II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Perkembangan Bisnis Mie
Mie merupakan makanan populer di kalangan penduduk Asia khususnya Asia Timur dan Asia Tenggara. Penemuan bersejarah oleh Dr. Houyuan Lu dari lembaga geologi dan geofisika Chinesse Academy of Science, membuktikan bahwa mie berasal dari daratan cina.
Mie pertama kali dibuat pada Masa Dinasti Han pada1900 tahun yang lalu. Bahan baku yang digunakan untuk membuat mie pada masa itu terdiri dari dua jenis padi-padian asli Cina yang sudah dibudidayakan sekitar 7000 tahun yang lalu.3 Bahan pembuat mie pada masa Diasti Han tersebut yang membedakan dengan mie yang dibuat pada masa sekarang. Mie yang dibuat pada masa sekarang menggunakan bahan baku utama gandum.
Pembuatan mie pada 1900 tahun yang lalu tersebut menunjukan kecanggihan kuliner dan teknologi pengolahan makanan dari masyarakat yang membuatnya, karena pembuatan mie pada saat itu dilakukan secara manual. Sejak tahun 700-an dibuat mesin pembuat mie berukuran kecil dengan menggunakan alat mekanik. Tahun 1854 ditemukan mesin pembuat mie secara masal oleh T. Misaki.4 Sejak saat itu pembuatan mie mengalami perkembangan yang sangat pesat.
Selain di daratan Cina mie juga meluas sampai ke Jepang, Korea, Taiwan, Negara-negara asia dan juga Eropa. Bahkan pada tahun 1958 di Jepang ditemukan produk mie Instan oleh seorang imigran dari Taipei bernama Mamofuku Ando. Mamofuku Ando memberi nama produk tersebut Chikin Ramen yang berarti Mie Rasa Ayam.5 Sedangkan di Eropa berbeda dengan di Cina, dalam perkembangannya mie yag dibuat berbeda bentuknya. Mie yang dibuat di Eropa berubah menjadi pasta atau Spaghetti yang lebih dikenal sekarang.
Di indonesia mie merupakan makanan yang dibawa pedagang Tionghoa ke Indonesia. Dalam perkembangannya, mie yang ada di Indonesia sudah mengalami penyesuaian bumbu sesuai bahan-bahan yang ada di Indonesia.
3
http://www.ulax.wordpress.com/sejarah-mie-instan/ 24 april 2011 4
Perkembangan bisnis mie di Indonesia seperti mie kering dan mie instan dimulai sejak tahun 1969 yang di pelopori oleh PT Lima Satu Sakyu, yaitu produsen pangan yang memproduksi mie. Bisnis mie tersebut terus bekembang di Indonesia sampai sekarang yang ditandai dengan banyaknya perusahaan-perusahaan yang bergerak di bidang ini seperti PT Indofood, PT Wingsfood, PT Nissin, PT ABC, PT Barokah Inkopontren, PT Jakarna Tama, PT Olagafood, PT Tiga Pilar Sejahtera, dan lain-lain.
Perkembangan industri mie terutama untuk mie kering dan mie instan pada periode lima tahun terakhir mengalami peningkatan produksi yang cukup pesat. Hal ini didorong oleh permintaan yang terus meningkat. Bagi sebagian besar konsumen, produk mie sering menjadi andalan pengganti makanan pokok yang sangat praktis. Sehingga pada saat harga-harga makanan lainnya melonjak, maka konsumen beralih ke produk mie yang relatif lebih murah.
Produksi mie kering dan mie instan terus mengalami peningkatan yang cukup pesat dari tahun ke tahun. Menurut Kementrian Perindstrian Republik Indonesia pada tahun 2004 produksi mie kering dan mi instan tercatat 974 ribu ton atau sekitar 12,9 milyar bungkus. Kemudian terus meningkat masing-masing menjadi 1,0 juta ton (13,5 miliar bungkus) pada 2005 dan 1,3 juta ton (18 miliar bungkus) pada 2006. Produksi mie secara nasional pada 2007 tumbuh sekitar 6,7% dibanding tahun sebelumnya, yaitu mencapai 1,4 juta ton atau dengan jumlah penjualan mencapai 19,2 miliar bungkus. Penurunan pembelian terjadi pada tahun 2008 terutama pada segmen bawah karena peningkatan harga jual mie seiring dengan kenaikan harga bahan baku utama yaitu tepung terigu. Kenaikan harga menyebabkan permintaan pada segmen bawah merosot, hal ini mengakibatkan sebagian produsen mie segmen bawah menghentikan produksi. Namun penurunan tersebut tidak mempengaruhi produksi yang terus meningkat. Tahun 2008 industri mie kering dan mie instan terus meningkat sebesar 7,7% atau menjadi 1,5 juta ton.
Pada tahun 2009 seiring dengan mulai membaiknya daya beli masyarakat, Produksi mengalami pertumbuhan sekitar 20% menjadi 1,8 juta ton. Pada tahun 2010 dan 2011 produksi diperkirakan akan meningkat hingga mencapai atau bahkan melibihi angka 2 juta ton.
2.2 Jenis dan Proses Pembuatan Mie
Berdasarkan kandungan airnya, mie dapat dikelompokan menjadi dua jenis mie yaitu mie basah dan mie kering. Mie basah memiliki kadungan air yang cukup tinggi sehingga mie jenis ini cepat rusak dan biasaya hanya bertahan sampai satu hari. Mie kering memiliki kandungan air rendah sehingga daya simpannya relatif panjang dan mudah dalam penanganannya. Beberapa contoh mie kering diantaranya adalah mie ramen, soba dan mie instan.
Berikut ini adalah beberapa jenis mie yang dapat dijumpai di pasaran (Astawan, 2002) :
1) Mie Segar (Raw Chinesee Noodle)
Mie jenis ini tidak mengalami proses tambahan setelah pemotongan dan mengandung air sekitar 35 persen. Kandungan air yang cukup tinggi menyebabkan mie jenis ini cepat rusak. Penyimpanan dalam lemari es dapat mempertahankan kesegaran mie sampai 50-60 jam. Mie segar umumya dibuat dari terigu yang keras agar mudah penanganannya. Mie segar umumnya digunakan sebagai bahan baku mie ayam.
2) Mie Basah
Mie basah mengalami proses perebusan setelah tahap pemotongan dan sebelum dipasarkan. Kadar air dalam mie basah mencapai 52 persen. Kadar air yang sangat tinggi mengakibatkan daya simpannya relatif singkat (40 jam pada suhu kamar). Di indonesia mie basah dikenal sebagai mie kuning atau mie baso.
3 Mie Kering
Mie kering adalah mie yang telah mengalami proses pengeringan sehingga kadar airnya mencapai 8-10 persen. Pengeringan dilakukan dengan penjemuran di bawah sinar matahari atau dengan oven. Kandungan kadar air yang rendah membuat mie jenis ini mempunyai daya simpan yang relatif panjang dan mudah dalam penanganannya.
4) Mie Instan
Standar Nasional Indonesia (SNI) nomor 3551-1994 mendefinisikan mie instan sebagai produk makanan kering yang dibuat dari tepung terigu dengan tambahan bahan makanan lain dan tambahan makanan yang diizinkan,
berbentuk khas mie dan siap dihidangkan setelah dimasak atau diseduh dengan air mendidih paling lama 4 menit. Kadar air mie instan umumnya mencapai 5 – 8 persen.
Pembuatan mie dapat menggunakan berbagai macam tepung yaitu tepung terigu, tepung beras, tepung kanji atau tepung kacang hijau. Namun mie yang banyak dijumpai di Indonesia menggunakan bahan baku tepung terigu yang berasal dari gandum. Bahan baku yang digunakan dalam proses pembuatan mie adalah tepung terigu, air, telur, garam dapur, air abu untuk pengenyal.
Mutu produk mie dapat ditentukan berdasarkan warna dan kualitas masaknya. Mie yang disukai masyarakat Indonesia adalah mie dengan warna kuning, bentuk khas mie yaitu berupa untaian panjang yang dapat mengembang sampai batas tertentu dan lenting serta kalau direbus tidak banyak terdapat padatan yang hilang (Setyaningrum dan Marsono, 2003). Semua ini termasuk dalam sifat fisik mie yang sangat menentukan terhadap preferensi konsumen.
Proses pembuatan mie terdiri dari beberapa tahapan yaitu : 1) Tahap Pencampuran
Pada tahap ini semua bahan baku pembuat mie dicampur menjadi satu sampai membentuk adonan
2) Tahap Pengulenan
Pada tahap ini adonan diuleni sampai terbentuk adonan yang kalis, licin dan transparan.
3) Tahap pembentukan Adonan
Pada tahap ini adonan yang telah diuleni dibentuk dan dipotong sesuai dengan jenis mie yang akan dibuat.
2.3 Penelitian Terdahulu
Nugraha (2004) dalam penelitiannya menyatakan bahwa kegemaran masyarakat Indonesia mengkonsumsi mie dikarenakan beberapa faktor yaitu tekstur mie yang halus dan mudah dimakan, rasanya yang bersahabat dengan lidah orang melayu, rasanya yang gurih, penampakan yang menarik, kepraktisan dalam penyajiannya. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan alternatif strategi pemasaran yang tepat untuk Bakmi Japos Cabang Bogor.
Berdasarkan hasil analisis SWOT yang dilakukan, didapat bahwa alternatif strategi yang dapat diambil terbagi menjadi strategi jangka pendek dan strategi jangka panjang. Strategi jangka pendek diantaranya pembuatan iklan mini pada surat kabar lokal dan membuat iklan pendek pada radio lokal Bogor.Alternatif strategi jangka panjang yang dapat dilakukan adalah mencari alternatif pemasok bahan baku yang relatif murah, membuat devisi penelitian dan pengembangan, membuat situs internet, dan mendaftarkan diri dalam PHRI (Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia) dan AFI (Asosiasi Franchise Indonesia).
Fahrani (2004) mengkaji tentang srategi pemasaran mie instan dan metode pengolahan dan analisis yang digunakan adalah analisis lingkungan internal dan eksternal (IFE dan EFE), matrix internal-eksternal (IE),dan matriks SWOT.
Hasil penelitian berdasarkan matriks IFE yaitu perusahaan telah memiliki strategi yang baik untuk mengurangi kelemahan internal yang ada. kualitas produk yang baik merupakan kekuatan utama perusahaan, serta pembagian segmentasi, target dan posisi pasar yang belum fokus menjadi kelemahan utama perusahaan.
Berdasarkan analisis matriks EFE diketahui bahwa kemampuan perusahaan untuk memanfaatkan peluang-peluang yang ada dan mengatasi ancaman-ancaman yang dihadapi oleh perusahaan berada pada posisi rata-rata. Ancaman utama perusahaan adalah strategi pesaing intensif dan proaktif. Hasil matriks IE didapatkan posisi perusahaan berada pada sel V, yaitu mempertahankan dan memelihara (Hold and Maintain), sehingga strategi yang paling tepat untuk digunakan adalah penetrasi pasar dan perkembangan produk.
Matriks SWOT yang merupakan perpaduan dari IFE dan EFE, diperoleh alternatif strategi yaitu melakukan perkembangan Produk Salam Mie dengan mengadopsi teknologi yang sedang berkembang , meningkatkan penjualan ekspor, meningkatkan kembali promosi secara intensif dan berkesinambungan, memfokuskan segmentasi, target dan posisi produk di pasar, mengoptimalkan jaringan distribusi, meningkatkan kualitas produk, mempertahankan pelanggan, melakukan niche marketing dan promosi below the line, serta melakukan integrasi ke depan dengan distributor yang juga sister company PT Sentrafood Indonesia.
Fitria (2007), mengkaji tentang strategi pengembangan bisnis kecap. Pada penelitiannya dinyatakan bahwa bertambahnya permintaan terhadap kecap maka meningkat pula jumlah perusahaan yang bergerak di bidang produsen kecap. Usaha kecap PT Korma Jaya Utama masih dalam tahap perkembangan sehingga ancaman dari pesaing yang kuat dan berpengalaman juga mengakibatkan penurunan penjualan perusahaan. Maka untuk menghadapi persaingan tersebut perlu dilakukan langkah strategis untuk dapat memanfaatkan peluang dan mengatasi ancaman.
Fransiska (2008) mengkaji tentang strategi pengembangan usaha restoran mie. Metode pengolahan dan analisis yang digunakan adalah analisis lingkungan internal dan eksternal (IFE dan EFE), matrix internal-eksternal (IE),dan matriks SWOT. Hasil penelitian yang didapatkan dari analisis faktor internal dan eksternal memposisikan restoran saat ini pada kuadran V dalam Matriks IE. Posisi pada kuadran V yaitu “jaga dan pertahankan” (hold and maintain). Strategi yang paling tepat pada perusahaan pada posisi kuadran V yaitu strategi penetrasi pasar dan pengembangan produk.
Hasil dari matriks SWOT pada penelitian ini adalah melakukan promosi pada media cetak dan elektronik, mempertahankan kualitas produk serta membangun hubungan dengan pelanggan untuk menpertahankan loyalitas, melakukan ekspansi dengan memperluas jangkauan fasilitas pesan antar untuk menghadapi tingkat persaingan yang cukup tinggi, melakukan deversivikasi dan pengembangan produk, menggunakan kembali label kemasan produk, meningkatkan kualitas kemampuan SDM, mempertahankan hubungan baik dengan karyawan, mencari alternatif pemasok sayuran dan seafood, melakukan efisiensi dan efektifitas produksi.
Musfita (2010), mengkaji pengembangan usaha manisan pala dan metode pengolahan dan analisis yang digunakan adalah analisis lingkungan internal dan eksternal (IFE dan EFE), matrix internal-eksternal (IE),dan matriks SWOT. Hasil yang diperoleh dari matriks IE yaitu perusahaan berada pada kuadran V. berarti strategi yang dapat diambil adalah strategi hold and maintain berupa strategi pengembangan produk dan penetrasi pasar. Hasil matriks SWOT diperoleh strategi yang harus dilakukan perusahaan yaitu, mempertahankan kualitas produk
dan mempertahankan mutu pelayanan, membina dan mempertahankan hubungan baik dengan pemasok, meningkatkan kualitas sumberdaya manusia, penerapan teknologi untuk menunjang produksi, melakukan penetrasi pasar, melakukan pengembangan atau divesifikasi produk, melakukan efisiensi biaya, mengubah kemasan dan melengkapi labelisasi produk.
Penelitian yang dilakukan Vivandri (2010) mengenai pengembangan bisinis jamur dan Metode pengolahan dan analisis yang digunakan adalah analisis lingkungan internal dan eksternal (IFE dan EFE), matriks internal-eksternal (IE), matriks SWOT, dan QSPM.
Berdasarkan hasil analisis internal dan matriks IFE kekuatan utama bagi TIMMUSH adalah jamur tiram putih yang di hasilkan memiliki kualitas yang baik. Kelemahan utama yang dimiliki TIMMUSH adalah kesulitan dalam menemukan cara penanganan penyakit jamur titam putih. Total skor IFE menunjukan bahwa TIMMUSH berada pada rata-rata kekuatan internal, menggambarkan bahwa TIMMUSH mampu memanfaatkan kekuataan yang dimiliki dan mampu mengatasi kelemahan yang ada.Berdasarkan hasil analisis internal dan matriks EFE, peluang utama bagi TIMMUSH adalah permintaan terhadap jamur tiram piutih semakin meningkat. Ancaman utama yang dimiliki TIMMUSH yaitu tingkat pertumbuhan dan perkembangan jenis penyakit jamur tiram putih semakin meningkat. Total skor EFE menunjukan TIMMUSH berada pada posisi diatas rata-rata. Menyatakan bahwa TIMMUSH mampu memanfaatkan peluang dan mengatasi ancaman dengan baik. Analisis matriks IE menunjukan TIMMUSH berada pada posisi kuadran II, kondisi ini menunjukan bahwa TIMMUSH berada pada kondisi Grow and Build (tumbuh dan berkembang).
Berdasarkan analisis SWOT diperoleh strategi yang dibutuhkan yaitu menjaga dan meningkatkan kualitas produk, meningkatkan kemitraan dan hubungan baik dengan pemasok dan seluruh karywan serta merekrut tenaga kerja profesional guna memperkuat dan meningkatkan kinerja perusahaan, memperbaiki manajemen perusahaan serta SDM untuk meningkatkan pangsa pasar, memanfaatkan program pemerintah untuk meningkatkan modal dan kinerja perusahaan, memaksimalkan kapsitas produksi guna meningkatkan pangsa pasar,
dan menjalin kerjasama dengan pemerintah dan lembaga pendidikan seperti IPB. Dari hasil QSPM strategi memanfaatkan program pemerintah untuk modal dan kinerja perusahaan menjadi yang diutamakan karena memiliki nilai STAS tertinggi.
Berdasarkan pemaparan sebelumnya, penelitian yang akan dilakukan oleh peneliti memiliki sejumlah perbedaan dan kesamaan, kesamaan yang dimaksudkan yaitu sama – sama menggunakan objek penelitian mie dan penggunaan metode analisis SWOT untuk mencari alternatif strateginya. Namun yang membedakaan dengan penelitian sebelumnya adalah peneliti dalam menentukan prioritas strateginya dilakukan dengan mewawancarai secara langsung pihak perusahaan yang memiliki pengaruh dalam pengambilan keputusan perusahaan. Untuk penelitian yang dilakukan Fitria (2007), Musfita (2010), dan Vivandri (2010) dijadikan acuan karena penelitian tersebut dilakukan di perusahaan yang dianggap memiliki skala perusahaan yang sama dan menggunakan analisis SWOT untuk perumusan strateginya, sehingga dapat membantu dalam perumusan strategi penelitian ini.