• Tidak ada hasil yang ditemukan

Jurnal analisa air boiler 5

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Jurnal analisa air boiler 5"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS TERJADINYA BATU KETEL PADA

ANALISIS TERJADINYA BATU KETEL PADA

KETEL UAP PIPA AIR

KETEL UAP PIPA AIR

DI BALI INA HOTEL - SANUR

DI BALI INA HOTEL - SANUR

I Nyoman Gunung dan I Nengah Ludra Antara

I Nyoman Gunung dan I Nengah Ludra Antara

Jurusan Teknik Mesin Politeknik Negeri Bali Jurusan Teknik Mesin Politeknik Negeri Bali Bukit Jimbaran, P.O Box 1064 Tuban, Badung Bali Bukit Jimbaran, P.O Box 1064 Tuban, Badung Bali

Phone: +62-361-7019, Fax: +62-361-701128 Phone: +62-361-7019, Fax: +62-361-701128

Abstrak:

Abstrak: Bentuk dari ketel uap secara garis besar merupakan suatu bejana tertutup, kalor dari pembakaran bahan bakarBentuk dari ketel uap secara garis besar merupakan suatu bejana tertutup, kalor dari pembakaran bahan bakar dipi

dipindahndahkan kan ke ke air air melmelalui alui ruang ruang bakbakar ar dan dan bidbidang-ang-bidbidang ang pempemanasanas.. .. Di Di BaBali li keketetel l uauap p sesebabagagai fi fasasililititas as ututamama ya yanangg dapat melancar kegitan hotel sehari-hari, untuk memasak, mengeringkan cucian (l

dapat melancar kegitan hotel sehari-hari, untuk memasak, mengeringkan cucian (londryondry), mandi dan), mandi dan sebagainya. Pada dasarny

sebagainya. Pada dasarnya a air terkandung banyair terkandung banyak kotoran-kotoran, derajat keasaman (pHak kotoran-kotoran, derajat keasaman (pH) menunjukkan) menunjukkan suatu larutan yang

suatu larutan yang mempunyai sifat basa, asam ataukmempunyai sifat basa, asam ataukah netral. Nilai pH beah netral. Nilai pH berkisar antara 0-14, pH yangrkisar antara 0-14, pH yang  bersifat a

 bersifat asam sam memiliki nilai memiliki nilai pH pH <7, <7, sedangkan sedangkan yang yang bersifat bersifat basa basa mempunyai mempunyai nilai nilai pH pH >7, >7, jika jika pH pH = = 77 maka bersifat netral. Untuk mencapai standar air tersebut perlu suatu pengelolahan air yang baik sebelum maka bersifat netral. Untuk mencapai standar air tersebut perlu suatu pengelolahan air yang baik sebelum masuk ke Ketel Uap (

masuk ke Ketel Uap ( Boler  Boler ). Dalam pengelolahan air dilakukan dengan ). Dalam pengelolahan air dilakukan dengan sistem pemurnian air dengansistem pemurnian air denganWaterWater Treatment 

Treatment , yang mana untuk mencegah terjadinya korosi, penyerahan panas dari gas asap kepada air,, yang mana untuk mencegah terjadinya korosi, penyerahan panas dari gas asap kepada air,  pemanasan setempat, dan menjaga paramete

 pemanasan setempat, dan menjaga parameter air pengisi ketel sehingga dapat teratasi r air pengisi ketel sehingga dapat teratasi terjadinya batu ketelterjadinya batu ketel  pada

 pada Boiler  Boiler  tersebut. tersebut. Kata Kunci

Kata Kunci: Terjadi Batu Ketel dan Pemurnian Air: Terjadi Batu Ketel dan Pemurnian Air

 Abstract:

 Abstract: Boiler is  Boiler is generally o closed vessel where heat generally o closed vessel where heat resulted from combustion of fuel is transferred toresulted from combustion of fuel is transferred to water through combusting chamb

water through combusting chamber and heating components. In er and heating components. In Bali, boiler functions as the main faciBali, boiler functions as the main facilitylity  for

 for hotel hotel daily daily activities, activities, including including cooking, cooking, laundering, laundering, bathing, bathing, and and some some others. others. Basically, Basically, waterwater contains impurities where degree of acid (pH) shows a sulition that has property of alkaline, acid, or contains impurities where degree of acid (pH) shows a sulition that has property of alkaline, acid, or natural. Value of pH is between 0 – 1

natural. Value of pH is between 0 – 1 4, acid contains pH value less that 7, 4, acid contains pH value less that 7, and alkaline pH is more than 7,and alkaline pH is more than 7, while pH value = 7 i

while pH value = 7 is considered naturals considered natural. To reach the standar, . To reach the standar, the water requithe water requires a proper res a proper waterwater management before entering the boiler where water management is done with water purification system management before entering the boiler where water management is done with water purification system with w

with water treatment to prevent corrosion, heat ater treatment to prevent corrosion, heat transfer from gas fume to wtransfer from gas fume to water, local ater, local heating, andheating, and treatment of boiler – filling water parameter so

treatment of boiler – filling water parameter so as to overcome kettle sediment in the boiler.as to overcome kettle sediment in the boiler.  Key words

 Key words: kettle sediment, water purification.: kettle sediment, water purification. I. PENDAHULUAN

I. PENDAHULUAN

Perkembangan ilmu pengetahuan dan Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi be

teknologi begitu berkembang sgitu berkembang sangat angat pesat, adanypesat, adanyaa kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi tersebut kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi tersebut mempengaruhi adanya pertumbuhan mempengaruhi adanya pertumbuhan Industri-industri yang sangat pesat pula di tanah air. Ketel industri yang sangat pesat pula di tanah air. Ketel atau pembangkit uap adalah salah satu dari sekian atau pembangkit uap adalah salah satu dari sekian  banyak

 banyak peralatan peralatan dalam dalam siklus siklus eenenergrgi i ttheherrmmal al yyanangg  b

 beertrtujujuuaan un untntuk uk memerurubbaah h aiair r memenjnjadadi ui uap ap yyanang g bbeergrguunana. . UUaapp yang dihasilkan tersebut kemudian dapat membangkitkan yang dihasilkan tersebut kemudian dapat membangkitkan tenaga mekanik atau mensuplai panas bagi keperluan industri ( tenaga mekanik atau mensuplai panas bagi keperluan industri ( manufacturing proses).

manufacturing proses).  Bentuk dari ketel uap secara garis  Bentuk dari ketel uap secara garis  b

 beesasar r mmeerrupupaakakan n ssuuaatu tu bbeejjaana na tetertrtututuup, kp, kaalloor r dadarri i pepembmbakakaararann  b

 bahahaan n bbakakaar r ddiippiindndaahhkakan n ke aike air r memelalalului i ruruaang bang bakkaar r dadann  b

 biidadangng--bbididanang g pepemmananaass. . EEnenergrgi i dadallaam m ((intenal energi)intenal energi) dari air dari air akan meningkat seiring dengan meningkatnya temperatur dan akan meningkat seiring dengan meningkatnya temperatur dan tekanan.. Pada suatu tingkat keadaan tertentu air akan berobah tekanan.. Pada suatu tingkat keadaan tertentu air akan berobah menjadi uap (menguap). Sumber kalor untuk ketel uap dapat menjadi uap (menguap). Sumber kalor untuk ketel uap dapat  b

 beeruruppa a bbaahahan n bbakakaar r dadallam am bbeentntuuk k ppadadatat, , ccaiair r atatau au ggasas. . BBahahkakann dewasa ini sumber kalor dengan menggunakan energi listrik dewasa ini sumber kalor dengan menggunakan energi listrik

atau nuklir

atau nuklir banyak dikembanyak dikembangkan. Kalor abangkan. Kalor atau panas tau panas yangyang dihasilkan dari pembakaran bahan bakar dipindahkan ke air dihasilkan dari pembakaran bahan bakar dipindahkan ke air atau ke uap melalui bidang pemanas.

atau ke uap melalui bidang pemanas.

Pada dasarnya ketel uap pipa api terdiri Pada dasarnya ketel uap pipa api terdiri dari sebuah bejana tekanan (ketel) berisi air dari sebuah bejana tekanan (ketel) berisi air (tangki) dan sejumlah pipa yang merupakan laluan (tangki) dan sejumlah pipa yang merupakan laluan  bagi gas

 bagi gas panas, panas, dan dan energi panas energi panas dipindahkan daridipindahkan dari gas panas terseb

gas panas tersebut ke ut ke air dalam bejana (Syair dalam bejana (Syamsir Aamsir A Muin, 1988: 327). Panas yang dihasilkan dari Muin, 1988: 327). Panas yang dihasilkan dari  pembakaran

 pembakaran bahan bahan bakar bakar tidak tidak seluruhnya seluruhnya dapatdapat digunakan dalam pembentukan uap, karena digunakan dalam pembentukan uap, karena sebagian panas tersebut ada yang hilang sebagai sebagian panas tersebut ada yang hilang sebagai kehilangan kalor. Diketahuinya besarnya kalor kehilangan kalor. Diketahuinya besarnya kalor yang dihasilkan pada saat pengoperasian ketel uap, yang dihasilkan pada saat pengoperasian ketel uap, maka dapat diketahui efisiensi dan panas maka dapat diketahui efisiensi dan panas  pembentukan

 pembentukan uap uap dari dari masing-masimasing-masing ng ketel ketel yangyang dihasilkan.

(2)

Gambar 1. Ketel Uap Pipa Air

Berkaitan dengan hal tersebut , Bali merupakan sentralnya pariwisata dan merupakan sorga dunia. Dalam menunjang kebutuhan  pariwisata sebagai fasilitas salah satunya adalah,  penginapan (Hotel). Perkembangan industri  perhotelan di Bali begitu pesat, sehingga dalam mendukung pasiltas hotel terebut yaitu: Ketel Uap (Steam Boiler), terutama hotel- hotel berbintang, maka dari itu d1 coba mengangakat permasalahan yang pernah dihadapi salah satu Hotel di Bali, yaitu : Bali Ina Hotel yang berlokasi di Sanur yang  pernah mengalami terjadinya batu ketel khusus  pada ketel uap pipa api, oleh karena itu dalam industri perhotelan di Bali ketel uap sebagai fasilitas utama yang dapat melancar kegitan hotel sehari-hari, untuk memasak, mengeringkan cucian (londry), mandi dan sebagainya.

II. METODE PENELITIAN 2.1 Lokasi Penelitian

Bali Ina Hotel Sanur adalah suatu  perusahaan daerah yang bergerak pada bidang

Industri perhotelan yang mana dalam memenuhai uap panasnya untuk keperluan memasak , mandi, mengeringkan pakian pada proses londry dan lain-lain. Uap adalah gas yang timbul akibat perubahan fase air (cair) menjadi uap ( steam) dengan cara  pendidihan. Proses pendidihan memerlukan energi  panas yang diperoleh dari sumber panas misalnya

dari pembakaran bahan bakar yang berupa padat, cair ataupun gas.

2.2 Jenis dan Sumber Data

Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei dan eksperimen, yaitu  bagian dari pada metode penelitian kuantitatif (Sugiyono:12) yang mana data didapat dari tempat tertentu yang alamiah (pengamatan), tes, wawancara tersetruktur dan mengumpulkan data  bersifat emic, yaitu berdasarkan pandangan dari sumber data. Dalam pelitian ini data didapat dengan cara pengamatan langsung di lapangan, dalam tinjauan fustaka yang bersifat ilmiah, dan wawancara perbandingan pengamatan di lapangan dengan tinjauan pustaka secara i lmiah.

2.3 Perbandingan Hasil Uji A. Kotoran pada Air Pengisi

Tanpa mengingat apakah kelarutan bahan itu naik atau turun dengan adanya temperatur, sehingga kadar bahan padat di dalam air ketel naik oleh karena penguapan yang terus menerus. Yang  paling penting adalah kemungkinan akibat yang dapat ditimbulkan oleh bahan-bahan tersebut terhadap ketel uap, berupa kotoran-kotoran secara kasar yang dapat diklasifikasikan sebagai berikut:

1. Gas-gas yang terlarut, dibedakan atas gas-gas inert   dan gas-gas yang menyebabkan korosive, gas-gas inert  adalah nitrogen dan hydrocarbon, gas-gas yang menyebabkan korosive adalah, oxygen, carbon dioxide danhydrogen sulfide.

2. Bahan-bahan padat yang terlarut dibedakan sebagai berikut, pertama bahan-bahan  padat yang hanya larut sedikit, kebanyakan garam-garam senyawa calcium dan magnesium. Juga minyak dan silica, kedua  bahan-bahan padat yang mudah larut termasuk semua garam dapur (NaCl), natrium sulfat, natrium carbonat, natrium nitrat   dan natrium silicat, juga natrium hydroxide, natrium phosphat e, asam-asam dan senyawa-senyawaorganik  tertentu. 3. Bahan-bahan padat yang mengendap

termasuk tanah liat dan lumpur-lumpur,  benda-benda organik dan  anorganik , pada umumnya terdapat pada sungai-sungai dan air yang mengalir, semua bahan tidak terlarut.

4. Larutan-larutan yang tak terlarut, seperti minyak gemuk, sabun dan lain sebagainya, mempunyai suatu pengaruh yang merusakkan pada air ketel uap.

(3)

B. Specifikasi air pengisi ketel

1. Oxygen terlarut: lebih baik 0 dan tidak lebih dari 0,05 cc/L untuk ketel uap; dimana digunakan economizer   dengan pipa-pipa  baja.

2. PH tidak kurang dari 7; kebasan yang  berlebihan dari yang dibutuhkan untuk  pengolahan atau perlindungan terhadap  pipa-pipa pengisi atau asam nitrat , harus

dibuat seminimum mungkin.

3. Kesadahan: lebih baik bila 0, tidak lebih dari 26 ppm yang dinyatakan dalam calcium carbonat.

4 Chloride: diinginkan yang serendah mungkin. Bila digunakan untuk condenser tidak boleh lebih dari 6 ppm dalam bentuk

chlorine.

5. Minyak harus tidak ada

6. Jumlah bahan padat harus dibuat menjadi seminimum mungkin

7. Jumlah bahan-bahan padat yang mengendap harus tidak ada

8. Bahan-bahan organik  tidak lebih dari 5 ppm

C. Bidang Pemanas

Bidang pemanas adalah : dinding-dinding ketel yang menerima kalor dari api atau gas asap dan memberikan panas tersebut ke air atau uap. Perpindahan kalor pada ketel dapat terjadi dengan tiga cara atau kombinasi dari kertiganya yaitu:

1. Perpindahan panas secara konduksi.Adalah proses  perpindahan panas dari suatu bagian ke bagian lain dalam satu material atau material yang saling  bersentuhan. Pada ketel Uap proses konduksi itu terjadi  pada dinding ruang bakar, dinding pipa gas asap, dan

dinding pipa air.

2. Perpindahan kalor secara Konveksi.,yaitu :proses  perpindahan panas oleh kombinasi proses konduksi,  penyimpanan energi dan gerak pencampuran. Dengan kata lain konveksi adalah konduksi yang berlansung secara serentak dengan aliran fluida. Pada ketel Uap  proses konveksi terjadi pada gas asap dengan dinding  pipa gas asap, dinding pipa gas asap ke air.

3. Perpindahan panas secara Radiasi, yatitu : proses  perpindahan kalor yang terpancarkan dari benda  bertemperatur tinggi kebenda bertemperatur rendah yang terpisah satu sama lain tanpa media penghantar. Pada ketel Uap proses radiasi terjadi pada ruang bakar yaitu dari api ke dinding ruang bakar. Seacara garis  besar suatu pembangkit uap mempunyai komponen utama sbb: ruang bakar , tangki air, dan pipa-pipa ketel.

III. PEMBAHASAN

3.1 Sebab Terjadinya Batu Ketel

Batu ketel disebabkan oleh beberapa macam hal, di antaranya adalah air pengisi, adanya minyak yang larut dibawah oleh air pengisi, korosi ,

 penyerahan panas dari gas asap kepada air , dan terjadinya pemanasan setempat.

3.1.1 Air Pengisi Ketel

Air alam yang digunakan untuk pengisian ketel uap pada umumnya mengandung bahan- bahan padat dan gas-gas terlarut pada air sehingga, terjadinya pembentukan kerak di dalam ketel, terjadinya pembentukan buih dan percikan yang menyebabkan korosi, dan Caustic embrittlement,

 pada Ina Hotel air pengisi menggunakan air PDAM dan sumur bor, untuk menghilangkan gangguan-gangguan pada air pengisi adalah sangat penting, dalam hal ini untuk menganalis setiap air yang akan digunakan sebagai pengisi ketel dan menentukan setiap sifat dari air dan menentukan cara terbaik adalah sistem pengolahannya. Dimana kotoran-kotoran yang terkandung dalam air secara kasar dapat diklasifikasikan seperti uraian diatas, untuk itu air sebelum masuk Boiler  perlu diproses dengan sistem pemurnian ari (Water Treatment ).

3.1.2 Pemurnian Air.

Untuk mengatasi hal tersebut perlu suatu  pengelolahan air yang baik sebelum masuk ke Ketel Uap ( Boiler ), dimana dalam pengelolahan air dilakukan dengan system pemurnian air dengan

Water Treatment  (seperti gambar 2).

Gambar 2. Pemurnian Air Model RO

Sistem pemurnian air bertujuan untuk menghilangkan mineral – mineral yang tidak diinginkan dalam proses produksi uap di boiler. Ada beberapa sistem pemurnian air skala industri yang biasanya digunakan. Seperti demineralisasi

(demin plant ) dan Reverse Osmosis. Secara singkat  proses demineralisasi  menggunakan resin – resin

 penukar ion.  Resin  yang telah jenuh dapat diregenerasi menggunakan senyawa kimia seperti H2SO4 (asam sulfat ) untuk kation  dan NaOH

( Natrium Hidroksida) untuk anion. Prinsip kerja

 Reverse osmosis  mengalirkan air dari daerah  berkonsentrasi rendah ke daerah berkonsentrai tinggi menggunakan membran  semipermeables.

(4)

Keunggulan reverse osmosis  dibanding  resin  penukar ion  adalah RO dapat menangkap larutan garam yang di dalamnya terdapat unsur   Magnesium  (Mg), kalsium  (Ca), bikarbonat , dan

kalsium karbonat  (CaCO3). Air pengisi yang telah

dimurnikan akan di tampung, di tangki  penampungan dimana suhu air pengisi harus dijaga  pada sekitar 900  C dan diinjeksikan bahan-bahan kimia untuk menghilangkan kandungan mineral yang masih tersisa dan menaikkan alkalinity.

3.1.3 Parameter Air Pengisi.

Air laut, air sumber, dan air yang lain, kandungan bahan padatnya sangat tinggi, maka kurang baik untuk digunakan secara langsung sebagai air pengisi ketel. Pada umumnya air selalu mengandung gas-gas terlarut termasuk oxygen dan carbon dioxide. Carbon dioxide membentuk suatu asam lemah yang dapat menambah daya larut  bahan lain di dalam air. Jadi dengan adanya asam carbonat ini dapat melarutkan sejumlah bahan dalam jumlah agak banyak seperti calcium dan magnesium yang ada di dalam tanah. Untuk itulah  perlu suatu proses pemurnian air sebelum masuk

boiler  , dengan syarat air pengisi harus memenuhi standar. Ada beberapa hal yang dapat menentukan kualitas air untukboiler , yaitu:

a. Derajat Keasaman (pH)

Pada penetapan derajat keasaman ini dilakukan dengan metode  potensiometri. Pengukuran pH sangat penting untuk dikontrol karena pH berfungsi untuk menentukan tingkat laju korosi yang terjadi dan berpengaruh tehadap  pembentukan kerak dan korosi.

Dari data yang didapat nilai pH pada air boiler  dari beberapa perusahaan banyak yang tidak masuk ke dalam limit yang sudah ditetapkan, nilai yang didapat ada yang di bawah limit dan ada pula yang melewati limit. Ini dikarenakan mungkin ada kontaminasi yang terjadi di dalam sistem boiler , dan ini akan berakibat rusaknya pada sistem boiler yaitu mengakibatkan terjadi batu ketel yang di sebabakan oleh adanya kerak sehingga terjadilah kebocoran pada pipa-pipa, oleh karena itu pH harus dikontrol agar kebocoran pipa tidak terjadi oleh asam dan pembentukan kerak. Apabila pH naik maka alkalinitas  pun akan naik, dan korosi akan  berjalan dengan cepat. Pada pH rendah akan terjadi korosi dan pada pH tinggi akan terjadi kerak. Selain itu pH tinggi menimbulkan busa, sehingga akan menimbulkan carry over . Korosi yang  berkelanjutan akan mengakibatkan bocornya pipa dan mengurangi efisiensi perpindahan panas. Untuk mencegah terjadinya korosi dapat dilakukan dengan penambahan bahan kimia penghambat korosi (corrosion inhibitor ) padaWater Treatment.

 b. Konduktivitas

Pengukuran dilakukan dengan metode konduktometri  dengan alat konduktometer . Pengukuran konduktivitas  bertujuan untuk mengetahui kemampuan air dalam menghantarkan arus listrik. Dengan mengetahui nilai konduktivitas dapat diketahui banyaknya ion-ion yang terlarut di dalam air tersebut. Konduktivitas sebanding dengan kadar zat terlarut dalam bentuk ion. Dari data yang didapat ada beberapa nilai konduktivitas yang tetap di bawah limit yang telah ditetapkan maka dengan nilai konduktivitas yang terkontrol akan dihasilkan uap panas yang baik dan dapat meminimalisasi korosi. Hal ini menunjukkan bahwa kation dan anion  yang berada dalam air boiler   masih dapat dikendalikan.

c. Alkalinitas

Penetapan alkalinitas dilakukan secara titrimetri, alkalinitas  disebabkan oleh ion bikarbonat , dan tahap tertentu ion karbonat dan hidroksida dalam air, dan ketiga ion tersebut dalam air akan bereaksi dengan ion hidrogen sehingga menurunkan kemasaman akan menaikkan  pH. Alkalinitas  berhubungan dengan pH air, jika alkaliniti  rendah berarti pH air tinggi dan sebaliknya. Untuk itu alkalinitas  air ketel harus diatur sedemikian rupa sehingga pH air normal. Karena pada pH rendah akan terjadi korosi dan  pada pH tinggi akan terjadi buih. Analisis yang dilakukan pada penetapan alkalinitas adalah titrasi asam basa, dengan menggunakan H2SO4 0.02 N

sebagai titran, sedangkan asam sulfat   ini merupakan asam kuat maka akan menetralkan ion-ion alkalinitas  yang merupakan basa sampai titik akhir titrasi dengan pH 4,3 sampai 8,3. Dari data yang didapat alkalinitas sudah cukup baik, nilai alkalinitas rendah dan masih bisa ditolerir, apabila air ketel uap nilaialkalinitas cukup tinggi dan tidak sebanding dengan nilai kesadahannya, maka dikhawatirkan akan menyebabkan karat pada pipa, kadar alkalinitas  yang rendah dan tidak seimbang dengan kesadahan dapat menyebabkan terbentuknya kerak CaCO3  pada dinding pipa,

sehingga dapat memperkecil penampang basah  pipa. Sedangkan kadar alkalinitas yang tinggi dapat menyebabkan karat pada pipa akan menimbulkan batu ketel, untuk mencegah hal ini  perlu dilakukan blowdown.

d. Kesadahan.

Kesadahan total karena disebabkan adanya ion-ion Ca2+, Mg2+, Mn2+, Fe 2+ dan semua kation yang bermuatan positif dua, dari data yang didapat  pada penetapan kesadahan baik maupun  kalsium, tidak ada yang masuk ke dalam limit yang telah ditetapkan, dan ini dapat menyebabkan terbentuknya kerak dan endapan pada sistem ketel

(5)

uap, sehingga terbentuklah batu ketel yang dapat mengurangi efisiensi perpindahan panas dari udara yang mengalir dalam pipa ke air. Maka u paya yang dapat dilakukan dengan melakukan blowdown. e.Silika

Pada penetapan silika, menggunakan metode

 spektrofotometri  dengan menggunakan

 spektrofotometer visible DR 2800 dan diukur pada  panjang gelombang 815 nm. Sampel air ketel uap

direaksikan dengan menggunakan asam  dan

molibdenum, membentuk warna biru, sedangkan

 Intensitas  warna yang terbentuk secara otomatis

akan dibandingkan dengan internal   standar silika

yang ada di dalam alat. Silika  dalam sistem  pemanas perlu dikontrol karena dapat menyebabkan kerak  silika  yang keras dalam sistem, apabila didiamkan lama-kelamaan akan menimbulkan batu ketel sehingga menyumbat saluran dalam sistem.

f. Besi

Pada penetapan besi, dilakukan dengan menggunakan metode  spektrofotometr i, dengan menggunakan alat  spektrofotometer   DR 2800 diukur pada panjang gelombang 510 nm. Berdasarkan hasil yang didapat, pada penetapan  besi nilai tersebut masih di bawah limit yang telah ditetapkan. Kadar besi harus dikontrol karena merupakan indikator terjadinya korosi pada sistem  pemanas. Korosi dapat menurunkan efisiensi

 perpindahan panas dan terjadinya kebocoran pada  pipa sistem.

g. Pospat 

Penetapan  pospat dilakukan dengan menggunakan metode  spektrofotometri dengan menggunakan alat spektrofotometer  DR 2800 pada  panjang gelombang 890 nm. Berdasarkan data yang didapat, tidak memenuhi limit yang telah ditetapkan, namun hal ini tidak menjadi masalah karena  pospat   tidak merugikan bagi sistem  pemanas, karena sifat  pospat   dapat membentuk

kompleks dengan zat-zat penyebab terjadinya karat dan endapan, maka pospat merupakan zat anti kerak dan anti karat.

h. Sulfit 

Penetapan  sulfit   dilakukan dengan menggunakan metode titrasi. Sulfit   di dalam ketel uap sebagai oksidator   karena untuk mengurangi atau menghilangkan oksigen terlarut didalam air,

 sulfit   akan bereaksi dengan oksigen menjadi sulfat . Dari data yang didapat, hampir semua kadar sulfit 

masuk ke dalam limit yang telah ditetapkan namun ada beberapa data yang nilainya tidak masuk ke dalam limit ada yang hasilnya rendah dan ada pula diatas limit, hasil yang sangat rendah mungkin  pada penambahan pereaksi yang mengandung sulfit 

sangat sedikit sehingga oksigen banyak yang

terlarut di dalam air. Jika kekurangan dosis sulfit 

maka dapat menyebabkan korosi dalam sistem

boiler , dan jika bila kelebihan dosis  Sulfit   maka dapat menyebabkan kehilangan energi karena

blowdown boiler   harus lebih banyak untuk menurunkan kandungan padatan terlarut dalam air

boiler ,

maka  Blowdown  pada  Boiler   harus mempunyai

 schadule oftimal   sehingga endapan-endapan yang akan menimbulkan batu ketel dapat teratasi.

3.2 Korosi

Korosi di dalam ketel uap atau peralatan air  pengisi dapat disebabkan olh beberapa senyawa yang dapat mempercepat terjadinya korosi di dalam ketel uap terutama: oxygen  yang terlarut, asam-asam, endapan yang dipermukaan, terutama yang mempunyai sifat electronegative  terhadap  baja, gabungan logam yang tak disukai, seperti tembaga dan baja, dan adanya electrolytes, seperti larutan garam. Untuk mengatasinya korosi tersebut adalah: menghilangkan gas-gas yang terlarut di dalam air pengisi, terutama o xygen  dan carbon dioxide yang terlarut dalam air, dengan proses

aerasi, penetralan asam-asam dan mempertahankan

alkalinity, pH di dalam air pengisi, pembersihan mesin (Boiler ) secara berkala, meniadakan konsentrasi garam yang berlebihan.

Di samping itu, korosi bisa disebabkan oleh suhu tinggi, dimana suhu sampai 950º F reaksi korosi ini lambat, sedangkan diatas suhu itu uap dapat bereaksi dengan besi (iron), seperti rumus kimia berikut :

3 Fe + 4 H2 O Fe 3 O4 + 4 H2

iron steam Black Magnetic Hydrogen oxide

Korosi juga bisa disebakan kelelahan dari komponen-komponen Boiler itu sendiri dimana adanya tekanan logam dan dapat berkarat dalam  bentuk lobang yang dalam dan runcing, yang akhirnya berkembang memanjang seperti celah atau menjadi retak. Bila kejadian ini tidak dihentikan, maka bagian yang diserang ini akhirnya menjadi lemah. Penelitian secara mikroscopis

menunjukkan bahwa kejadian itu terjadi dalam suatu cara yang karakteristis bahwa retak yang dihasilkan adalah transcryslline, dan dalam bentuk hampir garis lurus atauCaustic Embrittlement . 3.3 Penyerarahan Panas

Penyerahan panas yang dimaksud yaitu  penyerahan panas dari gas asap kepada air. Dimana yang lewat pada pipa-pipa air itu diambat oleh endapan-endapan air sehingga menimbulkan batu ketel. Oleh karena itu batu ketel mengisolasikan  permukaan pipa air yang berhubungan langsung

(6)

dengan air, sehingga penyerahan panas kepada air akan berkurang dan apabila batu ketel telah mencapai susunan dan tebal tertentu maka panas dari gas asap sama sekali tidak tercapai atau sampai lagi pada air. Dalam hal mengatasi tidak terjadi batu ketel dilakukan merawat yang oftimal dengan jadwal perawatan yang tepat dan berkala, serta melakukan pengurasan (blowdown) pada  Boiler .

3.4 Pemanasan Setempat

Terjadinya pemanasan setempat yaitu, panas yang lewat pada pipa-pipa air yang tidak ditransfer oleh air, karena tebalnya kerak yang menempel di sepanjang pipa-pipa air menimbulkan batu ketel, sehingga panas yang diterima di sepanjang pipa- pipa tersebut terus-menerus, tetapi pada bagian

yang terjadi lapisan batu ketel tersebut tidak dapat  pendinginan lagi dari air. Tujuan semula adalah dipanaskan, ke mudian menjadi panas sekali (over heating ) , dan pada suatu keadaan tertentu pipa air tersebut akhirnya berubah bentuk. Apabila hal ini  berlangsung lebih lama dan berlanjut terus-menerus, maka pipa-pipa air tersebut dipastikan akan berubah bentuk dan lama kelamaan bisa  pecah. Dalam pencegahan yang dilakukan yaitu,  pengolahan air pengisi ketel harus memenuhi  sfesikasi yang terlah diuraikan di atas serta

melakukanblowdown tepat waktu.

IV. PENUTUP SIMPULAN DAN SARAN 4.1 Simpulan

Dari uraian di atas dapat disimpulkan  bahwa, pada dasarnya ketel uap pipa api terdiri dari sebuah bejana tekanan yang berisi air dan sejumlah  pipa yang merupakan laluan bagi gas panas, dan energi panas dipindahkan dari gas panas tersebut ke air dalam bejana. Panas yang dihasilkan dari  pembakaran bahan bakar tidak seluruhnya dapat

digunakan dalam pembentukan uap, karena sebagian panas tersebut ada yang hilang sebagai kehilangan kalor.

Pada dasarnya air terkandung banyak kotoran-kotoran, dan secara kasar dapat diklasifikasikan sebagai berikut: gas-gas, bahan- bahan padat lumpur-lumpur, garam-garam senyawa calcium  dan magnesium,  natrium sulfat, natrium carbonat, natrium nitrat   dan natrium silicat . Juga natrium hydroxide, natrium  phosphate, asam-asam dan senyawa-senyawa  organik   tertentu. Larutan yang tak terlarut, seperti minyak gemuk, sabun. Untuk mengatasi hal tersebut perlu suatu  pengelolahan air yang baik sebelum masuk ke  Boiler . Dalam pengelolahan air dilakukan dengan

sistem pemurnian air dengan Water Treatment . Batu ketel disebabkan oleh beberapa macam hal, di antaranya adalah air pengisi, adanya minyak yang larut dibawah oleh air pengisi, korosi , penyerahan  panas dari gas asap kepada air , dan terjadinya  pemanasan setempat. Disamping itu dari hasil data yang didapat pada parameter air pengisi, dimana konduktivitas  dibawah limit yang ditetapkan, alkalinitas tetap dipertahankan supaya pH air tetap stabil, sedangkan kesadahan, silica, besi, pospat , dan sulfit  dari data didapat semua normal dan baik. 4.2 Saran

Bagi industri yang menggunakan Setam Boiler, yang paling utama diperhatikan adalah standar air pengisi ketel sesuai dengan setandar yang telah di undang-undangkan.

Khusus bagi Ina Bali Hotel, sistem  perawatan dalam melakukan pencatan alat-alat yang menunjang kerja ketel tersebut harus betul di  perhatikan sesusi dengan  schadule  yang telah ada. Dan agar selalu menjaga kualitas air pengisi ketel , untuk mencegah terjadinya masalah-masalah yang ada di sistem yang dikarenakan ada beberapa nilai yang tidak masuk kedalam limit yang telah ditetapkan. Agar dilakukan blowdown tetap waktu serta menambahkan suatu zat aktif dalam sistem boiler , agar boiler  dapat bekerja secara maksimal. Yang paling utama dijaga adalah derajat keasaman (pH) air, karena pH berfungsi untuk menentukan tingkat laju korosi yang terjadi dan berpengaruh tehadap pembentukan kerak dan korosi yang akan menimbulkan batu ketel.

Daftar Pustaka

[1.] LA DI Bruijn dan L Muilwijk, Ketel Uap, Pradnya Pramitra, Jakarta 1980.

[2.] Onewr Books  Ina Bali Hotel,  Maentenant Steam Boiler 

[3.] Silalahi Abel, Ketel Uap II, ATN Malang 1981

[4.] Soemarjo, Ketel Uap, IKIP Malang 1981 [5.] Syamsir A. Muin, Peswat – Pesawat Konversi

Gambar

Gambar 1. Ketel Uap Pipa Air
Gambar 2. Pemurnian Air Model RO

Referensi

Dokumen terkait

Beberapa penelitian mengenai pengaruh zeolit terhadap penurunan kadar air telah dilakukan dan hasil yang didapat cukup membuktikan bahwa zeolit memang mampu mengadsorb uap air

Pada Ketel pipa air seperti tampak pada Gambar 2.2, air umpan boiler mengalir melalui pipa-pipa masuk kedalam drum. Air yang tersirkulasi dipanaskan oleh gas pembakaran membentuk

analisa nilai kalor bahan bakar dan perhitungan efisiensi boiler. Efisiensi adalah suatu tingkatan kemampuan kerja dari suatu alat. Sedangkan efisiensi pada boiler atau ketel uap

ANALISA KADAR SILIKA PADA AIR UMPAN KETEL DAN AIR BOILER DENGAN ALAT LOVIBOND DI PKS PT.. PERKEBUNAN NUSANTARA IV

Adapun manfaat dari penulisan karya ilmiah ini adalah untuk memberikan informasi tentang kandungan silika dari pada air umpan ketel dan air boiler yang. digunakan pada

Drum air merupakan bagian dari ketel yang berisi air, air dalam drum ini selain untuk mendapatkan uap panas juga berguna untuk mencegah terjadinya kenaikan temperatur yang

kelembapan tanah di dalam tekanan uap air tinggi berhubungan dengan lapisan udara kering pada tekanan uap air yang rendah, difusi uap air ke dalam area pengering akan

11/30/2021 16 Bila 1 kg uap dihasilkan dari ketel bertekanan rendah P1 hanya dapat melakukan ekspansi pada Low Steam Turbine hanya menghasilkan daya Ne1, Sedangkan Pada tekanan