Peran Wayang Kulit Dalam Penguatan Kebudayaan Nasional
Artik (08110012)
Mahasiswa PPKN IKIP Veteran Semarang ABSTRAK
Latar belakang masalah yang diteliti adalah Peran Kesenian Tradisional Wayang Kulit di Desa Bulusan di mana keberadaan Wayang Kulit sebagai media ritual (merti desa) tetap dilestarikan. Walaupun bersaing dengan kesenian modern namun kesenian wayang kulit tetap diuri-uri dan dipentaskan setiap satu tahun sekali. Tujuan dari penelitian ini adalah : 1) untuk mengetahui perkembangan wayang kulit di Desa Bulusan Kecamatan Tembalang. 2) Untuk mengetahui peran wayang kulit di masyarakat Desa Bulusan yang hubungannya pendidikan moral. 3) Untuk mengetahui bagaimana peran wayang kulit dalam penguatan kebudayaan nasional di Desa Bulusan . Hasil penelitian tentang peran wayang kulit dalam penguatan kebudayaan nasional di desa Bulusan ini diharapkan menjadi bahan masukan dan menambah wawasan bagi penulis dan bagi pembacanya. Penelitian ini merupakan jenis penelitian kualitatif yang menggambarkan di mana peneliti berusaha mengungkapkan suatu fenomena/ obyek yang terjadi secara terus- menerus tanpa memberikan suatu perubahan pada obyek yang bersangkutan. Tempat penelitian ini dilaksanakan di wilayah Desa Bulusan Kecamatan Tembalang Semarang. Adapun waktu penelitian dilakukan pada bulan Juni sampai dengan Agustus 2012. Dari hasil pengumpulan data, peneliti memperoleh data sebagai berikut bahwa: Peran wayang Kulit Dalam Penguatan Kebudayaan Nasional Di Desa Bulusan Kecamatan Tembalang cukup bagus/cukup berperan. Hal ini dibuktikan dengan masih adanya pagelaran wayang kulit di desa tersebut. Adapun kesimpulan dari skripsi ini yaitu : 1) Perkembangan wayang kulit di desa Bulusan Tembalang masih dipertahankan kelestariannya walaupun bersaing dengan kesenian modern. 2) Wayang kulit cukup berperan terhadap pendidikan moral masyarakat Desa Bulusan terbukti di sana masih ada gotong –royong, musyawarah , kegiatan sosial. 3) Kesenian wayang kulit di Desa Bulusan cukup berperan dalam penguatan kebudayaan nasional yaitu dengan adanya modifikasi musik, lagu, dan kepandaian dalang dalam menyampaikan cerita menambah antusias masyarakat untuk menyaksikan dan memahami cerita dari wayang tersebut.
Kata Kunci :Peran, Wayang Kulit, Kebudayaan, Nasional
PENDAHULUAN
Sejarah masa lampau merupakan warisan dari pendahulu yang seharusnya dijaga dan dilestarikan oleh generasi berikutnya. Salah satunya adalah mahakarya yang terkenal dari Indonesia yaitu wayang kulit. Wayang kulit merupakan hasil kebudayaan bangsa Indonesia yang berbentuk pertunjukkan yang mempertontonkan bias bayangan boneka kulit pada helai kain (kelir) dari hasil sorotan lampu pertunjukkan (blencong). Wayang kulit merupakan kesenian tradisional masyarakat Jawa yang dibuat dari kulit binatang yang diukir sedemikian rupa serta dimainkan oleh dalang dan diiringi oleh music tradisional yakni gamelan.
Wayang adalah sebuah seni pertunjukan khas Indonesia yang sudah sangat populer baik itu di dalam atau luar pulau Jawa. Karya seni ini sudah dikenal masyarakat sejak zaman pra sejarah. Kemudian pada saat masuknya pengaruh Hindu dan Budha, cerita dalam wayang mulai mengadopsi
kitab Mahabharata dan Ramayana yang berasal dari India. Lalu pada masa pengaruh Islam, wayang oleh para wali digunakan sebagai media dakwah yang tentunya dengan menyisipkan nilai-nilai Islam. Pertunjukkan wayang kulit bukan tontonan orang yang bodoh tetapi tontonannya orang-orang pintar dan cerdas. Menyaksikan pertunjukkan wayang perlu menggunakan pikiran menurut dalang Mantep Soedarsono. Mengapa dikatakan sebagai tontonan orang pintar? Karena dengan menonton pertunjukkan wayang berarti orang akan ikut berpikir tentang apa yang telah disampaikan dalam cerita yang sedang dilakonkan. Bagaimana memilih pelajaran yang baik dari pertunjukkan wayang, bagaimana akhir dari pertunjukkan wayang tersebut. Dengan demikian pertunjukkan wayang kulit sangat penting bagi penguatan budaya nasional.
Tidak dapat dipungkiri bahwa seni pewayangan merupakan perbendaharaan kebudayaan nasional yang mempunyai kedudukan di hati sanubari masyarakat bangsa kita, setidaknya untuk sebagian besar masyarakat kita. Sudah berabad-abad lamanya seni pewayangan berkembang sebagai hasil karya para pujangga kita dari berbagai generasi. Ada kurang lebih 60 jenis wayang yang terkenal diantaranya: wayang purwa, wayang madya, wayang klithik, wayang menak, wayang suluh, wayang golek, dan berbagai jenis wayang lainnya.
Dalam pertunjukan wayang kulit, semua nilai –nilai lokal disampaikan dalam pagelaran melalui tokoh-tokoh wayang yang dimainkan oleh sang dalang. Wayang kulit sesuai harkat dan hakekat hidupnya adalah sebagai "pangudal piwulang" atau "dalla ya dullu dallalatan dallilun" yang berartinya memberi petunjuk dengan argumentasi yang benar. Seni budaya dalam pertunjukan wayang kulit sangat penting dalam ikut serta mendidik moral masyarakat atau anak didik di sekolah, betapa tidak anak didik di sekolah sebagai penerus bangsa ini akan bisa membedakan mana yang baik, mana yang benar, dan mana yang salah.
Sangat berbeda dengan cerita Game Online atau Play Game lainya (nota bene saat ini sedang di gemari) atau media permainan remaja lainya yang kebanyakan mengandung unsur kekerasan yang bisa mempengaruhi moral dan perilaku. Di dalam seni cerita atau pertunjukan wayang kulit terdapat banyak kisah dan narasi yang kaya akan filosofi hidup, petuah bijak, dan pendidikan moral yang saat ini dibutuhkan oleh generasi penerus bangsa ini. Alangkah bijak jika kita sebagai generasi muda bangsa ini mencoba mengenal dan mau melestarikan nilai luhur kebudayaan kita masing-masing, sebab Indonesia memiliki kekayaan berupa keanekaragaman warisan budaya, sayang kalau sampai punah atau di klaim oleh bangsa lain.
Hampir seluruh lakon dalam pewayangan selalu membawa pesan moral kearah kebaikan. Sehingga setelah direnungkan dapat diambil hikmahnya mana yang baik dan mana yang buruk serta mana yang perlu dijadikan suritauladan yang baik bagi masyarakat.
generasi muda dengan memberikan sarana kegiatan yang berhubungan dengan budaya Jawa. Dan untuk remaja serta anak-anak perlu dikenalkan seni pewayangan yaitu melalui pendidikan formal maupun non formal.
Kesenian wayang kulit selain sebagai hiburan juga dapat dipergunakan sebagai sarana pembinaan jiwa dan budi pekerti bagi masyarakat yang vitalitas dan membuktikan potensinya dalam fungsi pengabdiannya bagi pengembangan dan penguatan kebudayaan nasional, penyuluhan pendidikan, bimbingan dan pembinaan masyarakat untuk membentuk kepribadian bangsa yang mantap yaitu kepribadian yang berlandaskan nilai-nilai luhur Pancasila.
Mengingat bahwa pewayangan memiliki nilai-nilai kehidupan yang sangat tinggi, maka dirasa perlu memperluas khalayak pewayangan, walaupun beberapa pendapat dengan berkembangnya teknologi mutakhir sekarang ini masalah kehidupan seni pewayangan sering dipertanyakan kelangsungannya. Penulis yakin bahwa pada masanya kebudayaan tradisional kita akan menjadi padu, utuh dan imbang mencakup nilai-nilai luhur, religious, modern, dan ilmiah. Sesuai dengan kodratnya budaya kita seperti budaya-budaya lainnya akan mengalami proses perubahan dan perkembangan kearah kualitas yang lebih tinggi sehingga dapat digunakan sebagai tontonan segar, media pendidikan moral, tuntunan tingkah laku masyarakat serta dapat dipergunakan sebagai penguatan budaya bangsa. Supaya pewayangan itu sesuai dengan kebutuhan masyarakat Indonesia sekarang, maka merupakan tuntutan sejarah bahwa perlu diadakan pembaharuan pewayangan termasuk pengalih bahasaan pewayangan, serta penciptaan lagu-lagu yang mengiringinya. Dengan demikian nilai-nilai kehidupan yang bersumber kepada pewayangan akan tumbuh dan berkembang. Di samping itu pewayangan yang tradisional perlu dipertahankan karena pembaharuan hanya akan berhasil kalau mempunyai landasan pada tradisi.
Apabila penduduk Indonesia pada umumnya, di Jawa pada khususnya makin meningkat, dapat dibayangkan bagimana banyak orang mencari santapan rohani dan ketenangan jiwa. Apabila lapangan kerja dan hasil produksi belum memadai dengan ledakan penduduk, tak dapat dibayangkan apa yang akan terjadi. Maka satu-satunya jalan yaitu mensukseskan pembangunan dalam arti seluas-luasnya. Yaitu membangun manusia Indonesia seutuhnya baik jasmani dan rohani.
Pewayangan adalah salah satu bentuk seni yang bergerak dalam wilayah kehidupan rohani. Jadi diharapkan wayang akan mempunyai potensi dan sumbangan yang penting terhadap penguatan budaya bangsa dulu, sekarang dan yang akan datang. Dengan dasar perhitungan pemikiran tersebut di atas penulis memberi gambaran yang jelas tentang peranan seni budaya tradisional wayang kulit, sehingga penulis terdorong untuk mengadakan penelitian yang berjudul “ Peran Wayang Kulit Dalam Penguatan Kebudayaan Nasional”.
TINJAUAN PUSTAKA Pengertian Wayang Kulit
Seni pewayangan adalah produk budaya yang sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya Jawa. Ini karena timbulnya seni pewayangan di Jawa “mempunyai hubungan yang sangat erat dengan perkembangan sejarah Indonesia [Jawa] sejak masa sebelum bangsa Hindu datang di Indonesia sampai Indonesia merdeka saat ini. Wayang kulit merupakan hasil kebudayaan bangsa Indonesia berbentuk pertunjukan yang mempertontonkan bias bayangan boneka kulit pada helai kain (kelir) dari hasil sorotan lampu pertunjukan (blencong). Tokoh atau karakter wayang pada pagelarannya dipersiapkan dengan cara menancapkan bagian bawah wayang pada batang pisang (gebog). Dalam pertunjukan wayang kulit tradisional dibutuhkan seorang dalang atau pembawa cerita (lakon), dan diiringi kesenian musik tradisional gamelan sebagai pendukung pertunjukkannya serta sinden yang membawakan lagu-lagu pengiringnya. Dalam pertunjukkan wayang kulit purwa fungsi dalang sangat menonjol dan mendominasi.
METODE PENELITIAN Lokasi dan Waktu Penelitian 1. Lokasi Penelitian
Tempat penelitian dilakuakan di Desa Bulusan Kecanmatan Tembalang Semarang. 2. Waktu Penelitian
Penelitian dilakukan pada bulan Juni 2012 sampai bulan September 2012. Fokus Penelitian
Fokus dalam penelitian ini adalah
1. Perkembangan wayang kulit dalam masyarakat desa Bulusan.
2. Peran wayang kulit dalam masyarakat desa Bulusan yang ada hubungannya dengan pendidikan moral.
3. Peran wayang kulit dalam masyarakat Desa Bulusan yang ada hubungannya dengan penguatan kebudayaan nasional.
Sumber DataPenelitian
Sumber data dalam penelitian ini adalah aparat kelurahan, tokoh masyarakat, pelajar, guru, tokoh agama, dalang. Sehubungan denagn penelitian ini adalah kualitatif, maka teknik pemilihan sumber data atau sampel yang digunakan adalh snow ball. Snow ball artinya dari seluruh sumber data, kemudian dipilih sumber dat tertentu yang dianggap mengerti permasalahan dan tujuan penelitian. Sumber data yang terpilih tersebut disebut key informan. Informasi diharapkan terus bergulir dan
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Demografi
a. Komposisi Penduduk berdasarkan Jenis Kelamin
Desa Bulusan yang mempunyai luas wilayah 304,072 ha dihuni penduduk sebanyak 4.566 jiwa, yang terdiri dari laki-laki 2.312 jiwa, perempuan 2.254 jiwa. Komposisi penduduk antara laki-laki dengan perempuan cukup seimbang.
Adapun data penduduk Desa Bulusan menurut menurut usia secara keseluruhan dapat dilihat dalam daftar di bawah ini :
Tabel 1. Daftar penduduk desa bulusan menurut kelompok umur
No Urut Golongan Umur Jumlah
1 0-6 tahun 730 2 7-12 tahun 633 3 13-15tahun 639 4 16-19tahun 831 5 20-26tahun 1.160 6 27-40tahun 712 7 41-60tahun 831 8 61 ke atas 573 Jumlah 4566
b. Komposisi Penduduk Berdasarkan Tingkat Pendidikan
Peran aktif penduduk dalam mensukseskan program-program Pembangunan untuk kemajuan desa dan untuk mencapai tingkat kesejahteraan yang tinggi sangat mutlak dapat ditentukan oleh tingkat pendidikan atau kualitas dari warganya. Penduduk Desa Bulusan yang berpendidikan sekolah dasar menunjukkan angka yang relatif rendah, hal ini membuktikan bahwa angkatan kerja yang tersedia cukup memadai kualitasnya.
Untuk itu banyak hal yang harus ditingkatkan dan dipertahankan. Yaitu kesadaran masyarakat akan pentingnya pendidikan bagi putra-putri mereka serta kesadaran masyarakat dalam mensukseskan pembangunan dan pendidikan dasar sembilan tahun yang menjadi program pemerintah akan berjalan dengan baik.
Tabel 2. Daftar penduduk desa bulusan berdasarkan tingkat pendidikan
No Tingkat Pendidikan Jumlah
1 Tamat SD/Sederajat 960
2 Tamat SLTP/Sederajat 294 3 Tamat SLTA/Sederajat 1555 4 Tamat Akademi/Sederajat 235 5 Tamat Perguruan Tinggi 301
c. Komposisi Penduduk Berdasarkan Agama Yang Dianut
Tiga dari lima besar agama yang ada di Indonesia dianut oleh penduduk Desa Bulusan yaitu agama Islam, Katholik dan Kristen. Ketiga agama tersebut telah hidup bersama-sama secara damai dan berdampingan. Di mana masing-masing agama telah melaksanakan ajarannya dan saling hormat-menghormati , saling tolong-menolong. Di samping itu, kedua agama tersebut sudah mempunyai tempat ibadah sendiri-sendiri.
Adapun tempat ibadah yang ada di Desa Bulusan sebagai berikut: 1) Masjid : 8 buah
2) Mushola : 7 buah 3) Gereja : 1 buah
Dari ketiga agama tersebut agama Islamlah yang paling banyak penganutnya. Namun demikian kerukunan hidup masyarakat desa Bulusan masih sangat kental dan ini terbukti setiap ada kegiatan sosial maka masing-masing penganut agama dapat bergotong-royong tanpa mengatas namakan agama. Data yang dianut oleh penduduk Desa bulusan dapat dilihat daftar berikut
Tabel 3. Daftar penduduk desa bulusan menurut agama yang dianut
No Nama Agama Jumlah
1 Islam 3.814 orang 2 Kristen 471 orang 3 Katholik 263 orang 4 Budha - 5 Hindu - 6 Lain-lain 18 orang
d. Komposisi Penduduk Berdasarkan Mata Pencaharian
Penduduk Desa Bulusan mempunyai beragam mata pencaharian. Mengingat Desa Bulusan daerah pertanian, sehingga penduduk banyak yang bermata pencaharian petani.
Data penduduk Desa Bulusan Menurut Mata Pencaharian
No Mata Pencaharian Jumlah
1 Petani 369 orang
2 Pengrajin /Industri kecil 81 orang
3 Buruh Tani 509 orang
4 Buruh Industri 334 orang
5 Buruh Bangunan 507 orang
6 Pedagang 393 orang
7 Pengangkutan 303 orang
8 Pemulung -
Wilayah Administrasi Pemerintah Desa dan Perangkat Desa a. Wilayah DesaBulusan
Wilayah Desa Bulusan terbagi atas 5 RW
RW I = 8 RT RW II = 6 RT RW III = 6 RT RW IV = 3 RT RW V = 6 RT b. Perangkat Desa
Desa Bulusan dipimpin oleh seorang Kepala Desa yang di tentukan oleh dinas kota. Yaitu :
Kepala Desa = Daliman Sekretaris = -
Kasi Sos = -
Kasi Pemerintah = Khakim KasiTanrib = Hartono Kasi Pembangunan = Suparmi
Kondisi Sosial dan Budaya Masyarakat Bulusan
Penduduk Desa Bulusan mempunyai warisan kebudayaan antara lain: pola hidup, bercocok tanam, perkawinan, tirus penguburan dan sebagainya. Warisan-warisan tersebut yang keseluruhannya dilaksanakan dan dikerjakan dengan teliti diwariskan atau diturunkan kepada generasi muda/penerus dengan modifikasi atau tambahan.
Nilai-nilai religi dan kepercayaan terikat dengan eratnya sistem ekonomi, seperti contoh masyarakat masih membuat sesaji-sesaji waktu panen, punya kerja(mantu) pementasan wayang kulit serta upacara kelahiran bayi. Adat istiadat inilah yang membantu stabilitas masyarakat dalam mempertahankan dan melestarikan warisan kebudayaan nenek moyang.
Kalau dilihat dari daftar menurut mata pencaharian penduduk Desa Bulusan bertani atupun buruh tani , maka segala tingkah laku dan mereka banyak dipengaruhi oleh budaya lingkungan hidup disekelilingnya.
Adapun budaya-budaya yang dimaksud antara lain yaitu:
a. Sifat gotong-royong yang sangat kuat dalam masyarakatnya dalam mengerjakan lahan pertaniannya ( model sambatan )
b. Kepentingan umum lebih diutamakan daripada kepentingan pribadi, hal ini terbukti setiap hari Minggu diadakan bersih desa ( kerja Bakti )
c. Adanya sifat sosial terhadap sesama
Mereka merasa bahwa individu itu tidak bisa lepas dari keterikatan/ bergantung pada masyarakat. Lebih-lebih bagi mereka yang hidup dalam lingkungan pedesaan keterikatan dengan
masyarakat sangat kuat sehingga sifat kebersamaan selalu tercermin dan terwujud dalam setiap kegiatan.
Deskripsi Data Penelitian
1. Perkembangan Wayang Kulit di Desa Bulusan
Pertunjukkan wayang kulit sampai saat ini sudah berumur ratusan tahun. Seiring berjalannya waktu dan jaman yang semakin canggih dan modern kesenian wayang kulit sedikit demi sedikit mulai tersingkir. Banyak kaum muda yang tertarik dengan budaya mancanegara. Namun di Desa Bulusan kesenian wayang kulit masih dilestarikan dan diuri-uri keberadaannya. Hal ini dibuktikan dengan adanya pertunjukkan wayang kulit di setiap tahunnya untuk kegiatan merti desa. Walaupun tidak semalam suntuk namun kesenian waayang kulit masih dipertontonkan.
2. Peran Wayang Kulit Hubungannya dengan Pendidikan Moral
Hampir seluruh lakon atau cerita wayang kulit merupakan tuntunan tingkah laku/moral , hal ini dikatakan oleh SRY 51 tahun seorang dalang bahwa: Dalam cerita wayang banyak menyangkut budi pekerti yang bermanfaat bagi masyarakat di sana dapat digunakan sebagai media pendidikan yaitu untuk memberi pengaruh kepada orang yang melihat pagelaran wayang kulit.
3. Peran Wayang Kulit Dalam Penguatan Budaya Nasional
Kesenian tradisional wayang kulit merupakan kesenian daerah terutama Jawa yang mempunyai nilai yang adiluhung. Walaupun berasal dari daerah namun keberadaan kesenian wayang kulit memperkuat kebudayaan bangsa Indonesia. Hal ini dibuktikan dengan adanya pengakuan dari UNESCO yang menetapkan kesenian wayang kulit sebagai pusaka budaya dunia. Pembahasan Data
Berdasarkan data hasil penelitian mengenai Peran Wayang Kulit Dalam Penguatan Kebudayaan Nasional di Desa Bulusan Kecamatan Tembalang, melalui wawancara mendalam dan observasi langsung yaitu:
1. Perkembangan pagelaran wayang kulit di Desa Bulusan dari tahun ke tahun mengalami kemunduran. Hal ini disebabkan karena kemajuan teknologi serta masuknya pendatang ke wilayah Desa Bulusan. Namun demikian kesenian wayang kulit di Desa Bulusan masih tetap dipertahankan oleh warganya dan dianggap wajib sebagai bentuk syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala anugerah yang dilimpahkan. Terbukti setiap setahun sekali diadakan pagelaran wayang kulit dalam rangka merti desa atau sedekah bumi. Disamping sebagai bentuk syukur pagelaran tersebut juga merupakan bentuk usaha atau kegiatan masyarakat Desa Bulusan dalam melestarikan dan mempertahankan kesenian wayang kulit yang merupakan budaya warisan nenek moyang yang sangat adiluhung.
Bulusan juga selalu bergotong-royong dalam setiap kegiatan sosial. Dan mereka mempunyai falsafah hidup bahwa kerukunan dan kerja keras adalah modal dasar untuk mencapai cita-cita dan akan membuahkan hasil yang memuaskan.
3. Keberadaan kesenian wayang kulit yang sekaligus akan memperkuat kebudayaan nasional di Desa Bulusan sangat dipertahankan dan dilestarikan bagi mereka wayang kulit adalah sebuah akar budaya yang mempunyai nilai seni yang tinggi. Untuk itu kesenian tersebut dilestarikan turun-temurun agar budaya tersebut tetap ada dan tidak luntur dengan adanya perubahan jaman. Agar tidak luntur maka pagelaran wayang disesuaikan dengan keinginan penonton, misal dengan memadukan musik modern ataupun dengan mengalihbahasakan supaya masyarakat yang homogen tahu maksud yang terkandung di dalam cerita wayang kulit tersebut.
KESIMPULAN
Untuk menjawab permasalahan-permasalahan dalam skripsi ini berdasar analisis dan pembahasan hasil penelitian di lapangan sesuai dengan pendekatan kualitatif dapat dirumuskan kesimpulan sebagai berikut :
1. Perkembangan wayang kulit di Desa Bulusan Kecamatan Tembalang masih dipertahankan kelestariannya dan bagi masyarakat Desa Bulusan pagelaran wayang kulit merupakan sesuatu yang wajib sebagai wujud syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Walaupun bersaing dengan budaya asing pertunjukkan wayang kulit masih eksis walaupun jam tayang dikurangi yang tadinya digelar siang malam namun sekarang digelar/ dipertontonkan hanya semalam saja. Karena sekarang ini biaya untuk pementasan wayang kulit sangat mahal sehingga masyarakat Desa Bulusan sebagian ada yang merasa keberatan. Namun walaupun demikian pagelaran wayang kulit tetap dilaksanakan setahun sekali. Di samping itu dalam pagelaran wayang kulit sekarang dipadukan dengan teknologi misalnya musik wayang yang dulu hanya gamelan sekarang ditambah dengan musik modern. Bahasa dalam wayang tidak hanya bahasa Jawa tetapi ditambah dengan bahasa Indonesia agar semua lapisan masyarakat tahu dan mengerti isi dari cerita wayang tersebut karena pada saat ini anak muda kurang menyukai dan penduduk pendatang.
2. Peran wayang kulit hubungannya dengan pendidikan moral, cukup berperan karena seluruh lakon yang dibawakan dalam pagelaran wayang kulit merupakan tuntunan tingkah laku manusia. Hal ini dapat dilihat dari cerita wayang kulit yang banyak menyangkut budi pekerti yang sangat bermanfaat bagi masyarakat. Nilai-nilai kehidupan seperti kepahlawanan, kesetiaan, keberanian, gotong-royong dan lain sebagainya. Dengan kata lain budi pekerti yang disampaikan dalam pagelaran wayang kulit itu mengena atau tidak tergantung pada orangnya.
3. Peran wayang kulit dalam penguatan kebudayaan nasional di Desa Bulusan sangat berpengaruh terhadap kelestarian dan kelangsungan kebudayaan di Indonesia. Dengan masih dilestarikannya suatu tradisi di daerah apalagi dipertontonkan di daerah lain maka kedudukan budaya bangsa akan semakin kuat. Apalagi jika pemerintah mau dan mampu memfasilitasi pagelaran/pertunjukkan
untuk dapat hidup berdampingan dengan kebudayaan mancanegara dengan tour ke luar daerah ataupun luar negeri. Keberadaan kesenian wayang kulit harus selalu dilestarikan supaya tidak diklaim oleh negara lain. Siapa lagi kalau bukan bangsa sendiri yang mempertahankan budaya sendiri. Yaitu dengan memodifikasi music, lagu, ataupun tata dekorasi pagelaran wayang supaya para penonton lebih tertarik. Kemudian dalang dalam menyampaikan cerita harus diselingi humor agar penonton tidak merasa jenuh.
DAFTAR PUSTAKA
Akbar Kaelola. 2010. Mengenal Tokoh Wayang Mahabarata. Cakrawala. Jakarta. Amrin Ra‟uf 2010. Jagad Wayang. Garailmu. Yogyakarta.
Amir Mertosedono,1999, Sejarah Wayang, PT Gunung Agung, Jakarta.
Barnas Sumantri dan Kanti Waluyo, 1999, Hikmah Abadi, Pustaka Belajar, Yogjakarta. Budiono Herusatoto. 2008. Simbolisme Jawa. Penerbit Ombak. Yogyakarta..
Heru S Sudjarwo, Sumari. 2010 . Rupa dan Karakter Wayang Purwa. Kaki Langit Kencana. Jakarta
Http://www.org//iaci/Seni Pertunjukkan Mei 2012.
Ismail , 1990, Wawasan Jati Diri, Effar dan Dahara Prize, Semarang.
Koentjaraningrat, 1990, Pengantar Ilmu Antropologi Budaya, Rineka Cipta, Jakarta.
Marwanto , Sekar dan R Budhy Muhanto, 2000, Apresiasi Wayang, CV Cendarawasih, Sukoharjo. Sri Mulyono, 1998, Wayang, PT Gunung Agung, Jakarta.
Soejono Soekamto, 2002, Sosiologi Suatu Pengantar, Rajawali Pers, Jakarta. Wiwien Widyawati R, 2009, Ensiklopedia Wayang, Pura Pustaka, Jakarta.
--- 1998a. Serat Ramayana, Reroncen Balungan Pakem Cariyos Ringgit