitu pemeriksaan kalsitonon dalam serum. Pemeriksaan T3 dan T4 kadang-kadang diperlukan karena pada ca colli dapat terjadi tiroktositosis walaupun jarang. Human Tiroglobulin (HTG) Tera dapat dipergunakan sebagai tumor marker dan kanker tiroid diferensiasi  baik. Walaupun pemeriksaan ini tidak khas untuk kanker tiroid, namun  peninggian HTG ini setelah tiroidektomi total merupakan indikator tumor residif atau tumbuh kembali (barsano). Kadar kalsitonin dalam serum dapat ditentukan untuk diagnosis karsinoma meduler.

(6)

2. Radiology

a. Foto polos leher ap dan lateral dengan metode soft tissue technique dengan  posisi leher hiperekstensi , bila tumornya besar. Untuk melihat ada tidaknya

kalsifikasi.

 b. Dilakukan pemeriksaan foto thorax pa untuk menilai ada tidaknya metastase dan pendesakkan trakea.

c. Esofagogram dilakukan bila secara klinis terdapat tanda-tanda adanya infiltrasi ke esophagus.

d. Pembuatan foto tulang belakang bila dicurigai adanya tanda-tanda metastase ke tulang belakang yang bersangkutan. CT scan atau MRI untuk mengevaluasi staging dari karsinoma tersebut dan bisa untuk menilai sampai di mana metastase terjadi.

3. Ultrasonografi

Untuk mendeteksi nodul yang kecil atau yang berada di posterior yang secara klinis belum dapat dipalpasi dan mendeteksi nodul yang multiple dan  pembesaran. Di samping itu dapat dipakai untuk membedakan yang padat dan

kistik serta dapat dimanfaatkan untuk penuntun dalam tindakan. 4. Scanning tiroid

`Dengan sifat jaringan tiroid maka pemeriksaan scanning ini dapat memberikan beberapa gambaran aktivitas, bentuk dan besar kelenjar tiroid. Kegunaan pemeriksaan ini, yaitu:

a. Memperlihatkan nodul soliter pada tiroid.

 b. Memperlihatkan multiple nodul pada struma yang klinis kelihatan seperti nodul soliter.

c. Memperlihatkan retrosternal struma d. Mencari occul neoplasma pada tiroid.

e. Mengindentifikasi fungsi dari jaringan tiroid setelah operasi tiroid. f. Mengindentifikasi ektopik tiroid.

g. Mencari daerah metastase setelah total tiroidektmi.

h.  Needle biopsy; dapat dilakukan dengan cara needle core biopsy atau fnab (biopsy jarum halus).

(7)

Dengan cara ini diharapkan dapat membedakan jinak atau ganas waktu operasi berlangsung, dan sekaligus untuk menentukan tindakan operasi definitive.

6. Pemeriksaan histopatologi dengan parafin coupe

Pemeriksaan ini merupakan pemeriksaan definitif atau gold standar. 7. Biopsi Aspirasi

Pada dekade ini biopsy aspirasi jarum halus banyak dipergunakan sebagai  prosedur diagnostik pendahuluan dari berbagai tumor terutama pada tumor tiroid. Teknik dan peralatan sangat sederhana , biaya murah dan akurasi diagnostiknya tinggi. Dengan mempergunakan jarum tabung 10 ml, dan jarum no.22  –   23 serta alat pemegang, sediaan aspirator tumor diambil untuk  pemeriksaan sitologi. Berdasarkan arsitektur sitologi dapat diidentifikasi

karsinoma papiler, karsinoma folikuler, karsinoma anaplastik dan karsinoma meduler.

F. Komplikasi

1. Perdarahan, resiko ini minimum, namun hati- hati dalam mengamankan hemostatis dan penggunaan drain setelah operasi.

2. Masalah terbukanya vena besar (vena tiroidea superior) dan menyebabkan embolisme udara. Dengan tindakan anestesi mutakhir, ventilasi tekanan positif yang intermitten, dan teknik bedah yang cermat, bahaya ini dapat di minimalkan. 3. Trauma pada nervus laringeus rekurens yang menimbulkan paralisis sebagian

atau total (jika bilateral) laring. 4. Sepsis yang meluas ke mediastinum.

5. Hipokalsemi, karena terangkatnya kelenjarparatiroid saat operasi. G. Penatalaksanaan

1. Pembedahan (colli otomi, tiroidektomi)

a. Harus melaksakan pemerikasaan klinis untuk menentukan nodul benigna atau maligna

 b. Eksisi tidak hanya terbatas pada bagian utama tumor, tapi eksisi juga harus di lakukan terhadap jaringan normal sekitar jaringan tumor. Cara ini memberikan hasil operasi yang lebih baik.

(8)

c. Metastase ke kelanjar geteh bening umumnya terjadi pada setiap tumor sehingga pengangkatan, kelenjar di anjurkan pada tindakan bedah.

d. Satu hal mutlak di lakukan sebelum bedah adalah menentukan stadium tumor dan melihat pola pertumbuhan (growth pattern) tumor tersebut.

e. Tirodektomi adalah sebuah operasi yang dilakukan pada kelenjer 

f. Colliotomi adalah operasi yang dilakukan pada leher yang terkena tumor  2. Obat-obatan

a. Immunoterapy : interleukin 1 dan alpha interferon

 b. Kemoterapi : kemampuan dalam mengobati beberapa jenis tumor

c. Radioterapy : membenul sel kanker dan sel jaringan normal, dengan tujuan, meninggikan kemampuan untuk membunuh sel tumor dengan kerusakan serendah mungkin pada sel normal.

H. Prognosis

Prognosis tumor colli bergantung pada sifat dari tumor itu sendiri,  prognosis tumor jinak baik namun dapat menjadi hal yang serius jika mengenai struktur vital, sementara tumor bersifat ganas memiliki prognosis buruk yang  berpotensi mematikan.

(9)

KOSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN A. Pengkajian

1. Identitas diri klien

a. Pasien (diisi lengkap) : Nama, Tempat/Tgl. Lahir, Umur, Jenis Kelamin, Alamat, Status Perkawinan, Agama, Suku Bangsa, Pendidikan, Pekerjaan, Lama bekerja, Tgl Masuk RS.

 b. Penanggung Jawab (diisi lengkap) : Sumber informasi, Keluarga terdekat yang dapat dihubungi, Pendidikan, Pekerjaan, Alamat.

2. Riwayat Kesehatan

a. Keluhan utama, biasanya ditemukan jantung berdebar-debar, kelemahan, sesak napas, ataupun penurunan kesadaran.

 b. Riwayat penyakit sekarang, yaitu tanda dan gejala yang menyertai keluhan utama.

c. Riwayat penyakit dahulu, yaitu apakah klien pernah menderita penyakit yang sama sebelumnya atau yang menjadi factor resiko seperti pernah terpapar radiasi ataupun gaya hidup,

d. Riwayat penyakit keluarga, yaitu apakah ada anggota keluarga yang menderita penyakit yang sama sebelummnya.

3. Pengkajian perkebutuhan dasar manusia a. Aktivitas/ Istirahat

Gejala : Ketidakmampuan untuk melakukan aktivitas Tanda : Keletihan, kelemahan umum

 b. Sirkulasi

Gejala : Terdapat masalah tekanan darah Tanda : pusing, gemetar

c. Integritas ego

Gejala : Perasaan cemas, takut, factor-faktor stress,misalnya: masalah financial, gaya hidup

d. Eliminasi

Gejala : Perubahan eliminasi fekal e. Makanan/ cairan

(10)

Tanda : bibir kering, pecah, f.  Nyeri/ ketidaknyamanan

Gejala : Ada nyeri dengan derajat bervariasi, misalnya ketidaknyaman ringan sampai berat,

Tanda : lokasi, intensitas, frekuensi, factor pencetus g. Keamanan

Gejala : alergi atau sensitive (obat, makanan) Tanda : munculnya proses infeksi, demam h. Penyuluhan/ pembelajaran

Gejala : keterbatasan kognitf, tingkat pendidikan, factor resiko keluraga i.  Neurosensori

Keluhan pening hilang timbul, sakit kepala,pingsan. Temuan fisik : status mental disorientasi,confusion,kehilangan memori, perubahan pola bicara.  j. Respirasi

Kaji terhadap fibrosis paru yang ditandai : Dispnoe, kering, batuk non  produktif –  terutama bleomisin

B. Diagnosa Keperawatan

Diagnosa keperawatan yang dapat muncul menurut Wilkinson Juidith M dan Ahern R (2011) adalah:

1.  Nyeri akut berhubungan dengan agen injury (biologi, kimia, fisik dan  psikologis)

2. Kerusakan Integritas Kulit berhubungan dengan faktor mekanik, cedera kimiawi kulit, terapi radiasi, perubahan hormonal, gangguan pigmentasi, factor mekanik.

3. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan perubahan fungsi tubuh, perubahan  persepsi diri , penyakit, prosedur bedah.

4. Ketidakseimbangan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual, muntah, nyeri saat menelan, anoreksia.

5. Resiko infeksi berhubungan dengan prosedur infasiv pembedahan 6. Resiko cedera berhubungan gangguan persepsi sensori akibat anestesi

(11)

7. Intolerensi aktivitas berhubungan dengan kelemahan, tirah baring dan imobilitas, gaya hidup kurang gerak.

8. Ansietas berhubungan dengan perubahan status kesehatan atau menghadapi  proses pengobatan

(12)

12

C. Intervensi Keperawatan

No Diagnosa Keperawatan

Rencana Keperawatan

Tujuan & Kriteria Hasil Intervensi 1  Nyeri akut berhubungan

dengan agen injury (biologi, kimia, fisik dan  psikologis)

NOC

a. Pain Level,  b.  pain control,

c. comfort level

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama …. Pasien tidak mengalami nyeri, dengan kriteria hasil:

1. Mampu mengontrol nyeri (tahu  penyebab nyeri, mampu menggunakan tehnik nonfarmakologi untuk mengurangi nyeri, mencari  bantuan)

2. Melaporkan bahwa nyeri NIC

1. Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif termasuk lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi dan kualitas nyeri.

R : mengetahui tingkat neyri yang dirasakan pasien

2. Observasi reaksi nonverbal dari ketidaknyamanan

R : reaksi nonverval dapat menunjukkan tingkat nyeri yang dirasakan pasien 3. Ajarkan tentang teknik non farmakologi:

napas dalam, relaksasi, distraksi, kompres hangat/ dingin

 berkurang dengan menggunakan manajemen nyeri

3. Mampu mengenali nyeri (skala, intensitas, frekuensi dan tanda nyeri)

4. Menyatakan rasa nyaman setelah nyeri berkurang

5. Tanda vital dalam rentang normal

R : teknik non-farmakologi dapat membantu pasien untuk mengurangi nyeri yang dirasakan

4. Kolaborasi pemberian obat analgetik R : pemberian analgetik dapat mengurangi nyeri

5. Berikan informasi tentang nyeri seperti  penyebab nyeri, berapa lama nyeri akan  berkurang dan antisipasi

ketidaknyamanan dari prosedur

R : menambah pengetahuan pasien dan keluarga tentang penyakit yang dialami 2 Kerusakan Integritas Kulit

 berhubungan dengan faktor mekanik, penonjolan

NOC:

Setelah dilakukan asuhan keperawatan … jam, menunjukkan integritas kulit

NIC

1. Inspeksi luka pada setiap mengganti  balutan

(13)

13

 berkurang dengan menggunakan manajemen nyeri

3. Mampu mengenali nyeri (skala, intensitas, frekuensi dan tanda nyeri)

4. Menyatakan rasa nyaman setelah nyeri berkurang

5. Tanda vital dalam rentang normal

R : teknik non-farmakologi dapat membantu pasien untuk mengurangi nyeri yang dirasakan

4. Kolaborasi pemberian obat analgetik R : pemberian analgetik dapat mengurangi nyeri

5. Berikan informasi tentang nyeri seperti  penyebab nyeri, berapa lama nyeri akan  berkurang dan antisipasi

ketidaknyamanan dari prosedur

R : menambah pengetahuan pasien dan keluarga tentang penyakit yang dialami 2 Kerusakan Integritas Kulit

 berhubungan dengan faktor mekanik, penonjolan tulang.

NOC:

Setelah dilakukan asuhan keperawatan … jam, menunjukkan integritas kulit yang baik dengan Kriteria Hasil:

1. Menunjukkan integritas jaringan kulit dan membran mukosa yang dibuktikan oleh indikator:

NIC

1. Inspeksi luka pada setiap mengganti  balutan

R: Menilai keadaan kulit

2. Lakukan perawatan luka atau kulit secara rutin yang dapat meliputi:

 Ubah dan atur posisi pasien secara

a. Suhu, elastisitas, hidrasi dan sensasi

 b. Perfusi jaringan c. Keutuhan kulit

2. Menunjukkan penyembuhan luka:  primer yang dibuktikan oleh

indikator:

a. Penyatuan kulit  b. Penyatuan ujung luka

c. Pembentukan jaringan parut.

sering

 Pertahankan jaringan sekitar terbebas

dari drainase dan kelembapan yang  berlebihan

 Lindungi pasien dari kontaminasi fases

atau urine

 Lindungi pasien dari ekskresi luka lain

dan ekskresi slang drain pada luka R: Mencegah terjadinya infeksi dan mempercepat penyembuhan luka

3. Ajarkan pada pasien dan keluarga cara mempertahankan luka agar tetap dalam keadaan kering

R: Membantu proses penyembuhan luka 4. Konsultasikan pada dokter tentang

(14)

14

a. Suhu, elastisitas, hidrasi dan sensasi

 b. Perfusi jaringan c. Keutuhan kulit

2. Menunjukkan penyembuhan luka:  primer yang dibuktikan oleh

indikator:

a. Penyatuan kulit  b. Penyatuan ujung luka

c. Pembentukan jaringan parut.

sering

 Pertahankan jaringan sekitar terbebas

dari drainase dan kelembapan yang  berlebihan

 Lindungi pasien dari kontaminasi fases

atau urine

 Lindungi pasien dari ekskresi luka lain

dan ekskresi slang drain pada luka R: Mencegah terjadinya infeksi dan mempercepat penyembuhan luka

3. Ajarkan pada pasien dan keluarga cara mempertahankan luka agar tetap dalam keadaan kering

R: Membantu proses penyembuhan luka 4. Konsultasikan pada dokter tentang

implementasi pemberian makanan dan nutrisi enteral atau paranteral.

R: untuk meningkatkan potensi  penyembuhan luka

3 Gangguan citra tubuh  berhubungan

denganperubahan fungsi tubuh, perubahan persepsi diri , penyakit, prosedur  bedah.

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama ….  jam hambatan mobilitas fisik teratasi dengan kriteria hasil: 1. Gangguan citra tubuh berkurang

yang dibuktikan oleh selalu menunjukkan adaptasi dengan ketunadayaan fisik, penyesuaian  psikososial: perubahan hidup, citra

tubuh positif, harga diri positif. 2. Menunjukkan citra tubuh, yang

dibuktikan oleh indikator sebagai  berikut (1-5: tidak pernah, jarang, kadang-kadang, sering, atau selalu ditampilkan):

a. Kesesuaian antara realitas tubh, NIC

1. Kaji dan dokumentasikan respon verbal dan non verbal pasien terhadap tubuh  pasien

R : Mengetahui persepsi klien tentang dirinya.

2. Identifikasi mekanisme koping yang biasa digunakan

R : Membantu klien meningkatkan gangguan citra tubuh.

3. Beri dorongan kepada pasien dan keluarga untuk mengungkapkan perasaan

R : Membantu klien meningkatkan gangguan citra tubuh.

(15)

15

3 Gangguan citra tubuh  berhubungan

denganperubahan fungsi tubuh, perubahan persepsi diri , penyakit, prosedur  bedah.

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama ….  jam hambatan mobilitas fisik teratasi dengan kriteria hasil: 1. Gangguan citra tubuh berkurang

yang dibuktikan oleh selalu menunjukkan adaptasi dengan ketunadayaan fisik, penyesuaian  psikososial: perubahan hidup, citra

tubuh positif, harga diri positif. 2. Menunjukkan citra tubuh, yang

dibuktikan oleh indikator sebagai  berikut (1-5: tidak pernah, jarang, kadang-kadang, sering, atau selalu ditampilkan):

a. Kesesuaian antara realitas tubh, ideal tubuh, dan perwujudan tubuh.

 b. Kepuasan terhadap penampilan dan fungsi tubuh.

NIC

1. Kaji dan dokumentasikan respon verbal dan non verbal pasien terhadap tubuh  pasien

R : Mengetahui persepsi klien tentang dirinya.

2. Identifikasi mekanisme koping yang biasa digunakan

R : Membantu klien meningkatkan gangguan citra tubuh.

3. Beri dorongan kepada pasien dan keluarga untuk mengungkapkan perasaan

R : Membantu klien meningkatkan gangguan citra tubuh.

4. Dukung mekanisme koping yang biasa digunakan pasien

R : Membantu klien meningkatkan gangguan citra tubuh.

5. Identifikasi cara mengurangi dampak

c. Keinginan untuk menyentuh  bagian tubuh yang mengalami

gangguan.

kecacatan penampilan melalui pakaian, rambut palsu, atau kosmetik jika perlu. R : Membantu klien meningkatkan gangguan citra tubuh.

6. Fasilitasi kontak dengan individu yang mengalami perubahan citra tubuh yang mirip dengan pasien

R : Membantu klin meningkatkan gangguan citra tubuh.

4 Resiko infeksi  berhubungan dengan  prosedur infasiv  pembedahan NOC : a. Immune Status

 b. Knowledge : Infection control c. Risk control

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama……  pasien tidak mengalami

NIC

1. Kaji tanda dan gejala infeksi

R : mengetahui imfeksi lebih dini dan membantu penentuan intervensi selanjutnya

(16)

16

c. Keinginan untuk menyentuh  bagian tubuh yang mengalami

gangguan.

kecacatan penampilan melalui pakaian, rambut palsu, atau kosmetik jika perlu. R : Membantu klien meningkatkan gangguan citra tubuh.

6. Fasilitasi kontak dengan individu yang mengalami perubahan citra tubuh yang mirip dengan pasien

R : Membantu klin meningkatkan gangguan citra tubuh.

4 Resiko infeksi  berhubungan dengan  prosedur infasiv  pembedahan NOC : a. Immune Status

 b. Knowledge : Infection control c. Risk control

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama……  pasien tidak mengalami infeksi dengan kriteria hasil:

1. Klien bebas dari tanda dan gejala infeksi

2. Menunjukkan kemampuan untuk NIC

1. Kaji tanda dan gejala infeksi

R : mengetahui imfeksi lebih dini dan membantu penentuan intervensi selanjutnya

2. Pantau TTV selama operasi berlangsung R : Peningkatan suhu secara tiba-tiba merupakan indikasi terjadinya infeksi 3. Cuci tangan 6 langkah dalam 5 moment

R : meminimalisir resiko terjadinya

mencegah timbulnya infeksi

3. Jumlah leukosit dalam batas normal 4. Menunjukkan perilaku hidup sehat 5. Status imun, gastrointestinal,

genitourinaria dalam batas normal

infeksi

4. Gunakan APD steril

R : Mecegah infeksi silang antara petugas dan pasien

5. Pertahankan sterilisasi instrumen

R : Mencegah kontaminasi pada alat dan instrumen

6. Lakukan desinfeksi secara sirkuler

R : Mengurangi kontaminasi area sekitar daerah operasi

5 Resiko Cedera  berhubungan dengan faktor resiko gangguan persepsi sensori

NOC :

a. Risk control

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama……  pasien tidak mengalami infeksi dengan kriteria hasil:

NIC

1. Tidurkan pasien di meja operasi dengan  posisi sesuai kebutuhan

R : Mencegah pasien jatuh

(17)

17

mencegah timbulnya infeksi

3. Jumlah leukosit dalam batas normal 4. Menunjukkan perilaku hidup sehat 5. Status imun, gastrointestinal,

genitourinaria dalam batas normal

infeksi

4. Gunakan APD steril

R : Mecegah infeksi silang antara petugas dan pasien

5. Pertahankan sterilisasi instrumen

R : Mencegah kontaminasi pada alat dan instrumen

6. Lakukan desinfeksi secara sirkuler

R : Mengurangi kontaminasi area sekitar daerah operasi

5 Resiko Cedera  berhubungan dengan faktor resiko gangguan persepsi sensori

NOC :

a. Risk control

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama……  pasien tidak mengalami infeksi dengan kriteria hasil:

1. Klien bebas dari cedera

NIC

1. Tidurkan pasien di meja operasi dengan  posisi sesuai kebutuhan

R : Mencegah pasien jatuh

2. Monitor penggunaan instrumen, jarum, dan kasa

R : Menegtahui penggunaan instrumen  jarum dan kasa

3. Tingkatkan observasi

R : Meminimalisir resiko cedera pasien 5 Ketidakseimbangan

nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh  berhubungan dengan mual, muntah, nyeri saat menelan, anoreksia.

NOC

 Nutritional Status :

- Food and Fluid Intake

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama………..pasien menunjukkan :

a. Adanya peningkatan berat badan sesuai dengan tujuan

 b. Berat badan ideal sesuai dengan tinggi badan

c. Mampu mengidentifikasi kebutuhan nutrisi

d. Tidak ada tanda tanda malnutrisi

NIC

1. Kaji kemampuan pasien untuk mendapatkan nutrisi yang dibutuhkan R : mengetahui kemampuan pasien dalam memenuhi nutrisinya

2. Pantau BB klien

R : Mengetahui status nutrisi klien

3. Ajarkan pasien bagaimana membuat catatan jadwal makanan harian.

R : membantu klien untuk makan tepat waktu

4. Anjurkan pasien untuk meningkatkan komsumsi Fe dan vitamin

(18)

18

R : Meminimalisir resiko cedera pasien 5 Ketidakseimbangan

nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh  berhubungan dengan mual, muntah, nyeri saat menelan, anoreksia.

NOC

 Nutritional Status :

- Food and Fluid Intake

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama………..pasien menunjukkan :

a. Adanya peningkatan berat badan sesuai dengan tujuan

 b. Berat badan ideal sesuai dengan tinggi badan

c. Mampu mengidentifikasi kebutuhan nutrisi

d. Tidak ada tanda tanda malnutrisi

NIC

1. Kaji kemampuan pasien untuk mendapatkan nutrisi yang dibutuhkan R : mengetahui kemampuan pasien dalam memenuhi nutrisinya

2. Pantau BB klien

R : Mengetahui status nutrisi klien

3. Ajarkan pasien bagaimana membuat catatan jadwal makanan harian.

R : membantu klien untuk makan tepat waktu

4. Anjurkan pasien untuk meningkatkan komsumsi Fe dan vitamin

R : Meningkatkan status nutrisi klien 5. Kolaborasi dengan ahli gizi untuk

menentukan jumlah kalori dan nutrisi yang dibutuhkan pasien.

R : menentukan jenis makanan untuk

memperbaiki status nutrisi klien 6 Intolerensi aktivitas

 berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan, tirah  baring

NOC:

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama …. pasien menunjukkan

 pengetahuan tentang proses penyakit dengan kriteria hasil:

1. Menunjukkan toleransi aktivitas, yang dibuktikan oleh indikator sebagai berikut (seebutkan 1-5: gangguan eksterm, berat, sedang, ringan atau tidak mengalami gangguan)

2. Berpartisipasi dalam aktivitas fisik yang dibutuhkan dengan  peningkatan normal denyut

NIC

2. Kaji tingkat kemampuan klien dalam  beraktivitas

R : mengetahui tingkat kemampuan klien dalam melakukan aktivitas

3. Observasi TTV

R : membantu memantau tingkat kelemahan klien

4. Libatkan keluarga dalam membantu aktivitas sehari-hari

R : membantu klien memenuhi kebutuhannya

5. Dekatkan alat-alat yang dibutuhkan klien R : membantu klien memenuhi

(19)

19

memperbaiki status nutrisi klien 6 Intolerensi aktivitas

 berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan, tirah  baring

NOC:

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama …. pasien menunjukkan

 pengetahuan tentang proses penyakit dengan kriteria hasil:

1. Menunjukkan toleransi aktivitas, yang dibuktikan oleh indikator sebagai berikut (seebutkan 1-5: gangguan eksterm, berat, sedang, ringan atau tidak mengalami gangguan)

2. Berpartisipasi dalam aktivitas fisik yang dibutuhkan dengan  peningkatan normal denyut  jantung, frekuensi pernapasan, dan tekanan darah serta memantau pola dalam batas normal

3. Menampilkan kehidupan aktivitas NIC

2. Kaji tingkat kemampuan klien dalam  beraktivitas

R : mengetahui tingkat kemampuan klien dalam melakukan aktivitas

3. Observasi TTV

R : membantu memantau tingkat kelemahan klien

4. Libatkan keluarga dalam membantu aktivitas sehari-hari

R : membantu klien memenuhi kebutuhannya

5. Dekatkan alat-alat yang dibutuhkan klien R : membantu klien memenuhi kebutuhannya

6. Meningkatkan partisipasi klien dalam melakukan aktivitas sehari-hari sesuai dengan yangt dapat ditoleransi

sehari-hari (AKS) dengan beberapa  bantuan (misalnya, eliminasi

dengan bantuan ambulasi)

R : membantu klien memenuhi kebutuhan secara mandiri

7 Ansietas berhubungan dengan perubahan status kesehatan atau menghadapi  pengobatan.

NOC

- Kontrol kecemasan - Koping

Setelah dilakukan asuhan selama …… kecemasan klien teratasi dgn kriteria hasil:

1. Klien mampu mengidentifikasi dan mengungkapkan gejala cemas 2. Mengidentifikasi, mengungkapkan

dan menunjukkan tehnik untuk mengontol cemas

3. Vital sign dalam batas normal

NIC

Anxiety Reduction (penurunan kecemasan) 1. Gunakan pendekatan yang menenangkan

R : memberikan rasa nyaman kepada  pasien

2. Jelaskan semua prosedur dan apa yang dirasakan selama prosedur

R : agar klien dapat mengerti dan memahami prosedur yang akan dilaksanakan

3. Instruksikan kepada pasien untuk menggunakan teknik relaksasi

(20)

20

sehari-hari (AKS) dengan beberapa  bantuan (misalnya, eliminasi

dengan bantuan ambulasi)

R : membantu klien memenuhi kebutuhan secara mandiri

7 Ansietas berhubungan dengan perubahan status kesehatan atau menghadapi  pengobatan.

NOC

- Kontrol kecemasan - Koping

Setelah dilakukan asuhan selama …… kecemasan klien teratasi dgn kriteria hasil:

1. Klien mampu mengidentifikasi dan mengungkapkan gejala cemas 2. Mengidentifikasi, mengungkapkan

dan menunjukkan tehnik untuk mengontol cemas

3. Vital sign dalam batas normal 4. Postur tubuh, ekspresi wajah,

 bahasa tubuh dan tingkat aktivitas menunjukkan berkurangnya kecemasan

NIC

Anxiety Reduction (penurunan kecemasan) 1. Gunakan pendekatan yang menenangkan

R : memberikan rasa nyaman kepada  pasien

2. Jelaskan semua prosedur dan apa yang dirasakan selama prosedur

R : agar klien dapat mengerti dan memahami prosedur yang akan dilaksanakan

3. Instruksikan kepada pasien untuk menggunakan teknik relaksasi

R : dapat mengurangi kecemasan pasien 4. Libatkan keluarga untuk mendampingi

 pasien

R : support dari keluarga dapat

mengurangi kecemasan pasien

5. Kolaborasi pemberian obat anti cemas R : pemberian obat cemas dapat menurunkan kecemasan pasien

(21)

21

mengurangi kecemasan pasien

5. Kolaborasi pemberian obat anti cemas R : pemberian obat cemas dapat menurunkan kecemasan pasien

DAFTAR PUSTAKA

Bulechek, Gloria M, et al. 2013.  Nursing Intervention Classification (NIC), Sith  Edition. USA: Elsevier

Brunner & Suddarth, 2001.  Keperawatan Medikal Bedah  Edisi 8 Vol. 3. Jakarta : EGC.

Corwin, Elizabeth J. 2009. Buku Saku Patofisiologi. Jakarta : EGC. Junadi, P. 2000. Kapita Selekta Kedokteran Edisi ke III . FKUI: Jakarta.

(22)

22

DAFTAR PUSTAKA

Bulechek, Gloria M, et al. 2013.  Nursing Intervention Classification (NIC), Sith  Edition. USA: Elsevier

Brunner & Suddarth, 2001.  Keperawatan Medikal Bedah  Edisi 8 Vol. 3. Jakarta : EGC.

Corwin, Elizabeth J. 2009. Buku Saku Patofisiologi. Jakarta : EGC. Junadi, P. 2000. Kapita Selekta Kedokteran Edisi ke III . FKUI: Jakarta.

Lestari, Puspita. 2015. Case Record of Ca Colli. Malang: Universitas Brawijaya

Mansjoer, Arif. Dkk. 2007.  Kapita Selekta Kedokteran Jilid Dua. Jakarta : Media Aesculapius.

Moorhead, Sue, et al. 2013. Nursing Outcome Classification. USA: Elsevier

 Nanda Internasional. 2015.  NANDA Internasional Inc. Nursing Diagnoses:  Defenition and Classification 2015-2017. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran

EGC

Price, S Sylvia. 2006.  Patofisiologi Konsep Klinis Proses-proses Penyakit Edisi 4. Jakarta: EGC.

Sidik, M Hasanuddin. 2014. Tumor Leher . Bandung: Universitas Padjajaran

Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I.  Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid III Edisi IV. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2007.

World Health Association. 2013 www.wikipedia.com

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :