R P J P D K a b u p a t e n K u t a i T i m u r 2 0 0 6 - 2 0 2 5 1 - 1
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. LATAR BELAKANG
Kabupaten Kutai Timur merupakan salah satu daerah pemekaran dari Kabupaten Kutai, dibentuk berdasarkan Undang-undang Nomor 47 Tahun 1999 dan diresmikan pada tanggal 12 Oktober 1999. Sebagai daerah otonom yang relatif masih baru di Provinsi Kalimantan Timur, pada awalnya Kabupaten Kutai Timur meliputi 5 wilayah kecamatan dengan ibukotanya Sangatta. Seiring dengan kebijakan pemerintah daerah dalam hal pemerataan pelayanan dan pembangunan maka 5 kecamatan tersebut dimekarkan menjadi 11 Kecamatan berdasarkan Peraturan Daerah Provinsi Kalimantan Timur Nomor 16 Tahun 1999. Pada tahun 2005 melalui Peraturan Daerah Kabupaten Kutai Timur Nomor 12 Tahun 2005 dimekarkan menjadi 18 kecamatan dengan 135 desa.
Secara administratif Kabupaten Kutai Timur memiliki luas wilayah 35.747,50 km2 atau 17% dari luas wilayah Provinsi Kalimantan Timur dan merupakan daerah
terluas kedua setelah Kabupaten Malinau. Sebagaimana daerah lainnya di Provinsi Kalimantan Timur, Kabupaten Kutai Timur memiliki beberapa keunggulan komparatif yaitu lahan yang luas, sumber daya alam potensial yang beraneka ragam dan didukung oleh posisi geografis yang strategis.
Kedudukan dan peranan Kabupaten Kutai Timur memiliki arti yang sangat penting baik dalam lingkup nasional dan provinsi maupun internasional. Dalam konteks peranan ini, maka Kabupaten Kutai Timur harus dipersiapkan baik secara fisik, sosial dan ekonomi untuk dapat menampung aktivitas standar yang memadai sehingga dapat menjadi magnet bagi tumbuh kembangnya iklim investasi dalam pengembangan sumber daya alam dan lahan yang begitu besar. Secara umum kedudukan dan peran Kabupaten Kutai Timur dapat diuraikan sebagai berikut:
1. Lingkup Nasional dan Provinsi
Dalam lingkup nasional, kedudukan dan peran Kabupaten Kutai Timur berdasarkan potensi yang dimilikinya antara lain:
Berada dalam posisi geografis yang strategis sebagai jalur lalu lintas transportasi Kawasan Timur Indonesia.
R P J P D K a b u p a t e n K u t a i T i m u r 2 0 0 6 - 2 0 2 5 1 - 2
Berpotensi sebagai wilayah penampung limpahan penduduk atau daerah tujuan transmigrasi dari Pulau Jawa.
Lahan yang luas dan kondisi fisik geologis yang berpotensi untuk pengembangan sektor pertambangan umum, kehutanan, pertanian, perkebunan, perikanan, kelautan dan pariwisata.
Penyumbang devisa negara yang cukup besar, khususnya sektor migas, batu bara, dan kehutanan.
Dalam lingkup provinsi, keberadaan Kabupaten Kutai Timur pada jalur poros regional lintas Trans-Kalimantan yang menghubungkan jalur Tarakan (Kota Orde II) – Tanjung Selor – Tanjung Redeb ke Samarinda (Kota Orde I – Ibukota Provinsi) – Balikpapan (Kota Orde I) – Kabupaten Pasir – Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Barat, sehingga posisi strategis ini berpotensi untuk : Menjadikan Ibukota Kabupaten Kutai Timur yaitu Kota Sangatta berfungsi
sebagai Kota Transit.
Akses keluar wilayah cukup terbuka sehingga membuka peluang pemasaran hasil sumber daya alam dari Kutai Timur.
2. Lingkup Internasional
Dalam lingkup internasional, Kabupaten Kutai Timur memiliki potensi besar untuk berkembang karena :
Secara geografis menghadap Selat Makassar yang berfungsi sebagai jalur pelayaran internasional dan terletak pada wilayah yang berbatasan dengan negara tetangga yaitu Malaysia, Brunei Darussalam, dan Philipina, serta berada dalam kawasan kerjasama BIMP-EAGA dan Sosek Malindo.
Dapat mengekspor sumber daya alam potensial yang memiliki peluang pasar internasional dan masih menjadi ‘primadona’ seperti batubara, minyak dan gas. Disamping itu juga terdapat kandungan emas, pasir kwarsa dan gips serta bahan galian lainnya.
Potensial sebagai pengekspor komoditi perkebunan seperti lada, cokelat, karet, kelapa sawit dan komoditi eksklusif sektor perikanan seperti udang, kepiting, ikan kerapu, rumput laut, dan lain-lain.
R P J P D K a b u p a t e n K u t a i T i m u r 2 0 0 6 - 2 0 2 5 1 - 3
Disamping potensi yang disebutkan di atas, Kabupaten Kutai Timur juga mempunyai beberapa permasalahan yang dihadapi oleh daerah, antara lain kelemahan di dalam sumber daya manusia yang memiliki skill, baik dalam kualitas maupun kuantitas. Dengan terbatasnya sumber daya manusia, maka pemanfaatan potensi yang ada belum dapat optimal, hal ini tercermin dalam persoalan-persoalan yang dihadapi oleh wilayah, terutama berkenaan dengan adanya kesenjangan antar wilayah, sektor, pendapatan dan persoalan lingkungan. Disisi lain, permasalahan infrastruktur masih menjadi kendala utama dalam pengembangan wilayah.
Penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) Kabupaten Kutai Timur 2006-2025 merupakan suatu keharusan bagi Pemerintah Daerah yang mempunyai nilai sangat penting karena untuk pertama kalinya dilakukan sebagai akibat dari perubahan paradigma dan format perencanaan pembangunan secara nasional. Sebelumnya telah dikeluarkan beberapa produk perencanaan daerah yang menjadi dasar kebijakan pengelolaan pembangunan antara lain Pola Dasar (POLDAS), Program Pembangunan Daerah (PROPEDA) dan Rencana Strategis (RENSTRA) Kabupaten Kutai Timur 2001-2005. Sebagai dasar kebijakan pembangunan jangka panjang periode 20 tahunan dan “pengganti POLDAS”, maka penyusunan RPJP juga mempertimbangkan dan memperhatikan produk-produk perencanaan yang telah ada tersebut. Dengan demikian RPJP yang dibuat bukan hanya sekedar “ganti kulit” namun juga memiliki beberapa perbedaan yang substansial.
Salah satu instrumen paling penting dalam upaya mencapai keberhasilan sasaran pembangunan Kabupaten Kutai Timur adalah adanya suatu perencanaan yang baik dan diacu sebagai starting point dalam siklus pengelolaan pembangunan daerah. Dalam kaitan ini penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Kabupaten Kutai Timur mempunyai peranan yang sangat strategis sehingga perlu dilakukan secara sistematis, terarah, terpadu, dan menyeluruh melalui kajian mendalam dengan melibatkan berbagai pihak yang berkepentingan serta mempertimbangkan isu-isu strategis yang berkembang baik di level lokal, regional, nasional maupun global.
Terdapat beberapa terminologi yang berkaitan dengan pengertian Rencana Pembangunan Jangka panjang Daerah dan menurut Undang-undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional, terminologi tersebut dapat dirinci sebagai berikut:
R P J P D K a b u p a t e n K u t a i T i m u r 2 0 0 6 - 2 0 2 5 1 - 4
1. Rencana Pembangunan Jangka Panjang, yang selanjutnya disingkat RPJP, adalah dokumen perencanaan untuk periode 20 tahun.
2. RPJP Daerah memuat visi, misi, dan arah pembangunan daerah yang mengacu pada RPJP Nasional dan RPJP Provinsi.
3. RPJP Daerah digunakan sebagai acuan dalam penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Daerah untuk jangka waktu 5 tahunan.
Dalam rangka memenuhi semua ketentuan normatif aturan perundang-undangan mengenai perencanaan nasional dan daerah, Pemerintah Kabupaten Kutai Timur berupaya menyusun RPJP Daerah Kabupaten Kutai Timur 2006-2025 dengan ketentuan sebagai berikut :
1. Proses Penyusunan RPJP Kabupaten Kutai Timur 2006-2025 dilakukan secara partisipatif, melalui berbagai tahapan musyawarah perencanaan partisipatif, yang melibatkan seluruh unsur pelaku pembangunan daerah.
2. RPJP Kabupaten Kutai Timur 2006-2025 merupakan Dokumen Perencanaan Makro Politis dan Teknis berwawasan dua puluh tahunan.
3. RPJP Kabupaten Kutai Timur 2006-2025 sebagai arahan terselenggaranya pembangunan daerah yang demokratis dengan prinsip-prinsip kebersamaan, berkeadilan, berkelanjutan, berwawasan lingkungan, serta kemandirian dengan menjaga keseimbangan, kemajuan, persatuan dan kesatuan yang berorientasi ke masa depan.
4. RPJP Kabupaten Kutai Timur 2006-2025 disusun secara sistematis, terarah, terpadu, menyeluruh dan fleksibel guna membangun Kutai Timur lebih baik ke depan.
1.2. MAKSUD DAN TUJUAN
RPJP Kabupaten Kutai Timur 2006-2025 disusun dengan maksud :
1. Menyediakan Visi, Misi, dan Arah Kebijakan Pembangunan Jangka Panjang Pemerintah Kabupaten Kutai Timur 2006-2025 untuk diajukan ke legislatif agar dapat ditetapkan sebagai Peraturan Daerah Kabupaten Kutai Timur, yang didasarkan pada RPJP Nasional dan RPJM Nasional serta RPJP dan RPJM Provinsi Kalimantan Timur.
R P J P D K a b u p a t e n K u t a i T i m u r 2 0 0 6 - 2 0 2 5 1 - 5
2. Menata keberlanjutan pembangunan yang telah dilaksanakan sebagai bagian upaya pembangunan daerah yang lalu (tahun 2001-2005) untuk masa 20 tahun mendatang.
3. Memberi arah bagi seluruh pemangku kepentingan (stakeholders) dalam penyelenggaraan pembangunan daerah guna mewujudkan Visi Kabupaten Kutai Timur 20 tahun ke depan.
4. Sebagai acuan dalam penyusunan RPJM Kabupaten Kutai Timur
Berdasarkan pertimbangan tersebut, maka RPJP Kabupaten Kutai Timur 2006-2025 ini disusun dengan tujuan sebagai berikut :
1. Mendukung koordinasi antar pelaku pembangunan Kabupaten Kutai Timur.
2. Menjamin terciptanya integrasi, sinkronisasi, dan sinergi baik antar daerah, antar waktu, antarfungsi, antara pemerintah daerah dan pusat.
3. Mengoptimalkan partisipasi masyarakat Kabupaten Kutai Timur.
4. Menjamin tercapainya penggunaan sumber daya Kabupaten Kutai Timur yang efisien,efektif,berkeadilan dan berkelanjutan.
5. Menjamin keterkaitan dan konsistensi antara perencanaan, penganggaran, pelaksanaan dan pengawasan.
1.3. LANDASAN HUKUM
Penyusunan RPJP Kabupaten Kutai Timur 2006-2025, dilakukan berdasarkan peraturan perundang-undangan sebagai berikut :
1. Undang-undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggara Negara yang Bersih dari KKN;
2. Undang-undang Nomor 47 Tahun 1999 tentang Pembentukan Kabupaten Nunukan, Kabupaten Malinau, Kabupaten Kutai Barat, Kabupaten Kutai Timur Dan Kota Bontang;
3. Undang-undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara;
4. Undang-undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Keuangan Negara;
5. Undang-undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung jawab Keuangan Negara;
6. Undang-undang Nomor 25 Tahun 2004 Tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional;
R P J P D K a b u p a t e n K u t a i T i m u r 2 0 0 6 - 2 0 2 5 1 - 6
8. Undang-undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah.
9. Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Provinsi sebagai Daerah Otonom;
10. Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pembinaan dan Pengawasan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah;
11. Peraturan Pemerintah Nomor 56 Tahun 2001 tentang Pelaporan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah;
12. Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang Nomor 3 Tahun 2005 tentang Perubahan atas Undang-undang Nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah;
13. Peraturan Presiden Nomor 7 Tahun 2005 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJM-Nas) 2004-2009;
14. Instruksi Presiden Nomor 9 Tahun 1995 tentang Perbaikan dan Peningkatan Mutu Pelayanan Aparatur Pemerintah kepada Masyarakat;
15. Instruksi Presiden Nomor 7 Tahun 1999 tentang Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah;
16. Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor 81 Tahun 1993 tentang Pedoman Tatalaksana Pelayanan Umum;
17. Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 29 Tahun 2002 tentang Pedoman Pengurusan, Pertanggungjawaban dan Pengawasan Keuangan Daerah serta Tata Cara Penyusunan APBD, Pelaksanaan Tata Usaha Keuangan Daerah dan Penyusunan Perhitungan APBD;
18. Peraturan Daerah Nomor 3 Tahun 2004 tentang Renstra Pembangunan Dan Pengembangan Infrastruktur, Pertanian dan Sumber Daya Manusia Kabupaten Kutai Timur Tahun 2001-2005;
19. Peraturan Daerah Nomor 4 Tahun 2004 tentang Gerdabangagri Kabupaten Kutai Timur;
20. Peraturan Daerah Nomor 5 Tahun 2004 tentang Program Pembangunan Daerah Kabupaten Kutai Timur;
21. Peraturan Daerah Nomor 6 Tahun 2004 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Daerah Kabupaten Kutai Timur;
22. Peraturan Daerah Nomor 7 Tahun 2004 tentang Pola Dasar Pembangunan Daerah Kabupaten Kutai Timur;
R P J P D K a b u p a t e n K u t a i T i m u r 2 0 0 6 - 2 0 2 5 1 - 7 1.4. HUBUNGAN RPJP DAERAH DENGAN DOKUMEN PERENCANAAN LAINNYA
Keterkaitan antar dokumen perencanaan dalam RPJP Kabupaten Kutai Timur mengacu pada UU Nomor 25 Tahun 2004 pasal 5 dengan ketentuan sebagai berikut :
1. RPJP Kabupaten Kutai Timur mengacu pada RPJP Nasional dan RPJP Provinsi. 2. RPJM Kabupaten Kutai timur merupakan penjabaran dari Visi, Misi dan Program
Kepala Daerah yang penyusunannya berpedoman pada RPJP Kabupaten Kutai Timur dan memperhatikan RPJM Nasional, memuat arah kebijakan keuangan daerah, strategi pembangunan daerah, kebijakan umum dan program satuan kerja perangkat daerah, program lintas satuan kerja daerah dan program kewilayahan. 3. Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) merupakan penjabaran dari RPJM
daerah dan mengacu pada Rencana Kerja Pemerintah (RKP), memuat rancangan kerangka ekonomi daerah, prioritas pembangunan daerah, rencana kerja dan pendanaannya, baik yang dilaksanakan langsung oleh pemerintah maupun yang ditempuh dengan mendorong partisipasi masyarakat.
Secara lebih jelas hubungan antar dokumen perencanaan tersebut dapat dilihat pada Diagram 1.1. Hubungan RPJP Daerah dengan Dokumen Perencanaan Lainnya.
Gambar 1.1.
R P J P D K a b u p a t e n K u t a i T i m u r 2 0 0 6 - 2 0 2 5 1 - 8 1.5. METODE PERENCANAAN
Metode kerja yang digunakan agar penyusunan RPJP Kabupaten Kutai Timur Tahun 2006-2025 ini bersifat partisipatif, transparan dan akuntabel serta sistematis, maka proses dan mekanisme disusun dengan tahapan sebagai berikut: 1. Langkah Pertama, persiapan awal dilakukan dengan a) mengkaji peraturan
perundang-undangan yang terkait dengan dokumen perencanaan jangka panjang daerah, b) melakukan serangkaian konsultasi untuk menentukan inisiatif baru, c) mempersiapkan kerangka konseptual, d) mempersiapkan sumber daya manusia, material dan finansial.
2. Langkah kedua, menghimpun berbagai data pendukung yang berasal dari dokumen-dokumen perencanaan maupun hasil temu pemangku kepentingan (stakeholders).
3. Langkah ketiga, membangun kesepakatan bersama untuk menyusun RPJP Kabupaten Kutai Timur yang komprehensif, aspiratif dan berwawasan masa depan, dengan menggabungkan Top Down Planning dan Bottom Up Planning serta kondisi existing daerah untuk menentukan titik awal perencanaan.
4. Langkah keempat, menyelenggarakan temu konsultasi atau workshop penyusunan RPJP Kabupaten Kutai Timur yang melibatkan pemerintah, DPRD dan Perguruan Tinggi setempat.
5. Langkah kelima, Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Jangka Panjang Daerah, dilaksanakan berdasarkan bahan Rancangan Awal RPJP Daerah yang melibatkan seluruh pemangku kepentingan (stakeholders) untuk mendapat masukan dan komitmen dalam penyempurnaan rancangan RPJP Daerah.
6. Langkah keenam, penetapan peraturan daerah tentang RPJP Kabupaten Kutai Timur 2006-2025.
Pendekatan perencanaan yang dipergunakan dalam penyusunan RPJP Kabupaten Kutai Timur 2006-2025 ini adalah metode kualitatif deskriptif dan kuantitatif berupa analisis regresi dan proyeksi. Prosedur yang digunakan dalam menganalisis data adalah dengan menggunakan teknik statistika Peramalan (Forecasting) dengan metode Kuadrat Terkecil (Least Square Method). Pertimbangan menggunakan metode kualitatif dan kuantitatif secara bersama-sama adalah apabila salah satu hasil metode kurang memuaskan, maka dapat dijustifikasi dengan data dari metode lainnya atau bersifat saling melengkapi.
R P J P D K a b u p a t e n K u t a i T i m u r 2 0 0 6 - 2 0 2 5 1 - 9 Gambar 1.2.
Tata Cara Penyusunan RPJPD
Prediksi Kondisi Umum Daerah
- Geomorfologi &
lingkungan
- Ekonomi & SDA - Demografi - Prasarana dan sarana - dll Rancangan RPJP Merumuskan gambaran awal - Visi - Misi - Arah Pembangunan Sosialisasi, Konsultasi Publik, dan jaring asmara Musrenbang Jangka Panjang Daerah Rancangan Akhir RPJPD - Visi - Misi - Arah Pembangunan Arahan Umum Fungsi & peran
sub wilayah/ kawasan Penetapan Perda ttg RPJPD Peraturan Daerah ttg RPJP Daerah Rancangan Arah Pembangunan Rencana Tata Ruang
Rancangan
Visi & Misi Tanggapan, Saran, Rekomendasi
stakeholders
Rumusan hasil kesepakatan &
komitmen
TAHAP I TAHAP II TAHAP III TAHAP IV
Membentuk Tim Fasilitasi RPJPD
Menyusun Renja penyiapan dokumen RPJPD Menyiapkan Daftar Isi RPJPD
Menyusun data kondisi umum daerah (analisis dan prediksi)
Menyusun rancangan Visi dan Misi Daerah Menyusun rancangan Arah Pembangunan Daerah Melakukan sosialisasi atas rancangan RPJPD
Penyiapan dokumen Persiapan Pelaksanaan Pelaksanaan Keluaran Peserta Nara Sumber Menyusun rancangan akhir RPJPD Menyusun naskah akademis Raperda tentang RPJPD Menyampaikan 2 point di atas kepada Bupati Menyiapkan Surat Bupati, hal naskah Raperda RPJD sbg inisiatif Pemda Melakukan konsultasi dg Gubernur cq. Bappeda Provinsi
R P J P D K a b u p a t e n K u t a i T i m u r 2 0 0 6 - 2 0 2 5 1 - 10 Gambar 1.3.
Alur Pikir Penyusunan RPJPD Kabupaten Kutai Timur 2006-2025
FAKTA DAN ANALISIS TOP DOWN PLANNING BOTTOM UP PLANNING VISI / MISI KOMPILASI DATA ANALISIS POTENSI DAN MASALAH JARING ASMARA/PRA - PENGKAJIAN RPJP-N/P - ISU GLOBAL ISU-ISU STRATEGI S SKENARIO PJP/PJM PENENTUAN INDIKATOR TUJUAN PENYUSUNAN SKALA PRIORITAS SASARAN JP/JM DATA EXISTING RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA PANJANG DAERAH
RAPERDA RPJPD KAB.KUTAI TIMUR 2006-2025 - RPJM DAERAH - RENSTRA SKPD - RENJA SKPD
NOTE: LANGKAH KERJA
DUKUNGAN/KEGIATAN YANG DILAKSANAKAN UNTUK MENDUKUNG LANGKAH KERJA
R P J P D K a b u p a t e n K u t a i T i m u r 2 0 0 6 - 2 0 2 5 1 - 11
1.6. SISTEMATIKA PENULISAN
Buku RPJP Kabupaten Kutai Timur 2006-2025 ini terdiri dari empat bagian. Bagian pertama berisi pendahuluan yang menguraikan tentang latar belakang pembentukan daerah, beberapa terminologi yang berkaitan dengan pengertian RPJP Daerah dan proses penyusunannya. Di pendahuluan ini juga dijabarkan maksud dan tujuan penyusunan RPJP Daerah, aturan perundangan yang melandasinya, dan keterkaitannya dengan dokumen perencanaan yang lainnya.
Bagian kedua menguraikan kondisi, analisis dan prediksi kondisi umum daerah. Prediksi kondisi dilakukan dengan analisis proyeksi fisik, ekonomi dan sosial budaya.
Pada bagian ketiga diuraikan visi, misi, dan arah pembangunan daerah. Buku ini ditutup dengan bagian keempat yang menguraikan tentang RPJP Daerah sebagai pedoman dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah dan pedoman dalam penyusunan RPJM Kabupaten Kutai Timur 2006-2011.
R P J P D K a b u p a t e n K u t a i T i m u r 2 0 0 6 - 2 0 2 5 2 - 1 BAB II
KONDISI UMUM DAERAH:
ANALISIS, PREDIKSI DAN ISU STRATEGIS
2.1. KONDISI UMUM DAERAH: ANALISIS DAN PREDIKSI 2.1.1. Geografi dan Lingkungan Hidup
Secara geografis letaknya berada pada 115° 56’26” - 118°58’19” Bujur Timur dan 1°17’1” Lintang Selatan - 1°52’39 Lintang Utara. 115°58’26” - 118°58’19” Bujur Timur dan 0°02’11” Lintang Selatan - 1°52’39” Lintang Utara dengan batas wilayah Kabupaten Kutai Timur sebagai berikut:
a. Sebelah Utara : Berbatasan dengan Kecamatan Talisayan dan Kecamatan Kelay (Kabupaten Berau)
b. Sebelah Selatan : Berbatasan dengan Kecamatan Bontang Utara (Kota Bontang) dan Kecamatan Marang Kayu (Kabupaten Kutai Kartanegara)
c. Sebelah Timur : Berbatasan dengan Selat Makasar dan Laut Sulawesi d. Sebelah Barat : Berbatasan dengan Kecamatan Kembang Janggut dan
Kecamatan Tabang (Kabupaten Kutai Kartanegara)
Letak geografis wilayahnya merupakan suatu potensi yang cukup strategis untuk mendukung interaksi wilayah Kabupaten Kutai Timur dengan wilayah luar, baik dalam skala regional, nasional maupun internasional, terutama dengan adanya dukungan fasilitas transportasi darat, laut dan udara. Potensi posisi strategis tersebut terlihat dari posisinya dikaitkan dengan wilayah yang lebih luas antara lain sebagai berikut : Kabupaten Kutai Timur berada pada jalur poros regional lintas Trans Kalimantan
yang menghubungkan jalur Tarakan (Kota Orde II) - Tanjung Redeb Ke Samarinda (Kota Orde I - Ibukota Propinsi) - Balikpapan (Kota Orde I) - Kabupaten Pasir - Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat
Kabupaten Kutai Timur berada pada poros segitiga pertumbuhan BONSA SEMAWA (Bontang - Samarinda - Sebulu dan Muara Wahau), TANRE MAWA (Tanjung Redeb - Muara Wahau) dan PANDARONG (Balikpapan - Samarinda -Tenggarong)
Wilayah perairan Kabupaten Kutai Timur, terletak dalam wilayah perairan Selat Makasar dan Laut Sulawesi yang merupakan Alur Laut Kepulauan Indonesian II (ALKI II), sehingga posisi Kutai Timur menjadi strategis karena berada pada jalur transportasi laut internasional dengan panjang garis pantai 152 Km.
R P J P D K a b u p a t e n K u t a i T i m u r 2 0 0 6 - 2 0 2 5 2 - 2
Topografi Kabupaten Kutai Timur bervariasi berupa dataran landai, bergelombang hingga berbukit-bukit dan pegunungan serta pantai dengan ketinggian tanah bervariasi antara 0 - 7 m hingga lebih dari 1000 meter dari permukaan laut. Kawasan yang relatif datar dan landai hanya terdapat di Kecamatan Sangatta, Muara Bengkal, Muara Ancalong dan sebagian Muara Wahau dan Sangkulirang. Daerah yang berbatasan dengan Kabupaten Berau merupakan daerah pegunungan kapur terletak di Kecamatan Sangkulirang, Muara Wahau dan Muara Ancalong. Wilayah pegunungan mempunyai luasan paling besar yakni 1.608.915 ha dan perbukitan mempunyai areal seluas yaitu 1.429.9222,5 ha, sedangkan daerah dataran/landai seluas 536.212,5 ha yang terdiri dari daratan, rawa dan perairan berupa sungai dan danau. Jaringan sungai terdapat di seluruh kecamatan sedangkan danau hanya di Kecamatan Muara Bengkal yaitu Danau Ngayau dan Danau Karang.
Wilayah pantai berada disebelah timur, yang mempunyai ketinggian antara 0 - 7 m diatas permukaan laut, wilayah ini mempunyai sifat kelerengan yang datar, mudah tergenang, rawa dan merupakan daerah endapan. Sebagian besar wilayah Kabupaten Kutai Timur mempunyai kelerengan di atas 15% yang tersebar di seluruh wilayah, wilayah dengan kelerengan di atas 40% khususnya terkonsentrasi di bagian barat laut, dimana wilayahnya mempunyai ketinggian lebih dari 500 m diatas permukaan laut. Wilayah tersebut mempunyai sifat berbukit sampai bergunung dan berpotensi terjadi erosi.
Kabupaten Kutai Timur beriklim hutan tropika humida dengan suhu rata-rata 26°C, dimana perbedaan suhu terendah dengan suhu tertinggi mencapai 5°C-7°C, jumlah curah hujan antara 2000-4000 mm/tahun, dengan jumlah hari hujan rata-rata adalah 130 - 150 hari/tahun.
Potensi Hidrologi cukup besar, terutama adanya aliran beberapa sungai antara lain Sungai Sangatta, Sungai Marah dan Sungai Wahau. Peranan sungai di daerah ini sangat penting, yaitu sebagai sarana transportasi air antara daerah pantai dan daerah pedalaman, dimanfaatkan sebagai sumber air minum penduduk di sepanjang wilayah yang dilaluinya.
Seiring dengan pengembangan kegiatan daerah yang ramah lingkungan, maka pemerintah Kabupaten Kutai Timur telah menetapkan kegiatan-kegiatan yang wajib melaksanakan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL). Namun demikian masih terdapat permasalahan lingkungan dalam pengelolaan Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup antara lain:
R P J P D K a b u p a t e n K u t a i T i m u r 2 0 0 6 - 2 0 2 5 2 - 3
Maraknya penebangan liar (illegal logging) di kawasan hutan serta Taman Nasional Kutai, yang merupakan ancaman serius dalam ekosistem dan sumber daya hutan. Kebakaran hutan yang terjadi pada tahun 1997/1998 telah memusnahkan
1.7696.090 ha hutan di Kutai Timur (IFFM 1999), yang menyebabkan kerugian ekologis berupa rusaknya habitat satwa langka serta berkurangnya keanekaragaman hayati.
Kerusakan kawasan pesisir yang menyebabkan perubahan ekosistem hutan mangrove.
Masih lemahnya penanganan lahan kritis yang berpotensi menyebabkan banjir, pendangkalan sungai, tanah longsor serta dampak negatif lainnya.
Kegiatan penambangan liar galian C, mengakibatkan kerusakan ekosistem didaerah sekitarnya.
Peraturan Perencanaan Tata Ruang yang belum tersosialisasi berdampak timbulnya tumpang tindih penggunaan lahan yang berakibat konflik berkepanjangan dengan masyarakat.
2.1.2. Demografi
Kabupaten Kutai Timur memiliki sumber daya alam melimpah dan wilayahnya sangat luas, beragam etnis bermukim di Kutai Timur. Pertambahan jumlah penduduk yang terjadi selain karena faktor kelahiran juga disebabkan oleh dua faktor: Pertama, terbukanya daerah ini sebagai tempat yang baik untuk mencari kerja atau mengembangkan usaha yang didorong oleh sektor industri batubara, maupun pengelolaan kayu yang keduanya mendatangkan banyak tenaga kerja dari luar daerah. Kedua, karena program transmigrasi yang dilaksanakan pemerintah. Kuatnya asumsi tersebut terutama sekali terlihat dari daerah asal pendatang yang mendiami Kutai Timur, berdasarkan sensus penduduk tahun 2000 sebagian besar pendatang yang kini bermukim di Kutai Timur berasal dari pulau Jawa dan Sulawesi. Dengan tambahan penduduk itu berdasarkan etnis, pada tahun 2000 etnis Jawa yang tinggal di Kutai Timur menjadi yang terbesar, yaitu 25,63% atau sebanyak 37.503 jiwa, disusul etnis Kutai 25,24%, etnis Bugis 16,53%, etnis Banjar 7,78%, etnis Dayak Kenyah 4,73% dan etnis lainnya 20,10%, dari jumlah penduduk 146.510 jiwa. Dari tahun ke tahun jumlah penduduk terus mengalami peningkatan sehingga pada tahun 2004 berjumlah 168.529 jiwa dengan kepadatan rata-rata 4,71 jiwa/km², laju pertumbuhan rata-rata 1,85% lebih besar dari laju pertumbuhan penduduk nasional yaitu sebesar 1,5%,
R P J P D K a b u p a t e n K u t a i T i m u r 2 0 0 6 - 2 0 2 5 2 - 4
penyebaran penduduk tertinggi terdapat Kecamatan Sangatta yaitu sebesar 37,85%. Perkembangan penduduk tersebut jelasnya dapat dilihat pada Tabel 2.1. dan 2.2.
Tabel 2.1
Perkembangan Jumlah Penduduk tiap Kecamatan
No Kecamatan Jumlah Penduduk (Tahun/Jiwa)
2000 2001 2002 2003 2004 (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) 1 Sangatta 44.843 46.676 54.850 61.384 63.782 2 Bengalon 6.029 8.667 8.860 10.792 10.911 3 Kaliorang 11.210 12.152 12.027 11.809 12.446 4 Sangkulirang 16.599 17.464 17.023 16.805 16.575 5 Sandaran 4.548 4.630 4.506 5.571 5.639 6 Muara Wahau 11.523 11.454 11.214 10.676 10.694 7 Muara Ancalong 13.755 15.509 15.043 13.059 13.033 8 Muara Bengkal 18.230 17.615 15.891 14.041 14.097 9 Kongbeng 11.497 11.975 11.802 13.128 13.199 10 Telen 4.362 4.332 4.249 4.178 4.194 11 Busang 3.914 6.689 6.481 4.027 3.961 Jumlah 146.510 157.163 161.946 165.461 168.529 Sumber: Kabupaten Kutai Timur Dalam Angka Tahun 2005
Tabel 2.2
Wilayah dan Kepadatan Penduduk tiap Kecamatan
Kecamatan Luas Wilayah Kepadatan Penduduk per km
2 km2 % 2000 2001 2002 2003 2004 (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) 1. Ma. Ancalong 3241.28 9.07 4.24 4.78 4.64 4.03 4,02 2. Busang 3721.62 10.41 1.05 1.80 1.74 1.08 1,06 3. Ma. Wahau 5724.32 16.01 2.01 2.00 1.96 1.87 1,87 4. Telen 3129.61 5.75 1.39 1.38 1.36 1.33 1,34 5. Kongbeng 581.27 1.63 19.78 20.60 21.30 22.59 22,71 6. Ma. Bengkal 1562.30 4.37 11.67 11.28 10.17 8.99 9,02 7. Sangatta 3898.26 10.90 11.50 11.97 14.07 15.75 16,36 8. Bengalon 3396.24 9.50 1.78 2.55 2.61 3.18 3,21 9. Kaliorang 699.01 1.96 16.04 17.38 17.21 16.89 2,75 10. Sangkulirang 6020.05 16.84 2.76 2.90 2.83 2.79 17,80 11. Sandaran 3773.54 10.56 1.21 1.23 1.19 1.48 1,49 Jumlah 3.5741.50 100.00 4.10 4.13 4.17 4.63 4,71 Sumber: Kabupaten Kutai Timur Dalam Angka Tahun 2005
Rasio ketergantungan penduduk merupakan rasio antara jumlah penduduk non produktif (usia 0 - 14 tahun dan usia 65 tahun keatas) terhadap penduduk usia produktif (usia 15 - 64 tahun). Kabupaten Kutai Timur mempunyai rasio ketergantungan penduduk sebesar 63%, artinya setiap 100 jumlah penduduk usia produktif
R P J P D K a b u p a t e n K u t a i T i m u r 2 0 0 6 - 2 0 2 5 2 - 5
menanggung beban sejumlah 63 orang usia non produktif, namun demikian rasio ketergantungan penduduk ini tidak dapat diartikan secara penuh sebagai beban tanggungan, karena banyak penduduk usia produktif terutama yang masih usia sekolah tidak terlibat sama sekali dalam kegiatan ekonomi. Demikian pula sebaliknya masih ditemukan penduduk usia anak-anak yang telah bekerja terutama di daerah pedesaan dalam rangka meringankan beban orang tuanya.
Perkembangan angkatan kerja di Kabupaten Kutai Timur mengalami fluktuasi, walaupun jumlah penduduk mengalami peningkatan. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya angkatan kerja pada tahun 2000 adalah sebanyak 70.343 jiwa, tetapi pada tahun 2002 jumlah angkatan kerja menurun menjadi 60.463 jiwa, setelah tahun 2002 - 2004 angkatan kerja di Kabupaten Kutai Timur terus mengalami peningkatan, pada tahun 2003 angkatan kerja adalah 66.652 jiwa, pada tahun 2004 angkatan kerja adalah 111.286 jiwa. Tingkat partisipasi angkatan kerja juga mengalami fluktuasi, pada tahun 2000 Tingkat Partisipasi Angkatan kerja 71,75% artinya penduduk usia kerja yang bekerja 71,75%, pada tahun 2002 Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja 52,17%, tahun 2003 Tingkat Partisipasi angkatan kerja 62,05% dan pada tahun 2004 Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja turun menjadi 60,21%.
Dilihat dari lapangan pekerjaan, sektor pertambangan memberikan kontribusi terbesar dalam penyerapan tenaga kerja yaitu sebanyak 6.707 jiwa (41,38%), selanjutnya sektor kehutanan mampu menyerap tenaga kerja 3.926 jiwa (24,22 %)
Prosedur yang digunakan dalam menganalisa data adalah dengan menggunakan teknik statistik peramalan (Forecasting) dengan menggunakan Kuadrat Terkecil (Least Square Method). Metode ini menggunakan persamaan matematik berbentuk linier sederhana. Peramalan digunakan untuk memperkirakan sesuatu dimasa datang, yang dilakukan umumnya berdasar pada data kuantitatif yang didapat dari masa lampau dari variabel yang dianalisis
Tabel 2.3
Proyeksi Jumlah Penduduk Kabupaten Kutai Timur
Tahun Jumlah Penduduk
(Jiwa) (1) (2) 2000 146.510 2001 157.163 2002 161.946 2003 165.461 2004 168.529
R P J P D K a b u p a t e n K u t a i T i m u r 2 0 0 6 - 2 0 2 5 2 - 6 Sumber: Kabupaten Kutai Timur Dalam Angka Tahun 2005
Sumber: Kabupaten Kutai Timur Dalam Angka Tahun 2005
Proyeksi perkembangan jumlah penduduk Kabupaten Kutai Timur pada tahun 2010 sebesar 201.791 jiwa atau meningkat sebesar 20% dari tahun 2004, dan bertambah pada tahun 2015 menjadi 227.959 jiwa atau meningkat sebesar 13% dari tahun 2010, kemudian menjadi 254.127 jiwa pada tahun 2020 dan pada tahun 2025 jumlah penduduk mencapai 280.295 jiwa. Asumsi tersebut adalah perkiraan perkembangan secara alami tanpa pengaruh dari faktor-faktor lain.
2.1.3. Ekonomi dan Sumber Daya Alam 2.1.3.1. Perekonomian Makro Daerah
A. Kebijakan Makro Pemerintah (Otonomi Daerah) ikut memacu pergerakan ekonomi menuju kondisi perekonomian daerah yang semakin baik.
Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) merupakan salah satu indikator yang digunakan untuk melihat keberhasilan pembangunan. Perkembangan PDRB mulai tahun 2001-2004 cenderung mengalami fluktuasi, dengan Migas atas dasar harga berlaku pada tahun 2000 sebesar Rp.5,493 trilyun, tahun 2001 sebesar Rp. 7,069 trilyun, tahun 2002 sebesar Rp. 6,991 triyun, tahun 2003 sebesar
146510,0 157163,0 161946,0 165461,0 168529,0 201790,60 227958,60 254126,60 280294,60 50000,0 100000,0 150000,0 200000,0 250000,0 300000,0 2000 2001 2002 2003 2004 2010 2015 2020 2025 Ji w a Tahun
Tahun Jumlah Penduduk
(Jiwa) P r o y e k s i 2010 201.791 2015 227.959 2020 254.127 2025 280.295 Tabel 2.4
R P J P D K a b u p a t e n K u t a i T i m u r 2 0 0 6 - 2 0 2 5 2 - 7
Rp. 6,385 trilyun, pada tahun 2004 kembali meningkat menjadi Rp. 9,644 trilyun.
Perekonomian daerah masih didominasi sektor pertambangan dengan kontribusi berkisar antara 74% sampai dengan 82% terhadap total PDRB. Terjadinya penurunan PDRB tahun 2002 dan tahun 2003 dikarenakan penurunan produksi batu bara.
Laju pertumbuhan ekonomi periode tahun 2000-2004 menunjukkan kenaikan yang signifikan seperti dilihat dari tabel Laju Pertumbuhan PDRB (Tabel 2.5). Berdasarkan harga konstan tahun 2000 pertumbuhan ekonomi Kabupaten Kutai Timur tahun 2000 sebesar 3,21%, pada tahun 2004 meningkat menjadi 23,02%, namun demikian pada tahun 2003 mengalami pertumbuhan sebesar –3,02%, hal ini disebabkan karena sektor pertanian dan pertambangan mengalami perkembangan negatif.
Salah satu indikator kesejahteraan masyarakat adalah nilai pendapatan perkapita, dengan jumlah penduduk pada tahun 2000 sebanyak 146.510 jiwa, pendapatan perkapita atas dasar harga berlaku tanpa minyak, gas, dan hasil-hasilnya adalah sebesar Rp. 28.196.500 dan pada tahun 2004 dengan jumlah penduduk 168.529 jiwa pendapatan perkapita meningkat menjadi Rp. 42.485.938.
Tabel 2.5
Laju Pertumbuhan PDRB atas dasar harga konstan 2000 menurut Lapangan Usaha
No Lapangan usaha Tahun
2000 2001 2002 2003 2004 (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) 1 Pertanian 2,19 2,26 75,13 (7,03) 3,69 2 Pertambangan dan Penggalian 2,68 17,88 13,04 (2,62) 26,74 3 Industri Pengolahan 2,79 2,76 66,95 8,94 11,97 4 Listrik, Gas dan Air bersih 18,36 15,91 29,44 24,04 13,43 5 Bangunan 149,37 318,81 84,87 (18,85) 2,23 6 Perdagangan, Hotel dan
Restoran
3,67 15,76 26,61 0,89 17,98 7 Pengangkutan dan
Komunikasi
(8,43) 23,96 1,95 0,90 3,78 8 Keuangan, Persewaan dan
Jasa Perusahaan
12,93 13,13 10,24 5,76 5,18 9 Jasa-jasa 54,10 11,82 76,46 18,32 1,72
PDRB 3,21 18,91 18,30 (3,02) 23,02
R P J P D K a b u p a t e n K u t a i T i m u r 2 0 0 6 - 2 0 2 5 2 - 8 Tabel 2.6
Distribusi Persentase PDRB dengan Migas atas dasar Harga berlaku menurut Lapangan Usaha
No Lapangan usaha Tahun
2000 2001 2002 2003 2004 (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) 1 Pertanian 5,23 4,29 8,30 8,90 6,34 2 Pertambangan dan Penggalian 86,20 85,49 76,78 74,69 81,09 3 Industri Pengolahan 0,36 0,32 0,60 0,75 0,59 4 Listrik, Gas dan Air bersih 0,07 0,08 0,13 0,21 0,17 5 Bangunan 0,65 2,42 5,10 4,94 3,44 6 Perdagangan, Hotel dan
Restoran 3,71 3,58 4,08 4,33 3,94 7 Pengangkutan dan
Komunikasi 1,84 1,96 2,30 2,63 1,89 8 Keuangan, Persewaan
dan Jasa Perusahaan 1,27 1,26 1,58 2,00 1,48 9 Jasa-jasa 0,65 0,60 1,13 1,56 1,06 PDRB 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 Sumber: PDRB Kabupaten Kutai Timur Menurut Lapangan Usaha 2000-2004 (BPS, 2005)
Tabel 2.7
Produk Domestik Regional Bruto Atas Dasar Harga Berlaku Menurut Lapangan Usaha (Juta Rupiah)
No Lapangan usaha Tahun
2000 2001 2002 2003 2004 (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) 1 Pertanian 287.474 303.364 580.461 568.177 611.618 2 Pertambangan dan Penggalian 4.735.702 6.044.023 5.367.508 4.769.293 7.821.352 3 Industri Pengolahan 20.009 22.848 41.575 47.608 56.802 4 Listrik, Gas dan Air
Bersih 3.942 5.363 9.332 13.259 16.167 5 Bangunan 35.342 170.986 356.282 315.748 331.535 6 Perdagangan,
Hotel dan Restoran 203.845 253.344 285.410 276.520 379.792 7 Pengangkutan dan Komunikasi 101.198 138.358 160.801 167.666 182.652 8 Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan 69.658 89.245 110.596 127.863 142.697 9 Jasa-jasa 35.814 42.219 79.110 99.374 102.289 PDRB 5.493.583 7.069.721 6.991.177 6.385.508 9.644.904 PDRB @ 5.247.976 6.815.757 6.713.148 6.082.124 9.298.444 Keterangan: @ Tanpa Minyak,Gas dan Hasil-hasilnya
R P J P D K a b u p a t e n K u t a i T i m u r 2 0 0 6 - 2 0 2 5 2 - 9
Dilihat dari angka-angka tersebut diatas, tampak bahwa baik dalam nilai absolut maupun tingkat pertumbuhannya sektor pertambangan dan penggalian cukup dominan dan efisien memberikan kontribusi PDRB Kabupaten Kutai Timur Tabel 2.5, namun hal ini berkaitan dengan eksploitasi sumber daya alam yang tak dapat diperbaharui (unrenewable resources based), sehingga perlu dihitung depresiasi sumber daya alam tersebut dan diprediksi akan menyisakan persoalan lingkungan yang semakin kritis dimasa mendatang, masalah sustainabilitas lingkungan dan indikator ekologi belum terakomodir didalam konsep perhitungan PDRB.
R P J P D K a b u p a t e n K u t a i T i m u r 2 0 0 6 - 2 0 2 5 2 - 12 B. Proyeksi PDRB
Tabel 2.8
Produk Domestik Regional Bruto dan Laju Pertumbuhan serta Proyeksi
No Lapangan usaha T a h u n P r o y e k s i 2000 2001 2002 2003 2004 2010 2015 2020 2025 1 Pertanian 287,474 303,364 580,461 568,177 611,618 1,200,699.60 1,657,250.10 2,113,800.60 2,570,351.10 6% 91% -2% 8% 96% 38% 28% 22% 2 Pertambangan 4,735,702 6,044,023 5,367,508 4,769,293 7,821,352 9,664,831.60 12,113,116.60 14,561,401.60 17,009,686.60 28% -11% -11% 64% 24% 25% 20% 17% 3 Industri Pengolahan 20,009 22,848 41,575 47,608 56,802 116,445.20 165,618.20 214,791.20 263,964.20 14% 82% 15% 19% 105% 42% 30% 23%
4 Listrik, Gas & Air
Bersih 3,942 5,363 36% 9,332 74% 13,259 42% 16,167 22% 35,489.40 120% 51,662.40 46% 67,835.40 31% 84,008.40 24% 5 Bangunan 35,342 170,986 356,282 315,748 331,535 831,697.00 1,200,271.00 1,568,845.00 1,937,419.00 384% 108% -11% 5% 151% 44% 31% 23% 6 Perdagangan, hotel dan restoran 203,845 253,344 24% 285,410 13% 276,520 -3% 379,792 37% 579,838.20 53% 767,373.20 32% 954,908.20 24% 1,142,443.20 20% 7 Pengangkutan dan Komunikasi 101,198 138,358 37% 160,801 16% 167,666 4% 182,652 9% 303,907.80 66% 400,015.80 32% 496,123.80 24% 592,231.80 19% 8 Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan 69,658 89,245 110,596 127,863 142,697 255,768.60 348,116.60 440,464.60 532,812.60 28% 24% 16% 12% 79% 36% 27% 21% 9 Jasa-jasa 35,814 42,219 79,110 99,374 102,289 223,845.20 318,897.70 413,950.20 509,002.70 18% 87% 26% 3% 119% 42% 30% 23% PDRB 5,493,583 7,069,721 6,991,177 6,385,508 9,644,904 13,211,721.80 17,020,936.30 20,830,150.80 24,639,365.30 29% -1% -9% 51% 37% 29% 22% 18%
R P J P D K a b u p a t e n K u t a i T i m u r 2 0 0 6 - 2 0 2 5 2 - 13
Peningkatan PDRB sektor Pertanian paling besar terjadi pada tahun 2002 yaitu sebesar 91%, sedangkan proyeksi pada tahun 2010 meningkat sebesar 96% dari tahun 2004, pada tahun 2015 meningkat 38% dari tahun 2010, pada tahun 2020 meningkat 28% dari tahun 2015 dan pada tahun 2025 meningkat sebesar 22% dari tahun 2020.
PDRB sektor Pertambangan pada tahun 2002 dan 2003 mengalami penurunan dengan rata-rata sebesar 11%, tapi pada tahun 2004 peningkatan terjadi sebesar 64%, kemudian proyeksi pada tahun 2010 meningkat sebesar 24%. Selanjutnya laju pertumbuhan pada tahun 2015, 2020 dan 2025, masing-masing sebesar 25%, 20% dan 17%.
Peningkatan paling besar PDRB sektor Industri Pengolahan terjadi pada tahun 2002 sebesar 82%, untuk proyeksi pada tahun 2010 sebesar 105% dari tahun 2004. Selanjutnya laju pertumbuhan pada tahun 2015, 2020 dan 2025, masing-masing sebesar 42%, 30% dan 23%.
Proyeksi PDRB sektor Listrik, Gas dan Air Bersih pada tahun 2010 meningkat sebesar 120% dari tahun 2004, dan selanjutnya laju pertumbuhan pada tahun 2015, 2020 dan 2025, masing-masing sebesar 46%, 31% dan 24%.
Pada PDRB sektor Bangunan peningkatan terbesar terjadi pada tahun 2001 yaitu sebesar 384%, tetapi mengalami penurunan sebesar 11% pada tahun 2003. Proyeksi pada tahun 2010 terjadi peningkatan sebesar 151% dari tahun 2004.
5493583,0 7069721,0 6991177,0 6385508,0 9644904,0 13211721,8000 17020936,3000 20830150,8000 24639365,3000 5000000,0 10000000,0 15000000,0 20000000,0 25000000,0 30000000,0 2000 2001 2002 2003 2004 2010 2015 2020 2025 R p (00 0.000 ) Tahun Gambar 2.2. Proyeksi PDRB
R P J P D K a b u p a t e n K u t a i T i m u r 2 0 0 6 - 2 0 2 5 2 - 14
Selanjutnya laju pertumbuhan pada tahun 2015, 2020 dan 2025, masing-masing sebesar 44%, 31% dan 23%.
Untuk PDRB sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran penurunan terjadi pada tahun 2003 sebesar 3%, sedangkan proyeksi pada tahun 2010 terjadi peningkatan sebesar 53% dari tahun 2004. Selanjutnya laju pertumbuhan pada tahun 2015, 2020 dan 2025, masing-masing sebesar 32%, 24% dan 20%.
Proyeksi PDRB sektor Pengangkutan dan Komunikasi pada tahun 2010 meningkat sebesar 66% dari tahun 2004, Selanjutnya laju pertumbuhan pada tahun 2015, 2020 dan 2025, masing-masing sebesar 32%, 24% dan 19%.
Untuk PDRB sektor Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan proyeksi pada tahun 2010 meningkat sebesar 79% dari tahun 2004. Selanjutnya laju pertumbuhan pada tahun 2015, 2020 dan 2025, masing-masing sebesar 36%, 27% dan 21%.
Perkembangan PDRB sektor Jasa-jasa peningkatan yang signifikan terjadi pada tahun 2002 sebesar 87%, proyeksi pada tahun 2010 mencapai 119% dari tahun 2004. Selanjutnya laju pertumbuhan pada tahun 2015, 2020 dan 2025, masing-masing sebesar 42%, 30% dan 23%.
Sedangkan proyeksi PDRB untuk semua sektor di Kabupaten Kutai Timur pada tahun 2010 meningkat sebesar 37% dari tahun 2004. Selanjutnya laju pertumbuhan pada tahun 2015, 2020 dan 2025, masing-masing sebesar 29%, 22% dan 18%. Secara umum pada semua sektor PDRB secara berangsur-angsur akan terjadi pemerataan pertumbuhan antar sektor.
2.1.3.2. Pertanian Dalam Arti Luas A. Pertanian dan Perkebunan
Sektor Pertanian dan Perkebunan merupakan sektor yang mampu diharapkan menggerakkan perekonomian wilayah Kabupaten Kutai Timur, hal ini tidak bisa lepas dari kemampuan lahan yang tersedia untuk berbagai komoditas. Adapun kemampuan lahan di Kabupaten Kutai Timur yang ada didalam kawasan Budidaya Non Kehutanan adalah 1.469.710 hektar dengan rincian sebagaimana disajikan pada tabel berikut ini :
R P J P D K a b u p a t e n K u t a i T i m u r 2 0 0 6 - 2 0 2 5 2 - 15 Tabel 2.8.
Kemampuan Lahan untuk berbagai komoditas di Kabupaten Kutai Timur
No Peruntukan Luas (Ha) Komoditas
(1) (2) (3) (4)
1. Perikanan 19.671 Tambak
2. Padi Sawah 110.589 Padi Sawah, Kenaf 3. Padi dan Palawija 263.865 Padi Lahan kering, kacang
kedelai, Kacang tanah, Kacang Hijau, jagung, jahe. 4. Perkebunan dan
hortikultura
363.031 Jambu mete, jeruk, pisang,kelapa sawit,kakao 5. Perkebunan 194.012 Kelapa Sawit, Karet 6. Palawija dan
Hortikultura
502.062 Jagung, Padi, Lahan
kering,kacang-kacangan,vanili,pisang, Salak, Alpokat
7. Tidak Sesuai 16.498
Sumber : Studi Perwilayahan komoditas pertanian di kabupaten Kutai Timur
Adapun sifat dan karakteristik kemampuan lahan untuk berbagai komoditas adalah sebagai berikut :
1) Lahan perikanan (19.671 ha)
Lahan yang direkomendasikan untuk perikanan merupakan daerah yang memiliki fisiografi pasang surut. Daerah ini memiliki bentuk wilayah datar dengan lereng berkisar 0 - 2%. Sebagian besar lahan ini telah dibuka untuk pembuatan tambak, khususnya di muara Bengalon, sepanjang pantai Bontang-Sangatta dan Sangkulirang. Lahan ini disusun oleh tanah gleisol (Tropaquents, Hydraquents) yang bertekstur halus/lempung berpasir hingga lempung, masam di lapisan atas dan agak masam di lapisan bawahnya dan drainase tanah umumnya jelek.
2) Lahan Budi daya padi Sawah (110.589 ha)
Lahan ini relatif datar dengan lereng sekitar 0 - 2% tetapi sebagian besar selalu tergenang sepanjang tahun. Jenis tanah yang menyusun lahan ini sangat bervariasi. Tekstur tanah umumnya halus dengan solum tanah dalam, drainase jelek hingga terhambat dan bersifat masam.
3) Lahan padi dan palawija (263.865 ha)
Lahan ini memiliki topografi landai hingga berombak dengan kelas lereng 2 - 8 %. Sebagian daerah ini disusun oleh batuan kapur dengan bentuk lahan datar dengan teras yang bergelombang sedikit drainase permukaan dan kerapatan dari humus yang bervariasi. Bertekstur lempung berdebu hingga liat berdebu, solum
R P J P D K a b u p a t e n K u t a i T i m u r 2 0 0 6 - 2 0 2 5 2 - 16
tanah dangkal hingga dalam, drainase sedang hingga baik, masam hingga agak masam.
4) Lahan perkebunan, hortikultura dan palawija (865.093 ha)
Lahan palawija dan hortikultura ini memiliki bentuk wilayah bergelombang hingga berbukit dengan kelas lereng berkisar antara 16-40 %, bersolum tanah sedang-dalam, drainase baik dan bersifat masam hingga agak masam
5) Lahan Perkebunan (194.012 ha)
Lahan yang tidak direkomendasikan untuk perkebunan memiliki bentuk wilayah berbukit hingga berbukit agak curam dengan lereng berkisar 41-60%. Memiliki tekstur lempung berdebu hingga berliat, solum tanah dalam drainase baik dan bersifat masam.
6) Lahan yang tidak direkomendasikan (16.498 ha)
Lahan ini umumnya memiliki lereng yang sangat curam (Slope lebih besar dari 60%) atau daerah batu kapur yang memiliki ketebalan tanah hanya beberapa sentimeter sehingga sangat sulit untuk dimanfaatkan usaha pertanian.
Pengaruh dan rendahnya tingkat penerapan teknologi, maka mengakibatkan hasil produksi sektor pertanian dan perkebunan belum optimal. Kemampuan produksi pertanian dan perkebunan dapat dilihat pada tabel berikut ini :
Tabel 2.9.
Kemampuan Produksi Komoditas Pertanian dan Perkebunan
No Komoditas Rata-Rata Produksi (Ton/Ha)
I. Padi 2,09 II. Palawija : Kacang Tanah 0,92 Kedelai 0,45 Jagung 1,52 Kacang Hijau 0,27 Ubi Jalar 0,06 Ubi Kayu 0,16 III. Hortikultura Kacang Panjang 0,50 Sawi 0,56 Bayam 0,51 Terong 0,15 Lombok 0,02 Kangkung 0,02
R P J P D K a b u p a t e n K u t a i T i m u r 2 0 0 6 - 2 0 2 5 2 - 17
No Komoditas Rata-Rata Produksi (Ton/Ha)
Tomat 0,07 Labu 0,42 Jeruk 0,14 Rambutan 0,05 Pisang 0,85 IV Perkebunan Kopi 0,6 - 1 Kakao 0,8 – 1,2 Kelapa 0,42 Kemiri 0,38
Kelapa Sawit (CPO) 6
Sumber :Studi Perwilayahan Komoditas Pertanian Tabel 2.10.
Produksi/Luas Areal Sektor Pertanian dan Perkebunan
No Komoditi Produkasi (Ton)/Luas Areal (Ha)
2002 2003 2004 1. PADI SAWAH 7.992 2.501 10.591 3.079 14.331 3.586 2. PADI LADANG 22.599 10.212 8.821 3.862 25.969 11.501 3. JAGUNG 2.194 1.179 1.463 813 1.876 950 4. UBI KAYU 3.323 254 3.529 273 4.574 350 5. UBI JALAR 879 106 674 95 1.083 136 6. KACANG TANAH 188 189 307 322 215 223 7. KEDELAI 191 176 349 318 198 204 8. KACANG HIJAU 78 73 130 126 148 160 9. KARET 78,54 1.409 78,54 1.457 25,16 647 10. LADA 22,40 332 27,90 332 42,53 310 11. KOPI 109,20 633 128,98 633 168,45 718 12 CENGKEH 0,35 16 0,35 16 0,35 16 13. KELAPA 3.047,25 7.755 4.185,75 7.755 2.025,87 4.780 14. KAKAO 2.807,70 6.995 3.262,70 8.359 3.410,92 10.408 15. KAPUK 16 61 16 61 18,72 61 16. KEMIRI 19,25 296 30,25 346 27,77 426 17. AREN 243 267 288 283 216,71 269 18. JAMBU METE 0,3 26 0,3 26 0,3 26 19. VANILI - 12,20 1,34 17,20 4,05 100,6 20. KELAPA SAWIT - 6.600 65.940 25.999 113.933 39.568 21. KENAF - - - 30 -
Sumber: Kabupaten Kutai Timur Dalam angka 2004/2005 (BPS, 2005)
R P J P D K a b u p a t e n K u t a i T i m u r 2 0 0 6 - 2 0 2 5 2 - 18
Program pembangunan kelapa sawit satu juta hektar di Propinsi Kalimantan Timur seluas 350.000 ha pengembangannya ada di Kabupaten Kutai Timur, bahkan lebih dari itu sampai dengan tahun 2004 luas luas perkebunan Kelapa Sawit 39.568,08 ha, terdiri dari perkebunan rakyat 6.379,08 ha, perkebunan besar swasta dan koperasi seluas 33.189 ha, sehingga masih terbuka peluang bagi investor untuk mengembangkan perkebunan kelapa sawit baik dilihat dari potensi lokasi maupun program pengembangan satu juta hektar sawit dari propinsi.
Beberapa permasalahan yang ditemukan dalam pelaksanaan pengembangan sektor perkebunan komoditi Kelapa sawit antara lain :
Kurangnya pasokan (supply) bibit kelapa sawit + kecambah skala besar untuk memenuhi permintaan investor kelapa sawit
Adanya perusahaan pemegang ijin lokasi tidak menunjukkan kinerja yang baik
Komoditas pertanian dan perkebunan lainnya yang memiliki potensi cukup besar untuk dikembangkan adalah padi, kelapa dan kakao. Peluang untuk mengembangkan komoditas ini selain karena masih sangat luasnya lahan potensial yang belum dimanfaatkan dan hasil produksi rata-rata tiap tahun cukup menggembirakan, juga didukung permintaan pasar yang masih tinggi.
Tabel 2.11
Proyeksi Hasil - hasil Produksi Sektor Pertanian dan Perkebunan
Tahun Jumlah Produksi
(Ton) 2002 43.825,9 2003 177.309,4 2004 168.806,6 P r o y e k s i 2010 567.413,1 2015 879.864,9 2020 1.192.316,7 2025 1.504.768,4
R P J P D K a b u p a t e n K u t a i T i m u r 2 0 0 6 - 2 0 2 5 2 - 19
Pada tahun 2010 proyeksi untuk hasil-hasil produksi sektor pertanian dan perkebunan meningkat sebesar 236% dari hasil produksi pada tahun 2004. Selanjutnya pada tahun 2015 meningkat sebesar 55% dari tahun 2010, pada tahun 2020 meningkat sebesar 35,5% dari tahun 2015 dan pada tahun 2025 meningkat sebesar 26,2% dari tahun 2020.
B. Perikanan
Potensi Perikanan laut terdapat dalam kawasan pesisir yaitu Sangatta – Sangkulirang – Bengalon - Sandaran dengan bentang pantai sepanjang 152 Km, sedangkan perikanan darat terdiri dari sungai, danau, rawa, waduk untuk perairan budi daya meliputi tambak dan kolam, produk dan nilai produksi perikanan dapat dilihat pada tabel 2.12 .:
Tabel 2.12.
Produksi dan Nilai Produksi Perikanan
No. Tahun Produksi (ton) Nilai Produksi (juta rupiah)
1 2001 6.724,3 67.824.452
2. 2002 5.808,1 32.050.710
3. 2003 5.197,0 19.626.323
Sumber: Kabupaten Kutai Timur Dalam angka 2004/2005 (BPS, 2005)
Sedangkan jumlah rumah tangga perikanan pada tahun 2001 berjumlah 3,318 rumah tangga, tahun 2002 berjumlah 2.799 rumah tangga, tahun 2003 berjumlah 2.809 rumah tangga. 43825,89000 177309,37000 168806,6000 567413,10500 879864,88000 1192316,65500 1504768,43000 ,0 200000,0 400000,0 600000,0 800000,0 1000000,0 1200000,0 1400000,0 1600000,0 2002 2003 2004 2010 2015 2020 2025 Ton Tahun Gambar 2.3.
Proyeksi hasil-hasil Produksi Sektor Pertanian dan Perkebunan
R P J P D K a b u p a t e n K u t a i T i m u r 2 0 0 6 - 2 0 2 5 2 - 20 C. Peternakan
Sampai dengan akhir 2003, populasi jumlah ternak besar yang terbesar jumlahnya di Kabupaten Kutai Timur adalah sapi yaitu 1.153 ekor atau (76,2%) dari seluruh jumlah ternak yang terdiri dari 3 jenis ternak yaitu Sapi, Kambing, Babi. Ternak yang dipotong pada tahun 2003 adalah 2259, sehingga masih ada ketergantungan ternak potong dari daerah luar sebesar 51%, hal ini menjadikan peluang pasar yang besar untuk kebutuhan lokal. Sedangkan untuk jenis unggas pada akhir tahun 2003 adalah sebesar 416.433 ekor terdiri dari empat jenis unggas yang dikembangkan yaitu Ayam kampung, Ayam Ras Pedaging, Ayam Ras, itik, produksi daging dan telur yang dihasilkan dari keempat jenis unggas tersebut adalah 386,09 ton. Sementara produksi telur yang dihasilkan adalah 100.621 butir (setara dengan 6405 Kg), dengan asumsi konsumsi telur 2,87 kg/kapita/tahun kemampuan daerah memasok kebutuhan telur lokal mencapai 1,33%.
D. Kehutanan
Luas Hutan secara keseluruhan adalah 2.787.024 ha, yang merupakan 77,8% dari total wilayah Kabupaten Kutai Timur. Menurut fungsinya hutan di Kabupaten Kutai Timur dibagi seperti tertera pada tabel 2.13
Tabel 2.13.
Luas Hutan di Kabupaten Kutai Timur
No Fungsi Hutan Luas (ha)
1. Hutan Produksi 1.335.477
2. Hutan Lindung 211.053
3. Hutan Wisata 193.528
4. Hutan Konversi 1.038.966
Total 2.787.024
Sumber: Kabupaten Kutai Timur Dalam angka 2004/2005 (BPS, 2005)
Luas Kawasan hutan di Kabupaten Kutai Timur seluruhnya adalah 3.186.562,50 Ha atau 89,8% dari seluruh luas Kutai Timur, terdiri dari: Kawasan Budidaya Kehutanan (KBK) seluas 1.744.375 ha, Kawasan Budidaya Non Kehutanan (KBNK) 938.437,5 ha, Hutan Lindung seluas 337.031,25 ha, Cagar Alam seluas 47.343,75 ha dan Taman Nasional seluas 119.375 Ha dan tercatat sejumlah perusahaan perkayuan yang telah menanamkan modalnya di Kabupaten Kutai Timur terdiri dari 19 buah HPH, 3 buah IUPHHK, 8 buah HTI, 17 industri perkayuan ditambah 33 badan usaha telah mendapatkan Ijin Pemanfaatan Kayu (IPK) sebagai akibat dari
R P J P D K a b u p a t e n K u t a i T i m u r 2 0 0 6 - 2 0 2 5 2 - 21
kegiatan Land Clearing yang mayoritas adalah Koperasi yang nota bene bekerja sama dengan para investor.
Kawasan hutan produksi sekitar 1.335.447 ha, menghasilkan kayu olahan untuk perniagaan antara lain: jenis kayu Kapur, Meranti, Ulin, Bangkirai dan Keruing. Sebagaimana dapat dilihat pada tabel 2.14. berikut ini :
Tabel 2.14.
Produksi Kayu Olahan Menurut Jenisnya
No Jenis Kayu Olahan Tahun
2000 2001 2002 2003 2004
1. Plywood (m³) 5.690.26 - - 5.515.90 -
2. SawnTimber(m³) 16.794.51 11.888.75 11.888.75 37.552.69 - 3. Bloc Board (m³) 254.67 - - 14.93 - 4. Moulding (m³) 2.437.54 2.684.90 2.684.90 793.35 - Sumber: Kabupaten Kutai Timur Dalam angka 2004/2005 (BPS, 2005)
2.1.3.3 Potensi Sumber Daya Mineral A. Pertambangan
Batubara
Batubara di wilayah Kabupaten Kutai Timur mulai dieksplorasi tahun 1982 dan mulai dieksplotasi pada tahun 1989. Produksi batubara hingga tahun 2005 secara total keseluruhan mencapai 55 juta ton pertahunnya. Adapun potensi sumberdaya batubara tersebar meliputi wilayah:
a. Sangatta
Wilayah penyebaran meliputi daerah Sungai Santan, Tandung Mayang, Sungai Benumuda, Taman Nasional Kutai hingga ke daerah Sangatta sendiri. Sumberdaya berkisar kurang lebih dari 2 milyar ton.
b. Bengalon, Kaliorang dan Sangkulirang
Wilayah penyebaran ini meliputi daerah Batutak, Sepaso, Gunung Padang, Pangadan dan sekitar Sungai Rapak. Sumberdaya berkisar kurang lebih 1 milyar ton.
c. Muara Wahau dan Telen
Wilayah penyebaran meliputi Sungai Telen, Sungai Marah, Sungai Pesab dan Sungai Wahau. Sumberdaya berkisar kurang lebih 5 milyar ton.
R P J P D K a b u p a t e n K u t a i T i m u r 2 0 0 6 - 2 0 2 5 2 - 22
d. Busang dan Muara Ancalong
Wilayah penyebaran meliputi hulu Sungai Senyiur, Sungai Kelinjau, Sungai Atan dan Sungai Long Nyelong. Sumberdaya berkisar kurang dari 1 milyar ton.
Emas
Indikasi keberadaan emas dapat ditemukan pada daerah Busang yaitu sekitar hulu Sungai Atan, Hulu Sungai Kelinjau, daerah Telen meliputi hulu Sungai Marah dan daerah Muara Wahau meliputi sekitar hulu Sungai Telen. Potensi sumberdaya belum dapat dihitung karena masih dalam status penelitian.
B e s i
Indikasi keberadaan potensi besi ditemukan pada sekitar daerah Muara Ancalong dan Busang dengan potensi semberdaya belum dapat dihitung karena masih dalam penyelidikan.
Batu Gamping
Potensi sumberdaya batu gamping ditemukan hampir merata pada di seluruh kecamatan yang ada di Kabupaten Kutai Timur. Dalam jumlah besar potensi sumberdaya dapat ditemukan pada wilayah sekerat, wilayah tandehatu (Sandaran), selain itu dapat juga ditemukan pada wilayah gunung gergaji (Hambur batu) dan sekitar wilayah Pangadan dan Perondongan. Sumberdaya berjumlah lebih dari 50 milyar ton. Gipsum
Indikasi keterdapatan gipsum ditemukan pada daerah Sungai Narut (Perbatasan Kaliorang dan Bengalon) dengan cadangan relatif sedikit.
Pasir Kuarsa
Pasir Kuarsa dapat ditemukan di wilayah sekitar Batutak dan Berium (Bengalon). Selain itu ditemukan pada wilayah Kaliorang dan Pasir Putih (Sandaran). Sumberdaya berjumlah lebih dari 20 milyar ton.
Clay
Clay hampir ditemukan relatif merata diseluruh Kabupaten Kutai Timur dengan jumlah sumberdaya yang melimpah.
R P J P D K a b u p a t e n K u t a i T i m u r 2 0 0 6 - 2 0 2 5 2 - 23
Batu Beku
Batu Beku yang ditemukan di Kabupaten Kutai Timur meliputi Andesit, Basal dan Diorit. Andesit dan Basal ditemukan pada daerah Pangadan, Busang dan Perondongan. Sedangkan Diorit ditemukan pada daerah Busang.
Sirtu
Potensi keterdapatan Sirtu (Pasir dan Batu) ditemukan sangat melimpah di semua kecamatan. Biasanya terdapat pada daerah sekitar sungai-sungai besar, seperti Sungai Kelinjau, Sungai Bengalon, Sungai Sangatta, Sungai Telen dan lain-lain.
B. Minyak Bumi dan Gas
Mulai dieksplorasi sejak tahun 1972 pada 2 lokasi potensial di Sangatta dan Sangkimah dengan jumlah cadangan minyak sekitar 243,4 juta barrel, pada tahun 1995 - 2004, jumlah produksi mencapai 15.078.850 barrel. Untuk Lebih jelasnya pruduksi minyak dan gas alam dapat dilihat pada Tabel 2.15.
Tabel 2.15
Produksi Minyak dan gas
No Tahun Produksi Minyak Mentah (000 Barrel) Produksi Gas Alam (000 MSCF)
1 1995 732 192 2 1996 801 180,19 3 1997 2.856,74 8.271,35 4 1998 2.502,76 6.558,75 5 1999 1.537,24 8.676,34 6 2000 2.419,02 9.991.91 7 2001 1.530,53 2.516,87 8 2002 679,62 300,34 9 2003 838,86 - 10 2004 1.181,08 - JUMLAH 15.078,850 36.687,75
Sumber: Kabupaten Kutai Timur Dalam angka 2004/2005 (BPS, 2005) 2.1.3.4. Perbankan/Kelembagaan Keuangan
Keberadaan lembaga keuangan di Kabupaten Kutai Timur sampai dengan tahun 2005 masih terbatas dalam lingkup perbankan baik berupa bank-bank umum dan bank perkreditan (BPR) maupun Koperasi Unit Desa (KUD). Bank-bank umum yang ada umumnya bank pemerintah yaitu BRI, BNI dan Bank Mandiri yang masih dalam skala kecil (anak cabang) serta Bank Pembangunan Daerah (BPD) Cabang dari BPD Propinsi Kalimantan Timur. BPR yang ada sejumlah 3 unit dan jumlah KUD dari tahun 2001
R P J P D K a b u p a t e n K u t a i T i m u r 2 0 0 6 - 2 0 2 5 2 - 24
sampai tahun 2004 mengalami peningkatan yaitu sejumlah 188 buah, 266 buah, 314 buah dan 385 buah.
Masih kecilnya nilai transaksi keuangan daerah secara umum yang menggunakan jasa lembaga keuangan yang ada menunjukkan bahwa sektor produksi belum berkembang secara optimal atau gairah investasi belum menggembirakan. Kondisi ini sangat kontradiktif dengan nilai ekspor-impor di Kabupaten Kutai Timur yang mencapai nilai ekspor sekitar USD 431,5 juta dan impor sekitar USD 50 juta.
2.1.3.5. Usaha Kecil Menengah dan Koperasi
Usaha Kecil Menengah (UKM) dan Koperasi merupakan salah satu pelaku kegiatan ekonomi yang diharapkan mampu meningkatkan tingkat kesejahteraan masyarakat, dalam rangka meningkatkan peran UKM dan Koperasi, maka telah dilakukan beberapa program antara lain :
- Penyederhanaan perijinan layanan publik dan insentif
- Meningkatkan Akses Usaha Kecil Menengah dan Koperasi pada berbagai bidang usaha .
- Pengembangan sentra /klaster bisnis melalui potensi sektor unggulan - Pengembangan kemitraan usaha dengan pelaku usaha lainnya
- Menciptakan iklim usaha yang kondusif dan dukungan perkuatan bagi UKM dan Koperasi.
A. Usaha Kecil Menengah
Usaha kecil menengah di Kabupaten Kutai Timur berjumlah 2.634 UKM, yang bergerak pada sektor Industri Kecil, Perdagangan & Jasa dibeberapa sektor usaha, namun demikian masih didapat permasalahan dalam pengembangan UKM, yaitu permodalan, managemen dan peluang pasar, untuk menjawab permasalahan tersebut maka telah dilakukan kegiatan peningkatan SDM dan peningkatan akses keuangan, sehingga dapat diproyeksikan penumbuhan UKM dapat dilihat pada tabel 2.16
Tabel 2.16
Penumbuhan UKM Baru
No Kecamatan Jumlah UKM (Tahun)
2006 2010 2015 2020 2025
1. Sangatta 418 437 460 489 1804
2. Bengalon 50 68 79 90 287
R P J P D K a b u p a t e n K u t a i T i m u r 2 0 0 6 - 2 0 2 5 2 - 25
No Kecamatan Jumlah UKM (Tahun)
2006 2010 2015 2020 2025 4. Sangkulirang 19 25 39 49 132 5. Sandaran 13 19 26 34 92 6. Muara Wahau 49 74 77 113 313 7. Muara Ancalong 19 25 38 45 127 8. Muara Bengkal 29 41 47 61 178 9. Kongbeng 50 73 97 142 362 10 Telen 8 12 16 20 56 11 Busang 12 19 22 25 78 Jumlah 756 898 1032 1229 2277
Sumber: Dinas Koperasi Kabupaten Kutai Timur B. Koperasi
Salah satu indikator untuk mengukur tingkat kepedulian/minat berorganisasi masyarakat antara lain adalah dengan jumlah koperasi. Jumlah koperasi di Kabupaten Kutai Timur pada tahun 2004 tercatat sebanyak 434 buah dan tersebar di seluruh kecamatan, dengan proyeksi penumbuhan koperasi dapat dilihat pada tabel 2.17
Tabel 2.17
Proyeksi Pertumbuhan Koperasi
No Kecamatan Jumlah Koperasi (Tahun)
2005 2010 2015 2020 2025 1. Sangatta 132 143 152 167 174 2. Bengalon 52 67 74 83 96 3. Kaliorang 33 38 47 54 62 4. Sangkulirang 64 69 76 87 92 k5. Sandaran 10 12 15 17 20 6. Muara Wahau 42 47 53 56 63 7. Muara Ancalong 29 31 35 39 41 8. Muara Bengkal 20 25 28 31 37 9. Kongbeng 29 34 37 42 47 10 Telen 13 16 18 21 25 11 Busang 10 12 15 18 21 Jumlah 434 494 550 615 678
Sumber: Dinas Koperasi Kabupaten Kutai Timur
Koperasi berfungsi sebagai usaha ekonomi rakyat masih sering diwarnai dengan persoalan keterbatasan modal, pengelolaan dan manajemen yang kurang profesional dalam melakukan pengembangan usaha, akses terhadap perolehan informasi dan pemberian informasi dinilai masih sangat lambat, sehingga mempengaruhi tingkat pemasaran hasil produksi, sehingga dalam rangka peningkatan kualitas koperasi telah dilakukan kegiatan: Pemberdayaan kelembagaan koperasi, Pemberdayaan usaha
R P J P D K a b u p a t e n K u t a i T i m u r 2 0 0 6 - 2 0 2 5 2 - 26
koperasi, peningkatan akses pasar koperasi, sehingga dapat diproyeksikan koperasi yang berkualitas pada tabel 2.18
Tabel 2.18
Proyeksi pertumbuhan koperasi berkulitas
No Kecamatan Jumlah Koperasi Kwalitas (Tahun)
2006 2010 2015 2020 2025 1. Sangatta 14 16 20 25 31 2. Bengalon 4 7 10 14 18 3. Kaliorang 2 3 6 7 11 4. Sangkulirang 9 11 14 16 21 5. Sandaran 1 1 3 5 9 6. Muara Wahau 4 6 8 12 15 7. Muara Ancalong 2 3 6 8 12 8. Muara Bengkal 2 3 6 9 12 9. Kongbeng 5 8 10 13 17 10 Telen 1 3 5 9 14 11 Busang 1 2 4 7 9 Jumlah 36 60 92 125 169
Sumber: Dinas Koperasi Kabupaten Kutai Timur 2.1.3.6. Pariwisata
Potensi Pariwisata Kabupaten Kutai Timur berupa obyek wisata alam, wisata budaya, wisata pelayaran sungai tersebar di 6 wilayah Kecamatan. Sebaran obyek wisata kabupaten Kutai timur dapat dilihat pada tabel 2.19.
Tabel 2.19.
Potensi Obyek Wisata Kabupaten Kutai Timur
Kecamatan Obyek Wisata Keterangan
Sangatta 1. Pantai Sangkima Akan dikembangkan 2. Taman Nasional Kutai Akan dikembangkan 3. Pantai Teluk lombok Akan dikembangkan 4. Pantai Teluk Perancis Akan dikembangkan Sangkulirang 5. Sumber Air Panas Akan dikembangkan
6. Goa Pengadan (Stalaktit dan
Stalakmit) Akan dikembangkan
7. Pulau Birah-birahan (taman
laut,ikan hias, jenis pohon langka) Akan dikembangkan 8. Goa Mardua Akan dikembangkan 9. Pantai cepu-cepu
10. Sungai Narut 11. Pulau Miang Besar 12. Pulau Lepok 13. Teluk Nepa
R P J P D K a b u p a t e n K u t a i T i m u r 2 0 0 6 - 2 0 2 5 2 - 27
Kecamatan Obyek Wisata Keterangan
Muara Wahau 14. Danau Desa Juk Ayak
Kongbeng 15. Goa Kongbeng (Burung walet, patung-patung eks peninggalan kerajaan)
Akan dikembangkan 16. Lamin adat dan seni budaya Suku
Dayak Kenyah Lepo Kulit
Akan dikembangkan 17. Lamin adat dan seni budaya suku
dayak Modang
Telen 18. Lamin adat dan seni budaya suku kayan
Muara Ancalong 19. Lamin Adat dan Seni budaya Suku Dayak kenyah Lepo Tau
Sumber : Studi Pariwisata Kabupaten Kutai Timur
Perkembangan sektor pariwisata perlu dukungan ketersediaan sarana dan prasarana yang memberikan kenyamanan bagi wisatawan, antara lain adalah kemudahan aksesibilitas, tersedianya hotel dan penginapan.
2.1.4. Sosial Budaya dan Politik A. Umum
Kondisi sosial budaya masyarakat Kabupaten Kutai Timur dapat diamati dari tingkat apresiasi masyarakat terhadap pendidikan, kesehatan dan kebudayaan masyarakat yang pada akhirnya merupakan cermin dari tingkat kesejahteraan rakyat Kabupaten Kutai Timur. Mengamati dari tingkat pendidikan pada umumnya penduduk Kabupaten Kutai Tumur memiliki tingkat pendidikan yang masih rendah. Penduduk dengan jenjang SD masih mendominasi tingkat pendidikan penduduk Kabupaten Kutai Timur, yakni sebesar 41.397 jiwa dan tidak tamat SD adalah 31.673 jiwa, Sementara penduduk yang berpendidikan setingkat sarjana 2.719 jiwa atau 2,2% dari jumlah penduduk usia 10 tahun keatas. Rendahnya tingkat pendidikan tersebut mengisyaratkan rendahnya kwalitas Sumber Daya Manusia, indikator lainnya kita gunakan adalah Indeks Pembangunan Manusia yang duperkenalkan oleh United Nation Develpoment Program untuk IPM Kabupaten Kutai Timur, pada tahun 2002 adalah 66,10 berada pada peringkat 164 Nasional dan pada tahun 2004 mengalami peningkatan menjadi 69,1 tetapi mengalami penurunan peringkat menjadi 177 Naional dengan kisaran masih pada 66≤ IPM < 80 yang menurut standar UNDP berada pada tingkat Menengah Atas.