• Tidak ada hasil yang ditemukan

Makalah Rumah Sakit Kelompok 6 Kelas C.docx

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Makalah Rumah Sakit Kelompok 6 Kelas C.docx"

Copied!
24
0
0

Teks penuh

(1)

MAKALAH MAKALAH

PENGELOLAAN PERBEKALAN FARMASI PENGELOLAAN PERBEKALAN FARMASI

“RUMAH SAKIT” “RUMAH SAKIT”

1.

1. Amaliah Amaliah Citra Citra Khotimah Khotimah 19203741931920374193 2.

2. Aulia Aulia Maulida Maulida 19203741941920374194 3.

3. Dian Dian Christivan Christivan Kusmahendra Kusmahendra 19203741951920374195 4.

4. Fannia Fannia Nabilla Nabilla Ayu Ayu Mawarni Mawarni 19203741961920374196 5.

5. Guruh Guruh Arief Arief Wibowo Wibowo 19203741971920374197

PROGRAM PROFESI APOTEKER PROGRAM PROFESI APOTEKER

FAKULTAS FARMASI FAKULTAS FARMASI

UNIVERSITAS SETIA BUDI UNIVERSITAS SETIA BUDI

SURAKARTA SURAKARTA

2019 2019

(2)

BAB I BAB I

PENDAHULUAN PENDAHULUAN

1.1

1.1 Latar BelakangLatar Belakang

Menurut WHO (

Menurut WHO (World Health OrganizationWorld Health Organization), rumah sakit adalah bagian integral dari), rumah sakit adalah bagian integral dari suatu organisasi sosial dan kesehatan dengan fungsi menyediakan pelayanan paripurna suatu organisasi sosial dan kesehatan dengan fungsi menyediakan pelayanan paripurna ((komprehensif)komprehensif), penyembuhan penyakit (, penyembuhan penyakit (kuratif)kuratif) dan pencegahan penyakit (dan pencegahan penyakit ( preventif  preventif )) kepada masyarakat. Rumah sakit juga merupakan pusat pelatihan bagi tenaga kesehatan dan kepada masyarakat. Rumah sakit juga merupakan pusat pelatihan bagi tenaga kesehatan dan  pusat

 pusat penelitian penelitian medik. medik. Rumah Rumah sakit sakit sebagai sebagai sarana sarana pelayanan pelayanan kesehatan kesehatan mempunyaimempunyai kewajiban untuk melayani pasien dengan fasilitas yang lengkap serta pelayanan yang cepat kewajiban untuk melayani pasien dengan fasilitas yang lengkap serta pelayanan yang cepat dan tepat. Untuk mencapai hal tersebut manajemen rumah sakit harus dilaksanakan dengan dan tepat. Untuk mencapai hal tersebut manajemen rumah sakit harus dilaksanakan dengan  benar

 benar (Rhesavani, (Rhesavani, 2013). 2013). Seiring Seiring dengan dengan perkembangan perkembangan zaman, zaman, manajemen manajemen rumah rumah sakitsakit yang pada mulanya murni bersifat sosial berkembang menjadi bersifat sosio-ekonomis. yang pada mulanya murni bersifat sosial berkembang menjadi bersifat sosio-ekonomis. Menurut Hatta (2011), sistem informasi yang pada mulanya hanya berorientasi pada Menurut Hatta (2011), sistem informasi yang pada mulanya hanya berorientasi pada  pelayanan mediknya saja lama-lama berk

 pelayanan mediknya saja lama-lama berkembang menjadi memperhitungkan biaya pembang menjadi memperhitungkan biaya produksi.roduksi.  Namun,

 Namun, tujuan tujuan utama utama dalam dalam pelayanan pelayanan kesehatan kesehatan adalah adalah menghasilkanmenghasilkan outcomeoutcome yangyang menguntungkan bagi pasien, provider, dan masyarakat. Informasi mengenai pelayanan menguntungkan bagi pasien, provider, dan masyarakat. Informasi mengenai pelayanan kesehatan, baik dari seluruh pengguna jasa pelayanan medis maupun seluruh individu dalam kesehatan, baik dari seluruh pengguna jasa pelayanan medis maupun seluruh individu dalam  populasi

 populasi diperlukan diperlukan sebagai sebagai sumber sumber data data untuk untuk dapat dapat menjawab menjawab pertanyaan pertanyaan mengenaimengenai  persamaan

 persamaan ((equityequity), efisiensi), efisiensi (efficiency),(efficiency), dan mutu pelayanan kesehatandan mutu pelayanan kesehatan (quality)(quality) (EEQ),(EEQ), sehingga manajemen informasi dan teknologinya dalam banyak hal sangat diperlukan dalam sehingga manajemen informasi dan teknologinya dalam banyak hal sangat diperlukan dalam manajemen klinis untuk mendapatkan informasi yang benar dan akurat. Salah satu upaya manajemen klinis untuk mendapatkan informasi yang benar dan akurat. Salah satu upaya  pelayanan

 pelayanan kesehatan kesehatan dalam dalam meningkatkan meningkatkan mutu mutu pelayanan pelayanan adalah adalah dengan dengan menciptakanmenciptakan  pelayanan yang cepat, tepat, dan akurat, baik dalam pelayanan medis maupun no

 pelayanan yang cepat, tepat, dan akurat, baik dalam pelayanan medis maupun no nmedis.nmedis. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 44 tahun 2009 tentang rumah sakit, setiap Berdasarkan Undang-Undang Nomor 44 tahun 2009 tentang rumah sakit, setiap rumah sakit wajib melakukan pencatatan dan pelaporan tentang semua kegiatan rumah sakit wajib melakukan pencatatan dan pelaporan tentang semua kegiatan  penyelenggaraan rumah

 penyelenggaraan rumah sakit dalam bentuk sakit dalam bentuk Sistem Informasi Rumah Sistem Informasi Rumah Sakit (SIRS). MenurutSakit (SIRS). Menurut Permenkes 1171/MENKES/PER/VI/2011 tentang SIRS, ada dua macam pelaporan, yaitu Permenkes 1171/MENKES/PER/VI/2011 tentang SIRS, ada dua macam pelaporan, yaitu  pelaporan

 pelaporan terbarukan terbarukan dan dan pelaporan pelaporan periodik. periodik. Kegiatan Kegiatan pengolahan pengolahan data-data data-data tersebut tersebut akanakan lebih efektif dan efisien apabila menggunakan perangkat lunak komputer.

(3)

Menurut Rustiyanto (2010), Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit (SIMRS) merupakan suatu rangkaian kegiatan yang mencakup semua pelayanan kesehatan (rumah sakit) disemua tingkatan administrasi yang dapat memeberikan informasi kepada pengelola untuk proses manajemen (berhubungan dengan pengumpulan data, pengolahan data,  penyajian informasi, dan analisa) pelayanan rumah sakit. Sistem ini dirancang untuk meningkatkan kinerja petugas, diantaranya dokter dan asisten dokter, bidan dan perawat, staff administrasi dan personalia, apoteker, logistik, dan top manajerial. Oleh karena itu sudah semestinya system informasi yang ada membantu pekerjaan petugas lebih mudah dan lebih cepat terselesaikan. Kebutuhan sistem informasi pada rumah sakit bahkan telah ditetapkan sebagai suatu kewajiban, seperti yang tertuang pada Undang-Undang No. 44 Tahun 2009 tentang rumah sakit, pasal 52 ayat 1 yang berisi setiap rumah sakit wajib melakukan pencatatan dan pelaporan tentang semua kegiatan penyelenggaraan rumah sakit dalam bentuk sistem informasi manajemen rumah sakit.

Peran sistem informasi manajemen rumah sakit (SIMRS) harus dimanfaatkan secara maksimal untuk membantu kelancaran pelayanan. Dalam usaha memanfaatkan SIMRS secara optimal maka selalu dilakukan pengembangan sistem sehingga akan memperkaya kemampuan suatu sistem. Dengan begitu diharapkan terjadi kesesuaian antara kebutuhan  pengguna dengan kemampuan yang dimiliki sistem.

1.2 Rumusan Masalah

1. Apa definisi rumah sakit?

2. Apa fungsi dan tugas rumah sakit? 3. Apa saja kegiatan di rumah sakit?

4. Apa saja persyaratan umum rumah sakit? 5. Apa kode etik di rumah sakit?

6. Apa saja hak dan kewajiban rumah sakit?

7. Apa tanggung jawab rumah sakit kepada pasien? 8. Apa saja hak dan tanggung jawab pasien?

9. Apa pertanggungjawaban pidana rumah sakit terhadap pasien? 10. Bagaimana struktur di rumah sakit?

(4)

12. Bagaimana akreditasi di rumah sakit?

13. Bagaimana pelayanan medis di rumah sakit?

1.3 Tujuan

1. Untuk mengetahui definisi rumah sakit.

2. Untuk mengetahui fungsi dan tugas rumah sakit. 3. Untuk mengetahui kegiatan di rumah sakit.

4. Untuk mengetahui persyaratan umum rumah sakit. 5. Untuk mengetahui kode etik di rumah sakit.

6. Untuk mengetahui hak dan kewajiban rumah sakit.

7. Untuk mengetahui tanggung jawab rumah sakit kepada pasien. 8. Untuk mengetahui hak dan tanggung jawab pasien.

9. Untuk mengetahui pertanggungjawaban pidana rumah sakit terhadap pasien. 10. Untuk mengetahui struktur di rumah sakit.

11. Untuk mengetahui jenis dan klasifikasi rumah sakit. 12. Untuk mengetahui akreditasi di rumah sakit.

(5)

BAB II ISI

2.1 Definisi Rumah Sakit

Berdasarkan Permenkes No 4 Tahun 2018 rumah sakit adalah institusi pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna yang menyediakan pelayanan rawat inap, rawat jalan, dan gawat darurat.

Rumah sakit adalah salah satu sarana kesehatan sebagai intitusi pemberi pelayanan kesehatan dengan memberdayakan berbagai kesatuan individu terlatih dan terdidik dalam menangani masalah medik untuk pemulihan dan pemeliharaan kesehatan yang lebih baik.

Upaya kesehatan yang dilakukan dalam setiap kegiatan bertujuan untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan sehingga mampu mewujudkan derajat kesehatan yang optimal  bagi masyarakat. Sarana kesehatan berfungsi dalam melayani kesehatan dasar, kesehatan rujukan dan atau upaya kesehatan penunjang. Upaya kesehatan diselenggarakan dengan  pendekatan pemeliharaan, peningkatan kesehatan (promotif), pencegahan penyakit (preventif), penyembuhan penyakit (kuratif), dan pemulihan kesehatan (rehabilitatif) yang diselenggarakan secara menyeluruh, terpadu dan berkesinambungan.

2.2 Fungsi dan Tugas Rumah Sakit 2.2.1 Fungsi Rumah Sakit

Berdasarkan Undang-Undang No. 44 tahun 2009 tentang rumah sakit, fungsi rumah sakit adalah:

a. Penyelenggaraan pelayanan pengobatan dan pemulihan kesehatan sesuai dengan standar pelayanan rumah sakit.

 b. Pemeliharaan dan peningkatan kesehatan perorangan melalui pelayanan kesehatan yang paripurna tingkat kedua dan ketiga sesuai kebutuhan medis.

c. Penyelenggaaan pendidikan dan pelatihan sumber daya manusia dalam rangka  peningkatan kemampuan dalam pemberian pelayanan kesehatan.

d. Penyelenggaraan penelitian dan pengembangan serta pengaplikasian teknologi dalam bidang kesehatan dalam rangka peningkatan pelayanan kesehatan dengan memperhatikan etika ilmu pengetahuan bidang kesehatan.

(6)

Tugas rumah sakit yang tercantum dalam Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2009 tentang rumah sakit adalah sebagai berikut: Pasal 4, rumah sakit mempunyai tugas memberikan pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna. Pasal 5, untuk menjalankan tugas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4.

Rumah sakit merupakan sebuah organisasi yang mempunyai tingkat kompleksitas tinggi karena terdapat otoritas formal yang dipresentasikan oleh manajemen keilmuan dan keahlian yang dimiliki oleh kelompok dokter.

Menurut Handoyo et, al.. 2008, tugas rumah sakit bersifat pelayanan yang mengharuskan setiap personal dalam penyelengaraan rumah sakit harus memenuhi standar dan kriteria minimum. Tugas rumah sakit pada umumnya sebagai pemeliharaan dan pemulihan kesehatan, melaksanakan pelayanan kesehatan dengan mengutamakan kegiatan penyembuhan penderita maupun pemulihan keadaan cacat badan dan jiwa, yang dilaksanakan secara terpadu dengan upaya peningkatan (promotif), pencegahan (preventif) serta melaksanakan upaya rujukan.

2.3 Kegiatan Rumah Sakit

Untuk menyelenggarakan fungsinya, maka rumah sakit menyelenggarakan kegiatan: 1. Pelayanan medis.

2. Pelayanan dan asuhan keperawatan.

3. Pelayanan penunjang medis dan nonmedis.

4. Pelayanan kesehatan kemasyarakatan dan rujukan. 5. Pendidikan, penelitian dan pengembangan.

6. Administrasi umum dan keuangan.

2.4 Persyaratan Umum Rumah Sakit

Rumah sakit harus memiliki persyaratan umum agar mampu bersaing di bidang  pelayanan kesehatan dan mampu memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat maupun

tenaga kerja yang terkait dalam intitusi tersebut. 1.  Nama Rumah Sakit

a. Tidak boleh memakai nama orang yang masih hidup.

 b. Penamaan rumah sakit harus sesuai dengan misi, tugas, dan fungsinya. 2. Lokasi

(7)

Lokasi rumah sakit harus sesuai dengan analisa kebutuhan pelayanan kesehatan dan rencana umum tata ruang Kota atau daerah setempat.

3. Organisasi

a. Mempunyai pengaturan kedudukan, tugas, fungsi, tanggung jawab, susunan organisasi, tata kerja dan tata laksana rumah sakit yang sesuai dengan kelas rumah sakit dan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

 b. Struktur organisasi terdiri dari unsur pimpinan, unsur bantuan administrasi, dan  bantuan medis teknis yang berpedoman pada organisasi rumah sakit pemerintah. c. Badan hukum selaku pemilik rumah sakit bertanggung jawab terhadap pelaksanaan

 peraturan perundang-undangan yang berhubungan dengan perumah sakitan dan  penggunaan dana bantuan yang diterima untuk rumah sakit.

d. Rumah sakit diharuskan mempunyai Dewan Penyantun Rumah Sakit yang mempunyai tugas memberikan saran atau nasihat kepada pemilik rumah sakit dan direktur rumah sakit dalam penyelenggaraan dan pengelolaan rumah sakit.

4. Bangunan

a. Jumlah tempat tidur minimal

 Rumah sakit umum milik badan hukum sosial memiliki minimal 50 tempat tidur.

 Rumah sakit umum milik badan hukum lain memiliki minimal 100 tempat tidur.

 Rumah sakit khusus memiliki minimal 25 tempat tidur.

 b. Luas bangunan minimal 50 m2 setiap penyediaan 1 tempat tidur. c. Luas tanah

 Bangunan tidak bertingkat luas tanah minimal 1,5 kali luas bangunan.

 Bangunan bertingkat luas tanah minimal 2 kali luas bangunan dari lantai dasar.

d. Tanah diluar digunakan untuk parkir, taman dan jalan. e. Bangunan, ruang rumah sakit terdiri dari :

 Ruang rawat inap dengan jumlah tempat tidur sesuai ketentuan.

 Ruangan rawat jalan.

 Ruangan gawat darurat.

 Kamar operasi.

 Ruangan instalasi penunjang medik minimal mempunyai laboratorium, radiologi

(8)

 Ruangan penunjang sarana rumah sakit, yaitu gudang, dapur, tempat cuci, bengkel

sederhana, dan kamar jenazah.

 Ruangan administrasi, ruangan tenaga medis, ruangan paramedis, dan ruang

 pertemuan staff.

f. Seluruh bangunan berpedoman pada standarisasi bangunan rumah sakit pemerintah yang disesuaikan dengan kelasnya.

g. Seluruh ruangan memenuhi persyaratan minimal untuk kebersihan, bebas polusi, ventilasi, penerangan, tenaga, dan sistem pemadam kebakaran yang akurat.

h. Sistem keselamatan kerja, kebakaran, dan kewaspadaan bencana.

i. Tersedianya fasilitas listrik dan penyediaan air minum setiap hari selama 24 jam yang memenuhi persyaratan kesehatan.

 j. Tersedianya pengolahan air limbah dan pembuangan sampah sesuai dengan peraturan yang berlaku.

5. Peralatan

a. Peralatan kelengkapan medik dan penunjang medik disesuaikan dengan kelas rumah sakit dan pelayanan medik yang berlaku.

 b. Pengadaan peralatan canggih harus berdasarkan analisa kebutuhan dan kelas rumah sakit serta terlebih dahulu melakukan konsultasi dengan Dinas Kesehatan yang  berwenang dengan konsultasi dari Direktur Jenderal Pelayanan Medik.

c. Persediaan obat-obatan berpedoman pada DOI (Data Obat Indonesia) dan formularium rumah sakit yang kelasnya setingkat dengan rumah s akit pemerintah. d. Peralatan atau kelengkapan non medis yang harus disediakan :

 Perlengkapan kebutuhan rawat inap, rawat darurat dan rawat jalan.

 Perlengkapan kebutuhan dapur dan cuci.

 Perlengkapan kebutuhan perkantoran.

 Perlengkapan perbengkelan sederhana dan pemadam kebakaran sesuai

kebutuhan.

 Perlengkapan pengelolaan air limbah dan sampah.

 Alat tranportasi pasien, elevator atau lift dan ram untuk gedung-gedung

 bertingkat. 6. Ketenagaan

(9)

a. Direktur rumah sakit adalah seorang dokter (dokter umum atau dokter spesialis) yang mempunyai pengetahuan dan keterampilan manajemen rumah sakit, bekerja purna waktu, dan berkewarganegaraan Indonesia dengan batas umur maksimal 70 tahun.  b. Direktur rumah sakit diangkat dan diberhentikan oleh Badan Hukum Pemilik Rumah

Sakit dengan surat keputusan dan sepengetahuan serta tidak ada keberatan dari Kepala Dinas Kesehatan yang berwenang.

c. Jumlah tenaga medis, paramedik dan non medis yang dipekerjakan sesuai dengan kebutuhan dan berpedoman pada kelas rumah sakit dan peraturan ketenagaan rumah sakit yang berlaku. Jumlah tenaga medis purna waktu sesuai dengan kelas rumah sakit minimal dua orang.

d. Tenaga medis, paramedis, dan non medis purna waktu mempunyai surat  pengangkatan dari Direktur Rumah Sakit.

e. Tenaga medis yang bekerja secara paruh waktu mempunyai ijin atasan langsung dari instansinya.

f. Semua tenaga medis mempunyai surat penugasan (SP) yang dikeluarkan oleh Departemen Kesehatan dan Surat Ijin Praktek (SIP) sesuai dengan ketentuan yang  berlaku.

g. Penggunaan tenaga medis asing hanya diperbolehkan sebagai konsultan, tidak memberi pelayanan serta memenuhi persyaratan yang berlaku bagi tenaga medis asing yang bekerja di Indonesia sesuai ketentuan yang berlaku.

h. Penggunaan tenaga medis asing dalam rangka pelayanan yang bersifat sosial harus  bekerjasama dengan Fakultas Kedokteran dan ikatan profesi atau organisasi profesi

setempat dan mendapat ijin dari Direktur Jenderal Pelayanan Medik. 7. Tarif

a. Ketentuan tarif rumah sakit ditetapkan oleh Badan Hukum Milik Rumah Sakit dengan mempertimbangkan biaya satuan, kemampuan rumah sakit dan kemampuan membayar dari masyarakat, serta peraturan pola tarif untuk rumah sakit swasta yang  berlaku atau Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 282/Menkes/SK/III/1993 tentang  pola tarif rumah sakit swasta.

 b. Penetepan besaran tarif untuk kelas III berpedoman pada tarif Kepala Kantor Wilayah Departemen Kesehatan setempat.

(10)

8. Kegiatan Pelayanan

a. Memberikan pelayanan kesehatan di rumah sakit sesuai dengan standar pelayanan rumah sakit, standar pelayanan medik dan prosedur tetap.

 b. Melaksanakan kegiatan rekam medik serta pencatatan dan pelaporan sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan oleh Departemen Kesehatan.

c. Menyelenggarakan administrasi keuangan sebagai kegiatan administrasi rumah sakit yang dipertanggungjawabkan Direktur Rumah Sakit kepada pemilik rumah sakit. d. Mempunyai buku keuangan yang dapat diperlihatkan apabila suatu hal tertentu

diperlukan pemeriksaan.

2.5 Kode Etik Rumah Sakit

Dalam pelayanan rumah sakit di Indonesia memerlukan kode etik, kode etik ini  berguna supaya dalam pelayanan rumah sakit tetap memusatkan kepada pelayanan medis

yang maju dan berguna bagi masyarakat luas dan khususnya bagi pasien yang membutuhkan  perawatan medis pertama. Kode etik rumah sakit di Indonesia disusun oleh organisasi  perumahsakitan dari seluruh Indonesia, yakni peratuan Rumah Sakit Seluruh Indonesia atau  juga yang disingkat PERSI. Etika yang disusun oleh PERSI untuk seluruh rumah sakit di

Indonesia mencakup:

1. Kewajiban umum rumah sakit,

2. Kewajiban rumah sakit terhadap masyarakat, 3. Kewajiban rumah sakit terhadap pasien,

4. Kewajiban rumah sakit terhadap karyawan di rumah sakit, 5. Kewajiban rumah sakit terhadap rumah sakit yang lainn ya.

2.6 Hak dan Kewajiban Rumah Sakit

Rumah sakit di mata hukum juga merupakan badan hukum (rechtpersoon), rumah sakit juga berhubungan dengan pasien dan masyarakat. Rumah sakit juga mempunyai hak dan tanggung jawab yang ada di dirinya. Adapun, hak rumah sakit adalah sebagai berikut: 1. Setiap rumah sakit dapat membuat peraturan rumah sakitnya sendiri, yang dimaksudkan

dengan membuat peraturan rumah sakit adalah membuat peraturan-peraturan khusus yang diberlakukan dalam rumah sakit tersebut, seperti halnya dengan peraturan jam  besuk, menggunakan sarana dan prasarana rumah sakit, dan lain sebagainya.

(11)

2. Mensyaratkan pasien harus menaati segala peraturan rumah sakit baik itu dalam  pengobatan maupun saat berada dalam rumah sakit tersebut.

3. Mensyaratkan pasien harus menaati segala instruksi yang diberikan dokter kepadanya. 4. Memilih serta menyeleksi tenaga dokter yang akan dipekerjakan pada rumah sakit

tersebut, hal ini berhubungan dengan persoalan tanggung jawab rumah sakit terhadap  personalia sehubungan dengan doktrin Hubungan Majikan Karyawan.

5. Menuntut pihak-pihak yang melakukan wanprestasi, baik yang dilakukan oleh pasien maupun pihak ketiga yang bekerja sama dengan rumah sakit tersebut.

2.7 Kewajiban Rumah Sakit kepada Pasien

Dalam hal pelayanan rumah sakit, perawatan dan pengobatan terhadap pasien yang terjadi di dalam rumah sakit yang bertanggung jawab penuh adalah rumah sakit itu sendiri. Pengertian yang diterangkan sering juga disebut dengan Doktrin Corporate Liability. Secara tegas tanggung jawab rumah sakit dalam pelayanan pasien diemban oleh rumah sakit tersebut dan rumah sakit tidak dapat menolak pasien dengan alasan apapun, yang diutamakan adalah keselamatan pasien. Berdasarkan Permenkes No 4 Tahun 2018 Pasal 2 ayat 1 setiap rumah sakit memiliki kewajiban antara lain :

a. Memberikan informasi yang benar tentang pelayanan rumah sakit kepada masyarakat;  b. Memberi pelayanan kesehatan yang aman, bermutu, anti diskriminasi, dan efektif dengan

mengutamakan kepentingan pasien sesuai dengan standar pelayanan rumah sakit;

c. Memberikan pelayanan gawat darurat kepada pasien sesuai dengan kemampuan  pelayanannya;

d. Berperan aktif dalam memberikan pelayanan kesehatan pada bencana, sesuai dengan kemampuan pelayanannya;

e. Menyediakan sarana dan pelayanan bagi masyarakat tidak mampu atau miskin; f. Melaksanakan fungsi sosial;

g. Membuat, melaksanakan, dan menjaga standar mutu pelayanan kesehatan di rumah sakit sebagai acuan dalam melayani pasien;

h. Menyelenggarakan rekam medis;

i. Menyediakan sarana dan prasarana umum yang layak meliputi sarana ibadah, parkir, ruang tunggu, sarana untuk orang cacat, wanita menyusui, anak-anak, lanjut usia;

(12)

k. Menolak keinginan pasien yang bertentangan dengan standar profesi dan etika serta  peraturan perundang-undangan;

l. Memberikan informasi yang benar, jelas dan jujur mengenai hak dan kewajiban pasien; m. Menghormati dan melindungi hak pasien;

n. Melaksanakan etika rumah sakit;

o. Memiliki sistem pencegahan kecelakaan dan penanggulangan bencana;

 p. Melaksanakan program pemerintah di bidang kesehatan baik secara regional maupun nasional;

q. Membuat daftar tenaga medis yang melakukan praktik kedokteran atau kedokteran gigi dan tenaga kesehatan lainnya;

r. Menyusun dan melaksanakan peraturan internal rumah sakit (hospital by laws);

s. Melindungi dan memberikan bantuan hukum bagi semua petugas rumah sakit dalam melaksanakan tugas; dan

t. Memberlakukan seluruh lingkungan rumah sakit sebagai kawasan tanpa rokok.

2.8 Hak dan Tanggung Jawab Pasien

Dalam pelayanan kesehatan antara rumah sakit dengan pasien, pasti ada hak dan kewajiban yang diterima ataupun harus dilaksanakan oleh pasien atau rumah sakit. Dalam hubungan pelayanan kesehatan, pasien sebagai penerima pelayanan dan rumah sakit sebagai  pemberi pelayanan. Rumah sakit sebagai pemberi pelayanan harus melaksanakan kewajibannya, harus menerima hak dari pasien. Sebaliknya pasien sebagai penerima  pelayanan juga harus melaksanakan kewajiban dan mendapatkan haknya.

Kewajiban-kewajiban diuraikan sebagai berikut:

1. Pasien dan keluarganya harus menaati segala peraturan yang berlaku di rumah sakit tersebut.

2. Pasien harus memberikan informasi yang sejujur-jujurnya tentang semua penyakit yang diderita oleh pasien tersebut.

3. Pasien wajib mematuhi segala instruksi dokter dan perawat yang ada di rumah sakit tersebut.

4. Pasien dan atau penanggungnya berkewajiban untuk mematuhi dan memenuhi perjanjian yang telah ditandatangani oleh pasien.

(13)

5. Pasien dan atau penanggungnya berkewajiban untuk melunasi semua imbalan atas jasa  pelayanan yang telah diberikan oleh rumah sakit/dokter.

2.9 Pertanggungjawaban Pidana Rumah Sakit terhadap Pasien

Rumah sakit sebagai rechtpersoon yang mempunyai tugas dan kewajiban untuk memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat secara menyeluruh tanpa membedakan suku, ras, agama dan kepercayaan tidak boleh menelantarakan pasien atau bahkan orang yang dalam kondisi gawat darurat membutuhkan pertolongan. Rumah sakit tidak dapat menolak  pasien yang membutuhkan pertolongan, bahkan rumah sakit harus menolong dan memberikan pelayanan demi nyawa hidup pasien tanpa mementingkan biaya dan administrasi untuk rumah sakit tersebut. Rumah sakit harus mementingkan keselamatan jiwa  pasien yang sesuai dengan Undang –   Undang No 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan yang menyatakan bahwa rumah sakit dilarang menolak pasien dan tidak mementingkan uang muka terlebih dahulu. Fenomena yang terjadi adalah banyak rumah sakit yang menolak pasien yang tidak mampu dengan berbagai macam alasan. Pasien yang terlantar tersebut menjadi cacat bahkan mati karena terlambat mendapat penanganan.

2.10 Struktur Rumah Sakit

Perancangan struktur organisasi rumah sakit meliputi penekenan pada proses  pelayanan inti ( strategic), peningkatan integrasi berbagai kegiatan ( synchronized ),  penghapusan birokrasi yang berlebihan ( small or lean), pengurangan kompleksitas ( simple)

dan peningkatan kecepatan untuk memberikan pelayanan ( speedy).

2.10.1 Struktur Rumah Sakit Umum Kelas A

1. Seorang Direktur Utama

2. Direktur utama membawahi 4 Direktorat

3. Masing-masing Direktorat terdiri paling banyak 3 bidang atau 3 Bagian 4. Masing-masing Bidang terdiri paling banyak 3 Seksi

5. Masing-masing Bagian terdiri paling banyak 3 Subbagian

2.10.2 Struktur Rumah Sakit Umum Kelas B Pendidikan

1. Seorang Direktur Utama

2. Direktur utama membawahi paling banyak 3 Direktorat

3. Direktorat membawahi paling banyak 3 Bidang atau 3 Bagian 4. Masing-masing bidang terdiri paling banyak 3 Seksi

(14)

5. Masing-masing bagian terdiri paling 3 Subbagian

2.10.3 Struktur Rumah Sakit Umum Kelas B Non Pendidikan

1. Seorang Direktur Utama

2. Direktur membawahi paling banyak 2 Direktorat

3. Masing-masing Direktorat terdiri dari paling banyak 3 Bidang atau 3 Bagian 4. Masing-masing Bidang terdiri paling banyak 3 Seksi

5. Masing-masing Bagian terdiri paling banyak 3 Subbagian

2.10.4 Struktur Rumah Sakit Umum Kelas C

1. Seorang Direktur

2. Direktur membawahi paling banyak 2 Bidang dan 1 Bagian 3. Masing-masing Bidang terdiri dari paling banyak 3 Seksi 4. Bagian terdiri dari paling banyak 3 Subbagian

2.10.5 Struktur Rumah Sakit Umum Kelas D 1. Seorang Direktur

2. Direktur membawahi 2 Seksi dan 3 Subbagian

3. Masing-masing Bidang terdiri paling banyak 3 Seksi

4. Bagian terdiri paling banyak 3 Subbagian

2.10.6 Struktur Rumah Sakit Khusus Kelas A 1. Seorang Direktur Utama

2. Direktur Utama membawahi paling banyak 4 Direktorat

3. Masing-masing Direktorat terdiri paling banyak 3 Bidang atau 3 Bagian

4. Masing masing Bidang terdiri paling banyak 3 Seksi

5. Masing-masing Bagian terdiri paling banyak 3 Subbagian

2.10.7 Struktur Rumah Sakit Khusus Kelas B 1. Seorang Direktur Utama

2. Direktur Utama membawahi paling banyak 2 Direktorat

3. Masing-masing Direktorat terdiri dari 2 Bidang atau 2 Bagian

4. Masing-masing Bidang terdiri dari paling banyak 3 Seksi

5. Masing-masing Bagian terdiri dari paling banyak 3 S ubbagian

2.10.8 Struktur Rumah Sakit Khusus Kelas C

(15)

2. Direktur membawahi 2 Seksi dan 3 Subbagian

2.10.9 Unit –  unit Non Struktural

1. Satuan Pengawas Intern 2. Komite

3. Instalasi

2.11 Jenis dan Klasifikasi Rumah Sakit 2.11.1 Jenis Rumah Sakit

Berdasarkan jenis pelayanan yang diberikan, rumah sakit dikategorikan menjadi 2, yaitu :

1. Rumah Sakit Umum

Rumah sakit yang memberikan pelayanan kesehatan pada semua bidang dan jenis penyakit. Yang termasuk jenis rumah sakit ini adalah rumah sakit swasta dan rumah sakit pemerintah/daerah. Rumah Sakit Pemerintah Pusat dan Daerah diklasifikasikan menjadi Rumah Sakit Umum kelas A, B, C, dan D. Klasifikasi tersebut didasarkan pada unsur pelayanan, ketenagaan fisik, dan  peralatan. Berikut ini klasifikasinya:

a. Rumah Sakit Umum Kelas A adalah rumah sakit umum yang mempunyai fasilitas dan kemampuan pelayanan medic spesialistik luas dan subspesialistik luas.

 b. Rumah Sakit Umum kelas B adalah rumah sakit umum yang mempunayi fasilitas dan kemampuan pelayanan medis sekurang kurangnya 11 spesialistik dan subspesialistik terbatas.

c. Rumah Sakit Umum kelas C adalah rumah sakit umum yang mempunyai faslitas dan kemampuan pelayanan medic spesialistik dasar.

d. Rumah Sakit Umum kelas D adalah rumah sakit umum yang mempunyai fasilitas dan kemampuan pelayanan medik dasar.

2. Rumah Sakit Khusus

Rumah sakit yang memberikan pelayanan utama pada satu bidang atau satu jenis penyakit tertentu berdasarkan disiplin ilmu, golongan umr, organ, jenis  penyakit atau kekhususan lainnya. Rumah sakit khusus meliputi :

(16)

 b. Rumah Sakit Kusta

c. Rumah Sakit Ibu dan Anak d. Rumah Sakit Bersalin

e. Rumah Sakit khusus lainnya.

2.11.2 Klasifikasi Rumah Sakit

Rumah sakit dapat diklasifikasikan berdasarkan kriteria sebagai berikut : 1. Kepemilikan

Klasifikasi berdasarkan kepemilikan terdiri atas: a. Rumah Sakit Pemerintah terdiri atas:

 Rumah sakit vertical yang dikelola oleh Departemen Kesehatan

 Rumah sakit pemerintah daerah

 Rumah sakit militer

 Rumah sakit BUMN

 b. Rumah sakit swasta adalah rumah sakit yang dikelola oleh masyarakat 2. Jenis Pelayanan

Klasifikasi berdasarkan jenis pelayanannya terdiri atas:

a. Rumah sakit umum member pelayanan kepada berbagai penderita dengan  berbagai jenis kesakitan, member pelayanan diagnosis dan terapi untuk  berbagai kondisi medic, seperti penyakit dalam, bedah, psikiatrik, ibu hamil,

dan sebagainya.

 b. Rumah sakit khusus adalah rumah sakit yang member pelayanan diagnosis dan pengobatan untuk penderita dengan kondisi medic tertentu baik bedah maupun non bedah, seperti rumah sakit kanker, bersalin, psikiatri, pediatric, ketergantungan obat, rumah sakit rehabilitative, dan p enyakit kronis.

3. Lama tinggal

Berdasarkan lama tinggal, rumah sakit terdiri atas:

a. Rumah sakit perawatan jangka pendek adalah rumah sakit yang merawat  penderita selama rata rata kurang dari 30 hari.

 b. Rumah sakit perawatan jangka panjang adalah rumah sakit yang merawat  penderita dalam waktu rata rata 30 hari atau lebih.

(17)

Klasifikasi rumah sakit berdasarkan kapasitas tempat tidurnya sebagai berikut: a. Di bawah 50 tempat tidur

 b. 50 - 99 tempat tidur c. 100 - 199 tempat tidur d. 200 - 299 tempat tidur e. 300 - 399 tempat tidur f. 400 - 499 tempat tidur g. 500 tempat tidur atau lebih 5. Afiliasi pendidikan

Klasifikasi berdasarkan afiliasi pendidikan terdiri atas dua jenis yaitu:

a. Rumah sakit pendidikan adalah rumah sakit yang melaksanakan program  pelatihan dalam bidang medic, bedah, pediatric, dan bidang spesialis lain.  b. Rumah sakit non pendidikan adalah rumah sakit yang tidak memiliki afiliasi

dengan universitas disebut rumah sakit non pendidikan. 6. Status akreditasi

Rumah sakit berdasarkan status akreditasi rumah sakit yang telah diakreditasi dan rumah sakit yang belum diakreditasi. Rumah sakit telah diakreditasi adalah rumah sakit yang telah diakui secara formal oleh suatu badan sertifikasi yang diakui, yang menyatakan bahwa suatu rumah sakit telah memenuhi persyaratan untuk melakukan kegiatan tertentu.

2.12 Akreditasi Rumah Sakit

Standar adalah keadaan ideal atau tinkat pencapaian tertinggi dan sempurna yang digunakan sebagai batas penerimaan minimal atau disebut pula sebagai kisaran variasi yang masih dapat diterima. Hal hal yang perlu diperhatikan dalam standar terutama dalam  pelayanan rumah sakit adalah:

1. Standar pelayanan RS merupakan standar minimal yang harus dipenuhi oleh sebuah RS agar dapat menjalankan fungsi yang diembannya, yaitu fungsi pelayanan, pendidikan,  penelitan, dan penapisan ilmu pengetahuan dan tekhnologi.

2. Standar pelayanan RS merupakan acuan dan pelengkap untuk RS. 3. Standar pelayanan RS merupakan standar masukan dan satndar profesi.

(18)

4. Sebagai standar yang selalu berkembang sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan tekhnologi, maka secara berkala standar ini perlu dievaluasi.

Akreditasi rumah sakit adalah suatu pengakuan oleh pemerintah kepada RS yang telah memenuhi standar yang ditetapkan. Legislasi akreditasi mengacu kepada UU NO 44 Tahun 2009 tentang RS pasal 40 yang menyatakan bahwa akreditasi RS dilakukan minimal setiap 3 tahun sekali dan dilakukan oleh badan Independent. Tujuan umum dari akreditasi rumah sakit adalah meningkatkan mutu layanan rumah sakit sedangkan khususnya adalah memberikan jaminan, kepuasan, dan pelindungan masyarakat, memberikan pengakuan kepada RS yang telah menerapkan standar pelayanan RS, dan menciptakan lingkungan intern RS yang kondusif untuk penyembuhan dan pengobatan termasuk peningkatan dan  pencegahan sesuai standar struktur, proses, dan hasil. standar akreditasi merupakan suatu  pernyataan yang mendefinisikan harapan terhadap kinerja, struktru proses yang harus dimiliki rumah sakit untuk memberikan pelayanan dan asuhan bermutu serta aman. Akreditasi menunjukkan komitmen sebuah RS untuk meningkatkan keselamatan dan mutu asuhan pasien, memastikan bahwa lingkungan pelayanan dan senantiasa berupaya mengurangi resiko bagi para pasien dan staf RS, sebagai cara efektif untuk mengevaluasi mutu suatu RS, yang sekaligus berperan sebagai sarana manajemen. Akreditasi dirancang untuk meningkatkan budaya keselamatan dan budaya kualitas di RS sehingga senantiasa  berupaya meningkatkan mutu dan keamanan layanannya.

Standar akreditasi yang terbaru mengacu pada Standar Akreditasi Tahun 2012 yang merupakan upaya Kementerian kesehatan menyediakan suatu perangkat yang mendorong RS senantiasa meningkatkan mutu dan keamanan pelayanan dengan penekanan bahwa akreditasi adalah suatu proses belajar, maka RS distimulasi melakuka perbaikan yang berkelanjutan dan terus menerus. Proses akreditasi terdiri dari kegiatan survey oleh tim Survivor dan proses  pengambilan keputusan pada Pengurus KARS (Komisi Akreditasi Rumah Sakit).

Peran Standarisasi dalam akreditasi RS adalah: 1. Sebagai dasar dalam penyusunan instrument akreditasi 2. Sebagai dasar dalam penyusunan criteria akreditasi 3. Sebagai dasar penyusunan indikator output

Akreditasi dilaksanakan secara bertahap, yaitu

(19)

2. Tahap kedua : akreditasi tingkat lanjut (12 kegiata pelayanan) 3. Tahap ketiga : akreditasi tingkat lengkap (16 kegiatan pelayanan)

Dalam pelaksanaan akeditasi rumah sakit, RS boleh memilih antara akreditasi 5, 12, atau 16 kegiatan pelayanan tergantung kemampuan RS tersebut. RS yang telah diakreditasi  bisa melakukan akreditasi ulang dan diperbolehkan memilih tetap 5 pelayanan atau

meningkat menjadi 12 pelayanan tergantung rumah sakit tersebut.

Adapun sebanyak 15 kriteria yang dinilai pada proses akreditasi suatu rumah sakit, diantaranya:

1. Sasaran Keselamatan Pasien 2. Hak Pasien dan Keluarga

3. Pendidikan Pasien dan Keluarga

4. Peningkatan Mutu dan Keselamatan Pasien 5. Milenium Development Goals

6. Akses Pelayanan dan Kontinuitas Pelayanan 7. Asessmen Pasien

8. Pelayanan Pasien

9. Pelayanan Anestesi dan Bedah 10. Manajemen Penggunaan Obat 11. Kualifikasi dan Pendidikan Staf

12. Manajemen Komunikasi dan Informasi 13. Pencegahan dan Pengendalian Infeksi

14. Tata kelola, Kepemimpinan, dan Pengarahan 15. Manajemen Fasilitas dan Keselamatan

Sedangkan tingkatan kelulusan dan kriterianya adalah sebagai berikut: 1. Tingkat Dasar

Apabila kriteria no 1-4, nilai minimum 80% dan kriteria no 5-15, nilai minimum 15 % 2. Tingkat Madya

Apabila kriteria no 1-8, nilai minimum 80 % dan kriteria 9-15, nilai minimum 20 % 3. Tingkat Utama

Apabila kriteria no 1-12, nilai minimum 80 % dan kriteria 13-15, nilai minimum 20 % 4. Tingkat Paripurna

(20)

Seluruh kriteria 1-15, nilai minimum 80 %

2.13 Pelayanan Medis Rumah Sakit

Menurut Dubois dan Miley, sistem pelayanan kesehatan merupakan jaringan  pelayanan interdisipliner, komprehensif, dan kompleks, terdiri dari aktivitas diagnosis, treatment, rehabilitasi, pemeliharaan kesehatan dan pencegahan untuk masyarakat pada seluruh kelompok umur dan dalam berbagai keadaan. Berbagai sistem pelayanan kesehatan meliputi pelayanan kesehatan masyarakat, rumah sakit rumah sakit, klinik klinik medical, organisasi organisasi pemeliharaan kesehatan, lembaga kesehatan rumah, perawatan dalam rumah, klinik klinik kesehatan mental, dan pelayanan pelayanan rehabilitative.

Pelayanan kesehatan dibagi menjadi dua golongan, yaitu:

1. Pelayanan kesehatan primer atau pelayanan kesehatan masyarakat adalah pelayanan kesehatan yang paling depan, yang pertama kali diperlukan masyarakat saat terjadinya gangguan kesehatan atau kecelakaan. Pelayanan ini merupakan tulang punggung  pelayanan kesehatan serta mengutamakan pelayanan kesehatan promotif dan preventif. Keberhasilan pelayanan ini akan mendukung pelaksanaan Jaminan Sosial Kesehatan  Nasional, dimana akan mengurangi jumlah pasien yang dirujuk. Bentuk bentuk pelayanan  primer, contohnya adalah Posyandu, dana sehat, Polindes (Poliklinik Desa), Pos Obat Desa (POD), Pengembangan Masyarakat atau Community Development, Perbaikan Sanitasi Lingkungan, Upaya Peningkayan Pendapatan (Income Generating), dan sebagainya. Adapun prinsip pelayanan dokter layanan primer, yaitu:

a. Primary Care

 b. Promotif dan Preventif c. Personal Care

d. Comprehensive Care e. Holistic Care

f. Integrated Care g. Continuum Care

h. Koordinatif dan kerjasama

i. Berorientasi pada keluarga dan komunitas  j. Patient safety

(21)

a. Memiliki fasilitas kesehatan  b. Memiliki SDM kesehatan

c. Memiliki peralatan pelayanan kesehatan

d. Mampu memberikan pelayanan sesuai jenis pelayanan yang telah ditetapkan e. Memiliki system administrasi dan manajemen pelayanan kesehatan

f. Mampu menetapkan biaya pelayanan g. Memiliki SPO pelayanan

h. Memiliki jejaring rujukan

2. Pelayanan kesehatan sekunder dan tersier adalah rumah sakit, tempat masyarakat memerlukan perawatan lebih lanjut / rujukan. Pelayanan kesehatan ini merupakan  pelayanan kesehatan rujukan. Pelayanan kesehatan yang termasuk kepada pelayanan rujukan contohnya rumah sakit mulai dari tipe D sampai dengan tipe A. Pengelola atau  pemilik rumah sakit di Indonesia dikelompokkan menjadi empat yakni:

a. Rumah sakit pemerintah, yang dibedakan menjadi rumah sakit Departemen Kesehatan dan Rumah Sakit Pemda (Pemerintah Daerah), yang dibedakan lagi menjadi rumah sakit Pemda Provinsi dan rumah sakit Pemda Kodia / Kabupaten.  b. Rumah sakit ABRI, yang dibedakan menjadi rumah sakit Angkatan Darat, Angkatan

Udara, Angkatan Laut, dan rumah sakit Polri.

c. Rumah sakit departemen lain yang biasanya dimiliki BUMN, seperti rumah sakit Pertamina, rumah sakit Perkebunan, dan sebagainya.

d. Rumah sakit swasta yang dikelola LSM atau perusahaan LSM penyelenggaraan rumah sakit ini biasanya dibedakan menjadi rumah sakit yang didirikan lembaga keagamaan dan rumah sakit netral.

Agar pelayanan kesehatan dapat terjamin maka mutu pelayanan kesehatan harus ditingkatkan. Mutu pelayanan kesehatan merupakan pelayanan kesehatan yang dapat memuaskan setiap pemakai jasa pelayanan kesehatan yang sesuai dengan tingkat kepuasan rata rata penduduk serta penyelenggaraannya sesuai dengan standard an kode etik profesi. Agar mutu pelayanan kesehatan ini bisa tercapai harus memenuhi beberapa strategi yang harus dilakukan yaitu:

(22)

Harapan pelanggan mendorong upaya peningkatan mutu pelayanan. Organisasi  pelayanan kesehatan mempunyai banyak pelanggan potensial. Harapan mereka harus

diidentifikasi dan diprioritaskan lalu membuat criteria untuk menilai kesuksesan.  b. Perbaikan kinerja

Bila harapan pelanggan telah diidentifikasi, langkah selanjutnya adalah mengidentifikasi dan melaksanakan kinerja staf dan dokter untuk mencapai konseling, adanya pengakuan, dan pemberian reward.

c. Proses perbaikan

Proses perbaikan juga penting. Seringkali kinerja disalahkan karena masalah  pelayanan dan ketidakpuasan pelanggan saat proses itu sendiri tidak dirancang dengan baik untuk mendukung pelayanan. Dengan melibatkan staf dalam proses  pelayanan, maka dapat diidentifikasi masalah proses yang dapat mempengaruhi kepuasan pelanggan, mendiagnosis penyebab, mengidentifikasi, dan menguji  pemecahan atau perbaikan

d. Budaya yang mendukung perbaikan terus menerus

Untuk mencapai pelayanan prima diperlukan organisasi yang tertib. Itulah sebabnya  perlu untuk memperkuat budaya organisasi sehingga dapat mendukung peningkatan mutu. Untuk dapat melakukannya, harus sejalan dengan dorongan peningkatan mutu  pelayanan terus menerus.

(23)

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Jadi rumah sakit merupakan sarana masyarakat untuk mendapat pengobatan dan mendapat pengetahuan tentang menjaga kesehatan. Serta rumah sakit juga memberikan diagnosa tentang penyakit  –   penyakit yang di alami oleh pasiennya serta menyarankan  pengobatan dan langkah untuk mengobati penyakit tersebut.

3.2 Saran

1. Rumah sakit harus meningkatkan mutu pelayanan dan efektifitas pelayannya.

2. Rumah sakit harus meningkatkan perannya dalam menjalankan tugas dan tanggungjawab sesuai ketentuan yang berlaku.

(24)

DAFTAR PUSTAKA

Depkes RI. 2000. Standar Pelayanan Rumah Sakit . Jakarta: Depkes RI.

Depkes RI. 2009.UU RI No. 44 Tahun 2009” tentang Rumah Sakit ”. Jakarta: Depkes RI Depkes RI. 2011.  Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 1171/MENKES/ PER/VI/2011

tentang Sistem Informasi Rumah Sakit. Jakarta : Depkes RI.

Depkes RI.2018. Peraturan Menkes RI No 4 tahun 2018”tentang  Kewajiban Rumah Sakit dan Kewajiban Pasien”. Jakarta : Depkes RI.

Departemen Kesehatan RI, 2009. Undang-undang Nomor 36” Tentang kesehatan”. Jakarta. Handoyo, Eko,Agung B.P., Fuad N.S.2008. Aplikasi Sistem Informasi Rumah Sakit Berbasis

Web Pada Sub-Sistem farmasi Menggunakan Framework Prado, Jurnal Teknologi Elektro. 13 Vol. 7 No. 1. Januari –  Juni 2008.

Hatta, Gemala R. 2011. Pedoman Manajemen Informasi Kesehatan di Sarana. Pelayanan Kesehatan. Jakarta : Universitas Indonesia.

Rhesavani, P. (2013) Evaluasi Sistem informasi Rekam Medis di RSU PKU Muhammadiyah Bantul Berdasarkan Pendekatan Kemudahan dan Kemanfaatan. Laporan Tugas Akhir (Tidak dipublikasikan). Yogyakarta: Program Diploma III Rekam Medis Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada.

Rustiyanto, Ery. 2010. Sistem Informasi Rumah Sakit Yang Terintegrasi.  Yogyakarta : Gosyen Publishing.

Referensi

Dokumen terkait

Dengan ini saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa Tugas Akhir dengan judul “ANALISA KEKERASAN PERMUKAAN BAJA KARBON RENDAH ST 40 DENGAN PROSES CARBURIZING

Hasil dari filtering merupakan spektrum anomali gravitasi yang komponen frekuensinya telah diatenuasi untuk nilai di atas cutoff frequency pada iterasi tersebut.. Hasilnya

dapat memenuhi kebutuhan menurut Maslow ataupun menurut Clelland, misalnya kebutuhan akan kasih sayang, yang didalamnya siswa terpenuhi kebutuhan akan penerimaan

Dipasang penuntun kabel (cable guide) berupa pipa plastik dari winch truck/ trailer ke arah telinga manhole. Penempatan dan jumlah penuntun kabel yang dipergunakan tidak sama

Pariwisata Liberty Pemalang kelas XI semester 2 dengan kompetensi dasar : (1) menulis kata, frasa, dan kalimat dengan huruf, ejaan, dan tanda baca yang tepat ; (2)

memaksimalkan perpustakaan daerah sebagai salah satu tempat kunjungan utama bagi masyarakat lokal maupun masyarakat dari luar kota Bukittinggi yang datang

Rencana pengembangan jaringan trayek angkutan umum oleh Dinas Perhubungan Kota Banjarbaru dan Organda sebaiknya dilakukan dalam rangka pemberian akses pelayanan angkutan

 Merumuskan dan sepakat dengan klien mengenai proses, peraturan- peraturan dasar dan tanggapan-tanggapan.  Mengkonfirmasi klien tentang program kebutuhan yang memuaskan. 