3.1 Waktu dan Tempat Penelitian
Secara komprehensif, penelitian dilakukan sejak bulan Agustus-Desember 2008 pada tahap I (satu) dan dilanjutkan pada bulan Januari-Juni 2009 untuk penelitian tahap II. Penelitian dilakukan pada 3 (tiga) kabupaten di provinsi Kalimantan Selatan. Pemilihan desa atau daerah penelitian dilakukan secara
purpossive yaitu wilayah yang merupakan basis aktor yang terlibat dalam konflik perikanan tangkap, yaitu: (1) Desa Dirgahayu (2) Desa Hilir Muara (Kabupaten Kotabaru) (3) Desa Takisung, (4) Tabanio (5) Pagatan Besar (Kabupaten Tanah) (6) Desa Wiritasi (Kabupaten Tanah Bumbu). Peta wilayah penelitian disajikan pada Gambar 5.
3.2 Tahapan Penelitian
Penelitian dilakukan dalam 2 (dua) tahap yaitu (1) Survai PISCES merupakan tahap deskripsi yang terdiri dari: identifikasi konflik dan eskalasi konflik, pemetaan konflik, penggambaran akar masalah, tipologi dan faktor penyebab konflik serta peran kelembagaan yang menangani konflik, (2) Survai persepsi merupakan tahap preskripsi yaitu penyusunan komponen analisis SEM dan merumuskan model pengelolaan konflik.
3.3Jenis dan Sumber Data
Berdasarkan jenisnya, data yang dikumpulkan dalam penelitian ini terdiri dari 2 (dua) jenis data, yaitu data kuantitatif dan data kualitatif. Data kuantitatif merupakan data yang berupa angka-angka untuk kebutuhan analisis dalam penelitian ini, meliputi: perkembangan jenis alat tangkap, produksi perikanan, jumlah kapal penangkap ikan, jumlah nelayan. Data kualitatif meliputideskripsi jenis ikan, jenis alat tangkap ikan, jenis konflik, penyebab konflik, aktor yang terlibat, sejarah/kronologis kejadian, tempat kejadian, akar masalah, resolusi konflik yang dilakukan, peraturan perundang-undangan yang berlaku di daerah penelitian, dokumentasi surat kesepakatan serta kelembagaan sosial masyarakat baik formal maupun non formal.
Gambar 5 Peta tiga kabupaten di provinsi Kalimantan Selatan yang menjadi lokasi penelitian
P . K A L I M AN T A N 3° 3° 0° 0° 3° 3° 6° 6° 111° 111° 114° 114° 117° 117°
Data kualitatif yang ditransformasi menjadi kuantitatif melalui survei persepsi meliputi: persepsi terhadap faktor penyebab konflik, tingkat kepuasan terhadap teknik resolusi konflik yang digunakan, partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sumber daya perikanan tangkap, pemahaman masyarakat tentang pengelolaan sumber daya perikanan tangkap dan persepsi masyarakat tentang pengelolaan sumber daya perikanan tangkap berasaskan keadilan.
Data yang digunakan bersumber dari data primer dan data sekunder. Data primer adalah data yang langsung dikumpulkan di lapangan, pada tahap I (survei PISCES) yang berfungsi untuk melakukan identifikasi terhadap konflik perikanan tangkap meliputi posisi konflik (PGIE), akar permasalahan konflik meliputi sumber konflik dan tipologi konflik, perkembangan konflik (times line), hubungan antar actor dan lembaga pengelolaan konflik (institutional wheel). Data tersebut diperoleh melalui wawancara mendalam (indepth interview) terhadap beberapa orang informan kunci (key informan) dengan menggunakan pedoman wawancara
(interview guide) dan observasi.
Pada tahap II (survei persepsi) yang berfungsi untuk identifikasi model pengelolaan konflik terhadap faktor penyebab konflik perikanan tangkap, resolusi konflik dan outcome. Data tersebut diperoleh menggunakan kuisioner terstruktur dilakukan secara purposive terhadap beberapa orang responden yang dianggap mengetahui permasalahan yang diteliti. Responden terdiri atas personal dari DKP, Lanal, Polair, DPR, PPI, kemudian juga Kepala Desa, tokoh masyarakat, nelayan lokal yang terdiri atas pemilik kapal, ABK, pedagang penampung, nelayan andon, anggota organisasi nelayan (POKMASWAS, INSAN, AMNES, HNSI), anggota Lembaga Swadaya Masyarakat (WALHI), serta akademisi. Data dikumpulkan dari 200 responden, sesuai dengan ketentuan yang ditandaskan oleh Solimun (2002) yang menyatakan bahwa agar diperoleh analisis jalur stabil maka jumlah sampel paling tidak sebanyak 5 kali jumlah parameter yang ada dalam model. Model yang dirumuskan pada penelitian ini mempunyai koefisien jalur
(path coeffisien) β = 2 dan γ = 17, sedangkan error variance yang berkaitan dengan variable endogen (y) = 2 dan covarian mencapai 20 buah, sehingga parameter ideal berjumlah 40 buah. Dengan demikian maka jumlah responden sama dengan ukuran sampel yaitu sebanyak 200 (= 5 kali 40 buah parameter).
Data sekunder diperoleh dari berbagai instansi yang terkait terdiri dari data produksi, dokumen surat pernyataan resolusi konflik serta penelusuran pustaka terhadap hasil penelitian terdahulu serta klipping surat kabar.
3.4 Metode Pengumpulan Data
3.4.1 Data primer
Pengumpulaan data primer (konflik dan resolusi konflik) dilakukan dengan pendekatan PISCES (participatory institutional survei and conflict evaluated exercise) yang dikembangkan Bennett dan Jolley (2000). PISCES terdiri dari empat bagian, yaitu:
(1) Participatory Geographic Information Exercise (PGIE)
Metode ini menggunakan spot mapping atau sketch mapping untuk memperoleh informasi dasar keadaan geografis wilayah yang digambarkan dalam bentuk peta transek. PGIE sangat cocok digunakan untuk menggambarkan wilayah penelitian yang relatif sempit. Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini yaitu menggambarkan peta lokasi kejadian terjadinya kasus konflik perikanan tangkap. Pengumpulan data dilakukan dengan cara snowballing melalui key informan yang mengetahui secara langsung atau yang terlibat dalam konflik atau secara tidak langsung berdasarkan dokumen-dokumen di masa lalu serta klipping surat kabar.
(2) Time Lines
Metode ini untuk mengumpulkan data perkembangan perikanan tangkap yang terkait dengan konflik yang pernah terjadi di masa lalu dan disusun berdasarkan waktu kejadiannya. Dalam penelitian ini data yang dihimpum meliputi sejarah/kronologis konflik perikanan tangkap termasuk perubahan teknologi alat tangkap, implementasi suatu peraturan, runtutan waktu terjadinya konflik serta perkembangan resolusi konflik yang dilakukan. Pengumpulan data dilakukan melalui data sekunder yang tercatat pada instansi terkait seperti DKP, TNI AL dan Polair, kemudian dilengkapi dengan data primer yang diperoleh dengan cara snowballing terhadap key informan yang mengetahui secara langsung atau yang terlibat dalam konflik atau secara tidak langsung berdasarkan cerita dimasa lalu di masa lalu serta klipping surat kabar.
(3) Institutional Wheels
Metode ini menggambarkan pola hubungan antar kelompok. Metode ini sangat bermanfaat dalam mengidentifikasi konflik yang muncul antar kelompok. Selain itu dalam institutional wheels dapat digambarkan peranan kelompok dan organisasi, pengaruh masing-masing pihak yang terkait terhadap pihak yang lain, serta dampak hubungan tersebut baik yang bersifat positif maupun negatif. Data yang terhimpun dalam bentuk pemetaan konflik perikanan tangkap.
Pengumpulan data melalui data sekunder terhadap dokumentasi resolusi konflik atau surat pernyataan tentang kesepakatan penyelesaian konflik yang tercatat pada instansi terkait seperti Dinas Perikanan, TNI AL dan Polair serta dokumentasi dari pelaku konflik, kemudian dilengkapi dengan data primer yang diperoleh dengan cara snowballing melalui key informan yang menuntun meberikan petunjuk terhadap informan berikutnya atas rekomendasi informan sebelumnya sehingga dapat diketahui informan yang mengetahui secara langsung atau yang terlibat dalam konflik ataupun yang tidak terlibat langsung, namun mengetahui kejadian dimasa lalu.
(4) Semi Structured Interview (SSI)
Semi Structured Interview adalah pola pertanyaan berupa daftar pertanyaan (kuisioner) terstruktur atau pedoman wawancara (interview guide) dilakukan melalui wawancara mendalam (indepth interview) terhadap beberapa orang informan kunci (key informan). Daftar pertanyaan (kuisioner) merupakan penuntun mengawali pertanyaan yang kemudian berkembang menjadi pertanyaan terbuka. Pertanyaan dimaksudkan untuk mengumpulkan data identifikasi konflik, identifikasi akar permasalahan konflik yang dikelompokan berdasarkan pola atau tipologi konflik (Charles 1992) dan sumber konflik (Gorre 1999).
Pada tahap kedua, survey persepsi ditujukan untuk membangun model pengelolaan konflik yang terdiri dari variabel laten KONFLIK, RESOLUSI dan
OUTCOME menurut persepsi responden yang dilakukan secara purposive
terhadap beberapa orang responden. Responden terdiri dari DKP, Lanal, Polair, anggota DPR, PPI, Kepala Desa, tokoh masyarakat, nelayan lokal yang terdiri dari pemilik kapal, ABK, pedagang penampung, nelayan andon, organisasi nelayan
(POKMASWAS, INSAN, AMNES, HNSI), Lembaga Swadaya Masyarakat (WALHI), serta akademisi.
Pengumpulan data pada tahap survey persepsi dilakukan melalui wawancara dengan menggunakan kuisioner terstruktur dengan daftar pertanyaan tertutup dengan skala ordinal 1-5 item pernyataan (Lampiran 8), hal ini ditujukan untuk memenuhi Software Lisrel dari Joreskog dan Sorborn (2005) yang menyatakan asumsi tentang banyaknya nilai untuk variable lebih baik menggunakan skala minimal 5 (lima) butir. Jenjang yg cocok sebenarnya tergantung pada populasi penelitian, semakin banyak smakin lengkap, contohnya untuk kelompok masyarakat terdidik dapat menjawab lebih tajam, namun pada masyarakat pedesaan jawaban berjenjang 3 (tiga) atau 5 (lima) adalah sesuai. Dalam penelitian ini menggunakan skala likert (lima kategori).
3.4.2 Data sekunder
Metode pengumpulan data sekunder yaitu data yang diperoleh peneliti secara tidak langsung, beberapa catatan yang dipublikasikan dan yang tidak dipublikasikan. Data sekunder ini meliputi perkembangan jenis alat tangkap, perkembangan produksi perikanan tangkap tahunan, dokumentasi surat persetujuan resolusi konflik, dokumentasi regulasi dan informasi pendukung lainnya yang erat kaitannya dengan penelitian. Data sekunder diperoleh melalui instansi DKP, Polair, TNI AL, Kepala Desa dan pelaku dokumen surat pernyataan kesepakatan dari pelaku konflik.
3.5 Variabel Penelitian
Variabel penelitian terdiri dari tiga kelompok yaitu variabel faktor penyebab konflik, variabel resolusi konflik dan variabel outcome. Jenis konflik perikanan tangkap yang berhasil diidentifikasi pada survai PISCES di lokasi penelitian yaitu: konflik alat tangkap dan konflik daerah tangkap. Tidak semua alat tangkap yang digunakan oleh nelayan menyebabkan konflik. Alat tangkap yang dipandang atau dipersepsikan nelayan merupakan alat tangkap ramah lingkungan dan tidak melanggar Undang-Undang dan tidak berakibat over fishing tidak berpotensi terjadinya konflik seperti alat tangkap trammel net, pancing, bubu, rawai,
perangkap, jaring lingkar, rakang serta penggunaan alat tangkap yang memiliki kapasitas yang sama dan digunakan pada jalur yang sama antak kelompok nalayan tidak berpotensi sebagai konflik.
Konflik perikanan tangkap yang terjadi tercakup ke dalam 9 kasus yaitu: (1) kasus purse seine, (2) kasus daerah tangkap, (3) kasus pengambilan teripang dan kerang mutiara, (4) kasus lampara dasar, (5) kasus bagan apung, (6) kasus seser modern, (7) kasus gill net, (8) kasus penggunaan bom, (9) kasus cantrang.
3.5.1 Indikator faktor penyebab konflik (KONFLIK)
Berdasarkan analisis tipologi konflik pada penelitian tahap I (survei PISCES) terdapat 11 indikator atau faktor penyebab konflik yaitu: kondisi perekonomian masyarakat (X1), banyak sedikitnya pihak yang terlibat (X2),
keberadaan pihak yang bertolak belakang (X3), isu yang berkembang di masyarkat
(X4), jumlah nelayan (X5), kompetesi dalam pemanfaatan sumberdaya (X6),
keberadaan tokoh dalam konflik (X7), persepsi masyarakat terhadap stok (X8)
adanya keinginan tertentu dalam masyarakat (X9), keberadaan peraturan dan
penegakan hukum (X10), latar belakang budaya dan adat (X11). Pada tahap II
indikator penyebab konflik perikanan tangkap yang diukur melalui survei persepsi responden dengan menggunakan pengukuran skala ordinal 1-5 (Lampiran 8)
3.5.2 Indikator kepuasan terhadap teknik resolusi konflik (RESOLUSI)
Berdasarkan pemetaan teknik resolusi konflik pada tahap I dan mengacu pada teknik resolusi konflik yang didopsi dari Priscoli (2002) terdapat beberapa indikator tingkat kepuasan teknik resolusi konflik perikanan tangkap yang telah dilakukan di daerah penelitian yaitu: litigasi (X1) tercermin pada pertanyaan 1
sampai 2, negosiasi (X2) tercermin pada pertanyaan 3 sampai 5, fasilitasi (X3)
tercermin pada pertanyaan 6 sampai 7, avoidance (X4) tercermin pada
pertanyaan 8 sampai 10. Persepsi responden dengan menggunakan pengukuran skala ordinal 1-5 (Lampiran 8)
3.5.3 Indikator outcome (OUTCOME)
Pengelolaan sumber daya perikanan berbasis resolusi konflik terdiri dari tiga indikator yaitu (1) peningkatan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan perikanan tangkap, tercermin pada pertanyaan nomor 1 sampai 8; (2) pemahaman pengelolaan sumberdaya perikanan tangkap yang berkelanjutan, tercermin pada pertanyaan nomor 9 sampai 29; (3) pengelolaan sumberdaya perikanan tangkap yang berkeadilan, tercermin pada pertanyaan nomor 30 sampai 37 (Lampiran 8)
3.6Analisis Data
3.6.1 Trend potensi sumberdaya perikanan
Untuk memperlihatkan hasil tangkapan per unit upaya, CPUE atau c/f, sebagai fungsi upaya (f) adalah model linear yang disarankan oleh Schaefer (Sparre dan Venema 1992) :
ci/fi = a + bxfi, jika fi -a/b……….(1)
Tahap-tahap yang perlu dilakukan untuk mengetahui tingkat pemanfaatan suatu sumberdaya adalah:
1) Hasil tangkapan per upaya penangkapan (Catch per Unit Effort)
CPUE i i effort catch i=1,2,….,n……… (2) Keterangan :
CPUEi = hasil tangkapan per upaya penangkapan dalam tahun i catchi = hasil tangkapan dalam tahun i
efforti = upaya penangkapan dalam tahun i
2) Standardisasi upaya penangkapan
Bila di suatu daerah terdapat berbagai alat tangkap maka salah satunya harus dipakai sebagai standar dan alat tangkap lain distandardisasi terhadap alat tangkap tersebut. Hal ini disebabkan karena kemampuan tangkap tiap alat tangkap berbeda-beda. Dengan demikian, standardisasi ini bertujuan untuk menyeragamkan satuan upaya yang berbeda menjadi satu satuan upaya yang seragam (Gulland 1982 diacu dalam Oemry 1993). Upaya dapat dinyatakan sebagai jumlah seluruh satuan perlakuan antara kemampuan penangkapan
(fishing power) setiap tahun dengan waktu penangkapan atau dengan jumlah satuan operasi. Rumus yang dipakai untuk menstandardisasi upaya penangkapan adalah sebagai berikut (Gulland 1982) :
(1) Menghitung Fishing Power Index (FPI)
FPI st dst i i CPUE CPUE ………(4) Keterangan :
FPI = Fishing Power Index
CPUEdst= CPUE alat tangkap yang akan distandardisasi CPUEst = CPUE alat tangkap standar
(2) Menghitung Upaya Standar
fs = FPI x fdst………(5)
Keterangan :
fs = upaya penangkapan hasil standardisasi
fdst = upaya penangkapan yang akan distandardisasi
3) Analisis CPUE
Nilai CPUE dihitung kembali dengan nilai upaya penangkapan yang baru, yaitu nilai upaya penangkapan setelah dilakukan standardisasi upaya penangkapan. Adapun nilai hasil tangkapan tetap sama.
CPUEsi i i effort catch i=1,2,….,n………..…(6) Keterangan :
CPUEsi = hasil tangkapan per upaya penangkapan yang telah
distandardisasi dalam tahun i (ton/trip)
catchi = hasil tangkapan dalam tahun i (ton)
efforti = upaya penangkapan alat tangkap yang telah
distandardisasi ditambah dengan upaya penangkapan alat tangkap standar dalam tahun i (trip)
4) Analisis regresi
Untuk mendapatkan gambaran pengaruh dari upaya penangkapan (f) terhadap hasil tangkapan per unit upaya penangkapan (CPUE) digunakan analisis regresi. Persamaan regresi linear sederhana dimaksudkan untuk mengetahui besarnya pengaruh antar peubah, dan bisa juga untuk mengetahui (meramal) nilai satu atau lebih peubah (Harahap 1987 diacu dalam Batubara 1999).
Analisis terhadap hubungan antara upaya penangkapan (effort) dengan CPUE diperoleh dengan menggunakan analisis kuadrat terkecil, yaitu dengan cara meminimumkan error (simpangan). Hubungan fungsi tersebut adalah :
Y = + x + e………..(7)
Keterangan :
Y = peubah tak bebas (CPUE) dalam ton/trip
x = peubah bebas (effort) dalam trip
e = simpangan
, = parameter regresi penduga nilai a dan b
Kemudian diduga dengan fungsi dugaan yaitu :
Ŷ = a + bx……….………(8)
sehingga e = Y – Ŷ, dan diperoleh Σe2 = (Y – Ŷ)2. Dengan “metode kuadrat terkecil” nilai Σe2
diminimumkan. Nilai e akan minimum bila turunan pertama fungsi sama dengan nol, sehingga nilai dugaan dapat diperoleh sebesar a dan b. Nilai a dan b selanjutnya dapat ditentukan, yaitu (Hayat, 1997) :
x) ( x n y x -xy n b 2 2 n x b -y a
Setelah diketahui nilai a dan b, selanjutnya dapat ditentukan beberapa persamaan yang diperlukan, antara lain adalah (Sparre dan Venema 1992) :
(1) Hubungan antara CPUE dengan upaya penangkapan (f) :
(2) Hubungan antara hasil tangkapan (c) dengan upaya penangkapan (f) :
c = CPUE x f c = af + bf2
(4) Tingkat pengupayaan dan tingkat pemanfaatan
Tingkat pengupayaan alat tangkap dari suatu sumberdaya ikan dapat diketahui setelah didapatkan nilai upaya optimum. Tingkat pengupayaan dihitung dengan cara mempersenkan jumlah upaya penangkapan pada tahun tertentu terhadap nilai upaya penangkapan optimum. 100% f f opt u TP Keterangan : TPu = tingkat pengupayaan
f = upaya penangkapan (trip)
fopt = upaya penangkapan optimum (trip)
3.6.2 Identifikasi konflik
Identifikasi konflik dilakukan dengan pendekatan Bennett dan Jolley (2000), yaitu: (1) spot mapping atau sketch mapping untuk memperoleh informasi dasar keadaan geografis wilayah yang digambarkan dalam bentuk peta transek, (2)
time lines yaitu analisis sejarah/kronologis konflik perikanan tangkap termasuk perubahan teknologi alat tangkap, implementasi suatu peraturan, runtutan waktu terjadinya konflik. Kemudian dilengkapi dengan pendekatan yang dikembangkan oleh Fisher et al. (2000) melalui penahapan konflik yang bertujuan untuk melihat tahap-tahap dan siklus peningkatan dan penurunan konflik, disajikan dalam bentuk grafik menunjukkan intensitas konflik yang digambarkan dalam skala waktu tertentu.
3.6.3 Memetakan permasalahan konflik
Akar masalah konflik dapat ditinjau berdasarkan tipologi konflik dan sumber konflik. Tipologi konflik secara umum dikelompokan menjadi empat kelompok Charles (1992), yaitu: (1) yurisdiksi perikanan, meliputi perbedaan
kepentingan terhadap beberapa bentuk kepemilikan perikanan, antara lain: open-acces, manajemen terpusat, hak pengelolaan kawasan, pengelolaan berbasis masyarakat, kuota individu, dan privatisasi; (2) mekanisme manajemen, meliputi isu-isu relatif jangka pendek yang muncul dalam pengembangan dan implementasi perencanaan manajemen perikanan, keterlibatan nelayan dan pemerintah dalam konflik saat eksploitasi dan proses konsultasi dan pengawasan perikanan; (3) alokasi internal, termasuk konflik yang muncul dalam sistem perikanan secara spesifik, antar kelompok dan alat tangkap yang berbeda, seperti antara nelayan, pengolah dan pihak-pihak lain; dan (4) alokasi eksternal, menyangkut konflik yang muncul antara pemain perikanan internal dan eksternal, seperti dengan kapal asing, pembudidaya, industri non perikanan dan lainnya.
Penggambaran akar permasalahan yang mengacu pada sumber konflik kategori Gorre (1999), yaitu (1) masalah hubungan, meliputi perbedaan persepsi karena faktor emosional yang kuat, asumsi terhadap perilaku pihak lain, kurang atau tidak ada komunikasi, ataupun adanya perilaku negatif yang berulang; (2) konflik yang disebabkan oleh data, meliputi kurangnya informasi bagi pengguna untuk mengambil keputusan yang tepat; (3) konflik yang terjadi akibat perbedaan kepentingan, meliputi perbedaan kebutuhan antara beragam pengguna dari sumberdaya alam yang sama; (4) Konflik yang disebabkan oleh masalah struktural, meliputi perbedaan kepentingan tidak dapat diselesaikan karena ketidak mampuan salah satu atau beberapa pihak karena adanya hal-hal yang sifatnya eksternal di luar kendali pihak-pihak tersebut; (5) konflik nilai, meliputi perbedaan sistem nilai yang dianut oleh salah satu pengguna dengan nilai yang diterapkan oleh pengguna lain.
Penjelasan terhadap pendekatan Gorre (1999) dilengkapi dengan pendekatan yang dikembangkan oleh Fisher et al. (2000) melalui analisis S-P-K (Sikap-Perilaku-Konteks) digunakan untuk menganalisis bagaimana faktor-faktor tersebut saling mempengaruhi dan menghubungkan faktor-faktor tersebut dengan berbagai kebutuhan dan ketakutan masing-masing pihak yang berkonflik. Kemudian analogi bawang bombay digunakan untuk memahami berbagai kepentingan serta kebutuhan masing-masing pihak yang berkonflik.
3.6.4 Model pengelolaan konflik
Model pengelolaan konflik dibuat dengan melakukan analisis Structural Equation Modeling (SEM) menggunakan program LISREL 8.30. Alasan penggunaan program LISREL dalam penelitian ini adalah untuk memudahkan penggunaan, cocok untuk jumlah konstruk yang kecil, memiliki keunggulan dalam hal akurasi, kecepatan dan mudah dioperasikan serta dilengkapi metode statistik untuk data hasil survai yang kompleks sebagaimana yang dinyatakan Wijanto (2007). Selain itu memakai program LISREL dapat membuat diagram jalur dengan mudah dengan menggunakan inference serta membuat syntax secara langsung dari diagram.
Teknik analisis SEM merupakan pendekatan terintegrasi antara faktor, model struktural dan analisis path. Disisi lain SEM juga merupakan pendekatan yang terintegrasi antara analisis data dengan konstruksi konsep. Didalam SEM peneliti dapat melakukan tiga kegiatan secara serentak, yaitu pemeriksaan
validitas dan reliabilitas instrumen (setara dengan faktor analisis confirmatory), pengujian model hubungan antara variabel laten (setara dengan analisis path), dan mendapatkan model yang bermanfaat untuk prakiraan (setara dengan model struktural atau analisis regresi) (Solimun 2002)
Langkah ke 1
Pengembangan model berbasis konsep dan teori
Langkah ke 2 Mengkonstruksi diagram path
Langkah ke 3
Konversi diagram path ke model struktural
Langkah ke 4 Memilih matriks input
Langkah ke 5 Memilih masalah identifikasi
Langkah ke 6 Evaluasi goodness-of-fit
Langkah ke 7
Interpretasi dan modifikasi model
Dalam SEM variabel kunci yang menjadi perhatian adalah variabel laten atau konstruk laten. Variabel laten ini hanya dapat diamati secara tidak langsung dan tidak sempurna melalui efeknya pada variabel teramati. Terdapat 7 (tujuh) langkah penggunaan SEM (Hair et al. 1998). Secara terperinci dapat dilihat pada Gambar 6.
Langkah ke 1: Pengembangan model berbasis konsep dan teori
Prinsip di dalam SEM adalah menganalisis hubungan kausal antar variabel
eksogen dan endogen. Disamping dapat dilakukan secara bersamaan untuk menguji validitas dan reliabilitas instrumen penelitian. Hubungan kausal adalah apabila terjadi perubahan nilai di dalam suatu variabel akan menghasilkan perubahan dalam variabel lain.
Langkah awal di dalam SEM adalah pengembangan model hipotetik yaitu suatu model yang mempunyai justifikasi teori atau konsep. Setelah itu dilakukan verifikasi terhadap model berdasarkan data empirik melalui SEM.
Langkah ke 2 : Menyusun path diagram
Pada langkah kedua dibuat path diagram. Tujuan penyusunan path diagram ini adalah untuk memudahkan peneliti melihat hubungan kausalitas yang ingin diuji. Apabila hubungan kausal tersebut ada yang belum mantap maka dapat dibuat beberapa model yang kemudian diuji menggunakan SEM untuk mendapatkan model yang paling tepat. Pengembangan path diagram untuk model pengelolaan konflik disajikan pada Gambar 7.
Keterangan:
α1, α3, α4 α5 = Faktor louding α2 = Koefisien korelasi
Gambar 7 Model struktural antara konflik, teknik resolusi konflik, kepuasan terhadap resolusi konflik dan outcome (diadopsi dari Barki et al. 2001)
Penyebab konflik
Metode resolusi konflik
Kepuasan terhadap teknik
resolusikonflik yang digunakan
Outcome Jenis konflik α1 α2 α3 α4 α5
Langkah ke 3: Konversi diagram alir ke dalam persamaan
Setelah digambarkan dalam sebuah diagram alir pada langkah kedua maka pada langkah berikutnya dilakukan konversi ke dalam rangkaian persamaan. Persamaan yang dibangun ada dua macam;
(1) Persamaan struktural
Persamaan ini untuk menyatakan hubungan kausalitas antar berbagai konstruk sebagai berikut :
Faktor endogen = Faktor eksogen + Faktor Endogen + error Persamaan strukturalnya adalah sebagai berikut :
Y1 = β1 Y2 + β2 Y 3 + β3 Y 4 + β1 Y 5 + ð1 ...(9)
Keterangan:
Y1 = Faktor endogen
Y2 = Faktor eksogen
β = Bobot regresi
ð = Distrurbance Term (error)
(2) Persamaan spesifikasi model pengukuran
Pada spesifikasi ini peneliti menentukan variabel mana mengukur faktor (konstruk) mana serta menentukan serangkaian matriks yang menunjukkan korelasi yang dihipotesiskan antar konstruk. Persamaan untuk model pengukuran dapat digambarkan sebagai berikut :
Variabel = faktor eksogen + error
Persamaan strukturalnya adalah sebagai berikut :
Variabel 1 (X1) = λ1 Y1 + ε 1 ...(10)
Variabel 2 (X2) = λ2 Y2 + ε 2 ...(11)
Variabel 3 (X3) = λ3 Y3 + ε 3 ...(12)
X1, X2, X3 = Variabel yang disurvei
λ = Loading Factor
ε = Error
Langkah ke 4 : Memilih matriks input dan estimasi model
Pada SEM hanya menggunakan matriks kovarians/matriks korelasi sebagai data input untuk keseluruhan estimasi yang dilakukan. Matriks kovarians
digunakan karena memiliki keunggulan dalam menyajikan perbandingan yang
valid antara populasi yang berbeda atau sampel yang berbeda, hal ini tidak dapat digunakan analisis korelasi. Menurut Baumgartner dan Homburg (1996) diacu dalam Ferdinand (2002) menyarankan agar menggunakan matriks kovarians pada saat pengujian teori sebab kovarian lebih memenuhi asumsi metodologi dan merupakan bentuk data lebih sesuai untuk memvalidasi hubungan kausalitas.
Langkah ke 5: mengantisipasi munculnya masalah identifikasi
Salah satu masalah yang dihadapi dalam penggunaan estimasi model kausal adalah masalah identifikasi. Problem identifikasi pada prinsipnya adalah masalah mengenai ketidakmampuan model yang dikembangkan untuk menghasilkan estimasi yang unik. Problem identifikasi dapat muncul berupa gejala sebagai berikut :
(1) Standard error untuk satu atau beberapa koefisien adalah sangat besar
(2) Program tidak mampu menghasilkan matrik informasi yang seharusnya disajikan
(3) Munculnya angka-angka yang aneh seperti adanya varian error yang negatif (4) Munculnya korelasi yang sangat tinggi antara koefisien estimasi (dapat lebih
dari 0,9)
Langkah-langkah untuk menguji ada atau tidak adanya problem identifikasi adalah sebagai berikut: (1) Model diestimasi berulang-ulang, dan setiap estimasi dilakukan dengan menggunakan starting value yang berbeda. Bila ternyata hasilnya adalah model tidak konvergen, maka pada titik yang sama harus dilakukan reestimasi (2) Model dicoba diestimasi, kemudian angka koefisien itu ditentukan sebagai suatu fix pada faktor atau variabel kemudian dilakukan estimasi ulang. Apabila estimasi ulang ini overall fit indeknya berubah total dan beberapa sangat besar dari sebelumnya, hal ini diduga terjadi karena terdapat problem identifikasi. Apabila muncul problem ini, maka disarankan untuk mempertimbangkan ulang model ini dengan mengembangkan lebih banyak konstruk.
Langkah ke 6: evaluasi kriteria goodness of fit
Pada langkah ini peneliti harus menggunakan indikator-indikator goodness of fit dalam menilai fit atau tidaknya suatu model. Peneliti tidak boleh hanya menggunakan satu atau beberapa indeks saja untuk menilai suatu model fit, akan tetapi harus mempertimbangkan seluruh indeks. Berikut ini disajikan beberapa indeks sebagai kriteria goodness of fit (Tabel 6).
Tabel 6 Goodness of fit statistics
No Goodness of Fit Index Cut-Off Value
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Chi-square (X2) Significance probability X2/df RMSEA NNFI CFI IFI GFI AGFI PGFI Diharapkan kecil > 0,05 < 2,00 < 0,08 > 0,90 > 0,90 > 0,90 > 0,90 > 0,90 > 0,90 Sumber: Ghozali dan Fuad (2005)
(1) Chi-square (X2)
Tujuan pengujian chi-square adalah untuk mengetahui apakan matriks kovarian sampel berbeda secara signifikan dengan matriks kovarians estimasi (Santoso 2007). Menurut Ghozali (2005), chi-square merupakan ukuran mengenai baik buruknya fit suatu model. Nilai chi-square sebesar 0 menunjukkan bahwa model memiliki fit yang sempurna (perfec fit). Dengan kata lain, uji ini digunakan untuk mengukur overall fit atau kesesuaian model yang dibangun dengan data yang tersedia. Semakin kecil nilai chi-square, semakin baik model itu.
(2)Probabilitas signifikansi (Significance probability)
Probabilitas digunakan untuk memperoleh peluang yang besar terhadap kemungkinannya terjadi pada dunia nyata. Nilai probabilitas yang signifikan adalah yang diharapkan menunjukkan bahwa data empiris sesuai dengan model. Jadi probabilitas signifikan apabila (p) lebih besar daripada 0,05
(3) Indeks X2/df
Ratio perbandingan antara nilai chi-square dengan degrees of freedom (X2/df). Nilai yang diperoleh harus lebih rendah dari cut-off model. Byrne (1998) yang diacu dari Ghozali (2005) mengusulkan nilai rasio ini < 2,0 merupakan ukuran fit. Indeks ini menunjukkan fit suatu model.
(4) RMSEA (Root Mean Square Error of Approximation)
RMSEA merupakan indikator model fit yang paling informatif. Nilai RMSEA antara 0,05 sampai dengan 0,08 merupakan ukuran yang dapat diterima (Ghozali 2005).
(5) NNFI (Non-Nonmed Fit Index)
NNFI atau dikenal juga dengan TLI (Tucker Lewis Index). Nilai ini digunakan untuk mengatasi permasalahan kompleksitas model, nilai untuk NNFI lebih besar 0,9
(6) CFI (Comparative Fit Index)
CFI merupakan indeks yang menunjukkan tingkat fit-nya suatu model yang dibangun. Indeks ini pada dasarnya membandingkan angka NCP (Non Centrality Parameter) pada berbagai model. Berbeda dengan indeks lainnya, indeks ini tidak tergantung pada ukuran sampel. CFI mempunyai range value antara 0 sampai 1. Pada umumnya, nilai diatas 0,9 menunjukkan model sudah fit dengan data yang ada (Bentler and Bonnetts 1990) diacu dalam Ghozali (2005)
(7) IFI (Incremental Fit Index)
Suatu model dikatakan fit apabila nilai IFI lebih besar 0,9 (Byrne 1998 diacu dalam Ghozali dan Fuad (2005).
(8) GFI (Goodness of Fit Indices)
Goodness of fit indices (GFI) merupakan suatu ukuran mengenai ketepatan model dalam menghasilkan observed matriks kovarians. Nilai GFI untuk menghasilkan model yang fit berkisar antara 0 sampai 1 atau lebih besar 0,9 (Diamantopaulus and Sigauw 2000 diacu dalam Ghozali dan Fuad 2005).
(9) AGFI (Adjusted Goodness of Fi Index)
Nilai AGFI adalah sama dengan GFI tetapi sudah menyesuaikan pengaruh dengan degrees of freedom pada suatu model. Secara teoritis angka AGFI berkisar antara 0 (poor fit) sampai 1 (perfect fit), dengan pedoman bahwa semakin hasil
AGFI mendekati angka 1, akan semakin baik model tersebut dalam menjelaskan data yang ada (Santoso 2007).
(10) PGFI (parsimoni goodness of fit index)
Nilai batas PGFI (parsimoni goodness of fit index) lebih besar 0,6 model dikatakan baik (Byrne 1998).
Langkah ke 7: Interpretasi dan modifikasi model
Apabila langkah-langkah sebelumnya sudah dilaksanakan dan model belum memenuhi kriteria good fit maka perlu dilakukan modifikasi model dan di dalam penggunaan indeks modifikasi ini adalah sebagai pedoman untuk melakukan modifikasi terhadap model yang diujikan dengan syarat harus terdapat justifikasi teoritis yang cukup kuat untuk modifikasi. Keunggulan SEM juga dijelaskan oleh Ghozali dan Fuad (2005) bahwa model persamaan struktural adalah generasi kedua teknik multivariate yang memungkinkan peneliti untuk menguji hubungan antara variabel yang kompleks baik recursive maupun non-recursive untuk memperoleh gambaran mengenai keseluruhan model. Tidak seperti analisis
multivariate biasa (regresi berganda, analisis faktor), SEM dapat menguji secara bersama-sama : (1) model struktural: hubungan antara konstruk (yaitu variabel yang laten unobserved/variabel yang tidak dapat diukur secara langsung dan memerlukan beberapa indikator atau proksi untuk mengukurnya) independen dan dependen (2) model measurement: hubungan (nilai loading) antara variabel dengan konstruk (faktor). Digabungkannya pengujian model struktural dan pengukuran tersebut memungkinkan peneliti untuk : (1) menguji kesalahan pengukuran (measurement error) sebagai bagian yang tak terpisahkan dari SEM (2) melalukan analisis faktor bersamaan dengan pengujian hipotesis.
Interpretasi dapat dilakukan setelah memenuhi syarat good fit. Penggunaan SEM bukan untuk menghasilkan teori, tetapi menguji model yang mempunyai pijakan teori yang benar dan baik. Berdasarkan pemikiran ini maka interpretasi dari model dapat diterima atau tidak diperlukan kekuatan prediksi dari model dibandingkan dengan residual yang dihasilkan. Dengan menggunakan
3.6.5 Peran kelembagaan pengelolaan konflik
Evalusi kelembagaan di awali dengan identifikasi resolusi konflik dan
institutional wheels yang menggambarkan peranan kelompok dan organisasi, pengaruh masing-masing pihak yang terkait terhadap pihak yang lain, serta dampak hubungan tersebut baik yang bersifat positif maupun negatif selama melakukan resolusi konflik. Identifikasi menyeluruh terhadap peran kelembagaan dalam upaya resolusi (pengelolaan konflik). Israel (1990) memberikan penjelasan mengenai konsep umum tentang lembaga yang meliputi pada semua tingkatan lokal atau masyarakat, unit manajemen proyek, badan atau departemen pusat dan sebagainya.
Dalam penelitian ini kelembagaan pengelolaan konflik dikelompokkan berdasarkan kriteria: (1) kelembagaan pemerintah (2) kelembagaan non pemerintah (swasta) dan (3) modal kapital sosial masyarakat pesisir yang sudah melembaga baik berupa tradisi leluhur masyarakat berbagai etnis yang tinggal di wilayah pesisir Kalimantan Selatan dan berkaitan dengan pemanfaatan dan pengelolaan sumberdaya perikanan seperti bentuk kerjasama dalam kelembagaan tradisonal masyarakat nelayan yang mendukung pembangunan perikanan tangkap. Kelembagaan pengelolaan konfik dianalisis secara deskriptif kualitatif mulai dari upaya-upaya penyelesaian konflik yang dilakukan oleh lembaga tersebut dan apa saja tindakan dan kegiatan yang telah dilakukan serta sinergi diantara kelembagaan.
Pengembangan kelembagaan mengacu pada pendekatan Uphoff (1986) yang menekankan pada proses untuk memperbaiki kemampuan lembaga dalam mengefektifkan penggunaan sumberdaya manusia dan keuangan yang ada. Berbagai istilah akan muncul, namun demikian semuanya memiliki tujuan peningkatan efektifitas penggunaan sumber daya sehingga pembangunan yang dijalankan akan dapat berhasil. Bagan alir proses penelitian disajikan pada Gambar 8.
Tahap Deskripsi
--- Tahap Preskripsi
Gambar 8 Bagan alir proses penelitian model pengelolaan konflik perikanan tangkap di perairan Kalimantan Selatan
Mulai SURVAI PISCES Identifikasi konflik Permasalahan konflik Upaya penyelesaian Konflik ANALISIS KONFLIK
Kasus dan eskalasi konflik
SURVAI PERSEPSI
SDPT
Analisis Struktural
Equation Model Selesai
Keterangan :
Mulai – Selesai Input Konstruk
Indikator dan analisis
PISCES participatory institutional survei and conflict evaluated exercise
SDPT Sumberdaya Perikanan Tangkap
ANALISIS KELEMBAGAAN PENGELOLAAN KONFLIK Wilayah konflik Kelembagaan KONFLIK OUTCOME Faktor penyebab konflik Teknik resolusi konflik Partisipasi masyarakatdalam pengelolaan SDPT Keberlanjutan perikanan tangkap Keadilan pemanfaatan SDPT RESOLUSI