Diajukan Kepada Fakultas IlmuTarbiyah dan Keguruan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Mencapai Gelar Sarjana Pendidikan (S1)
Oleh
Awang Julian
NIM 109015000162
JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
iv
KATA PENGANTAR ِمْيِحَّلا ِنَمْحَّلاها مْسِب ِ
Alhamdulillah segala puji bagi Allah SWT penulis persembahkan sebagai
ungkapan rasa syukur atas segala limpahan nikmat, rahmat dan hidayah-Nya
kepada penulis, sehingga dengan kudrat dan iradat-Nya penulis dapat
menyelesaikan skripsi yang sederhana ini dengan baik sebagai prasyarat untuk
mencapai gelar Sarjana Pendidikan. Skripsi ini berjudul “Peranan Agen Sosialisasi Keluarga Terhadap Hasil Belajar IPS Siswa di SMP Islamiyah Ciputat”.
Shalawat beserta salam semoga tetap tercurahkan kepada junjungan kita,
Nabi Muhammad SAW yang telah membimbing umat manusia dari jalan yang
sesat menuju jalan yang di rahmati oleh Allah dengan risalah yang dibawanya
yaitu Agama Islam yang akan menyelamatkan dan mengantarkan pemeluknya
menuju kebahagiaan yang ada di dunia dan akhirat.
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa dalam penulisan skripsi ini masih
banyak kekurangan dan kelemahan. Tanpa bantuan serta dorongan dari berbagai
pihak yang secara moril maupun materiil, dimungkinkan skripsi ini tidak akan
bisa selesai. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis menyampaikan
penghargaan yang setinggi-tingginya dan menghaturkan ucapan terima kasih
kepada:
1. Nurlena Rifa’i, MA. Ph.D, Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, dan
Pembantu Dekan bidang Akademik, Pembantu Dekan bidang
Kemahasiswaan, Pembantu Dekan bidang Administrasi Umum
2. Dr. Iwan Purwanto, M. Pd, selaku Ketua Jurusan Pendidikan Ilmu
Pengetahuan Sosial.
3. Prof. Dr. H. Rusmin Tumanggor, MA. selaku dosen pembimbing skripsi yang
v
4. Wahdi Sayuti, sebagai dosen Penasihat Akademik yang banyak membantu
serta membimbing penulis selama mengikuti perkuliahan di Universitas ini.
5. Sarmuji, S.Pd selaku kepala sekolah SMP Islamiyah Ciputat beserta para guru
dan stafnya, terutama ibu Wiwi Tarwiyah S.E selaku guru IPS. Saya
mengucapkan terima kasih dan rasa hormat.
6. Orang tua, bapak Toto Hendarto dan ibu Subarsi serta kakak-kakak ku tecinta
yang telah membesarkan, mendidik dan memberikan dukungan baik moril
ataupun materil terhadap penulis.
7. Kepada sahabat-sahabat ku, Abdul Aziz, Akbar Fauzi, Faisal Sudrajat, M
Azhar, M Wahyudin, M Busjulis, Niken Wahyu Dwinta, Rifki Faslika dan
Wahyu Dwijayanto yang telah membantu dan memberikan motivasi kepada
penulis, kalian adalah kekuatan bagi penulis.
8. Kepada si Thunder tanpa sela, LKLG, Warkop Piple, band Naif, ERK,
Festivalist dan (Alm) Jim Morrison, PT. Kapal Api dan Petani Tembakau
seluruh Indonesia yang telah menemani setiap saat, kalian adalah sumber
inspirasi dan kekuatan bagi penulis.
9. Kepada seluruh mahasiswa angkatan 2009 yang tidak bisa penulis ucapkan
satu demi satu. Penulis ucapkan terimakasih.
Jakarta, 11 April 2014
viii
DAFTAR ISI
LEMBAR PENGESAHAN PANITIA UJIAN ………...
LEMBAR PENGESAHAN PEMBIMBING………..
SURAT PERYATAAN KARYA SENDIRI……….….
ABSTRAK………...
A. LatarBelakangMasalah….………...……
B. Identifikasi Masalah……...……….
C. Pembatasan Masalah…...……….……
D. Perumusan Masalah………..……….……..
E. Tujuan dan ManfaatPenelitian…….………..………..
BAB II. KAJIAN TEORITIS DAN KERANGKA KONSEPTUAL
A. KajianTeoritis…...………..……….
1. Sosialisasi……..………
a. Pengertian Sosialisasi……….……….………
b. Proses Sosialisasi………..……….……..
c. Agen-agen Sosialisasi……….….
2. KonsepKeluarga……….…...
a. Pengertian Keluarga……..……….…..
b. Proses Terbentuknya Keluarga……….…...
c. Struktur Keluarga……..……….….
d. Karakteristik Keluarga……...……….….
e. Fungsi-fungsi Keluarga………....
f. Jenis-jenis dalam Keluarga……….…….
ix
b. Ciri-ciri Belajar………...……….………
c. Tipe-tipe Belajar…………...……….……..
d. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Belajar……….………
e. Pengertian IPS……….….
f. Karakteristik Mata Pelajaran IPS……….…
g. Tujuan Pembelajaran IPS……….…
h. Hakiat Hasil Belajar IPS………...……….…..
i. Macam-macam Hasil Belajar………...
j. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar IPS………….…
B. KerangkaKonseptual……….…...
C. Penelitian yang Relevan………...
D. Sinopsis………
BAB III. METODE PENELITIAN YANG DIGUNAKAN
A. TempatdanWaktuPenelitian………...………..
B. Metode Penelitian………....
C. PopulasidanSempel………...…...
D. ProsedurPengumpulandanPengolahan Data………....
E. PengecekanKeabsahan Data………...
F. Analisis Data………..….
BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. ProfilSekolah………...
1. SMP IslamiyahCiputat………...
2. Visi dan Misi SMP……….
3. Struktur Organisasi SMP………...
4. Prestasi Akademik dan Non-Akademik……….…
5. Tata Tertib dan Poin Pelanggaran………..
B. Deskripsi Data Penelitian……….…
x
DAFTAR TABEL
Tabel 3.1 Indikator Penelitian Keluarga dan Siswa ………. 54
Tabel 4.1 Daftar Bobot Angka Kredit Pelanggaran Siswa ……….. 63
Tabel 4.2 Rekapitulasi Wawancara Pelitian Siswa ……….. 65
Tabel 4.3 Reapitulasi Wawancara Penelitian Wali Murid ………... 66
Table 4.4 Kriteria tingkat kecerdasan siswa berdasarkan nilai rapot IPS………... 66
Tabel 4.5 Hasil Wawancara Terhadap Siswa ………...… 67
Tabel 4.6 Hasil Wawancara Terhadap Wali Murid ………..… 70
xi
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1 Fator-Faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar ………. 47
Gambar 2.2 Kerangka Konseptual ………..…. 48
Gambar 3.1 Analisis Data ……… 57
xii
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 Pedoman Wawancara Siswa
Lampiran 2 Pedoman Wawancara Kepala Sekolah
Lampiran 3 Pedoman Wawancara Wali Kelas atau Guru IPS
Lampiran 4 Pedoman Wawancara Wali Murid
Lampiran 5 Transkrip Wawancara dengan Siswa
Lampiran 6 Transkrip Wawancara dengan Kepala Sekolah
Lampiran 7 Transkrip Wawancara dengan Wali Kelas atau Guru IPS
Lampiran 8 Transkrip Wawancara dengan Wali Murid
Lampiran 9 Daftar Nilai IPS
Lampiran 10 Surat Permohonan Izin Penelitian
Lampiran 11 Surat Keterangan Telah Melakukan Penelitian
Lampiran 12 Foto Penelitian
Lampiran 13 Lembar Uji Reverensi
1 BAB 1 PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pada dasarnya, Pendidikan merupakan usaha agar manusia dapat
mengembangkan potensi dirinya melalui proses pembelajaran. Melalui
pendidikan manusia memperoleh ilmu pengetahuan yang dapat dijadikan
tuntunan dalam kehidupan. Menurut Chaplin dkk dalam buku Muhibbin
Syah mengemukakan bahwa ”Pendidikan adalah pengembangan potensi atau kemampuan manusia secara menyeluruh yang pelaksanaannya dilakukan
dengan cara mengajarkan berbagai pengetahuan dan kecakapan yang
dibutuhkan oleh manusia itu sendiri”.1
Tertuang dalam UU No. 20 tahun 2003 tantang Sistem Pendidikan
Nasional, Pendidikan adalah Usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan
suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik aktif
mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual
kegamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan akhlak mulia serta
keterampilan yang diperlukan dirinya, Masyarakat dan Bangsa. Dari definisi
di atas, seyogyanya pendidikan mampu untuk meningkatkan ilmu
Pengetahuan dan kekuatan Keimanan yang nantinya diharapkan dapat
mengankat harkat martabat peserta didik tersebut. Sebagaimana tertuang
dalam firman Allah SWT yang artinya:
”Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan
orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah
Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (QS. Al-Mujaadilah : 11)
Oemar Hamalik berpendapat bahwa ”Pendidikan merupakan bagian
integral dalam pembangunan. Proses pendidikan tak dapat dipisahkan dari
1
proses pembangunan itu sendiri. Pembangunan diarahkan dan bertujuan untuk
mengembangkan sumber daya manusia yang berkualitas dan pembangunan
sektor ekonomi, yang satu dengan yang lainnya saling berkaitan dan
berlangsung dengan berbarengan”.2
Berbicara tentang hasil belajar, erat kaitannya dengan proses sosialisasi
yang terjadi di dalam diri siswa itu sendiri. Unsur-unsur pendukung dalam
proses belajar siswa sangat mempengaruhi tingkah dan kelakuan siswa dalam
mengikuti proses belajar di sekolah dan dilingkungannya yang berimbas pada
hasil pembelajaran mereka masing-masing. ”Proses sosialisasi adalah proses
belajar, yaitu suatu proses akomodasi dimana individu menahan, mengubah
implus-implus dalam dirinya dan mengambil alih cara hidup atau kebudayaan
masyarakatnya”.3 Dengan proses sosialisasi individu berkembang menjadi suatu pribadi atau makhluk sosial.
Seiring perkembangan teknologi dan informasi dalam dunia
kependidikan, proses sosialisasi yang di alami siswa banyak terimplikasi akan
hal-hal negatif terhadap hasil belajar, ini disebabkan karena kurangnya peran
dan komunikasi yang baik dan selaras antara siswa-siswi dengan agen-agen
sosialisasi. ”Agen-agen sosialisasi adalah sekelompok orang, yang di dalamnya setiap anggotanya terus menerus berinteraksi, yang bisa
mempengaruhi perkembangan kepribadian seseorang sepanjang hidupnya”.4 Agen-agen sosialisasi yang paling kita kenal adalah keluarga, sekolah, teman
sebaya, masyarakat dan media masa. Agen sosialisasi terutama keluarga
merupakan salah satu agen sosial yang sangat berperan terhadap proses
belajar. Selain itu lingkungan permainan juga dapat memberikan pengaruh
yang negatif. Potret dunia pendidikan beberapa bulan lalu sempat tercoreng
dengan adanya kasus tawuran. Kasus tawuran yang terjadi pada SMAN 6 dan
SMAN 70 dapat kita jadikan tolok ukur seberapa berhasil sosialisasi yang
2
Oemar Hamalik. Kurikulun dan Pembelajaran, (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2005), Ed. 1, Cet. 5, h. 1
3
Vembriarto. Sosiologi Pendidikan, (Jakarta: PT Grasindo, 1993), hal. 20
4
dilakukan para agen sosialisasi, seperti keluarga, guru, teman bermain. Para
agen sosialisasi telah gagal mencegah terjadinya tawuran, misalnya agen
sosialisasi yang utama, yaitu keluarga. Keluarga moderen cenderung
mengutamakan fungsi ekonomi, kedua orang tua, ayah dan ibu, bekerja untuk
memenuhi kebutuhan-kebutuhan kehidupan, tetapi mengabaikan fungsi
sosialisasi.
Dialog antara anak dan orang tua sangat kurang karena sang anak dan
orang tuanya jarang berinteraksi, akibatnya orang tua tidak sempat melakukan
sosialisasi nilai-nilai universal dalam masyarakat secara terus-menerus dan
berkesinambungan seperti cinta sesama, berkelakuan baik, perdamaian.
Fungsi sosialisasi penting untuk dilakukan keluarga karena hasil sosialisasi
dari keluarga akan membentuk pondasi dasar kepribadian sang anak. Agen
sosialisasi kedua adalah guru.
Sayangnya para guru cenderung mengejar target menyampaikan materi
pelajaran sesuai kurikulum agar sang murid biasa mendapat nilai bagus saat
ujian, terutama agar sang murid lulus ujian nasional (UN). Harus lulus UN
dan pencarian jati diri murid menjadi tantangan untuk guru dalam
menyeimbangkan keduanya.
Jika pencarian jati diri tidak direspon dengan baik, para murid bisa
salah arah dengan melakukan kegiatan yang negatif seperti tawuran. Ketiga,
agen sosialisasi yang juga punya pengaruh besar kepada para pelajar SMA
adalah teman bermain atau teman sebaya. Pada usia seperti ini para
siswa-siswi cenderung mendengarkan perkataan temannya dikarenakan interaksi
antara siswa-siswi dengan temannya lebih tinggi dibandingkan dengan orang
tua ataupun guru.
Para agen sosialisasi tidak dapat berjalan sendiri-sendiri, orang tua,
guru, dan teman bermain harus bekerja sama sehingga hasil sosialisasi kepada
para generasi penerus bangsa ini dapat sesuai harapan, yaitu menjadi generasi
Kegiatan pengajaran adalah dalam mengorganisasikan lingkungan.
Perkembangan tingkah laku siswa adalah berkat pengaruh dari lingkungan.
Lingkungan kita artikan secara luas, bukan saja terdiri dari lingkungan alam
akan tetapi meliputi lingkungan sosial. Bahkan Lingkungan sosial inilah yang
dikatakan lebih memegang peranan. Melalui proses interaksi antar individu
dan lingkungannya maka siswa memperoleh pengalaman yang selanjutnya
mempengaruhi kelakuannya sehingga berubah dan berkembang. Itu sebabnya
maka ada pendapat yang mengatakan bahwa pendidikan adalah suatu proses
sosialisai, di mana siswa dipersiapkan sesuai dengan norma-norma
masyarakat tempat ia hidup.5
Proses belajar sosial berarti individu mempelajari berbagai macam
peranan sosial. Peranan sosial adalah fungsi atau tingkah laku yang
diharapkan dari seseorang oleh kelompok atau kebudayaan. Peranan sosial
berkembang sesuai dengan perkembangan individu. Peranan sosial bertambah
sesuai dengan semakin bertambahnya usia.
Berdasarkan permasalahan tersebut, memicu penulis untuk mengankat
judul penelitian ”PERANAN AGEN SOSIALISASI KELUARGA
TERHADAP HASIL BELAJAR IPS SISWA DI SMP ISLAMIYAH CIPUTAT”.
B. Identifikasi Masalah
1. Adanya kesalahan pada proses sosialisasi tehadap hasil pembelajaran IPS
2. Kurangnya kesadaran akan pentingnya bersosalisasi
3. Latar belakang kondisi keluarga yang berbeda-beda sehingga berpengaruh
pada hasil belajar siswa
4. Kurangnya peranan agen sosialisasi keluarga terhadap hasil belajar IPS
5
C. Pembatasan Masalah
Mengingat luasnya lingkup masalah, maka penulis membatasi
penelitian ini pada pokok pernyataan sebagai berikut:
1. Latar belakang kondisi keluarga yang berbeda-beda sehingga
berpengaruh pada hasil belajar IPS siswa
2. Kurangnya peranan agen sosialisasi keluarga terhadap hasil belajar IPS
siswa di SMP Islamiyah Ciputat
D. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan di atas, maka
perumusan masalah yang diambil dalam penelitian ini adalah:
1. Mengapa latar belakang kondisi keluarga yang berbeda-beda sehingga
berpengaruh pada hasil belajar IPS siswa?
2. Bagaimanakah analisis kurangnya Peranan agen sosialisasi keluarga
terhadap hasil belajar IPS siswa di SMP Islamiyah Ciputat?
E. Tujuan dan Manfaat Penelitian
1. Tujuan Penelitian
a. Tujuan Akademisi
Secara akademisi penelitian ini dilakukan bertujuan untuk mengetahui
bagaimanakah peranan agen sosialisasi keluarga terhadap hasil belajar
IPS siswa di SMP Islamiyah Cipiutat
b. Tujuan Terapan
Tujuan terapannya adalah untuk memberikan gambaran kepada semua
pihak termasuk orang tua, sekolah dan siswa itu sendiri bahwasannya
semua aspek-aspek agen sosialisasi sangatlah berperan penting satu
sama lain dalam pembentukan karakter siswa dan hasil pembelajaran
siswa itu sendiri dan untung mengetahui sejauh mana hasil
2. Manfaat Penelitian
a. Manfaat akademisi
1) Bagi Institusi Pendidikan, sebagai bahan pertimbang dan masukan
dalam pengambilan kebijakan dalam pembuatan kurikulum.
2) Bagi Lembaga Pemerintahan, diharapkan penelitian ini dapat
memberikan masukan dalam meningkatkan perkembangan
pendidikan di wilayah pemerintahan.
b. Manfaat terapan
1) Bagi masyarakat, penelitian ini diharapkan dapat menjadi sebuah
studi yang turut mengembangkan aspek kehidupan masyarakat
dalam pembangunan.
2) Bagi penulis, penelitian ini diharapkan dapat menambah khazanah
7 BAB II
KAJIAN TEORITIS DAN KERANGKA KONSEPTUAL
A. Kajian Teoritis 1. Sosialisasi
a. Pengertian Sosialisasi
Sosialisasi merupakan hal yang sangat berperan penting dalam
kehidupan bermasyarakat. Konsep ini penting karena ia menjelaskan
proses bagaimana kita terbentuk sebagai manusia seutuhnya dalam
kehidupan masyarakat dimana kita tumbuh. Melalui konsep ini,
seorang ahli sosiologi akan melihat perkembangan yang terjadi pada
diri kita sebagai seorang individu, mulai kita dilahirkan di dunia
hingga kita hidup pada masa usia lanjut. Sepanjang hidup kita, kita
akan melewati fase-fase tertentu, dari mulai masa-masa menjadi bayi,
fase menjadi anak, remaja, dewasa, orang tua, paman-bibi, hingga
akhirnya menjadi fase kakek-nenek. Sosiologi berupaya mengungkap
kasus sosialisasi yang terjadi di setiap fase yang kita lewati tersebut.
Kita tahu, pada awal terbentuknya, manusia hanyalah terdiri dari
segumpal daging hasil pertemuan sel telur laki-laki dan perempuan
yang membentuk zigote. Lambat laun sel telur membentuk embrio dan
plasenta, yang pada usia pembuahan mencapai 13 minggu menjadi
janin, lalu lahir menjadi bayi yang lucu setelah melewati kurang lebih
9 bulan dalam kandungan ibu. Sejak itu, sang bayi mulai bersosialisasi
dengan dunia luar, terutama dimulai dengan sang ibu. Dan sejak saat
itu pula proses biologis beralih manjadi proses sosialisasi. Mulai saat
itu, sosialisasi menjadi proses persiapan untuk para pendatang baru
sebagai anggota sebuah kelompok dan persiapan untuk berpikir,
merasa, dan bertindak sesuai dengan cara yang dilakukan oleh
Menurut Zenden, “sosialisasi didefinisikan sebagai sebuah proses seseorang berinteraksi sosial sepanjang hidupnya yang didalam
proses itu ia mempelajari pengetahuan, sikap, nilai-nilai dan perilaku
yang penting supaya bisa terlihan secara efektif dalam hidup
bermasyarakat”.6 Berikut pengertian sosialisasi menurut para ahli: 1. Charlotte Buhler
Sosialisasi adalah proses yang membantu individual-individual
belajar dan menyesuaiakan diri, bagaiman cara hidup, dan
berpikir kelompoknya agar ia dapat berperan dan berfungsi
dengan kelompoknya.
2. Peter Berger
Sosialisasi adalah suatu proses dimana seseorang menghayati
serta memahami norma-norma dalam masyarakat tempat
tinggalnya sehingga akan membentuk kepribadiannya.
3. Soerjono Soekanto
Sosialisasi adalah proses mengkomunikasikan kebudayaan
kepada warga masyarakat yang baru.
4. David Gaslin
Sosialisasi merupakan proses belajar yang dialami seseorang
untuk memperoleh pengetahuan tentang nilai dan norma-norma
agar ia dapat berpartisipasi sebagai anggota kelompok
masyarakat.7
b. Proses Sosialisasi
George Herbert Mead berpendapat bahwa sosialisasi yang
dilalui seseorang dapat dibedakan menlalui tahap-tahap sebagai
berikut.
1. Tahap persiapan (Preparatory Stage)
6
M. Amin Nurdin, dan Ahmad Abroriri, Mengerti Sosiologi,(Jakarta: UIN Jakarta Press, 2006),h. 73
7
Tahap ini dialami sejak manusia dilahirkan, saat seorang
anak mempersiapkan diri untuk mengenal dunia sosialnya,
termasuk untuk memperoleh pemahaman tentang diri. Pada tahap
ini juga anak-anak mulai melakukan kegiatan meniru meski tidak
sempurna.
2. Tahap meniru (Play Stage)
Tahap ini ditandai dengan semakin sempurnanya seorang
anak menirukan peran-peran yang dilakukan oleh orang dewasa.
Pada tahap ini mulai terbentuk kesadaran tentang anma diri dan
siapa nama orang tuanya, kakaknya, dan sebagainya. Anak mulai
menyadari tentang apa yang dilakukan seorang ibu dan apa yang
diharapkan seorang ibu dari anak. Dengan kata lain, kemampuan
untuk menempatkan diri pada posisi orang lain juga mulai
terbentuk pada tahap ini. Kesadaran bahwa dunia sosial manusia
berisikan banyak orang telah mulai terbentuk. Sebagian dari orang
tersebut merupakan orang-orang yang dianggap penting bagi
pembentukan dan bertahannya diri, yakni dari mana anak
menyerap norma dan nilai. Bagi seorang anak, orang-orang ini
disebut orang-orang yang amat berarti (Significant other). 3. Tahap siap bertindak (Game Stage)
Peniruan yang dilakukan sudah mulai berkurang dan
digantikan oleh peran yang secara langsung dimainkan sendiri
dengan penuh kesadaran. Kemampuannya menempatkan diri pada
posisi orang lain pun meningkat sehingga memungkinkan adanya
kemampuan bermain secara bersama-sama. Dia mulai menyadari
adanya tuntutan untuk membela keluarga dan bekerja sama
dengan teman-temannya. Pada tahap ini lawan berinteraksi
semakin banyak dan hubunganya semakin kompleks. Individu
mulai berhubungan dengan teman-teman sebaya di luar rumah.
Peraturan-peraturan yang berlaku di luar keluarganya secara
menyadari bahwa ada norma tertentu yang berlaku di luar
keluarganya.
4. Tahap penerimaan norma kolektif (Generalized
Stage/Generalized other)
Pada tahap ini seseorang telah dianggap dewasa. Dia sudah
dapat menempatkan dirinya pada posisi masyarakat secara luas.
Dengan kata lain, ia dapat bertenggang rasa tidak hanya dengan
orang-orang yang berinteraksi dengannya tapi juga dengan
masyarakat luas. Manusia dewasa menyadari pentingnya
peraturan, kemampuan bekerja samabahkan dengan orang lain
yang tidak dikenalnya secara mantap. Manusia dengan
perkembangan diri pada tahap ini telah menjadi warga masyarakat
dalam arti sepenuhnya.8
Menurut Charles H. Cooley lebih menekankan peranan interaksi
dalam teorinya. Menurut dia, Konsep Diri (self concept) seseorang berkembang melalui interaksinya dengan orang lain. Sesuatu yang
kemudian disebut looking-glass self terbentuk melalui tiga tahapan sebagai berikut.
1. Kita membayangkan bagaimana kita di mata orang lain.'
Seorang anak merasa dirinya sebagai anak yang paling
hebat dan yang paling pintar karena sang anak memiliki prestasi
di kelas dan selalu menang di berbagai lomba.
2. Kita membayangkan bagaimana orang lain menilai kita.'
Dengan pandangan bahwa si anak adalah anak yang hebat,
sang anak membayangkan pandangan orang lain terhadapnya. Ia
merasa orang lain selalu memuji dia, selalu percaya pada
tindakannya. Perasaan ini bisa muncul dari perlakuan orang
terhadap dirinya. MIsalnya, gurunya selalu mengikutsertakan
dirinya dalam berbagai lomba atau orang tuanya selalu
8
memamerkannya kepada orang lain. Ingatlah bahwa pandangan
ini belum tentu benar. Sang anak mungkin merasa dirinya hebat
padahal bila dibandingkan dengan orang lain, ia tidak ada
apa-apanya. Perasaan hebat ini bisa jadi menurun kalau sang anak
memperoleh informasi dari orang lain bahwa ada anak yang lebih
hebat dari dia.
3. Bagaimana perasaan kita sebagai akibat dari penilaian tersebut.
Dengan adanya penilaian bahwa sang anak adalah anak
yang hebat, timbul perasaan bangga dan penuh percaya diri.
Ketiga tahapan di atas berkaitan erat dengan teori labeling, dimana seseorang akan berusaha memainkan peran sosial sesuai
dengan apa penilaian orang terhadapnya. Jika seorang anak dicap
"nakal", maka ada kemungkinan ia akan memainkan peran
sebagai "anak nakal" sesuai dengan penilaian orang terhadapnya,
walaupun penilaian itu belum tentu kebenarannya.9
c. Agen-agen Sosialisasi
Agen sosialisasi adalah pihak-pihak yang melaksanakan atau
melakukan sosialisasi. Ada empat agen sosialisasi yang utama, yaitu
keluarga, kelompok bermain, media masa, dan lembaga pendidikan
sekolah.
Pesan-pesan yang disampaikan agen sosialisasi berlainan dan
tidak selamanya sejalan satu sama lain. Apa yang diajarkan keluarga
mungkin saja berbeda dan bisa jadi bertentangan dengan apa yang
diajarkan oleh agen sosialisasi lain. Misalnya, di sekolah anak-anak
diajarkan untuk tidak merokok, meminum minuman keras dan
menggunakan obat-obatan terlarang (narkoba), tetapi mereka dengan
leluasa mempelajarinya dari teman-teman sebaya atau media massa.
9
Proses sosialisasi akan berjalan lancar apabila pesan-pesan yang
disampaikan oleh agen-agen sosialisasi itu tidak bertentangan atau
selayaknya saling mendukung satu sama lain. Akan tetapi, di
masyarakat, sosialisasi dijalani oleh individu dalam situasi konflik
pribadi karena dikacaukan oleh agen sosialisasi yang berlainan.
1. Keluarga (kinship)
Bagi keluarga inti (nuclear family) agen sosialisasi meliputi ayah, ibu, saudara kandung, dan saudara angkat yang belum
menikah dan tinggal secara bersama-sama dalam suatu rumah.
Sedangkan pada masyarakat yang menganut sistem kekerabatan
diperluas (extended family), agen sosialisasinya menjadi lebih luas karena dalam satu rumah dapat saja terdiri atas beberapa
keluarga yang meliputi kakek, nenek, paman, dan bibi di samping
anggota keluarga inti. Pada masyarakat perkotaan yang telah
padat penduduknya, sosialisasi dilakukan oleh orang-orabng yang
berada diluar anggota kerabat biologis seorang anak. Kadangkala
terdapat agen sosialisasi yang merupakan anggota kerabat
sosiologisnya, misalnya pramusiwi, menurut Gertrudge Jaeger
peranan para agen sosialisasi dalam sistem keluarga pada tahap
awal sangat besar karena anak sepenuhnya berada dalam ligkugan
keluarganya terutama orang tuanya sendiri.
2. Teman pergaulan
Teman pergaulan (sering juga disebut teman bermain)
pertama kali didapatkan manusia ketika ia mampu berpergian ke
luar rumah. Pada awalnya, teman bermain dimaksudkan sebagai
kelompok yang bersifat rekreatif, namun dapat pula memberikan
pengaruh dalam proses sosialisasi setelah keluarga. Puncak
pengaruh teman bermain adalah pada masa remaja. Kelompok
bermain lebih banyak berperan dalam membentuk kepribadian
Berbeda dengan proses sosialisasi dalam keluarga yang
melibatkan hubungan tidak sederajat (berbeda usia, pengalaman,
dan peranan), sosialisasi dalam kelompok bermain dilakukan
dengan cara mempelajari pola interaksi dengan orang-orang yang
sederajat dengan dirinya. Oleh sebab itu, dalam kelompok
bermain, anak dapat mempelajari peraturan yang mengatur
peranan orang-orang yang kedudukannya sederajat dan juga
mempelajari nilai-nilai keadilan.
3. Lembaga pendidikan formal (sekolah)
Menurut Dreeben, “dalam lembaga pendidikan formal
seseorang belajar membaca, menulis, dan berhitung”.10 Aspek lain yang juga dipelajari adalah aturan-aturan mengenai
kemandirian (independence), prestasi (achievement), universalisme, dan kekhasan (specificity). Di lingkungan rumah seorang anak mengharapkan bantuan dari orang tuanya dalam
melaksanakan berbagai pekerjaan, tetapi di sekolah sebagian
besar tugas sekolah harus dilakukan sendiri dengan penuh rasa
tanggung jawab.
4. Media massa
Yang termasuk kelompok media massa di sini adalah media
cetak (surat kabar, majalah, tabloid), media elektronik (radio,
televisi, video, film). Besarnya pengaruh media sangat tergantung
pada kualitas dan frekuensi pesan yang disampaikan.
Contoh: Penayangan acara Smackdown di televisi diyakini telah menyebabkan penyimpangan perilaku anak-anak dalam
beberapa kasus.
10
Iklan produk-produk tertentu telah meningkatkan pola
konsumsi atau bahkan gaya hidup masyarakat pada umumnya.
Gelombang besar pornografi, baik dari internet maupun
media cetak atau tv, didahului dengan gelombang game eletronik
dan segmen-segmen tertentu dari media TV (horor, kekerasan,
ketaklogisan, dan seterusnya) diyakini telah mengakibatkan
kecanduan massal, penurunan kecerdasan, menghilangnya
perhatian atau kepekaan sosial, dan dampak buruk lainnya.
5. Agen-agen lain
Selain keluarga, sekolah, kelompok bermain dan media
massa, sosialisasi juga dilakukan oleh institusi agama, tetangga,
organisasi rekreasional, masyarakat, dan lingkungan pekerjaan.
Semuanya membantu seseorang membentuk pandangannya
sendiri tentang dunianya dan membuat presepsi mengenai
tindakan-tindakan yang pantas dan tidak pantas dilakukan. Dalam
beberapa kasus, pengaruh-pengaruh agen-agen ini sangat besar.11
2. Konsep Keluarga
a. Pengertian Keluarga
Secara literal, “keluarga adalah unit terkecil sosial yang terdiri
dari orang yang berada dalam seisi rumah yang sekurang-kurangnya
terdiri dari ayah, ibu dan anak”.12
Menurut pandangan sosiologis, keluarga dapat diartikan dua
macam yaitu:
1) Dalam arti sempit
Keluarga dalam arti ini hanya terdiri atas ayah, ibu, dan anak.
Keluarga semacam ini disebut keluarga inti atau keluarga batin
11
Muhammad Numan Somantri, Menggagas Pembaharuan Pendidikan IPS. (Bandung: PPS-UPI dan PT. Remaja Rosdakarya, 2001). h. 96
12
(nuclear family).
2) Dalam arti luas
Keluarga dalam arti ini meliputi semua pihak yang ada
hubungan darah atau keturunan. Jadi, bukan hanya terdiri atas
ayah, ibu dan anaktetapi juga meliputi kakek, nenek, paman,
bibi, keponakan, dan sebagainya. Keluarga dalam arti ini bisa
disebut keluarga keluarga besar atau keluarga luas (extended family), klan ataupun marga.13
Jadi, dapat disimpulkan menurut pandangan sosiologis bahwa
keluarga diartikan menjadi dua dalam arti sempit yaitu keluarga inti
atau keluaga batin yang di dalamnya terdiri dari ayah, ibu dan anak.
Dalam arti luas keluarga yang memiliki hubungan darah, selain ayah,
ibu dan anak juga termasuk kakek, nenek, paman, bibi yang disebut
keluarga luas atau besar maupun marga atau klan.
Sedangkan dalam arti normative, “keluarga merupakan kumpulan beberapa orang yang karena terikat oleh ikatan
perkawinan, lalu mengerti dan merasa berdiri sebagai gabungan itu
untuk kebahagiaan, dan ketentraman semua anggota yang ada dalam
keluarga tersebut”.14
Jadi, dapat disimpulkan bahwa keluarga adalah gabungan dari
beberapa individu yang di persatukan oleh suatu wadah yaitu
pernikahan, yang bertujuan mencari kebahagian dan ketentraman
bagi orang yang ada dalam keluarga tersebut.
Menurut George Murdock, dalam bukunya Social Structure,
menguraikan bahwa “keluarga merupakan kelompok sosial yang
memiliki karakteristik tinggal bersama, terdapat kerja sama ekonomi,
13
Sibli, Pengaruh Lingkungan Keluarga Terhadap Kepribadian Anak, (Jakarta: Universitas Muhamadiyah Prof. Hamka, 2011), h. 4
14
dan terjadi proses reproduksi.”15
Jadi, penulis menyimpulkan
pendapat di atas bahwa keluarga adalah bagian dari social group
yang mempunyai ciri-ciri, hidup bersama, ada kerja sama dalam
bidang ekonomi, dan ada proses mendapatkan keturunan.
Menurut Ira Reiss mengatakan bahwa “keluarga adalah suatu
kelompok kecil yang terstruktur dalam pertalian keluarga dan
memiliki fungsi utama berupa sosialisasi pemeliharaan terhadap
generasi baru”.16Jadi, menurut pandangan di atas dapat disimpulkan bahwa keluarga adalah suatu kelompok yang tertata dalam suatu
ikatan dan mempunyai peran yaitu memelihara penanaman nilai dan
mewarisi nilai kepada keturunannya.
Dalam perspektif islam, keluarga merupakan tempat yang
strategis dalam pembinaan karakter anak dan penanaman atau
sosialisasi nilai. Baik-buruknya karakter anak ataupun hubungan
personal maupun interpersonalnya tergantung pada baik-buruknya
pelaksanaan pendidikan di dalam keluarga.
Dalam kajian psikologi, disebutkan bahwa keluarga memiliki
peran yang sangat penting dalam membentuk kepribadian anak.
“Keluarga merupakan tempat yang paling menentukan, apakah seorang anak tumbuh menjadi orang yang berguna atau tidak di
masyarakat”.17
Dari pandangan di atas dapat di ambil kesimpulan bahwa
keluarga mempunyai tugas yang sangat penting dalam membentuk
pribadi, sikap, karakter anak, dan keluarga menentukan apakah anak
ke depannya, bermanfaat bagi masyarakat atau tidak.
15
George Murdock dalam Sri Lestari. Psikologi Keluarga Penanaman Nilai dan Penanganan Konflik dalam Keluarga,(Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2012), h. 3
16
Ira Reiss dalam Sri Lestari. Psikologi Keluarga Penanaman Nilai dan Penanganan Konflik dalam Keluarga, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2012), h. 4
17
Keluarga adalah lingkungan utama yang dapat membentuk watak dan karakter anak. Kelurga juga merupakan lingkungan pertama di mana anak melakukan komunikasi dan sosialisasi dengan manusia lain selain dirinya. Di dalam keluarga pula, remaja untuk pertama kalinya dibentuk, baik sikap maupun kepribadiannya. Keluarga memiliki tempat dan fungsi yang sangat unik sekaligus dinamis, ia memiliki peran sosial, peran pendidikan sekaligus peran keagamaan.18
Penulis memberikan kesimpulan dari pandangan di atas bahwa
keluarga merupakan suatu tepat pertama dalam membentuk sikap
dan pribadi anak. Keluarga juga merupakan tempat interaksi pertama
dan tempat menanamkan nilai-nilai dan memiliki peran yang sangat
penting dalam menanamkan nilai-nilai yang baik kepada anak.
Keluarga adalah kelompok yang terdiri dari dua orang atau lebih
yang hidup bersama, mempunyai hubungan darah, menikah dan
beradaptasi atau menyesuaikan diri. Keluarga adalah kelompok
sosial yang terdiri atas dua orang atau lebih yang mempunyai ikatan
darah, perkawinan atau adopsi.
Jadi, dapat di simpulkan bahwa sebuah keluarga adalah sebuah
sekelompok orang yang berinteraksi yang mengakui ada hubungan
yang mana tiap-tiap orang berdasarkan ikatan orang tua pada
umumnya, menikah dan atau adopsi atau mengambil anak.
Keluarga merupakan kelompok kecil yang anggota-anggotanya
berinteraksi face to face secara tetap; dalam kelompok yang demikian perkembangan anak dapat diikuti dengan seksama oleh
orang tuanya dan penyesuaian secara pribadi dalam hubungan sosial
lebih mudah terjadi.
18
Dari definisi di atas dapat disimpulkan bahwa keluarga
merupakan satuan sosial yang paling dasar dan terkecil di dalam
masyarakat. Keluarga dapat hanya terdiri atas dua orang, yaitu suami
dan istri, atau ditambah dengan adanya anak-anak, baik yang
dilahirkan ataupun yang diadopsi. Keluarga mengacu pada
hubungan-hubungan yang dibentuk melalui atau di dasarkan pada
perkawinaan atau pernikahan.
Keluarga adalah wadah yang sangat penting di antara individu,
tempat pertama-tama mengadakan sosialisasi kehidupan anak dan
group dan merupakan kelompok sosial yang pertama di mana
anak-anak menjadi anggotanya.
Berdasarkan, definisi di atas dapat disimpulkan bahwa
keluarga adalah tempat yang sangat penting yang menjadi tempat
menanamkan nilai-nilai kepada anak dan merupakan kelompok
pertama yang di dalamnya anak-anak yang menjadi anggotanya.
Keluarga merupakan kesatuan kelompok terkecil di dalam
masyarakat. Pranata ini mengatur manusia dalam melanjutkan
keturunan (reproduksi), dengan fungsinya mengatur masalah hubungan seksual, tanggung jawab mendidik anak, mengatur
hubungan kekerabatan, dan memiliki fungsi afeksi (pembentukan
sikap etika dan norma), serta mengatur masalah ekonomi keluarga,
melaksanakan pengendalian sosial dan melindungi anggota keluarga.
Dalam buku Sri Lestari mengatakan bahwa “keluarga adalah
rumah tangga yang memiliki hubungan darah atau perkawinan atau
menyediakan terselenggaranya fungsi-fungsi instrumental mendasar
dan fungsi-fungsi ekspresif keluarga bagi para anggotanya yang
berada dalam suatu jaringan”.19
19
Berdasarkan pandangan di atas dapat disimpulkan bahwa
keluarga merupakan rumah tangga dimana ada ikatan darah yang
diikat oleh sebuah wadah yang dinamakan pernikahan dan tempat
yang menjalankan peran-peran keluarga.
Giddens dalam M. Amin Nurdin, dkk mendefinisikan
“keluarga adalah sekelompok orang yang mempunyai kaitan
langsung hubungan kerabat (kin) yang di dalamnya terdapat orang-orang dewasa yang mampu bertanggung jawab dalam pengasuhan
anak”.20
Jadi, berdasarkan pendapat Giddens dalam M. Amin
Nurdin, dkk keluarga di dalamnya terdiri dari orang yang sudah di
anggap dewasa yang dapat mengasuh dan bertanggung jawab
terhadap pendidikan dan pengajaran anak-anak mereka dalam hal
tingkah laku maupun segi pengetahuannya.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa keluarga ialah lingkungan
pendidikan pertama anak sebelum ia melangkah ke pendidikan lain.
Dalam keluarga di tanamkan atau disosialisasikan nilai-nilai sosial,
kepribadian, watak dan budi pekerti.
b. Proses Terbentuknya Keluarga
Pada umumnya terbentuknya sebuah keluarga dimulai dari
saling kenal antara seorang pria dengan seorang wanita. Dari
perkenalan kemudian meningkat menjadi pertemuan-pertemuan yang
rutin. Dalam masa-masa pertemuan itu ada janji-janji yang
diucapkan, perjanjian tersebut kemudian diresmikan dalam sebuah
pertunangan dan akhirnya janji-janji itu dilaksanakan dalam sebuah
perkawinan.
Apabila diurutkan tahapan-tahapannya, maka terbentuknya sebuah keluarga akan melalui
20
beberapa tahap sebagai berikut:
1. Tahap formatif atau pre-nuptual; yaitu suatu masapersiapan sebelum dilangsungkannya perkawinan yang ditandai dengan meningkatnya keintiman antara pria dan wanita, dan disertai dengan pertimbangan-pertimbangan ekonomi dan sosial. Tahap ini antara lain meliputi peminangan (pelamaran) dan pertunangan. Dalam tahap ini pihak laki-laki memberikan bingkisan kepada pihak wanita berupa pengikat. 2. Tahap perkawinan atau nuptial-stage; yaitu
tahap ketika dilangsungkannya pernikahan dan sesudah tetapi sebelum dilahirkannya anak-anak. Tahap ini merupakan awal dari sebuah keluarga yang sesungguhnya, yaitu kehidupan bersama laki-laki dan wanita dalam suatu ikatan perkawinan, penciptaan suasana rumah, pembangkitan pengalaman baru, penciptaan sikap baru, pendirian tempat tinggal baru dan seterusnya.
3. Tahap pemeliharaan anak-anak atau child rearing stage; tingkatan ini sesungguhnya merupakan sebuah bangunan keluarga. Ikatan yang utama pada tahaP ini adalah anak-anak yang merupakan buah ikatan perkawinan.
4. Tahap keluarga dewasa atau maturity stage; tahap ini tercapai ketika dalam suatu keluarga anak-anak yang dilahirkan dan dipelihara telah mampu berdiri sendiri dan membentuk keluarga baru.21
c. Struktur Keluarga
Dari segi keberadaan anggota keluarga, maka keluarga dapat
dibedakan menjadi dua, yaitu:
1. Keluarga inti (nuclear family).
Menurut Lee “keluarga inti adalah keluarga yang di
dalamnya hanya terdapat tiga posisi sosial, yaitu: suami-ayah,
istri-ibu, dan anak-sibling”.22 Sturuktur keluarga yang demikian
21
Sibli, Pengaruh Lingkungan Keluarga Terhadap Kepribadian Anak, (Jakarta: Universitas Muhamadiyah Prof. Hamka, 2011), h. 6
22
menjadikan keluarga sebagai orientasi bagi anak yaitu keluarga
tempat dimana ia di lahirkan. Jadi, dapat di simpulkan dari
pandangan di atas bahwa keluarga inti adalah keluarga yang
memiliki tiga kedudukan yaitu suami-ayah, istri-ibu, dan anak.
Menurut Berns adapun “orang tua menjadikan keluarga
sebagai wahana prokreasi, karena keluarga inti terbentuk setelah
sepasang laki-laki dan perempuan menikah dan memiliki anak”.23 Dalam keluarga inti hubungan antar suami istri bersifat saling
membutuhkan dan mendukung layaknya persahabatan, sedangkan
anak-anak tergantung pada orang tuanya dalam hal pemenuhan
kebutuhan afeksi dan sosialisasi. Jadi, dapat di simpulkan dari
pandangan di atas bahwa orang tua menjadikan keluarga sebagai
wahana prokreasi yaitu dimana asal-asul sebuah keluarga
terbentuk dari pasangan laki-laki dan perempuan yang menikah
dan memiliki keturunan.
2. Keluarga batih (extended family).
Menurut Lee “keluarga batih adalah
keluarga yang di dalamnya`menyertakan posisi
lain.” Bentuk pertama dari keluarga batih yang
banyak ditemui di masyarakat adalah keluarga
bercabang (stem family). Keluarga bercabang terjadi manakala seorang anak, dan hanya seorang, yang
sudah menikah masih tinggal dalam rumah orang
tuanya. Bentuk kedua dari keluarga batih adalah
keluarga berumpun (lineal extended). Bentuk ini terjadi manakala lebih dari satu anak yang sudah
menikah tetap tinggal bersama kedua orang tuanya.
Bentuk ketiga dari keluarga batih adalah keluarga
beranting (fully extended). Bentuk ini terjadi
23
manakala di dalam suatu keluarga terdapat generasi
ketiga (cucu) yang sudah menikah dan tetap tinggal
bersama.24
Jadi dapat disimpulkan dari pandangan di atas bahwa
keluarga batih merupakan keluarga yang di dalamnya ada
tambahan posisi selain ketiga posisi keluarga inti.
d. Karakteristik Keluarga
Karakteristik keluarga adalah ciri-ciri yang ada dalam sebuah
keluarga, yang dapat dilihat dari simbol, tata tertib, tradisi, alat-alat
perlengkapan, nilai-nilai sendiri. Dalam hal ini karakteristik keluarga
juga dapat dilihat dari segi macam-macam aturan atau tata tertib
keluarga, pola asuh keluarga, tingkatan ekonomi keluarga, maupun
latar belakang keluarga.
Karakteristik keluarga, antara lain:
1. Keluarga memiliki simbol, dimana simbol menandai kekhususan
dan memberi identitas kepada warga masyarakat yang terlibat di
dalamnya. Simbol-simbol itu menggambarkan tujuan dan fungsi
keluarga. Contoh: cincin kawin yang dibagian dalam lingkaran
tertulis nama tertentu. Cincin ini merupakan tanda dengan
makna tertentu.
2. Keluarga memiliki tata tertib dan tradisi, baik tertulis maupun
tidak. Tata tertib memainkan kode etik bagi setiap peranan yang
dimainkan sescorang. Tradisi merupakan dasar bagi keluarga
dalam memenuhi kebutuhan pokok masyarakat di mana
keluarga merupakan bagiannya. Contoh: Anak-anak
berkewajiban menghormati orang tua dan menjaga nama baik
24
keluarga, sedangkan orang tua bertugas mendidik anak.
3. Keluarga memiliki alat-alat perlengkapan yang digunakan untuk
mencapai tujuan.
4. Keluarga memiliki nilai-nilai sendiri.
Sedangkan, Menurut Burgess dan Locke dalam Sibli ada empat karakteristik keluarga sebagai berikut:
a) Keluarga adalah susunan orang yang disatukan oleh ikatan perkawinan darah, anak atau adopsi. Hasil dari ikatan perkawinan adalah lahirnya anak-anak, mereka juga merupakan anggota yang mendapatkan perlindungan, pengakuan serta prestise keluarga.
b) Anggota keluarga ditandai dengan hidup bersama di bawah satu atap yang merupakan satu susunan rumah tangga atau “household”.
c) Keluarga merupakan satuan terkecil yang terdiri atas orang-orang yang berinteraksi dan berkomunikasi sehingga menciptakan peranan sosial bagi suami, istri, ayah, ibu, putra (anak laki), putri (anak perempuan), kakak laki-laki, kakak perempuan, adik laki- laki dan adik perempuan.
d) Keluarga adalah memelihara suatu kebudayaan bersama, yang pada dasarnya diperoleh dari masyarakat. Suatu kebudayaan akan mempunyai kebudayaan sendiri dan dapat membedakannya dari keluarga yang lain.25
Berdasarkan Burgess dan Locke dalam Sibli dapat disimpulkan
bahwa karakteristik keluarga diantaranya, susunan orang yang
disatukan oleh ikatan perkawinan darah, anak atau adopsi, anggota
keluarga ditandai dengan hidup bersama di bawah satu atap yang
merupakan satu susunan rumah tangga, satuan terkecil yang terdiri
atas orang-orang yang berinteraksi dan berkomunikasi sehingga
menciptakan peranan sosial, memelihara suatu kebudayaan bersama,
yang pada dasarnya diperoleh dari masyarakat.
25
e. Fungsi-fungsi Keluarga
Menurut Minuchin dari kajian lintas budaya ditemukan dua fungsi utama keluarga, yakni:
1. Internal, dimana keluarga berfungsi memberika perlindungan psikososial bagi para anggotanya.
2. Eksternal, dimana keluarga berfungsi mentransmisikan nilai-nilai budaya pada generasi selanjutnya.26
Jadi, berdasarkan pendapat Minuchin dapat disimpulkan
bahwa dari kajian lintas budaya ditemukan dua fungsi utama
keluarga, yaitu internal dalam hal ini keluarga memberikan
perlindungan atau proteksi psikologis dan social bagi para anggota
keluarga dan eksternal dalam hal ini keluarga mewarisi nilai-nilai
budaya pada keturunan selanjutnya.
Secara fungsional manifest terlihat bahwa keluarga memegang
peranan penting bagi kelangsungan hidup masyarakat, antara lain:
1. Keluarga merupakan pranata sosial yang memungkinkan
dilaksanakannya reproduksi (keturunan) anggota-anggota baru
masyarakat.
2. Keluarga merupakan tempat dilakukannya internalisasi awal
norma-norma yang berlaku dalam masyarakat.
3. Keluarga bertanggung jawab mendidik anak (menanamkan nilai,
etika, norma-norma yang berlaku di masyarakat).
4. Keluarga merupakan pranata social yang mengatur ikatan
kekerabatan dalam masyarakat.
5. Keluarga memiliki fungsi afeksi (kasih sayang).
6. Keluarga berfungsi mengatur ekonomi keluarga.
7. Keluarga berfungsi mengadakan perlindungan/ penjagaan.
26
8. Keluarga memiliki fungsi rekreasi.27
Secara fungsional laten, peranan pranata keluarga terlihat
antara lain:
1. Keluarga merupakan wadah tempat setiap anggota keluarga dapat
beristirahat setelah sehari penuh bekerja di luar rumah.
2. Keluarga merupakan tempat mempersiapkan diri untuk
menghadapi persaingan di dunia kerja dan dunia pendidikan.28
Keberfungsian keluarga dalam Sri Lestari “dapat dinilai dari
tingkat kelentingan (resiliency) dan kekukuhan (strength) keluarga
dalam menghadapi tantangan.”29
Jadi, dapat disimpulkan dari
pendapat di atas bahwa keberfungsian keluarga dapat dinilai dari
tingkat kelentingan dimana kelentingan keluarga adalah kemampuan
untuk bangkit dari penderitaan, dengan menjadi lebih kuat dan lebih
memiliki sumber daya. Sedangkan, kekukuhan mendeskripsikan
tentang kualitas atau mutu hubungan dalam keluarga yang
memberikan sumbangsihnya dalam kesehatan emosi dan
kesejahteraan bagi anggotanya.
Menurut Berns, keluarga memiliki lima fungsi dasar, yaitu:
1. Reproduksi, keluarga memiliki tugas untuk mempertahankan
populasi yang ada di dalam masyarakat.
2. Sosialisasi atau edukasi. Keluarga menjadi sarana untuktransmisi
nilai, keyakinan, sikap, pengetahuan, keterampilan, dan teknik
dari generasi sebelumnya ke generasi yang lebih muda.
3. Penugasan peran sosial. Keluarga memberikan identitas pada para
anggotanya seperti ras, etnik, religi, sosial ekonomi, dan peran
27
Sibli. Pengaruh Lingkungan Keluarga Terhadap Kepribadian Anak, (Jakarta: Universitas Muhamadiyah Prof. Hamka, 2011), h. 7
28
Sibli. Pengaruh Lingkungan Keluarga Terhadap Kepribadian Anak, (Jakarta: Universitas Muhamadiyah Prof. Hamka, 2011), h. 7
29
gender.
4. Dukungan ekonomi. Keluarga menyediakan tempat berlindung,
makanan, dan jaminan kehidupan.
5. Dukungan emosi atau pemeliharaan. Keluarga memberikan
pengalaman interaksi sosial yang pertama bagi anak. Interaksi
yang terjadi bersifat mendalam, mengasuh, dan berdaya tahan
sehingga memberikan rasa aman pada anak.30
Jadi, menurut pandangan Berns dapat disimpulkan bahwa
keluarga memiliki lima fungsi dasar, yaitu pertama, reproduksi
dimana keluarga berusaha mempertahankan dan memberikan
keturunan atau generasi, kedua, sosialisasi atau edukasi dimana
keluarga memiliki fungsi mewarisi atau mentransfer nilai-nilai yang
ada di masyarakat, keyakinan, sikap, pengetahuan dan keterampilan
dari generasi sebelumnya dan generasi selanjutnya, ketiga,
penugasan peran sosial dimana keluarga memberikan tugas pada
para anggotanya, keempat dukungan ekonomi dimana keluarga
menyediakan segala kebutuhan ekonomi termasuk di dalamnya
makanan, tempat berteduh, dan lain-lain, kelima dukungan emosi
atau pemeliharaan dimana keluarga merupakan tempat interaksi
sosial yang pertama bagi anak. Dalam perspektif perkembangan
fungsi paling penting dari keluarga adalah melakukan perawatan dan
sosialisasi pada anak.
f. Jenis-Jenis Dalam Keluarga
Menurut Bossard dan Boll dalam Sibli ada dua jenis keluarga,
dilihat dari hubungan anak, yaitu:
1. Keluarga kandung atau keluarga biologis (family of procreation) adalah sebuah keluarga yang mempunyai hubungan darah
30
dengan anak. Dengan kata lain keluarga ini terdiri atas ayah, ibu,
dan anak kandung. Hubungan dalam keluarga biologis akan
berlangsung terus. Hubungan darah antara anak-ayah-ibu tak
mungkin dapat dihapus.
2. Keluarga orientasi (family of orientation) adalah keluarga yang menjadi tempat bagi anak untuk memperoleh perlindungan,
pendidikan, tempat mengarahkan diri atau berorientasi. Di
dalam keluarga orientasi ini terjadi interaksi antara
anggota-anggota keluarga tersebut. Berbeda dengan keluarga biologis,
maka dalam keluarga orientasi hubungan yang terjadi dapat
terputus atau berubah dari waktu ke waktu.31
Berdasarkan Bossard dan Boll dalam Sibli dapat disimpulkan
bahwa ada dua jenis keluarga, dilihat dari hubungan anak, Keluarga
kandung atau keluarga biologis (family of procreation) adalah sebuah keluarga yang mempunyai hubungan atau ikatan darah
dengan anak, yang lahir dalam keluarga tersebut tidak dapat terputus
hubungannya, sedangkan keluarga orientasi (family of orientation) adalah keluarga yang menjadi tempat bagi anak untuk memperoleh
perlindungan, pendidikan, tempat mengarahkan diri atau
berorientasi, adanya interaksi dalam keluarga, ikatan atau
hubungannya dapat terputus.
g. Bentuk-Bentuk Keluarga
1. Berdasarkan lokasi
a. Adat utrolokal, yaitu adat yang memberi kebebasan kepada
sepasang suami istri untuk memilih tempat tinggal, baik itu di
sekitar kediaman kaum kerabat suami ataupun di sekitar
31
kediamanan kaum kerabat istri;
b. Adat virilokal, yaitu adat yang menentukan bahwa sepasang
suami istri diharuskan menetap di sekitar pusat kediaman kaum
kerabat suami;
c. Adat uxurilokal, yaitu adat yang menentukan bahwa sepasang
suami istri harus tinggal di sekitar kediaman kaum kerabat
istri;
d. Adat bilokal, yaitu adat yang menentukan bahwa sepasang
suami istri dapat tinggal di sekitar pusat kediaman kerabat
suami pada masa tertentu, dan di sekitar pusat kediaman kaum
kerabat istri pada masa tertentu pula (bergantian);
e. Adat neolokal, yaitu adat yang menentukan bahwa sepasang
suami istri dapat menempati tempat yang baru, dalam arti kata
tidak berkelompok bersama kaum kerabat suami maupun istri;
f. Adat avunkulokal, yaitu adat yang mengharuskan sepasang
suami istri untuk menetap di sekitar tempat kediaman saudara
laki-laki ibu (avunculus) dari pihak suami;
g. Adat natalokal, yaitu adat yang menentukan bahwa suami dan
istri masing-masing hidup terpisah, dan masing-masing dari
mereka juga tinggal di sekitar pusat kaum kerabatnya sendiri.
2. Berdasarkan pola otoritas
a. Patriarkal, yakni otoritas di dalam keluarga dimiliki oleh
laki-laki (laki-laki-laki-laki tertua, umumnya ayah).
b. Matriarkal, yakni otoritas di dalam keluarga dimiliki oleh
perempuan (perempuan tertua, umumnya ibu).
c. Equalitarian, yakni suami dan istri berbagi otoritas secara
seimbang.32
32
h. Teori Sistem Keluarga
Keluarga sebagai sistem sosial di dalam buku Sri Lestari tidak
dapat terlepas dari konteks sosial dan budaya. Faktor-faktor
lingkungan yang mempengaruhi keluarga dapat berupa agama,
komunitas yang lebih besar maupun lingkungan pertetanggaan.33
Minuchin mengajukan skema konsep yang memandang
keluarga sebagai sebuah sistem yang bekerja dalam konteks sosial
dan memiliki tiga komponen, diantaranya yaitu:
1. Struktur keluarga berupa sistem sosiokultural yang terbuka dalam
transformasi.
2. Keluarga senantiasa berkembang melalui sejumlah tahap yang
mensyaratkan penstrukturan.
3. Keluarga beradaptasi dengan perubahan situasi kondisi dalam
usahanya untuk mempertahankan kontinuitas dan meningkatkan
pertumbuhan psikososial tiap anggotanya.34
Jadi, dapat disimpulkan berdasarkan pandangan Minuchin
yang memandang bahwa keluarga merupakan sebuah sistem atau
aturan yang bekerja dalam konteks social dan memiliki tiga
komponen, pertama struktur keluarga berupa aturan atau sistem
sosiokultural yang terbuka dalam perubahan. Kedua keluarga selalu
berkembang melalui beberapa tahapan yang merupakan syarat dari
adanya penstrukturan atau penataan, ketiga keluarga menyesuaikan
diri dengan perubahan kondisi dan berusaha mempertahankan
kelanjutan dan meningkatkan pertumbuhan psikososial dari tiap
anggota keluarga.
Keluarga sebagai sebuah sistem harus dipandang sebagai
33
Sri Lestari, Psikologi Keluarga Penanaman Nilai dan Penanganan Konflik dalam Keluarga,(Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2012), h. 31
34
keseluruhan, mempunyai struktur penopang, tujuan, menjaga
keseimbangan, mempunyai kelembaman, batas-batas, sub-sistem,
dan mengikuti prinsip equifinalty dan equipotentiality.
Menurut teori sistem, “keluarga dianggap sebagai sebuah sistem yang memiliki bagian-bagian yang berhubungan dan saling
berkaitan”.35 Berdasarkan pendapat di atas bahwa teori sistem, keluarga sebagai sebuah sistem yang saling berkaitan. Apabila
bagian sistem yang satu dalam keluarga itu rusak maka sistem yang
lainnya dalam keluarga akan ikut rusak pula.
i. Konflik Orang Tua-Anak
Menurut penulis konflik orang tua-anak adalah suatu keadaan
dimana orang tua dan anak berselisih pendapat, peristiwa
pertentangan atau ketidaksetujuan ataupun ketidaksesuaian antara
anak dan orang tua baik dari segi pandangan, pendapat maupun
perilaku. Konflik orang tua-anak bersumber dari ketidakcocokan
antara perspektif orang tua dan anak.
Di dalam Sri Lestari “konflik orang tua-anak muncul dari
beberapa tahap diantaranya yaitu konflik pada masa kanak-kanak
dan konflik pada masa remaja”.36
Penulis hanya membahas konflik pada masa remaja
dikarenakan hanya remaja yang merupakan sampel penelitian. Pada
masa remaja umumnya dianggap sebagai masa yang paling sulit
dalam tahap perkembangan individu. Para psikolog selama ini
memberi label masa remaja sebagai masa storm and stress, untuk
35
Sri Lestari, Psikologi Keluarga Penanaman Nilai dan Penanganan Konflik dalam Keluarga, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2012), h. 27
36
menggambarkan masa yang penuh gejolak dan tekanan.37
Menurut Zhou bahwa istilah storm and stress
bermula dari psikolog permulaan Amerika, Stanley Hall, yang menganggap bahwa storm and stress
merupakan fenomena universal pada masa remaja dan bersifat normatif. Fenomena tersebut terjadi karena remaja menjalai proses evolusi menuju kedewasaan. Setelah memasuki masa dewasa, ibarat badai akan berlalu dan langit menjadi cerah kembali.38
Konflik remaja dengan orang tua merupakan salah satu hal
yang banyak mengundang perhatian para peneliti. Area yang
menjadi perhatian pada umumnya adalah frekuensi terjadinya
konflik, topik yang menjadi konflik dengan cara yang digunakan
untuk melakukan resolusi konflik.
Temuan Lestari dan Asyanti mengenai “konflik antara remaja
dan orang tua di Surakarta memiliki kesamaan dalam pemanfaatan
waktu luang, penggunaan telepon, tugas pekerjaan rumah, cara
berpakaian, pemilihan teman, prestasi dan gaya belajar dan
pacaran”.39
Berdasarkan teori-teori mengenai keluarga di atas maka
penulis dapat menyimpulkan bahwa faktor- faktor yang menjadi
karakteristik sosiologis keluarga antara lain:
1. Cara orang tua mendidik.
2. Hubungan antar anggota keluarga.
3. Contoh dan bimbingan orang tua.
4. Kepedulian orang tua.
37
Sri Lestari, Psikologi Keluarga Penanaman Nilai dan Penanganan Konflik dalam Keluarga, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2012), h. 108
38
Zhou dalam Sri Lestari, Psikologi Keluarga Penanaman Nilai dan Penanganan Konflik dalam Keluarga, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2012), h. 56
39
5. Pola asuh orang tua.
6. Latar belakang kebudayaan keluarga.
3. Hasil Pembelajaran a. Pengertian Belajar
Belajar merupakan kewajiban bagi setiap manusia, karena
sebagai makhluk sosial dan berbudaya memerlukan perkembangan
yang baik antara dirinya dan lingkungannya.Sehingga dengan belajar
manusia dapat mengembangkan dirinya. Belajar didefinisikan “suatu
proses usaha yang dilakukan untuk memperoleh tingkah laku yang
baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalaman individu itu
sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya”.40
Menurut Gagne, “belajar adalah suatu proses dimana suatu
organisme berubah perilakunya sebagai akibat dari pengalaman”,
sedangkan menurut Henry E. Garret, “belajar merupakan proses
yang berlangsung dalam jangka waktu yang lama melalui latihan
maupun pengalaman yang membawa perubahan diri dan perubahan
cara mereaksi terhadap suatu perangsang tertentu”.41
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa belajar
adalah serangkaian kegiatan jiwa raga untuk memperoleh suatu
perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman individu
dalam interaksi dengan lingkungannya yang menyangkut kognitif,
efektif dan psikomotorik.
b. Ciri-ciri Belajar
Hakikat belajar adalah perubahan tingkah laku, maka ada
beberapa perubahan tertentu yang dimasukkan ke dalam ciri-ciri
belajar, yaitu:
40
Drs, Sumardi Surya Brata, Psikologi Pendidikan. (Jakarta: Tarsito, 1996), cet. Ke-1, h. 2.
41
1. Perubahan yang terjadi secara sadar
Ini berarti individu yang belajar akan menyadari terjadinya
perubahan itu atau sekurang-kurangnya individu telah
merasakan telah terjadi adanya perubahan dalam dirinya.
2. Perubahan dalam belajar bersifat fungsional
Sebagai hasil belajar, perubahan yang terjadi dalam diri individu
berlangsung terus-menerus dan tidak statis.
3. Perubahan dalam belajar bersifat positif dan aktif
Dalam perbuatan belajar, perubahan-perubahan itu selalu
bertambah dan tertuju untuk memperoleh sesuatu yang lebih
baik dari sebelumnya
4. Perubahan dalam belajar bukan bersifat sementara
Perubahan yang terjadi dalam belajar bersifat menetap atau
permanen.Ini berarti perubahan yang terjadi setelah belajar
bersifat menetap.
5. Perubahan dalam belajar bertujuan atau terarah
Perubahan tingkah laku terjadi karena ada tujuan yang ingin
dicapai.
6. Perubahan mencakup seluruh aspek tingkah laku
Perubahan yang diperoleh individu setelah melalui suatu proses
belajar meliputi perubahan tingkah laku. Jika seseorang belajar
sesuatu, sebagai hasilnya akan mengalami perubahan tingkah
laku secara menyeluruh dalam sikap kebiasaan, keterampilan,
pengetahuan dan sebagainya.42
c. Tipe-tipe Belajar
Dalam buku The Condition of Learning Gagne mengemukakan delapan tipe belajar, yang membentuk suatu hierarki dari yang paling
sederhana sampai dengan yang paling kompleks, yaitu:
42
1. Belajar tanda-tanda atau signal learning. Individu belajar mengenal dan memberi respon kepada tanda-tanda.
2. Belajar perangsang-jawaban atau stimulus-respons learning.
Belajar ini merupakan upaya untuk membentuk hubungan antara
perangsang dengan jawaban.
3. Rantai perbuatan atau chaining. Individu belajar melakukan rentetan kegiatan yang membentuk satu kesatuan.
4. Hubungan verbal atau verbal association. Hubungan verbal berbentuk hubungan bahasa.
5. Belajar membedakan atau discrimination learning. Individu belajar melihat perbedaan dan juga persamaan sesuatu benda
dengan yang lainnya.
6. Belajar konsep atau concept learning. Tipe belajar ini menyangkut pemahaman dan penguasaan konsep. Dengan
menguasai konsep siswa dapat membedakan hal-hal baru yang
diperoleh dalam belajar.
7. Belajar aturan-aturan atau rule learning. Individu belajar aturan-aturan yang ada di masyarakat, di sekolah, di rumah ataupun
aturan perdagangan, pemerintahan bahkan ilmu pengetahuan.
8. Belajar pemecahan masalah atau problem solving learning.
Dalam kegiatan belajar ini individu dihadapkan kepada
masalah-masalah yang harus dipecahkan43.
d. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Belajar
Secara global faktor-faktor yang mempengaruhi belajar ada
tiga macam, yaitu:
1. Faktor internal (faktor dari dalam siswa) yakni aspek fisiologis
(kondisi jasmani) yang menandai tingkat kebugaran organ-organ
dan sendi-sendi yang dapat mempengaruhi semangat dan
43
intensitas siswa dalam mengikuti pelajaran, dan aspek psikologis
(kondisi rohani) yang dapat mempengaruhi kuantitas dan kualitas
perolehan pembelajaran siswa, dalam kondisi rohani sisdwa
terdiri dari lima faktor, yakni: a) tingkat kecerdasan siswa, b)
sikap siswa, c) bakat siswa, d) minat siswa, e) motifasi siswa.
2. Faktor eksternal (faktor dari luar siswa), yakni kondisi lingkungan
di sekitar siswa baik lingkungan sosial maupun non sosial.
3. Faktor pendekatan belajar, Yakni jenis upaya belajar siswa yang
meliputi strategi dan metode yang digunakan siswa untuk
melakukan kegiatan pembelajaran materi-materi pelajaran. Jadi
karena pengaruh faktor-faktor tersebut di atas, muncul siswa yang
berkemampuan tinggi, rendah atau gagal sama sekali. Dalam hal
ini seorang guru mampu mengantisipasi munculnya gejala
kegagalan dengan berusaha dan mengatasi faktor yang
menghambat pelajaran. Jika guru dapat mengatasi hal tersebut
maka tidak mungkin dalam pembelajaran menghasilkan
perubahan yang khas yaitu hasil belajar yang diperoleh siswa.44
e. Pengertian IPS
Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) merupakan integrasi dari
berbagai cabang ilmu-ilmu sosial seperti: sosiologi, sejarah geografi,
politik, hukum, dan budaya. Ilmu Pengetahuan Sosial dirumuskan
atas dasar realitas dan fenomena sosial yang mewujudkan satu
pendekatan interdisipliner dari aspek dan cabang-cabang ilmu-ilmu
sosial (sosiologi, sejarah geografi, ekonomi, politik, hukum dan
budaya). IPS atau studi sosial itu merupakan bagian dari kurikulum
sekolah yang diturunkan dari isi materi cabang-cabang ilmu-ilmu
44