1
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Malaysia merupakan sebuah negara yang populasi penduduknya terdiri dari berbagai jenis etnis dan suku, atau dalam kata lain, sebuah negara yang multi-etnis. Dari berbagai macam jenis etnis dan suku tersebut, terdapat tiga etnis yang merupakan etnis dengan jumlah populasi paling banyak, yaitu etnis Melayu, China, dan India. Etnis Melayu merupakan etnis dengan jumlah populasi terbesar, karena etnis tersebut merupakan etnis asli yang paling lama mendiami kawasan negara Malaysia dibandingkan dengan kedua etnis lainnya. Etnis Melayu bersama dengan suku asli Malaysia kemudian lebih dikenal dengan sebutan Bumiputera yang mengacu kepada penduduk pribumi yang telah mendiami negeri tersebut sejak lama. Sedangkan kedua etnis lain, yaitu etnis China dan India merupakan penduduk pendatang, ataupun keturunan dari orang-orang yang berasal dari China dan India yang datang ke Malaysia pada zaman dahulu. Penduduk etnis China merupakan penduduk keturunan imigran China yang datang ke kawasan yang kini disebut negara Malaysia tersebut pada abad 15 dan awal abad 20 sebagai pedagang.1 Sementara etnis India adalah orang-orang keturunan imigran India yang berdatangan pada abad 11 dan pada masa pendudukan Inggris. Imigran-imigran China dan India tersebut datang ke Malaysia umumnya bertujuan untuk berdagang atau bekerja di perusahaan dan perkebunan milik kolonial Inggris yang sebelumnya menguasai negara tersebut. Keturunan imigran China dan India tersebut yang kemudian menjadi warga negara Malaysia sekarang ini.
Menurut sensus penduduk tahun 2012, etnis Melayu menempati urutan pertama dengan persentase populasi sebesar 50,4% dari total 29,17 juta penduduk
1
J. Cambria, Overseas Chinese in Malaysia (online),
<http://www.chinatownology.com/overseas_chinese_malaysia.html>, diakses pada 21 Februari 2013
2
Malaysia. Sedangkan etnis China menempati urutan kedua dengan persentase sebesar 23,7% dan disusul etnis India di urutan ketiga dengan 7,1%.2
Dengan beragamnya etnis dan suku bangsa yang menyusun bangsa Malaysia, terdapat permasalahan besar yang dihadapi oleh bangsa Malaysia sendiri dalam proses pembangunan kebangsaan (nation-building process) di tubuh negara tersebut. Permasalahan tersebut muncul tepat setelah negara tersebut merdeka atas kolonialisasi Inggris, dimana pemerintah negara yang baru merdeka tersebut menerapkan kebijakan yang menjadi tonggak awal munculnya permasalahan tersebut. Pemerintah Malaysia yang baru terbetuk pada awal kemerdekaannya berusaha melindungi dan melestarikan karakter keislaman dan menjadikan bahasa Melayu sebagai bahasa resmi negara, alih-alih mempertimbangkan identitas kedua etnis untuk dimasukkan ke dalam identitas kebangsaan.3 Kebijakan pemerintah Malaysia yang mengistimewakan etnis Melayu juga tercermin dari kebijakan pemerintah di bawah pimpinan Perdana Menteri Tunku Abdul Rahman yang berusaha untuk menekan populasi etnis China dengan menambahkan wilayah yang didominasi orang Melayu ke dalam wilayah Federasi Malaysia. Wilayah tersebut adalah wilayah Kalimantan Utara, yaitu yang kemudian disebut dengan negara bagian Sabah dan Serawak. Dengan ditambahkannya wilayah tersebut, otomatis warga beretnis Melayu meningkat jumlahnya dan etnis China menurun persentasenya.4 Inilah awal munculnya diskriminasi etnis yang justru dilakukan oleh pemerintah Malaysia terhadap warga negaranya sendiri, suatu hal yang tercermin dari berbagai kebijakan yang ditelurkan yang justru mengancam persatuan dan kesatuan negara tersebut. Sikap pemerintah Malaysia yang bersifat diskriminatif terhadap etnis China dan India tersebut didasarkan pada kekhawatiran yang timbul bahwa warga beretnis China dan India pada saat itu memiliki kehidupan yang lebih baik daripada warga
2
Central Intelligence Agency, The World Factbook: Malaysia (online), 5 Februari 2013, <https://www.cia.gov/library/publications/the-world-factbook/geos/my.html>, diakses pada 21 Februari 2013
3
B.N. Pandey, South and South-East Asia 1945-1979: Problems and Policies, The MacMillan Press Ltd, London, 1980, hal. 133
4
D.R. Sardesai, Southeast Asia: Past and Present, Vikas Publishing House, Los Angeles, 1982, hal. 383
3
beretnis Melayu. Kondisi tersebut dikhawatirkan akan mematikan warga beretnis Melayu, sehingga dikhawatirkan kelak Malaysia akan dikuasai oleh warga beretnis China atau India. Untuk menghindari kejadian tersebut terjadi di masa depan, pemerintah Malaysia kemudian menerapkan kebijakan untuk melindungi etnis Melayu. Kebijakan New Economic Policy yang dikeluarkan oleh pemerintahan Perdana Menteri Tun Abdul Razak pada tahun 1971 merupakan salah satu tonggak utama bentuk diskriminasi yang berwujud affirmative actions tersebut.5
Menurut Louis Wirth, kelompok minoritas adalah “Sekelompok orang, karena karakteristik fisik atau budayanya, diasingkan dari orang lain dalam suatu kelompok dimana mereka mendapat perlakuan yang berbeda serta bersifat diskriminatif, dan kemudian menganggap diri mereka sebagai objek dari diskriminasi kolektif."6 Warga keturunan China dan India di Malaysia termasuk etnis “minoritas”, serta etnis imigran yang mempunyai perbedaan baik fisik dan budaya dari etnis Melayu, serta dianggap orang asing dan mendapat perlakuan diskriminatif, meskipun mereka secara sah adalah warga negara Malaysia.
Diskriminasi terhadap kedua etnis tersebut juga terjadi dalam berbagai aspek kehidupan sosial, ekonomi, dan politik. Inilah permasalahan yang ditimbulkan oleh pemerintah Malaysia, dan yang kini sedang dihadapi pula oleh pemerintah Malaysia. Permasalahan yang mengancam proses pembangunan kebangsaan negara tersebut. Akan tetapi, kedua etnis tersebut seringkali melakukan perlawanan terhadap diskriminasi, sehingga lama kelamaan pemerintah Malaysia menyadari bahwa diskriminasi terhadap dua etnis besar tersebut justru menjadi salah satu permasalahan yang mengancam stabilitas negara.
Pembangunan dalam suatu negara hanya dapat berjalan secara lancar jika kondisi negara tersebut dalam keadaan stabil, dalam arti bebas dari berbagai
5
Malaysia Factbook, New Economic Policy (online), 14 November 2012,
<http://malaysiafactbook.com/New_Economic_Policy>, diakses pada 24 April 2013
6
L. Wirth, ‘The Problem of Minority Groups’, in Ralph Linton (ed.), The Science of Man in the World Crisis, Columbia University Press, New York, 1945, p. 347
4
konflik internal dan ancaman dari luar. Untuk itu, pemerintah Malaysia yang semakin menyadari hal ini kemudian sedikit demi sedikit menghapuskan perlakuan diskriminasi tersebut dan berusaha memperbaiki proses pembangunan kebangsaan dengan meletakkan satu langkah kebijakan penting, yang dinamakan
1Malaysia Policy di bawah pemerintahan Perdana Menteri Najib Razak pada
tahun 2010 lalu. Kebijakan ini menjadi tonggak penting dalam babak baru proses pembangunan kebangsaan yang diharapkan menjadi lebih baik, tanpa adanya diskriminasi terhadap etnis non-Melayu.7
B. Rumusan Masalah
Bagaimana perkembangan perubahan proses pembangunan kebangsaan di Malaysia dari masa dikeluarkannya kebijakan New Economic Policy sampai kebijakan 1Malaysia Policy?
C. Landasan Konseptual
Dari Positive Discrimination menjadi Multi-Etnicity
Sebelum dikeluarkannya kebijakan 1Malaysia Policy pada tahun 2010 lalu, kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah Malaysia dapat dikatakan merupakan positive discrimination. Positive discrimination merupakan sebuah bentuk kebijakan affirmative action yang dirancang untuk memperbaiki kelemahan dari suatu kelompok. Dalam kebijakan yang bersifat positive discrimination, diskriminasi dibenarkan untuk memberikan kesempatan bagi sekelompok tertentu agar mendapat posisi yang setara dalam masyarakat.8 Dalam hal ini, etnis Melayu merupakan kelompok yang memiliki tingkat kehidupan yang lebih rendah dariada etnis China dan India, sehingga kebijakan tersebut dirasa perlu untuk mengatrol tingkat kehidupan warga Melayu supaya sama dengan etnis
7
1Malaysia, About 1Malaysia (online), <http://www.1malaysia.com.my/about/about-1malaysia/ >, 21 Februari 2013
8
Multicultural Australia, Positive Discrimination (online), 26 November 2004
<http://www.multiculturalaustralia.edu.au/hotwords/unpack/Positive.Discrimination>, diakses pada 23 Juli 2013
5
China dan India. Pada dasarnya, kebijakan yang bersifat positive
discrimination dibuat untuk memberikan kemudahan bagi kelompok
tertentu, dalam hal ini etnis, untuk memperoleh kemajuan, karena melihat dari fakta bahwa pada masa awal kemerdekaan Malaysia, warga Malaysia beretnis Melayu memiliki tingkat kesejahteraan yang rendah, sehingga pemerintah harus turun tangan untuk mengangkat tingkat perekonomian orang Melayu.9 Akan tetapi, penerapan kebijakan di Malaysia justru menimbulkan bentuk permasalahan baru, yaitu diskriminasi terhadap warga negara beretnis China dan India. Berbagai jenis kebijakan yang menerapkan positive discrimination diambil dalam rangka untuk melindungi etnis Melayu dari gempuran warga keturunan China dan India yang secara ekonomi lebih maju.10 Pemerintahan Malaysia yang sejak awal kemerdekaan diduduki oleh warga beretnis Melayu secara otomatis memberikan kekuatan politik, serta sebagai warga mayoritas, kebijakan ini akan lebih mudah diterapkan. Kedua hal ini memberikan keuntungan lebih bagi warga beretnis Melayu.11 Berbagai kebijakan yang bersifat positive
discrimination semakin mendapat kekuatan karena pada dasarnya,
konstitusi di Malaysia sudah mengatur hal tersebut. Pada Artikel 153 Konstitusi Federal Malaysia, secara umum menegaskan bahwa kepala negara Malaysia, Yang Dipertuan Agong, berkewajiban untuk melindungi orang Melayu serta warga asli Malaysia.12
Adanya penyimpangan dalam penerapan kebijakan yang bersifat
positive discrimination membuat warga negara yang beretnis China dan
India merasa tidak mendapatkan hak yang setara dengan orang Melayu. Sudah seharusnya sebuah negara memberikan perlakuan yang sama
9
D. Petrova, Affirmative Action versus Equality in Malaysia (online), 22 November 2012, <
http://ohrh.law.ox.ac.uk/?p=682>, diakses pada 21 Februari 2013
10
Encyclopedia of the Nations, Malaysia – Poverty and Wealth (online),
< http://www.nationsencyclopedia.com/economies/Asia-and-the-Pacific/Malaysia-POVERTY-AND-WEALTH.html>, diakses pada 21 Februari 2013
11
A. Shukry, Affirmative Actions for the Majority Dangerous (online), 21 November 2012,
http://www.freemalaysiatoday.com/category/nation/2012/11/21/%E2%80%98affirmative-action-for-malays-dangerous%E2%80%99/, diakses pada 21 Februari 2013
12
6
terhadap warga negaranya tanpa memandang perbedaan. Untuk itulah, warga negara Malaysia keturunan China dan India melakukan berbagai bentuk perlawanan terhadap pemerintah Malaysia supaya dilakukan suatu perubahan dari kebijakan yang bersifat positive discrimination yang memposisikan warga Melayu di atas mereka, menjadi kebijakan yang lebih bersifat multi-etnis.
Nation-Building Concept
Konsep Nation-Building adalah konsep yang menjelaskan tentang pengembangan atau pembentukan identitas nasional dari sebuah negara, yang termasuk proses pengembangan dan pembentukan berbagai aspek, seperti aspek sosial, institusional, intelektual, ideologi, dan politik.13 Proses pembangunan kebangsaan menitikberatkan pada pembentukan suatu identitas nasional yang mutlak diperlukan bagi stabilitas politik, ekonomi, dan pembangunan suatu negara. Dalam kasus ini, terdapat permasalahan serius yang berimbas langsung terhadap proses pembentukan identitas nasional Malaysia. Pemerintah Malaysia yang seharusnya menjadi aktor utama dalam proses ini, justru berperan sebaliknya, menjadi aktor penghambat dalam proses pembentukan identitas nasional. Sikap pemerintah Malaysia yang melakukan tindakan diskriminasi, serta seolah-olah melegalkan terjadinya tindakan diskriminasi terhadap warga negara etnis China dan India, jelas merupakan ancaman yang justru berasal dari dalam, dan secara langsung menghambat proses pembentukan identitas nasional dan berimbas pada proses pembangunan kebangsaan yang buruk.
Dalam proses pembangunan kebangsaan (nation-building process), konsep identitas merupakan salah satu elemen terpenting. Salah satu tujuan
13
R. Utz, Nations, Nation-Building, and Cultural Intervention: A Social Science Perspective (online), 2005, < http://www.mpil.de/shared/data/pdf/pdfmpunyb/utz_9_615_647.pdf>, diakses pada 21 Februari 2013
7
utama dalam proses pembangunan kebangsaan di Malaysia adalah pembentukan identitas kebangsaan, dimana sebelumnya belum ada satu identitas yang menyatukan berbagai etnis yang ada di Malaysia. Dalam
1Malaysia, salah satu tujuan utamanya adalah pembentukan satu identitas
bagi seluruh warga Malaysia dari berbagai macam etnis, yaitu identitas sebagai Bangsa Malaysia. Sebelumnya, identitas etnis masih sangat kentara, sehingga menepikan identitas kebangsaan, suatu hal yang kemudian menimbulkan gesekan antar etnis di negara tersebut. Dengan dibangunnya satu identitas kebangsaan, diharapkan di masa mendatang timbul persatuan antar etnis, sehingga proses pembangunan kebangsaan akan berjalan dengan lebih baik.14
D. Argumentasi Utama
Berdasarkan latar belakang masalah serta landasan konseptual diatas, kesimpulan awal yang dapat diambil dari rumusan masalah: “Bagaimana
perkembangan perubahan proses bina bangsa di Malaysia dari masa dikeluarkannya kebijakan New Economic Policy sampai kebijakan 1Malaysia Policy?” adalah sebagai berikut:
Kebijakan New Economic Policy yang dikeluarkan oleh pemerintah Malaysia pada tahun 1971 dapat dikatakan merupakan tonggak utama diskriminasi etnis yang terjadi di Malaysia. Kebijakan yang bersifat positive
discrimination tersebut pada awalnya dikeluarkan untuk mengangkat derajat
hidup warga etnis Melayu yang lemah secara ekonomi, akan tetapi pada pelaksanaannya, kebijakan ini justru disalahgunakan untuk menekan warga beretnis China dan India. Kebijakan ini merupakan penegasan dari sikap
14
F. R. Kader, ‘The Malaysian Experience in Developing National Identity, Multicultural Tolerance and Understanding through Teaching Curricula: Lessons Learned and Possible Applications in the Jordanian Context’ International Journal of Humanities and Social Sciences, vol. 2, No. 1, Januari 2012, hal. 275-276
8
pemerintah Malaysia yang sejak diperolehnya kemerdekaan dari Inggris ingin untuk melestarikan etnis Melayu dari ancaman etnis lain. Kebijakan ini banyak mendapatkan tentangan dari warga negara etnis China dan India, yang melakukan perlawanan terhadap pemerintah Malaysia melalui berbagai wujud perlawanan. Kebijakan yang awalnya dikeluarkan dengan tujuan untuk meningkatkan kesejahteraan warga negara etnis Melayu tersebut justru pada pelaksanaannya malah menimbulkan ancaman terhadap proses pembangunan kebangsaan
(nation-building process) di Malaysia.
Kedua, dalam perkembangan proses pembangunan kebangsaan di negara tersebut, pemerintah Malaysia kemudian mengeluarkan sebuah kebijakan yang dimaksudkan untuk memperbaiki proses bina bangsa. Kebijakan yang diberi nama
1Malaysia Policy tersebut dimaksudkan sebagai tonggak awal reformasi
pembangunan kebangsaan di Malaysia, dari yang semula terdapat diskriminasi etnis menjadi lebih bersifat multi-etnis. Dalam kebijakan yang dikeluarkan pada masa pemerintahan Perdana Menteri Najib Razak tersebut, ditekankan satu poin penting yaitu pembentukan identitas bagi seluruh warga negara Malaysia tanpa memandang etnis atau suku, yaitu identitas sebagai Bangsa Malaysia.
E. Metode Penelitian
Dalam penulisan skripsi ini, penulis akan menggunakan metode penelitian kualitatif, dimana fokus penelitian akan lebih menekankan pada proses yang melatarbelakangi pembuatan kebijakan, serta implikasi kebijakan terhadap proses pembangunan kebangsaan (nation-building process) di Malaysia. Metode penelitian ini digunakan untuk memperoleh rincian yang lebih fokus yang kemudian dapat digunakan sebagai penunjang utama dalam penulisan skripsi ini. Dalam penulisan skripsi ini, akan terdapat penekanan kepada proses yang melatarbelakangi dibuatnya kebijakan, serta hasil kebijakan, dimana proses yang dimaksud adalah bagaimana kebijakan tersebut kemudian ditelurkan oleh pemerintah setelah rentetan peristiwa dan kejadian terkait proses pembangunan
9
kebangsaan di Malaysia, terutama yang menyangkut permasalahan diskriminasi etnis yang terjadi. Sementara hasil, adalah bagaimana kebijakan 1Malaysia Policy dapat berdampak pada proses pembangunan kebangsaan di Malaysia secara menyeluruh.
Penggunaan metode penelitian jenis kualitatif ini dikarenakan data-data yang akan didapat dan digunakan akan lebih banyak berjenis “teks” atau tulisan. Akan tetapi walaupun nantinya akan digunakan data statistik numerik, analisa data dan penyajian data akan tetap dilakukan secara kualitatif. Jenis data ini nantinya akan digunakan untuk memperkuat dan mempertajam analisa.
Untuk proses pengumpulan data dalam skripsi ini, akan dilakukan proses pengumpulan data yang berasal dari sumber kedua dan ketiga. Sumber pertama tidak dilakukan karena proses pengumpulan data dilakukan hanya dengan kajian pustaka saja. Sumber data yang akan digunakan akan lebih banyak mengacu pada sumber referensi tertulis seperti buku, teks, materi kuliah, dan sumber tertulis lain. Selain itu, akan digunakan pula sumber data yang berasal dari internet, berupa artikel dari website, jurnal, buku online, ataupun skripsi online, yang dimaksudkan untuk lebih memperkuat data serta untuk mempertajam analisa.
F. Sistematika Penulisan
Skripsi ini akan berisi pemaparan yang dirinci ke dalam 4 bagian utama, yaitu: 1. BAB I adalah bab pendahuluan, yang berisi beberapa sub-bab antara lain
latar belakang, rumusan masalah, landasan konseptual, argumentasi utama, metode penelitian, dan sistematika penulisan.
2. BAB II adalah bab pembahasan. Pada bab ini, penulis memberi judul Diskriminasi Etnis sebagai Masalah Serius dalam Proses Pembangunan Kebangsaan (nation-building process) di Malaysia. Bab ini akan
10
menjelaskan perkembangan terjadinya diskriminasi etnis di Malaysia pasca dikeluarkannya program New Economic Policy.
3. BAB III berisi tentang pembahasan 1Malaysia Policy sebagai sebuah batu lompatan bagi proses perbaikan pembangunan nasional di Malaysia. Pada bab ini, penulis memberi judul 1Malaysia Policy sebagai Babak Baru dalam Proses Pembangunan Kebangsaan di Malaysia.
4. BAB IV merupakan bab penutup yang berisi kesimpulan atas seluruh pembahasan dan analisa yang telah dipaparkan dalam skripsi ini.