Makalah PKN (Pancasila Sebagai Ideologi Terbuka Bangsa Indonesia)

Teks penuh

(1)

MAKALAH PKN

“Pancasila sebagai Ideologi Terbuka

bangsa Indonesia”

Makalah yang disusun untuk melengkapi tugas & memenuhi

nilai PKN.

Disusun Oleh :

Billy

Sinta

Meiliana

Jacqueline

Bernike

April

Hendrik

M.Arif

Robes

Jurusan Ilmu Pengetahuan Sosial

Sekolah Menegah Atas Yadika 2

(2)

Tahun Pelajaran 2010/2011

PANCASILA SEBAGAI IDEOLOGI TERBUKA BANGSA INDONESIA

Ideologi terbuka adalah sebagai suatu sistem pemikiran terbuka. Ciri-ciri ideologi terbuka adalah:

• Ideologi Terbuka:

1. merupakan cita-cita yang sudah hidup dalam masyarakat.

2. Berupa nilai-nilai dan cita-cita yang berasal dari dalam masyarakat sendiri. 3. Hasil musyawarah dan konsensus masyarakat.

4. Bersifat dinamis dan reformis.

Nilai-nilai yang terkandung dalam ideologi Pancasila sebagai ideologi terbuka adalah sebagai berikut:

1. Nilai dasar, yaitu hakekat kelima sila Pancasila.

2. Nilai instrumental, yang merupakan arahan, kebijakan strategi, sasaran serta lembaga pelaksanaanya.

3. Nilai praktis, yaitu merupakan realisasi nilai-nilai instrumental dalam suatu realisasi pengamalan yang bersifat nyata, dalam kehidupan sehari-hari dalam masyarakat,

berbangsa dan bernegara.

Pancasila memiliki 2 hal yang harus dimiliki oleh ideologi yang terbuka yaitu cita-cita yang (nilainya) bersumber dari kehidupan budaya masyarakat itu sendiri. Pancasila berasal dari bangsa Indonesia sendiri bukan bangsa lain. Pancasila merupakan wadah/sarana yang dapat mempersatukan bangsa itu sendiri karena memiliki falsafah dan kepribadian yang mengandung nilai-nilai luhur dan hukum.

Pancasila juga memiliki cita-cita moral & merupakan pandangan hidup bangsa Indonesia. Sebagai ideologi terbuka, Pancasila juga memiliki fleksibel & kelenturan kepekaan kepada perkembangan zaman. Sehingga nilai-nilai Pancasila tidak akan berubah dari zaman ke zaman.

Dan Pancasila harus memiliki kesinambungan atau saling interaksi dengan masyarakatnya. Maka, apa yang menjadi tujuan negara dapat tercapai tanpa adanya

pertentangan. Semua orang tanpa terkecuali harus mengerti dan paham betul tentang tujuan yang ada dalam Pancasila tersebut. Dengan demikian secara ideal konseptual, Pancasila adalah ideologi, kuat, tangguh, bermutu tinggi dan tentunya menjadi acuan untuk semangat bangsa Indonesia.

Bukti bahwa Pancasila adalah ideologi terbuka adalah:

• Pancasila memiliki pandangan hidup dan tujuan serta cita-cita masyarakat Indonesia

• Tekad untuk mengembangkan kekreatifitasan dan dinamis untuk mencapai tujuan nasional

• Pengalaman sejarah bangsa Indonesia

• Terjadi atas dasar keinginan bangsa (masyarakat) Indonesia sendiri tanpa campur tangan atau paksaan dari sekelompok orang

• Isinya tidak operasional

• Menginspirasikan kepada masyarakat agar bertanggung jawab sesuai dengan nilai-nilai Pancasila

• Menghargai pluralitas, sehingga dapat diterima oleh semua masyarakat yang memiliki latar belakang dan budaya yang berbeda.

(3)

FAKTOR PENDORONG KETERBUKAAN IDEOLOGI PANCASILA

Faktor pendorong pemikiran mengenai keterbukaan ideologi Pancasila, sebagai berikut: 1. Kenyataan dalam proses pembangunan nasional dan dinamika masyarakat yang berkembang secara cepat.

2. Kenyataan menunjukkan, bahwa bangkrutnya ideologi yang tertutup dan beku dikarenakan cenderung meredupkan perkembangan dirinya.

3. Pengalaman sejarah politik kita di masa lampau.

4. Tekad untuk memperkokoh kesadaran akan nilai-nilai dasar Pancasila yang bersifat abadi dan hasrat mengembangkan secara kreatif dan dinamis dalam rangka mencapai tujuan nasional.

Keterbukaan ideologi Pancasila terutama ditujukan dalam penerapannya yang berbentuk pola pikir yang dinamis & konseptual dalam dunia modern. Kita mengenal ada 3 tingkat nilai, yaitu nilai dasar yang tidak berubah, nilai instrumental sebagai sarana

mewujudkan nilai dasar yang dapat berubah sesuai keadaan dan nilai praktis berupa

pelaksanaan secara nyata yang sesungguhnya. Nilai-nilai Pancasila dijabarkan dalam

norma-norma dasar Pancasila yang terkandung dan tercermin dalam Pembukaan UUD 1945.

Nilai atau norma dasar yang terkandung dalam Pembukaan UUD 1945 ini tidak boleh berubah atau diubah. Karena itu adalah pilihan & hasil konsensus bangsa yang disebut kaidah pokok dasar negara yang fundamental. Perwujudan atau pelaksanaan nilai-nilai instrumental dan nilai-nilai praktis harus tetap mengandung jiwa dan semangat yang sama dengan nilai dasarnya.

Kebenaran pola pikir seperti yang terurai di atas adalah sesuai dengan ideologi yang memiliki tiga dimensi penting yaitu Dimensi Realitas, Dimensi Idealisme dan Dimensi

Fleksibilitas.

PANCASILA KESEPAKATAN BANGSA INDONESIA

Sebelum pembahasan lebih lanjut tentang Pancasila sebagai idelogi terbuka, terlebih dahulu yang harus kita pahami adalah bahwa “Pancasila telah menjadi kesepakatan bangsa Indonesia” sejak berdirinya Negara (Proklamasi) Kesatuan Republik Indonesia tahun 1945. Dengan demikian, siapapun yang menjadi warga negara Indonesia hendaknya menghargai dan menghormati kesepakatan yang telah dibangun oleh para pendiri negara (founding

fathers) tersebut dengan berupaya terus untuk menggali, menghayati & mengamalkannya

dalam kehidupan sehari-hari baik dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Pancasila yang sila-silanya diamanatkan dalam Pembukaan UUD 1945, telah menjadi kesepakatan nasional sejak ditetapkan tanggal 18 Agustus 1945, dan akan terus berlanjut sepanjang sejarah Negara Republik Indonesia. Kesepakatan tersebut merupakan perjanjian luhur atau kontrak sosial bangsa yang mengikat warga negaranya untuk dipatuhi dan dilaksanakan dengan semestinya.

Untuk membuktikan bahwa Pancasila merupakan hasil kesepakatan bangsa Indonesia dengan legalitas yang kuat, kiranya perlu dilengkapi :

1. Justifikasi Juridik

Bangsa Indonesia telah secara konsisten untuk selalu berpegang kepada Pancasila dan UUD 1945, sebagaimana telah diamanatkan adanya rumusan Pancasila ke dalam UUD yang telah berlaku di Indonesia dan beberapa contoh, seperti:

• Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945

(4)

• Undang-Undang Dasar Sementara Republik Indonesia (1950)

• Ketetapan MPR RI No.XVII/MPR/1998 tentang HAK ASASI MANUSIA

• Ketetapan MPR RI No.V/MPR/2000 tentang PEMANTAPAN PERSATUAN DAN KESATUAN NASIONAL

• Ketetapan MPR RI No.V/MPR/2000 tentang PEMANTAPAN PERSATUAN DAN KESATUAN NASIONAL

2. Justifikasi Teoritik - Filsafati

Merupakan usaha manusia untuk mencari kebenaran Pancasila dari sudut olah pikir manusia, dari konstruksi nalar manusia secara logik. Pada umumnya olah pikir filsafati dimulai dengan suatu aksioma, yakni suatu kebenaran awal yang tidak perlu dibuktikan lagi, karena hal tersebut dipandang suatu kebenaran yang hakiki. Para pendiri negara dalam membuktikan kebenaran Pancasila dimulai dengan suatu aksioma

bahwa :”Manusia dan alam semesta ini adalah ciptaan Tuhan Yang Maha Esa dalam

suatu partalian yang selaras atau harmoni”. Aksioma ini dapat ditemukan rumusannya

dalam Pembukaan UUD 1945 pada aline 2, ke-4 & pasal 29.

3. Justifikasi Sosiologik – Historik

Menurut penggagas awal (Ir. Soekarno), bahwa Pancasila digali dari bumi Indonesia sendiri dan dikristalisasikan dari nilai-nilai yang berkembang dalam kehidupan rakyat Indonesia yang beraneka ragam. Nilai-nilai tersebut dapat diamati pada kelompok masyarakat yang tersebar di seluruh Indonesia yang dalam implementasinya sangat disesuaikan dengan kultur masyarakat yang bersangkutan. Dengan demikian, nampak jelas bahwa sesungguhnya Pancasila telah menjadi living reality (kehidupan nyata) jauh sebelum berdirinya negara republik Indonesia. Beberapa contoh nilai-nilai Pancasila yang telah berkemang di dalam kehidupan masyarakat antara lain :

No Asal Daerah Nilai-nilai/Ungkapan Yang Berkembang Keterangan

1. Jawa

a. tepo seliro (tenggang

rasa),

b. sepi ing pamrih rame ing gawe (mau bekerja keras tanpa

pamrih),

c. gotong royong (berat

ringan ditanggung bersama)

Adanya konsep hu-manitas yang sudah menjiwai bangsa Indonesia.

2. Minangkabau

1. Bulat air oleh pembuluh, bulat

kata oleh mufakat Konsep sovereinitas. 2. Adat basandi syarak, syarak

basandi Kitabullah Konsep religiositas 3. Penghulu beraja ke mufakat,

mufakat beraja pada kebenaran. Konsep humanitas

3. Minahasa

a. Pangilikenta waja si Empung si

Rumer reindeng rojor (Sekalian

kita maklum bahwa yang

memberikan rahmat yakni Tuhan Yang Maha Esa)

Konsep religiositas

b. Tia kaliuran si masena

impalampangan (Jangan lupa

kepada “Dia” yang memberi terang.

(5)

4. Lampung •mupakat dilemsesat (Simpang siur Tebak cotang di serambi,

di luar, mufakat di dalam balai).

Konsep sovereinitas.

5. Madura •payung Allah (Iman dan takwa Abantal sadat, sapo’iman,

kepada Tuhan Yang Maha Esa)

Konsep religiositas

6. Bugis/ Makasar •ngana langika (Matahari tak akan Tak sakrakai allowa ritang

tenggelam di tengah langit).

Konsep religiositas 7. Bengkulu • Kalau takut dilambur pasang,

jangan berumah di pinggir pantai. Konsep humanitas

8. Maluku

Kaulete mulowang lalang walidase nausavo sotoneisa etolomai kukuramese upasasi netane kwelenetane ainetane (Mari

kita bersatu baik dilaut maupun di darat untuk menentang kezaliman).

Konsep humanitas dan persatuan

9. Batak (Manda-iling)tuginjang rap tu roru (Berat sama Songon siala sampagul rap

dipanggul, ringan sama dijinjing).

Konsep persatuan dan kebersamaan

10

. Batak (Toba)

Sai masia minaminaan songon lampak ni pisang, masitungkol tungkolan songon suhat dirobean

(Biarlah kita bersatu seperti batang pisang dan mendukung seperti pohon tales di kebun).

Konsep persatuan

Berdasarkan uraian-uraian tersebut di atas, jelaslah bahwa bagi bangsa Indonesia tidak perlu diragukan lagi tentang kebenaran Pancasila sebagai dasar negara, ideologi nasional maupun pandangan hidup bangsa dalam kehidupan bermasyarakat berbangsa & bernegara. Hal ini terbukti setelah kita analisis dari sudut justifikasi yuridik, filsafati dan teoritik serta

sosiologik dan historik. Untuk itu, semakin jelaslah bahwa Pancasila merupakan kesepakatan

bangsa, suatu perjanjian luhur yang memiliki legalitas, kebenaran dan merupakan living

reality yang selama ini telah diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Berdasarkan sudut pandang justifikasi filsafati dan teoritik inilah bangsa Indonesia yang memiliki beraneka ragam suku, agama, ras dan antar golongan (SARA) mampu hidup berdampingan secara damai, rukun dan sejahtera dalam semboyan Bhinneka Tunggal Ika serta dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sebagai perwujudan tersebut, maka bangsa Indonesia dikenal oleh bangsa-bangsa manca negara sebagai bangsa yang memiliki sifat khas kepribadian (unik) antara lain : ramah tamah, religius, suka membantu sesama (solideritas), dan mengutamakan musyawarah mufakat.

(6)

http://tugasgw.wordpress.com/2009/07/11/pancasila-sebagai-ideologi-terbuka/ http://mjieschool.multiply.com/journal/item/20

Figur

Memperbarui...