PENGELOLAAN RESIKO PANEN KELAPA SAWIT
(
Elaeis guineensis
Jacq
.
)
DI PERKEBUNAN PANTAI BUNATI
ESTATE
PT. SAJANG HEULANG MINAMAS PLANTATION
KALIMANTAN SELATAN
Oleh
Camellia Kusumaning Tyas A34104031
PROGRAM STUDI AGRONOMI
FAKULTAS PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
RINGKASAN
CAMELLIA KUSUMANING TYAS. Pengelolaan Resiko Panen Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.) di Perkebunan Pantai Bunati Estate PT. Sajang Heulang Minamas Plantation Kalimantan Selatan. (Dibawah bimbingan ADOLF PIETER LONTOH).
Kegiatan magang dilaksanakan pada tanggal 11 Februari 2008 hingga 11 Juni 2008 di perkebunan kelapa sawit Pantai Bunati Estate, PT. Sajang Heulang Minamas Plantation Kalimantan Selatan. Kegiatan magang ini secara umum bertujuan untuk memperoleh pengalaman dan ketrampilan kerja dalam pengelolaan perkebunan kelapa sawit; meningkatkan relevansi, keterkaitan dan kesepadanan antara proses pendidikan dengan lapangan kerja; dan meningkatkan kemampuan mahasiswa serta menghayati proses kerja nyata baik secara teknis maupun secara managerial.
Selama magang, penulis melaksanakan seluruh jenis pekerjaan di lapangan dan di kantor pada seluruh level manajerial mulai dari Pekerja Harian Lepas (PHL), pendamping Mandor dan pendamping Asisten. Dalam pelaksanaan magang penulis melakukan berbagai macam kegiatan yang meliputi kegiatan pemupukan, pengendalian gulma, perawatan, serta pemanenan.
Kegiatan panen di Pantai Bunati Estate menerapkan sistem panen Block Harvesting System(BHS), yaitu sistem panen yang terkonsentrasi pada satu seksi panen setiap harinya sehingga rotasi panen, kualitas panen dan kualitas buah dapat terjaga. Sistem penghancaan yang digunakan adalah hanca giring tetap sehingga terdapat penghancaan yang tetap baik pemanen maupun mandoran. Sistem upah dan premi panen diberikan jika pemanen telah mencapai atau melebihi basis yang ditentukan. Denda atau sangsi diberikan kepada pemanen dan supervisi yang tidak dapat menjaga kualitas pekerjaan panennya.
Data pengamatan di lapang difokuskan pada kegiatan pemanenan meliputi pengamatan kriteria matang panen, pengamatan hanca mutu buah, pengamatan angka kerapatan panen, danlosses pengangkutan. Data lokasi dan letak geografis kebun, keadaan tanah dan iklim, curah hujan, luas areal dan tata guna lahan, Bobot Janjang Rata - Rata (BJR), tenaga kerja panen, basis dan premi panen, dan datarestan buah diperoleh dengan melihat arsip kebun.
Hasil pengamatan di lapang menunjukkan bahwa penyebab utama kehilangan produksi karena rotasi panen yang tinggi/terlambat. Rotasi panen yang terlambat menyebabkan tingginya persentase buah lewat matang dan janjang kosong. Selain itu rotasi panen terlambat juga berpengaruh terhadap tingginya rasio brondolan tinggal, dan rasio brondolan tinggal tertinggi berdasarkan pengamatan terdapat pada piringan dan ketiak pelepah. Kehilangan hasil pada proses pengangkutan antara lain buahrestan atau buah yang tidak terangkut dan diolah pada hari setelah pemanenan. Nilai angka kerapatan panen di Pantai Bunati Estate menurut data pengamatan sebesar 20 - 25 %.
Dari data pengamatan disimpulkan bahwa sumber - sumber kehilangan produksi di Pantai Bunati Estate antara lain buah mentah, buah masak tinggal di pokok, brondolan tidak dikutip, buah atau brondolan di curi dan administrasi yang tidak akurat. Sumber utama penyebab angkalosses atau kehilangan hasil tinggi di Pantai BunatiEstate adalah terlambatnya rotasi panen.
Oleh karena itu pengelolaan panen perlu lebih ditingkatkan terutama terkait dengan penekanan losses produksi di lapang dengan cara pengawasan panen yang lebih ditingkatkan untuk mengantisipasi pelanggaran yang terjadi. Perlu adanya tindakan yang lebih tegas terhadap pelanggaran dengan pemberian sangsi denda baik kepada pemanen itu sendiri maupun kepada Mandor Panen dan Mandor 1. Penerapan sistem panen dengan menggunakan sistem BHS by DoL-2 perlu lebih cermat, karena sistem ini sangat baik dan lebih dapat meminimalkan jumlah brondolan tinggal di lapangan, selain itu pemanen juga lebih terkonsentrasi dalam menjalankan kegiatan pemanenan dan mempercepat keluarnya buah.
PENGELOLAAN RESIKO PANEN KELAPA SAWIT
(
Elaeis guineensis
Jacq
.
)
DI PERKEBUNAN PANTAI BUNATI
ESTATE
PT. SAJANG HEULANG MINAMAS PLANTATION
KALIMANTAN SELATAN
Skripsi sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pertanian Fakultas Pertanian
Institut Pertanian Bogor
Oleh
Camellia Kusumaning Tyas A34104031
PROGRAM STUDI AGRONOMI
FAKULTAS PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
Judul : PENGELOLAAN RESIKO PANEN KELAPA SAWIT (Elaeis guineensis Jacq.) DI PERKEBUNAN PANTAI
BUNATI ESTATE PT. SAJANG HEULANG
MINAMASPLANTATION, KALIMANTAN SELATAN
Nama : CAMELLIA KUSUMANING TYAS
NPR : A34104031
Menyetujui Pembimbing
Ir. Adolf Pieter Lontoh, MS. NIP : 131 096 975
Mengetahui Dekan Fakultas Pertanian
Prof. Dr. Ir. Didy Sopandie, M. Agr NIP : 131 124 019
RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Banjarnegara, Jawa Tengah pada tanggal 5 Juni 1986. Penulis merupakan anak pertama dari dua bersaudara dari Bapak Purwanto B.Sc dan Ibu Sumiyati.
Jenjang pendidikan formal yang telah dilalui penulis di mulai pada tahun 1992 di SD Negeri Bebengan 01 Boja - Kendal dan lulus pada tahun 1998. Pada tahun 2001 penulis menyelesaikan pendidikan SLTP di SLTP Negeri 01 Boja -Kendal, dan pada tahun 2004 penulis lulus dari SMU Negeri 01 Boja - Kendal.
Pada tahun 2004 penulis diterima menjadi mahasiswa Program Studi Agronomi, Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor melalui jalur Undangan Seleksi Masuk IPB (USMI).
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas berkah dan rahmat - Nya, hingga penulis dapat menyelesaikan laporan tugas akhir yang berjudul Pengelolaan Resiko Panen Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.) Di Perkebunan Pantai Bunati Estate, PT. Sajang Heulang Minamas Plantation, Kalimantan Selatan .
Pada kesempatan ini penulis menyampaikan terimakasih dan penghargaan yang tulus kepada semua pihak yang telah turut membantu sehingga laporan tugas akhir ini dapat tersesaikan, dan secara khusus penulis sampaikan kepada:
• Ayahanda Purwanto, B.Sc, Ibunda Sumiyati, Indigofera Kusuma Wardani dan seluruh keluarga yang selalu memberi dukungan semangat, doa dan motivasi, serta kasih sayang yang tak terbatas kepada penulis.
• Ir. Adolf Pieter Lontoh, MS. selaku dosen pembimbing yang telah memberikan saran, bimbingan, serta pengarahan selama penulisan skripsi. • Ir. Supijatno, MSi dan Ani Kurniawati, SP. MSi selaku dosen penguji
yang telah memberikan saran dan perbaikan dalam penilisan skripsi ini. • Dr. Ir. Munif Ghulamahdi, MS. selaku dosen pembimbing akademik
selama penulis menjalani masa perkuliahan.
• Bapak Endang Syarifuddin selaku Estate Manager Pantai BunatiEstate, Bapak Budi Utomo, Andi Muhtar, Purmono selaku Asisten Divisi dan Bapak Abduh (Kepala Administrasi) yang telah memberikan arahan dan masukan selama pelaksanaan magang.
• Seluruh Direksi Pantai Bunati Estate, PT. Sajang Heulang Minamas Plantation Kalimantan Selatan.
• Seluruh Teman - Teman Agronomi angkatan 41.
Kepada semua pihak yang tak dapat penulis sampaikan satu persatu, yang telah membantu penulis selama perkuliahan dan penyelesaian tugas akhir ini.
Semoga skripsi ini dapat memberikan informasi dan manfaat yang berharga bagi para pembaca.
Bogor, Juli 2008
DAFTAR ISI
Halaman PENDAHULUAN ... 1 Latar Belakang ... 1 Tujuan ... 3 TINJAUAN PUSTAKA ... 4 Botani ... 4 Syarat Tumbuh... 5 Iklim... 5 Tanah ... 5 Pemeliharaan Tanaman ... 6 Panen ... 6 Persiapan Panen... 6Kriteria Matang Panen ... 7
Rotasi Panen ... 7
Sistem Panen ... 7
Sarana Panen ... 7
METODOLOGI. ... 9
Waktu dan Tempat ... 9
Metode Pelaksanaan ... 9
KEADAAN UMUM LOKASI MAGANG ... 12
Letak Geografis... 12
Keadaan Iklim dan Tanah... 12
Areal Konsesi dan Tata Guna Lahan ... 13
Fasilitas Kebun ... 13
ORGANISASI DAN MANAJEMEN KEBUN... 15
Struktur Organisasi dan Ketenagakerjaan ... 15
Pelaksanaan Pengelolaan Kebun Tingkat Staf ... 16
Pelaksanaan Pengelolaan Kebun Tingkat Non Staf ... 16
Pengelolaan Tenaga Kerja Harian ... 17
PELAKSANAAN KEGIATAN TEKNIS DI LAPANGAN... 19
Pemeliharaan Tanaman menghasilkan ... 19
Pemupukan ... 19
Pengendalian Gulma ... 22
Pengendalian Hama dan Penyakit ... 25
Pemeliharaan Lainnya ... 27
Pemanenan ... 28
Persiapan Panen... 31
Kriteria Matang Panen ... 31
Rotasi Panen ... 31
Sistem Panen ... 32
Tenaga Kerja ... 32
Alat dan Perlengkapan Panen ... 33
Pelaksanaan Panen ... 34
Sistem Supervisi dan Denda ... 35
Premi Panen ... 36
Pengangkutan TBS ... 38
Pengelolaan TBS di Pabrik Pengolahan Kelapa Sawit ... 39
Stasiun Peneriman Buah ... 39
Stasiun Perebusan ... 39
Stasiun Perontokan ... 40
Stasiun Pencacah(digester) dan Pengempaan (presser) ... 41
Stasiun Pemurnian ... 41
Stasiun Pemisahan Biji dan Kernel ... 41
PEMBAHASAN ... 43
Produksi ... 43
Pengelolaan Resiko Panen ... 44
Rotasi Panen ... 45
Peramalan Produksi ... 46
Kriteria Panen... 47
Kebutuhan Tenaga Kerja Panen ... 55
Sistem Panen ... 57
Sistem Pengawasan Panen ... 59
Pengelolaan Pengangkutan ... 60
KESIMPULAN DAN SARAN ... 64
Kesimpulan ... 64
Saran ... 64
DAFTAR PUSTAKA ... 65
DAFTAR TABEL
Nomor Halaman
Teks
1. Peningkatan Luas Areal dan Produksi Kelapa Sawit di
Indonesia pada Tahun 2003 2007 .. 1 2. Komposisi Areal Tanaman Kelapa Sawit di Pantai BunatiEstate . 13 3. Jumlah Karyawan Staf dan Karyawan Non Staf di Pantai Bunati
Estate. PT Sajang Heulang ... 15 4. Penurunan Produksi Tanaman Kelapa Sawit Akibat Serangan Hama Ulat Api (Setothosea asigna) ... 26
5. Macam Alat Alat Panen, Spesifikasi dan Pemakaiannya ... 33 6. Ketentuan Basis Borong dan Premi Panen Tahun 2008 Hari Normal Pantai BunatiEstate... 37
7. Ketentuan Basis Borong dan Premi Panen Tahun 2008 Hari Jumat Pantai BunatiEstate... 37
8. Data Produksi Tandan Buah Segar (TBS) Kelapa Sawit
Pantai BunatiEstate ... 43 9. Perkembangan Buah Kelapa Sawit Matang Berdasarkan Fraksi .... 45 10. Pengamatan Angka Kerapatan Panen Divisi I Pantai BunatiEstate
... 46 11. Penggolongan Kematangan Grading TBS ... 47 12. Kriteria Pengamatan Kematangan Tambahan ... 48 13. Hasil PengamatanTingkat Kematangan Buah di Divisi 1
Pantai BunatiEstate, PT. Sajang Heulang ... 49 14. Fraksi Kematangan Buah ... 50 15. Hubungan Fraksi, Rendemen dan Mutu Minyak ... 51 16. PengamatanLosses Produksi Akiabat Resiko Pemanenan Divisi 1
Kemandoran I Pantai BunatiEstate ... 52 17. PengamatanLosses Produksi Akiabat Resiko Pemanenan Divisi 1
Kemandoran II Pantai BunatiEstate . 53 18. PengamatanLosses Produksi Akiabat Resiko Pemanenan Divisi 1
Kemandoran III Pantai BunatiEstate ... 53 19. Luas Seksi Panen Divisi 1 Pantai BunatiEstate ... 56 20. Denda yang Ditetapkan di Pantai BunatiEstate,
21. PengamatanLosses Pengangkutan di Pantai BunatiEstate
PT Sajang Heulang ... 61
Lampiran
1. Jurnal Harian Kegiatan Magang sebagai Pekerja Harian Lepas
(PHL) ... 68 2. Jurnal Harian Kegiatan Magang sebagai Pendamping Mandor ... 70 3. Jurnal Harian Kegiatan Magang sebagai Pendamping Asisten Divisi 72 4. Data Curah Hujan dan Hari Hujan di Pantai BunatiEstate,
PT. Sajang Heulang Kalimantan Selatan (2004 - 2007) ... 73 5. Rekomendasi Pemupukan di Pantai BunatiEstate ... 75
DAFTAR GAMBAR
Nomor Halaman Teks
1. Aplikasi Janjang Kosong dan Penaburan Pupuk... 22
2. Kandang Burung Hantu ... 26
3. TanamanTurnera subulata(bunga pukul delapan)... 27
4. Titi Panen dari Kayu ... 28
5. Buah Cengkih ... 30
6. Alat PanenDodos (atas),Egrek (bawah) ... 34
7. Kegiatan Pengangkutan TBS... 38
8. Bejana Rebusan ... 40
9. Drum Thresser ... 40
10. Stasiun Pemurnian ... 41
11. Produksi Tandan Buah segar (TBS) Kelapa Sawit Pantai BunatiEstate ... 42
12. Buah Janjang Kosong dan Buah Lewat Matang... 50
13. Bunga Matahari ... 54
14. Antrian Kendaraan di PKS ... 62
Lampiran 1. Peta Lokasi Pantai BunatiEstate ... 76
2. Struktur Organisasi Pantai BunatiEstate ... 77
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.) selain merupakan salah satu palma yang menyumbang minyak nabati terbesar di dunia yaitu sebesar 2 000 3 000 kg/ha juga merupakan komoditi perkebunan andalan penghasil devisa negara. Laju perkembangan industri kelapa sawit semakin meningkat sejalan dengan semakin meningkatnya ilmu pengetahuan terutama di bidang teknologi.
Minyak yang berasal dari kelapa sawit ada dua macam yaitu dari daging buah (mesocarp) yang dihasilkan melalui proses perebusan dan pemerasan dikenal sebagai minyak sawit kasar atauCrude Palm Oil(CPO) dan minyak yang berasal dari inti sawit (endocarp) dikenal sebagai minyak inti sawit atauPalm Kernel Oil (PKO). Dari segi nutrisi, minyak sawit mengandung tokoferol (vitamin E), beta karoten sebagai pro vitamin A dan tidak meningkatkan kadar kolesterol darah. Produk kelapa sawit selain digunakan sebagai bahan baku minyak goreng, juga dapat digunakan sebagai bahan kosmetika dan farmasi serta bahan non makanan seperti biodisel, lilin, detergen (Lubis, 1992).
Luas areal dan produksi perkebunan kelapa sawit Indonesia pada tahun 2003 - 2007 pada umumnya menunjukkan adanya peningkatan yang signifikan. Peningkatan ini dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Peningkatan Luas Areal dan Produksi Kelapa Sawit di Indonesia pada Tahun 2003 2007
Keterangan Luas (ha) Produksi (ton)
2003 2007 2003 2007 P. Rakyat P. Besar Negara P. Besar Swasta 1 854 400 662 800 2 766 400 2 571 200 694 300 3 058 800 3 517 300 1 750 600 5 172 900 5 811 000 2 388 200 8 691 400 Sumber : Direktorat Jendral Bina Produksi Perkebunan, 2008
Perkembangan volume dan nilai ekspor kelapa sawit Indonesia juga mengalami peningkatan, hal ini dapat dilihat dari peningkatan CPO pada tahun 2003 dengan volume 2 892 100 ton senilai US$ 1 062 215 meningkat pada tahun 2007 dengan volume 5 701 300 ton senilai US$ 3 738 652. Untukother palm oil
pada tahun 2003 dengan volume 3 494 300 ton senilai US$ 1 392 411 dan pada tahun 2007 dengan volume 6 174 100 ton senilai US$ 4 129 988.
Saat ini ada lima besar negara produsen CPO dunia yaitu Malaysia menguasai 44 % pasar minyak sawit dunia, Indonesia 41 %, Thailand 3 % sedangkan Colombia dan Nigeria masing - masing 2 % dan lainnya 8 %. Tujuan ekspor CPO Indonesia pada tahun 2007 adalah India sebanyak 47 %, Belanda 10 %, Singapura 9 %, Malaysia dan Jerman masing - masing 5 % dan lainnya 24 % (Direktorat Jendral Bina Produksi Perkebunan, 2008).
Dalam upaya mempertahankan dan meningkatkan produksi tersebut, maka diperlukan berbagai usaha diantaranya perbaikan baik dalam bidang budidaya maupun dalam bidang manajerial, dimulai dari pembukaan lahan hingga pemanenan dan pengolahan hasil. Selain itu Indonesia memiliki potensi berupa sumberdaya alam, sumberdaya manusia, dan teknologi untuk terus mengembangkan perkebunan dan industri kelapa sawit (Naibaho, Arifin, dan Djamin, 1992).
Panen merupakan salah satu kegiatan yang penting pada pengelolaan tanaman kelapa sawit. Selain bahan tanaman dan pemeliharaan tanaman, panen juga merupakan salah satu faktor yang penting dalam peningkatan produksi. Keberhasilan panen akan menunjang pencapaian produktivitas tanaman kelapa sawit. Panen meliputi pemotongan tandan buah matang panen, pengutipan brondolan, pemotongan pelepah, pengangkutan hasil ke Tempat Pengumpulan Hasil (TPH) dan pengangkutan hasil ke pabrik. Keberhasilan panen didukung oleh pengetahuan tentang persiapan panen, kriteria matang panen, rotasi panen, sistem panen, sarana panen, pengawasan panen dan pengangkutan tandan buah, yang semuanya berpengaruh nyata baik terhadap kuantitas maupun kualitas minyak yang akan diperoleh. Setiap aspek merupakan kombinasi yang tidak terpisahkan satu sama lain (Mangoensoekarjo, 2005).
Kualitas buah sawit ditentukan oleh rendemen minyak dan tinggi rendahnya kandungan Asam Lemak Bebas (ALB). Pemanenan pada buah mentah akan menghasilkan rendemen minyak yang kecil karena kadar minyak dan ALB pada buah mentah rendah. Apabila pemanenan dilakukan pada saat buah dalam keadaan lewat matang, kandungan asam lemak bebasnya tinggi. Untuk itu
diperlukan kriteria panen yang tepat sehingga dapat menghasilkan kadar minyak dan asam lemak bebas yang terkandung dalam buah dalam keadaan yang tepat. Buah yang diharapkan adalah buah yang mempunyai rendemen minyak tinggi dan memiliki kandungan ALB rendah. Adapun kriteria panen yang biasa dipakai adalah pada saat dua brondolan (sudah ada dua buah yang lepas dari tandannya atau jatuh ke piringan pohon) tiap kg tandan. Untuk tandan lebih dari 10 kg dipakai satu brondolan jatuh. Namun kriteria tersebut harus pula disesuaikan dengan keadaan lingkungan (Lubis, 1992).
Tujuan
Tujuan umum pelaksanaan magang adalah :
1. Memperoleh pengalaman dan keterampilan kerja dalam pengelolaan perkebunan kelapa sawit.
2. Meningkatkan relevansi, keterkaitan dan kesepadanan antara proses pendidikan dengan lapangan kerja.
3. Meningkatkan kemampuan mahasiswa dan menghayati proses kerja nyata baik secara teknis maupun secara manajerial.
Tujuan khusus pelaksanaan magang adalah :
Mempelajari dan menganalisis aspek pengelolaan resiko panen pada perkebunan kelapa sawit.
TINJAUAN PUSTAKA
Botani
Tanaman kelapa sawit berasal dari Afrika dan Amerika Selatan tepatnya Brasilia. Di Brasilia, tanaman ini dapat ditemukan tumbuh secara liar atau setengah liar di sepanjang tepi sungai (Pahan, 2006). Ada tiga jenis kelapa sawit yaitu Elaeis guineensis Jacq (ditanam di Indonesia), Elaeis oleifera (Elaeis melanocca), dan Elaeis odora (Barcella odora). Ada beberapa varietas tanaman kelapa sawit yang telah dikenal seperti Dura, Pisifera, Tenera, Marco carya, dan Diwikka - wakka (Fauzi, dkk., 2006). Elaeis berasal dari Elaion berarti minyak dalam bahasa Yunani, Guineensis berasal dariGuinea (pantai barat Afrika). Jacq berasal dari nama Botanist Amerika bernama Jacquin (Lubis, 1992).
Taksonomi dari tanaman kelapa sawit adalah: Divisi : Tracheophyta Subdivisi : Pteropsida Kelas : Angiospermeae Subkelas : Monocotyledoneae Ordo : Cocoideae Famili : Palmae Subfamili : Cocoideae Genus : Elaeis
Spesies : Elaeis guineensis Jacq.
Kelapa sawit merupakan tumbuhan monokotil. Batangnya tumbuh lurus, umumnya tidak bercabang, pada pangkal biasanya terjadi pembesaran batang, dan tidak memiliki kambium. Tanaman ini merupakan tanaman monoecious, dimana bunga jantan dan bunga betina tumbuh secara terpisah pada satu pokok tanaman. Masa masak atau anthesis dari kedua jenis bunga tersebut sangat jarang atau tidak pernah bersamaan. Ini berarti bahwa proses pembuahan bunga betina terjadi dengan diperolehnya tepung sari dari pokok bunga lain (Hardon, 1976).
Akar merupakan bagian tanaman yang berfungsi untuk menunjang struktur batang di atas tanah, menyerap air dan unsur - unsur hara dalam tanah, serta sebagai salah satu alat respirasi. Sistem perakaran kelapa sawit merupakan sistem
akar serabut, terdiri dari akar primer, sekunder, tersier, dan kuartener. Akar primer umumnya berdiameter 6 - 10 mm keluar dari pangkal batang dan menyebar secara horizontal dan menghujam ke dalam tanah dengan sudut yang beragam. Akar primer bercabang membentuk akar sekunder yang diameternya 2 - 4 mm. Akar sekunder bercabang membentuk akar tersier yang berdiameter 0.7 - 1.2 mm dan umumnya bercabang lagi membentuk akar kuartener (Pahan, 2006).
Daun kelapa sawit merupakan daun majemuk dan mempunyai filotaksis 1/8 yang memutar ke kiri maupun ke kanan, tetapi kebanyakan memutar ke kanan. Stomata umumnya terletak pada permukaan anak daun saja (Lubis, 1992).
Syarat Tumbuh
Kelapa sawit adalah tanaman hutan yang dibudidayakan. Tanaman ini memiliki respon yang baik sekali terhadap kondisi lingkungan hidup dan perlakuan yang diberikan. Seperti tanaman budidaya yang lainnya maka kelapa sawit membutuhkan kondisi tumbuh yang baik agar potensi produksinya dapat dikeluarkan secara maksimal. Kondisi iklim dan tanah merupakan faktor utama di samping faktor lainnya seperti genetis, perlakuan yang diberikan dll.
Iklim
Kelapa sawit dapat tumbuh dengan baik pada daerah tropika basah disekitar lintang Utara - Selatan 12o pada ketinggian 0 - 500 m diatas permukaan laut. Jumlah curah hujan yang baik adalah 2 000 - 2 500 mm/tahun. Tanaman kelapa sawit dapat tumbuh optimal pada kisaran suhu 24o - 28o C, dengan kelembaban 80 % dan penyinaran matahari 5 - 7 jam/hari. Kecepatan angin 5 - 6 km/jam sangat baik untuk membantu proses penyerbukan (Lubis, 1992).
Tanah
Tanah atau lahan merupakan matriks tampat tanaman berada. Tanpa lahan, tanaman kelapa sawit tidak akan ekonomis untuk diusahakan secara komersial. Lahan yang optimal untuk kelapa sawit harus mengacu pada 3 faktor, yaitu lingkungan, sifat fisik lahan, dan sifat kimia tanah atau kesuburan tanah (Pahan, 2006).
Kelapa sawit dapat tumbuh pada berbagai jenis tanah seperti podsolik, latosol, hidromorfik kelabu, regosol, andosol, organosol dan alluvial. Sifat fisik tanah yang baik untuk kelapa sawit adalah solum tebal (80 cm), solum tebal merupakan media yang baik bagi perkembangan akar sehingga efisiensi penyerapan hara tanaman akan lebih baik; tekstur ringan dengan komposisi pasir 20 - 60 %, debu 10 - 40 %, liat 20 - 50 %; perkembangan struktur baik, konsistensi gembur sampai agak teguh dan permeabilitas sedang; kelapa sawit dapat tumbuh pada pH 4.0 6.0, tetapi pH terbaik adalah 5.0 - 5.5. pH tanah sangat terkait dengan ketersediaan hara yang dapat diserap oleh akar. Tanah yang memiliki pH rendah dapat dinaikkan dengan pengapuran dan biasanya terdapat pada tanah gambut; kandungan unsur hara tinggi yaitu C/N mendekati 10 dimana C 1 % dan N 0.1 %, daya tukar Mg 0.4 1.0 me/100 g dan daya tukar K 0.15 -0.20 me/100 g (Lubis, 1992).
Pemeliharaan Tanaman
Kegiatan pemeliharaan tanaman sangat penting untuk menentukan hasil produksi dan produktivitas suatu tanaman. Pemeliharaan kelapa sawit meliputi kegiatan penyulaman, penanaman tanaman penutup tanah, pengendalian gulma, pemupukan, pengendalian hama dan penyakit, penunasan, dan kastrasi atau penyerbukan buatan.
Panen
Panen merupakan salah satu kegiatan yang sangat penting pada pengelolaan tanaman kelapa sawit menghasilkan. Keberhasilan panen akan menunjang pencapaian produktivitas kelapa sawit.
Keberhasilan panen didukung oleh pengetahuan panen tentang persiapan panen, kriteria matang panen, rotasi panen, sistem panen dan sarana panen.
Persiapan Panen
Persiapan panen yang akurat akan memperlancar pelaksanaan panen. Persiapan ini meliputi kebutuhan tenaga kerja, peralatan, pengangkutan, dan pengetahuan kerapatan panen, serta sarana panen. Persiapan tenaga meliputi
jumlah tenaga kerja dan pengetahuan/ketrampilannya. Kebutuhan tenaga kerja bergantung pada keadaan topografi, kerapatan panen, dan umur tanaman.
Kriteria Matang Panen
Kelapa sawit berbuah setelah berumur 2.5 tahun dan buahnya masak 5.5 bulan setelah penyerbukan. Suatu areal sudah dapat dipanen jika tanaman telah berumur 31 bulan, sedikitnya 60 % buah telah matang panen, dari 5 pohon terdapat satu tandan buah matang panen. Ciri tandan matang panen adalah sedikitnya ada dua buah yang lepas/jatuh dari tandan yang beratnya kurang dari 10 kg atau sedikitnya ada satu buah yang lepas dari tandan yang beratnya 10 kg atau lebih (Lubis, 1992)
Rotasi Panen
Rotasi panen adalah selang waktu antara panen satu dengan panen berikutnya pada satu hanca panen (Fauzi et al., 2006). Rotasi panen tergantung pada kerapatan panen, kapasitas pemanen dan keadaan pabrik, namun yang ideal adalah 7 hari.
Sistem Panen
Sistem hanca panen tergantung pada keadaan topografi lahan dan ketersediaan tenaga kerja. Sistem panen terdiri dari sistemhanca tetap dan sistem hanca giring. Padahanca tetap setiap pemanen diberikanhanca panen yang sama dengan luasan tertentu dan harus selesai pada hari tertentu, sedangkan padahanca giring, setiap pemanen diberikanhanca per baris tanaman dan digiring bersama.
Sarana Panen
Sarana yang diperlukan untuk pemanenan antara lain jalan panen, tangga panen, titi panen dan TPH. Peralatan yang digunakan adalah dodos, kampak, egrek, dan galah. Persiapan sarana panen seperti pengerasan jalan, pembuatan titi/tangga panen, jalan panen (pikul), dan Tempat Pengumpulan Hasil (TPH).
Kebutuhan tenaga kerja pemanenan dapat dihitung dengan rumus : Kebutuhan tenaga pemanen =
Keterangan :
A = luashanca (kappel) yang akan dipanen (ha) B = kerapatan panen
C = rata - rata berat buah (kg) D = populasi tanaman/ha E = kapasitas panen/hk
Kebutuhan alat pengangkutan disesuaikan dengan produksi dan jalan ke pabrik kelapa sawit. Pengangkutan buah dari kebun ke pabrik kelapa sawit harus dilakukan secepat mungkin agar menjaga kualitas buah kelapa sawit pada kadar asam lemak bebas normal (< 3 %). Jenis alat transportasi tergantung pada skala usaha, saran dan prasarana jalan yang tersedia.
METODE MAGANG
Waktu dan Tempat
Kegiatan magang ini dilaksankan selama 4 bulan, dimulai tanggal 11 Februari 2008 sampai dengan tanggal 11 Juni 2008 di Pantai Bunati Estate, PT. Sajang Heulang, Kecamatan Angsana, Kabupaten Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan.
Metode Pelaksanaan
Kegiatan magang secara keseluruhan dilakukan selama 4 bulan. Penulis bekerja langsung di lapang sebagai Pekerja Harian Lepas (PHL) selama dua bulan, sebagai pendamping Mandor selama satu bulan dan sebagai pendamping Asisten Divisi selama satu bulan. Setiap kegiatan dicatat kedalam jurnal harian seperti yang tercantum pada Tabel Lampiran 1 untuk status PHL, Tabel Lampiran 2 untuk status sebagai pendamping Mandor dan Tabel Lampiran 3 untuk status sebagai pendamping Asisten.
Kegiatan harian yang dilaksanakan oleh penulis selama menjadi PHL antara lain mengikuti kegiatan LSU, until pupuk, aplikasi pemupukan, aplikasi janjang kosong, pengendalian gulma (semprot gawangan chemist, semprot piringanchemist dan perawatan manual), perawatan dan pembuatan markah blok, dan panen. Dalam melaksanakan kegiatan penulis mengamati dan mencatat beberapa hal seperti mengisi jurnal harian, mencatat prestasi kerja penulis dan karyawan, alat dan bahan yang digunakan, jumlah luasan yang dicapai secara teknis pelaksanaan dilapang.
Kegiatan saat menjadi pendamping Mandor antara lain mengawasi dan mengkoordinir para tenaga kerja, membuat jurnal harian kerja, pembuatan laporan. Disamping kegiatan sebagai pendamping Mandor penulis juga mengikuti kegiatan sebagai pendamping Kerani (Kerani Divisi, Kerani Panen, Kerani Transport dan Kerani Kantor Besar).
Pada saat menjadi pendamping Asisten Divisi, penulis mempelajari teknik pembuatan laporan, membuat jurnal harian, mempelajari rencana kerja bulanan atau tahunan.
Selama magang kegiatan rutin yang dilakukan penulis diantaranya adalah mengikuti apel pagi dan apel sore yang dipimpin Asisten Divisi, serta mengikuti kegiatan antrian pagi yang dipimpin Mandor.
Kegiatan pengambilan data dilakukan dengan pengumpulan data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dengan metode langsung, yaitu melalui pengamatan atau mengikuti kegiatan langsung di lapang. Data sekunder di peroleh dengan melihat arsip kebun.
Data pengamatan di lapang difokuskan pada kegiatan pemanenan meliputi: a) Kriteria Matang Panen
Kriteria matang panen ini didasarkan pada tingkat kematangan buah antara lain buah mentah, kurang matang, matang, lewat matang, janjang kosong dan kriteria tambahan berupa gagang panjang. Pengamatan ini dilakukan dengan mengamati 4 seksi panen, pada masing - masing seksi panen di ambil 40 TPH (Tempat Pengumpulan Hasil) untuk diamati dan dimana dua seksi panen berada pada rotasi panen normal (7 - 9 hari) sedang dua seksi panen yang lain berada pada rotasi panen panjang/terlambat (> 9 hari).
b) PengamatanHanca Mutu Buah
Pengamatanhanca mutu buah dilakukan dengan menghitung jumlah buah masak tidak dipotong, buah dipanen tidak terangkut ke TPH, dan jumlah brondolan yang tidak terkutip baik yang terdapat di piringan, pokok, pasar rintis, gawangan, potongan tangkai maupun di bunga matahari. Pengamatan ini dilakukan pada tiap Kemandoran panen, dimana tiap kemandoran tersebut diambil 6 orang pemanen dan masing - masing pemanen diambil 20 sampel janjang yang dipanen.
c) Angka Kerapatan Panen
Angka kerapatan panen diambil pada dua blok panen yang akan dipanen esok hari (15 % dari areal yang akan dipanen esok hari) dengan penghitungan pokok sawit di pasar rintis ke 5 - 6, 17 - 18, 29 - 30, 41 - 42,dst.
d) Losses Pengangkutan
Pada pengamatan losses pengangkutan dilakukan pencatatan lama waktu pengangkutan buah dari tempat pengumpulan hasil ke dalam truk dan banyaknya
brondolan tinggal pada tiap - tiap tempat pengumpulan hasil. Pengamatan ini didasarkan pada buah dalam keadaan normal dan buah dalam keadaan restan.
Data sekunder diperoleh dengan melihat arsip kebun meliputi lokasi dan letak geografis kebun, keadaan tanah dan iklim, curah hujan, luas areal dan tata guna lahan, Bobot Janjang Rata - Rata (BJR), tenaga kerja panen, basis dan premi panen, datarestan buah.
KEADAAN UMUM LOKASI MAGANG
Letak Geografis
Secara administratif Pantai Bunati Estate PT. Sajang Heulang, Minamas Plantation terletak di Desa Bunati, Kecamatan Angsana, Kabupaten Tanah Bumbu, Provinsi Kalimantan Selatan. Lokasi Pantai Bunati Estate sebelah Utara berbatasan dengan Desa Sebamban dan Desa Karang Indah, sebelah Barat berbatasan dengan Desa Angsana dan Desa Setarap, sebelah Selatan berbatasan dengan Desa Angsana, dan disebelah Timur berbatasan dengan Desa Penyiputan dan Desa Dwi Marga.
Lokasi perkebunan PT. Sajang Heulang secara geografis terletak pada koordinat 1140 19 13 BT - 1160 33 28 BT dan 10 21 49 LS 40 10 14 LS dengan ketinggian 0 - 50 meter di atas permukaan laut (dpl). Peta lokasi kebun dapat dilihat pada Gambar Lampiran 1.
Keadaan Iklim dan Tanah
Iklim di Pantai Bunati Estate termasuk ke dalam iklim basah. Menurut sistem klasifikasi Schmidt Ferguson, areal kebun Pantai Bunati Estate termasuk dalam kelas B (iklim basah dengan bulan basah diatas 100 mm/bulan rata - rata 9 bulan dan bulan kering dibawah 60 mm/bulan rata - rata 3 bulan). Rata - rata curah hujan tahunan adalah 1 942 mm dengan rata - rata hari hujan 139 mm. Curah hujan tertinggi antara tahun 2004 - 2008 terjadi pada tahun 2007, dengan curah hujan tertinggi bulan Juni sebesar 687 mm sedangkan curah hujan terendah terjadi pada bulan Desember yaitu 66 mm. Jumlah hari hujan selama tahun 2007 adalah 155 hari dengan hari terbanyak hujan terjadi pada bulan Februari yaitu 22 hari. Data curah hujan tahun 1998 sampai dengan tahun 2008 dapat dilihat pada Tabel Lampiran 4.
Temperatur rata-rata berkisar antara 23.30C - 32.70C dengan kelembaban udara rata - rata antara 55 % - 98 % tiap bulan, sedang rata - rata tekanan udara di PT. Sajang Heulang berkisar antara 1 009.3 mm Hg - 1 013.6 mm Hg.
Kondisi topografi lahan di Pantai Bunati Estate datar hingga bergelombang dengan tingkat ketinggian lereng < 10 % dan panjang lereng
mencapai ± 150 meter. Jenis tanah di lokasi perkebunan yaitu Ultisol, Alfisol, Oxisol, Inceptisol.
Areal Konsesi dan Tata Guna Lahan
Luas areal PT Sajang Heulang sampai dengan November 2007 mencapai ± 23 794 ha dengan 7 794 ha merupakan kebun inti dan 16 000 ha merupakan kebun plasma. Perkebunan kelapa sawit Pantai Bunati Estate dibangun diareal konsesi seluas 2 715 ha, areal konsesi terbagi menjadi areal tanaman menghasilkan (TM) seluas 2 505 ha, areal pembukaan baru (LC) yang Belum dikerjakan seluas 40 ha, areal prasarana (emplasement, jalan, jembatan, dan parit) seluas 170 ha. Pantai Bunati Estate terbagi menjadi 3 divisi, yaitu Divisi I seluas 1 086 ha, Divisi II seluas 867 ha, dan Divisi III seluas 762 ha dengan pembagian luas berdasarkan tahun tanam seperti pada Tabel 2.
Tabel 2. Komposisi Areal Tanaman Kelapa Sawit di Pantai Bunati Estate
Divisi Luas areal berdasarkan tahun tanam (ha) Total (ha) 1996 1997 1998 I II III 254 -511 62 -222 741 715 987 803 715 Total 254 573 1 678 2 505 Sumber : Kantor Besar Pantai BunatiEstate
Fasilitas Kebun
Kebun Pantai BunatiEstate memiliki beberapa fasilitas yang mendukung kegiatan kerja dan kebutuhan hidup karyawannya. Fasilitas gedung antara lain kantor besar, kantor Divisi di setiap Divisi, pos pengamanan, gedung olahraga, puskesmas, kantor traksi dan beberapa gudang bahan dan alat.
Kebun juga menyediakan sarana tempat tinggal bagi karyawan. Untuk karyawan tingkat staf, tempat tinggal berada di dalam kawasan kantor besar sedangkan pondok karyawan terdapat di setiap Divisi dan terdapat Tempat Penitipan Anak (TPA). Terdapat pula sarana ibadah berupa masjid yang dibangun untuk tiap Divisi (sarana ibadah disesuaikan dengan mayoritas agama karyawan yang berada di sekitar pondok).
Pihak kebun juga menyediakan sarana transportasi antar - jemput bagi karyawan dengan menggunakan truk jemputan dan bus bagi setiap siswa yang bersekolah di luar kawasan kebun.
ORGANISASI DAN MANAJEMEN KEBUN
Struktur Organisasi dan Ketenagakerjaan
Stuktur organisasi Pantai Bunati Estate dipimpin oleh seorang Estate Manager yang membawahi seorang Asisten Kepala, dua orang Asisten Divisi, dan seorang Kepala Administrasi (kasie). Asisten Kepala memimpin satu Divisi dan bagian traksi sedangkan dua orang Asisten Divisi masing - masing memimpin satu Divisi. Kepala Administrasi mimimpin kegiatan administratif di Kantor Besar dan gudang sentral. Hubungan Estate Manager, Asisten Kepala, Asisten Divisi, dan Kepala Administrasi terjalin pada satu garis instruksi atau perintah. Struktur organisasi Pantai BunatiEstate dapat dilihat pada Gambar Lampiran 2
Jumlah karyawan di Pantai BunatiEstate sampai dengan bulan Mei 2008 adalah 416 orang yang terdiri dari 5 orang staf dan 411 orang karyawan non staf. Tenaga kerja non staf terdiri dari Serikat Karyawan Utama Bulanan (SKU-B) dan Serikat Karyawan Utama Harian (SKU-H). Tenaga kerja di Pantai BunatiEstate ini tidak diberlakukan karyawan Buruh Harian Lepas (BHL) ataupun karyawan Honorer. Sistem pengupahan yang diberlakukan didasarkan pada Upah Minimum Regional (UMR) sebesar Rp 29 800 per hari kerja (HK) dengan mekanisme pemberian gaji pada karyawan non staf dilakukan dua kali dalam sebulan. Adapun jumlah karyawan staf dan karyawan non staf yang ada di Pantai BunatiEstate, PT Sajang Heulang periode Mei 2008 dapat dilihat pada Tabel 3.
Tabel 3. Jumlah Karyawan Staf dan Karyawan Non Staf di Pantai BunatiEstate. PT. Sajang Heulang.
No Status Jabatan Jumlah
1 2 Staf Non Staf Estate Manager Asisten Kepala Asisten Divisi Kepala Administrasi SKU-B Kantor SKU-B Traksi SKU-B Afdeling SKU-Harian orang 1 1 2 1 12 15 24 360 Jumlah 416
Pelaksanaan Pengelolaan Kebun Tingkat Staf
Pengelolaan kebun tingkat staf dilaksanakan oleh Estate Manager, kepala administrasi, Asisten Kepala, dan Asisten Divisi. Estate Manager bertugas mengelola kebun mulai dari kegiatan perencanaan, mengorganisir, mengelola, dan mengontrol kebun untuk pencapaian target produksi. Estate Manager bertanggungjawab atas seluruh kegiatan operasional dan administrasi kebun.
Kepala administrasi bertugas menangani seluruh kegiatan administrasi, keuangan kebun seperti kegiatan pengupahan karyawan, pencatatan seluruh produksi TBS kebun, administrasi keluar masuknya bahan dan material dari gudang yang setiap akhir bulan akan dilaporkan kepada Estate Manager yang diteruskan keGeneral Manager dalam laporan pertanggungjawaban.
Asisten Kepala bertugas mengawasi seluruh kegiatan kebun dan bertanggungjawab langsung kepada Estate Manager. Asisten Kepala di Pantai Bunati Estate merangkap sebagai Asisten Divisi dan membawahi dua orang Asisten Divisi dan traksi. Asisten Divisi bertugas dan bertanggungjawab mengelola kebun secara teknis maupun administrasi Divisi. Asisten Divisi melakukan berbagai perencanaan diantaranya rencana kerja dan anggaran tahunan, rencana kerja uang bulanan, rencana kerja harian, perencanaan kebutuhan tenaga kerja, dan juga perencanaan sarana dan prasarana yang dibutuhkan dalam pelaksanaan rencana. Dalam pelaksanaan tugasnya, Asisten Divisi dibantu oleh Mandor I dan membawahi beberapa Mandor serta Kerani.
Pelaksanaan Pengelolaan Kebun Tingkat Non Staf
Pengelolaan kebun tingkat non staf dilaksanakan oleh Mandor I, Mandor, Kerani Panen, Kerani Transport, Kerani Divisi, dan Kepala Gudang. Mandor I bertugas untuk melakukan koordinasi secara langsung terhadap Mandor ataupun karyawan di lapangan. Mandor bertugas mengawasi dan menempatkan karyawan sesuai dengan bagiannya masing - masing kemudian mencatat hasil pekerjaan pada hari itu di BKM (Buku Kegiatan Mandor). Selain itu juga melakukan pengabsenan kepada para pekerja. Kerani Panen bertugas mencatat hasil pemeriksaan buah di TPH (Tempat Pengumpulan Hasil) ke dalam Buku Penerimaan Buah. Kerani Transport bertugas mencatat jumlah buah di tiap blok,
mengatur jumlah armada yang diperlukan untuk mengangkut TBS ke PKS (Pabrik Kelapa Sawit), membuat surat pengantar buah untuk angkutan yang mengangkut TBS ke PKS dan melaporkan jika terdapat buah restan. Kerani Divisi bertugas merekap hasil laporan Mandor dan setiap harinya dilaporkan ke kantor besar. Kepala Gudang bertugas mencatat segala keperluan baik pemasukan maupun pengeluaran persediaan barang digudang untuk kegiatan di lapang serta membuat administrasi distribusi barang untuk setiap divisi.
Pengelolaan Tenaga Kerja Harian
Kegiatan harian lapang dimulai pada pukul 05.30 WITA berupa lingkaran (apel) pagi di setiap Divisi. Kegiatan ini dipimpin oleh Asisten Divisi dengan melakukan evaluasi terhadap pekerjaan yang telah dilakukan pada hari sebelumnya dan memberikan instruksi pekerjaan yang akan dilakukan pada hari ini kepada Mandor. Setelah itu dilanjutkan dengan kegiatan antrian pagi yang diikuti oleh para pekerja dan Mandor. Kegiatan ini dilakukan untuk memberikan instruksi kepada pekerja oleh Mandor sesuai dengan instruksi dari Asisten Divisi dan melakukan absen pada para pekerja. Seluruh pekerjaan di lapang dimulai pada pukul 07.00 WITA dan berakhir pada pukul 14.00 WITA untuk hari senin, selasa, rabu, kamis, dan sabtu sedangkan untuk hari jumat pekerjaan di lapang berakhir pada pukul 11.30 WITA.
Seorang Asisten Divisi membawahi seorang Mandor I, Mandor, Kerani dan Mantri Buah. Pengawasan langsung di lapang dilakukan oleh Asisten Divisi atas seluruh kegiatan yang dilaksanakan baik yang dilakukan oleh para Mandor maupun oleh karyawan. Selain melakukan pengawasan secara langsung di lapang, Asisten Divisi juga melakukan pengawasan dan evaluasi pada Buku Kerja Mandor (BKM).
Mandor I bertugas sebagai koordinator bagi para Mandor agar pelaksanaan pekerjaan sesuai dengan rencana kerja yang telah ditetapkan, memonitoring proses evakuasi TBS ke PKS, melakukan evaluasi atas pekerjaan para Mandor dan Kerani, dan bersama - sama Asisten Divisi membuat rencana kerja panen untuk esok hari. Mandor I membawahi Mandor, Kerani Divisi, Kerani Panen, dan Mantri Buah.
Mandor bertugas mengabsen karyawan, memberikan instruksi pekerjaan, mengaturhanca karyawan, mengawasi pekerjaan dan melaporkan hasil pekerjaan dalam sebuah Buku Kerja Mandor pada kegiatan apel sore yang dilakukan pada pukul 15.30 WITA. Struktur organisasi tingkat Divisi dapat dilihat pada Gambar Lampiran 3.
PELAKSANAAN KEGIATAN TEKNIS DI LAPANG
Pemeliharaan Tanaman Menghasilkan Pemupukan
Pemupukan merupakan suatu kegiatan untuk menambahkan unsur hara yang diperlukan pada tanaman karena ketersediaan hara di lahan kurang memenuhi kebutuhan tanaman. Pelaksanaan pemupukan di Pantai Bunati Estate ditentukan oleh Departemen Riset berdasarkan pertimbangan hasil analisa daun, analisa tanah, umur dan kondisi tanaman, iklim, keseimbangan hara, biaya, produksi yang telah diperoleh, dan target produksi yang akan dicapai. Analisis tanah menunjukkan potensi ketersediaan hara dalam tanah yang dapat diserap akar, sedangkan analisis tanaman merefleksikan status nutrisi aktual dalam jaringan tanaman.
Di Pantai BunatiEstate analisis daun dilakukan dengan LSU (Leaf Sample Unit) atau merupakan suatu bentuk kegiatan analisis status hara yang dilakukan menggunakan sampel daun. Kegiatan ini dilakukan setiap tahun pada setiap blok.
Pelaksanaan LSU atau analisis daun selain digunakan untuk mengetahui kekurangan unsur hara pada tanaman, juga dapat digunakan sebagai penentu dosis yang akan di aplikasikan untuk masing - masing blok. Pengambilan contoh daun dari tanaman harus dapat mewakili satu luasan tertentu yang seragam dalam hal jenis dan kesuburannya, umur tanaman, perlakuan yang diberikan dan memiliki variasi yang kecil dalam hal - hal lainnya. Pelaksanaan pengambilan contoh daun pada analisis daun dilakukan sekali dalam setahun dan rekomendasi pemupukan harus diterima kebun selambat - lambatnya bulan Oktober untuk program berikutnya. Sehingga pelaksanaan pemupukan dapat berjalan tepat waktu.
Tanaman yang dipakai sebagai tanaman contoh haruslah memenuhi beberapa ketentuan, antara lain :
Ø Tanaman harus dalam kondisi normal, sehat dan tidak terserang HPT (Hama Penyakit Tanaman)
Ø Tidak berada di dekat jalan, parit atau bangunan
Untuk kegiatan LSU menggunakan sistem 12 x 11, artinya pergeseran tanaman tanaman dari arah Barat ke Timur adalah adalah 12 tanaman dan pergeseran dari Selatan ke Utara adalah 11 tanaman. Tanaman contoh pertama (TS1) diambil dari arah Barat ke Selatan blok pada baris ke tiga dan tanaman ke tiga dalam baris. Selanjutnya bergeser sebanyak 12 tanaman, sehingga merupakan contoh ke dua (TS2). Jika rintis telah ditembus maka perhitungan tanaman tetap diteruskan dan dilanjutkan setelah bergeser sebanyak 11 baris tanaman. Contoh daun yang diambil dari tanaman contoh adalah daun ke-17. Daun ke-17 ini terpilih sebagai daun indikator yang sensitif atas perubahan yang terjadi dalam status hara. Jika dalam suatu sebab daun ke-17 rusak, dapat digantikan dengan daun dari pelepah ke-9 dari tanaman yang sama dan jika mati atau sakit dapat digantikan oleh tanaman sebelahnya dengan syarat tanaman tersebut akan dipakai seterusnya sebagai ganti tanaman yang telah mati. Contoh daun diambil mulai jam 07.00 -12.00 dan tidak hujan. Dari pelepah ke-17 diambil daun yang berada antara 1/3 bagian dari ujung pelepah. Selanjutnya daun dipotong kecil dan dibawa ke laboratorium untuk dianalisis. Dalam kegiatan analisis daun ini juga dilakukan pengamatan visual terhadap gejala defisiensi yang nampak secara fisik. Pengamatan dilakukan disemua tanaman pada daun jalur yang diambil sampel.
Kendala yang dialami di lapang saat kegiatan LSU antara lain :
Ø Iklim
Ø Gejala visual defisiensi unsur hara tanaman yang hampir sama antara hara satu dengan hara yang lain
Ø Tanaman terlalu tinggi sehingga sulit diambil walaupun telah menggunakanegrek
Ø Kesalahan pekerja dalam menentukan tanaman sampel (tanaman sampel dari tahun ke tahun tidak sama)
Ø Pengambilan daun oleh pihak riset mengalami keterlambatan.
Kegiatan pemupukan Pantai Bunati Estate dilaksanakan dengan sistem BMS (Blok Manuring System) yaitu sistem pemupukan yang terkonsentrasi dalam 1 - 2hanca pemupukan per kebun, dikerjakan blok per blok dengan sasaran mutu pemupukan yang baik. Sistem pemupukaan BMS ini dilaksanakan dengan organisasi penguntilan, pelangsiran, pengeceran dan penaburan.
Jenis pupuk anorganik yang diaplikasikan di Pantai Bunati Estate antara lain Urea, MOP (KCl), RP (Rock Phosphate) dan Borat, selain pupuk anorganik juga dilakukan pemupukan organik berupa pupuk janjang kosong. Waktu pemupukan dilakukan 2 kali dalam setahun, yaitu pada semester I bulan Februari dan semester II pada bilan Juli.
Aplikasi pemupukan pada TM di Pantai Bunati Estate dilakukan secara manual dengan dipermudah oleh kegiatan until dan langsir pupuk. Kegiatan penguntilan adalah membagi - bagi pupuk dengan berat dan dosis tertentu kedalam sak/karung agar mudah dibawa oleh penabur pupuk. Penguntilan dilakukan di gudang pupuk. Dalam kegiatan pemupukan terutama penguntilan diberlakukan sistem FIFO (First In First Out) yaitu apabila pupuk pertama datang, maka pupuk tersebut yang akan diuntil dan akan diaplikasikan dilahan terlebih dahulu. Dalam penaburan pupuk haruslah merata sehingga tidak boleh terdapat pupuk yang menggumpal. Sehingga para penguntil pupuk diwajibkan untuk memecah pupuk apabila terdapat pupuk yang menggumpal. Berat untilan untuk pupuk Urea, RP, dan MOP disesuaikan dengan dosis, pelaksanaan until di kebun yaitu 12.5 kg/until, sedang untuk Borat penguntilan dilaksanakan langsung di lapang.
Pelangsiran pupuk adalah kegiatan memuat pupuk yang telah diuntil dari gudang untuk selanjutnya dikirim ke lapang. Jumlah pupuk yang keluar atau yang akan diaplikasikan pada hari itu harus sesuai dengan jumlah tenaga dan dosis pada blok yang akan dipupuk sehingga pupuk tidak ada yang menginap. Sistem transportasi untilan pupuk ke blok pupuk dengan menggunakan truk angkut. Untilan pupuk yang telah dibawa akan diletakkan di tempat pengumpulan pupuk yaitu disetiap pasar rintis di collection road. Banyak untilan pupuk yang diletakkan sesuai dengan dosis yang diperlukan untuk tiap blok dan tiap tanaman.
Cara pengaplikasian pupuk MOP dan RP dilakukan dengan cara menabur pupuk tersebut di sekitar pelepah dengan membentuk huruf . Pengaplikasian yang berada di sekitar pelepah dikarenakan pupuk MOP dan RP tidak mudah larut ataupun menguap, sehingga akan dapat mengurangilosses akibat air hujan karena tertahan diantara pelepah. Aplikasi dengan membentuk huruf agar dapat meminimalisasilosses di pasar rintis yang sering terlewati oleh pekerja.
Pupuk Urea dilaksanakan dengan menaburkan secara melingkar di piringan tanaman, hal ini dikarenakan sifat Urea yang mudah larut dan menguap, sehingga apabila terjadi hujan diharapkan Urea dapat langsung masuk kedalam tanah tanpa halangan, selain itu sifat Urea yang dapat berfungsi sebagai herbisida sehingga dapat lebih membantu pengendalian gulma piringan.
Pupuk Borat pengaplikasiannya dengan meletakkan disekitar pelepah yang masih muda, tetapi dikarenakan tanaman sudah terlalu tinggi maka pengaplikasian dapat dilakukan melingkar disekitar piringan (berhimpit dengan tanaman).
Untuk pupuk organik yang diaplikasikan di Pantai Bunati Estate adalah aplikasi janjang kosong. Janjang kosong ini diaplikasikan dengan dosis 200 kg/antar tanaman. Janjang kosong diletakkan diantara tanaman dalam barisan tanaman dan satu lapis. Selain itu dapat pula berbentuk abu janjang kosong. Abu janjang kosong merupakan sumber terpenting kedua bagi pupuk K. Rekomendasi pemupukan di Pantai Bunati Estate dapat dilihat dapat Tabel Lampiran 5 dan pengeplikasian pupuk janjang kosong dan peneburan pupuk dapat di lihat pada Gambar 1.
Gambar 1. Aplikasi Janjang Kosong dan Penaburan Pupuk
Pengendalian Gulma
Gulma merupakan vegetasi yang tumbuh secara alami dan menjadi pesaing tanaman utama dalam penyerapan unsur hara, air, dan cahaya matahari. Pengendalian gulma yang baik akan memperlancar kegiatan lain seperti pemanenan, pemupukan, pengawasan, pengendalian hama dan penyakit. Kegiatan
pengendalian gulma yang diterapkan di Pantai Bunati Estate secara manual dan secara kimiawi.
Pengendalian secara manual meliputi kegiatan membersihkan gulma yang merambat dan memberantas anak kayu atau disebut dongkel anak kayu. Anak kayu tidak boleh dibiarkan tumbuh pada areal kelapa sawit. Pengendaliannya dilakukan dengan mencabut menggunakan tangan, cados (cangkul dodos), ataupun dengan menggunakan parang. Apabila anak kayu sudah tumbuh besar dapat dilakukan kegiatan oles, yaitu dengan memotong batang anak kayu dan kemudian dilakukan pengolesan dengan menggunakan bahan Garlon yang dicampur dengan Solar (perbandingan 1:2), tindakan ini bertujuan untuk segera membunuh atau mematikan anak kayu yang telah tumbuh besar. Selain pengendalian anak kayu, dilakukan pula pencabutan gulma sejenis putihan (Cromolaena odorata), senggani (Melastoma malabathricum), pandan -pandanan, kentosan (tunas kelapa sawit disekitar piringan yang tidak diharapkan) serta jenis pakisan seperti pakis kawat dan paku udang (Stenochlaena palustris). Pengendalian gulma secara manual ini memiliki rotasi 1 x (dari 3 x rotasi, 2 rotasi pengendalian gulma kimia gawangan dan 1 x manual). Secara teknis dilapangan, setiap rintis blok dilalui oleh dua orang pekerja di sisi yang berbeda bila gulma dalam pasar rintis tersebut berat (banyak gulma), apabila gulma ringan maka dalam pasar rintis akan dikerjakan oleh seorang pekerja.
Pengendalian secara kimiawi dilakukan dengan semprot piringan dan semprot gawangan. Sistem pengendalian secara kimiawi ini memiliki beberapa keuntungan, antara lain dapat mengurangi pemakaian tenaga kerja, menghemat waktu dan dapat menurunkan biaya operasional.
Pengendalian kimiawi dengan semprot piringan dilakukaan dengan penyemprotan TPH, pasar rintis, jalan kaki lima, pasar 8, pasar tengah, piringan dan wiping lalang. Wiping lalang adalah kegiatan untuk mengendalikan gulma Alang - alang (Imperata cylindrica) menggunakan bahanRound-up yang bersifat sistemik dengan konsentrasi 0.9 1 % dan menggunakan alat semprot RB nozel 100.Wiping digabungkan dengan kegiatan semprot piringan karena tanaman yang sudah rimbun dan teduh sehingga alang - alang yang ada hanya tinggal sedikit. Penyemptotan piringan dilakukan dengan menggunakan alat MHS (Micron Herby
Spraying), satu sprayer barisi 5 liter larutan dan diaplikasikan untuk 1 ha. Prestasi pekarja 5 ha/hk. Aplikasi dosis dilakukan di lapang dengan konsentrasiSterine 0.9 1 % dan Round-up 2 - 2.5 %. Sterine berfungsi sebagai herbisida tanaman berdaun lebar sepertiAgeratum conyzoides, Borreria latifolia, Mikania micranta, Puereria javanica dan gulma semak seperti Chromolaena odorata, Melastoma malabathricum, Clibadium surinamense. Piringan yang disemprot sesuai jangkauan semprot yaitu 1 - 1.5 m secara melingkar. Semprot piringan ini bertujuan untuk memudahkan dalam kegiatan pemanenan seperti pemungutan brondolan yang jatuh, agar buah yang telah dipanen tidak tercampur gulma, pada kegiatan pemupukan dapat mengurangi losses pupuk Urea yang mudah menguap dan mudah larut apabila terkena air, selain itu juga mengurangi kompetisi perebutan hara. Rotasi semprot piringan sendiri dilakukan 3 kali dalam satu tahun.
Pengendalian kimiawi dengan semprot gawangan dilakukan dengan menggunakan alat semprot RB dengan prestasi karyawan 1.3 ha/hk. Bahan yang diperlukan dalam kegiatan penyemprotan gawangan antara lain Garlon dengan konsentrasi 0.4 % untuk gulma putihan, Gramoxone dengan konsentrasi 0.4 % untuk gulma pakisan dan kentosan,Round-up danAllyuntuk gulma alang - alang dan pakisan. Pelaksanaan semprot dilakukan dengan kegiatan aplikasi dosis di lapang dan masing - masing bahan tidak boleh dicampur. Setiap bahan digunakan untuk menyemprot gulma tertentu saja sehingga penyemprotan dilakukan dengan spot - spot dan dilakukan hingga pasar tengah. Gulma yang disemprot antara lain Euphatoriun odoratum, Borreria latifolia, Colopogonium mucunoides, Pureraria javanica, Cromolaena odorata, Melastoma malabathricum.
Teknis pengendalian gulma di Pantai BunatiEstate sudah sangat baik, hal ini dilihat dari sistem yang digunakan, yaitu dengan aplikasi dosis secara langsung dilapang. Hal ini dapat secara efektif mengurangi losses bahan herbisida karena apabila dilakukan pencampuran secara langsung dalam tangki unit maka jika terjadi hujan, obat yang telah dicampur tersebut akan berkurang khasiat dalam pemakaian berikutnya (pemakaian esok hari).
Dalam pelaksanaan pengendalian gulma ini terdapat berbagai macam kendala antara lain iklim (hujan, apabila dalam pengaplikasian dan dalam waktu± 3 jam turun hujan maka herbisida tersebut tidak berfungsi), transportasi/mobil
unit, bahan, dan tenaga kerja. Sehingga dalam pengerjaannya rotasi cenderung lebih lambat. Apabila turun hujan, para pekerja dialihkan pekerjaannya menjadi pengendalian gulma secara manual (dongkel anak kayu dan pengolesan).
Pengendalian Hama dan Penyakit
Salah satu faktor yang mempengaruhi produksi kelapa sawit, adalah adanya serangan hama dan penyakit. Pengendalian hama dan penyakit tanaman pada hakikatnya merupakan upaya untuk mengendalikan suatu kehidupan. Oleh karena itu konsep pengendaliannya dimulai dari pengenalan dan pemahaman terhadap siklus hidup hama atau penyakit itu sendiri. Pemilihan jenis, metode (biologi, mekanik, kimia dan terpadu), serta waktu pengendalian yang dianggap paling cocok akan dilatarbelakangi oleh pemahaman atas siklus hama atau penyakit tersebut.
Beberapa jenis hama yang menyerang tanaman kelapa sawit di Pantai BunatiEstate antara lain tikus (Rattussp.), babi hutan, tupai, rayap (Coptotermes curfignatus), ulat api (Setotra nitens) dan ulat kantong (Mahasena corbeti). Hama utama adalah hama tikus, sedang hama yang lain kurang berbahaya. Penyakit yang masih dijumpai adalah penyakit busuk pangkal batang (Ganoderma bonisense).
Jenis tikus yang paling sering dijumpai di perkebunan kelapa sawit adalah tikus belukar (Rattus rattus tiomanicus). Jenis lain yang sering dijumpai adalah tikus sawah, tikus rumah dan tikus wirok. Kerugian yang disebabkan oleh serangan tikus yaitu kematian tanaman muda dapat mencapai 20 %, kerugian produksi sebesar 20 %, penurunan kualitas buah dan penurunan populasi serangga penyerbuk Elaeidobius kamerunicus (PPKS, 2006). Pada umumnya serangan tikus pada tanaman menghasilkan dengan mengerat bunga atau mengerat mesokarp (daging buah) sehingga dapat berpengaruh pada losses produksi. Kondisi pelukaan terhadap daging buah menurunkan potensi rendemen minyak pada buah dan peningkatan Asam Lemak Bebas (ALB).
Pengendalian hama tikus yang dilakukan di Pantai Bunati Estate dengan pengendalian secara kimia dan dengan pengendalian biologis. Secara kimia pengendalian hama dilakukan dengan cara pemberian umpan racun yaitu Klerat
RM-B dan pengendalian secara biologis dengan memelihara musuh alaminya yaitu burung hantu (Tyto alba) dengan memasang rumah burung yang disebut Nest Box. Lokasi penempatan kandang harus strategis (berdekatan dengan pohon besar atau pada areal di sekitar pemukiman) dan diusahakan agar jauh atau membelakangi lampu penerangan serta aman dari manusia. Hal ini dimaksudkan agar burung hantu tidak mudah mengalam stress. Tingkat predasi burung hantu terhadap R. tiomaticus di perkebunan kelapa sawit mencapai 88 % sedangkan sisanya 6 % adalah R. argentiventer dan 6 %R. ratus radii (Vademicum, 2004). Gambar kandang burung hantu (Nest Box) dapat dilihat pada Gambar 2.
Gambar 2. Kandang Burung Hantu
Tupai merusak kelapa sawit dengan mengerat buah yang masih muda dan memakan inti yang masih lunak, sedangkan untuk penurunan produksi akibat serangan hama ulat api dapat dilihat pada Tabel 4.
Tabel 4. Penurunan Produksi Tanaman Kelapa Sawit Akibat Serangan Hama Ulat Api (Setothosea asigna)
% Defiolasi % Penurunan Poduksi Tahun I Tahun II Hampir 100 70 93
50 40 78
25 8 29
12 5 11
Serangan hama ulat api dan ulat kantung menyebabkan kehilangan daun (difoliasi) tanaman yang berdampak langsung pada penurunan produksi.
Untuk pengendalian hama ulat api di Pantai Bunati Estate dilakukan dengan menanam tanaman Tunera subulata, Cassia cabanensis dan Antigonon leptotus sebagai inang dari musuh alami ulat api seperti serangga Sycanus leucomicus. TanamanTurnera subulata dapat dilihat pada Gambar 3.
Gambar 3. TanamanTurnera subulata(bunga pukul delapan)
Pemeliharaan Lainnya
Kegiatan pemeliharaan yang dilakukan di Pantai Bunati Estate antara lain pemeliharaan jalan, pembuatan dan perbaikan TPH (Tempat Pengumpulan Hasil), penomoran TPH, pembuatan jembatan, penambahan titi panen.
Jaringan jalan di kebun merupakan salah satu faktor penting dalam menunjang kelancaran transportasi dari dan keluar kebun, jalur transportasi TBS serta kegiatan pengangkutan lainnya. Jenis jalan yang terdapat di Pantai Bunati Estate antara lain jalan utama (main road), jalan pengumpul (collection road), jalan utama, jalan bantu. Perawatan jalan di utamakan untuk areal - areal yang bermasalah misalnya tanah lunak, tanah tergenang air sehingga dapat menyebabkan unit transport mengalami hambatan. Perawatan jalan secara teknis dilakukan menggunakan Motor Grader dan rawat manual dilaksanakan oleh pekerja. Rawat jalan juga dilakukan tunas pelepah jalan yaitu pembuangan pelepah agar tidak mengganggu kendaraan yang melintas juga agar cahaya matahari tidak terhalang sehingga jalan akan lebih mudah kering pada saat terjadi hujan.
Perawatan atau pembuatan TPH dilaksanakan dengan cara manual dan kimia. Perawatan kimia dilakukan bersamaan dengan kegiatan pengendalian gulma piringan, sedang secara manual dilakukan dengan melakukan perataan TPH, meninggikan TPH yang memiliki kecenderungan tergenang saat terjadi hujan, memadatkan tanah agar pada saat pemuatan brondolan tanah tidak terangkut. Ukuran TPH adalah 4 m x 7 m dan jumlah TPH adalah 1.4 TPH per hektar (setiap 6 baris tanaman terdapat 1 TPH) sehingga dalam satu blok standar (30 ha) akan terdapat 42 TPH. Selain itu juga dilakukan penomeran TPH yang dituliskan di tanaman paling dekat TPH berupa lingkaran dengan warna dasar biru, tulisan berwarna putih, lingkaran berwarna putih. Prestasi kerja yang didapat penulis adalah 30 ha/hk.
Jembatan di kebun sangat berpengaruh terhadap kelancaran pengangkutan tandan buah segar kelapa sawit baik dalam kegiatan pemanenan maupun transportasi. Jembatan dalam kebun memiliki bahan yang sama dengan titi panen yaitu permanen menggunakan beton dan menggunakan bahan kayu. Titi panen dari kayu dapat dilihat pada Gambar 4.
Gambar 4. Titi Panen dari Kayu
Pemanenan
Panen merupakan pekerjaan utama di perkebunan kelapa sawit karena merupakan sumber pendapatan perusahaan, oleh karena itu perlu adanya pengelolaan yang baik dalam pelaksanaannya. Kegiatan panen mencakup pekerjaan memotong semua janjang yang masak, mengutip semua brondolan dan dilanjutkan pada pengangkutan ke pabrik kelapa sawit (PKS), kegiatan tersebut
diantaranya meliputi potong pelepah, potong buah masak, susun pelepah, potong gagang panjang, kutip brondolan, angkut janjang ke TPH dan angkut brondolan ke TPH.
Peramalan Produksi
Peramalan produksi digunakan untuk memperkirakan besarnya produksi yang akan dicapai pada masa tertentu di masa yang akan datang. Peramalan produksi sangat penting untuk dapat menentukan penyusunan target produksi, perencanaan pembiayaan dan pemakaian tenaga. Peramalan produksi di Pantai BunatiEstate di bagi menjadi tiga bagian, yaitu peramalanbudget produksi (target produksi), peramalan produksi semesteran (sensus produksi) dan peramalan produksi harian (taksasi panen).
Budget produksi adalah target produksi yang ingin dicapai perusahaan dalam satu tahun yang dapat dijabarkan sebarannya dalam bulan dan semester.
Sensus produksi adalah pencacahan atau penghitungan atau pendataan terhadap tanaman kelapa sawit yang bertujuan untuk mengetahui atau memperkirakan produksi semester berdasarkan jumlah dan keadaan bunga betina yang kemungkinan menjadi tandan buah. Peramalan produksi semesteran dilakukan untuk menentukan jumlah buah yang dipanen pada enam bulan berikutnya. Penyusunan sensus produksi harus disertai pengetahuan tentang perkembangan bunga betina dan tandan kelapa sawit sampai dengan matang panen.
Pekerjaan sensus di Pantai Bunati Estate dilakukan untuk menghitung produksi kebun enam bulan berikutnya, yaitu dengan menghitung jumlah buah cengkih atau buah betina yang sudah dibuahi sampai dengan buah yang kira - kira akan dipanen pada semester dimana sensus dilaksanakan. Waktu selama enam bulan didasarkan pada kurun waktu yang diperlukan kelapa sawit untuk membentuk buah dari penyerbukan sampai dengan buah siap panen. Semester I adalah bulan Januari - Juni dan sensus produksi dilaksanakan pada 20 Desember tahun lalu sampai dengan 10 Januari tahun ini, sedangkan Semester II adalah bulan Juli - Desember dan sensus produksi dilaksanakan pada 20 Juni sampai dengan 10 Juli tahun ini. Sensus buah dilakukan dengan rumus 5 x 6 (artinya
pergeseran tanaman dari arah Barat ke Timur adalah adalah 5 tanaman dan pergeseran dari Selatan ke Utara adalah 6 tanaman), penanda awal titik sensus adalah tanda tapak jalak. Alat yang dipakai adalah kait yang berfungsi untuk tanda awal penghitungan janjang dan crayon yang berfungsi untuk menandai jumlah janjang pada tiap batang tanaman yang disensus, formulir pencatatan. Dalam sensus produksi parameter yang dipakai adalah jumlah janjang yang ada di tanaman dan Berat Janjang Rata - Rata (BJR). Jumlah buah yang dihitung kemudian dicatat dalamform yang telah disediakan termasuk buah cengkih seperti pada Gambar 5. Rumus perhitungan produksi yang digunakan adalah:
Produksi/bulan = bulan 6 BJR x sensus janjang jumlah x (ha) disensus (ha)/luas areal luas
Gambar 5. Buah Cengkih
Taksasi panen adalah penghitungan terhadap kemungkinan tiap tanaman yang di panen menghasilkan sejumlah tandan masak dari tiap rotasi. Taksasi panen tercermin dalam perolehan Angka Kerapatan Panen (AKP) pada hari itu. AKP dapat digunakan untuk mengetahui jumlah taksasi produksi esok hari, sehingga dipakai sebagai acuan untuk memperkirakan tenaga panen yang diperlukan untuk menyelesaikan satu seksi panen dalam satu hari dan unit mobil angkut buah ke PKS. Taksasi panen di Pantai Bunati Estate dilaksanakan setiap harinya oleh Mandor Panen dan Mandor I.
Persiapan Panen
Persiapan panen di Pantai Bunati Estate meliputi penetapan seksi panen, penetapan luas hanca kerja pemanen dan penetapan luas hanca kerja per mandoran. Selain itu juga diperlukan persiapan penetapan kriteria panen, rotasi panen, sistem panen, penentuan jumlah tenaga panen, pengetahuan kerapatan panen, sistem pengawasan panen, perlengkapan panen, TPH, pembuatan jalan pikul , titi panen, dan angkutan panen.
Kriteria Matang Panen
Kriteria matang panen adalah pedoman yang digunakan untuk menentukan apakah buah itu di nyatakan matang, mentah atau busuk atau merupakan indikasi suatu tandan buah di panen pada saat yang tepat yaitu pada saat kandungan minyak sawit dalam daging buah maksimal. Kriteria umum untuk tandan buah dapat dipanen adalah berdasarkan jumlah brondolan yang terlepas dari tandannya dan jatuh ke tanah (piringan) secara alami. Ketentuan buah yang dapat dipanen di Pantau Bunati Estate dihitung berdasarkan pada jumlah brondolan lepas (buah yang terlepas secara alami dari janjang) sebanyak 5 butir brondolan yang jatuh di piringan.
Rotasi Panen
Rotasi panen adalah selang waktu yang diperlukan antara panen terakhir sampai panen berikutnya di tempat yang sama. Rotasi panen yang ditetapkan di Pantai BunatiEstate yaitu 6/7 hari, artinya dalam satu minggu terdapat enam hari panen sehingga terdapat enam seksi panen. Seksi panen adalah pembagian luasan lahan yang merupakan target panen/hari yang harus diselesaikan. Satu seksi panen terdiri dari beberapa blok. Seksi panen di Pantai Bunati Estate Divisi I disimbolkan dengan A, B, C, D, E, F. Rotasi atau pusingan normal antara 7 - 9 hari. Faktor yang menentukan bertambahnya rotasi panen antara lain adalah cuaca, tenaga kerja yang banyak tidak masuk.
Sistem Panen
Sistem panen disusun dengan baik sehingga blok yang di panen setiap hari menjadi lebih terkonsentrasi, hal ini bertujuan untuk memudahkan kontrol
pekerjaan. Sistem panen yang digunakan di Pantai Bunati Estate menggunakan sistem hanca giring tetap yang merupakan pengembangan dari sistem hanca giring murni dan giring tetap. Hanca panen adalah pembagian jatah luasan areal yang harus dipanen oleh satu orang tenaga potong buah (berdasarkan jumlah baris atau gawangan). Pantai Bunati Estate menggunakan sistem Block Harvesting System (BHS). Block Harvesting System adalah sistem panen yang kegiatan panennya setiap hari kerja terkonsentrasi pada satu seksi panen dan tetap berdasarkan interval yang telah ditentukan. Dalam pelaksanaanBlock Harvesting System ini mampunyai ciri-ciri :
- Divisi atau kebun mempunyai enam seksi panen
- Terdapat satu kelompok atau gang panen per divisi atau per kebun dalam setiap hari kerja
- Setiap hari kerja harus menyelesaikan satu seksi panen - Pemanen mendapatkanhanca panen tetap
- Kegiatan panen terkonsentrasi untuk memudahkan transport TBS - Kegiatan panen dimulai dan diakhiri dengan arah yang sama
- Dapat ditetapkan dengan sistem DoL (Division of Labour) dengan efektif
Tenaga Kerja
Kebutuhan tenaga kerja harus mempertimbangkan luas areal dan kemampuan pekerja agar pekerjaan panen dapat berjalan dengan baik. Jumlah tenaga kerja pemanen yang dibutuhkan dihitung dengan rumus :
Jumlah pemanen = ( )
( )
Dengan perbandingan antara pemanen dengan pembrondol adalah 1:1 atau dikenal dengan sistembyDoL-2.
Alat dan Perlengkapan Panen
Alat - alat panen yang digunakan tergantung dari tinggi dan umur tanaman. Alat - alat yang digunakan untuk kegiatan panen buah dapat dilihat pada Tabel 5.
Tabel 5 Macam Alat Alat Panen, Spesifikasi dan Pemakaiannya
No Nama Alat Spesifikasi Penggunaan/pemakaian 1 Dodoskecil Lebar mata 8 cm, lebar tengah
7 cm, tebal tengah 0.5 cm, tebal pangkal 0.7 cm, diameter gagang 4.5 cm, panjang total 18 cm
Potong buah tanaman umur 3-4 tahun
2 Dodosbesar Lebar mata 14 cm, lebar tengah 12 cm, tebal tengah 0.5 cm, tebal pangkal 0.7 cm, diameter gagang 4.5 cm, panjang total 18 cm
Potong buah tanaman umur 5-8 tahun
3 Pisauegrek Berat 0.5 kg, panjang pangkal 20 cm, panjang pisau 45 cm, sudut lengkung dihitung pada sumbu 135
Potong buah tanaman umur
> 9 tahun
4 Goni bekas pupuk Wadah transport TBS ke TPH, memuat brondolan ke alat transport
5 Angkong Wadah transport TBS ke
TPH 6 Tali nilon 5 cm, pilin 3, 1 kg=43 m=5
egrek
Pengikat pisau egrek
7 Batu asah Pengasah dodos dan egrek
8 Bambuegrek Panjang 10-11 m, tebal 1-1.5m, berat 2.5-3 kg/meter, diameter ujung 4-5 cm, diameter 5-7 cm
Gagang pisau egrek
9 Harvesting pole Aluminium ukuran 6 m dan 12 m
Galah pisau egrek
10 Arit kecil Tunas pasir
11 Gancu Besi beton 3/8 , panjang sesuai kebiasaan setempat
Memuat/membongkar TBS ke/dari alat transport 12 Tojok/tombak Sesuai kebiasaan setempat Memuat/membongkar TBS
ke/dari alat transport Sumber : Vademicum Minamas Plantation, 2005
Di Pantai BunatiEstate pelaksanaan potong buah menggunakandodos dan egrek. Dodos digunakan untuk potong buah pada tanaman yang masih rendah sedangkanegrek digunakan untuk kegiatan potong buah pada tanaman yang sudah tinggi. Perbedaan ketinggian tanaman ini dipengaruhi oleh perbedan tahun tanam, jumlah unsur hara dan terdapatnya tanaman sisip. Contoh alat panen dapat dilihat pada Gambar 6.
Gambar 6. Alat PanenDodos (atas),Egrek(bawah)
Pelaksanaan Panen
Pelaksanaan panen dengan Block Harvesting System dilaksanakan menggunakan sistem by DoL-2 (menggunakan pemanen dan pembrondol) yaitu pelaksanaan panen terdiri dari tim panen dan tim kutip brodolan, artinya satu orang pemanen tugasnya hanya memotong buah, menyusun pelepah dan mengangkut buah ke TPH. Sedangkan brondolannya dikutip oleh karyawan pengutip brondolan. Jadi potong buah dan kutip brondolan adalah satu kesatuan kerja panen tetapi tanggung jawabnya berbeda, sehingga denda - denda yang dilakukan tergantung pada jenis kerja mana yang melakukan pelanggaran serata DoL-3 (menggunakan pemanen, pengangkut dan pembrondol).
Untuk meminimalkan kesalahan pencatatan buah atau menjaga agar buah yang telah dipanen tercatat oleh Kerani Panen dan agar kegiatan transportasi lebih tertib, maka pelaksanaan panen selalu di upayakan serentak dari blok yang sama. Sehingga teknisnya pencatatan buah oleh Kerani Panen dibelakang pemanen dan begitu juga selanjutnya unit yang memuat buah dibelakang Kerani Panen. Sehingga unit transport tidak terlalu sering keliling dalam blok yang sama berulang - ulang.
Sistem Supervisi dan Denda
Pengawasan atau supervisi panen bertujuan untuk memastikan buah yang terkirim ke PKS memenuhi standar kualitas, mengukur besar kecilnyalosses, alat evaluasi atas pelaksanaan kerja untuk follow up perbaikan kedepan, pemberian