Inilah Ketua dan Wakil Ketua BEM UNAIR Periode 2016

Teks penuh

(1)

Inilah Ketua dan Wakil Ketua

BEM UNAIR Periode 2016

UNAIR NEWS – Pertanyaan tentang siapa yang akan memegang tanggung jawab kepemimpinan BEM Keluarga Mahasiswa (KM) UNAIR periode 2016 terjawab sudah. Mereka adalah Muhammad Rizky Fadilah (Ilmu Sejarah 2012, sebagai Ketua) dan Ihwanun Mudhofir Hariri (Ilmu Hukum 2013, sebagai Wakil Ketua). Pasangan yang mengusung slogan SUPER (Semangat Untuk Pembaruan Progresif) itu “mengalahkan” pasangan Independent Moh. Hadi Subarkah (Budidaya Perikanan 2012) dan Kesa Camelya (Teknobiomdik 2013).

Keputusan itu dicetuskan secara musyawarah mufakat melalui sidang yang berlangsung sejak Selasa (8/3) hingga Rabu pagi (9/3). Hadir sebanyak 45 perwakilan eksponen mahasiswa. Antara lain, dari BEM, BLM, dan FORKOM, yang tergabung dalam Majelis Permusyawaratan Mahasiswa (MPM).

“Alhamdulillah sidang berlangsung lancar. Memang, ada perbedaan pendapat. Namun, tidak sampai memanas sehingga akhirnya tetap berhasil mancapai mufakat” ungkap Arum Kusumaningtyas ketua pelaksana Pantia Pemilihan Kampus (PPK) 2016.

Sebelum sidang penentuan, diadakan pemaparan visi misi masing-masing pasangan dalam Fit and Proper Test. Pada acara tersebut, masing-masing pasangan menyampaikan Grand Design kepemimpinan. Itu merupakan salah satu kesempatan untuk meyakinkan anggota MPM sebelum sidang.

Hal lain yang menjadi pertimbangan dalam sidang penentuan adalah penilaian panelis yang didapatkan ketika Uji Masyarakat Kampus (UMK). Kemudian, masing-masing perwakilan fakultas menyampaikan pertanyaan secara bergantian dan menyampaikan aspirasi kreteria Ketua dan Wakil Ketua BEM KM UNAIR 2016.

(2)

Minta Dukungan Biar Konsisten

Setelah hasil musyawarah disepakati, pasangan yang terpilih didatangkan ke tempat sidang, ”Saya mendapat kabar ini ketika berada di Waru Sidoarjo,” ungkap Ketua BEM terpilih 2016 Muhammad Rizky Fadilah. “Saya mendapat berita ini ketika berada di Asrama setelah melaksanakan Sholat Gerhana Matahari” papar Ihwanun Mudhofir Hariri, wakil ketua BEM terpilih.

Mereka bercerita, sebenarnya sudah pasrah dengan hasil yang akan dicapai. Namun, di dalam hati masing-masing, mempunyai rasa keyakinan bahwa akan terpilih memimpin BEM KM UNAIR 2016. “Setelah pelantikan nantinya kami akan langsung bekerja. Yaitu, mengadakan Forum Besar yang diikuti oleh semua eksponen mahasiswa, termasuk BEM, se-UNAIR untuk pembicaraan arah pembentukan kabinet dan keberlangsungannya” kata Ace, sapaan akrab Rizky Fadilah. “Terima Kasih kepada semua yang telah mendukung. Semoga kami dapat mengemban tanggung jawab ini untuk UNAIR yang lebih baik. Mohon doa dan dukungan agar ami konsisten” tuturnya. (*)

Penulis: Ahmad Janni Editor: Rio F. Rachman

Warek I UNAIR Djoko Santoso,

Amanah Ini Jalan untuk

Beramal

UNAIR NEWS – Tidak pernah terlintas di benak Prof. Djoko Santoso, dr., Sp.PD-KGH., Ph.D., FINASIM bahwa akan mengemban amanah sebagai Wakil Rektor I Universitas Airlangga. Di usianya yang ke-54 tahun ini, berbagai amanah telah berhasil

(3)

ia rampungkan. Setelah mengemban tugas sebagai Wakil Dekan II Fakultas Kedokteran (FK) UNAIR, terhitung sejak 20 Agustus 2015 Prof. Djoko mendapatkan amanah baru sebagai Wakil Rektor yang membawahi bidang akademik dan kemahasiswaan.

Baginya, jabatan adalah amanah. Jadi baginya, ini membuka kesempatannya untuk beramal. Jabatan sebagai Wakil Rektor I UNAIR ini merupakan tugas yang harus diselesaikan sesuai amanah yang telah disematkan kepadanya.

“Ya, itu merupakan amanah. Bukan alhamdulillah, tapi bismillah saya bisa menjalankan amanah ini, karena sesungguhnya itu adalah beban yang cukup berat,” tutur Guru Besar Ahli Ilmu Penyakit Dalam FK UNAIR ini.

Baginya, menjadi Wakil Rektor I merupakan tugas yang cukup berat. Apalagi saat ini UNAIR memiliki 14 fakultas dan satu sekolah Pascasarjana, 1.502 dosen tetap, 38.000 mahasiswa, dan 167 program studi. Modal sumberdaya itulah yang harus dipikirkan oleh Professor asal Jombang ini, sesuai dengan target Kemenristek Dikti bahwa UNAIR harus masuk peringkat 500 dunia pada tahun 2019.

”Kembali lagi kepada ranah keikhlasan dan ketulusan. Itu konsekuensinya. Ketika ketulusan dan keikhlasan untuk mengabdi sudah bulat, maka manajemen waktu menjadi relatif tidak masalah. Karena sesungguhnya dibelakang kita diselesaikan oleh Allah SWT,” paparnya mantap.

Bagi Prof. Djoko, ketika mengabdi dan menjalankan amanah sebagai wakil rektor dilaksanakan dengan niat tanpa mencari popularitas, maka tidak akan ada beban dalam menjalankan amanah itu.

Warisan Semangat Ayah

Djoko kecil sudah menjadi yatim sejak berumur lima tahun. Lika-liku kehidupan telah ia lalui. Almarhum ayahnya yang merupakan seorang kepala sekolah, menjadi penyemangat dalam

(4)

menjalani hidup yang diakui tidak selalu berjalan mulus.

”Nilai-nilai itulah yang menjiwai, sehingga dengan kondisi yang tidak jelas, ekonomi, arah pendidikan tidak jelas, saya harus survive,” tutur Prof. Djoko Santoso mengenang.

Sebagai anak yang aktif, sepulang sekolah Djoko remaja tidak mau kalau hanya berdiam diri di rumah. Bersama teman-teman sebayanya ia suka pergi bermain ke sawah, bermain pimpong, berinteraksi dengan teman-teman. Hal-hal itulah yang kemudian ia sadari justru sebagai softskill, bekal saat beranjak dewasa. Ia dibesarkan dalam lingkungan Jawa. Sehingga tak heran tuturan bahasa Jawanya melipis (halus).

Sebelum pada akhirnya berkiprah dalam dunia kedokteran, tidak ada gambaran dalam pikirannya untuk menggeluti bidang yang terkenal “mahal” itu. Saat itu, ketika lulus SMA, ia mendaftar di dua perguruan tinggi, yaitu Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Malang dan Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Ia diterima untuk kuliah bidang keguruan di Malang. Namun, langkah rupanya mengarahkan lain. Ia diterima juga untuk studi pendidikan dokter di UGM. Akhirnya ia memilih kedokteran untuk mendapatkan gelar sarjana sebagai dokter. “Tidak ada yang mendasari. Kalau diterima di IKIP, ya saya jadi guru. Ternyata Allah memberikan SK Kedokteran,” kenangnya.

Ketika menempuh pendidikan di perguruan tinggi, buku-buku ajar pun tak selalu Djoko miliki. Ia sering meminjam buku ke teman-temannya ketika teman itu sedang tidur, lalu ia pakai untuk belajar. “Saat di perguruan tinggi, semua buku saya pinjam. Dia (teman – red) tidur, saya pinjam bukunya. Dia bangun saya tidur,” kisahnya.

Sejak saat itulah arah menuju sebagai dokter semakin terbuka. Setelah lulus sebagai dokter (S1) lalu mengambil program Magister di Universitas Airlangga, dan Doktoral di Juntendo-University School of Medicine, Jepang.

(5)

Kerjasama Internasional

Setelah dilantik dan diresmikan sebagai Wakil Rektor I UNAIR, Prof. Djoko memulai langkahnya dengan melakukan identifikasi SWOT (Strengths, Weaknesses, Opportunities, dan Threats). Ada tiga hal yang akan digerakkannya dalam menjalankan tugas yang telah ada di pundaknya. Untuk memenuhi target Kemenristek Dikti, langkah yang akan ditempuh meliputi empat hal, yakni academic excellence, research excellence, community service

excellence, dan university holding excellence.

Pada bagan yang disampaikan dalam Raker UNAIR, ada tiga komponen saling terintegrasi yang semua akan mengarah pada

world class university. Pertama, abundant resources. Kedua, favorable governance. Ketiga, concentration of talent.

Ia menargetkan kedepan UNAIR harus memperbanyak kerjasama internasional. Reputasi akademik yang bagus dibuktikan dengan hubungan internasional yang bagus. Hubungan internasional dibuktikan dengan persentase mahasiswa/dosen yang masuk dan keluar. Visiting professor dari luar dan juga sebaliknya.

“Berbicara tentang exchange, bukan hanya SDM, tapi juga sistem pendidikan. Kredit transfer atau kredit mobility. Ambil studi enam bulan disini diakui pihak luar. Tidak hanya itu, bahkan juga research collaboration. Kemudian training internasional, seminar internasional, workshop internasional, semua masuk internasionalisasi program. Bisa ditransfer. Itu tentang

academic excellence,” katanya.

Bidang akademik yang unggul salah satunya dibuktikan dengan pengakuan prodi di ranah internasional, sudah tersertifikasi

ASEAN University Network (AUN). Selain itu didukung dengan

prestasi sivitas di ranah internasonal, dan juga meratanya teknologi dan informasi yang masuk ke realisasi layanan perkuliahan di semua prodi di UNAIR.

“Research excellence, ada transfer teknologi. Research yang dikembangkan hasilnya bisa mengalir ke community. Digodok,

(6)

dicetak, digandakan, sehingga nanti dipasarkan dan didistribusi. Kemudian sebagian hasil penelitiannya dimasukkan dalam materi perkuliahan, sehingga yang didapat dosen ke mahasiswa menjadi ilmu yang update dan teraplikasi. Sehingga UNAIR bisa mengklaim bahwa keberadaannya bisa mensejahterakan bangsa dan umat dunia. Itu research excellence,” kata penulis buku “60 Menit Menuju Ginjal Sehat” ini.

Ia juga mentarget tahun 2016 ini harus banyak visiting

professor yang datang. Mereka bukan hanya memberikan

perkuliahan, tetapi juga membahas pengenai “pohon” penelitian. Sebab kerjasama penelitian dan visiting professor baru bisa dilakukan ketika sudah ada profesor UNAIR yang jurnal penelitiannya sudah terpublikasi dan terindeks Scopus. Standar itu yang membuat mereka percaya.

”Kita kemarin kapasitasnya 100-an yang terindeks Scopus. Jumlah publikasi ilmiah harus ditingkatkan tiga kalinya. Seratus dosen harus menggeret 200 dosen lainnya. Kalau kita sekarang punya 40% Ph.D, berarti 600 doktor, kalau separuhnya 300. In shaa Allah. Kenapa tidak bisa? Innama amruhu idza

arada syaian anyaqula lahu kun fayakun,” tegas peraih

penghargaan The young Investigator’s Award Travel Grant tahun 2002 ini.

Terus Mengabdi

Prof. Djoko dikaruniai tiga orang putra, yang ketiganya berkiprah dan mengambil studi di bidang kedokteran. Diantara semua kesibukannya, sebagai bagian dari sumpah dokter yang tak boleh dilupakan, ia masih membuka praktik di klinik pribadi miliknya: klinik cuci darah di daerah Mulyosari itu telah ia buka sejak tahun 2010 silam.

Ada lima kekayaan yang selalu ia syukuri dalam hidupnya, yaitu kekayaan kesehatan, kekayaan mental, kekayaan spiritual, kekayaan networking social, dan kekayaan intelektual.

(7)

yang penuh manfaat, yang sangat membumi, dimana orang bisa merasakan kesejahteraan kita,” tambah Prof. Djoko.

“Hidup hanya sekali, usahakan untuk penuh manfaat pada umat. Karena kalau tidak penuh makna, arti hidupmu akan gagal. Membuat buku, menulis gagasan yang bermanfaat, karya kita dirasakan untuk kebutuhan orang miskin. Itu hal-hal yang membuat hidup kita bermakna,” pungkasnya. (*)

Penulis : Binti Quryatul Masruroh Editor : Bambang Bes

Rektor UNAIR M. Nasih,

Tersesat di Tempat yang Benar

UNAIR NEWS – Perjalanan hidup dialami oleh semua orang. Liku-likunya tidak sama. Ada yang dengan mudah dan serba enak. Ada yang turun-naik dan pasang-surut. Ada pula yang kesuksesannya dilalui dengan perjuangan dari bawah.

Begitu pula dengan yang dijalani Prof. Dr. H. Mohammad Nasih, MT., SE., Ak, CMA., yang kini mengemban amanah sebagai Rektor Universitas Airlangga periode 2015-2020. Bungsu dari enam bersaudara anak seorang guru ngaji Abdul Wahab (alm) dan ibu Djuwariyah ini, sejak kecil ibaratnya tiada hari tanpa masjid. Remaja aktif sebagai Remas (remaja masjid), saat mahasiswa aktivis UKM-KI dengan home-base di masjid, memperoleh pekerjaan yang pertama pun berawal dari masjid, bahkan bertemu jodohnya pun juga dari masjid.

“Bagi saya, masjid itu tempat yang damai, ya tempat ngaji, tempat belajar, kajian ilmu, dan tempat berorganisasi, dan sebagainya,” katanya ketika berbincang-bincang dengan kru

(8)

Redaksi WARTA UNAIR, di ruang kerjanya.

Jadi, kariernya sebagai guru dan kemudian sekarang memimpin universitas ini, juga berawal dari masjid. Kisahnya begini, ia mendapat informasi lowongan pekerjaan itu untuk formasi dosen Fakultas Ekonomi Universitas Airlangga (UNAIR), almamaternya. Setelah ikut tes dan diterima, dalam perjalanan waktu kemudian memperoleh beasiswa studi lanjut ke S2 dan ke-S3, membina karir hingga akhirnya menjadi Rektor UNAIR Ke-13 ini.

Senang di Masjid

Tinggal bersama orang tuanya di kota kelahirannya, Gresik, praktis hanya sampai lulus SD. Selanjutnya Moh Nasih kecil sudah harus berpisah dengan orangtua. Semula ia akan “dipondokkan” ke Ponpes Gontor. Tetapi tidak jadi, dan akhirnya “menyeberang” ikut kakak dan sekolah di sebuah SMP di Babat, Kab. Lamongan. Disinilah ia membantu sang kakak yang antara lain berjualan obat.

”Waktu itu harapan kami sih pagi sekolah, sore ngaji ke Langitan (Pondok Pesantren – red). Tapi tidak terlalu berhasil, dan hanya saat Posoan saja saya mondok disana, bukan

nyantri,” katanya.

Setelah lulus SMP, ia melanjutkan ke Sekolah Menengah Persiapan Pembangunan (SMPP) di Lamongan, yang kini menjadi SMAN 2 Lamongan. Karena jarak sekolah dengan rumahnya jauh, maka ia indekos. Kebetulan kosnya juga dekat masjid dan sekolah Islam, sehingga Nasih juga senang karena bisa lebih lama berdiam di masjid daripada di kamar kos. Sama seperti saat SMP, pagi hari sekolah, sore hingga malam ngaji atau “mondok” di surau. Karena itu ia mengaku sudah terbiasa dengan

full day shcool. Dan, tempat ”mondoknya” itu sekarang menjadi

PP Darul Ma’arif Lamongan.

Lulus SLTA tahun 1985 ia hijrah ke Surabaya untuk melanjutkan kuliah. Ia mendaftar via SBM-PTN di empat jurusan yaitu Akuntansi UNAIR, Kedokteran UNAIR, Teknik Sipil ITS, dan

(9)

Manajemen UNEJ Jember.

“Ternyata garis tangan saya ada pada jurusan Akuntansi UNAIR,” kata Pak. Nasih, sapaan akrabnya.

Karirnya Menanjak

Ketika pertama menginjakkan kaki di kampus UNAIR, kebiasaan sebagai Remas masih berlanjut. Masjid itulah sebagai jujukan Nasih. Disela-sela kuliah itulah ia aktif berorganisasi pada UKKI (Unit Kegiatan Kerohanian Islam – sekarang UKMKI), ya melakukan kajian-kajian, belajar mata kuliah, dan mengembangkan ketrampilan menulis artikel untuk dikirim ke berbagai surat kabar.

”Artikel pertama saya dimuat Harian Suara Indonesia (SI) Malang. Selanjutnya juga di beberapa media. Ya lumayan dapat honor Rp 50.000/tulisan bisa untuk traktir teman,” katanya. Mengaku meraih kebanggan dari tulisan-tulisannya yang dimuat media massa, menjelang lulus S1 Nasih melamar jadi wartawan di Harian Prioritas, namun tidak diterima. Kemudian bekerja sebagai konsultan di sebuah perusahaan. Tetapi karena terjadi perbedaan pendapat dengan atasannya, Nasih memilih keluar. Lagi-lagi masjid menjadi jujugan favouritnya untuk menenangkan diri. Di masjid UNAIR pulalah ia mendapat pekerjaan sebagai PNS di UNAIR karena lolos tes tahun 1992.

“Setahun setelah mendapat pekerjaan, saya menikah dengan Triyani Purnamawati, kawan aktivis di UKKI UNAIR. Tetapi yang seperti ini bukan hanya saya lo, banyak juga yang ketemu jodohnya disana,” kenang Pak Nasih sambil tertawa.

Membangun mahligai rumahtangga dengan Triyani Purnamawati, alumni Fakultas Psikologi UNAIR, Prof. Moh Nasih kini dikaruniai dua orang putera, yaitu Muhammad Fata Fatihuddin (kuliah FK UNAIR) dan Muhammad Nathiq Ulman (SMAN 2 Surabaya). Lima tahun menjadi dosen di FEB, Moh Nasih mendapat beasiswa untuk studi S2 jurusan Teknologi Industri di Institut

(10)

Teknologi Bandung (ITB). Setelah lulus S2, sebenarnya ia mau ambil S3 sekalian di ITB, tetapi karena terlalu lama menunggu promotor yang akan membimbing, ia memilih kembali saja ke Kota Surabaya dan menempuh S3-nya di UNAIR.

Kariernya semakin menanjak. Antara lain karena dipercaya menjadi Direktur Keuangan UNAIR, kemudian diangkat untuk menjabat Wakil Rektor II UNAIR sejak 2010, dan kemudian dikukuhkan menjadi Guru Besar (Professor) pada 29 Nopember 2014.

”Itulah garis tangan saya. Kalau dulu saya jadi di pondok, mungkin saya bekerja di Depag seperti saudara-saudara saya. Begitu juga kalau diterima jadi wartawan, mungkin kisahnya juga akan lain. Jadi rupanya, in shaa Allah saya ini tersesat di tempat yang benar,” kata Prof. Moh Nasih sambil tertawa di tengah percakapan dengan Tim WU itu. (*)

Penulis: TIM WARTA UNAIR Editor: Bambang Bes

UNAIR

Jadi

Tuan

Rumah

Pertemuan Majelis Wali Amanat

Sebelas PTN

UNAIR NEWS – Perwakilan Majelis Wali Amanat (MWA) dari Sebelas Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum (PTN-BH) akan menghadiri ‘Pertemuan Forum Komunikasi MWA PTN BH’ di Universitas Airlangga, 17-18 Maret 2016. Pertemuan tersebut akan membahas ‘Implementasi Good Governance PTN BH untuk Mewujudkan World Class University’.

(11)

Sebanyak sebelas perwakilan MWA yang akan hadir tersebut berasal dari Universitas Indonesia (UI), Universitas Gadjah Mada (UGM), Institut Teknologi Bandung (ITB), Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Universitas Sumatera Utara (USU), Universitas Airlangga (UNAIR), Universitas Padjadjaran (UNPAD), Universitas Diponegoro (UNDIP), Universitas Hasanuddin (UNHAS), dan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS).

Iman Prihandono, Ph.D, selaku Sekretaris Majelis Wali Amanat Universitas Airlangga (Foto: UNAIR NEWS)

“Sejak ada status PTN-BH, belum pernah sekalipun ada pertemuan bersama MWA. Mengingat pentingnya peran MWA bagi PTN-BH, pertemuan MWA ini dirasa menjadi perlu,” ujar Sekretaris MWA UNAIR, Iman Prihandono, Ph.D, usai menghadiri rapat persiapan penyelenggaraan pertemuan Forum Komunikasi MWA PTN-BH di Kantor Manajemen UNAIR, Senin (7/3).

(12)

bersama yang saat ini dihadapi oleh PTN-BH seperti penyamaan persepsi mengenai peran MWA dalam mendukung pengelolaan keuangan PTN-BH yang transparan dan akuntabel sebagai bagian dari otonomi keuangan yang dimiliki PTN-BH.

“Selain itu juga bagaimana peran MWA dalam mendukung masing-masing PTN-BH untuk mencapai standar world class university. Kita harus menyamakan persepsi bahwa tugas MWA ini sangat penting bagi PTN-BH,” lanjut doktor lulusan Macquarie Law School ini.

Rencananya, Menristekdikti M Nasir, Menkeu Bambang Brodjonegoro, Menteri PPN/Kepala Bappenas Sofyan Djalil serta Ketua/Wakil Ketua Komisi X DPR RI akan diundang menjadi pembicara dalam pertemuan tersebut.

Penulis : Yeano Andhika

Alumni dan Mahasiswa All Out

Bantu Korban Banjir Sampang

UNAIR NEWS – Tim UNAIR yang terjun ke lokasi bencana banjir Sampang benar-benar all out. Mereka mengerahkan segenap tenaga untuk meringankan beban masyarakat di sana.

Rachmat Muttaqin, alumni FISIP yang dulu aktif di UKM Menwa menjelaskan, pada Rabu malam (2/3), lima personel berangkat ke Sampang. Mereka meluncur ke Pulau Garam dengan menggunakan tiga unit sepeda motor. Selain Muttaqin, ada pula tiga anggota Menwa dari berbagai fakultas dan seorang sukrelawan dari Fakultas Psikologi.

(13)

dipersilakan melakukan survey dan pengamatan lapangan. Dari situ, kami tahu kalau ada di kawasan yang belum tersentuh bantuan. Yakni, Panggung dan Paseyan,” kata dia.

Penuh sesak : suasana di dalam posko kesehatan (Foto: UNAIR NEWS)

Mereka pun memutuskan untuk fokus mendistribusikan bantuan berupa barang dan tenaga guna ikut bersih-bersih lingkungan di sana. Barang yang diberikan pada penduduk sekitar antara lain bahan makanan, pakaian, obat-obatan, serta perkakas atau kebutuhan sehari-hari lainnya.

Pada Jum’at (4/3), sejumlah alumni dan Mahasiswa Tanggap Bencana (Mahagana) menyusul hadir. Mahagana adalah sekumpulan mahasiswa lintas UKM dan eksponen. Misalnya, Menwa, Pramuka, KSR PMI, Wanala, Mapanza, BEM, dan lain-lain. Tepatnya, pada Sabtu sore (5/3) tim dari UNAIR itu baru kembali dari Sampang.

(14)

“Ini merupakan tugas dan tanggungjawab sosial kami. Wujud nyata pengabdian untuk masyarakat bangsa dan negara,” kata Muttaqin. (*)

Penulis: Rio F. Rachman

Drainase di Lingkungan Kampus

C UNAIR Mulai Dibersihkan

UNAIR NEWS – Program pembersihan dan normalisasi drainase di lingkungan kampus C Universitas Airlangga (UNAIR) sudah dimulai pada 22 Februari 2016 lalu. Memang belum semua, dan baru pada drainase di tepi jalan antara Asrama Mahasiswa putera hingga Fakultas Kedokteran Hewan (FKH). Tetapi langkah awal ini akan berlanjut hingga semua drainase terkeruk lumpur dan kotorannya. Bahkan dimungkinkan juga membuat normalisasi-normalisasi dengan membuat sudetan agar laju air menjadi lancar.

Agus Sutiyono, S.Sos., Kasi Lingkungan, Subdit Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3), Direktorat Sarana dan Prasarana UNAIR, menjelaskan bahwa pengerukan dan normalisasi drainase ini dilaksanakan bersama Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga dan Pematusan (PUBMP) Pemkot Surabaya.

Pembersihan drainase ini terinspirasi dari pekerjaan serupa di kampus B yang dilakukan oleh RSU Dr. Soetomo. Selanjutnya Direktorat Sarpras mengajukan permohonan via surat kepada Dinas PUBMP per 1 Februari 2016. Dilakukan survey oleh petugas PUBMP pada 15 Februari dan pembersihan pertama menggunakan alat berat (beko) pada 22 Februari 2016. Karena hujan lebat dan banjir di berbagai tempat di Kota Surabaya, oleh Pemkot beko sementara dialihkfungsikan sementara ke Jl. Ngaglik untuk

(15)

mengatasi sumbatan drainase disana, kemudian digeser lagi ke Jl. Darma Husada untuk pekerjaan serupa.

”Jadi pembersihan lanjutan pada drainase lainnya di kampus C, kita menunggu instruksi lebih lanjut dari Pemkot selaku yang punya alat berat,” kata Agus Sutiyono kepada UNAIR News.

Pekerjaan pengerukan sungai yang paling besar dan lebih berat diperkirakan Agus adalah drainase yang menghubungkan antara Asrama Puteri hingga terusannya hingga samping kanan gedung Student Center (SC) dan yang membelah antara kampus FKM dan FST. Karena kondisi drainase lebih lebar diperkirakan nanti juga diperlukan ponton agar pengerukan bisa maksimal, bahkan jika diperlukan juga bisa dibuat sudetan-sudetan dan normalisasi untuk memperlancar lajunya air.

“Mengapa dinormalsiasi, karena saluran yang melewati sawah-sawah itu juga banyak di kanan-kirinya yang ruwet karena rumput dan tanaman lain yang tak teratur, karena kondisi juga belum diplengseng,” tambah Agus seraya optimis bila semua drainase sudah dibersihkan maka laju jalannya air hujan itu akan lancar. (*)

Penulis: Bambang Bes

Dinkes Sampang Apresiasi Tim

Tanggap Bencana UNAIR

UNAIR NEWS – Hujan yang mengguyur Sampang sejak Jumat (26/2) lalu telah mengakibatkan 13 desa terendam banjir. Ketinggian air di beberapa titik bervariasi tergantung kontur masing-masing daerah, mulai dari 70 – 100 sentimeter. Dampak banjir kini mulai dirasakan. Selain aktivitas warga yang sempat

(16)

lumpuh total, mereka juga mewaspadai penyakit yang berbahaya. Keadaan tersebut menggugah Tim Tanggap Darurat Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga-RSUD Dr. Soetomo untuk berperan dalam menangani warga korban banjir di Sampang. Kunjungan tim tanggap darurat diterima langsung oleh Wakil Bupati Sampang H. Fadhilah Budiono dan Kepala Dinas Kesehatan dr. Firman Pria Abadi pada Senin (29/2).

Dalam sambutannya, Dekan FK UNAIR Prof. Soetojo, Dr., dr., Sp.U, yang turut serta mendatangi korban banjir Sampang, menyampaikan bahwa pihaknya mengaku khawatir dengan penyakit Leptospirosis yang dapat mengancam kesehatan warga pasca banjir. Kedatangan tim tanggap bencana ke Sampang memperoleh apresiasi positif dari Pemerintah Kabupaten Sampang.

“Saya senang sekali terhadap respon dari pihak UNAIR yang mencari informasi terlebih dahulu mengenai kebutuhan yang sangat dibutuhkan masyarakat. Hal ini memudahkan kami dalam menangani berbagai masalah kesehatan yang timbul pasca banjir,” ujar dr. Firman Pria Abad, Kepala Dinas Kesehatan Pemkab Sampang.

Keterlibatan UNAIR memang diharapkan untuk membantu pemulihan keadaan warga di bidang kesehatan. Sulistiawati, dr., yang turut serta dalam rombongan mengatakan bahwa sebelum mengunjungi Sampang, pihak UNAIR terlebih dahulu berkoordinasi dengan pemerintah setempat, untuk mengetahui kebutuhan warga. “Bantuan seperti logistik, minuman isotonik, obat-obatan khususnya antibiotik sangat bermanfaat membunuh dan menghambat bakteri penyebab infeksi terutama bakteri Leptospira sp. Agar tidak terjadi overlap, tim tanggap bencana berinisiatif untuk menghubungi Dinkes Sampang. Kami juga mengusulkan beberapa bantuan yang dibutuhkan oleh masyarakat terutama pasca banjir,” tutur Sulistiawati, dr.

(17)

Bertepatan dengan kunjungan tim, aktivitas warga di Sampang sudah berangsur normal. Debit air sungai sudah menyusut, pertokoan kembali dibuka, dan siswa mulai bersekolah. Sejumlah warga juga mulai bergotong royong membersihkan sisa-sisa banjir.

Dari total 13 desa yang terendam banjir, tim medis mengunjungi 12 desa. Bertempat di Dusun Grugul, tim tanggap bencana dibantu oleh Cindy Cecilia, dr., (dokter internship lulusan FK UNAIR) mendirikan posko kesehatan. Posko kesehatan UNAIR didirikan di pelataran rumah warga dan menyelenggarakan pengobatan gratis.

Dalam waktu yang relatif singkat, posko kesehatan UNAIR langsung dikerumuni warga. Warga berdatangan dengan keluhan masing-masing. Sebagian besar diantara mereka mengeluhkan penyakit gatal-gatal. Dengan adanya posko kesehatan ini, diharapkan dampak pasca bencana terutama di bidang kesehatan dapat diminimalisir dan memberikan kemudahan akses bagi warga korban banjir. (*)

Penulis: Dwi Astuti Editor: Defrina Sukma S

Senam Pagi Plus Bazaar,

Konsep Baru Eratkan Sivitas

Unair News – Ada yang berbeda dengan senam pagi yang diadakan di halaman Universitas Airlangga kali ini, Minggu (28/2). Senam pagi yang rutin diadakan tiap bulan, dengan bergilir pada masing-masing fakultas di UNAIR tersebut, kali ini mengusung konsep yang berbeda dari acara-acara sebelumnya.

(18)

Panitia senam pagi kali ini adalah dari Fakultas Perikanan dan Kelautan (FPK) UNAIR. Jika sebelumnya acara senam sehat hanya dilakukan sebatas senam, jalan sehat, serta tebar benih ikan di danau Kampus C, pada senam pagi kali ini tersedia juga

stand bazaar yang diperuntukkan bagi sivitas UNAIR maupun

masyarakat umum yang ikut memeriahkan acara.

Senam pagi kali ini cukup banyak menarik perhatian. Dari 1.200 kupon dan kupon tambahan tanpa makan yang dibagikan, seluruhannya habis diserbu peserta. Berbagai macam hadiah hiburan serta hadiah utama menjadi salah satu magnet kuat bagi peserta untuk mengikuti acara sampai selesai.

“Konsep bazaar ini sebenarnya terkait dengan beberapa stakeholder, terutama dibidang perikanan. Harapan kedepan dengan diadakannya senam pagi dengan konsep yang berbeda kali ini yaitu dapat menjadi trendsetter untuk acara senam pagi selanjutnya,” ujar Kustiawan Tri Pursetyo, selaku ketua panitia pelaksana senam pagi FPK.

Yang lebih unik lagi dari senam pagi kali ini yaitu setiap pengambilan hadiah utama yang berupa sepeda mini, sepeda gunung, mesin cuci, dan juga kulkas, peserta yang beruntung harus bergoyang di depan semua peserta yang datang.

“Goyang sampai panggungnya bolong,” celoteh MC saat Deny

Setyawan, salah satu mahasiswa UNAIR yang beruntung mendapatkan sepeda mini.

Deny, sapaan akrab mahasiswa tersebut yang juga hobi melucu itupun langsung menunjukkan kebolehannya bergoyang dalam berbagai gaya. Mulai ngebor, gaya Uut Permata Sari, sampai gaya patah-patah. Sontak saja tingkah Deny ini membuat seluruh peserta senam pagi itu terpingkal-pingkal. (*)

Penulis: Dwi Astuti

(19)

Rangkuman

Berita

Media

Tentang UNAIR Hari Ini

(2/3/16)

Server Lemot, Siswa Cemas

Pendaftaran SNMPTN memang sudah dibuka mulai kemarin. Namun, pada hari pertama pendaftaran, server SNMPTN malah lemot. Akibatnya, banyak siswa yang belum bisa log in. Begitu pula yang dirasakan Pramesvara Naori Rachmadhani dari SMAN 6. Ia merasa gelisah karena hingga pukul 11.50 WIB, dia belum dapat

log in ke akun SNMPTN. Dia ingin mendaftar di Fakultas

Kedokteran Universitas Airlangga. Wakil kurikulum SMA Negeri 21 Moch Arifana mengatakan pada hari pertama pendaftaran, siswa memang melihat sendiri ke laman dengan menggunakan ponsel. Pihak sekolah pun juga tidak bisa mengecek langsung siswa yang masuk dalam kuota 75 persen. Namun, pihak sekolah memfasilitasi guru BK agar dapat membantu siswa dalam mematangkan jurusan.

Jawa Pos hal 25 dan 35 dan Radar hal 1 dan 2, Selasa, 1 Maret 2016

Buku Penutup Novel Supernova Bikin Decak Kagum

Sebuah novel karya Dewi lestari (Dee) berjudul Supernova sukses membuat penggemar setianya berdecak kagum. Buku penutup kisah Supernova yang berjudul Inteligensi Embun Pagi juga digadang-gadang melebihi kesuksesan dari buku pertamanya. Begitu pula yang dirasakan Abdul Rosid Novianto, mahasiswa Universitas Airlangga. Meski pada awalnya dia mengalami

(20)

kesulitan dalam memahami kata-kata yang ada dalam buku, namun dia merasa buku ini menghadirkan nuansa baru bagi para pembaca.

Jawa Pos hal 17, Selasa, 1 Maret 2016

Negeri Darurat Bencana (Opini Dosen FISIP UNAIR, Bagong Suyanto)

Bencana yang belakangan melanda Indonesia, di satu sisi bisa dipersepsi sebagai takdir, namun riset menunjukkan bahwa aktivitas manusialah yang menjadi penyebab utama perubahan iklim global. Studi Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Universitas Airlangga pada tahun 2015 menemukan beberapa dampak perubahan iklim, antara lain, sarana prasarana menjadi rusak, merebaknya wabah penyakit, terutama pernapasan, kekeringan dan kekurangan sumber air, bencana alam, dan ujungnya harga pangan semakin mahal karena penurunan produksi komoditas pertanian. Oleh karena itu, untuk meyiasati dampak perubahan cuaca yang merugikan, upaya yang dikembangkan adalah membangun kemampuan adaptasi masyarakat dan mengurangi risiko ancaman akibat bencana.

Republika hal 6, Selasa, 1 Maret 2016

Operasi Plastik, Pria Lancipkan Dagu

dr Iswinarno Doso Saputro SpBP (RE) yang saat ini mengambil gelar spesialis di FK UNAIR mengatakan ada anggapan di kalangan pria muda jika dagu lanip merupakan petanda bahwa orang tersebut terlihat lebih smart. Banyak diantara mereka yang memilih melakukan operasi plastik untuk memperbaiki dagunya. Sebenarnya, ada dua cara yang bisa dilakukan untuk meruncingkan dagu atau geniolpasty. Pertama, chin implant yakni memasang implan dari silikon padat. Kedua, memakai

(21)

teknik memotong tulang dagu sekitar 1 cm. Menurutnya, implan memiliki kelebihan bisa dilepas. Jika sudah bosan, implan tinggal diangkat dan diganti sesuai keinginan. Namun, memakai tulang sendiri pun juga lebih hemat karena tidak perlu pasang lepas. Selain meruncingkan dagu, menurut dr. Iswinarno, pria juga suka memperbaiki bentuk kantung mata.

Jawa Pos hal 36, Rabu, 2 Maret 2016

Ajak Anak Muda Inspirasi Masyarakat

Dalam acara “Berani Memulai Startup!” yang digelar Lenovo di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga, Marsha Chikita Fawzy mengajak anak muda melakukan hal-hal positif lewat sebuah komunitas bernama kelas inspirasi di FEB UNAIR. Dia berbagi tips menginspirasi masyarakat mengingat dia adalah pelaku start up. Chiki yang memang hobi menggambar itu memanfaatkan hobinya untuk mencari pengalaman dan bekerja pada sebuah rumah produksi yang melahirkan kartun Upin Ipin asal Malaysia. Namun, pada tahun 2012, dia memilih kembali ke Indonesia dan mendirikan sendiri rumah produksi dengan berbekal pengalamannya selama bekerja di Malaysia. Melalui program Lenovo Siap Maju Inspiration Hunt, diharapkan anak muda khususnya yang berada di usia produktif untuk memulai langkahnya dalam menggapai impian.

Seputar indonesia hal 11, Surya hal 13 dan 16 dan Radar hal 5, Rabu, 2 Maret 2016

904 Siswa Daftar SNMPTN UNAIR

Berdasar data per Selasa (2/3), jumlah pendaftar SNMPTN di UNAIR sudah mencapai 904 orang yang terbagi menjadi 520 peserta pada pilihan pertama dan 384 orang pada pilihan kedua. Rektor UNAIR Prof. Muhammad Nasih menjelaskan, jumlah

(22)

pendaftar sudah mencapai 43 persen dari kuota SNMPTN di UNAIR, yakni 2.080 mahasiswa. Program studi yang paling banyak diminati adalah manajemen dengan 86 pendaftar, farmasi dengan total pendaftar 80 dan akuntansi dengan total 57 pendaftar. Prof. Nasih juga menjelaskan bahwa pada tahun ini, UNAIR memiliki daya tampung 5.200 kursi untuk mahasiswa baru tingkat sarjana. Kuota jalur SNMPTN minimal 40 persen, SBMPTN 30 persen dan jalur mandiri maksimal 30 persen dihitung dari kapasitas daya tampung masing-masing PTN.

Seputar indonesia hal 11, Jawa Pos hal 25 dan 35, dan Surya hal 13 Rabu, 2 Maret 2016

Penulis: Thia Aminah

FKG Gencar Helat Training

Revolusi Mental

UNAIR NEWS – Kementerian Ristek dan Pendidikan Tinggi menaruh harapan besar pada Universitas Airlangga (UNAIR). Kampus yang berdiri sejak 1954 ini ditargetkan dapat menembus peringkat 500 besar perguruan tinggi terbaik di dunia.

Untuk mewujudkan mimpi tersebut, seluruh elemen civitas akademika mesti berperan aktif. Sumber Daya Manusia yang unggul menjadi pondasi penting. Sekaligus, penggerak ke arah perubahan yang lebih baik.

Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) merespon positif rencana besar tersebut. Beragam program dijalankan. Salah satunya, dengan menggelar training bertajuk Revolusi Mental Sumber Daya

(23)

Manusia Fakultas Kedokteran Gigi UNAIR di Garden Palace

Surabaya, pada Sabtu lalu (20/2).

Segenap staf pengajar dan guru besar fakultas turut hadir dan berpartisipasi. Acara ini dihadiri oleh Dekan FKG UNAIR Dr. R. Darmawan Setijanto, drg., M.Kes, dan tiga pembicara lain. Yakni, Prof. Dr. Ir. Abdullah Shahab, M.Sc., Ir. Misbahul Huda, M.Sc., dan KH. Ir. Taat Budi Utomo.

Darmawan mengatakan, training revolusi mental ini berusaha menselaraskan langkah mahasiswa, tenaga kependidikan, dan dosen (termasuk guru besar) menuju internasionalisasi. “Kalau kita punya target yang mendunia, kinerja kita harus sesuai dengan standar dunia. Mahasiswa juga harus siap apabila kami mengubah gaya mengajar,” tutur Darmawan.

Training dengan topik Revolusi Mental sendiri sudah kerap digelar secara simultan. Semua elemen mulai mahasiswa, tenaga kependidikan, serta staf pengajar dan guru besar dilibatkan. Gelaran ini sudah dihelat sejak Desember tahun 2015. (*)

Penulis: Humas FKG Editor: Rio F. Rachman

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :