BAB I
BAB I
PENDAHULUAN
PENDAHULUAN
I.
I. Latar Belakang Latar Belakang
Terorisme di dunia bukanlah merupakan hal baru, namun menjadi aktual Terorisme di dunia bukanlah merupakan hal baru, namun menjadi aktual terutama sejak terjadinya peristiwa
terutama sejak terjadinya peristiwa World Trade Center World Trade Center (WTC) di New York,(WTC) di New York, Amerika Serikat pada tanggal 11 September 2001, dikenal sebagai Amerika Serikat pada tanggal 11 September 2001, dikenal sebagai ´September Kelabuµ, yang memakan 3000 korban. Serangan dilakukan ´September Kelabuµ, yang memakan 3000 korban. Serangan dilakukan melalui udara, tidak menggunakan pesawat tempur, melainkan melalui udara, tidak menggunakan pesawat tempur, melainkan menggunakan pesawat komersil milik perusahaan Amerika sendiri, menggunakan pesawat komersil milik perusahaan Amerika sendiri, sehingga tidak tertangkap oleh radar Amerika Serikat. Tiga pesawat sehingga tidak tertangkap oleh radar Amerika Serikat. Tiga pesawat komersil milik Amerika Serikat dibajak, dua di antaranya ditabrakkan ke komersil milik Amerika Serikat dibajak, dua di antaranya ditabrakkan ke menara kembar
menara kembar Twin Towers World Trade Center Twin Towers World Trade Center dan gedung Pentagon.dan gedung Pentagon.11
Berita jurnalistik seolah menampilkan gedung
Berita jurnalistik seolah menampilkan gedung World Trade Center World Trade Center dandan Pentagon sebagai korban utama penyerangan ini. Padahal, lebih dari itu, Pentagon sebagai korban utama penyerangan ini. Padahal, lebih dari itu, yang menjadi korban utama dalam waktu dua jam itu mengorbankan yang menjadi korban utama dalam waktu dua jam itu mengorbankan kurang lebih 3.000 orang pria, wanita dan anak-anak yang terteror, terbunuh, kurang lebih 3.000 orang pria, wanita dan anak-anak yang terteror, terbunuh, terbakar, meninggal, dan tertimbun berton-ton reruntuhan puing akibat terbakar, meninggal, dan tertimbun berton-ton reruntuhan puing akibat sebuah pembunuhan massal yang terencana. Akibat serangan teroris itu, sebuah pembunuhan massal yang terencana. Akibat serangan teroris itu, menurut Dana Yatim-Piatu
menurut Dana Yatim-Piatu Twin TowersTwin Towers, diperkirakan 1.500 anak kehilangan, diperkirakan 1.500 anak kehilangan orang tua. Di Pentagon, Washington, 189 orang tewas, termasuk para orang tua. Di Pentagon, Washington, 189 orang tewas, termasuk para penumpang pesawat, 45 orang tewas dalam pesawat keempat yang jatuh di penumpang pesawat, 45 orang tewas dalam pesawat keempat yang jatuh di daerah pedalaman Pennsylvania. Para teroris mengira bahwa penyerangan daerah pedalaman Pennsylvania. Para teroris mengira bahwa penyerangan yang dilakukan ke
yang dilakukan ke World Trade CentreWorld Trade Centre merupakan penyerangan terhadapmerupakan penyerangan terhadap "Simbol Amerika". Namun, gedung yang mereka serang tak lain merupakan "Simbol Amerika". Namun, gedung yang mereka serang tak lain merupakan institusi internasional yang melambangkan kemakmuran ekonomi dunia. Di institusi internasional yang melambangkan kemakmuran ekonomi dunia. Di sana terdapat perwakilan dari berbagai negara, yaitu terdapat 430 sana terdapat perwakilan dari berbagai negara, yaitu terdapat 430 perusahaan dari 28 negara. Jadi, sebetulnya mereka tidak saja menyerang perusahaan dari 28 negara. Jadi, sebetulnya mereka tidak saja menyerang Amerika Serikat tapi juga dunia. Osama bin laden dan jaringan internasional Amerika Serikat tapi juga dunia. Osama bin laden dan jaringan internasional
1 1
http://www.wikipe
Al-Qaeda sering disebut-sebut sebagai actor di balik tragedi kemanusian Al-Qaeda sering disebut-sebut sebagai actor di balik tragedi kemanusian yang spektakuler tersebut. Bangsa Indonesia yang sedang dilanda krisis yang spektakuler tersebut. Bangsa Indonesia yang sedang dilanda krisis multidimensional juga tak luput dari target aksi terorisme.
multidimensional juga tak luput dari target aksi terorisme.
Dari uraian yang telah dibahas diatas penulis tertarik untuk menjabarkan Dari uraian yang telah dibahas diatas penulis tertarik untuk menjabarkan secara lebih detail lagi tentang terorisme, khususnya terorisme di Indonesia secara lebih detail lagi tentang terorisme, khususnya terorisme di Indonesia
II.
II. Pembatasan dan Perumusan MasalahPembatasan dan Perumusan Masalah
Agar pembahasan tidak terlalu melebar, penulis membatasi makalah ini Agar pembahasan tidak terlalu melebar, penulis membatasi makalah ini dengan bertemakan tentang Terorisme. Adapun untuk memudahkan dengan bertemakan tentang Terorisme. Adapun untuk memudahkan menemukan jawaban, penulis menyusun rumusan masalah sebagai berikut : menemukan jawaban, penulis menyusun rumusan masalah sebagai berikut : 1.
1. Apa pengertian Pengertian Terorisme dan apa saja unsur-unsur tindakanApa pengertian Pengertian Terorisme dan apa saja unsur-unsur tindakan terorisme?
terorisme? 2.
2. Bagaimana Sejarah Terorisme?Bagaimana Sejarah Terorisme? 3.
3. Bagaimana bentuk-bentuk terorisme?Bagaimana bentuk-bentuk terorisme? 4.
4. Bagaimana Terorisme di Indonesia?Bagaimana Terorisme di Indonesia? 5.
5. Bagaimana upaya untuk mencegah terorisme?Bagaimana upaya untuk mencegah terorisme?
III.
III. Tujuan PenulisanTujuan Penulisan
Berdasarkan rumusan masalah diatas, penulisan ini bertujuan untuk : Berdasarkan rumusan masalah diatas, penulisan ini bertujuan untuk : 1.
1. Memahami Memahami lebih lebih mendalam tentang mendalam tentang TerorismeTerorisme 2.
2. Mengetahui sebab-sebab terjadinya terorisme di IndonesiaMengetahui sebab-sebab terjadinya terorisme di Indonesia 3.
3. Sebagai Salah satu tugas mata kuliah pengantar ilmu hukumSebagai Salah satu tugas mata kuliah pengantar ilmu hukum
IV.
IV. Sistematika PenulisanSistematika Penulisan
U
Untuk memperoleh gambaran pembahasan yang menyeluruh, makantuk memperoleh gambaran pembahasan yang menyeluruh, maka penulisan makalah ini dibagi menjadi tiga bab dengan sistematika sebagai penulisan makalah ini dibagi menjadi tiga bab dengan sistematika sebagai berikut : berikut : Daftar Isi Daftar Isi Kata Pengantar Kata Pengantar
BAB I, Pendahuluan terdiri dari: Latar Belakang, Pembatasan dan BAB I, Pendahuluan terdiri dari: Latar Belakang, Pembatasan dan Perumusan Masalah, Tujuan Penulisan, Sistematika Penulisan.
Perumusan Masalah, Tujuan Penulisan, Sistematika Penulisan.
Bab II, Terorisme di Indonesia, Terdiri dari : Pengertian Terorisme, Sejarah Bab II, Terorisme di Indonesia, Terdiri dari : Pengertian Terorisme, Sejarah Terorisme, Sebab-Sebab Terorisme, Bentuk-Bentuk Terorisme, Terorisme di Terorisme, Sebab-Sebab Terorisme, Bentuk-Bentuk Terorisme, Terorisme di Indonesia,
Indonesia, UUpaya Menanggulangi dan Memberantas Terorisme.paya Menanggulangi dan Memberantas Terorisme.
Bab III. Kesimpulan Bab III. Kesimpulan
Daftar Pustaka Daftar Pustaka
BAB II
BAB II
TERORISME DI INDONESIA
TERORISME DI INDONESIA
I.
I. Pengertian TerorismePengertian Terorisme
Kata terorisme berasal dari bahasa latin yakni
Kata terorisme berasal dari bahasa latin yakni TerrereTerrere (gemetaran) dan(gemetaran) dan Deterrere
Deterrere (takut). Menurut kamus ilmiah Populer (2006 : 467) terorisme(takut). Menurut kamus ilmiah Populer (2006 : 467) terorisme adalah hal tindakan pengacau dalam masyarakat untuk mencapai tujuan adalah hal tindakan pengacau dalam masyarakat untuk mencapai tujuan (bidang politik); penggunaan kekerasan dan ancaman secara sistematis dan (bidang politik); penggunaan kekerasan dan ancaman secara sistematis dan terencana untuk menimbulkan rasa takut dan menggangu system-sistem terencana untuk menimbulkan rasa takut dan menggangu system-sistem wewenang yang ada
wewenang yang ada22..
Defenisi
Defenisi Terorisme, Berdasarkan Terorisme, Berdasarkan konvensi PBB konvensi PBB tahun 1939, tahun 1939, adalah adalah segalsegalaa bentuk tindak kejahatan yang ditujukan langsung kepada negara dengan bentuk tindak kejahatan yang ditujukan langsung kepada negara dengan maksud menciptakan bentuk teror terhadap orang-orang tertentu atau maksud menciptakan bentuk teror terhadap orang-orang tertentu atau kelompok orang atau masyarakat luas
kelompok orang atau masyarakat luas33. Sedangkan menurut Departemen. Sedangkan menurut Departemen
Pertahanan Amerika Serikat, terorisme merupakan perbuatan melawan Pertahanan Amerika Serikat, terorisme merupakan perbuatan melawan hukum atau tindakan yang mengandung ancaman dengan kekerasan atau hukum atau tindakan yang mengandung ancaman dengan kekerasan atau paksaan terhadap individu atau hak milik untuk memaksa atau paksaan terhadap individu atau hak milik untuk memaksa atau mengintimidasi pemerintah atau masyarakat dengan tujuan politik, agama, mengintimidasi pemerintah atau masyarakat dengan tujuan politik, agama, atau ideologi. Jadi, berdasarkan penjelasan sebelumnya, kita dapat atau ideologi. Jadi, berdasarkan penjelasan sebelumnya, kita dapat memahami bahwa unsur utama dari terorisme adalah penggunaan memahami bahwa unsur utama dari terorisme adalah penggunaan kekerasan yang dilatarbelakangi oleh motif-motif tertentu seperti motif kekerasan yang dilatarbelakangi oleh motif-motif tertentu seperti motif perang suci (agama), motif ekonomi, dan balas dendam, membebaskan tanah perang suci (agama), motif ekonomi, dan balas dendam, membebaskan tanah air, menyingkirkan musuh politik, dan bahkan gerakan separatis.
air, menyingkirkan musuh politik, dan bahkan gerakan separatis. 44
II.
II. Sejarah TerorismeSejarah Terorisme
Sejarah tentang Terorisme berkembang sejak berabad lampau, ditandai Sejarah tentang Terorisme berkembang sejak berabad lampau, ditandai dengan bentuk kejahatan murni berupa pembunuhan dan ancaman yang dengan bentuk kejahatan murni berupa pembunuhan dan ancaman yang bertujuan untuk mencapai tujuan tertentu. Perkembangannya bermula bertujuan untuk mencapai tujuan tertentu. Perkembangannya bermula
2 2
Tim Prima Pena.
Tim Prima Pena. Kamus Ilmiah Populer Edisi Lengkap Kamus Ilmiah Populer Edisi Lengkap . (Jakarta: G. (Jakarta: Gitamedia Press. 2006) cet 1. itamedia Press. 2006) cet 1. h. 467h. 467
3 3
http://www.wikipe
dalam bentuk fanatisme aliran kepercayaan yang kemudian berubah dalam bentuk fanatisme aliran kepercayaan yang kemudian berubah menjadi pembunuhan, baik yang dilakukan secara perorangan maupun oleh menjadi pembunuhan, baik yang dilakukan secara perorangan maupun oleh suatu kelompok terhadap penguasa yang dianggap sebagai tiran. suatu kelompok terhadap penguasa yang dianggap sebagai tiran. Pembunuhan terhadap individu ini sudah dapat dikatakan sebagai bentuk Pembunuhan terhadap individu ini sudah dapat dikatakan sebagai bentuk murni dari Terorisme dengan mengacu pada sejarah Terorisme modern. murni dari Terorisme dengan mengacu pada sejarah Terorisme modern.
Meski istilah Teror dan Terorisme baru mulai populer abad ke-18, namun Meski istilah Teror dan Terorisme baru mulai populer abad ke-18, namun fenomena yang ditujukannya bukanlah baru. Menurut Grant Wardlaw fenomena yang ditujukannya bukanlah baru. Menurut Grant Wardlaw dalam buku Political Terrorism (1982), manifestasi Terorisme sistematis dalam buku Political Terrorism (1982), manifestasi Terorisme sistematis muncul sebelum Revolusi Perancis, tetapi baru mencolok sejak paruh kedua muncul sebelum Revolusi Perancis, tetapi baru mencolok sejak paruh kedua abad ke-19. Dalam suplemen kamus yang dikeluarkan Akademi Perancis abad ke-19. Dalam suplemen kamus yang dikeluarkan Akademi Perancis tahun 1798, terorisme lebih diartikan sebagai sistem rezim teror.
tahun 1798, terorisme lebih diartikan sebagai sistem rezim teror.55
Terorisme muncul pada akhir abad 19 dan menjelang terjadinya Perang Terorisme muncul pada akhir abad 19 dan menjelang terjadinya Perang Dunia-I, terjadi hampir di
Dunia-I, terjadi hampir di seluruh belahan dunia. Pada perteseluruh belahan dunia. Pada pertengahan abad kengahan abad ke --19, Terorisme mulai banyak dilakukan di Eropa Barat, Rusia dan Amerika. 19, Terorisme mulai banyak dilakukan di Eropa Barat, Rusia dan Amerika. Mereka percaya bahwa Terorisme adalah cara yang paling efektif untuk Mereka percaya bahwa Terorisme adalah cara yang paling efektif untuk melakukan revolusi politik maupun sosial, dengan cara membunuh melakukan revolusi politik maupun sosial, dengan cara membunuh orang-orang yang berpengaruh. Sejarah mencatat pada tahun 1890-an aksi orang yang berpengaruh. Sejarah mencatat pada tahun 1890-an aksi terorisme Armenia melawan pemerintah Turki, yang berakhir dengan terorisme Armenia melawan pemerintah Turki, yang berakhir dengan bencana pembunuhan masal terhadap warga Armenia pada Perang Dunia I. bencana pembunuhan masal terhadap warga Armenia pada Perang Dunia I. Pada dekade tersebut, aksi Terorisme diidentikkan sebagai bagian dari Pada dekade tersebut, aksi Terorisme diidentikkan sebagai bagian dari gerakan sayap kiri yang berbasiskan ideologi.
gerakan sayap kiri yang berbasiskan ideologi.
Bentuk pertama Terorisme, terjadi sebelum Perang Dunia II, Terorisme Bentuk pertama Terorisme, terjadi sebelum Perang Dunia II, Terorisme dilakukan dengan cara pembunuhan politik terhadap pejabat pemerintah. dilakukan dengan cara pembunuhan politik terhadap pejabat pemerintah. Bentuk kedua Terorisme dimulai di Aljazair di tahun 50an, dilakukan oleh Bentuk kedua Terorisme dimulai di Aljazair di tahun 50an, dilakukan oleh FLN yang mempopulerkan ´serangan yang bersifat acakµ terhadap FLN yang mempopulerkan ´serangan yang bersifat acakµ terhadap masyarakat sipil yang tidak berdosa. Hal ini dilakukan untuk melawan apa masyarakat sipil yang tidak berdosa. Hal ini dilakukan untuk melawan apa yang disebut sebagai Terorisme negara oleh Algerian Nationalist. yang disebut sebagai Terorisme negara oleh Algerian Nationalist.
5 5
http://www.wikipe
Pembunuhan dilakukan dengan tujuan untuk mendapatkan keadilan. Pembunuhan dilakukan dengan tujuan untuk mendapatkan keadilan. Bentuk ketiga Terorisme muncul pada tahun 60an dan terkenal dengan Bentuk ketiga Terorisme muncul pada tahun 60an dan terkenal dengan istilah ´Terorisme Mediaµ, berupa serangan acak terhadap siapa saja untuk istilah ´Terorisme Mediaµ, berupa serangan acak terhadap siapa saja untuk tujuan publisitas. Bentuk ketiga ini berkembang melalui tiga sumber, yaitu: tujuan publisitas. Bentuk ketiga ini berkembang melalui tiga sumber, yaitu: 1.
1. Kecenderungan sejarah yang semakin menentang kolonialisme danKecenderungan sejarah yang semakin menentang kolonialisme dan tumbuhnya gerakan-gerakan demokrasi serta HAM.
tumbuhnya gerakan-gerakan demokrasi serta HAM. 2.
2. Pergeseran ideologis yang mencakup kebangkitan fundamentalis agama,Pergeseran ideologis yang mencakup kebangkitan fundamentalis agama, radikalis setelah era perang Vietnam dan munculnya ide perang gerilya radikalis setelah era perang Vietnam dan munculnya ide perang gerilya kota.
kota. 3.
3. Kemajuan teknologi, penemuan senjata canggih dan peningkatan laluKemajuan teknologi, penemuan senjata canggih dan peningkatan lalu lintas.
lintas.
Namun Terorisme bentuk ini dianggap kurang efektif dalam masyarakat Namun Terorisme bentuk ini dianggap kurang efektif dalam masyarakat yang ketika itu sebagian besar buta huruf dan apatis. Seruan atau perjuangan yang ketika itu sebagian besar buta huruf dan apatis. Seruan atau perjuangan melalui tulisan mempunyai dampak yang sangat kecil. Akan lebih efektif melalui tulisan mempunyai dampak yang sangat kecil. Akan lebih efektif menerapkan
menerapkan ´´the philosophy of the bombµthe philosophy of the bombµ yang bersifat eksplosif dan sulityang bersifat eksplosif dan sulit diabaikan. Pasca Perang Dunia II, dunia tidak pernah mengenal "damai". diabaikan. Pasca Perang Dunia II, dunia tidak pernah mengenal "damai". Berbagai pergolakan berkembang dan berlangsung secara berkelanjutan. Berbagai pergolakan berkembang dan berlangsung secara berkelanjutan. Konfrontasi negara adikuasa yang meluas menjadi konflik Timur - Barat dan Konfrontasi negara adikuasa yang meluas menjadi konflik Timur - Barat dan menyeret beberapa negara Dunia Ketiga ke dalamnya menyebabkan menyeret beberapa negara Dunia Ketiga ke dalamnya menyebabkan timbulnya konflik
timbulnya konflik UUtara - Selatan. Perjuangan melawan penjajah, pergolakantara - Selatan. Perjuangan melawan penjajah, pergolakan rasial, konflik regional yang menarik campur tangan pihak ketiga, rasial, konflik regional yang menarik campur tangan pihak ketiga, pergolakan dalam negeri di sekian banyak negara Dunia Ketiga, membuat pergolakan dalam negeri di sekian banyak negara Dunia Ketiga, membuat dunia labil dan bergejolak. Ketidakstabilan dunia dan rasa frustasi dari dunia labil dan bergejolak. Ketidakstabilan dunia dan rasa frustasi dari banyak Negara Berkembang dalam perjuangan menuntut hak-hak yang banyak Negara Berkembang dalam perjuangan menuntut hak-hak yang dianggap fundamental dan sah, membuka peluang muncul dan meluasnya dianggap fundamental dan sah, membuka peluang muncul dan meluasnya Terorisme. Fenomena Terorisme meningkat sejak permulaan dasa warsa Terorisme. Fenomena Terorisme meningkat sejak permulaan dasa warsa 70-an. Terorisme dan Teror telah berkembang dalam sengketa ideologi, an. Terorisme dan Teror telah berkembang dalam sengketa ideologi, fanatisme agama, perjuangan kemerdekaan, pemberontakan, gerilya, bahkan fanatisme agama, perjuangan kemerdekaan, pemberontakan, gerilya, bahkan juga oleh pemerintah sebagai cara dan sarana menegakkan kekuasaannya. juga oleh pemerintah sebagai cara dan sarana menegakkan kekuasaannya.
Terorisme gaya baru mengandung beberapa karakteristik: Terorisme gaya baru mengandung beberapa karakteristik:
1.
1. Ada maksimalisasi korban secara sangat mengerikan.Ada maksimalisasi korban secara sangat mengerikan. 2.
2. Keinginan untuk mendapatkan liputan di media massa secaraKeinginan untuk mendapatkan liputan di media massa secara internasional secepat mungkin.
internasional secepat mungkin. 3.
3. Tidak pernah ada yang membuat klaim terhadap Terorisme yang sudahTidak pernah ada yang membuat klaim terhadap Terorisme yang sudah dilakukan.
dilakukan. 4.
4. Serangan Terorisme itu tidak pernah bisa diduga karena sasarannyaSerangan Terorisme itu tidak pernah bisa diduga karena sasarannya sama dengan luasnya seluruh permukaan bumi.
sama dengan luasnya seluruh permukaan bumi.
III.
III. Sebab-Sebab TerorismeSebab-Sebab Terorisme Adalah
Adalah sangat penting sangat penting untuk untuk mengetahui sebab-semengetahui sebab-sebab bab terjadinya terjadinya terorisme.terorisme. Karena dengan mengetahui sebab-sebabnya, maka dapat ditemukan Karena dengan mengetahui sebab-sebabnya, maka dapat ditemukan langkah-langkah atau strategi yang tepat dan efektif untuk memberantasnya. langkah-langkah atau strategi yang tepat dan efektif untuk memberantasnya. Secara umum munculnya tindakan terorisme disebabkan satu atau lebih dari Secara umum munculnya tindakan terorisme disebabkan satu atau lebih dari faktor-faktor berikut:
faktor-faktor berikut: a.
a. IdeologiIdeologi
Ideologi adalah seperangkat kepercayaan yang menadi dasar dari Ideologi adalah seperangkat kepercayaan yang menadi dasar dari tindakan seseorang, sekelompok, partai atau Negara. Ideology adalah tindakan seseorang, sekelompok, partai atau Negara. Ideology adalah salah satu alas an yang digunakan orang atau kelompok tertentu untuk salah satu alas an yang digunakan orang atau kelompok tertentu untuk melakukan tindakan kekerasan atau terorisme.
melakukan tindakan kekerasan atau terorisme.
b.
b. Perjuangan AgamaPerjuangan Agama
Contoh kelompok-kelompok yang melandaskan diri pada perjuangan Contoh kelompok-kelompok yang melandaskan diri pada perjuangan agama tertentu adalah kelompok-kelompok islam radikal yang agama tertentu adalah kelompok-kelompok islam radikal yang berkembang di seluruh dunia terutama yang memiliki penduduk berkembang di seluruh dunia terutama yang memiliki penduduk mayoritas beragama islam.
mayoritas beragama islam.
Tujuan tersebut biasanya muncul disebabkan oleh ketidak puasan Tujuan tersebut biasanya muncul disebabkan oleh ketidak puasan kelompok-kelompok tersebut terhadap kebijakan pemerintah.
kelompok-kelompok tersebut terhadap kebijakan pemerintah.
c
c.. KKetidakadilanetidakadilan
Munculnya aksi terorisme dalam suatu Negara itu terkait dengan Munculnya aksi terorisme dalam suatu Negara itu terkait dengan kebijakan pemerintah nasional yang tidak adil dalam kondisi realistis kebijakan pemerintah nasional yang tidak adil dalam kondisi realistis
tatanan masyarakat yang pluralistic yang berlangsung lama dan tidak tatanan masyarakat yang pluralistic yang berlangsung lama dan tidak adak harapan adanya perubahan
adak harapan adanya perubahan
IV.
IV. Bentuk-Bentuk TerorismeBentuk-Bentuk Terorisme a.
a. Ditinjau dariDitinjau dari ccara-ara-ccara yang digunakanara yang digunakan
1.
1. Terror FisikTerror Fisik
Yang dimaksud dengan terror fisik adalah penciptaan rasa takut dan Yang dimaksud dengan terror fisik adalah penciptaan rasa takut dan gelisah dengan menggunakan alat-alat yang berlangsung berkenaan gelisah dengan menggunakan alat-alat yang berlangsung berkenaan dengan unsure jasmani manusia.
dengan unsure jasmani manusia.
2
2.. Teror mentalTeror mental
Terror mental
Terror mental dilakukan dengan dilakukan dengan tujuan tujuan untuk untuk mencipatakan rasamencipatakan rasa takut dan gelisah dengan menggunakan alat-alat yang tidak takut dan gelisah dengan menggunakan alat-alat yang tidak berkenaan langsung dengan jasmani manusia, tetapi dengan tekanan berkenaan langsung dengan jasmani manusia, tetapi dengan tekanan psikologi sehingga menimbulkan tekanan bathin yang luar biasa psikologi sehingga menimbulkan tekanan bathin yang luar biasa sampai-sampai sasaran terror menjadi putus asa, gila hingga bunuh sampai-sampai sasaran terror menjadi putus asa, gila hingga bunuh diri
diri
b.
b. Ditinjau dari skala sasaranDitinjau dari skala sasaran 1.
1. Terorisme Domestik (Lokal) atau Terorisme NasionalTerorisme Domestik (Lokal) atau Terorisme Nasional
Terorisme domestic atau terorisme nasional adalah tindakan terror Terorisme domestic atau terorisme nasional adalah tindakan terror yang diarahkan pada lingkup geografis suatu Negara secara terbatas yang diarahkan pada lingkup geografis suatu Negara secara terbatas
2
2.. Terorisme Internasional atau Terorisme GlobalTerorisme Internasional atau Terorisme Global
Terorisme internasional adalah tindakan terror yang mengarah pada Terorisme internasional adalah tindakan terror yang mengarah pada kepentingan-kepentingan global, tanpa batas-batas tertentu suatu kepentingan-kepentingan global, tanpa batas-batas tertentu suatu negara
negara
V.
V. Terorisme di IndonesiaTerorisme di Indonesia
Terorisme di Indonesia merupakan terorisme di Indonesia yang dilakukan Terorisme di Indonesia merupakan terorisme di Indonesia yang dilakukan oleh kelompok militan Jemaah Islamiyah yang berhubungan dengan oleh kelompok militan Jemaah Islamiyah yang berhubungan dengan
al-Qaeda ataupun kelompok militan yang menggunakan ideologi serupa Qaeda ataupun kelompok militan yang menggunakan ideologi serupa dengan mereka. Sejak tahun 2002, beberapa "target negara Barat" telah dengan mereka. Sejak tahun 2002, beberapa "target negara Barat" telah diserang. Korban yang jatuh adalah turis Barat dan juga penduduk diserang. Korban yang jatuh adalah turis Barat dan juga penduduk Indonesia. Terorisme di Indonesia dimulai tahun 2000 dengan terjadinya Indonesia. Terorisme di Indonesia dimulai tahun 2000 dengan terjadinya Bom Bursa Efek Jakarta, diikuti dengan empat serangan besar lainnya, dan Bom Bursa Efek Jakarta, diikuti dengan empat serangan besar lainnya, dan yang paling mematikan adalah Bom Bali 2002
yang paling mematikan adalah Bom Bali 2002
Berikut adalah beberapa kejadian terorisme yang telah terjadi di Indonesia Berikut adalah beberapa kejadian terorisme yang telah terjadi di Indonesia dan instansi Indonesia di luar negeri:
dan instansi Indonesia di luar negeri: a.
a. Tahun 1981Tahun 1981
Garuda Indonesia Penerbangan 206, 28 Maret 1981. Sebuah penerbangan Garuda Indonesia Penerbangan 206, 28 Maret 1981. Sebuah penerbangan maskapai Garuda Indonesia dari Palembang ke Medan pada maskapai Garuda Indonesia dari Palembang ke Medan pada Penerbangan dengan pesawat DC-9
Penerbangan dengan pesawat DC-9 WoylaWoyla berangkat dari Jakarta padaberangkat dari Jakarta pada pukul 8 pagi, transit di Palembang, dan akan terbang ke Medan dengan pukul 8 pagi, transit di Palembang, dan akan terbang ke Medan dengan perkiraan sampai pada pukul 10.55. Dalam penerbangan, pesawat perkiraan sampai pada pukul 10.55. Dalam penerbangan, pesawat tersebut dibajak oleh 5 orang teroris yang menyamar sebagai tersebut dibajak oleh 5 orang teroris yang menyamar sebagai penumpang. Mereka bersenjata senapan mesin dan granat, dan mengaku penumpang. Mereka bersenjata senapan mesin dan granat, dan mengaku sebagai anggota Komando Jihad; 1 kru pesawat tewas; 1 tentara sebagai anggota Komando Jihad; 1 kru pesawat tewas; 1 tentara komando tewas; 3 teroris tewas.
komando tewas; 3 teroris tewas.
b.
b. Tahun 1985Tahun 1985
Bom Candi Borobudur 1985, 21 Januari 1985. Peristiwa terorisme ini Bom Candi Borobudur 1985, 21 Januari 1985. Peristiwa terorisme ini adalah peristiwa terorisme bermotif "jihad" kedua yang menimpa adalah peristiwa terorisme bermotif "jihad" kedua yang menimpa Indonesia.
Indonesia.
c
c.. TahunTahun20002000
y
y Bom Kedubes Filipina, 1 Agustus 2000. Bom meledak dari sebuahBom Kedubes Filipina, 1 Agustus 2000. Bom meledak dari sebuah
mobil yang diparkir di depan rumah Duta Besar Filipina, Menteng, mobil yang diparkir di depan rumah Duta Besar Filipina, Menteng, Jakarta Pusat. 2 orang tewas dan 21 orang lainnya luka-luka, Jakarta Pusat. 2 orang tewas dan 21 orang lainnya luka-luka,
termasuk Duta Besar Filipina Leonides T Caday. termasuk Duta Besar Filipina Leonides T Caday.
y
y Bom Kedubes Malaysia, 27 Agustus 2000. Granat meledak diBom Kedubes Malaysia, 27 Agustus 2000. Granat meledak di
kompleks Kedutaan Besar Malaysia di Kuningan, Jakarta. Tidak ada kompleks Kedutaan Besar Malaysia di Kuningan, Jakarta. Tidak ada korban jiwa.
korban jiwa.
y
y Bom Bursa Efek Jakarta, 13 September 2000. Ledakan mengguncangBom Bursa Efek Jakarta, 13 September 2000. Ledakan mengguncang
lantai parkir P2 Gedung Bursa Efek Jakarta. 10 orang tewas, 90 orang lantai parkir P2 Gedung Bursa Efek Jakarta. 10 orang tewas, 90 orang lainnya luka-luka. 104 mobil rusak berat, 57 rusak ringan.
lainnya luka-luka. 104 mobil rusak berat, 57 rusak ringan.
y
y Bom malam Natal, 24 Desember 2000. Serangkaian ledakan bomBom malam Natal, 24 Desember 2000. Serangkaian ledakan bom
pada malam Natal di beberapa kota di Indonesia, merenggut nyawa pada malam Natal di beberapa kota di Indonesia, merenggut nyawa 16 jiwa dan melukai 96 lainnya serta mengakibatkan 37 mobil rusak. 16 jiwa dan melukai 96 lainnya serta mengakibatkan 37 mobil rusak.
d.
d. TahunTahun 20020011
y
y Bom Gereja Santa Anna dan HKBP, 22 Juli 2001. di KawasanBom Gereja Santa Anna dan HKBP, 22 Juli 2001. di Kawasan
Kalimalang, Jakarta Timur, 5 orang tewas. Kalimalang, Jakarta Timur, 5 orang tewas.
y
y Bom Plaza Atrium Senen Jakarta, 23 September 2001. Bom meledak diBom Plaza Atrium Senen Jakarta, 23 September 2001. Bom meledak di
kawasan Plaza Atrium, Senen, Jakarta. 6 orang cedera. kawasan Plaza Atrium, Senen, Jakarta. 6 orang cedera.
y
y Bom restoran KFC, Makassar, 12 Oktober 2001. Ledakan bomBom restoran KFC, Makassar, 12 Oktober 2001. Ledakan bom
mengakibatkan kaca, langit-langit, dan
mengakibatkan kaca, langit-langit, dan neon signneon sign KFC pecah. Tidak adaKFC pecah. Tidak ada korban jiwa. Sebuah bom lainnya yang dipasang di kantor MLC Life korban jiwa. Sebuah bom lainnya yang dipasang di kantor MLC Life cabang Makassar tidak meledak.
cabang Makassar tidak meledak.
y
y Bom sekolah Australia, Jakarta, 6 November 2001. Bom rakitan meledakBom sekolah Australia, Jakarta, 6 November 2001. Bom rakitan meledak
di halaman Australian International School (AIS), Pejaten, Jakarta. di halaman Australian International School (AIS), Pejaten, Jakarta.
e.
e. TahunTahun 20022002
y
y Bom Tahun Baru, 1 Januari 2002. Granat manggis meledak di depanBom Tahun Baru, 1 Januari 2002. Granat manggis meledak di depan
rumah makan ayam Bulungan, Jakarta. Satu orang tewas dan seorang rumah makan ayam Bulungan, Jakarta. Satu orang tewas dan seorang lainnya luka-luka. Di Palu, Sulawesi Tengah, terjadi empat ledakan lainnya luka-luka. Di Palu, Sulawesi Tengah, terjadi empat ledakan bom di berbagai gereja. Tidak ada korban jiwa.
bom di berbagai gereja. Tidak ada korban jiwa.
y
y Bom Bali, 12 Oktober 2002. Tiga ledakan mengguncang Bali. 202 korbanBom Bali, 12 Oktober 2002. Tiga ledakan mengguncang Bali. 202 korban
yang mayoritas warga negara Australia tewas dan 300 orang lainnya yang mayoritas warga negara Australia tewas dan 300 orang lainnya luka-luka. Saat bersamaan, di Manado, Sulawesi
luka-luka. Saat bersamaan, di Manado, Sulawesi UUtara, bom rakitantara, bom rakitan juga meledak di kantor Konjen Filipina, tidak ada korban jiwa.
y
y Bom restoran McDonald's, Makassar, 5 Desember 2002. Bom rakitanBom restoran McDonald's, Makassar, 5 Desember 2002. Bom rakitan
yang dibungkus wadah pelat baja meledak di restoran McDonald's yang dibungkus wadah pelat baja meledak di restoran McDonald's Makassar. 3 orang tewas dan 11 luka-luka.
Makassar. 3 orang tewas dan 11 luka-luka.
f
f.. TahunTahun 20032003
y
y Bom Kompleks Mabes Polri, Jakarta, 3 Februari 2003, Bom rakitanBom Kompleks Mabes Polri, Jakarta, 3 Februari 2003, Bom rakitan
meledak di lobi Wisma Bhayangkari, Mabes Polri Jakarta. Tidak ada meledak di lobi Wisma Bhayangkari, Mabes Polri Jakarta. Tidak ada korban jiwa.
korban jiwa.
y
y Bom Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta, 27 April 2003. Bom meledak diiBom Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta, 27 April 2003. Bom meledak dii
area publik di terminal 2F, bandar udara internasional Soekarno-Hatta, area publik di terminal 2F, bandar udara internasional Soekarno-Hatta, Cengkareng, Jakarta. 2 orang luka berat dan 8 lainnya luka sedang dan Cengkareng, Jakarta. 2 orang luka berat dan 8 lainnya luka sedang dan ringan.
ringan.
y
y Bom JW Marriott, 5 Agustus 2003. Bom menghancurkan sebagian HotelBom JW Marriott, 5 Agustus 2003. Bom menghancurkan sebagian Hotel
JW Marriott. Sebanyak 11 orang meninggal, dan 152
JW Marriott. Sebanyak 11 orang meninggal, dan 152 orang lorang l ainnyaainnya mengalami luka-luka.
mengalami luka-luka.
g.
g. TahunTahun 20042004
y
y Bom Palopo, 10 Januari 2004. Menewaskan empat orang. (BBC)Bom Palopo, 10 Januari 2004. Menewaskan empat orang. (BBC) y
y Bom Kedubes Australia, 9 September 2004. Ledakan besar terjadi diBom Kedubes Australia, 9 September 2004. Ledakan besar terjadi di
depan Kedutaan Besar Australia. 5 orang tewas dan ratusan lainnya depan Kedutaan Besar Australia. 5 orang tewas dan ratusan lainnya luka-luka. Ledakan juga mengakibatkan kerusakan beberapa gedung di luka-luka. Ledakan juga mengakibatkan kerusakan beberapa gedung di sekitarnya seperti Menara Plaza 89, Menara Grasia, dan Gedung BNI. sekitarnya seperti Menara Plaza 89, Menara Grasia, dan Gedung BNI. (Lihat pula: Bom Kedubes Indonesia, Paris 2004)
(Lihat pula: Bom Kedubes Indonesia, Paris 2004)
y
y Ledakan bom di Gereja Immanuel, Palu, Sulawesi Tengah pada 12Ledakan bom di Gereja Immanuel, Palu, Sulawesi Tengah pada 12
Desember 2004. Desember 2004.
h.
h. TahunTahun 20020055
y
y Dua Bom meledak di Ambon pada 21 Maret 2005Dua Bom meledak di Ambon pada 21 Maret 2005 y
y
y Bom Pamulang, Tangerang, 8 Juni 2005. Bom meledak di halamanBom Pamulang, Tangerang, 8 Juni 2005. Bom meledak di halaman
rumah Ahli Dewan Pemutus Kebijakan Majelis Mujahidin Indonesia rumah Ahli Dewan Pemutus Kebijakan Majelis Mujahidin Indonesia Abu Jibril alias M Iqbal di Pamulang Barat. Tidak ada korban jiwa.
Abu Jibril alias M Iqbal di Pamulang Barat. Tidak ada korban jiwa.
y
y Bom Bali, 1 Oktober 2005. Bom kembali meledak di Bali. Sekurang-Bom Bali, 1 Oktober 2005. Bom kembali meledak di Bali.
Sekurang-kurangnya 22 orang tewas dan 102 lainnya luka-luka akibat ledakan kurangnya 22 orang tewas dan 102 lainnya luka-luka akibat ledakan yang terjadi di R.AJA's Bar dan Restaurant, Kuta Square, daerah Pantai yang terjadi di R.AJA's Bar dan Restaurant, Kuta Square, daerah Pantai Kuta dan di Nyoman Café Jimbaran.
Kuta dan di Nyoman Café Jimbaran.
y
y Bom Pasar Palu, 31 Desember 2005. Bom meledak di sebuah pasar diBom Pasar Palu, 31 Desember 2005. Bom meledak di sebuah pasar di
Palu, Sulawesi Tengah yang menewaskan 8 orang dan melukai Palu, Sulawesi Tengah yang menewaskan 8 orang dan melukai sedikitnya 45 orang.
sedikitnya 45 orang.
i.
i. TahunTahun 20020099
Bom Jakarta, 17 Juli 2009. Dua ledakan dahsyat terjadi di Hotel JW Marriott Bom Jakarta, 17 Juli 2009. Dua ledakan dahsyat terjadi di Hotel JW Marriott dan Ritz-Carlton, Jakarta. Ledakan terjadi hampir bersamaan, sekitar pukul dan Ritz-Carlton, Jakarta. Ledakan terjadi hampir bersamaan, sekitar pukul 07.50 WIB.
07.50 WIB.
j.
j. TahunTahun 20201100
y
y Penembakan warga sipil di Aceh Januari 2010Penembakan warga sipil di Aceh Januari 2010 y
y Perampokan bank CIMB Niaga September 2010Perampokan bank CIMB Niaga September 201066
Menyadari sedemikian besarnya kerugian yang ditimbulkan oleh suatu tindak Menyadari sedemikian besarnya kerugian yang ditimbulkan oleh suatu tindak Terorisme, serta dampak yang dirasakan secara langsung oleh Indonesia Terorisme, serta dampak yang dirasakan secara langsung oleh Indonesia sebagai akibat dari Tragedi Bali, merupakan kewajiban pemerintah untuk sebagai akibat dari Tragedi Bali, merupakan kewajiban pemerintah untuk secepatnya mengusut tuntas Tindak Pidana Terorisme itu dengan memidana secepatnya mengusut tuntas Tindak Pidana Terorisme itu dengan memidana pelaku dan aktor intelektual dibalik peristiwa tersebut. Hal ini menjadi pelaku dan aktor intelektual dibalik peristiwa tersebut. Hal ini menjadi prioritas utama dalam penegakan hukum.
prioritas utama dalam penegakan hukum. UUntuk melakukan pengusutan,ntuk melakukan pengusutan, diperlukan perangkat hukum yang mengatur tentang Tindak Pidana diperlukan perangkat hukum yang mengatur tentang Tindak Pidana Terorisme. Menyadari hal ini dan lebih didasarkan pada peraturan yang ada Terorisme. Menyadari hal ini dan lebih didasarkan pada peraturan yang ada saat ini yaitu Kitab
saat ini yaitu Kitab UUndang-ndang-UUndang Hukum Pidana (Kndang Hukum Pidana (KUUHP) belum mengaturHP) belum mengatur secara khusus serta tidak cukup memadai untuk memberantas Tindak Pidana secara khusus serta tidak cukup memadai untuk memberantas Tindak Pidana
Terorisme, Pemerintah Indonesia merasa perlu untuk membentuk
Terorisme, Pemerintah Indonesia merasa perlu untuk membentuk UUndang-
ndang-U
Undang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme, yaitu dengan menyusunndang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme, yaitu dengan menyusun Peraturan Pemerintah Pengganti
Peraturan Pemerintah Pengganti UUndang-ndang-UUndang (Perpu) nomor 1 tahunndang (Perpu) nomor 1 tahun 2002, yang pada tanggal 4 April 2003 disahkan menjadi
2002, yang pada tanggal 4 April 2003 disahkan menjadi UUndndanangg --UUndangndang dengan nomor 15 tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana dengan nomor 15 tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme. Keberadaan
Terorisme. Keberadaan UUndang-ndang-UUndang Pemberantasan Tindak Pidanandang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme di samping K
Terorisme di samping KUUHP danHP dan UUndang-ndang-UUndang Nomor 8 tahun 1981ndang Nomor 8 tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana (K
tentang Hukum Acara Pidana (KUUHAP), merupakan Hukum Pidana Khusus.HAP), merupakan Hukum Pidana Khusus. Hal ini memang dimungkinkan, mengingat bahwa ketentuan Hukum Pidana Hal ini memang dimungkinkan, mengingat bahwa ketentuan Hukum Pidana yang bersifat khusus, dapat tercipta karena:
yang bersifat khusus, dapat tercipta karena: 1.
1. Adanya proses kriminalisasi atas suatu perbuatan tertentu di dalamAdanya proses kriminalisasi atas suatu perbuatan tertentu di dalam masyarakat. Karena pengaruh perkembangan zaman, terjadi perubahan masyarakat. Karena pengaruh perkembangan zaman, terjadi perubahan pandangan dalam masyarakat. Sesuatu yang mulanya dianggap bukan pandangan dalam masyarakat. Sesuatu yang mulanya dianggap bukan sebagai Tindak Pidana, karena perubahan pandangan dan norma di sebagai Tindak Pidana, karena perubahan pandangan dan norma di masyarakat, menjadi termasuk Tindak Pidana dan diatur dalam suatu masyarakat, menjadi termasuk Tindak Pidana dan diatur dalam suatu perundang-undangan Hukum Pidana.
perundang-undangan Hukum Pidana. 2.
2. UUndang-ndang-UUndang yang ada dianggap tidak memadai lagi terhadapndang yang ada dianggap tidak memadai lagi terhadap perubahan norma dan perkembangan teknologi dalam suatu perubahan norma dan perkembangan teknologi dalam suatu masyarakat, sedangkan untuk perubahan undang-undang yang telah masyarakat, sedangkan untuk perubahan undang-undang yang telah ada dianggap memakan banyak waktu.
ada dianggap memakan banyak waktu. 3.
3. Suatu keadaan yang mendesak sehingga dianggap perlu diciptakanSuatu keadaan yang mendesak sehingga dianggap perlu diciptakan suatu peraturan khusus untuk segera menanganinya.
suatu peraturan khusus untuk segera menanganinya. 4.
4. Adanya suatu perbuatan yang khusus dimana apabila dipergunakanAdanya suatu perbuatan yang khusus dimana apabila dipergunakan proses yang diatur dalam peraturan perundang-undangan yang telah proses yang diatur dalam peraturan perundang-undangan yang telah ada akan mengalami kesulitan dalam pembuktian.
ada akan mengalami kesulitan dalam pembuktian.
Sebagai
Sebagai UUndang-ndang-UUndang khusus, berartindang khusus, berarti UUndang-ndang-UUndang Nomor 15 tahunndang Nomor 15 tahun 2003 mengatur secara materiil dan formil sekaligus, sehingga terdapat 2003 mengatur secara materiil dan formil sekaligus, sehingga terdapat pengecualian dari asas yang secara umum diatur dalam Kitab
pengecualian dari asas yang secara umum diatur dalam Kitab UUndang-
ndang-U
Pidana (K
Pidana (KUUHAP) [[HAP) [[( ( lex specialis lex specialis derogat lex generalis)derogat lex generalis)]]]]. Keberlakuan lex specialis. Keberlakuan lex specialis derogat lex
derogat lex generalisgeneralis, harus memenuhi kriteria:, harus memenuhi kriteria: 1.
1. bahwa pengecualian terhadapbahwa pengecualian terhadap UUndang-ndang-UUndang yang bersifat umum,ndang yang bersifat umum, dilakukan oleh peraturan yang setingkat dengan dirinya, yaitu
dilakukan oleh peraturan yang setingkat dengan dirinya, yaitu UUndang-
ndang-U
Undang.ndang. 2.
2. bahwa pengecualian termaksud dinyatakan dalambahwa pengecualian termaksud dinyatakan dalam UUndang-ndang-UUndangndang khusus tersebut, sehingga pengecualiannya hanya berlaku sebatas khusus tersebut, sehingga pengecualiannya hanya berlaku sebatas pengecualian yang dinyatakan dan bagian yang tidak dikecualikan tetap pengecualian yang dinyatakan dan bagian yang tidak dikecualikan tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan dengan pelaksanaan
berlaku sepanjang tidak bertentangan dengan pelaksanaan UUndang-
ndang-U
Undang khusus tersebut.ndang khusus tersebut.
Sedangkan kriminalisasi Tindak Pidana Terorisme sebagai bagian dari Sedangkan kriminalisasi Tindak Pidana Terorisme sebagai bagian dari perkembangan hukum pidana dapat dilakukan melalui banyak cara, seperti: perkembangan hukum pidana dapat dilakukan melalui banyak cara, seperti:
1.
1. Melalui sistem evolusi berupa amandemen terhadap pasal-pasal KMelalui sistem evolusi berupa amandemen terhadap pasal-pasal KUUHP.HP. 2.
2. Melalui sistem global melalui pengaturan yang lengkap di luar KMelalui sistem global melalui pengaturan yang lengkap di luar KUUHPHP termasuk kekhususan hukum acaranya.
termasuk kekhususan hukum acaranya. 3.
3. Sistem kompromi dalam bentuk memasukkan bab baru dalam KSistem kompromi dalam bentuk memasukkan bab baru dalam KUUHPHP tentang kejahatan terorisme.
tentang kejahatan terorisme.
Akan tetapi tidak berarti bahwa dengan adanya hal yang khusus dalam Akan tetapi tidak berarti bahwa dengan adanya hal yang khusus dalam kejahatan terhadap keamanan negara berarti penegak hukum mempunyai kejahatan terhadap keamanan negara berarti penegak hukum mempunyai wewenang yang lebih atau tanpa batas semata-mata untuk memudahkan wewenang yang lebih atau tanpa batas semata-mata untuk memudahkan pembuktian bahwa seseorang telah melakukan suatu kejahatan terhadap pembuktian bahwa seseorang telah melakukan suatu kejahatan terhadap keamanan negara, akan tetapi penyimpangan tersebut adalah sehubungan keamanan negara, akan tetapi penyimpangan tersebut adalah sehubungan dengan kepentingan yang lebih besar lagi yaitu keamanan negara yang harus dengan kepentingan yang lebih besar lagi yaitu keamanan negara yang harus dilindungi. Demikian pula susunan bab-bab yang ada dalam peraturan dilindungi. Demikian pula susunan bab-bab yang ada dalam peraturan khusus tersebut harus merupakan suatu tatanan yang utuh. Selain ketentuan khusus tersebut harus merupakan suatu tatanan yang utuh. Selain ketentuan tersebut, pasal 103 Kitab
tersebut, pasal 103 Kitab UUndang-ndang-UUndang Hukum Pidana (Kndang Hukum Pidana (KUUHP)HP) menyebutkan bahwa semua aturan termasuk asas yang terdapat dalam buku I menyebutkan bahwa semua aturan termasuk asas yang terdapat dalam buku I Kitab
Kitab UUndang-ndang-UUndang Hukum Pidana (Kndang Hukum Pidana (KUUHP) berlaku pula bagi peraturanHP) berlaku pula bagi peraturan pidana di luar Kitab
peraturan di luar Kitab
peraturan di luar Kitab UUndang-ndang-UUndang Hukum Pidana (Kndang Hukum Pidana (KUUHP) tersebutHP) tersebut tidak mengatur lain.
tidak mengatur lain.
Hukum Pidana khusus, bukan hanya mengatur hukum pidana materielnya Hukum Pidana khusus, bukan hanya mengatur hukum pidana materielnya saja, akan tetapi juga hukum acaranya, oleh karena itu harus diperhatikan saja, akan tetapi juga hukum acaranya, oleh karena itu harus diperhatikan bahwa aturan-aturan tersebut seyogyanya tetap memperhatikan asas-asas bahwa aturan-aturan tersebut seyogyanya tetap memperhatikan asas-asas umum yang terdapat baik dalam ketentuan umum yang terdapat dalam Kitab umum yang terdapat baik dalam ketentuan umum yang terdapat dalam Kitab
U
Undang-ndang-UUndang Hukum Pidana (Kndang Hukum Pidana (KUUHP) bagi hukum pidana materielnyaHP) bagi hukum pidana materielnya sedangkan untuk hukum pidana formilnya harus tunduk terhadap ketentuan sedangkan untuk hukum pidana formilnya harus tunduk terhadap ketentuan yang terdapat dalam
yang terdapat dalam UUndang-ndang-UUndang Nomor 8 tahun 1981 tentang Hukumndang Nomor 8 tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana (Kitab
Acara Pidana (Kitab UUndang-ndang-UUndang Hukum Acara Pidana/Kndang Hukum Acara Pidana/KUUHAP).HAP).
Sebagaimana pengertian tersebut di atas, maka pengaturan pasal 25
Sebagaimana pengertian tersebut di atas, maka pengaturan pasal 25 UUndang-
ndang-U
Undang Nomor 15 tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidanandang Nomor 15 tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme, bahwa untuk menyelesaikan kasus-kasus Tindak Pidana Terorisme, bahwa untuk menyelesaikan kasus-kasus Tindak Pidana Terorisme, hukum acara yang berlaku adalah sebagaimana ketentuan Terorisme, hukum acara yang berlaku adalah sebagaimana ketentuan
U
Undang-ndang-UUndang Nomor 8 tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana (Kitabndang Nomor 8 tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana (Kitab
U
Undang-ndang-UUndang Hukum Acara Pidana/Kndang Hukum Acara Pidana/KUUHAP). Artinya pelaksanaanHAP). Artinya pelaksanaan
U
Undang-ndang-UUndang khusus ini tidak boleh bertentangan dengan asas umumndang khusus ini tidak boleh bertentangan dengan asas umum Hukum Pidana dan Hukum Acara Pidana yang telah ada. Namun, pada Hukum Pidana dan Hukum Acara Pidana yang telah ada. Namun, pada kenyataannya, terdapat isi ketentuan beberapa pasal dalam
kenyataannya, terdapat isi ketentuan beberapa pasal dalam UUndang-ndang-UUndangndang tersebut yang merupakan penyimpangan asas umum Hukum Pidana dan tersebut yang merupakan penyimpangan asas umum Hukum Pidana dan Hukum Acara Pidana. Penyimpangan tersebut mengurangi Hak Asasi Hukum Acara Pidana. Penyimpangan tersebut mengurangi Hak Asasi Manusia, apabila dibandingkan asas-asas yang terdapat dalam Kitab
Manusia, apabila dibandingkan asas-asas yang terdapat dalam Kitab UUndang-
ndang-U
Undang Hukum Pidana (Kndang Hukum Pidana (KUUHP). Apabila memang diperlukan suatuHP). Apabila memang diperlukan suatu penyimpangan, harus dicari apa dasar penyimpangan tersebut, karena setiap penyimpangan, harus dicari apa dasar penyimpangan tersebut, karena setiap perubahan akan selalu berkaitan erat dengan Hak Asasi Manusia
perubahan akan selalu berkaitan erat dengan Hak Asasi Manusia[20[20]]. Atau. Atau
mungkin karena sifatnya sebagai
mungkin karena sifatnya sebagai UUndang-ndang-UUndang yang khusus, maka bukanndang yang khusus, maka bukan penyimpangan asas yang terjadi di sini, melainkan pengkhususan asas yang penyimpangan asas yang terjadi di sini, melainkan pengkhususan asas yang sebenarnya menggunakan dasar asas umum, namun dikhususkan sesuai sebenarnya menggunakan dasar asas umum, namun dikhususkan sesuai
dengan ketentuan-ketentuan yang khusus sifatnya yang diatur oleh
dengan ketentuan-ketentuan yang khusus sifatnya yang diatur oleh UUndang-
ndang-U
Undang Khusus tersebut.ndang Khusus tersebut.
Sesuai pengaturan
Sesuai pengaturan UUndang-ndang-UUndang Nomor 8 tahun 1981 tentang Hukumndang Nomor 8 tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana (Kitab
Acara Pidana (Kitab UUndang-ndang-UUndang Hukum Acara Pidana/Kndang Hukum Acara Pidana/KUUHAP),HAP), penyelesaian suatu perkara Tindak Pidana sebelum masuk dalam tahap penyelesaian suatu perkara Tindak Pidana sebelum masuk dalam tahap beracara di pengadilan, dimulai dari Penyelidikan dan Penyidikan, diikuti beracara di pengadilan, dimulai dari Penyelidikan dan Penyidikan, diikuti dengan penyerahan berkas penuntutan kepada Jaksa Penuntut
dengan penyerahan berkas penuntutan kepada Jaksa Penuntut UUmum. Pasalmum. Pasal 17 Kitab
17 Kitab UUndang-ndang-UUndang Hukum Acara Pidana/Kndang Hukum Acara Pidana/KUUHAP) menyebutkanHAP) menyebutkan bahwa perintah Penangkapan hanya dapat dilakukan terhadap seseorang bahwa perintah Penangkapan hanya dapat dilakukan terhadap seseorang yang diduga keras telah melakukan Tindak Pidana berdasarkan Bukti yang diduga keras telah melakukan Tindak Pidana berdasarkan Bukti Permulaan yang cukup. Mengenai batasan dari pengertian Bukti Permulaan Permulaan yang cukup. Mengenai batasan dari pengertian Bukti Permulaan itu sendiri, hingga kini belum ada ketentuan yang secara jelas itu sendiri, hingga kini belum ada ketentuan yang secara jelas mendefinisikannya dalam Kitab
mendefinisikannya dalam Kitab UUndang-ndang-UUndang Hukum Acara Pidanandang Hukum Acara Pidana (K
(KUUHAP) yang menjadi dasar pelaksanaan Hukum Pidana. Masih terdapatHAP) yang menjadi dasar pelaksanaan Hukum Pidana. Masih terdapat perbedaan pendapat di antara para penegak hukum. Sedangkan mengenai perbedaan pendapat di antara para penegak hukum. Sedangkan mengenai Bukti Permulaan dalam pengaturannya pada
Bukti Permulaan dalam pengaturannya pada UUndang-ndang-UUndang Nomor 15ndang Nomor 15 Tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme, pasal 26 Tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme, pasal 26 berbunyi:
berbunyi: 1.
1. UUntuk memperoleh Bukti Permulaan yang cukup, penyidik dapatntuk memperoleh Bukti Permulaan yang cukup, penyidik dapat menggunakan setiap Laporan Intelijen.
menggunakan setiap Laporan Intelijen. 2.
2. Penetapan bahwa sudah dapat atau diperoleh Bukti Permulaan yangPenetapan bahwa sudah dapat atau diperoleh Bukti Permulaan yang cukup sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) harus dilakukan proses cukup sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) harus dilakukan proses pemeriksaan oleh Ketua dan Wakil Ketua Pengadilan Negeri.
pemeriksaan oleh Ketua dan Wakil Ketua Pengadilan Negeri. 3.
3. Proses pemeriksaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dilaksanakanProses pemeriksaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dilaksanakan secara tertutup dalam waktu paling lama 3 (tiga) hari.
secara tertutup dalam waktu paling lama 3 (tiga) hari. 4.
4. Jika dalam pemeriksaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) Jika dalam pemeriksaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) ditetapkan adanya Bukti Permulaan yang cukup, maka Ketua ditetapkan adanya Bukti Permulaan yang cukup, maka Ketua Pengadilan Negeri segera memerintahkan dilaksanakan Penyidikan. Pengadilan Negeri segera memerintahkan dilaksanakan Penyidikan.
Permasalahannya adalah masih terdapat kesimpang siuran tentang pengertian Permasalahannya adalah masih terdapat kesimpang siuran tentang pengertian Bukti Permulaan itu sendiri, sehingga sulit menentukan apakah yang dapat Bukti Permulaan itu sendiri, sehingga sulit menentukan apakah yang dapat dikategorikan sebagai Bukti Permulaan, termasuk pula Laporan Intelijen, dikategorikan sebagai Bukti Permulaan, termasuk pula Laporan Intelijen, apakah dapat dijadikan Bukti Permulaan. Selanjutnya, menurut pasal 26 ayat apakah dapat dijadikan Bukti Permulaan. Selanjutnya, menurut pasal 26 ayat 2, 3 dan 4
2, 3 dan 4 UUndang-ndang-UUndang Nomor 15 tahun 2003 tentang Pemberantasanndang Nomor 15 tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme, penetapan suatu Laporan Intelijen sebagai Bukti Tindak Pidana Terorisme, penetapan suatu Laporan Intelijen sebagai Bukti Permulaan dilakukan oleh Ketua/Wakil Ketua Pengadilan Negeri melalui Permulaan dilakukan oleh Ketua/Wakil Ketua Pengadilan Negeri melalui suatu proses/mekanisme pemeriksaan
suatu proses/mekanisme pemeriksaan (H (H earing)earing) secara tertutup. Hal itusecara tertutup. Hal itu mengakibatkan pihak intelijen mempunyai dasar hukum yang kuat untuk mengakibatkan pihak intelijen mempunyai dasar hukum yang kuat untuk melakukan penangkapan terhadap seseorang yang dianggap melakukan melakukan penangkapan terhadap seseorang yang dianggap melakukan suatu Tindak Pidana Terorisme, tanpa adanya pengawasan masyarakat atau suatu Tindak Pidana Terorisme, tanpa adanya pengawasan masyarakat atau pihak lain mana pun. Padahal kontrol sosial sangat dibutuhkan terutama pihak lain mana pun. Padahal kontrol sosial sangat dibutuhkan terutama dalam hal-hal yang
dalam hal-hal yang sangat sensitif seperti perlindungan terhadap haksangat sensitif seperti perlindungan terhadap hak -hak-hak setiap orang sebagai manusia yang sifatnya asasi, tidak dapat diganggu gugat. setiap orang sebagai manusia yang sifatnya asasi, tidak dapat diganggu gugat. Oleh karena itu, untuk mencegah kesewenang-wenangan dan ketidakpastian Oleh karena itu, untuk mencegah kesewenang-wenangan dan ketidakpastian hukum, diperlukan adanya ketentuan yang pasti mengenai pengertian Bukti hukum, diperlukan adanya ketentuan yang pasti mengenai pengertian Bukti Permulaan dan batasan mengenai Laporan Intelijen, apa saja yang dapat Permulaan dan batasan mengenai Laporan Intelijen, apa saja yang dapat dimasukkan ke dalam kategori Laporan Intelijen, serta bagaimana sebenarnya dimasukkan ke dalam kategori Laporan Intelijen, serta bagaimana sebenarnya hakekat Laporan Intelijen, sehingga dapat digunakan sebagai Bukti hakekat Laporan Intelijen, sehingga dapat digunakan sebagai Bukti Permulaan. Terutama karena ketentuan pasal 26 ayat (1) tersebut memberikan Permulaan. Terutama karena ketentuan pasal 26 ayat (1) tersebut memberikan wewenang yang begitu luas kepada penyidik untuk melakukan perampasan wewenang yang begitu luas kepada penyidik untuk melakukan perampasan kemerdekaan yaitu penangkapan, terhadap orang yang dicurigai telah kemerdekaan yaitu penangkapan, terhadap orang yang dicurigai telah melakukan Tindak Pidana Terorisme, maka kejelasan mengenai hal tersebut melakukan Tindak Pidana Terorisme, maka kejelasan mengenai hal tersebut sangatlah diperlukan agar tidak terjadi pelanggaran terhadap Hak Asasi sangatlah diperlukan agar tidak terjadi pelanggaran terhadap Hak Asasi Manusia dengan dilakukannya penangkapan secara sewenang-wenang oleh Manusia dengan dilakukannya penangkapan secara sewenang-wenang oleh aparat, dalam hal ini penyidik.
aparat, dalam hal ini penyidik.
Demikian pula perlu dirumuskan tentang pengaturan, cara mengajukan Demikian pula perlu dirumuskan tentang pengaturan, cara mengajukan tuntutan terhadap petugas yang telah salah dalam melakukan tugasnya, oleh tuntutan terhadap petugas yang telah salah dalam melakukan tugasnya, oleh orang-orang yang menderita akibat kesalahan itu dan hak asasinya telah orang-orang yang menderita akibat kesalahan itu dan hak asasinya telah terlanggar, karena banyak Pemerintah suatu negara dalam melakukan terlanggar, karena banyak Pemerintah suatu negara dalam melakukan
pencegahan maupun penindakan terhadap perbuatan teror melalui suatu pencegahan maupun penindakan terhadap perbuatan teror melalui suatu pengaturan khusus yang bersifat darurat, dimana aturan darurat itu dianggap pengaturan khusus yang bersifat darurat, dimana aturan darurat itu dianggap telah jauh melanggar bukan saja hak seseorang terdakwa, akan tetapi juga telah jauh melanggar bukan saja hak seseorang terdakwa, akan tetapi juga terhadap Hak Asasi Manusia. Aturan darurat sedemikian itu telah terhadap Hak Asasi Manusia. Aturan darurat sedemikian itu telah memberikan wewenang yang berlebih kepada penguasa di dalam melakukan memberikan wewenang yang berlebih kepada penguasa di dalam melakukan penindakan terhadap perbuatan teror.
penindakan terhadap perbuatan teror.
Telah banyak negara-negara didunia yang mengorbankan Hak Asasi Manusia Telah banyak negara-negara didunia yang mengorbankan Hak Asasi Manusia demi pemberlakuan
demi pemberlakuan UUndang-ndang-UUndang Antiterorisme, termasuk hak-hak yangndang Antiterorisme, termasuk hak-hak yang digolongkan kedalam
digolongkan kedalam non-derogable rightsnon-derogable rights, yakni hak-hak yang tidak boleh, yakni hak-hak yang tidak boleh dikurangi pemenuhannya dalam keadaan apapun
dikurangi pemenuhannya dalam keadaan apapun[23[23]].. UUndang-ndang-UUndangndang
Antiterorisme kini diberlakukan di banyak negara untuk mensahkan Antiterorisme kini diberlakukan di banyak negara untuk mensahkan kesewenang-wenangan
kesewenang-wenangan( ( arbitrary detention)arbitrary detention) pengingkaran terhadap prinsippengingkaran terhadap prinsip free free and fair trial
and fair trial. Laporan terbaru dari Amnesty Internasional menyatakan bahwa. Laporan terbaru dari Amnesty Internasional menyatakan bahwa penggunaan siksaan dalam proses interogasi terhadap orang yang disangka penggunaan siksaan dalam proses interogasi terhadap orang yang disangka teroris cenderung meningkat.
teroris cenderung meningkat.
Hal seperti inilah yang harus dihindari, karena Tindak Pidana Terorisme Hal seperti inilah yang harus dihindari, karena Tindak Pidana Terorisme harus diberantas karena alasan Hak Asasi Manusia, sehingga harus diberantas karena alasan Hak Asasi Manusia, sehingga pemberantasannya pun harus dilaksanakan dengan mengindahkan Hak Asasi pemberantasannya pun harus dilaksanakan dengan mengindahkan Hak Asasi Manusia. Demikian menurut Munir, bahwa memang secara nasional harus Manusia. Demikian menurut Munir, bahwa memang secara nasional harus ada
ada UUndang-ndang-UUndang yang mengatur soal Terorisme, tapi dengan definisindang yang mengatur soal Terorisme, tapi dengan definisi yang jelas, tidak boleh justru melawan Hak Asasi Manusia. Melawan yang jelas, tidak boleh justru melawan Hak Asasi Manusia. Melawan Terorisme harus ditujukan bagi perlindungan Hak Asasi Manusia, bukan Terorisme harus ditujukan bagi perlindungan Hak Asasi Manusia, bukan sebaliknya membatasi dan melawan Hak Asasi Manusia. Dan yang penting sebaliknya membatasi dan melawan Hak Asasi Manusia. Dan yang penting juga bagaimana ia tidak memberi ruang bagi legitimasi penyalahgunaan juga bagaimana ia tidak memberi ruang bagi legitimasi penyalahgunaan
kekuasaan. kekuasaan.77
VI.
VI. Upaya Menanggulangi dan Memberantas TerorismeUpaya Menanggulangi dan Memberantas Terorisme
Kita semua pasti sepakat bahwa usaha-usaha memerangi terorisme dalam Kita semua pasti sepakat bahwa usaha-usaha memerangi terorisme dalam bentuk apapun tidak boleh dilakukan dengan cara kekerasan.
bentuk apapun tidak boleh dilakukan dengan cara kekerasan. UUpayapaya memerangi terorisme harus berangkat dari penyelesaian terhadap akar atau memerangi terorisme harus berangkat dari penyelesaian terhadap akar atau sumber masalah, karena jika tidak diketahui dan dihilangkan dulu factor sumber masalah, karena jika tidak diketahui dan dihilangkan dulu factor penyebabnya maka sulit ditemukan langkah-langkahh atau strategi yang penyebabnya maka sulit ditemukan langkah-langkahh atau strategi yang tepat untuk memberantasnya.
tepat untuk memberantasnya.
Bachtiar Efendy berpendapat bahwa usaha untuk memerangi terorisme di Bachtiar Efendy berpendapat bahwa usaha untuk memerangi terorisme di Negeri ini, terutama yang berkaitan dengan kelompok garis keras, tidak Negeri ini, terutama yang berkaitan dengan kelompok garis keras, tidak banyak yang bias dilakukan karena sebenarnya sebab-sebab terorisme itu banyak yang bias dilakukan karena sebenarnya sebab-sebab terorisme itu tidak ada di Indonesia, Indonesia hanya
tidak ada di Indonesia, Indonesia hanya kketempatanetempatanterorisme global saja. Jaditerorisme global saja. Jadi untuk memeranginya harus bersifat global pula.
untuk memeranginya harus bersifat global pula.
Menyoroti masalah terorisme di Indonesia yang semakin meningkat Menyoroti masalah terorisme di Indonesia yang semakin meningkat belakangan ini, bahtiar menyatakan pandangannya tentang pentingnya belakangan ini, bahtiar menyatakan pandangannya tentang pentingnya penegakan hukum dan keadilan di Indonesia. Setiap tindakan kekerasan penegakan hukum dan keadilan di Indonesia. Setiap tindakan kekerasan harus ditindak tegas, siapapun pelakunya.
BAB III
BAB III
KK
ESIMPULAN
ESIMPULAN
Teror atau Terorisme tidak selalu identik dengan kekerasan. Terorisme adalah Teror atau Terorisme tidak selalu identik dengan kekerasan. Terorisme adalah puncak aksi kekerasan,
puncak aksi kekerasan, terrorism is the apex of violenceterrorism is the apex of violence. Bisa saja kekerasan terjadi. Bisa saja kekerasan terjadi tanpa teror, tetapi tidak ada teror tanpa kekerasan. Terorisme tidak sama dengan tanpa teror, tetapi tidak ada teror tanpa kekerasan. Terorisme tidak sama dengan intimidasi atau sabotase. Sasaran intimidasi dan sabotase umumnya langsung, intimidasi atau sabotase. Sasaran intimidasi dan sabotase umumnya langsung, sedangkan terorisme tidak. Korban tindakan Terorisme seringkali adalah orang sedangkan terorisme tidak. Korban tindakan Terorisme seringkali adalah orang yang tidak bersalah. Kaum teroris bermaksud ingin menciptakan sensasi agar yang tidak bersalah. Kaum teroris bermaksud ingin menciptakan sensasi agar masyarakat luas memperhatikan apa yang mereka perjuangkan. Tindakan teror masyarakat luas memperhatikan apa yang mereka perjuangkan. Tindakan teror tidaklah sama dengan vandalisme, yang motifnya merusak benda-benda fisik. tidaklah sama dengan vandalisme, yang motifnya merusak benda-benda fisik. Teror berbeda pula dengan mafia. Tindakan mafia menekankan omerta, tutup Teror berbeda pula dengan mafia. Tindakan mafia menekankan omerta, tutup mulut, sebagai sumpah. Omerta merupakan bentuk ekstrem loyalitas dan mulut, sebagai sumpah. Omerta merupakan bentuk ekstrem loyalitas dan solidaritas kelompok dalam menghadapi pihak lain, terutama penguasa. Berbeda solidaritas kelompok dalam menghadapi pihak lain, terutama penguasa. Berbeda dengan Yakuza atau mafia Cosa Nostra yang menekankan kode omerta, kaum dengan Yakuza atau mafia Cosa Nostra yang menekankan kode omerta, kaum teroris modern justru seringkali mengeluarkan pernyataan dan tuntutan. Mereka teroris modern justru seringkali mengeluarkan pernyataan dan tuntutan. Mereka ingin menarik perhatian masyarakat luas dan memanfaatkan media massa untuk ingin menarik perhatian masyarakat luas dan memanfaatkan media massa untuk menyuarakan pesan perjuangannya
menyuarakan pesan perjuangannya
untuk memerangi terorisme di Negeri ini, terutama yang berkaitan dengan untuk memerangi terorisme di Negeri ini, terutama yang berkaitan dengan kelompok garis keras, tidak banyak yang bias dilakukan karena sebenarnya kelompok garis keras, tidak banyak yang bias dilakukan karena sebenarnya sebab-sebab terorisme itu tidak ada di Indonesia, Indonesia hanya
sebab-sebab terorisme itu tidak ada di Indonesia, Indonesia hanya kketempatanetempatan terorisme global saja. Jadi untuk memeranginya harus bersifat global pula.
terorisme global saja. Jadi untuk memeranginya harus bersifat global pula.
Menyoroti masalah terorisme di Indonesia yang semakin meningkat belakangan Menyoroti masalah terorisme di Indonesia yang semakin meningkat belakangan ini, bahtiar menyatakan pandangannya tentang pentingnya penegakan hukum ini, bahtiar menyatakan pandangannya tentang pentingnya penegakan hukum dan keadilan di Indonesia. Setiap tindakan kekerasan harus ditindak tegas, dan keadilan di Indonesia. Setiap tindakan kekerasan harus ditindak tegas, siapapun pelakunya.
DAFTAR PUSTA
DAFTAR PUSTA
KKA
A
Purwanto, Wawan H.
Purwanto, Wawan H. Terorisme Undercover : Memberantas TerorismeTerorisme Undercover : Memberantas Terorisme H H inggaingga kke Ae Akkar- ar- A
Akkar, Mungar, Mungkkin Kah?in Kah?. Jakarta: CMB Press2007. Jakarta: CMB Press2007 Rohmawati,
Rohmawati, Wacana Terorisme di Wacana Terorisme di Indonesia 1999-20Indonesia 1999-200303, Jakarta:, Jakarta: UUIN Press. 2004IN Press. 2004 Tim Prima Pena.
Tim Prima Pena. Kamus Ilmiah Populer Edisi LengKamus Ilmiah Populer Edisi Lengkkapap. (Jakarta: Gitamedia Press.. (Jakarta: Gitamedia Press. 2006)
2006)
Zulfidah, Abdullah.
Zulfidah, Abdullah. Terorisme dan Konspirasi Anti IslamTerorisme dan Konspirasi Anti Islam. Jakarta: Pustaka Al-. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar. 2002
Kautsar. 2002
www