3.1 Tanah
Tanah merupakan himpunan mineral, bahan organik dan endapan -endapan yang relatif lepas (loose), yang terletak diatas batuan dasar (bedrock). ikatan antara butiran yang relatif lemah dapat disebabkan oleh karbonat, zat organik atau oksida-oksida yang mengendap diantara partikel-partikel dapat berisi air. udara ataupun keduanya.
Proses penghancuran dalam pembentukan tanah dari batuan terjadi secara fisis/kimiawi. Proses secara fisis antara lain berupa erosi akibat tiupan angin. pengikisan oleh air dan gletsyer atau perpecahan akibat pembekuan dan pencairan es dalam batuan. fanah yang terjadi akibat penghancuran tersebut diatas tetap mempunyai komposisi yang sama dengan batuan aslinya.
Proses kimiawi menghasiikan perubahan pada susunan mineral bahan asalnya. Pelapukan kimiawi menghasiikan pembentukan kelompok-kelompok partikel kristal berukuran koloid (< 0.002 mm) \ang dikenal sebagai mineral lempung ( clay mineral}.
Fungsi tanah sangat penting pada berbagai macam pekerjaan bangunan karena tanah berfungsi sebagai pendukung beban/pondasi yang ada di atasnya.
Oleh karena itu tanah yang akan dipergunakan sebagai pendukung konstruksi harus dipersiapkan terlebih dahulu sebelum dipergunakan.
3.2 Klasifikasi Tanah
Di alam, jenis dan sifat tanah sangat bervariasi yang ditentukan oleh ; • Perbandingan banyaknya fraksi-fraksi (kerikil. pasir, Ianau, dan
lempung) serta gradasinya. • Sifat piastis butir halus
Klasifikasi tanah bertujuan membagi tanah dalam beberapa golongan tanah dengan kondisi dan sifat yang mirip diberi simbol nama yang sama.
Ada tiga (3) cara klasifikasi yang umum digunakan yaitu : • Klasifikasi tanah dengan cara Unified System • Klasifikasi tanah berdasarkan USCS
• Klaiflkasi tanah dengan cara AASHTO 3.2.1 Klasifikasi Tanah dengan cara Unified System
Klasifikasi berdasarkan Unified system, tanah dikelompokkan menjadi tanah berbutir kasar (kerikil dan pasir) jika lebih dari 50% tertahan saringan no. 200, dan tanah berbutir halus jika lebih dari 50% lolos saringan no. 200. Selanjutnya tanah diklasiflkasikan dalam sejumlah kelompok dan sub kelompok. Sistem klasillkasi berdasarkan Unified System dapat dilihat dalam Tabel 3.1.
o o o Cxi 01) c « 5 C3 JO 3 -C C C3 f— </*> Divisi Utama ,«-' ' •*-~f C3 2 — c3 -O OX) c3 c o in * J2 E « « Of) C C3 T3 S-2 E JO CO a. 5 to ^ 3 Kerikil bersih (sedikit tau tak ada buturan halus) Kerikil banyak kandungan buturan halus Pasir barsih (sedikit atau tak ada butiran halus) Pasir banyak kandungan Tabel 3.1 Klasifikasi Tanah berdasarkan Unified System Si mbo 1 Kelompok GC SW SP SM Nama Jan is Kerikil gradasi baik dan campuran pasir-kerikil, sedikit atau tidak mengandung butiran halus. Kerikil gradasi buruk dan campuran pasir-kerikil, sedikit atau tidak mengandung buturan halus. Kerikil berlanau. campuran keriki pasir-lanau Kerikil berlempung, campuran keriki l-pasir-lempung Pasir gradasi baik, pasir berkerikil, sedikit atau tidak mengandung butiran halus. Pasir gradasi buruk. pasir berkerikil.
sedikit
atau
tidak
mengandung
jj
^
2
M
butiran halus. lanau 0 c 1 = 3! T3 O . sjj o o c ~ c^
2
|p
3 a s T3 * JS _^ :/)_•! bawah uaris A atau PI <4 C _C -Z. X! « u ^ o Kriteria Klasifikasi Cu = --^ > 4 DIO Cc(Dj_
D1M x [),. -antara 1 dan 3 Tidak memenuhi kedua criteria Batas-batas Atterberg diBila berada arsir plastisitas.
Batas-batas Atterberg di
-S3;
2.2
. • . . ni -? uipaKai atas garis A atau PI •> 7 . simbol « ^ s ,--. •e -* S-</i <= 5/5 'r' ._ -if ^ . £ 5 ~ U -DIO (D Y Cc --^—-^'— antara 1 dan 3 D,„ x D(„, & © o 5/j Tidak memenuhi kedua criteria Bila ._ -^ ir,Pasir
berlanau.
campuran
pasir-j
•-£
If
rti
~
es -r-Batas-batas Atterberg di S o -2 | bawah garis A atau PI < 4 beradao •r» «/) r^ <r, _zi o C3 •*—" c-CD i_ o *-£ r i jT\ C2 J™ fT1 C c3 c -j— butiran halus Lanau dan lempung batas cair .50% atau kuranu l.anau dan lempung batas cair > 50% fanah dengan kadar organil tinggi SC Ml. CI OL MM CI! OH PT
|
Pasir
berlanau.
campuran
pasir-empung Lanau tak organic dan pasir sangan halus. serbuk batuan atau pasir halus berlanau atau berlempung. Lempung tak organic dengan plastisitas rendah sampai sedang. lempung berkerikil, lempung berpasir. lempung berlanau. lempung kurus ('clean clays') Lanau organic dan lempung berlanau organic dengan plastisitas rendah Lanau tak organic atau pasir halus diatomae. lanau elaslis Lempung tak organic dengan plastisitas tinggi. lempung gemuk ('fat clays') Lempung organic dengna plastisitas sedang sampai tinggi. j Gambut ('peal'), dan tanah \i \ dengan kandungan organic tinggi in arsir dari diagram Batas-batas Atterberg di plastisitas. maka atas garis A atau PI > 7 dipakai dobel simbol K) JO » » » » TO » 90 *» Batas Cair LL (%) Garis A: Pi = 0,73 (LL-20) Manual untuk identillkasi secara visual dapat dilihat di ASTM Designation D-2488S : Pasir (sand),
C : Lempung (clay),
M : Lanau (silt).
O ; Lanau atau lempung organik (organic silt or clay),
Pt : Tanah gambut dan tanah organik tinggi (peat and highly organic soil), W : Gradasi baik (well-graded),
P : Gradasi buruk (poorly-graded), H : Plastisitas tinggi (high-plasticity), L : Plastisitas rendah (low-plasticity).
Menurut Soedarmono dan Purnomo (1997), tanah-tanah berbutir halus kemudian diklasiflkasikan atas dasar plastisitasnya dan kadar persenyawaan organiknya. Dalam hal ini ukuran butir bukan merupakan dasar yang menentukan pembagiannya. Tanah berbutir kasar dibagi menjadi dua yaitu pasir (sand) dan kerikil (gravel).
3.2.2 Klasifikasi tanah berdasarkan USCS
Tekstur tanah dipengaruhi oleh ukuran tiap-tiap butir yang ada dalam tanah. Pada umumnya tanah asli merupakan campuran dari butir-butir yang
mempunvai ukuran yang berbeda-beda. Dalam klasifikasi tanah berdasarkan
tekstur, tanah diberi nama atas dasar komponen utama yang dikandungnya, misal
17
Gambar 3.1 menunjukkan sistem klasifikasi tanah berdasarkan tekstur, sistem ini
didasarkan pada ukuran batas dari butiran tanah. yaitu :
Pasir : butiran dengan diameter 2.0 sampai 0.05 mm Lanau : butiran dengan diameter 0.05 sampai 0,002 mm
Lempung
: butiran dengan diameter lebih kecil dari 0.002 mm
Gambar 1 1 Klasfikaw berdasarkan Unified Soil Classification
System (USCS)
3.2.3 Klasifikasi tanah dengan cara AASHTO
Sistem klasifikasi AASHTO (American Association of Stale Highway and
Transportation Officials Classification) berguna untuk menentukan kualitas tanah
guna perencanaan timbunan jalan, subbase dan subgrade. Karena sistem ini
ditujukan untuk maksud-maksud dalam lingkup tersebut, penggunaan sistem ini
Sistem klasifikasi AASHTO membagi tanah ke dalam 7 (tujuh) kelompok,
A-1 samapai A-7 termasuk sub kelompok. Tanah-tanah dalam tiap kelompok nya dievaluasi terhadap indeks kelompoknya yang dihitung dengan rumus-rumus
empiris. Pengujian yang digunakan hanya analisis saringan dan batas-batas
Atterberg. Sistem klasifikasi AASHTO dapat dilihat dalam Tabel 3.2. Pada sistem ini tanah dibagi menjadi dua kelompok besar yaitu :
• Bahan granular, jika yang lolos ayakan # 200 < 35% (kelompok A-1
sampai A-3)
• Bahan lanau lempung, jika lolos ayakan # 200 > 35%..
Indeks kelompok (group index) digunakan untuk mengevaluasi lebih lanjut tanah-tanah dalam kelompoknya. Indeks kelompok dapat dihitung dengan
persamaan
GI = (F-35)[0,2 + 0,005(LL-40)] + 0,01(F-15)(PI-I0) (3.1)
dengan
GI : Indeks kelompok (group index)
LL : Batas cair (%)
PI : Indeks plastisitas (%)
F : Persen material lolos saringan no.200 (0,075 mm).
Indeks kelompok yang diperoleh, nilainya dibulatkan ke angka utuh terdekat. Jika negatif dianggap nol. Khusus kelompok A-2-6 dan A-2-7 nilai indeks kelompok dihitung dari rumus diatas dari bagian PI saja. Makin rendah indeks kelompok bahan tersebut makin baik untuk subgrade.
Label 3.2 Klasifikasi tanah sistem AASHTO Klasifikasi umum Material granuler (<35% lolos saringan no. 200) Tanah-tanah lanau-lempung (>35% lolos saringan no. 200) Klasifikasi kelompok A-1 A-3 A-2 A-4 A-5 A-6 A-7 A-l-a A-l-b A-2-4 A-2-5 A-2-6 A-2-7 A-7-5 A-7-6 Analisis saringan (% lolos) 2,00 mm (no. 10) 0,425 mm (no. 40) 0,075 mm (no. 200 50maks — 30maks 50maks 15maks 25maks 51min 1Omaks 35maks 35maks 35maks 35maks 51 min 1 Omaks 51min 1Omaks 51 min 1 Omaks 51min 1Omaks Sifat fraksi lolos Saringan no. 40 Eiatas cair (LL) Indeks piastis (PI) 6 maks np 40 maks 41 min 1 Omaks 10 maks 40 maks 41 min 11 min 11 min 40maks 1Omaks 41 min 1 Omaks 40maks 11 min 41 min 11 min Indeks kelompok (GP 0
1
0
0 4 maks 8 maks 12 maks 16 maks 20 maks Tipe material yang Pokok pada umumnya Pecahan batu, Kerikil dan pasir Pasir halus Kerikil berlanau atau Berlempung dan pasir Tanah berlanau Tanah berlempung Penilaian umum Sebagai Tanah dasar Sangat baik sampai baik Sedang sampai buruk Catatan : Ke ompok A-7 dibagi atas A-7-5 dan A-7-6 bergant ung pada batas pla< >tisnya (PI ^) Untuk PL > 30, klasifikasinva A-7-5 Untuk PL< 30, klasifikasinya A-7-6 np = non piastis3.3 Tanah Lempung
Reaksi kimia yang mengakibatkan pelapukan tanah menghasiikan kelompok partike1 berukuran koloid dengan diameter lebih kecil dari 0.002 mm disebut mineral lempung. Lempung mempunvai permukaan khusus, sehingga mempunvai sifat sangat dipengaruhi oleh gaya-gaya permukaan. Terdapat 15 macam mineral yang diklasiflkasikan sebagai mineral lempung.
Sifat yang khas dari tanah lempung yaitu dalam keadaan kering akan bersifat keras. dan jika basah akan bersifat lunak piastis dan kohesif, mengembang dan menyusutnya cepat sehingga mempengaruhi perubahan volume yang besar yaitu pengaruh air. Lempung akan dipengaruhi oleh air. karena pada tanah lempung permukaan spesifik menjadi besar. variasi kadar air akan mempengaruhi
plastisitas tanah.
Lempung terdiri dari butir-butir yang sangat halus dan menunjukkan sifat-sifat plastisitas dan kohesif. kohesi menunjukkan kenyataan bahwa bagian-bagian
itu melekat satu sama lainnya, sedangkan plastisitas adalah sifat yang
menunjukkan bahwa bahan tersebut berubah-ubah tanpa perubahan isi atau tanpa
kembali kebentuk aslinya.
3.3.1 Sifat-sifat fisik tanah lempung
a. Kadar air (vv)
Kadar air (\v) atau water content didefinisikan sebagai perbandingan
antara berat air dan berat butiran padat dari volume tanah yang diselidiki. Adapun bagian-bagian tanah dapat digambarkan dalam bentuk diagram fase, seperti yang ditunjukkan pada Gambar 3.2 berikut:
21 di Va 4 Vw Vs Berat total
i
Volume I W\ total W = V I Ws! ^ *J*^v****S**x/** \S** v"*^^*"(a)
(b)
Gambar 3.2 Bagian-bagian tanah. (a) elemen tanah dalam keadaan asli
(b) tiga fase elemen tanah
Adapun nilai kadar air (watercontent) dapat dihitung dengan rumus :
Ww n = .y100% Ws (3.2) dengan. w = kadar air (%) Ww = massa air (gram)
Ws =- massa butiran tanah (gram)
b. Berat jenis
Berat jenis dalam mekanika tanah didefinisikan sebagai rasio antara berat
unit zat padat (partikel) dengan berat unit air. seperti yang ditunjukkan dalam
persamaan berikut, Ws Gs Vs.yw (3.3) Vv
dengan,
Gs = Berat jenis
Ws = Berat butiran padat (gram) Vs = Volume butiran padat (cm )
/w
= Berat volume air pada temperature 4°C (gram /cmJ)
Menurut Hardiyatmo (1992), berat jenis berbagai tanah berkisar antara
2,65 sampai 2,75. Berat jenis 2,67 biasanya digunakan untuk tanah-tanah tak berkohesi, sedangkan untuk tanah kohesif tak organik berkisar antara 2,68 sampai
2,72. Nilai-nilai berat jenis dari berbagai jenis tanah diberikan dalam tabel 3.3 Tabel 3.3 Berat jenis dari beberapa jenis tanah
Jenis Tanah Berat Jenis (Gs)
Kerikil 2,65-2,68
Pasir 2,65-2,68
Lanau tak organik 2,62-2,68
Lempung organik 2,58-2,65 Lempung tak organik 2,68-2,75
Humus 1,37
Gambut 1,25-1,80
Sumber: Hardiyatmo, 1992 c. Berat Volume
Berat volume dalam mekanika tanah didefinisikan sebagai perbandingan antara berat tanah total termasuk air yang terkandung didalamnya dengan volume
tanah total.
W
y = —xl00%
V
23
dengan.
W : Berat tanah (gram) V : Volume tanah (gram/cm')
d. Batas-batas konsistensi
Apabila tanah berbutir halus mengandung mineral lempung. maka tanah
tersebut dapat diremas-remas (remoulded) tanpa menimbulkan retakan. Sifat kohesif ini disebabkan karena adanya air yang terserap disekeliling permukaaan dari pertikel lempung (Das. 1985).
Atterberg (1991), memberikan cara untuk menggambarkan batas-batas konsistensi dari tanah berbutir halus dengan mempertimbangkan kandungan airnya. Batas-batas tersebut adalah sebagai berikut:
a) Batas Cair (Liquid Limit)/ LL
Kadar air tanah pada batas antara tanah keadaan cair dengan keadaan
piastis. Dalam uji laboratrium batas cair di definisikan sebagai kadar air
pada 25 kali pukulan akan menutup celah (groove) standar yang dibuat pada tanah sepanjang 12.7 mm.
b) Batas Piastis (Plastic Limit)/ PL
Kadar air tanah pada batas antara tanah keadaan piastis dengan keadaan semi padat. Percobaan batas piastis ditetapkan bahwa tanah yang
digulung hingga diameter 3 mm mulai tampak retak-retak rambut dan
c) Batas Susut (Shrinkage Limit)/ SL
Kadar air tanah pada batas antara tanah keadaan semi padat dengan
keadaan padat dimana tidak terjadi pengurangan volume lagi meskipun
kadar airnya berkurang. Percobaan batas susut dilaksanakan di laboratorium dengan menggunakan cawan susut dan cawan porselen. Tanah cair dengan kadar air diatas batas cair ± 10% dimasukkan kedalam cawan susut kemudian dikeringkan dalam oven. Batas susut dinyatakan dalam persamaan ;
SL ^Hnn-m^JV^V^yw} QQ%
(3>5)
[ mi mi j
dengan :
mi : massa tanah basah (gram) m2 : massa tanah kering (gram)
V|
: volume tanah basah (cm3)
Vt : volume tanah kering (cm )
Yw : berat volume air (gram/cm ) d) Indeks Plastisitas (Plasticity index)
Indeks plastisitas (PI) merupakan interval kadar air dimana tanah masih bersifat piastis. Oleh karena itu indeks plastisitas menunjukan sifat
keplastisitasan tanah. Indeks Plastisitas (Plasticity index) adalah selisih
batas cair dan batas piastis
dengan,
LL : Batas Cair (%)
PL : Batas Piastis (%) PI : Indeks Plastisitas (%)
Tabel 3.4 Nilai Indeks Plastisitas dan Macam Tanah
25
PI Sifat Macam Tanah Kohesi
0 Non piastis Pasir Non kohesif
<7 Plastisitas rendah Lanau Kohesif sebagian 7 - 17 Plastisitas sedang Lempung berlanau Kohesif
> 17 Plastisitas tinggi Lempung Kohesif
Sumber : Hardiyatmo, 1992 e) Batas Kohesi (Cohesion Limit)
Kadar air dimana butiran tanah tidak dapat melekat lagi yaitu dimana pengambilan tanah tidak dapat menghasiikan lempengan-lempengan yang bersatu. Batas ini juga lebih banyak berguna untuk ahli pertanian dibandingkan untuk sarjana tanah.
Tabel 3.5 Hubungan uji tekan bebas (qu) tanah lempung dengan
konsistensi
Konsistensi qu (kg/cm")
Lempung keras >4.00
Lempung sangat kaku 2,00 - 4,00
Lempung kaku 1,00-2,00
Lempung sedang 0,50- LOO
Lempung lunak 0,25 - 0,50
Lempung sangat lunak <0,25
terjadi perubahan volume air yang cukup berarti pada tanah ini.
Derajat kepadatan tanah diukur berdasarkan satuan berat volume kering
(dry density), yaitu masa partikel padat per satuan volume tanah. Umumnya makin
tinggi derajat pemadatan, maka makin tinggi kekuatan geser dan makin rendah
kompresibilitas tanah. Kerapatan kering setelah pemadatan tergantung pada kadar
air dan besarnya energi yang diberikan alat pemadat.
Hubungan berat volume tanah kering (7c/) dengan berat volume tanah (yb) dan
kadar air (w) dinyatakan :
^ =7^-
(3.7)
1 + w dengan,
yd : Berat volume tanah kering (gram/cm')
yb
: Berat volume tanah (gram/cm3)
w : Kadar air (%)
Setelah dilakukan pemadatan kerapatan butiran, kadar air dan kerapatan keringnya ditentukan. Proses ini diulangi sedikitnya lima kali dengan kadar air yang berbeda untuk jenis tanah yang sama. Dengan menggambarkan hubungan antara berat volume kering dengan kadar air, akan diperoleh kurva seperti Gambar
27
*opt kadar air w. (%)
Gambar 3.3 Hubungan berat volume kering dan kadar air
Kurva ini menunjukan bahwa untuk suatu metode tertentu akan diperoleh
suatu nilai kadar air tertentu. yaitu dikenal sebagai kadar air optimum (Wopt) yang
akan menghasiikan nilai berat volume kering maksimum. Pada nilai kadar air
yang rendah. sebagian tanah cenderung menjadi kaku dan sukar untuk dipadatkan.
Dengan menambah kadar air tanah menjadi lebih mudah dibentuk dan dipadatkan
sehingga akan menghasiikan berat volume tanah kering yang lebih tinggi. Akan
tetapi pada kadar air yang tinggi berat volume kering menjadi berkurang sejalan
dengan bertambahnya kadar air, yang mana air tersebut akan mengisi dan volume
tanah bertambah secara proposional.
3.5 CBR (California Bearing Ratio)
Pengujian CBR dimaksudkan untuk menentukan kekuatan tanah atau
campuran agregrat yang dipadatkan pada kadar air tertentu.
Uji ini
dikembangankan oleh California State Highway Departement, Amerika Serikat.
penetrasi suatu bahan (dapat berupa tanah ataupun material perkerasan jalan)
dengan bahan standar dengan kedalaman dan kecepatan penetrasi yang sama.
Biasanya pengujian CBR dilakukan untuk mengetahui tingkat kekerasan material
perkerasan jalan raya.
Prinsip pengujian CBR adalah dengan menembus sampel tanah dengan
kepadatan tertentu dalam suatu tabung dengan menggunakna alat penekan standar.
Alat penembus atau penetrasi yang digunakan adalah sebuah piston
berpenampang bulat dengan luas 3 in2 dan kecepatan konstan sebesar 0.05 in per
menit dan diukur beban yang diperlukan.
Beban hasil penetrasi CBR
Beban terhadap bahan s tan darx!00% (3.8)
Tabel 3.6 Hubungan antara nilai penetrasi dengan beban standar untuk
pemeriksaan CBR Penetrasi Beban Tekanan
(lb/m2)
(in) (mm) (kN) (lbs) 0.1 2 11,5 2.5 13,24 3000 1000 4 17,6 0.2 1 5 6 8 10 12 19,96 22,2 26,3 30,3 33,5 4500 1500Sumber : Praktikum Mek-Tanah, 1990
Untuk mendapatkan design CBR, harus memperhitungkan dua faktor yaitu :
•
Kadar air tanah serta berat isi kering pada waktu dipadatkan.
•
Perubahan pada kadar air yang mungkin akan terjadi setelah pemadatan
29
Lest CBR dapat dilakukan dengan 2 (dua) macam yaitu:
• Percobaan CBR di laboratorium • Percobaan CBR di lapangan 3.5.1 Percobaan CBR di laboratorium
CBR laboratorium biasanya digunakan antara lain untuk perencanaan
pembangunan jalan baru dan lapangan terbang. Untuk menentukan nilai CBR
laboratorium harus disesuaikan dengan peralatan dan data hasil pengujian
compaction standard/modified dibuat mendekati ± kadar air optimum.
3.5.2 Percobaan CBR di lapangan
CBR lapangan pada umumnya diperlukan untuk perencanaan lapis
tambahan (overlay). Pengujian ini dimaksudkan unuk mencari nilai CBR langsung
ditempat (in place).
3.6 Triaksial UU (Unconsolidated Undrained)
Pengujian Triaksial dengan menggunakan benda uji dengan ukuran
diameter kira-kira 4 cm dan tinggi 7.50 cm. Benda uji dimasukkan kedalam
selubung karet tipis dan diletakkan kedalam tabung kaca. Biasanya ruang didalam
tabung diisi dengan air atau udara. Benda uji ditekan oleh tegangan sel (a i).
yang berasal dari tekanan cairan didalam tabung. Kadang kala udara dapat
digunakan sebagai media untuk penerapan tegangan selnya (tegangan kekang atau
confining pressure). Alat pengujian dihubungkan dengan pengatur drainase
kedalam maupun keluar dari benda uji. Untuk menghasiikan kegagalan geser pada
benda uji, gaya aksial dikerjakan melalui bagian atas benda uji.
Tegangan-tegangan yang bekerja pada benda uji dinotasikan a \, a 2. dan
o-3. Tegangan a \ disebut tegangan utama mayor (mayor principal stress),
tegangan <r3 disebut tegangan utama minor (minor principal stress). Tegangan
utama tengah (intermediate principal stress) a^a., merupakan tegangan
kekang atau tegangan sel (confining stress). Karena tinjauannya hanya dua
dimensi, tegangan a 2 sering tidak diperhitungkan. Tegangan yang terjadi dari
selisih <r 1dan <r3 atau (a-a) disebut tegangan deviator (deviator stress) atau
beda tegangan (stress difference). Regangan aksial diukur selama penerapan
tegangan deviator. Perlu diperhatikan bahwa penambahan regangan akan
menambah tampang melintang benda uji. Karena itu, koreksi penampang benda
uji dalam menghitung tegangan deviator harus dilakukan.
ke peralatan __ tegangan sel beban vnr'tkrtl lubang venliiasi \ udara rnembfan karet
conloh benda up tanah
ke pengukursn ' tekanan pori
Gambar 3.5 Alat uji Triaksial UU
Pada uji Triaksial Unconsolidated Undrained benda uji pada umumnya
berupa tanah lempung mula-mula dibebani dengan penerapan tegangan sel.
kemudian dibebani dengan beban normal, melalui penerapan tegangan deviator
(Act) sampai mencapai keruntuhan. Pada penerapan tegangan deviator selama
penggeseran, air tidak diijinkan keluar dari benda uji. Jadi selama pengujian katup
drainasi ditutup. Karena pada pengujian air tidak diijinkan mengalir keluar, beban
normal ditransfer kebutiran tanahnya. Keadaan tanpa drainase ini menyebabkan
adanya kelebihan tekanan pori (excess pore pressure) dengan tidak ada tahanan
3.7 Perkuatan Tanah
Konsep perkuatan tanah atau tanah bertulang (reinforced earth) pertama
kali diperkenaikan oleh Vidal pada tahun 1969. Hingga saat ini system
penulangan tanah banyak digunakan untuk konstruksi, antara lain dinding
penahan tanah, pangkal jembatan, timbunan badan jalan, penahan galian dan
perbaikan stabilitas lereng alam.Keuntungan menggunakan sistem tanah bertulang antara lain :
a. Merupakan struktur yang fleksibel.
b. Tidak mempunyai resiko besar bila terjadi deformasi struktur.
c. Mudah dalam pelaksanaan pembangunan. d. Biaya lebih ekonomis.
Struktur tanah bertulang (reinforced earth) terdiri atas tanah dan tulangan.
Kerjasama antara tanah dan tulangan dalam mendukung beban akan terjadi bila
terdapat gesekan antara keduanya. Dengan gesekan ini tanah mentransfer
gaya-gaya yang bekerja pada tulangan.Tanah yang dikenai gaya luar maka bagian dalam tanah akan mengalami
deformasi gaya geser (shear deformation) dan akan menyebabkan meningkatnya
kemampatan dan regangan tarik. Timbulnya gesekan dan tegangan pemampatan
menyebabkan tahanan geser yang akan menstabilkan tanah. Tahanan geser ini
harus mampu menahan gaya yang menyebabkan kelongsoran, apabila terjadi
peningkatan tegangan pada bidang gelincir untuk mengimbangi deformasi pada
bidang geser, perkuatan ditempatkan pada arah bidang tarik yang akan
33
Ada dua jenis perkuatan tanah, yaitu :
a. Perkuatan secara makro (Macro Reinforcement)
Konstruksi perkuatan tanah ini menggunakan geotekstil berupa lembaran,
yang memanfaatkan kuat geser bahan dengan tanah untuk melawan
gaya-gaya yang bekerja.
b. Perkuatan secara mikro (Micro Reinforcement)
Konstruksi perkuatan tanah ini menggunakan geotekstil berupa strip
dengan ukuran-ukuran tertentu diletakan pada sebuah tacing beton dengan
ukuran tertentu dimana suatu tacing beton tersebut ditahan oleh strip.
Adapun tujuan dari perkuatan tanah antara lain :
a. Memperkuat tanah sehingga stabilitas struktur terpenuhi.
b. Lereng timbunan bisa dibuat secara vertikal.
c. Membentuk suatu struktur secara fleksibel.
d. Memanfaatkan tanah asli sebagai bahan bangunan.
3.8 Serabut Kelapa
Pohon kelapa (cocos nucifera) merupakan pohon yang menghasiikan
bahan-bahan industri yang sudah lama dikenal. Di Indonesia, tanaman kelapa
banyak terdapat dan tersebar hampir di seluruh wilayah nusantara, khususnya di
daerah pantai atau mendekati pantai.
Pohon kelapa diantaranya ada 2 macam. yaitu kelapa hybrida yang
ditandai dengan pohon yang pendek dan kelapanya berwarna kuning dan kelapa
biasa yang pohonnya tinggi yang sering dijumpai. Kelapa biasa inilah yang
dipakai dalam penelitian ini. yang mana batang pohonnya bersih (pelepah daun
dan tapasnya mudah diambil), sehingga pelepah daun yang sudah tua terkadang
jatuh sendiri dari pohonnya. Semua bagian pohon kelapa dapat diambil
manfaatnya,
mulai
dari
bagian-bagian fisik
pohon
maupun
hasil-hasil
produksinya. Hampir semua bagian fisik pohon kelapa dapat dimanfaatkan,
misalnya batang (untuk berbagai macam peralatan dan bangunan), daun muda
atau janur (untuk dekorasi atau bungkus makanan seperti ketupat), daun yang
sudah tua (untuk bahan bakar memasak).Pohon kelapa dapat berbuah jika sudah berumur lebih dari 5 tahun. Buah
kelapa yang dihasilkan tergantung tempatnya, jika tempat tersebut cocok maka
buahnya pun juga akan banyak. Dalam penelitian ini serabut kelapa yang dipakai
adalah serabut kelapa yang berasal dari kelapa yang sudah tua. Hal ini
dikarenakan, jika kelapa masih muda maka serabut kelapa masih basah dan
mudah membusuk. Sehingga yang dipakai adalah serabut yang sudah tua yang
sudah kering dan keras.
Serabut kelapa merupakan helaian benang-benang atau serat-serat yang
berwarna cokelat, berdiameter < 0.5 mm dan bersifat kaku/liat (tidak mudah
putus). Serabut kelapa mempunyai kelemahan yaitu tidak tahan api. sehingga
mudah terbakar. Penggunaan dan pemanfaatan serabut kelapa antara lain pada
peralatan rumah tangga yang menggunakan serabut kelapa sebagai bahan
bakunya. Keberadaan peralatan ini sangat penting bagi kehidupan rumah tangga,
misal sapu, keset. Ada juga yang memanfaatkan serabut kelapa sebagai media
35
3.9 Serat Karung Plastik
Serat karung plastik yang digunakan adalah serat karung plastik yang
berasal dari karung plastik yang dipotong kemudian diurai satu per satu. Selain
mudah didapat juga murah, dan selama ini serat karung plastik belum
dimanfaatkan secara optimal. Serat karung plastik merupakan geosintetik yang
berupa polimer sintetis yaitu masuk dalam polypropylene. Bahan-bahan buatan
manusia ini sangat tahan terhadap pengaruh lingkungan biologis dan degradasi
kimia yang biasanya terjadi di alam.
Ada tiga jenis serat sintetis, yaitu :
a. Filament, yaitu serat sintetis yang terbentuk dengan mengeluarkan lelehan
polimer melalui lubang-lubang kecil pada alat pintal. Setelah mengeras,
kemudian filaments ditarik pada arah longitudinal, sehingga
molekul-molekulnya dapat menyesuaikan diri pada arah yang sama,
b. Stable fibers, didapat dari filaments yang dipotong-potong sehingga
mempunyai panjang antara 2-10 cm,
c. Slitfilms, berupa serat berbentuk pipih, tipis seperti pita kaset dengan lebar
antara 1-3 mm. dibentuk dengan sayatan pada selaput plastik. Setelah
disayat, serat-serat seperti pita tersebut ditarik. Penarikan tersebut akan
membuat molekulnya menyesuaikan diri pada arah yang sama. Benang
Serat karung plastik yang digunakan berupa serat yang diurai bukan lembaran.
Secara properties, pada penelitian ini tidak dilakukan. Karena fokus utama dari
penelitian ini bukan properties serat, tetapi bagaimana pengaruhnya pada kuat
geser tanah lempung.
Serat karung plastik belum banyak digunakan, tetapi jika serat plastik ratla
sudah banyak dimanfaatkan orang. Jadi dalam hal ini yang dipakai bukan rafia
tapi serat karung plastik beras. Dari segi fisik, serat karung plastik lebih tebal dan
kuat jika dibandingkan dengan rafia. Sehingga tidak mudah patah.
3.10 Kapasitas Dukung Tanah
Bila tanah mengalami pembebanan seperti beban fondasi, tanah akan
mengalami distorsi dan penurunan. Jika beban itu berangsur-angsur ditambah,
penurunannya pun juga bertambah. Akhirnya pada suatu saat terjadi kondisi
dimana pada beban yang tetap, fondasi mengalami penurunan yang sangat besar.
Kondisi ini menunjukkan bahwa keruntuhan kapasitas dukung telah terjadi.
Kapasitas dukung ultimit (ultimate bearing capacity ! qu) di definisikan sebagai
beban maksimum persatuan luas dimana tanah masih dapat mendukung beban
dengan tanpa mengalami keruntuhan. Bila dinyatakan dalam persamaan berikut:
q„ =^
(3-9)
A
dengan,
qu : kapasitas dukung ultimit atau daya dukung batas (kN/m')
Pu : beban ultimit atau beban batas (kN)37
Dari pengamatan kelakuan tanah selama pembebanan hingga tercapainya
keruntuhan diperoleh kenampakan sebagai berikut ini :
1. Terjadi perubahan bentuk tanah yang berupa penggembungan kolom
tanah tepat di bawah dasar fondasinya kearah lateral dan penurunan
permukaan di sekitar fondasinya,
2. Terdapat retakan lokal atau geseran tanah di sekeliling fondasinya,
3. Suatu butiran tanah terbentuk di lokasi tepat dibawah fondasinya yang
mendesak tanah bergerak ke bawah maupun ke samping,
4. Umumnva pada saat keruntuhan terjadi zona geser melebar dan dalam
batas tertentu dan suatu permukaan
geser berbentuk
lingkaran
berkembang yang disusul dengan gerakan fondasi turun kebawah.
Permukaan tanah di sekitar fondasi selanjutnya menggembung ke atas
yang diikuti oleh retakan dan gerakan muka tanah sekitar fondasinya.
Keadaan ini menunjukkan keruntuhan geser telah terjadi (Hardiyatmo.
1992).
a. Keruntuhan geser umum b. Keruntuhan geser lokal
Gambar 3.6 Macam keruntuhan geser pada fondasi
Analisis keruntuhan daya dukung dilakukan dengan menganggap bahwa
tanah berkelakuan sebagai bahan yang bersifat piastis. Konsep ini pertama kali
diperkenalkan oleh Prandl, yang kemudian dikembangkan oleh Terzaghi (1943).
Meyerhof (1955), DeBeerdan Vesic (1958).
Cara pendekatan yang digunakan untuk analisisnya yaitu menganggap
fondasi berbentuk memanjang tak terhingga, dengan lebar (B) yang terletak diatas
tanah yang homogen, dibebani dengan beban terbagi rata (q).
Terzaghi (1943) dalam Hardiyatmo, 1992 memberikan parameter
kapasitas dukung tanah berupa Nc, Nq, Ny yang merupakan faktor kapasitas
dukung akibat pengaruh kohesi dan beban terbagi merata yang keduanya
merupakan fungsi dari sudut gesek internal (». sehingga persamaan umumnva
dapat ditulis menjadi :
qu= acNc +qNq+(3yBN7
(3-10)
dengan,
c
: Kohesi (kN/m2)
Y
: Berat volume tanah (kN/m )
Ny, Nc. Nq
: Faktor kapasitas dukung tanah.
Nilai-nilai dari N y, Nc, Nq diberikan dalam tabel 3.7
Tabel 3.7 Nilai-nilai faktor kapasitas dukun; *tanah Terzaghi
0C)
Keruntuhan Geser Umum Keruntuhan Geser LokalNc Nq N^ Nc Nq N^ 0 5,7 1 0 5,7 1 0 5 7,3 1,6 0,5 6,7 1,4 0,2 10 9,6 2,7 1,2 8 1,9 0,5 15 12,9 4,4 2,5 9,7 2,7 0,9 20 17,7 7,4 5 11,8 3,9 1,7 25 25,1 12,7 9,7 14,8 5,6 3,2 30 37,2 22,5 19,7 19
8,3 1
5,7 34 52,6 36,5 35 23,7 11,7 9 35 57,8 41,4 42,4 25,2 12,6 10,1 40 95,7 81,3 100,4 34,9 20,5 18,8 45 172,3 173,3 297,5 51,2' 35,1
37,7 48 258,3 287,9 780,1 66,8 50,5 60,4 50 347,6 415,1 1153,2 81,3 65,6 87,1 Sumber: Hardiyatmo, 1992 39Hitungan kapasitas dukung yang telah dikemukakan di atas adalah analisis
untuk fondasi bentuk memanjang. Untuk bentuk fondasi
lain, Terzaghi
memberikan factor bentuk yang didasarkan pada aniisis fondasi memanjang,
sebagai berikut:
1. Untuk fondasi memanjang
qu = cNc + qNq + 0.5/BNx
(3.11)
2. Untuk fondasi berbentuk bujur sangkar
qu= l,3cNc + qNq + 0,47BN^
(3.12)
3. Untuk fondasi berbentuk lingkaran
dengan.
c
: kohesi tanah (kN/m2)
q =Df>: Tekanan overburden pada dasar fondasi (kN/m")
Y
: berat volume tanah (kN/m )
Df : kedalaman fondasi (m)