• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Globalisasi secara umum merupakan istilah yang biasa digunakan untuk mendeskripsikan peningkatan integrasi ekonomi, politik, komunikasi, dan budaya. Dalam konteks yang paling dasar, globalisasi diartikan sebagai sebuah proses integrasi yang lebih erat antar negara dan masyarakat global melalui proses pengurangan biaya transportasi dan komunikasi, serta hilangnya batasan laju perpindahan barang, jasa, modal, ilmu pengetahuan, dan orang antar negara.1 Secara singkat globalisasi diartikan banyak orang sebagai sebuah proses multidimensional yang komplek. Akan tetapi, globalisasi menjadi sebuah isu yang sangat dekat ketika kita berbicara tentang dampak yang dirasakan setiap individu.

Globalisasi merupakan suatu fenomena yang sudah tidak asing lagi bagi masyarakat global saat ini. Begitupun dengan dampak yang ditimbulkannya, beberapa kalangan masyarakat percaya bahwa globalisasi memberikan sebuah kemajuan yang mulia. Namun, banyak juga sekelompok orang yang tak henti-hentinya mengeluhkan dari adanya proses percepatan dan integrasi sebagai bagian dari proses globalisasi. Sebagian orang bahkan sangat vokal menolak datangnya globalisasi di sekitar mereka, meskipun mereka tahu kehidupan mereka saat ini tidak bisa lepas sepenuhnya dari adanya proses globalisasi.

Perdebatan antara kelompok masyarakat yang bersikap mendukung ataupun yang sentimen terhadap globalisasi secara tidak langsung mengakibatkan globalisasi menjadi sebuah isu yang sangat sempit untuk dikaji. Globalisasi yang pada dasarnya merupakan sebuah isu yang mempunyai cakupan multidimensi, kemudian hanya dapat dikaji dan diperdebatkan dari sisi hitam dan putihnya saja. Kelompok yang

(2)

cukup mengapresiasi dan mampu memanfaatkan sisi globalisasi dengan baik akan dimasukkan ke dalam kelompok pro-globalisasi atau mungkin hiperglobalis. Sedangkan di pihak lainnya, kelompok yang mengkritisi salah satu dimensi, dampak, ataupun karakter globalisasi akan mudah diklasifikasikan sebagai kelompok anti-globalisasi atau bahkan skeptis.

Faktanya tidak semua fenomena yang terjadi dalam proses globalisasi dapat dilhat dari sudut hitam atau putihnya saja. Masyarakat yang diidentikkan sebagai kelompok pro globalisasi tidak selamanya akan selalu diuntungkan dengan adanya proses globalisasi, seperti contoh para pemegang modal besar menggantungkan ekonominya dengan dinamika pasar bebas dan kebijakan institusi global yang kadang tidak sepihak dengan kepentingan mereka. Begitu juga dengan kelompok masyarakat yang diidentikan sebagai kelompok anti-globalisasi, meskipun mereka gencar menyuarakan kritik terhadap globalisasi, namun bukan berarti mereka tidak merasakan dampak positif dari globalisasi, seperti kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi modern.

Slow Food Movement merupakan salah satu gerakan yang turut menjadi korban dari pengkerdilan cara pandang terhadap fenomena globalisasi. Slow Food Movement merupakan hasil gagasan dari Carlo Petrini yang berkampanye menggagalkan dibukanya McDonalds di Roma pada tahun 1986.2 Dari awal sejarah berdirinya gerakan tersebut, banyak pengamat melihat fenomena tersebut sebagai bentuk perlawanan melawan proses globalisasi, baik dengan kata lain berupa kapitalisme, hegemoni barat, hegemoni fast food¸ atau yang lainnya. Maka dari itu, tak heran jika Slow Food Movement sering dikategorikan sebagai pergerakan kelompok anti-globalisasi.

Istilah Slow Food dalam nama gerakan ini merupakan terminologi yang digunakan untuk menunjukkan sikap perlawanan secara tegas terhadap eksistensi fast food yang telah menjadi tren global dewasa ini. Makanan merupakan ikon utama

2

Carlo. Petrini, Wiiliam. McCuaig, Alice. Waters, Slow Food: The Case for Taste, Columbia University Press, New York, 2003, halaman 9.

(3)

gerakan ini yang kemudian dikaitkan dengan agenda politik yang diperjuangkannya. Makanan (food) dipercayai sebagai hasil konstruksi dari proses interaksi sosial, budaya, perdagangan, dan aspek multidimensi lainnya yang sangat luas. Prinsip pergerakan tersebut tercantum pada terminologi ide utama Slow Food Movement, yaitu Good, Clean, and Fair.3 Good berarti makanan yang disajikan harus berasal dari bahan yang berkualitas dan memuaskan konsumennya, Clean menekankan bahwa proses produksi dan konsumsi harus tidak menimbulkan kerusakan lingkungan, memperhatikan prinsip animal-welfare, dan tidak berbahaya bagi manusia, sedangkan Fair dimaknai dengan perolehan manfaat yang adil antara produsen dan konsumen, baik dalam bentuk harga maupun perlakuan yang baik untuk keduanya.4

Ide utama Slow Food Movement tersebut kemudian mampu diterima dan didukung oleh berbagai lapisan masyarakat di berbagai negara di dunia. Dukungan tersebut muncul atas dasar sentimen dan kritik terhadap fast food yang menimbulkan berbagai masalah yang identik di setiap negara mereka, seperti kerusakan lingkungan, penurunan kualitas kesehatan, monopoli perdagangan, perlakuan petani lokal yang buruk, dan budaya konsumerisme yang cenderung homogen. Hingga saat ini, Slow Food Movement memiliki 1.500 convivia5 yang tersebar di sekitar 800 kota besar dari 160 negara.6 Convivia memiliki peran untuk bertanggungjawab terhadap penumbuhan kesadaran akan kekayaan agrikultur dan warisan kuliner lokal, serta pentingnya menjaga dan melindungi cita rasa lokal melalui berbagai kegiatan.

3

Slow Food International, Good, Clean and Fair: the Slow Food Manifesto for Quality

4

Slow Food International, ‘Good, Clean and Fair Food, Slow Food Official Website (online), http://www.slowfood.com/international/9/what-we-do, diakses 31 Maret 2016.

5 Convivia (bahasa latin yang berarti pesta hidangan), yaitu unit struktural paling mendasar dalam

organisasi Slow Food Movement di suatu wilayah lokal tertentu.

6

Slow Food International, ‘Network of Members’, Slow Food Official Website (online), http://www.slowfood.com/international/154/network-of-members, diakses 31 Maret 2016

(4)

B. Rumusan Masalah

Guna melihat korelasi antara Slow Food Movement dan globalisasi, maka skripsi ini akan fokus untuk menjawab pertanyaan “bagaimana Slow Food Movement dapat menyebarkan ide gerakannya hingga ke tingkat global?”.

C. Landasan Konseptual

1. Konsep Globalisasi

Globalisasi selalu diidentikkan dengan integrasi ekonomi yang kuat dengan menghubungakannya ke dalam sebuah agenda politik. Dengan adanya globalisasi, korporasi besar semakin berpeluang meningkatkan jumlah produksinya. Barang yang diproduksinya pun dapat disebar luaskan ke berbagai negara tanpa ada hambatan yang sulit. Harga yang ditetapkannya pun juga menjadi sangat terjangkau karena mereka mampu meminimalisir biaya produksi dengan membangun tempat produksi di berbagai negara dengan upah buruh yang rendah. Dengan demikian, maka globalisasi menciptakan sebuah pasar yang tunggal sebagai tempat pertukaran barang dan buruh korporasi besar.

Aspek lain yang turut mempercepat proses integrasi ekonomi global adalah berdirinya institusi-institusi global yang memilik kekuatan superpower.7 Munculnya institusi-institusi tersebut secara tidak langsung menciptakan pembangunan negara-negara peripheral yang secara tidak langsung berkaitan dengan konfigurasi global. Selain itu, institusi tersebut juga semakin memperkuat kebijakan-kebijakan neo-liberal yang menitikberatkan kepada kekuatan pasar. Dari setiap kebijakan tersebut akan membawa sebuah ideologi baru yang mampu mempengaruhi kepercayaan pemerintah suatu negara mengenai apa yang harus mereka lakukan. Kondisi tersebut

7

Brecher, Jeremy, Globalization from Below: The Power of Solidarity, South End Press, Massachusets, 2002, halaman 3

(5)

mau tidak mau akan menjadikan negara sangat tergantung dengan aktor-aktor di balik kekuatan pasar, entah itu negara investor, korporasi multinasional, atau pun institusi-institusi global.8

Fenomena lain yang penting untuk diperhatikan adalah terjadinya sebuah homogenisasi budaya konsumtif yang didoktrinkan oleh kepentingan korporasi besar. Menurut Thomas Friedman, globalisasi kemudian bukan sekedar fenomena dan tren, tetapi sistem internasional yang mempunyai kekuatan kapitalisme pasar bebas di belakangnya. Peran media juga menjadi faktor pendukung lainnya untuk melakukan indoktrinisasi terhadap masyarakat global dengan meningkatkan keseragaman budaya dan identitas yang tunggal.

Skema globalisasi yang telah disebutkan di atas merupakan bagian dari proses globalisasi yang berasal dari atas (globalization from above). Proses tersebut faktanya tidak memberikan keuntungan bagi semua pihak. Banyak kerugian-kerugian yang ditimbulkan di banyak sisi, seperti semakin besarnya tingkat kemiskinan dan kesenjangan sosial. Selain itu, permasalahan-permasalahan sosial juga semakin muncul ke permukaan, seperti permasalahan identitas, gender, degradasi moral, degradasi nilai-nilai demokrasi, dan juga penurunan kualitas kehidupan manusia.9

Globalisasi dari Bawah (globalization from below)

Proses globalisasi dari atas tersebut kemudian mendapatkan perlawanan, yaitu globalisasi dari bawah (globalization from below). Globalisasi dari bawah bukanlah sebuah bentuk resistensi atau perlawanan terhadap unsur-unsur globalisasi, namun lebih kepada bentuk perjuangan terhadap kepentingan-kepentingan lain yang gagal diakomodasi oleh globalisasi dari atas.10 Jika globalisasi dari atas yang bermain adalah korporasi besar dan institusi global, globalisasi dari bawah berpusat pada gerakan-gerakan masyarakat akar rumput. Gerakan-gerakan tersebut pada umumnya

8

Brecher, Jeremy, 2002, halaman 4

9

Brecher, Jeremy, 2002, halaman 6

(6)

menyuarakan kebutuhan dasar manusia sebagai individu di sebuah negara daripada sekedar pertumbuhan ekonomi.

Kemunculan globalisasi dari bawah mulai disadari pertama kali oleh banyak pihak ketika puluhan ribu orang berunjuk rasa di Seattle saat pertemuan WTO pada akhir tahun 1999.11 Banyak orang kemudian menyadari bahwa hegemoni segala bentuk globalisasi dari atas telah membawa antithesis baginya sendiri dengan hadirnya ribuan orang pada level akar rumput yang mampu berkomunikasi dan bersatu atas sebuah visi lain yang global. Seperti halnya yang ditulis oleh Elaine Bernard, Direktur Eksekutif Harvard Trade Union Program dalam kolom Washington Post, bahwa gerakan-gerakan sosial di seluruh dunia sudah terhubung ke jaringan akar rumput yang dimungkinkan terjadi dengan kecepatan yang mengagumkan dimana mereka dapat berkomunikasi dengan baik di era internet.12

Layaknya globalisasi dari atas, kemunculan globalisasi dari bawah juga berasal dari bermacam-macam sumbernya. Mereka bisa jadi mempunyai tujuan yang berbeda dan macam (dapat terlihat dari isu gerakan yang bermacam-macam pula) dalam gerakannya, tetapi terdapat kesatuan tujuan yakni mengembalikan kontrol negara, pasar dan korporasi agar demokratis sehingga dunia dan penduduknya dapat bertahan hidup dan mempunyai hak dalam menentukan tindakannya (self-organizing). Beberapa contoh gerakan globalisasi dari bawa tersebut adalah gerakan menuntut proteksi masyarakat indigenous, gerakan kaum enviromentalis yang menuntut keadilan bagi lingkungan, keadilan konsumen melawan produk GMO, dan juga gerakan kaum perempuan yang mengutuk diskriminasi hak-hak perempuan.

Menurut Jeremy Brecher dalam bukunya, karakter globalisasi dari bawah muncul dari gerakan-gerakan sosial yang mampu mengakomodir

11 Brecher, Jeremy, 2002, halaman 12 12

Elaine Bernard, Washington Post, Sunday, December 5,1999, diakses dari

<https://groups.google.com/forum/#!msg/flora.mai-not/1kUi51WK5VE/HgYNUtsl3YIJ> pada 20 Mei 2016

(7)

perbedaan isu yang diperjuangkan oleh sekelompok-sekelompok individu.13 Gerakan tersebut membawa isu yang beragam, memiliki jaringan dengan gerakan serupa lainnya, mampu tumbuh dan berkembang secara cepat melewati batas-batas negara, dan mengembangkan sebuah visi bersama. Globalisasi dari bawah mungkin terjadi jika sebuah gerakan sosial mampu mengkonstruksikan visinya menjadi visi yang bersifat universal (common vision), seperti halnya mengatasnamakan visi demokrasi, proteksi lingkungan, isu sosial, keadilan ekonomi, kesetaraan, dan juga solidaritas antar sesama manusia.

Berbeda dengan karakter globalisasi dari atas yang cenderung dengan proses homogenisasi dan universalisasi, letak kekuatan globalisasi dari bawah adalah pada kemampuannya untuk terus berkembang mengatur keberagaman sumber isu yang bermunculan.14 Dengan begitu gerakan sosial dalam globalisasi dari bawah juga menegaskan bahwa sebuah kerjasama tidak perlu mengandaikan sebuah keseragaman, namun cukup memiliki struktur organisasi yang berbasis jaringan dengan jaringan (network of networks). Maka dari itu, sebuah gerakan sosial mampu mengglobal tanpa menuntut adanya sentralisasi organisasi, layaknya institusi-institusi global pada karakter globalisasi dari atas.

2. Teori Strukturasi

Awal kemunculan teori strukturasi merupakan salah satu bentuk kritik terhadap dua kubu teori besar lainnya yang telah membahas relasi antara struktur dan tindakan seorang aktor. Kubu pertama berpendapat bahwa struktur memiliki posisi yang lebih tinggi daripada action manusia, dengan kata lain struktur lah yang mendikte action tersebut. Argumen kubu ini didominasi oleh aliran fungsionalisme, naturalisme, dan strukturalisme. Di lain kubu, aliran seperti hermeunetika dan interaksionisme simbolik mengkiritsi argumentasi yang seakan-akan meremehkan

13

Brecher, Jeremy, 2002, halaman 16

14

(8)

kekuatan motivasional individu untuk bergerak bebas atas peran yang dibebankan kepadanya. Dengan kata lain aliran kubu tersebut menitikberatkan tindakan manusia lebih tinggi dibandingkan struktur sosial.15

Anthony Giddens kemudian mencoba untuk mengkawinkan dualisme konsep antar dua kubu tersebut dengan membentuk jalan yang transformatif. Giddens menjelaskan bahwa yang sedang terjadi bukanlah dualisme antara struktur dan aktor, namun dualitas antara keduanya. Dualitas yang dimaksudkan oleh Giddens adalah terjadi reprositas antara struktur sosial dan tindakan aktor yang memenuhi suatu ruang dan waktu.16 Dualitas berbeda dengan dualisme yang mengandaikan bahwa aktor terpisah dengan struktur. Dalam dualitas struktur, Giddens menganggap bahwa struktur bukan hanya medium, tetapi juga hasil dari tingkah laku (conduct) yang diorganisasikan secara berulang. Dengan kata lain, struktur bukan hanya memandu tindakan tetapi juga merupakan akibat dari tindakan agent dalam proses produksi dan reproduksi sistem sosial.

Dalam teorinya, Giddens menggambarkan hubungan antara agen dan agency atau struktur sebagai entitas yang tak terpisahkan dan saling mempengaruhi. Meskipun Giddens tidak pernah memberikan definisi jelas apa yang dimaksudkan dengan agen, namun dari berbagai penjelasannya, agen dapat didefinsikan sebagai individu yang melakukan praktek-praktek sosial yang melintasi ruang dan waktu. Agen memiliki kemampuan yang disebut sebagai knowledgeability, yaitu kemampuan manusia untuk mengetahui dan merefleksikan dalam sebuah tindakan.17 Maka dari itu, agen memiliki tujuan dalam melakukan setiap tindakannya, bahkan agen tidak hanya memiliki alasan logis dari setiap keputusannya yang diambil, namun juga mampu mengelaborasikan alasan-alasan yang bersifat diskursif.

15

Lihat Introduction dalam buku A. Giddens, The Constitution of Society: Outline of the Theory of Structuration, polity press, Cambridge, 1984

16

Giddens, A., The Constitution of Society: Outline of the Theory of Structuration, polity press, Cambridge, 1984, halaman 4

(9)

Dengan kemampuan agen yang sedemikian rupa, maka agen akan selalu melakukan pemantauan ulang (reflextive monitoring) terhadap kondisi di sekitarnya.18 Pemantauan tersebut akan menentukan alasan dan tujuan agen dalam melakukan serangkaian tindakan. Dalam konteks ini, agen tidak hanya dipengaruhi oleh struktur untuk menentukan sebuah tindakan, namun tindakan yang dipilih oleh agen juga akan mempengaruhi struktur kembali. Proses tersebut kemudian berlanjut berulang-ulang secara transformatif.

Dalam menentukan tindakannya, Giddens mengkategorikan elemen yang mendasarinya menjadi tiga, yaitu kesadaran diskursif, kesadaran praktikal, dan juga motivasi tak sadar.19 Kesadaran diskursif merupakan kapasitas agen untuk merasionalisasikan tindakan yang dilakukannya dengan mengelaborasikan alasan-alasan yang dipercayainya.20 Sedangkan kesadaran praktikal merupakan rutinitas tindakan yang dilakukan oleh agen untuk menyesuaikan dengan situasi tertentu tanpa bisa dijelaskan secara diskursif.21 Kemudian, motivasi tak sadar merupakan representasi kepercayaan bahwa yang terjadi di dunia ini berlangsung apa adanya.22 Alasan motivasional ini dibutuhkan agen untuk memenuhi kebutuhannya dalam membentuk sebuah kepercayaan hidup.

Dalam tindakan agen yang dilakukan secara berulang-ulang, bukan berarti bahwa sistem reproduksi struktur sosial bertransfromasi tanpa adanya perubahan. Munculnya gagasan intropeksi dan monitoring (reflexive monitoring) dari Giddens menyatakan bahwa agen dapat memonitor tindakannya dimana terbentuk daya refleksifitas dalam diri agen untuk mencari makna/nilai dari tindakannya tersebut. Maka kemudian, agen akan mengambil jarak dari struktur yang akhirnya meluas hingga berlangsung ’de-rutinisasi’. Derutinisasi adalah gejala dimana skema yang selama ini menjadi aturan dan sumberdaya tindakan serta praktek sosial dianggap

18

Giddens, A., halaman 4

19 Giddens, A., halaman 7-12 20

Giddens, A., halaman 8

21

Giddens, A., halaman 8

(10)

tidak lagi dapat untuk dipakai sebagai prinsip pemakanaan dan pengorganisasian praktek sosial, sehingga terjadi tindakan yang menyimpang dari rutinitas.23 Keusangan struktur tersebut terjadi karena sudah terlalu banyaknya agen yang mengadopsi kesadaran diskursif.24 Maka dari itu, dibutuhkan sebuah struktur sosial yang baru, yang lebih sesuai dengan praktek-praktek sosial yang terus berkembang.

D. Argumen Utama

Slow Food Movement merupakan sebuah gerakan yang berupaya untuk menciptakan sebuah alternatif globalisasi yang baru melalui konsep makanan sebagai mediasinya. Guna mengglobalkan visi dan ide gerakannya, Slow Food Movement menerapkan program-program gerakan yang berbasis pada strategi yang bersifat edukatif dan persuasif kepada masyarakat secara luas. Visi Slow Food Movement dalam mengembalikan kontrol penuh individu terhadap apa yang dikonsumsinya menunjukkan sebuah gerakan perlawanan terhadap hegemoni fast food yang mengglobal. Isu lingkungan, biodiversitas, budaya, ekonomi, hingga politik membuktikan bahwa Slow Food Movement menjadi sebuah gerakan yang tidak hanya terbatas terhadap perlawanan fast food saja, namun cenderung dinamis dalam mempengaruhi sistem keseluruhan dalam ranah globalisasi. Maka dari itu, kehadiran Slow Food Movement mampu menjadi fenomena dan pengaruh tersendiri bagi proses globalisasi pada era modern ini.

E. Metode Penelitian

Metode penelitian yang akan digunakan untuk penulisan skripsi ini adalah pendekatan kualitatif. Pengumpulan data dan informasi yang dibutuhkan akan

23

Herry, B. Priono, Anthony Giddens Suatu Pengantar, Kepustakaan Populer Gramedia, Jakarta, 2002, halaman 23

(11)

didapatkan melalui kajian literatur, baik sumber literatur yang bersifat primer ataupun sekunder. Sumber literatur primer meliputi buku-buku yang berisi tentang globalisasi, gerakan sosial, dan perkembangan Slow Food Movement. Kemudian, sumber data-data sekunder bersumber dari artikel, jurnal ilmiah, terbitan serial, artikel surat kabar, dan juga artikel dari internet yang turut mendukung analisa dalam menjawab rumusan masalah.

F. Ruang Lingkup Penelitian

Ruang lingkup bahasan dalam skripsi ini akan dimulai dari kelahiran Slow Food Movement hingga tahun 2015. Sedangkan tingkat analisis yang akan digunakan dalam membahas topik dalam skripsi ini adalah tingkat analisis global atau sistem internasional.

G. Sistematika Penulisan

Bab I adalah pendahuluan yang berisi tentang latar belakang masalah, rumusan pertanyaan, landasan konseptual, argumen utama, metode penelitian, ruang lingkup penelitian, dan juga sistematika penulisan. Kemudian, bab II merupakan bab yang akan memaparkan awal kemunculan Slow Food Movement, ide dasar gerakan, dan struktur keanggotaan Slow Food Movement hingga saat ini. Sedangkan, bab III akan membahas program dan langkah-langkah strategis Slow Food Movement sebagai gerakan akar rumput yang mengglobal. Langkah-langkah strategis tersebut akan dipaparkan melalui agenda-agenda rutin yang diselenggarakan dalam tingkat lokal, regional, ataupun internasional. Dalam menjelaskan strategi Slow Food Movement, penulis akan menggunakan kerangka berpikir dari teori strukturasi. Selain itu, setiap strategi yang dipaparkan dalam bab ini akan dianalisa menggunakan kerangka konsep globalisasi, sehingga mampu ditarik benang merah bagaimana strategi tersebut digunakan dalam memberikan respon terhadap globalisasi. Terakhir,

(12)

bab IV akan berisikan kesimpulan dari seluruh penjelasan bab-bab sebelumnya dengan disertai ulasan singkat untuk menegaskan jawaban dari rumusan masalah dalam skripsi ini.

Referensi

Dokumen terkait

Kompetensi yang tercakup dalam unit kompetensi ini harus diujikan secara konsisten pada seluruh elemen dan dilaksanakan pada situasi pekerjaan yang sebenarnya ditempat kerja

Untuk mencapai hal tersebut, keefektifan dari simbol yang digunakan akan ditunjukan oleh bagaimana persepsi visual yang diperoleh oleh interpreter disesuaikan

Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor

Analisis yang digunakan untuk menilai perbedaan konsentrasi tanah antara sebelum dan sesudah PLTU Labuan beroperasi adalah analisis komparasi dengan uji t-dua

Perancangan piranti visi komputer ini dilakukan menggunakan kamera statis dan metode bounding box untuk menentukan volume lalu lintas berdasarkan jenis kendaraan yaitu

a) Meningkatkan kohesifitas dan kompaktibilitas serbuk sehingga diharapkan tablet yang dibuat dengan mengempa sejumlah granul pada tekanan kompresi tertentu akan menghasilkan

Struktur pasar monopolistik terjadi manakala jumlah produsen atau penjual banyak dengan produk yang serupa/sejenis, namun di mana konsumen produk tersebut

Salah satu sumber Nairn, Kivlan Zein menuturkan bahwa pensiunan jenderal maupun yang masih aktif setuju dengan FPI—dan gelombang Aksi Bela Islam yang digelar kelompok Islamis..