1 BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Indonesia merupakan negara berkepulauan yang membentang dari Sabang sampai Merauke, terdiri dari pulau besar hingga pulau kecil, yang berpenghuni maupun belum berpenghuni. Indonesia biasa dikenal dengan negara Multietnik dan Mutikultural yang mendiami 13.600 pulau. Oleh karena keberagaman itu, masyarakat yang tinggal di setiap pulau tersebut pasti memiliki ciri khasnya masing-masing yang sangat bergam, mulai dari keanekaragaman sumber daya alam (SDA) hingga sumber daya manusia (SDM) yang berbeda-beda. Dengan keanekaragamannya di setiap pulau dan tempat, munculah berbagai bentuk suku, ras dan budaya yang beragam. Maka, lahirlah sebuah keidentikan setiap sukunya dengan berbagai norma dan budaya yang berlaku di setiap tempat yang ditinggali.
Keanekaragaman antara suku,ras dan budaya pada hakikatnya akan memunculkan perbedaan antara manusia yang satu dengan manusia yang lainya dan menyebabkan rentan akan masalah mengenai diskriminasi,ras dan etnis sebab tidak semua manusia menerima perbedaanya satu sama lain. Keberagaman manusia itu juga akan memunculkan berbagi konflik dan permasalahan baru.
Menurut Varshney, Panggabean, dan Tadjoeddin (2004) bahwa jenis-jenis konflik dan kekeraasan yang kadangkala timbul, merupakan jenis konflik paling mematikan di Indonesia dan mencerminkan pemilah paling penting dalam masyarakat Indonesia. Timbulnya sebuah konflik salah satunya muncul dari sikap masyarakat yang menilai dirinya lebih tinggi, melihat orang lain dari sebuah fisik, selalu merasa benar dan baik cenderung tidak memiliki jiwa empati, sehingga masyarakat tersebut menganggap lebih baik dari masyarakat lainnya yang menjadi sumber untuk terjadinya sebuah konflik rasisme.
Rasisme merupakan suatu konflik yang diakibatkan oleh perbedaan ras, rasisme seperti halnya sebagai bentuk merendahkan kelompok/ ras lain yang memiliki perbedaan sebagai minoritas. Konflik rasisme muncul dan terjadi hampir seluruhnya karna permasalahan bentuk fisik yang berbeda satu-sama lainya.
2
Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), rasisme merupakan paham atau golongan yang menerapkan penggolongan atau pembedaan ciri-ciri fisik (seperti warna kulit) dalam masyarakat.
Menurut Marger dalam skripsi milik Pratama (2016:4) antropologis menemukan tiga karakter yang membedakan tiap-tiap ras, yaitu :
1. Sesuai dengan keadaan anatomi, yaitu warna kulit, tekstur rambut, bentuk atau ukuran badan dan bentuk muka atau kepala.
2. Dilihat dari sudut pandang fisiologis contohnya penyakit bawaan dan perkembangan homonal.
3. Yang terlahir adalah komposisi darah dalam tubuh.
Rasisme mengambil bentuk memperlakukan orang lain secara berbeda dengan menyediakan berdasarkan konsep ras, masyarakat atau self-thinking yaitu gender, agama, bahasa, bukan orientasi seksual adalah faktor penentu derajat atau status manusia dalam perilaku sosial. Ini adalah diskriminasi sosial hal-hal yang tidak bisa diberantas sampai sekarang karna kebanyakan orang merasa lebih kuat dengan apa yang dimilik.
Konflik mengenai rasisme juga terjadi di beberapa belahan dunia yaitu di Inggris, Amerika dan Jerman juga pernah terjadi perlakuan rasisme. Seperti bentuk rasisme yang terjadi di Jerman sejak dulu, orang kulit hitam atau Afrodeutsche di Jerman tak lepas dari aktivitas kolonialisme Jerman di Afrika Barat pada abad XIX 1884, di mana para kolonialis Eropa membagi-bagi wilayah di Afrika, Jerman mendapatkan bagian area Afrika Barat. Saat itu Jerman mulai mengangkut budak Afro ke negerinya untuk dipekerjakan kepada sejumlah sektor ekonomi. Banyak dari mereka, direkrut menjadi tentara kolonial semacam KNIL di Hindia Belanda. Mayoritas orang Afro di Jerman hidup dalam kabut derita dan terhina. Sebagian dari mereka bahkan dijadikan obyek tontonan kebun binatang manusia. Sejarawan Anne Dreesbach mengungkapkan kepada Deutsche Welle, 3 Oktober 2017, hingga 1930-an terdapat sekira 400 kebun binatang yang mempertontonkan manusia-manusia unik, termasuk orang-orang Afro di Jerman. (Randy Wirayudha. Sisis Kelam Etnis Kulit Hitam di Jerman ; www.historia.id ; di akses 22 Desember 2020 pukul 10:45)
3
Tindakan rasisme terhadap orang kulit hitam juga banyak terjadi di Indonesia, tidak saja terjadi di luar negri. Salah satu konflik rasisme yang terjadi di Indonesia yaitu tentang mahasiswa asal Papua di Yogyakarta yang terkurung selama 2 hari di asrama Kamasan I di Jalan Kusumanegara, Yogyakarta. Hal ini disebabkan ada empat ormas dari daerah sekitar yang mendatangi Asrama Mahasiswa Papua, yaitu Forum Komunikasi Putra-Putri Purnawirawan TNI/Polri Indonesia, Pemuda Pancasila, Paksi Katon, dan Laskar Jogja. Total jumlah mereka sekitar 100 orang lebih. Keempat ormas tersebut mendatangi asrama dan melontarkan nama-nama hewan serta kata rasialis terhadap mahasiswa Papua yang terdapat di dalam asrama itu.
Gambar 1. 1 Berita Rasisme yang dialami Mahasiswa Papua di Yogyakarta
(Dikutip dari : Kisah Mahasiswa Papua di Yogya Dua Hari Terkurung di Asrama; www.cnnindonesia.com; diakses 8 Desember 2019 Pukul 17.36).
Konflik rasisme selain yang dialami mahasiswa Papua, perlakuan rasisme juga dialami oleh para pemain bola dari club Persipura Jaya Pura, dalam pertandingan antara PSS Sleman melawan Pesipura Jayapura yang sedang bertanding di Stadion Maguwoharjo Sleman Yogyakarta. Saat itu suporter bola yang mendukung tim PSS Sleman terbukti melakukan tindakan rasisme, dengan
4
mengeluarkan suara berupa monyet serta melempari kacang ke dalam lapangan yang sedang berlangsung pertandingan.
(Ronald Seger Prabowo, 2019. Suporter Dinilai Rasis, PSS Sleman Didenda Besar Komdis PSSI ; www.indosport.com; diakses 8 Desember 2019 pukul 20:17).
Isu rasisme yang terjadi di indonesia pada akhirnya, mengakibatkan bentuk perbedaan berdasarkan warna kulit sehingga dampaknya akan memicu lahirnya gerakan-gerakan yang kurang pantas dengan mengunggulkan rasnya sendiri-sendiri. Teori Darwin salah satu bentuk yang dijadikan sebagai dasar tindakan untuk membenarkan penguasaan ras satu atas ras yang lain. Maka timbul lah dengan sikap superioritas ras, dimana ras yang merasa dirinya lebih unggul merendahkan salah satu ras yang dianggap lebih rendah. Dengan munculnya konsep tentang keunggulan ras ini kemudian muncul dan melahirkan sebuah rasialisme.
Fredrickson (2005:9) mengungkapkan rasisme adalah suatu keyakinan yang mempunyai dua komponen, yaitu perbedaan dan kekuasaan. Rasisme akan tumbuh dari sikap mental yang memandang mereka berbeda, dengan secara permanen dan tidak teratasi tanpa memikirkan pengaruh orang lain yang menjadi korban rasisme. Perasaan berbeda tersebut kemudian mendorong masyarakat ras yang merasa lebih unggul untuk mendominasi dan menguasai masyarakat ras lainnya. Seperti bentuk rasisme yang di lakukan oleh supporter bola pendukung PSS Seleman mereka merasa lebih unggul dan merasa berhak untuk melakukan rasisme kepada pemain Persipura Jayapura, karena saat itu pertandingan berada di kandang PSS Seleman dan didominasi oleh masyarakat asli daerah tersebut tidak sebanding dengan pemain lawan sebagai pemain pendatang.
Menurut Pruitt dan Rubin (2004:21), munculnya konflik disebabkan adanya pihak-pihak yang berkonflik, adanya interest yang bertentangan dari dua kelompok, atau beberapa interest yang tidak dapat dipertemukan satu sama lain. Kepentingan itu yang muncul dan mengakibatkan sebuah konflik sama halnya suatu kelompok yang merasa lebih tinggi atau unggul tetap tidak mau mengakui kesalahan dan selalu menganggap mereka paling benar. Keberagaman yang
5
terdapat di negara yang memiliki berbagai perbedaan mungkin masih sulit jika terlepas dari adanya konflik yang mampu memecahbelahkan keadaan sosial.
Dilansir dari halaman draft www.databoks.katadata.co.id memuat dokumen suku jawa sebagai suku yang mendominasi, suku yang di Indonesia dengan angka mencapai 40%
.
Gambar 1. 2 Presentase Penduduk Indonesia menurut suku bangsa (Sensus penduduk 2010)
sumber : Badan Pusat Statistik (BPS) 2011 www.databoks.katadata.co.id diakses tanggal 21 Desember
Bila melihat keadaan yang terjadi, presentase anatar etnis Papua dan etnis Jawa dimana etnis Jawa mendominasi sebagai etnis terbesar di Indonesia, sedangkan etnis asal Papua memiliki presentase yang kecil. Banyaknya konflik yang terjadi sebagai bagian dari minoritas, terutama konflik isu rasisme yang dialami etnis Papua sebagai minoritas dan perbedaan fisik yang berbeda dengan etnis mayoritas. Sebab dengan adanya perbedaan yang menonjol akan menimbulkan konflik yang sulit dihindari apabila setiap etnis yang berbeda kurang memiliki rasa toleran.
6
Sebagai negara yang memiliki perbedaan wilayah yang signifikan anatara satu wilayah dengan wilayah lainnya, yang memiliki berbagai kebudayaan yang berbeda menambah pelik pemikiran masyarakat yang tertutup, oleh kebiasaan untuk menghindari atau memusuhi ketidak samaan apalagi ketidak samaan mengenai persamaan fisik. Adanya keberagaman yang ada, akan memunculkan rasa kecurigaan ataupun kebencian kepada mereka yang memiliki budaya yang berbeda, walaupun sebenarnya mereka memiliki rasa nasionalisme yang mengacu kepada perdamaian bersama.
Rasa kepercayaan diantara mereka perlu ditumbuhkan dengan menempatkan kepentingan bersama di atas kepentingan pribada maka hal buruk akibat adanya pebedaan yang menjadikan konflik akan berkurang. Kepercayaan dapat timbul dan berfungsi sebagai salah satu energi sosial sehingga memunculkan kelompok masyarakat, atau organisasi sebagai benteng pertahanan dari berbagai pemasalahan dan konflik yang terjadi untuk dapat di hadapi. Bila kepercayaan terhadap perbedaan sesama tidak mampu di pegang dengan kuat, maka saling curiga dan konflik yang ada saat ini akan berkepanjangan tanpa adanya solusi yang lebih baik.
Akibat banyaknya konflik rasisime yang selalu mengaitkan etnis Papua yang terjadi di beberapa daerah di Indonesia seperti yang terjadi di Yogyakarta. Sebagian etnis Papua yang mengalami perlakuan rasisme akan ada salah satu dari mereka yang menyimpan kekecewaan, dan memiliki sentimen negatif terhadap etnis lain, yang telah memperlakukannya berbeda. Sama halnya bentuk kekecewaan mereka dengan melakukan demo mahasiswa Papua, di Yogyakarta untuk tolak tindakan rasisme yang telah terjadi di beberapa kota seperti Surabaya Malang dan Semarang.
Munculnya konflik yang berhubungan dengan rasisme, juga terdapat undang-undang Indonesia juga telah mengatur terkait dengan deskriminasi dalam Undang-Undang No 40 Tahun 2008, yang berkaitan megenai hak sebagai warga negara tanpa adanya diskriminasi dalam Pasal 9 Tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis, setiap warga negara berhak memperoleh perlakuan yang sama untuk mendapatkan hak-hak sipil, politik, ekonomi, sosial, dan budaya
7
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan, tanpa pembedaan ras dan etnis. Dibuatnya sebuah Undang-Undang diharapkan mampu mengurangi permasalahaan rasisme yang terjadi di Indonesia, namun faktanya yang terjadi saat ini masih banyak kasus rasisme di Indonesia yang selalu terjadi tanpa adanya keadilan dengan Undang-Undang yang telah di buat.
Kurangnya keadilan mengenai kasus rasisme yang yang terjadi sebagi contohnya yaitu pengadilan Negri Balikpapan memvonis 7 tahanan politik Papua pada 17 juni 2020 terkait dengan demonstrasi anti rasisme Papua pada Agustus 2019. Dalam persidangan empat dari tujuh terdakwa divonis 10 bulan penjara yaitu Ferry Kobo mantan ketua BEM Universitas Cenderawasih Papua, Alex Gobay Ketua BEM Universitas Sains dan Teknologi Jayapura, Hengky Hilapok ketua BEM Universitas Teknologi Jayapura dan Irwanus Urobmabin, mahasiswi Universitas Sains dan Teknologi Jayapura (USTJ). Dalam wawancara dengan BBC Indonesia Alex Gobay, Ketua Panitia Pelaksana Mahasiswa Sains dan Teknologi Jayapura Universitas Sains dan Teknologi (USTJ), menilai keyakinannya tak lepas dari stigma negatif warga Papua yang lantang mengecam kebijakan pemerintah. Selain itu, ia menuturkan sejumlah warga sipil, termasuk seorang tentara, menghina sekelompok mahasiswa Papua di Surabaya dengan diskriminasi rasial pada Agustus 2019, dan hukumannya lebih ringan dari hukuman yang dijatuhkan kepada mereka. Syamsul Arifin, PNS Surabaya, mengutuk "monyet" mahasiswa Papua dan divonis lima bulan penjara.
8
Gambar 1. 3 Vonis Hukuman Penjara Kasus Rasisme
(Dikutip dari : Papua: Tujuh tapol Papua divonis hukuman penjara - 'Kami demo tolak rasisme, kenapa dijadikan seperti teroris?' https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-53074109 diakses pada 18 Oktober 2020 Pukul 13:34)
Konflik-konflik rasisme yang telah terjadi dari beberapa peristiwa yang telah disebutkan sebelumnya yaitu mengenai ketidak adilan tindakan rasisme dengan melontarkan nama hewan yang di tujukan kepada etnis Papua, khususnya di Yogyakarta menunjukan bahwa masih kurangnya pemahaman dalam menerapkan makna dan arti sikap menghargai dalam perbedaan suku dan etnis Papua maupun suku etnis lainya sebagai pendatang.
Berdasarkan pemahaman rasisme yang telah dijelaskan, peneliti berusaha memahami rasisme dan mendeskripsikannya berdasarkan pola dalam pemikiran peneliti. Karena itu, rasisme merupakan sebuah pemahaman mengenai perbedaan ras lebih unggul dari ras yang di anggap rendah, sehingga ras yang lebih rendah itu sering di kuasai dan di jatuhkan oleh ras yang lebih unggul karena adanya bentuk stereotipe dari pihak ras yang lebih unggul kepada pihak yang lebih rendah.
Manusia tidak dapat menolak perbedaan karena egonya sendiri. Sikap saling menghargai adanya perbedaan sebagai landasan utama kehidupan sangatlah diperlukan dalam membangun masyarakat yang beradab, yang dapat hidup
9
berdampingan dengan banyaknya perbedaan mengenai fisik setiap makhluk hidup dan selalu melakukan kewajibanya dengan saling menghormati satu sama lainnya. Dengan berkembangnya zaman penyampaian pesan mengenai isu-isu rasisme yang berkembang di tengah masyarakat, pemahaman mengenai isu rasisme pun ikut berkembang. Mulai dari pemahaman formal yang diperoleh melalui kurikulum sekolah, hingga didapatkan dari media yang berbasis teknologi. Baik media teknologi elektronik dan cetak, serta dapat juga di sampaikan melalui media film. Film merupakan salah satu alat komunikasi massa yang kedua yang muncul di dunia, munculnya film sebagai media komunikasi massa merupakan cara menyaksikan isi pesan kepada khalayak dalam bentuk audio dan visual. Film mampu mempengaruhi khlayak yang menonton melalui gambar yang ditampilkan Dengan media film dapat berperan penting dalam membentuk prasangka kepada seseorang atau kelompok lain. Seperti yang dipaparkan Graeme Turner bahwa makna film sebagai representasi dan realitas masyarakat. Film sebagai representasi dari realitas bermakna bahwa film membentuk dan menghadirkan kembali realitas berdasarkan kode-kode, konvensi, dan ideologi dari kebudayaannya (Sobur, 2016:127-128)
Menurut Garin Nugroho (2015) film tidak bisa hidup sendiri, ia senantiasa hidup dalam paradoks dan krisi budaya popular, teknologi komunikasi, bentuk-bentuk ekspresi, ruang public,termasuk kondisi ekonomi dan politik Indonesia. Film secara umum merupakan bentuk gambaran dari masyarakat dimana film itu dibuat. Banyaknya topik yang dapat menjadikan sebuah karya film dapat melahirkan film yang feomenal. Permasalahan isu rasisme pun salah-satu topik yang menarik untuk di jadikan sebuah karya film. Film dapat membawa penonton masuk ke dalam emosional setiap peran tokohnya. Film dikatakana bagus apabila muatan pesan yang digambarkan dapat memeberi kesan dan tersampaikan kepada penoton.
Film Srawung lan Tetulung adalah salah satu film pendek yang menggambarkan tentang Isu rasisme di Yogyakarata yang menampilkan adanya sikap saling menghargai antar etnis yang berbeda. Film yang menjadi fokus dalam penelitian ini mengangkat isu rasisme yang berfokus dengan prilaku etnis Jawa
10
terhadap etnis Papua yang memunculkan prasangka yang di dapat oleh orang Papua yang tinggal di Yogyakarta. Film Srawung lan Tetulung ini menyajikan sebuah realita kepada masyarakat mengenai kehidupan yang sering di alami oleh etnis Papua yaitu rasisme, sehingga memunculkan prasangka buruk etnis Papua sebagai minoritas kepada etnis mayoritas yang selalu menganggap etnis Papua berbeda.
Srawung lan Tetulung juga memiliki arti Srawung yang jika diartika adalah sebuah cara untuk bergaul maupun bersosialisasi dengan orang lain, Srawung merupakan integrasi sosial dengan bentuk bermacam-macam, sesuai dengan kebutuhan lingkungan, waktu dan orang itu sendiri dengan tujuan agar orang saling berkenalan, saling terbuka, saling mengunjungi, saling bantu, saling percaya, saling menghibur, saling mendandani dan saling memandan (Pudjianto, 2015, hal. 125-132)
Tetulung jika di artikan dalam bahasa Indonesia berarti tolong-menolong yaitu sama saja dengan cara kita untuk melakukan bantuan secara ikhlas kepada orang lain tanpa adanya pamrih. Film ini di buat oleh sebuah organisasi pemerintahan keistimewaan Yogyakarta, yaitu Praniradya Kaistimewaan, sebagai tanda adanya sikap menghargai perbedaan dari warga asli Yogyakarta kepada pendatang yaitu etnis Papua.
Film Srawung lan Tetulung ini berlatar belakang tentang etnis Papua sebagai pendatang serta menjadi seorang minoritas di Yogyakarta. Banyaknya konflik yang menggambarkan tentang isu rasisme membuat seorang pendatang dari etnis Papua merasa dibedakan. Salah satunya pemeran tokoh Yosep yang merupakan etnis Papua.Yosep merupakan pendatang beretnis Papua yang tinggal bersama seorang bapak tua sebagai anak kos di Yogyakarta. Suatu ketika saat Yosep sedang membawa motornya untuk pergi, bensi dalam motornya habis dan mogok. Saat itu ada warga Yogyakarta yang menertawakan dan pergi begitu saja dan Yosep berprasangka bahwa pengendara motor yang menertawakanya memperlihatkan ketidaksukaan terhadap Yosep yang sedang mendorong motornya itu. Pada adegan itu seperti menggambarkan adanya stereotipe sering terjadi dan di terima oleh etnis Papua. Dimana tindakkan berprasangka bahwa orang yang
11
berkulit hitam dianggap rendah serta berbeda, banyak dirasakan oleh etnis Papua saat ini. Dengan sikap pengendara yang menertawakan Yosep, dengan perlakuan tersebut Yosep bersetigma itu bentuk ledekan rasisme yang di dapat oleh Yosep. Namun setelah menertawakan etnis Jawa itu kembali dan meberikan satu botol bensin kepada Yosep. Namundari tindakakn kembali setelah melakukan bentuk diskriminasi atas motor yosep yang habis terlebih lagi Yosep hanyalah seorang etnis minoritas. Sehingga dalam Film Srawung lan Tetulung ini menggambarkan sebuah sikap Etnosentrisme adalah kecenderungan untuk menetapkan semua norma dan nilai kebudayaan orang lain dengan standar kebudayaan kebudayaan Jawa dengan disusunya kelas ras berdasarkan alasan biologis. Seperti yang pengertian Etnosentrisme dalam buku Prasangka dan Konflik milik Liliweri (2005:15) Etnosentrisme merupakan kecenderungan untuk menetapkan semua norma dan nilai kebudayaan orang lain dengan standar kebudayaan sendiri.
Pada dasaranya film-film yang telah dibuat merupakan jenis fenomena yang muncul pada masyarakat. Dalam film Srawung lan Tetulung ini menggambarkan fenomena yang mengusung tentang etnis Jawa dan etnis Papua, yang menggabarkan unsur tolong-menolong dan gotong-royong pada budaya Yogyakarta yang masih kental akan kehidupan daerah, namun dalam film masih menyantumkan unsur identitas etnis mayoritas yang lebih kuat dengan memperlakukan kaum minoritas dengan kurang baik pada kesan pertama bertemu etnis Papua . Dengan adanya unsur fenomena isu rasisme yang dilakukan oleh dua etnis yang berbeda menujukan bahwa di Indonesia masih adanya stigma negatif terhadap etnis lain terutama etnis Papua yang menerima stigma itu oleh etnis mayoritas gambaram stigma orang papua yang memiliki perbedaan memberikan unsur budaya lain. Sehingga dalam film ini menjadi menarik, karena menampilkan anatar dua suku besar di Indonesia, yang berbeda dan terjadi di suatu tempat dimana salah satu etnis itu menjadi minoritas.
Dalam film Srawung lan Tetulung ini menjukan bahwa di Indonesia tindakkan rasisme masih sering di lakukan terutama isu rasisme dengan stereotipe yang ditampilkan secara tersirat melalui berbagai tanda, seperti pada umumnya film dirangkai dengan banyak tanda, tanda tersebut mencakup berbagai sistem
12
yaitu dengan bekerja sama dengan baik untuk mencapai efek yang diinginkan. Yang paling penting dalam film adalah gambar dan suara : kata yang di ucapkan (ditambah dengan suara-suara lain yang serentak mengiringi gambar-gambar) dan musik.(Sobur, 2016:128)
Setelah melakukan penjelasan tentang fenomena isu rasisme yang terjadi di Indonesia, kususnya di Yogyakarta menjadikan film pendek Srawung lan Teulung menjadi objek penelitian sebab pada adegan dalam film Srawung lan Tetulung menggambarkan adanya tindakkan stereotipe yang sering di terima oleh etnis Papua pada kesan pertama yang kurang baik. Peneliti tertarik untuk meneliti lebih lanjut mengenai isu rasisme yang terkandung dalam film tersebut sebab film Srawung lan Tetulung menjadi salah satu contoh gambaran yang diterima oleh etnis Papua jika bertemu etnis lain yang memandang rendah etnis Papua. Dikarenakan banyak kasus terkait isu rasisme yang terjadi dikalangan masyarakat indonesia, terutama stereotipe yang sering didapat oleh etnis Papua oleh etnis lain dengan tindakan-tindakkan yang membuat setigma bahwa etnis Papua memiliki perbedaan karena bentuk fisik biologis yang berbeda dari masyarakat pada umumnya.
Peneliti akan membahas lebih dalam bagaimana tanda dan simbol mempresentasikan isu rasisme pada film Srawung lan Tetulung. Terkait dengan tanda dan simbol dari film yang akan diteliti, maka peneliti akan menggunkan kajian semiotika sebagai objek penelitian untuk diteliti. Karena dalam kajian semiotika sangat membantu peneliti dalam memaknai tanda dan makna sebagai bentuk dalam komunikasi pada film.
Untuk mengetahui bagaimana bentuk kesan pertama isu rasisme yang diperlihatkan pada film pendek Srawung lan Tetulung itu dapat digambarkan, maka peneliti akan menggunakan teori semiotika Ferdinan De Saussure. Berdasarkan adegan yang mengandung unsur presentasi isu rasisme pada kesan pertama etnis Jawa yang menyantumkan unsur identitas mayoritas yang lebih kuat dengan memperlakukan kaum minoritas kurang baik pada kesan pertama terhadap etnis Papua dalam scene yang mengandung unsur rasisme, dapat dilakukan dengan kerangka pemaknaan tanda. Hal itu terlihat pada adegan dalam scene film Srawung
13
lan tetulung ketika Yosep sebagai etnis Papua sedang mengalami kesulitan lalu bertemu beberapa etnis Jawa dimana etnis Jawa itu memberikan sikap kurag baik pada kesan pertama yang terdapat dalam empat scene yang terpilih dalam Film Srawung lan Tetulung. Peneliti akan membahas lebih kusus tanda yang mengatakan bahwa bahasa dalam citra visual dan citra suara itu adalah suatu sistem tanda, dan setiap tanda itu tersusun dari suatu bagian, yaitu signifier (penanda) dan signified (pertanda).
Berdasarkan penjelasan yang telah dibuat dalam latar belakang maka peneliti tertarik melakukan penelitian dengan judul “PRESENTASI ISU RASISME DALAM FILM PENDEK “SRAWUNG LAN TETULUNG (Analisis Semiotika Dengan Model Ferdinand de Saussure)”
1.2 Fokus Penelitian
Sesuai latar belakang yang telah dijabarkan, maka fokus penelitian ini mengenai presentasi isu rasisme dalam menggambarkan kesan pertama etnis Jawa terhadap etnis Papua di Kota Yogyakarta mealui Film Srawung lan Tetulung. 1.3 Tujuan Penelitian
Berdasarkan permasalahan yang sudah dipaparkan diatas, maka tujuan yang akan dicapai peneliti dalam penelitian ini yaitu
1. Mengetahui bagaimana rasisme dipresentasikan melalui adegan dalam Film Srawung lan Ttetulung.
2. Mengetahui bagaimana rasisme dipresentasikan melalui dialog dalam Film Srawung lan Ttetulung.
3. Mengetahui bagaimana rasisme dipresentasikan dalam Film Srawung lan Ttetulung.
1.4 Manfaat Penelitian
Melalui Peneitian ini, Penulis mampu memberikan harapan dan manfaat kepada beberapa pihak yang berhubungan ke dalam dua aspek penting yaitu :
14 2.1.7 Aspek Teoritis
Dalam bentuk teoritis penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan dan memberikan konstribusi dalam pekembangan Ilmu Komunikasi yang berkaitan dengan analisis semiotika Ferdinand De Saussure, dalam menangkap makna pada film
2.1.8 Aspek Praktis
Dalam aspek praktis, penelitian ini dapat digunakan sebagai bentuk penggambaran sikap positif yang di tinjau dari sudut pandang toleransi terhadap etnis dan suku yang berbeda, sehingga pesan dapat di terapkan di masyarakat multietnik.
2.5 Lokasi Penelitian
Penelitian di laksanakan dibeberapa tempat di Pulau Jawa dan peneliti ini di mulai pada bulan Desember 2019 hingga selesai pada bulan Januari 2021. 2.6 Waktu dan Periode Penelitian
Membuat sebuah penelitian, sangatlah di perlukan sebuah tahapan yang harus di lakukan untuk membuat penelitian dapat terstruktur
Tabel 1. 1 Waktu dan Periode Penelitian N
o
Tahap Penelitian Des-19 Jan-20 Feb-Juli 20 Agt-20 Sep-20 Okt-20 Nov -20 Des -20 Jan -21 Feb -21 1. Mencari Tema dan
Objek penelitian 2. Menentukan Objek
dan topik yang akan diteliti
3. Mencari data dan informasi untuk peneliisn
15 5. Revis Seminar Proposaal 6. Penyusunan Bab 4 Bab 5 7. Sidang Skripsi 8. Revisi Skripsi